imam syafie

Doa shalat tahajud adalah laksana anak panah yang tak pernah meleset dari sasarannya
— 

Imam Syafi’i

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. Qs. 17: 79

***

Rabi’ bin Sulaiman, dahulu adalah seseorang yang lemah pemahamannya, lambat dalam memahami suatu ilmu… Apa yang diajarkan padanya, ia selalu tak dapat memahaminya…

hingga pada tiap satu masalah, Al imam asy syafi'i harus mengulang-ulang nya, terus diulang-ulang hingga 40 kali di setiap majelisnya, Namun tetap saja tidak paham…

Maka beranjaklah Rabi’ dari majelisnya Asy syafi'i karena malu dengan keadaanya… Maka imam Syafi'i memanggilnya di saat ia sendiri, mengajarinya, mengulang-ulangnya, hingga pada akhirnya ia pun paham…

Berkatalah imam Asy syafi'i kepadanya: “wahai Rabi’, andai saja aku dapat menyuapimu/memberi makan padamu dengan ilmu, tentu aku akan melakukannya”…

Imam Al ajuri dalam kitabnya (akhlaqul ulama’) berkomentar: “maka kewajiban atas tiap pengajar adalah sabar dengan kesabaran yang ekstra terhadap seseorang yang lemah pemahamannya,

Lambat pahamnya, sampai ia pun paham apa yang diajarkan… Dan janganlah mencelanya, menghardiknya, hingga membuatnya malu”…

=================

Pada akhirnya, Rabi’ menjadi seorang imam, al imam Rabi’ bin sulaiman Al muradi, perowi kitab kitab Asy syafi'i, memiliki 200 orang murid brilian, dan ia adalah pelayan terbaik dalam melayani imam Syafi'i…

Kini, siapa yang menyangka, ia menjadi seorang Imam internasional… Pelajarannya bagimu wahai guru, bersabarlah anda, jangan cepat emosi dalam mendidik murid-murid anda…

Dan untuk engkau wahai penuntut ilmu, janganlah pernah lambanmu dalam memahami, menjadikanmu malu dalam menuntut ilmu…

Karena ilmu sejatinya bukan apa yang menjadi banyaknya riwayat, akan tetapi apa yang menjadikanmu bertambah takut kepada Allah…

Akhukum fillah

(zakariya rizky)

Barangsiapa ingin agar Allah membukakan hatinya atau meneranginya, maka dia harus meninggalkan pembicaraan yang tidak bermanfaat, meninggalkan dosa-dosa, menghindari perbuatan-perbuatan maksiat dan menyembunyikan amalan yang dikerjakan antara dia dan Allah. Jika dia mengerjakan hal tersebut, maka Allah akan membukakan ilmu baginya yang akan menyibukkan dia dari yang lainnya. Sesungguhnya dalam kematian terdapat perkara yang menyibukkan.
—  Imam Syafie

Tak kulihat semisal neraka; bagaimana bisa tidur buronannya. Tak kulihat semisal surga; bagaimana bisa tidur pemburunya. - Imam Asy Syafi'i

Kita hidup di dunia ini sebenarnya adalah buronan neraka. Tak henti-hentinya syaitan mengejar dan menggoda kita untuk menjadi pengikutnya. Namun di saat yang sama, kita juga menjadi pemburu surga. Melakukan segala amal shaleh dan perintah-Nya. Sehingga manakah yang lebih cenderung mendekat kepada kita? Neraka atau Surga? Semoga nasehat ini mengingatkan kita bahwa kita tidak bisa berdiam diri ketika menjadi buronan neraka dan kita harus semangat dan giat jika ingin memburu surga.

Jika wanita mendapati waktu sholat, kemudian tiba-tiba dia haidh. Wajib qodho sholat apa tidak?

Ada dua pendapat:

1. Wajib Qodho
Pendapat ini menurut jumhur ulama seperti Hanafiyyah, Syafi'iyyah, Malikiyyah. Tapi para ulama berbeda pendapat kapan ia harus qodho:

A. Jika ia baru takbiratul ihram kemudian haidh. Ini pendapat Hanabilah dan Syafi'iyyah.

B. Jika ia sudah dapat satu rakaat. Ini perkataan Imam Syafi'i

C. Jika ia sudah mendapati waktu sholat, dan dia menunda sholat sampai akhirnya keluar haidh. Ini pendapat Hanabilah Syafi'iyyah.

D. Jika ia mendapati waktu seukuran 4 rakaat. Ini pendapat Imam Malik.

E. Jika ia mendapati waktu, sampai waktu sholat mau habis dan dia tidak bisa sholat secara sempurna, kemudian dia haidh, maka wajib qodho.

2. Tidak Wajib Qodho.
Secara mutlak, entah dia haidh diawal maupun diakhir waktu sholat. Dan ini pendapat al-ahnaf dan madzhab zhohiri.

Yang rojih dan benar dalam masalah ini InsyaAllah adalah:

E. Bahwa wanita bila ia mendapati waktu sholat. Kemudian tidak sholat sampai sempit waktunya, yang mana ia tidak bisa sholat secara sempurna kemudian haidh sebelum ia sholat. WAJIB baginya qodho setelah suci. Karena ia telah menyia-nyiakan sholat.

Ini pendapat yang dipilih: Syaikh bin baz, Ibnu Taimiyah, Hanafiyyah, Hanabilah.

Adapun Syaikh al Utsaimin berpendapat bahwa wajib qodho bila ia sudah mendapati waktu sholat seukuran satu rakaat sempurna, entah di awal waktu atau di akhir waktu.

Hal ini sama seperti wanita yang suci sebelum terbit matahari, alias waktu shubuh mau habis, hanya cukup dipakai untuk sholat satu rakaat, maka ia wajib mandi dan qodho sholat shubuh.

~*

Pentingnya memahami fiqih wanita adalah ketika ada satu permasalahan kita sudah tahu bagaimana harus bersikap. Tapi seringnya ketika dihadapkan pada masalah, seringnya masih bingung dan was-was dalam memutuskan. Maka disinilah pentingnya sebuah ilmu sebelum amal.

Kuasai ilmu fiqih terutama fiqih wanita. Jika tidak mampu, berusahalah sesuai dengan kemampuan. Setidaknya pahamilah dasar-dasar fiqih wanita. Sebab bagaimanapun ilmu tersebut akan sangat terpakai ketika nantinya seorang wanita sudah menjadi seorag istri apalagi seorang ibu.

Teringat dengan perkataan seorang ustadz dalam suatu kajian kurang lebih seperti ini, “Pendidikan macam apa jika madrasahnya (ibu) lebih suka nonton drakor daripada belajar ilmu fiqih.”

Kemudian hal itu membuat saya berfikir bahwa nanti–ketika saya menjadi seorang ibu, ada tanggung jawab dan perhatian besar yang harus saya curahkan pada buah hati. Bagaimana menjadi ibu penuh waktu. Bahwa saya harus menyisihkan banyak ego atau saya harus rela mengurangi jatah menulis saya atau bahkan jatah waktu untuk diri saya sendiri agar lebih bisa banyak belajar hal-hal terkait menjadi seorang istri dan ibu yang baik.

Ya. Bagaimanapun mereka (anak-anak) memiliki hak atas pendidikan terbaik dari kedua orang tuanya.

*catatan: kamu wanita, di salah satu nama pemberian orang tuamu ada nama yang artinya wanita. Kelak, kamu akan menjadi istri dan ibu bagi anak-anakmu. Maka setelah pemahaman tauhid yang benar, belajarlah dengan benar dan sungguh-sungguh perihal ilmu ini.

10 Ramadhan 1438 H || 05 juni 17 || ©andromeda nisa’
#UNSTOPPABLE 13 : Meninggalkan Nasehat Di hatinya

Ketika sudah menikah, salah satu kegalauan menjadi perempuan adalah ketika memutuskan bekerja atau menjadi ibu rumah tangga saja. Tapi ini sangat subjective.

Fitrahnya memang dirumah. Namun, didalam Islam tidak Ada larangan seorang perempuan untuk berkarir. Contohnya adalah ibunda khadijah, beliau adalah pengusaha perempuan yang sangat sukses dan sukses juga merawat rumah tangganya.

lalu ada juga ibundanya Imam Maliq, Imam Ahmad, dan imam syafi'i. Ibunda beliau-beliau ini adalah seorang single parent. Artinya apa? artinya ibunda ibunda tersebut tentunya harus menafkahi sendiri kebutuhan keluarganya. Bayangkan betapa hebatnya anak-anak mereka yang mampu memberikan manfaat dengan karya hingga mereka telah tiada. Jadi, perempuan yang berkarir tetap bisa mendidik anak-anak dengan baik.

Bagaimana cara mendidik anak padahal kita sibuk bekerja?

kuncinya adalah prinsip dalam mentarbiyah anaknya, hal ini terdapat dalam surat Ali Imran ayat 35 :

(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”

ketika seorang ibu mengandung, maka anaknya sudah didoakan untuk menjadi hamba Allah.

lalu ketika sang anak lahir ke dunia dan terus bertumbuh, dan disaat yang sama, sang ibu tidak bisa mendampinginya selama 24 jam. Tak apa. Meskipun ibunya bekerja, jauh dari anak, tapi hatinya selalu mendampingi sang anak selama 24 jam. How come?
dengan mengkoneksikan hati ibu dengan anaknya melalui DOA terus dan terus.

“Ya Allah, semoga anakku engkau dekatkan dengan teman-teman terbaik yang cinta kepada-Mu.
Ya Allah, semoga engkau mempertemukan anakku dengan guru yang mengajarkan kebaikan”

begitulah,
walaupun jauh dari anak namun tetap bisa mendampingi mereka 24 jam. Allah yang akan menjaganya. Titipkan sang anak ke Allah.

Kemudian, cara mentarbiyahnya adalah dengan cara meninggalkan satu nasehat setiap hari. Inilah salah satu tugas dan tanggung jawab seorang ibu, yaitu menanamkan bibit kebaikan ke hati anaknya. Bibit kebaikan yang semoga bisa menjadikan hati anaknya bersih dan bening. Memberikan satu nasehat setiap hari adalah pekerjaan simple, namun efeknya bisa jadi tak terkira.

Pada suatu hari, ibunda dari Imam syafi'i berpesan : “Nak, mau berjanji untuk tidak berbohong kepadaku? jadilah anak yang jujur”.

Ketika Imam Syafi'i merantau untuk menuntut ilmu, ibunya memberikan banyak uang. Namun sayang, ditengah perjalanan ada perampok yang menghadang.

semua orang yang seperjalanan tidak mau mengaku dimana mereka menyimpan uang mereka. adalah Imam Syafi'i bocah kecil tang jujur. ia memberitahukan dimana uang yang dimilikinya. kejujuran itu ternyata membuat hati perampok luluh. bukannya mengambil uang itu, tapi perampok malah bertaubat jadi perampok.

Betapa dasyatnya satu pesan yang ditanamkan dalam hati seorang anak. Kebermanfaatannya mengalir tidak hanya di diri anaknya saja tapi juga sampai ke hatinya orang lain. Kegiatan simpel ini, Jangan diabaikan. Tanamkan terus bibit kebaikan itu setiap waktu.

Benarlah bahwa ibu adalah inspirasi bagi anaknya. Menjadi perempuan dengan berbagai peran, jadi istri, ibu sekaligus berkarir pasti akan rempong. Namun jalanilah dengan passion.
Semoga dimampukan, ya!

Bandung, 09 Juni 2017

Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak pernah menampakkan kedudukannya.

Dan orang yang paling mulia adalah orang yang tidak pernah menampakkan kemuliaannya.

—  Imam Asy-Syafie رحمة الله تعالى - Syu'abul Iman, Al-Baihaqi, 6:304
Merdeka!!!

Hiduplah tanpa utang dan meminta2, maka kamu akan tenang dan merdeka meski hidup beratap langit dan beralaskan tanah.

Sandal jepit, baju bekas, hp butut tidak membuatmu hina jika didapat dari keringat sendiri.

Ingin tampil keren tapi hutang sana-sini, hanya akan membuat hidup tercekik dan penuh pikiran 😊😊😊

Kata imam Asy-Syafi'i rahimahullahu
إذا ما كنت ذا قلب قنوع فأنت ومالك الدنيا سواء

Kalau kamu punya hati yang qona'ah maka kamu dan seorang raja adalah sama 😊

Sen @SenyumSyukur
Penulis Cinta dan Kehilangan
Apa Kabar Rindu

Ketika Zulaikha mengejar cinta Yusuf, makin jauh Yusuf darinya, ketika Zulaikha mengejar cinta Allah , Allah datangkan Yusuf kepadanya.” ❤
.
“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan ke atas kamu peritnya sebuah pengharapan supanya kamu mengetahui bahawa Allah amat mencemburui hati yang berharap selain Nya, maka Allah menghalang kamu daripada perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada Nya.
— 

Riwayat Imam as Syafie

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وبرك وسلم

Ilmu Perkahwinan

“Amanah dan Tanggungjawab lelaki ini adalah besar. Didalam Al-Quran Allah سبحانه وتعالى berfirman; "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan. Di dalamnya ada malaikat yang kasar lagi bengis yang tidak mengingkari terhadap apa yang diperintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

“Bukan syurga itu untuk kamu sendiri-sendiri. Kamu yakni lelaki akan dipertanggungjawabkan oleh Allah سبحانه وتعالى di akhirat ke atas isteri, anak-anak, dan adik beradik kamu, khususnya kaum perempuan. Membimbing mereka ke syurga. Lelaki itu bertanggungjawab ke atas perempuan dengan kelebihan yang Allah سبحانه وتعالى berikan.”

“Bukan hanya oleh suami kepada isterinya, oleh anak lelaki kepada ibunya, bahkan juga oleh saudara lelaki kepada saudara perempuannya. Iaitu membimbing adik ataupun kakaknya, tiga perkara yang pertama, Pendidikan. Yang kedua Nafkah. Dan yang ketiga, Pemeliharaan. Itu adalah amanah daripada Allah سبحانه وتعالى.”

“Lelaki yang menerima perempuan sebagai isterinya, bermakna dia telah menerima amanah daripada Allah dan dia bertanggungjawab kepada Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪﻭﺗﻌﺎﻟﻰ, bukan hanya di dalam memberi nafkah makan dan minum ataupun
nafkah batin, tetapi nafkah tarbiyah.”

“Nafkah tarbiyah yakni pendidikan untuk menjadikan seorang wanita solehah, isteri yang solehah. Dan jangan hanya mampu memberikan nafkah untuk dia melakukan apa saja daripada kenikmatan keduniaan tanpa di perhatikan solatnya atau hijabnya, tanpa diperhatikan siapa dia bergaul, dengan siapa. Dengan keluarnya, dengan siapa dia makan dan minum. Sebaik-baik wanita itu adalah yang tidak dikenali.”

“Rasulullah ﷺ tidak suka memperkenalkan isterinya kepada orang lain kecuali jika ada orang yang bertanya kepada baginda rasulullah ﷺ. Di zaman kita sekarang, dihebohkan dan upload di Facebook dan sebagainya. Nak tunjuk lah. Bilamana seseorang itu berkahwin, pasangan suami isteri itu akan menjadi satu dalam segala halnya. Termasuk kebahagiaan dan juga kesusahannya, bukan hanya di Dunia tetapi juga di Akhirat.”

“Dan Allah سبحانه وتعالى mewasiatkan kamu tentang anak anak kamu. Didiklah, berilah hak tarbiyah buatnya. Kamu hendaklah ambil berat amanah dari Allah سبحانه وتعالى. Kerana segalanya akan ditanya oleh Allah. Jadikan kita disayangi oleh Allah سبحانه وتعالى, kerana anak anak kita yang soleh. Dan kita diberi darjat dan kelebihan oleh Allah kerana anak anak kita yang soleh.”

“Antara hal yang menjejaskan moral perangai, karektor rosak, punca yang merosakkan agama anak itu adalah Kemiskinan. Yang kedua adalah, Pertengkaran orang tua di hadapan anak. Yang ketiga, adalah Perceraian. Yang keempat, adalah Masa kosong anak yang tak dipenuhi dengan pengisian atau hal yang bermanfaat. Penuhilah masa anak-anak kita dengan perkara perkara sunnah seperti bersukan, memanah, berenang dan lain lain.”

“Elakkan pergaulan dengan teman teman yang tidak baik dan tidak dipantau orang tuanya. Seseorang itu menyerupai akhlak temannya, maka pilihlah dengan siapa dia berteman. Dalam masa empat puluh hari sahaja, merek akan menular terikut perangai kawannya. Hati hati kamu dengan teman yang tidak baik, kerana kamu akan dikenali identiti kamu dengan siapa kamu berteman.”

“Perangai yang tidak baik itu, ada di setiap zaman, cuma orangnya saja berbeza. Nasihati anak, beritahu kenapa perlu pilih kawan yang baik, ajak anak terima dengan rasional. Terangkan kepadanya. Dan juga Pantau, kenali kawan kawan anak, agar terjamin akhlak anak kita supaya tidak terjejas. Buruknya sikap orang tua kepada anak, akan menyakiti anak. Jika disakiti orang itu lukanya biasa.”

“Akan tetapi, disakiti orang yang disayangi itu lukanya adalah luar biasa. Dan cara atau sikap orang tua menghina, memaki, menjatuhkan air muka anak, lebih lebih lagi di hadapan orang, dan lebih teruk lagi menghalau, akan memberi kesan besar kepada anak, pecah hati dan patahnya semangat anak ketika membesar.”

“Sesungguhnya Allah سبحانه وتعال menyuruh kamu bersikap adil, ihsan kepada ahli kamu. Hendaklah orang tua menjaga sikap ketika marah, menegur anak. Allah سبحانه وتعال memuji orang yang menahan marah, lebih lebih lagi kepada ahlinya yakni anaknya. Berkata baik kepada manusia, lebih tampilkan lemah lembut dan kata kata baik kepada ahlinya.”

“Semoga Allah سبحانه وتعالى merahmati orang tua yang membantu anaknya untuk berbakti kepada orang tuanya. Ramai orang tua tidak pantau program apa yang ditonton anak, apa yang dibaca, apa yang dikata. Orang tua mengabaikan pendidikan anak kerana kesibukan, terutama ibu, lebih sangat bahaya apabila tak menunaikan tanggungjawabnya.”

“Ibu itu madrasah pertama yang menentukan batu asas, kukuhnya bangunan, tinggi rendahnya, kental lemahnya peribadi dan akhlak anak. Ibu mendidik anak tanpa ayah tak sama dengan ayah mendidik anak tanpa ibu, menunjukkan betapa besarnya peranan ibu.”

“Contohilah dan baca bagaimana hebatnya Ibu Imam As-Syafie dan Ibu Sheikh Abdul Kadir Al-Jailani anak terkesan dengan ibadah ibunya, visi ibunya. Rasulullah ﷺ, Ajarkan kepada kita. Ajarkan anak kamu tiga perkara. Yang pertama, Cinta kepada Rasulullah ﷺ. Yang kedua, Cinta akan ahli keluarga Baginda Rasulullah ﷺ. Dan yang ketiga, Ajarkan anak kamu Al-Quran.”

Daripada Sayyidil Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar Al-Hamid

Mengapa Menulis #edisiramadhan? (1)

1. Belajar. Sesuka apa pun kita sama dunia menulis, kalo belum nemu jati diri tulisan kita rasanya belum nyaman. Alih-alih sebagai ajang menumpahkan gagasan atau perasaan, menulis malah menjadi beban jika kita belum menemukan kenyamanan di dalamnya. Dan untuk mengetahui jati diri tulisan, kita perlu menggali dan menggali dengan membiasakannya.

2. Mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat. Sebagaimana pesan Imam Syafi'i, jika kita tidak disibukkan dengan hal-hal baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang sia-sia. Saya bukan orang yang sibuk. Jadi mau ngapain lagi? Toh walaupun ada pekerjaan-pekerjaan lain, menulis tidak memakan waktu kita seharian, kan?

Dengan menulis, kita terpacu untuk membaca dan menelaah. Mengkaji ayat, hadist, kisah-kisah dan kata-kata inspiratif, berdiskusi dengan teman, dan hal-hal kecil lainnya yang belum tentu kita bergerak ketika tidak menargetkan harus menulis.

3. Membuat tantangan. Saya termotivasi dengan slogan @deendeer “Apa yang sudah kita mulai, selesaikanlah!”, atau pernah juga baca ungkapan lainnya, “Kita yang memulai, kita juga yang menyelesaikannya”.

Dalam berorganisasi mungkin saya terbilang vokal dan perfeksionis agar bagaimana sebuah program tetap berjalan dan baik (pada perjalannya masih sangat banyak yang harus saya evaluasi). Jadi jika untuk menjalankan program organisasi saja saya semangat, harusnya menulis lebih dari itu.

4. Membuat sejarah. Sukses menulis rutin selama 30 hari bukan hal biasa. Program ini biasanya digarap komunitas atau lembaga-lembaga. Tapi untuk seorang pribadi? Jarang, mungkin. Hanya mereka yang benar-benar biasa dan mencintai menulis.

Dan saya belum pernah mencoba merutinkan pekerjaan mulia ini. Masih suka ikutan mood mengerjakannya. Masih belajar memaknai cinta dengan benar; pengorbanan dan kata kerja, kan? Bagaimanapun tanggapan teman-teman lingkaran kita, pujian atau ketidakpedulian, yang jelas jika (in syaaAllah) 30 hari tuntas, ada kesyukuran istimewa tersendiri bagi saya.

5. Meluaskan wawasan. Baru berjalan 4 hari, saya sudah merasa buntu mau menulis apa. Dengan begini, saya harus cari “dunia lain” yang bisa melapangkan pikiran saya. Tanpa disadari, ia membuka pemahaman saya sedikit demi sedikit, dan (lagi-lagi) belajar menyampaikannya dalam tulisan.

Ah, memang semakin kita mencoba menulis, semakin merasa bahwa kemampuan kita belum apa-apa. Tulisan saya masih terlalu pagi untuk direalisasikan pada 30 hari menulis ini. Ia masih mencari-cari jati diri. Masih mencoba begitu dan begini. Tapi percayalah, jika tidak memulai dari sekarang, kapan?

6. Yang terpenting, menulis adalah salah satu kendaraan yang mengantar kita lebih mendekatkan diri kepada Allah. Jika menulis malah menjauhkan kita dari Allah, maka berhentilah.

Bagi saya, memuat sebuah tulisan adalah ujian. Ujian keikhlasan, kesabaran, ketundukkan, pertanggungjawaban atas apa-apa yang kita tulis. Kalau kita tidak mengiringinya dengan doa dan upaya mengaplikasikan apa yang tertulis, mungkin ia mudah rapuh. Dan siapa Pembolak-balik hati? Siapa Pemberi dan Penjaga hidayah di jiwa-jiwa hamba? Siapa Yang menganugerahkan berkah dan rasa tenang di kehidupan kita?

Maka merenunglah ketika menulis membuat kita bangga diri atau menduakan-Nya.

Maka dari itu mohon bimbingan dari master-master tumblr sekalian. Jangan bosan menemukan postingan #edisiramadhan saya yang masih belia ini ya. Masukan dan kritikannya saya harap dan sambut sesenang hati.

Tulisan ini saya buat untuk menguatkan diri ketika lelah dan ragu menyapa. Ketika menulis serasa beban dan tak tertuju. Semoga senantiasa Allah mudahkan tuk luruskan niat. Bismillah.


|| Renungan, 300517

Mengapa Jargon “Berpegang pada Qur'an dan Sunnah” bisa menipumu.

1. Karena teks al-Quran perlu dibaca dengan ilmu. Ilmunya seabrek. Dan terjemah Qur'an sama sekali tidak mencukupi untuk paham Qur'an.

2. Karena yang disebut “Sunnah” itu bukan Nabi. Karena Nabi tak pernah menulis sendiri Haditsnya. Maka kalau mau jujur, sebut saja kita berpegang pada karya Imam Bukhori. Mengikuti jalan beliau.

3. Ahli Hadits boleh saja menyebut karya Imam Bukhari itu paling sahih, tetapi Hadits yang ada di al-Muwatta’ ditulis oleh orang yang jalurnya ke Nabi lebih pendek. Demikian juga Hadits dalam kitab al-Umm. Jika Hadits-Hadits mereka tidak dinilai sahih oleh Imam Bukhari, jangan lantas sepelekan Hadits mereka. Karena Imam Malik dan Syafi'i, apapun argumenmu, lebih dekat ke Nabi. Adil lah.

4. Bahkan, Hadits sahih pun tak harus diikuti. Jika yang sahih itu hanya bersumber dari satu jalur (disebut “Hadits Ahad”), bertentangan dengan Qur'an, sudah dibatalkan (mansukh), atau bertentangan dengan Ijma’.

5. Saya menyebut “jargon” karena dalam praktiknya, tidak ada di jaman sekarang orang yang benar-benar mampu memperoleh Sunnah Nabi tanpa melalui jalur yang digariskan para ulama terdahulu.

6. Jargon itu, makanya, bisa menipu. Si Ustadz bilang “Menurut Hadits…” Padahal itu hanya menurut penafsiran si Ustadz. Kita sesungguhnya hanya kembali ke Ustadz. Atau, kembali ke Sunnah lewat si ustad; nggak beda dengan cara lama kembali ke Sunnah lewat Imam Syafi'i.

7. Kalau mereka yang bermazhab mengatakan, “menurut Imam Malik…” Maka si Ustadz bilang “menurut Hadits…”. Yang pertama mengakui peran Imam Malik. Yang kedua? Entahlah.

8. Terpenting, waspadai akibatnya. Terhadap cara mereka yang bermazhab, kita bisa santai menolak karena menolak “pendapat” Imam Malik tentang suatu Hadits; adapun terhadap cara si Ustadz, kita dituduh “menolak Hadits” (padahal sih cuma menolak pemahaman si Ustadz).

Wallahu'alam bis-sawab.

- Dr. Arif Maftuhin -

Mendoakan yang sudah meninggal, Tahlilan

Membaca tahlil atau Surat Yasin sejatinya adalah berzikir; zikir yang bertujuan mendoakan keluarga yang telah wafat. Hal itu bisa dilakukan secara individual maupun berjamaah. Jika dilakukan secara individual, maka kita bisa melakukannya kapan saja dan di mana saja. Jika dilakukan secara berjamaah, tentu harus berkumpul di tempat khusus. Zikir yang dilakukan secara bersama-sama, merupakan ibadah yang dianjurkan oleh Islam. Rasulullah SAW bersabda:

لاَيَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ عَزَّوَجَلَّ إِلاَّحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ (رواه مسلم)

_Tidaklah berkumpul suatu kaum sambil berzikir kepada Allah Swt, kecuali mereka akan dikelilingi oleh para malaikat. Allah Swt. akan melimpahkan rahmat kepada mereka, memberikan ketenangan hati, dan Allah akan memuji mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. (HR. Muslim)_
Imam as-Syafi’i ra. menyatakan:

_“Sesungguhnya Allah Swt. telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya, bahkan juga memerintahkan kepada Rasul-Nya. Apabila Allah Swt. memperkenankan umat Islam mendoakan saudaranya yang masih hidup, tentu diperbolehkan juga mendoakan saudaranya yang telah wafat. Dan barokah doa tersebut Insya Allah akan sampai kepada yang didoakan. Sebagaimana Allah Swt. Maha Kuasa memberi pahala kepada orang yang hidup, Allah Swt. juga Maha Kuasa memberi manfaat doa kepada mayit.”_

(Diriwayatkan al-Baihaqi dalam Manaqib al-Syafi’i, Juz I, hal. 430
Dalam hadits riwayat Aisyah ra., Rasulullah saw. bersabda:

ما من ميت تصلي عليه أمة من المسلمين يبلغون مائة يشفعون له إلا شفعو فيه (صحيح مسلم)

_Mayyit yang dishalati oleh seratus orang Muslimin sambil (berdoa) memintakan ampun baginya, tentu permohonan mereka akan diterima. (HR. Muslim, 1576)_

Mendoakan keluarga, khususnya kedua orang tua yang sudah wafat, merupakan anjuran agama. Karena orang yang sudah wafat tidak bisa lagi berbuat kebajikan. *Yang bisa ia harapkan hanya 3 hal, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakan* atau bersedekah untuknya (al-hadits). Jika ilmu dan harta tidak punya, maka doa anak-cuculah yang selalu ditunggu oleh ahli kubur (kita semua calon ahli kubur, lhoo…).

Kita diajurkan selalu mendoakan leluhur kita, yang wafatnya bukan disebabkan mati syahid, karena mereka pasti akan menghadapi ujian berat di alam kubur. Hal ini ditegaskan oleh banyak hadits Nabi SAW (akan dijelaskan di belakang). Sedangkan orang yang mati syahid, mereka sudah “cukup” dengan kesyahidannya. Pernah seorang shahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, kenapa hanya orang mati syahid yang terbebas dari ujian kubur? Rasulullah SAW menjawab:

كفى ببارقة السيوف على رأسه فتنة

_Cukuplah ujian orang yang mati syahid itu ketika ia menghadapi kilatan pedang (ujiannya saat berperang)._

Sedangkan bagi orang kebanyakan yang tidak mati syahid, maka ujian dan siksa kubur akan selalu menunggu.
Sehingga wajar bila kita selalu mendoakan mereka, baik lewat tahlil atau bacaan Surat Yasin, agar mereka bisa menghadapi ujian di alam kubur dengan baik.

Hakikat Tahlil dan Yasiin Secara bahasa, tahlil artinya membaca la ilaha illalLah. Istilah sudah menjadi dialek orang Arab yang kemudian diindonesiakan. Karena itu, di Indonesia, istilah tahlil digunakan untuk menunjukkan aktivitas doa yang di dalamnya memuat bacaan la ilaha illalLah, yang ditujukan untuk orang yang sudah wafat. Dari sini dapat dipahami, bahwa di dalam tahlil pasti terdapat bacaan la ilaha illalLah dan zikir-zikir yang lain, termasuk ayat-ayat al-Qur’an.

Tahlil yang biasa dibaca oleh kaum Muslimin di Indonesia, khususnya kaum Nahdliyyin, merupakan kumpulan doa yang diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an, mulai dari Surat Al-Fatihah, permulaan Surat al-Baqarah, hingga tiga surat terakhir (Al-Ikhlas, al-Falaaq, dan an-Naas). Banyak sekali riwayat hadits yang menunjukkan keutamaan bacaan-bacaan tersebut, yang tentu saja tidak cukup diurai satu per-satu di sini.

Dari sini dapat ditarik benang merah, bahwa redaksi tahlil tidak harus sama. Tidak ada tahlil tunggal yang harus diikuti oleh semua orang. Setiap doa yang ditujukan untuk orang yang sudah wafat, yang di dalamnya memuat la ilaha illalLah, semua itu hakikatnya adalah tahlil
Maka, di setiap daerah, bacaan tahlil itu tidak sama persis. Sebab, tujuan utama tahlil bukan lafadznya, bukan redaksinya, melainkan doanya dan kandungan isinya.

Mengenai pembacaan Surat Yasin, hal itu juga merupakan ibadah dan doa yang sangat dianjurkan. Diriwayatkan oleh Ma’qil bin Yasar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda:

ويس قلب القرأن لايقرؤها رجلٌ يريد الله تبارك وتعالى والدار الاخرة إلا غفرله, واقرؤها على موتاكم (مسندأحمد بن حنبل)

_Surat Yasin adalah jantung Al-Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya dengan mengharap ridla Allah Swt, kecuali Allah Swt. akan mengampuni dosa-dosanya. Maka bacalah Surta Yasin atas orang-orang yang telah meninggal di antara kamu sekalian. (Musnad Ahmad ibn Hanbal, 1941)_
Pembagian Waktu Mengenai waktu untuk mendoakan, sebenarnya boleh dilakukan kapan saja dan di mana, baik dilakukan secara individual maupun bersama-sama. Sebab, seperti telah ditegaskan di muka, orang yang sudah wafat itu mendapat ujian berat selama berada di alam kubur, menunggu hari kiamat tiba.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, saat terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah SAW, beliau memimpin shalat gerhana. Dan ketika sedang berkhutbah, beliau mengingatkan tentang beratnya ujian bagi orang yang sudah wafat:

إن الناس يفتنون في قبورهم كفتنة الدجال. قالت عائشة وكنا نسمعه بعد ذلك يتعوذ من عذاب القبر

_Sesungguhnya manusia itu diuji di dalam kuburan mereka, seperti ujian Dajjal. Siti Aisyah menyatakan: Setelah itu kami mendengar beliau (Nabi) memohon perlindungan dari siksa kubur._

(As-Sunan al-Kubra li an-Nasa’i, 1/572. Lihat juga Tahdzib al-Atsar 2/591 dan Shahih Ibnu Hibban 7/81). 
Imam Ibnu Jarir at-Thabari mempertegas maksud hadits di atas sbb:

وأخرج ابن جرير في مصنفه عن الحارث بن أبي الحرث عن عبيد بن عمير قال : يفتن رجلان : مؤمن ومنافق فأما المؤمن فيفتن سبعا, وأما المنافق فيقتن أربعين صباحا

_Ibnu Jarir meriwayatkan dalam Mushannafnya, dari Ibnu Abi al-Harts, dari Ubaid ibn Umair, ia berkata: Yang diuji (di dalam kubur) adalah dua orang, yakni orang mukmin dan munafik. Orang mukmin diuji selama 7 hari, dan orang munafik diuji selama 40 hari (ad-Durr al-Mantsur, 5/38)._

Imam Suyuthi menandaskan bahwa:

_“Tradisi bersedekah selama 7 hari merupakan kebiasaan yang telah berlaku hingga sekarang (zaman Imam Suyuthi) di Mekah dan Madinah. Yang jelas, kebiasaan itu tidak ditinggalkan sejak masa sahabat Nabi Saw. sampai sekarang. Dan tradisi itu diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama (masa sahabat Nabi Saw)”._

Telah kita maklumi, kaum Muslimin yang mengadakan tahlil atau Yasinan, juga bersedekah dengan memberikan hidangan kepada para undangan.

Pahala sedekah tersebut ditujukan untuk keluarga mereka yang sudah wafat. Sedangkan istilah “haul” (peringatan satu tahunan setelah kematian) diambil dari sebuah ungkapan yang berasal dari hadist Nabi Saw. dari al-Waqidi:

كان النبي ص.م يزور الشهداء باحد فى كل حول, واذا بلغ الشعب رفع صوته فيقول :سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار ثم ابو بكر رضي الله عنه كل حول يفعل مثل ذلك ثم عمربن الخطاب ثم عثمان بن عفان رضي الله عنهما (اخرخه البيهقي)

_Rasulullah saw. setiap haul (setahun sekali) berziarah ke makam para syuhada’ Perang Uhud (tahun ke 3 H.) Ketika Nabi saw. sampai di suatu tempat bernama Syi’b, beliau berseru: Semoga keselamatan tercurahkan bagi kalian atas kesabaran kalian (para syudaha’). Alangkah baiknya tempat kembali kalian di akhirat.” Kemudian Abu Bakar juga melakukan seperti itu. Demikian juga Umar bin Khatthab ra. dan Utsman bin Affan ra. (H.R. Baihaqi)_
Terkait Hukum selamatan hari ke-3, 7, 40, 100, setahun, dan 1000 hari sy menemukan dalil/ Keterangan dari kalangan jamaah nahdliyin diambil dari *kitab “Al-Hawi lil Fatawi” karya Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi jilid 2 halaman 178*

قال الامام أحمد بن حنبل رضي الله عنه فى كتاب الزهد له : حدثنا هاشم بن القاسم قال: حدثنا الأشجعى عن سفيان قال قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام , قال الحافظ ألو نعيم فى الجنة: حدثنا أبو بكر بن مالك حدثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل حدثنا أبى حدثنا هاشم بن القاسم حدثنا الأشجعى عن سفيان قال: قال طاوس: ان الموتى يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام

_“Telah berkata Imam Ahmad bin Hanbal ra di dalam kitabnya yang menerangkan tentang kitab zuhud: Telah menceritakan kepadaku Hasyim bin Qasim sambil berkata: Telah menceritakan kepadaku al-Asyja’i dari Sufyan sambil berkata: Telah berkata Imam Thawus (ulama besar zaman Tabi’in, wafat kira-kira tahun 110 H / 729 M): Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut. Telah berkata al-Hafiz Abu Nu’aim di dalam kitab Al-Jannah: Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Malik, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepadaku Ubay, telah menceritakan kepadaku Hasyim bin al-Qasim, telah menceritakan kepadaku al-Asyja’i dari Sufyan sambil berkata: Telah berkata Imam Thawus: Sesungguhnya orang-orang yang meninggal akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah meninggal selama hari-hari tersebut.”_
Selain itu, di dalam kitab yang sama jilid 2 halaman 194 diterangkan sebagai berikut:

ان سنة الاطعام سبعة أيام بلغنى أنهامستمر الى الأن بمكة و المدينة فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة الى الأن و انهم أخذوها خلفا عن سلف الى الصدر الأول

_“Sesungguhnya, kesunnahan memberikan sedekah makanan selama tujuh hari merupakan perbuatan yang tetap berlaku sampai sekarang (yaitu masa Imam Suyuthi abad ke-9 H) di Mekkah dan Madinah. Yang jelas kebiasaan tersebut tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat sampai sekarang, dan tradisi tersebut diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama, yaitu sahabat.”_
-bersambung- Sumber: ust. Helmi O

Ramadhan #23 : Ilmu bukan sesuatu yang instan

Jika sekarang sedang ngetrend makanan instan, maka ilmu tidak. Untuk menghasilkan makanan instan pun membutuhkan waktu yang tak sebentar. Ada tahap yang harus dilalui, formulasi produk, proses produksi hingga distribusi dan bisa kita nikmati.

Begitu pula dengan ilmu, tidak didapat dengan cara yang instan, melainkan dengan proses bertahap. Kalau kata Imam Syafi'i, ilmu itu didapat dengan:

1) Kecerdasan
2) Semangat
3) Penuh kesabaran
4) Biaya dalam mencarinya
5) Petunjuk guru
6) Jangka waktu yang panjang

Pendidikan formal yang kita tempuh, dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi setidaknya memakan waktu belasan tahun. Bahwa kita terus belajar, tak mengenal waktu.

Ilmu tidak gratis, kita membutuhkan biaya. Ada yang kita korbankan, waktu.


Tulisan ini adalah bagian dari challenge #30daysramadhanwriting yang saya ikuti yang diinisiasi oleh teh @novieocktavia. Semoga bisa istiqomah menulis selama ramadhan ini dan tulisan tanpa tema alias random setiap harinya akan saya upload di rentang waktu 16.30-17.00. Masih belajar. Semoga bermanfaat.

Solok, 18 Juni 2017

CERPEN : HUJAN

Aneh. Taip kali nama kau hadir, tiap kali itu juga air mata akan mengalir.

Kau seperti hujan. Datang tiba-tiba lalu pergi meninggalkan seribu cerita.

* * * * * * * * * * *

Hujan. Teragak-agak dia nak melangkah.

“Haih. Aku tak suka hujan. Redah je lah! 1 2 3!”

Dia pelik. Aik. Kenapa tak basah? Dia tengok atas. Payung? Cepat-cepat dia toleh sebelah.

Siapa dia ni? Gadis tersebut tersenyum manis.

“Shall we?” Gadis itu senyum lagi.

* * * * * * * * * * * *

“Nah. Aiskrim.”
“Apesal tetiba?”

“Sebab aku suka makan aiskrim bila aku sedih.”
“Makan aiskrim waktu hujan?”

*angguk*
Sepi.

“Hidup tanpa ujian bukan hidup namanya. Tapi mimpi. Tak salah kalau nak menangis. Yang salah bila lepas nangis tapi tak nak bangkit balik.”
*sepi lagi*

“Dia tu baik. Aku tak. Bukan ke orang baik selalu dapat orang baik.”
“Definisi baik itu ikut definisi baik Allah. Kau usaha la bagi sama level dengan dia. Then doa banyak-banyak.”

“Aku tahu siapa aku. Tak baik.”
“Selagi ada nafas, selagi ada hidayah dalam hati, tak ada istilah terlambat untuk berubah jadi baik. Meskipun nanti kau tak berjodoh dengan dia.”

“Banyak dosa aku da buat. Aku rasa down. Sedih. Loser.”
“Tak payah cerita aib kau. Biar Allah je tahu. Tak pe pun rasa sedih, rasa down atau rasa loser. Kadang semua tu yang bawa kita pada Allah. Bila kita nangis dan tak berdaya, tu la tandanya kita ni hamba.”

Capai tangan dan senyum segaris.

“Kau tahu. Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.(Imam Syafie)”
*Tarik nafas.*

“Kalau mungkin satu hari nanti dia memang jodoh kau, tu hanya sebab Allah tak pernah silap mengatur jodoh.”
“Aku mungkin tak dapat orang yang aku cintai tapi Tuhan ganti dengan sahabat sejati.”

* * * * * * * * * * * * * *

“Kenapa sedih?”
“Eh. Siapa cakap aku sedih?”

“Tu. Makan aiskrim waktu hujan.”
Pandang dan senyum kelat.

“Tahu apa maksud iman?”
*Jeda*

“Mempercayai dengan hati, mengakui dengan lisan dan beramal dengan anggota. Selagi ada iman, walau senipis kulit bawang, selagi tu tetap ada ruang untuk jadi baik.”
*tiada respond*

“Didik diri macam mana kecewa pun dengan hidup, macam mana tertekan pun dengan ujian, kena kuatkan iman. Cari Allah semula walau kau rasa kau teruk sebab cari Allah masa kau susah je. Tapi, sekurang-kurangnya kau tahu yang akhirnya kau kena balik pada Allah. Terkadang dalam hidup ni kita rasa seakan nak putus asa tapi kemudian kita tersedar yang rahmat Allah itu luas. Life breaks us all but in the end we’re stronger in the broken places. Have faith and trust in Allah.”

“Kau tak tempuh apa yang aku lalui. Kau tak rasa apa yang aku rasa.” Nada mendatar.
“Aku mungkin tak rasa apa yang kau rasa. Aku mungkin tak lalui apa yang kau dah lalui. Bak kata kau, dunia setiap orang tak pernah sama. Tapi entah macam mana, aku yakin kau mesti boleh tempuh dan rempuh masalah tu. Keep being strong. Mana sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Al-insyirah: 5-6)”

“Things are easier said than done.”
“Aku tahu tiada kata-kata yang boleh hilangkan keresahan kau. Tapi aku boleh teman kau walk through it. Sebab kita kawan Lillahi Taala. Kuatlah seperti selalu. Walau terkadang rasa tak mampu.”

“Aku tak kuat.“
“Tahu. Sebab tu kau kena minta kekuatan dekat yang Maha kuat.”

“Aku sebenarnya cemburu dengan kau. Yang dalam diam, kau sendiri jadi penguat untuk orang lain walau kau sendiri terkadang tak sedar hakikat itu.”
“Kau akan jadi kuat, lebih kuat dari aku.”

Awak, banyakkan senyum. Senyum itu terapi jiwa. Dah lama saya tak nampak awak senyum. Macam dulu-dulu. Tolong senyum macam tu lagi. Bersemangat dan bercahaya.

* * * * * * * * * * * *

“Sepanjang kita berkawan ni, aku pernah buat kau terasa hati tak?
“Bukan sahabat kalau tak pernah makan bersama, tidur bersama buat perkara gila-gila dan bergaduh manja. It is just to prove that the friendship is strong enough to survive.”

*Jeda*
“After all this, I still and will love you more. Sahabat sejati takkan pernah berubah hati.”

“Walau mendung langit Tuhan tak bermakna ini adalah pengakhiran kerana mungkin itu petanda kepada satu permulaan. Permulaan kepada kehidupan dan kebahagiaan.”
“Sahabat akhirat tu bila dia langsung tak kisah kau cari dia hanya waktu kau susah.

                * * * * * * * * * * * *

“Alhamdulillah. Hujan.” Senyum.
“Kenapa kau suka hujan?”

“Apa yang membuatkan aku suka hujan? Kerana hujan seringkali mengingatkan aku kepada Tuhan.”
“Lagi?”

“Iya. Hujan. Waktu mustajab untuk berdoa.” Senyum bahagia.
Tangan ditarik.

“Eh! Apa ni apa ni!”
“Jom main hujan!” Kenyit mata.

“Taaakkkk naaaakkkk!!”

Terkadang di saat kita hampir mendapat sesuatu dan ia gagal di saat-saat akhir, kita terus kecewa dan berputus asa. Percayalah bahawa perkara buruk yang terpaksa ditempuhi adalah ujian yang telah ditetapkan. Maka, percaya dan yakin pada Allah. Jika kamu orang yang beriman, kamu pasti percaya kepada ketentuan.

* * * * * * * * * * * *

Aku lihat langit. Cerah. Tapi kenapa aku rasa hati aku yang ‘hujan’?

Kenapa kau yang sedih tapi aku yang menangis?

Kenapa kau yang ‘pergi’ tapi seolah-olah aku yang ‘mati’?

Apa yang sama antara kau dan hujan? Sama-sama memberi berjuta cerita dalam hidup aku. Dan seringkali cerita itu akhirnya membawa aku kepada Tuhan.

Usai membersihkan daun-daun kering dan menyedekahkan al-fatihah, perlahan-lahan dia melangkah pergi dari situ.

Sahabat.
Terima kasih kerana pernah hadir dalam hidup ini.
Terima kasih kerana telah menjadi penglipur lara dan penyeri hati.
Syukran untuk segala kenangan yang sudah terpahat menjadi memori.
Kau,
Aku titipkan dalam jagaan Tuhan.

Al-fatihah buat yang dirindui mahupun yang telah pergi.

Kepengen Mujur, atau Kelukur?

Waktu yang Dia berikan sejatinya adalah rangkaian dari setiap puzzle kehidupan. Yang di dalamnya selalu terkandung kisah nan bahagia atau sebaliknya, kisah yang penuh dengan onak duri, penuh kelukur, penuh pilu namun tersimpan sejuta hikmah, bagi kita yang mau berfikir.

Waktu adalah hal berharga, yang dengannya bisa mendekatkan kita ke Syurga, atau justru akan menyeret kita ke Neraka. Saking krusialnya masalah waktu ini, hingga Allah berfirman di satu surah khusus yang membahas tentang waktu.

“Demi Masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran & saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al ‘Asr: 1-3).

Juga ulama sekaliber Imam Syafi'i, beliau menukilkannya dalam sebuah nasihat indah,

“Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”

Pilihan ada di tangan kita. Mau kita manfaatkan seperti apa waktu yang diberikanNya?
Jangan sampai waktu kita menjadi pemberat hisab di Yaumul Akhir nanti, sebab kita sendirilah yang membuatnya sia-sia.

Segeralah bersyukur jika waktu kita terberkahi.
Segeralah beranjak jika waktu kita tidak sesuai ekspektasi.
Jangan keseringan mengulur waktu, atau kita sendiri yang akan menjadikannya penuh kelukur, hingga kita jatuh tersungkur.

Sekali lagi, kepengen mujur, atau kepengen kelukur? :)

Semua orang mencintai wanita, tetapi mereka berkata: “Mencintai wanita adalah awal dari sebuah derita.” Bukan wanita yang membuat derita. Tetapi mencintai wanita yang tidak mencintaimulah yang akan menciptakan derita bagimu
—  Imam Syafi`i  {cinta bertepuk sebelah tangan}
KATA-KATA HIKMAH IMAM SYAFI'E (RAH)

“Barangsiapa mengaku dapat menggabungkan dua cinta dalam hatinya,cinta dunia sekaligus cinta Allah, maka dia telah berdusta”
Imam As-Syafie

“Jika ada seorang yang ingin menjual dunia ini kepada ku dengan nilai harga sekeping roti, nescaya aku tidak akan membelinya.” (Imam Syafi'e)

“Bila kamu tak tahan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung peritnya kebodohan.” (Imam Syafie)

Berapa ramai manusia yang masih hidup dalam kelalaian, sedangkan kain kapannya sedang di tenun. (Imam As-Syafii)

Orang yang berilmu dan beradab, tidak akan diam di kampung halaman, tinggalkan negerimu, merantaulah ke negeri orang. (Imam Syafii)

Aku tidak pernah berdialog dengan seseorang dengan tujuan aku lebih senang jika ia berpendapat salah. (Imam Syafií)

Jangan cintakan orang yang tidak cintakan Allah. Kalau dia boleh meninggalkan Allah, apalagi meninggalkan kamu - (Imam Syafie)

Barang siapa yang menginginkan Husnul Khotimah, hendaklah ia selalu bersangka baik dengan Manusia. (Imam As-Syafie)

“Pentingnya menyebarkan ilmu agama. (Imam syafie)

Ilmu itu seperti air. Jika ia tidak bergerak ، Menjadi mati lalu membusuk.” (Imam syafie)

“Doa di saat tahajud adalah umpama penah yang tepat mengenai sasaran.” (Imam syafie)

“Kamu seorang manusia yang dijadikan daripada tanah dan kamu juga akan disakiti (dihimpit) dengan tanah.” (Imam as Syafie)

Perbanyakkan menyebut Allah daripada menyebut makhluk. Perbanyakkan menyebut akhirat daripada menyebut dunia. (Imam syafie)

Ilmu itu bukan yang dihafal tetapi yang memberi manfaat.” — (Imam syafie)

Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan (Imam syafie)

Sesiapa yang menasihatimu sembunyi-sembunyi maka ia benar-benar menasihatimu. Sesiapa yang menasihatimu dikhalayak ramai,ia sebenarnya menghinamu’’ (Imam syafie)

Empat perkara menguatkan badan
1. makan daging
2. memakai haruman
3. kerap mandi
4. berpakaian dari kapas

4 perkara menajamkan mata
1. duduk mengadap kiblat
2. bercelak sebelum tidur
3. memandang yang hijau
4. berpakaian bersih
(Imam syafie)

“Dosa-dosa ku kelihatan terlalu besar buatku, tapi setelah kubandingkan dgn keampunanMu, ternyata keampunanMu jauh lebih besar.” - (Imam syafie)

“Bumi Allah amatlah luas namun suatu saat apabila takdir sudah datang angkasapun menjadi sempit” - (Imam syafie)

Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu.
(Imam syafie)

Sebesar-besar aib (keburukan) adalah kamu mengira keburukan org lain sedangkan keburukan itu terdapat dalam diri kamu sendiri - Imam Syafi'e

Aku mampu berhujah dgn 10 orang berilmu, tapi aku akan kalah pada seorang yg jahil kerana mereka tak tahu akan landasan ilmu. - Imam Syafie

“Andaikan kekurangan diri dijadikan alasan untuk tidak berdakwah, nescaya tiadanya dakwah yang akan berjalan dimuka bumi ini..”[Imam Syafie]

“ Semakin banyak ilmuku, semakinku insafi diri, bahawa terlalu banyak yang aku tidak ketahui ” - Imam As-Syafie

Hati yang dicemari dengan dosa tidak akan dapat menyimpan ilmu yang bermanfaat.
-Imam Al-Syafie-

Setiap kali ilmu aku bertambah banyak, maka aku bertambah tahu bahawa akulah orang yang jahil. -Imam Syafie

Orang yang membuat kesalahan dan berdusta untuk menutupnya bererti membuat dua kesalahan -Imam As Syafie-

“Sebelum tidur solat Isya’ dan banyakkan istighfar, sebab kita tak tahu mati itu (Imam Syafi'e)

"Apabila ajal datang padamu maka tidak sejengkal bumi dan tidak pula sebidang langit yang dapat melindungimu” - Imam As-Syafie

Jangan kau berjalan di atas bumi dengan sombong dan bongkak. Kerana sebentar lagi kau akan masuk ke dalam bumi yang kau pijak. (Imam Syafie)

Jangan sekali-kali kita meremehkan sesuatu perbuatan baik walaupun hanya sekadar senyuman. -Imam As Syafie

Kata-kata yang lembut dapat melembutkan hati yang lebih keras dari batu. Tetapi, kata-kata yang kasar dapat mengasarkan hati yang lunak seperti sutera -Imam As Syafie

“Di antara tanda-tanda benar dalam ukhuwah ialah menerima kritikan teman, menutupi aib teman dan mengampuni kesalahannya.” (Imam syafie)

“Janganlah kamu melihat akan kejahilan seseorang itu kerana sesungguhnya kejahilan itu ada pada dirimu sendiri. (Imam syafie)

"Barangsiapa mempersenda, mempermain, menafikan sunnah Rasulullah dan ayat Kitabullah, maka dia kafir serta-merta” (Imam syafie)

Jangan kalian sentuh seseorang wanita walaupun hatinya. - (Imam syafie)

Sesuatu yang benar Tetapi Bahaya iaitu pujian manusia. Ramai yang rosak akibat terlalu hanyut dengan pujian - (Imam syafie)

“Barangsiapa mengaku dapat menggabungkan dua cinta dalam hatinya,cinta dunia sekaligus cinta Allah, maka dia telah berdusta” (Imam syafie)

Ilmu itu adalah Cahaya dan Cahaya itu tidak akan menyimbah di Hati orang-orang yang melakukan Maksiat. - (Imam Syafi'e)

Jika Ada seorang yang ingin menjual dunia ini kepada ku dengan nilai harga sekeping roti, nescaya aku tidak akan membelinya. (Imam Syafi'e)

Setiap manusia adalah dalam keadaan mati kecuali mereka yang mempunyai ilmu. Dan setiap yg mempunyai ilmu adalah dalam keadaan tidur, melainkan mereka yang mengamal kebaikan. Dan setiap yang mengamal kebaikan adalah dalam keadaan tertipu, kecuali yang ikhlas. Dan mereka yang ikhlas sering dalam keadaan risau (ditakuti jika amalannya tidak diterima)
(Imam Syafi'e)

(Ustaz Iqbal Zain Al Jauhari)

SILA SHARE DAN SEBARKAN

Ketika Ia Datang Bertamu #16

Kelak, ketika aku telah tiada, adakah orang masih merasakan kebermanfaatanku?

Yang selalu terbayang olehku ketika mendengar nama Imam Syafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad bin Hambal, adalah betapa besarnya kebaikan bagi mereka. Mereka bukan nabi, bukan pula termasuk sahabatnya. Namun, apa yang mereka berikan kepada dunia dan seisinya bukan sebatas bukti peradaban besar berupa bangunan maupun penemuan-penemuan. Melainkan warisan yang menjadikan peradaban besar itu mulia.

Suaranya telah lama sirna, jasadnya sudah tiada berdaya. Namun, melalui karya-karya, kehadiran mereka masih bisa dirasakan hingga ratusan tahun setelahnya.

Tembalang, di hadapan matahari yang sedang bersinar dengan lembutnya menjelang senja. 16 Ramadhan 1438 H.