imajine

#36

/1/
Namamu. Kertas putih. Kacamatamu. Orang-orang yang kita kenal. Kursi-kursi tidak rapi. AC mengembus 21°C. Papan tulis yang berbicara apa adanya. Pintu bergetar. Senyuman dan tawa mereka. Kata keluh kesah. Rencana dalam agenda. Kritik dan saran tentang imajiner. Perut kita lapar. Rasa terbidani entah bagaimana.

/2/
Akun twitter baru. Pakaian hitammu. Es krim yang kita makan. Jalanan panas. Mata kuliah membosankan. Perihal suka. Awan berarak ke selatan. Pangeran Charles mencintai Putri Kate. Bakso yang kita makan. Rapat dengan koran. April cerah.

/3/
Kota mulai jenuh. Kenangan yang dipotret. Suka dan duka. Debu perpustakaan. Mengembalikan eksistensi. Waktu menyempit. Kampus kita. Teh tarik di kantin. Kertas fotokopi dalam tasmu. Laptop penuh skripsi. Jantung kita sama.

/4/
Dua kota. Ketiadaan. Skype. Cemburu seperti pelangi. Rembulan menggantung manja. Jejakmu di sini. Bayang-bayang kehilangan. Es krim yang meleleh. Mimpi buruk. Gado-gado yang kamu suka masih lewat. Segalanya berubah. Aku kehilangan.

/5/
Luka dalam nafas.

pillow fight

Type: fluff

Ship: Jikook (Jimin and Jungkook)

Word count: 376

Jungkook watched Jimin carefully as he played video games with Taehyung. He tiptoed over to him, clutching the pillow in his hands tightly. Taehyung saw him from the corner of his eye, and turned to look. Jungkook brought one finger up to his lips, and silently motioned for Tae to look back at the screen. Tae grinned before turning back to his game. Taking light steps, Jungkook reached Jimin’s unknowing form on the floor. He brought the pillow up before smashing it on Jimin’s head. Jimin’s eyes widened as he turned to face the maknae. Jungkook laughed, showing his bunny teeth. Jimin smiled a greasy smile as he got up. Jungkook turned and ran while giggling. Taehyung was rolling on the floor laughing.

“Maknae~!” Jimin called, running after the youngest member. Jungkook turned to look at him and grinned before slipping into a bedroom. Jimin raced in after him, just in time to see that the maknae had another pillow in his hands. Jungkook slowly moved to the other side of the room, his smile never leaving his face. Jimin grinned at him before grabbing another pillow from the bed and moving slowly towards Jungkook. They both slowly circled each other, waiting for the other to make a move. Suddenly, Jungkook ran towards Jimin and hit him with the white pillow in his hands. Jimin yelled before retaliating, tackling the maknae to the ground. Jungkook laughed as he tried to push his hyung off of him. Jimin stealthily slipped his hands under the maknae’s shirt and started to tickle him. Laughter erupted in the room.

“H-hyung! Stop!” Jungkook yelled, breathless.

“Never!” was the reply from his hyung, incessantly tickling him.

“I’ll do anything!”

“A kiss?” Jimin smiled greasily, his eyes narrowing playfully.

“Fine! Please, just stop!” Jimin removed his hands, leaving Jungkook on the ground catching his breath.

“Kookie~!” Jungkook sighed and picked himself up, facing Jimin. His face was slowly turning bright red. “You promised~!” Jungkook slowly leaned in and gently touched his lips to those of his boyfriend before his face turned even redder than before. Jimin pulled back and smirked at Jungkook.

“I should tickle you more often~!” Jungkook stared blankly at his boyfriend before leaving the room. “You know you want it!”

BTS: Suga: Angst

an-exotic-writerMockingbird | Tomorrow | Words Don’t Come Easy | 
Is It Too Late to Say Sorry | A Little While More | The Day Before |

btsfiles: Of Blood & Band-Aids | 

bulletproof-girl-scouts: We Had Ended | 

exobtsimagination: Hate This Jealous Feeling | Can’t Put it Together | My Hero | It’s Okay | Realization | You Talk Too Much | Best Friend Support | Missing Home | Snap | 

imajin-bts: Black and White | 

infires-by-bts: Because of You (Because of Me) | Forgive Me And Let’s Start Over? | First Comes Like | What Are Family For | Never Again | Forever Loved | Sorry | 

jeongguxks: Reassurance |

jjungkooked: Promise |

keypea: Frisson | Harangue | Beguile |

noir0neko: Wedding Dress |

noonatrash: Be the One | 

noonatrash: Be the One | 

parkjiminsfineass: Mismatched | Forgive Me | Memory | 

sugascenes: Cheat |

thehappiesttime: Repeat | 

universitykpop: With Care |

whisperedscenarios: Remembering Sunday | Let Me Go | Emotion 

zeurinTactile Amnesia | 

Saya, Yang Senang Ke Toko Buku

Saya rindu. Dulu, setiap Sabtu dan Minggu, saya khususkan untuk pergi ke toko buku, hanya sekadar baca-baca atau melihat sesuatu, meski jarang beli, yang penting update kalau ada buku atau sesuatu yang baru. Dulu senang sekali menghabiskan akhir pekan di toko buku itu, tak peduli dengan social media atau sejenisnya. Sama sekali tak peduli. Punya dunia sendiri yang tidak bisa dimasuki oleh orang lain. Benar-benar hidup dalam fantasi bersama imajinasi yang datang selepas membaca buku. Rasanya itu membuncah. Segala gagasan berputar di kepala. Kadang perasaan begitu segar sampai-sampai tak sadar bernyanyi sendiri di atas kereta dari Margonda ke Pasar Minggu. Memutar lagu retoris tentang kehidupan, kadang lagu romantis, kadang nasyid, kadang hafalan Quran. Ini semua tergantung dari buku apa yang menyisakan gagasan terakhir di kepala. Kadang juga imajinasi saya mengkonstruksi sebuah cerita. Cerita imajiner yang terbentuk dari puzzle-puzzle; seperti Ariadne, arsitek mimpi dalam Inception. Ah, terbayang lagi segalanya; saat saya menjadi pahlawannya, jadi juaranya, jadi sentral ceritanya. Kronik yang mengada-ada, tapi seru.

Saat itu, social media tak seperti sekarang; menggurita. Dulu ada, tapi manusia masih punya banyak waktu untuk bercengkerama, berdiskusi, saling sapa, atau bahkan meluangkan waktu pergi ke toko buku seperti saya itu. Sekarang? Hal-hal yang esensi lebih banyak terdistraksi. Komunikasi lebih cepat dari lintasan pikiran. Gagasan menjadi lambat ketimbang copy-paste atau bahkan reblog. Sekarang mungkin sebagian besar orang, termasuk saya, menghabiskan waktu berpikir 85% dengan gadget–ini angka dramatisasi, entah bisa jadi malah lebih tinggi. Semua aktivitas membaca dan memikirkan gagasan berasal dari kotak kecil ajaib bernama smart phone. Manusia menjadi alien. Malah mereka berkompetisi untuk dihargai, dikenali, dipuja-puji. Terobsesi dengan tulisan yang bagus agar dapat salutasi, berulang kali selfie agar dapat ratusan suka, atau berlagak romantis agar kekinian. Semua karena social media

Dulu saya tak peduli dengan hal-hal yang tak saya miliki. Saya malah hampir lupa pernah tak punya laptop, tak punya HP bagus, tak punya sepatu ber-merk, tak punya kartu kredit, tak punya jadwal nonton bioskop, tak pernah bisa menyetir mobil, tak pernah makan di restoran mewah, tak punya baju atau celana bagus, tak punya ini itu seperti orang-orang berada. Benar-benar tak peduli, karena saya punya dunia sendiri yang hidup penuh dengan gagasan. Itu sudah cukup. Menjadi cupu yang kerjaannya tiap Sabtu dan Minggu ke toko buku: who cares! Jangan-jangan, dulu itu saya benar-benar ada dalam mimpi? Kalau begitu saya perlu memutar totem.

Lalu, bagaimana dengan sekarang? Sudah terlalu bising. Banyak aktivitas yang menjajah waktu pribadi dalam merepetisi masa lalu. Terlalu banyak akses digital yang harus dibuka, dipikirkan, diikuti. Lelah.

Mungkin inilah yang disebut proses menjadi dewasa. Saya kadang tersadar bahwa Peterpan Syndrome itu benar-benar ada. Ketakutan untuk menjadi dewasa. Masa di mana pertumbuhan sel-sel tubuh tak bisa dihindari, namun semangat untuk memutar waktu terus terngiang-ngiang di kepala. Itulah sebabnya saya mulai tulisan biasa ini dengan “rindu”. Rindu menjadi biasa. Rindu tak punya apa-apa. Rindu berimajinasi. Rindu kesunyian. Rindu bernyanyi di atas kereta. Rindu tak peduli dengan sesuatu. 

I recently reached my goal so I wanted to do a follow forever! Thank you so much to those who follow me and to those who have stuck with me despite my blog changes. 

bold=mutuals :^)

#-C

@1goldenmaknae @7teencarats @a-riisa @adorkookie @amazing-hoseok @an-exotic-writer @asoundseoul @baekhyun-ah @baekhyunsbyun @baekstreetbyun @bangtan @bangtanfancafe @bangtanxme @bangts @bangtse @bbychanyeol @blondewoozi @bts-trans @bulletproof-trash @byeolks @cha-bread @chanyeolfucksmeup @chim-kookie @cowjimin @cypherxhope

D-G

@daenso @dakjuks @dr-jongin-mr-kai @eggso @erasethetic @exoandbangtanjfc @exobts-snaps @exoticarmy127 @exoumin @exowishes @extaeminator @fightmejeonghan @flowerboysandramyun @forjimin @foryoongi @fxoxes @fy-taekook @fykimtaehyung @fypjm @geniusyub @ghostlykwan @groovy-wonwoo

H-K

@h-ongjisoos @heauxmyjongin @hellyeakpop @hiphopsuga @hoseokedpanties @hugtae @hxnw @hztttttao @iceghostype @imajin-bts @inesmoro @infires-by-bts @jaebeom-s @jamfuljimin @jeezjimin @jeonghan1oo4 @jhopies @jimiin @jiminsbabydoll @jinkooks @jinqki @jjang12 @johghyun @jonginmymind @jonginhugs @jonginniesbaby @jooncherry @jung-koook @junghhseok @jvnghxns @khaenine @kim-jonginsplaidpants @kim-taehyvngs @kimswagjoon @kissme-exol @kookie-time @kpop-scenarios-blog @ksnapchats @kwontv @kyunginah @kyungsol

L-O

@leejinklies @linheys @lobbu-lobbu @lordkibum @luhcifer @lycheui @m-ilkbread @maknaesman @midnightmoonlightmusic @milkeuhun @milksdyo @milkuei @milky-mj @mingchaotic @mingyuxx @mini-jongini @minsuga-babo @minsugainfires @minsugaism @mint-ee @minyoooongi @missguided-souls98 @mysonhoseok @n0nsense-speaker @nahvacado @namjoonsbuckethat @official-yoongi @ohsehuunnie @oohmyoongi @overdyosed

P-T

@pingkeujin @pledis17 @pohroro @polibotes @radicalwoo @rrejectt @s-h-o-u-n-e-n @scoupsfullofsuga @seasalt-lattae @sebaeqs @sehunflowerr @seokm-n @seungcheolgf @shineelover234 @shineetho @sngjaes @softnayeon @soon-shine @soonshiine @spookyfoxoneeighty @squishy-kaisoo @ssseokjin @suga-n-cream @svtrash @swaggy-grandpa @sweetyoongi @taehyu @taehyung-cypher @taehyung-plz @taemajesty @therealnamja @these-days-i-adore-u @tinyworldofshinee @touka-kirishima

U-Z

@umma-jr @v-dyo @vangtanbovs @vhobies @viouin @vixx17andbtsimagines @w-ooji @wardsbxck @whisperedscenarios @whoachanyeol @withjiminie @wonweird @wonwoosteeth @wooziasfuk @xxxiushi @y00ngi-bear @yehet-me-love-you @yifantasia @yixingssensitiveneck @yoongispooks @youngbaae @yoursmileis-everything @yugyeomism

Matahari
  • Percakapan imajiner. Terinspirasi dari cerita Ibu saya tentang seorang ibu yang telah menikah lebih dari 50 tahun
  • A : Mas, maafin aku ya. Selama ini aku banyak kekurangannya.
  • B : Ya, itu wajarlah. Namanya juga manusia. Kekurangannya banyak. Kayak bintang-bintang di langit
  • A : Banyak banget dong? T_T
  • B : Aku belum selesai, Dek. Walau begitu, kelebihanmu ibarat matahari. Waktu matahari terbit, bintang-bintang yang lain jadi nggak kelihatan. Kalah sama matahari.
  • A : Maksudnya?
  • B : Maksudnya, Walau kekurangannya banyak kayak bintang-bintang di langit, semua itu jadi nggak kelihatan karena kelebihannya lebih besar dan lebih terang sinarnya. Kayak matahari. Maafin Mas juga ya, Dek :)
  • A : :""""""")
Percakapan Imajiner Tentang Sosok Itu
  • <p> <b>Q:</b> Bagaimana cara Tuhan mendengar doa kita?<p/><b>A:</b> Setiap ucapan, setiap tulisan adalah doa. Tak perlu diucapkan dengan sikap tertentu, dengan memejamkan mata. Tak ada kata-kata yang tak didengarNya, baik mau pun buruk. Tuhan Maha Mendengar, Maha Membaca. Setiap gurauan, lagu dalam playlist kita adalah doa.<p/><b>Q:</b> Dan bagaimana cara kita mendengarkan suaraNya?<p/><b>A:</b> Setiap pertanda adalah suara dan jawaban Tuhan dari setiap doa kita, juga setiap perasaan "asing" yang terus "mengganggu". Intuisi, banyak orang menyebutnya.<p/><b>Q:</b> Bagaimana membedakan intuisi dengan emosi?<p/><b>A:</b> Intuisi itu naif, sementara emosi ditumpangi keperluan, pengalaman, dan pemikiran tertentu. Intuisi hanya tahu merasa tanpa tahu kenapa.<p/><b>Q:</b> Apakah Tuhan benar Maha Baik?<p/><b>A:</b> Relatif, tergantung kedewasaan pemikiran setiap orang. Kalau kau melarang anak kecil terlalu banyak makan permen, misalnya, anak itu akan menganggap kau jahat. Tapi setelah kau dewasa, kau baru akan tahu bahwa larangan semacam itu baik untukmu.<p/><b>Q:</b> Apakah Tuhan membalaskan dendam kita?<p/><b>A:</b> Ini juga relatif. Yang menurutmu jahat, bisa jadi baik di mata Tuhan. Kau berpikir kau dijahati, padahal kau yang menjahati. Jahat dan baik itu tergantung dari sudut pandang yang menilai dan mengatakannya.<p/><b>Q:</b> Jadi karma itu tidak ada?<p/><b>A:</b> Karma tak melulu soal balas dendam. Karma adalah ketika kau menabur bibit semangka, dari bibit itu akan tumbuh pohon semangka. Karma adalah sebab dan akibat, rangkaian kejadian yang punya benang merah yang jelas.<p/><b>Q:</b> Haruskah kita percaya pada Tuhan?<p/><b>A:</b> Tidak, karena Tuhan juga tidak harus percaya pada setiap alasan dan pembelaan kita. Tidak, karena Tuhan bukan Sosok yang suka memaksa. Tidak, jika dengan percaya pada Tuhan tidak membuat kita jadi manusia yang lebih baik. Tidak, kalau kepercayaan menjadi senjata kita untuk menyakiti orang lain. Tuhan jangan dipermalukan dengan cara seperti itu. Tepatnya, lebih baik kau menyangkaliNya daripada memalsukan NamaNya.<p/><b>Q:</b> Kenapa?<p/><b>A:</b> Karena Tuhan sudah terlalu sering menangis karena kau dan saya. Karena hati Tuhan sudah terlalu sering disakiti. Karena Tuhan tidak pantas diperlakukan seperti itu.<p/><b>Q:</b> Apa urusannya denganmu? Kau membelaNya?<p/><b>A:</b> Tuhan tak perlu dibela karena Dia Tuhan. Dan karena Dia adalah Tuhan, Dia harus dipermuliakan. Dan yang terpenting adalah karena Tuhan terlalu mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tidak ada yang lebih dicintaiNya melebihi kamu.<p/><b>Q:</b> Saya?<p/><b>A:</b> Ya. Saya. Kamu, yang membaca atau menulis tulisan ini.<p/></p>