igor saykoji

FreeDay : Perihal Melepaskan

.

Setelah sempat memposting beberapa gambar dari 9gag satu hari yang lalu. Gue jadi sadar, bahwasanya gue juga sempat ada di posisi yang sama dengan cowo ganteng yang ada pada gambar tersebut.

Gue bukan memposisikan gue ganteng ya gaes, bukan. Tapi kalau orang mau berkata seperti itu ya monggo, gue orangnya legowo kok. 

Jadi begini, sehabis melihat gambar kemarin, sempat terbesit beberapa pertanyaan yang mendadak selalu terngiang-ngiang di telingaku, mirip seperti lirik lagu dangdut Ike Nurjanah.

Pertanyaan tentang "Apakah gue sudah melepaskan dia?“ ini seakan menjadi pertanyaan yang gue sendiri nggak pernah sanggup dan bisa untuk menjawabnya. Pertanyaan itu selalu menghantui ketika gue sudah berniat untuk melangkahkan kaki menuju tempat berlabuh yang baru. 

Bisa diibaratkan dengan sudah jatuh terus tertimpa tangga, nggak enak. Sudah jatuh terus kegencet Igor Saykoji, apalagi. Maju kena mundur kena, mirip seperti judul Film Warkop pada era 90'an.

Beberapa cara sudah pernah gue lakukan  untuk menghilangkan pertanyaan brengsek tadi ketika gue akan melangkah. Dari cara yang pelan-pelan, sampe dengan cara yang nekat dan langsung JEBRET! AHAY! pada cewe yang gue suka.

.

                                                               ===

.

Case 1 : Keadaan Tidak Mengizinkan

Sebut saja dia Gwen Stacy. Cewek yang mempunyai lesung pipit ini gue kenal waktu fakultas gue lagi mengadakan sebuah acara open house dan perlombaan game komputer beberapa waktu silam.

Gue yang memang pada dasarnya males kumpul sama yang rame-rame ini, akhirnya terpilih untuk menjadi seorang operator salah satu stand komputer yang digunakan untuk demo sebuah program buatan anak Fakultas IT yang mirip dengan game Tic Tac Toe.

Gamenya unyu, warna pink. Kata orang yang ngebuatnya sih, game ini belum ada yang pernah namatin. Tentu mendengar kata-kata itu birahi gue sontak naik. Celana gue mendadak ketat. Gue tertantang untuk menelanjangi dan menghabisi seluruh level yang ada di game ini. 

"Alah, game kaya beginian doang sih gampang.” Kata gue menggampangi dalam hati.

Iya, selang 3 menit kemudian, gue terkapar sambil memegangi mata gue.

“AARGH! MY EYES! MY EYES!!" 

Di tengah keterkapran ini, gue cuma bisa bertanya dalam hati. ”Kenapa gambar background, backsound, dan gamenya harus berupa otaku semuaaaa?!“

Gue akhirnya sadar, pantas saja selama ini nggak ada yang bisa namatin game tersebut. Wong gambarnya cewek anime pinky pake baju minim dengan suara mendesah begitu. Suaranya mirip kaya orang ketawa HAHAHAHA tapi dibaca terbalik dengan Slow Motion pula.

Ah ah ah ah..

.

Nah ini salah satu wallpapernya.

.

Selama acara Open House ini berlangsung, gue cuma duduk saja diam sambil ngeliatin cewe-cewe dari fakultas lain sliweran di depan mata. Coba aja di sini ada ikhsan, pasti gue bisa nanya berapa kisaran nilai mereka di mata dia.

Wajar sih gue nggak ada kerjaan, game kaya gini siapa juga yang doyan maenin. Mau maenin aja bisa jadi malah jadi malu gara-gara backsound yang keluar waktu game ini mau mulai.

Kadang gue mau tahu sama apa yang dipikirkan setiap mahasiswi ketika melihat gue lagi duduk dengan wajah garang seperti ini disebelah komputer dengan wallpaper gambar begituan. 

Please! INI GAME YANG BUAT BUKAN GUE!!! :(((

Gue cuma bisa pasrah ngeliat para mahasiswi bisik-bisik sehabis nengok ke arah gue.

Tapi, mendadak perhatian gue tertuju sama seorang mahasiswi yang membawa nampan berisi jajanan pasar. Dia masuk dari gerbang Open House sambil sesekali melihat-lihat ke arah kumpulan stand komputer.

Anaknya manis, sedikit sipit, rambutnya hitam digerai, dan mempunyai lesung pipit. Melihat dia, gue seakan melihat surga. Di fakultas gue mana ada cewe kaya beginian. Kalaupun ada cewe, pasti berotot semua.

Gak butuh waktu lama bagi dia untuk menyadari bahwa gue di sini lagi ngeliatin dia sambil menelan ludah. Tanpa sengaja mata kita saling menatap, gue yang lagi duduk selonjoran ini mendadak menjadi duduk tegap dan mulai tersenyum.

Dan dengan manisnya, dia membalas tersenyum seraya berjalan menuju ke arah stand gue.

"Selamat siang.” Kata gue sambil mencoba tersenyum manis.

“Selamat siang juga.” Dia menjawab dengan suara lembut selembut terompet sasangkala.

Bah kiamat dong.

“Lagi cari dana ya? Dari fakultas mana nih?" 

"Eh iya, dari Manajemen. Mau beli?” Dia menyodorkan nampannya ke arah gue

“Wah boleh nih, kebetulan aku belum makan. Ada apa aja?” Kata gue seraya mengambil nampannya dan menaruh di sebelah layar komputer.

Sebenarnya gue udah makan sih, yaaa alibi cowo brengsek aja biar doi ada di sini terus nemein gue.

“Yaudah pilih aja, semua harganya sama kok, 5 ribu dapet dua." 

"Okee, aku pilih bentar yaa.” Kata gue sambil terus menatapnya tanpa menatap ke arah kue warna-warni di atas nampan. 

“Wah, gamenya lucu, boleh dimaenin?” Jawab dia sambil melihat ke arah layar monitor.

“Boleh, maenin aja” Jawab gue.

Akhirnya, selang 5 menit kemudian gue malah nggak jadi beli makanan. Makanannya gue taruh begitu saja, dan gue malah ngebantuin dia namatin game ini. Kebetulan game ini bisa dimainkan oleh 2 orang. Alhasil, nggak perlu waktu lama buat kita agar akrab dan tertawa-tawa.

Bersamanya, masa laluku serasa sirna.

Akhirnya gue kenalan sama dia, Gwen Stacy. Hubungan ini lama kelamaan menjadi lebih intense. Kita sering curhat, cerita, bahkan keluar untuk sekedar malam mingguan bersama. 

Baru kali ini, bersama dia gue memutuskan untuk bisa melangkah. Gue benar-benar bisa melupakan dia yang lama ketika bersama Gwen Stacy. Inilah yang membuat gue nekat menyatakan perasaan gue  walau baru kenal beberapa minggu doang.

“Gwen, aku sayang kamu, kamu jadi pacar aku ya? Deal nggak boleh nolak.”

“Ih kok gitu, kita kan baru seminggu kenalan.” Gwen terkejut.

“Gwen sayang, cinta itu bukan perihal durasi. Bahkan aku sanggup jatuh cinta sama kamu ketika pertama kali kamu menyapaku dulu itu, Gwen.”

“Ta-tapi, Dim.. Kamu kan tahu, aku juga sering curhat sama kamu, Aku masih belum bisa lepas dari Peter. Masa lalu aku.”

“Iya karena itu Gwen, aku mau menjadi masa depan kamu. Bersama, kita lupakan masa lalu dan merangkai masa depan kita berdua.”

“Ta-tapi.. Dim..”

“Kenapa lagi, Gwen?”

“Aku tahu kamu itu bisa bikin nyaman, orangnya rame, baik, pengertian, mau di porotin. Tapi, entah kenapa rasanya aku belum bisa melepaskan Peter Parker, Dim..” Gwen terlihat menunduk menahan air mata.

“Tapi Gwen..”

“Sudah, cukup, aku nggak mau bahas ini. Thanks for today, Dim”

“Eh Gwen tunggu.”

BRAK!!

Gwen membanting pintu mobilnya di depan kampus gue. Meninggalkan gue sendirian di kampus yang sudah gelap gulita. Perlahan-lahan, mobilnya hilang di persimpangan, dan perlahan-lahan dirinya juga hilang juga dari keseharian gue.

Semenjak saat itu, Gwen sudah tidak pernah menghubungi gue lagi.

Ya, inilah tragedi pertama yang membuat kita sulit dalam hal melepaskan masa lalu. Berharap nembak cepet biar guenya gak ragu, eh doinya sendiri yang malah ragu. Udah nebeng, nembak, ditolak pula. 

Bener-bener kampret. Ketika kita sudah mau melangkah, dengan sialnya keadaan tidak mengizinkan.

.

                                                       ===

.

Case 2 : Ragu Dan Mulai Membandingkan

Icha, Nisa, Astrid, Jejes, Nadia, Maya, Amel, Murni, Ata, Ine, dan Mega adalah beberapa mahluk cantik nan menggemaskan yang pernah datang dalam hidup gue beberapa tahun silam.

Dan dari sekian banyak mahluk nokturnal yang gue sebutkan di atas, belum ada satupun yang nyantol untuk sekedar bisa mengganti posisi seseorang yang sekarang masih mempunyai tempat special di hati ini. Mungkin ini semua alasannya satu. Ragu dan mulai membandingkan.

Oke, ternyata itu dua alasan.

Sebut saja Ine, salah seorang mahluk manis yang sempat menghiasi bulan-bulan penuh ceria gue ketika gue memang butuh seseorang untuk sekedar berbagi cerita.

Ine ini tubuhnya kecil, bisa dimasukin ke dalam saku saking kecilnya. Bisa juga dijadiin gantolan kunci. Image menggemaskan inilah yang membuat gue mencoba menjadikan Ine sebagai tambatan hati.

Dan Ine yang notabenenya anak sastra, sudah tentu suka dengan segala apa yang gue tulis. Dia selalu memperbaiki tulisan-tulisan yang bukan pada tempatnya di setiap puisi gue. 

Bahkan ada suatu saat ketika di mana gue minta Ine memperbaiki salah satu puisi gue yang bertema tentang keindahan seseorang, yang padahal puisi itu untuk dirinya sendiri.

“Ne, nih ada tulisan baru, bagus nggak? benerin dong kalau ada yang salah.” Gue menyodorkan satu lembar kertas berisi tulisan kepada Ine waktu lagi makan siang.

“Bentar aku cek yah..” Kata ine sembari menaruh sumpit Sushinya.

Dari sebrang meja, gue melihat Ine sebagai seseorang yang luar biasa, wajah seriusnya ketika membaca, tangan kecilnya yang memegang pensil, jaket cottonnya yang kedodoran. Dan masih banyak segelintir hal kecil yang tanpa dia sadari ternyata bisa menjadi inspirasi seseorang untuk menulis.

“Udah nih..” Kata Ine sambil memberikan kertas ke arah gue

“Wah tumben dikit nih revisinya. Gimana bagus ga?”

“Bagus banget! Romantis!”

“Weh romantis gitu? masa sih?”

“IYA!!! Masa gitu aja nggak ngerasa, kamu yang nulis kamu yang nggak ngerasa. Dasar.”

“Woke deh kalau begitu! tinggal dikasih judul aja berarti.” Gue mengambil pulpen dan mulai menulis

“Emang judulnya apa?” Ine menatap heran ke arah gue.

Gue membalas tatapannya, “Ine” Jawab gue sambil tersenyum pelan.

Ine kaget, matanya keluar, nggak deng bercanda. Ine cukup tertegun mendengar kalimat terakhir yang gue ucapkan tadi. Dia benar-benar tidak tahu lagi harus berkata apa. Alhasil siang itu Ine lebih sering diam ketika gue membacakan puisi yang sejatinya memang puisi untuk dia.

Tapi, semakin gue deket sama Ine, semakin juga gue membandingkan dia dengan seseorang di masa lalu. Sebut saja Geby.  Setiap gue ingin melangkahkan kaki untuk berhubungan jauh dengan Ine, setiap itu juga gue berfikir tentang hari-hari waktu gue masih bersama Geby.

Gue takut gue nggak bisa ngebahagiain Ine seperti apa yang gue lakukan dulu ketika masih bersama Geby. Gue takut Ine nggak bisa ngebuat gue nyaman. Tidak seperti Geby dulu yang memberi keluluasaan buat gue.

Gue mulai membanding-bandingkan siapa yang lebih baik, Ine atau Geby. Dan tentu saja Geby yang lebih baik. Kenapa? 
Karena pada dasarnya, durasi gue ketemu Ine bisa dibilang seperti IQ-nya Ikhsan. Pendek. Sedangkan durasi gue bersama Geby, gue sudah melalui itu bertahun-tahun. Tentu saja Ine selalu kalah jika dibandingkan dengan Geby.

Padahal yang gue tahu, Ine adalah sosok sempurna yang bahkan lebih dari Geby menurut gue sekarang.  Melepas Ine, adalah salah satu kesalahan gue, dulu.

“Teruslah kalian mencari yg terbaik, hingga pada akhirnya, kalian tidak akan berhenti pada pemberhentian apapun.” -Don Juan

Mendadak terdengar suara-suara ghoib ketika gue lagi nulis tentang Ine malam ini..

Gue cuma bisa hening..

.

                                                        ====

.

Case 3 : Gue suka Dia, Dia Suka Sama Orang Lain.

Oke, yang ini mah nggak usah gue jelasin. Bikin gue sakit hati aja.
Hih..

.

Case 4 :  Sendiri Tak Mengartikan Selalu Sendiri.

JLETAK!!!

Sip, ini kali ketiganya di mana senar gitar gue putus. Padahal nggak ada tanda-tanda lagi marahan, lah maen putus aja. Pasti senarnya beda agama ini mah..

*dikeplak pasangan beda agama*

Ada juga yang seperti ini, sebut saja Ahmad. Teman gue yang terkenal gara-gara cara pacarannya waktu kita masih SMA ini, sekarang sudah dicap sebagai jomlo sepanjang masa.

Hatinya sudah dingin, sedingin zombie pada film Warm Bodies. Dia tampak tak butuh wanita lagi. Kerjaanya sekarang hanya sembahyang dan mengaji. Mirip sama si Doel Anak Sekolahan.

Ahmad ini dulu waktu SMA paling terkenal karena sering pacaran. Dalam kurun 1 semester saja, dia bisa 5x pacaran. Dan itu ceweknya cantik-cantik pulak!

Memang kurang ajar si Ahmad ini. Padahal tampangnya nggak jauh beda sama Ban mikrolet. Alias datar dan nfgak ada menarik-menariknya. Tapi yang ngebuat gue tercengang tuh bukan tentang seberapa banyak jumlah mantannya, tapi status yang dia sandang sekarang waktu kita satu kuliahan.

Dia belum pacaran selama 3 tahun! Gila!
Coba kalian bayangkan gaes, seorang Ahmad belom pacaran selama 3 tahun ke belakang?! Ini sama aja seperti mengharap Bang Toyib pulang pada lebaran haji ke 3. Enggak mungkin banget!

Gue heran, gue gundah, apa jangan-jangan Ahmad sudah ikut sama aliran Felix Silau? Yang mengatakan bahwa pacaran itu haram. Hih..

Tidak mau melihat salah satu sohib gue menjadi seperti ini, akhirnya gue beranikan diri untuk bertanya kepada Ahmad.

“Bro..” Sapa gue waktu doi lagi maen ketipung di musola.

Astagfirullah, ane kaget..” Jawab ahmad sambil terus komat-kamit

“Gile lo, berubah amat. Perasaan kesamber geledek juga kaga. Nape lu jadi kaya gini?”

“Aelah lo, Dim, setiap orang kan bisa berubah." Kata Ahmad sambil masih asik ngelap ketipungnya.

"Tapi ini aneh, lo nggak  maunyoba pacaran lagi, Mad?” Tanya gue.

“Kaga ah, males” Jawabnya singkat.

“Astagifirullah, ane kaget.." 

"Anjir! kenapa sekarang malah elu yang ngikutin cara gue ngomong, Nyet!” Ahmad melempar pemukul ketipung ke arah kepala gue.

“Bro, dulu kan ente pacaran mulu tuh. Udah kaya minum obat aja. Sehari 3x. Lha sekarang nyentuh cewe aja kaga. Kenape lo? Dikebiri?”

“Haahahaha tai lo! Gue nyaman aja sendiri coy..”

“Nyaman?” Gue terheran-heran.

“Yoi, gue bosen bro pacaran, gitu-gitu aja, diperhatiin, diingetin makan, disuruh solat, dicemburuin, ada temen buat nonton, dan lain-lain.”

“Ngg… anu.. ini otak gue nggak kebalik kan yah?” Gue makin heran

“Kaga bro, gini deh gue jelasin. Ternyata sendiri itu nggak selamanya nggak enak coy. Sendiri itu nggak selalu mengartikan bahwa lo memang kesepian. Dengan sendiri itu, lo malah jadi bisa menikmati hidup. Lo bebas, lo bisa kemana aja sesuka lo. Lo gak harus ngerasa punya kewajiban buat ngejaga mahluk kampret yang minta diperhatiin mulu itu." Ahmad nyeramahin gue sambil maenin ketipung pada nada D Minor.

”…“ Gue nyimak.

"Lo pernah nonton bioskop sendirian nggak, Dim?”

“Ngg.. belum kayaknya. Kenapa?”

“Wuih enak bro, cobain deh. Lo bisa lebih fokus sama filmnya. Lo bisa beli banyak makanan cuman buat lo doang. Popcorn bisa beli 5 tanpa harus bagi-bagi. Kesannya egois sih, tapi diri sendiri kan emang harus dipentingin dong. Masa gue harus bahagiain orang lain sementara gue sendiri nggak ngerasa bahagia?" Kata Ahmad seraya menaruh ketipungnya.

"hooo..” Gue manggut-manggut.

“Lo bisa jalan bebas, pulang malem, hangout kemana aja, baca buku apa aja. Tanpa merasa dingganggu. Itu enaknya sendiri bro. Dalam sendiri, lo bisa terbang tanpa harus terpaku untuk pulang. Dengan bahagia dalam kesendirian, lo bisa lebih dewasa ketika Tuhan mempertemukan lo dengan kebersamaan.” Tambah Ahmad lagi.

“Anjir! Lo emang juara! Kaga nyangka gue si Raja Singa bisa jadi sebijak ini!” Gue tepuk-tepuk punggungnya.

“Jadi, lo mau belajar ketipung sama gue nggak bro?” Kata Ahmad sambil ngeluarin formulir pendaftaran jadi marbot Mushola.

“…”

.

Ternyata benar apa yang dikatakan Ahmad. Dengan sendiri, kita bisa terbang tanpa harus terpaku pulang. Sendiri tak selalu mengartikan sepi, tapi sendiri bisa mengartikan bahwa kamu cinta diri kamu sendiri.

Besoknya, sesuai dengan petuah Ahmad, gue tertarik untuk mencoba nonton film bioskop sendirian.
Iron man 3.

Dan ternyata bener!
Kiri kanan gue orang pacaran, gue di tengah sendirian. Kampret! Nggak seenak yang di omongin Ahmad! Yang lain pegangan tangan, gue pegangan gagang korsi! Setan!

CEN ASU TENAN!!

Tampaknya, gue masih perlu belajar banyak dari si Ahmad.
pfft..

.

                                                         ===

.

Oke gaes,  itulah bahasan kita hari ini. Tampaknya gue mau berkata bijakpun sudah cukup diwakilkan dengan beberapa kisah di atas, apalagi tentang teori kesendirian si Ahmad itu.

So gaes, nggak usah buru-buru dalam perihal melepaskan. Pun menemukan. Karena jika Tuhan tahu kamu sudah siap, tanpa dicaripun, dia akan datang mengajukan diri sebagai seseorang yang akan membimbingmu. Dan tanpa kamu sangkapun. Hatimu bisa luluh walau dia baru datang saat itu

Hehehehe, See you on next Freeday~.
Baybay..