hati kotor

Mungkin hatimu masih kotor…
— 

Jika setiap kali temanmu melakukan kesalahan kecil membuatmu emosi dan mengingat kesalahan-kesalahannya yang lain, itu tandanya hatimu masih kotor.

Jika setiap kali Allah turunkan ujian kecil dan dengan mudah membuatmu berprasangka buruk terhadap sesama, itu tandanya hatimu masih kotor.

Jika sedikit saja teguran teman demi kebaikanmu membuatmu berwajah masam, itu tandanya hatimu masih kotor.

Jangan-jangan hati kita masih begitu kotor. Mari terus beranjak dan jangan lelah memperbaiki diri.

Just Blabbering : Melepaskan Dendam

Gw tipe orang yang sulit move on. Move on dalam banyak hal. Kejadian buruk, kegagalan, penghinaan, luka sakit hati, trauma karena dijahati orang secara emosional (kalau secara fisik mah no hard feeling). Untungnya masih diberi kelebihan berupa keberanian untuk melawan perasaan dendam itu sehingga bukan jadi mundur, malah maju. Dihina, malah melompat maju. Diragukan, malah menertawakan dan maju.

Well, tapi majunya pendendam adalah penuh dengan luka, sering kali penuh dengan keinginan pembuktian, dan itu gak bagus, jangan ditiru ya. Sifat buruk begini menjadi salah satu jalan setan untuk merusak niat dan ibadah, seriously. Itu mengapa saya mudah stres, karena niat melakukan ini itu tidak tulus, tapi ingin membuktikan. Membuktikan pada diri sendiri bahwa orang yang menghina itu salah, dan gw benar.

Alhamdulillah beberapa tahun belakangan sepertinya efek radang otak gw mulai terasa : gw semakin pelupa. Jadi sudah banyak hal yang ternyata bisa gw lupakan tanpa gw bermaksud melupakan. Mungkin begitu caranya Allah menolong hati gw yang kotor.

Tapi tetap saja, beberapa luka major masih bisa muncul dengan begitu mudahnya. Pas waras, gw bisa dengan bijak memaafkan. Tapi pas gak waras, sakit itu terasa lagi bahkan secara fisik, rasanya jantung perih. 

Kemarin membaca sebuah motivasi dari Brendon Burchard di IG, “Do not move on to 2017 without letting go of something significant from 2016, an old idea; label; habit; fear; concern of ego. Let go to free up the whitespace for something new and extraordinary to enter.”

Barangkali ini waktunya benar - benar melepaskan dendam. Sulit, dan kalau kembali berhubungan dengan hal itu, jadi kembali sakit hati hati dan uring - uringan. Bukan karena ingin masa lalu berubah, bukan.Tapi lebih kepada perasaan terluka karena pernah direndahkan segitunya, perasaan bahwa gw ga lebih baik dari orang lain; bahwa gw pernah cuma jadi pilihan kesekian; bahwa ge diperlakukan seperti itu; bahwa gw tidak berharga. 

Lagi - lagi kata Brendon dalam sebuah videonya tentang penolakan, “berapa orang sih yang pernah menolakmu? Kenapa kamu begitu memikirkan penolakan sedikit sekali orang dan kamu mengabaikan mayoritas orang yang menerimamu?”

Ya benar juga, what the heaven banget sih. Ngapain gw uring - uringan cuma gara - gara kejadian ga penting? Yah, intinya tahun depan cuma mau belajar melepaskan dendam dan memaafkan. Kalau ga bisa kayak sahabat Nabi yang setiap malam memaafkan orang lain, paling ga setahun sekali lah ya memaafkan. Melepaskan luka - luka lama supaya langkah ke depan bisa ringan, tulus, dan lebih baik niatnya. Toh sakit hati itu datang pasti karena setelah gw berbuat dosa dan kesalahan. 

Apapun keadaan, bacalah alquran.

Dengan alquran, hati yang gelap mencari terang.

Dengan alquran, hati yang kotor kembali bersih.

Dengan alquran, diri yang jahil menjadi alim.

Dengan alquran, jiwa yang kabut menjadi tenang.

Dengan alquran, jiwa yang resah menjadi bahgia.

Dengan alquran, hati yang keras menjadi lembut.

Dengan alquran, umat yang rosak menjadi yang terbaik.

Dengan alquran, tamadun yang runtuh bangkit kembali.

Dengan alquran, musuh yang rakus tertunduk hina.

Jika…

Jika alquran di baca, di amal, di hayati, di sampaikan, di tadabbur, di patuhi, dan menjadi panduan hidup.

Maaf vs Dendam

Ada orang dia boleh sabar, tapi dia tak mampu untuk memaafkan.

Ada orang dia hebat menahan marah. Tapi dia gagal untuk memaafkan.

Lalu marah yang di tahan itu menjadi dendam. Dan apa yg ada pada dendam selain rasa benci, rasa sakit hati? Segala sifat mazmumah ada dalam sifat dendam. Takkan wujud kalimah “dendam” bila ada kalimah “maaf”.

Belajarlah memaafkan orang lain. Ya, nak memaafkan orang lain pun kena belajar. Minta maaf pun kena belajar. Semua kena belajar untuk didik hati.

Jangan gusar untuk memaafkan orang lain. Jangan malu untuk meminta maaf. Tiada yang hina dari istilah “maaf” kecuali belas kasihan dan kasih sayang. Segalanya kebaikkan.

InshaAllah kher.

Kerana sungguh, sifat pemaaf itu akan mencabut sifat marah dan segala dendam.

Suburkan keindahan pada hati. Bukan kehancuran. Kerana semua bermula dari hati. Bersih hati, bersihlah semua. Kotor hati, kotorlah semua.

Originally posted by mariechapuis

JKT489

Happy 489th birthday my old-ugly-crowded city Jakarta, (22 June 1527).

Sejelek-jeleknya kamu, air dan tanahmu tempatku bermain dulu. Sekotor-kotornya kamu, langitmu menjadi saksi tingginya layangan dan harapanku. Sebising-bisingnya kamu, tetap suara speaker masjid pengajian merdu yang kurindu. Aku tetap setia membersamaimu hingga 489 tahun lagi.

Pun aku terus berupaya melindungimu dari tangan, mulut, dan hati kotor penguasa yang membuatmu nestapa. Yang hanya menjadikanmu bantu loncatan kerakusan mereka. Jakarta, oh, Jayakarta! Semoga muncul Fatahillah baru yang akan merebut kembali tanah ini dari hegemoni asing sok bertuan. Meneruskan amanah Sultan berbakti pada bumi pertiwi; demi agama dan bangsa.

Selamat ulang tahun, Jakartaku!

1. Pandangan mata
Selalu menipu

2. Pandangan akal
Selalu tersalah

3. Pandangan nafsu
Selalu melulu

4. Pandangan hati
Selalu hakiki

Dan kalau hati itu bersih
Maka bersihlah

Kalau hati itu kotor maka kotorlah.

Maka beruntunglah orang yang selalu mensucikan hati.

Orang yang bersih hatinya,
Disebut nama Allah, dia merasakan tenang damai takut, gementar, rasa dijaga.

Bahkan bila mendengar laungan azan, alunan zikir, bacaan tilawah, menitis air matanya.

Bukan kerana ‘cengeng’
Tetapi kerana 'hati’ yang bersih. 😊

Ingat,
Orang yang buta matanya,

Tidak nampak jalan di dunia.

TAPI

Orang yang buta mata hatinya,

Tidak nampak jalan di akhirat

Penghalang Kebaikan

Hati yang kotor adalah penghalang kebaikan dari Allah. Kita paham harus tunduk dan patuh, namun acap kali kita melalaikan kewajiban dan menyepelekan yang sunnah. Sering pula kita nyaman dalam dosa, abai dengan larangan-Nya.

Kita tahu bahwa muara segala urusan seorang mukmin adalah syukur dan sabar, namun seringkali kita berprasangka buruk kepada Allah. Padahal sering diulang-ulang ayat yang menyebutkan bahwa Allah tidak memberi ujian kepada hamba di luar kemampuannya.

Catatan bagi kita, buah dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Sedangkan buah dari maksiat adalah terhalangnya kita dari kebaikan.

Sering mendengarkan nasehat agama, memperbanyak istighfar dan intensitas ibadah harian adalah salah satu obat pembersih hati. Dengan demikian semoga tidak ada lagi penghalang antara kita dengan kebaikan Allah.

Jangan pernah merasa diri kita suci atau menganggap hati orang lain kotor, sebab Allah SWT mengatakan dalam al-Quran; ‘Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.’
—  (QS. An-Najm: 32)
7.41

Akan ada orang yang selalu menghakimi salah tak peduli sekuat apa kamu berusaha berbuat benar. Baginya tindakanmu selalu kurang, tidak ikhlas, dan dia tidak akan melewatkan cacat ditubuhmu walau sekecil semut. Katanya sih nasehat, mengingatkan, atau apalah namanya; dia akan selalu melihat kesalahanmu tak peduli sebanyak apa kebaikan yang kamu tebar.

Ya, akan ada orang yang selalu meniru lalat. Sebersih apapun ruangan yang dihinggapi, pasti akan menemukan tempat yang kotor. Karena fokusnya memang untuk itu.

Waktu kecil, dalam ceramah Ustadz Zainuddin MZ, beliau pernah mengutip perkataan ketua MUI pertama Indonesia Buya Hamka. Secara makna beliau berkata: “Jika hati kotor, di tanah Arab pun orang bisa menemukan diskotik. Jika hati bersih maka di Barat pun orang akan menemukan mesjid”.

Tulisan ini hanya ingin mengingatkan diri, bahwa kita hanyalah dai, bukan qodi. Tugas kita hanya mengingatkan bukan menghakimi. Sebelum mati, tidak ada yang tahu, hati akan istiqomah dalam kebaikan atau akhirnya jatuh futur karena busuk oleh kesombongan.

Semoga Allah menjaga kita dalam kebaikan dan ketaatan pada-Nya.


Jakarta, Shafar 1437 H || Sen @SenyumSyukur

Salah satu faktor yang menyulitkan kita untuk istiqomah melakukan suatu kebaikan adalah hati yang masih kotor. Bukankah hati adalah segumpal daging yang apabila daging itu baik maka seluruh tubuh juga baik. Dan apabila segumpal daging itu buruk maka seluruh tubuh buruk pula? Maka, mari sucikan hati kita dengan selalu membaca ayat-ayat Allah dan mengikuti sunnah-sunnah Rosulullah. Dan dengan rahmat-Nya, insyaAllah kita bisa beristiqomah atas suatu kebaikan.
Jatuh cinta pada dunia itu perlu juri. Dan jurinya adalah idealisme-mu sendiri.
— 

Jika kau Islam, maka cara menjurinya adalah dengan bertanya, ‘apakah kecintaanmu pada sesuatu itu membuatmu menjadi muslim yang lebih baik?’ 

Bukan sekedar berdoanya lebih banyak, atau frekuensi ibadahnya lebih tinggi. Tapi juga apakah hati menjadi kotor karena cinta itu? Apakah hati jadi negatif karena cinta itu? Apakah harga dirimu sebagai manusia & muslim jatuh karena cinta itu? Apakah waktumu jadi terbuang sia-sia karena cinta itu? Kompleks kan? Cinta pada dunia memang begitu, ribet dan kompleks.

Cinta yang sebenarnya, akan membuat tenang, yakinlah. Cinta yang semu, hanya akan menurunkan kualitasmu. Maka tinggalkanlah.

Cinta yang tolol, juga ada. Yaitu cinta yang membuat kita mau-maunya menderita cuma demi sesuatu yang semu. Kata Mas @eleftheriawords sih gitu. 

**gilak ya saya bisa sesolehah inihhh!!!! Tolong, ini saya lagi kesurupan**

Ilmu tidak akan masuk bila mempunyai hati yang kotor, niat menuntut ilmu yang salah, sekalipun ilmu yang di pelajari ayat ayat suci Al-Qur'an. Seperti air zam-zam yang di tuangkan ke dalam gelas yang penuh kotoran. Dia tidak akan memberikan manfaat bagi peminumnya.
—  Ustadz Nuzul Dzikri