igor saykoji

The Way I Lose Her: Fix The Broken

Kita memperbaiki diri, dengan cara mencintai yang pernah patah. Dan kita pernah patah, ketika tengah serius mencoba untuk memperbaiki dengan sepenuh hati.

                                                            ===

.

Setelah puas memperkosa gue habis-habisan, Ipeh izin kebelakang mau mandi sekaligus ganti baju karena ia baru selesai latihan karate tadi di sekolah. Ketika Ipeh berkata seperti ini, gue langsung kehilangan setengah nyawa karena menyadari ternyata gue baru saja dihajar habis-habisan sama orang yang masih keringetan bekas olahraga. Astaga!! Gue langsung teringat seberapa menjijikan kaus kakinya yang pernah gue cium itu. 

Hrrr…

Sembari menunggu Ipeh yang mandi, gue iseng mengisi waktu dengan menghubungi lagi seseorang yang selalu ada ketika gue sendirian. Si Matematika Buku cetak. Namun setelah gue sms beberapa kali, ia tak kunjung membalas. Mungkin udah tidur kali ya. Alhasil sekarang gue makin nggak ada kerjaan, gue putar-putar isi inbox sms gue, liat-liat foto yang ada di galery, hingga suatu saat gue iseng melihat isi contact dan terpaku pada satu nama.

Wulan.

Tak bisa gue ingkari, gue juga pernah menjadi orang bodoh yang terjebak dalam masalah cinta. Sekarang coba kalian ingat-ingat, pernah nggak kalian mengalami patah hati yang sangat berat karena seseorang, terus tanpa sadar kalian menghampiri dan memberi harapan kosong kepada orang yang kalian tau bahwa dia ada sedikit menaruh rasa sama kalian. Dalam artian kasarnya, kalian ingin membalas dendam orang yang membuat sakit hati kalian, kepada seseorang yang suka sama kalian.

Semisal ada kejadian di mana tanpa sadar kalian tiba-tiba ngechat orang yang sebut saja tengah kalian “php”-kan itu, kalian ajak ngobrol, atau bahkan kalian ajak hang-out keluar. Pernah nggak kalian dalam situasi seperti itu?

Nah gue rasa sebagian orang pasti pernah mengalami hal-hal bodoh yang benar-benar tidak dewasa seperti apa yang gue ceritakan tadi di atas. Mencari pelampiasan dan mendatangi orang yang benar-benar peduli sama kalian walau kalian pernah tidak mempedulikan mereka.

Dan kebetulan saat ini gue sedang mengalami masa-masa seperti itu. Rasa sakit hati karena apa yang kak Hana lakukan membuat gue merasa ingin kembali bersama Wulan. Ingin merebut kebahagiaan Wulan. Dan ingin bercengkrama akrab lagi dengan Wulan.

Di HP gue kini sudah ada nomer Wulan. Sekarang keputusan gue untuk menelponnya atau tidak. Berkali-kali gue urungkan niat tersebut, namun berkali-kali juga gue melihat ke contact Wulan lagi. Gue diam sebentar, berusaha menenangkan diri dengan menarik nafas panjang. Dan pada akhirnya gue putuskan untuk berbicara menelpon Wulan.

Gue tekan tombol di HP, gue tunggu dengan hati yang berdebar-debar. Tak ayal ayat kursi pun sempat gue baca sebelum melakukan panggilan ini.

.

CLEK!
Panggilan gue di angkat oleh Wulan.

“Halo..” Ucap suara yang tak asing lagi dari ujung telepon sana. Mendengar suara Wulan, rasa-rasanya ada rasa nyaman tersendiri yang gue rasakan. 

Belum sempat gue menjawab, mendadak Wulan kembali berbicara.

“Halo? Maaf ini siapa ya? Halo?”

DEG!!
Gue terkejut. Gue terdiam lama. Pandangan gue kosong.. Wulan tidak mengenali nomer gue? Apa nomer gue dia hapus? Apa nomer gue sengaja pacarnya hapus? Apakah sebegitu terbuangnya gue bagi Wulan hingga nomer gue tidak ada lagi di HP-nya?

Gue menarik nafas panjang berusaha agar tetap berpikir positif. Gue terus meyakinkan diri gue sendiri untuk tetap berpikir yang baik-baik. Gue nggak boleh sakit hati lagi.

“Hai wulan..” Ucap gue pelan.

“Maaf, salah sambung.”

CLEK!
Mendadak telepon langsung ditutup sepihak tepat ketika gue baru saja menyapa Wulan. Gue shock, baru juga menyapa Wulan, eh teleponnya langsung di tutup. Mungkin saat ini adalah saat di mana gue benar-benar merasakan apa yang disebut dengan perumpamaan Sudah Jatuh Tertimpa Igor Saykoji. Sudah sakit hati karena tingkah laku egois kak Hana, sekarang gue harus menyadari bahwa Wulan sudah tidak mengenali suara gue lagi. Benar-benar berat. Lebih berat ketimbang meyakinkan orang-orang bahwa makan Bubur itu harus dibarengi dengan kerupuk.

Gue taruh HP gue ke dalam saku. Gue pakai kembali jaket gue dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah sambil menunggu Ipeh beres mandi. Sebelum memutuskan untuk pulang, gue sempatkan curhat sepintas dengan si Matematika Buku Cetak. Gue luapkan seluruh kekecewaan gue sekali lagi terhadap orang yang pernah berkata bahwa dia suka sama gue itu.

Kali ini gue sedang tidak memikirkan gue ini egois atau tidak, tapi yang jelas semua orang yang gue sayang sudah berlaku egois sama gue. Maka saat ini nggak ada salahnya jika gue berlaku egois juga kepada orang yang sayang sama gue. Otak gue benar-benar di luar kendali, gue luapkan seluruh kekesalan gue kepada seseorang yang gue beri nama dengan Matematika Buku Cetak tersebut.

Kesedihan paling menyebalkan adalah ketika kau sedang merasa sedih, dan tak ada satupun orang yang mau mendengarkan.


Simple sad story…

 

.

                                                             ===

.

Gue masih terdiam di ruang tamu sembari memegangi gelas yang sudah terlanjur kosong. Tatapan gue kosong menatap lantai dengan tangan berpangku di atas paha. Hingga pada akhirnya lamunan gue buyar ketika Ipeh kembali dengan pakaian yang membuat pikiran gue mendadak jadi tidak galau lagi.

Dia baru selesai mandi, pakai kaos barong dan celana pendek yang terbuat dari bahan kain doang pendek sepaha. Dia berjalan ke arah gue membawa setoples kueh coklat dan sembari terus mengeringkan rambut basahnya itu dengan handuk.

Aduh..
Nih anak apa kagak nyadar ya kalau lagi ada cowok di depan dia? Dengan polosnya dia mendatangi gue dengan pakaian yang benar-benar merusak karet celana gue. Untung aja lo nggak terlalu terlihat seperti cewek buat gue, Peh. Bisa bahaya ini stabilitas darah gue kalau saat ini Ipeh adalah seorang wanita yang girly. Bisa-bisa pembuluh darah gue ngumpul di satu tempat doang.

Astagfirullah..
Gue istigfar sambil elus dada dan paha. 
Paha sendiri, bukan paha Ipeh.

Ipeh menaruh toples coklat itu di depan gue lalu kemudian duduk di samping gue. Dia menaikkan kakinya ke atas sofa sehingga duduknya bersila. Gue yang duduk di sebelahnya cuma bisa berusaha mengatur pernafasan agar aliran darah mengalir sebagaimana mestinya. 

“Kenapa diem?” tanya Ipeh membuka toples.

“Kaga..”

“Kok kayak lagi ngatur nafas gitu. Kenapa?”

“…”

“Hoi kenapa hoi..” Ucap Ipeh semakin mendekat. Dan sekarang dia benar-benar ada di dekat gue. Nafas gue makin nggak karuan.

“Ih ditanya diem aja.. Fuuuuhhh.. Mbeeeee….” Ucap Ipeh pelan penuh manja sembari meniup kuping gue. 

“IH GETEK PEH!! JAUHAN GIH!! SEBELUM TERJADI HAL-HAL yang TIDAK DIINGINKAN!!" Gue mendorong tubuh Ipeh yang sudah melekat di tubuh gue.

"Dih Genit deh! Udah genit, pake acara marah-marah pula lagi. Huh.. ” Ipeh mencubit tangan gue.

“Ya siapa juga yang bisa tahan Peh kalau begini caranya. Elo juga kenapa kagak pake piyama aja sih?!”

“Kagak ah males, panas. Eh di luar aja yuk duduknya, panas di sini.” Ipeh menarik lengan gue menuju luar pekarangannya. Di sana ada satu buah sofa panjang.

“Kenapa Mbe? Kok mendadak jadi diem begini? Padahal tadi rasa-rasanya sebelum gue tinggal mandi, lo masih ceria deh.”

“Nggak, nggak papa kok..”

“Dih lagi ada masalah ya? Cerita dooong!” Tanya Ipeh.

“Kaga ada apa-apa gue bilangin juga.”

“Btw Mbe, emang lo boleh pulang malem ya? Jam segini masih di rumah temen emang nggak papa?”

“Eh? Gue? Kalau gue sih nginep tanpa ada pemberitahuan sebelumnya juga pasti boleh sama ortu, asal harus bilang aja sih.”

“Dih enak banget!”

“Iya, terus kalau nginep juga yang ditanya pasti motor gue. Motor gue digembok nggak? tempatnya aman nggak? motornya bisa dimasukin ke garasi nggak? Pokoknya yang lebih dikhawatirkan tuh motornya ketimbang gue.”

“Hahahahaha kok lucu sih orang tua lo Mbe?”

“Ntah.”

Kita pun terdiam cukup lama saat itu. Bagi gue yang memang belum menyentuh air sama sekali, udara Bandung malam ini tidak terasa begitu dingin. Berbeda dengan Ipeh, Ipeh yang keadaanya baru mandi ini pasti merasa kedinginan, apalagi dengan pakaiannya yang serba tipis itu. Gue sempat melirik dan melihat Ipeh dari tadi sedang memeluk lutut kakinya vertikal menutup dada supaya tidak kedinginan.

“Eh Mbe..” Tiba-tiba Ipeh memecah keheningan.

“Ngg?”

“Gue ngerasa kalau semua orang tuh berhak bahagia. Seburuk apapun orang-orang di luar sana memperlakukannya." Lanjut Ipeh lagi.

"Eh? Maksudnya?” Gue tidak mengerti.

“Iya, semua orang boleh bahagia. Walaupun suatu saat dia lagi dalam keadaan terjatuh, gue yakin keterjatuhannya itu bakal menunjukkan dia pada suatu tempat yang jauh lebih layak dan jauh lebih bisa membuatnya bahagia.”

“Loh ada angin apa kok lu tiba-tiba ngomong kaya gitu?”

“Contohnya, gue tadi emang lagi bete banget di sekolah. Pas tadi lagi istirahat pertama, mendadak coach karate gue nge-sms gue. Dengan seenaknya dia ngeganti jadwal latihan karate menjadi hari ini. Harusnya sekarang tuh gue ada rencana pergi keluar, Mbe. Tapi terpaksa gue cancel. Gue awalnya bete banget, tapi ternyata kalau semisal saat itu gue lebih memilih untuk menjalankan kepentingan gue dan nggak ikut latihan karate. Mungkin sekarang gue nggak akan ketemu lo kaya gini.” Jawab Ipeh sembari terus menggosok-gosokkan tangannya ke area kaki supaya hangat.

“…” Gue cuma diam memperhatikan.

Gue nggak tau ada angin apa Ipeh bisa dengan tiba-tiba berbicara seperti itu, namun setelah gue pikir-pikir lagi dengan matang, mungkin ucapan Ipeh ini ada benarnya juga. Mungkin saat itu jika gue memilih Wulan, gue nggak akan punya kesempatan untuk mencium kak Hana di Uks. Dan mungkin ketika saat itu kak Hana memilih gue di warnet ketimbang memilih pacarnya, mungkin gue nggak akan pernah bisa sedekat ini dengan Ipeh.

Gue percaya kalau Tuhan selalu bekerja dengan cara-cara yang misterius. Contohnya ya yang seperti ini. Siapa tau Tuhan memang mendorong gue keluar dari jalan agar menghindarkan gue dari tabrakkan yang memilukan. Mungkin awalnya gue bakal protes kenapa gue didorong dengan begitu keras sehingga lutut gue terluka oleh Tuhan? Tapi mungkin jika gue terus berjalan di tengah jalan itu, gue bakal tertabrak oleh mobil sehingga gue bisa mengalami luka yang lebih parah dari ini.

Tuhan itu baik. Mungkin awalnya kita tidak akan mengerti. Tapi dengan cara seperti itu kita akan jauh lebih bisa mensyukuri kenapa dulu kita dijatuhkan oleh Tuhan. Dan mungkin juga tadi siang gue dibuat malas untuk ikut ke rumah temen gue itu sehingga gue bisa bertemu Ipeh dan mendengarkan ocehannya ini, sehingga sekarang gue mulai mengerti atas apa yang terjadi selama ini. Iya, Tuhan bekerja dengan cara-cara yang misterius. Beliau menasehati gue melalui Ipeh.

Menyadari hal ini, gue langsung tersenyum menatap Ipeh. Gue lepas jaket gue, gue berdiri di depannya dan gue pakaikan jaket itu sehingga kakinya yang tengah ia tekuk menutup dadanya itu pun ikut tertutup. Ipeh sedikit terkejut dan menatap gue heran. Mungkin saat itu ada banyak pertanyaan di benak Ipeh perihal kenapa gue tiba-tiba bisa jadi baik kaya gini.

Tapi, ketika gue sedang mencoba men-sleting-kan jaket itu, mendadak pandangan kita tak sengaja bertemu. Gue melihat ke arah Ipeh, Ipeh melihat ke arah gue.

Kita terdiam. Hening.
Suasana mendadak jadi canggung.
Rambut Ipeh yang biasanya diikat kini sedang lurus tergerai. Wangi shampoo dan sabun yang ia gunakan benar-benar tercium di hidung gue dan terasa begitu nyaman. Gue terus terdiam sambil melihatnya.

Hmm.. kalau gue lihat-lihat lagi, ternyata Ipeh manis juga ya..

ASTAGA!!
APA yang GUE PIKIRKAN?!
NENEK LAMPIR KAYA GINI MASA GUE BILANG MANIS SIH?!
ASTAGFIRULLAH PASTI GUE KHILAF!!
INI OTAK GUE JADI SENGKLEK KAYA GINI PASTI GARA-GARA KEBANYAKAN MAKAN SAOS TOMAT WAKTU JAJAN CAKWE TADI SIANG DI KANTIN.

Gue mencoba menepiskan pemikiran aneh itu jauh-jauh. Kita masih terdiam saling tatap, dan gue akuin itu adalah tatapan tanpa suara paling lama yang pernah gue jalani bersama wanita hingga detik itu. Keadaan pun semakin lama semakin awkward. Tapi rasanya hanya gue yang merasa janggal dengan keadaan seperti ini. Sedangkan Ipeh tetap terlihat menatap gue dengan rona muka yang terheran-heran.

Karena gue nggak mau salah tingkah karena sesuatu yang cuma gue rasain sendiri. Gue langsung cepat-cepat men-sleting-kan jaket itu lalu kemudian berdiri.

“Gu..Gue pulang aja ya Peh sekarang." Ucap gue grogi.

Mendengar ucapan gue yang mendadak itu, tiba-tiba Ipeh heran. "Loh, kok udah mau pulang sih Mbe? Katanya nggak papa sampe malam juga?”

“Ngg.. nggak ah, gu..gue pulang aja peh.” Jawab gue seraya berjalan menuju tempat motor gue diparkirkan.

“Loh kok, terus ini jaket lo gimana Mbe?”

“Udah di elo dulu aja. Gue pulang dulu deh. Bahaya.” Ucap gue sembari menyalakan mesin motor.

“Eh bahaya apaan emang? Eh Mbe! Oi!! jangan pergi dulu. Oi gue nggak bisa gerak nih!!” Ipeh baru sadar kalau jaket yang gue pakaikan ke dirinya itu ternyata mencakup kaki yang tengah ia tekuk menutup dada. Sehingga ia tidak bisa berdiri.

Namun karena terlalu banyak gerak, tubuh Ipeh goyang sehingga ia oleng ke kiri dan terjatuh di sofa panjang itu tanpa bisa bertindak apa-apa.

“WOI DIMAS KAMBING SIALAN!! GUE NGGAK BISA GERAK OI!! LEPASIN DULU INI JAKETNYA!!!!”

“BHAHAHAHAHAHAHAK KAYA LEMPER LO!! Cocok dah! Lemper emang cocok diisi sama daging gajih kaya begitu.” Ucap gue sambil bersiap pergi meninggalkan rumah Ipeh.

“WAH SIALAN LO!! JADI LO NYEBUT GUE GENDUT!?! AWAS YA LO KALAU KETEMU!! MBEEEEEEEEE LEPASIN GUEEEEEEEE!!!!!” Ipeh meronta-ronta.

“Hahahaha sampai besok, nenek lampir~ Thanks martabaknya..” Ucap gue yang pada akhirnya pergi meninggalkan rumah Ipeh.

“DIMAS KAMBIIIIIIIIIIIIIING!!!!!”

Dari jauh gue masih mendengar suara Ipeh yang penuh dengan sumpah serapah ke arah gue yang sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya. Saat itu gue nggak tau gimana caranya Ipeh bisa keluar dari jaket gue, tapi yang jelas gue nggak boleh terlalu lama di sana. Gue nggak mau terjatuh di tempat yang nggak gue kehendaki seperti dulu lagi.

If you know what i mean.

.

                                                            ===

.

Gue memacu motor menuju rumah dengan kecepatan yang tidak lebih dari 40Km/Jam karena kedinginan nggak pake jaket. Sesampainya di rumah, gue langsung mandi dan rebah di atas kasur, dilanjut dengan curhat pada seseorang yang nggak gue kenal. One and only, Matematika Buku Cetak.

“Gue nggak tau lo udah tidur atau nggak, tapi gue pengen cerita nih. Tadi gue baru pulang dari rumah temen, cewek, temen sekelas kita, lo pasti kenal. Orangnya asik sih, gue nggak nyangka bisa sampe sedeket ini sama dia. Tapi dia ini tipe anak yang asik buat diajak seneng-seneng, kayaknya cocok banget kalau digabungin sama kegilaan gue dan Ikhsan. Btw, tadi ntah ada angin apa, tiba-tiba doi ngomongin tentang nasehat. Dan yang lebih hebatnya lagi, nasehatnya itu pas banget sama apa yang lagi gue rasain sekarang. Terus ada kejadian lagi. Ketika gue lagi ngasih jaket gue sama dia, kok tiba-tiba gue ngerasa ada sesuatu yang aneh gitu yah. Gue ngerasain ada rasa yang aneh. Gue tau ini perasaan apa, lo juga pasti ngerti maksud gue apa, tapi sumpah untuk saat ini gue nggak mau ngerasain perasaan ini.. hmmm..”

Gue send sms gue yang ngabisin sampai lebih dari 7 sms dalam sekali kirim itu. Gue ambil earphone, lalu kemudian memutar lagu yang ada di dalam HP gue. Namun, ketika gue sedang asik mendengarkan lagu coldplay, mendadak ada sms balasan masuk ke HP gue. Dengan sigap langsung gue baca.

“Kamu ketemu cewek baru lagi? Perasaan banyak amat sih kamu deket sama cewek. Terus itu kamu ngerasain rasa apa? aku nggak ngerti." 

Setelah beres membacanya, gue langsung membalas lagi.

"Aduuuuh, rasa itu tuh! ah masa nggak ngerti sih!”

“Apa coba? tinggal ngomong aja ribet bener.”

“Rasa suka.” Jawab gue singkat dan bete.

Selang 5 menit tak kungjung ada balasan SMS yang gue terima. Kok gue malah jadi ngerasa bersalah ya. Apa salah ya tindakan gue ini? Pffft cowok emang selalu salah.

Tret!
Satu sms masuk.

“Oh, terus itu kamu nggak mau suka sama dia emang alasannya apa?”

Gue terdiam sebentar, berpikir. Lha kenapa juga ya gue nggak mau suka sama Ipeh? Gue jadi bingung sendiri. Tapi ntah kenapa rasanya ada yang mengganjal kalau gue suka sama Ipeh, ntah apa. Namun yang jelas untuk saat ini rasanya gue pengen Ipeh cuma jadi temen gue doang. Nggak lebih.

Malam itu gue memutuskan untuk tidak melanjutkan SMS-an gue bersama orang yang belum gue kenal, gue sadar ada beberapa privacy yang harus gue hargai juga. Maka dari itu gue memilih untuk langsung berhenti, menaruh HP, lalu kemudian tidur.

06.15
Gue sudah ada di sekolah lagi. Gue parkirkan motor di tempat parkir, lalu menyempatkan diri membenarkan posisi rambut di spion. Sebelum pada akhirnya ada suara motor yang gue kenal datang. Motor butut warna merah datang dari gerbang dan langsung parkir agak jauh di depan gue. Pengendaranya turun melepaskan helm, mengambil buku dari dalam tas, menggulungnya, lalu kemudian jalan menghampiri gue.

Gue cuma diam saja melihat anak monyet yang satu itu sambil tersenyum. Namun ketika gue menyapanya, dia diam saja nggak bersuara dan malah semakin berjalan cepat menghampiri gue.

Hingga pada akhirnya..

BLETAK!!

Ada satu pukulan mendarat di kepala gue dari buku yang dia gulung. Gue yang nggak tau ada masalah apa ini, langsung loncat dari motor dan memasang kuda-kuda bertahan layaknya Joe Taslim lagi lawan Vin Diesel.

“EH BISUL KELABANG!! MAKSUD LO APA TIBA-TIBA DATANG TERUS NABOK KEPALA GUE?! LO KIRA KEPALA GUE KENDANG PAKE ACARA DITABOKIN SEGALA HAH?!” Tukas gue sambil memperagakan gerakan-gerakan karate meniru Ipeh.

Namun Ikhsan tidak menjawab, ia berjalan memutari motor gue dan menghajar kepala gue sekali lagi. Gue nggak tau masalah nih anak apa, tapi saat itu gue cuma bisa menghindar sambil terus menutupi kepala gue pake tas.

“NYET LO KEMASUKAN SETAN APAAN SIH NYET?!” Ucap gue sambil meringis memegangi kepala.

“Eh botol orson! kemasukan mata lu soek hah!! Seenaknya aja jadi orang ya lu! Mentang-mentang lagi galau jadi bisa bertindak seenaknya!” Ucap Ikhsan sambil terus nabokin gue pake buku yang di gulung.

“Aduh aduh aduh ampun ampun, apa salah hamba, Tuan…”

“Lo kemana kemaren sore bangke?!”

“Loh emang kenapa?”

“LO KAN UDAH JANJI MAU NEMUIN GUE DI RUMAH JAM 5!!”

Mendengar penjelasan Ikhsan, gue langsung terdiam, gue berpikir sebentar, mencoba mengingat apa gue pernah berjanji seperti itu sama Ikhsan.

“AH!! IYA!! GUE INGET!! Hahahahaha maaf nyet maaf gue lupa!”

BLETAK!
Satu pukulan mendarat di kepala gue lagi.

“Cengegesan lo kuya. Gue udah di rumah lo dari jam 4 kurang, sengaja izin pulang duluan ke si Bobby gara-gara khawatir sama ente. Eh pas nyampe rumah malah entenya nggak ada. Gue tunggu sampe jam 7 juga kaga pulang-pulang lu setan!!”

Gue merengut merasa bersalah, “Iya iya maaf nyet maaf, gue utang budi sama lo.. Tapi kenapa lo nggak sms atau miskol gue aja sih?" 

"Eh? Iya juga ya, kenapa gue nggak inisiatif nelepon elo aja ya..”

“….”

“Ah jangan mengalihkan topik pembicaraan deh. Kemana lo kemaren?!”

“Iya-iya gue bakal ceritain, sambil jalan ke kelas tapi.”

“Yaudah, beresin dulu tuh rambut, mau sekolah kok acak-acakan gitu.” Jawab Ikhsan sambil ngeleos pergi.

“Eh anak kampret, rambut gue jadi kaya begini juga gara-gara lo pukulin pake buku lo itu!”

“Jadi? Kemana kemarin? Tumben malem belum balik ke rumah?”

“Kemaren gue ke rumah Ipeh.." Jawab gue dengan suaran pelan.

"HAH?! IPEH? HANIFAH ANAK KELAS KITA?! SERIUSAN?!” Tanya Ikhsan sambil terkejut.

“Iya.”

“Ada angin apa lo bisa ke rumah dia? Udah deket lo sama dia?”

“Gini, jadi kemarin kan tuh gue ketiduran di kelas…”

Akhirnya gue ceritakan semua kejadian yang gue alami dari pertama ketiduran di kelas hingga gue yang meninggalkan Ipeh yang masih terikat dengan jaket gue itu sendirian di pekarangan rumahnya. Gue juga curhat ke Ikhsan perihal rasa aneh yang gue alami, tapi tampaknya Ikhsan lebih konsen ketika gue lagi menceritakan tentang 2 kakak semoknya Ipeh ketimbang cerita gue sama Ipehnya itu sendiri. Maklum, nih anak baru aqil baliq. Mungkin kalau dia pegangan tangan sama cewek juga dia mah langsung mimisan.

“Yaudah Dim, nggak usah ribet jadi cowok. Wajar kalau ada perasaan aneh saat liat cewek, terlepas dia itu tomboy atau enggak, tipe lo atau bukan. Paling cuma angin sepintas doang. Biarin aja lah. Gue aja waktu pertama liat guru bahasa Jepang kita juga agak jatuh cinta.” Tukas Ikhsan.

“Yaelah pake acara curhat segala. Tapi bener juga kata lo. Yasudah lah ya, nanti gue kenalin lo sama Ipeh deh.”

“Eh bener nggak papa? Dia nggak galak kan? serem ah dim.." Ikhsan ketakutkan.

"Gue juga sampe sekarang masih serem sih.." Jawab gue bisik-bisik.

Kita pun pada akhirnya sampai di kelas. Gue memilih untuk duduk bersama Ikhsan, membicarakan beberapa hal yang biasa para pria omongkan. Kalau nggak tentang cewek, tentang bokep, tentang game, ya tentang makanan. Hingga jam-jam pelajaran pun berlalu begitu saja tanpa gue sadari. Dari jauh gue kerap melihat ke arah Ipeh yang masih serius mengerjakan setiap tugas yang guru berikan. 

Melihat Ipeh yang berpenampilan beda dengan penampilannya di rumah kemarin, gue jadi berpikir, kenapa juga ya gue bisa sampe ada sekelibat rasa sama Ipeh. Rasa-rasanya malah jadi pengen ketawa, konyol aja kalau gue pikir-pikir sekali lagi. Mungkin benar kata Ikhsan, rasa nyaman kadang memang kerap kali membuat rasa suka tiba-tiba muncul di dalam dada.

.

                                                           ===

.

Bel istirahat jam 12 siang akhirnya berbunyi, gue dan Ikhsan pergi menuju Mushola untuk melaksanakan Ibadah Sholat Dzuhur sekalian menjalankan Ibadah ngecengin kakak kelas yang lagi wudhu. Tak ayal sebelum sholat dan membersihkan dosa, gue dan Ikhsan memilih membuat dosa terlebih dahulu dengan cara ngomongin kakak-kakak cewek yang lagi ngeggosip nunggu antrian air wudhu. 

Lagi asik-asiknya ngumpulin pundi-pundi dosa, tiba-tiba muncul sosok kak Hana menghampiri kita berdua yang lagi melepas sepatu. Ini nih nggak enaknya punya mantan pacar/mantan kecengan/ mantan PHP-an yang satu sekolahan. Kita bisa ketemu dia kapan saja dan di area sekolah mana saja. Membuat gerak-gerik untuk bersenang-senang di sekolah menjadi terganggu karena merasa was-was kalau suatu saat ketemu mantan. Pffft

Ikhsan kaget, gue juga begitu. Kita berdua termenung tak bersuara. Mengetahui keadaan yang bukan untuk dirinya itu, Ikhsan memilih untuk pergi mengambil air wudhu duluan meninggalkan gue. Ketika Ikhsan pergi, kak Hana langsung duduk di tempat yang tadi Ikhsan duduki. Dia tidak menatap gue, dia menatap lurus ke depan. 

"Ada apa?” tanya gue tanpa memandangnya sama sekali.

“Nggak papa sih, pengen duduk di sini aja.”

“Oh, yaudah deh, aku Sholat duluan kalau gitu ya..” Gue mengambil ancang-ancang berdiri. Namun tiba-tiba kak Hana menggenggam tangan gue.

“Duduk dulu dong bentar.” Pintanya.

Akhirnya gue kembali duduk di sebelahnya. Mencoba memasang wajah biasa saja agar tidak mengundang rasa curiga orang-orang yang ada di sekitar kita. Aneh rasanya kalau melihat kakak kelas cewek duduk berdua bersebelah-sebelahan sama adik kelas cowoknya.

“Maaf yaa..” Tiba-tiba kak Hana memecah keheningan.

“Maaf?”

“Iya, maaf kemarin aku malah ngomong kaya gitu. Memang kayaknya aku yang salah. Maaf ya Dim..”

“…” gue cuma terdiam.

“Aku sebenarnya nggak maksud gitu, cuman rasa-rasanya..”

“Oke oke, aku ngerti kok. Iya nggak papa, santai aja.” Ucap gue memotong pembicaraanya.

Gue merasa apa yang sudah berlalu biarlah berlalu. Apabila dia meminta maaf ya pasti gue maafkan, tapi nggak gue lupakan. Yang jelas apapun penjelasannya hari ini, itu adalah penjelasan yang telah ia siapkan sebelumnya. Sedangkan penjelasan yang ia jelaskan di hari kejadian beberapa hari yang lalu, itu adalah penjelasan yang benar-benar langsung berasal dari hatinya. Oleh sebab itu gue mencoba memotong penjelasan kak Hana sebelum gue mendengarkan beberapa kalimat bohong dan drama sekali lagi.

“Aku.. aku masih nggak pengen jauh Dim dari kamu.” Kak Hana menengok ke arah gue, namun gue tetap memandang lurus.

“…”

“Aku masih boleh deket kan Dim? Boleh kan Dim?” Ia menarik kerah lengan gue.

“Kalau misal nggak boleh, pas kamu datang tadi, mungkin gue udah langsung pergi sholat, Na.” Ucap gue.

“Iya maaf yaaa”

“Iya santai aja kok, lo masih boleh deket sama gue, tapi untuk yang sekarang, jangan ada kode apapun yang menyatakan hubungan kita untuk lebih dari teman ya, Na.” Tukas gue serius.

“…” kak Hana terdiam.

“Gue bakal melakukan apa yang sewajarnya teman lakukan ke teman lawan jenis yang sudah mempunyai pacar. " Lanjut gue lagi.

"Eh, Dim, tapi kalau misal aku mau minta anter kamu unt..”

“Eh, udah dulu ya, keburu bel masuk nih. Aku sholat duluan yaaa..” Ucap gue seraya pergi meninggalkannya sebelum ia merampungkan kalimat-kalimat yang bisa membuat gue goyah untuk mempertimbangkan lagi kalimat yang telah gue ucapkan sebelumnya.

.

                                                            ===

.

“Kak Hana ngomong apaan tadi?” Tanya Ikhsan sembari memakai sepatu.

“Pengen bisa deket lagi.” Jawab gue singkat.

“Terus? lo terima?”

“Iya.”

“Lha elu begok, ntar dia kaya kemaren lagi gimana?”

“Udah santai aja, kaga bakal gitu lagi kok gue.”

“Jadi cowok brengsek aja deh lo sekali-kali. Gimana?”

“Maksudnya?”

“Iya, sekarang gantian lu yang maenin dia. Toh cowok mah nggak akan kehilangan apa-apa kalau main-main juga.” Ucap Ikhsan dengan melakukan gerakan jari mengutip pada kata-kata ‘kehilangan apa-apa’.

“Hahahaha boleh juga, nanti deh gue pikirin.” Jawab gue sembari pergi ke arah perpus.

“Lha, elo mau kemana? Kagak ke kelas?”

“Duluan aja, gue ke perpus dulu bentar." 

"Udah bel masuk oi nyet.”

“Bawel ah, lagi males ke kelas gue.”

Akhirnya gue meninggalkan Ikhsan yang terus-terusan meneriakki nama gue. Gue pasangkan earphone di telinga lalu memutar lagu Bob Marley - Waiting In Vain. Lagunya benar-benar menggambarkan keadaan gue saat itu.

.

I Don’t wanna wait in vain for your love.
I Don’t wanna wait in vain for your love.

For the very first time i blessed my eyes on you, girl.
My heart say “Follow trough.”
But i know now that i’m way down on your line.
But the waiting feeling fine.

.

Perpustakaan gue ini karena memang gedungnya masih asli buatan Belanda, jadi atap perpusnya pun tinggi-tinggi. Sehingga membuat hawa perpustakaan ini benar-benar terasa begitu sejuk, cocok untuk tempat bolos kelas dan lenjeh-lenjeh baca buku. Perpustakaan gue ini juga menghadap langsung ke arah lapang basket, sehingga dari beberapa jendela perpus, gue bisa melihat anak-anak yang lagi pada main futsal karena tidak ada guru di kelasnya.

Namun kali ini gue memilih untuk duduk menghadap ke jendela luar ketimbang membaca buku. Gue duduk di atas meja sehingga bisa sambil berpangku dagu melihat anak-anak yang lagi asik main futsal. Sekarang sudah memasuki jam setengah 2, yang mengartikan sekarang di kelas sedang berlangsung pelajaran sosiologi. Walaupun ilmu sosial adalah pelajaran kesukaan gue, tapi sekarang gue lebih memilih melamun duduk di jendela perpus.

Mata gue perlahan mulai terasa berat. Angin sepoi-sepoi benar-benar membawa gue pindah ke alam bazrah. Hampir beberapa kali gue mau terjatuh dari meja gara-gara ketiduran.

Tret!
Ada satu SMS masuk. Dari Ikhsan. 
Karena lagi asik dengerin lagu Reggae yang membuat pundak gue goyang-goyang sendiri karena alunannya ini, gue memilih untuk tidak memperdulikannya. Namun tiba-tiba ada satu miskol masuk, dari nomer yang belum gue save sama sekali. Dan tanpa pikir panjang langsung gue angkat.

“Ha…”

“DIMANA?!” Mendadak ada pertanyaan dari sang penelpon tanpa membiarkan gue mengatakan kata-kata Halo terlebih dahulu.

“Hah?!”

“DIMANA?! JAWAB ATAU GUE TEMPELENG!!” Ucapnya kasar.

“I…ini siapa?” Tanya gue penasaran.

“PAKE ACARA NANYA INI SIAPA LAGI. DIMANA POSISI LO SEKARANG?! JAWAB!!”

“Di-di perpus.”

Tut… tut… tut…
Tiba-tiba telepon gue langsung ditutup sepihak sama orang tadi. Gue terdiam heran. Buset kaga ada tata-kramanya sama sekali. Gue nggak tau dia itu siapa dan dengan begoknya gue langsung nurut ketika orang itu nanya posisi gue lagi ada di mana.

Setelah tak ada lagi gangguan, gue kenakan kembali earphone gue dan mencoba membuka playlist lagu lagi. Namun ketika gue mau memutar kembali lagu Bob Marley yang sempat kepotong itu, mendadak dari belakang ada yang menjewer kuping gue. Sontak gue terkejut sambil teriak kesakitan.

“Aduuuuh duh duh duh duh, siapa sih?!”

“INI GUEEE!!”

“Eh elo peh? gue kira siapa. Sakit peh kuping gue, kenapa lo jewer gue sih?!”

“Lo tuh kemana hah?! Pake acara mabal segala. Pas lagi ada sesuatu penting kaya gini malah bolos pelajaran ih bego! Cepet ikut gue ke kelas!!” Jeweran Ipeh semakin keras.

“i-iya.. gu-gue bakal ke kelas, tapi bentar gue mau nanya, tadi yang nelepon tuh elo?”

“Iya, kenapa?”

“Bentar gue save dulu nomernya." Gue pun menyimpan kontak nomor Ipeh dengan nama 'Ipeh’

"CEPETAN!! LAMA AMAT!!”

“I-iya.. gu-gue rapihin baju gue dulu bentar Peh..”

“Nggak boleh, ayo cepet!” Ipeh menarik kuping gue kencang sehingga gue terpaksa mengikutinya dalam keadaan menahan sakit di telinga. Sepanjang perjalanan, Ipeh tidak mau melepaskan jewerannya sehingga tak ayal gue menjadi bahan tertawaan para kakak kelas yang tak sengaja melihat.

Dari jauh, di antara para kakak kelas yang lagi menertawai gue, gue melihat ada sosok kak Hana sedang memperhatikan ke arah gue dan Ipeh. Saat itu ntah kenapa gue merasa bahwa tatapanya benar-benar terasa tidak begitu mengenakkan.

.

.

.

.

                                                       Bersambung

Previous Story: Here

FreeDay : Perihal Melepaskan

.

Setelah sempat memposting beberapa gambar dari 9gag satu hari yang lalu. Gue jadi sadar, bahwasanya gue juga sempat ada di posisi yang sama dengan cowo ganteng yang ada pada gambar tersebut.

Gue bukan memposisikan gue ganteng ya gaes, bukan. Tapi kalau orang mau berkata seperti itu ya monggo, gue orangnya legowo kok. 

Jadi begini, sehabis melihat gambar kemarin, sempat terbesit beberapa pertanyaan yang mendadak selalu terngiang-ngiang di telingaku, mirip seperti lirik lagu dangdut Ike Nurjanah.

Pertanyaan tentang "Apakah gue sudah melepaskan dia?“ ini seakan menjadi pertanyaan yang gue sendiri nggak pernah sanggup dan bisa untuk menjawabnya. Pertanyaan itu selalu menghantui ketika gue sudah berniat untuk melangkahkan kaki menuju tempat berlabuh yang baru. 

Bisa diibaratkan dengan sudah jatuh terus tertimpa tangga, nggak enak. Sudah jatuh terus kegencet Igor Saykoji, apalagi. Maju kena mundur kena, mirip seperti judul Film Warkop pada era 90'an.

Beberapa cara sudah pernah gue lakukan  untuk menghilangkan pertanyaan brengsek tadi ketika gue akan melangkah. Dari cara yang pelan-pelan, sampe dengan cara yang nekat dan langsung JEBRET! AHAY! pada cewe yang gue suka.

.

                                                               ===

.

Case 1 : Keadaan Tidak Mengizinkan

Sebut saja dia Gwen Stacy. Cewek yang mempunyai lesung pipit ini gue kenal waktu fakultas gue lagi mengadakan sebuah acara open house dan perlombaan game komputer beberapa waktu silam.

Gue yang memang pada dasarnya males kumpul sama yang rame-rame ini, akhirnya terpilih untuk menjadi seorang operator salah satu stand komputer yang digunakan untuk demo sebuah program buatan anak Fakultas IT yang mirip dengan game Tic Tac Toe.

Gamenya unyu, warna pink. Kata orang yang ngebuatnya sih, game ini belum ada yang pernah namatin. Tentu mendengar kata-kata itu birahi gue sontak naik. Celana gue mendadak ketat. Gue tertantang untuk menelanjangi dan menghabisi seluruh level yang ada di game ini. 

"Alah, game kaya beginian doang sih gampang.” Kata gue menggampangi dalam hati.

Iya, selang 3 menit kemudian, gue terkapar sambil memegangi mata gue.

“AARGH! MY EYES! MY EYES!!" 

Di tengah keterkapran ini, gue cuma bisa bertanya dalam hati. ”Kenapa gambar background, backsound, dan gamenya harus berupa otaku semuaaaa?!“

Gue akhirnya sadar, pantas saja selama ini nggak ada yang bisa namatin game tersebut. Wong gambarnya cewek anime pinky pake baju minim dengan suara mendesah begitu. Suaranya mirip kaya orang ketawa HAHAHAHA tapi dibaca terbalik dengan Slow Motion pula.

Ah ah ah ah..

.

Nah ini salah satu wallpapernya.

.

Selama acara Open House ini berlangsung, gue cuma duduk saja diam sambil ngeliatin cewe-cewe dari fakultas lain sliweran di depan mata. Coba aja di sini ada ikhsan, pasti gue bisa nanya berapa kisaran nilai mereka di mata dia.

Wajar sih gue nggak ada kerjaan, game kaya gini siapa juga yang doyan maenin. Mau maenin aja bisa jadi malah jadi malu gara-gara backsound yang keluar waktu game ini mau mulai.

Kadang gue mau tahu sama apa yang dipikirkan setiap mahasiswi ketika melihat gue lagi duduk dengan wajah garang seperti ini disebelah komputer dengan wallpaper gambar begituan. 

Please! INI GAME YANG BUAT BUKAN GUE!!! :(((

Gue cuma bisa pasrah ngeliat para mahasiswi bisik-bisik sehabis nengok ke arah gue.

Tapi, mendadak perhatian gue tertuju sama seorang mahasiswi yang membawa nampan berisi jajanan pasar. Dia masuk dari gerbang Open House sambil sesekali melihat-lihat ke arah kumpulan stand komputer.

Anaknya manis, sedikit sipit, rambutnya hitam digerai, dan mempunyai lesung pipit. Melihat dia, gue seakan melihat surga. Di fakultas gue mana ada cewe kaya beginian. Kalaupun ada cewe, pasti berotot semua.

Gak butuh waktu lama bagi dia untuk menyadari bahwa gue di sini lagi ngeliatin dia sambil menelan ludah. Tanpa sengaja mata kita saling menatap, gue yang lagi duduk selonjoran ini mendadak menjadi duduk tegap dan mulai tersenyum.

Dan dengan manisnya, dia membalas tersenyum seraya berjalan menuju ke arah stand gue.

"Selamat siang.” Kata gue sambil mencoba tersenyum manis.

“Selamat siang juga.” Dia menjawab dengan suara lembut selembut terompet sasangkala.

Bah kiamat dong.

“Lagi cari dana ya? Dari fakultas mana nih?" 

"Eh iya, dari Manajemen. Mau beli?” Dia menyodorkan nampannya ke arah gue

“Wah boleh nih, kebetulan aku belum makan. Ada apa aja?” Kata gue seraya mengambil nampannya dan menaruh di sebelah layar komputer.

Sebenarnya gue udah makan sih, yaaa alibi cowo brengsek aja biar doi ada di sini terus nemein gue.

“Yaudah pilih aja, semua harganya sama kok, 5 ribu dapet dua." 

"Okee, aku pilih bentar yaa.” Kata gue sambil terus menatapnya tanpa menatap ke arah kue warna-warni di atas nampan. 

“Wah, gamenya lucu, boleh dimaenin?” Jawab dia sambil melihat ke arah layar monitor.

“Boleh, maenin aja” Jawab gue.

Akhirnya, selang 5 menit kemudian gue malah nggak jadi beli makanan. Makanannya gue taruh begitu saja, dan gue malah ngebantuin dia namatin game ini. Kebetulan game ini bisa dimainkan oleh 2 orang. Alhasil, nggak perlu waktu lama buat kita agar akrab dan tertawa-tawa.

Bersamanya, masa laluku serasa sirna.

Akhirnya gue kenalan sama dia, Gwen Stacy. Hubungan ini lama kelamaan menjadi lebih intense. Kita sering curhat, cerita, bahkan keluar untuk sekedar malam mingguan bersama. 

Baru kali ini, bersama dia gue memutuskan untuk bisa melangkah. Gue benar-benar bisa melupakan dia yang lama ketika bersama Gwen Stacy. Inilah yang membuat gue nekat menyatakan perasaan gue  walau baru kenal beberapa minggu doang.

“Gwen, aku sayang kamu, kamu jadi pacar aku ya? Deal nggak boleh nolak.”

“Ih kok gitu, kita kan baru seminggu kenalan.” Gwen terkejut.

“Gwen sayang, cinta itu bukan perihal durasi. Bahkan aku sanggup jatuh cinta sama kamu ketika pertama kali kamu menyapaku dulu itu, Gwen.”

“Ta-tapi, Dim.. Kamu kan tahu, aku juga sering curhat sama kamu, Aku masih belum bisa lepas dari Peter. Masa lalu aku.”

“Iya karena itu Gwen, aku mau menjadi masa depan kamu. Bersama, kita lupakan masa lalu dan merangkai masa depan kita berdua.”

“Ta-tapi.. Dim..”

“Kenapa lagi, Gwen?”

“Aku tahu kamu itu bisa bikin nyaman, orangnya rame, baik, pengertian, mau di porotin. Tapi, entah kenapa rasanya aku belum bisa melepaskan Peter Parker, Dim..” Gwen terlihat menunduk menahan air mata.

“Tapi Gwen..”

“Sudah, cukup, aku nggak mau bahas ini. Thanks for today, Dim”

“Eh Gwen tunggu.”

BRAK!!

Gwen membanting pintu mobilnya di depan kampus gue. Meninggalkan gue sendirian di kampus yang sudah gelap gulita. Perlahan-lahan, mobilnya hilang di persimpangan, dan perlahan-lahan dirinya juga hilang juga dari keseharian gue.

Semenjak saat itu, Gwen sudah tidak pernah menghubungi gue lagi.

Ya, inilah tragedi pertama yang membuat kita sulit dalam hal melepaskan masa lalu. Berharap nembak cepet biar guenya gak ragu, eh doinya sendiri yang malah ragu. Udah nebeng, nembak, ditolak pula. 

Bener-bener kampret. Ketika kita sudah mau melangkah, dengan sialnya keadaan tidak mengizinkan.

.

                                                       ===

.

Case 2 : Ragu Dan Mulai Membandingkan

Icha, Nisa, Astrid, Jejes, Nadia, Maya, Amel, Murni, Ata, Ine, dan Mega adalah beberapa mahluk cantik nan menggemaskan yang pernah datang dalam hidup gue beberapa tahun silam.

Dan dari sekian banyak mahluk nokturnal yang gue sebutkan di atas, belum ada satupun yang nyantol untuk sekedar bisa mengganti posisi seseorang yang sekarang masih mempunyai tempat special di hati ini. Mungkin ini semua alasannya satu. Ragu dan mulai membandingkan.

Oke, ternyata itu dua alasan.

Sebut saja Ine, salah seorang mahluk manis yang sempat menghiasi bulan-bulan penuh ceria gue ketika gue memang butuh seseorang untuk sekedar berbagi cerita.

Ine ini tubuhnya kecil, bisa dimasukin ke dalam saku saking kecilnya. Bisa juga dijadiin gantolan kunci. Image menggemaskan inilah yang membuat gue mencoba menjadikan Ine sebagai tambatan hati.

Dan Ine yang notabenenya anak sastra, sudah tentu suka dengan segala apa yang gue tulis. Dia selalu memperbaiki tulisan-tulisan yang bukan pada tempatnya di setiap puisi gue. 

Bahkan ada suatu saat ketika di mana gue minta Ine memperbaiki salah satu puisi gue yang bertema tentang keindahan seseorang, yang padahal puisi itu untuk dirinya sendiri.

“Ne, nih ada tulisan baru, bagus nggak? benerin dong kalau ada yang salah.” Gue menyodorkan satu lembar kertas berisi tulisan kepada Ine waktu lagi makan siang.

“Bentar aku cek yah..” Kata ine sembari menaruh sumpit Sushinya.

Dari sebrang meja, gue melihat Ine sebagai seseorang yang luar biasa, wajah seriusnya ketika membaca, tangan kecilnya yang memegang pensil, jaket cottonnya yang kedodoran. Dan masih banyak segelintir hal kecil yang tanpa dia sadari ternyata bisa menjadi inspirasi seseorang untuk menulis.

“Udah nih..” Kata Ine sambil memberikan kertas ke arah gue

“Wah tumben dikit nih revisinya. Gimana bagus ga?”

“Bagus banget! Romantis!”

“Weh romantis gitu? masa sih?”

“IYA!!! Masa gitu aja nggak ngerasa, kamu yang nulis kamu yang nggak ngerasa. Dasar.”

“Woke deh kalau begitu! tinggal dikasih judul aja berarti.” Gue mengambil pulpen dan mulai menulis

“Emang judulnya apa?” Ine menatap heran ke arah gue.

Gue membalas tatapannya, “Ine” Jawab gue sambil tersenyum pelan.

Ine kaget, matanya keluar, nggak deng bercanda. Ine cukup tertegun mendengar kalimat terakhir yang gue ucapkan tadi. Dia benar-benar tidak tahu lagi harus berkata apa. Alhasil siang itu Ine lebih sering diam ketika gue membacakan puisi yang sejatinya memang puisi untuk dia.

Tapi, semakin gue deket sama Ine, semakin juga gue membandingkan dia dengan seseorang di masa lalu. Sebut saja Geby.  Setiap gue ingin melangkahkan kaki untuk berhubungan jauh dengan Ine, setiap itu juga gue berfikir tentang hari-hari waktu gue masih bersama Geby.

Gue takut gue nggak bisa ngebahagiain Ine seperti apa yang gue lakukan dulu ketika masih bersama Geby. Gue takut Ine nggak bisa ngebuat gue nyaman. Tidak seperti Geby dulu yang memberi keluluasaan buat gue.

Gue mulai membanding-bandingkan siapa yang lebih baik, Ine atau Geby. Dan tentu saja Geby yang lebih baik. Kenapa? 
Karena pada dasarnya, durasi gue ketemu Ine bisa dibilang seperti IQ-nya Ikhsan. Pendek. Sedangkan durasi gue bersama Geby, gue sudah melalui itu bertahun-tahun. Tentu saja Ine selalu kalah jika dibandingkan dengan Geby.

Padahal yang gue tahu, Ine adalah sosok sempurna yang bahkan lebih dari Geby menurut gue sekarang.  Melepas Ine, adalah salah satu kesalahan gue, dulu.

“Teruslah kalian mencari yg terbaik, hingga pada akhirnya, kalian tidak akan berhenti pada pemberhentian apapun.” -Don Juan

Mendadak terdengar suara-suara ghoib ketika gue lagi nulis tentang Ine malam ini..

Gue cuma bisa hening..

.

                                                        ====

.

Case 3 : Gue suka Dia, Dia Suka Sama Orang Lain.

Oke, yang ini mah nggak usah gue jelasin. Bikin gue sakit hati aja.
Hih..

.

Case 4 :  Sendiri Tak Mengartikan Selalu Sendiri.

JLETAK!!!

Sip, ini kali ketiganya di mana senar gitar gue putus. Padahal nggak ada tanda-tanda lagi marahan, lah maen putus aja. Pasti senarnya beda agama ini mah..

*dikeplak pasangan beda agama*

Ada juga yang seperti ini, sebut saja Ahmad. Teman gue yang terkenal gara-gara cara pacarannya waktu kita masih SMA ini, sekarang sudah dicap sebagai jomlo sepanjang masa.

Hatinya sudah dingin, sedingin zombie pada film Warm Bodies. Dia tampak tak butuh wanita lagi. Kerjaanya sekarang hanya sembahyang dan mengaji. Mirip sama si Doel Anak Sekolahan.

Ahmad ini dulu waktu SMA paling terkenal karena sering pacaran. Dalam kurun 1 semester saja, dia bisa 5x pacaran. Dan itu ceweknya cantik-cantik pulak!

Memang kurang ajar si Ahmad ini. Padahal tampangnya nggak jauh beda sama Ban mikrolet. Alias datar dan nfgak ada menarik-menariknya. Tapi yang ngebuat gue tercengang tuh bukan tentang seberapa banyak jumlah mantannya, tapi status yang dia sandang sekarang waktu kita satu kuliahan.

Dia belum pacaran selama 3 tahun! Gila!
Coba kalian bayangkan gaes, seorang Ahmad belom pacaran selama 3 tahun ke belakang?! Ini sama aja seperti mengharap Bang Toyib pulang pada lebaran haji ke 3. Enggak mungkin banget!

Gue heran, gue gundah, apa jangan-jangan Ahmad sudah ikut sama aliran Felix Silau? Yang mengatakan bahwa pacaran itu haram. Hih..

Tidak mau melihat salah satu sohib gue menjadi seperti ini, akhirnya gue beranikan diri untuk bertanya kepada Ahmad.

“Bro..” Sapa gue waktu doi lagi maen ketipung di musola.

Astagfirullah, ane kaget..” Jawab ahmad sambil terus komat-kamit

“Gile lo, berubah amat. Perasaan kesamber geledek juga kaga. Nape lu jadi kaya gini?”

“Aelah lo, Dim, setiap orang kan bisa berubah." Kata Ahmad sambil masih asik ngelap ketipungnya.

"Tapi ini aneh, lo nggak  maunyoba pacaran lagi, Mad?” Tanya gue.

“Kaga ah, males” Jawabnya singkat.

“Astagifirullah, ane kaget.." 

"Anjir! kenapa sekarang malah elu yang ngikutin cara gue ngomong, Nyet!” Ahmad melempar pemukul ketipung ke arah kepala gue.

“Bro, dulu kan ente pacaran mulu tuh. Udah kaya minum obat aja. Sehari 3x. Lha sekarang nyentuh cewe aja kaga. Kenape lo? Dikebiri?”

“Haahahaha tai lo! Gue nyaman aja sendiri coy..”

“Nyaman?” Gue terheran-heran.

“Yoi, gue bosen bro pacaran, gitu-gitu aja, diperhatiin, diingetin makan, disuruh solat, dicemburuin, ada temen buat nonton, dan lain-lain.”

“Ngg… anu.. ini otak gue nggak kebalik kan yah?” Gue makin heran

“Kaga bro, gini deh gue jelasin. Ternyata sendiri itu nggak selamanya nggak enak coy. Sendiri itu nggak selalu mengartikan bahwa lo memang kesepian. Dengan sendiri itu, lo malah jadi bisa menikmati hidup. Lo bebas, lo bisa kemana aja sesuka lo. Lo gak harus ngerasa punya kewajiban buat ngejaga mahluk kampret yang minta diperhatiin mulu itu." Ahmad nyeramahin gue sambil maenin ketipung pada nada D Minor.

”…“ Gue nyimak.

"Lo pernah nonton bioskop sendirian nggak, Dim?”

“Ngg.. belum kayaknya. Kenapa?”

“Wuih enak bro, cobain deh. Lo bisa lebih fokus sama filmnya. Lo bisa beli banyak makanan cuman buat lo doang. Popcorn bisa beli 5 tanpa harus bagi-bagi. Kesannya egois sih, tapi diri sendiri kan emang harus dipentingin dong. Masa gue harus bahagiain orang lain sementara gue sendiri nggak ngerasa bahagia?" Kata Ahmad seraya menaruh ketipungnya.

"hooo..” Gue manggut-manggut.

“Lo bisa jalan bebas, pulang malem, hangout kemana aja, baca buku apa aja. Tanpa merasa dingganggu. Itu enaknya sendiri bro. Dalam sendiri, lo bisa terbang tanpa harus terpaku untuk pulang. Dengan bahagia dalam kesendirian, lo bisa lebih dewasa ketika Tuhan mempertemukan lo dengan kebersamaan.” Tambah Ahmad lagi.

“Anjir! Lo emang juara! Kaga nyangka gue si Raja Singa bisa jadi sebijak ini!” Gue tepuk-tepuk punggungnya.

“Jadi, lo mau belajar ketipung sama gue nggak bro?” Kata Ahmad sambil ngeluarin formulir pendaftaran jadi marbot Mushola.

“…”

.

Ternyata benar apa yang dikatakan Ahmad. Dengan sendiri, kita bisa terbang tanpa harus terpaku pulang. Sendiri tak selalu mengartikan sepi, tapi sendiri bisa mengartikan bahwa kamu cinta diri kamu sendiri.

Besoknya, sesuai dengan petuah Ahmad, gue tertarik untuk mencoba nonton film bioskop sendirian.
Iron man 3.

Dan ternyata bener!
Kiri kanan gue orang pacaran, gue di tengah sendirian. Kampret! Nggak seenak yang di omongin Ahmad! Yang lain pegangan tangan, gue pegangan gagang korsi! Setan!

CEN ASU TENAN!!

Tampaknya, gue masih perlu belajar banyak dari si Ahmad.
pfft..

.

                                                         ===

.

Oke gaes,  itulah bahasan kita hari ini. Tampaknya gue mau berkata bijakpun sudah cukup diwakilkan dengan beberapa kisah di atas, apalagi tentang teori kesendirian si Ahmad itu.

So gaes, nggak usah buru-buru dalam perihal melepaskan. Pun menemukan. Karena jika Tuhan tahu kamu sudah siap, tanpa dicaripun, dia akan datang mengajukan diri sebagai seseorang yang akan membimbingmu. Dan tanpa kamu sangkapun. Hatimu bisa luluh walau dia baru datang saat itu

Hehehehe, See you on next Freeday~.
Baybay..