ilusie

Jangan Kembali

: untuk Diri

Katakanlah! Namanya sudah tiada dari rindu-rindumu yang indah. Kamu hanya kadung mengimani setiap rasa dan doa yang sudah sangat terpelihara. Hingga, kamu tak ingin percaya, bahwa dia bukan seorang yang dapat dipercaya. Ialah, dia telah mengubah semua daya dan asa menjadi seribu keping derita.

Akuilah! Kamu sudah tak mencintainya. Kamu hanya bingung atas segala yang sedang kamu rasa. Ialah, terlalu hampa untuk kembali mencinta, juga terlalu lara untuk melupa. Hingga, kamu mematung sendiri. Tak kembali. Tak pergi. Tak ke mana-mana lagi.

Sadarilah! Kamu tidak sedang menantinya. Kamu hanya mencandui masa-masa yang bersamanya, kamu sangat bahagia. Kamu hanya meyakinkan diri, bahwa kasihnya untukmu kemarin memang bukan sekadar ilusi. Tetapi, sungguh. Kamu tak ingin dia kembali. Sebab, sekalipun dia kembali, kamu tak kembali mendapatkan kamu yang dulu kamu kenali.

Dia yang tertawa tak berarti bahagia. Kadang bahagianya hanyalah ilusi. Segaris senyumnya menyimpan jutaan kesedihan yang ingin di hilangkan. Baginya tersenyum adalah senjata, layaknya tentara yang diwajibkan berperang. Baginya khalayak umum adalah medan perang, yang setiap saat dia harus siap dengan senjata.
Kelukurku Tak Lagi Terukur

Kala itu ada yang berbeda dari senyummu. Sulit mengungkapkan dimana beda terletak, tapi bisikan hati ini hampir menemukannya. Sekilas memang tetap sama. Senyummu menawan dan aku selalu tertawan. Senyummu juga tetap indah memancing bunga-bunga dalam hatiku bermekaran. Alhasil, aku terlena dengan bahagia oleh senyum yang kau beri.

Tak jadi hatiku menelusuri dimana beda. Sekarang curigaku berganti dengan sukacita. Bukan sekali kau buat aku berubah pikiran. Kau yang paling pandai menggonta-ganti isi pikiranku. Mengubah prasangka dan rasaku. Tidakkah kau ingat? Kau juga yang dahulu mengganti amarahku karena cemburuku dengan gelak tawa penuh riang ketika akhirnya kita saling berbisik. Kau jugalah yang menghentikan air mata kesedihanku dengan cukup satu kalimatmu “Sudah yaa, cukup malam ini saja sedihnya!”. Kau yang memantik dan kau jugalah yang memadamkannya.

Kau adalah pengendali diriku yang sebenarnya. Buktinya diri ini lebih manut padamu ketimbang diriku sendiri. Meski belum ada apapun yang tersemat antara kau dan aku, tapi aku telah merasa diriku adalah hakmu. Kau berhak atasku; aku tak berhak atasmu.

Hatiku masih terkena ilusi atas senyummu saat mataku sedang mencari-cari wujud dirimu yang telah menebar ilusi. Sepertinya hal yang beda itu semakin dekat untukku ketahui. Tapi apa? Aku masih belum bisa memecahkan teka-teki itu.

Sibuk aku mencari wujud si pemberi senyum ketika ia tak nampak dihadapan. Namun, setelah aku mencari, tubuhku tiba-tiba kaku disertai keringat dingin. Apa yang dilihat mataku kala itu, membuncahkan pikiran dan hatiku. Terlihat dari jarak sepelemparan batu, senyum merekah dari kedua bibirmu terlontar untuk seseorang. Senyum yang lebih hangat dibanding senyum yang kau berikan padaku. Lalu, tangan kananmu juga menenteng, turut menjaga barang bawaan milik seseorang itu. Apa maksud semua ini?

Aku memutar, memilih kembali ke tempat kau berikan senyum berefek ilusi tadi. Aku terduduk menyender dinding tanda frustasi. Terguncang hatiku bukan main melihat apa yang ku lihat.

“Apakah kau telah menentukan hatimu?”, aku bertanya-tanya seraya menahan sesak. Terkulai hatiku tak bernyawa. Berkelukur hatiku untuk sekian kalinya. Kau jualah penyebab yang sebelum-sebelumnya. Tapi sejauh ini aku masih ingin bertahan padamu. Biarlah luka ini memamah biak dalam diriku. Ketika terasa lukanya olehku, kutelan seketika rasa itu agar lenyap, walau pada akhirnya luka itu kembali hadir menyeruak ke keseluruhanku.

Tak peduli jika sikapku itu tergolong sebagai tindakan bodoh. Karena cinta seringkali mengiyakan tindakan bodoh tak bernorma. Semoga rasa ini bukan nafsu yang membuat Adam dan Hawa terlempar ke dunia dari surga. Semoga rasa ini adalah cinta yang mempertemukan Adam dan Hawa kembali setelah sekian lama terpisah didunia.

Yang jelas aku semakin paham, bagaimana aku harus menyerah untuk berambisi jika mimpi bersamamu ternyata akan selalu jadi ilusi
Langit

Apa yang ada di balik awan dan hamparan langit biru di atas sana? Apakah ada segala kebahagiaan dan orang-orang yang telah pergi?  @duaapuluhtiga

Orang jujur dibenci penduduk bumi. Tetapi disayang penduduk langit. @lluviaphile

Jika kau bukan Sun Go Kong. Jangan membuat marah kaisar langit. @littlecarnation

Langitkan segala doa-doamu, niscaya segala usaha yang kau lakukan akan berbuah hasil. @nurulhilal

Langit hanyalah Topeng yang di bentuk Laut, tak peduli seberapa biru…
Ia hanyalah Ilusi yang menutupi kegelapan abadi.
@waldschlaf

Kau serupa langit, sedang aku tetaplah aku. Tak lelah memandangmu meski dalam gelap sekalipun. @coretangaje

Sehampar langit dengan berganti malam dan siang, Tuhanmu tak pernah lengah. Silara pun jatuh atas kehendakNya. @tehitam

Walau menggantung pada pekatnya malam, langitku tak pernah memberi kecewa. @jendelamerahjambu

Jangan terlalu terpukau pada birunya langit, sebab birunya menyimpan kelabu. @baristasastra

Pandanglah langit, tapi jangan hitung bintangnya. Takutnya kau tak sadar bahwa kau adalah salah satu dari mereka. @muhidinsewang

Mimpimu, sukses mu biarlah menjulang seraya langit. Namun hatimu biarkan tetap seperti bumi. @sepercikcahaya

Kadang hampa, kadang membuat terperangah. langit seperti cerminanmu yang kadang ada, kadang entahlah~ @ulfaekwrdni

Bukankah dengan memandangnya saja, ada getaran yang menyejukkan hati? Subuh berganti pagi siang sore malam dan seterusnya. Terang, mendung kelabu maupun berhias pelangi demikian adalah bukti kekuasaan dan hadir-Nya. Dialah yang maha langit yang sepatutnya dilangitkan. @ramuusss

Aku suka melihat langit, jika aku merindukanmu. kau tau kenapa?
Karena jika aku melihat langit, aku selalu melihat bayanganmu disana. Itu alasannya aku dapat menahan rindu setiap aku merindukanmu.
@nurulasmaulhusna

Langit bagiku penghubung paling indah, sebab seberapapun jauhnya terpisahkan jarak, kita masih bisa melihat langit yang sama. @farahfzyahmad

Entah terbuat dari apa hatimu itu hingga untuk menemuimu saja sepertinya aku perlu melakukan perjalanan 7 lapis langit dan 7 lapis bumi. @dentaldream

Mimpimu boleh tinggi melangit. Hatimu harus tetap membumi. @rurisharistiani

Langit hanyalah hamparan luas dengan beberapa warna. Tak menantang. @jene-monika

Aku melangitkan semua kenangan kita bahkan di kehidupan mendatang. Dengan begitu setidaknya aku bisa menyapamu ketika aku menengadah ke langit. @ginchaniesgin

Dialah langit, sahabat bumi yang tak bernyawa, penyatu matahari, awan dan para bintang bintang. @kama47

Pandanglah langit malam ini, maka kamu akan mengerti bahwa keindahan hanya ada pada perpaduan yang tepat, gelap dan gemerlap bintang. @hikmaaltafunnisa

Pada langit biru aku seringkali menitipkan rindu, namun hingga ia gelap dan kembali biru aku masih merindu. @raitifah

Hei langit, ada rasa damai menatapmu, mungkin Tuhan ciptakan kamu untuk menemani ku menunggunya dengan setia. @mqmk-mariyal

Ngit, katanya Langit itu jauh. kenapa kamu nggak coba jadi Langit-langit aja? di kamarku misalnya.  @reshaaceritaa

Di manakah bisa ku cari segala jawaban dari hal-hal yang membuat sesak? Adalah langit, arah tempat manusia-manusia berbisik.

cc: @tumbloggerkita

Kau semakin jauh dari jangkauan.
Semakin jauh dan semakin jauh. Sampai tanpa sadar kau terbentuk menjadi sebuah bayangan. Yang sama sekali tak bisa kusentuh apalagi ku genggam. Bayangan yang lama-lama akan menjelma menjadi ilusi yang kubuat untuk menenangkan diri bahwa kau masih ada bersamaku. Padahal raga nyata mu telah jauh pergi berkelana meninggalkan aku seorang diri tanpa pelukan, hanya meninggalkan kerinduan yang sesekali merengkuhku erat hingga membuatku semakin ringkih dalam membentengi diri dari rindu yang kini menjadi benalu.

Kamu si pemilik senyuman termanis,

Mengapa membuat seolah semua nyata.

Kamu si pemilik pelukan terhangat,

Mengapa mendekapku begitu erat.

Kamu menyamankan di bagian paling dalam, membuatku meyakini semua yang ku punya benar adanya.

tanpa memberitahuku bahwa kamu memainkan ilusi semata.

Tulisan : Prolog dari Senja
Ditulis oleh : Nurumia & Nai
Dibacakan oleh : Nurumia
Disunting ulang oleh : Mascat
Backsound : Unknown

Teruntuk jiwa yang gaduh, riuh bergemuruh. Teruntuk raga yang dahaga di telaga kekeringan. Teruntuk sekeping hati yang pergi, kemari dengarlah.. Mari kemari, meski engkau telah menjauh… jauh sejauh jauhnya. Kembalilah..

Merebahlah.. Istirahatkanlah hatimu, sejenak saja. Atau hingga engkau bosan. Hentikan usahamu menyalahkan diri sendiri. Sejenak hentikan usahamu melawan ketetapan-Nya. Sebentar saja, dunia ini hanya sebentar. Tak usahlah engkau menangis untuknya. Karena, dia – dan semua – akan engkau campakkan seusai upacara penguburan jasadmu.

Saat nuranimu pun terdiam, saat hatimu berhenti berbisik-bisik. Saat jiwamu tertindih kesedihan, terluka dengan duka-duka. Saat belantara dadamu itu terasa sesak dan rusuk-rusuk menghimpit. Saat-saat itulah kesanggupanmu untuk menjadi dewasa dididik, karena kita memang harus segera dewasa dan bersahabat dengan kehidupan ini. Kehidupan untuk satu kehidupan yang maha hidup.

Ada saatnya keramahan, ketegaran dan kebaikan yang nampak hanyalah ilusi. Dalam kejujuran hati lah tersimpan kemarahan dan kesedihan.

Salam bahagiaku untukmu. Untuk kalian yang hatinya rendah dan hina di hadapan-Nya.

Saat terbaring atau berdiri, saat semua bersamamu atau saat tak sesiapapun peduli. Saat jiwa itu mulai terdiam, dan istananya tiba-tiba saja sepi, atau gaduh dengan kekhawatiran. Namun engkau masih tegar dan berdiri, menyendiri di sudut-sudut malam pelarian.

Jika saja, pagi ini cahaya matahari tidak menemuimu di tempat yang biasa, maka pastikanlah bahwa ia tidak enggan menyapa. Ia senantiasa setia teguh dan patuh menerangi bumi, laksana nur-illahi yang hangat di setiap jiwa yang mengimani.

Ketahuilah matahari tak pernah enggan menyinari pagimu. Mungkin hari ini takdir lain sedang mencegahnya; awan.

Awanpun takdir-Nya. Maka bersahabatlah dengan mereka, karena semua adalah rencana-Nya. Mungkin awan baru saja melintasi petani di surau kecilnya memberi harapan hujan untuk ladangnya yang kering.

Jangan berprasangka pada-Nya, hanya karena engkau merasa jauh. Ketahuilah, sesungguhnya Rabb-mu tidak pernah menjauh darimu, sedetik pun. Tidak, ia tetap denganmu dengan ke-Maha Sabaran-Nya.

Jangan pula engkau merasa paling tawadhu, padahal disana engkau sedang takabbur. Merasa diri paling dekat.

Bukankah Rabb-mu juga memberi kelonggaran kepada orang orang kuffar dengan hadiah-hadiah kehidupan di hari ini dan sebelumnya?

Tak usahlah peduli dengan mereka yang merendahkanmu. Sesungguhnya Rabb-mu ingin memuliakanmu dengan ke-Maha Muliaan-Nya. Maka segeralah, merendah kepada-Nya. Bertafakurlah di antara malam-Nya. Semampumu saja.

Tak usahlah bertafakur di tengah malam, jika matamu memang kalah mengantuk. Tak usahlah duduk duduk di pojokan masjid, menangis dan mengadu, jika memang dirimu tak mampu. Duduklah di tepian terjalnya tebing kehidupan yang hampir saja menjerumuskanmu. Ataukah saat ini engkau telah terjatuh di lembahnya?

Tak apa, jangan marah. Duduklah di sana dan pikirkanlah. Tanyakanlah kepada nuranimu. Benarkah dirimu telah bersih dari kotoran dosa-dosa? Hingga begitu angkuhnya dan merasa pantas untuk marah dengan musibah ini? Benarkah diri itu telah siap untuk kembali terbangun di alam mahsyar tanpa hisab karena begitu bersihnya?

Ingat kembali tentang berbagai keharaman-keharaman yang pernah atau masih kita lakukan, tentang kewajiban-kewajiban yang pernah kita lalaikan. Bukankah setiap dosa itu pasti dibalasi?

Sungguh.. Tuhanmu ingin mengurangi bebanmu di akhirat nanti saudaraku.

Lihatlah betapa kasih sayang-Nya yang telah meringankan api neraka dengan cicilan musibah ini. Yakinkanlah musibah ini hanya cicilan dosa saja, hanya cicilan Azab. Sakitnya tidak akan melebihi kematian.

Yah, ini hanyalah cicilan wahai saudaraku. Semua keluh kesah yang membasahi hati, itu pun dicatatkan sebagai pengurang dosa.

Jangan bodoh, jangan ingin mati. Mati bukanlah akhir dari penderitaan. Kematian hanyalah awal dari penderitaan abadi jika engkau tidak siap.

Marilah kawan.. Lihatlah dirimu , bukankah ini dunia? Apa yang engkau khawatirkan tentang dunia ini? Dunia ini hanya persinggahan, persinggahan bernama dunia.

Engkau masih berdiri dan bebas di sini. Dirimu masih di dunia, lihatlah dan bersyukurlah. Disini tidak ada tanah yang menghimpitmu. Atau gelap yang membutakanmu. Udara masih gratis. Ini adalah dunia. Dunia yang sering kita dustakan nikmatnya.

Kita masih di dunia kawan, bukan di kuburan. Matahari masih di sana, di tempat yang biasa meski awan menutupinya.

Tersenyumlah meski sakit. Merintihlah, mengadulah kepada-Nya. Rintihanmu memanggil-Nya adalah dzikir. Dzikir adalah mengingat-Nya. Mengingat Rabb yang sering kita lupakan.

Padahal Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda, bahwa “Tidak ada hal yang disesali penghuni syurga kecuali satu jam di dunia yang mereka lewati tanpa mengingat Allah..”

Ingatlah lagi pesannya, bahwa “Jika Allah mencintai hamba-Nya maka Ia akan ditimpakan musibah agar Dia mendengar rintihannya..”

Agar kita merintih mengingat-Nya.

Tidak ada kekhawatiran tentang dunia ini saudaraku. Kesabaran itu harus dilatih, dan pelatihan ini tiada akhir. Hamparan dunia ini adalah medannya, medan untuk menguji kesabaran agar kita menjadi benar-benar teruji dan berkualitas tinggi.

Selalu ada kegaduhan di awal cerita tak terduga yang menghampiri kita. Tapi di ujung kesabaran itu sesungguhnya ada nikmat. Di tengahnya ada cahaya harapan. Lamanya rentan waktu penantian.. menanti nanti pertolongan Nya adalah ibadah. Sungguh para malaikat tak pernah lelah mencatatnya sebagai satu ibadah kita yang sempurna disisi-Nya.

Jika tidak dengan guncangan dan musibah-musibah itu, lalu hal apakah lagi yang akan mengingatkan kita? Inilah hal-hal yang seharusnya semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya.

Lihatlah dua merpati yang sedang dibelai cinta. Bukankah mereka juga ingin selalu dekat dan berdekatan?

Begitulah para salihin menyikapi musibah saudaraku. Mereka menjadikan musibah demi musibah itu sebuah medan. Sebuah ajang untuk bermesraan dengan-Nya dalam rintihan. Mereka terhanyut hanyut berduaan, beralaskan rintihan menuju lautan ridha-Nya.

Sungai kehidupan ini tidaklah lurus saudaraku. Ia berliku dan tak terduga. Kadang berbatu, kadang terjun menurun. Kadang tenang, kadang rusuh bergemuruh. Kadang gemericik, kadang mendebarkan. Kesemuanya adalah ujian.

Bagi jiwa yang mengetahui bahwa lika-liku itu adalah iradah-Nya, mereka tidak akan pernah mengeluh. Mereka yakin, bahwa semuanya akan berakhir di pantai nan indah. Pelabuhan terakhir yang telah dijanjikan-Nya sebagai balasan bagi mereka yang bersabar.

Sering memang, hidup ini terasa begitu melelahkan. Penantian itu memang teramat berat, hingga Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Sallam menghibur kita dengan mutiara katanya yang menggembirakan bahwa “Penantian seorang Muslim menanti-nanti kelapangan itu telah dicatat sebagai ibadah..”

Satu ibadah yang sempurna di sisi-Nya saudaraku..

Intiplah rahasianya. Pasti ada hikmahnya. Lalu nantikanlah.. Di antara gelapnya suasana, di sana ada cahaya membimbing senyum di wajahmu,..

Segera setelah musibah itu mereda, di sana bahumu semakin kokoh dan tegap berdiri. Kakimu tegak dan siap melangkah, wajahmu menunduk dan hatimu tetap basah, bertasbih bersama semesta.

Di sanalah rekahan kebahagiaan memancar dari hatimu. Laksana pelangi di penghujung senja.

Bukankah alam melukis pelangi dari riuh-riuh gemuruh hujan dan cekaman halilintar?

Pelangi kebahagiaan adalah hadiah bagi mereka yang lulus. Mereka yang sering berdiam menanti akhir yang indah. Terus bersabar meski sukar.

Tak usahlah mengeluh atas duka duka dan kepedihan. Engkau tidak sendiri kawan, semua jua sedang menanti sang pelangi.

Jika saja kekasihmu tidak bersamamu lagi, di ujung sana masih ada kawan yang menantimu kembali.

Kembalilah kawan, anggaplah pena ini sahabatmu. Sahabat yang baru saja menepuk bahumu, sahabat yang merindumu kembali. Anggaplah pena ini sahabat yang menghampirimu dalam gelap. Seorang yang membawakanmu lilin dan menyalakannya untukmu. Sosok yang mencoba meraih bahumu, membisikanmu, menunjukkanmu, bahwa di sana masih ada jalan.

Anggaplah pena ini sahabatmu, Seseorang yang meraihmu dengan tulus saat bibirmu nanti mulai berkata-kata, “yah, hidup ini memang tidak mudah..”

Sahabat yang tidak menertawakanmu saat engkau salah, yang membenarkanmu saat semua seperti menyalahkanmu. Sahabat yang senang duduk bersamamu saat dunia dan semua seakan menyalahkanmu. Sahabat yang menitikan air mata saat engkau hampir menangis.

Anggaplah pena ini sahabatmu. Sahabat yang tidak pernah menyalahkanmu. Sahabat yang ingin memahamimu ketika dirimu marah. Sahabat yang tidak mampu tersenyum saat dirimu murung. Sahabat yang tak sanggup tertawa saat engkau terluka. Sahabat yang ikut terluka saat kakimu melemah dan terjatuh. Sahabat yang ingin mengingatkanmu lagi tentang masa masa dulu, ketika bahumu tangguh menatap harapan, menuntunmu lagi, melembutkan hatimu, mengingatkanmu saat-saat seperti dulu, ketika engkau terduduk di pojokan masjid menangis memohon ampunan atas dosa dan kesalahan. Sahabat yang ingin menegur dan mengingatkanmu, berdoa di belakangmu, membersihkan namamu dan duri yang menusukmu.

Mari sahabatku, engkau mungkin tak pernah mengenal jari siapa yang lancang menasihatimu ini. Namun bersaudara itu adalah pesan mulia dari panutan kita, Rasulullah Sholallahu Alaihi wa sallam. Mari berjalan berdampingan. Mencari oase di tengah gersangnya kehidupan.. Menuju keabadian.

Sahabat jauh yang mungkin tidak pernah engkau kenal. Sahabat yang bahkan tidak pernah bertemu dalam tatapan. Sahabat yang menatapmu dari kejauhan.

Bukan, aku bukan sahabat sejatimu. Karena sosok itu mungkin tak pernah ada di semesta fana ini

Benar kata Syaikh ‘Athaillah, “Sahabat sejati itu tidak ada kecuali dia yang paling tahu aibmu, dan tidak ada sahabat seperti itu kecuali Tuhanmu Yang Maha Pemurah..”

Anggaplah ini sahabatmu, sahabat yang membenarkanmu, saat semua seperti menyalahkanmu. Semoga persahabatan ini diberkahi-Nya.

Lupakanlah siapa penulisnya, namun dengarkanlah gemericik bisikannya.

Analogi dan diksi sederhana ini, sengaja kualirkan melalui jari, dari danau ketenangan di hatiku untuk kebahagiaanmu.

Aku,
Singapore, 11 April 2016
Nurumia
(@perempuanrantau)

Made with SoundCloud
Yang Tak Sempat Ditulis

Akhir-akhir ini saya lebih sering menangis. Mirip tapi berbeda dengan masa-masa beberapa tahun lalu ketika saya masih tinggal di Singapura.

Kalau dulu rasanya tiba-tiba menangis sendiri karena merasa Tuhan begitu dekat. Selama hidup menjadi seorang muslim dan mendapatkan pendidikan agama, ya baru masa-masa itu saya merasa bahwa Tuhan itu ada. Bahwa agama dan Tuhan bukan dongeng belaka.

Dan itu diperoleh melalui proses yang tidak sederhana. Proses pengembaraan intelektual dan spiritual yang menjerumuskan saya pada kegelapan. Sampai-sampai saya berpikir dengan sungguh-sungguh tentang kemungkinan bahwa agama dan Tuhan hanya dongeng belaka.

Tapi, di situlah. Dari kegelapan, kita baru dapat mengenal cahaya. Mengenal kegelapan jauh lebih baik daripada kita hidup dalam ilusi bahwa kita berada di tempat terang. Sementara pada realitas-nya kita ada di tempat gelap. Kita pikir terang, sebab kita tidak melihat. Mata kita buta, meski ia terbuka.

Lalu, ketika penglihatan itu terbuka. Menangislah kita. Menangis sejadi-jadinya. Sebab Tuhan yang tak terjangkau di arsy sana, rupanya jauh lebih dekat dari urat nadi. Petunjuknya datang tidak kenal hari. Dan ketika kita diberi kekuatan untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, rahmat Turun. Hidup kita bahagia dan hanya bahagia. Tak ada rasa sedih dan khawatir sedikit pun di sana.

Tapi, manusia, bukanlah malaikat. Selagi hayat masih di kandung badan, tak pernah bisa lepas kita dari tipu daya setan. Dan ketika kita lalai, tercabutlah segala rahmat itu.

Hidup kita jadi menderita.

Tak ada yang mampu menutupi kehampaan itu.

Tak ada makanan yang enak yang mampu memberi kebahagiaan.

Tak ada tempat indah yang mampu memberi ketenteraman.

Tak ada puja-puji manusia yang mampu memberi keamanan.

Dan sampai hari ini saya bersyukur sekali masih diberikan fasilitas-fasilitas dalam pengembaraan spiritual ini. Sebuah perjalanan yang sangat jauh menuju Tuhan. 

Di situ saya menangis. Menangisi diri saya sendiri yang dengan segala pengetahuan yang dikaruniakan belum mampu menghamba dengan baik. Saya telah melalui ini dan itu dan berkesimpulan bahwa tugas kita di dunia ini hanyalah bertakwa. 

Sesimpel itu. 

Saya sudah pernah bergaul dengan orang-orang top (termasuk orang-orang yang teman-teman saya sekarang berebut memamerkan foto bersama mereka), mendatangi seminar dari peraih nobel, dan hidup di negara yang begitu makmur secara ekonomi dengan standar hidup yang tinggi.

Tapi, tak ada yang mampu memberikan apa yang saya cari.

Apa yang saya cari hanya ada di jalan spiritual ini.

Dan sayangnya, di jalan ini saya masih belum mampu menjadi seorang pejalan yang baik, yang lurus. Di situ saya menangisi diri saya sendiri.

Rasanya sudah tak sempat lagi mengurus-ngurusi orang lain. Menyelamatkan diri sendiri saja sulitnya bukan main.

Tapi memang begitu. Di Quran pun berkali-kali dikatakan bahwa sedikit sekali di antara manusia yang bersyukur. Bukan hanya Tuhan yang bilang, setan juga tahu kenyataan ini.

Jangan dikira sebatas syahadat saja sudah cukup untuk sampai ke Tuhan. Itu hanya mimpi di siang bolong.

Dan dalam perjalanan beberapa bulan ke belakang, ada begitu banyak yang saya dapatkan. Tapi entah, sampai saat ini saya belum berani menuliskan. Sebab itu semua belum dapat saya jalani. Masih sebatas konsep-konsep di pikiran.

Dan di jalan menuju Tuhan ini konsep-konsep saja tidak cukup. Dan di situlah katanya, perjuangan yang sejati itu ada. Dan bahkan hanya itulah satu-satunya perjuangan.

Perjuangan yang dielu-elukan manusia rupanya tak ada artinya jika tanpa disertai perjuangan menuju Tuhan. Tak peduli seberapa hebat perjuangan di mata dunia, ia jadi tak bermakna jika tidak pada Tuhan bermuaranya.

Marathon Quotes : ‘Rindu’

Selamat malam ini tuan nona, Semoga jarak akan memeluk rindu kita diakhir detik ini senjaberaksara

Kau tahu apa yang tak mampu dipasung jarak? Resah yang debarnya selalu ditangkap waktu, juga didih rindu yang aku tahu sedang meluap-luap di dadamu narasibulanmerah

Tuan, kau melihat bulan malam ini? Sempurna bulat. Akankah cinta yang terpasung jarak ini juga bisa sesempurna itu? noroum

Langit kita tetap sama bukan? Ataukah sudah berbeda? Biarlah jarak tetap sebagai penjaga kerinduan reireres

Coba lihatlah bulan malam ini. Di sini duduklah berdua denganku. Mari kita menatap langit yang sama meski jarak tak bisa menyatukan tapi kau lihat kan indah pancaran bulan malam ini, seindah rindumu padaku senjaberaksara

Namun, bukankah tetap berbeda ketika jemari kita bisa terengkuh dalam usapan nyata? Sebuah maya tetap saja menyimpan rindu yang tidak bisa ditampis hanya dengan mengkhayalkan hadirmu mengukir-kenangan

Lantas, kau lelah dengan khayalanmu yang kesemuanya tentang aku? Kau bosan dengan dimensi tak terdefinisi yang memenjara masing-masing kita? Kumohon. Bersabarlah noroum

Jika aku lelah, telah aku pupuskan segala resah ini pada dia yang di sisiku ketika aku tengah lemah. Aku hanya sedang mengadu bahwa rindu ini semakin membuat sekarat. Tak bisakah jarak kita lipat barang sekerat? mengukir-kenangan

Lelah? Jika aku lelah sudah sedari awal aku menyerah. Namun aku tetap bertahan untuk sebuah temu yang kuyakin akan terjadi katadevi

Aku takkan lelah merindukan segala tentangmu, meskipun hanya melalui senandung do’a. Keyakinanku, kita akan bertemu nanti. Dalam nyata, dalam jarak satu dekap dyraaaa

Sebut saja aku pengecut nona, bukan lelah dengan semua khayalan bersama tapi takut akan nostalgia dan rindu yang menyerang nantinya menjalin

Pengecut? Apa pengakuanmu lantas membuatku mengasihanimu? Kau salah. Muak aku, terlalu hafal merapal alibimu noroum

Jangan kasihani aku, kasihani saja jarak ini, bukankah rindu ini hampir mengering? reireres

Selalu saja ada alibi yang kau berikan, ketika rindu ku ucapkan. Tidakkah kau mengerti, bukan hanya kau yang menahan derita karenanya? katadevi

Alibi nona? Ah ya anggap saja ini alibi. Aku memang pengecut, pada rindu ini warasku lucut mengukir-kenangan

Lalu, untuk apa kau mempertahankan perempuan yang tak waras sepertiku? Yang gila karena buta mata dan rasa untukmu elmoelmooo

Adalah benar aku rindu, tapi apalah daya. Kau tak tahu karena aku hanya mengamatimu dari jauh. Semogaku kepadamu tak perlulah berjumpa raga, cukup dengan ingatan hati dan jiwa beliaffh

Bagaimana aku tahu bila kau hanya menjadi pengamatku? Tunjukanlah dirimu. Tidakkah kau ingin berjumpa raga pun rindu? Tidakkah kau lelah memendam semuanya? chachaicho

Apakah jika kuteriakkan padamu tentang rindu yang aku pendam, Kau sanggup meredam gaungnya? Telingamu tak sakit mendengarnya? mengukir-kenangan

Maafkan, maafkan atas diamku, yang sengaja tak ingin mengganggu harimu memuudarkan rona bahagiamu. Yakinlah, diamku bukan egoku kardussepatu

Beri tahu aku! Jika rindu kita sama-sama mendidih. Kau pikir memendam itu tak pedih? mengukir-kenangan

Aku sama denganmu nona, di sini aku juga memendam pedih pada rindu yang tak tau kemana harus pulang kardussepatu

Maaf jika pekaku tak pernah menyadarkanku nona. Aku hanya takut jika apa yang kulihat di matamu hanyalah hasil dari ilusi khayalku celotehtakbersuara

Duhai Tuan, apakah kau tega menyiksaku dengan jarak seperti ini ? temu yang tak pernah kunjung ada bisa membuatku mati menjalin

Aku pernah menunggumu sekian lama tanpa kepastian. Lalu sekarang begitu lagi? Rasanya aku sakit yang tak kunjung sembuh walau telah ku obati. thoatunmarufah

Aku terbaring, mencumbui rindu seorang diri. Mungkin bila kau mau genapkan rasaku ini afifahkhairunnisa

Ada yang saling berkejaran. Tanggal-tangga pada kalender di meja kerjaku, juga waktu yang semakin asing mengeja nama “KITA”. Kau-aku tak utuh menjadi puisi, kau-aku hanya imajinasi yang berserakan di pikiranku narasibulanmerah

Ku ingin kita merajut aksara KITA bukan hanya sekedar aku dan kamu. Pahamkah kau Tuan maksudku? senjaberaksara

Aksara KITA hadir karena ada aku dan kamu. KITA bersua untuk meluruhkan rindu kan? dyraaaa

Jangan hadir dulu, Tuan. Biarkan aku menata diri dalam sunyi. Sedang kamu? Cukup membisikkan namaku dalam jarak kemenanganmu hiddenlettersss

Karena aku tak ingin hanya sekadar mengumpulkan harap-harap semu untuk temu nona reireres

Tuan, aku lelah dengan omong kosong ini. Bisakah kau datang malam ini? Setidaknya dalam mimpi. Aku mulai gila noroum

Ku butuh keteduhan dalam imaji, sepotong hujan dalam mimpi, yang menghadirkan kamu di otak sebelah kiri nasaya

Aku pun lelah nona, ingin rasanya malam ini aku memandang matamu yang teduh, luruh dalam rengkuh. Meniadakan segala omong kosong tentang jarak mengukir-kenangan

Akan kulakukan seandainya aku bisa, nona. Tapi ini semua bukan hanya perihal keinginan lapaksunyi

Tuan, aku butuh pundakmu sekarang. Biar hilang sakit yang aku derita, karena rindu telah menusuk-nusuk raga thoatunmarufah

Kau tega biarkan aku gila dengan segala acuhmu? Lihatlah purnama teramat sempurna benderang. Setidaknya kau tak sebatas hadir di alam fana, namun nyata di hadapku afifahkhairunnisa

Bagaimana bila kita bertemu dalam do’a di sepertiga malam nona reireres

Meski raga belum mampu bertemu secara fisik. Kuharap kita bisa bertemu lewat do’a terbaik. Agar rindu ini tak terus berbisik mee-tha

Tentu akan kuaminkan Tuan, Biarlah do’a-do’a kita yang bertemu meski raga ini belum mampu lapaksunyi

Karena saling mendo’akan adalah bagian dari kita. Perihal kau dan aku dipertemukan, biar itu menjadi bagian Tuhan banqueet

Jika kita bertemu nanti, yang ingin aku lakukan hanya satu, mengganti semua do’a rinduku dengan pelukan hangat untukmu elmoelmooo

Lalu apa yang kau tunggu Tuan? Jangan hanya ucapan ingin saja padaku, aku lelah menunggumu chachaicho

Mungkin jarak memang benar-benar jahat sejadinya sampai kita berusaha merajuk temu. Tapi ia tak lebih dari seperempat perjalanan kita. Tidak cukup mengeluh atas nama sepi. Tidak! Ada percaya yang utuh kulabuhkan padamu afifahkhairunnisa

Aku tidak sedang meniadakan kepercayaanku pun yang utuh padamu. Hanya saja rindu ini semakin menjerat membuatku ingin menjerit. “Kau menang jarak, berhenti menyiksaku!” mengukir-kenangan

Jangan lagi kau salahkan jarak dan waktu yang memenjara, Tuan. Biarkan tangan Tuhan berkerja tanpa perlu kita merusuh. Akan ada saatnya noroum

Pun ketika rindu tak juga luruh oleh jumpa, biar purnama yang luruhkan rindu sempurna kita, lewat biasnya langitpurnama

‘Meski mangata oleh purnama hanya rupa bayangan, indahnya mampu menampung rindu, juga send’, katamu (dulu) hiddenlettersss

Dan jika jarak jadi sekat, biarkan do’a sebagai perekat pun juga sebagai pengingat bahwa kita senantiasa dekat reireres

Sudahlah, berdebat tentang apapun, meski lelah begini membuat aku lemah. Rumah rinduku tetap kamu. Utuh dan Penuh. Pada jarak, rindu ini bukan kalah, ia hanya serakah mengukir-kenangan

Di sini aku tetap menabung rindu di setiap sela-sela jemari tangan yang kuisi do’a. Sudah terlalu banyak aku mengadu pada Tuhan afifahkhairunnisa

Kutunggu kau, dan jika jejakku sudah kau temu, berlarilah. Waktuku hampir habis. Aku ingin mati dengan tenang, seperti senyummu, menenangkan noroum

 Selamat tengah malam Tuan dan Nona, Minka dan Minko tumbloggerkita

 serta Bapak tercinta kita curhatmamat, salam rindu dari KITA JATENG.

selamat istirahat para pecandu rindu ~

Arisan Puisi Kencan

Cinta si rusdi maslim
.
cinta ibarat gangguan jiwa, saat aku mulai obsesif dan kau alasan untuk kompulsifku untuk bertemu
malamku saat ini dan besok adalah pagimu, milikmu dan untukmu menentukan alasan merindukanku
cerita halusinasimu serta ilusi dan waham adalah tentangku
.
perjanjian dibawah senja dan taman serta anak-anak yang bermain bola menjadi saksi ketika kukecup keningmu
menjadikanmu euforia bahkan aku takut, untuk menyembuhkanmu dariku
sayang bukan bintang dan gemerlap lampu kota yang menyertai rindu ini, karena cukup pelangi dimatamu untuk mengobati rinduku
.
aku tak keberatan jika saja aku menderita skizofrenia, lebih baik dari kehilanganmu dan aku sadar itu
pertemuan satu bulan lalu seperti onset skizofren yang menggerogoti kesadaranku
ini bukan hanya pertemuan atau kencan, tapi obat untuk gangguan jiwaku
yang terkasih untukmu kekasih khayalan!
.
surabaya, 3 mei 2017.

@gustraa-blog

Kencan sepuluh ribu.

Waktu tidak mensponsori kisah kita, duduk berdua denganmu pada sebuah kafe adalah fiktif.

Pergi dengan mira,
“bungur KL, satu” dengan menyodorkan uang sepuluh ribu.
Sesampainya, menemuimu lalu pulang,
dengan sumber selamat,
“Jombang KL, dua” kamu menyodorkan uang duapuluh ribu.

Tak ingin cepat sampai, semoga bus mogok atau macet.
Agar lama,

kencan denganmu diisi dengan dengkur penumpang dan dangdut koplo.
Kencan denganmu butuh sepuluh ribu dengan 2 jam pertemuan; 1 jam beradu tawa, sisanya terpejam pulas.

@uchidnc

Ingin Tidur

airmata kita gelandangan
selalu ‘nemu emperan
hentikan waktu yang kota
wagu pada airmatamu
menembus saujana
yang tidak pernah
menutupi semenjana kita
menghadapi segala
temanku, bisakah punggung kita
menjelma malam?

Landungsari, 2017

@hamidfadaq 

Entah Kapan

lorong-lorong jarak yang mengekang ragamu dibalik bayang-bayang semu…
Hadir bagai belati melukai rasa ini… Hingga setiap kata yang tak sempat terucap…
Menjadi baik adanya dibalik buruk yang tercipta…

Entah dengan siapa kini aku berdiri melawan hari…
Biarlah hujan yang menjawabnya…
Lalu membawanya pada titik temu waktu…

Malang, 3 Mei 2017

@sajaksenjaartastik



Kencan ini tak semu

Pada detik yang mengusik sudut sempit 
Janji ini terukir syahdu bersama sepotong kain 
Sejengkal bumi ini berbisik
Bahwa dunia adalah fana
Namun rasaku nyata menuju Si Empunya
Siapakah ia yang ku cinta
Saat dunia berkata
Bahwa manusialah jawabannya
Namun, sesuatu tak tampak berseru
Yang tak terlihatlah
Yang jauh lebih nyata.

Kediri, 2017.

@vbeskine

Kekasih untuk Kelelawar Gotham

Tudung malam benar-benar gelap
Hingga bubuk mesiu menabur aromanya pada genangan darah orangtuamu
Apa daya ia lahir dari benih-benih darah pengganti sperma dan trotoar jalan pengganti rahim
 -kenalkan, namanya balas dendam
Ia kekasihmu, yang mengencanimu hingga menjelma kelelawar 
Selina dan Diana pun tak setia seperti dia
Kawini dia, si balas dendam
 - untuk melahirkan anak bernama sia-sia

Surabaya, 2017

@rcipta

Nasi Padang

Lapar menghadang kelana ujian
Lalu kuhantarkan butiran karbohidrat
Untukmu yang tengah penat
Kuah kaldunya melagukan dialog kita
Riuh, semacam krenyes ayam di dalamnya
Pahit daun pepaya menyertai tiap kelakar receh
Malam itu
Rendang memang absen, namun senyum kita tidak kan mas?

Surabaya, 3 Mei 2017

@lusiapp


Kencan

malam minggu tadi di pinggiran alun-alun

kau dan aku pelan-pelan leleh pada

secontong es krim yang hangat di bibir

di mana sedetik kemudian hujan deras

lalu ibuku: subuhan!

Mei, 2017.

@annsrakh


Nyanyian kunang-kunang

Tak perlu seperangkat gombal

Karcis bioskop dan popcorn wangi

Cukuplah senyummu yang ayu

dan gerombolan kunang belingsatan

Mabuk kepayang aku

di teras tetangga

        kita menghitung bintang

Lalu kau mendadak raib

        Aroma baygon menguar

Mei, 2017

@sabiliihdina


Dick : Kehangatan untuk Barbara dan Kori

Malam, cerai beraikan aku saat ini

Taburkan sepertiga untuk Barbara, jelmakan aku jadi jubahnya

Sepertiga lagi untuk Kori, bentuk aku jadi selimut hangat ranjangnya

Sepertiga sisanya bawa aku terbang mengelana menuai dosa akibat mengencai dua bidadari siang dan malam

Surabaya, 2017 

@rcipta


Es krim dan kenangan

Nutty monkey,

Noodle es krim dan dua gelas air putih

Telah tersaji dalam mangkuk mini

Kau sesap dengan lahap

Bak menelan kenangan sampai lesap

Lalu anganku terbang

Mulai menelisik labirin tentang memoar silam

Aku menemukannya

Lalu senyummu berkata

Kita berdua, aku dan kamu saja

Kediri, Mei 2017

@natanatasya


Kencan mahal

Di cafe elit meja nomor tiga

Mbak Warni pesan roti panggang

Selai kacang selai coklat sebagai isi

Jus jambu ditambah ice cream tak ketinggalan

Mas Agus hanya pesan kopi hitam

Dengan uang dua puluh ribu di dompet

Cangkir kopi jadi saksi

Kacang dalam roti berhamburan tertawa tebahak

“Yang penting pencitraan , masalah bayar urusan belakang.”

Tuban, 2017

@akasylvietania


Kentjan(a)

Sabtu malam

Aku meringis di depan kaca

Kuambil perona pipi

Senada dengan gula-gula di pekanraya

Bel rumah berdenting

Ku bergegas;

Menuju teras

Ah malang, sandalku putus dari selopnya

Oh, kencanku tinggal kentjan(a)

Kediri, 3 mei 2017

@jemarihujan


Kelas Puisi Regional Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara

Asumsi,

hanya menyesatkan kita pada ilusi, lalu membuat kita berhalusisasi dan merasa benar sendiri…

Entahlah…

Menjadi semacam virus perusak hati

Berhentilah Sayang, berasumsi pada apa-apa dan pada siapa-siapa…

  • Ahh, bukankah lebih baik kita sirami kegersangan ini dengan

Cinta

Cinta yang membawa kita pada CintaNYA

#37

Ini pertanyaanmu yang belum ada jawabannya:

“Apa kamu mencintaiku dengan membiarkan jarak ribuan detik tetap mengganggu?”

Kuikuti langkah Pak Sapardi, untuk mencari, di balik dan jeda pertanyaanmu. Kuturuti Payung Teduh untuk mencari di tiap-tiap malam. Tak ada apa-apa, kecuali kehilangan pada tautan batin kita.

Malam ini, aku ingin mendengar detak jantungmu di beranda. Menyalin rekaman suaramu di kabut paling dingin. Atau merebahkan tubuh tanpa resah esok ada atau tiada. Kuingin menjadi kalender yang abadi, nir waktu. Dan menyelesaikan guratan wajahmu di dinding hati.

Aku berteman serigala yang memiliki cicilan KPR. Belajar mengenai kegagalan demi kegagalan. Bertahan di atas ombak, setelah lupa bahwa aku adalah putra duyung. Semua ilusi membikin kulitku mengelupas, terus-menerus. Dan akhirnya tinggal hati, megap-megap, kehilangan darahnya.

Sayang sekali, waktu tak bisa dimampatkan ke bentuk mekanisasi mesin. Barangkali waktu bersifat sosialis. Tapi kadang menunjukkan kuasa penuh pada nasib anak-anak manusia. Seperti yang pernah kukatakan.

Sekali lagi, pertanyaanmu tak memiliki jawaban. Ia adalah rahasia dalam sebutir kapsul keemas-emasan, yang tercipta dari air matamu. Ditambah adonan roti favoritmu. Maka, apa lagi yang bisa kita tunggu, kecuali luka yang terkena garam.

Kamu adalah komedian yang manis. Menertawakan kegelisahanku di suatu pagi sebelum Mata kuliah pertama. Dulu begitu berwarna.

Itulah mengapa, aku malah hidup dalam kuasa waktu yang berjalan mundur; demi mencarimu.

For My Lovely.

Sudah terlambat kan ya??

Aku mencari sisa sisa sayap ku yang kau buang di pinggir jalanan. Saat ini aku masih menunggu kebahagiaan mu. Jika sudah ada yang memberimu lebih dari pada kisah kita ini. Jangan pernah lupa sayap sayap-patahku pernah melindungimu.


Richs