hutan

Menerjemahkan

Yang sulit itu menerjemahkan. Menerjemahkan apa saja. Orang yang tidak cakap berkomunikasi, ia akan kesulitan menerjemahkan jalan pikiran juga perasaannya. Orang yang tidak menguasai bahasa asing, ia akan sulit menerjemahkan ke bahasa yang ia pahami. Dan orang yang sedang kasmaran, seringkali tidak pandai menerjemahkan rasa cintanya. #ea Kesemuanya itu mengerucut pada satu persoalan: sulit menerjemahkan.

“Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu.” Lirik lagu Pupus yang dinyanyikan Once Mekel tersebut dimaksudkan sebagai ungkapan betapa besar cintanya pada si perempuan. Sampai-sampai yang diketahui si perempuan belum mampu menggambarkan perasaannya.

Namun lirik tersebut sebenarnya juga menunjukan kelemahan. Cara menerjemahkan cinta si laki-laki tidak terlalu baik. Sehingga si perempuan tidak mampu menjangkau besarnya cintanya. Lagi-lagi ini tentang sulitnya menerjemahkan (cinta).

Akhirnya, jika kamu, iya kamu para pembaca, sulit memahami maksud tulisanku ini, itu karena aku tidak piawai menerjemahkan. Aku kesulitan mengurai jalan pikiranku menjadi kalimat sederhana yang mudah dipahami. Ada dua kemungkinan, karena aku malas mencari bahan pendukung atau aku lagi malas mengedit tulisan ini berulang kali. Asal kamu tahu, keduanya benar!

Pict by: kybouge.tumblr.com

Yogyakarta, 9 Februari 2017

Mengenal-Mu

Mengenal-Mu ternyata tak mudah. Aku tidak cukup menggunakan satu atau dua jam saja, tapi aku butuh seumur hidupku. Ya, aku membutuhkan sepanjang hayatku untuk terus mengenal-Mu. Belajar, belajar lagi, dan belajar lagi untuk mengenalmu. Sebab, merasa sudah mengenal ternyata seringkali berarti bahwa aku belum jauh mengenal.

Mengenal-Mu ternyata tak sederhana. Aku mencoba mengartikan apa-apa yang diungkap semesta, tapi tak jarang aku kesulitan untuk menemukan makna. Terlihat tapi tak berdampak, terasa tapi tak mengena. Rupanya aku salah cara, sebab ternyata cara termudah untuk mengenal-Mu adalah dengan mengenali diriku sendiri terlebih dulu.

Mengenal-Mu ternyata butuh banyak tenaga. Aku tidak bisa hanya diam lalu kemudian menjadi paham, tapi aku harus melewati jalanan terjal, jurang, atau bahkan hutan-hutan gelap kehidupan. Uniknya, belajar mengenal-Mu ternyata seberliku ini, membuat aku seperti sedang melakukan petualangan terpanjang dalam hidupku. Tapi ini aneh, sebab semua tangis Kau bayar lunas, semua derita Kau hilangkan tanpa sisa, dan semua kelelahan Kau ganti dengan kebahagiaan yang tak terbayangkan.

Di atas semuanya, mengenal-Mu ternyata indah. Aku tak lagi kehilangan arah, sebab aku tahu di jalan mana aku harus berjalan, kemana harus pergi, dan bagaimana aku bisa menjalani hari-hari. Di atas semuanya, mengenal-Mu ternyata syahdu sebab meminta dan berbisik lirih kepada-Mu tentang doa-doa rahasiaku adalah candu.

Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik. Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)

Seringnya Kita

Seringnya kita tertawa lebar saat dilimpahi nikmat,mengekspresikan kebahagiaan kita seolah dunia harus tau segalanya. tak peduli apakah saudara disamping kita sedang dalam kesulitan yang pelik, atau sedang punya beban yang melilit. Yang penting kita sedang bahagia. Itu saja.

Seringnya kita menangis tersedu saat ditimpa kesulitan, atau setidaknya menampakkan wajah lesu dan masam, tidak peduli apakah saudara kita juga sedang mengalami kesulitan yang sama atau bahkan lebih menyesakkan dari sekedar yang kita rasa. Yang kita tau dan kita pedulikan hanya perasaan kita, yang lainnya bukan urusan kita.

Seringnya kita berharap ada yang peka menanyai kesulitan kita saat ini, ada yang peka mengulurkan tangan memberi pertolongan, atau sekedar menyediakan telinga untuk mendengar keluhan-keluhan kita, berharap seluruh dunia diciptakan untuk menyokong kita saat sedang rapuh dan akan runtuh. Padahal jika orang disebelah kita yang mengalami kesulitan, seringnya kita hanya diam saja. Bahkan terkadang tidak peka dengan segala isyarat permintaan tolongnya. Ah, memang salahnya manusia terlalu banyak berharap pada yang juga sama-sama sedang berharap. Ujungnya hanya pengharapan dan ekspektasi berlebihan yang mengikis keakraban. Kita terperangkap dalam banyak hal yang semu, hal-hal yang hanya bayang-bayang.

Seringnya saat kita lelah, kita berharap ada bahu yang setia menawarkan diri menjadi sandaran, ada tangan yang rela memberikan pijatan menghilangkan pegal dikaki dan kebas ditangan, atau seminimalnya ada tangan yang menepuk pundak kita meyakinkan bahwa kita masih kuat, atau sekedar tatapan teduh yang mengisyaratkan bahwa masih ada kawan yang senantiasa bersedia membersamai. Itu sering jadi harapan kita terhadap orang lain, tapi sebaliknya jika orang lain yang mungkin kelelahan; jangankan untuk meringankan lelahnya, meliriknya dan menanyai kabarnya pun, seringkali kita tak sempat. Kita masing-masing sibuk dalam dunia kita sendiri.

Seringnya kita saat ada oang lain yang mengungkapakan keluh kesahnya, tidak mendengarkannya dengan serius, tidak berfikir dengan matang saat memberikan saran, tidak berupaya memposisikan diri kita diposisi orang tersebut agar kita lebih memahami perasaannya. Sementara saat kita yang berkeluh kesah; kita terus saja cerewet berkisah tentah segala susah dan lelah, tak peduli apakah si pendengar sebenarnya juga punya kesulitan-kesulitan yang ingin diceritakan atau tidak. Yaa. Seringnya kita begitu, hanya peduli pada hidup kita sendiri bukan pada yang lainnya.

Seringnya kita saat memberikan amanah kepada orang lain, berharap orang itu mampu bekerja dengan professional dan baik. Kita hanya mengharapkan mereka bekerja dengan baik. Namun jarang sekali kita berusaha mengetahui beban-beban pribadinya semisal kesehatan, finansial dan akademik, apakah semua itu juga berjalan dengan baik ataukah tidak?. Seringnya kita lupa, bahwa terkadang seseorang berupaya memenuhi komponen profesionalitas yang kita harapkan, sampai akhirnya ia lalai untuk profesional dalam urusannya sendiri, ia lalai dalam mengurus dirinya sendiri.

Dan parahnya kita selalu terlambat menyadari, bahwa kita sudah mengabaikan banyak hal mengenai saudara kita selama ini.

Seringnya kita, saat susah sedih dan gundah, kita berharap dan berharap dan berharap ada orang lain yang bersedia meringankan, membersamai, menolong, atau bahkan mengambil alih beban-beban kita dengan suka rela. Padahal semua yang dilimpahkan pada kita sudah diatur kadarnya; berapa orang yang akan membersamai, berapa banyak yang harus ditanggung, berapa pelik yang harus dihadapi. Semua diatur sesuai kadar. Tak ada yang salah dan tak ada yang tertukar. Tapi kita masih saja berharap kepekaan untuk meringankan, dari manusia-manusia yang juga sedang berharap hal yang sama dari kita. Padahal ada yang senantiasa berharap kita datang tersedu disepertiga malam mengadukan segalanya pada-Nya. Mengembalikan seluruh pengharapan hanya pada-Nya. Memohon dukungan dan kekuatan hanya pada-Nya.

Ah, seringnya kita, tetap “bersikap begini-begini saja”, padahal sudah faham kalau “begini begini saja” tidak akan ada gunanya.

©Hanifah | 2015
Don’t depend on yourself, Don’t depend on other people: Depend on Allah. Depend on Allah. Depend on Allah.

Hasil akumulasi perenungan: Sungai, 03052015—Pantai, 04052015—Hutan, 06052015

#3

Pada suatu ketika, kita bertemu di taman pinggir hutan disuatu negeri. Pada waktu pagi saat burung-burung kecil mencipta orkestra kecil di dahan-dahan pepohonan. Hijau muda, hijau tua, cokelat muda, dan cokelat tua, itulah dedaunan yang terlihat oleh mata. Taman yang luas dengan berbagai varietas tumbuhan. Udara segar. Rerumputan segar yang enak direbahi. Aku selalu suka tempat-tempat seperti ini.

Di luar taman, barangkali hutan menyimpan rahasia. Segala hal tentang ketenangan dan ketentraman bisa jadi ada di dalam hutan berpohon rindang-rindang. 

Aku dan kamu duduk di bangku panjang di tengah taman. Menatap sisi taman yang terlihat satu-dua rumah penduduk. Aku ingin selalu di sini, dan kukira tak perlu lagi kita pergi ke tempat lain di bumi. Tapi apakah kita harus berhenti di sini? Entahlah.

Keep reading

Save Our Planet Earth

Mengapa sih kita harus menjaga Planet Bumi kita?

Apa yang sedang terjadi dengan Planet Bumi kita?

Berbagai pertanyaan mungkin saja muncul dalam benak kita jika melihat kampanye-kampanye di masyarakat ataupun di media massa mengenai pentingnya kita menjaga Planet Bumi kita. Kira-kira apa saja sih yang perlu dijaga agar Planet Bumi kita tetap hidup, lestari dan utuh?

Menjaga keutuhan Planet Bumi tidak perlu dilakukan dengan suatu gerakan yang revolusionis. Cukup dengan memperhatikan dan menjaga hal-hal kecil yang ada di lingkungan sekitar, kita dapat turut andil dalam menjaga Planet Bumi kita tercinta. Salah satu contohnya adalah mendaur ulang barang-barang yang masih dapat digunakan lagi. Ingat, bukan hanya menumpuknya di rumah ya!

Sayangnya, mengajak orang lain untuk menjaga kelestarian Planet Bumi tidak semudah kita merusak ekosistem yang ada di Planet Bumi. Di Indonesia, banyak para konglomerat yang tega menebang dan merusak hutan demi kelancaran bisnisnya. Mereka tidak memikirkan dampak jangka panjang yang akan timbul dari apa yang telah mereka perbuat. Padahal, hutan itu adalah paru-paru bagi Planet Bumi kita. Sama halnya dengan manusia, jika paru-paru yang dimiliki oleh manusia rusak, maka kesempatan kita untuk bertahan hidup akan semakin kecil.

Oleh karena itu, sebelum kita mengajak orang lain untuk menjaga Planet Bumi kita, kita harus memulainya dari diri kita sendiri. Biarkan mereka melihat dan menyadari usaha kita dalam menjaga Planet Bumi. Jika hal ini dilakukan secara bersama-sama, maka tidak ada tujuan yang tidak mungkin dapat dicapai. Jadi, mari kita selamatkan Palnet Bumi dimulai dari diri sendiri! ^^

Hidup di Kota, dan Tetap Ikut menyelamatkan Hutan

Sahabat Green, meski hidup ditengah kota, bukan berarti Anda tidak dapat berperan ikut dalam usaha penyelamatan hutan. Kami akan berikan tips usaha mudah ikut dalam menyelamatkan hutan kita.

1. Menjadi “orangtua asuh” bagi alam liar

Misalnya, dengan  menjadi “orangtua asuh” bagi seekor macan, gajah, orangutan atau badak di beberapa program LSM lingkungan. Atau juga adopsi pohon di Hutan Sahabat Green, sebuah program konservasi hutan yang digagas Green Radio Jakarta.

2. Hemat kertas

Untuk setiap satu ton kertas, ada 17 pohon yang mesti ditebang. Kurangilah pemakaian kertas, tetapi jika Anda benar-benar membutuhkan pemakaian kertas, cetaklah bolak-balik dan belilah kertas daur ulang.

3. Belilah kayu yang bagus

Ketika membeli produk kayu, carilah produk dengan label sertifikasi semacam “Forest Stewardship Council”, untuk membuktikan bahwa kayu tersebut memang berasal dari hutan-hutan yang dijaga kelestariannya.

4. Kurangilah penggunaan kelapa sawit ketika memasak.

Hal ini dikarenakan industri kelapa sawit masih berkontribusi dalam mengurangi ketersediaan lahan hutan.

 

5. Jangan memelihara hewan eksotik yang ditangkap dari alam liar, Seperti Macan, orangutan, babon Jawa, jalak Bali. Belum lagi status mereka yang terancam punah.

 

6. Pilihlah kopi ramah-lingkungan

Seringkali, kopi ditanam di perkebunan yang sebelumnya berupa hutan rimba, seperti cagar alam. Untuk menghindari konsumsi kopi yang berasal dari tempat-tempat tersebut, pilihlah jenis yang ditanam pada perkebunan yang menjaga kelestarian hutan, seperti merek Sekar Sedayu dari Lampung.

7. Memperkaya Diri dengan Informasi

Semua kehidupan di bumi tersambung dengan keberadaan hutan. Semakin banyak Anda belajar tentang masalah yang dihadapi hutan kita, semakin Anda akan ingin menjaganya.

Ngapain sih Naik-naik Gunung?

Banyak teman-teman yang bertanya, “Buat apa sih naik-naik gunung, kalau akhirnya turun lagi juga?”

dan jawaban saya akan hal ini adalah satu, yaitu “Spending some time seeing, feeling, & thinking of Allah’s AMAZING Creations”

Di pintu hutan, saya berjumpa dengan kearifan lokal penduduk pedesaan dengan segala keramahannya.
Di dalam hutan, saya tahu beragam kehidupan selain manusia bisa bersinergi dengan indah.
Di setiap tanjakan, saya tahu bahwa di situ terdapat nikmat Allah yang selalu memberi saya kekuatan.
Di puncaknya, saya dapat melihat keagungan-Nya dan mendapati betapa kecilnya seorang saya.

Di setiap terik matahari yang menerjang,
di setiap titik hujan yang menerpa wajah,
di setiap hembusan angin yang menyejukkan,
di setiap keteduhan pepohonan,
di setiap goresan ranting dan duri,
di setiap sengatan serangga dan tanaman,
di setiap tegukan air,
di setiap aliran air sungai yang jernih,
di setiap kicauan burung dan binatang hutan,
di setiap malam berbintang,
di setiap detik peristiwa yang dilalui di sepanjang perjalanan,
di situ dapat dilihat dan dirasakan keagungan Allah SWT.

Begitu banyak pelajaran hidup yang saya rasakan selama perjalanan, dan itu tak tergantikan.

Sembilan Hari di Hutan Hujan Tropis Kalimantan

Halo tumblr !!!

Setelah sembilan hari terperangkap di dalam hutan hujan tropis kalimantan, Akhirnya saya bisa bernafas sejenak di kota kecil yang terletak di sebelah selatan Pontianak yang bernama kota Kendawangan.

Oh ya, posting terakhir saya pada tanggal 21 Januari lalu masih saya tulis di Jakarta. Singkat cerita setelah dari Jakarta saya tiba di Pontianak dan langsung melanjutkan perjalanan udara ke kota Ketapang. Di ketapang  waktu yang saya punya sangat sedikit, sehingga saya tidak dapat bercerita tentang petualangan saya di tumblr ini. Dari Ketapang, perjalanan dilanjutkan kembali menuju desa Belantak, sebuah desa terpencil suku dayak kanayan Kalbar yang tidak tergambar di peta.

Yap, saya masih hidup. hahaha. Selama sembilan hari ini saya berada di sebuah perusahaan Tambang bijih besi yang berada sangat jauh dari pusat kota. Tidak ada jaringan Internet. Sama sekali tidak ada.

Banyaaaak sekali sebenarnya yang ingin saya tuliskan disini, namun waktu yang saya punya saat ini tidaklah cukup untuk menuliskan semuanya, sehingga saya tidak bisa bercerita secara rinci tentang pengalaman yang saya dapat disini. Banyak teman-teman baru yang saya jumpai disini, kebanyakan dari mereka adalah perantau dari Jawa yang mencoba mengadu nasibnya disini. Mereka hebat, mereka mampu bertahan disini, besar disini dan sukses disini. Ada juga adik-adik kelas Stembayo angkatan 2011 yang saya temui disini, mereka sedang praktek kerja lapangan. Hahaha, saya tidak menyangka dunia begitu sempit sehingga dapat menemui mereka disini.

Bersama mereka saya berjalan melintasi hutan yang lebat, menyusuri sungai yang deras, melewati rawa yang dalam hingga mendaki bukit yang tinggi demi mengukir sebuah petualangan. Bersama mereka saya berbagi air minum disaat haus dan berbagi canda tawa disaat lelah. Luar biasa, ternyata saya tidak sendiri. Salam kompak selalu untuk MiningSquad.

Akhirnya, malam ini 30 Januari 2011, jam 22.02 saya memutuskan untuk keluar sejenak dari dalam hutan untuk bertemu dengan tumblr. Setelah ini saya masih masuk ke dalam hutan hujan tropis itu lagi, untuk melanjutkan sebuah petualangan yang terhenti !

Kompas Itu

Untuk seseorang yang takmempan dengan banyak pengalihan yang aku lakukan.

Aku masih menyimpan kompas itu: kompas yang kumiliki sebagai penunjuk arah ke mana kaki kuayunkan. Kompas yang kumiliki ini, bukan berarti tidak pernah menyesatkanku. Berkali-kali aku dibuat menyasar, kadang semakin jauh ke hutan, kadang tiba-tiba ada di persimpangan jalan.

Dengan memar tertimpa batang, kaki tersandung bebatuan, dengan pula kebingungan memilih kiri atau kanan, kompas ini terus saja aku genggam. Menuntun kaki mencari arah matahari terbit, tempat kehangatan bersemayam, tempat pulang: menujumu kah atau menuju kesepian yang disahkan.

Jarum pada kompas ini terus memutar. Persis kepala yang rasanya sedang menyunggi bianglala. Tidak terdengar lagi suara burung atau kendaraan yang berderum. Kuberi tahu, bahkan aku berkali-kali limbung, sulit mencitrakan antara benarkah aku semakin melangkah menuju hutan bagian dalam, atau jalan yang menawarkan dua belahannya.

Belakangan, kompasku tidak berfungsi dengan baik. Bagaimana tidak, ia tidak bisa menunjukkan ke arah mana sebenarnya hatimu menghadap: ke ketiadaan, atau menetap. Melalui jarumnya yang goyah goyang-goyang, ia meratap: berhenti! Jangan ikuti aku lagi!

Pic: Vintage Compass from Etsy

Harusnya dulu tak usah aku mengubur rindu..
Sedang pada nisannya masih jelas terbaca nama orang di masa lalu..
Harusnya dulu aku bebaskan rindu..
Agar hilang di hutan belantara..
Dan terkubur dengan sendirinya..
Tanpa nama..
Tanpa aku ketahui tempat dan nisannya..

“Everything you want is a dream away.”

Sakura Koi Watercolor on Canson Montval 300gr

Sepenggal lirik lagu Adventure of a Lifetime milik Coldplay malam itu bercampur dalam warna dan melahirkan artwork ini. Burung Toucan, bunga sepatu, daun palm dan sederet dedaunan disana masuk bersama untuk menyampaikan tema tropis, karena video klip Coldplay sendiri, di lagu ini, menggunakan setting hutan hujan tropis beserta makhluk makhluk didalamnya.
Selain itu, beberapa waktu terakhir banyak bermunculan tumbuhan tropis dengan background baby pink atau putih lalu lalang di beranda instagram saya. tak lupa dengan hashtag aesthetic-nya.

Keep reading

"Khair, Khair, InsyAllah"

Dikisahkan, ada seorang raja yang hidup di suatu tempat bersama menteri kepercayaannya. Sang menteri dikenal selalu mengucap, “Khair, khair, insyAllah.”

Dan di hari Jum'at, sang menteri menemani rajanya berburu di hutan. Dan tanpa disengaja, ujung jari sang raja terpotong. Sang menteri yang melihatnya lantas mengucap, “Khair, khair, insyAllah.” Raja yang mendengarnya merasa sedang diejek. “Apa-apaan kamu, jariku terpotong dan kau mengucap ‘khair’? Khair-nya di mana? Kau mengejekku, dan akan kujebloskan kau ke penjara.”

Sang raja pun memerintahkan pasukannya untuk menjebloskan sang menteri kepercayaannya itu ke penjara. Dan tidak ada kalimat apa pun yang keluar dari mulutnya, melainkan “Khair, khair, insyAllah.”

Di Jum'at berikutnya, sang raja pergi berburu sendirian. Dan ternyata, di hari itu dia sedang kurang beruntung. Ada sekawanan kanibal yang menangkapnya. Ia pun dibawa ke perkampungan mereka dan akan dijadikan santapan. Namun, ketika fisiknya diperiksa, salah seorang di antara para kanibal itu melihat ada ujung jari dari sang raja yang terpotong. Sudah menjadi adat kaum itu, yaitu jika korban mereka cacat, mereka akan membebaskannya. Maka sang raja pun dibebaskan.

Sang raja teringat kata-kata menteri kepercayaannya itu, “Khair, khair, insyAllah.” Lantas, ia pun pulang dan membebaskan sang menteri. Sang raja bercerita kepada menterinya tentang apa yang dialaminya sebelumnya dan berkata bahwa jarinya yang terpotong itu ternyata baik baginya. Tapi ia masih heran, kenapa ketika dia menjebloskan sang menteri ke penjara, dia tetap merapal hal yang sama. Lantas, ia menanyakan hal itu pada sang menteri.

Sang menteri menjawab, “Tuan, jika aku tak dipenjara, aku akan tetap bersamamu. Dan kalau kita masuk ke hutan dan ditangkap oleh gerombolan kanibal itu, aku yang akan disembelih, karena di fisikku tidak ada kekurangan. Ternyata dipenjara lebih baik bagiku, makanya aku berkata begitu.”

Keduanya pun tertawa.

(Dari buku Qiroah Rosyidah, dengan sedikit pengubahan. Kelas berapa ini ya, @salfarisibasyir? Hahaha.)

Tak bisa ke lain hati
  • <p> <b></b> 2017 adalah tahun yang aku pilih untuk mengistirahatkan ransel ijo ku,dan akhirnya Hima merealisasikan kata-kata ku yang setahun sebelumnya pernah ku ucap "aku gak mau ganti tas kalo si ijo belom muncak". Awal tahun Hima dan yang lain membantu merealisasikannya<p/><b>Hima:</b> piye jadi gak ganti tas? *nada ngece<p/><b>Ajeng:</b> yo jadi sih mbak tapi de'e hurung tau munggah e,berat hati hehe<p/><b>Nisa:</b> kae diajak ngAndong wae him mesakke tas e wis buluk,bolong sisan (duh dek) -_-<p/><b>Ajeng:</b> nice idea mbak,kapan?<p/><b>Hima:</b> halah wacana terus kalian<p/><b>Ajeng:</b> kali ini gak bisa ditahan mbak,buruan aja ya kabar2 di group *pamit masuk kelas duluan<p/><b></b> Berminggu2 atau bahkan berbulan2 rencana itu baru bisa terwujud pas banget jatuh diawal tahun 2017 kami ke Andong. Sekitar pukul 22.00 kami sampai Ngablak salah satu desa yang ada di Andong,disana kami istirahat dirumah Hima dan memulai berjalan kaki sekitar pukul 04.00,sedikit molor dari jadwal awal karena hujan tak kunjung reda. Tak ada kawan laki-laki waktu itu,kami berlima perempuan ditengah hutan belantara (lebay) menapaki jalan tanpa senter tanpa sepatu gunung, bermodalkan insting dan mata yang alhamdulillah masih tajam wkwk.<p/><b>Ajeng:</b> mbak aku gak yakin bisa sampai atas<p/><b>Hima:</b> nisa aja dulu kuat,kamu bisa dek selow wae<p/><b>Ajeng:</b> aku aja gak yakin kok kamu PD banget mbak aku bisa -_-"<p/><b>Mbak Nurul:</b> uda sampai sini lho semangat!!<p/><b></b> Sebelum pos 1 salah satu kawan meminta istirahat karena merasa agak mual. Aku pun menggantikannya berada di posisi paling belakang,kondisi masih agak gerimis dan gelap,kami berjalan sangat lambat.<p/><b>Hima:</b> yang lain oke??istirahat di pos 1 sanggup?<p/><b>Mbak nurul:</b> oke dek pos 1 nanti istirahat dulu ya mbak capek *ngos-ngosan<p/><b>Suci:</b> sek to Him leren sek<p/><b>Hima:</b> haha iyo Cek santai<p/><b></b> Singkat cerita ditengah perjalanan kami bertemu kawan baru dari univ lain,dan sampai sekarang kami masih berhubungan dengan baik.<p/><b></b> Ketika sampai di puncak kami memutuskan untuk segera turun karena kabut tak kunjung hilang dan dingin mulai menusuk hati *eh tulang.<p/><b></b> Sesampainya dibawah kami pamitan dengan kawan baru kami dan melanjutkan perjalanan masing-masing<p/><b>Suci:</b> eh uda dapet emailnya mas nya tinggal nunggu dikirim aja foto kita diatas tadi<p/><b>Nisa:</b> mantab jiwa Sucek gercep tenan<p/><b>Hima:</b> tiati baper hahaha,eh btw bakal ada yang melepas masa lalu nih<p/><b>Ajeng:</b> hehe doakan aja lancar jaya<p/><b>Suci:</b> lho serius Jeng kamu suka sama yang itu tadi?akhirnyaaa taken juga...<p/><b></b> Aku dan Hima sempat kebingungan dengan ucapan Suci dan akhirnya kami cuma ketawa<p/><b>Hima:</b> wkwkwk ceeek sucek maksud ku itu dek Ajeng bakalan ganti tas baru,kenapa sampai taken sgala<p/><b>Suci:</b> tapi tadi pas turun aku denger kalian ngobrol soal mas itu Jeng, kalian deketan kan rumahnya?<p/><b>Ajeng:</b> hahha kamu minum dulu sana biar gak salah fokus<p/><b>Nisa:</b> uhuk...*kagak batuk di batuk-batukin maksudnya apa -_-"<p/><b></b> Di skip lagi aja deh,akhirnya kami sampai solo sekitar jam 5 sore,dan aku ternyata tetep bersama si ijo sampai sekarang,meskipun sudah ada yang menggantikan sebenernya hehe serusak apapun kamu Jo,kamu tetep harus ada buat aku,sama-sama terus ya Jo.....*BigHug
pergi berkemah

malam hari, setelah berjalan kaki mencatat ribuan alamat, kau mendirikan sebuah tenda di kepala. bulan mengintip dari balik srikaya dan kau mulai bernyanyi. “di sini senang, di sana senang, di mana-mana hatiku…,” meski kau selalu lupa membawa kompas, belati, tongkat dan temali.

sebuah danau, museum kedamaian dan simbol-simbol rahasia ada di seberang sana. kau menatapnya dengan sepasang mata tebing. sedangkan jurang yang membentang dan memisahkan masa depan, seperti seorang penggemar yang senang bertepuk tangan.

kau teringat pada lelaki-lelaki hijau yang membariskan penantian dan menumpahkan airmata di seragam cokelatmu. "mereka hanya datang untuk menuliskan seribu sandi di buku sakuku, lalu pergi meninggalkan teka-teki yang tak pernah ingin dipecahkan.” barangkali hanya hujan yang tak pernah mengecewakan siapa pun, bahkan seorang gadis kecil yang kesepian.

malam ini, dalam tidurmu kau akan kembali bermimpi menjadi seekor ular kecil yang menjelajahi hutan sendirian. tapi kau tak pernah kecewa ketika terbangun, pagi meniup peluit dan kau dapati dirimu tersesat dalam tubuh seekor kelinci: dikelilingi aba-aba peringatan, dan bendera merah yang dikibarkan berulang-ulang. “dilarang keluar malam. ada begitu banyak binatang buas yang kelaparan!”

sebenarnya kau sama sekali tak pernah takut pada binatang buas dan segala ancaman hukuman. kau hanya takut pada sepi yang mengganggumu berkali-kali. karenanya api unggun dan keramaian harus selalu menyala di tubuhmu.

seperti malam ini, di sebuah tenda yang diam-diam kau dirikan, kau membakar masa lalu yang tak pernah mau melepas simpul matinya. dini hari nanti, hujan akan datang meringkas segala kesedihan. menyembunyikan sebungkus permen di sepatu, dan sebuah doa agar langkahmu ringan selalu.

Ikal Hidayat Noor

2014

*puisi ini dari seorang senior yang baru beberapa tahun ini menganggap saya sebagai fansnya, adiknya dan muridnya. Semoga panjang umur, mase. 

Terlihat dan Terasa

Melihat semuanya sudah banyak berubah. Ruko, rumah, dan bangunan perkantoran menggantikan sedikit hutan dan sawah di jalan yang sebelumnya sering kulalui.

Tak ada yang menyapa, sebelumnya begitu banyak pernah ucapan di sepanjang jalur biasanya aku bersepeda. Teman lama ataupun entah siapa yang memanggil tiba tiba.

Diantara makin banyak perubahan yang terlihat dan terasa ketika aku menulis ini di rumah, di kampung halaman tempat aku dibesarkan, dan semua yang pada detik ini sedang kupikirkan;

Aku rasa aku hanya sedang merindukannya.

Akibat Suka Berlagu

Suatu ketika, ada dua orang sahabat–yang entah bagaimana, tersasar ke tengah hutan. Salah satu di antara mereka dikenal sangat berlagu. Sementara satunya lagi, hanya diam menyimak, dan sesekali mengangguk.

Sepanjang jalan, orang yang berlagu itu terus-menerus bercerita bagaimana dia bisa mengatasi banyak situasi-situasi sulit. Sedangkan teman di sebelahnya? Hanya mengiyakan sambil mengangguk. Dan terus begitu.

Hingga tak lama kemudian, raungan beruang terdengar tak jauh dari tempat mereka berjalan. Si pendiam langsung terjatuh tak sadarkan diri. Sedangkan si berlagu? Dia lari terbirit-birit dan lantas memanjat pohon yang ada di dekatnya.

Beruang itu akhirnya benar-benar datang. Diendusnya jasad si pendiam yang sedari tadi sudah tak sadarkan diri. Lalu, ia pergi meninggalkan jasad itu, setelah dia mengetahui bahwa jasad itu sudah tidak ada nafasnya. Sementara si berlagu terus menonton dari atas, hingga beruang itu akhirnya pergi.

Si berlagu turun menghampiri temannya yang pendiam itu. Si pendiam langsung sadar. Ternyata, tadi dia hanya pura-pura pingsan. Lalu si berlagu berkata, “Aku pikir, kau akan segera dimakan beruang itu. Aku takut.” Lalu temannya itu menjawab, “Tak usah takut, aku tahu dia tidak sedang lapar. Hanya iseng mengendusku saja.”

Lalu si berlagu bertanya lagi, “Sepertinya beruang tadi seperti mengatakan sesuatu kepadamu.”

“Ya,” jawab si pendiam.

“Apa itu?” si berlagu bertanya.

Lalu si pendiam menjawab dengan nada mengejek, “Tadi dia bilang, jangan percaya pada orang yang berlagu. Mereka pendusta, tak bisa dipercaya, dan tak bisa dipegang kata-katanya.”

Pelajarannya: Orang yang suka dipuji atas apa yang tidak dia lakukan, atau apa yang tidak dimilikinya, adalah orang munafik.

(Dari buku Qiroah Rosyidah, dengan pengubahan.)

Ramai yg pentingkan konek yg bsr…tp selera aku lain sket. Saiz x penting pd aku, jnji bulu konek dia lebat ditambah pulak bulu jubo. Perghhhhh memang aku kejar…pd aku biar konek kecik ciput asal bulu lebat mcm hutan belantara. Bulu jubo xde xpe la tp klo byk bulu kt jubo adalah 1 bonus pd aku…aummmmm best rimming.