hapal

Blog Post #2

Hat: Wonton: Soho Wide Brim Hat / Blak

Necklace: * SORGO - CubanLink - GOLD/WOOD

Top: [BUC] “Pizza NEVER Lies’ Tied2Tee

Pants: // SEUL GARCON \ Hedi Bikers - Denim

Bottle: AMITOMO.Summer Tumbler #OVERDOSE GACHA

Bracelet: MINIMAL - Charlotte Bracelet @ TMD

Shoes: Wonton Ren Chelsea Boot / Grey


What She’s wearing

Hair: [Taketomi]_Godou_Black03

Top: GizzA - Ashly Leather Tunic [Camel]

Boots: ::LC:: Queen Gladiator Sandal [Noir] Slink High

Clutch: [7891] One Way Clutch - Gold

Chocker 1: ~Dear Deer~ Chocker / BLACK AND GOLD

Chocker 2: XYZ // Tatto Chocker [black]

Blog Post 5

What She’s Wearing

♦ Hair: Wavey.. (N/A)


♦ Braided Hair: Little Bones. Tonic - Lanslide

♦ Top: ::DirtyMind:: “Baddie” Fishnet Top (yellow) (N/A)


♦ Waist shirt: H.o.V Holland Wrap (Sky Denim): 


♦ Bottoms: .: Ryvolter :. Sloan Leather Jogger Shorts White:

♦ Shoes: ANE Casual Sneakers Black:

♦ Backpack: Mikunch / Girls Basic Back Pack (Green):

♦ Cap: NAMASTE . Agua Cap: Transparent:

anonymous asked:

Asslmkm, kak, menurut kakak kalau menghafal quran tanpa tahu atau hapal artinya gimaana kak? Atau baca Quran tapi jarang baca artinya gimana? Nuwun

Wa’alaykumussalam wr wb, semisal kita dapet surat cinta dari yayang yang ditulis dan dibacakan dalam bahasa inggris tapi kita nggak ngerti, kira-kira rasanya gimana?

Tapi itulah uniknya Al-Qur’an yang diturunkan dalam bahasa arab. Meskipun kita belum tau atau belum paham artinya, namun jika benar-benar dilantunkan, dihafal, didengarkan dengan hati rasanya benar-benar bisa menyentuh, menggetarkan hati dan membasahi pipi.

Kebayang gak gimana jadinya kalau kita tau artinya apalagi paham maknanya? Al-Qur’an itu surat cinta dari Allah. Yakin nggak pengen baca dan paham maksud di tiap petikan kata-katanya?

Berhenti Bilang Anjir, Papa!

Aduh, babak kedua. Menit ke 70, belum gol juga. Penonton riuh-rendah menyanyikan chant kebanggaan klub mereka. Begitu juga aku, yang entah hapal entah tidak, tapi tetap mendukung dengan caraku sendiri. Malam ini, malam final yang mempertemukan dua klub sekota, si biru dan si merah dari Inggris. Siapa lagi kalau bukan Manchester City melawan Manchester United. Klub yang aku dukung? Yang pertama kusebut. Praktis, karena aku suka biru, juga karena aku tak suka merah. 

Sedari tadi striker City, Sergio Aguero, meliuk-liuk mencoba menembus pertahanan United. Gocek sana gocek sini, tapi belum juga mendapatkan hasil. Memang, De Bruyne sebagai gelandang bermain underrated malam ini, jadi suplai bola terasa lemah dan mudah dipatahkan. Skor masih 0-0 untuk malam final Community Shield bersejarah kali ini.

Lalu tiba-tiba… Aguero dijatuhkan di kotak terlarang oleh Daley Blind!

Anjiiiiiiiiirrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr………..!!!!!!!!!

Penalti sit, penalti !!!!!

Aku berteriak sendiri, mengaung di langit-langit kamar. 

Tapi tidak untuk wasit berkepala plontos itu, Howard Webb. Ia melihatnya hanya sebagai jatuh yang tampak dibikin-bikin. Tak kepalang tanggung, seharusnya si Blind itu yang harusnya kartu kuning, malah si Aguero yang diganjar karena dikira diving. 

Aaanjjiiiiiiiirrrrrrr….. wasit bego!!! Aaaaaaaaaaahhhhh!!!!!

Shit happened, tak urung seluruh stadion bergemuruh. Manajer City jingkrak-jingkrak tak terima, apalagi seluruh suporternya. Riuh rendah itupun sampai di sebuah rumah kecil di bilangan Bandung coret, di Republik Indonesia ini. Meskipun ya pertandingan yang entah jauh antah berantah, toh sepakbola sudah milik semua orang. Aku berteriak layaknya suporter City di Stadion. Kecewa, jelas. Tak terima, apalagi. 

Tiba-tiba, ada suara lain yang terasa menghenyakkanku dari belakang,

Papa… berisik!! Mama lagi tidur, tau ngga!!

Aduh aku lupa, di kamar ini tak hanya aku seorang ternyata. Ada istriku, juga si kecil imut Alia. Aku yang nonton di kamar, tak sadar terlalu bereuforia. Maafkan sayang, aku lagi nonton bola dulu, kamu pasti mengerti tontonan lelaki, kan? Oke, aku ngga berisik lagi deh. Tadi itu cuma ledakan sementara kok. Volumenya kukecilkan, tidurlah lagi sayangku. 

Lalu tak lama, Menit 90 peluit berbunyi. Skor 0-1 untuk kekalahan City. 

Aku tidur dengan sejumput rasa kesal.

——–

Pagi hari, aku sudah bersiap ke kantor. Tergesa karena tidur terlalu larut, Pun hasilnya tak menyenangkanku. 

Ma… papa berangkat ya..

Istriku hanya mendeham datar. 

Ngambek?” Tanyaku.

Ngga..

Aduh.. pagi-pagi kok udah ngambek kenapa sih, Ma?

Nggaaa…. udah sana berangkat. Alia udah hampir telat tuh.

Iyaa bentar. Jangan ngambek tapi ah, ntar cantiknya ilang loh,

Istriku mendeham lagi. Tak sedatar tadi, sudah terdengar lebih cadas.

Sedang aku kembali tak mengerti. Entah kenapa, sejak dulu masih gadis sampai sekarang jadi istriku, selalu saja begitu. Aku juga tak selalu bisa paham dengan bahasa tubuh seperti itu, tapi pasti Ia mempunyai maksud dibalik sikapnya. Ah ya, apa mungkin karena bawaan dede di perut ya? Istriku dua bulan silam sudah positif mengandung calon anak kedua kami, sekarang mungkin masa-masa yang membuatnya limbung, jadi mudah capek, lebih cerewet dari yang biasanya. Yang ini, aku sedikit mengerti sebabnya kenapa. Oleh karena itu, tak perlu kulawan balik dengan pertanyaan. 

—–

Euh anjir teh, sing bener euy mawa motor teh!!

Aku berteriak pada pengguna motor yang tiba-tiba meliuk tak sopan, membuat mobilku hampir menyerempet mobil yang ada di depan. Aku kesal setengah mati, jalanan Pasteur begitu macet, Bandung sore hari kadang mengesalkan memang. Aku kadang adat-adatan kalau sudah terlalu lelah seharian bekerja. Sementara di sebelahku, Alia, yang baru masuk kelas playgroup, diam-diam saja tak berani menyela. Tumben dia pulang sore, jadi bisa sekalian kujemput. 

Satu jam kemudian, sampai juga kerumah. Aku sudah lelah sebadan-badan. Tak banyak yang kukatakan, langsung kubawa tubuh ini berdebam sejenak di sofa kesayangan. Mestinya, istriku menyambut dengan senyum tulus penuh kasih sayang, yang kiranya bisa meredakan lelahku seharian setelah mencari sebongkah berlian. Ah… dia masih tampak biasa saja. Sekarang ini lagi jaman orang berdebat tentang flat earth yaitu bumi yang katanya datar, ah terserah bagiku mau bumi itu bulat kek, datar kek, asal… ekspresi istriku jangan datar.

Mama kenapa, masih ngambek?

Ngga kok… Papa masih capek? ayo cepetan mandi,

Iya bentar lagi deh. Makan malem udah jadi?

Udah tuh, udah siap, tinggal makan..

Maghrib dulu dong ya berarti. Ya udah, papa mandi dulu ya, sayang…

Cup! 

Kecupku mendarat di keningnya. Lumayan, bisa membuat istriku merona merah kembali. Tuh kan, senyum setelah ngambek itu memang bikin perempuan lebih cantik. Semoga kesederhanaan seperti inilah yang dikata orang sebagai keluarga yang bahagia. Semoga itu kami, aamiin.

—–

Sepulang maghriban di masjid, aku menyempatkan membaca beberapa ayat suci. Persis setelah mengakhiri, istriku mencolek dari belakang,

Pa..

Iya ma.. yuk, makan, laper nih,

Tar dulu, mama mau bilang sesuatu. Papa masih inget kan janji papa dua minggu yang lalu?

Janji apalagi ini, pikirku. Aku memang sedikit pelupa, jadi kalau aku lupa praktis aku polos mengangkat bahu. Rasanya aku tak berjanji apa-apa.

Lupa? dua minggu yang lalu, yang di mobil sore-sore inget? Papa bilang, janji ngga ngucapin kata anjir lagi …

Aaaah… iya papa inget, ma. Iya itu refleks kan. Abisnya angkot tiba-tiba melipir gitu loh. Hampir aja kita tabrakan…

Tapi refleks gitu ga bagus, papa. Jangan bilang kata ngga guna kaya gitu dong, malu ah.. berhenti dong pa bilang anjirnya, mama ga suka..

Tapi kan…..

Tapi kan…. buatku itu hal yang sebenarnya tidak terlalu aneh. Di Bandung, atau malah di Jawa Barat, penggunaan kata anjir itu refleks yang sudah biasa. Istilahnya, bahasa slang nya sehari-hari. Banyak definisi memang, tergantung konteks penggunaan dan kepada siapa kita mengucapkannya. Mirip-mirip juga seperti temenku orang Surabaya yang bilang cuk, jancuk ke teman-temannya. Refleks sebagai sebuah tanda seru hingga bentuk keakraban, kata anjir memang sudah biasa terdengar, kan?

Tapi untuk istriku, itu lain. Dia memang berasal dari Sukabumi, yang memiliki undak-usuk basa yang berbeda sekali. Mendengar kata yang kusebut tadi, dia rasanya seperti alergi. Menurutnya, itu kasar sekali. Tak pantas untuk disebut, apalagi didengarkan. Prinsip agamanya kuat memang, menilai kata sederhana itu saja baginya seperti mengucapkan kata bernada dosa. Memang sih, aku akui juga itu buruk, tak boleh semestinya diucapkan apalagi di tatar Sunda yang sejak dulu terkenal dengan kehalusan bahasanya. Bagi istriku, seperti tak ada toleransi. Telinganya gampang memerah bila aku berkata kasar tak pantas.

Papa ngajinya bagus, mestinya jangan bilang-bilang kata ngga pantes kaya gitu…

Iya, ma.. maaf,

Bukan maaf yang mama minta pa, tapi kesadaran papa. Malu ama Alia, masa papanya ngomong kaya preman terminal.. kan ngga pantes..

Aku terdiam, mencoba menyimak, mengurai benang merahnya.

Kan kita orang berpendidikan, jangan nyontohin yang ngga baik, kan ada padanan kata lain, istighfar misalnya. Coba papa biasain, kan enak dengernya. Lain kali jangan gitu lagi ya pa.. mama mohon banget..

Iya, ma..

Suasana hening sejenak. Aku memilih menunduk.

Satu lagi, pa..

Wajahku bangkit mendengar permintaannya kali ini.

Papa sekarang udah terlalu sibuk.. jadi jarang ngaji. Ngaji lagi dong pa, suara papa kan bagus. Mama mau dengerin papa ngaji, coba disini di depan perut, biar dede bayi yang di dalem denger pa, mama pengen kaya orang-orang lain gitu, suaminya mengaji di depan istrinya…….

…… minta bacain surat Maryam aja pa, atau surat Yusuf. Ngga tau deh ini laki-laki atau perempuan. Tapi mama minta tolong ama papa, kalau boleh, kepengen banget rasanya..

Matanya berkaca-kaca. Membuatku luluh tak berdaya. Serasa gagal jadi seorang suami baik di matanya. Selama ini aku terlalu sibuk rupa-rupanya, hingga hal esensial dalam keluarga sakinah ini jadi terlupa.

Papa minta maaf ya. Mama jangan nangis dong..

Aku memohon. Segera ia menyeka matanya yang hampir basah tumpah ruah.

Iya ngga kok.. tapi janji ya, jangan bilang kata-kata jelek itu lagi, pa..”

Insya Allah ma, papa bakal berusaha..

Yakin?

Yakin, istriku sayang

Yaudah, coba bilang Astaghfirullah banyak-banyak, pa..

Astaghfirullah…

Nah gitu kan bagus. Udah cakep, berkah lagi..

Iya, mama. Makasih ya..

Iya.. pa. yaudah, yuk makan..


Aku terdiam sejenak, mencoba meresapi betul kata-katanya tadi. Bukan tak mungkin, Allah memberiku peringatan lewat ucapan istriku.

….

Astaghfirullah.  

 Astaghfirullah.  

 Astaghfirullah.

Kini, Aku harus berusaha untuk membiasakan diriku mengucapkan kata-kata baik, refleks apapun yang terjadi harus bisa dibiasakan. Istighfar, istighfar, istighfar, Semoga kata-kata baik dapat membawa sikapku yang lebih baik juga. Tak cuma untuk diriku, tapi juga untuk Istri dan anakku. 

Astaghfirullah. 

Semoga aku selalu diingatkan dari setiap kesalahan…



————–

@miftahulfikri 

Nah, perlu ditekankan di sini, sebagai manusia waras saya gapernah memberi harapan pada siapa-siapa.
Dari awal pun sudah saya jelaskan saya gapernah lagi mau buat komitmen yang gak sah.
Jadi kalau ada yang merasa saya kasih harapan, saya angkat tangan. Situ kepedean.
— 

Berteman, mari. Tapi saling memberi harapan? Enggg….. Gak deh, makasih.

Soalnya saya tuh masih hapal betul gimana rasanya kecewa hehe.

youtube

Di tempat praktik, teteh-teteh apoteker dan tenaga teknis kefarmasian lainnya suka randomly nyetel musik via ytube. Kalo gak lagu barat, lagu indonesia. Terus di suatu malem ketika saya kebagian jaga, tetiba keputer lagu ini. Semua lagu peterpan jaman dulu keputer, tapi saya kebetulan nyimak pas lagu ini karena lagi diem.
Ternyata, liriknya bagus. Sering banget sih jaman dulu dengerin peterpan tapi tuh gak pernah nyimak sampe lirik-liriknya. Maksudnya hapal sih lagu-lagunya, tapi gak pernah sampe sebegitunya………menghayati liriknya. Hahaha.

Peluk tubuhku untuk sejenak dan biarkan kita memudar dengan pasti
Biarkan semua seperti seharusnya; takkan pernah menjadi milikku.

Dalem, ya, btw.

Dan tetep aja ya sesibuk apapun adaaaa aja yang bikin saya sejenak hening. Dasar pecin kripset riki cimahi!