hermeneutika

MENGATAI KATA-KATA

Pembicaraan tentang kata-kata (atau bahasa) tentu bukan hal baru. Dari awal, ketika manusia memiliki bahasa (kata-kata), manusia telah membicarakan dirinya dengan, tentang, dan dalam bahasa. Tidak ada sesuatu pun dalam kehidupan di dunia ini yang tidak tersebutkan dalam kata-kata.

Memang kata-kata telah lengkap di dalam dirinya dan dengan dirinya, tetapi kata-kata tidak pernah selesai di luar dirinya. Kata-kata selain bergantung konteks, situasi-kondisi, dan suasana; bergantung pada siapa dan bagaimana dia diucapkan atau disampaikan; bergantung pada siapa dan bagaimana dia diterima; bahkan bergantung sejarah kata-kata dan formasi sosialnya.

Seperti akan segera dilihat, teman-teman tampaknya menjadi bagian dari mereka yang percaya bahwa caci-maki pun bagian dari satu konvensi tersendiri yang hanya bisa dipahami dalam ruang dan kontes tertentu, yang mana kata-kata menjadi bermakna dan sangat beragam bergantung situasi-situasi yang berbeda.

Hal itu belum cukup menjelaskan orang bisa gembira, senang, terharu, tersinggung, marah, sedih, benci, dendam, dan terluka hanya karena kata-kata. Apa hubungan antara kata-kata dengan perasaan manusia? Begitu berbahayakah kata-kata begitu melukaikah kata-kata? Kenapa orang bisa berbunuhan karena kata-kata?

Kenapa kalau manusia dipuji dia menjadi bahagia dan bahkan menjadi kenangan indah yang lama? Mengapa kalau manusia dicaci dia tersinggung atau mungkin marah? Kenapa ada kata-kata yang dianggap sebagai kata-kata pujian atau makian? Atau bahkan ada orang yang dipuji, tetapi dia justru marah. Atau ada orang dicaci, tetapi yang dicaci justru merasa senang. Apakah ada kesepakatan, jika seseorang dikata-katai dengan kata-kata tertentu, kamu boleh bergembira? Tampaknya juga tidak. Itu artinya, kata-kata pada mulanya berdiri sendiri dan “netral” dan perasaan manusia merupakan sesuatu yang lain. Tidak ada kesepakatan antara kata-kata tertentu dengan perasaan manusia.

Kata-kata dalam bahasa Indonesia, misalnya telah mengalami ideologisasi dan politisasi yang luar biasa sehingga orang pun bahkan tidak dapat menggunakan kata-kata tertentu secara apa adanya justru karena kuatnya cengkraman politisasi dan ideologisasi tersebut. dalam paradigma ini, karena proses tersebut, bahasa Indonesia tampaknya menjadi lebih politis daripada kulturalis (dan bernilai rasa-bahasa).

Sebagaimana perasaan itu sendiri, ada strafikasi dan ketidaktegaan sehingga kata-kata caci makian pun kadang mengalami “penghalusan kultural”. Ada situasi-situasi ketika orang juga merasa tidak enak jika memilih kata-kata bajingan sehingga “diplesetkan” menjadi bajigur, simbokne ancuk menjadi simbokne dolah, dan sebagainya. Fenomena itu memperlihatkan manusia berupaya tidak sepenuhnya dikuasai kata-kata yang ada sehingga ada upaya terus menerus “memodifikasi” dan muncul kata-kata, ungkapan, atau frase-frase baru sehingga sebagai bagian dari strategi penghindaran kooptasi bahasa.

Hal menarik adalah ketika cukup banyak caci maki, kemudian, orang menggunakan bahasa Inggris, seperti fuck, shit, bitch, dan sebagainya. Akan tetapi, kenapa ada orang memaki dalam bahasa Inggris? Kemungkinan pertama itu berkaitan dengan strategi agar orang yang dimaki dalam bahasa Inggris (asing) secara kultural tidak begitu merasakan dampak psikologisnya. Kemungkinan kedua, orang yang memaki dalam bahasa Inggris mempunyai tujuan untuk mendapatkan kepuasan diri sendiri, tanpa menghiraukan kata-kata makian tersebut berdampak atau tidak terhadap orang yang dimaki.

Kalau boleh digarisbawahi, substansi penting makian bukan pada kata-kata, tetapi di atas itu adalah bahwa terdapat kata-kata yang di dalamnya ada kandungan marah. Kata apa saja yang di dalamnya ada membawa beban kemarahan, atau kebencian, dan diucapkan dengan cara tertentu, kata-kata itu menjadi sesuatu yang bersifat makian.

Jangan lupa, kata-kata itu pun dalam praktiknya hanya terjadi secara lisan dan aktual. Kita tidak mendapat nada dan kandungan kemarahan tertentu, termasuk dengan menggunakan kata-kata yang secara kultural dianggap kata-kata caci maki, tetapi kata-kata itu kita temukan secara tertulis. Bahasa tertulis telah menghilangkan banyak hal dan sekaligus membekukan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan ekspresi lisan.

Kapur Sirih DR. APRINUS SALAM (handout kuliah Hermenutika)