hadits qudsi

Sesulit apapun yang dirasakan dalam belajar maka katakanlah : "mudah"

Hanafi Abu Abdillah Ahmad

Sesulit apapun yang dirasakan dalam belajar maka katakanlah : “mudah”,.. karena Allah akan memudahkanmu,

dan jangan sekali-kali mengatakan : “susah”,.. meskipun terasa sangat berat sekali.. Karena Allah akan menyusahkanmu dan akan memberi banyak hambatan kepadamu..

Kesulitan apa saja yang ditemui maka berusaha saja, cari tahu saja, jangan patah semangat,.

dan tatkala dihina, dibully, atau diledekin karena banyak berbuat hal yang dianggap lucu oleh yang lebih tahu dalam pelajaran itu maka abaikan, hingga benar-benar dapat menemukan apa yang dicari, selain itu iringi terus usaha dengan do'a.

Karena Allah berfirman dalam hadits Qudsi : “Anaa ‘inda zhanni 'abdiy biy”.

Artinya : “Aku tergantung prasangka hambaku terhadap diri-Ku”.

Dan bila saya flashback kepada masa lalu saya tatkala belajar bahasa arab dari nol, maka ucapan dalam hadits ini benar-benar saya rasakan sekarang kebenarannya, alasannya ?

Dahulu tatkala kami memulai pelajaran bahasa 'Arab, dan kelas itu penuh dan semua teman-teman sangat antusias sekali, begitu pelajaran dimulai sangat berasa sekali tantangan dalam belajar, tidak seperti keadaan sebelum belajar, kami yang semua belajar benar-benar dari nol (buta sama sekali).

Sebagian teman-teman bilang “bahasa 'Arab itu ternyata susah ya”,

dan saya mengatakan “bahasa arab itu mudah”

walau saya juga sama seperti mereka, dan benar-benar masih buta dan tak dapat memahami sama sekali diawal-awal belajar, sehingga seiring berjalannya waktu, kelas makin berkurang hingga mengosong, hingga tersisa dua atau tiga orang saja yang bertahan sampai menyelesaikan dars,

terkadang dalam kesempatan yang lain tinggal hanya saya dan guru bahasa arabnya saja yang datang, dan selebihnya entah menguap kemana,

selain itu saya juga bayar uang dan harus mengurangi jatah makan dan jajan sehari-hari saya untuk biaya operasional ustaadz, meski posisi hidup dirantauan yang harus bertahan hidup jauh dari orang tua,

dan benar saja, karena tidak ada kesungguhan dalam belajar, maka tidak sedikit diantara teman-teman yang lebih dulu mengenal manhaj salaf dari saya hingga saat ini masih banyak belum bisa memahami bahasa 'arab.

Karena itu belajar itu kalau ingin bisa :

1. Kemauan yang keras.

2. Sungguh-sungguh

3. Jangan berputus asa

4. Jangan takut rugi

5. Jangan malas

6. Butuh waktu yang lama

7. Jangan patah semangat tatkala jadi bahan tertawaan karena sering menjawab yang salah dikelas

8. Jangan berburuk sangka pada Allah

9. Banyak berdo'a

10. Bersabar.

~ Semoga menginspirasi kebaikan ~

ALLAH MENJAWAB AL-FATIHAH KITA

Banyak sekali orang yang tegesa-gesa ketika membaca Al-Fatihah disaat shalat.. tanpa spasi, dan seakan-akan ingin cepat menyelesaikan shalatnya.

Padahal di saat kita selesai membaca satu ayat dari surah Al-Fatihah, ALLAH menjawab setiap ucapan kita.

Dalam Sebuah Hadits Qudsi Allah SWT ber-Firman:

“Aku membagi al-Fatihah menjadi dua bagian, untuk Aku dan untuk Hamba-Ku.”

■ Artinya, tiga ayat di atas Iyyaka Na'budu Wa iyyaka nasta'in adalah Hak Allah, dan tiga ayat kebawahnya adalah urusan Hamba-Nya.

■ Ketika Kita mengucapkan “AlhamdulillahiRabbil ‘alamin”.

Allah menjawab: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.”

■ Ketika kita mengucapkan “Ar-Rahmanir-Rahim”.

Allah menjawab: “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.”

■ Ketika kita mengucapkan “Maliki yaumiddin”.

Allah menjawab: “Hamba-Ku memuja-Ku.”

■ Ketika kita mengucapkan “Iyyaka na’ budu wa iyyaka nasta’in”.

Allah menjawab: “Inilah perjanjian antara Aku dan Hamba-Ku.”

■ Ketika kita mengucapkan “Ihdinash shiratal mustaqiim, Shiratalladzinaan’amta alaihim ghairil maghdhubi alaihim waladdhooliin.”

Allah menjawab: “Inilah perjanjian antara Aku dan hamba-Ku. Akan Ku penuhi yang ia minta.” (HR. Muslim dan At-Tirmidzi)

■ Berhentilah sejenak setelah membaca setiap satu ayat.

Rasakanlah jawaban indah dari Allah karena Allah sedang menjawab ucapan kita.

■ Selanjutnya kita ucapkan “Aamiin” dengan ucapan yang lembut, sebab Malaikat pun sedang mengucapkan hal yang sama dengan kita.

■ Barangsiapa yang ucapan “Aamiin-nya” bersamaan dengan para Malaikat, maka Allah akan memberikan Ampunan kepada-Nya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud)

Sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam; “Siapa yang menyampaikan satu ilmu dan orang membaca mengamalkannya maka dia akan beroleh pahala walaupun sudah tiada.” (HR. Muslim).

Seorang yang Berkah 

Seorang yang berkah itu, seorang yang tumbuh, berkembang, meluas manfaatnya, maslahatnya, bagi dirinya, keluarganya, sesamanya 

Dia lebih terkenal memang di langit daripada di bumi, itu orang-orang berkah 

Dengan munajat malamnya, dia selesaikan semua masalahnya 

Teradu hanya kepada Allah, sehingga pada siang hari, yang didapati manusia darinya hanya senyum yang sangat indah, 

Dengan puasanya, dia redam segala hawa nafsunya 


Sehingga yang didapati manusia darinya hanyalah akhlaq 

Seorang yang aman, tidak berbahaya dekat dengan dia, tidak merugikan sedikitpun dia itu 

Tidak menyakiti baik dengan lisan ataupun perbuatan 

Ramah, nyaman kalau berada dia ada, didekatnya 

Kita mendapatkan kalimat. Ya fal yaqul khairan au li yashmut 

Perkataan yang baik atau kalau tidak diam 


Hatta menatap wajahnya 

Kita sudah menemukan teladan keshalihan 

Hatta melihat dia bergerak, kita mendapatkan inspirasi amal shalih 

Karena seluruh dirinya, terbimbing oleh Allah subhanahu wa ta’ala 

Seperti yang disebutkan oleh Rasulullah, ketika seorang hamba mendekat.. mendekat.. mendekat kepada Allah 


Allah paling suka didekati dengan apa yang Dia fardhukan 

Allah terus membuka kesempatan kalau setiap hamba yang dekat kepada Allah dengan yang fardhu.. yang fardhu.. yang fardhu 

Kemudian akan kemudian menambah dengan yang nafilah.. nafilah.. nafilah Yang Sunnah.. yang Sunnah.. yang Sunnah 

Sampai Allah mencintainya 


Kalau Allah sudah mencintainya, dalam hadits Qudsi itu. 

Kalau Aku sudah mencintainya, maka Aku menjadi 

Mata yang dia gunakan untuk melihat 

Telinga yang dia gunakan untuk mendengar 

Lisan yang dia gunakan untuk bicara 

Tangan yang dia gunakan untuk bertindak 

Kaki yang dia gunakan untuk melangkah 

Seluruh hamba yang berkah ini Hidup bergerak dalam iradah, syar’iyahnya Allah subhanahu wa ta’ala 


Kemanapun dia pergi, tertebar cahaya Allah 

Kemanapun dia pergi, dia menjadi alat bagi rahmatNya Allah subhanahu wa ta’ala 

Sebab dia, begitu dekat kepada Allah 

Kian dekat dan kian dekat 


An nama’ waz ziyadah 

Tumbuh, berkembang.


 - Ust. Salim A. Fillah

Seorang yang berkah itu; seorang yang tumbuh, berkembang, meluas… manfaatnya, maslahatnya; bagi dirinya, keluarganya, sesamanya.
Ia lebih terkenal di langit daripada di bumi
Itulah orang orang berkah

Dengan munajat malamnya, dia selesaikan semua masalahnya, teraduannya hanya kepada Allah
Sehingga pada siang hari, yang didapati manusia darinya, hanya senyum yang sangat indah

Dengan puasanya, dia rendam segala hawa nafsunya
Sehingga yang didapati manusia darinya, hanyalah akhlak; seorang yang aman, tidak berbahaya dekat dengannya, tidak merugikan sedikitpun, tidak menyakiti baik dengan lisan ataupun perbuatan

Ramah, nyaman kalau berada di dekatnya.
Di dekatnya, kita mendapatkan kalimat dan perkataan yang baik
Hatta menatap wajahnya, kita sudah menemukan teladan kesalehan
Hatta melihatnya bergerak, kita mendapatkan inspirasi amal saleh

Karena seluruh dirinya terbimbing oleh Allah SWT, seperti yang disebutkan oleh Rasulullah, “Ketika seorang hamba mendekat, mendekat, mendekat kepada Allah”, dan Allah paling suka didekati dengan apa yang dia fardhukan. Allah terus membuka kesempatan, karena setiap hamba yang dekat kepada Allah dengan yang fardhu, yang fardhu, yang fardhu, kemudian yang nafilah, nafilah, nafilah, kemudian yang sunnah, sunnah, sunnah, sampai Allah mencintainya. Dan jika Allah mencintainya, dalam hadits qudsi itu, “Maka Aku menjadi mata yang digunakan untuk melihat, telinga yang digunakan untuk mendengar, lisan yang dia gunakan untuk bicara, tangan yang dia gunakan untuk bertindak, kaki yang dia gunakan untuk melangkah”

Seluruh hamba yang berkah ini, hidup dan bergerak dalam iradah syariyahnya Allah SWT

Kemana pun dia pergi, tertebar cahaya Allah
Kemana pun dia pergi, dia menjadi alat bagi rahmatnya Allah SWT
Sebab dia begitu dekat kepada Allah, kian dekat, kian dekat

Salim A. Fillah

Tadabbur: Jangan Sombong!

Sesungguhnya dosa pertama yang diperbuat oleh makhluk Allah, adalah kesombongan. Yaitu, ketika iblis menolak perintah Allah untuk bersujud pada Adam, seraya berkata,

“Aku lebih baik dari dia. Kauciptakan aku dari api, sedangkan Kauciptakan dia (Adam) dari tanah.”

Al A'raf: 12

Maka apa yang terjadi pada iblis setelah itu?

Bukan hanya diusir dari kenikmatan surga, dia pun dikutuk menjadi penghuni abadi neraka. Tidakkah kita perhatikan, bahwa kalimat penolakan yang simpel dari iblis membuatnya terlaknat!

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan kita agar tak terjatuh dalam dosa berbahaya ini melalui sabdanya,

“Tidak masuk surga, mereka yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji dzarrah.

HR. Muslim, dari Abdullah ibn Mas'ud radhiyallah ‘anh

Jika kesombongan sebiji dzarrah saja menjadi penghalang kita masuk surga, lantas bagaimana ketika kesombongan itu benar-benar sudah mendarah daging, layaknya Fir'aun, yang dengan pongahnya berkata, “Akulah Tuhan tertinggi”?

Terkisah pula saat sang ahli hikmah yang namanya diabadikan dalam kalam-Nya, Luqman, memberi nasehat pada anaknya, di antaranya melarang anaknya untuk bersikap sombong,

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Luqman: 18

Jika seorang budak tak mampu menyombongkan diri di atas majikannya, lantas bagaimana seharusnya seorang hamba pada Tuhan yang telah menciptakannya, dan memberinya berbagai jenis rezeki? Tentu lebih tak pantas baginya untuk sombong, baik kepada sesamanya, pun (apalagi) kepada Tuhannya. Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi,

“Kesombongan itu adalah selendang-Ku, dan keagungan adalah pakaian-Ku. Maka barangsiapa yang (berusaha) melepaskan salah satunya dari-Ku, maka akan Ku adzab ia.

HR. Abu Dawud, dari Abu Hurairah RA.

Janganlah Mencela Hujan

Sungguh sangat disayangkan sekali, setiap orang sudah mengetahui bahwa hujan merupakan nikmat dari Allah Ta’ala. Namun, ketika hujan dirasa mengganggu aktivitasnya, timbullah kata-kata celaan, “Aduh!! hujan lagi, hujan lagi”.

Perlu diketahui bahwa setiap yang seseorang ucapkan, baik yang bernilai dosa atau tidak bernilai dosa dan pahala, semua akan masuk dalam catatan malaikat.

Allah Ta’ala berfirman,

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50] : 18)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً ، يَرْفَعُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لاَ يُلْقِى لَهَا بَالاً يَهْوِى بِهَا فِى جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.” (HR. Bukhari no. 6478)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menasehatkan kita agar jangan selalu menjadikan makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa sebagai kambing hitam jika kita mendapatkan sesuatu yang tidak kita sukai. Seperti beliau melarang kita mencela waktu dan angin karena kedua makhluk tersebut tidak dapat berbuat apa-apa.
Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يُؤْذِينِى ابْنُ آدَمَ ، يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ ، بِيَدِى الأَمْرُ ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.” (HR. Bukhari no. 4826 dan Muslim no. 2246, dari Abu Hurairah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لاَ تَسُبُّوا الرِّيحَ

”Janganlah kamu mencaci maki angin.” (HR. Tirmidzi no. 2252, dari Abu Ka’ab. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari dalil di atas terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu) dan angin adalah sesuatu yang terlarang. Begitu pula halnya dengan mencaci maki makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa, seperti mencaci maki angin dan hujan adalah terlarang.

Larangan ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam) jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari kejelekan yang terjadi. Meyakini demikian berarti meyakini bahwa makhluk tersebut yang menjadikan baik dan buruk. Ini sama saja dengan menyatakan ada pencipta selain Allah. Namun, jika diyakini yang menakdirkan adalah Allah sedangkan makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya sebagai sebab saja, maka seperti ini hukumnya haram, tidak sampai derajat syirik. Dan apabila yang dimaksudkan cuma sekedar pemberitaan, -seperti mengatakan, “Hari ini hujan deras, sehingga kita tidak bisa berangkat ke masjid untuk shalat”, tanpa ada tujuan mencela sama sekali maka seperti ini tidaklah mengapa.

Intinya, mencela hujan tidak terlepas dari hal yang terlarang karena itu sama saja orang yang mencela hujan mencela Pencipta hujan yaitu Allah Ta’ala. Ini juga menunjukkan ketidaksabaran pada diri orang yang mencela. Sudah seharusnya lisan ini selalu dijaga.

Source: rumaysho.com

Nikmati saja hujannya setelah mengucap “Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah jadikanlah hujan ini sebagi hujan yang bermanfaat]

Doaku Harapanku

“Tuhan, betapa aku malu atas semua yang Kau beri. Padahal diriku terlalu sering membuat-Mu kecewa. Entah mungkin karena ku terlena, sementara Engkau beri aku kesempatan berulang kali agar aku kembali.”
.
Setelah kesalahan demi kesalahan kuulangi, lagi dan lagi Kau memberi kesempatan untuk ku kembali. Setelah dosa hari ini kukhatamkan, Engkau masih memanggilku dengan seruan adzan. Lima kali dalam sehari. Telingaku masih jelas mendengar, bahwa ada panggilan kemenangan untuk segenap insan yang berlumur dosa untuk Kau ampuni. Tapi kaki ini begitu angkuh untuk melangkah ke rumah-Mu, padahal aku begitu butuh ampunan-Mu. Ya Allah apa yang terjadi pada diriku, hingga sulit sekali hati ini tersentuh?

Ya Allah buat diri ini mencintai-Mu: cinta yang membuat aku takut, cinta yang membuat aku taat, dan cinta yang membuat aku bersemangat melakukan kebaikan dan perbaikan.

Tapi ya Allah, cinta pada-Mu belum mampu untuk kueja. Aku tak tahu memulai cinta ini dari mana? Mataku belum mampu mencintai-Mu ketika melihat kerlip bintang, terang rembulan, serta terbit matahari. Telingaku belum mampu jatuh cinta ketika mendengar suara-suara ciptaan-Mu, suara gemuruh hujan, serta kumandang adzan. Berbeda jika kepada manusia, aku dapat dengan mudah mencintainya meski hanya dengan pandangan pertama.

Ya Allah sungguh aku ingin mencintai-Mu! Dengan tulus, dengan murni. Dalam doa, dalam ucapan, dan dalam setiap langkahku.

Aku ingin mencintai-Mu… 😭
.
Muhasabah Hadits Qudsi.
“Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Kemudian hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Aku jadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatan yang ia gunakan untuk melihat. Aku menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan Aku menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta pada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan pada-Ku, Aku pasti melindunginya” (HR Bukhari)

Sumber dari Ukhti Solehah, calon penghuni surga : @duniajibab  😊

“Sering-seringlah meminta keridhaan Allah, sering-seringlah meminta cinta Allah, seringlah meminta pengampunan Allah, seringlah meminta kerinduan Allah.

Kerana apa?

Kerana siang dan malam kita selalu meminta hajat ini dan itu.

Jangan-jangan Allah cemburu.."Bila hamba-KU meminta kasih sayang-Ku? Bila hamba-Ku meminta kedekatan dengan-Ku, Bila hamba-Ku meminta cinta-Ku, Bila hamba-Ku ingin dicintai oleh-Ku?

Tidakkah kita pernah terlintas untuk memintanya?! Jangan berfikiran kalau seorang pendosa seperti aku, mustahil aku berani meminta cinta Allah Swt.

Ingat bahwa Allah Swt telah berfirman dalam hadits qudsi: ” Bila dia (seorang hamba) mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat"

Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Telah Kupersiapkan untuk hambaKu yang shalih, apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, tidak pula pernah terbayangkan oleh hati seorang manusia”. Bagaimana kiranya hatimu setelah mendengar janji ini?
—  @7usaini - Dr. Hasan al Husaini seraong Da'i dari Bahrain, anggota majelis ulama negara-teluk teluk • 22/7/2014