ih ah!

  • *ditilang, tapi gue nggak denial karena memang ngerasa salah*
  • Polisi : Mau bayar damai apa sidang, De?
  • Gue: Sidang aja, Pak
  • Polisi: Damai aja deh, De?
  • Gue: Ini masuk 86 ngga sih, Pak?
  • Polisi: Ngga atuh, De. Damai aja ya?
  • Gue: Ngga ah sidang aja
  • Polisi: Eh, disini aja udah, damai. Dipermudah
  • Gue: Ih, Bapak. Sidang aja ah
  • Polisi: Bayar di BRI deh?
  • Gue: Ngga mau ah, Pak. Ga punya uang, kalo sidang enak, tinggal ayah saya yang bayar
  • Polisi: Ih si Ade mah pelit banget. Damai aja gapapa biar cepet
  • Gue: Orang pengen sidang aja, Pak. Sidang ah udah
  • Polisi: Yah, yaudah atuh, nih
  • Gue: Gajadi sarapan ya, Pak? wkwk
  • Polisi: Iya nih sok sana
  • YA MASA KAYAK GITU WKWK

anonymous asked:

So is it pronounced "ave-ih-dan" or "ah-va-don"? Dan's pronounced it both ways. The second sounds like it would be the correct pronunciation, but you hear the first so much more, from others as well as Dan himself. (It's 4am and I have to get up at 6, but instead of sleeping my brain pellets me with questions like this, and I find myself searching Google for information on Hampton the Hampster.) :/

He said it’s officially pronounced the second way, “ah-vah-don”, but I don’t think he really cares. He’s too chill of a dude to really care which way you go about sounding out your a vowel. Also I hope you got some sleep!

Racauan Kakak Sebelum Tidur

Kakakku adalah tipe perempuan yang suka berbicara lebih dari duapuluhribu kata perhari. Mungkin dia bicara bisa sampai dua ratus ribu! Tapi konon, untuk tetap bahagia perempuan harus tetap seperti itu. Persis seperti kakakku.

Aku salah satu pendengar setianya, dari bocah. Sampai aku umur delapan belas, karena setelah itu suaminya yang menggantikan peranku. Sekarang mungkin aku hanya mendengar tak sampai seribu kata, itupun via Line atau whatsapp.

Dulu sebelum tidur kami suka meracau. Hampir tiap hari racauannya menjadi pengantar tidurku. Kakak selalu mengomel tiap ayah mematikan lampu.

“Kayanya nanti kalau aku punya rumah sendiri aku bakal nyalain lampu-lampunya sampe malem.”
“Ih boros.”
“Kan nggak semua orang benci gelap kaya aku. Kayanya nanti suamiku nggak aku bolehin matiin lampu kamar.”
“…”
“Nggak ding, kalau dia sayang aku juga dia bakal nyalain lampu tanpa aku paksa. Hihihihi.”
“The drama begins…”
“Suamiku mau ngga ya kalo kamarnya nanti dicat warna pink?”
“Kak, please…”
“Kan lucuuu. Ah nanti aku yang mohon-mohon deh minta ke dia.”
“Kak, mana ada cowo yang mau kamarnya dicat warna pink! Jijik tauuuu.”
“Ih ada, liat aja nanti suamiku! hihihi.”
“…”
“Semoga dia bisa setrika baju sendiri. Aamiin.”
“Ini khayalan macam apalagi sih kak?”
“Kan doa dek, tau sendiri aku tuh gabisa nyetrika baju. Aku bisa masak, beberes rumah, nyuci, ngepel, asal jangan nyetrika.”
“Tapi yakali masnya yang nyetrika.”
“yaudah deh aku berdoa semoga nanti pas jamanku nikah udah ditemukan alat penyetrika otomatis. Aamiin.”
“Kak -_-”
“Dek nanti kalau aku udah punya suami, aku pura-pura ngga bisa nyetir aja deh!”
“Kok gitu?”
“Biar minta dianterin kemana-mana hihihi.”
“Nggak logis!”
“Hihihi”
“Terus apalagi khayalanmu kak?”
“Kok khayalan sih! Ini tu doa dek…do-a!”
“Iya doa…”
“Aku juga berdoa dia nggak doyan pedes!”
“…”
“Biar aku ngga harus belajar bikin sambel. Kan aku nggak doyan pedes. Mending istrinya doyan pedes suaminya engga daripada suaminya doyan istrinya engga"
“Aamiin deh, aamiin.”
“Semoga dia hobi nyuci mobil Ya Allah. Soalnya aku tiap habis nyuci mobil pilek. Aamiin.”
“Kak…udahan ah. Ngantuk.”
“Ih kan aku masih mau ceritaaaaaa…”
“Lanjut besok kak, bye.“
Aku menutupi kuping dengan bantal.

Aku jadi kangen kakak. Sekarang dia sudah meracau di samping Mas Iparku. Betah ga ya dia dengerin kakak?

Pernah satu hari aku tanya-tanya lagi sama kakak, mencheck-list racauan malamnya.

“Kak, Mas itu kalo tidur pake lampu nggak sih?”
“Enggak, dia nggak bisa tidur kalo pake lampu.”
“Lah bukannya kakak nggak bisa tidur kalo gelap?”
“Sekarang nggak papa sih gelap, asal ada temennya!”
“…”

***

“Kak jadinya kamarnya kakak catnya apa?”
“Kemarin sih aku pilih krem dek, lucu gitu senada sama interiornya. Sama ada beberapa bagian yang dikasih wallpaper.”
“Lah, ngga jadi pink?”
“Ya kali…kasian mas lah kalo kamarnya dicat pink! Jijik…”
“…”

***
“Kak, kakak kok nggak ngelaundry aja?”
“Enakan nyuci sendiri. Lebih bersih.”
“Lah? Setrika sendiri dong?”
“Iyalah…”
“Bukannya dulu paling anti-nyetrika?”
“Belajarnya setaun sendiri aku! Demi bisa nyetrika…”
”…“

***
“Kak pinjem tas dong buat ke kondangan. Minta deh minta satu, aku ga biasa beli yang model tante-tante gitu.”
“Ntaran ya dek kalo kakak sampe rumah kakak liatin. Ini masih mau jemput Bening sama Pijar dari sekolah. Terus mau beli printer. Enaknya beli dimana ya dek? Yang sekiranya ngga ditipu gitu, kamu tau sendiri kan aku paling nggak bisa perkara perkomputeran.”
“Sendiri gitu? Kenapa ngga sama Mas aja sih?”
“Ya berarti weekend dong, keburu dipake. Si Bening tuh tugasnya aya-aya wae. Ngga sanggup si printer lama. Butuh yang sekalian bisa nyecan gitu-gitu lho dek biar ringkes. Udahan ya kakak masih nyetir.”
“Bukannya dulu abis nikah mau pura-pura ngga bisa nyetir?”
“Ribeeett, kasian Mas juga tambah riweh nanti kalo aku rewel minta anter kesana-sini.”
”…“
***

“Dek, obat pilek yang manjur apa ya?”
“Lah? Pilek?”
“Iya nihh, takut nular ke Maira. Repot kalo bayi gini pilek.”
“Makanya jangan kebanyakan nyuci mobil!”
“Asik kali dek, nyuci mobil sama suami. Hahaha.”
“Ya tapi kakak lemah gitu kalo nyuci mobil. Le-mah!”
“Kasian kalo ngga dibantuin…”
”…“

***

“Kak, sekarang doyan pedes?”
“Engga sih…masakin Mas aja.”
“Ooh terus bikin buat kakak juga, jadinya dua menu gitu?”
“Engga juga sih, kakak tetep makan yang ini.”
“Lah kan situ ngga suka pedes!”
“Yang penting Mas suka makanan rumah. Itu udah lebih dari cukup.”
”…“

***

Aku memahami satu hal, perempuan memang diciptakan penuh racauan duapuluh ribu kata perhari. Tapi racauannya tak berarti apa-apa, dibandingkan apa yang diam-diam dia korbankan.

a-big-fucking-tyrantrum  asked:

Clarke@All: "Eh-heh-eh, ah-h'ih-hello! Eh-heh, you-uh. You folk certainly seem, well, erm. Foreign! Ah-eh-heh.. Nnnnh-not that it's a bad thin' or anything like that! I-I jus', uhm. Well. I-I would like t'ih-to know where th'two of you ah-are from, is all. I-I mean. Ah-as lon' as it is not too much of a problem with the both of you and all. Ah-heh-hah! heh-eh.

Onyedi took a moment to pause this behemoth of a dinosaur. While his face doesn’t show it, internally… he was rather impressed by his size, larger than even normal Tyrantrum. If it wasn’t for his stutters and seemingly anxious first impression, the Conkeldurr would’ve outwardly expressed his approval, if by a tiny margin. Shame he seemed meek, but at least he was friendly, thus the fighting type saw no reason to greet him with a scowl, much less take a defensive stance. Upon rotating and cricking his neck, he finally answered. “So you wish to know of our homes, then, do you. Very well, dragon… I shall start not with Ghalidor, but my true home of origin.”

Keep reading

The Way I Lose Her: Keluarga Cemara

Aku menulis untuk mengenang. Dan aku menulismu sambil tersenyum tanda seberapa bahagianya dulu di saat kita bersama. Jika menulis bisa membuatmu menjadi abadi, maka aku akan menulismu dengan indah.

                                                         ===

.

Gue kira Ipeh itu adalah cewek tomboy yang berbeda ketimbang anak tomboy lainnya, tapi ternyata sama saja. Sama cerewetnya, sama easy goingnya juga.

Ternyata yang gue temukan pertama kali ketika tak sengaja duduk bareng Ipeh ketika ulangan matematika beberapa hari yang lalu itu adalah sosok Ipeh yang lagi menjadi seorang wanita, alias lagi jinak. Mungkin bakal bisa dihitung oleh jari di mana gue bisa menemukan sosok Ipeh yang sedang menjadi wanita dari dulu pertama kenal hingga sekarang.

Rumah Ipeh bisa dibilang cukup jauh kalau dijarakkan dengan rumah gue. Selama perjalanan mengantarnya pulang, Ipeh selalu cerewet menceritakan segala sesuatu yang ingin ia bicarakan. Dari masalah karate yang sama sekali nggak gue ngerti, sampe masalah pertama kali dia liat gue waktu tanding basket ospek kemarin. Ketika sedang membicarakan masalah-masalah olahraga, Ipeh mendadak menjadi sosok ibu-ibu arisan yang ngomongnnya kaga bisa dicela sama sekali. Pokoknya harus didengarkan dan diperhatikan, jika tidak bisa-bisa ada tabokan yang melayang.

Gue saat itu tengah terfokus sama jalan yang sedang gue lalui. Karena selain mata gue minus, jalanan di sana pun sudah penuh dengan lubang, mana hari udah terlanjur malam pula, gelap total. Namun Ipeh terus saja cerewet ngomongin hal-hal tentang Karate di jok belakang sambil kadang-kadang memperagakan bagaimana cara memukul. Dan yang lebih tainya lagi, helm gue yang dia jadikan objek pukulannya.

Sontak tiap dia berlagak bak Wiro Sableng, motor gue oleng gara-gara kepala gue ditempeleng tanpa alasan yang jelas. Ada juga kejadian ketika gue lagi fokus menghindari lubang di tempat yang gelap,

“Tau nggak Dim, waktu kejuaraan karate kemarin kan sistemnya page sistem tuh, nah kebetulan yang jadi lawan gue saat itu ternyata adalah teman SMP gue yang sekarang beda SMA, Dim..”

“hmm..” gue masih fokus menghindari lubang.

“Eh pas tandingnya dimulai, dia main curang dim! Gila kurang ajar banget! Mentang-mentang dia tau kelemahan gue. Sial!” Ucapnya sembari mencubit pundak gue.

“Hmm..”

“Tapi untung gue jago. Gue udah lebih jago dari waktu gue SMP dulu. Hebat nggak gue?”

“Yoi.”

“Terus pas gue kalahin dia, eh dia malah ngata-ngatain gue coba Dim? Nggak gantle banget kan? Tau nggak dia ngomong apa ke gue Dim?”

“…”

“Tau nggak, Dim?”

“…”

“Dim..”

“…”

“Dim..”

“…”

“…”

“…”

“DIMAS TAU NGGAK DIA NGOMONG APA?!” mendadak Ipeh teriak di samping Helm gue.

Gue yang saat itu lagi fokus ngindarin lubang sontak langsung kaget dan membanting stir sehingga motor yang lagi gue kendarain masuk ke pekarangan orang.

“WANJIR KAGET GUE KAMPRET DASAR GULA DONAT!!! YA SALAM YA KARIM YA MALIK YA TUHAN SEMESTA ALAM!!! MAU LO APA SIH PEH?! LO NGGAK LIAT APA GUE LAGI FOKUS NGINDARIN LUBANG?!”

“Ih kok malah marah sih..”

“YA SIAPA YANG NGGAK MARAH COBA!! MAU LU LAGI NGOMONGIN JURUS TELAPAK BUNGA SUCI KEK, TENDANGAN HALILINTAR PEMBELAH PUSAKA NAGA KEK, ATAU TANGKISAN KISANAK MPU TANTULAR JUGA BODO AMAT!! KAGAK PEDULI GUE!!” Gue uring-uringan sendiri.

Ipeh yang mendengar omongan gue malah ketawa.

“Lha ngapa lu malah ketawa, gue lagi sewot nih! Serius dikit kek, lo kira gue lagi ngelawak apa?!”

“Ya abis, lagian siapa suruh yang lewat jalan ini coba. Kan ada jalan muter yang jalannya lebih bagus.” Jawab Ipeh polos.

“KAN ELO SENDIRI YANG BILANG KALAU MAU BELI MARTABAK TUH JALANNYA LEWAT SINI. AH DASAR CEBONG AER LU!! GULA DARAH GUE NAIK KALAU LAMA-LAMA DEKET SAMA ELO TAU NGGAK!! HIH… ”

“Sensian ih!”

“Bawel ah. Masih lama kagak nyampe tukang martabaknya?!”

“Tuh udah keliatan kok tokonya kalau dari sini, bentar lagi nyampe.” Ucap Ipeh sembari menggoyang-goyangkan helm gue.

“Dah diem dulu lo. Itu mulut ganti ke-mode getar aja. Daripada cerita tentang jurus-jurus Wiro Sableng, lo mendingan tempelin tuh mulut ke punggung gue biar sekalian pijet!” Tukas gue sembari menyalakan mesin motor lagi.

Akhirnya gue pun melanjutkan perjalanan menuju tempat martabak yang ternyata masih jauh. Tai gue dikibulin lagi sama nih kampret. Dan kali ini Ipeh agak pendiam, ntah apa yang dia lakukan di belakang, tapi yang jelas gue merasakan kepalanya tertunduk di punggung gue.

Selang 5 menit, akhirnya kita sampai di tukang martabak yang katanya terkenal di daerah rumah Ipeh, harganya cuma 13ribu untuk all varian martabak.

“Mau rasa apa?” Tanya Ipeh setelah turun dari motor.

“Kismis deh, gue doyannya kismis.”

“Pake keju?”

“Turatur aja.”

“Okeee.”

Ipeh akhirnya pergi menuju kasir untuk memesan, sedangkan gue menunggu di motor. Gue keluarkan HP gue untuk mencoba melihat ada SMS dari siapa saja yang masuk. Ada 5 sms dari kak Hana seperti biasa, dan semuanya gue hapus tanpa gue baca.

Sembari nungguin Mak Lampir yang lagi pesen martabak, gue iseng nge-SMS seseorang yang notabenenya nggak gue kenal sama sekali. Si Matematika Buku Cetak.

“Udah tidur?” Ucap gue singkat.

Namun belum sempat gue memasukkan kembali HP tersebut ke dalam saku, ternyata sudah ada balasan lagi.

“Baru juga jam 7.” Balasnya

“Mau nanya mau nanya.” Balas gue lagi.

“Boleh, mau nanya apa?”

Akhirnya gue menceritakan perasaan gue seperti apa yang gue ucapkan kepada Ikhsan di area dekat kantin tadi siang, namun tetap menceritakannya dalam kondisi memakai banyak perumpamaan sehingga Ia tidak menaruh curiga.

“Jadi, gimana pendapat lo sebagai seorang cewek?” Tanya gue lagi.

“Hmm.. mungkin dia lagi butuh perhatian kali.”

“Tapi kan nggak harus bikin drama kaya gitu!”

“Ya namanya juga cewek. Siapa sih yang nggak pengen dapet perhatian. Aku aja kaya gini udah seneng dapet sms dari kamu.”

“Eh, aduh, gue jadi nggak enak. Apa nggak papa kalau lo kaya gini?” Tanya gue penasaran.

“Maksudnya?”

“Lo suka gue kan, tapi gue dari kemarin cuma ceritain hubungan gue sama orang lain. Gue jadi cowok egois lagi ya sekarang?”

“Iya. Emang egois.” Balasnya singkat.

“EH SERIUSAN?! Aduh maaf maaf maaf, sorry banget gue nggak peka.”

“Hahahaha bercanda kali. Nggak papa kok, udah biasa. Lagian kalau kamu tau siapa aku juga kamu mungkin nggak akan suka.”

“Loh emang kenapa? Kok jadi nge-judge diri sendiri begitu?”

“Gak papa sih, bukan tipe yang kamu suka kayaknya.”

“Dih aneh-aneh aja. Tapi tolong kalau lo ngerasa nggak nyaman sama seluruh cerita gue, lo harus bilang ke gue ya. Gue nggak mau dicap sebagai cowok egois lagi tanpa gue sadari apa yang gue lakukan.”

“Iya iya. Tapi bener kok nggak papa. Deket sama kamu juga udah cukup.”

Ketika gue hendak membalas pesan terakhirnya itu, mendadak ada keresek berisi martabak panas menempel di pipi gue. Gue sedikit terkejut dan langsung menyembunyikan HP gue itu.

“Dih Peh ngaggetin aja. Panas tau!” Ucap gue sembari mengelus-elus pipi.

“Ya abisnya bengong terus. Sms-an sama siapa sih? dari tadi gue liatin kayak yang serius banget. Pacar?”

“Bukan.” Gue mulai kembali memakai helm.

“Gebetan deh pasti.”

“Dih kepo amat sih. Bukan siapa-siapa kok. Yuk cepet naik.”

“Nggak mau ah, kalau nggak ngasi tau itu siapa, gue nggak akan naik.” Jawab Ipeh sambil mencubit tangan gue keras.

“Aduuuuh aduh aduh ampun. Iya iya iya gue kasih tau. Ih dasar cewek rempong lo.”

“Siapa emang?” Ipeh mencondongkan kepalanya mendekat.

“Malaikat penolong gue. Yang nolongin gue di setiap saat gue butuh.”

“Dih pake acara nggak mau ngasih nama asli segala ah.” Jawab Ipeh.

“Eh bener Peh, sampai sekarang aja gue nggak tau dia siapa. Seriusan. Aneh kan?!”

“Lha kok bisa. Ih freak deh. Ternyata lo cowok yang doyan sms-smsan nggak jelas gitu ya.” Ipeh Menjauh

“Ah tai, kayaknya mau gue jawab apa juga selalu salah Peh kalau debat sama lo mah.”

“Hahahaha mana mana liat liat HPnya, terus lo kasih nama siapa dong di contact?” Ucap Ipeh sambil merebut paksa HP yang lagi gue pegang.

Ipeh dengan serius membuka inbox HP butut gue yang satu itu. Ia melihat sejenak seluruh inbox gue, kemudian memandang ke arah gue sebentar, lalu melihat kembali ke HP tersebut.

“HAHAHAHAHAHAHAH ANJRIT!! LO KASIH NAMA MATEMATIKA BUKU CETAK HALAMAN 17?? BHAHAHAHAHAHAK TOLOL SUMPAH LO DIM HAHAHAHAHAHA.”

Ipeh tertawa keras, sehingga hampir seluruh pembeli di toko martabak yang ada di sana langsung melihat ke arah kita berdua.

“Anjir ketawanya biasa aja nyet!”

“Ya abisnya tolol banget sih anak orang dikasih nama begituan. Otak lo miring Dim!” Ipeh terus tertawa sambil memukul pelan pundak gue.

“Si Ikhsan juga bilang hal yang sama kaya elo. Lagian gue juga kaga tau namanya sapa, suka-suka gue dong mau ngasih nama apaan.”

“Itu gimana ceritanya bisa sampe lo kasih nama begituan tuh anak?”

“Jadi, dulu waktu…”

“Eh bentar, ceritanya di jalan aja. Keburu dingin nih martabak, nggak enak ntar.”

“Oh, oke deh kalau gitu. Naik gih..”

Akhirnya selama perjalanan pulang menuju rumah Ipeh, gue menceritakan semua kisah perihal bagaimana awalnya gue bisa sms-an sama sesorang yang nggak gue kenal itu. Dan Ipeh yang mendengarkan penjelasan gue tersebut selalu saja tertawa ngakak sembari terus meledek. Kadang Ipeh nakut-nakutin gue sambil bilang jangan-jangan anak yang sering nge-SMS gue itu si Intan– anak kelas yang terkenal gendut dan jerawatan.

Atau bisa jadi dia si Oca, anak perempuan di kelas yang urakan + kulitnya hitam kaya pantat panci. Melihat gue yang mendadak jadi khawatir kaya begini, Ipeh malah ngakak nggak karuan. Semakin Ipeh meledek, semakin merinding juga gue kalau sampe apa yang ia katakan itu ternyata benar.

Kalau sampai dia Intan atau Oca. Gue bakal langsung sedekahin sama Ikhsan. Gue ridho dunia akherat. Zakat mall dan sodaqoh emang harus disumbang kepada orang yang membutuhkan.

.

                                                                ===

.

Tak lama kemudian gue masuk ke sebuah komplek yang cukup ternama di kota Bandung. Tempatnya lumayan sih, setelah cukup lama muter-muter mengikuti jalan yang Ipeh tunjukkan, akhirnya gue sampai pada sebuah rumah yang cukup besar. Ipeh turun dari motor dan membukakan pagar agar motor gue bisa masuk.

“Makasih Bi, tolong udah ini motor saya dicuciin sekalian ya.” Kata gue masukin motor cepet-cepet keburu ditabok sama Ipeh..

Nggak tau kenapa, gue paling suka gaya Ipeh hari ini. Gaya anak cewek yang nggak terlalu mikirin penampilan malah terlihat lebih nyaman di mata gue. Kaos oblong, jaket yang di genggam di tangan, dan sepatu converse lepeknya yang dia injak layaknya sendal. Nih cewek sebenarnya urakan, tapi kadang-kadang sifat ceweknya juga selalu ada.

Ipeh mempersilahkan gue untuk masuk ke dalam rumahnya. Menyuruh gue untuk duduk sebentar di ruang tamu sementara Ipeh pergi ke dapur mengambil piring dan air putih sebagai teman makan martabak malam ini.

Gue duduk sendirian di ruang tamu, sesekali melihat ke sekitar mencoba menelaah mana barang-barang Ipeh yang bisa gue comot untuk bawa pulang. Rumah orang berada memang identik sama perabotan keramik, tak ayal banyak gue jumpai barang pecah belah di segala sisi ruang tamu. Kadang untuk mau duduk saja gue harus merasa was-was karena takut menyenggol sesuatu dan akhirnya pecah.

Sambil menunggu Ipeh dari dapur, gue buka dulu martabak yang masih hangat itu. Satu martabak kismis keju favorite gue. Perut yang memang dari siang belum diisi ini tampaknya sudah siap untuk melahap habis semua martabak yang ada di sana. Kadang gue heran, sebanyak apapun gue ngemil dan makan, gue nggak pernah gendut sama sekali.

Ngg.. Anu.. kayaknya gue salah deh kalau ngomong kata-kata barusan. Statement di atas yang baru saja gue ucapkan itu kayaknya menjadi kata-kata penghinaan bagi beberapa pembaca perempuan di sini.

Maap-maap
*cium tangan*

Namun ketika gue lagi iseng ngemilin kismis yang pada keluar dari sisi martabak, mendadak ada seorang gadis manis agak tinggi datang dari dalam rumah. Ia datang pelan dan menatap gue curiga. Gue kaget. Siapa nih?

“Wuih ada martabak… Btw ini siapa? temennya Hani ya?” Ucapnya sembari menghampiri gue.

“Ngg… Hani?” Tanya gue bingung dan tidak mengerti.

“Temennya Ifa?”

“Ngg.. Ifa?” Gue masih nggak sadar.

“Temennya Hanifah?”

“Ngg.. Hanifah?”

“Temennya IPEH!” Ucapnya keras.

“Ah iya! Ipeh!. Iya kak saya temennya Ipeh hehehe..” Mendadak gue baru inget kalau nama asli Ipeh itu Hanifah.

“Ah kamu, sama nama temen sendiri aja nggak kenal. Tapi tumben-tumbenan loh Ifa bawa temen malem-malem. Mana cowok pula.” Ucapnya lagi.

“Ngg.. anu kak.. bukan gitu.. saya mah cuma nganter Ipeh aja kok. Kebetulan rumahnya searah.” Ucap gue bohong.

“Tapi biasanya yang nganter juga cuma sampe depan rumah..”

“Ngg.. anu.. itu…” Belum sempat gue menjawab, dari luar pintu dateng lagi seorang wanita. Wajahnya mirip sama seseorang yang barusan lagi nanya-nanya sama gue itu.

“Assalamualaikum..” Ucapnya

“Waalaikumsalam.” Jawab kita berdua.

“Loh ada tamu toh? Temen kamu i?” Tanya wanita di luar pintu itu sembari copot sepatu.

“Bukan kok mba, bukan..” Jawab wanita yang ada di dalam rumah.

“Lha terus siapa? Pacar baru?”

“Bukaaaan!!”

“Lha terus?”

“Dia temennya Ifa.”

“Hooo temennya Ifa toh. Pantes masih pake seragam SMA. Mbak kira Ai lagi pacaran sama anak SMA.”

“Yakale gue pacaran sama berondong.”

Gue yang mendengarkan percakapan mereka berdua itu cuma bisa terdiam dengan tangan yang dari tadi masih memegang martabak bekas ngutilin kismis yang nongol di sisi-sisinya. Dari percakapan mereka, gue mengetahui bahwa ternyata umur mereka jauh lebih tua dari gue.

“Tapi kok tumben sih i, si Ifa bawa cowok ke rumah?”

“Tuh kan Mba juga mikirnya gitu. Sama kok Ai juga mikir gitu. Mana malem-malem pula loh Mba…”

“Hmm Mba jadi curiga.” Ucap wanita yang ada di pintu itu sambil kemudian masuk dan berdiri di sebelah wanita yang ada di dalam rumah.

Mereka menatap gue curiga. Rasa-rasanya gue makin nggak tau harus ngejawab dan berlaku apa. Yang satu wajahnya lucu, putih, bersih, pake baju longgar dan celana gemes pendek banget. Yang satu lagi yang baru masuk itu masih memakai pakaian formal dan make-up. Membuatnya terlihat luar biasa cantik.

“Apa jangan-jangan, kamu itu pac..”

“WOI!!!”

Belum sempat wanita yang memakai pakaian formal itu selesai berbicara, mendadak ada suara Ipeh dari belakang mereka. Sontak dua wanita ini terkejut bukan main.

“Hayo pada mikirin apa. Temen Ifa kok itu. Gosip aja ih tante-tante ini.” Ucap Ipeh sembari membawa piring dan segelas air.

“Cieeee kalau temen kenapa tumben dibawa masuk sampe dibeliin martabak segala? Apa jangan-jangan itu martabak dijadiin alasan biar dia nggak langsung pulang ya?” Goda mereka.

Gue terdiam menahan grogi dan rasa malu yang luar biasa.

“IH APAAN SIH!! Kakak sama Mba ini bisanya gosip mulu!! Udah gih pada masuk sana!”

“Galak amat sih. Lagian kamu tuh udah SMA, kapan-kapan kenalin kek pacarnya. Jangan si Ai terus yang bawa pacarnya ke rumah, kamu juga dong kali-kali.”

“Apaan sih mba Afi ini. Ifa lagi nggak pengen punya pacar. Ribet” Jawab Ipeh sembari duduk di samping gue dan mengambil martabak.

“Alah, dulu Ai juga ngomong gitu, tapi sekarang lengket terus. Pfft. Yaudah ah Mba masuk dulu, mau ganti baju.”

“Gimana Uasnya tadi Mba?” Tanya Ipeh memotong.

“Lancar kok, semoga aja dapet A. Eh itu kamu pacarnya Ifa, aku masuk dulu ya…” Ucap wanita yang memakai seragam formal itu sembari masuk ke dalam rumah.

“APAAN SIH MBA!! DIA TEMEN IFA DOANG KOK!! TEMEN!!” Ipeh teriak kencang sekali di sebelah gue.

“Nah ini ngapain masih di sini? Mba Afi udah masuk, sekarang kenapa kak Ai masih diem di sini?” Tanya Ipeh lagi.

“Mau martabaknya.. Kayaknya enak..” Ucapnya sambil tersenyum.

“Eh iya kak, silahkan ambil aja, anggap aja makanan sendiri.” Jawab gue grogi.

“Apaan?! yang bayar juga gue kan ini!” Ipeh memukul tangan gue.

“…”

“Yeee sepasang kekasih malah ribut mulu. Minta yaaa.. Btw siapa namanya? Kenalan dulu sini..” Wanita tersebut mengulurkan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang satu buah martabak yang telah dipotong kotak-kotak.

“Ngg.. permisi kak, saya Dimas.” Ucap gue masih grogi gara-gara baju longgar dan celana gemesnya itu.

“Asyifa.” Ucapnya manis kemudian langsung pergi menuju ruangan keluarga meninggalkan gue.

Gue masih tertegun. Mata gue masih menatap setiap langkah wanita yang bernama Asyifa itu pergi ke ruang keluarga. Setiap gerakannya membuat jakun gue naik turun. Maklum lah laki-laki. Wajar. Ipeh yang melihat gue masih bengong sambil menatap wanita itu langsung menjewer telinga gue keras.

“Hayo, ngeliatin apa?! Genit ih!!”

“Aduuuuh.. duh.. duh sakit Peeeeehh…” Gue meringis kesakitan.

“Jangan genit makanya..”

“Btw emang mereka siapa Peh?” Tanya gue.

“Itu kakak gue semua. Yang tadi minta martabak namanya kak Asyifa, dia baru aja masuk kuliah taun ini. Sedangkan yang udah duluan ke dalam tadi namanya Mba Afifa. Dia udah semester 4, kakak paling tua.” Kata Ipeh sambil terus memakan martabaknya.

“Hoo gitu toh.. Hanifah, Asyifa, Afifa? Bagus-bagus ya namanya.”

“Iya dong..”

“Tapi lo tadi dipanggil apa? Ifa? Hani? Bhahahahahahahak” Gue ketawa ngakak.

“IH!! ITU CUMA PANGGILAN DI RUMAH DOANG KOK!!! BETE AH!!” Ipeh cemberut.

“Lagian peh, mereka berdua cantik-cantik loh. Anggun lagi. Lha elo?”

“APA? GUE KENAPA?!” Ipeh mengacungkan garpu yang tengah ia pegang.

“Ngg.. nggak kok nggak.. Elo paling cantik di antara ketiganya.”

“Nah gitu dong jujur.”

“…”

.

                                                                ===

.

Gue sama Ipeh menghabiskan martabak itu berdua sembari terus berbincang-bincang mengakrabkan diri. Ipeh banyak bercerita tentang kakak-kakanya. Ternyata di antara ketiganya, Ipeh itu yang paling tomboy dibanding kakak dan mbaknya. Ipeh juga cerita kalau kakak sama mbaknya itu primadona sekolah dan kampus. Maka dari itu melihat adik bungsunya tidak pernah bawa pacar ke rumah, sontak mereka berdua kadang sering merasa gemes dan jengkel sama Ipeh.

Ketika kakak-kakanya ikut modelling, Ipeh malah memilih untuk ikut karate. Ketika kakak-kakaknya nge-gym dan fitness, Ipeh memilih untuk bermain badminton dan basket. Benar-benar langit dan bumi banget bedanya. Yang dua anggun kaya model Victoria Secret Behati Prinsloo, sedangkan adik bungsunya urakan kaya Candil, vokalis Serious Band.

“Ayok cepat mas abisin martabaknya, terus ke kamar dan mulai menghabisi aku” - Behati Prinsloo.

.

Tanpa terasa martabak traktiran ini sudah mulai habis. Gue nggak nyangka ternyata Ipeh makannya banyak juga. Gila nih anak, makannya sebakul, kagak ada bedanya sama kuli.

“Dim masih laper gak?” Tanya Ipeh memecah keheningan.

“YA IYALAH!!” Tanpa malu-malu gue langsung menjawab penuh percaya diri.

“Aku bikinin salad aja yah?” Tanya Ipeh lagi.

Oke, sebelum gue lanjutkan cerita ini, gue ingin memberikan beberapa info mengenai makanan Salad yang hendak Ipeh buatkan buat gue itu. Jaman gue masih SMA kelas satu, Salad sama sekali belum pernah terkenal dan booming seperti sekarang. Jaman gue SMA dulu, cewek-cewek nggak pada ribet untuk diet dan ngurusin badannya dengan mengkontrol makanan yang mereka makan. Jaman dulu cewek-cewek nggak ribet kaya sekarang.

Dan pada jaman gue masih SMA kelas 1. Satu-satunya restoran masyarakat yang menyediakan menu Salad itu cuma Restoran Pizza Hut. Dan jaman dulu itu jumlah restoran Pizza Hut bisa dihitung oleh satu tangan, alias cuma dikit banget. Seingat gue restoran Pizza Hut cuma ada 3. Di depan rumah sakit bersalin dan anak, Bungsu, Jalan veteran di bawah bioskop Regent. Di persimpangan Buah Batu. Dan yang terakhir adalah di Dago sebelah Glael atau yang sekarang kita sebut dengan SuperIndo.

Dan bagi masyarakat pada jaman itu, Pizza Hut adalah makanan yang super duper mewah. Sehingga ketika mereka ada rejeki buat bisa makan di sana pun, pasti mereka lebih memilh memesan Pizza ketimbang membeli Salad yang isinya cuma daun-daunan dan kacang-kacangan doang.

Karena masih langkanya makanan yang disebut dengan SALAD itu, maka wajar bagi anak-anak SMA jika mereka tidak mengetahui dengan jelas apa itu Salad. Termasuk gue sendiri saat itu. Sehinga ketika Ipeh menawarkan gue sebuah menu Salad, maka inilah kejadian yang terjadi.

.

“Hah? Salad?” Tanya gue heran.

“Iya Salad. Mau nggak?”

Karena saat itu gue nggak tau apa itu salad, dan ntah kenapa nama makanan tersebut terdengar begitu bule, maka tanpa pikir panjang langsung saja gue iyakan.

“Wah boleh deh tuh. Mau mau..”

“Oke bentar yaaa..” Ipeh pun pergi kembali ke dapur meninggalkan gue sendirian.

Selang 10 menit, Ipeh kembali ke ruang tamu membawa 2 mangkuk salad yang sudah dilumuri dengan Mayones.

“Nih Dim..” Ipeh menyodorkan semangkuk salad ke gue.

Gue yang memang tidak tau apa itu salad mendadak hening. Gue terdiam menyaksikan sebuah makanan abstrak di depan gue itu. Namun gue berpikir positif, siapa tau ini cuma makanan pembuka doang sebelum makanan utama saladnya keluar.

“Ini apaan?” tanya gue penasaran.

“Salad.”

“Hah? Salad?”

“Iya. Kenapa?”

“Ini Salad?”

“Iya. Kenapa?”

“Ini tuh makanan?”

“Yaiyalah. Ini tuh yang namanya salad.”

“Lha, ini mah namanya Lalap Peh kalau di Sunda.” Jawab gue polos dengan muka heran ngeliatin semangkuk rumput-rumputan beserta daun-daunan di depan muka gue.

“HAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH”

Mendengar ucapan gue yang begitu polos, Ipeh langsung tertawa terpingkal-pingkal. Berkali-kali ia menepuk pundak gue, mendorong gue, menggoyang-goyangkan pundak gue saking ngakaknya. Namun saat itu gue masih heran perihal apa yang Ipeh tertawakan?

Mengingat kejadian ini, kok gue jadi ngerasa sedih ya. Dulu kok gue gini-gini amat begoknya ya Tuhan..

“Ih Peh, kenapa lu ketawa? Makan beginian mah mana bisa kenyang! Mana kaga ada sambelnya lagi.” Ucap gue serius.

“Hah? Sambel? Sambel buat apa?” Ipeh berusaha menahan tawa dan mengusap beberapa air mata yang keluar karena tertawa ngakaknya tadi.

“Sambel buat dicocol lah. Lalap pan biasanya begono..” Ucap gue lagi.

“HAHAHAHAHHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAH”

Mendengar ucapan gue, sontak Ipeh ketawa ngakak lagi. Dia terpingkal-pingkal nggak karuan. Ipeh kadang tertawa keras hingga terbatuk-batuk tapi terus dilanjut dengan tertawa lagi. Melihat Ipeh yang tertawa begitu keras ntah kenapa rasanya gue kok merasa terhina ya..

Gue nggak tau kenapa gue merasa terhina. Tapi ntah kenapa rasanya kesel banget liat Ipeh ketawa. Karena kesal, akhirnya gue ambil mangkuk salad tersebut dan langsung memakannya sambil kesal. Ipeh yang melihat gue kesal, masih saja tertawa.

“Hahahahahah.. aduuuuh perut aku… Hahahahaha…”

“…” Gue diam mengunyah rumput-rumputan ini dengan muka kesal.

“BHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAK!!” Mendadak Ipeh tertawa keras lagi sambil menunjuk-nunjuk ke arah gue.

Gue kaget sekaligus kesal sama suara ketawanya Ipeh. “KENAPE LO KETAWA LAGI NYET?!” Tanya gue kesal.

“BHAHAHAHAHAHAK RAMBUTNYA KERITING, TERUS MAKAN DAUN-DAUNAN. MIRIP KAMBING LO DIM!! MIRIP MBE GALING!!” Ucap Ipeh menghina tanpa perasaan.

“…”

Gue kesal setengah mati. Rasa-rasanya ini baru pertama kali gue merasa sebegitu terhina tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Mbe Galing adalah ledekan orang sunda yang biasanya diucapkan kepada seseorang yang rambutnya keriting. Walaupun waktu SMP ada beberapa teman rumah dan sekolah yang menyebut gue dengan sebutan itu, tapi ntah kenapa ketika saat Ipeh menyebutkan ledekan itu lagi, gue mendadak jadi bete.

“Hahahaha ada Mbe lagi bete.”

“Bawel lo.”

“Hahahahahahaha makin bete dia. Gakpapa dong Mbe, gantian. Kan tadi yang ngebuat gue bete di sekolah kan elo.”

“…”

“Mulai sekarang gue panggil Mbe aja ya Dim. Lebih cocok..”

“Tai.” Jawab gue bete.

“Ih ada Mbe marah.. Jangan marah dong.” Ucap Ipeh sembari mengelus-ngelus rambut gue yang keriting.

“APAAN SIH!! CUMA CEWEK DOANG YANG BOLEH NGELUS RAMBUT GUE!!” Ucap gue menampis tangan Ipeh.

“EH GUE CEWEK NYET!!”

“BOHONG! NGGAK PERCAYA!! HOAX!! BUKTIIN DULU KALAU LO CEWEK!!’

"IH ANJIR MBE GALING SIALAN!!!”

Mendadak kita berdua beratem di ruang tamu. Keadaan pun menjadi rusuh. Ipeh mengambil mayones dan mengoleskannya di pipi gue. Gue melawan dengan masukin kacang merah sisa salad ke dalam lubang hidungnya.

Tetapi tetap saja ujung-ujungnya gue yang kalah. Pada akhirnya gue yang menyerah dan meminta ampun sama Ipeh ketika kepala gue dicekek pake lengannya.

.

.

.

.

.

.

                                                       Bersambung

Previous Story: Here

[TGIF] - BAGAIMANA CARA MERELAKAN (BUKAN MELUPAKAN) MANTAN

Haloooo.. senang rasanya bisa menjumpai kalian semua lagi, walau hanya via tulisan. Ya kalau ada yang mau meet up, boleh juga sih (eh!) :))

Ngomong-ngomong, saya yakin sekali, tema TGIF kali ini akan sangat kalian sukai. Ya kan? Ya kan? Yes, how to get over your ex (or exes, haha).

Jadi, pembahasan kali ini didorong oleh rasa gemes yang berlebihan dari saya, pada banyak orang yang sering sekali bertanya hal yang sama:

Kak Tia, bagaimana sih caranya untuk melupakan mantan?’ 

Dan saya juga jadi lelah sendiri menjawabnya. Merelakan itu bukan melupakan. Ingat ini agar kalian tidak keliru. Karena rasanya kok terlalu muluk untuk meminta lupa. Masa iya ada manusia yang minta untuk amnesia?

Tapi, khusus kali ini, khusus untuk @tumbloggerkita dan juga kalian semua, saya mau ulas (lagi dan lagi). Tapi sebelumnya, tolong pahami bahwa merelakan di sini belum tentu pasti langsung move on. Tentu masih ingat postingan TGIF saya sebelumnya kan? Cek di sana untuk yang mau move on ya. :P

Jadi, apa jawaban pertanyaan di atas?

Nah, untuk menjawab pertanyaan itu, poin-poin di bawah ini silakan direnungkan:

1. Berhenti mengagumi sosoknya secara berlebihan. Mantanmu itu, sebaik dan seganteng (atau secantik) apapun, pasti punya keburukan, sifat dan sikap yang tidak berkenan di kamu. Nah, karena itu, berhenti mengagumi mereka. Berhenti dan ingat-ingat lagi apa yang salah dengan sosok mereka. Percaya deh, pasti ada yang bikin kamu ilfeel. :))

2. Sadari bahwa hubungan kalian sudah berakhir. Dan bukan hanya itu, kamu juga harus secara aktif meninggalkan masa lalu. Tinggalkan, karena berada di sana sudah bukan tempatmu lagi. Istilah kasarnya, kalau sudah diusir, masa kamu masih mau tinggal di sana? Ih… jangan ah. Kamu kan punya harga diri. :)

3. Sementara waktu, berhenti melakukan komunikasi dengan mantanmu, berhenti total, sama sekali jangan menghubungi mereka atau mencari tahu kabar mereka. Ini penting untuk kamu memulai kembali semuanya tanpa dia. Bukan, ini bukan selamanya, kok. Sementara waktu saja, sampai kamu rasa kamu sudah sepenuhnya sadar bisa baik-baik saja ada di tempatmu sekarang.

4. Hindari mengunjungi tempat-tempat kenangan kalian berdua atau tempat-tempat di mana kamu yakin dia masih suka berkunjung ke sana. Setuju kan kalau sebuah (atau beberapa) tempat itu istimewa bukan karena tempat itu, tapi karena kenangan-kenangan kita bersama seseorang yang sering atau pernah ke sana. Jadi, masih tanya kenapa point ini penting? :P

5. **Bersenang-senanglah dengan hidupmu, teman-temanmu, hobimu, dan keluarga. **Semakin sering kamu meluangkan waktu bersama orang lain, kamu akan semakin cepat menerima keadaan saat ini. Bila mungkin, berkenalan dengan teman-teman baru, bisa menjadi opsi yang boleh juga.

Nah, begitu kira-kira tips dari saya. Tips ini tentu tidak serta merta menghilangkan keadaan terpurukmu di waktu-waktu awal kamu putus. Keadaan seperti menangis semalaman (atau mungkin beberapa malam. Duh!). Hal-hal menyedihkan yang kamu lakukan sesaat setelah putus, itu wajar dan manusiawi. Bahkan beberapa orang menyarankan untuk berpuas-puas diri ada di tahap sana. Namun demikian, bukan berarti itu dilakukan terus-menerus. Makanya, tips ini boleh kamu coba. Lalu tolong ingat satu hal lagi, merelakan bukan berarti langsung bisa move on. Semuanya berproses. Dan atas proses yang satu ini, kamu boleh mengucapkan selamat datang pada masa sekarang yang lebih membahagiakan.

Keep smile and realize that life shouldn’t be that sad.

Until next Friday, Fellas.

 


- Tia Setiawati

karenapuisiituindah

The Way I Lose Her: Transisi

Entah apa maksudnya. Tapi tak sadarkah kau bahwa sejauh apapun kita mencoba untuk jauh dan tidak akrab lagi, Tuhan selalu menempatkan kita pada satu kesempatan yang memaksa kita untuk terus bertemu sapa. Lantas, siapakah kita di mata Tuhan? 

                                                               ===

.

Gue melihat jam yang ada di tangan gue dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 09.00. Dengan buru-buru gue beresi segala formulir yang berserakan di atas meja dan bergegas masuk ke dalam kelas. Sekarang pelajaran Sejarah, salah satu pelajaran yang paling gue suka. Daripada diem di luar sendirian nggak jelas kaya gini, gue lebih baik ngikutin pelajaran Sejarah sama Geografi selama  1 hari penuh.

Kelas masih terlihat ramai lantaran belum ada guru yang masuk. Ketika gue hendak masuk dan duduk di sebelah Ikhsan, ternyata tempat duduk gue sudah dipake sama Nurhadi yang lagi ketawa-ketawa mesum sambil nyolokin earphone ke kupingnya. Pasti kalau nggak lagi nonton film DedekJanganTeriakYa.3gp, ya paling lagi dengerin lagu Lengser Wengi. Emang kalau turunan kuntilanak mah lagunya religi semua..

Gue celingak-celinguk sebentar mencari tempat duduk. Gue sempat melirik ke Ipeh dan ternyata tempat di sebelahnya kosong. Tapi ya masa gue duduk sama tuh anak. Pffft bikin emosi aja mikirinnya juga.

“Mai..” Ucap gue seraya menaruh kertas formulir pendaftaran OSIS di atas mejanya.

“Apa? bikin kaget aja.” Ucapnya sambil main hp.

“Gue duduk di sebelah lo ya.” Balas gue lagi.

“Lha tumben, ada angin apa? lagi marahan sama homoan kamu?” Tanya Mai.

“Iya tuh. Gue diselingkuhi sama Duren Nigeria..”

“Siapa? Nurhadi?”

“Iya.”

“HAHAHAHAHAHA DASAR!! TEMEN SENDIRI IH KAMU TEH!”

“Biar ah. Gue di sini ya.”

“Yaudah.” Mai mengambil tas yang ada di kursi sebelahnya dan mempersilakan gue untuk duduk.

Sambil nunggu pelajaran, gue ngobrol ke sana kemari dengan Mai. Dengan segala macam hal-hal yang nggak jelas tapi ya ngalir gitu aja. Dari yang namanya ngomongin baso karena Mai juga doyan sama yang namanya baso, sampai ngomongin gosip terbaru yang lagi marak di kalangan anak-anak cewek.

Mai ini nggak terlalu pinter orangnya, sama kaya gue, jadi kalau ngomongin pelajaran juga kita jarang nyambung.

“Mai, Fisika remed nggak?” Tanya gue mendadak.

“Iya anjir.”

“HAHAHAHAHA GUE KIRA LU LOLOS.”

“Kayak yang nggak remed aja kamu.”

“Wuih jangan tanya. Remedial banget dong gue..” Tukas gue bangga.

“Eh btw kan katanya kamu udah belajar bareng Ipeh, gimana sih?”

Mendengar Mai menyebut nama Ipeh, gue langsung terlihat sedikit bete.

“Kenapa? kok jadi bete pas aku nyebut Ipeh?”

“Lagi nggak akrab gue. Biasa lah.”

“Bukannya kalian tuh jadian ya?”

“Kata siapa. Ipeh doang kali yang jadian.” Jawab gue dingin sambil berpangku dagu menatap kosong ke arah papan tulis.

“Eh Ipeh udah jadian?!” Tanya Mai antusias.

“Hooh, nape? bahagia amat keliatannya lu.”

“Nggak papa sih.”

“Tapi denger-denger sih, Ipeh banyak yang nggak suka deh.” Ucap Mai bisik-bisik.

“Eh? Gimana maksudnya?” Mendengar perkataan Mai tadi, gue langsung duduk tegak dan fokus melihat ke arah Mai.

“Iya, gosipnya sih gitu. Jadi Ipeh kan anak karate tuh, nah dia juga kan tipe anak yang gampang akrab sama cowok alias supel gitu anaknya. Nah terus gue nggak tahu ada masalah apa, tapi anak-anak dari kelas sebelah sih kayaknya pada nggak suka aja sama dia.”

“Terus terus? Gara-gara masalah apa?”

“Iya, cowok yang disukain anak-anak cewek sebelah ternyata deket sama Ipeh gitu. Temen Ipeh karate.”

“Hooo..”

“Kamu tahu kan kalau anak cewek mau ngegencet anak cewek yang lain kaya gimana?” Mai semakin mendekat ke arah gue.

“Ditindih-tindih gitu? Mau dong ditindih sama anak cewek..”

“SERIUS DIMAS!!”

“LHA YA IYA GUE SERIUS. MAU GUE KALAU DITINDIH CEWEK MAH LAH!! REJEKI JANGAN DITOLAK!”

PLAK!!
Kepala gue dipukul pake tupperware.

“Maksudnya tuh, dibully gitu. Tapi nggak fisik sih, mental.”

“Kagak ngerti gue, maksudnya gimana?”

“Ah begok ah. Ngeselin!”

Lagi kebingungan gara-gara dimarahin Mai, tiba-tiba dari belakang ada orang yang ikutan nimbrung.

“Cieee ada yang lagi PDKT kilat nih setelah ditinggal Ipeh..” Ucap Ikhsan sambil nusuk-nusuk pipi gue pake pensil inul.

“APAAN SIH LO!! MULUT EMBER AMAT KAYA CEWEK!!” Gue keplak kepalanya pake botol Aqua kosong.

“Lagi ngomongin apaan sih. Kayaknya serius banget.” Tanya Ikhsan.

“Ini.. masalah Ipeh, San.. Jadi Ipeh itu..”

“Kertas apaan tuh, Dim?”

“ANJIR GUE NGGAK DIWARO!! OKE FIX!!” Mai terlihat bete ketika ucapannya dipotong sama Ikhsan.

“Hahahaha baru dateng udah pada berantem aje lu kayak kalajengking.”

“Nyet itu kertas paan?”

“Formulir pendaftaran OSIS.”

“Lu mau masuk OSIS?” Tanya Ikhsan penasaran.

“Iya, daripada bete sendirian di sekolah. Lagian elo juga lagi apet banget sama Tasya. Ikut gabung yok di OSIS, temenin gue bro..” Gue memohon-mohon.

“Hmm.. kayaknya asik ya ikut organisasi..” Ikhsan mulai berpikir.

“Nah, bareng gue aja, kita daftar sore ini.”

“Gue mau ikut Organisasi ah, tapi nggak mau OSIS.” Tukasnya.

“Lha, apa dong? Futsal? Basket?”

“DKM..”

“…”

“…”

Mendengar ucapannya, Mai yang tadi lagi memperhatikan kita mendadak memalingkan muka dengan wajah mual. Gue yang mendengarkannya pun langsung terdiam tak bersuara lagi.

“Lagak lo, Nyet, ikut DKM. Baca Iqro aja belum khatam. Sunat dulu sana baru boleh ikut DKM.”

“EH ANJIR MENGHINA!! Gini-gini gue sholeh yee! Mayat aja gue sholatin langsung bangun lagi gara-gara kagum!”

“Lo kira lo pawang Vampir Cina. Udah OSIS aja, kebetulan kita lagi butuh Fotografer.” Kata gue asal ngomong.

“Iya nanti gue pikirin deh. Tapi gue dari pertama masuk sekolah emang udah pengin ikut DKM sih, Dim.”

“Eh? Ini tuh serius? gue kira lo bercanda lah..”

“Serius gue. Akhlak gue itu kalau dibandingkan sama elo mungkin jauhnya kaya Bumi dan Langit. Jauh banget.”

“…”

“Mai, elo sendiri ikut organisasi apa?” Tanya Ikhsan kepada Mai.

Akhirnya kita bertiga larut dalam pembicaraan sambil menunggu guru sejarah masuk ke kelas. Gue sesekali nimbrung, sesekali juga ikut ngelawak sama Ikhsan bareng. Kita bercengkrama akrab sekali. Sambil berpangku dagu, mata gue sempat beberapa kali mencuri-curi pandang ke arah Ipeh. Suara tawa Ikhsan dan Gue yang menggelegar ini tak ayal sering membuat Ipeh melirik diam-diam ke arah kita bertiga. Dan sering kali juga gue melihat Ipeh sedang melihat ke arah kita bertiga dengan tatapan sinis.

Gue yang lagi tertawa pelan karena guyonan Ikhsan, mendadak sedikit terhenti ketika Ipeh berdiri dari bangkunya dan berjalan menghampiri kita. Dia berjalan dengan wajah yang terlihat kesal dan berdiri di depan meja gue. Dia sama sekali tidak menatap gue. Dia hanya menatap ke arah Mai.

“Mai.” Ucap Ipeh Singkat.

“Eh Ipeh, kenapa Peh.” Jawab Mai.

“Gue mau bayar uang kas sama Uang Renang.” Kata Ipeh lagi dingin.

“Sebentar..” Mai langsung membuka kembali catatannya. “Kalau uang Kas sih kamu udah kumplit, Peh. Uang renang juga.” Ucap Mai menjelaskan.

“Gue mau bayar renang untuk 2 bulan ke depan.” Jawabnya sinis sambil memberikan uang 50 ribu.

Buset, orang kaya mah beda ya. Gue aja bayar paling banter cuma sepuluh ribu, itu juga dicicil 12 bulan. Lha ini Ipeh langsung bayar 2 bulan ke depan, mana uangnya 50 ribuan pula.

Setelah menyerahkan uang renang, Ipeh kembali pergi dan duduk di tempatnya lagi. Hal ini membuat gue dan Ikhsan saling berpandang-pandangan dengan tatapan yang penuh tanya.

“Tuh kan, kalian liat kan? elo sih Dim..” Tiba-tiba Mai memukul tangan gue pelan.

“Hah?! Gue?! Kenapa? gue salah apa?!” Gue kaget.

“Masa nggak ngerti juga sih? Peka dong. Tuh Ipeh liat tuh jadi kaya gitu.”

“Hah?! Elo ngomongin apa sih?! Ngomong yang jelas jangan kaya orang lagi kumur-kumur gitu ah!”

“Peka dikit makanya jadi cowok tuh!”

Gue yang nggak tau apa-apa ini langsung menengok ke arah Ikhsan.

“Lha. Nyet, emang lo ngerti apa yang Mai omongin?” Tanya gue.

“Kaga. Gue juga kaga ngarti.” Ikhsan menggaruk-garuk kepala.

“Ah cowok di mana-mana sama aja. Nggak peka. Hih!” Tukas Mai ketus.

“…”

Pagi itu gue benar-benar nggak mengerti apa yang Mai maksudkan. Berulang kali gue bertanya tentang hal ini, Mai malah terus saja menyuruh gue untuk peka dan mencari tahu apa artinya sendiri. Bahkan hingga pulang sekolah pun gue melihat dari jauh Ipeh terlihat sinis sekali melihat ke arah kita berdua.

.

                                                               ===

.

Sepulang sekolah, gue langsung bergegas pergi ke depan kelas Cloudy untuk menyerahkan beberapa formulir pendaftaran OSIS yang sudah banyak Tip-X nya. Gimana tidak, gue akui gue orangnya emang ceroboh, maka dari itu ada beberapa kali salah mengisi pernyataan di lembar formulir ini.

Salah satunya adalah pernyataan di kolom Jenis Kelamin. Waktu gue lagi asik mengisi data diri berupa alamat lengkap. Ikhsan yang sedari tadi memperhatikan gue yang tengah serius ini mendadak bertanya ke arah gue. Katanya sih dia mau bantu gue buat ngisi ini formulir ini karena waktunya senggang. Alhasil daripada ngedengerin tuh anak ngomong nggak jelas, gue izinin aja dia buat bantu gue ngisi formulir.

Tapi emang pada dasarnya dia itu anak Anjing, ya pada akhirnya gue harus menelan penyesalan karena pernah mengizinkan dia untuk membantu gue melakukan hal-hal yang serius dan critical kaya ngisi formulir ini. Ketika orang-orang normal pada umumnya akan mengisi dengan isian “Pria” atau “Wanita” pada kolom Jenis Kelamin, Ikhsan mah beda. Bukannya mengisi dengan isian yang seharusnya, eh dia malah menggambar jenis kelamin pria di sana.

Dan yang lebih gobloknya lagi, dia menggambar pakai pulpen, plus gambaran Kelamin yang dia gambar itu lengkap dengan urat-urat beserta tetek bengek lainnya.

Anjir gue kaget banget ketika melihat di formulir gue ada gambar terong balado kaya gitu! Diawali dengan nyolok lubang hidung Ikhsan terlebih dahulu pake garpu popmie karena kesal, gue langsung buru-buru menghapusnya dengan Tip-X. Mana gambaran yang dia buat gede banget lagi ukurannya, ini sih bukan terong lagi, tapi Timun Suri! Alhasil lembar formulir gue becek penuh sama Tip-X. Setan!

Setelah setidaknya itu Timun Suri tidak terlalu terlihat jelas lagi di formulir OSIS, gue langsung bergegas lari menuju ke depan kelas Cloudy sesuai janji gue tadi siang. Gue menunggunya dengan sabar sembari duduk di tembok depan kelas. Beberapa anak-anak kelasnya tampak sudah pada bubar sekolah, hingga lambat laun kelasnya kini mulai sepi. 

Sudah hampir 45 menit gue menunggu sendirian di sini, sebelum pada akhirnya gue menjumpai sosoknya berjalan terburu-buru ke luar kelas sambil sibuk memasukan buku ke dalam tas kecilnya.

“Eh, Cloud. Ini Formulir gue..” Ucap gue yang langsung memberhentikan gerak langkah cepatnya.

Cloudy sedikit terkejut, ia melihat ke arah gue sebentar dan langsung mengambil kertas formulir yang gue suguhkan tanpa melihatnya lebih dahulu. Tanpa basa-basi, Cloudy langsung pergi begitu saja dengan langkah yang terburu-buru. Namun selang 30 detik, dia berbalik dan menggenggam lengan gue lalu menariknya.

“Ikut gue. Ada rapat sekarang.” Ucapnya tanpa menengok.

“Loh, gue kan baru ikut OSIS, masa udah ikut rapat lagi. Kagak enak ah, Cloud.” Kata gue sambil menahan langkahnya.

“IH BAWEL!! Lo itu cewek atau cowok sih, mulutnya nyerocos aja kaya petasan jangwe! Udah pokoknya ikut aja, rapatnya udah dimulai daritadi.” Tukas Cloudy marah-marah di depan muka gue.

“…” 

Buset nih cewek, dia tau juga tentang Petasan Jangwe toh? Hahahaha canggih juga.

Selama perjalanan menuju ruang OSIS, tangan gue masih dia genggam erat seakan gue sama sekali nggak tahu di mana arah ruang OSIS tersebut.

“Eh, Dee. Emang OSIS lagi buat acara apa sih?” Tanya gue.

“…”

“Acara besar ya? Kok gue belum lihat ada pengumumannya di mading sih?”

“…”

“Buset gue dicuekin. Elo sendiri di acara ini kebagian jadi apa, Dee?”

“…”

“…”

“…”

“Jam dinding pun tertawa~ karena ku hanya diam dan membisu, ingin kumaki, diriku sendiri, karena tak berkutik di depa….”

“BERISIK!!!” Tiba-tiba Cloudy menghentakkan tangan gue sehingga pegangannya lepas.

“Salah lagi. Salah lagi.” Kata gue sambil terus ngedumel. Nih cewek kayaknya emang terlahir untuk benci banget sama gue ye.

Setelah menaiki anak tangga, akhirnya kita berdua sampai di depan pintu ruang OSIS. Sebelum masuk, Cloudy mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tasnya dan merapihkan pakaiannya sebentar. Sedangkan gue yang nggak tahu apa-apa malah asik mainan Tamagochi yang dijadikan gantungan kunci di sleting tasnya Cloudy.

Tok.. Tok.. Tok..

Pintu diketuk oleh Cloudy lalu ia menarik tangan gue untuk mengikutinya masuk ke dalam. Karena ruangan OSIS ini tidak terlalu besar, walaupun anggotanya tidak banyak, ruangan ini tampak sesak sekali. Banyak dari mereka yang duduk di lantai, ada beberapa yang pangku-pangkuan di sofa, ada juga yang sampai duduk di meja komputer. Buset udah kaya rumah Yatim Piatu aja nih organisasi.

Cloudy menarik tangan gue agar duduk di belakang, sedangkan ia langsung beranjak pergi ke depan, berdiri di sebelah seseorang yang lagi duduk di meja komputer. Cloudy berbisik sebentar kepadanya lalu kembali diam.

“Oke, kita lanjutkan lagi ya. Sebelumnya kita perkenalkan dulu anggota OSIS kita yang baru, kebetulan dia temannya Cloudy. Siapa namanya?” Tanya dia ke arah gue yang masih duduk dengan wajah cengo ini.

“Ngg.. Dim.. Dimas, Kak.” Jawab gue.

“Oke Dimas, perkenalannya dilanjut nanti dulu ya. Sekarang kita mau lanjutin rapatnya.”

“Iya, Kak.” Ucap gue nurut.

Selama hampir satu sampai dua jam, anak-anak OSIS yang ada di ruangan ini pada ribut dan berdiskusi tentang acara yang akan mereka buat dalam waktu dekat ini. Selama mereka berbicara, gue mencoba berbaur seakrab yang gue bisa, gue mencoba mendengarkan dan mengerti apa yang sedang mereka bicarakan dari tadi. Setelah cukup lama mendengarkan, gue menyimpulkan bahwa acara mereka selanjutnya adalah acara sejenis Study Tour kecil-kecilan untuk anak kelas satu ke Museum-Museum di Bandung.

Sebenarnya ini acaranya anak kelas satu sih, tapi entah kenapa para kakak-kakak kelas yang jadi ketua sekbid pada terlihat bersemangat sekali. Karena penasaran, akhirnya gue mencoba bertanya..

“Kak permisi mau nanya..” Tanya gue kepada seorang cowok di depan gue yang sedari gue masuk tadi, doi masih aja fokus nulis. Entah nulis apa, lirik proklamasi mungkin.

Setelah gue sentuh-sentuh bahunya, dia langsung berbalik. 

Namun nggak gue sangka-sangka, begitu dia berbalik, kita berdua langsung sama-sama terkejut karena merasa sudah saling kenal sebelumnya. Bahkan mungkin bukan kenal aja, tapi akrab!

“LOH DIMAS?!?!” Ucapnya keras sekali.

“LHA, KAKAK?!” Gue ikut terkejut.

Astaga!! Ternyata yang ada di depan gue ini adalah kakak pembimbing ospek gue yang dulu. Yang terkenal ngondek seantero jagat sekolahan. Pantesan aja waktu gue colek pundaknya tadi, dia langsung bergelinjang sambil mendesah. Dasar!

“Kamu anak OSIS juga sekarang?” Tanya dia antusias sambil langsung berbalik dan mencubit pipi gue.

“Aduuuuh.. duh.. Iya kak. Baru masuk 2 jam yang lalu.”

“Kok aku nggak liat sih?!” Ucapnya sambil nyubit pinggang gue.

“Kakak nulis terus sih daritadi..”

“Oh iya, Ikhsan mana Ikhsan? Ikut OSIS juga nggak dia?”

“Enggak, dia ikut DKM, kak.”

“BAH!! Jin Ifrit salah masuk organisasi tampaknya. Hahahaha.”

“Eh kakak juga anak OSIS toh? kok aku baru tahu ya..” 

“Iya, kebanyakan dari mereka yang kemarin menjabat di salah satu posisi waktu OSPEK itu ya anak-anak OSIS juga.”

“Oh gitu…”

EH?!?
Kebanyakan yang menjabat di salah satu posisi waktu ospek itu ternyata anak OSIS juga?! Bentar-bentar.. Jangan bilang.. Jangan bilang kalau kakak keamanan cewek yang dulu pernah marahin gue dari pertama gue masuk sampai di hari akhir itu ternyata anak OSIS juga?!

Anjir!
Kenapa gue harus selalu hidup dalam satu lingkungan bareng dia sih?!

.

.

.

                                                              Bersambung

Previous Story: Here

Leona (Part 12)

Menyebalkan rasanya karena tahu Nicky datang menjenguk Leona. Bawa bunga pula. Tambah menyebalkan lagi, karena Leona tidak bilang. Malah tahu dari orang lain. Sebenarnya kalau Leona cerita, aku tidak masalah. Mau Nicky datang bawa bunga atau pot kembang sekalian, bodo amat. Namun, ini malah dirahasiakan. Apa sih susahnya cerita?

Oke, aku tidak bisa menganggap kalau Nicky itu hal yang sepele. Biar bagaimana, dia adalah mantan pacar Leona, pernah Leona peluk-peluk. Jika mereka bertemu dan berkomunikasi lagi, sebaiknya aku tahu. Atau haruskah aku tahu? Aku kan bukan pacarnya. Apa harus jadi pacarnya dulu, untuk bisa merasa hak mendapat informasi tentang siapa-siapa saja yang bertemu dan berkomunikasi dengan Leona? Jujur, sebenarnya aku tidak ingin merasakan hal ini: cemas yang tidak bisa kuelak karena menyayangi dia. Yang kuinginkan itu, menyayangi dengan santai-santai saja, tanpa perlu khawatir hatinya diambil orang lain. Yang kumau itu, aku kalem-kalem saja, karena aku tahu orang yang kusayangi itu juga menyayangiku. Joshua Zani yang sebenarnya itu begitu, kan; santai, kalem. Sama hidup juga begitu, kan. Santai.

Aku tahu aku ini lumayan tampan. Permasalahannya, Nicky lebih tampan. Iya, menurutku Nicky itu tampan sekali, kulitnya putih bersih, mukanya bule kearab-araban. Aku, aku hanya setampan orang Manado yang kecipratan sedikit darah Belanda. Kulitku tadinya putih, namun sekarang gersang karena maklum anak Bekasi. Ditambah lagi, aku ini bokek selalu, sedang ini selevel sama Leona, anak orang kaya. Aku kuliah naik bus dan kadang nebeng, sedang Nicky ke mana-mana naik mobil sedan. Sumpah kalau disandingkan dengan Nicky, aku cuma menang tinggi sedikit.

Hanya karena tahu Leona tidak bilang-bilang ketemu Nicky, aku jadi lupa kalau dulu dia telah memilih aku dibanding Nicky. Sekarang, setelah cemburu ini datang, aku meragukan itu. Benarkah Leona memilih aku, atau karena aku yang lancang mencuri hati Leona? Bahasa kasarnya, aku telah mengambil pacar orang.

Cemburu ini seperti cemburu yang menyusahkan hati, tetapi ini ada, kurasakan. Kalau sudah cemburu begini, aku kesulitan mengagumi diri. Yang kulihat, diriku itu penuh kekurangan, wajar dikecewakan. Sungguh perasaan yang memalukan untuk seorang Joshua Zani.

Setibanya di kantin, kutemukan dunia lamaku. Aku bergabung di meja yang diisi mahasiswa-mahasiswa penggiat capsa. Mainnya pake duit. Judi di kantin ini menarik, karena kalau kalah, bayarnya dari kolong meja. Sementara di dompet, aku ada duit 45 ribu. Rencananya iseng, aku main dengan rasa yakin pasti menang.  Ternyata kalah, alhasil tersisa 11 ribu. Setelahnya aku menyesal. Rasanya mau cakar-cakar muka sendiri. Sungguh derita yang tai kucing, karena sudah dilanda cemburu, terus kalah judi.

Setelah kalah judi, aku baru ingat di kampus ini aku punya sahabat. Ku-SMS Ronny, kubilang lagi di kantin, dan kusuruh dia ke sini. Maksudnya, biar nanti dia datang, aku makan pake duit dia dulu. Eh dia jawab lagi di rumah, katanya malas kuliah. Sialan! Dan hari ini aku telah melakukan dua kebiasaan burukku, yaitu bolos kelas dan main judi. Dua hal ini kulakukan karena satu hal: cemburu. Makanya aku paling benci kalau diriku ini sudah cemburu. Kekanakkan. Sukanya merepotkan diri.

***

Di mobil, perjalanan menuju mall

“Aku tadi nggak kelas.”
“Ih, Josh? Kenapa? Dosennya nggak masuk.”
“Nggak. Mendadak males.”
“Astagaaaaa… ih gimana sih kamu kok males sih Josh…”
“Males aja.”
“Terus kamu ngapain? Ke kantin?”
“Yoi. Main judi.”
“Ih Josh…. Udah aku bilang kan, jangan judi-judi. Nggak baik buat kamu. Mau menang mau kalah, judi ya sama aja, Josh…kamu tuh aneh deh ih…. Bingung Nana..”
“Loh kok kamu yang sewot, Le? Emang aku main judi pake duit kamu??”
“Ih, Joshh….”

Aku, kalau cemburu ya begini, rasanya ingin bikin Leona sakit hati. Mulutku berubah menjadi tajam, kata-kata yang kulontarkan, kuusahakan supaya menyakitkan.

“Kalo aku mainnya pake duit kamu tuh, baru deh protes, Le.”
“Kamu tuh aneh, Josh.. aku maksudnya baik, ngebilangin.. karna aku tau judi kan nggak bener, Josh.. kemaren-kemaren kamu udah rajin deh masuk kelas, nggak ke kantin, nggak main judi.. eh sekarang bolos kelas lagi, main judi lagi..”
“Dan tadi, kalah.”
“Tuh kaaaaaan….. abis duitnya?”
“Sisa sebelas ribu.”
“Ih Josh sumpah ya… sedih tau nggak aku liat kamu gini.”
“Apa sih yang kamu sedihin? Bunga dari Nicky?”
“Ih kok jadi ke Nicky? Ya ampun Josh, kamu tuh masih marah ya??”
“Ngapain marah? Situ pacar juga bukan.”
“Josh.. kok gitu ngomongnya?”
“Aku mikir ya, Le, apa yang diomongin Fajar, Benny, Robbie itu ada benernya sih. Lama-lama aku kayak manfaatin kamu ya.. kuliah dijemput, pulang dianterin, makan ditraktir, nonton ditraktir. Iya nggak sih?”
“Jangan didengerin makanya, Josh.. mereka itu kan nggak tau apa yang kita rasain. Kamu ih…”
“Tapi bener, kan? Selalu kalo kita jalan, kamu yang bayar?”
“Josh.. aku bayarin karena kamu emang nggak duit, kan.. dan aku ada.. emang salah, ya?”
“Ya jadi kesannya morotin. Kamu mau aku porotin?”
“Aku tau kamu nggak gitu kok, Josh, sama aku. Aku bayarin apa-apa itu tulus, karena aku tau kamu emang nggak ada. Nanti, kalo kamu udah kerja, aku pasti nggak mau bayarin kamu. Makanya kamu tuh peduli dong sama masa depan. Coba ya Josh, judi itu di mana masa depannya? Trus apa untungnya kamu bolos kelas?”
“Wait… maksud kamu aku cowok yang nggak punya masa depan?”
“Ih Josh aku nggak ngomong gituuu!”

Kulihat Leona mulai meneteskan air mata. Satu sisi, aku sedih melihatnya menangis. Namun, di sisi lain ada kepuasan tersendiri. Cemburu itu tidak enak, dan egoku berkata kalau Leona perlu mendengar hal-hal yang tidak enak juga dari mulutku. Aku tidak menyadari, bahwa kata-kata yang sudah kulontarkan untuk membuatnya menangis itu akan kusesali  di lain hari.

“Kok nangis?”
“Ya abis aku sedih kamu mikir gitu!!!”
“Sedih gimana?”
“Aku tuh nggak bilang ya kalo kamu nggak ada masa depan..”
“Ya secara nggak langsung kamu ngomong gitu.”
“Sumpah ya mesti gimana sih jelasinnya???? Ya Allah….. huhuhuhu…”

Makin banyak kulihat air mata menetes basahi pipinya, tetapi aku belum puas.

Keep reading

The Way I Lose Her: Half Semester, Half Heart

Aku sudah cukup benci pada diriku sendiri karena membuatmu dalam keadaan seperti ini. Tak ingin ditambah lagi kebencian karena mengetahui kau sebegitu bencinya kepadaku.

                                                             ===

.

“Kita ini siapa sih, Mbe?”

DEG!!
Mendadak jantung gue berdetak cepat. Jatung gue berdegup kencang seakan saat itu gue sedang berhadapan dengan sesosok penampakan setan yang paling menyeramkan. Gue gelagapan, nggak tahu harus menjawab apa. Meskipun gue tahu apa yang Ipeh maksudkan, gue hanya bisa pura-pura tidak mengerti.

“Eh.. ngg.. ma..maksud kamu ap..apa sih, Peh? Gue nggak ngerti.” Jawab gue bisik-bisik juga.

“Nggak usah belaga nggak tau deh, apa yang kita lakukan di teras lantai dua tadi? emang kita ini siapa sih, Mbe?” Tanya Ipeh.

“Hmm..” Gue berpikir keras mencoba mencari alasan yang tepat agar bisa keluar dari situasi awkward ini. “Memangnya kamu menganggap gue itu siapa?” Gue balik bertanya.

Ipeh tampak bingung mendengar perkataan yang baru saja gue tanyakan kepadanya.

“Loh kok kamu malah balik nanya sih, Mbe? Kan aku yang nanya duluan.”

“Aku.. ngg.. kita..” Gue berpikir keras.

“Apa? Siapa?” Ipeh semakin mendesak.

Belum sempat gue menjawab lagi, ternyata tanpa kita sadari kita semua telah berada di luar kebun rimba itu. Dan anak-anak yang tadinya masih terlihat serius akhirnya kini bisa bernapas lega, namun tidak dengan gue dan Ipeh yang masih dalam keadaan mencekam karena dihantui oleh perasaan kita masing-masing.

“Wah Peh udah sampai di luar nih, gue jawab lain kali aja deh ya..” Akhirnya gue punya alasan untuk tidak menjawab pertanyaan Ipeh kali ini.

“Ih curang ah! Bete! Tinggal jawab aja kenapa repot sih.” Ipeh terlihat kesal.

“Iya, iya, suatu saat gue bakal menjawab kok, Peh. Janji.”

“Janji ya, Mbe? Hutang loh itu artinya sama aku!” 

“Hooh” Gue menjawab sambil meangguk-anggukkan kepala, lalu Ipeh mulai melepaskan pelukannya dari lengan gue dan kembali berjalan seperti biasa.

Sesampainya di rumah Ipeh, kita langsung bergegas beres-beres karena waktu sudah terlanjur larut. Kita meminta izin untuk pulang langsung soalnya besok ada ulangan remedial bagi kita bertiga. Ya beginilah anak SMA, walaupun besok tetap masuk pagi, malamnya kita malah terus bermain hingga larut.

Kita semua izin untuk pergi lebih cepat. Ikhsan yang menumpang mobil Bobby pergi duluan lalu kemudian disusul oleh Nurhadi yang pada akhirnya meninggalkan gue sendirian dengan Ipeh seorang. Sambil memasangkan helm dan mengenakan jaket, gue sempatkan diri untuk pamit kepada kakak Ai yang masih terjaga di ruang keluarga. Sebelum gue pergi, Ipeh menarik tangan gue sebentar.

“Mbe.” Ucap Ipeh manja.

Gue mengerti apa yang ada di benak Ipeh malam ini. Begitupun tampaknya Ipeh mengerti apa yang ada di benak gue saat itu. Kita sama-sama dibuat bingung oleh perasaan yang kita tahan sendiri. Kita dibuat mati oleh perasaan yang belum tumbuh sama sekali. Kita jatuh cinta pada cinta yang diam-diam, diam-diam cinta, diam-diam terluka. Gue lepaskan helm gue sebentar lalu menaruhnya di kaca spion motor.

“Kenapa, Peh?” Gue mendekat.

“Hutang penjelasan ya.” Jawab Ipeh menunduk.

Gue saat itu masih belum mengerti apa yang sebenarnya wanita pikirkan jika dalam keadaan sepert ini. Namun seharusnya gue sadar, kejelasan status mungkin bukanlah sebuah hal yang penting bagi seorang pria. Karena selama mereka merasa kamu selalu ada untuknya, maka saat itu mereka akan mencintaimu tanpa harus melibatkan embel-embel status apapun. Namun tidak dengan wanita, ada kejelasan-kejelasan yang harus jelas mereka dengar, bukan mereka rasa seperti yang pria rasakan. Mereka harus jelas kemana mereka harus melabuhkan hati, mereka harus tahu seberapa dalam mereka boleh menjatuhkan hati.

Mereka berhati-hati untuk tidak sakit hati, mereka berspekulasi. Berbeda dengan pria yang dengan mudahnya berpikir ‘kalau cinta, ya cinta’. Sedangkan wanita selalu berpikir ‘Kalau cinta, aku harus tahu siapa kita.’. Mereka tak ingin mencintai sendiri, dianggap murah karena jatuh cinta pada pria yang padahal pria itu tidak mencintainya. Hatinya dipertaruhkan, harga diri wanitanya digadaikan. Maka wajar apabila wanita meminta sebuah kepastian, kepastian untuk siapa mereka boleh terluka. Kepastian untuk siapa mereka boleh benar-benar jatuh cinta dan melupakan segala cinta yang lainnya.

Namun saat itu gue hanya seonggok bocah SMA semester pertama, dan gue masih terlalu bocah untuk menyadari hal ini. Melihat Ipeh yang tertunduk lesu, gue hanya bisa mengangkat kepalanya agar gue bisa jelas melihat ke arah matanya.

“Iya, janji. Secepatnya gue bakal datang.” 

CUP!

Secara pelan-pelan, gue mencium pipi Ipeh tepat seperti apa yang ia lakukan kepada gue di beranda rumah beberapa hari yang lalu itu. Ipeh terkejut, ada rona kaget di wajahnya. 

“Aku pulang duluan ya.” Ucap gue yang kemudian memakai helm dan memacu kendaraan motor ini meninggalkan Ipeh sendirian yang masih memegangi pipinya dengan wajah polos itu.

.

                                                             ===

.

08.00
Di Ruangan Kelas.

Gue, Ikhsan, dan duo gempal alias Nurhadi dan Bobby kini sedang giat-giatnya mengerjakan soal-soal tambahan yang diberikan Bobby di meja belajar gue. Niatnya pagi ini kita mau membahas beberapa soal lagi biar otak kita sudah pemanasan untuk menghadapi soal Fisika nanti. 

Ketika kita masih asik serius, tiba-tiba dari pintu dateng sosok Ipeh yang terlihat tergesa-gesa, kita semua melihat ke arahnya karena keheranan. Melihat kita berempat lagi pada ngumpul, Ipeh langsung mendatangi kita tanpa menyempatkan diri untuk menaruh tas ranselnya terlebih dahulu.

“Ada apaan kayaknya buru-buru amat lo.” Tanya Ikhsan.

“Parah!! Ada cerita tentang kejadian kemarin!!” Jawab Ipeh sembari terengah-engah.

“Kemarin?”

“Iya, tentang Uji Nyali kita kemarin..” Ipeh mulai terkekeh tertawa dan kita pun semakin bingung dibuatnya.

“Gue kaga ngerti, ada apaan sih Peh?” Tanya Ikhsan lagi.

“Pagi tadi sebelum pergi ke sekolah, Pak Yana, tukang kebon gue kan lagi asik noh motongin rumput di halaman. Pas gue iseng ceritain kejadian kemarin, Pak Yana malah ketawa. Dan dia langsung menceritakan semuanya.”

“Ada cerita apaan emang?”

“Yang pertama, kebun itu memang angker sih, kebanyakan orang pada bisa kesurupan kalau lagi jalan-jalan di deket pohon beringin yang ternyata di situlah tempat bos setannya alias sesepuh penunggunya berada.” Tukas Ipeh.

“Anjir serius? untung kemarin kita nggak ada yang kesurupan ya! Takut sama wajah Nurhadi kali yak.” Ujar gue.

“Iya Mbe, jadi kayaknya itu semak-semak yang gerak kemarin itu memang murni mistis sih. Terus gue juga nanya tentang pundak Nurhadi yang katanya berat. Kata pak Yana, itu sih biasanya sering dinaikin setan. Setan paling suka sama orang yang auranya lemah atau lagi takut.” 

“Bhahahahahahak badan kaya babon pantat merah tapi penakut. Dulu aja berani dikeroyok 5 orang, sekarang dinaikin 1 setan aja langsung ciut.” Ikhsan ketawa ngakak mendengarkan penjelasan Ipeh.

“Ya lu pikir aja anjir. Kalau lagi lawan orang sih bisa ditabok, lha kalau lawan setan gimana cara naboknya?! Gue ayat kursi aja kagak apal.” Nurhadi tampak kesal.

“Nah terus, kejadian waktu leher aku kesangkut itu kalian masih ingat?” Tanya Ipeh.

“Masih-masih, nah kalau itu kenapa?”

“Jadi itu tuh sebenarnya bukan setan, emang di daerah yang banyak sulurnya tersebut sering dipake maen layangan sama anak-anak desa belakang, jadi kalau siang kalian ke sana lagi, kalian bakal ngeliat banyak kenur sama gelasan gelayutan di daerah situ. Mungkin yang kemarin ngejerat leher gue tuh kenur, tapi karena kenurnya rapuh udah sering kehujanan atau kepanasan, makanya langsung putus.” Jelas Ipeh lagi.

“Hoo pantes gue cariin tuh benang kaga ketemu ya. Tai, gue kira itu hal mistis juga.” Tukas Ikhsan.

“Nah 2 kejadian terakhir ini yang paling konyol.” Sambung Ipeh lagi.

“Konyol gimana?”

“Ternyata tempat kita berhenti terus memutuskan balik lagi kemarin tuh itu emang sudah dekat dengan jalan keluar. Karena di ujung sana ada desa, maka banyak orang yang bikin saung buat naruh kambingnya peliharaanya di dalem kebun biar nggak mengganggu aktifitas warga desa yang lain.”

“Jadi suara aneh yang kita denger itu…”

“Iya, itu suara kambing. Suara kambing lagi kawin palingan juga.”

“Bhahahahahak bangke!!” Gue ketawa keras. “Terus kalau bau-bau nggak enak itu apa dong? jangan bilang…”

“Iya Mbe, itu bau kotoran kambing.” Jawab Ipeh yang langsung tertawa keras.

Mendengar penjelasan Ipeh barusan, kita semua langsung tertawa bersama-sama. Bukannya melanjutkan untuk belajar Fisika, kita malah asik ngobrol berlima tentang hal-hal konyol yang kita lakukan kemarin. Seberapa begoknya kita waktu itu, dan seberapa parnonya kita malam itu.

Lima belas menit telah berlalu, anak-anak yang harus menjalani remedial Fisika dipanggil untuk pergi ke ruang guru. Sembari mengucapkan Bismillah, kita bertiga berjalan bergandengan tangan menuju ruang guru. Semoga jerih payah yang kita lalui kemarin malem berbuah hasil yang memuaskan. 

Sesampainya di ruang guru, ternyata pagi itu bukan cuma gue doang yang dongo dalam pelajaran Fisika alias harus mengikuti ulangan remedial. Ada banyak anak-anak cowok yang senasib sepenanggungan dengan kita. Banyaknya sih anak-anak cowok kelas gue. 

Gue duduk di sebelah Ikhsan, dan Ikhsan duduk di sebelah Nurhadi. Diawali dengan rasa percaya diri yang begitu besar, kita semua terlihat serius untuk mengerjakan soal-soal yang ada di depan mata. Setelah gue teliti tampaknya soal-soal ini mirip seperti soal-soal yang Ipeh dan Bobby ajarkan kemarin malam, itu tandanya, gue hanya perlu mengingat jalan dan rumus pengerjaanya. 

1 Menit, gue masih serius.
2 Menit, gue mulai hapus jawaban sekali-sekali.
3 Menit, gue mulai gigit-gigit ujung pensil.
5 Menit, gue mulai garuk-garuk kepala. 
10 Menit, gue mencoba nengok ke arah Ikhsan, dan dia lagi terkapar tak bernapas.

Ternyata soal Fisika ini nggak semudah yang gue pikirkan, semakin gue mengerti, semakin melebar jawaban yang diminta. Semakin gue mengerjakan dengan satu rumus, semakin banyak juga rumus lain yang diperlukan untuk menunjang segala variabel di rumus pertama.

Gue bingung, gue pasarah. Namun karena pada hakikatnya gue manusia yang beradab, maka insting bertahan hidup gue keluar. Gue sentuh kaki Ikhsan agar dia menoleh ke arah gue. Dan Ikhsan langsung menoleh. Mantap.

“Ssst.. nyet.. Nomer 1 apa?” Gue bisik-bisik.

“Belon gue..”

“Ah begok, nomer 5 udah?” Gue tanya lagi.

“Belon juga, baru setengah cuy.”

“Yaudah nomer 10 deh.”

“SETAN!! SOALNYA KAN CUMA SAMPAI 8!!” Ikhsan menendang kaki gue keras.

“Oh iya lupa.”

Kita pun kembali terdiam mengerjakan soal-soal tersebut. Nyesel gue duduk di sebelah si Ikhsan, otaknya nggak bisa diharapkan. Ah gue berharap ada Ipeh di sini kalau gini terus caranya. Gue menghela nafas, mencoba menghitung lagi namun sekarang gue mencoba menghitung lebih teliti.

Dan ternyata setelah gue mengerjakan lebih teliti, nomer dua pun bisa gue selesaikan dengan mudah. Yes! Gue menampilkan ekspresi kebahagiaan. Ikhsan yang menyadari hal ini pun langsung menyentuh kaki gue. Gue menengok ke arahnya. Ikhsan melemparkan secarik kertas kepada gue. 

“Lo udah selesai nomer 2? Bagi dong! Nomer 2 apaan?” Tulisnya

Karena gue teman yang baik, gue langsung membalas contekan Ikhsan tersebut lalu melemparkannya kembali ke arah Ikhsan. Ikhsan menangkapnya dengan cepat lalu membacanya.

“Nomer 2? Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab.” Balas gue.

Membaca hal ini, Ikhsan malah ketawa cekikikan. Sontak guru Fisika yang lagi mengajar menjadi menengok ke arah Ikhsan. 

“Ikhsan, kenapa kamu ketawa-ketawa gitu?” Tanya ibu Guru galak.

“Nggak bu, nggak tau kenapa kok saya malah jadi kepikiran sama butir-butir Pancasila ya.” Jawab Ikhsan sambil masih ketawa-ketawa kecil.

“Hah? ini kan pelajaran Fisika. Kenapa kamu mikirin Pancasila? Udah lanjutin remedialnya yang serius sana!” Tukas guru itu lagi.

Goblok si Ikhsan Malah ngejawab kaya gitu! Gue jadi ikut-ikutan ketawa ketika mendengar Ikhsan dengan polosnya menjawab pertanyaan guru Fisika. 

Dengan penuh perjuangan, gue kembali berjuang untuk bisa mendapatkan nilai ulangan remedial di atas 65. Ulangan yang telah dikerjakan akan langsung diperiksa saat itu juga, jadi kita langsung tahu apakah kita bisa mengikuti UTS apa tidak.

Gue, Ikhsan, dan Nurhadi setuju untuk mengumpulkan kertas ulangan bersama-sama. Setelah menunggu sebentar, akhirnya nilai kita muncul juga di papan pengumuman.

Nurhadi, 66,3
Ikhsan, 72,4
Dimas, 67,8

GILA!! TIPIS COY!!
Tapi Alhamdulillah akhirnya gue lulus. Nggak peduli nilai Ikhsan lebih besar atau tidak, yang jelas kita bertiga saat itu langsung bersorak-sorak bahagia karena pada akhirnya kita selamat dari ancaman tidak naik kelas hanya karena nilai Fisika doang.

Saking girangnya, kita bertiga berlari menuju kelas sambil bernyanyi-nyanyi lagu “Sorak-Sorak Bergembira.”, sesampainya di kelas, kita bertiga langsung memeluk Bobby, Ipeh yang melihat hal ini langsung ikut loncat-loncat bahagia. Karena merasa berhasil memberikan ilmu yang bermanfaat, Ipeh dan Bobby sepakat untuk merayakan berita gembira kita ini dengan menraktir kita makan sepuasnya di kantin.

Wuih ini sih kayak pribahasa, “Sudah nanam cilok, yang numbuh malah cakwe.”, sudah susah payah berjuang, hasilnya malah diluar dugaan. Tanpa pikir panjang lagi kita berlima langsung cabut ke kantin padahal saat itu di dalam kelas sedang berlangsung pelajaran Bahasa Indonesia. 

Ah nggak peduli, yang penting makan-makan!

.

                                                                     ===

.

Kita sempat kalap karena bingung harus jajan apa. Karena hari ini yang menraktir makan kita itu Ipeh dan Bobby alias dua orang yang stabilitas dompetnya selalu terjamin, maka kita jadi bingung pengin makan apa aja, karena semuanya boleh kita ambil. Bahkan makanan yang mahal sekalipun.

Kita banyak menghabiskan waktu ngobrol-ngobrol ngalor ngidul sambil ketawa-ketawa di ruangan kantin yang masih sepi. Hingga pada suatu ketika, Ipeh bertanya ke arah Bobby, gue, dan Ikhsan.

“Hei, Band kelas kalian itu masih jalan kan?” Tanyanya.

“Iya masih. Kenapa emang?” Jawab gue.

“Jadi gini, gue kan ikut Vocal Grup tuh, kebetulan bentar lagi Vocal Grup kita bakal mengikuti lomba. Nah tapi kita belum nemu pengiring bandnya, kalian bisa nggak ngiringin kita?” Tanya Ipeh.

“…” Kita semua terdiam tak sadarkan diri.

“Loh kok pada diem?”

“Peh, lu serius ikut Vocal Grup? Ini bercanda apa gimana sih?” Tanya Ikhsan.

“IH SIALAN YA LO MENGHINA GUE!! GUE NGGAK NYANYI!! GUE JADI MANAGERNYA BEGOK!!” Kata Ipeh kesal sembari nyolok tangan Ikhsan pake garpu Popmie.

“Oooh, gitu toh ahahaha, gue sih mau-mau aja, tau tuh kalau Bobby sama Ikhsan.”

“Gue setuju aja sih.”

“Gue juga.”

“Nah gitu dong, pulang sekolah ngumpul dulu ya di kelas X-H. Kelas yang paling pojok itu.” Ajak Ipeh.

Entah saat itu gue lagi begok atau emang lemah dalam hal mengingat. Yang jelas detik itu gue melupakan satu hal penting yang benar-benar penting. Gue merasa ada yang janggal, tapi apa?! Gue sama sekali tidak bisa ingat. Rasa-rasanya ada yang salah deh. Gue kalau semisal punya suatu masalah, gue pasti menghindari sumber masalah tersebut. Namun kali ini gue ragu, apa yang jadi sumber masalah ketika pembicaraan ini berlangsung sehingga hati gue merasa ada yang tidak beres ya?

Ah sudahlah. Mungkin cuma perasaan gue aja.

.

                                                               ===

.

Sepulang sekolah kita bertiga langsung berjalan menuju kelas X-H seperti yang Ipeh ucapkan tadi siang. Kita cukup bersemangat karena pada akhirnya bakat kita bisa tersalurkan juga. Walaupun sekarang kita hanya menjadi band pengiring saja, yang jelas ini adalah acara tampil perdana kita bersama di sebuah ajang perlombaan.

Gue mengetuk pintu kelas, dan Ipeh langsung membukakan dari dalam. Ipeh memperkenalkan kita kepada para anggota Vocal Grup. Gue tersenyum mencoba ramah sebelum pada akhirnya senyum gue hilang mendapati sosok yang gue kenal sedang ada di depan gue.

Wulan.

Kita saling terdiam. Ikhsan yang melihat hal ini juga terdiam. Nggak disangka gue bisa menemukan Wulan di sini. Lha memangnya Wulan anak Vocal Grup juga? Anjir kenapa harus ada Ipeh dan Wulan dalam satu tempat yang sama sih? Gue benar-benar terdiam tak bersuara apa-apa.

“Hei Mbe.. kok diam?” tanya Ipeh.

“Eh.. apa Peh?” Kata gue yang baru sadar dari lamunan gue.

“Kenalin, ini Wulan, dia temen SMP gue Mbe, dia masuk ke sekolah ini lewat jalur prestasi. Dia juara nyanyi loh dari jaman SMP.” Tukas Ipeh.

ASTAGA!!
Ternyata jalur prestasi yang Wulan ambil itu adalah Vocal Grup toh? Kenapa nggak dari dulu gue tanya aja sama Wulan sih?! Tau gini gue tolak ajakan Ipeh waktu di kantin tadi aja deh! Wulan yang melihat ke arah gue juga canggung. Entah kenapa Wulan terlihat canggung, namun yang jelas saat itu kita berkenalan layaknya kita belum pernah kenal antara satu sama lain. Begitu juga dengan Ikhsan, namun Ikhsan lebih terlihat ramah kepada Wulan.

Karena pada dasarnya Ipeh orang yang menyenangkan untuk diajak ngobrol, Ipeh saat itu menggandeng lengan gue dan menceritakan segala kejadian yang pernah dia lalui bersama gue kepada sahabat SMP-nya; Wulan. 

Anjing! Mati gue! Mati semati-matinya! Wulan sesekali melirik ke arah gue dengan tatapan aneh sambil terus mendengarkan Ipeh cerita.

OH GOD!! 
Gue pengen pulang aja rasanya. 

“Ngg.. kita mau setting alat-alat musiknya dulu boleh gak?” Ucap gue berusaha pergi dari situasi yang tidak mengenakan ini. Wulan diam saja, dan Ipeh mengizinkan.

Kita bertiga duduk di pojok sambil mempersiapkan alat musik. Bobby saat itu kebagian pegang Drum, namun karena ini hanya kelas biasa, maka yang ada di sana saat itu hanya Symbal dan Snare Drum doang. Gue pegang bass, dan Ikhsan pegang gitar.

“Bad lucky day, Dim?” Tanya Ikhsan pelan.

“Gue pengin pulang, San. Sumpah. Suasananya nggak enak.” Jawab gue.

“Tahan dulu lah, toh Wulan juga udah punya pacar kan?”

“Bukan itu San, bukan itu yang menjadi masalahnya. Ipeh.. Ipeh San, apa jadinya kalau Ipeh tahu semuanya?” Gue mulai terlihat khawatir.

“Ah iya, gue baru ingat. Wah bahaya juga kalau gini caranya. Tapi tenang aja, gue lihat dari tadi Wulan juga cuma diam aja kok dengerin Ipeh ngoceh. Wulan gue rasa nggak seberbahaya itu yang rela membocorkan hubungan lo sama dia dulu waktu ospek sama Ipeh. Wulan lebih memilih persahabatannya nyet, sama kaya gue dan elo lah.”

“Hope so deh. Tapi kenapa perasaan gue nggak enak ya?”

“Masalah Wulan?”

“Bukan. Nggak tau kenapa jantung gue nggak bisa berhenti berdegup kecang gini.” Gue terlihat cemas.

“Iya nyet, lo jadi keringetan nggak jelas gini. Kenapa sih?” Ikhsan melihat aneh ke arah gue.

“Nggak tau San. Perasaan gue nggak enak.”

“Yaudah-yaudah, kita relaxation dulu aja. Jamming dulu yuk sekali.” Ajak Ikhsan.

“Oke deh. Gue nurut aja. Gue mau diem aja ah hari ini.” Jawab gue lesu.

Ikhsan mulai memetik gitar sebentar mencari nada yang tepat. Bobby mulai menabuh pelan-pelan Drumnya. Sedangkan gue masih pucat menunduk ke bawah.

“Oi Peh, masih lama kaga latihannya?” Tanya Ikhsan.

“Bentar, San. Tinggal nunggu kakak Managernya.” Jawab Ipeh.

“Loh, bukannya elo managernya?”

“Gue kan kelas satu, nah gue masih jadi calon manager pengganti manager yang udah kelas 2 sekarang.” Jawab Ipeh lagi.

“Oh kalau gitu gue numpang berisik bentar ya. Latihan dulu lemesin jari.” Tukas Ikhsan.

“Okeee.” Jawab Ipeh.

Tanpa pikir panjang kita pun mulai bermain lagu yang biasa kita mainkan. Semuanya berjalan mulus seperti biasa, hanya saja beberapa kali gue salah nada, beberapa kali juga gue lupa tempo permainan. Gue kacau sekali sore ini

“Ah lo kenapa sih nyet, kok jadi ciut gini.” Ikhsan memberhentikan permainannya.

“…” Gue cuma bisa diam menghela napas.

“Latihan sekali lagi deh. Ayo dong jangan jadi lesu gini. Bob, ketukan ke 3 ya.”

“Oke.” Jawab Bobby.

1..
2..

“Nah tuh dateng managernya.” Tiba-tiba Ipeh membuyarkan konsentrasi kita bertiga.

Kita semua memberhentikan permainan kita dan melihat ke arah pintu kelas. Secara pelan-pelan pintu itu terbuka, seorang sosok wanita manis masuk ke dalam. 

“Maaf telat, aku ada ulangan susulan dulu.” Ucapnya sambil menyapa ke semuanya.

Gue terdiam. 
Ikhsan terdiam. 
Ikhsan melihat ke arah gue dengan wajah penuh keringat dingin. 
Nyawa gue hilang.
Seluruf saraf di tubuh gue mendadak berhenti seketika itu juga.

Suara yang gue kenal. Suara yang familiar. Sosok tubuh yang pernah gue peluk ada di hadapan gue. Gigi gingsulnya yang terlihat ketika ia berbicara membuat napas gue sesak. Mata lucunya yang ramah kepada para anggota Vocal Grup membuat jantung gue berhenti berdetak. 

Lengkaplah sudah semua kesialan gue hari ini. Tiga orang yang paling berpengaruh dalam hidup gue, tiga orang yang mempunyai porsinya sendiri-sendiri di hati gue itu, sekarang tengah berkumpul semua dalam satu ruangan.

Wulandari Putri Asmarani.
Hanifah Tafara Atmojo.

Dan yang terakhir,

Hanadwika Arsyita.

.

                                                              ===

.

Ini adalah kali kedua di mana gue merasakan getir dan rasa ketakutan yang begitu luar biasa setelah dulu gue pernah membuat Ibu gue menangis. Jantung gue seakan berhenti berdetak, otak gue rasanya mau pecah, hati gue sakit dan nyeri dalam waktu yang bersamaan. Kelenjar keringat gue mengeluarkan banyak sekali keringat. Jantung gue rasanya seperti ditusuk-tusuk oleh senjata yang gue ciptakan sendiri.

Napas gue nggak beraturan melihat tiga sosok yang ada di depan gue tengah berbicara bersama. Ikhsan menggoyangkan tubuh gue namun gue masih belum bisa sadar dari lamunan gue sendiri. Ternyata inilah yang dari tadi hati gue takutkan. Inilah perasaan ganjil yang sedari siang gue tahan-tahan.

Kepala gue yang sempat tidak bekerja itu akhirnya baru menyadari satu hal. Bahwa dulu waktu sehabis gue tanding basket dengan kakak senior semasa acara ospek, gue sempat berbicara empat mata dengan kak Hana di dalam kelas. Kak Hana sempat menanyakan ekskul apa yang akan gue pilih, dan saat itu kak Hana terus saja menyarankan gue untuk ikut Vocal Grup. Gue baru ingat dulu juga ia pernah berkata bahwa ia anggota Vocal Grup.

Bego!
Dimas Bego! 
Kenapa baru ingat sekarang?!

Jantung gue serasa dipompa begitu keras, dipaksa berdetak seperti dikejutkan oleh jutaan volt listrik. Gue melihat ke arah Ipeh, dan tiba-tiba, Ipeh menunjuk ke arah gue di depan kak Hana.

“Nih kak, Band yang aku bicarain kemarin sama kakak. Aku rekomendasiin mereka. Mereka mainnya bagus loh.” Jawab Ipeh yang masih belum tahu ada cerita apa di balik semua ini.

Kak Hana berbalik dan melihat ke arah kita bertiga. Awalnya kak Hana terlihat biasa saja, sebelum pada akhirnya matanya tertuju ke arah gue. Dia terdiam sempat merasa tidak percaya menemukan sosok gue ada di depannya.

“Loh, Dimas?!” Ucap kak Hana keras

DEG!!
BANGSAT!! KENAPA LO HARUS INGET NAMA GUE SIH?!
KENAPA LO NGGAK AMNESIA AJA!!

“Loh, kak Hana kenal Dimas?” Tanya Ipeh.

Kak Hana tersenyum melihat ke arah gue tanpa menggubris pertanyaan Ipeh. Tampaknya ada raut senang sekali muncul di wajah kak Hana karena dia tahu bahwa dalam beberapa waktu ke depan, dia akan terus berhubungan dengan gue karena mau tidak mau sekarang gue ada di bawah komando Manager Vocal Grup.

“Kak Hana? Kenal Dimas?” Tanya Ipeh sekali lagi.

“Eh Ipeh, iya Peh, kenal banget. Kita pernah deket banget ya kan Dim.” Ucap kak Hana sambil melirik ke arah gue.

“Deket banget?” Ipeh mulai terlihat serius.

“Iya Peh. Jadi dulu aku kan Tatib waktu ospek, nah aku tuh sering marahin dia karena mirip pacar aku. Hahaha konyol sih, tapi yang bikin lucunya lagi, rumah kita itu ternyata deketan, dan Dimas pernah mergokkin aku lagi sama pacar aku.”

“…” Ipeh terdiam tak percaya.

“Kita pernah deket banget. Bahkan dulu aku sering banget main ke rumahnya..” Jelas kak Hana.

‘Anjir sejak kapan lo main ke rumah gue?! Nggak usah ngarang cerita yang nggak-nggak deh woi!’ ucap gue dalam hati.

Gue melihat tidak hanya Ipeh saja yang serius memperhatikan apa yang kak Hana bicarakan, namun juga Wulan. Ada rasa tak percaya di benak Wulan kalau ternyata gue punya hubungan khusus dengan kak Hana selama ini.

“Kemarin juga tuh anak berantem di GOR Padjajaran. Untung aja ada aku sama temen-temen aku. Kalau nggak udah makin banyak darahnya yang bocor tuh anak.” Jelas kak Hana lagi dengan penjelasan yang jauh dari kenyataan.

Ipeh masih diam tidak bicara. Ipeh mulai terlihat menggigit bibir tanda menahan rasa yang meluap-luap di dalam dada.

“Kak Hana siapanya Dimas?” Tanya Ipeh pelan.

“Ini..” Kak Hana mengacungkan jari kelingkingnya.

“Pa.. pacar?” Jawab Ipeh dengan mata yang mulai terlihat berair.

“Hahaha bukan kok, kan kalian tahu kalau aku sudah punya pacar. Kita cuma dekat kok, dekat banget tapi. Satu-satunya orang yang selalu ada waktu dulu aku sakit hati sama cowokku ya dia itu.” Jawab kak Hana yang kemudian berjalan menghampiri kita bertiga dan meninggalkan Ipeh sendirian di depan kelas.

“Hai kalian, kenalan dulu sini siapa aja namanya?” Tanya kak Hana kepada kita.

“Ikhsan..” Jawab Ikhsan sambil menjabat tangan kak Hana.

“Bobby, kak.” Jawab Bobby sambil menjabat tangan kak Hana juga.

Lalu kemudian kak Hana menjulurkan tangannya ke arah gue.

“Hei cowok kelas satu. Kenalan dulu. Siapa namanya?” Ucapnya manis.

Gue masih terdiam, gue benar-benar terdiam tak mengucapkan sepatah kata apapun. Namun kak Hana bersikukuh untuk menjabat tangan gue, tangan kak Hana menarik tangan gue lalu menjabatnya lama.

Dari jauh, gue lihat ada setetes air mata jatuh. Jatuh menghantam hati gue sendiri. Tidak pernah gue melihat ada air mata yang semenyakitkan ini jika menatapnya. Ini adalah kali pertama di mana gue melihat air mata wanita terasa begitu menyesakkan di dalam dada. Seakan air mata itu jatuh dan menghantam keras pondasi hati gue sendiri.

Setetes air mata Ipeh turun pelan. Gue melihat ke arahnya, dan Ipeh melihat ke arah gue. Tatapan mata Ipeh tidak pernah terlihat seperti ini sebelumnya, tatapan matanya seakan benar-benar membunuh sosok gue yang sedari dulu sering ada di sana. Tampak ada rasa tak percaya dan benci sekali muncul di kedua bola matanya. 

Dalam tatapanya, gue tidak melihat sosok Ipeh  yang ceria lagi. Dalam tatapanya, gue bisa merasakan sakit yang ia rasakan. Kecewa yang menyambar nyata-nyata terlihat jelas di matanya. Belum pernah gue melihat tatapan Ipeh sedingin ini, seakan baginya sekarang gue bukanlah Dimas yang biasanya lagi. Seakan baginya gue bukanlah siapa-siapa. 

Tak ada lagi kenangan tentang seberapa konyolnya kita waktu pertama bertemu di depan Mushola. 
Tak ada lagi kenangan tentang seberapa cerewetnya kita ketika berjalan bersama di atas kendaraan roda dua. 
Genggaman tangan yang kita lakukan kemarin seakan sirna dalam bola matanya. 
Sosok Dimas yang ia pilih sebagai sosok pria untuk diperkenalkan kepada orang tuanya kini seperti luruh bersamaan dengan tetesan air mata yang menghujani pipinya.

“Kita itu siapa sih Dim?”

Gue teringat kembali apa yang kemarin malam Ipeh tanyakan kepada gue dengan hati yang penuh tanya. Dan sekarang sebelum gue menjelaskan siapa kita sebenarnya, Ipeh sudah lebih dahulu membunuh semua rasa dihatinya. Hari ini, Ipeh benar-benar melihat gue dengan tatapan yang berbeda. Air matanya menetes sesekali lalu ia usap berharap tidak ada satu pun orang yang menyadarinya, namun sayangnya, gue sadar.

Goblok lo Dim!
Lo goblok banget!
Kenapa lo harus menunda untuk mengatakan rasa lo yang sebenarnya kepada Ipeh selagi lo punya kesempatan sih?!

‘Peh, gue sayang sama lo.’

Ada jawaban itu muncul berulang-ulang kali di hati gue. Berharap Ipeh bisa mendengarkannya tanpa gue harus berbicara. Namun entah kenapa Ipeh tampak bungkam. Tak ada lagi sosok ceria yang gue temukan pada Ipeh, tingkah lakunya yang suka ngobrol dan bercengkrama itu sekarang mendadak hilang. Hidungnya merah menahan tangis. 

Ipeh!
Maafin gue, Peh!

Ada jutaan kalimat maaf muncul di otak gue. Tak peduli siapa yang sedang berbicara di depan gue sekarang, mata gue hanya mampu menatap mata Ipeh yang pelan-pelan mulai melepaskan pandangannya kepada mata gue. Gue ingin sekali meminta maaf dan menjelaskan semuanya, namun Ipeh tampak tak ingin mendengar sekali apa yg hendak gue jelaskan. Dia seakan menutup telinga. 

Gue ingin menjelaskan seberapa banyaknya salah paham yang ada di benak Ipeh. Gue ingin menjelaskan seberapa tidak maunya gue kehilangan Ipeh. Gue sayang Ipeh, dialah satu-satunya sosok yang sekarang gue doakan untuk selalu ada. Menemani keseharian, bercengkrama tanpa bosan, dan menjalani tahun pertama kita di SMA ini dengan bahagia. Gue ingin menjelaskan betapa berartinya dia sekarang, betapa matanya adalah mata yang ingin gue temui di tiap pagi, betapa suaranya adalah suara yang ingin gue dengarkan ketika butuh dukungan, betapa tubuhnya adalah seindah-indahnya peluk ketika raga sudah terlalu jengah dimakan keadaan. Gue benar-benar jatuh cinta, gue sangat jatuh cinta ketika gue mulai meraskaan takut untuk kehilangannya.

Ada miliaran sengat yang menyambar di kepala, ada takut yang begitu gahar menjalar di sekitar dada, rasa-rasanya membayangkan Ipeh tidak ada dalam hidup gue, gue belum sanggup. Rasa-rasanya kehilangan Ipeh dalam keseharian gue, gue belum bisa. Dan sekarang entah kenapa rasa-rasanya gue melihat Ipeh begitu jauh untuk diraih, seakan setiap langkah yang gue ambil sekarang adalah langkah yang semakin menjauhkannya dari jangkauan tangan untuk mendekap erat dan tak mau melepaskan sosoknya lagi. Semakin gue kejar, semakin gue mundur kebelakang. Semakin gue menatap matanya, semakin hilang sosok Dimas di dalamnya.

Kalau sekarang gue bisa tertunduk untuk memohon maaf, gue akan lakukan itu di depan Ipeh sekarang juga. Gue nggak mau ini adalah cara bagaimana gue harus kehilangan dia, seseorang yang sekarang benar-benar gue yakini bahwa dia adalah satu-satunya yang hati gue inginkan. Bukan Hana, bukan Wulan, tapi Ipeh.

Jika pun suatu saat kita tidak akan hidup bersama nanti, Peh, gue nggak mau jika berpisah dengan orang yang pernah gue sayang sebegitu besar itu harus dengan cara yang menyakitkan seperti ini.

Please, God..
I won’t this is the way i lose her…

.

.

.

.

Sejujurnya, aku tak pernah ingin membuatmu menangis.
Satu-satunya air mata yg ingin kulihat menetes pada matamu adalah air mata ketika kau bahagia dipeluk aku. Satu titik air matamu, sejuta penyesalan dalam hatiku. Maafkan aku kemarin. Jika ada seribu maaf yg harus kuucap agar kau mau kembali, aku akan.

                                                                Bersambung

Previous Story: Here

The Way I Lose Her: Cloudy

Terima kasih atas air matamu yg pernah terjatuh untuk namaku.
Dari situ aku mulai mengerti, jika ada hati yg harus ku genggam sampai mati, aku ingin itu hatimu, Cloudy.

                                                        ===

.

Walau hari ini baru saja berjalan setengah hari, entah kenapa lelah sekali rasanya mengingat banyak banget kejadian yang sudah gue lalui sejak pagi. Luka akibat berantem subuh tadi di WC sekolahan makin membuat gue semakin ingin cepat-cepat pulang. Tapi sialnya siang hingga malam nanti waktu hidup gue sudah dibooking sama anak orang. Demi menyenangkan hidup mereka, walau gue sendiri tidak merasa senang sedikitpun.

Gue harus menghemat banyak tenaga tampaknya, apalagi nanti setelah anak-anak pada kembali ke sekolah, gue harus siap mental nemenin Cloudy jalan-jalan untuk menuntaskan segala tetek-bengek masalah perizinan. Kalau sudah deket-deket sama Cloudy, entah kenapa gue bawaanya selalu salah mulu, gue ngomong apa pasti nggak pernah bener. Kayaknya ludah gue yang keluar itu haram, mengandung unsur Flu Babi di depan dia. Setiap mau menjelaskan perihal sesuatu, gue pasti tetap salah, udah kaya pembantu baru pas ketemu majikan yang bulu mata palsunya 6 meter.

Setelah selesai mengangkat telepon dari kak Ai, gue kembali masuk ke dalam Auditorium dan berusaha menjauh dari Cloudy. Gue mojok di barisan dekat pintu sambil berdiri di sebelah kang Acil yang lagi asik serius sama video bokep di Hapenya itu. Sesekali gue ngelirik ke arah videonya, gue lihat sebentar, gue telaah, gue perhatikan, eh… Malah keterusan..

#benerinPosisiUlatBuluDiDalamCelana

30 Menit berlalu, anak-anak kini sudah pada bubar dan kembali di sekolah meninggalkan gue berdua doang sama anak Menir yang satu itu. Walaupun gue nggak mau, tapi ini adalah mandat dari kang Acil, jadi ikhlas tidak ikhlas gue harus setia ngikutin dan ngejaga Cloudy kemanapun dia pergi.

BRUK!
Tiba-tiba Cloudy menaruh segala macam kertas dan map di tangan gue.

“Bawain dulu.” Ucapnya yang seraya pergi menemui kakak ketua OSIS sebentar.

Selagi menunggu Cloudy, gue sempatkan diri untuk mampir ke gerobak mamang minuman di depan gerbang Museum. Biasa lah, untuk menghadapi hari yang melelahkan kaya gini, nggak ada yang lebih segar ketimbang meneguk sekotak Teh Kotak dingin-dingin.

“Ayok, ikutin gue sekarang.” Mendadak Cloudy menghampiri gue yang masih duduk bersandar di pohon aren.

Kemana? Ngopi dulu bentar lah. Capek gue.” Tukas gue sambil ngelap keringet.

“Gue nggak ngopi!”

“Bukan ngopi itu maksudnya. Ngopi tuh bisa juga cuma istirahat sambil minum doang. Minum apa kek, air putih, air ludah, air tajin, bebas..”

“Nggak ada waktu. Ayo pergi sekarang!” Cloudy menarik tangan gue.

“Duluan deh.”

“DIMAS!! SEKARANG!!”

Tanpa gue sadari, tiba-tiba Cloudy mengambil Teh Kotak yang masih gelayotan di mulut gue dengan kondisi masih setengah habis itu lalu melemparnya jauh-jauh tepat ke dalam tempat sampah.

“IH MASIH PENUH ITU! BARU GUE BELI!!” Gue menatap nanar ke arah Teh Kotak yang sudah dilempar bak bom molotov tadi.

“Dah, ngopinya udah beres. Ayo cepet!”

“…”

Ah asem emang nih cewek satu, udah tahu duit gue cuma sisa 10ribu lagi, dipake jajan Teh Kotak sekarang tinggal sisa 7500 perak, belum nanti harus isi bensin ke rumah Ipeh. Ah kacau, nyesel gue masuk OSIS kalau gini caranya. Gue ngedumel terus sambil berjalan di belakang Cloudy dengan membawa bertumpuk-tumpuk kertas dan berkas-berkas yang nggak gue tahu apa itu.

Gue kembali menemani dia masuk ke dalam Museum. Setelah berjalan cukup jauh, Cloudy masuk ke dalam satu ruangan dan berbicara dengan orang di dalam ruangan itu. Gue yang hari ini bertugas kaya kacung ini cuma diem doang di luar ruangan. Sesaat kemudian Cloudy datang, mengambil beberapa berkas di pegangan gue lalu kembali masuk ke dalam ruangan. Setelah menunggu lebih dari 5 menit, dia kembali ke luar.

“Udah beres? Pulang?” Tanya gue.

“Belum, kita harus ketemu kepala staffnya.”

“Lha tadi siapa?”

“Penanggung jawab Museum.”

“Oh..”

Lagi berjalan dengan tempo yang cepat, tiba-tiba Cloudy yang sedari tadi berjalan di depan gue itu mendadak berhenti. Sontak karena terkejut gue menabraknya walaupun cukup pelan.

Cloudy menengok ke arah gue, “Habis ini ada acara kemana?” Tanyanya dingin, kaya cilok nggak dimakan 3 minggu.

“Sunat.” Jawab gue bete.

“Serius!” Dia mencubit tangan gue.

Gue ada acara. Kenapa?”

Temenin gue makan siang.”

“Lha kan tugas gue cuma nemenin elo di Museum doang?!”

“Iya, gue juga mau makan di daerah museum kok. Kan emang udah tugas lo nemenin gue selama masih di kawasan museum.” Jawabnya enteng yang lalu kemudian berjalan cepat meninggalkan gue.

KEPARAT!!
SALAH MULU RASANYA KALAU GUE NGOMONG TUH YA!!

Ada lebih dari 20 menit gue menemani Cloudy berkeliling Museum mencari seseorang yang gue sendiri nggak tahu bentuk mukanya kaya apa. Berkali-kali gue bertanya sama Cloudy kapan gue bisa pulang, dan dia selalu menjawab dengan pernyataan yang sama, “Nanti.”. Tapi akhirnya pucuk dicinta ulam pun tiba, tugas perizinan ini selesai ketika orang terakhir yang kita cari sudah menandatangani berkas yang gue bawa. Akhirnya gue bisa pulang juga.

“Ayo makan.” Tiba-tiba Cloudy menarik kaos seragam gue yang sudah terlanjur bercerai-berai karena kelelahan mengejar langkah cepat Cloudy selama satu jam ke belakang tadi.

“Dee, pulang aja yuk. Takut kesorean nanti.” Gue mencoba beralasan.

“Tenang aja, nggak akan kesorean, gue dijemput sama supir kok..”

“…”

“Mau makan apa?” Tanyanya lagi.

“…”

“Heh ditanya bukannya jawab malah masang muka jelek.”

“Muka gue emang udah kaya gini dari sananya. Modelnya udah kaya bakul.”

“Tuh kan malah ngomongin muka, ayok mau makan apa cepet!” Cloudy menarik-narik seragam gue lebih kencang.

“Kan elo yang mau makan, perut-perut elo, ngapa nanya ke gue cobak?!”

“Bawel banget sih jadi cowok, tinggal bilang aja mau makan apa kek!”

Astaga, jadi ini yang salah gue lagi? Subhanallah.. Semoga nanti kapan-kapan Tuhan menurunkan Ayat yang mana isinya apabila cowok selalu salah, maka wanita yang bersangkutan akan dikutuk jadi ember tinju.

“Kupat tahu aja deh! Noh deket gerbang noh.” Kata gue menunjuk ke arah mamang kupat dekat gerbang parkiran.

“Kupat? Nggak pernah makan kupat. Apaan sih itu? Aneh ah, yang lain kek.” Jawabnya bete.

“Lha katanya terserah gue! Gimana sih! Timbel aja noh di warung sebrang, gimana?”

Nggak ah, tempatnya keliatan kotor.”

“Yaelah, Dee, makan di tempat apa aja mah sama. Sama-sama masuk perut, sama-sama keluar lagi dari pantat!” Gue makin bete.

“Ih jorok deh. Cepet ah mau makan apa?”

“Ya elo yang mau makan ngapa nyuruh gue?!”

“Cowok tuh harus punya pendirian.”

“Yaudah, kue balok asli dari Bojong Kenyod aja itu di sebelah tukang Cakwe.” Kini gue memberi opsi lain.

“Nggak mau, nggak kenyang.”

“ASTAGA JADI LO ITU MAUNYA APA DONG?! UDAH AH GUE PULANG AJA!! NOH MAKANIN NOH UJUNG TIP-X DI DALAM CEPUK SAMPE LO PUAS!!”

“Ih kok jadi bete sih?! Yaudah deh ayo timbel!”

GITU KEK DARI TADI!!” Kata gue sambil pergi tergesa-gesa menuju tukang timbel karena gondok minta ampun.

“Eh Dimas lo mau ke mana?!”

“MAU TARAWEH!! YA MAU MAKAN LAH!”

“Tungguin! Itu kan jalanan rame, masa gue nyebrang sendiri! Nggak peka amat sih jadi cowok tuh!” Tiba-tiba Cloudy memukul kepala gue pakai gulungan kertas.

“…”

Karena nggak mau makin memperpanjang masalah, akhirnya gue memilih untuk diam saja sambil terus diceramahin selama nemenin dia nyebrang. Tuan putri ini mau nyebrang aja ribetnya minta ampun. Ya dari langkah kaki harus serentak lah, ya harus gandengan tangan lah, ya harus nyebrang di Zebra Cross yang jaraknya 20 meter dari tukang nasi Timbel lah, dan sampai harus nyebrang ketika jalanan emang udah kosong banget.

Butuh waktu 15 menit untuk berdebat dan menyebrang jalan saja hingga pada akhirnya kita tiba di warung tukang Timbel. Ketika Cloudy sedang memesan makanan, gue memilih diam saja di meja lantaran duit gue sudah nggak cukup lagi buat makan timbel yang satu porsinya bisa sampai 10ribu pada zaman itu.

Melihat gue yang cuma kenyot-kenyot termos teh tawar, Cloudy menghampiri gue dengan piring penuh dengan lauk pauk.

“Buset, cantik-cantik rakus ya lo. Ini sih porsi buat orang-orang pengungsian. Banyak amat.” Tanya gue heran.

“Apaan, aku cuma makan ayam sama tahu doang kok, sisanya kamu ini yang makan.” Jawabnya sambil duduk lalu kemudian menuangkan teh tawar di gelasnya sendiri.

“Dee, gue nggak bawa duit. Gue nggak makan ah.” Kata gue mencoba memelas.

“Gue yang bayar semuanya kok. Makan gih.”

“Serius nih?!”

“Iya! Udah sana makan!”

“Alhamdulillah!! Gue kira siang ini gue bakal makan sisa teh tawar di dalam gelas ini. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain.” Dengan gembira gue langsung mengambil bakul nasi dan centongnya.

“Btw maaf ya tadi.” Tiba-tiba Cloudy melihat ke arah gue.

“Maaf?”

Iya, maaf tadi Teh Kotaknya aku buang.” Jawabnya dengan perasaan bersalah.

Mendengar ucapan Cloudy, gue sempat terdiam sebentar. Ini adalah kali pertama di mana gue melihat seorang Cloudy meminta maaf. Rasa-rasanya nggak mungkin banget bisa lihat dia meminta maaf. Bahkan mungkin belum pernah ada laki-laki yang mendengar ucapan maaf langsung dari mulutnya. Karena biasanya sebelum dia meminta maaf, laki-laki sudah pada merasa salah duluan, alhasil malah merekalah yang meminta maaf kepada Cloudy.

Sambil menatap ke arahnya, gue malah ketawa.

“Yaelah, Teh Kotak doang. Lo ngasih gue sepaket nasi timbel begini sih udah lebih dari harga 3 teh kotak, Dee. Dah ah lo maap-maap mulu kaya kang parkir, sono makan.” Jawab gue yang lalu melanjutkan menuangkan nasi ke atas piring.

Siang itu kita tidak banyak berbicara ketika makan. Gue makan dengan lahap lantaran kelaparan, sedangkan Cloudy makan pelan sekali, mirip kaya tuan putri. Dia makan nasi timbel menggunakan sendok. Rasanya aneh banget ngeliat orang makan timbel tapi pake sendok. Sesekali Cloudy terlihat susah sekali memisahkan daging ayam menggunakan garpu dan sendok. Gue seneng sih ngelihat nih anak kesusahan, tapi lama-lama jadi nggak tega juga.

Tanpa pikir panjang gue ambil ayam yang ada di mejanya itu secara tiba-tiba hingga Cloudy terkejut dan melihat ke arah gue. Tapi gue menghiraukan tatapannya itu dan memilih diam saja sambil memisah-misahkan daging ayam itu menjadi potongan daging yang disuir-suir kecil.

“Noh, ribet amat pake sendok garpu. Udah gue pisahin tuh dagingnya, makan sana.”

“Ih jorok ah! Bekas tangan kamu!” Ucapnya yang lalu menaruh sendok dan garpu di atas piringnya lalu memasang wajah cemberut.

Melihat hal itu, tanpa pikir panjang gue langsung mengambil lagi ayam yang sudah dengan susah payah gue suir-suir tersebut.

“Yaudah kalau lo nggak mau makan, buat gue aja. Lumayan rejeki.”

“IH! JANGAN!!” Dengan cepat Cloudy langsung merebut lagi piringnya yang sudah hampir gue ambil.

“Dasar, jadi cewek jangan gengsian makanya.” Gue melirik ke arah Cloudy sambil tersenyum meledek.

“Habisnya, bekas tangan kamu, kan jorok.”

“Yaelah, tangan gue bersih kale. Tangan gue gini-gini kalau megang beduk, waktu Isya langsung mepet sama waktu Ashar.”

“Apaan sih.” Kata Cloudy menimpali candaan gue dengan muka jutek sambil mulai kembali makan.

Kok elo bete mulu. Kenapa sih?! Kesannya kalau sama gue lo bete terus?!” Tanya gue yang sedang mengambil kobokan lalu mulai mencuci tangan dan menatap serius ke arahnya.

“Habisnya lo nyebelin sih.”

“Lha kok gitu?”

“Iya, nyebelin banget. Rese. Bikin bete.”

“Tapi kan kita baru ketemu. Baru beberapa minggu doang malahan.”

“Ya pokoknya aku ngerasanya gitu.”

“Ah mungkin itu elonya aja yang ngebetein kali.”

“Kok jadi gue?”

“Loh emang kan? Lo emang ngebetein orangnya. Bikin kesel. Maunya diturutin mulu.”

“…” Cloudy mendadak terdiam.

“Elo itu kebanyakan diturutin sih, manjanya jadi nggak ketulungan deh.” Ucap gue tanpa sadar bahwa sekarang Cloudy sedang terdiam menatap gue.

“Emang aku gitu ya, Dim?” Tanya Cloudy pelan.

“Iya, buktinya kang Acil aja nyuruh gue buat ngejaga elo. Lo mau minta apapun, pasti diturutin. Mau minta A, pasti dikasih. Sekarang coba deh gue tanya, pernah nggak ada yang nolak waktu lo minta tolong?”

“…”

“Tuh kan, udah bisa gue tebak.”

“…”

“Habisin tuh makanan. Cepet udah jam segini.” Kata gue masih belum sadar atas perubahan yang terjadi pada rona wajah Cloudy.

“Dim.. Ambilin minum..” Tiba-tiba Cloudy menyodorkan gelas ke arah gue.

“Apaan? Ambil sendiri sono.”

“Ih kok gitu?!”

“Yang haus sape sekarang gue tanya?!”

“Yaudah deh..” Jawab Cloudy yang lalu mulai menuangkan air dari dalam teko ke dalam gelasnya.

“Eh kebetulan isiin gelas gue sekalian.” Dengan isengnya gue menyodorkan gelas ke arahnya.

“Ih kok jadi elo yang nyuruh gue!”

“Ah udah bawel amat, tinggal nuangin aja pake acara pidato segala. Kaya capres kalah tender ah lo.”

“…” Sambil bete, mau tidak mau Cloudy ikut menuangkan minuman di gelas gue.

Akhirnya setelah makanan dihabiskan, kita memutuskan untuk kembali ke sekolah. Sebelum membayar, Cloudy tetap terdiam di atas meja menatap ke arah gue seperti sedang menunggu sesuatu. Sedangkan gue malah dengan dinginnya berdiri lalu melangkah ke luar warung.

“Mang, sayah dibayarin sama si neng yang lagi duduk tuh ya.” Kata gue kepada tukang timbel sebelum kemudian melangkah pergi tanpa menunggu Cloudy sama sekali.

Mungkin ada lebih dari 5 menit gue menunggu di luar warung tapi Cloudy nggak keluar-keluar, gue nggak tahu dia lagi ngapain di dalam sana tapi gue males buat masuk lagi ke dalam warung. Setelah menunggu lebih lama, Cloudy pada akhirnya keluar. Dia menatap ke arah gue tanpa banyak bicara tidak seperti biasanya.

“Ape lo liat-liat? Belom pernah liat orang ganteng ya?” Ucap gue dingin yang lalu pergi berjalan menyusuri taman Lansia.

Selama perjalanan di taman, gue dan Cloudy lebih banyak terdiam. Gue jalan duluan sedangkan Cloudy jalan di belakang gue. Gue penasaran kenapa Cloudy jadi pendiam kaya gini, tapi gue males nanya sama dia soalnya bakal panjang urusannya kalau dia mulai bete terus pidato lagi.

“Dimas.” Tiba-tiba Cloudy memanggil gue.

“Hmm..” Kata gue tanpa menengok ke belakang.

Duduk dulu sini, ngobrol sebentar, ada yang mau aku omongin.” Katanya manis.

“Nggak ah, males, udah sore.” Jawab gue masih tanpa menoleh.

“Ih Dimas!”

“Apa.”

“Aku mau ngomong!”

“Ngomong aja sambil jalan.”

“Gue maunya sambil duduk!”

“Yaudah lo duduk sana, terus ngobrol sendiri, kalau udah selesai, SMS-in isi obrolan lo ke hape gue. Gue ke sekolah duluan..”

Belum sempat merampungkan kalimat gue, tiba-tiba Cloudy berlari dan mencubit keras tangan gue. Sontak gue teriak karena kesakitan.

“APAAN SIH, DEE?!” Gue mulai kesal.

“Lo tuh ya emang nyebelin tahu nggak! Satu-satunya cowok yang pernah gue temui yang paling menyebalkan!”

“Bagus deh.”

“IH KAN!!” Cloudy mencubit tangan gue lagi.

“Apaan sih?!”

“Aku mau nanya tentang ucapan kamu di tempat makan tadi, emang weakness aku sampai segitunya ya?” Tanyanya dengan wajah serius. Melihat dia serius kaya gini, gue malah jadi pengin ngisengin.

“Kamu tuh weaknessnya banyak, cemburuan, betean, keras kepala, susah dibilangin, maunya dimengerti, ngajak berantem gue mulu.” Gue menjelaskan.

“Ih ngajak ribut itu mah penjelasannya!”

“Iya emang, kagak pernah akur gue sama elo tuh.”

“Elo tuh! Kenapa sih nggak bisa baik unyu kaya cowo cowo kebanyakan?”

“Nggak mau.”

“Aneh!”

Gue tidak menghiraukan kata-katanya lagi lalu pergi mengambil langkah cepat meninggalkan dia di belakang yang masih marah-marah sambil berlari mencoba menyusul langkah kaki gue yang cepat ini.

.

                                                                  ===

.

Sesampainya di sekolah, gue langsung bergegas pergi ke kelas gue untuk mengambil tas Ipeh sedangkan Cloudy menunggu supirnya menjemput di gerbang depan. Karena melihat masih ada waktu, gue sempatkan untuk mengoprek sedikit isi dari tas Ipeh ketika keadaan kelas sudah sepi sama orang.

Gue melihat di sana ada dompet Ipeh tertinggal. Ternyata tadi pas naik Taxi itu Ipeh nggak bawa dompet toh. Ah yasudah lah, gue kembali melihat-lihat dan membuka satu persatu isi dompet Ipeh. Di sana ada beberapa foto box Ipeh beserta teman-temannya. Ada juga foto box Ipeh waktu masih SMP bersama dengan Wulan dan teman-temannya yang lain. Ada rasa sedih sendiri melihat Ipeh dan Wulan bersanding ceria dalam satu foto, tersenyum penuh bahagia, tidak tahu bahwa mereka berdua pernah menjadi yang terutama di hati satu orang pria.

Ketika gue sedang membuka beberapa catatan Bon di dalam dompetnya, tiba-tiba ada satu foto jatuh. Setelah gue ambil, ternyata itu Pas Foto formal Ipeh lengkap menggunakan kemeja. Wajahnya lucu sekali, mungkin ini adalah Pas Foto waktu dia kelulusan SMP. Rambutnya masih sedikit panjang diurai dengan poni menutupi dahinya. Di foto itu gue melihat ada sosok orang yang gue sayang. Bukan sosok wanita yang urakan, melainkan sosok wanita yang menyenangkan. Menatap foto tersebut, ada senyum pelan muncul di wajah gue.

“Kenapa gue bisa jatuh cinta sama anak ini ya? Rasa-rasanya dulu gue pernah dengan jelas-jelas menolak pertanyaan Ikhsan tentang apakah gue suka sama Ipeh atau tidak, tapi ternyata sekarang gue dengan terang-terangan berbicara bahwa Ipeh-lah yang gue sayang.” Gue bergumam.

Hari itu entah ada angin apa, dengan isengnya gue mengambil Pas Foto Ipeh lalu menyelipkannya di dompet gue. Setelah itu, gue masukkan semua isi tasnya kembali dan bergegas pergi menuju parkiran motor. Ketika gue sedang menaiki motor menuju gerbang sekolahan, gue melihat Cloudy lagi bersiap-siap berjalan menuju mobil yang baru saja datang menjemputnya. Karena siang tadi gue ditraktir makan, mau tidak mau sebagai tata krama gue wajib menghampiri Cloudy sebentar untuk pamitan.

Pelan-pelan, sambil menaiki motor, gue berjalan mengendap-endap di belakangnya lalu setelah cukup dekat, gue pencet klakson motor gue sekencang-kencangnya hingga Cloudy terkejut bukan main sampai barang-barang yang tengah ia genggam terjatuh semua. Melihat hal itu, gue tertawa ngakak di atas motor walau sebentar kemudian gue malah jadi teriak-teriak kesakitan gara-gara dipukulin sama totebagnya Cloudy.

“Iseng amat sih! Nggak lucu!” Kata Cloudy sambil masih menghajar gue dengan totebagnya.

“Hahaha Tuan Putri ngambek. Btw, thanks ya traktirannya. Gue pamit dulu.” Jawab gue sambil memacu motor gue lagi.

“Eh Dimas tunggu! Sebentar!” Tiba-tiba Cloudy menarik tas gue sehingga mau tidak mau gue memberhentikan lajur motor gue.

“Apaan lagi sih, Dee?”

“Kamu tuh cowok paling aneh yang pernah aku temuin tahu nggak.” Ucapnya sambil masih memegangi tas punggung gue.

“Maksudnya?”

“Kamu satu-satunya cowok yang nolak waktu aku suruh berhenti jalan. Kamu satu-satunya cowok yang jalan di depan aku begitu aja. Aku baru pertama kali ini dicuekin sama cowok dan ditinggal jalan gitu aja walau aku berkali-kali manggil kamu dari belakang. Ini juga pertama kalinya aku ditinggalin di warung terus disuruh ngebayar langsung ke pedagangnya.”

“Loh, itu kan karena emang lo yang nraktir gue?”

“Iya, tapi setidaknya tetap kamu yang bayar walau uangnya dari aku. Cuma kamu cowok yang berani ngebentak aku, dan yang lebih parahnya lagi, kita itu seumuran! Teman-teman pacar kakak aku yang sudah kuliah aja nggak ada yang berani kaya gitu. Aku jarang-jarang ngajak duluan ke cowok untuk makan siang bareng, tapi siang tadi aku lakuin begitu saja. Terus dengan seenaknya kamu malah nolak dan memilih untuk pulang lebih cepat. Di saat semua cowok rela ngelakuin apa saja untuk ngajak aku makan ke tempat-tempat yang mahal, kamu yang aku ajak makan siang dengan cuma-cuma malah nolak begitu aja. Kamu tuh nyebelin tahu nggak sih?! Cowok paling aneh! Cowok jelek! Cowok pathetic! Cowok alay! Tapi.. tapi.. tapi…”

“Tapi apa?” Tanya gue penasaran.

“Ih! Nggak tahu ah! Pokoknya gue benci sama elo!”

“Yeee ditanya apa, jawabnya malah apa. Aneh ah. Udah belum pidatonya? Gue masih ada keperluan nih.”

“Tuh kan, nggak pernah ada cowok yang ngomong kaya gitu sama aku waktu aku lagi ngobrol serius kaya gini. Nyebelin banget sih!” Cloudy mulai terlihat kesal.

Gue yang melihat Cloudy lagi bete sambil masih memegang tas punggung gue itu hanya bisa tersenyum karena gemes. Nih anak sebenarnya emang ngeselin sih, tapi tetap saja otaknya kaya anak bocah perempuan. Pemikirannya childis banget.

“Kenapa senyum?!” Tanyanya bete yang melihat gue tersenyum ke arahnya.

Gue membuka kaca helm, lalu gue dorong jidatnya pakai telunjuk gue pelan-pelan.

“Udah, pulang sana, dah sore tuh. Kasian supir lo nungguin dari tadi.” Tukas gue.

Cloudy mulai melepaskan genggamannya tadi lalu berjalan mundur beberapa langkah ke belakang.

“Senin besok, aku nggak mau tahu, temenin aku makan siang di kantin.” Tiba-tiba sifat egois Cloudy muncul lagi.

“Eh? Senin besok? Males ah.”

“Tuh kan! Aku yang traktir!”

“Nah kalau itu deal deh gue setuju.”

“Bagian denger kata-kata traktir aja langsung berubah pikiran. “

Tanpa mengucapkan kata-kata selamat tinggal, Cloudy langsung berbalik dan masuk ke dalam mobilnya begitu saja meninggalkan gue sendirian. Alhamdulillah satu masalah sudah selesai, sekarang berarti tinggal satu masalah lagi. Gue harus ke rumah Ipeh dan menjelaskan kesalah-pahaman yang terjadi antara penjelasan Ipeh kepada kak Ai dengan kejadian yang sebenarnya.

.

.

.

                                                              Bersambung

Previous Story: Here

karlbourbon  asked:

imagine jim running his fingers through bones' hair after he has taken a shower and making it stick up everywhere

Bones growls at him and Jim just laughs because he sounds and looks like an angry cat with his hair sticking up everywhere.

When they are lying together after a long day Jim likes to run his fingers through Bones’ hair. The tension melts out of Bones and by the end of it they are both snuggled together, completely relaxed, Jim with his fingers ruffling Bones’ hair and Bones rubbing calming circles on the spot above Jim’s right hip.

I wish I was normal

Prompt: Write a phanfic where phil has a developmental disorder where he isn’t able to communicate well with dan and he feels like a bad boyfriend

Genre: Fluff, Angst

A/N: Omg I read about communication disorders and I hope this is okay, thank you anon<3 (also my first language isn’t English so sorry if it’s some grammar mistakes)

Keep reading

Capítulo 81

Ao chegar no aeroporto, Clara cumprimentou os sócios e amigos de Fabian e ficou um pouco com ele.

Fabian: Vai sentir a minha falta? – Clara o olhou.
Clara: Claro. – Ele sorriu bobo.
Fabian: Não vejo a hora de chegar em casa. Apesar de todos esses anos, ainda não me acostumei a ficar longe de você. – Clara sorriu forçada.
Clara: Não vamos falar disso senão será pior.
Fabian: Tem razão.

Eles conversaram sobre qualquer outra coisa mais uns minutos e logo anunciaram o vôo dele. Fabian deu um abraço apertado em Clara e a beijou já com muita saudade. Ela tentou fingir o mesmo sentimento, mas não foi capaz, porém Fabian não percebeu ou fez que não percebeu. 

Assim que saiu do aeroporto, Clara voltou para sua empresa, terminou de fazer o que havia pendente e foi para sua casa onde deu ‘férias’ coletiva para os funcionários de sua casa, já que queria ficar a sós com Vanessa o mês inteiro. Ela alegou que passaria uns dias na casa de sua amiga Paula por conta de sua gravidez. Assim que falou com os empregados ela ligou para Vanessa perguntando se podia ir a sua boate conversar. Em meia hora ela estava na boate.

Clara: Com licença. – Entrou na boate e avistou Vanessa próxima do balcão.
Vanessa: Oi Clarinha. – Andou até ela, deu um selinho e a abraçou. – Tudo bem?
Clara: Tudo sim e com você?
Vanessa: Melhor agora. – Elas sorriram e a funcionária que estava com Vanessa sorriu junto. – Aconteceu alguma coisa?
Clara: É o Fabian, ele foi viajar já.
Vanessa: Sério? Vem, vamos ao escritório.

Vanessa dispensou a funcionária e seguiu de mãos dadas com Clara até seu escritório. Chegando lá, Vanessa sentou no sofá e Clara sentou-se em seu colo.

Vanessa: Então a partir de hoje você é minha e só minha? – Sorriu.
Clara: Só da minha ancuda! – Sorriu junto. – Já dei até férias para os empregados da minha casa, teremos a casa só pra nós. – Vanessa mudou seu semblante e Clara percebeu. – Que foi amor? Não gostou da idéia?
Vanessa: Não, não é isso. É que…eu não vou me sentir a vontade lá, entende?
Clara: Acho que sim. Mas então?
Vanessa: Eu tinha pensado em irmos pro meu apartamento.
Clara: Vamos pra onde você quiser! – Elas sorriram e iniciaram um beijo. 

Vanessa: Bom, eu só não vou poder ir agora pra casa, mas se você quiser ir indo e me esperar lá ta ótimo.
Clara: Eu vou. Aproveito e preparo a janta. – Vanessa sorriu.
Vanessa: Vai me esperar com o jantar pronto, é? – Clara sorriu.
Clara: Vou esperar minha chatinha com o jantar prontinho. – Elas sorriam de novo e Vanessa deu um cheirinho na lateral do pescoço de Clara que sorriu mais pela cosquinha. – Que horas, mais ou menos, você vai chegar em casa?
Vanessa: As sete eu saio daqui. 
Clara: Certo. Eu vou indo então, vou deixar você trabalhar um pouco. – Elas levantaram-se. 
Vanessa: Assim que eu sair vou correndo pra casa. – Deu um selinho longo em Clara.
Clara: Ta bom, te espero lá amor. Se cuida.

 Clara pegou sua bolsa e Vanessa a acompanhou até seu carro. Lá elas deram mais um selinho e Clara foi para casa de Vanessa.

 O tempo passou rapidinho, Vanessa fez o que tinha pra fazer e foi para casa encontrar-se com sua amada. Chegando em casa, Vanessa e Clara ficaram namorando um pouquinho e logo Vanessa foi tomar um banho. Terminando o banho, elas jantaram, arrumaram a louça e foram pro sofá assistir televisão.

 - Clara: Ah, deixa eu te falar. Ju ligou mais cedo e convidou a gente pra fazer um churrasco amanhã no almoço. O que acha?

Vanessa: Ótima idéia.

Clara: Tudo bem se for na minha casa? É que eles querem na piscina e como você e eles moram em apartamento, não vai dar pra ser um almoço fechado.

Vanessa: Pode ser sim amor, em apartamento não dá mesmo.

-Clara: Ótimo. Vou pegar mai uma cerveja e aproveito e ligou pra ele confirmando então. Quer algo da cozinha?

Vanessa: Não, obrigada amor. – Clara deu um selinho em Vanessa e retirou-se

Enquanto Clara pegava a cerveja e ligava para Junior, Vanessa ficou no sofá com o controle da televisão na mão procurando algo de bom para assistir. Não demorou muito e Clara voltou para a sala. Elas beberam a cerveja, conversaram mais um pouco e namoraram até que acabaram adormecendo no sofá mesmo, de conchinha.

No dia seguinte, Clara acordou lá pelas nove e meia da manhã e percebeu que estava no sofá com Vanessa.

Clara: Amor, acorda. – Vanessa se mexeu atrás dela.

Vanessa: Que? – Tentava abrir os olhos.

Clara: Nós acabamos dormindo no sofá.

Vanessa: Sem momo? – Clara sorriu e virou-se para ela.

Clara: Mas é safada até cochilando! – Deu um beijo estralado na bochecha de Vanessa. – Vamos acordar amor, temos de ir ao supermercado comprar as coisas pro churrasco.

Vanessa: Ah não amor, é sábado, ta cedo ainda. – Vanessa abraçou Clara e escondeu seu rosto no pescoço dela.

Clara: Não seja preguicinha! Melhor irmos ou vamos acabar nos atrasando.

Vanessa: Só mais cinco minutinhos, ta?

Clara: Vamos fazer assim: dorme mais um pouquinho enquanto eu tomo banho e me arrumo.

Vanessa: Ótimo. – Clara deu um selinho nela e foi para o banheiro.

Enquanto Clara tomava seu banho, Vanessa ia pegando no sono novamente até que um celular tocou, ainda meio que dormindo ela pegou o celular e atendeu.

Vanessa: Alô. – Falou quase pegando no sono de novo.

xXx: Clara? – Vanessa acordou em um segundo ao reconhecer a voz.

Vanessa: Fabian?

Fabian: É a Vanessa? – Vanessa olhou o aparelho e viu que era o celular de Clara.

VanessaPutz! – Pensou. – Tudo bem Fabian? É a Vanessa sim.

Fabian: Tudo ótimo e você? Hãm, a Clara esta por aí?

Vanessa: Esta sim. É que eu vim fazer uma visita a ela, mas ela esta no banho.

Fabian: Ah sim. Mais tarde eu ligo então. Poderia dizer a ela que eu liguei?

Vanessa: Claro, digo sim. Até mais.

Fabian: Obrigado. Até. – A ligação foi finalizada.

Clara voltou a sala e viu Vanessa bem acordada.

Clara: Ué, acordou amor?

Vanessa: Sem querer atendi teu celular.

Clara: Tudo bem. Quem era? – Sentou-se no sofá ao lado de Vanessa.

Vanessa: O Fabian.

Clara: O que?

Vanessa: Calma, acho que ele não suspeitou de nada. Eu disse que tinha vindo na tua casa te fazer uma visita e que você estava no banho.

Clara: Só isso?

Vanessa: Por sorte sim. Bom, eu vou tomar meu banho aproveitando que eu to bem acordada já. – Sentou-se no sofá e deu um beijo na bochecha de Clara. – Já volto. – Retirou-se.

 Aproveitando que Vanessa tinha ido tomar banho, Clara ligou para Fabian.

-Fabian: Alô.

-Clara: Oi Fabian, é a Clara.

Fabian: Oi meu amor. Tudo bem?

Clara: Tudo e com você?

Fabian: Morrendo de saudade.

Clara: Que lindo. E a viagem?

Fabian: Tranqüila. Pensei que me ligaria mais cedo pra saber como estou.

Clara: Desculpa amor, tentei te ligar mas não estava conseguindo.

Fabian: Tentei ligar em casa, mas ninguém atendeu.

Clara: Eu dei uns dias de folga para os empregados. To ficando em casa só pra dormir, agora mesmo por exemplo to saindo a trabalho e só volto a noite.

Fabian: Vê se não abusa muito. – Clara sorriu.

Eles conversaram mais um pouco e logo Clara finalizou a conversa, antes que Vanessa saísse do banho. Não levou muito e Vanessa
apareceu na sala.

 - Clara: Eu fiz o café pra minha ancuda. – Vanessa sorriu.

Vanessa: To morrendo de fome. – Vanessa andou até ela e a abraçou forte.

Clara: Coisa gostosa dormir e acordar com você, sabia?

Vanessa: Eu digo o mesmo. – Elas se olharam nos olhos. – Isso era o que eu mais queria.

Clara: Eu te amo muito, Van. – Vanessa sorriu boba.

Vanessa: Eu te amomais, Clarinha. – Clara sorriu. – Do que você está rindo?

Clara: Lembrei de quando nos conhecemos, daquele dia que você foi ao apê do Ju e desceu pelo corrimão.– Vanessa sorriu.

Vanessa: É, eu quase cai em cima de você.

 Enquanto tomavam o café elas iam lembrando desse dia, lá pelas onze e elas foram ao supermercado.

 - Vanessa: O que vamos comprar? – Ela empurrava o carrinho.

Clara: O pessoal fez uma listinha e nos passou a nossa metade.

Vanessa: O refri é com a gente?

Clara: Não, mas com toda certeza do mundo ninguém lá vai esquecer da sua Pepsi.

Vanessa: Bom mesmo.

Clara: O que vamos comprar de sobremesa?

-Vanessa: Sorvete. Ta muito calor.

 Pra ser mais rápido elas se separaram. Enquanto uma pegava uma coisa, a outra pegava outra coisa. Clara já aguardava Vanessa com o carrinho na fila do caixa.

 Vanessa: Pra você. – Vanessa encostou seu corpo nas costas de Clara e levou sua mão a frente dela mostrando um bombom. Clara sorriu e pegou o bombom.

Clara: Obrigada amor.

 A vontade delas era de darem um beijo, mas como estavam em público e próximas da casa de Clara, isso era impossível. Não demorou muito e elas já estavam a caminho da casa de Clara novamente. Chegando lá, elas colocaram as coisas na geladeira, guardaram as outras e foram trocar de roupa pra poderem esperar o resto do pessoal.

 Elas colocaram um biquíni e uma canga e não demorou muito o pessoal chegou e eles foram pra beira da piscina. Uns minutos conversando e a fome bateu.

Mayra: Ta bom, ta bom, quem vai assar a carne?

Junior: Deixa pro papai aqui.

Vanessa: Ih ferrou!

Junior: Ah o que é, hein? – Jogou um pouco de água em Vanessa. – Eu sou bom nisso e o Edu aqui…- O abraçou. –…vai me ajudar. Não vai meu bom?

Edu: Sobrou pra mim. – As meninas riram. – Ta bom, vamos lá espetar a carne. – Eles se levantaram e foram até a cozinha.

 Enquanto Junior e Edu lidavam com o churrasco, as meninas tomavam um solzinho.

 - Vanessa: E ai Paula, já começou a ter desejos? – Tomou um gole de sua cerveja.

Paula: Ainda não, só uma fome fora de hora de vez em quando.

Mayra: Nessas horas que é o ruim de ser o homem da relação.

Clara: Imaginem o Junior acordando de madrugada pra fazer algo pra Paula comer.

Vanessa: Preguiçoso do jeito que é.

Edu: Se depender do Junior a Paula ta ferrada.

Junior: O que é, hein? Cuida do teu espeto, valeu? – O pessoal riu.

Edu: Pra acordar o Junior é uma briga. Nem com água fria.

Paula: Ah não, quero ver se comigo ele não vai acordar. – Tomou um gole de sua cerveja.

Junior: Ae! – Se aproximou de Paula. – Você não acha que já tomou
cerveja demais, não? Meu filho não pode ser alcoólatra desde pequeno.

Vanessa: Só vai puxar o pai. – O pessoal riu.

Junior: É o sujo falando do mal lavado. Aqui são todos um bando de cachaceiros. E você me da essa cerveja. – Pegou a cerveja de Paula.

 Enquanto isso, Clara e Vanessa foram até a borda da piscina e lá ficaram fazendo carinho uma na mão da outra.

 - Vanessa: Esses dois não têm jeito mesmo.

Clara: Imagina o Junior na hora do parto.

Vanessa: Meu Deus, coitada da Paula.

 - Clara: Aposto que a Paula vai ter que assumir o controle ainda. – Vanessa sorriu.

Vanessa: E nós?

Clara: Nós o que?

Vanessa: Quando vamos ter o nosso bebê? – Clara achou graça, mas ficou séria ao ver que Vanessa estava falando sério.

Clara: Você ta falando sério?

Vanessa: Sim, eu quero muito ser mãe. Você não?

Clara: Ah, eu nunca parei pra pensar nisso. Mas como vamos fazer?

Vanessa: Inseminação.

Clara: E você vai engravidar?

Vanessa: Vou, morro de medo do parto, mas eu gostaria muito. – Clara começou a sorrir.

Clara: Imagina você grávida, toda lindinha com essa barriguinha enorme. – Vanessa sorriu enquanto Clara acariciava sua barriga.

Vanessa: Vai rindo, vai rindo. Você que vai fazer o papel do Ju, viu?

 Antes de continuarem o assunto, Junior chegou e as empurrou pra água caindo junto com elas.

 - Junior: É hora do banho!

 Logo o restante do pessoal caiu na água também.

 - Junior: Quem ta cuidando da carne?

Edu: O além.

Junior: Você abandonou o posto?

Edu: Ta muito quente Junior e ta quase pronto.

Junior: Se queimar eu te mato polenteiro.

Edu: Ah não! Polenteiro não! – Edu se aproximou de Junior.

Junior: O que vai fazer, trovador?

Edu: Ta faltando a lingüiça! – Edu mergulhou e tirou o bermudão de Junior.

Junior: Ah filho da mãe! Me da aqui a bermuda! – O pessoal ria de Junior.

Edu: Pede desculpas!

Junior: Ah sai fora cara, me da aqui a bermuda.

Edu: Sem desculpas, nada feito!

Junior: Eu to falando sério. – Edu saiu da piscina com a bermuda de Junior.

Edu: Da teu jeito pra sair daí que eu vou cuidar do churrasco.

Junior: Paula, me ajuda.

Paula: To descansando, não foi o que você mandou eu fazer?

-Junior: Vanessa?

Vanessa: Sem essa.

Clara: Nem olha pra mim.

Edu: Nem pense em pensar na May.

Junior: Ah é? Vão se virar contra mim? Então ta, desfrutem da visão. – Junior saiu pelado da piscina. As meninas riam de olhos fechados

 - Edu: Ah que nojo cara, que nojo! – Jogou a bermuda pra ele e ele a vestiu.

 Assim que a brincadeira acabou, eles foram almoçar, já era umas três da tarde e o pessoal estava louco de fome.Assim que comeram eles sentaram-se na sombra pra descansar um pouco.

 - Edu: Quer mais refri? – Ofereceu uma lata de refrigerante pra May.

Mayra: Obrigada. - Pegou a lata enquanto Edu sentava na espreguiçadeira ao lado.

Edu: E ai, como anda o trabalho?

Mayra: Graças a Deus ótimo. Ter seu próprio consultório é outra coisa. – Edu sorriu.

Edu: Imagino. Qualquer dia vou te fazer uma visita lá, posso?

Mayra: Claro, vai ser ótimo e vou cobrar.

Edu: Pode cobrar sim. Ah, sabe quem perguntou por você esses dias?

Mayra: Quem?

Edu: O senhor Antônio!

Mayra: Mentira que ele ainda lembra de mim! – May sorriu contente. – E como ele está?

Edu: Ah vai indo, um dia ta bem, outro com dor. Na verdade, sempre que conversamos ele pergunta de você. – May sorriu novamente.

Mayra: Seu avô é uma figura. Um vô e tanto.

Edu: É sim, eu sou um cara de sorte por ter ele comigo.

Mayra: E ele por ter um neto como você.

Edu: Você acha? – Eles ficaram se olhando por um tempo até que o clima foi quebrado pelo grito de Junior

 Junior: Ae gente, a surpresa chegou. – Todos olharam e viram Thais chegando.

Thais: Oi pessoas!

Vanessa: Thataaaaaaaaaaaa! – Thais correu até Vanessa e  abraçou. – O que faz aqui sua encapetada?

Thais: Vim tentar ter um futuro aqui com vocês. E ai Clara, tudo bem?

Clara: Tudo sim Thais e com você?

Thais: Melhor agora.

Edu: E ai Thais, bem vinda.

 Thais: Obrigada gente.

 O pessoal continuou conversando durante mais algumas horas.

 - Clara: E ai gente, vamos pra boate a noite?

Junior: Ótima idéia.

Mayra: Faz um tempinho que não saímos todos juntos mesmo.

Thais: Faz tempo que to querendo ir.

Vanessa: Amor, vou na cozinha, quer algo?

Clara: Quero sim amor, me traz um pouco de sorvete, por favor.

Vanessa: Trago sim. – Deu um selinho em Clara. – Alguém mais quer algo da cozinha?

Junior: Eu quero uma cerveja Vanzinha.

Paula: E eu uma água, por favor.

Thais: Eu vou com você Van.

 Thais e Vanessa retiraram-se e foram até a cozinha.

 - Vanessa: Mas e aí, o que te deu pra vir pra cá?

Thais: Ah sei lá, tava cansada da mesmice de Porto Alegre.

Vanessa: E quais os planos?

Thais: Ficar aqui um tempo, fazer algum curso, tentar um emprego.

Vanessa: E já sabe onde vai ficar?

Thais: Ainda não. Quero alugar um apartamento.

Vanessa: Deixa de bobagem! Fica no meu apartamento. Esse mês vou passar com a Clarinha lá, e se der certo vamos morar juntas logo, mas tenho certeza que ela não se importará.

Thais: Não Van, obrigada, mas prefiro alugar um apartamento.

Vanessa: Cabeçuda como sempre! – Deu um leve tapa na testa de Thais. – Tudo bem, mas então até você achar um apartamento você fica comigo, ok?

Thais: Certo! E ai, ta sério o lance agora?

 - Vanessa: Ela me pediu pra voltar. – Sorriu boba. – Mas vamos voltar agora, depois te conto tudo com detalhes.

Thais: Ta bom.

Elas pegaram o sorvete, a água e a cerveja e voltaram pra piscina. Assim que chegaram, Junior jogou Thais na piscina e Vanessa foi falar com Clara.

 - Vanessa: Amor, se importa se a Thais passar um tempo com a gente? Só até ela achar um apartamento.

Clara: Não amor, tudo bem.

 Junior, Edu e Thais estavam na piscina.

 - Junior: E ai Thata, já sabe onde vai querer morar?

Thais: Ainda não, não conheço nada aqui.

Edu: Se quiser posso ir com você e te mostro alguns lugares bons.

Thais: Poxa quero sim, muito obrigada.

Edu: Então beleza. Depois a gente troca telefone e marcamos o dia.

Mayra: Nossa, como ta todo preocupado com ela. – Sussurrou pra Paula que sorriu.

Paula: É amiga, cuidado.

Mayra: Cuidado com o que?

Paula: Com a Thais aqui. Bom, você não tem com o que se preocupar, afinal, você não quer nada com o Edu mesmo, né? –
Levantou-se. – Eu vou dormir um pouco, vamos?

Mayra: Pode ir, vou ficar por aqui
mesmo.

Paula: Até mais. – Retirou-se.