halo 13

Halo Library Edition Volume 2 HC

Duffy Boudreau (W), Sergio Ariño (P), Douglas Franchin (P/I), Ian Richardson (P), Juan Castro (I), Rob Lean (I), Denis Freitas (I), Carlos Eduardo (I), Michael Atiyeh ©, and Isaac Hannaford (Cover)
On sale June 14 • FC, 296 pages • $49.99 • HC, 9” x 12”
One of the most popular video game franchises ever receives another deluxe hardcover! In this volume, follow the UNSC Spartans as they attempt to halt Dr. Catherine Halsey and Jul ‘Mdama’s pursuit of the Janus Key—the fate of the entire galaxy depends on them! This volume collects Halo: Escalation #13–#24 and features a cover gallery, annotations, and behind-the-scenes extras!
The conclusion of Escalation in a deluxe, oversized hardcover!
Features exclusive annotations!
Includes a cover gallery and behind-the-scenes extras!

Pendidikan kita memang kacau, adikku

“Sebuah surat cinta yang sederhana untuk siswa-siswi SMAN 13 Depok”

Halo adik-adik. Apa kabar?

Saya ingin bercerita sedikit tentang pengalaman saya mengajar selama 5 bulan di sekolah kalian.

Saya masing ingat, ketika pertama kali saya mulai menginjakan kaki di SMAN 13 Depok pada akhir juli 2016 dengan santun, lugu, ramah dan senyum-sapa kepada siapapun yang saya temui. Melihat kondisi sekolah yang jauh dari kata layak, jelas saja membuat saya prihatin, dan bertanya; bagaimana mungkin sebuah kota yang dipenuhi dengan Mall dan Apartemen masih ditemui sekolah yang kondisinya memprihatinkan, bahkan mirip kandang ayam?

Barangkali mereka yang ada di lingkaran kekuasaan sana menganggap bahwa membangun Mall dan Apartemen, mengizinkan pendirian properti dan berbagai bisnis di sepanjang jalan Margonda jauh lebih penting dibandingkan membangun sekolah di Pasar Cisalak.

Alangkah indahnya bukan? Hidup di sebuah negeri yang pemerintahnya tak pernah peduli terhadap pendidikan dan nasib anak-anak yang dididik di dalamnya.

Tapi, keresahan saya terhadap kondisi gedung sekolah yang memprihatinkan sedikit demi sedikit hanyut ketika saya bertemu dengan kalian; bercanda, bercengkrama, tersenyum bersama, bahagia sama-sama.

Ketika saya melangkahkan kaki saya ke dalam kelas, saya melihat pandangan kalian yang tajam, gestur tubuh kalian yang menggugah semangat dan wajah kalian yang anggun dan energik. Di waktu itu pula saya berucap kecil di dalam hati;

“Aku tak akan menjadi guru yang dulu tidak aku sukai ketika masih jadi murid di sekolah, tak ingin jadi guru yang menyeramkan dan lebih mirip sipir keamanan ketimbang seorang pendidik. Aku ingin jadi guru seperti apa yang dulu aku inginkan ketika dulu aku masih menjadi seorang murid. Guru yang kedatangannya ditunggu dan dinanti, suaranya dirindukan, sosoknya yang selalu menggugah semangat, jalan hidupnya yang selalu memberikan inspirasi, dan aku ingin jadi guru yang kepergiannya pantas untuk ditangisi banyak orang.”

Pelan-pelan akhirnya kita saling mengenal, saling mengerti satu sama lain. Cuma satu yang ingin saya perjuangkan di sekolah ini; membuat sekolah kalian bukan hanya sekedar menjadi rumah kedua, tetapi menjadi taman, taman dan seperti taman! Saya ingin kalian bahagia ketika datang ke sekolah dan merasa sedih ketika bell pulang sekolah berbunyi. Bisakah kita memulainya adik-adikku?

Semua itu bisa diwujudkan ketika sekolah kita mau belajar, tidak kolot dan berwawasan sempit. Kenapa saya katakan sempit? Karena cara pandang sekolah kita melihat pendidikan sangatlah sempit.

Apakah mungkin tindakan mengeluarkan anak-anak yang bermasalah dari sekolah dapat dikatakan mendidik?

Jika tugas sekolah adalah mendidik, kenapa anak-anak yang dianggap bermasalah justru dikeluarkan bukan malah dididik?

Bisakah sekolah-sekolah di negeri ini menjawabnya?

Detik, menit dan hari-hari pun sudah lalu. Masa dimana hampir satu bulan saya menjadi pendidik di sekolah, saya terus melihat apa yang dulu saya benci, kini dilakukan oleh rekan-rekan saya sesama pendidik.

Rupa-rupanya ajaran generasi lama masih dianut oleh segelintir guru, seperti menggunakan kekerasan verbal untuk menertibkan siswa. Hingga kelas bukan menjadi ruang debat dan bicara pengetahuan, tapi lebih mirip penjara dan guru sebagai sipir keamanan.

Di sekolah, berkali-kali saya lihat siswa yang mondar mandir dengan baju tidak dimasukan diteriaki oleh guru mereka. “Bajunya masukin, mana lokasinya? mana logo sekolahnya? mana dasinya? mana topinya?” Sisa-sisa Orde Baru, dimana deretan pelajar disuruh diam dan patuh. Seakan-akan kepatuhan adalah gambaran pelajar ideal.

Dulu di zaman Orde Baru, pemerintahan Suharto, semua orang disuruh menghafal Pancasila tanpa diajari apa makna Pancasila bagi kehidupan mereka?

Begitupun yang terjadi dengan pelajar pelajar di sekolah, mereka disuruh menggunakan topi yang bertuliskan Tut Wuri Handayani, disuruh menghafal nama bapak Pendidikan tanpa diajari apa makna Tut Wuri Handayani dan pendidikan macam apa yang dicita-citakan bapak pendidikan kita?

Ki Hadjar Dewantara itu punya cita-cita bahwa pendidikan kita harus menyenangkan dan menggembirakan. Siswa harus bahagia ketika sampai di sekolah mereka layaknya sedang bermain di taman, bukan malah ditekan seperti di dalam penjara.

Beberapa kali pula saya melihat para pendidik mendorong kalian untuk bersaing agar menjadi yang terpintar di kelas. Gambaran siswa terbaik di mata beberapa guru adalah mereka yang nilainya bagus, tak peduli anak ini peduli lingkungan dan temannya atau tidak. Karena gambaran siswa yang ideal adalah yang paling individualis.

Tak jarang kalian melihat mereka yang juara di kelas adalah orang-orang yang kurang bergaul. Karena kalian hanya didorong untuk bersaing, saling menerkam layaknya kumpulan srigala, tanpa diajari bahwa hakikat menjadi manusia adalah menyayangi dan mencintai sesama makhluk. Sudahkah kalian mencintai teman sebangku kalian, teman sekelas, teman satu sekolah?

Karena bagi saya, kalian pantas dibilang spesial dan favorit ketika kalian saling mencintai dan mengasihi, kalian harus, harus dan harus menyayangi mereka yang lemah!

Bukankah sejak kecil kita selalu diajarkan untuk menggunakan sebelah tangan kita untuk mengobati tangan lain yang terluka?

Bagaimana mungkin sebuah negeri bisa dibangun dengan logika kompetitif, sedangkan untuk membangun masa depan, negeri ini membutuhkan manusia-manusia yang mampu bekerjasama agar kita bisa mengeluarkan bangsa ini dari keterpurukan.

Belum lagi tentang pungutan uang gedung, uang seragam, uang remedial, sampai fotocopyan yang dibebankan kepada siswa tak sesuai dengan harga asli. Saya sering coba membicarakan masalah ini ke pihak berwenang tapi jawabannya jelas sangat tidak memuaskan.

“Sudah, biarkan saja pak Andika, itu kan sistem yang guru itu bangun. Kita tak bisa intervensi”

“Kita tak akan bisa berbuat apa-apa pak Andika, susah. Kita bukan siapa-siapa”

Geram mendengar jawaban tersebut, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengkritik guru bersangkutan. Kekecewaan saya memuncak di momen ini karena saya tak melihat lagi keberanian dan nyali para pendidik ketika melihat sesuatu yang tidak beres.

Ketika ada murid yang bajunya keluar, rambutnya gondrong dan tak mengerjakan PR pasti kena hukum, sedangkan ada guru yang melanggar hukum dan aturan, berani kah para guru menghukumnya? Atau membiarkan murid-murid untuk menegur?

Bagaimana mungkin negeri ini bisa terbebas dari korupsi jika murid-murid yang resah terhadap pungli sekolah malah disuruh diam dan tutup mulut?

Apakah ajaran di instansi pendidikan hanya melulu soal seragam, dasi ataupun penampilan, sedangkan para pendidik tak sama sekali melatih murid-murid mereka agar memiliki keberanian?

Tentu keberanian itu bukan hanya jadi sekedar omongan yang kosong.

Adik-adik, dulu ketika saya masih SMA, saya sering membaca buku tentang tokoh-tokoh dunia. Dari buku-buku itulah saya mengenal tokoh sekaliber Voltaire, Gandhi, Sukarno, Tan Malaka, Socrates, Fidel Castro sampai Abraham Lincoln. Dari sana pula kekaguman saya muncul ketika membaca kisah hidup Ahmadinejad, Presiden Iran yang rela hidup menderita karena ia menyumbangkan seluruh gajinya untuk orang-orang miskin. Karena baginya menjadi pemimpin artinya menjadi pelayan rakyat, bukan malah jadi perampok.

Dari merekalah saya belajar melatih nyali dan keberanian agar tidak takut melawan kezaliman. Terinspirasi dari kisah Presiden Iran itu, maka secara sadar saya akan menyumbangkan seluruh “uang buku” yang saya terima kemarin untuk mereka yang membutuhkan.

Beberapa waktu lalu, guru-guru di sekolah dapat uang dari hasil penjualan buku ke murid dan hingga detik ini saya meyakini kalau uang yang saya pegang ini bukanlah hak saya.

Secara resmi sumbangan ini akan saya berikan ke Kelompok Studi Merdeka, komunitas yang saya bentuk di SMAN 13 Depok yang beranggotakan murid-murid saya untuk di kelola menjadi Uang Milik Bersama. Kelak, jika ada di antara kalian, siswa-siswi SMAN 13 Depok yang tak bisa beli seragam ataupun buku, semoga uang yang dikelola KSM itu dapat membantu kalian.

Saya tak ingin ada anak yang tak bisa sekolah ataupun malu datang ke sekolah hanya karena tak bisa membeli seragam.

Hanya inilah yang bisa saya tuliskan untuk kalian. Adik-adik, generasi kitalah yang kelak akan mengeluarkan bangsa ini dari lubang keterpurukan, kitalah yang akan membangunkan bangsa kita yang selama ini berjalan dalam keadaan tertidur. Semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali untuk memperjuangkan perjuangan yang sama. Sampai berjumpa di sekolah! sampai berjumpa di tulisan-tulisan berikutnya ya!


Dari guru mu,
Andika Ramadhan Febriansah
Presiden Republik Indonesia 2035
(Aminin dek) wkwk

The Huntress - 13

Chapter 13

x

“With leather worn and sword unsheathed stands the fallen child of the angels; the huntress of the deep.” - willowing-love

Pairing: Castiel x Nephilim!Reader

Warning: This will be another one of my adventure fics. This series will contain FLUFF, ANGST and SMUT (at some point. I am not a smut writer, but this fic calls for it). All nsfw chapters will be tagged. It will also contain strong language, physical violence, blood, gore, violent visions, and pain. If any of this would be triggering for you, then you can check out my masterlist for some slightly less angsty oneshots and drabbles instead.

Word Count: 5,951

WARNING: Physical pain, blood and gore

@perseusandmedusa whispered ‘Castiel x Nephilim!Reader’ in my ear and THIS happened. Enochian translations at the end.

THE MELODY OF INSPIRATION: https://www.youtube.com/watch?v=m2lf_vyK8fw  

(Just in case the links start working…)

Prologue  Chapter 1  Chapter 2   Chapter 3  

Chapter 4  Chapter 5   Chapter 6  Chapter 7  

Chapter 8  Chapter 9  Chapter 10  

Chapter 11  Chapter 12  Chapter 13

……….

You turned around to see an angel with sandy blonde hair, wearing a gray suit and grimacing at the sight of you. Castiel kept his grip tight on your shoulder and pulled you back to move in front of you, shifting to stand in between you and the other angel as he released your shoulder.

“Castiel, I should have known that you would be the one to try to protect something so tainted.” he spat.

Keep reading

YEE-FRICKIN-HAW– Also RvB spoilers?

This only took me two and a half weeks of painting. Ugh! But it’s done. The next time someone asks for a Halo character I’m charging 50$ minimum. What a pain! (Especially this one because i couldn’t find any thorough reference pics grrrrrrr–)

I also got into Red vs Blue because of this commission. I don’t regret it much! It’s pretty dumb humor but it gets super badass–and still pretty dumb– in the later seasons and I gotta say I’m a fan! Mostly of Caboose, but yanno.

So yeah here’s Kimball paying her respects. 

anonymous asked:

Does Elena have a canon/fanon birthday? Like a day where we can all simultaneously bask in her greatness?

every day is Elena day my dude

But to answer your question seriously, I think a few people have already headcanoned her birthday and year because of her sign (I think the running hc is she’s an Aries? I know dick all about astrology tho so I have no idea what that means), so I don’t specifically have a birthday headcanon or know of a popular one besides the march-april period