ibu ayah

19. kebaikan laki-laki

kalau kita lihat, di dunia ini ada banyak sekali laki-laki yang baik. laki-laki yang rajin sekali ke masjid dan tekun sekali beribadah. laki-laki yang gigih sekali belajar dan giat sekali bersekolah. laki-laki yang begitu sungguh-sungguh bekerja dan menjemput nafkah. laki-laki yang sangat setia dan taat kepada kedua orang tuanya. laki-laki yang nyaris tidak punya catatan keburukan. kalau beruntung, kebaikan-kebaikan itu berkumpul di satu orang.

kalau kita pikir-pikir dan rasakan, mungkin ada laki-laki baik yang berbuat baik kepada kita (perempuan). menjadi sahabat dan mendengarkan seluruh keluh kesah kita. memberikan semangat setiap hari. mengantarkan kita pulang atau pergi. membelikan makanan saat kita sakit. mengirimi kita berbagai kado. menjadi orang pertama yang panik saat sesuatu tak baik terjadi kepada kita. menjadi yang paling penasaran atas tulisan kita atau karya kita. mungkin ada, laki-laki yang menyayangi kita.

tapi taukah kamu? sesungguhnya kebaikan laki-laki yang bisa terhitung oleh (ayah ibu) seorang perempuan hanyalah satu: melamarnya. kalau ada laki-laki yang mengaku memperjuangkanmu tapi tidak melamarmu, tidak menikahimu, percayalah bahwa perjuangannya belum penuh. sebaliknya, pun begitu. dia yang tidak (belum) berbuat apa-apa tetapi melamarmu, sesungguhnya dia telah melakukan segalanya.

sebab bukanlah perkara kecil bagi seorang laki-laki untuk meminta perempuan dari orang tuanya. tidak dua atau tiga kali dia bergelut dengan dirinya sendiri (terlebih dahulu). ada banyak risiko yang dia putuskan untuk ambil. ada sebongkah tanggung jawab besar yang tiba-tiba diangkatnya sendiri, hendak diletakkannya di pundaknya sendiri.

maka janganlah kita perempuan, yang belum menikah, terhanyut dalam kebaikan-kebaikan yang (masih) semu. maka tak perlu jugalah kalian laki-laki berbuat baik yang semu-semu itu. salah-salah malah ada harapan tidak perlu yang ikut tumbuh. pada suatu titik semua itu tidak penting. semua itu akan kalah dengan dia yang melangkahkan kaki kepada ayah.

maka janganlah kita perempuan, yang sudah menikah, iri dengan kebaikan-kebaikan yang dilakukan para laki-laki lain kepada pasangannya. apalagi tergoyahkan kesetiannya karena ada laki-laki yang baik kepada kita. semua itu kalah dengan dia yang telah melangkahkan kaki kepada ayah.

karena ada banyak laki-laki baik, tetapi kebaikan laki-laki hanyalah satu.
maka, hitunglah kebaikan yang satu itu–hitung baik-baik. :)

Bagaimana cara memutus siklus Anak Nakal ? (Catatan seorang saudara)

Saat ngopi bareng mas Dodik Mariyanto di teras belakang rumah, iseng-iseng saya buka obrolan dengan satu kalimat tanya:

“Mengapa anak baik biasanya semakin baik, dan anak nakal biasanya semakin nakal ya mas?”

Mas Dodik Mariyanto mengambil kertas dan spidol, kemudian membuat beberapa lingkaran-lingkaran.

“Wah suka banget, bakalan jadi obrolan berbobot nih”, pikir saya ketika melihat kertas dan spidol di tangan mas Dodik.

Mas Dodik mulai menuliskan satu hadist:

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الوَالِدِ

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua”

Artinya setiap anak yang baik, pasti membuat ridho orangtuanya, hal ini akan membuat Allah Ridho juga.

Tapi setiap anak nakal, pasti membuat orangtuanya murka, dan itu akan membuat Allah murka juga.

“Kamu pikirkan implikasi berikutnya dan cari literatur yang ada untuk membuat sebuah pola”, tantang mas Dodik ke saya.

Waaah pak Dosen mulai menantang anak baik ya, suka saya.

Setelah membolak balik berbagai literatur yang ada, akhirnya saya menemukan satu tulisan menarik yang ditulis oleh kakak kelas mas Dodik, yaitu mas Dr. Agus Purwanto DSc, disana beliau menuliskan bahwa anak nakal dan anak baik itu bergantung pada ridho dan murka orangtuanya.

Akhirnya kami berdua mengolahnya kembali, membuatnya menjadi siklus anak baik (lihat gambar siklus 1) dan siklus anak nakal ( lihat siklus 2)

Siklus Anak Baik ( siklus 1)

Anak Baik -> orangtua Ridho -> Allah Ridho -> keluarga berkah -> bahagia -> anak makin baik

Siklus Anak nakal ( siklus 2)

Anak Nakal -> orangtua murka -> Allah Murka -> keluarga tidak berkah -> tidak bahagia -> anak makin nakal

Kalau tidak ada yang memutus siklus tersebut, maka akan terjadi pola anak baik akan semakin baik, anak nakal akan semakin nakal.

Bagaimana cara memutus siklus Anak Nakal? Ternyata kuncinya bukan pada anak melainkan pada ORANGTUANYA.

Anak Nakal -> *ORANGTUA RIDHO* ->Allah Ridho -> keluarga berkah -> bahagia -> anak jadi baik.

Berat? iya, maka nilai kemuliaannya sangat tinggi. *Bagaimana caranya kita sebagai orangtua/guru bisa ridho ketika anak kita nakal?*

ini kuncinya:

*َإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ“*

“Bila kalian memaafkannya… menemuinya dan melupakan kesalahannya…maka ketahuilah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayan”.

(QS 64:14).

Caranya orangtua ridho adalah menerima anak tersebut, memaafkan dan mengajaknya dialog, rangkul dengan sepenuh hati, terakhir lupakan kesalahannya.

Kemudian sebagai pengingat selanjutnya, kami menguncinya dengan pesan dari Umar bin Khattab:

“Jika kalian melihat anakmu/anak didik mu berbuat baik, maka puji dan catatlah, apabila anakmu/anak didikmu berbuat buruk, tegur dan jangan pernah engkau mencatatnya”.

(Umar Bin Khattab)

Tidak ada anak nakal, yang ada hanyalah anak belum tau.

Tidak ada anak nakal, yang ada hanyalah orang tua yang tak sabar.

Tak ada anak nakal, yang ada hanyalah pendidik yang terburu-buru melihat hasil.

Semoga bermanfaat…

Saya suka dan merupakan salah satu paporit saya karena menurut saya Dr Zakir Naik itu cerdas… Semoga Allah selalu menjaga Beliau dan keluarganya

Dr Zakir Naik mengungkapkan bahwa jumlah misionaris saat ini mencapai satu juta orang.
Di antara mereka, ada yang tugasnya berkeliling untuk mendangkalkan aqidah umat Islam.

Salah satu caranya, memulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.

Pertanyaan Pertama

“Apakah dijelaskan dalam Al Quran bahwa Injil adalah firman Tuhan?”

Biasanya muslim yang ditanya demikian akan langsung menjawab, “Ya, disebutkan”

“Kalau begitu mengapa engkau tidak mengikuti Injil?”

Pertanyaan Kedua

“Berapa banyak nama Nabimu (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tahu akan menjawab, “Lima kali. Empat kali dengan nama Muhammad dan satu kali dengan nama Ahmad”

“Berapa banyak nama Yesus Kristus (Isa ‘alaihi salam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tidak tahu, akan diberitahu oleh misionaris yang mempelajari Al Quran itu.
Bahwa Isa disebutkan 25 kali.

“Mana yang lebih besar, Muhammad yang disebutkan lima kali atau Yesus yang disebutkan 25 kali dalam Al Quran?” demikian pertanyaan misionaris berikutnya.

Pertanyaan Ketiga

“Apakah Nabi Muhammad punya ayah dan punya ibu?”

“Ya”

“Apakah Isa (Yesus) dilahirkan dengan ibu dan ayah?”

“Isa memiliki ibu tetapi tidak memiliki ayah”

“Mana yang lebih hebat, orang yang dilahirkan dengan cara biasa dengan adanya ibu dan ayah atau yang terlahir tanpa ayah?”

Pertanyaan Keempat

“Apakah Nabi Muhammad memiliki mukjizat?”

“Ya”“Apakah Nabi Muhammad bisa menghidupkan orang mati?”

“Tidak” (Karena dalam Al Quran dan hadits tidak disebutkan mukjizat itu)

“Apakah Isa bisa menghidupkan orang mati?”

“Ya” (salah satu mukjizat Nabi Isa, dengan izin Allah, bisa menghidupkan orang mati)

“Mana yang lebih hebat, yang tidak bisa menghidupkan orang mati atau yang bisa menghidupkan orang mati?”

Pertanyaan kelima

“Apakah Nabimu Muhammad sekarang secara fisik meninggal atau hidup?”

“Meninggal”

“Apakah Yesus (Isa) sekarang meninggal atau masih hidup?”

“Masih hidup” “Mana yang lebih hebat, yang sudah meninggal atau yang masih hidup hingga sekarang?”

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat banyak muslim yang tidak memahami Al Quran menjadi bingung.
Namun, sebenarnya semuanya hanya pertanyaan licik misionaris. Jawabannya sudah ada dalam Al Quran.

Jawaban atas Pertanyaan Misionaris (1)

Di antara cara untuk mendangkalkan aqidah, bahkan sampai memurtadkan, misionaris menggunakan sejumlah pertanyaan.

Dr Zakir Naik membeberkan lima pertanyaan utama yang biasa dipakai para misionaris.
Berikut ini pertanyaan tersebut dan jawabannya:

Pertanyaan Pertama

“Apakah dijelaskan dalam Al Quran bahwa Injil adalah firman Tuhan?”

Biasanya muslim yang ditanya demikian akan langsung menjawab, “Ya, disebutkan”

“Kalau begitu mengapa engkau tidak mengikuti Injil?”

Jawaban atas Pertanyaan Pertama

Al Quran memang mengatakan Injil adalah kitab Allah sebagaimana Taurat juga kitab Allah.
Al Quran membenarkan keduanya, sebagaimana tercantum dalam Surat Ali Imran ayat 3.

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ

“Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil”
(QS. Ali Imran: 3)

Jadi Injil dibenarkan Al Quran sebagai kitab yang telah diturunkan sebelumnya.
Bukan berarti harus diikuti, sebagaimana Taurat juga dibenarkan sebagai kitab yang telah diturunkan sebelumnya tetapi tidak untuk diikuti.
Bahkan seharusnya, orang yang percaya pada Taurat dan Injil, mereka mengikuti Al Quran sebagaimana orang yang berpegang pada sesuatu akan mengikuti update terbaru dari sesuatu itu.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آَمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا

“Hai orang-orang yang telah diberi Alkitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Quran) yang membenarkan kitab yang ada pada kamu…”
(QS. An Nisa’: 47)

Selain itu, Injil yang dibenarkan Al Quran adalah Injil yang otentik.
Injil pada zaman Nabi Isa sebelum diubah oleh para pemalsu.
Adapun Injil yang ada sekarang, telah beberapa kali mengalami perubahan, misalnya pada Persidangan Nicea pada tahun 325 M.
Pada tahun 1881 dirilis Injil King James Version (KJV) yang merevisi beberapa hal yang dianggap bertentangan.
Pada tahun 1952 dirilis Revised Standard Version (RSV) atas dasar ditemukannya beberapa cacat pada KJV.

Pertanyaan Kedua

“Berapa banyak nama Nabimu (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tahu akan menjawab, “Lima kali.
Empat kali dengan nama Muhammad dan satu kali dengan nama Ahmad”

“Berapa banyak nama Yesus Kristus (Isa ‘alaihi salam) disebutkan dalam Al Quran?”

Muslim yang tidak tahu, akan diberitahu oleh misionaris yang mempelajari Al Quran itu.
Bahwa Isa disebutkan 25 kali.

“Mana yang lebih besar, Muhammad yang disebutkan lima kali atau Yesus yang disebutkan 25 kali dalam Al Quran?” demikian pertanyaan misionaris berikutnya.

Jawaban atas Pertanyaan Kedua

Nabi Isa ‘alaihis salam memang disebutkan dalam Al Quran lebih banyak daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Namun, penyebutan yang lebih banyak itu tidak menunjukkan siapa yang lebih besar atau lebih agung.

Nabi Musa, bahkan disebutkan lebih banyak lagi.
Nama Nabi Musa disebutkan sebanyak 124 kali dalam Al Quran.
Di Surat Al Baqarah 13 kali,
di Surat Ali Imran 1 kali,
di Surat An Nisa’ 2 kali,
di Surat Al Maidah 3 kali,
di Surat Al An’am 2 kali,
di Surat Al A’raf 18 kali,
di Surat Yusuf 7 kali,
di Surat Hud 3 kali,
di Surat Ibrahim 3 kali,
di Surat Al Isra’ 2 kali,
di Surat Al Kahfi 2 kali,
di Surat Maryam 1 kali,
di Surat Thaha 16 kali,
di Surat AL Anbiya’ 1 kali,
di Surat Al Hajj 1 kali,
di Surat Al MU’minun 2 kali,
di Surat Asy Syu’ara’ 8 kali,
di Surat An Naml 3 kali,
di Surat Al Qashash 17 kali,
di Surat AL Ankabut 1 kali,
di Surat As Sajdah 1 kali,
di Surat Al Ahzab 1 kali,
di Surat Ash Shafat 2 kali,
di Surat Ghafir 5 kali,
di Surat Fushilat 1 kali,
di Surat Az Zukhruf 1 kali,
di Surat AL Ahqaf 2 kali,
di Surat Adz Dzariyat 1 kali,
di Surat An Najm 1 kali,
di Surat Ash Shaf 1 kali, dan
di Surat An Naziat 1 kali.

Nah, jika karena disebutkan lebih banyak dalam Al Quran kemudian otomatis lebih agung, apakah orang-orang Nasrani mau mengakui bahwa Nabi Musa lebih agung daripada Nabi Isa?

Bahkan, jika karena disebutkan lebih banyak dalam Al Quran kemudian dianggap menjadi Tuhan, apakah orang-orang Nasrani mau mengakui bahwa Musa adalah Tuhan?

Satu hal lagi, Al Quran hampir selalu menyebut Nabi Isa lengkap dengan bin Maryam.
Hanya 4 kali nama Nabi Isa disebut sendirian tanpa bin Maryam yaitu pada Surat Ali Imran ayat 52,
Ali Imran ayat 55,
Ali Imran ayat 59, dan
Az Zukhruf ayat 63.

Selebihnya selalu disebut Isa bin Maryam.
Untuk menegaskan bahwa Isa adalah anak Maryam, bukan anak Tuhan sebagaimana klaim kaum Nasrani.

Pertanyaan Ketiga

“Apakah Nabi Muhammad punya ayah dan punya ibu?”

“Ya”

“Apakah Isa (Yesus) dilahirkan dengan ibu dan ayah?”

“Isa memiliki ibu tetapi tidak memiliki ayah”

“Mana yang lebih hebat, orang yang dilahirkan dengan cara biasa dengan adanya ibu dan ayah atau yang terlahir tanpa ayah?”

Jawaban atas Pertanyaan Ketiga

Nabi Isa memang tidak memiliki ayah. Namun, bukan berarti lebih hebat daripada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Apalagi jika kemudian dijadikan tuhan, sama sekali keliru.

Sekarang saya tanya, mana yang lebih hebat, Isa yang lahir tanpa ayah atau Adam yang tanpa ayah dan tanpa ibu? Jika Isa lahir tanpa ayah kemudian dijadikan tuhan, seharusnya Adam lebih berhak untuk dijadikan tuhan karena tidak memiliki ayah dan tidak memiliki ibu.

Al Quran menjelaskan penciptaan Isa dan Adam sebagai berikut:

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آَدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya misal (penciptaan Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam.
Allah menciptakan Adam dari tanah kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seoang manusia), maka jadilah ia”
(QS. Ali Imran: 59)

Karena lahir tanpa ayah, orang Kristen juga menyebut Yesus anak Tuhan. Dalam Yohanes 6:67-69, Yesus disebut anak tuhan oleh Petrus. Karena disebut anak tuhan, lantas dituhankan.
Padahal ada banyak orang yang disebut “anak Tuhan” dalam Injil. Adam adalah anak Tuhan,
Efraim adalah anak Tuhan,
Ezra adalah anak Tuhan.
Semua orang yang dituntun Tuhan adalah anak-anak Tuhan.
Jadi anak Tuhan adalah kata yang digunakan dalam Injil yang artinya seseorang yang mengikuti ajaran Tuhan.
Jika orang Kristen masih ngotot menjadikan Yesus sebagai Tuhan, carilah di Injil pernyataan Yesus yang mengatakan “Akulah Tuhan” atau “Sembahlah aku.”
Niscaya tidak akan pernah ketemu.

Pertanyaan Keempat

“Apakah Nabi Muhammad memiliki mukjizat?”

“Ya”

“Apakah Nabi Muhammad bisa menghidupkan orang mati?”

“Tidak” (Karena dalam Al Quran dan hadits tidak disebutkan mukjizat itu)

“Apakah Isa bisa menghidupkan orang mati?”

“Ya” (salah satu mukjizat Nabi Isa, dengan izin Allah, bisa menghidupkan orang mati)

“Mana yang lebih hebat, yang tidak bisa menghidupkan orang mati atau yang bisa menghidupkan orang mati?”

Jawaban atas Pertanyaan Keempat

Salah satu mukjizat Nabi Isa ‘alaihis salam adalah menghidupkan orang mati.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآَيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (dia Isa berkata), "Aku datang kepadamu dengan sebuah tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah berbentuk seperti burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah.
Dan aku menyembuhkan orang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta.
Dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah, dan aku beritakan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu orang beriman.”
(QS. Ali Imran: 49)

Namun ingat, yang menghidupkan orang mati itu adalah Allah.
Nabi Isa mengakuinya sendiri.
Demikian pula dalam Injil, Yesus mengakui bahwa yang menghidupkan orang mati adalah Allah.
Bukan dirinya.

Sahabatku Lazarus mati, maka kembalikanlah ruh kepadanya Tuhan “. Allah memperkenankan doanya dan berfirman, “Mintalah, sesungguhnya engkau akan memperoleh apa yang engkau minta”.
Ketika Yesus menyeru Lazarus agar keluar kepadanya, ia berkata, “Bapa, Aku mengucap syukur kepadamu, karena engkau telah mendengarkan aku.
Aku tahu, bahwa engkau selalu mendengarkan aku”
(Yohanes 11: 41-42)

Lalu besar mana mukjizat Nabi Isa dengan mukjizat Nabi Muhammad? Jika dikatakan bahwa menghidupkan orang mati adalah mukjizat terbesar Nabi Isa, ternyata dalam Injil disebutkan ada lima orang yang bisa menghidupkan orang mati.
Selain Nabi Isa (Yesus), mereka adalah Nabi Ilyas (Elia),
Nabi Ilyasa (Elisa),
Yehezkiel (seorang nabi di kalangan Nabi Israel menurut Injil), dan
Petrus.

Apakah dengan begitu, mereka semua juga dianggap sebagai Tuhan karena menurut Injil bisa menghidupkan orang mati?
Sungguh lucu.

Nah, berbeda dengan Nabi-Nabi sebelumnya yang mukjizatnya kadang serupa dengan Nabi yang lain, Rasulullah Muhammad memiliki banyak mukjizat dan yang terbesar adalah Al Qur’an.
Jika mukjizat yang lain sudah tidak bisa dilihat lagi bekasnya, Al Quran tetap ada hingga hari kiamat.

Dan Al Quran sendiri menantang siapapun di dunia ini untuk menandinginya, dan hingga saat ini tidak ada yang bisa menerima tantangan ini.

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ . فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Qur’ân yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Qur’ân itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allâh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya), dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakar nya manusia dan batu, (neraka itu) telah disediakan bagi orang-orang kafir.”
(QS. Al Baqarah: 23-24)

Anda berani menerima tantangan ini, Pak Misionaris?

Pertanyaan Kelima

“Apakah Nabimu Muhammad sekarang secara fisik meninggal atau hidup?”

“Meninggal”

“Apakah Yesus (Isa) sekarang meninggal atau masih hidup?”

“Masih hidup”

“Mana yang lebih hebat, yang sudah meninggal atau yang masih hidup hingga sekarang?”

Jawaban atas Pertanyaan Kelima

Pertanyaan ini justru akan meruntuhkan doktrin terbesar Kristen.

Dalam Al Quran memang dinyatakan bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam tidak disalib.
Yang disalib adalah orang yang diserupakan dengan Nabi Isa.

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا

Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu.
Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.
(QS. An Nisa’: 157)

Jika orang Kristen mengatakan Yesus masih hidup, berarti yang disalib bukan Yesus.
Sama seperti firman Allah dalam Al Quran tersebut.
Namun jika Yesus tidak mati disalib, tidak ada konsep penebusan dosa sebagaimana yang dijadikan pijakan gereja saat ini.
Jadi Anda meyakini yang mana?
Yesus masih hidup karena tidak disalib atau Yesus mati disalib?
Anda pasti akan bingung sendiri.

Adapun pertanyaan siapa yang lebih hebat, orang yang meninggal atau orang yang masih hidup, bukanlah pertanyaan yang tepat.
Anda masih hidup, Nabi Musa telah meninggal.
Siapa yang lebih hebat?

Khusus untuk Nabi Isa yang diangkat Allah dan nanti akan diturunkan menjelang hari kiamat, itu bukanlah kehebatan Nabi Isa atas Nabi Muhammad namun semata-mata atas kehendak Allah dalam rangka menegaskan kesalahan orang-orang yang menganggapnya sebagai Tuhan.

لَيْسَ بَيْنِى وَبَيْنَهُ نَبِىٌّ – يَعْنِى عِيسَى – وَإِنَّهُ نَازِلٌ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَاعْرِفُوهُ رَجُلٌ مَرْبُوعٌ إِلَى الْحُمْرَةِ وَالْبَيَاضِ بَيْنَ مُمَصَّرَتَيْنِ كَأَنَّ رَأْسَهُ يَقْطُرُ وَإِنْ لَمْ يُصِبْهُ بَلَلٌ فَيُقَاتِلُ النَّاسَ عَلَى الإِسْلاَمِ فَيَدُقُّ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ

“Tidak ada nabi (yang hidup) antara masaku dan Isa.
Sungguh, kelak ia akan turun, jika kalian melihatnya maka kenalilah.
Ia adalah seorang laki-laki yang sedang (tidak tinggi dan tidak terlalu pendek), berkulit merah keputih-putihan, beliau memakai di antara dua kain berwarna sedikit kuning.
Seakan rambut kepala beliau menetes meski tidak basah.
Beliau akan memerangi manusia hingga mereka masuk ke dalam Islam, beliau akan menghancurkan salib, membunuh babi dan menghapus jizyah”
(HR. Abu Daud; shahih)

Shalat

“Aa, Abang, Kaka. Masuk kamar!” suara Ayah tegas dengan nada dan volume cukup tinggi namun bermimik wajah lembut.

Ada apa gerangan? Ayah hampir tidak pernah sekeras ini saat berbicara. Terakhir ia berucap keras, itupun tidak sekeras orang-orang di sekitar rumahku yang gemar sekali bertengkar untuk mempersoalkan hal sepele, sekitar 3 bulan lalu saat Ayah beradu mulut dengan Ibu yang berujung perginya Ibu dari rumah. Meninggalkan 3 orang anaknya yang menangis tak berdaya. Dan kembalinya Ibu setelah seminggu lamanya pergi menghadirkan keharuan dan ucapan maaf dari Ayah.

Kami bertiga masuk ke kamar, menuruti perintah Ayah dengan kepala tertunduk. Peluh masih membasahi sekujur punggung, kami baru pulang bermain bola di kampung sebelah saat adzan Isya telah berkumandang. Memang kami terlalu larut bermain.

Kamar itu sebenarnya sebuah garasi yang disulap menjadi tempat tidur bersama dan ruang serbaguna dengan penerangan lampu seadanya. Aa bersila diantara aku dan Kaka yang juga ikut bersila. Kami sering disebut ‘Tiga Serangkai’ oleh tetangga karena selalu bertiga kemana-mana. Ayah pun bersila di hadapan kami. Wajahnya mempertontonkan kekecewaan yang semakin membuat kami ciut.

“Kenapa pulang selarut ini?”Ayah mulai menginterogasi kami.

Aa sebagai kakak lelaki pertama memposisikan diri sebagai juru bicara dan mulai berkilah panjang tentang alasan kenapa pulang larut malam. Mulai dari sendal Kaka yang hilang sebelah karena dijahili anak kampung sebelah hingga diajak main Playstation setelah main bola oleh Dodi, tetangga sekaligus teman karib kami bertiga.

“Sudah shalat maghrib?”

Sebuah pertanyaan yang mencekat. Aa diam membeku. Apalagi aku, Apalagi Kaka yang paling muda. Kami betul-betul lupa waktu saat itu. Hanya menundukkan kepala yang bisa kami lakukan. Mungkin karena ini wajah ayah begitu kecewa.

“Bu, tolong matikan lampu”, suara Ayah lembut kepada Ibu.

Ibu yang semenjak awal ternyata mendengarkan di balik pintu kemudian masuk dan mematikan lampu lalu duduk di samping Ayah. Kamar seketika gelap gulita.

“Apa yang bisa kamu lihat sekarang?”

Hening.

“Semua gelap. Lihat sekeliling kamu, hanya ada hitam. Tapi ulurkan tanganmu ke kanan dan ke kiri. Kamu akan merasakan genggaman tangan saudaramu dan Ayah Ibu.”

Kami saling menggenggam.

“Tapi tidak lagi saat nanti di alam kubur. Karena kamu akan sendirian dalam kegelapan. Tidak ada saudaramu. Tidak ada Ayah Ibu. Hanya sendiri. Sendiri dalam kegelapan dan kesunyian.”

Aku tercekat. Semua terdiam. Genggaman tangan di kanan kiriku mengerat. Lalu terdengar suara korek api kayu dinyalakan, sesaat tergambar wajah Ayah, Ibu, Aa, dan Kaka akibat kilatan cahaya api pada korek yang dinyalakan Ayah. Semua berwajah sendu. Korek itu membakar sebuah benda yang menghasilkan bara berbau menyengat. Bau obat nyamuk.

“Siapa yang berani menyentuh bara ini?” Suara Ayah masih mendominasi.

Semua diam. Masih diam.

“Ini hanya bara. Bukan api neraka yang panasnya jutaan kali lipat api dunia. Maka masihkah kita berani meninggalkan shalat? Shalat yang akan menyelamatkan kita dari gelapnya alam kubur dan api neraka.”

Terdengar suara isak tangis perempuan. Itu Ibu. Genggaman kami semua semakin menguat.

“Tolong Ayah. Tolong Ibu. Ayah Ibu akan terbakar api neraka jika membiarkan kamu lalai dalam shalat. Aa, usiamu 14 tahun, paling dewasa diantara semua lelaki. Abang, 12 tahun. Kaka, 10 tahun. Bahkan Rasul memerintahkan untuk memukul jika meninggalkan shalat di usia 10 tahun. Apa Ayah perlu memukul kamu?”

Suara isak tangis mulai terdengar dari hidung kami bertiga. Takut. Itu yang kurasakan. Kami semua saling mendekat. Mendekap, bukan lagi menggenggam.

“Berjanjilah untuk tidak lagi meninggalkan shalat. Apapun keadaannya. Sekarang kita shalat Isya berjamaah. Dan kamu bertiga mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”


Sebuah cerpen pengingat.

Senin, 17 Oktober 2016, 0:01 WIB

JANGAN DIBANDING-BANDINGKAN

Sore itu, suasana rumah begitu tenang. Angin mengalir, sepoy dan manja. Namun, seketika suasana berubah menjadi mencekam, derap langkah seorang wanita terdengar begitu jelas, mendekat ke ruangan anaknya yang sedang bermain gadget di kamarnya.

“Adek, ibu baru liat nilai ulangan kamu. Kenapa nilainya hanya segini?” Suara sang ibu, mengagetkan sang anak

“Euum, itu bu, ulangannya susah. Gurunya suka gak jelas neraninggan. Jadi adek gak paham”

“Ah, alasan aja kamu. Kamu tuh ibu liat memang jarang belajar. Tuh liat, kamu waktu kosong malah dipake main handphone, bukannya baca buku.”

Anak merenung, ia tahu, ini hanya akan jadi perdebatan tanpa ujung jika ia melawan.

“Tuh, lihat tetangga kita, pak adit. Anaknya itu rankingnya bagus, selalu masuk 5 besar. Pintar. Kamu itu harus kayak begitu, harus pintar, kalau bodoh, mau bagaimana masa depan kamu nanti, coba pikirin.”

“Teman mamah aja, kemarin anaknya berprestasi, bisa dapet beasiswa. Kamu tuh harus kayak gitu dong. Bukannya malah main terus, kerasa kan sekarang nilainya jadi jelek begini”

Sang anak semakin merenung, ia tahu, ia harus menerima perkataan pahit dari ibunya.

“Sudah, matiin Handphonenya. Sekarang, balik ke meja belajar kamu, belajar sana yang bener, biar pinter. Ini juga buat kamu kok dek kalau pinter, bukan buat ibu. Buat masa depan kamu”

Sang anak menyimpan handphonenya. Keceriaan di sore itu hilang seketika. Sang anak kembali ke meja belajar. Membuka-buka buku yang entah sebenarnya dia sendiri bingung mau membuka buku apa, karena dia tidak punya mood untuk belajar sesungguhnya. Dia akhirnya membuka sebuah buku, bukan karena dia ingin belajar, dia hanya ingin ibunya cepat pergi dari pandangannya. Selang beberapa saat, ibunya akhirnya kembali ke ruang tengah.

Selepas itu, sang ibu berdiam di depan ruang sang anak, menonton tayangan televisi sembari duduk diatas sofa biru yang nyaman. Sambil menikmati manisan yang tersedia di atas meja. Tidak begitu lama, ayah datang, melihat ibu yang sedang duduk santai.

“Mamah, papah baru liat deh, kayaknya mamah sekarang badannya makin gendutan yah?” Ayah bertanya pada ibu

“Loh, kok papah bilang gitu sih. Ini mamah udah usaha buat ngecilin badang loh pah” Jawab sang istri.

“Ah, mamah kurang serius kali ngecilin badannya. Coba atuh olahraga yang lebih rajin.”

“Tuh, lihat tetangga kita, pak adit. Istrinya itu badannya bagus, langsing. Rajin sekali olahraga tiap pagi. Mamah harusnya bisa kayak begitu, harus rajin. Kalau makin besar begini, mau bagaimana ke depannya mah, nanti malah gampang sakit loh”

“Kemaren temen papah aja, ada yang rajin olahraga, sekarang kurusan. Ayo dong mah, harus kayak begitu. Ini juga demi kebaikan mamah kok.”

Sang ibu menghentikan makannya. Mengalihkan pandangan yang awalnya tertuju pada makanan, kepada mata sang ayah.

“Papah, kenapa sih papah ngebanding-bandingin mamah sama yang lain. Mamah gak suka tau kalau dibandingin sama orang lain. Lagian, setiap orang itu kan berbeda-beda pah.”

“Coba, sekarang mamah nanya, papah udah bantuin apa biar mamah bisa kurusan? Papah cuman bisa nanya aja sama ngomong aja, tapi enggak bantu mamah. Padahal, mamah perlu diingetin, perlu dibantuin, kan mamah juga pengen kurus sebenernya”

Perkataan sang ibu membuat sang ayah terdiam sejenak, tidak bisa berkata apa-apa.

Diluar dugaan, sang anak mendengar percakapan tersebut dari dalam kamarnya. Dari balik kamarnya, ia mengeluarkan setengah badannya, sambil menghadap kepada ibunya, sembari bertanya.

“Terus, kenapa kalau begitu, tadi mamah memarahi adek dan membanding-bandingkan adek mah?”

Sang anak langsung masuk kembali ke kamarnya. Menutup pintu, dan menguncinya. Kini, sang ibu yang terdiam. Terdiam dan tak tahu harus menjawab apa, karena kini ia baru memahami rasanya dibanding-bandingkan dengan orang lain.

Sang ibu merasa malu, karena dengan mudahnya ia membandingkan anaknya dengan anak orang lain. Tapi ia tidak membandingkan perlakuan dirinya, dengan perlakuan orangtua dari anak-anak yang pintar lainnya. Memang, tiada yang senang jika dibanding-bandingkan. Tapi tentu, setiap orang pasti senang, jika ia dibantu dalam permasalahannya.

Di sore itu, sungguh terdapat banyak pelajaran, bagi mereka yang memang mengambil pelajaran.

JANGAN DIBANDING-BANDINGKAN
Bandung, 22 Agustus 2017

sederhana

boleh dibilang, angkatan-angkatan pertama smk wikrama yang didirikan ayah dan ibu terdiri dari siswa-siswa yang dhuafa. kebanyakan dari mereka adalah anak-anak pedagang asongan atau penjaga villa, supir angkot paling keren. saking dhuafanya, mereka pergi ke sekolah tanpa sarapan. bukan pemandangan yang aneh jika saat upacara satu per satu siswa pingsan. inilah yang kemudian mendorong lahirnya program makan roti, telur, dan minum susu gratis di sekolah.

boleh dibilang, berkecimpung dalam dunia pendidikan yang memang benar-benar bercita-cita untuk mengentaskan bangsa dari kemiskinan dan kebodohan membuat ayah dan ibu sangat dekat dengan mereka yang hidupnya serba kurang. alhasil, ayah dan ibu selalu mendidik kami anak-anaknya tentang kesederhanaan. pernah kami mendapati ibu menekuk wajah saat kami makan di restoran all you can eat. kata ibu, ibu teringat dengan siswa-siswanya yang tidak bisa makan karena tidak ada uang. makanan yang melimpah ruah itu tak terasa nikmatnya.

pernah suatu hari ayah dan ibu membeli sedan yang lumayan bagus. maksudnya sih, supaya lebih nyaman setiap harus melakukan perjalanan–berhubung keduanya sering berkeliling ke sana sini. tidak bertahan lama, akhirnya mobil tersebut dijual lagi, diganti dengan city car yang jauh lebih sederhana. kata ibu, apa enaknya naik mobil keren lalu saat masuk gang sekolah yang lebarnya hanya sebadan mobil dilihat oleh warga? tidak enak menunjukkan kita punya, yaitu saat banyak yang tidak, saat banyak yang masih kekurangan.

setiap mengingat ayah dan ibu, saya seringkali merasa malu. betapa diri saya sangat jauh dari sifat hemat, betapa kesederhanaan saya selama ini hanyalah karena keadaan. ketika sudah punya sedikit lebih, keinginan saya pun terus bertambah, bahkan berkali-kali lipat. apalagi sejak punya mbak yuna, rasanya saya selalu ingin memberikan yang terbaik–termasuk dalam materi.

padahal, dulu semasa saya kecil, ayah dan ibu sangat menahan nafsu untuk memenuhi keinginan diri dan keluarga sendiri. apa yang lebih diperuntukkan bagi sekolah, bagi orang banyak. kami saja baru menempati rumah sendiri pada tahun 2008, 22 tahun sejak ayah dan ibu menikah.

mungkin, jawabannya adalah karena saya jauh dari mereka yang serba kurang, karena yang saya lihat setiap hari (di media sosial) adalah teman-teman kelas menengah yang hobi jalan-jalan, makan-makan, punya penghasilan besar, punya ini dan itu. saya pun ikut-ikut ingin menjadi wah. padahal, di sekitar kita, dekat dengan kita, banyak yang memerlukan bantuan.

tulisan ini adalah renungan bagi diri sendiri agar saya senantiasa memilih yang baik, membelanjakan uang pada yang baik. apakah baju anak seharga 250 ribu itu perlu ataukah saya hanya menginginkannya? uang yang sama, kalau dibelikan susu formula untuk anak susuan saya, bisa dipakai sampai sebulan. apakah ikut mas yunus konferensi sekalian jalan-jalan itu perlu atau saya hanya menginginkannya? tiket plus akomodasi, kalau dibayarkan untuk kursus yang saya ambil, bisa membeasiswai satu orang.

selalu ada manfaat yang hilang setiap kita membuat sebuah keputusan. tugas kita adalah memastikan bahwa manfaat yang hilang tersebut bukanlah yang lebih perlu, yang lebih penting, atau yang lebih genting.

tulisan ini sekaligus renungan dan ajakan untuk mengganti wajah media sosial kita, karena tanpa sadar, yang kita tampilkan adalah berita dan ajakan untuk menjadi seperti diri kita.

don’t merely show what you eat, where you go, things you own. show your kindness, spread it. show your work, be proud of them. show your ideas, share them. show humanity. show flaws. show modesty.

kesederhanaan yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa memiliki yang kita inginkan, namun memilih hanya yang kita perlukan. kesederhanaan yang sesungguhnya adalah kesadaran bahwa yang berlebihan itu tidak perlu sama sekali–sebab sejatinya kita tidak memiliki apa-apa sama sekali. bukankah semuanya hanyalah titipan yang harus dikembalikan kapan saja diminta?

Jangan bicara cinta, jika kau tak berani berkorban.

Seorang ibu menaruh hidup dan mati dalam satu garis, pasrah pada takdir dan siap menanggung resiko karena cinta pada sosok mungil di perutnya yang bahkan belum pernah ditemuinya.

Seorang ayah menaruh doa dan usaha dalam satu tujuan, berserah pada kehendak Pemilik Semesta, siap menanggung letih karena cinta pada penghangat rumahnya.

Berkorban!

Pengorbanan yang paling romantis adalah, ketika siap dijatuhkan, dilambungkan, dijatuhkan lagi, karena Taat kepada-Nya.
Setelah badai laut akan tenang, setelah hujan mentari datang, setelah gelapnya malam cahaya fajar menyapa. Karena Allaah menciptakan semuanya berpasangan.


Untuk cintamu pada-Nya, sudahkah kau berkorban?

—  air sunyi

Tanpa kita sedar…
Kita sangka kita hidup berjaya..
atas usaha kita ,penat lelah kita semata.

Tapi kita tak tahu..
Ada insan tua..
menangis dalam doanya
untuk kita..
Berkat hidup kita ..
atas doa mak ayah kita..

Hati mereka serapuh tulang tua mereka…
Andai tersakiti.. mohonlah ampun maaf
Mak Ayah kita bukan selama ada
Sampai masa mereka pejam mata..

Kita hilang doa dari mereka..
:’(

#UNSTOPPABLE 4 : Dekat Dengan Al-qur’an

Ketika berada di kursi pinggir taman surga

Sepasang sahabat sedang bersenda

Lalu mereka tertukar kisah tentang masa lalunya

“Alangkah meruginya jika dulu kita meninggalkan Al-qur’an”

Semasa lulus SMP saya sudah merantau keluar kota, saya tinggal disebuah asrama SMA 10 Fajar Harapan Banda Aceh.  Di sekolah itu saya memiliki teman yang kampung halamannya dari berbagai bagian provinsi Aceh. Ada yang dari Kutacane, Tapak Tuan, Lhokseumawe, Takengon, Sigli, Sabang, dan dari Banda Aceh sendiri. Sehingga dari setiap mereka menawarkan kisah hidup yang berwarna, yang tak pernah bosan untuk didengar.

Adalah Hasna, yang kisahnya sangat saya ingat hingga sekarang. Kisah tentang bagaimana ia dan adik-adik kecilnya melewati bencana tsunami belasan tahun silam yang melanda kota Banda Aceh.

Minggu pagi itu, Hasna dan tiga adiknya menjalanankan rutinitas pagi seperti biasa. Membereskan tempat tidur, makan, mandi. Namun yang berbeda kali ini adalah saat itu ayah dan bundanya sedang keluar kota. Ayahnya di Jakarta dan Ibunya di Medan untuk menjalankan agenda dakwahnya. Hingga dijagalah ia dengan neneknya.

Pagi itu berjalan hening, hingga beberapa jam kemudian gempa bumi yang sangat kuat menguncang rumah mereka. Mereka yang sedang ribut-ribut menyambut pagi mendadak bisu ditelan keheningan. Sang nenek lalu mengajak mereka keluar rumah, satu persatu mereka keluar. Kemudian mereka saling berpegangan tangan.

“Astaghfirullah, belum pernah nenek merasakan gempa sekuat ini. Laa hawla walaquata ilabillah”.

Ketika gempa dirasa berhenti, nenek mengajak mereka masuk kedalam rumah lagi. yang belum makan disuruh makan dulu, yang belum mandi diminta segera mandi.

Tapi, tak lama. Diluar rumah, terdengar suara derap langkah kaki orang-orang yang berlarian. Suara mobil dan motor berderum keras.

Mereka berteriak-teriak…

“Air naik…air naik…air naik”

Nenek dan hasna kebingungan, apa maksud mereka berkata seperti itu. Lalu mereka berdua membuka pintu dan melihat orang-orang itu. Mereka berlarian, cepat sekali seperti orang yang sangat ketakutan.

“Apa yang terjadi?” tanya nenek.

“Air naik laut nek, tinggi setinggi 2 pohon kelapa. Rumah-rumah udah pada hancur lagi. Ayo lariiiii!”

Beberapa saat nenek tidak percaya. Namun setelah nenek melihat air itu dari kejauhan dan bergerak semakin mendekat. Sekuat tenaga, nenek memanggil cucu-cucunya dan mengajak mereka untuk melahirikan diri.

Nenek bingung mau kemana mereka berlari. Dengan sudah lemahnya tenaga nenek, nenek tak bisa berlari jauh, lagipula nenek juga tak yakin cucu-cucu kecilnya mampu berlari. Sementara suara gemuruh air semakin mendekat.

Akhirnya nenek mengajak Hasna mengajak adiknya ke mesjid tanpa membawa apapun kecuali selembar pakaian yang melekat dibadan. Mereka sudah pasrah dengan segala ketetapan Allah. mereka menaiki tangga mesjid satu persatu. Ternyata ada beberapa ibu dan anaknya yang berkumpul disana.

Dari lantai atas mesjid mereka menyaksikan amukan dasyat tsunami. Semua rumah-rumah, gedung pertokoan, mobil-mobil yang dilewatinya lenyap seketika. Entah seberapa besar kekuatan yang ia memiliki sehingga semuanya habis terbawa.

Nenek dan Hasna berdoa terus menerus, mereka takut sungguh takut. Jika ini adalah hari terakhir mereka, tak apa, yang terpenting mereka bisa meninggal dalam keadaan mengingat Allah.

Akhirnya, air tsunami menghampiri mesjid itu. Suara dentuman dilantai bawah membuat bulu kuduk bergidik. Ngeri. Bagaimana jika mesjid ini roboh? Bagaimana jika kami meninggal sekarang? Ooh Allah, tolong ya Allah. Namun, Jika memang itu ketetapan Allah, apa lagi yang hendak dikata.

Mereka melihat banyak orang terbawa arus sambil melambaikan tangan meminta tolong. Pohon-pohon besarpun hanyut bersama mereka. Menjadi satu ditengah-tengah pusaran air tsunami yang menghitam.

Hingga menjelang sore. Tsunami mulai surut dan meninggalkan puing-puing sisa kedasyaratannya. Semua rumah hancur. Semua hancur. Orang-orang banyak yang meninggal dunia. Harta dunia hilang lenyap seketika. Semua orang berkabung.

Alhamdulillah. Mesjid yang tak terlalu besar tempat Hasna, nenek dan adik-adiknya berlindung, tidak roboh sama sekali. Hanya saja dilantai bawah ada kaca yang pecah. Sungguh besar keajaiban Allah. Allahlah yang menjaga rumah-Nya sendiri.

Sejauh mata memandang, yang ada hanya kosong, dan terdengar ratapan yang menyayat hati dimana-mana. Semuanya seperti mimpi.

Kemudian Hasna melihat ke arah rumahnya, aneh, rumah kecil itu masih berdiri tegak, tak hancur diterkam huru hara tsunami.

“Nek, rumah kita enggak kenapa-kenapa”, kata Hasna.

****

Rahasianya adalah karena didalam rumah tersebut setiap orang selalu melantunkan ayat suci Al-qur’an tanpa henti. Ayah, Ibu dan anak-anaknya senantiasa membaca dan menghafalkan Al-qur’an. Kakaknya Hasna, kak Ifah sudah menjadi Hafizah. Hasna  sudah hafal sekitar 20 Juz. Adiknya 10 juz, adik yang lebih kecil lagi 5 juz. Rumah itu adalah milik keluarga yang menjaga Al-qur’an dalam kesehariannya. Sungguh Allah tak ingin merusak bagian dari rumah-Nya.

Sungguh, orang-orang yang mencintai Al-qur’an dan dekat dengannya akan diberi syafaat. Mereka yang senantiasa menghabiskan waktu bersama Al-qur’an akan mendapatkan perlindungan Allah dari musibah-musibah. Tsunami itu bagaikan kiamat kecil dan syafaat Allah itu datang dengan nyata untuk menyelamatkan mereka yang cinta Al-qur’an.

“Bacalah Al-qur’an, sesungguhnya pada hari kiamat Ia akan memberi syafaat kepada pembacanya”–(HR. Muslim)

Dimana Al-qur’anmu? Yuk kita bersama-sama mendekatkan diri dengan Al-qur’an lagi…

Bandung, 30 Mei 2017

Foto oleh kak @zakyamirullah  di Gyongsan Lake, South of Korea

tawar

“Generosity is giving more than you can and pride is taking less than you need”

Di awal Juni kemarin, saya berangkat ke Surabaya untuk menemani istri pulang ke kampung halamannya. Sepasang sepatu keds yang jahitan bagian depannya mulai terlepas saya bawa di dalam koper. Lubangnya cukup menganga memang, tapi enggak apa-apa. Toh untuk pertama kali, saya mau menggunakan merk jasa servis sepatu yang gerainya hadir di di mal-mal besar.

Setibanya di sana pada malam hari, saya langsung masuk ke dalam gerainya untuk menemui staf pelayanan yang sedang bertugas. “Mas, saya mau jait sepatu ini. Sol depannya kaya mau lepas nih” ucap saya kepada staf pelayanan yang mengiyakan permintaan tersebut dengan ramah. Lalu ia menyarankan supaya penjahitan dilakukan pada kedua sepatu yakni sebelah kanan dan kiri. Saya sepakat dengan sarannya. Biar lebih awet ke depannya.

“Jadi berapa biayanya, mas?” tanya saya. “Totalnya jadi seratus lima puluh ribu rupiah” jawabnya kalem. Saya tercekat dan kalah kalem waktu mengetahui harganya. Seratus lima puluh ribu untuk mengesol sepasang sepatu? Tapi ya, namanya juga jual-beli di pusat perbelanjaan modern. Tak kenal istilah tawar menawar. Lagipula, saya masih perlu sepatu keds itu walau harga servisnya melebihi harga barangnya. Akhirnya, saya pun mengeluarkan kartu debit dari dompet untuk digesekkan pada gawai elektronik toko.

Hal serupa jadi pengalaman yang hampir sebagian besar dari kita pernah alami saat berbelanja di mal atau plaza. Biarpun mahal, kita tau kalau harga yang tertera bukan untuk ditawar - tapi dibayar. Beda ceritanya saat sekali-dua kali kita mencoba berbelanja di pasar tradisional atau pada pedagang kecil. Rasanya kalau enggak nawar tuh enggak afdol. Rasanya kalau berhasil nawar, seolah lebih cerdas sebagai pembeli.

Padahal jelas kalau mereka yang menjajakan barang dagangannya sendiri di pasar tradisional ataupun pedagang kecil yang berkeliling mengetuk pagar demi pagar rumah bukan pebisnis padat modal selayaknya mereka yang membuka gerai terang benderang di mal ataupun plaza. Ada hal yang terasa ironis di sana: kita rela membayar lebih puluhan hingga ratusan ribu Rupiah tanpa negosiasi kepada mereka yang lebih mampu ketimbang kepada mereka yang uang makannya bersumber dari keuntungan dagang di hari yang sama.

Hal ironis tersebut, membuktikan kebiasaan bermurah hati yang mungkin terlihat enggak menarik lagi buat sebagian besar dari kita. Pernah muncul meme yang populer di linimasa dua taun lalu. Bunyi kutipan di gambarnya,  “Saat kamu membeli sesuatu dari bisnis kecil, kamu tidak membantu seorang direktur membeli rumah liburannya yang ketiga. Tetapi kamu membantu seorang gadis kecil agar bisa belajar menari, seorang anak laki-laki mendapatkan kaos timnya, seorang ibu menghidangkan makanan di atas meja, sebuah keluarga membayar utang atau seorang siswa membayar iuran sekolahnya”

Saat kita bertransaksi dengan para pedagang kecil di lingkungan sekitar, maka kita tengah berurusan langsung dengan kakek, nenek, ayah atau ibu dari sebuah keluarga yang betul-betul menumpukan hidupnya dari keuntungan berjualan. Dengan merelakan seratus lima puluh ribu keluar malam itu, saya merasa bersalah karena dulu pernah menawar harga jasa perbaikan sepatu dari seorang tukang sol keliling yang cuma seperlimanya.

Ternyata, keseringan nawar bisa bikin kepekaan hati menghambar.

Kalaupun ada jumlah yang harus dibayarkan untuk memperbaiki sepasang sepatu, maka seratus lima puluh ribu Rupiah akan melahirkan dampak yang lebih nyata bagi anak-istri tukang sol keliling di rumahnya. Jangankan seratus lima puluh ribu, selisih uang kurang dari Rp10.000 yang diikhlaskan sewaktu kita membayar ongkos ojek atau becak, kadang membuahkan doa baik buat kita. “Terima kasih banyak ya, dek. Semoga mudah rejekinya dan lancar urusannya”. Artinya, memang senyata dan sebesar itu dampaknya bagi mereka.

Maka, menghidupkan kembali tradisi bermurah hati perlu diawali dari kebiasaan sederhana dalam bertransaksi yang bisa kita lakukan mulai hari ini dengan para pedagang kecil. Beri mereka lebih banyak uang dari yang harus kita bayar atau ambil lebih sedikit kembalian dari yang seharusnya kita terima. Kita berharap semoga keringanan dalam bermurah hati juga bisa mendatangkan kemudahan atas limpahan rahmat-Nya.

selesai

“setiap keluarga, setiap rumah tangga, pasti punya masalah sendiri-sendiri. tapi semua masalah itu harus segera selesai. bahkan, Ayah dan Ibu membiasakan bahwa setiap masalah dalam keluarga harus selesai sebelum tidur. menyesal deh Ayah, kalau sampai tidurnya meluk masalah bukan meluk Ibu.”


“hahaha Yah…” kamu terpingkal dalam hati.


“ini serius, Nak. setiap masalah yang datang dari dalam harus benar-benar selesai, sebab dalam perjalanan menikah, ada sangat banyak masalah yang datang dari luar. mungkin, sama seperti saat kita hendak menikah ya. kalau dulu eyang, papanya Ibu, bertanyanya kepada Ayah: kamu sudah selesai dengan dirimu sendiri belum?


nah, kalau kamu ingin keluargamu menjadi keluarga yang bisa bermanfaat, menyelesaikan banyak masalah umat, kamu dan suamimu nanti harus selesai dengan masalah-masalah internal keluarga kalian. dan itu artinya, kamu dan suamimu nanti, harus selesai secara sendiri-sendiri pula–dengan diri sendiri.”


“Yah, menurut Ayah, seperti apa orang yang selesai dengan dirinya sendiri itu, Yah?”


“damai, Nak. orang yang selesai dengan dirinya sendiri, hatinya selalu damai bagaimanapun di luar sedang badai. keluarga yang selesai juga sama. selalu damai di dalam keluarga tersebut, meskipun di luar badai sedang berkecamuk.”


kamu mengambil tempat tepat di belakang Ayah, lalu mulai memijiti punggungnya.


“Nak, syarat menjadi keluarga yang hebat itu adalah menjadi keluarga yang kuat. syarat menjadi keluarga yang kuat itu adalah menjadi keluarga yang sehat. syarat menjadi keluarga yang sehat itu adalah terpenuhi kebutuhannya. menyelesaikan masalah itu bagian dari kebutuhan loh, Nak. sifatnya harus karena memang perlu.


ingat, Nak. di luar sana ada banyak sekali sumber masalah. bahkan, tanpa kita datangi sekalipun, masalah hidup itu akan datang silih berganti dengan sendirinya. maka, jadilah seseorang yang selalu siap menemani pasanganmu dan anak-anakmu dalam menghadapi dan menyelesaikan itu semua. jangan beri kesempatan masalah itu ikut meretakkan yang ada di dalam. jangan beri kesempatan sampai ada orang lain yang berperan lebih besar untuk menyelesaikan masalah–itu sungguh sumber masalah yang lebih besar lagi.”


“siap, Yah. besok-besok kalau sudah menikah, pokoknya kalau tidur aku cuma peluk suami, bukan peluk masalah. hahaha…”


“hahaha… beruntung sekali ya suamimu itu nanti. dipeluk, dipijiti enak pula. Ayah pasti kangen jempol kamu.”

Jurus Jitu Mendidik Anak

Oleh: Ust. Abdullah Zaen, Lc. MA حفظه الله تعالى

👉JURUS PERTAMA: MENDIDIK ANAK PERLU ILMU

Tidak sedikit di antara kita mempersiapkan ilmu untuk kerja lebih banyak daripada ilmu untuk menjadi orangtua. Padahal tugas kita menjadi orangtua dua puluh empat jam sehari semalam, termasuk saat tidur, terjaga serta antara sadar dan tidak. Sementara tugas kita dalam pekerjaan, hanya sebatas jam kerja.

Betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya melahirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu semata-mata karena dialah yang melahirkan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan pula karena mereka memiliki kepatutan sebagai orangtua.

Padahal, menjadi orangtua harus berbekal ilmu yang memadai. Sekadar memberi mereka uang dan memasukkan di sekolah unggulan, tak cukup untuk membuat anak kita menjadi manusia unggul. Sebab, sangat banyak hal yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Uang memang bisa membeli tempat tidur yang mewah, tetapi bukan tidur yang lelap.

Uang bisa membeli rumah yang lapang, tetapi bukan kelapangan hati untuk tinggal di dalamnya.

Uang juga bisa membeli pesawat televisi yang sangat besar untuk menghibur anak, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas.

Betapa banyak anak-anak yang rapuh jiwanya, padahal mereka tinggal di rumah-rumah yang kokoh bangunannya. Mereka mendapatkan apa saja dari orangtuanya, kecuali perhatian, ketulusan dan kasih sayang!

👉Ilmu apa saja yang dibutuhkan?

»Ilmu agama pertama dan utama yang harus dipelajari orangtua adalah akidah. Sehingga ia bisa menanamkan akidah yang lurus dan keimanan yang kuat dalam jiwa anaknya. Nabi shallallahu’alaihiwasallam mencontohkan bagaimana membangun pondasi tersebut dalam jiwa anak, dalam salah satu sabdanya untuk Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma,

“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah”. HR. Tirmidzi dan beliau berkomentar, “Hasan sahih”.

»»Ilmu tentang cara ibadah, terutama shalat dan cara bersuci. Demi merealisasikan wasiat Nabi shallallahu’alaihiwasallam untuk para orangtua,

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat berumur tujuh tahun, dan pukullah jika enggan saat mereka berumur sepuluh tahun”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.

Bagaimana mungkin orangtua akan memerintahkan shalat pada anaknya, jikalau ia tidak mengerti tatacara shalat yang benar. Mampukah orang yang tidak mempunyai sesuatu, untuk memberikan sesuatu kepada orang lain?

»ilmu tentang akhlak, mulai adab terhadap orangtua, tetangga, teman, tidak lupa adab keseharian si anak. Bagaimana cara makan, minum, tidur, masuk rumah, kamar mandi, bertamu dan lain-lain.

Dalam hal ini Nabi shallallahu’alaihiwasallam mempraktekkannya sendiri, antara lain ketika beliau bersabda menasehati seorang anak kecil,

“Nak, ucapkanlah bismillah (sebelum engkau makan) dan gunakanlah tangan kananmu”. HR. Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abi Salamah.

»Ilmu seni berinteraksi dan berkomunikasi dengan anak. Bagaimana kita menghadapi anak yang hiperaktif atau sebaliknya pendiam. Bagaimana membangun rasa percaya diri dalam diri anak. Bagaimana memotivasi mereka untuk gemar belajar. Bagaimana menumbuhkan bakat yang ada dalam diri anak kita. Dan berbagai konsep-konsep dasar pendidikan anak lainnya.

👍Ayo belajar!

Semoga pemaparan singkat di atas bisa menggambarkan pada kita urgensi ilmu dalam mendidik anak. Sehingga diharapkan bisa mendorong kita untuk terus mengembangkan diri, meningkatkan pengetahuan kita, menghadiri majlis taklim, membaca buku-buku panduan pendidikan. Agar kita betul-betul menjadi orangtua yang sebenarnya, bukan sekedar orang yang lebih tua dari anaknya!

Urgensi kesalihan orangtua dalam mendidik anak

Kita semua mempunyai keinginan dan cita-cita yang sama. Ingin agar keturunan kita menjadi anak yang salih dan salihah. Namun, terkadang kita lupa bahwa modal utama untuk mencapai cita-cita mulia tersebut ternyata adalah: kesalihan dan ketakwaan kita selaku orangtua. Alangkah lucunya, manakala kita berharap anak menjadi salih dan bertakwa, sedangkan kita sendiri berkubang dalam maksiat dan dosa!

✔Kesalihan jiwa dan perilaku orangtua mempunyai andil yang sangat besar dalam membentuk kesalihan anak.

Sebab ketika si anak membuka matanya di muka bumi ini, yang pertama kali ia lihat adalah ayah dan bundanya. Manakala ia melihat orangtuanya berhias akhlak mulia serta tekun beribadah, niscaya itulah yang akan terekam dengan kuat di benaknya. Dan insyaAllah itupun juga yang akan ia praktekkan dalam kesehariannya. Pepatah mengatakan: “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Betapa banyak ketakwaan pada diri anak disebabkan ia mengikuti ketakwaan kedua orangtuanya atau salah seorang dari mereka. Ingat karakter dasar manusia, terutama anak kecil, yang suka meniru!

👉Beberapa contoh aplikasi nyatanya

Manakala kita menginginkan anak kita rajin untuk mendirikan shalat lima waktu, gamitlah tangannya dan berangkatlah ke masjid bersama. Bukan hanya dengan berteriak memerintahkan anak pergi ke masjid, sedangkan Anda asyik menonton televisi.

Jika Anda berharap anak rajin membaca al-Qur’an, ramaikanlah rumah dengan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an yang keluar dari lisan ayah, ibu ataupun kaset dan radio. Jangan malah Anda menghabiskan hari-hari dengan membaca koran, diiringi lantunan langgam gendingan atau suara biduanita yang mendayu-dayu!

👉JURUS KEDUA: MENDIDIK ANAK PERLU KESALIHAN ORANGTUA

Tentu Anda masih ingat kisah ‘petualangan’ Nabi Khidir dengan Nabi Musa ‘alaihimassalam. Ya, di antara penggalan kisahnya adalah apa yang Allah sebutkan dalam surat al-Kahfi. Manakala mereka berdua memasuki suatu kampung dan penduduknya enggan untuk sekedar menjamu mereka berdua. Sebelum meninggalkan kampung tersebut, mereka menemukan rumah yang hampir ambruk. Dengan ringan tangan Nabi Khidir memperbaiki tembok rumah tersebut, tanpa meminta upah dari penduduk kampung. Nabi Musa terheran-heran melihat tindakannya. Nabi Khidir pun beralasan, bahwa rumah tersebut milik dua anak yatim dan di bawahnya terpendam harta peninggalan orangtua mereka yang salih. Allah berkehendak menjaga harta tersebut hingga kedua anak tersebut dewasa dan mengambil manfaat dari harta itu.

Para ahli tafsir menyebutkan, bahwa di antara pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas adalah: Allah akan menjaga keturunan seseorang manakala ia salih, walaupun ia telah meninggal dunia sekalipun.

Subhânallâh, begitulah dampak positif kesalihan orang tua! Sekalipun telah meninggal dunia masih tetap dirasakan oleh keturunannya. Bagaimana halnya ketika ia masih hidup?? Tentu lebih besar dan lebih besar lagi dampak positifnya.

Kalau Anda menginginkan anak jujur dalam bertutur kata, hindarilah berbohong sekecil apapun. Tanpa disadari, ternyata sebagai orang tua kita sering membohongi anak untuk menghindari keinginannya. Salah satu contoh pada saat kita terburu-buru pergi ke kantor di pagi hari, anak kita meminta ikut atau mengajak jalan-jalan mengelilingi perumahan. Apa yang kita lakukan? Apakah kita menjelaskannya dengan kalimat yang jujur? Atau kita lebih memilih berbohong dengan mengatakan, “Bapak hanya sebentar kok, hanya ke depan saja ya. Sebentaaar saja ya sayang…”. Tapi ternyata, kita malah pulang malam!

Dalam contoh di atas, sejatinya kita telah berbohong kepada anak, dan itu akan ditiru olehnya.

Terus apa yang sebaiknya kita lakukan? Berkatalah dengan jujur kepada anak. Ungkapkan dengan lembut dan penuh kasih serta pengertian, “Sayang, bapak mau pergi ke kantor. Kamu tidak bisa ikut. Tapi kalo bapak ke kebun binatang, insyaAllah kamu bisa ikut”.

Kita tak perlu merasa khawatir dan menjadi terburu-buru dengan keadaan ini. Pastinya akan membutuhkan waktu lebih untuk memberi pengertian kepada anak karena biasanya mereka menangis. Anak menangis karena ia belum memahami keadaan mengapa orang tuanya harus selalu pergi di pagi hari. Kita perlu bersabar dan melakukan pengertian kepada mereka secara terus menerus. Perlahan anak akan memahami mengapa orangtuanya selalu pergi di pagi hari dan bila pergi bekerja, anak tidak bisa ikut.

Anda ingin anak jujur? Mulailah dari diri Anda sendiri!

.
Sebuah renungan

Tidak ada salahnya kita putar ingatan kepada beberapa puluh tahun ke belakang, saat sarana informasi dan telekomunikasi masih amat terbatas, lalu kita bandingkan dengan zaman ini dan dampaknya yang luar biasa untuk para orangtua dan anak.

Dulu, masih banyak ibu-ibu yang rajin mengajari anaknya mengaji, namun sekarang mereka telah sibuk dengan acara televisi. Dahulu ibu-ibu dg sabar bercerita tentang kisah para nabi, para sahabat hingga teladan dari para ulama,

👉JURUS KETIGA: MENDIDIK ANAK PERLU KEIKHLASAN

✔👍Ikhlas merupakan ruh bagi setiap amalan. Amalan tanpa disuntik keikhlasan bagaikan jasad yg tak bernyawa.

Termasuk jenis amalan yg harus dilandasi keikhlasan adalah mendidik anak. Apa maksudnya?

Maksudnya: Rawat & didik anak dg penuh ketulusan & niat ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah ta’ala.

Canangkan niat semata-mata untuk Allah dalam seluruh aktivitas edukatif, baik berupa perintah, larangan, nasehat, pengawasan maupun hukuman. Iringilah setiap kata yg kita ucapkan dg keikhlasan..

Bahkan dalam setiap perbuatan yg kita lakukan untuk merawat anak, entah itu bekerja membanting tulang guna mencari nafkah untuknya, menyuapinya, memandikannya hingga mengganti popoknya, niatkanlah semata karena mengharap ridha Allah.

Apa sih kekuatan keikhlasan?

Ikhlas memiliki dampak kekuatan yg begitu dahsyat. Di antaranya:

dg ketulusan, suatu aktivitas akan terasa ringan. Proses membuat & mendidik anak, mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, membimbing hingga mendidik, jelas membutuhkan waktu yg tidak sebentar. Puluhan tahun! Tentu di rentang waktu yg cukup panjang tersebut, terka&g muncul dalam hati rasa jenuh & kesal karena ulah anak yg kerap menjengkelkan. Seringkali tubuh terasa super capek karena banyaknya pekerjaan; cucian yg menumpuk, berbagai sudut rumah yg sebentar-sebentar perlu dipel karena anak ngompol di sana sini & tidak ketinggalan mainan yg selalu berserakan & berantakan di mana-mana.Anda ingin seabreg pekerjaan itu terasa ringan? Jalanilah dg penuh ketulusan & keikhlasan! Sebab seberat apapun pekerjaan, jika dilakukan dg ikhlas insyaAllah akan terasa ringan, bahkan menyenangkan. Sebaliknya, seringan apapun pekerjaan, kalau dilakukan dg keluh kesah pasti akan terasa seberat gunung & menyebalkan.

Dg keikhlasan, ucapan kita akan berbobot. Sering kita mencermati & merasakan bahwa di antara kata-kata kita, ada yg sangat membekas di dada anak-anak yg masih belia… hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, tak sedikit ucapan yg bahkan kita teriakkan keras-keras di telinganya, ternyata berlalu begitu saja bagai angin malam yg segera hilang kesejukannya begitu mentari pagi bersinar.Apa yg membedakan? Salah satunya adalah kekuatan yg menggerakkan kata2 kita. Jika Engkau ucapkan kata2 itu untuk sekedar meluapkan amarah, maka anak-anak itu akan mendengarnya sesaat & sesudah itu hilang tanpa bekas. Namun jika Engkau ucapkan dg sepenuh hati sambil mengharapkan turunnya hidayah utk anak2 yg Engkau lahirkan dg susah payah itu, insya Allah akan menjadi perkataan yg berbobot.Sebab bobot kata-kata kita kerap bersumber bukan dari manisnya tutur kata, melainkan krn kuatnya penggerak dari dalam dada; iman kita & keikhlasan kita…

dg keikhlasan anak kita akan mudah diatur. Jgn pernah meremehkan perhatian & pengamatan anak kita. Anak yg masih putih & bersih dari noda dosa akan begitu mudah merasakan suasana hati kita.Dia bs membedakan antara tatapan kasih sayang dg tatapan kemarahan, antara dekapan ketulusan dg pelukan kejengkelan, antara belaian cinta dg cubitan kesal. Bahkan ia pun bisa menangkap suasana hati orgtuanya, se&g tenang & damaikah, atau se&g gundah gulana?Manakala si anak merasakan ketulusan hati orgtuanya dalam setiap yg dikerjakan, ia akan menerima arahan & nasehat yg disampaikan ayah & bun&ya, krn ia menangkap bahwa segala yg disampaikan pa&ya adalah semata demi kebaikan dirinya.

dg keikhlasan kita akan memetik buah manis pahala. Keikhlasan bukan hanya memberikan dampak positif di dunia, namun juga akan membuahkan pahala yg amat manis di alam sana. yg itu berujung kpd berkumpulnya orgtua dg anak2nya di negeri keabadian; surga Allah yg penuh dg keindahan & kenikmatan.

Artinya: “org-org yg beriman, beserta anak cucu mereka yg mengikuti mereka dlm keimanan, Kami akan pertemukan mereka dg anak cucu mereka”. QS.Ath-Thur: 21

Dipertemukan dimana? Di surga Allah jalla wa‘ala!

Mulailah dari sekarang

🍃🌺🌺 ❀ ❀ ❀ ❀ ❀

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, serta berilah rahmat kepada kedua-duanya, sebagaimana mereka mendidikku pada waktu kecil. Amin.

TERIMA KASIH ALLAH <3

(2) Rapuhnya 7 Pilar Pengasuhan

Tulisan ini adalah resume dari Seminar 7 Pilar Pengasuhan oleh Ibu Elly Risman yang diselenggarakan di Bandung, 11 Maret 2017. Padatnya materi membuat resume ini perlu disajikan dalam beberapa bagian. Untuk membaca bagian-bagian selanjutnya, klik disini. 

Jika ditelisik lebih dalam, permasalahan-permasalahan yang secara umum dituliskan dalam resume sebelumnya terjadi karena rapuhnya 7 Pilar Pengasuhan. Apa sajakah 7 pilar tersebut?

1. KESIAPAN MENJADI ORANGTUA

Sadarkah kita bawa ketika menjadi orangtua itu berarti bahwa kita adalah baby sitternya Allah yang dititipi anak sebagai amanah? Sayangnya, yang banyak terjadi sekarang adalah kesiapan menjadi orangtua ini menjadi tidak terpikirkan sebelum menikah, bahkan belum terpikir juga setelah menikah. Kalau begitu, wajar kiranya jika banyak sekali trial and error yang dilakukan terhadap anak. So, sejauh mana pernikahan dipersiapkan? Apa yang membuatmu memutuskan untuk menikah? Sepakat akan punya anak berapa? Berapakah jarak usia antaranak? Siapa yang akan mengasuh anak? Apakah suami dan isteri keduanya akan bekerja? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini, sebaiknya dirumuskan dan dijawab terlebih dahulu sebelum menikah. Kesiapan menjadi orangtua ini adalah bahasan yang panjang, beberapa bahasan yang sudah pernah saya dapat dari berbagai sumber (terutama NuParents) saya tuliskan disini.

2. DUAL PARENTING, AYAH HARUS TERLIBAT

Kesibukan ayah sebagai tulang punggung keluarga sedikit banyak telah menggeser esensi hubungan interaksi sosial antara anak dan ayah. Ayah bekerja lebih lama (atau bahkan sangat lama) di luar rumah sehingga seringkali tidak menjalankan perannya dengan optimal. Ayah berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam saat anak-anak sudah tertidur lelap. Ketika ayah berada di rumah, waktu yang dimiliki pun seringkali tidak dimanfaatkan secara optimal untuk kebersamaan dengan anak. Ayah tidak benar-benar hadir secara psikologis karena disibukkan oleh gadget, menonton sepak bola, membaca buku-buku bisnis dan surat kabar, mengecek e-mail klien, dll. Padahal, sudah semestinya ayah terlibat dalam pengasuhan karena pengasuhan yang optimal adalah pengasuhan yang dilakukan seimbang oleh kedua peran orangtua, yaitu ayah dan ibu. Yup, Dad is not simply a sperm donor, Dad is a part of his child’s DNA! Pada akhirnya, bukan hanya keberadaan fisik yang diinginkan oleh seorang anak, melainkan juga keberadaan peran secara emosi dan psikologis. Lebih lanjut tentang ini akan di bahas di tulisan selanjutnya, ya!

3. MENETAPKAN DAN MENYEPAKATI TUJUAN PENGASUHAN

Dalam seminar 7 Pilar Pengasuhan ini, Bunda Elly menyampaikan, “Main bola aja ada gawangnya, ada tujuannya. Masa mengasuh anak tidak ada tujuannya?” Salah satu penyebab permasalahan dalam pengasuhan anak adalah karena tujuan pengasuhan yang tidak terumuskan dengan baik dan tidak ada kesepakatan antara ayah dan ibu. Dalam menetapkannya, sebaiknya jangan ikut-ikutan dengan tujuan pengasuhan yang dimiliki oleh keluarga lain terhadap anak-anaknya karena setiap keluarga itu unik dan memiliki visi dan misinya masing-masing.

4. KOMUNIKASI BENAR, BAIK, DAN MENYENANGKAN

Berkomunikasi dengan benar berarti sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah. Berkomunikasi dengan baik berarti sesuai dengan kinerja otak. Sedangkan, berkomunikasi dengan menyenangkan berarti dapat diterima oleh perasaan karena otak pusat perasaan pada anak berkembang lebih dulu daripada bagian otak yang lainnya. Sayangnya, banyak sekali kekeliruan-kekeliruan dalam berkomunikasi yang sering kita lakukan terhadap anak dan atau orang lain dalam kehidupan sehari-hari? Apa sajakah itu? Lebih lanjut tentang ini akan di bahas di tulisan selanjutnya, ya!

5. PENANAMAN NILAI AGAMA OLEH ORANGTUA

Satu hal yang sangat saya ingat dari nasehat Bunda Elly terkait hal ini adalah bahwa pengasuhan anak tidak bisa dilakukan dengan benar jika kita sebagai orangtua tidak memiliki rasa takut kepada Allah. Mengapa demikian? Sebab, target terakhir dalam mengasuh anak bukanlah menjadikan anak tersebut sukses, melainkan menjadikannya sebagai hamba Allah yang bertakwa. Tapi, apa yang terjadi sekarang? Pendidikan agama disubkontrakkan pada sekolah, guru, atau bahkan taman pendidikan agama. Padahal, yang di akhirat kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang pengasuhan anak dan penanaman nilai-nilai tauhid adalah orangtua dari anak tersebut, bukan guru, sekolah, atau orang lain.

6. PERSIAPAN MASA BALIGH

Persiapan masa baligh adalah sesuatu yang tidak umum untuk dilakukan di masyarakat kita. Kebanyakan orangtua menganggap bahwa anak akan siap dengan sendirinya. Padahal, apa yang terjadi jika anak tidak siap menghadapi masa remaja? (1) anak tidak akan mengerti perbedaan seks dan seksualitas; (2) anak tidak akan paham mengapa Allah memerintahkan untuk menundukkan pandangan; dan yang paling parah (3) anak bisa aktif secara seksual karena kurangnya penanaman pemahaman. 

7. BIJAK BERTEKNOLOGI

Kehidupan kita di era digital sekarang ini tidak bisa terlepas dari gadget. Di era ini, perkembangan teknologi digital terus terjadi sehingga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap bagaimana kita menjalani keseharian. Di usianya yang masih berbilang satuan, anak-anak sekarang bahkan sudah sangat akrab dengan penggunaan media sosial. Pada akhirnya, era digital ini memang seperti dua mata pisau yang memuat manfaat positif di satu sisi dan juga memuat hal negatif di sisi yang lain. Jika anak tidak diajarkan untuk bijak berteknologi, bisa dibayangkan kan apa yang akan terjadi.

Tujuh Pilar Pengasuhan ini harus ada secara utuh dan menyeluruh, tidak bisa hanya single factor saja. Sebagai orangtua dan calon orangtua, kita memiliki pilihan untuk menyelamatkan anak-anak dan generasi mendatang dari The Exit Door dengan mengokohkan 7 Pilar Pengasuhan ini agar tidak rapuh. 

Bagaimana caranya?

__________

Bersambung ke tulisan selanjutnya …

Kamu dilahirkan dengan kebahagiaan ayah dan ibu. Dulu, kamu juga bahagia.

Ingat? Kamu bahagia sebelum mengenal dia. Lalu kau menemukan dia dan jatuh cinta. Merasa bahwa kau dan dia saling mencintai. Padahal itu bisa saja cuma merasa.

Waktu dia menghilang, kok kamu jadi lupa caranya bahagia?

Ingatlah, bahwa dia hadir bukan karena kuasamu artinya dia bukan milikmu. Dia cuma hadir. Kalau hadirnya memberimu cinta ya itu berkah. Jika tidak, artinya kamu sedang diajarkan semesta untuk bertumbuh.

#katateman

saya, ayah, dan ibu ngobrol tentang turnover personil yang dialami sekolah dan perusahaan. ibu bercerita tentang fenomena yang unik–di mana para guru yang lebih senior cenderung lebih setia dibandingkan dengan yang muda. para guru muda itu adalah guru-guru generasi saya, milenial kata mereka. padahal, para guru senior telah bersama kami (sejak) saat semuanya susah, saat kelas masih di garasi. padahal, para guru junior yang akhirnya memutuskan pindah haluan, tidak sedikit yang sekolahnya diupayakan oleh ibu–supaya bisa kembali memberi dan berbagi.

saya jadi sedih–dan malu sih–atas (sebagian) generasi saya itu. kenapa ya daya tahan dan daya juang kami segitu-segitu aja. kenapa ya kami banyak berhitung tentang manfaat (bagi diri sendiri, uang terutama). kenapa ya kami selalu bertanya “what’s in it for me?” dan selalu “taking things for granted”. kenapa ya kami kemakan dogma-dogma tentang mengikuti passion sampai lupa tentang pesan nabi untuk menjadi bermanfaat. kenapa ya?

mungkin yang salah adalah sosial media–yang menampilkan kehidupan manis senang nan bahagia di permukaan, yang membuat kami (kita) melupakan hakikat perjuangan dan rasa syukur. mungkin yang salah adalah para motivator, yang menyerukan bahwa passion adalah segala-galanya–padahal kami (kita) yang diseru juga sekadar ikut-ikutan saja. mungkin yang salah adalah para pemilik lapangan kerja, yang berlomba-lomba pasang harga sehingga bekerja menjadi kegiatan transaksional belaka, jual beli jasa semata.

“generasi ibu nggak kenal tuh sama istilah passion. yang kami kenal itu menjadi bermanfaat sebab begitu pesan nabi. generasi ibu percaya bahwa rezeki itu paling banyak bisa dijemput di tempat di mana kita bisa bermanfaat paling banyak.”

kita yang muda punya banyak kesempatan, punya banyak jalan untuk dipilih. kita yang muda punya masa depan yang masih panjang. kita yang muda bisa mencoba-coba banyak hal, banyak bidang.

tapi, kita yang muda juga harus selalu ingat
untuk bersyukur secara utuh: atas yang dicapai dan tidak dicapai, yang didapat dan tidak didapat, yang dimiliki dan tidak dimiliki, yang dipertahankan dan dilepaskan;
untuk berterima kasih pada setiap peran yang telah menjadikan kita diri kita yang sekarang;
untuk menjadi makna dan menjadi manfaat–mengutamakannya.

ibu dan ayah benar. apalah arti punya hidup keren kalau hanya untuk diri sendiri. inilah yang selalu saya sampaikan pada adik-adik saya, juga anak-anak saya kelak.

ada yang lebih penting daripada mengikuti passion, yaitu menjadi bermanfaat. pastikan bahwa setiap pilihanmu adalah manfaat–dunia akhirat.

Ada 13 Permintaan ANAK yang mungkin TIDAK PERNAH Mereka UCAPKAN :

1. Cintailah aku Sepenuh hatimu.

2. Jangan marahi aku di Depan Orang Banyak.😡

3. Jangan bandingkan Aku dengan Kakak atau Adikku atau Orang Lain.👐

4. Ayah Bunda jangan lupa, *Aku adalah Fotocopy-mu.*

5. Kian hari Umurku kian Bertambah, maka jangan selalu anggap aku Anak Kecil. 🙇

6. Biarkan aku Mencoba, lalu Beritahu Aku bila Salah.🏃

7. Jangan ungkit-ungkit Kesalahanku.🙈

8. Aku adalah *Ladang Pahala* bagimu.🎁

9. Jangan Memarahiku dengan Mengatakan hal-hal Buruk, bukankah apa yang Keluar dari Mulutmu sbgai *Orang Tua* adalah *DOA* Bagiku?😔

10. Jangan hanya melarangku dengan mengatakan “JANGAN” tapi berilah Penjelasan kenapa aku Tidak Boleh melakukan Sesuatu.😇

11. Tolong ayah ibu, jangan rusak mentalku dan pemikiranku dengan selalu kau Bentak-bentak aku setiap Hari.

12. Jangan ikutkan aku dalam Masalahmu yang tidak ada Kaitannya denganmu. Kau marah sama yang lain, aku imbasnya.

13. Aku ingin Kau Sayangi Cintai karena Engkaulah yang ada diKehidupanku dan Masa Depanku.

Wallahu a'lam….

Semoga menjadi pelajaran buat saya dan kita semua….

Mohon di share….

Pelita

Tidak semua dari kita ditakdirkan untuk lahir dari keluarga dengan pemahaman agama yang baik. Ayah dan Ibu kita mungkin bukanlah sosok yang menginternalisasi prinsip agama sedemikian dalam, bukan sosok yang gemar bergerak menuju majelis, atau mungkin bukan pula sosok yang menjadi tempat dimana kita mengenal Allah untuk pertama kali. Sama halnya, tidak semua dari kita ditakdirkan untuk lahir ditengah-tengah keluarga yang membumikan akidah, mengutamakan tauhid, dan membiasakan ibadah. Keluarga kita mungkin hanya paham perkara yang wajib tanpa sentuhan mengenai perkara yang sunnah.

Lantas, haruskah kita marah? Haruskah kita sibuk protes kepada-Nya dengan mengatakan, “Ya Allah, mengapa bukan Ayah dan Ibu yang pertama kali mengenalkan aku pada shalat Dhuha, puasa Senin-Kamis, shalat Tahajjud, dan menutup aurat?”

Tidak ada apapun yang dapat menjadi pembenaran untuk kita melakukan protes terhadap apa yang sudah menjadi ketetapan-Nya.

Curigalah! Jangan-jangan Allah memang bertujuan menjadikan kita pelita di tengah gulita. Curigalah! Jangan-jangan Allah memang bertujuan menjadikan kita cahaya untuk kegelapan ilmu yang terjadi di sekitar kita. Curigalah! Jangan-jangan Allah memang mempersiapkan kita untuk menjadi ujung tombak rantai-rantai kebaikan. Sebab, ketetapan-Nya selalu baik, selalu menumbuhkan, dan selalu indah kesudahannya.

Bagaimanapun, Allah tetap adil. Lihatlah ke sekeliling! Bukankah kita sedang berada diantara orang-orang yang menyeru kita untuk mengerjakan kebenaran? Bukankah kita sedang berada di lingkungan yang memungkinkan kita untuk banyak belajar? Bukankah Allah dengan baik hati mempertemukan kita dengan kesempatan-kesempatan emas yang menjadikan kita mengenal-Nya lebih dekat?

Sahabatku, rasanya bukan lagi masalah jika kamulah yang justru harus menjadi orang pertama yang mengajak orang-orang yang kamu sayangi untuk lebih mendekat kepada-Nya. Karena kamu adalah pelita. Sungguh, hadirmu adalah pelita. 

Akrablah dengan Anak

Oleh : Abah Ihsan Baihaqi

Ingin anak anda berkurang perbuatan buruknya? Ingin anak menurut dan patuh pada kita? AKRABLAH DENGAN ANAK ANDA

Seorang ayah, dengan mimik sedih bercerita pada saya :
“Abah, anak saya perempuan, kelas 2 SMA. Masuk sekolah favorit dan masuk kelas unggulan. Dia tidak bersemangat sekolah. Saya sangat susah mengorek apa yang terjadi. Saat masuk ke kamarnya, ibunya sering sekali menemukan handphone di bawah bantal.”

Saya wawancarai, saya korek. Lalu ujung-ujungnya saya bilang “Mulai sekarang, akrabi anak anda”

Setelah kira-kira dua tahun, ayah ini menelpon saya : “abah, terima kasih. Setelah konsultasi selama 2 tahun, anak saya memang berhenti sekolahnya. Tapi setelah saya mengakrabinya, saya jadi tahu yang dirasakannya. Ia memutuskan kejar paket dan bersemangat hidup lagi. Sekarang ia kuliah di perguruan tinggi sesuai keinginannya.”

Parents, coba periksa anak-anak bermasalah di sekitar anda. Wawancarai dan periksa bagaimana hubungan mereka dengan orangtuanya. Apakah mereka sering diajak ngomong orang tuanya setiap hari? Diajak ngomong, loh ya, bukan diomongin!

Wawancarai anaknya ya, bukan orang tuanya. Sebab sebagian orang tua dari anak bermasalah ini sering tidak menyadari bahwa mereka berkontribusi besar terhadap perilaku anaknya sehingga bermasalah meski mungkin tidak disengaja dan tidak disadari.

Ketika anaknya bermasalah, mereka terus saja mengatakan, “Apa yang kurang dari saya? Apa yang kurang? Handphone, mobil, motor, jalan-jalan ke luar negru, semua saya fasilitasi untuk anak saya! Apa lagi yang kurang dari saya?!”

Lalu, anda mungkin akan mengatakan, “yang dibutuhkan anak adalah teladan!”
Coba deh, periksa orang-orang di sekitar anda. Tak sedikit anak yang ayahnya rajin shalat ke mesjid, anaknya begitu santai menunda-nunda shalat di rumah. Kurang teladan apa?

Anda lihat ke desa-desa. Sebagian ayah mereka bekerja keras di sawah atau ladang, sementara sebagian anaknya asyik Facebook-an. Kurang teladan apa?

Atau anda lihat anak pejabat, orang kaya, pengusaha sukses, ayahnya sukses jadi pejabat atau pengusaha, tetapi sebagian anaknya menghamburkan uang ayahnya, mengoleksi mobil atau motor balap, nongkrong di jalan, kongkow di kafe tiap hari menghabiskan uang orang tuanya. Kurang teladan apa?

Atau anda juga akan berkata, “kurang perhatian, kali!”
Mereka juga tak akan kalah argumen. Sebagian akan berkata, “Apa? Kurang perhatian? Anda tahu tidak, saya sudah bosan menasihati anak saya. Saya nasihati anak saya tiap hari. Itu kan bentuk perhatian dan kasih sayang saya”

Bahwa teladan itu penting, saya setuju. Itu hal “wajib a'in” yang tak usah lagi diperdebatkan. Bahwa perhatian itu penting, saya juga setuju. Tapi apakah menasihati anak tiap hari akan diterima anak sebagai sebuah bentuk perhatian?

Coba tanya anak, siapa di antara mereka yag betah dinasihati tiap hari? Bagaimana dengan anda? Posisikan diri anda sebagai anak, apakah dinasihati tiap hari itu membuat anda merasa diperhatikan? Merasa dicintai dan disayangi? Mana yang membuat anda merasa disayangi orangtua anda : DIOMONGI orang tua tiap hari, atau DIAJAK NGOMONG orangtua tiap hari?

Ini hasil riset tidak langsung saya. Ini fakta yang dapat anda temukan di sekitar anda dan mungkin tidak anda sadari. Ini bukti nyata yang sangat mudah anda temukan. Lihat kiri kanan anda.

Ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Siapa di antara anda yang waktu remaja dahulu sering curhat pada orang tua?
Dari sekian ribu yang ditanya, hanya sebagian kecil saja yang mengangkat tangan. Ciri akrab yang sederhana adalah sangat terbuka menceritakan masalah, mulai dari lawan jenis yang disukai, pelajaran, pertemanan, dll. Sering diajak ngomong orang tua, bukan hanya diomongin orang tua (beda, kan?)

2. Kepada yang akrab dengan orangtuanya ini, saya ajukan pertanyaan lagi : apakah anda merasa dekat dan lebih mudah mendengar nasihat orang tua plus jadi lebih menurut atau justru jadi lebih sering membantah orang tua? Jawaban mereka hampir kompak, “jadi lebih nurut dgn orang tua”

Banyak orang tua menyangka agar anak dapat dengan mudah dikuasai, agar anak patuh dan menurut, agar anak menghormati orang tua, adalah dengan mengedepankan hukuman fisik berupa kekerasan pada anak. Bahkan dari sekitar 70 kota di 22 propinsi yang sudah menyelenggarakan program pendidikan orang tua, kekerasan fisik pada anak adalah keniscayaan. Istilah “kalau tidak dipukul, anak akan kurang ajar”, masih saja ada yang meyakininya

Bahwa mencubit atau memukul supaya anak menjadi patuh, bisa jadi betul. Coba diingat-ingat kita yang pernah atau sering dicubit waktu kecil, apakah kepatuhan itu betul2 karena kesadaran atau karena TAKUT?

Kepatuhan karena keakraban sangat berbeda. Anak yang tanpa dipukul, tanpa dicubit, tanpa dibentak, ternyata lebih mudah dikuasai orang tuanya. Lebih mudah mendengar orangtuanya, lebih mudah patuh.

Bahkan saya ingin “memprovokasi” anda lebih keras lagi berkaitan dengan masalah keakraban ini. JANGAN PERNAH MENCOBA MENDISIPLINKAN ANAK JIKA ANDA TIDAK PERNAH MEMILIKI KEDEKATAN EMOSIONAL DENGAN ANAK.

Mendisiplinkan anak tanpa disertai kelengketan emosional hanya akan membuat hubungan orang tua dengan anak menjadi hubungan yang kering, garing, atau hubungan tanpa makna dan tanpa jiwa. Hubungan seperti ini hanya akan menjadi seperti “komandan dan prajurit” yang formalitas dan minim ekspresi emosi

Fungsi pertama keakraban dengan anak adalah “penjaga kedamaian hati anak”. Ketika anda mendisiplinkan anak, ketika anda mencoba menghentikan perilaku buruk anak, maka suatu saat anda tidak dapat menghindari utk memberikan konsekuensi pada anak.

Ketika anak berlebihan main game atau nonton tv, misalnya, anda bisa jadi mencabut hak main game atau nonton tvnya. Lalu karena tidak nyaman, kemudian anak mencoba mengekspresikan ketidaknyamanannya kepada orgtua “Ayah jahat!” atau “Mama tidak sebaik nenek” atau “temanku tidak pernah dibatasi nonton, kenapa aku dibatasi?!”

Dengan menerapkan hukuman atau konsekuensi pada anak, suatu saat anda akan sampai pada suatu titik keraguan yang akan menggoda anda untuk tidak konsisten menjalankan ketegasan anda. Mungkin sebagian orang tua khawatir “Apakah saya ini akan dianggap anak sebagai ayah/ibu yang jahat dan tidak sayang anak?”
Ada juga seorang ibu berkata dengan mimik sedih “Ya Allah..abah, anak saya ngomong saya jahat. Sedih betul saya!”

Saya akan katakan : TIDAK AKAN PERNAH! tidak akan pernah anak memiliki pemikiran dan perasaan bahwa anda adalah ayah atau ibu yang jahat meski mulutnya bicara spt itu. Tidak akan pernah anak memiliki pikiran orangtuanya jahat hanya karena anda memberikan konsekuensi pada anak.

Bahwa anak tidak nyaman saat diberi konsekuensi, itu benar! Namun, konsekuensi tidaklah pasti berarti akan membuat anak kemudian beranggapan bahwa orangtuanya tidak sayang padanya. Selama anda menjaha keakraban dengan anak. itu hanya EKSPRESI EMOSIONAL sesaat dari anak.

Fungsi kedua keakraban adalah “pemupuk kasih sayang”. Maksud saya begini. Orang tua yang akrab dengan anaknya adalah tanda bahwa mereka menyediakan sebagian tubuh, waktu, pikiran, dan perasaan mereka untuk anak. mereka memupuk cinta pada diri anak-anaknya. Tidak hanya sebatas merasa sayang dalam “pikiran”, tapi mengekspresikan kasih sayang itu secara konkret dalam tindakan nyata.

Maaf jika agak melebar sedikit. Pernah mendengar kisah nyata suami setia yang tidak pernah menikah lagi meski istrinya bertahun-tahun menderita penyakit? Pernah mendengar cerita cinta Habibie dan Ainun yang melankolis itu? Pernah mendengar cerita Muhammad sang Rasulullah yang ketika berumahtangga dengan Khadijah tidak melakukan poligami sama sekali?

Semua lelaki ini mungkin memiliki sejumlah alasan. Jauh hari sebelum sang istri sakir, jauh hari ketika sang Ainun meninggalkan dunia, jauh hari sebelum sang Rasulullah menjadi penguasa, para perempuan ini memiliki persamaan : mereka memberikan cinta terbaik mereka untuk suami mereka. Mereka membangun ikatan emosional dengan suami mereka. Menjalin keakraban.

Apa yang saya ingin ungkapkan adalah ketika kita merasa dicintai dengan sebenar-benarnya, ada perasaan tak nyaman jika kita menyakiti orang yang memberikan cinta itu. Semua lelaki, yang tak bersedia melakukan poligami di atas -meski mereka bisa melakukannya- bisa jadi karena memiliki perasaan tidak nyaman untuk melakukannya. Saking karena merasa sangat dicintai sang istri.
Demikian pula anak-anak kita.

Sekarang, anda coba fokuskan pikiran. Bayangkan anda adalah remaja lelaki berusia 14 tahun. Bayangkan anda sering menghabiskan waktu utk kegiatan bersama ayah (walau tidak setiap hari). Atau setiap akhir pekan anda bersepeda atau main bulu tangkis dengan orangtua anda. Anda punya kegiatan insidental setiap bulan dengan orang tua. Dua bulan lalu kemping ke gunung, bulan lalu mancing di sungai. Pekan ini anda nonton bola di stadion bersama. Sementara musim liburan sekolah nanti, anda sudah bersepakat akan keluar kota selama 4 hari.

Kira-kira apa perasan yang muncul dalam benak anda? Lalu, apa yang akan anda berikan untuk orang tua anda?

Atau, bayangkan anda seorang anak perempuan, usia 13 tahun. Setiap hari anda bebas cerita masalah anda pada ibu anda di kasur, di meja makan, di sofa. Jika ada masalah, pasti anda akan meminta pendapat ibu anda. Ketika anda difitnah teman, anda menangis sesenggukan di pangkuan ibu. Lalu punggung anda diusap-usap ibu.
Anda pun sering melakukam kegiatan bersama ibu. Bulan lalu, anda diajak kursus membuat brownies. Ibu anda selalu menyempatkan nonton pertandingan basket anda meski kadang terlambat datang.
Kira-kira apa pula perasaan yang muncul dalam benak anda? Lalu apa yang ingin anda berikan untuk orang tua anda?

Apapun jawabannya, insya Allah yang positif kan? Mungkin sebagian anda akan rajin berdoa dan mendoakan orangtua “Ya Allah..aku sayang ayahku. Jaga ayahku, ya Allah. Bantu aku jadi anak yang menyenangkan orangtuaku, ya Allah”

Jadi, tidak berlebihan rasanya jika saya ingin mengatakan pada anda: ANDAIKAN SEMUA ORANGTUA DI DUNIA AKRAB DENGAN ANAKNYA, RASANYA KITA AKAN SULIT MENEMUKAN ANAK BERMASALAH DI DUNIA INI : terkena narkoba, hamil di luar nikah, tawuran, dsb

(Buku “7 kiat orang tua shalih menjadikan anak disiplin dan bahagia” karya Ihsan Baihaqi halaman 40-47)