heuuu

suatu hari di tahun 2009, si Uti yang sudah menunda kuliah satu tahun dan batal mulai kuliah di tahun tersebut marah-marah sama Ibu.

“Bu, pokoknya aku mau Fakultas Kedokteran.”

“kamu sudah tau belum sekolah kedokteran lulusnya berapa lama?”

“6 tahun.”

“sudah tau belum habis itu ngapain?”

“spesialis. aku mau spesialis yang buat ibu-ibu hamil dan melahirkan itu loh,” ini sok tau.

“spesialis berapa lama?”

“nggak tau. 2 tahun kali,” ini lebih sok tau lagi.

“kalau nggak bisa spesialis? belum tentu Ayah sama Ibu bisa nyekolahin.”

“jadi dokter umum aja. dokter apapun uangnya banyak,” tetot.

“emang jadi dokter umum kerjanya ngapain?”

“ya buka praktik sendiri.”

“jaga malam IGD?”

“emang itu kerjaan dokter umum?” bzt.

“jadi dokter itu nggak segampang yang kamu bayangin, Nak. meskipun Ibu yakin kamu mampu dari segi kepintaran otak, belum tentu kamu mampu dari segi lain-lain. belum tentu Ayah Ibu mampu, keluarga kita mampu, keluarga kamu sendiri nanti mampu. bukan hanya soal uang, Nak. tapi juga soal waktu, soal energi yang sangat banyak sekali.”

“aku nggak kebayang pekerjaan lain selain jadi dokter.”

“teknik industri itu keren. atau teknik perminyakan. atau sekalian akuntansi saja. dokter keuangan. atau manajemen. nanti Ibu bikinin perusahaan, langsung kamu yang pegang.”

“nggak mau, aku maunya Fakultas Kedokteran.”

“Ibu nggak bisa. Ayah nggak bisa.”

lalu si Uti nangis, kabur dari rumah 2 hari. dicari-cari sama kakaknya (dan sekeluarga), ketemu-ketemu di rumah teman SD-nya. ini momen terdurhaka sepanjang hidupnya.

parah banget memang. sudah disekolahin sampai lulus SMA, masih minta setahun pertukaran pelajar. selama pertukaran pelajar dikirimin bahan belajar SNMPTN sama ibunya, malah nggak disentuh sama sekali. pulang-pulang nggak mau kuliah, mau nunda setahun, mau belajar yang bener biar bisa masuk kedokteran.

dan akhirnya Uti yang kalah (atau ngalah?). nggak sih, Uti sadar diri tepatnya. nggak ada artinya segala yang kita capai atau punya kalau orang tua kita nggak bahagia. Uti nggak jadi dokter. Uti masuk akuntansi, dan betulan dibikinin perusahaan sendiri.

***

suatu hari di tahun 2014, ibu istrinya adik Ayah sakit kritis dan penanganan yang “layak” dari rumah sakit baru didapatkan ketika saudara sepupu yang sedang residen turun tangan. eyang meninggal.

“seharusnya kamu jadi dokter aja dulu ya, Nak. walaupun umur nggak ada yang tau, paling enggak kalau ada keluarga yang sakit penanganannya bisa lebih cepat.”

ini dalam hati, tentu Uti 2014 punya tingkat kedewasaan yang berbeda dengan Uti 2009, “HEUUU. nggak komen ah.”

“hmm… nanti siapa tau suamimu yang dokter,” Ibu ngusap-ngusap punggung si Uti.

tak lama berselang, Ibu dan para tante berinisiatif menjodohkan si Uti dengan seorang dokter. tentu saja perjodohan gagal total. haha maaf ya Bu.

***

suatu hari di tahun 2015–
si Uti belajar, bahwa ucapan seorang ibu selalu tajam. si Uti belajar, bahwa ada saja cara Allah menyampaikan manusia sama mimpinya. entah jalannya yang berputar, entah tertitip pada seseorang, entah benar-benar sampai atau nebeng sampai.

hari ini si Uti berangkat ke Surabaya. maksudnya, dalam rangka melihat mendengar dan mengalami sendiri kehidupan seorang dokter yang sedang residen seperti apa. supaya tau, supaya paham, supaya bisa mengelola harapan, supaya siap sama segala kemungkinan.

sekarang, nggak ada lagi pertimbangan mampu nggak mampu atau kuat nggak kuat. harus mampu. harus kuat. ini keputusan Uti. dan Uti harus belajar bertanggung jawab. belajar bersabar dan bersyukur lebih banyak.

“Uti, kamu nyesel nggak? kehidupan dokter ternyata seperti ini?” Ibu Mas Yunus tanya itu berulang-ulang.

“enggak Bu. nyuwun doanya saja ya Bu. supaya dalem bisa jadi istri yang berbakti nantinya.”

si Uti 2015 entah kesambet apa.