imam ahmad bin hanbal

Akal

hari ini sebenernya nggak nganggur-nganggur amat. Tapi pas di twitter nemu obrolan dengan topik bagus.

sering banget sih ada yang nanya, sebatas apa akal diizinkan untuk digunakan dalam beragama?

Akal, nafsu, hati dan indera itu semuanya alat yang dikasih Allah buat kita. Tentunya semua harus dimanfaatkan sesuai fitrahnya. Tulisan ini mungkin nggak sesuai judul. Saya cuma pengen sharing untuk nambah wawasan.

Tadi temen saya ada yang bilang kalo era emas keilmuan islam ada di Dinasti Abbasiyah. Di lain waktu, ada temen saya yang lain bilang kalo Islam di era Dinasti Umayyah itu jumud. Setelah ngobrol lama, keluarlah anggapan….

Dinasti Abbasiyah maju karena berani berfilsafat dan membebaskan akal. Sementara Dinasti Umayyah itu nggak maju karena jumud, konservatif dan tidak mengizinkan akal berperan.

Apakah benar demikian? tunggu dulu.

Tiap peradaban itu punya budaya dan corak keilmuan masing-masing. Kalo kita runut, di antara empat imam madzhab yang kita kenal, dua orang aktif di era dinasti Umayyah (Imam Malik bin Anas dan Imam Abu Hanifah). Dua orang lagi aktif di era dinasti Abbasiyah (Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Syafi’i).

Kalau kita menilik fatwa beliau semuanya, kita akan menemukan corak yang berbeda. Imam Malik, bila ditanya tentang suatu perkara, beliau akan memeriksa Al Qur’an dan Hadits. Kalau dalil mengenai perkara tersebut tidak ditemukan, beliau akan mengatakan “Aku tidak tahu”. Sementara Imam Syafi’i bila ditanya tentang suatu perkara, beliau akan memeriksa Al Qur’an dan Hadits. Bila tidak ditemukan, beliau akan mengqiyaskan dengan dalil yang ada hingga terbentuklah suatu ijtihad.

Ustadz Salim A Fillah pernah menjelaskan hal yang mendasari perbedaan cara berfatwa Imam Syafi’i dan Imam Malik. Imam Malik hidup di Madinah di era tabi’in. Beliau dekat dengan sumber ilmu tentang Al Qur’an dan Hadits. Jadi kalau ditanya tentang suatu perkara, referensi beliau banyak.

Pas di twitter saya nyebut Imam Syafi’i lahir di Irak dan sewaktu besar, hijrah ke Mekkah. Tapi saya tiba-tiba keinget tentang kisah Imam Syafi’i yang ditanya tentang tafsir hadits “Biarkan burung tetap pada sarangnya”, saya jadi agak rancu. Bagaimana Imam Syafi’i yang besar di Irak memahami tradisi Quraisy?

Pas saya cek catatan saya lagi, ternyata Imam Syafi’i lahir di Gaza, besar di Makkah kemudian aktif di Baghdad. Di Baghdad beliau produktif berkarya Karya-karya beliau selama di Baghdad kita kenal dengan Qoul qodim. Selanjutnya beliau pindah ke Mesir, di sana beliau terus memperbarui karya beliau. Fatwa yang dikeluarkan di Mesir ini kita kenal sebagai Qoul Jadid.

Imam Syafi’i dikenal sebagai Ahli Ra’yu. Ketersediaan referensi di Baghdad semasa Imam Syafi’i aktif tidak sebanyak di Makkah atau Madinah sehingga kondisi ini menuntut beliau untuk lincah berijtihad.

Tapi kita perlu tahu bahwa Imam Syafi’i adalah keturunan suku Quraisy sehingga beliau sangat mengenal budaya Quraisy yang menjadi latar belakang asbabun nuzul Al Qur’an dan Asbabul Wurud sebuah hadits. Beliau juga sudah hafal kitab Al Muwatha sebelum usia 9 tahun. Di usia 15 tahun beliau sudah dinilai layak memberi fatwa. Maka akal imam syafi’i adalah akal yang sangat mumpuni untuk berijtihad.

Kita cuma muqollid, nggak sampe di level ijtihad ~XD Pencarian kita tentang hokum suatu perkara masih harus mereferensi pandangan ulama. Tidak bisa langsung dari Al Quran dan Hadits.

Kalo ada yang bilang ulama di era Dinasti Umayyah konservatif sebenernya nggak juga. Di era tersebut, tantangannya berbeda dengan era Dinasti Abbasiyah. Dinasti Umayyah itu dekat dengan era khulafaur rasyidin. Masih banyak sahabat dan tabiin. Penyakit ummat masih didominasi perkara cinta dunia. Maka karya ulama di era itu beberapa berkaitan dengan Tazkiyatun Nafs.

Di era Dinasti Abbasiyah, Islam banyak bersentuhan dengan budaya luar termasuk budaya Yunani yang punya banyak filusuf. Wajar kalau akhirnya bermunculan ilmuwan islam yang menulis karya tentang filsafat dan ilmu sosial. Bukan karena ilmuwan kita genit untuk ikut-ikutan pemikiran para filusuf Yunani. Tapi karena ilmuwan kita merasa wajib menjawab tantangan zaman dimana.

Salah satu karya filsafat yang terkenal adalah Hayy bin Yaqdzan yang ditulis oleh Ibnu Thufail. Hayy bin Yaqdzan berbicara tentang proses belajar dari seseorang yang terisolasi dari dunia luar. Orang yang suka filsafat dan baca novel ini, pasti bakal langsung membandingkan dengan pemikiran Plato dan Aristoteles.

Saya sempet su’uzon dan mikir kalo ulama di era abbasiyah ini mungkin hidup di zaman yang nyaman jadi tidak ada masalah yang dipikirkan makanya kajiannya merembet ke filsafat. Tapi ternyata tidak demikian.

Di era Abbasiyah banyak bermunculan faham-faham yang keliru. Muta’zilah dan Jabbariyah juga subur di era Abbasiyah. Imam Ahmad bahkan pernah dipenjara dan disiksa oleh khalifah Al Watsiq Billah karena waktu itu sang Khalifah menganut faham muta’zilah sementara Imam Ahmad menolak faham tersebut.

Muta’zilah itu faham yang menganggap Al Qur’an sebagai makhluk sehingga bisa bisa salah dan bisa pula benar. Mirip liberal zaman sekarang yang menganggap Al Quran sebagai produk budaya.

Kita diizinkan untuk mengkritik tafsir seseorang tentang Al Qur’an, dengan catatan kita punya bekal yang memadai dari segi wawasan serta kita menggunakan metode tafsir yang sesuai. Namun kita tidak diizinkan mengkritik ayat Al Qur’an karena syahadat mengandung konsekuensi untuk beriman pada Al Qur’an sepenuhnya. Tafsir manusia bisa salah. Sementara ayat Al Qur’an tidak.

Liberalisme dan mutakzilah menempatkan akal di atas Al Qur’an. Di titik ini, mutakzilah dan liberalism mirip. Tapi kalo di zoom out lagi akan terlihat perbedaannya.

Dari narasi ini, kita tentu bisa dapat gambaran bahwa di dinasti Abbasiyah yang kita anggap lebih maju dari dinasti Umayyah sebenernya bukan karena ulama Abbasiyah mampu menggabungkan akal dengan wahyu sementara ulama di era dinasti Umayyah tidak. Kalo kita lihat dari sudut pandang lain, tantangan dari sisi Aqidah dan pemikiran itu tumbuh subur di era Abbasiyah, bisa ditarik mundur pula tentang kemungkinan di era itu ada banyak ummat Islam yang belum memahami agamanya sehingga tergoda untuk belajar pemikiran di luar Islam lalu ulama kita bekerja keras untuk meluruskannya.

Di titik ini kita mungkin akan bingung menyimpulka, dinasti Abbasiyah itu sebenernya “maju dari sisi sains?” atau “mundur dari sisi akidah?”. Tidak usah dipusingkan.

Yang terpenting adalah bagaimana kita belajar untuk luwes dengan zaman namun tetap memegang teguh aqidah kita.

Karya ulama banyak dibuat untuk menjawab tantangan ummat di eranya. Di Era Abbasiyah, kita mengenal Ibnu Rusyid atau Averroes (seorang filusuf, hakim sekaligus fisikawan), Ibnu Sina atau Avicena (seorang filusuf sekaligus dokter), Ibnu Khaldun (Sosiolog, Antropolog dan Ahli Ilmu Politik) serta Khalifah Harun Al Rasyid dengan baitul hikmahnya.

Khalifah Harun Al Rasyid ini memimpin tepat setelah Al Watsiq Billah. Kalau Al Watsiq menganut pemikiran mutakzilah dan menyiksa ulama yang bersebarangan, Harun Al Rasyid sangat menghormati ilmu dan ulamanya. Baitul Hikmah adalah prototype universitas di zaman sekarang. Ia merupakan tempat diskusi tentang ilmu.

Kita perlu belajar sejarah sebab ada pepatah yang bilang: “Tidak ada hal yang baru di bawah matahari”

Tantangan ummat di setiap zaman bisa berulang. Dengan mengetahui sejarah, kita akan belajar bagaimana cara menghadapi zaman ini.

Di era milenial ini, budaya kita melahirkan banyak bentuk muamalah yang baru sehingga ulama fiqih harus lincah mengkaji hal-hal kontemporer. Di sisi lain, ada banyak -isme di luar islam yang menuntut kita membedahnya sampai dalam. Selain itu….kita juga punya pilihan belajar sains untuk merancang teknologi yang memudahkan ummat.

Ada banyak ladang amal yang menunggu kita untuk berperan. You choose.

NB: tulisan ini hanyalah gambaran helicopter view yang kalau di zoom out mungkin saja kita menemukan anomali yang berbeda. Mari belajar.

مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Whoever brings a good deed, he shall have ten like it, and whoever brings an evil deed, he shall be recompensed only with the like of it, and they shall not be dealt with unjustly.

— 

Surah Al-Anaam, Ayaat 160

Also!

Imam Ahmad bin Hanbal recorded that Ibn `Abbas said that the Messenger of Allah said about his Lord,

«إِنَّ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ رَحِيمٌ مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا إِلَى سَبْعِمِائَةٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ. وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ وَاحِدَةً أَوْ يَمْحُوهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا
يَهْلِكُ عَلَى اللهِ إِلَّا هَالِك»

(Your Lord is Most Merciful. Whoever intends to perform a good deed and does not do it, it will be written for him as a good deed. If he performs it, it will be written for him as ten deeds, to seven hundred, to multifold. Whoever intends to commit an evil deed, but does not do it, it will be written for him as a good deed. If he commits it, it will be written for him as a sin, unless Allah erases it. Only those who deserve destruction will be destroyed by Allah.) Al-Bukhari, Muslim and An-Nasa'i also recorded this Hadith

Khowatir Quraniyah: Juz 29

Serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. Pembahasan surat lainnya bisa disimak di sini.


Kewajiban Syar'i

Juz ini membawa pesan kewajiban berdakwah menuju Allah dan keharusan menyampaikan manhaj Islam ke seluruh dunia. 

Di juz 28, kita mengetahui nilai komitmen pada Islam dan merasakan manisnya loyalitas pada agama-Nya. Kita harus bergerak bersama Islam dan mengajak seluruh manusia kepada Islam, dengan segenap kemampuan, kekuatan, kesungguhan, dan kearifan kita. 

Dakwah menuju jalan Allah merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah, meskipun pengetahuan agama mereka hanya sedikit. Sebab Rasulullah saw. bersabda, “Sampaikan dariku, meskipun satu ayat”. 

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Barangsiapa mengajarkan satu permasalahan, maka ia alim (mengerti) tentangnya" 

Abu Bakar dapat kita jadikan teladan, ketika di awal hari islamnya, ia berhasil mengislamkan enam orang sahabat. Meskipun saat itu ia baru mengetahui Islam sedikit saja. 

Apabila kita mengetahui bahwa shalat itu wajib, ajarkanlah shalat itu kepada orang lain. Ajaklah orang berbicara tentang kecintaan pada Allah, kenikmatan surga, dan kedahsyatan hari kiamat. Ini sangat mudah, tidak membutuhkan pengetahuan yang rumit dan sulit. Bahan-bahan materi seperti itu dapat kita temukan pada juz tabarak (juz 29).

Daftar surat dalam juz 29 yang dibahas:


Serial lainnya: 100 Muslim Paling Berpengaruh 1-76 | 77-100

“I swear by Allah, the One besides whom there is no other god, I feel embarrassed before Allah when someone from among the people kisses my hand. Because I know myself, and my Lord is One who conceals and veils the mistakes of His servants. He conceals so much… He conceals. I know my shortcomings. I know how much I’ve fallen short in my relationship with my Lord. Yet, He makes it so that the people only see the positive side of me, and He hides the rest from the eyes of people and keeps it something hidden between us. So if some innocent person comes to me, who only sees my outer state and doesn’t know my inner state… it’s true that he doesn’t know, but doesn’t Allah know? How can I say to him, “Go ahead, kiss my hand, it’s ok, so that you may learn proper etiquette,” while Allah azza wajal [Mighty and Majestic] is watching me and saying, ‘Haven’t you done this? Haven’t you done that? Aren’t you the one who sees such and such [bad qualities] in your self?” This is what prevents me from allowing people to kiss my hand.” - Almarhum asSyahid Sheikh Saeed Ramadan al-Bouti, may Allah’s mercy be upon him.

We ask Allah to cleanse our hearts from kibr, riya’ and ujub.

Zikir Ketenangan Hati

“Zikir menghidupkan hati yang mati. Perumpamaan orang yang berzikir dengan orang yang tidak berzikir, adalah seumpama orang yang hidup dan orang yang tidak berzikir adalah orang mati. Ulama terdahulu amalan mereka Masya Allah. Hebat-Hebat.”

“Imam Ahmad Bin Hanbal 300 rakaat, Imam Junaid 400 rakaat, Imam Ali Zaenal Abidin 1000 rakaat. Kita ini usahkan solat sunat, bersedekah untuk tenaga dan juga ilmu kita mundar-mandir menuntut ilmu pun tidak mahu. Ada sesetengah imam, zikir setelah solat dimasjid itu ditinggalkan.”

“Kita jangan tinggalkan zikir selesai solat. Solat kita itu pon belum tentu sempurnanya. Diterima atau tidak. Zikir dulu. Hendaklah seseorang itu sama ada imam atau makmum setelah selesai dari solatnya subuh, maghrib tidak mengubah posisi kedudukannya terlebih dahulu setelah selesai memberi salam dan kekal duduk dalam keadaan tawarruk yakni duduk tahiyyat akhir dan membaca;”

“Yang pertama, Istighfar 3 kali
استغفرالله العزيم,الذي لااله الا هو الحي القيوم واتوب اليه.”
“Yang kedua, Lailahaillallah sebanyak 10 kali
لااله الا الله, وهده لا شريك له, له الملك واله الحمد,يهيي ويميت, وهو علي كل شيئ قدير.”
“Dan yang ketiga, Doa perlindungan dari api neraka sebanyak 7 kali
اللهم اجرنا من النار.”

“Setelah usai membaca 3 perkara diatas, bolehlah mengubah posisi untuk bersila dan sebagainya. Jika menjadi imam, hendaklah dia memusing ke arah makmum. Kemudian setelah itu, membaca ‘Allahumma antas salam, waminkassalam, sehinggalah habis, membaca Al-Fatihah dan ayat kursi, tasbih Fatimah ( subhanallah 33x, lailahaillallah 33x, allahuakbar 33x ) dan diikuti penutupnya dengan doa.”

“Jangan kita sesekali tinggalkan amalan membaca ayat kursi selepas habis solat fardu kerana fadhilatnya sangat besar. Menurut riwayat hadis, tiada apa yang dapat menghalang seseorang yang membacanya untuk memasuki syurga kecuali mati. Ayat kursi ini diibaratkan ayat kursi sebagai 'kad touch and go’ untuk kita masuk kedalam syurga Allah سبحانه وتعالى.”

Daripada TG Sheikh Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki.

(Raudhatul Muhibbin)

Hebatnya Para Ibu



JIKA SUATU SAAT NANTI KAU JADI IBU…


Jadilah seperti Nuwair binti Malik (Radhiyallahu ‘Anha) yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya..

Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun..
Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar.

Rasulullah (Shallallahu 'Alayhi wa'ala-Aalihi wa-Sallam) tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.

Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah (Shallallahu 'Alayhi wa'ala-Aalihi wa-Sallam) dengan potensinya yang lain..

Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah (Shallallahu 'Alayhi wa'ala-Aalihi wa-Sallam) karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an..

Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris pencatat wahyu..

Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini:
Zaid bin Tsabit (Radhiyallahu 'Anhu)..

~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu..


jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah (Rahimahallah) yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah..

Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu..

Kelak, ia tumbuh menjadi jajaran Ulama Hadits dan Imam Madzhab.
Ia tidak lain adalah
Imam Ahmad bin Hanbal (Rahimahullah)..

~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu..

Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya .
Seperti Ummu Habibah (Rahimahallah)..
Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya..

Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya,
“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaan-Mu..
Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu.. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya..
Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin!”..

Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya:
Imam Syafi’i (Rahimahullah)..


~Jika suatu saat nanti kau jadi ibu..

Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya 'Abdurrahman..

Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi Imam Masjidil Haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu..

“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak..

“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam Masjidil Haram…”,
Sang Ibu tak bosan-bosannya mengingatkan..

Hingga akhirnya 'Abdurrahman benar-benar menjadi Imam Masjidil Haram dan termasuk deretan Ulama berkelas dunia yang disegani..

Kita pasti sering mendengar Murattal-nya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama:
'Abdurrahman As-Sudais (Hafizhahullahu ta'ala)..


~ Jika suatu saat nanti kau jadi ibu..

Jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses..
Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu .
Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu..

Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri.
Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor .
Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia..

Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999,
Dr. Ahmad Zewail (Hafizhahullahu ta'ala)..

→→→
Maa syaa'aAllaah..

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa min-dzuriyyatinaa Qurrata a'yun waj-'alnaa lil-Muttaqiinaa Imaamaa..

Aamiiin Allaahumma Aamiiin..