habi

iya, kamu

Teruntuk Samudera,

Biar aku memanggilmu demikian. Ya, pada akhirnya aku tahu siapa namamu. Pada akhirnya aku kenal siapa orang yang bisa membuatku candu dengan setiap aksaranya. Dan bodohnya aku sudah bertemu denganmu sesaat setelah segala rasa ingin tahuku begitu meluap-luap tapi aku masih terus saja mencari.

Terlalu berekspektasi nyatanya membuatku semakin penasaran saja bertemu denganmu. Masih tak habis pikir saja jika melihat kamu dan membandingkannya dengan seluruh tulisanmu. Kamu tak sesederhana pendapat orang-orang yang mengenalmu. Tapi tak serumit hasil tulisanmu. Kamu berbeda, itu yang aku tahu. Dan maaf, aku jauh lebih tertarik pada sosokmu di tulisan. Bukan pada penampilanmu yang tampak dari balik retina.

Jika kamu bertanya mengapa bisa aku tahu tentangmu. Begini, kuceritakan singkat saja ya. Selang beberapa detik setelah kamu beranjak hendak memesan minuman. Mataku tak sengaja tertumpu pada tulisan di halaman depan buku agendamu. Di sana tertulis FS, lengkap dengan link blog pribadimu. Bila mereka sebut aku beruntung karena tak sengaja melihat agendamu. Mereka salah, justru aku merasa bersalah. Sebab aku tahu, agendamu itu terlalu privacy, buktinya ada kepanikan yang tercipta di sorot matamumu begitu kamu kembali dan mendapati halaman depan agendamu tak sengaja masih terbuka. Bukan hanya kamu yang pandai menangkap adegan dengan ekor matamu, aku pun sama halnya.

Tenang, aku pandai menyembunyikan perasaan dan apa-apa yang sudah aku tahu tapi tak seharusnya aku tahu atau bahkan orang lain tahu. Jadi wajar jika aku berpura-pura tak peduli dengan kembalinya kamu setelah memesan minuman.

“Oceana, sudah dapat bocoran perihal siapa yang memenangkan tender kemarin?”

“Not yet. Aku juga tak ambil pusing akan hal itu. Memangnya kenapa? But anyway, kamu bisa memanggilku Adel jika terlalu ribet menyebut namaku Oceana”

“No, it’s not a big problem. Arti namaku hampir sama kok sama kamu. Anggap saja aku sedang memanggil namaku versi wanitanya. Haha”

“Oh ya? Bukankah namamu Daffandra Fasya? Dimana letak kesamaannya?”

“Iya, tapi belum cukup lengkap. Namaku Daffandra Fasya Samudera”

“Oh I see, Oceana and Samudera, right?”

“Yap, exactly”

Sebut aku ratu drama bila terlalu mahir memainkan peran. Aku sudah lebih dulu tahu nama lengkapmu melalui buku agendamu tadi sebetulnya. Tapi biarlah, anggap aku tak tahu apa yang sudah ku tahu. Bila begini, tak perlu ada kecanggungan yang tercipta bukan? Ohya satu lagi, nampaknya aku akan mengurangi kunjunganku ke cafe itu. Aku hanya ingin menghindar darimu. Nyatanya, mengagumi seseorang dari balik tulisan jauh lebih menyenangkan daripada aku harus bertemu langsung dengan penulisnya. But well yeah, nice to know you, Samudera.

ps : lain kali surat-suratku tak akan banyak kutujukan padamu. Anggap saja jika ada yang kutujukan padamu itu hanya caraku dalam berbagi cerita denganmu.

Tertanda,
Oceana Madelyn

Hijrah

dari Alabasta sampai ke Skypiea
ujarnya bangga saat cerita
daku hormat sambil nganga

tapi tunggu!
bukankah tak selalu jauh?

“jangan tantang Tuhan dengan tengadah saat berdoa.”
omel Nyai habis ibadah
daku turut; hendak berubah

Bengkulu, 2016
#pengungsisepi 

@edoyaa

Only One Second For God

Di Kantor, Sebelum Jumatan

Saya baru saja selesai membasuh beberapa anggota badan untuk Jum’atan ketika seorang rekan datang. Wajahnya tampak lesu. Setahu saya, ayahnya sedang sakit memang. Saya tidak menyadari bahwa ada kemalangan lain yang menimpanya, makanya saya mencoba membercandainya.

“Woi, Asep! Lemes amat kayak belom sarapan dan ditolak perempuan, hehehe.”

“Iya nih Bang Aji, saya lagi pusing dari kemarin.”

“Bapak masih sakit?”

“Iya, tapi ada lagi yang saya pikirin dan terus kepikiran dari kemarin.”

“Waduh, apa lagi Sep? Kalo mau cerita?”

Kemudian mengalirlah cerita kalau telepon genggam pintarnya baru saja kecopetan.

“Mana punya kantor lagi. Duh, lemes saya tidak habis pikir, padahal sampai saya mau turun dari bis, itu handphone masih ada terus saya juga sudah curiga dan sudah punya feeling dari awal.”

“Coba-coba cerita lagi pelan-pelan.”

“Jadi gini Bang Aji, dari awal saya udah curiga ‘kan ada orang dekat saya ngeliatin saya terus sambil makan gorengan. Saya sholawat terus, taawudz, baca Bismillahilladzi laa yadhurru dan seterusnya itu ‘kan. Sampe di tol Bekasi Timur, orang yang ngeliatin saya makan gorengan itu akhirnya turun duluan. Saya lega dan istighfar juga udah suudzon sama orang. Nah tapi, pas orang itu turun, ada orang lain yang naek, kemungkinan temennya. Tapi, saya waktu itu gak curiga udah lepas kan kewaspadaan saya. Orang yang baru naek ini anehnya dia berdiri di depan pintu terus, sekali lagi, waktu itu saya belum kepikiran kalo dia ternyata copetnya. Akhirnya udah sampe terminal Pulo Gadung, saya berdiri kan mau turun, saya periksa celana dan baju, masih ada tuh HP, terus pas mau nyampe pintu bus, orang yang dari tadi di pintu itu kayaknya mau turun, saya persilakan duluan eh dia gak turun-turun, kenek udah nyuruh saya cepet turun biar yang laen juga bisa saya jalan. Ya udah saya turun deh. Beberapa langkah saya jalan, saya raba lagi kantong baju dan kantong celana. DEG! Kok HP di kantong celana gak ada!! WADUH!!! Saya kecopetan ini!!!! Saya liat ke belakang, busnya udah jalan. YAAAH. Lemes saya langsung Bang Aji :(”

“Masya Allah, cuman dalam waktu beberapa detik yah…”

“Iya, Bang Aji :((”

Begitu luar biasa memang skenario Tuhan hanya dalam beberapa detik sesuatu yang masih dalam genggaman bisa hilang begitu saja.

Maka saya tetiba teringat kata-kata yang ditulis Stephen Covey:

“Bila Anda ingin tahu apa artinya waktu 1 tahun, tanyakan pada siswa yang tidak naik kelas.

Kemudian, bila Anda ingin tahu makna 1 bulan, tanyalah kepada ibu yang melahirkan prematur.
Lalu, bila Anda mau tahu makna 1 minggu, tanyalah seorang editor majalah mingguan.

Berlanjut, jika Anda ingin mengetahui makna 1 hari, tanyalah seorang yang bekerja dengan gaji harian.
Teruslah merenung, jika Anda ingin memahami makna 1 jam, tanyalah seorang gadis yang sedang menunggu kekasihnya.

Lanjutkan perenungan, jika Anda mau tahu makna 1 menit, tanyalah seorang yang ketinggalan kereta.
Ada lagi, kalau Anda mau tahu apa artinya 1 detik, tanyakanlah pada orang yang baru selamat dari kecelakaan.
Lanjut lagi, bila Anda ingin tahu apa artinya waktu 1 milidetik, tanyakan pada atlet lari sprinter 100 meter.

Terakhir, jika Anda ingin tahu tentang makna waktu dan hidup, tanyakan pada orang yang akan dihukum mati esok hari.” 

Saya kemudian merenung lagi, 3 jam sebelum Jum’atan, seorang teman lain baru saja mendapatkan kejutan tidak terduga.

Di Rumah Bos, Seusai Rapat Pekanan dan Makan

“Si Omesh mana ya?” Tanya Pak Deri, atasan kami.

“Biasa Pak, benerin pintu! Hehehe!!” Jawab kami ramai-ramai.

“Oh ya udah, kalau sampai jam 9 dia gak dateng berarti belum rezeki dia dan rezeki yang lain.”

Kami kemudian rapat satu divisi sejenak dua jenak, diteruskan dengan rapat pleno. Kemudian, setelah seusai rapat pleno, atasan kami membuat sebuah pengumuman:

“Bulan depan saya akan ke Eropa dan saya mengajak Mas Uli yang mendampingi saya.”

“Weee, selamat Mas Uli.” Ucap yang lain, Mas Uli hanya senyum dan terkekeh-kekeh, khasnya dia.

Saya kemudian tersadar seharusnya yang mendapatkan kesempatan pergi ke Eropa itu adalah Bang Omesh tetapi karena dia tidak datang akhirnya pilihan jatuh ke Mas Uli.

Saya merenungi dua peristiwa ini dan teringat kata-kata Umar Bin Khattab RA:

If something is meant to go elsewhere, it will never come your way, but if it is yours by destiny, from you it cannot flee” – Umar bin al Khattab.

Penutup: Kita tidak pernah tahu takdir mana yang akan diberikan Tuhan tugas kita hanya berjalan.

Semoga bermanfaat minimal tidak merugikan.

Depok

Postcript: semoga bisa rutin nulis lagi mulai sekarang

No Title

Hai, hari sudah beranjak pagi. Beberapa hari ini, banyak sekali pelajaran yang menampar keras hidupku. Sungguh. Jika kau tau makna kata “insecure” aku sedang mengalaminya. Soal apa? Banyak hal. Aku akan memberikan detail perjalanan hidupku ketika aku mantap dengan perasaanku untukmu.

Tidak mudah, bagi seorang perempuan untuk bisa tetap gagah, ketika lingkungan terdekatnya goyah. Perasaannya berantakan, jadwal tidurnya kacau, logikanya porak poranda bak habis diterjang badai. Apa yang akan kamu lakukan ketika tidak ada seorang pun yang kau rasa bisa dipercaya, mas?

Baiklah. Aku ingin mengeluh. Hanya padamu. Aku sudah mengeluh banyak sekali hari ini, dan tak ingin menambahi. Aku menjaga agar Tuhan tak lekas bosan mendengarnya.

Mas, kau tahu, kita sedang berpetualang. Di sebuah alam bernama kehidupan. Dan aku tak menyangka, bahwa manusia bisa lebih beringas daripada binatang kelas karnivora.

Mas, kita masih muda. Perjalanan kita masih panjang. Jika aku boleh memberikan saran, banyak-banyaklah mengenal karakter orang. Perbanyak kebaikan. Mulailah peduli dengan orang-orang dan lingkungan sekitar.

Mas, yang aku hadapi kali ini, bisa jadi akan mengubahku menjadi sosok lain. Perempuan dingin, tangguh dan keras. Aku tak ingin memaksamu untuk tinggal. Aku selalu memperbolehkan kau pergi, mencari hal-hal lain yang lebih mudah kau pahami. Tapi satu hal, setelah pergi, jangan pernah kembali mengetuk apa yang sudah terkunci. Sungguh, aku orang pertama yang akan membencimu ketika melakukan itu.

Mas, apa yang akan kau lakukan ketika kesempitan yang kau rasa, mulai membunuh keyakinanmu?

Untuk si mas-mas yang belum terdaftar di KUA,
berikan bahu lapangmu, aku rindu.

Semarang, 6 Februari 2016

-A-

Surat Tanpa Pengirim (1)

Kepada : Dia, yang ‘tak bernama’

Kilometer 27, Perjalanan Menuju Bogor. 5 Februari 2016. 23.30 WIB.

Rasanya sudah cukup berkelit dengan kenyataan yang melumatku habis-habisan

Mengingat bahwa kau adalah darah yang mengalir di sepanjang nadiku; mengisi ruang hampa di sekujur pembuluh; mengetuk katup ruang jantungku; menjadi debar syahdu pertama yang menggebu-gebu

Hingga waktu memaksamu mencuat deras meninggalkan sendi jeruji detak yang ku punya; menanamkan gejolak yang bergemuruh; kian terpatri di ujung hela nafas yang terhembuskan

Memaksamu untuk tetap tinggal hanya menambah sesak; nyata-nyatanya kau ingin cepat-cepat beranjak; dan tanpamu aku mati pengap

Kau tak ku lupakan; meski rindu akan memenjarakan; yang memberiku satu pelajaran

Tak ada cinta tanpa kehilangan.

“Tôi cập nhật trạng thái, đăng ảnh, cũng không muốn phải nói cho ai biết tôi ăn cái gì, tôi làm việc gì, tôi đi với ai, lại càng không muốn khoe mẽ cho ai xem. Mà chính là để một ngày khi tôi già đi, thời điểm nhàn rỗi ngồi sưởi nắng, có thể lấy ra mà xem như nhật kí nhìn lại quãng thời gian đã qua đi, nhớ lại một chút chuyện năm ấy, cùng bạn bè làm rất nhiều việc vui vẻ, nhìn lại chính mình lúc còn trẻ, nhìn lại thanh xuân đã qua và vui vẻ với tuổi già đã đến.!“