hutan

#3

Pada suatu ketika, kita bertemu di taman pinggir hutan disuatu negeri. Pada waktu pagi saat burung-burung kecil mencipta orkestra kecil di dahan-dahan pepohonan. Hijau muda, hijau tua, cokelat muda, dan cokelat tua, itulah dedaunan yang terlihat oleh mata. Taman yang luas dengan berbagai varietas tumbuhan. Udara segar. Rerumputan segar yang enak direbahi. Aku selalu suka tempat-tempat seperti ini.

Di luar taman, barangkali hutan menyimpan rahasia. Segala hal tentang ketenangan dan ketentraman bisa jadi ada di dalam hutan berpohon rindang-rindang. 

Aku dan kamu duduk di bangku panjang di tengah taman. Menatap sisi taman yang terlihat satu-dua rumah penduduk. Aku ingin selalu di sini, dan kukira tak perlu lagi kita pergi ke tempat lain di bumi. Tapi apakah kita harus berhenti di sini? Entahlah.

Keep reading

Seringnya Kita

Seringnya kita tertawa lebar saat dilimpahi nikmat,mengekspresikan kebahagiaan kita seolah dunia harus tau segalanya. tak peduli apakah saudara disamping kita sedang dalam kesulitan yang pelik, atau sedang punya beban yang melilit. Yang penting kita sedang bahagia. Itu saja.

Seringnya kita menangis tersedu saat ditimpa kesulitan, atau setidaknya menampakkan wajah lesu dan masam, tidak peduli apakah saudara kita juga sedang mengalami kesulitan yang sama atau bahkan lebih menyesakkan dari sekedar yang kita rasa. Yang kita tau dan kita pedulikan hanya perasaan kita, yang lainnya bukan urusan kita.

Seringnya kita berharap ada yang peka menanyai kesulitan kita saat ini, ada yang peka mengulurkan tangan memberi pertolongan, atau sekedar menyediakan telinga untuk mendengar keluhan-keluhan kita, berharap seluruh dunia diciptakan untuk menyokong kita saat sedang rapuh dan akan runtuh. Padahal jika orang disebelah kita yang mengalami kesulitan, seringnya kita hanya diam saja. Bahkan terkadang tidak peka dengan segala isyarat permintaan tolongnya. Ah, memang salahnya manusia terlalu banyak berharap pada yang juga sama-sama sedang berharap. Ujungnya hanya pengharapan dan ekspektasi berlebihan yang mengikis keakraban. Kita terperangkap dalam banyak hal yang semu, hal-hal yang hanya bayang-bayang.

Seringnya saat kita lelah, kita berharap ada bahu yang setia menawarkan diri menjadi sandaran, ada tangan yang rela memberikan pijatan menghilangkan pegal dikaki dan kebas ditangan, atau seminimalnya ada tangan yang menepuk pundak kita meyakinkan bahwa kita masih kuat, atau sekedar tatapan teduh yang mengisyaratkan bahwa masih ada kawan yang senantiasa bersedia membersamai. Itu sering jadi harapan kita terhadap orang lain, tapi sebaliknya jika orang lain yang mungkin kelelahan; jangankan untuk meringankan lelahnya, meliriknya dan menanyai kabarnya pun, seringkali kita tak sempat. Kita masing-masing sibuk dalam dunia kita sendiri.

Seringnya kita saat ada oang lain yang mengungkapakan keluh kesahnya, tidak mendengarkannya dengan serius, tidak berfikir dengan matang saat memberikan saran, tidak berupaya memposisikan diri kita diposisi orang tersebut agar kita lebih memahami perasaannya. Sementara saat kita yang berkeluh kesah; kita terus saja cerewet berkisah tentah segala susah dan lelah, tak peduli apakah si pendengar sebenarnya juga punya kesulitan-kesulitan yang ingin diceritakan atau tidak. Yaa. Seringnya kita begitu, hanya peduli pada hidup kita sendiri bukan pada yang lainnya.

Seringnya kita saat memberikan amanah kepada orang lain, berharap orang itu mampu bekerja dengan professional dan baik. Kita hanya mengharapkan mereka bekerja dengan baik. Namun jarang sekali kita berusaha mengetahui beban-beban pribadinya semisal kesehatan, finansial dan akademik, apakah semua itu juga berjalan dengan baik ataukah tidak?. Seringnya kita lupa, bahwa terkadang seseorang berupaya memenuhi komponen profesionalitas yang kita harapkan, sampai akhirnya ia lalai untuk profesional dalam urusannya sendiri, ia lalai dalam mengurus dirinya sendiri.

Dan parahnya kita selalu terlambat menyadari, bahwa kita sudah mengabaikan banyak hal mengenai saudara kita selama ini.

Seringnya kita, saat susah sedih dan gundah, kita berharap dan berharap dan berharap ada orang lain yang bersedia meringankan, membersamai, menolong, atau bahkan mengambil alih beban-beban kita dengan suka rela. Padahal semua yang dilimpahkan pada kita sudah diatur kadarnya; berapa orang yang akan membersamai, berapa banyak yang harus ditanggung, berapa pelik yang harus dihadapi. Semua diatur sesuai kadar. Tak ada yang salah dan tak ada yang tertukar. Tapi kita masih saja berharap kepekaan untuk meringankan, dari manusia-manusia yang juga sedang berharap hal yang sama dari kita. Padahal ada yang senantiasa berharap kita datang tersedu disepertiga malam mengadukan segalanya pada-Nya. Mengembalikan seluruh pengharapan hanya pada-Nya. Memohon dukungan dan kekuatan hanya pada-Nya.

Ah, seringnya kita, tetap “bersikap begini-begini saja”, padahal sudah faham kalau “begini begini saja” tidak akan ada gunanya.

©Hanifah | 2015
Don’t depend on yourself, Don’t depend on other people: Depend on Allah. Depend on Allah. Depend on Allah.

Hasil akumulasi perenungan: Sungai, 03052015—Pantai, 04052015—Hutan, 06052015

Kadang kita lupa berterimakasih pada tanah, kadang kita hanya melihat pohon yang tinggi padahal tanpa tanah tidak akan bisa tumbuh pohon yang tinggi

Hal yang wajar jika kita melihat sesuatu yang tinggi, langsung terlihat dimana-mana. Tapi taukah bahwa pohon tinggi tersebut bisa dikatakan tinggi karena ada pohon yang rendah dan pohon-pohon tersebut tak akan dapat tumbuh jika tidak ada tanah

Adakah dari kita yang ingin menjadi tanah? Tanah berada dibawah pohon, tapi tanpa tanah pohon-pohon tersebut tidak dapat tumbuh tinggi

Adakah dari kita yang ingin menjadi pohon tinggi? Ah pasti ada. Bahkan akan berebutan untuk menjadi yang paling tinggi

Tapi adakah yang berterimakasih pada tanah? Berterimakasih kepada yang sudah mau berperan menjadi tanah agar ada peran menjadi pohon tinggi?

Setiap peran itu penting. Jangan lupa berterimakasih

#tulisan #muhasabahdiri #selfreminder
#ntms #view #hutan #pohon #tamansafari

Made with Instagram
Ngapain sih Naik-naik Gunung?

Banyak teman-teman yang bertanya, “Buat apa sih naik-naik gunung, kalau akhirnya turun lagi juga?”

dan jawaban saya akan hal ini adalah satu, yaitu “Spending some time seeing, feeling, & thinking of Allah’s AMAZING Creations”

Di pintu hutan, saya berjumpa dengan kearifan lokal penduduk pedesaan dengan segala keramahannya.
Di dalam hutan, saya tahu beragam kehidupan selain manusia bisa bersinergi dengan indah.
Di setiap tanjakan, saya tahu bahwa di situ terdapat nikmat Allah yang selalu memberi saya kekuatan.
Di puncaknya, saya dapat melihat keagungan-Nya dan mendapati betapa kecilnya seorang saya.

Di setiap terik matahari yang menerjang,
di setiap titik hujan yang menerpa wajah,
di setiap hembusan angin yang menyejukkan,
di setiap keteduhan pepohonan,
di setiap goresan ranting dan duri,
di setiap sengatan serangga dan tanaman,
di setiap tegukan air,
di setiap aliran air sungai yang jernih,
di setiap kicauan burung dan binatang hutan,
di setiap malam berbintang,
di setiap detik peristiwa yang dilalui di sepanjang perjalanan,
di situ dapat dilihat dan dirasakan keagungan Allah SWT.

Begitu banyak pelajaran hidup yang saya rasakan selama perjalanan, dan itu tak tergantikan.

Knit Inspiration: Hutan by Rohn Strong. Hutan (Indonesian for Forest) is a beautiful top down shawl perfect for that one precious skein of DK/Sport weight hand spun or commercial yarn. Shown in Ontheround Hand spun, this pattern is a perfect into to lace. The construction (top down) means that you can stop at any point or lengthen the shawl if desired. Great for summer knitting and worked a a looser gauge, Hutan is sure to become your favorite go-to piece.

Hidup di Kota, dan Tetap Ikut menyelamatkan Hutan

Sahabat Green, meski hidup ditengah kota, bukan berarti Anda tidak dapat berperan ikut dalam usaha penyelamatan hutan. Kami akan berikan tips usaha mudah ikut dalam menyelamatkan hutan kita.

1. Menjadi “orangtua asuh” bagi alam liar

Misalnya, dengan  menjadi “orangtua asuh” bagi seekor macan, gajah, orangutan atau badak di beberapa program LSM lingkungan. Atau juga adopsi pohon di Hutan Sahabat Green, sebuah program konservasi hutan yang digagas Green Radio Jakarta.

2. Hemat kertas

Untuk setiap satu ton kertas, ada 17 pohon yang mesti ditebang. Kurangilah pemakaian kertas, tetapi jika Anda benar-benar membutuhkan pemakaian kertas, cetaklah bolak-balik dan belilah kertas daur ulang.

3. Belilah kayu yang bagus

Ketika membeli produk kayu, carilah produk dengan label sertifikasi semacam “Forest Stewardship Council”, untuk membuktikan bahwa kayu tersebut memang berasal dari hutan-hutan yang dijaga kelestariannya.

4. Kurangilah penggunaan kelapa sawit ketika memasak.

Hal ini dikarenakan industri kelapa sawit masih berkontribusi dalam mengurangi ketersediaan lahan hutan.

 

5. Jangan memelihara hewan eksotik yang ditangkap dari alam liar, Seperti Macan, orangutan, babon Jawa, jalak Bali. Belum lagi status mereka yang terancam punah.

 

6. Pilihlah kopi ramah-lingkungan

Seringkali, kopi ditanam di perkebunan yang sebelumnya berupa hutan rimba, seperti cagar alam. Untuk menghindari konsumsi kopi yang berasal dari tempat-tempat tersebut, pilihlah jenis yang ditanam pada perkebunan yang menjaga kelestarian hutan, seperti merek Sekar Sedayu dari Lampung.

7. Memperkaya Diri dengan Informasi

Semua kehidupan di bumi tersambung dengan keberadaan hutan. Semakin banyak Anda belajar tentang masalah yang dihadapi hutan kita, semakin Anda akan ingin menjaganya.

Save Our Planet Earth

Mengapa sih kita harus menjaga Planet Bumi kita?

Apa yang sedang terjadi dengan Planet Bumi kita?

Berbagai pertanyaan mungkin saja muncul dalam benak kita jika melihat kampanye-kampanye di masyarakat ataupun di media massa mengenai pentingnya kita menjaga Planet Bumi kita. Kira-kira apa saja sih yang perlu dijaga agar Planet Bumi kita tetap hidup, lestari dan utuh?

Menjaga keutuhan Planet Bumi tidak perlu dilakukan dengan suatu gerakan yang revolusionis. Cukup dengan memperhatikan dan menjaga hal-hal kecil yang ada di lingkungan sekitar, kita dapat turut andil dalam menjaga Planet Bumi kita tercinta. Salah satu contohnya adalah mendaur ulang barang-barang yang masih dapat digunakan lagi. Ingat, bukan hanya menumpuknya di rumah ya!

Sayangnya, mengajak orang lain untuk menjaga kelestarian Planet Bumi tidak semudah kita merusak ekosistem yang ada di Planet Bumi. Di Indonesia, banyak para konglomerat yang tega menebang dan merusak hutan demi kelancaran bisnisnya. Mereka tidak memikirkan dampak jangka panjang yang akan timbul dari apa yang telah mereka perbuat. Padahal, hutan itu adalah paru-paru bagi Planet Bumi kita. Sama halnya dengan manusia, jika paru-paru yang dimiliki oleh manusia rusak, maka kesempatan kita untuk bertahan hidup akan semakin kecil.

Oleh karena itu, sebelum kita mengajak orang lain untuk menjaga Planet Bumi kita, kita harus memulainya dari diri kita sendiri. Biarkan mereka melihat dan menyadari usaha kita dalam menjaga Planet Bumi. Jika hal ini dilakukan secara bersama-sama, maka tidak ada tujuan yang tidak mungkin dapat dicapai. Jadi, mari kita selamatkan Palnet Bumi dimulai dari diri sendiri! ^^

Lari ke Hutan

Dan dia,
Melarikan diri ke hutan
yang kosong tak terdiami oleh manusia.
Lalu dia melepaskan jeritan,
Untuk membebaskan dirinya yang satu lagi.

Benar,dedaunan juga bersetuju.
Apa yang dia lakukan itu melahirkan kelegaan
Flora juga tak bisa mengganggu.
“Teriaklah”,
“Teriaklah hingga pecah peti suaramu”,
bisik angin yang berlalu.
“Tapi ingat, sang rimau mungkin akan terjaga, dikejutkan oleh nyaringnya suaramu.”

Angin.

Kehutanan: Bermula dari Suka Jalan-jalan

Ini catatan obrolan saya dan seorang mahasiswa kehutanan UGM di kereta Malioboro Ekspres, tujuan Jogja dari Malang. Dia baru pulang dari naik gunung Rinjani, Lombok. Perjalanan Jogja-Banyuwangi-Lombok ditempuh dengan sepeda motor. Mereka berempat seregu. Sepulang dari Rinjani dia mampir ke rumah keluarga ibunya di Malang.

Saat saya tanya-tanya kenapa milih jurusan kehutanan…

“Saya dulu suka banget matematika, Mas. Pernah ikut lomba robotik juga dan menang. Hadiah juara tiga lomba robotik di sebuah kampus negeri di Jawa Timur itu adalah tawaran masuk jurusan informatika tanpa tes, plus beasiswa penuh untuk enam semester. Lumayan kan, Mas, uang sekolah dibayarin gitu. Tapi, saya tolak karena saya juga keterima di jurusan kehutanan UGM. Waktu itu saya sadar bahwa saya sangat suka dengan matematika. Cuma saja rasa-rasanya saya tidak akan melanjutkan bermain-main dengan angka yang semakin lama semakin terasa abstrak. Saya ingin mempelajari sesuatu yang konkrit. Kebetulan dari SMA saya sudah sering naik gunung. Saya senang sekali berada di alam bebas walaupun harus berat-berat bawa carrier dan bersusah-susah karena minum dan makan dibatasi. Belum lagi kalau hujan, kalau ada yang jatuh sehingga butuh dibopong, atau pas persediaan air habis. Kalau sudah air yang habis itu rasanya… ga nahan, Mas!”

Saat saya tanya-tanya tentang cita-citanya setelah lulus…

“Setelah waktu itu saya beritikad beralih dari angka-angka ke hal-hal yang lebih konkrit, saya masih saja bertemu dengan angka-angka pas kuliah di kehutanan. Ya memang tidak bisa dielakkan, mahasiswa harus bisa bermain angka dan mengolah data. Tapi, makin kesini saya semakin menemukan keseruan dalam jurusan saya, yaitu soal manajemen kehutanan. Hutan kan tidak cuma soal pelestarian vegetasinya dan wisata alam. Lebih dari itu, kita juga akan terlibat tentang bagaimana hutan, terutama di daerah pegunungan, menjadi sumber air, bagaimana perusahaan tambang/geothermal harus mengatur soal perijinan membuka lahan dan nantinya aturan membuang limbah, serta bagaimana melihat hutan sebagai bagian dari mata pencaharian penduduk setempat. Nah, saya suka tuh kalau sudah banyak berkaitan dengan manajemen dan mempelajari manusia.”

Saat saya tanya-tanya tentang pengalaman naik gunungnya… *agak out of topic sih ini, anggap aja bonus ya :D

“Serunya di kehutanan, saya ketemu banyak teman-teman yang juga suka naik gunung, pecinta alam. Pengukuhan mahasiswa baru (baca: ospek) kami saja harus ke gunung. Saya dan teman-teman sih kalau di Jawa Tengah sudah hampir semua gunung dinaikin. Jawa Timur sebagian besar. Terus ke Rinjani sudah. Jawa Barat dan Sumatera yang belum. Masih mikirin biayanya sih, hehe. Oh ya, sekarang biaya naik gunung naik. Sampai 5 kali lipat! Kasihan bule-bule… sudah bayaran awalnya emang udah jauh lebih mahal, ikutan naik pula! Yang ada makin sedikit wisatawan asing yang datang ke sini, untuk melihat keindahan Indonesia. Hmm… kalau bule naik gunung sih enak, bisa sewa tukang angkat carrier, sehari 100-150 ribu. Kalau kami ya ngangkat sendiri. Kalau kita 3 hari naik-turun, bule paling lama dua hari sudah nyampe posko lagi.”

Sekian catatan tentang jurusan kehutanan, saya secara sengaja “mewawancarai” dia—duh, lupa namanya—dan syukur anaknya memang suka cerita.

Sumber: http://www.backpackerindonesia.com/

Hutan memang sudah jadi bagian hidup kita. Dimana ada kepentingan—misalnya konservasi air, potensi tambang/geothermal, dan mungkin perkebunan—pasti bakal ada konflik, sehingga dibutuhkan keahlian manajerial. Jadi, Indonesia butuh orang-orang yang pandai “menjaga hutan”.

Oh ya, saya juga baru tahu bahwa hutan—pada luas yang cukup—punya iklim/siklus cuaca sendiri, iklim lokal istilahnya, yang tidak dipengaruhi oleh iklim geografis yang lebih luas. Aneh ya, hehe.

(*)

Disarikan oleh @beningtirta

Diantara belantara hutan rindu.
Aku mencari teduh pada batang pohon harapan yang lapuk oleh air mata kecewa.
Di sekelilingnya kutemukan potongan ranting-ranting kering yang terluka, terhempas oleh angin perpisahan.
Mungkin sebaiknya aku mulai meminang sepi, membiasakan kau pergi dan mulai menikmati senja yang aku punggungi.
-
-
-
-#hutan #pinus
-#imogiri #jogja #yogyakarta
-#senja #puisi #prosa

Made with Instagram