imunology

Dokter Nggak Melulu Kerja di Klinik

Kalo teman teman adalah seorang siswa kelas XII SMA, pasti hampir setengah angkatan mendambakan Fakultas yang satu ini… Kedokteran. Kalo teman teman melihat buku beberapa bimbel yang menampilkan passing grade, di hampir setiap universitas memperlihatkan satu program studi yang memiliki passing grade  yang paling tinggi… Pendidikan Dokter. Dan juga kalau teman teman masuk ke bimbel, terus disuruh mengisi formulir dan tertera “program studi pilihan” Saya yakin, program studi yang paling diminati adalah… Kedokteran. Well, bukan saya sombong, atau meninggikan derajat sebagai mahasiswa kedokteran, tapi hal-hal diatas lah yang melatar belakangi tulisan saya ini, karena saya ingin bercerita bagaimana sih sebenarnya kuliah di Fakultas Kedokteran itu?  Ini ceritanya….

Masa preklinik

Masa Preklinik adalah masa dimana seorang mahasiswa kedokteran mengenyam pendidikan selayaknya mahasiswa program studi lain. Yep, Kuliah, praktikum,organisasi, nongkies di cafe-cafe setempat, galau ujian, galau skripsi dan hal yang umumnya dikerjakan oleh mahasiswa. Trus bedanya dimana? Nah ini… Masa preklinik ini sudah ditentukan lama studinya oleh Fakultas, sehingga kita diprogram untuk selesai dalam 8 semester, tidak bisa ngambil SKS lebih walaupun IP 4.00 , tidak bisa ngatur jadwal, dan tidak bisa milih dosen. Jadi ya seperti layaknya anak sekolah, kuliah, praktikum dan skill dan ujian sudah ditentukan oleh bagian akademik FK. Nah, di masa preklinik ini juga tidak lurus –lurus saja jalannya, banyak jalan berliku serta naik turun yang harus ditempuh. Misalnya, ketika semester awal, mahasiswa kedokteran dikenalkan dengan kulit luar hal-hal yang berhubungan dengan kedokteran seperti melakukan penyuluhan kesehatan, melakukan pengukuran tekanan darah, menyuntik manekin, dan lain lain. Saat itu mahasiswa kedokteran tingkat awal berpikiran, “Woooh, gue udah siap jadi dokter!”, tapi ketika di tengah perkuliahan dan menuju semester akhir dan berhadapan dengan berbagai macam ujian, dan berbagai kesialan lainnya pasti berfikiran “kampreeet, kapan gue tamatnya ini kuliah, masih lama banget kayanya.” Nah, berhubung disini gak bisa milih mata kuliah, gimana belajarnya? Pake per sistem tubuh, mulai dari sistem gerak, pernapasan, dll. Belajarnya juga sebenernya simpel sih, dari Gejala, Pemeriksaan apa yang dilakukan, Diagnosis, Terapi, Manajemen, dan KIE (Komunikasi-Informasi-Edukasi). Tapi guys , trust me, gak sesimpel itu. Di masa preklinik ini apa yang kita harus mengerti itu banyak sekali guys, dan dosennya juga dengan senyum manis penuh harapan berkata, “Jangan dihapalin dek, Tapi dimengerti! :3” Nah, setelah selesai kuliah 8 semester ini dan Tugas Akhir teman teman selesai, maka teman teman sudah mendapat gelar pertama Sarjana Kedokteran (S.Ked.). Dan juga, sebagian kecil ada yang menyudahi studinya hanya sampai jenjang Sarjana Kedokteran ini, lalu bertujuan menjadi akademisi, peneliti atau apapun profesi lain. Tapi biasanya tujuannya masih sama, meningkatkan derajat kesehatan bangsa melalui pendekatan promotif-preventif.

Masa Klinik (Koass/Dokter Muda)

Oke, masuk di masa ini, ini yang bikin kuliah kedokteran (dan ilmu kesehatan lainnya) sedikit berbeda dengan kuliah di prodi lain, ini adalah bagian pemantapan profesi. Setelah di Yudisium dan mendapat gelar Sarjana Kedokteran, biasanya ada pemantapan skill terlebih dahulu, kenapa? Karena yang kita hadapi itu pasien, pasien itu datang bukan hanya bagian tubuhnya yang sakit, tapi dia adalah manusia seutuhnya seperti kita, lebih jauh lagi, pasien pasien itu adalah guru kita, yang membuat kita jadi lebih terampil, mahir , dan profesional. Oleh karena itu, saya sangat ingat ketika pertama masuk sampai saat ini satu hal utama yang diajarkan Primum non Nocere, artinya adalah “First, Do No Harm.” Jangan sampai niat baik untuk menolong pasien, menjadi malapetaka buat pasien dan buat kita. Dan juga, karena selama 4 tahun di dunia preklinik kita lebih diutamakan untuk mempertajam pengetahuan kita di teori , maka sebelum masuk koass ini saatnya kembali mengulang skill dan kecakapan tangan kita dalam melakukan tindakan medis. Nah, setelah dinilai cakap dan mampu melakukan tindakan medis, maka para Sarjana Kedokteran ini dilepas oleh kampus dan mulai bekerja (sekaligus belajar) sebagai seorang dokter muda. Nah, kalau di masa preklinik tadi yang kita hadapi adalah manekin, yang kita hadapi saat ini adalah pasien sungguhan, dengan penyakit sungguhan, dan juga tentunya kita harus mengaplikasikan ilmu yang telah didapat selama 4 tahun itu untuk melakukan tindakan ke pasien tersebut. Di masa koass ini, kita dibimbing oleh Supervisor (Dokter Spesialis) dan bila ada juga dibimbing oleh kakak kita, PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis). Tergantung Rumah Sakitnya, ada yang ada PPDSnya, ada yang tidak. Kalau kata teman-teman yang sudah masuk sebagai koass, ada 3 hal yang benar benar dilihat bagi seorang koass yakni : Attitude, Knowledge,Skill. Kenapa attitude duluan yang disebut? Yak karena seperti yang dibilang di paragraf awal, kita memanusiakan manusia, karena pasien juga manusia. Oiyah, satu hal lagi yang paling penting, Inspanning Verbintenis, Artinya? Menjanjikan bahwa yang kita lakukan adalah usaha terbaik, karena kita tidak bisa melakukan Resultaat Verbintenis , menjanjikan suatu hasil. Oleh karena itu, anak kedokteran pasti sangat familiar dengan kata kata ini, To Cure Sometimes, To Relieve Often, To Comfort Always. Makanya, karena kita gak selalu bisa membuat pasien itu sembuh, yang paling penting itu membuatnya nyaman dengan pelayanan yang ramah dan sopan serta memberikan usaha terbaik yang kita miliki. Nah, dek koass ini selain bekerja, ia juga sedang menempuh masa pendidikannya untuk menjadi seorang dokter umum, jadi gak cuman sembarangan megang pasien, koass ini juga ada ujian tulis nya, mengerjakan tugas ilmiah, dan ujian megang pasien disamping mereka harus melakukan pelayanan pada pasien di siang hari dan jaga rumah sakit di malam harinya. Kebayang kan? Nah, untuk masa koass ini masa pendidikannya kira-kira 2 tahun lah. Selain itu, pada masa koass ini juga salah satu dinamika mahasiswa kedokteran, dimana mereka menemukan passionnya masing-masing. Mainstreamnya mereka semakin mantap untuk menjadi dokter yang kerja di klinik atau menemukan passionnya di bidang apa. Namun, ada juga yang setelah masa koass ini passionnya bergeser. Misal, waktu koass ada yang menikah, lalu lebih fokus dan enjoy menjadi ibu rumah tangga. Atau yang punya usaha, lalu lebih fokus dalam mengembangkan usahanya. Ada juga yang memang dari awal memang ingin mengembangkan diri di bidang riset dan mengembangkan ilmu kedokteran, ada juga yang menjadi pengajar. Bahkan, ada yang berkarir di bidang politik/birokrasi. Tidak ada yang salah, asalkan tujuannya baik, dan dilakukan dengan cara yang baik, InsyaAllah bermanfaat. Yeah, follow your passion! :D

UKDI dan Internship

Apaan lagi nih? Yak, ini adalah bagian setelah menyelesaikan masa rotasi klinik seorang dokter muda. UKDI adalah singkatan dari Uji Kompetensi Dokter Indonesia. Jadi, Dokter Muda yang telah lulus di setiap lab selama dia koass diperkenankan untuk mengikuti UKDI. UKDI terdiri dari dua tes, Ujian Teori dan OSCE. Ujian Teori adalah berisikan materi yang dimasukkan kedalam golongan 4A SKDI, yang artinya seorang dokter umum harus menguasai. Sedangkan OSCE adalah Ujian Clinical Skill, yakni kemampuan menangani pasien, dari pasien datang dengan keluhan hingga melakukan pemeriksaan fisik/lab dan menegakkan diagnosis (kurang lebih begitu, hehehe). Nah, setelah dinyatakan lulus UKDI, barulah kita boleh disumpah dan dilantik dan dilantik sebagai seorang dokter. Perjalanan selesai? Tunggu dulu… masih ada internship, internship adalah semacam pengabdian yang wajib dilakukan oleh seorang dokter yang baru lulus. Mereka akan ditempatkan di puskesmas-puskesmas/rumah sakit di daerah tertentu selama satu tahun, dan mendapat gaji (nominal tidak disebutkan karena masih terjadi dinamika dalam menentukan nominal gaji dokter internship). Setelah selesai , Barulah dokter internship dapat menentukan masa depannya sendiri, entah itu buka klinik, lanjut PPDS, kuliah lagi dan lain-lain.

Frequently Asked Question

Q: Kak, dokter itu artinya apa sih?

A: Dokter itu berasal dari bahasa latin, docere yang artinya adalah untuk mengajarkan. Jadi, selain melakukan terapu, dokter harus bisa menjelaskan apa alasannya kenapa terapi itu diberikan dan mengajarkan kepada pasien tentang efek samping dan apa yang harus dilakukan.

Q: Sebenernya kenapa sih kok banyak yang mau masuk FK?

A: Banyak alasan kenapa mau kuliah di FK , ada yang karena disuruh orangtua, ada yang karena melihat dokter itu keren (iya ini alesan gue, dokter jaga IGD itu keren), ada yang mau jadi orang kaya, dll. Butfirst, let me tell you… kalau tujuannya mau jadi orang kaya, mending cari profesi lain, karena pasien itu bukan berjalan, dan sebenarnya pendekatan kedokteran akhir akhir ini adalah kedokteran pencegahan. Selain itu memang bukan rahasia lagi, kalo selama kuliah di kedokteran, memakan banyak biaya. Selama tujuannya untuk masuk FK baik, InsyaAllah berkah kok kedepannya.

Q:  Selama kuliah di kedokteran dapet apa aja kak?

A:  Banyak! Kalo dari segi ilmu sih aku dapet ini : Bioetika, Kesehatan masyarakat, Biokimia dan biomolekuler, Anatomi-Fisiologi- Patologi,Radiologi, Onkologi, Mikrobiologi, Parasitologi, Imunologi, Farmakologi, Siklus Hidup, Muskuloskeletal,Hematologi, Dermatologi, Endokrinologi, Neurologi, Mata-THT, Metodologi Penelitian, Kardiologi, Repirasi, Urologi, Gastroenterohepatologi, Kedokteran Tropik Infeksi, Reproduksi, Forensik, Anestesi, Patient Safety. Banyak kan? Nah, yang lebih berkesan itu adalah ketika pengalaman ikut pengobatan gratis suatu lembaga, disana terlihat bahwa seorang dokter itu sangat dibutuhkan di daerah terpencil, masih banyak daerah yang belum ada dokternya, jadi kalo ikut pengobatan gratis gitu, warga juga respek ke kita, bagaimana kita bisa membuat mereka tersenyum dan berkata, “Nanti kalo sudah jadi dokter beneran, jangan lupa balik kesini lagi ya!” Itu dalem banget. Itu alesan kenapa aku tetap konsisten dan ga menyesal masuk kedokteran J

Q: OSCE sama praktikum itu bedanya apa kak?

A: Jelas beda! OSCE itu ujian megang pasien. Ya seperti apa yang dokter itu harus lakukan kepada pasiennya, kaya melakukan wawancara (anamnesis), komunikasi efektif, keterampilan klinis (kaya nyuntik, menjahit luka, pasang bidai, resusistasi jantung paru), menggunakan alat-alat medis (kaya oxygen mask, elektrokardiografi, baca foto rontgen, kateter), dan yang sangat penting melakukan pemeriksaan fisik (pemeriksaan nyeri ketok, colok dubur, periksa mata), nulis resep dan masih banyak lagi. Kalo praktikum itu ya penting karena itu sangat fundamental, praktikum anatomi dan histologi contohnya, penting sekali karena tanpa mengetahui susunan tubuh manusia, gak mungkin kita bisa paham sama  penyakit yang mungkin nanti terjadi disana. Ya praktikumnya semacam menghafalkan letaknya dimana, fungsinya apa, dsb.

Q: Trus nanti kalo udah jadi dokter gimana kerjanya? Ada pendidikan lanjutannya gak?

A: Nah ini, pertanyaan paling penting. Seperti yang di judul, tentunya teman teman sering melihat dokter yang kerjanya di klinik. Tapi, ada juga kok dokter yang kerjanya di bidang lain, dan ada keilmuannya juga. Seperti S-2 Biomedik nanti bergelar M.Biomed, ya itu nanti mereka kebanyakan kerja di laboratorium buat meneliti dan mengembangkan ilmu kedokteran, prospeknya peneliti ini juga bagus loh. Terus ada lagi MPH (Master of Public Health) itu adalah mereka yang kerjanya di bidang kesehatan masyarakat, yang bagian promosi kesehatan dan meneliti tentang persebaran penyakit ya disini ini. Terus ada lagi yang mendalami ilmu pendidikan kedokteran gelarnya M.Med.Ed. (Master of Medical Education) mereka yang akan mengembangkan sistem pendidikan kedokteran sehingga dokter yang dicetak adalah dokter yang berkualitas. Dan juga yang ngambil bidang Health Economy (belum ada prodinya di Indonesia) yang nanti akan meneliti masalah ekonomi kesehatan, erat kaitannya dengan BPJS. Terus tentunya juga buat kamu yang ingin jadi dokter spesialis, bisa ikut Program Pendidikan Dokter Spesialis. Melayani pasien sekaligus belajar, intinya begitu. PPDS ini macam macam lama studinya berkisar 7-10 semester. Nanti gelarnya ya Sp. A, Sp. PD dll. Selain yang disebutkan diatas, ada juga yang berkarir di bidang wiraswasta, dan juga birokrasi-politik (jadi caleg mungkin hehehe). Jadi, banyak kan pilihan kerjaannya kalo mau jadi dokter? Bisa jadi klinisi, peneliti, akademisi, birokrasi, dan juga enterpreneur.

Q : Kok ceritanya panjang banget kak?

A : Ya karena memang masa studi di dunia kedokteran itu panjang hehehe. 4 tahun preklinik, 2 tahun koass, 1 tahun internship plus kalo mau tambah masa studi PPDS/S-2, hehehe. Ini kalo mau baca rangkuman perjalanan selama masa kuliah saya à http://dhityoprima.tumblr.com/post/81213946019/cerita-masa-preklinik

Terimakasih kalo sudah mau baca cerita saya yang panjang ini J

 (*)

Primadhityo, S.Ked. | @dhityoprima

Kedokteran 2010, Universitas Brawijaya

Dhityoprima.tumblr.com

primadhityo23@gmail.com

Finals are next week and this little diagram of Imunology summons up part of what will be in the Imunology exam. PART. PART OF IT. And I also have to study Endocrine Fisiology, Virology, Patology and more Anatomy. I’m so screwed.

But yeah, I still love all this crap.

I can’t even feel really mad because, well, it’s awesome.

So, YAY! I have a bunch of head-craking exams comming!! UHULLL!!

Haha

I’m crazy.