hujansamudra

Sekantung Apel Merah Muda

Kapan kamu merasa bahagia sekali?

Bahagia yang tidak membuatmu tertawa keras, tidak juga menitikkan air mata haru. Bahagia yang mengalahkan egomu sekaligus menghangatkan seluruh tubuh yang sudah terlalu lama gigil.

Kapan seseorang memberikan sesuatu yang memang sedang kamu inginkan dan butuhkan?

Tentunya tanpa kamu minta apalagi dengan desakan.

Seseorang itu membeli sekantung apel merah muda dan sebutir jeruk asam. Mengambil dari tangan penjual lalu memberikannya ke tanganmu. Menyilakanmu memakannya.

Seseorang itu mungkin saja tak pernah menyadari bahwa yang baru saja terjadi telah mampu memeluk dirimu tanpa lengan-lengannya.

Semuanya biasa saja.

Tapi menjadi tidak biasa ketika kau sangat ingin dan butuh, lalu seseorang memberikannya dengan cara sederhana dan tulus.

Kapan terakhir kau bahagia?

Aku? Aku lupa kapan. Tapi ketika sekantung apel merah muda sampai di tanganku.

Bengkulu, 2017.

Aku ingin kau ingat suatu sore yang jauh dibentangan kalender tahun lalu.

Apa benar rindu sudah menjelma musim ?
orang-orang berlarian menutupi kepala, takut rindu menyerap hatinya.

Seberapa jauh aku kehilangan kau atau seberapa lama kau tinggalkan aku ?
sebab petak-petak rindu menarik diriku, menyetubuhi ingatanku dengan paksa.
Kita pernah sepakat, musim semi bukanlah hal yang paling indah. Dia belum ada apa-apanya dibanding kita yang kehujanan cinta setiap hari. Dan musim terbaik ialah ktika ketika duduk berdua dibatasi kopi dan buku-buku lalu tertawa-tawa karna ceritamu yang ambigu dan tak lucu.

Dan tak lama setelah itu, musim hujan segera menyerbu
luka pun tumbuh subur satu-satu.
Kau berpamitan disenja yang remang. Kau katakan rasamu karam.
Aku hanya tertawa dan menutup pintu. Berharap kau mengetuk seperti biasa.

Aku sendirian entah berapa musim.
Tetap saja musim lalu jadi favoritku, melihatmu diseberang pintu, pelan berlalu.
Aku rindu aku rindu aku rindu.
Biarlah tanpa kau tanyai.
Aku rindu aku rindu aku rindu
ialah mantra agar tubuhku tak rubuh.

Semoga kau berjalan dengan tetap mengingat musim lalu.

pic: dokumen pribadi
MUSIM-nya gowithepict
Bengkulu, 4 April 2015, 12:49 WIB.


This is yours hujansamudra

http://hujansamudra.tumblr.com/post/115458102660/aku-ingin-kau-ingat-suatu-sore-yang-jauh

Hujan tak butuh bertanya pada bumi perihal dirindukan atau tidak. Dia turun saja dan selalu tepat waktu. Meski orang orang tak selalu setuju.

Senja tak pernah kecewa ia harus pergi lebih cepat, kadang lebih cepat dari biasanya. Sebab ia tahu, esok ia akan bertemu setelah rindu memukul tepiannya dengan jingga.

Daun tak pernah bertanya pada reranting, sepikah reranting bila dirinya gugur. Tak pernah. Sebab ia tahu, akan ada daun baru yang menggantikannya dan ia tak perlu khawatir.

Tidak seperti kita, yang selalu ragu dengan apa apa yang sudah ada kadarnya.

Penulis: @hujansamudra

Made with SoundCloud
Kita Cinta Indonesia


“ Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”

- Ir. Soekarno


Sebaik-baik cinta adalah mencintai Allah dan Rasul-Nya (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam). Tidak boleh mencintai sesuatu melebihi cinta terhadap Allah dan Rasul-Nya, begitu juga dengan mencintai Indonesia. Cinta tanah air. Maka cintailah tanah air itu karena Allah, dikatakan cinta karena Allah jika cinta itu merupakan perintah Allah dan Rasul-Nya / jika cinta itu tidak melanggar syariat agama. Sebagaimana Rasulullah yang mencintai Makkah sebagai tempat kelahirannya, juga kecintaan Rasulullah terhadap Madinah, karena di sanalah Beliau menetap dan mengembangkan dakwahnya. Setiap manusia pada dasarnya mencintai tanah airnya yang ia merasa nyaman tinggal di sana, selalu rindu jika jauh, selalu membela jika diserang atau dicela. Oleh karenanya mencintai tanah air sudah menjadi tabiat manusia. Apalagi jika melihat kilas balik sejarak Indonesia, dimana peran-peran para Ulama dalam memerdekakan Indonesia tak bisa diabaikan begitu saja, dan itu bentuk dari rasa cinta terhadap tanah air Indonesia yang diwujudkan melalui perjuangan melawan penjajah yang zalim. Mencintai tanah air tak sekedar tabiat, tapi juga lahir dari bentuk keimanan. Jika kita mengaku beriman, maka mencintai tanah air yang mayoritas penduduknya muslim adalah keniscayaan. Perwujudan cinta kita terhadap tanah air tentu beragam, selama itu tidak melanggar syariat dan aturan negara yang ada. Salah satu yang terpenting adalah memilih pemimpin yang seakidah. Kemudian dari diri kita sendiri, seperti menjaga norma-norma bersosial, menjaga kebersihan, dan juga mentaati peraturan yang telah dibuat negara. Dan tak kalah penting adalah dengan menegakkan Islam untuk tanah air kita, karena dengan itu Allah akan menjaga dan memberkahi penduduk negeri tersebut. Mulailah dari hal-hal kecil yang membawa kemanfaatan untuk orang-orang dan lingkungan sekitar.

@kutipan

Saya mencintai tanah ini dengan segala duka ,air mata ,darah, keringat, senang, dan kejaiban yang ada di atasnya. Tidak ada negeri yang begitu mencintai saya dengan segala yang melekat di tubuh saya kecuali Indonesia.

@hujansamudra

Terimakasih Indonesia. Tak banyak kata yang bisa ku ucapkan, aku masih malu padamu, malu karena aku belum sepenuhnya memerdekakan diriku. Aku masih suka menyelipkan keegoisan dalam menulis, berbicara, membaca, dan mendengarkan tentang bahasa yang kau berikan. Aku masih sering merusak, merusak keindahan mu pada jagat raya. Aku memberikan kotoran pada udara, suara, bahkan air darimu. Aku juga masih suka menaruh kebodohan, kebodohan karena masih suka berburuk sangka, terpengaruh pada provokator yang mencemarkan nama baikmu, bahkan mungkin aku termasuk pada kategori manusia yang tak mau tau pada kebudayaanmu. Aku berjanji kelak, aku akan menaikkan derajat ku untukmu, supaya kau juga bisa bangga denganku, tak hanya kau yang berjuang demi ku, aku juga akan berjuang untukmu. Aku akan melanjutkan perjuangan kemerdekaan mu pada penerus penerus bangsa!! 🇮🇩🇮🇩

ig : @fnaaaaaa_ 

Banyak cerita tentang Indonesia. Baik atau buruknya sepertinya itu sudah biasa. Negara tanpa nahkoda kata mereka. Mitoskah? percayakah?, setidaknya lahir dan bernafas di Indonesia aku bangga. Walalu masih banyak jeritan derita untuk sebagian mereka yang tertawa penuh dosa. Apa masih pantas Indonesia yg 72 tahun ini untuk kerja nyata kata mereka. Jangan lagi teriakan kerja kerja kerja untuk Indonesia. Sudah saatnya 72 tahun ini Indonesia ini nikmati kejayaan nyata. Tapi apa bisa?

@setegarkarang

Indonesia tanah airku. Tempatku bernaung dari lahir hingga dewasa dan mungkin sampai saat nanti mati. Saat kecil aku suka membaca sejarah Indonesia karena kemerdekaannya yang di peroleh dengan kerja keras orang-orang yang mencintai Indonesia. Mereka berjuang untuk mendapatkan kebebasan dari penjajahan asing yang masuk ke dalam tanah air mereka. Hal ini membuatku kagum dan mulai mencintai tanah airku Indonesia. Cintaku mungkin tidak sehebat mereka tetapi aku selalu berusaha untuk tidak mempermalukannya karena di kartu kecil persegi yang ada di dompetku tertulis WNI (Warga Negara Indonesia) yang artinya apapun yang ku perbuat dan kukatakan pada orang asing akan ada label bahwa aku orang Indonesia.

@dysaniasyndrome

I love you tanah air ku Indonesia. Aku sangat mencintai bumi pertiwi ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Aku berharap bisa menjadi salah satu bagian yang bisa membuat negeri ini lebih baik kedepannya. Aku ingin bisa bermanfaat bagi kemajuan negeri ini. kemana pun kaki melangkah, Indonesia tetap di hati.

@maulidar14

Indonesia tanah airku. Sudah berpuluh tahun Indonesia merdeka. Sebagai anak muda milenial, banyak yang telah terjadi sepuluh tahun terakhir ini dengan negaraku, mulai dari kelaparan, korupsi, sampai uang palsu, beras palsu, vaksin palsu, materai palsu, hingga hati palsu,eh. Terlalu banyak keburukan untuk Indonesia yang dikedepankan, namun tak melunturkan rasa cintaku terhadap Indonesia. Indonesia punya alam indah, laut yang luas, keragaman bahasa dan budaya, sumber daya yang melimpah, masakan yang beraneka ragam, penduduk yang ramah, bagaimana mungkin semua itu tertutup oleh sisi negatif Indonesia. Sebenarnya kita hanya  perlu membuka sedikit mata dan fikiran, bahwa banyak yang lebih indah dan membanggakan dari Indonesia ❤

@fitadewii

Dalam KBBI edisi ke-V, cinta memiliki arti “suka sekali;  sayang benar”. Sedangkan mencintai artinya “menaruh kasih sayang kepada; menyukai”. Mencintai Indonesia berarti menaruh kasih sayang yang banyak sekali kepada Indonesia. Kalau sudah “menyukai sekali” berarti akan bisa melakukan apapun yang bisa membuat senang. Hal-hal apa saja, yang kecil atau besar, selama bisa membuat Indonesia senang pasti akan dilakukan, bukan?

@sekociputih

Orang bilang, tanah kita tanah surga. Iya, aku mempercayainya. dimana bisa aku temukan begitu banyak keindahan bak surga yg org pikirkan. hampir 72 thn sudah negara ini merdeka, dengan beragam konflik yang ada. aku belajar banyak, bahwa kita harus menghargai sesama. meski memiliki beragam suku, budaya, bahasa, serta agama yang ada. kita tetaplah satu, indONEsia. dimana aku bisa menemukan toleransi antar sesama yg terkadang mampu membuatku terpana. Aku cinta keberagaman ini. Keberagaman yg membuat aku mengerti; bahwa hidup bukan saja tentang aku dan kamu. tetapi tentang KITA. kita yang satu - yaitu Indonesia.

@hujan-rintik

Tak gampang mengeja kata merdeka untuk sebuah bangsa bernama NKRI.   Surga yang bersemayam di dunia itu berumah di tanah kelahiranku. Ribuan bahkan Jutaan nyawa hilang demi terwujudnya kata Mer-de-ka.
Merdeka bukan berarti bebas tapi merdeka ialah berjuang.

@kazumiyoshiko

Cinta akan tanah air sepertinya aku belum memasuki tahap cinta, masih suka. Suka akan berbagai hal yang lekat sekali dengan negara ini. Negara dengan banyak suku, bahasa, budaya, agama dan ras. Tak hanya itu yang perlu kita perlu sukai darinya, bahkan alamnya juga tak kalah menakjubkan dibanding negara lain. Banyak tempat wisata alam seperti gunung, pegunungan, bukit, lembah, hutan, sawah, danau, air terjun, sungai juga laut. Semuanya milik Indonesia tanah air kesukaanku. Dibanding negara lain indonesia memiliki kelengkapan alam ataupun budaya yang tak terhitung banyaknya, kata orang kampungku tuk mengatakan banyak tak terhingga ialah much. Akankah kalian suka dengan tanah airku? Cintakah? Mari belajar mengagumi, menyukai hingga mencintai negaraku ini. Untuk mendekati dia saja kita mempelajari dirinya, kenapa negara kalian tidak kalian pelajari agar bisa mencintainya.

@detektifmalam


DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE - 72
JAYALAH NEGERIKU, MAJULAH BANGSAKU.

Jajan Satu Juta

Mama saya penjahit. Dari kecil rumah saya tidak pernah benar-benar rapi (saya memakai ukuran rapi umumnya), sebab ruang tamu kami adalah tempat mama bekerja. Tidak ada kursi-kursi empuk dan meja kaca bundar, tidak ada vas bunga dan paganan yang sedia di dalam toples warna-warni bergambar bunga.

Ketika kecil saya sering bereksperimen sendiri. Seperti membuat baju barbie dari potongan kain atau bahan bekas mama. Atau membuat kantung kecil tempat mama menaruh gulungan benang. Atau membuat sapu tangan sendiri.

Sayangnya saya beberapa tahun kemudian saya berpisah dengan mama, abang, dan adik. Maka otomatis berpisah dengan seperangkat alat jahit beserta ruang tamu yang berserak.

Bertahun kemudian saya pulang ke rumah. Ruang tamu sedikit melebar dan segala kain dan benang melebur. Mama kecewa mendapati saya yang tidak lagi menaruh minat pada bidang jahit menjahit. Saya seolah mantan yang sudah memutuskan hubungan dan tidak ingin kembali.

Saya kemudian kuliah di Fakultas keguruan, yang setiap tahun meluluskan beribu-ribu sarjana. Mau tidak mau saya harus menanggalkan jins ketat, kaos oblong, dan sepatu kets di beberapa mata kuliah.

Ketika itu, saya memutuskan untuk mencari sendiri dasar atau bahan baju batik untuk kuliah. Ternyata tautan saya dengan setumpuk dan barisan kain tidak pernah terlepas begitu saja. Saya mencocokkan batik ini dengan kain itu, kain itu dengan kain yang lain, begitu terus.

Mama yang mendapati kain-kain itu terlihat senang, saya membaca: “Kamu berbakat dalam urusan memilih kain.”

Setelah itu saya keranjingan ikut ke pasar. Beberapa kali juga saya bertengkar dengan mama di tengah pasar karena saya tidak suka dengan kain yang dipilihkan mama untuk saya. Tak jarang juga saya bahagia sekali tahu-tahu sudah ada rok baru atau blouse ciamik di kasur saya.

Kemudian saya mengangankan membeli kain sepuasnya, dengan uang satu juta. Satu juta saja. Saya akan sangat bahagia. Saya berulangkali membayangkan bagaimana rasanya menyisir kain-kain dengan jemari sendiri. Menyebut ukuran masing-masing kain, berdiskusi dengan penjual atau pelayan toko, kemudian mengitari toko mencari kain lain, membayar ke kasir, dannnnnn menenteng belanjaan ke luar toko.

Saya membayangkannya berkali-kali. Beberapa tahun sejak saya masuk ke kampus.

Uang datang dan hilang. Saya terus mengandaikan jari-jari yang menyentuh kain-kain. Tahun-tahun yang diisi percaya dan upaya menabung tapi terus terpakai untuk biaya-biaya kuliah.

Sampai akhirnya tahun ini angan-angan itu terwujud. Mimpi satu juta untuk kain.Satu juta cash untuk kain-kain yang saya suka jadi jilbab, syal, overal, dan lain-lain.

Saya makin percaya tuhan tidak pernah bilang tidak. Tapi tunggu. Tunggu tanggal mainnya. Ehe ehe.

Catetan Bersama Marel #1

Kelak mungkin segala yang ada di sini menjadi pengingat bahwa saya dan Marel pernah bersama-sama.

Sejak Marel pulang ke rumah. Kami tidur berdua. Usahanya untuk tidur di kamar sendiri kalah dengan gigitan nyamuk khas daerah rawa. Kami juga berbagi makanan, kadang pakaian, gawai, laptop, hingga masker wajah.

Dari semuanya yang memusingkan saya adalah gawai. Betapa Marel rela bangun tengah malam demi membaca wattpad dengan cahaya yang sangat tidak bagus. Atau, Marel rela menghabiskan paket data saya demi deretan kabar terbaru artis Korea di instagram #haha

Sejak hidup terpisah beberapa tahun. Saya jadi tahu kalau Marel memiliki dunianya sendiri. Tidak semua orang dia biarkan masuk. Dunianya adalah dirinya. Yang dipenuhi lirik lagu Korea, film Korea, gerakan tari ala-ala boyband dan girlband, impiannya sekolah di ISI jurusan Tari Modern, dan beberapa ingatan yang kurang bagus disimpan (kenangan buruk).

Kami semuanya tumbuh dengan pengalaman masing-masing. Luka masing-masing. Tawa masing-masing. Dan impian masing-masing.

Asik masyuk Marel dengan gawai membuat saya berpikir ulang untuk memperbaiki gawai milikn (yang sudah pernah saya sampaikan langsung dan dia cuma tertawa)


Saya merasa bersalah membujuk Marel pulang ke rumah di tengah antusiasnya dengan pekerjaan baru (Marel baru saja lulus SMA PGRI). Kami sejujurnya juga sudah sepakat bahwa Marel hanya akan bekerja selama 2 bulan di toko. Setelah itu dia harus pulang ke sini, ke rumah.

Mungkin hampir 2 minggu Marel pulang. Kami sudah menuliskan impian kami di kaca. Dua kertas meta plan berwarna orange ditulisi spidol hitam, kentara sekali.

MIMPI 400 JUTA by Edell, yang saya tulis sendiri.

“Kalo adek digenapin kak.”

Jadilah kemudian sebuah tempelan lagi di cermin MIMPI 500 JUTA by Marel.

Nomor Antrian

Kenapa kita tak terbiasa bilang maaf dan lekas mengakui kesalahan?

Setelah dua jam lebih mengelilingi konter sepatu, pakaian, make up, sepatu, pakaian. Saya dan dua orang kawan memutuskan ke kasir. Ada beberapa orang berbaris. saya kemudian duduk di kursi tunggu. tak lama barisan itu hilang satu satu.

saya menghampiri petugas dan mengatakan bahwa barang yang saya ambil berasal dari tumpukan sale. Petugas kasir mendorong halus barang-barang saya, “Maaf mbak, ibu yang itu dulu ya.” sambil menunjuk seorang perempuan muda dari arah konter pakaian bayi. “Oh iya.” saya mundur lagi.
Transaksi selesai. saya pun maju karena tidak ada siapa-siapa di depan saya. ketika petugas kasir sedang memeriksa harga pakaian. tiba-tiba,

“Bukannya saya dulu ya?”

seorang bapak yang ada di samping kanan saya, di haluan pembayaran kedua berbicara ke arah saya. saya refleks menarik barang-barang dan mundur.

“Oh bapak ya. Maaf saya ga tahu bapak ngantri. silakan pak.” menyilakan dengan tangan.

“ya iyalah sayakan dari tadi di sini masa ga lihat. jangan nyerobot-nyerobot.”

“maaf pak saya emang ga tahu. bapak juga ga ngomong tadi. bapak berdiri di sana.”

“ya kalau antri jangan nyerobot. harusnya dia tuh yang ngomong.” dengan bahasa tubuh mengarah ke petugas.

“bapak saya minta maaf. tapi ga usah marah-marah. kita sama-sama pembeli.”

saya kesal sekali. saya sungguh tidak sengaja. saya sudah meminta maaf. saya tidak bisa menerima perlakuannya terhadap saya dan petugas kasir.

serta merta dada saya naik turun. si bapak kemudian membayar belanjaannya dengan membanting uang ke arah petugas. sembari terus mengomel dan sesekali melihat ke arah saya.

saya tidak takut. tapi saya kecewa. saya tidak menemukan sosok yang bisa mengajarkan apa itu penerimaan, kasih sayang, menghargai. saya bisa menahan marah jika bapak tadi tidak menunjukkan bagaimana kekuatannya sebagai orang yang lebih tua dan seorang laki-laki. dan saya merasa saya harus melawan.

ingatan saya terlempar ke kejadian nomor antri di SPBU. nomor antrian saya dilangkahi seorang bapak-bapak dengan alasan hujan. dan saya di belakangnya sedari tadi menahan diri kedinginan. seorang satpam di ujung bilang, “pak, memang adek itu yang lebih dulu.” bapak melengos. dari belakang saya katakan, “lain kali jangan begitu lagi pak. ga baik.”

dan tidak ada maaf dari mulutnya.

Permintaan

Tapi tidak kuketahui berapa lama aku akan berjalan. Menyisir dan menyusur ceritaku sendiri. Menilik siapa aku. Meyakinkan diriku.


Tidak kuketahui bagaimana kesanggupanmu menjadi terminal, stasiun, bandara, dan kemudian rumah.


Kita berada di pengulangan-pengulangan. Dan tak ada pengakuan-pengakuan.



Masihkah kau mau menunggu?


#hujansamudra

Kita Dan Kehilangan

Kita adalah kumpulan kenang di masa lalu yang bergumul di salah satu simpang jalan sebelum akhirnya saling menemukan. Bersamamu aku rasai candu yang membuat seluruh luka bisa ditertawakan dan tak tak yang lebih sendu dari langkah kakimu ketika pulang, Tuan.

Dan sendu bagiku ketika jarak bukan saja kilometer yang membuat mual dan sakit berkepanjangan. Namun saat kita bicara tapi tak melihat pada kedalaman mata. Kamu perlahan jadi sesuatu yang kutakutkan jika hilang.

Ketika anak manusia bahagia tidak akan pernah terbesit rasa takut akan kehilangan. Tuan, yang kita butuh lakukan adalah berbahagia sepanjang hari tanpa memikirkan kehilangan-kehilangan. Bukankah kita telah cukup belajar dari masa lalu. Tentang yang datang dan hilang.

Aku sudah mengalami beberapa kehilangan. Sayangnya aku tetap ketakutan. Bukankah hati manusia bisa berubah kapan saja? Dan jika kamu pergi seperti yang lainnya aku harus apa? Jika bagimu berbahagia sepanjang hari mampu menghilangkan takut dan resah, ajari aku bagaimana berbahagia dengan cara tak latah, Nona.

Mari kita nyanyikan puisi setiap pagi, menulis letupan perasaan di siang hari, melingkari kalender untuk setiap tanggal yang menghantarkan kita pada pertemuan, menikmati rindu yang sama banyaknya dengan udara, lalu…. saling memafkan jika ada yang berbuat salah, hingga akhirnya tidur dengan harapan akan saling menemukan surat cinta di bawah daun pintu esok hari. Membayangkannya saja aku bahagia Tuan. Bagaimana?

Nona dengarlah, bahkan membayangkannya saja aku bisa tertawa bahagia. Bagaimana kalau kita sepakati bahwa rutinitas ini tak akan pernah berhenti. Hingga masing-masing dari kita telah mati, menyatu pada tanah. Tak peduli sebanyak apa kita akan bertengkar, tak peduli seberapa jauh jarak menjengkal, tak hirau selucu apa kita saat melakukannya.

Dan…. Kamu akan tetap menjadi kamu. Aku akan tetap menjadi aku. Yang disimpul menjadi kita

Ditulis: @hujansamudra
Dibacakan: @hujansamudra & @mangatapurnama

Sendu bagiku ketika jarak bukan saja kilometer namun saat kita bicara tapi tak melihat pada kedalaman mata. Kamu perlahan jadi sesuatu yang kutakutkan jika hilang~

Made with SoundCloud
Pertemuan di Januari (bagian 4)

Dalam barisan terakhir terdapat doa-doa untuk tetap menjadi bagian kita. Sebuah rasa percaya yang memberikan KITA kesempatan berbagi di pecahan-pecahan halaman ini. Kembali merasakan denyut berdetak dari halaman kelima.

Januari telah tiba,Tuan.
Tak maukah kau menjemput rinduku?
Lekaslah kembali,empunya rindu ingin memelukmu lebih erat.
Aku rindu kamu,rindu KITA
@hujandansenjatakbisabersatu

Pada akhirnya Tuhan hanya sedang melukiskan tentang pertemuan-pertemuan di depan.
Tentang apa-apa yang barangkali belum sempat diputuskan.
Dan jika KITA ditautkan lalu saling bertukar salam pada Januari, mungkin ini salah satu syarat Sang Illahi
Bahwa akan selalu ada KITA di langkah ini.
@ceritadynda

Januari, kau selalu ku nanti
Aku percaya kamu selalu memiliki arti
Semesta memang asik
Dia mengantarku mengenal keluarga baru, KITA.
@putrijanuari

Januari masih menyisakan  makna tersendiri
Setidaknya untukku,dan kuharap kaupun begitu
Aku masih sendiri memgaduh perih
Lalu KITA hadir sebagai pereda kesunyian diri.
Oh,sungguh terima kasih!
Semoga hariku kian pelangi
@novriiandinn

Kemarin aku masih diam dan menyendiri
Tapi tak kusangka @hujansamudra tiba-tiba turun membasahi bumi
Kehadiran @putrijanuari ternyata menyisakan @sebuah-cerita
Tentang pertemuan KITA yang selamanya akan terpatri dalam @catatan-sederhana
@bukan-kamu

Karenanya luka bersemayam di dada,
Masih pada Januari yang sama ,
Kini kau hadir menawar luka,
Bahagiaku saat Tuhan mempertemukan KITA
@larasatipw

Januari angin bertiup lembut
Bertepi dalam ruang semu
Dari berbagai tempat kita terbentuk
Kita bertemu untuk memuliakan tulisan
@tulisanveronica

Aku mengenalmu hanya di balik layar handphone
Di januari itu mulai banyak hal yang aku semogakan
Untuk sebuah temu yang KITA janjikan
@putrawhillyam

Januari ini berarti
Bertemu banyak teman satu visi misi
Belajar menulis untuk karya terhits abad ini
Kuharap moment ini terus begini
@fach-roza

Januari, angka bertambah melabeli diri
Januari, kutitip pada semesta pesan pasti
Januari, jumpa juga pisah bentuk keterbiasaan
Januari, kakiku melangkah melampaui rintangan
@yanuarindrayani

Januari ceria
Perkenalan awal dari pertemanan
Percakapan berujung curhatan
Merajut kasih lewat rangkaian aksara
Salam kenal semua
KITAsumatera
@ranihaulya 

Perkenalan dari kami, daerah dengan banyak persinggahan, yang membawamu mengikuti perjalanan dari tiap ujung pulau dengan cerita yang berbeda.

Hello everybody, sekian perkenalan dari kami!

Salam sayang,

KITAsumatera.

Cc: @tumbloggerkita @curhatmamat

Susun Kalimat KITAsumatera

Sebuah cerita tidak hanya terlahir dari satu kepala, ia bisa terlukis dari bermacam pikiran, yang menjadikan kami kembali bersapa dalam ruang aksara. Kini jarak tidak menjadi halangan bagi untuk bertukar sapa, dengan kalian. Nikmatilah susun kalimat persembahan dari KITAsumatera.


Nisa sebuah nama segudang cerita (@divergent). Wanita yang pernah menjadi satu-satunya yang kusebut setiap aku berbicara dengan Tuhan. Dia, jawaban dari semua pinta, perwujudan terindah dari sebuah doa (@gadisfajar). Setiap hari yang kulewatkan adalah sebentuk syukur pernah memilikinya dalam hidupku. Dalam hidup nyata maupun alam mimpi, dirinya menjadi yang terbaik. Aku masih saja tersenyum sendiri ketika liar imajiku disaat kau mulai merayu, fantasi bergejolak dihati goyahku (@fach-roza). Ada satu kalimat yang begitu kuingat darimu, yaitu jimat paling ampuh untuk meretas ego kita hanya peluk (@sebuah-cerita). Aku begitu Kini aku tahu jawaban dari pertanyaan  siapakah engkau yang mengaminkan dari balik bahu saat kurapalkan rindu?(@ceritadynda). Dia adalah engkau, wanita pertama dan terakhirku.

Dua puluh purnama telah berlalu. Pagi ini pias hujan masih lekat di jendela, pun tentangmu di dada (@putrijanuari). Wanitaku, jiwa ini mulai lelah, ia butuh raga tempat bermanja (@pencintacahaya). Tapi bagimu tetap saja bukan aku tempat berpulangmu (@larasatipw). Aku memahamimu lebih baik dari dirimu sendiri, pun ketika kau memalingkan wajahmu dariku karena dari matamu, kulihat bahagia mulai memendar. Apa karena dia? (@pecandu-rindu). Sekali lagi aku hanya memaki dalam hati, dia datang dan pergi semaunya, apakah aku tiada arti? (@maulidar14). Kau hanya berpaling sebagai jawaban dari pertanyaanku: kembali, di jendela kau melirih pada tumpukan jerami (@limamaret). Apa yang kau rasakan tentu saja aku tahu renyai kaudengar dari bilik sepi – ia telah lama berdiri menghampiri (@yourpatheticjoke)

Kemarin aku kembali ke sana, ke tempat sebagian besar waktu yang kita habiskan bersama. Bias jingga di ufuk barat pantai menenggelamkanku dalam ombak lamunan (@tersesatrasa). Aku kembali pada monolog yang telah kususun sendiri, dengan bayangmu yang duduk manis dihadapanku. Bila kamu telah tahu segalaku, masihkah kamu mau di sisiku? (@hujandancoklat). Aku bukanlah manusia sempurna seperti yang kau harapkan dariku. Tapi jangan meragukan tekadku, lika dan liku perjalanan ini tak akan membuatku menyerah, percayalah! (@lembayung18).

Wanitaku, seandainya garis peta kita terpisah, akankah kita masih bisa bersatu? (@dramaqueen5). Aku tidak pandai menyembunyikan apa-apa darimu terlebih rinduku. Ah, sial, haruskah aku membunuh sadis setiap rindu ini, lagi? (@armayani-san). Kini kau bisa memberikan ucapan belasungkawa padaku. Lelaki yang telah terbunuh dalam rindunya sendiri. Ya, lagi-lagi rindu yang akan kubahas karena cintamu tak singgah, saat rindu terucap dari dermaga hati aku (@tulisanveronica). Sebaiknya kini kita jual semua kenangan untuk melunasi pelaminan (@hujansamudra).

Ingatanku akan melulu tentangmu. Namun fajar yang kau lewatkan kini akan menjadi waktu dimana kau melewatkan aku. Seperti hikmat kau sesap aroma pagi, tanpa aku di detakmu kini (@sashukakaru). Tak ada lagi yang bisa kuharapkan dari jalinan kasih yang telah berkarat ini, hatiku, sepi ini takkan membunuh jadi bertahanlah, sedikit lagi (@anggunpsi). Tak apa jarak memisahkan biarlah Tuhan yang menjadi spasi diantara kita (@bhumiku). Semua yang membawaku terikat padamu telah padam kini, meski jejak kenangannya akan tetap sama, meski tiap percakapan tetap terekam dalam memori, dan meski diriku masih bersedia kembali padamu, tapi biar kutegaskan sekali lagi sia-sia sudah ujar manismu, rasaku usai terkikis waktu (@novriiandinn​).  Wanitaku, dunia yang kita tinggali kini hanya sementara, pastikan saja, dikehidupan setelah ini masih aku cinta sejatimu (@masihtidakadanama).


Cc: @tumbloggerkita   @curhatmamat

HIKAYAT KEGUNDAHAN KITA SUMATERA

Syahdan, di sebuah kerajaan yang aman dan tenteram, hiduplah seorang raja bernama Brata dengan seorang istri bernama Mona. Putra dan putri yang amat banyak hidup dengan sentosa. Tiadalah hari yang membuat mereka bersedih.

Hatta beberapa lamanya, adalah anak manusia dari negeri antah berantah datang membelah pagar-pagar istana. Dititahlah anak-anak untuk memasang perisai dari buluh aksara.

Maka titah Raja Brata: “Jikalau kalian mau melindungi diri, keluarlah dan hadapi. Tapi jangan sampai melukai. Kerahkanlah semua.”

Maka sembah semua anak: “Titahmu kami junjung.”

Raja naik ke mahligai dan membunyikan gendang. Menteri, putra dan putri raja membajui perisai.

Mari berkelana di pertarungan putra dan putri Raja Brata.



Makan hati pakai formalin
Dagingnya malah lupa dicuci
Pak menteri yakin
Resletingnya sudah dikunci?  ( @yourpatheticjoke )

Anak ayam renang di kali
Kali meluap hingga sebetis
Itu titel, didapat apa dibeli?
Sukanya mikir kadang gak etis ( @kerupukwarung

Nenek gadis mandi di kolam
Diintipin abang tanggung
Enggak etis rudi wassalam
Kenapa gitu, gaji masih di gantung? ( @fach-roza )

Punya gebetan Reza Pahlevi
Eh si mantan datang bawa sensasi
Baper kok sama pornografi
Move on dulu gih dari korupsi ( @semestamembiru)

Minum kopi pakai cangkir
Disenggol adik jadi terjungkir
Wadah kreatif kok diblokir
Situ gak mikir? ( @sashukakaru)

Lap meja pakai tisu
Meja kotor jadi bersih
Begini pengalihan isu
Situ punya otak gak sih?! ( @dramaqueen5)

Ayam tetangga sakitnya kumat
Dibawa ke kota sama Pak Rumi
Kami rakyat tapi tak keparat
Jangan patahkan pensil warna kami ( @sebuah-cerita)

Jalan-jalan pakaisandal jepit
Sendalnya putus lalu bergerutu
Itu otak sama celana pasti sempit
Pikirannya kok bisa langsung begitu ( @hahilharun

Jalan-jalan ke taman kota
Lihat ibu-ibu naik honda
Eh bapak/ibu, situ bercanda?
Bercandanya kok garing ya? ( @memymine)

Keledai masuk ruangan
Diikat sampai jadi berkawan
Pornografi jadi cemilan
Bapak sudah cuci tangan? ( @limamaret)

Pak Rumi banyak tanya
Kenapa ikan menari-nari
Jiwa muda jiwa berkarya
Kolot banget jadi mentri ( @pecandu-rindu)

Jalan-jalan ke New Zealand
Jangan lupa ke perbukitan
Pak Menteri makan ‘gaji buta’ atau kerja sungguhan?
Mau buat kebijakan, kok enggak tepat sasaran? ( @karenapuisiituindah)

Niat ke pasar beli angsa
Apa daya angsanya ketimpa besi
Tumblr itu wadahnya karya anak bangsa
Bukannya gudang prostitusi ( @larasatipw)

Nyonya berjalan di depan tuan
Tuan melirik, kepala berputar
Anda terima itu aduan?
Yakin, posisi kepala dan pusar tidak tertukar? ( @kerupukwarung )

Beli beng-beng di warung Rudi
Dimakan sambil berdiri
Biar kelihatan kerja blokir pornografi
Beraninya kau bunuh kreatifitas kami ( @bhumiku )

Di tumblr tumbuh cinta
Mekar bersemi menjadi bakat
Jangan ganggu anak KITA
Nanti tepar, Pak kami buat ( @pecandu-rindu )

Oh bulan oh bintang
Ada dilangit malam
Oh pak menteri yang duduk senang
Kenapa bapak tidak berendam saja? ( @ranihaulya )

Bayangan putih gerak di hutan
Hutan nan gelap tempat tinggal setan
Bapak sehat wal afiat, kan?
Doyan lihatnya, tapi kok pencitraan? ( @kerupukwarung )

Beli pedang lupa perisai
Perisainya buatan Sukabumi
Apa pekerjaan bapak sudah selesai?
Sampai harus mengganggu kami ( @sifatangin )

Mati saja kau orang kikir
Setega itu merampas hakku
Kalau tumblr pak menteri diblokir
Mau dimana menyalurkan kegalauanku? ( @larasatipw )

Makan cinta kata anak muda
Padahal cinta bukan makanan
Kubingung gundah taroh dimana
Jikalau tumblr pun dilenyapkan ( @adilailla)

Makan teri kawannya nasi
Yang tak makan bakal kasihan
Situ menteri tapi ndak ngisi
Tiba-tiba bilang tumblr mau dimusnahkan ( @hujansamudra)


Maka mereka pun mengerat setiap jenaka si perusuh kerajaan. Hati-hati kau anak manusia jikalau berani mengeruk kediaman kami. Kami tidak pernah iba untuk diam saja berpangku tangan.

Hatta dengan demikian itu, genaplah sudah putri-putri raja menjadi pilar-pilar. Tersenyumlah Raja Brata pada putra dan putrinya. Maka titah raja, “Sungguh diluar dugaan.”

 

 

(Hikayat singkat ini adalah keresahan dari KITAsumatera tentang rencana pemblokiran tumblr)

@tumbloggerkita @curhatmamat

Dulu:
“Doakan kakak tumbuh besar dan jadi anak yang bisa mama banggakan. Maafkan kakak.”

Kemarin:
“Ma, kakak hari ini ujian. tolong doanya semoga lancar.”
“Ma, kakak kok sekarang jadi pelupa? Mohon maafnya Ma.”
“Ma, kakak mau lanjut belajar, jalan-jalan, beli buku lebih banyak. Doakan ya.”

Hari ini:
“Saya punya seseorang yang mengaku menyayangi saya. Semoga dia menyayangi Mama saya juga. Tuhan, saya rasa itu tak berat kan?”


Pic: google

gowithepict, Ibu.

(dan doa kita berubah-ubah) 6 Juni 2016, 21:06.


This is yours hujansamudra

Dari sini nih~