harapkan

Titian Takdir Penuh Kasih

Kita sering mengalami saat hal-hal yang kita impikan sejak lama masih belum saja tampak seperti segera terwujud, kemudian kita berpikir Allah tidak akan pernah mengabulkan permintaan kita.

Padahal, kita punya pilihan untuk berpikir bahwa Allah hanya sedang menginginkan kita untuk belajar sabar, untuk belajar bagaimana mengerti akan istimewanya sebuah impian.

Sebab, dalam impian yang tak jadi, ada penantian yang kadang terasa berkepanjangan, ada pendirian yang harus selalu diteguhan, serta ada keputusasaan yang selalu ditunda.

Kita sering mendapati usaha-usaha yang telah lama kita perjuangkan tidak selalu membuahkan hasil yang kita harapkan sejak awal kita niatkan dalam hati, kemudian kita berpikir Allah tidak pernah adil memperlakukan hamba-Nya.

Padahal, kita punya pilihan untuk berpikir bahwa Allah hanya sedang menginginkan kita untuk belajar ikhtiar, untuk belajar bagaimana memahami akan hebatnya sebuah kerja keras.

Sebab, dalam hasil yang mengecewakan, ada pahit yang ditelan bulat-bulat sendirian, ada kepedihan yang disembunyikan dalam-dalam, serta ada peluh yang terjatuh tanpa tersadar.

Kita sering kehilangan sesuatu yang kita jaga sepenuhnya, bahkan seseorang yang begitu kita sayang, dan saat kita kehilangannya, kemudian kita berpikir Allah begitu kejam merampas kebahagiaan kita.

Padahal, kita punya pilihan untuk berpikir bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Lebih dari itu, Allah hanya sedang menginginkan kita untuk belajar ikhlas, untuk belajar bagaimana mengerti akan berharganya keberadaan sesuatu, bahkan kehadiran seseorang saat ia masih ada.

Sebab, dalam kehilangan yang menyedihkan, ada kesedihan yang ditimbun terlalu lama, ada hati yang berubah merunduk setiap harinya, serta ada air mata yang menetes tiap malamnya.

Kalau saja kita memandang tiap-tiap yang menimpa kita sebagai ujian, kita bisa saja memilih berpikir bahwa Allah nyatanya melihat kita jauh lebih kuat dari yang lain.

Maka mungkin benar, hanya mereka yang begitu dekat kepada-Nya yang mampu merasakan, bahkan menerima dengan lapang pada apa- apa yang terjatuh di pundaknya.

Barangkali kita memang tidak perlu cemas, sebab Allah selalu menyisipkan kekuatan pada setiap langkah dalam titian takdir yang telah ditetapkan.

Bogor, 13 Mei 2017 | Seto Wibowo

Bilang “yaudah kalo memang jodoh, suatu saat kita pasti ketemu lagi” itu ngga mudah, kalo dia yang kamu harapkan adalah orang yang dengan segala sikap dan kebaikan dirinya bakal dengan mudahnya ketemu seseorang yang lebih baik dari kamu.

Penamu habis jika kamu harus menuliskan segala kekhawatiranmu. Bahkan, pena-pena itu mungkin akan habis sebelum kamu selesai mencurahkan semuanya dalam tulisan. Tak habis diurut, tak selesai dirunut. Kita, manusia-manusia memang begitu: menyimpan khawatir dalam hatinya agar tak terlihat pada pertunjukan di wajahnya. Sudahlah, akui saja.

Lembar-lembar kertas dalam bukumu akan habis jika kamu harus menuliskan semua keraguan. Bahkan, tulisan itu mungkin tak akan selesai meski kamu terus meminta kertas tambahan. Siapa orangnya yang tak pernah ragu? Kukira semua pernah merasakannya: ragu pada diri sendiri, orang-orang di sekitar, bahkan pada apa yang akan terjadi di hari-hari mendatang.

Tak perlu menepis, tidak pula perlu berpura-pura atau bersembunyi. Di dalam hatimu sejatinya tak pernah ada bilik tempat bersembunyi! Sebaliknya, kita bisa memilih untuk menerima perasaan, menyadari bahwa perasaan itu ada, lalu berupaya menumbuhkannya menjadi kebijaksanaan. Ya, menumbuhkannya menjadi kebijaksanaan! Kalau tidak demikian, lantas apa lagi?

Khawatir, ragu, atau apapun perasaan yang mengganggumu itu jangan cepat-cepat diusir agar pergi berlari. Terima, rasakan, dan dengarkanlah dulu apa yang sedang diutarakan oleh hatimu. Setelahnya, berusahalah memandang semuanya dari sudut pandang yang sebaliknya, cari makna dan kebaikannya. Segala yang buruk adalah baik, sebab Allah ingin membuatmu belajar dan bertumbuh lewat apapun yang Dia takdirkan.

Alih-alih meninggikan khawatir dan ragu, ternyata berserah lebih layak untuk diperjuangkan. Memangnya, apa lagi yang bisa kita lakukan selain berserah sambil berusaha menerima semua ketetapan-Nya? Apa lagi yang bisa kita harapkan selain bertumbuhnya diri dan apa yang ada di dalam hati melalui setiap situasi? Tidak ada! Sebab, semua akan menenangkan dan menumbuhkan hanya jika diserahkan kepada-Nya, Sang Pemilik takdir dan cerita kehidupan.

Takdir telah selesai dituliskan dan tinta-tinta telah mengering. Waktu dan hidupmu terus melaju tanpa mau menunggumu selesai dengan ragu dan khawatirmu lebih dulu. Karenanya, ayo lekas! Semoga Allah senantiasa memudahkanmu untuk melapangkan hati dalam menerima semua ketetapan.

Sekedar Membayangkannya Saja, Ia Tidak Berani

Gadis itu dari dulu memang tak pernah berani mengatakannya. Ia simpan dalam-dalam perasaannya. Karena ia khawatir hal itu akan membuat pikiran dan hatinya meliar tanpa arah tanpa kendali.

Perasaan gadis itu memang sudah sangat  jauh. Tapi fisiknya tidak sama sekali dekat. Sebut saja, lelaki pencuri setengah hatinya–belakangan ini.

Jangankan mengatakan perasaannya. Sekedar membayangkan pagi yang cerah di emperan belakang rumah. Menyiapkan kopi hangat dan sepiring pisang goreng  lalu ditambah perbincangan hangat bersama dengan lelaki itu, ia tak pernah berani sedikitpun.

Jangankan mengatakan perasaannya. Sekedar membayangkan ia sedang merapalkan kalam-kalam  Allah, huruf demi huruf. Ayat demi ayat. Lembar demi lembar.  Bahkan juz demi juz, untuk disimak oleh lelaki itu. Membenarkan jika ada yang kurang benar. Sambil bareng-bareng mentadabburi kemudian diaplikasikan bersama dalam kehidupan sehari-hari, pun tak pernah berani ia coba.

Jangankan  mengatakan perasaannya. Sekedar membayangkan berdua memuthola’ah kitab-kitab yang telah dipelajari dari kyai-kyai dan guru-guru masing-masing–yang satu membacakan kemudian yang satu mendengarkan sambil mencatat. Lalu bergantian, sambil bercanda sesekali. Samasekali ia tak berani.

Jangankan mengatakan perasaannya. Sekedar membayangkan berjalan kaki berdua ditrotoar diwaktu senja, sambil bergandengan tangan dengan harapan dosa-dosa kecil berdua akan luruh satu demi satu, tidak sama sekali ia berani.

Jangankan mengatakan perasaannya. Membayangkan menjadi model kamera kebanggaan si lelaki itu dengan latar belakang pantai, gunung ataupun rerumputan dilapangan saja, ia tak berani.

Intinya, gadis itu benar-benar tidak berani membayangkan akan menjadi lebih dari sekedar pertemanan biasa selama ini.

Meski kebaikan-kebaikan selama ini masih membekas. Basa-basi yang paling basi masih tertempel direlung. Canda tawa yang-meskipun tidak sering dan terkadang garing-masih terngiang. Harapan-harapan tak pasti itu masih melekat. Juga rasa yang bercampur aduk layaknya rujak dengan berbagai rasa buah.

Ia benar-benar tak ingin menelan kekecewaan atas manusia.

Lelaki yang sedari awal sudah ia prediksi akan mengusik ketenangan-ketenangannya. Lelaki yang sedari awal sudah ia duga akan membuatnya tersenyum tak mempedulikan sekitar setiap kali kebaikan si lelaki muncul secara tiba-tiba–tanpa ia nanti sebelumnya. Lelaki yang didalam doanya tak pernah absen untuk disebutkan.

Yang ia berani harapkan sekarang hanya satu. Lelaki itu memberikan kabar setiap hari. Tidak harus lewat sms atau telepon. Tidak harus lewat pembicaraan singkat. Juga tidak harus lewat titipan salam dari teman. Bisa jadi lewat semilir angin, hembusan udara malam yang dingin, air-air hujan yang turun dari langit bersama malaikat penjaganya. Juga balasan do’a-doa. Mungkin jika seperti itu bisa lebih terjaga.

Jangan tidak ada kabar, do’amu sepertinya sampai. Do’aku sampai kan?

Batinnya menyeruak lembut, sekali lagi.

Kalau kamu tidak diperjuangkan oleh seseorang yang kamu harapkan, kamu akan diperjuangkan oleh seseorang yang mengharapkanmu.

Tak perlu menangisi seseorang yang tidak peduli padamu, karena hidupmu terlalu berharga, waktumu jangan sampai tersita.

Seseorang yang menolakmu belum tentu dia lebih baik darimu.

Bisa jadi, menurut Allah, kamu adalah pribadi yang lebih baik sehingga Allah menginginkanmu bertemu dengan seseorang yang lebih baik daripada dia.

Kosongkan hatimu untuk Cinta-Nya agar Dia hadirkan seseorang yang bisa mencintaimu sepenuh hatinya.

(Kutipan Novel #CintaDalamIkhlas hal.

316)

—  Kang Abay Motivasinger

shafiranoorlatifah  asked:

Kak Choqi, disaat tidak ingin jatuh cinta, apakah salah bila kita mendoakan seseorang yang dikagumi dan berharap suatu saat akan bersama kita? Bagaimana caranya untuk tetap memurnikan hati kepada-Nya?

halo @shafiranoorlatifah

SALAHKAH MENDOAKAN SESEORANG AGAR BERSAMA KITA?

Tidak, tidak salah kok. Tapi alangkah lebih baik, kalau kita berdoa saja yang terbaik sama Allah.

Kenapa?

Karena, kalau di setiap doa, kita meminta agar bersama dia, kalau di setiap doa, kita meminta agar bisa hidup dengan dia, kalau di setiap doa, banyak isinya tentang dia dia dia dan dia, maka bisa jadi, cinta kita bergeser dari Allah menjadi pada si dia.

Semakin sering kita berdoa agar dia jadi sama kita, semakin sering kita memikirkannya. Semakin sering kita memikirkannya, semakin sering kita berharap. Semakin tinggi kita berharap sama manusia, semakin besar juga rasa cemburu Allah pada kita. Maka, seringkali, ketika kita sudah berharap tinggi, membayangkan ini itu dengan si dia, tatkala Allah menakdirkan bahwa dia bukan jodoh kita, maka bisa jadi hati kita sungguh sakit untuk sesuatu yang bahkan belum kita miliki.

Maka, saran saya, agar tetap murni hati kita untuk Allah SWT, rubahlah doanya. Berdoalah “Ya Allah, berikanlah saya yang terbaik, bahkan dengan siapapun nantinya”, maka siapapun yang datang, dengan cara apapun ia hadir, maka itu adalah surprise terbaik dari Allah.

Bagaimana kalau misalnya ternyata akhirnya kita dipertemukan dengan orang yang juga kita harapkan? Alhamdulillah, jodohnya cocok sama doanya. Maka itu adalah double surprise dari Allah.

Jika kita banyak berdoa untuk seseorang, walaupun itu kepada Allah, maka hati kita sesungguhnya sudah berpaling ke orang tersebut. Tapi jika kita banyak berdoa dan berserah pada Allah, melepaskan segala keputusan pada Allah, maka kita sesungguhnya telah memurnikan hati kita hanya untuk Allah. Dan Allah senang dengan hamba-hambanya yang mencintai dia, bisa jadi Allah kasih apa yang kamu inginkan, bahkan sebelum kamu mengucapkan doanya.

Wallahua’lam bisshawab.

Semoga bermanfaat. Izin follow tumblrmu ya @shafiranoorlatifah

Ada yang berdiam, lalu mengeluh, merasa tak pernah ditemukan. Tahukah, kekeliruan terbesarmu adalah tak pernah sadar untuk menunjukkan diri. Bila terus begitu, takkan mudah sampai seseorang yang kau harapkan untuk melangkahkan kaki itu.
Apa kabar, Nona?

Nona, kita memang tak memiliki rencana untuk bertemu. Kita dipertemukan. Tetapi, untuk melanjutkan pertemuan menjadi sebuah cerita adalah apa-apa yang kita pilih sendiri, kita yang menentukan. Jadi, tak ada yang perlu disalahkan. Lama atau tidaknya, bahagia atau sedihnya, itu tergantung bagaimana masing-masing kita menjalani dan menyikapinya. Jika bahagia, sukuri saja, dan jika tidak, pahami saja. Bahwa tidak semua cerita harus berjalan dan berakhir seperti yang kita harapkan. Setidaknya jika ada yang bisa kita pelajari, dan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik, itu saja sudah cukup.

Ngomong-ngomong, apa kabarmu Nona? Masih mengingatku?

Aku, masih. Aku mengingatmu sebagai pembelajaran, bukan sebagai kenangan yang mesti dilupakan.

Menerima kenyataan adalah sebuah kehebatan. Kalimat itu penting untuk direnungkan di setiap senja datang. Ketika langit akan berganti warna menjadi gelap, sebagian dari kita ada yang merenungi kehidupannya, dan pasti ada yang merenungi apa yang dia lakukan hari itu. Dan apakah kenyataan sesuai dengan harapannya di fajar tadi.

Tunggu sebentar, seduh dulu kopi atau teh atau cokelat hangat. Sebelum kita benar-benar memahami kenyataan yang ada, yang mana memang perlu kita renungkan dan kita harapkan bisa tidur nyenyak malam ini.

Sebagian dari kita ada yang kecewa dengan dirinya sendiri, sebagian lagi ada yang kesal pada orang lain, ada pula yang semakin takut esok akan tiba dengan sederet kewajiban bagai dilempar sebuah tombak runcing. Semua dari kita punya jalan hidup yang beragam, tapi sedikit yang yakin akan bisa menghadapinya.

Sedikit? Iya tentu saja. Bukankah sangat sedikit orang-orang yang bisa mengubah sejarah dunia? Tentu orang-orang itu adalah orang-orang yang optimis. 

TELAT NIKAH | KISAH NYATA

Aku sudah lulus dari kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus.

Lamaran kepada diriku untuk menikah juga mulai berdatangan, akan tetapi aku tidak mendapatkan seorangpun yang bisa membuatku tertarik.

Kemudian kesibukan kerja dan karir memalingkan aku dari segala hal yang lain. Hingga aku sampai berumur 34 tahun.

Ketika itulah aku baru menyadari bagaimana susahnya terlambat menikah.

Pada suatu hari datang seorang pemuda meminangku. Usianya lebih tua dariku 2 tahun. Dia berasal dari keluarga yang kurang mampu. Tapi aku ikhlas menerima dirinya apa adanya.

Kami mulai menghitung rencana pernikahan. Dia meminta kepadaku photo copy KTP untuk pengurusan surat-surat pernikahan. Aku segera menyerahkan itu kepadanya.

Setelah berlalu dua hari ibunya menghubungiku melalui telepon. Beliau memintaku untuk bertemu secepat mungkin.

Aku segera menemuinya. Tiba-tiba ia mengeluarkan photo copyan KTPku. Dia bertanya kepadaku apakah tanggal lahirku yang ada di KTP itu benar?

Aku menjawab: Benar.

Lalu ia berkata: Jadi umurmu sudah mendekati usia 40 tahun?!

Aku menjawab: Usiaku sekarang tepatnya 34 tahun.

Ibunya berkata lagi: Iya, sama saja.
Usiamu sudah lewat 30 tahun.
Itu artinya kesempatanmu untuk memiliki anak sudah semakin tipis.
Sementara aku ingin sekali menimang cucu.

Dia tidak mau diam sampai ia mengakhiri proses pinangan antara diriku dengan anaknya.

Masa-masa sulit itu berlalu sampai 6 bulan.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi melaksanakan ibadah umrah bersama ayahku, supaya aku bisa menyiram kesedihan dan kekecewaanku di Baitullah.

Akupun pergi ke Mekah.
Aku duduk menangis, berlutut di depan Ka’bah.
Aku memohon kepada Allah supaya diberi jalan terbaik.

Setelah selesai shalat, aku melihat seorang perempuan membaca al Qur’an dengan suara yang sangat merdu.
Aku mendengarnya lagi mengulang-ulang ayat:

(وكان فضل الله عليك عظيما)

“Dan karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar”.

(An Nisa’: 113)

Air mataku menetes dengan derasnya mendengar lantunan ayat itu.

Tiba-tiba perempuan itu merangkulku ke pangkuannya.
Dan ia mulai mengulang-ulang firman Allah:

(ولسوف يعطيك ربك فترضي)

“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas”.

(Adh Dhuha: 5)

Demi Allah, seolah-olah aku baru kali itu mendengar ayat itu seumur hidupku. Pengaruhnya luar biasa, jiwaku menjadi tenang.

Setelah seluruh ritual umrah selesai, aku kembali ke Cairo.
Di pesawat aku duduk di sebelah kiri ayahku, sementara disebelah kanan beliau duduk seorang pemuda.

Sesampainya pesawat di bandara, akupun turun.
Di ruang tunggu aku bertemu suami salah seorang temanku.

Kami bertanya kepadanya, dalam rangka apa ia datang ke bandara?
Dia menjawab bahwa ia lagi menunggu kedatangan temannya yang kembali dengan pesawat yang sama dengan yang aku tumpangi.

Hanya beberapa saat, tiba-tiba temannya itu datang.
Ternyata ia adalah pemuda yang duduk di kursi sebelah kanan ayahku tadi.

Selanjutnya aku berlalu dengan ayahku…..

Baru saja aku sampai di rumah dan ganti pakaian, lagi asik-asik istirahat, temanku yang suaminya tadi aku temui di bandara menelphonku.
Langsung saja ia mengatakan bahwa teman suaminya yang tadi satu pesawat denganku sangat tertarik kepada diriku.
Dia ingin bertemu denganku di rumah temanku tersebut malam itu juga.
Alasannya, kebaikan itu perlu disegerakan.

Jantungku berdenyut sangat kencang akibat kejutan yang tidak pernah aku bayangkan ini.

Lalu aku meminta pertimbangan ayahku terhadap tawaran suami temanku itu.
Beliau menyemangatiku untuk mendatanginya.
Boleh jadi dengan cara itu Allah memberiku jalan keluar.

Akhirnya…..aku pun datang berkunjung ke rumah temanku itu.

Hanya beberapa hari setelah itu pemuda tadi sudah datang melamarku secara resmi.
Dan hanya satu bulan setengah setelah pertemuan itu kami betul-betul sudah menjadi pasangan suami-istri.
Jantungku betul-betul mendenyutkan harapan kebahagiaan.

Kehidupanku berkeluarga dimulai dengan keoptimisan dan kebahagiaan.
Aku mendapatkan seorang suami yang betul-betul sesuai dengan harapanku.
Dia seorang yang sangat baik, penuh cinta, lembut, dermawan, punya akhlak yang subhanallah, ditambah lagi keluarganya yang sangat baik dan terhormat.

Namun sudah beberapa bulan berlalu belum juga ada tanda-tanda kehamilan pada diriku.
Perasaanku mulai diliputi kecemasan.
Apalagi usiaku waktu itu sudah memasuki 36 tahun.

Aku minta kepada suamiku untuk membawaku memeriksakan diri kepada dokter ahli kandungan.
Aku khawatir kalau-kalau aku tidak bisa hamil.

Kami pergi untuk periksa ke seorang dokter yang sudah terkenal dan berpengalaman.
Dia minta kepadaku untuk cek darah.

Ketika kami menerima hasil cek darah, ia berkata bahwa tidak ada perlunya aku melanjutkan pemeriksaan berikitnya, karena hasilnya sudah jelas.
Langsung saja ia mengucapkan “Selamat, anda hamil!”

Hari-hari kehamilanku pun berlalu dengan selamat, sekalipun aku mengalami kesusahan yang lebih dari orang biasanya.
Barangkali karena aku hamil di usia yang sudah agak berumur.

Sepanjang kehamilanku, aku tidak punya keinginan mengetahui jenis kelamin anak yang aku kandung.
Karena apapun yang dikaruniakan Allah kepadaku semua adalah nikmat dan karunia-Nya.

Setiap kali aku mengadukan bahwa rasanya kandunganku ini terlalu besar, dokter itu menjawab:
Itu karena kamu hamil di usia sudah sampai 36 tahun.

Selanjutnya datanglah hari-hari yang ditunggu, hari saatnya melahirkan.

Proses persalinan secara caesar berjalan dengan lancar.
Setelah aku sadar, dokter masuk ke kamarku dengan senyuman mengambang di wajahnya sambil bertanya tentang jenis kelamin anak yang aku harapkan.
Aku menjawab bahwa aku hanya mendambakan karunia Allah.
Tidak penting bagiku jenis kelaminnya. Laki-laki atau perempuan akan aku sambut dengan beribu syukur.

Aku dikagetkan dengan pernyataannya:

“Jadi bagaimana pendapatmu kalau kamu memperoleh Hasan, Husen dan Fatimah sekaligus?

Aku tidak paham apa gerangan yang ia bicarakan.
Dengan penuh penasaran aku bertanya apa yang ia maksudkan?

Lalu ia menjawab sambil menenangkan ku supaya jangan kaget dan histeris bahwa Allah telah mengaruniaku 3 orang anak sekaligus. 2 orang laki-laki dan 1 orang perempuan.

Seolah-olah Allah berkeinginan memberiku 3 orang anak sekaligus untuk mengejar ketinggalanku dan ketuaan umurku.

Sebenarnya dokter itu tahu kalau aku mengandung anak kembar 3, tapi ia tidak ingin menyampaikan hal itu kepadaku supaya aku tidak merasa cemas menjalani masa-masa kehamilanku.

Lantas aku menangis sambil mengulang-ulang ayat Allah:

(ولسوف يعطيك ربك فترضى)

“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas”. (Adh Dhuha: 5)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

(وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا )

“Dan bersabarlah menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami…” (Ath Thur: 48)

Bacalah ayat ini penuh tadabbur dan penghayatan, terus berdoalah dengan hati penuh yakin bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan pernah menelantarkanmu.

| Copas dari sebuah note facebook

Bagaimana mungkin orang yang kita rindukan dan kita harapkan kehadirannya berubah menjadi orang yang paling tak ingin ditemui lewat kebetulan-kebetulan apapun?
—  Puisi singkat tentang pertanyaan-pertanyaan menyebalkan.
Jika kamu masa depanku

Untuk laki-laki yang kelak hatinya menjadi tempat ternyamanku. Sebelum kita bertemu, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan.

Ketika kelak kita bersatu pada ikatan yang sakral, maukah kamu mengerti dan menerima segala sifat dan sikap baik dan burukku?

Karena ada beberapa hal dariku yang sulit diterima oleh lelaki sebelum kamu.

Maaf, mungkin parasku tidak secantik wanita sebelumku. Aku tidak terlalu pandai bersolek dan merawat diri. Ada beberapa luka cakaran di tangan dan kakiku. Aku minta kamu memakluminya, luka itu aku dapati dari kucing-kucing yang aku rawat. Kalau kelak kamu tidak menyukai kucing, boleh aku memeliharanya satu saja dari mereka di rumah kita kelak? Aku sangat menyukai kucing, dan cita-citaku untuk memiliki setidaknya satu kucing di rumah kita nanti. Aku berjanji akan mengurus segala sesuatunya, dan sebisa mungkin tidak menyulitkanmu. Boleh, ya?

Lalu, aku juga tidak begitu pintar memasak. Mungkin aku bisa, tapi untuk soal enak atau tidak aku tidak bisa menjamin itu. Tapi tenanglah, sejak kemarin aku sudah belajar membuat beberapa makanan. Setidaknya, ketika kita bertemu, aku bisa membuatkanmu sarapan sebelum kamu bangun nanti. Kalau ada makanan yang kamu suka, katakan, aku akan belajar mati-matian agar bisa membuatkan makanan kesukaanmu. Kalau perlu aku akan minta diajarkan oleh ibumu.

Aku juga sedikit pencemburu. Bukan berarti kamu tidak boleh berteman dengan wanita, boleh, silakan. Karena aku juga memiliki beberapa teman laki-laki yang dekat. Asal, sebaiknya mereka kenalkan dulu padaku, ya? Agar menumbuhkan kepercayaanku juga.

Untuk soal belanja kebutuhan, mungkin kamu bisa sedikit lega. Karena aku tidak begitu tertarik dengan baju, tas, dan makeup-makeup mahal. Aku lebih suka yang sederhana dan awet untuk dipakai. Jadi rasanya kamu tidak perlu khawatir tidak bisa menghujaniku dengan barang-barang bermerk. Belikan aku buku, aku lebih tertarik dengan itu.

Masalah kesetiaan, kamu tidak perlu khawatir aku akan mengingkarinya. Tenang, kamu boleh percaya denganku. Seluruh kode pass sosial media dan telepon genggamku pun akan aku beri jika kamu tanya. Aku tidak menyembunyikan apa-apa. Karena kesetiaan adalah hal yang aku harapkan darimu juga.

Aku mudah menyesuaikan diri, aku tidak banyak menuntut, meminta sesuatu. Aku tidak mempermasalahkan kelak kita akan tinggal di mana, kendaraan apa yang kita miliki. Selama aku bersedia menerima tawaran untuk menghabiskan sisa umurku bersamamu, kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah siap dengan segala resiko.

Yang terpenting, aku nyaman bersamamu, kamupun nyaman selalu berpulang padaku. Untuk hal selain itu, kita usahakan bersama-sama. Untuk mencapai apa yang kita sebut bahagia. Walau sebenarnya, untuk berlabuh bersamamu, adalah awal dari kebahagiaan itu sendiri.

Kapan?

Ketika dihadapkan dengan pertanyaan;

Neng : Teteh kapan nikah?
Teteh : In syaa Allah, setepat jodohnya dan setepat waktunya.

Karena menikah bukanlah perlombaan. Tak ada yang siapa yang lebih cepat atau terlambat. Setiap orang punya kisahnya masing-masing. Segala sesuatunya hanyalah terjadi dalam waktu yang tepat.

Mungkin pula kita sering mendengar kalau jodoh akan menemukan jalannya. Kalau sudah ditakdirkan berjodoh dengan seseorang, jalan dan pintu akan terbuka sendiri. Meski mungkin akan berliku tapi selalu ada akhir yang menjanjikan di penghujung jalan.

Karenanya, pantaskan diri dihadapan-Nya. Mengharap penuh ikhlas, ikhtiar, berdo'a sebanyak engkau harapkan, tawakkal padaNya. Karena Dia adalah sebaik-baik pengatur, Ialah yang dapat membolak-balikkan hati setiap manusia.


Karena jodohmu sudah tertulis di lauh mahfuzh, percayalah Allah sudah menetapkannya. Jika tak bertemu di dunia, in syaa Allah di surgaNya kan dipertemukan, bi idznillaah :)


Siapapun jodohmu nantinya, semoga dia memang seseorang yang terbaik untukmu, keluargamu, agama dan ummat. Saat ini mungkin kamu masih sendiri. Tapi siapa tahu di saat yang paling tak terduga, kamu akan dipertemukan dengan sosok impianmu dengan cara yang paling istimewa.

Persiapkan apapun yang mesti dipersiapkan dengan sebaik-baik penantian, semoga Allah meridhai.
Dan, luruskan niat karenaNya :)


22:44
Bandung, 20 Februari 2017

Sudah sudahlah berharap pada manusia.

Setelah yang kau dapat hanyalah luka,
Setelah setiap impi yang kau harap berkecai hampa,
Apa lagi yang kau harapkan pada mereka?

Kau harus lebih tahu, bergantung pada manusia,
Kau akan semakin kecewa.


Letakkan harap kau pada Tuhan;
Kerana Tuhan sebaik-baik perancang.

Ketiga Hari

Hari kemarin.
Apa yang kita bisa harapkan dari hari kemarin? Sedangkan nyatanya kita tak bisa mengubah apapun yang telah terjadi kemarin, kita tak mampu menarik perkataan yang terucap, mengganti sebuah keputusan, apalagi menghapus sebuah kesalahan. Kita pun tak mampu mengulangi kembali kebahagiaan yang kita rasakan kemarin kan? Maka lepaskanlah. Biarkanlah hari kemarin berlalu. Biarkan hari kemarin menjadi sebuah kenangan, menjadi pelajaran, menjadi pengalaman sebagai bekal untuk kehidupan.


Hari esok.
Hingga mentari menyapa esok hari, kita tidak tahu sama sekali apa yang akan terjadi bukan? Bahkan kita tidak tahu apa yang akan kamu dapati esok hari. Tiada daya yang kita miliki untuk mengatur semua kejadian yang akan terjadi esok hari. Pun diri kita ini tidak sama sekali mengerti apakah akan bahagia atau kesedihan yang akan menyertai esok nanti. Biarkan saja. Kita belum bisa untuk berbuat apa-apa, karena esok belum tiba.


Hari ini.
Inilah yang tersisa kini. Ketika pintu masa lalu telah tertutup dan pintu masa depan belum terbuka, maka fokuskan diri kita pada hari ini. Kita dapat melakukan banyak hal untuk hari ini, mengerjakan berbagai aktivitas, dan berjuang untuk sesuatu yang diperjuangkan. Hiduplah hari ini, karena masa lalu dan masa depan hanyalah bayangan permainan pikiran yang rumit. Jadikan masa lalu sebagai pelajaranmu dan masadepan sebagai alasanmu berjuang di hari ini.

Sungguh, jangan biarkan masa lalu mengekangmu dan masa depan membuatmu bingung.

Hiduplah karenaNya. Hiduplah apa adanya, karena yang ada hanyalah hari ini.
Hargai orang dengan sikap terbaik. Jika tidak dapat menghargai orang, maka hargai diri sendiri, karena diri kita berharga. Sayangilah seseorang dengan ketulusan hati hari ini karena mungkin esok cerita sudah berganti. Ingatlah, bahwa menunjukkan penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakah diri kita sendiri. Apapun yang kamu perbuat lakukan dengan segenap jiwa dan ragamu. Berikanlah kebermanfaatan untuk di sekitarmu sebagai bekal kebaikan untuk akhiratmu.

Berterima kasihlah kepada mereka yang telah melukai hatimu, karena mereka telah membuat hatimu menjadi lebih kuat.
Berterima kasihlah kepada mereka yang telah mendustaimu, karena mereka telah membuat hidupmu semakin bijaksana.
Berterima kasihlah kepada mereka yang telah membencimu, karena mereka telah mengasah ketegaranmu.
Dan berterima kasihlah kepada mereka yang telah menyayangimu dan mencintaimu, karena itulah salah satu kebahagiaan terindah yang pernah kamu dapatkan dalam hidupmu.

Inner Child #2

“It doesn’t matter how old you are, there is a little child within who needs love and acceptance.”

💎 Kita semua memiliki inner child. Ia adalah bagian dari diri kita yang tertawa tanpa memikirkannya, atau yang menangis tanpa alasan. Inner child kita adalah bagian dari diri kita yang spontan, berani, dan tidak merasa bersalah. Inner child kita adalah bagian dari diri kita yang memandang kehidupan tanpa penghakiman atau kehati-hatian. Inner child kita adalah kemampuan kita untuk berekplorasi dan mengalami kehidupan dengan passion dan perasaan kagum.

💎Karena suatu sebab, inner child kita menjalani kehidupan dengan keyakinan yang membatasi, keyakinan yang bukan milik kita. Kehidupan masa dewasa kita dibentuk oleh pengasuh-pengasuh di masa kecil kita (orang tua, saudara, guru, figur otoritas lainnya) dan batasan-batasan yang didoktrin oleh harapan masyarakat. Inner child kita telah diubah dan dibuat untuk berhati-hati dengan apa yang kita tertawakan, apa yang kita bicarakan, apa yang kita eksplorasikan atau apa yang kita harapkan.

💎 Hal-hal itulah yang membentuk inner child negatif dalam diri kita. Maka, kita perlu “mengasuh ulang” diri kita yang saat kecil dulu.

💎 Apakah reparenting itu?
Reparenting adalah:
1. Menjadi orang tua untuk diri kita sendiri.
2. Memberikan pengasuhan, kasih sayang dan pengakuan yang kita butuhkan untuk menyembuhkan inner child kita.
3. Memberikan petunjuk, arah dan disiplin diri yang diperlukan untuk dapat mengendalikan diri dan menerima tanggung jawab pribadi untuk kehidupan kita sendiri.
4. Melepaskan duka cita karena perlakuan kekerasan atau pengabaian yang diterima waktu kecil dan mengambil tanggung jawab atas hidup kita.
5. Menciptakan pertalian antara jiwa dewasa dan inner child untuk memberikan rasa aman, percaya diri dan penerimaan diri.
6. Menerima diri kita sebagaimana adanya tanpa syarat dengan tidak ada penyesalan atau kebencian diri atas apa yang “seharusnya” terjadi pada kita.

💎 Penemuan dan penelitian terkini telah menunjukkan bahwa tidak mengenali, bersentuhan kembali dan melakukan program ulang persepsi dan keyakinan-keyakinan inner child negatif kita, yaitu bagian diri kita yang dicaci maki, dihinakan oleh penghakiman, kritikan, atau perlakuan yang buruk, kita akan terus menerus menjalani hidup sebagai korban dari masa lalu.

💎 Tidak bersentuhan kembali dengan inner child kita untuk memberikan dukungan dan melepaskan ketakutan yang masih tertanam akan menciptakan masalah mental dan emosional yang belum terselesaikan, yang akan mengarah pada kehidupan masa dewasa yang penuh kecemasan, ketakutan, kebingungan, kekosongan, ketidakbahagiaan, dan hubungan yang tidak utuh.

💎 Bersentuhan kembali, memberikan dukungan dan melakukan program ulang inner child kita, butuh pengetahuan yang terus menerus dan dukungan melalui afirmasi positif.

💎 Di edisi mendatang, kita akan sama-sama belajar tentang bagaimana afirmasi positif dapat menjadi obat bagi inner child negatif kita. Nantikan yaa! (rm)

📚 Sumber: Supriyatno (Founder Peduli Trauma Support Grup)

*🌷SUPERMOM’s NOTE🌷*
Edisi #psycorner 22.01.2017

🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥
💌Email: supermom.wannabe1(at)gmail(dot)com
💌 Fanpage FB: Supermom Wannabe
💌 Twitter & Instagram: @supermom_w
💌 Tumblr: supermomwannabee(dot)tumblr(dot)com
💌 WhatsApp: +6285725105272

SEPENGGAL SPASI

“Berikan sedikit spasi dalam perjalananmu, agar dapat kau temukan pelajaran baru meski dari sudut kota.”

Perjalanan selalu saja menghadirkan cerita. Entah cerita yang membuat pipi panas karena bahagia, entah juga cerita yang membuat pipi basah, karena sakit yang berujung air mata. Semua sudah kita lalui. Banyak sudah buku kita baca untuk menambah pengetahuan akan hidup, namun ternyata tak cukup.

Hidup sepertinya senang bermain-main dengan keteguhan hati kita. Dibuatnya tinggi melayang, dan sekejap dihempaskan tanpa ampun. Jika tak belajar, mati sudah!

Proses akan mengajari kita sesuatu. Aku percaya. Bahwa hidup adalah perjalanan dimana aku harus siap melewati proses demi proses pembentukkan menjadi manusia yang lebih baik. Hidup adalah tentang timbal balik, aksi dan reaksi. Ketika yang kita harapkan ternyata tak sesuai dengan kenyataan yang terjadi, maka pasrah adalah jalannya. Bahwa mungkin memang harus begini dulu. Pasrah bukan menyerah. Pasrah adalah keikhlasan merelakan bahwa apa yang ditetapkan Tuhan adalah yang terbaik, meski harus sakit dulu.

Bagaimana mungkin kita tahu kita kuat tanpa diuji dulu? Jalan kebaikan takkan berhenti menawarkan cobaan. Namun di situlah seninya, kita bisa dengan jelas melihat lagi diri kita, menilai lagi kualitas diri sendiri, seberapa hebat keyakinan kita akan ketepatan janji Tuhan?

Maka ketika semua tak sesuai harapan, ingatlah bahwa hidup adalah skenario maha indah yang wajib kita lakoni dengan baik. Tangan hanya dua, mana mungkin menggenggam semua? Untuk hal-hal terbaik yang nanti diberikan, kita butuh keleluasaan hati dan kelapangan jiwa untuk menerima, meski kita pun harus rela untuk melepaskan apa yang ada di genggaman.
Percayalah, takkan Dia ambil sesuatu tanpa Dia ganti dengan sesuatu yang lebih baik. Atas harga dari setiap airmata karena keikhlasan melepaskan, percayalah Tuhan tak pernah salah hitung.

“Tentang Perjalanan”

Setiap orang punya tingkatan ujian yang berbeda. Setiap orang punya jalan hidup yang tak sama. Setiap orang memiliki skenario cerita yang juga tak sama. Maka bukan hal yang bisa dibenarkan jika kita ingin menjadi orang lain. Sebab pada hakikatnya, kita diciptakan berbeda. Dengan semua perbedaan yang diberikan, hanya satu penilaianNya, iman.

Kehidupan memberikan kita pilihan-pilihan yang mau tak mau harus kita ambil. Dan setiap pilihan lengkap dengan resikonya. Perjalanan menghadiahkan kita luka, cerita, kebahagiaan, tawa, tangis, yang semuanya merupakan cara Tuhan menguji kesyukuran kita.

Tujuan tidak lantas membuat kita harus menghalalkan proses. Sebab dalam penilaian Tuhan, ikhtiar atau usaha kita itu yang utama. Soal hasil, itu terserah padaNya. Sekali lagi, ini pengujian akan keimanan kita, akan ketulusan kita, apakah niat kita memang berdasar padaNya, atau duniawi saja?

Ada kalanya kesabaran menjadi soal. Ingin cepat-cepat sampai di tujuan, ingin cepat-cepat sukses, ingin cepat-cepat tinggi. Kita menjadi lupa bahwa perjalanan adalah tentang menikmati, tentang merasakan, tentang menyelami apa itu kehidupan yang sebenarnya.

Perjalanan seharusnya membuat kita belajar, bagaimana menjawab ujian yang semesta berikan, bagaimana melewati satu per satu tahapan kehidupan yang tak mudah. Semua adalah cara Tuhan menaikkan derajat, menjadikan kita manusia yang jauh lebih baik.

Tentang perjalanan menggapai mimpi, bukan kapan mimpi itu bisa terwujud, namun bagaimana usahamu menjemput mimpi itu. Bukan soal siapa yang lebih dulu sukses, namun tentang jalan mana yang dipilih untuk menuju kesuksesan tersebut, dan harta apa yang bisa kamu kumpulkan selama melewati jalan itu. Nilai-nilai berharga inilah yang jauh lebih penting dari sekedar pencapaian duniawi dengan cara-cara yang tak disukai Tuhan.

Maka nikmatilah perjalanan. Tak perlu buru-buru, sebab ini bukan sebuah perlombaan. Kamu sedang tidak berlomba dengan siapapun. Kamu berlomba dengan dirimu sendiri, jadi baik tidakkah kamu hari ini dibandingkan kamu yang kemarin? Jika terjatuh di tengah perjalanan, tegakkan badanmu, bangunlah. Jika memang lukamu sakit, menangislah. Tak mengapa, kamu manusia. Tuhan pun takkan melarangmu. Dia ciptakan air mata juga punya fungsinya. Jika perjalanan menghadiahkanmu kebahagiaan, tersenyumlah, bersyukurlah.

Nikmatilah perjalananmu. Ambil banyak-banyak pelajaran. Sebab sukses tidaknya kamu, bukan orang lain yang menentukan. Predikat hanyalah pemberian manusia, hanyalah soal keduniawian. Sukses yang sebenarnya adalah tentang kemantapan hati dalam mensyukuri setiap yang Tuhan beri, entah luka, entah bahagia.

Fitriyani Syahrir
Penulis SPASI

Bagaimana Aku Harus Menjelaskan Cinta?

Bagaimana aku harus menjelaskan cinta kepada mereka yang bertanya, jika jawaban yang mereka harapkan adalah kisah tentang dua insan manusia? Romansa telah membutakan mereka dari daya dan upaya untuk mengenal dan mencintai semesta, hingga jawabanku terdengar percuma. Padahal, cinta tak hanya tentang kotak-kotak dua pasang mata manusia.

Bagaimana aku harus menjelaskan cinta kepada mereka yang bertanya, jika jawaban yang mereka terkakan adalah kisah tentang dua hati yang setia? Setia telah menjadi perkara tunggal yang dibicarakan sesiapa saja yang jatuh cinta hingga mereka lupa bahwa tak selamanya cinta berkisah tentang romansa. Jawabanku terdengar percuma. Padahal, cinta tak sesempit makna setia dan romansa.

Bagaimana aku harus menjelaskan cinta kepada mereka yang bertanya, jika jawaban yang mereka mau adalah serba-serbi perihal rindu dan cemburu? Aku muak dengan keduanya, dengan rindu, apalagi cemburu. Bagiku, cinta tak sesempit itu, tidak harus menjadikan pemiliknya lemah hanya karena rindu dan cemburu yang menderu. Sudah kukira, jawabanku terdengar percuma. Padahal, rindu dan cemburu tak perlu dijadikan sebagai masalah hidup nomor satu.

Ah, lama-kelamaan pembahasan tentang cinta jadi tak menarik lagi, karena orang-orang ramai menyandingkannya dengan kesedihan, rindu, cemburu dan perasaan selalu ingin tahu apa-apa yang menjadi kepentingan orang yang dicintainya. Jangan sok tahu! Bukankah jika itu hanya merepotkanmu dan menyakiti hatimu maka itu tak layak disebut cinta?

Dengarkan aku, cinta tak melulu tentang romansa. Tapi, cinta juga adalah tentang kebaikan-kebaikan yang menunggu untuk dijemput dan disebarkan, tentang keinginan menjumpai Rabbmu di sepertiga malam, tentang memprioritaskan keluarga dan orang tua, tentang berkasih sayang dengan sesama, tentang membiarkan dirimu bertumbuh dalam lapangan-lapangan semesta, tentang mendoakan mereka yang berjuang, tentang menyantuni orang lain juga tentang menjaga diri orang lain dan dirimu sendiri dari api neraka.