hutan

Seringnya Kita

Seringnya kita tertawa lebar saat dilimpahi nikmat,mengekspresikan kebahagiaan kita seolah dunia harus tau segalanya. tak peduli apakah saudara disamping kita sedang dalam kesulitan yang pelik, atau sedang punya beban yang melilit. Yang penting kita sedang bahagia. Itu saja.

Seringnya kita menangis tersedu saat ditimpa kesulitan, atau setidaknya menampakkan wajah lesu dan masam, tidak peduli apakah saudara kita juga sedang mengalami kesulitan yang sama atau bahkan lebih menyesakkan dari sekedar yang kita rasa. Yang kita tau dan kita pedulikan hanya perasaan kita, yang lainnya bukan urusan kita.

Seringnya kita berharap ada yang peka menanyai kesulitan kita saat ini, ada yang peka mengulurkan tangan memberi pertolongan, atau sekedar menyediakan telinga untuk mendengar keluhan-keluhan kita, berharap seluruh dunia diciptakan untuk menyokong kita saat sedang rapuh dan akan runtuh. Padahal jika orang disebelah kita yang mengalami kesulitan, seringnya kita hanya diam saja. Bahkan terkadang tidak peka dengan segala isyarat permintaan tolongnya. Ah, memang salahnya manusia terlalu banyak berharap pada yang juga sama-sama sedang berharap. Ujungnya hanya pengharapan dan ekspektasi berlebihan yang mengikis keakraban. Kita terperangkap dalam banyak hal yang semu, hal-hal yang hanya bayang-bayang.

Seringnya saat kita lelah, kita berharap ada bahu yang setia menawarkan diri menjadi sandaran, ada tangan yang rela memberikan pijatan menghilangkan pegal dikaki dan kebas ditangan, atau seminimalnya ada tangan yang menepuk pundak kita meyakinkan bahwa kita masih kuat, atau sekedar tatapan teduh yang mengisyaratkan bahwa masih ada kawan yang senantiasa bersedia membersamai. Itu sering jadi harapan kita terhadap orang lain, tapi sebaliknya jika orang lain yang mungkin kelelahan; jangankan untuk meringankan lelahnya, meliriknya dan menanyai kabarnya pun, seringkali kita tak sempat. Kita masing-masing sibuk dalam dunia kita sendiri.

Seringnya kita saat ada oang lain yang mengungkapakan keluh kesahnya, tidak mendengarkannya dengan serius, tidak berfikir dengan matang saat memberikan saran, tidak berupaya memposisikan diri kita diposisi orang tersebut agar kita lebih memahami perasaannya. Sementara saat kita yang berkeluh kesah; kita terus saja cerewet berkisah tentah segala susah dan lelah, tak peduli apakah si pendengar sebenarnya juga punya kesulitan-kesulitan yang ingin diceritakan atau tidak. Yaa. Seringnya kita begitu, hanya peduli pada hidup kita sendiri bukan pada yang lainnya.

Seringnya kita saat memberikan amanah kepada orang lain, berharap orang itu mampu bekerja dengan professional dan baik. Kita hanya mengharapkan mereka bekerja dengan baik. Namun jarang sekali kita berusaha mengetahui beban-beban pribadinya semisal kesehatan, finansial dan akademik, apakah semua itu juga berjalan dengan baik ataukah tidak?. Seringnya kita lupa, bahwa terkadang seseorang berupaya memenuhi komponen profesionalitas yang kita harapkan, sampai akhirnya ia lalai untuk profesional dalam urusannya sendiri, ia lalai dalam mengurus dirinya sendiri.

Dan parahnya kita selalu terlambat menyadari, bahwa kita sudah mengabaikan banyak hal mengenai saudara kita selama ini.

Seringnya kita, saat susah sedih dan gundah, kita berharap dan berharap dan berharap ada orang lain yang bersedia meringankan, membersamai, menolong, atau bahkan mengambil alih beban-beban kita dengan suka rela. Padahal semua yang dilimpahkan pada kita sudah diatur kadarnya; berapa orang yang akan membersamai, berapa banyak yang harus ditanggung, berapa pelik yang harus dihadapi. Semua diatur sesuai kadar. Tak ada yang salah dan tak ada yang tertukar. Tapi kita masih saja berharap kepekaan untuk meringankan, dari manusia-manusia yang juga sedang berharap hal yang sama dari kita. Padahal ada yang senantiasa berharap kita datang tersedu disepertiga malam mengadukan segalanya pada-Nya. Mengembalikan seluruh pengharapan hanya pada-Nya. Memohon dukungan dan kekuatan hanya pada-Nya.

Ah, seringnya kita, tetap “bersikap begini-begini saja”, padahal sudah faham kalau “begini begini saja” tidak akan ada gunanya.

©Hanifah | 2015
Don’t depend on yourself, Don’t depend on other people: Depend on Allah. Depend on Allah. Depend on Allah.

Hasil akumulasi perenungan: Sungai, 03052015—Pantai, 04052015—Hutan, 06052015

Kantor Yang Unik Di Tengah Hutan

Kantor yang segar dan suasana kerja yang nyaman pasti membawa dampak positif bagi para karyawannya. Pemandangan yang indah dan suasana yang nyaman sudah pasti dapat membantu menghilangkan ketegangan atau tekanan dalam dunia kerja Anda.

Kantor yang satu ini memang unik, berada ditengah taman yang sengaja dibuat nuansa seperti di tengah hutan. Desain untuk ruangan kantor unik ini pun terbilang aneh bin ajaib gan, tertanam beberapa centimeter di dalam tanah dengan bagian samping terbuat dari kaca sehingga para karyawan dapat menikmati pemandangan dan suasana seperti di hutan.

Apabila para karyawan melihat keluar seakan-akan mereka sedang berbaring di tanah atau sama rata dengan tanah alias lantai dari hutan buatan itu. Wah memang kreatif juga nih bosnya… enak kan kalau suasana kerjanya seperti ini.





Ngapain sih Naik-naik Gunung?

Banyak teman-teman yang bertanya, “Buat apa sih naik-naik gunung, kalau akhirnya turun lagi juga?”

dan jawaban saya akan hal ini adalah satu, yaitu “Spending some time seeing, feeling, & thinking of Allah’s AMAZING Creations”

Di pintu hutan, saya berjumpa dengan kearifan lokal penduduk pedesaan dengan segala keramahannya.
Di dalam hutan, saya tahu beragam kehidupan selain manusia bisa bersinergi dengan indah.
Di setiap tanjakan, saya tahu bahwa di situ terdapat nikmat Allah yang selalu memberi saya kekuatan.
Di puncaknya, saya dapat melihat keagungan-Nya dan mendapati betapa kecilnya seorang saya.

Di setiap terik matahari yang menerjang,
di setiap titik hujan yang menerpa wajah,
di setiap hembusan angin yang menyejukkan,
di setiap keteduhan pepohonan,
di setiap goresan ranting dan duri,
di setiap sengatan serangga dan tanaman,
di setiap tegukan air,
di setiap aliran air sungai yang jernih,
di setiap kicauan burung dan binatang hutan,
di setiap malam berbintang,
di setiap detik peristiwa yang dilalui di sepanjang perjalanan,
di situ dapat dilihat dan dirasakan keagungan Allah SWT.

Begitu banyak pelajaran hidup yang saya rasakan selama perjalanan, dan itu tak tergantikan.

Knit Inspiration: Hutan by Rohn Strong. Hutan (Indonesian for Forest) is a beautiful top down shawl perfect for that one precious skein of DK/Sport weight hand spun or commercial yarn. Shown in Ontheround Hand spun, this pattern is a perfect into to lace. The construction (top down) means that you can stop at any point or lengthen the shawl if desired. Great for summer knitting and worked a a looser gauge, Hutan is sure to become your favorite go-to piece.

#3

Pada suatu ketika, kita bertemu di taman pinggir hutan disuatu negeri. Pada waktu pagi saat burung-burung kecil mencipta orkestra kecildi dahan-dahan pepohonan. Hijau muda, hijau tua, cokelat muda, dan cokelat tua, itulah dedaunan yang terlihat oleh mata. Taman yang luas dengan berbagai varietas tumbuhan. Udara segar. Rerumputan segar yang enak direbahi. Aku selalu suka tempat-tempat seperti ini.

Di luar taman, barangkali hutan menyimpan rahasia. Segala hal tentang ketenangan dan ketentraman bisa jadi ada di dalam hutan berpohon rindang-rindang. 

Aku dan kamu duduk di bangku panjang di tengah taman. Menatap sisi taman yang terlihat satu-dua rumah penduduk. Aku ingin selalu di sini, dan kukira tak perlu lagi kita pergi ke tempat lain di bumi. Tapi apakah kita harus berhenti di sini? Entahlah.

Keep reading

tebing jalan di tengah hutan,
info lebih seputar spot wisata menarik lainnya kunjungi PlesirYuk.com 
#InfoTempatWisatadiIndonesia #plesiryukcom #destinasi #liburan #wisata #plesir #plesiran #travel #travelling #indonesia #holiday #trip #adventure #backpacker #jalanjalan #weekend #indotravellers  #wonderfull #alam #florest #hutan #beautifull 

Persebaran Hutan dan Hasil-Hasilnya

Persebaran Hutan dan Hasil-Hasilnya

Hutan yang dapat diambil hasilnya adalah sebagai berikut:

a) Hutan di Sumatera, menghasilkan:

  • rotan, untuk perabot rumah tangga atau diekspor;
  • damar, sejenis getah untuk bahan cat, lak, dan pernis;
  • perca, sejenis getah karet, tetapi tidak kenyal sekali, didapat dengan menyadap kulit pohon atau merebus daunnya dan digunakan untuk kabel telepon, serta listrik;
  • kamper (kapur barus), diambil dari…

View On WordPress

Lari ke Hutan

Dan dia,
Melarikan diri ke hutan
yang kosong tak terdiami oleh manusia.
Lalu dia melepaskan jeritan,
Untuk membebaskan dirinya yang satu lagi.

Benar,dedaunan juga bersetuju.
Apa yang dia lakukan itu melahirkan kelegaan
Flora juga tak bisa mengganggu.
“Teriaklah”,
“Teriaklah hingga pecah peti suaramu”,
bisik angin yang berlalu.
“Tapi ingat, sang rimau mungkin akan terjaga, dikejutkan oleh nyaringnya suaramu.”

Angin.

Berbagai Kendala dalam Bidang Kehutanan dan Upaya Mengatasinya

Berbagai Kendala dalam Bidang Kehutanan dan Upaya Mengatasinya

A. Berbagai kendala dalam bidang kehutanan

Kerusakan hutan disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut.

  1. Penebangan hutan secara liar oleh pencuri kayu atau perambah hutan.
  2. Sistem pertanian ladang berpindah oleh penduduak nomaden (penduduk yang suka berkelana atau berpindah tempat). Setelah ditebang, hutan dibakar lalu setelah dibiarkan 30 hari kemudian ditanami. Setelah panen 3-4 kali, kemudian…

View On WordPress