habi

Manusia Shalih

ditulis setiap habis sahur, insya Allah berlanjut hingga 20 Ramadhan

Ustadz Hamid Fahmy Zarkasyi dalam tulisannya menjelaskan bahwa pemahaman kita terhadap islam dari waktu ke waktu harus mampu mengupgrade kita dari tingkatan Muslim, Mukmin dan Muhsinin. Penjelasan ini tentunya memancing kita untuk bertanya lagi, bagaimana sebenarnya manusia yang muhsinin? Apakah dia harus menjadi sempurna dengan memenuhi kesepuluh muwashafat dan tidak pernah salah sama sekali?

Untuk menjawab pertanyaan yang demikian, kita dapat mencari referensi yang lain dengan konsep yang mirip meskipun istilahnya berbeda. Dalam buku Spiritualitas kader, Ustadz Anis Matta memperkenalkan istilah Manusia Shalih (Insaanush Shalih) sebagai output dari tarbiyah. Manusia shalih memiliki sifat yang mirip dengan muhsinin baik dan membaikkan. 

Namun, ada satu hal menarik yang disampaikan oleh Ustadz Anis Matta dalam buku ini. Beliau menyebutkan bahwa Insaanush Shalih bukanlah orang yang baiknya menyerupai malaikat. Insaanush Shalih merujuk pada manusia yang cocok untuk seluruh ruang dan waktu. Atau lebih jelasnya adalah manusia yang dengan keislamannya mampu beradaptasi dan meledakkan potensinya dimanapun ia dibutuhkan.

Untuk membentuk manusia shalih, dibutuhkan pemahaman yang baik terhadap Islam. Pemahaman kita terhadap Islam bukanlah sesuatu yang didapatkan secara instan. Ia adalah sebuah proses pembelajaran dan perbaikan yang berkesinambungan. Oleh karena itu, Islam memperkenalkan konsep Taubat. Taubat sebenarnya bukan hanya tentang pengakuan dosa. Taubat adalah mekanisme perbaikan sekaligus penyempurna amal. 

Ketika kita sholat, kita merasa sholat kita sudah sesuai dengan kaidah fiqih. Namun di tengah sholat, bisa jadi kita merasakan perasaan yang tidak khusyu. Maka selepas sholat, kita dianjurkan untuk beristighfar atas ke-tidak khusyu-an tadi. Di sinilah taubat berfungsi sebagai penyempurna amal.

Contoh lain adalah berkaitan dengan keikhlasan. Ikhlas itu tidak hanya ada ketika kita mengawali amal kita. Ia harus dijaga di tengah-tengah amal hingga amal tersebut tertunaikan. Sementara sebagai manusia, terkadang niat kita justeru terganggu di tengah-tengah. Oleh karenanya, kita perlu meluruskan niat sekaligus beristighfar untuk mengisi kekurangan-kekurangan kita di tengah-tengah amal.

Selain pembelajaran dan perbaikan, proses menghasilkan manusia shalih juga membutuhkan kontribusi berkesinambungan. Akhlak dan kebaikan itu tidak dapat berdiri sendiri. Ia baru terlihat dan tumbuh ketika dihadapkan dengan problematika ummat. Kontibusi yang berkesinambungan mendorong kita untuk menumbuhkan karakter serta berlatih merespon setiap problem dengan sikap yang tepat.

Umar bin Khattab dan Abu Bakar Ash Shiddiq memberikan kita contoh yang utuh tentang tumbuhnya karakter karena kontribusi yang berkesinambungan. Di awal-awal dakwah, Abu Bakar dan Umar terkenal dengan karakter dasarnya masing-masing. Umar dengan ekstrovert dan kolerisnya. Abu Bakar dengan kelembutan dan melankolisnya.

Namun ketika beliau berdua dihadapkan dengan amanah sebagai khalifah, sejarah mencatat bahwa Abu Bakar adalah khalifah yang tegas sedangkan Umar dikenal sebagai khalifah yang lembur. Sifat dasar beliau berdua tidak pernah berubah. Tapi problematika ummat membuat beliau harus merespon sesuatu sesuai kebutuhan.

Di era Abu Bakar Ash Shiddiq, banyak peristiwa pembangkangan dan pemurtadan. Problematika yang demikian jelas membutuhkan ketegasan. Sedangkan di era Umar bin Khattab, ummat dihadapkan dengan masalah paceklik dan kelaparan. Maka kelembutan Umar bisa memberi contoh bagi ummat untuk saling berkasih sayang. Abdurrahman bin Auf pernah menangis dan berkata:

“Wahai Amirul Mukminin, jika paceklik ini terjadi di zaman jahiliyah, mungkin kita sudah saling bunuh untuk berebut makanan. Islam membuat kita saling mendahulukan saudara-saudara kita“

Kisah Abu Bakar dan Umar memberi ibrah kepada kita bahwa akhlak dan sikap adalah sesuatu yang bisa dilatih. Orang yang memiliki sifat dasar keras harus bisa berlaku lembut bila ummat memang membutuhkan itu. Ini berlaku sebaliknya. Yang biasanhya lembut, tidak bisa menjadi lembut sepanjang waktu. Ia harus mampu menumbuhkan ketegasan ketika zaman membutuhkannya.

Seperti umar yang di awal kepemimpinannya berdoa kepada Allah

Ya Allah, sesungguhnya aku ini kasar, maka lembutkanlah aku.

Kitapun diizinkan untu berdoa:

Ya Allah, sesungguhnya aku ini lemah, maka kuatkanlah.

#3: Tetap Bersyukur

Pagi ini jadwal masuk stase baru, dan harus sudah sampai di ruang kuliah pukul 06.30 karena harus mengikuti ilmiah residen terlebih dahulu. saya berangkat menuju kampus dari rumah yang berjarak sekian kilometer dari kampus. saya sudah memperkirakan akan berangkat menuju kampus dari kosan pukul 06.10 atau 06.15 lah agar masih bisa duduk santai sebelum ilmiah residen dimulai. setibanya di kosan pukul 06.00 dan saya buka kamar kosan ternyata atap kamar saya jebol, sungguh kaget dan tak pernah menduga akan mengalami hal yang demikian. sungguh suasana hati yang kaget, kesal, sedih, campur aduklah semua. barang-barang terutama buku-buku dan catatan kuliah saya yang kebetulan memang berada di meja dan berada di rak buku yang posisinya tepat dibawah atap yang roboh dengan banyak tetesan air itupun akhirnya basah semua. bahkan kasur saya pun habis basah dan kotor dengan serpihan langit-langit atap kamar. apalagi lantainya, sudah tidak perlu ditanya. pun alat elektronik yang ada dikamar saya ikut kena basah dan sudah khawatir tidak dapat digunakan.

akhirnya saya putuskan untuk menyelamatkan beberapa buku dan benda yang mungkin masih bisa terselamatkan agar tidak semakin basah dan rusak. sampai akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 06.15 dan saya putuskan untuk bergegas pergi ke kampus. 

kaget? iya masih sangat kaget. sedih? tentu sangat sedih. tapi yasudah, saya mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal tersebut terlebih dahulu.

kemudian saya kirimkan foto dan komplain saya kepada anak pemilik kosan, namun responnya tidak seerti yang saya harapkan. mungkin saya terlalu berekspektasi lebih, dan memang sudah tidak betah untuk tetap berada di kosan ini (memang sudah ingin pindah dari sebelumnya, hanya saja kemarin memang sedang malas untuk berpindah dan masih mencoba bertahan, namun kenyataannya sekarang semakin ingin pindah).

saya pun kirimkan foto kondisi kamar saya sekaliggus cerita kepada kakak saya (saya tidak langsung menghubungi mama karena takut membuatnya panik, tapi nyatanya kakak langsung cerita juga ke mama, yasudah…). sayangnya, di stase sekarang, saya kesulitan mendapat sinyal, jadi pesan ataupun chat yang masuk tidak langsung saya terima. ternyata, orangtua saya menanyakan kapan saya pulang dan berencana untuk langsung melihat kodisinya.

sampai akhirnya, tibalah saya di kosan, dan mama sudha menunggu di depan. lalu, saya perlihatkan kondisi kamar yang membuat saya ingin nangis juga saat membuka pintu kamar. lalu mama meminta saya menghubungi pemilik kosan, dengan harapan dilihatlah kondisinya seperti apa, apakah akan diperbaiki atau bagaimana, yang pasti saya harus pindah kamar terlebih dahulu. dan kebetulan, ada beberapa kamar yang memang masih kosong. ya namanya juga manusia berekspektasi akan mendapat respon yang diharapkan lah ya, tetapi respon yang kami dapatkan kurang cukup membuat hati kami senang, akhirnya orangtua saya berpikir untuk langsung pindah kosan. tapi nampaknya itu tidak memungkinkan dan kemungkinannya pindha kamar dahulu sampai waktu kontrak kosannya habis (kebetulan bulan depan sudah habis, alhamdulillah).

akhirnya, orangtua saya membantu membereskan dan memindahkan barang-barang saya ke kamar lain. sungguh dalam hati sendiri itu rasanya sedih, mana capek baru pulang, mumet, ya laper gitu, bingung mau beresin darimana karena kondisi kamar yang begitu, mumet pokoknya.

tapi, orangtua saya tetap membereskannya dengan hati-hati, dilepas satu-persatu yang masih menempel di dinding, dimasukkan ke tas, ke kresek barang-barangnya, dan bantu pindahin barang meski harus pindah ke lantai atas.

beliau hanya selalu bilang, “alhamdulillah de, untung pas atapnya roboh, ade di rumah. kebayang kalau lagi tidur malem-malem terus atapnya roboh. mana berat, kotor, naudzubillah. gapapa buku-buku basah, barag-barang kotor, tapi ade tetep selamat.”

mendengar hal tersebut, hati menjadi luluh. memang, mungkin sifat emosional saya terlalu saya bawa dalam setiap kondisi, dan hal itu pula yang membuat saya lupa untuk tetap bersyukur bahwa Allah swt masih menyelamatkan saya dari bahaya. coba bayangan, bagaimana jadinya jika saat kejadian tersebut terjadi saya sedang tidur pulas? mungkin kondisi saya sekarang belum tentu sebaik ini. 

pelajaran berharga bagi saya, meskipun rasanya akhir-akhir ini saya sedang ditimpa beberapa musibah, bisa jadi itu merupakan ujian dari Allah swt untuk mengukur kadar kesabaran dan keikhlasan saya untuk menilai apakah saya bisa naik derajat ke tingkat yang lebih mulia disisi-Nya atau tidak. atau, mungkin diri ini sudah amat sangat berlumur dosa sehingga perlu sedikit disentil agar tidak terlalu jauh menyimpang dan kembali mendekat serta berjalan lurus dijalan-Nya.

sabar dan ikhlas, mudah diucapkan, tapi tak semudah itu pelaksanaannya. sabar, adalah pelajaran seumur hidup dan belum tentu setiap orang dapat melaluinya. melalui beberapa kejadian terakhir yang saya alami saja, membuktikan bahwa saya belum bisa se-sabar dan se-ikhlas itu. membuktikan bahwa saya masih belum pandai mengambil hikmah dan berucap syukur atas nikmat-nikmat lain yang masih Allah swt titipkan kepada saya.

semoga, saya menjadi semakin malu akan kekurangan diri dihadapan Allah swt. semoga setiap apa yang Allah swt timpakan kepada saya, menjadikan pembelajaran bagi saya, dapat saya lalui dengan penuh ke-husnudzan-an kepada Allah swt, dansemoga diri ini dapat menjadi hamba yang semakin tinggi derajatnya dan menjadi hamba yang mulia disisi Allah swt. aamiin.

Ramadhan Day 3 : Bercerita

Saya punya kebiasaan bercerita pada orang di rumah tentang apa saja. Misalnya nih, saya baru pulang kampung ke Majalengka, ketemu ibu, otomatis begitu ketemu saya akan langsung cerita apa saja yang belum saya ceritain. Biasanya tentang kerjaan, teman-teman terdekat, atau bahkan tentang hal-hal kecil yang saya temukan di jalan ketika pulang. Entah sejak kapan saya punya kebiasaan itu, yang jelas yang sadari saya ingat memang dari dulu begitu bahkan setelah pulang sekolah pun akan mengikuti Ibu atau Bapak kemanapun di rumah sambil bercerita.

Kebiasaan ini berlanjut sampai saat ini berumah tangga. Setiap saya pergi sendiri atau menemukan sesuatu di jalan saat bersama dia padahal, datang ke rumah saya pasti akan bercerita atau mengajak membahas sesuatu.

Untungnya hal ini disambut baik suami. Dia ngga ngerasa diintrograsi jika saya bertanya seharian habis ngapain aja, dengan syarat-syarat ga bahas detail tentang kerjaan dia. Dia bahkan mencoba jadi pendengar yang baik setiap kali saya bercerita, menimpali sesekali berkomentar, ngga cuma “hmm” “iyaa” “ohhh” doang yang ngeselin buat sebagian besar cewek yang notabenenya perlu merasa didengarkan dan penuh empati.

Ngobrol santai kayak gini adalah salah satu upaya kami untuk membangun komunikasi kita yang amat beda. Doi ga bisa dikodein dikit doang, mesti jelas sejelas jelasnya.

Pernah sekali saya terusik dengan cerita teman di kantor, setelah bercerita panjang lebar ke suami dan meminta pendapat dia yang secara garis besar doang terus dia terusik dengan mengatakan jadikan itu terakhir kalinya buat saya ngomongin orang. Dia bilang “ngomongin” karena memang hal yang dibahas berkaitan dengan aib. Walaupun niat bercerita hanya untuk berdiskusi pendapat dia bagaimana ternyata ada beberapa sisi juga yang menurut dia seharusnya ngga saya ceritakan juga ke dia. Aib orang.

Disana saya diam dan merenung. Takut jadi seseorang yang tanpa sengaja ngumbar aib orang. Boleh kita berdiskusi asalkan ada etikanya, walaupun itu cerita ke suami sendiri, kalo tau simpen sendiri jangan diumbar-umbar. Ada bagian yang harusnya disensor atau mungkin dikiaskan, tidak dibicarakan secara tersurat jika niat kita hanya mencari pendapat atau sudut pandang tentang masalah tersebut.

*Suami orang yang sering wanti-wanti jangan sampe saya jadi ibu-ibu gosip, banyak mudhorotnya katanya*

Disana saya mulai lebih mawas diri setiap akan bercerita, lebih menimbang apakah baik ini untuk disampaikan atau bagaimana cara menyampaikan dengan kata-kata yang baik tanpa menyinggung atau mengusik aib seseorang. Bagaimana kita pandai mengambil hikmat dan meminta pendapat dengan kata-kata yang bijak.

Dari sana saya mulai pelan-pelan lebih menjaga diri dari ghibah. Terkadang ghibah tuh ga disengaja dari hal-hal sepele yang dikatakan. Atau bahkan bisa saja diskusi yang dilakukan untuk niat mengambil hikmah dari pengalaman hidup orang lain di dalamnya ternyata malah menghibahkan orang tersebut.

Kadang kan cewek memang gitu yaa, nyerita tau-taunya teh ngomongin.. Duuh..

Astagfirullah..

Semoga kita menjadi orang yang lebih dapat menjaga lisan, terutama di bulan Ramadhan ini..

tersesat

Mimpi kita, harus kita sendiri yang bela.

kutipan itu gue baca di buku Teman Imaji. gue tau persis apa maksudnya, dan apa maknanya. tapi mungkin, gue lupa.

setiap hari jum’at ada kegiatan coaching yang diadakan oleh Ibu (panggilan untuk atasan gue). hari itu, biasa aja, sampe Ibu bilang:

Kalau bukan kita sendiri yang memperjuangkan mimpi kita, siapa lagi?

gue tergugu pilu mendengarnya. gue inget lagi, sama mimpi-mimpi gue. gue inget lagi, kalau profesi yang sekarang gue jalani bukanlah mimpi gue. dan gue jadi tau bahwa gue bukan semakin dekat, tapi semakin jauh dari mimpi-mimpi gue. mimpi untuk menjadi guru, mimpi untuk melihat dunia lebih jauh, lebih banyak. mimpi untuk menghabiskan ego–yang kenyataannya tidak habis-habis. dan gue harus mulai semua dari awal lagi.

gue jadi berpikir dan menyesal, kenapa gue harus berputar?

kenapa gue memilih satu hal yang memang nggak gue suka untuk gue dalami,

kenapa gue nggak memilih untuk mendalami hal yang gue suka? seperti seni, fotografi.

dan sekarang, gue merasa…tersesat.

ngga ada keinginan untuk berkembang lebih jauh lagi di profesi ini karena memang gue ga menikmatinya, dan lalu, gue ga punya modal apa-apa untuk kembali berdekatan atau bahkan mewujudkan…

impian-impian


yang terpendam.

Aku tak keberatan menunggu lebih lama jika pada akhirnya kau yang dipilih Tuhan di akhir cerita.

Pergilah.
Bermainlah di banyak hati.
Berlabuhlah di banyak tempat. 

Berpetualanglah sampai rasa penasaranmu habis, lalu putuskan bahwa bersamaku adalah tujuan akhir dari semua perjalanan panjangmu itu.
MEETING SAMA ALLAH

Obrolan antara seorang bos dan sekretarisnya di pagi hari.

B : Tolong atur jadwal saya, jam 11.45 saya ada meeting sama Allah. Siapain pakaian terbaik, sama parfumnya yah. Saya enggak enak kalau meeting bajunya kurang bagus.

S : Siap pak. Tapi kebetulan pak, jam tersebut ada pertemuan sama direksi pak.

B : Geser saja, ini lebih penting. Kan mereka mau nunggu sampe jam 3an. Kalau sempet, nanti saya meeting sama direksi.

S : Siap pak

B : Oiah, jam 15.00 juga saya ada meeting lagi sama Allah. Ingetin yah, pokoknya 15 menit sebelum saya harus udah ada di rumah Allah. Gak enak kalau terlambat, soalnya ditungguin.

S : Siap pak. Oia pak, tapi jam segitu juga bapak ada pertemuan sama pemilik saham.

B : Ah, tenang aja, cuman pemegang saham doang, gak penting. Kan masih ada waktu sampai jam 6, nanti kalau sempet, saya meeting sama pemilik saham.

S : Baik pak.

B : Oiya, mohon atur juga yah, jam 6 juga saya ada meeting sama Allah. Habis itu kosongin waktu sampai jam stengah 8, karena masih lanjut ada meeting juga sama Allah jam 7 nya. Mohon siapkan pakaian saya yang bagus yah.

S : Siap pak. Tapi pak, jam 6 sampai jam 7 ini ada agenda ketemu klien pak.

B : Sudah, geser saja. ini lebih penting. Klien bisa nunggu kok sampai subuh. Nanti kalau saya gak cape, kalau enggak ketiduran, saya meeting lah sama klien.

S : Baik pak.

B : Sekalian, mohon juga bangunkan saya pukul 3 subuh nanti. Saya ada meeting sama Allah jam stengah 5 pagi. Tapi katanya Allah mau sidak di 1/3 malam terakhir.

S : Siap pak. Tapi bukannya itu jamnya bapak buat istirahat pak? Kalau enggak istirahat bukannya nanti capek?

B : Enggak, ini meeting penting soalnya. Gak bisa saya tinggalin. Tidur bentar juga cukup kok, gausah dilama-lamain.

S : Siap pak kalau begitu.

Pada kenyataannya, justru kisah diatas terbalik dari apa yang seringkali terjadi.

Meeting sama manusia, sesibuk apapun disempatkan. Meeting sama Allah, sesantai apapun dilalaikan.

Meeting sama manusia, sesulit apapun, kita akan menggunakan pakaian terbaik. Meeting sama Allah, kaos oblong ama sarung juga udah cukup.

Meeting sama manusia, telat sedikit aja malunya minta ampun. Meeting sama Allah, telat banget juga ga merasa malu malu, kadang juga ga minta ampun.

Meeting sama manusia, pasti bisa. Meeting sama Allah, liat nanti deh di waktu yang tersisa.

Padahal Allah itu yang menciptakan, tapi kita mendahulukan yang ia ciptakan.

Padahal Allah lah yang memberi rezeki, tapi kita mendahulukan perantaranya.

Apakah pejabat, klien, sahabat, teman, kerabat, sudah memberi kita hidup sampai kita mendahulukan mereka dibanding sang maha pemberi hidup?

Padahal jadwal meeting sama Allah enggak pernah berubah, selalu di waktu dan jam yang sama, tapi kadang seringkali kita terlambat datang ke meetingnya, seringkali kita datang dengan pakaian seadanya, seringkali kita datang dengan sisa tenaga yang ada.

Maka, tatkala seorang manusia mendahulukan sesuatu dibandingkan tuhannya, maka dia sedang mencintai dunia dan melupakan urusan akhiratnya.

Semoga, kita bisa mulai berbenah diri untuk meeting berikutnya bersama Allah.

Jadi, sudah menyiapkan waktu serta penampilan terbaik untuk meeting sama Allah besok?

MEETING SAMA ALLAH
Bandung, 18 April 2017

tentang curhat

mungkin ada baiknya sebelum curhat sesuatu ke sahabat, teman, orang tua, saudara, atau orang kepercayaan, lebih baik curhat dulu sama Allah. terutama buat kita yang orangnya gampang curhat atau gampang terbuka atau gampang dipancing curhat sama orang.

sadar gak sih kadang kita suka ngerasa mikir ulang tiap kali selesai curhat sama orang lain, “gapapa gak ya tadi cerita gitu?”, “harusnya gausah diceritain yang bagian itu”, “duh, aturan tadi gausah cerita sama dia..”, dan segala macam semi-penyesalan lainnya. kalau dipikir-pikir kenapa bisa gitu ya? kenapa suka timbul bumbu-bumbu sesal setiap habis cerita ke manusia? bukankah seharusnya hati kita ini menjadi lega? etapi kenapa malah kayak ada yang ganjel, iya gak?

barangkali….karena kita lupa sama keberadaan Allah Yang Maha Mendengar. kita lupa kalau seharusnya Allah yang jadi muara pertama untuk menumpahkan segala resah dan gelisah kita. harusnya kita lebih dulu ceritanya sama Allah sebelum cerita ke manusia. harusnya kita lebih dulu percaya sama Allah sebelum mempercayakan kepada manusia. malah lebih baiknya, kalau cukup Allah saja yang menjadi pendengar setia kita. meskipun kita juga gak bisa memungkiri kalau kita ini memang membutuhkan kehadiran orang lain untuk menjadi pendengar dan teman bicara kita.

kita perlu memastikan bahwa kita harus sudah selesai curhat sama Allah sebelum curhat sama manusia. supaya kita punya semacam “guideline” sebelum curhat sama manusia. sehingga paham bagian mana yang perlu diceritakan dan mana yang tidak. sehingga dalam kondisi tersebut kita jadi lebih tenang, lebih terarah, tidak emosional, dan tidak tergesa-gesa dalam bercerita. sehingga kita tetap punya pakem dalam menjaga lisan kita. sebab kita tahu bahwa sebagian besar urusan kita sudah diserahkan kepada Allah. dan kehadiran manusia hanyalah menjadi pelengkap untuk sebagian yang lain.

bicara dengan Allah, selalu melegakan.

©colorious | 18 Mei 2017

Freeday: Pengecut Yang Dipaksa Hidup.

Mungkin pergi sendiriku bukan yang seperti itu. Selain karena minimnya kesempatan beserta segala tetek bengek brengsek yang membuatku enggan melangkah, pergi yang seperti itu bagiku tak ayalnya seperti seorang pedagang di pasar minggu. Menjajakan dagangannya agar laku, merayu ibu-ibu, atau bahkan berani banting harga hingga hampir tutup modal kala waktu sudah memasuki senja.

Atau dalam pengertian lain; Rumpun serta ucapan yang masih bisa dimengerti membuatku merasa pergi yang seperti itu tidak benar-benar membuatku Tertempa dan tersiksa. 

“Siksalah hidupmu sekeras-kerasnya. Melaratlah. Merangkaklah. Jilatlah kaki orang lain. Itu akan membuatmu kuat dihadapan bangsat kelas kakap sekalipun.”

Pergilah yang jauh hingga orang-orang tak mengetahui asal-usulmu, tak juga mengerti segala yang lidahmu julurkan, kau hanya bermodal nekat, gerak tubuh, serta pengetahuan singkat mengenai bertahan hidup di tempat yang jauh lebih keras dari tempat di mana kau dilahirkan.

Udaranya membuat kulitmu memutih, bersisik. Perih ketika tergesek kain perca yang menutupi tubuh. Anginnya berhembus kencang, membuat pandanganmu kabur, telingamu penuh ruam karena dingin yang mencekam, tanganmu sulit digerakan, kuku kakimu patah karena beku dan sol sepatumu terbuka lebar karena tergerus perjalanan dari waktu ke waktu, tenggorokanmu kering, dan kakimu sudah lelah berdiri dengan darah yang sudah terlanjur membeku di sekitar kuku.

Ingin duduk, tapi peraturan mengatakan kau tak boleh duduk di situ. Ingin bertanya, tapi tak ada satupun yang mau membantu kala mereka sama sekali tidak mengerti semua yang keluar dari mulutmu.

Belum lagi, tidak ada makanan untuk ditelan. Dengan mata uang yang keparatnya sangat mahal itu, perutmu dirajam oleh lambungmu sendiri. Untuk makanan biasa, kau harus merogoh kocek sebesar 2 hari biaya makan di rumahmu sendiri. Dan itupun rasanya tidak begitu enak untuk lidah bangsamu.

Satu-satunya yang murah adalah daging yang agamamu larang. Yang harus rela kau telan bulat-bulat karena menghemat beberapa keping untuk perjalanan pulang yang jauhnya luar biasa. Kau mengkhianati kepercayaanmu sendiri, kau dipaksa rendah menjilat kaki agama tempat kau dibesarkan dulu di sekolah.

Lain dari hal itu, doamu dianggap menakutkan oleh mereka. Kau dianggap sama dari mereka-mereka yang menggorok leher reporter negarawan di timur tengah. Mereka menilik, menyuruh melepas kain suci yang melindungi rambut wanitamu. Atau mereka sama sekali tak mengizinkanmu pergi bahkan untuk sekedar sembahyang sendiri di hari Jumat pertengahan pagi.

Direndahkan? Itu jauh lebih nikmat daripada tersesat di suatu tempat yang begitu asing. Orang-orangnya enggan membantu, bertanya hanya membuatmu dicibir, udara di bawah 0 derajat membuat pikiranmu lemas. Hidungmu berdarah, tanganmu lebam, bahkan ingus yang keluar dari hidung tak ayal harus kau telan demi sekecap rasa di lidah.

Kudengar, orang-orang sepenanggunganku justru jauh lebih tersiksa dariku. Ketika harus dihadapkan dengan begundal-begundal yang mengambil uang receh mereka. Uang seharga sekitar 15ribu rupiah yang hanya mampu membeli tak lebih dari 2x suap nasi di negara itu.

Jika dibandingkan dengan pergi dengan kesamaan rumpun; Kau bisa merendah meminta menginap, merendah membantu kerja demi sepiring nasi, memainkan alat musik dari tutup botol untuk mendapatkan ongkos pulang, menumpang, atau bahkan tidur hangat di sebuah surau; Pergimu itu bagiku– saat itu— seperti tamasya di binaria. 

Aku tak merendahkan pergimu, tidak. Bahkan bagiku kalian yang berani pergi adalah kalian yang jauh lebih berani dari seorang pengecut seperti aku; yang dipaksa keadaan untuk tersesat; yang menggigit bibir hingga berdarah menahan tangis di kereta perjalanan pulang. Merasa ingin menyerah, ingin memilih untuk secepatnya pulang. 

Namun setelah memilih bertahan sebentar sebelum benar-benar akhirnya waktu pulang datang,
Kini aku tak lagi menjadi aku.

Seonggok besi rongsok yang pergi, ditempa habis-habisan, disiksa, dibakar, dipukul, dan dihina itu, kini kembali pulang menjadi sebilah pedang dengan ketajaman dari ujung hingga pangkal.

Itulah pergiku.

Maka jika suatu saat ada kesempatan untuk disiksa, ditempa, dan tersesat di rumpun yang berbeda, dengan begitu senang hati aku akan melaksanakannya sekali lagi.

Kepada siapapun yang pernah seperti aku, yang enggan melangkah, yang begitu malas melangkahkan kaki di tempat-tempat baru, bacalah tulisanku di atas. 

Berdoalah untuk tersesat. 
Selain kau akan belajar menemukan jalan untuk bertahan, 
Kau juga akan belajar menemukan siapa dirimu yang sebenarnya ketika tak punya apa-apa.

Rejeki dari ALLAH itu pasti CUKUP UNTUK HIDUP tapi TIDAK akan CUKUP UNTUK MEMENUHI GAYA HIDUP

Kenalan saya seorang perencana keuangan di Jakarta punya banyak klien dari kalangan artis, dia cerita waktu itu pernah dicurhati seorang artis yang tiap hari nongol di tv, terkenal dimana-mana, tapi buat bayar cicilan mobil 5 juta saja tidak punya.. Gaya hidup akhirnya meremukkan hidupnya.

Saya pernah kenal seorang presenter TV nasional, kalo sedang tampil rapi pakai jas rapi sekali, hanya sekali ketemu di seminar, dia minta nomer HP. Sebulan kemudian dia SMS..
“Mas, saya pinjam uangnya 1 juta bisa? Minggu depan saya kembalikan..”
Walaaah..

Tahun 2009 malah ada vokalis band terkenal, saya kenal sejak 2003 ketika dulu masih kerja di EO sering saya ketemu waktu saya jadi stage manager. Lagunya ngehits di semua radio, satu sore ngajak ketemu.. Ujung-ujungnya pinjam uang dengan alasan ini itu.. Dan sampai hari ini tidak pernah dikembalikan hingga tahun-tahun berlalu..

Kisah Ustad Luqmanul Hakim gak kalah unik, waktu masih kuliah S2 di Malaysia dia diundang makan di sebuah restoran mewah oleh salah satu kawannya. Ustad Luqman bahkan diminta memindahkan parkiran motor bututnya agar tidak menggangu pemandangan di halaman depannya. Usai makan, kawannya justru curhat dan minta nasehat, sambil menunjuk mobil mewah di halaman depan yang sudah 6 bulan cicilannya belum terbayar..

Betul kan, rejeki dari Allah itu PASTI CUKUP untuk hidup, tapi TAK AKAN CUKUP untuk gaya hidup..

Kisah nyata sebaliknya dari Ustad Luqman,
Seorang ibu tua dengan kain jarik datang ke sebuah masjid usai jumatan, panitia dan takmir sedang berkumpul sambil duduk menghitung uang hasil infak jamaah hari itu. Ketika ibu itu datang dengan baju sangat biasa dan berkain jarik, salah seorang dari mereka berdiri, mendekati ibu itu sambil berkata, “maaf bu, disini tidak menerima sumbangan..”
Ibu itu membuka lipatan kain jariknya, mengeluarkan uang berwarna merah, biru, merah, biru, merah, biru.. berlembar-lembar banyaknya, sambil berkata
“Maaf nak, saya mau ikut bersedekah untuk pembangunan masjid ini.. Ini uangnya mohon diterima..”
Seketika para takmir itu menunduk, tak ada yang berani memandang wajah ibu itu.. Salah tingkah dan menahan malu…

“Suatu malam, Ustadz Muhammad Nazhif Masykur berkunjung ke rumah. Setelah membicarakan beberapa hal, beliau bercerita tentang tukang becak di sebuah kota di Jawa Timur”

Ustadz Salim melanjutkan, “Ini baru cerita, kata saya. Yang saya catat adalah, pernyataan misi hidup tukang becak itu, yakni:
(1) jangan pernah menyakiti
(2) hati-hati memberi makan istri.“

“Antum pasti tanya,” kembali Salim melanjutkan ceritanya sembari menirukan kata-kata Ustadz Muhammad.
"Tukang becak macam apakah ini, sehingga punya mission statement segala?”.
Saya juga takjub dan berulang kali berseru, “Subhanallah,” mendengar kisah hidup bapak berusia 55 tahun ini.

Tukang becak ini Hafidz Qira’at Sab’ah! Beliau menghafal Al-qur’an lengkap dengan tujuh lagu qira’at seperti saat ia diturunkan: qira’at Imam Hafsh, Imam Warasy, dan lainnya.
Dua kalimat itu sederhana. Tetapi bayangkanlah sulitnya mewujudkan hal itu bagi kita.

Jangan pernah menyakiti. Dalam tafsir beliau di antaranya adalah soal tarif becaknya.
Jangan sampai ada yang menawar, karena menawar menunjukkan ketidakrelaan dan ketersakitan.

Misalnya ada yang berkata, “Pak, terminal Rp 5.000 ya.“ Lalu dijawab,“Waduh, enggak bisa, Rp 7.000 Mbak.”
Itu namanya sudah menyakiti. Makanya, beliau tak pernah pasang tarif.
“Pak, terminal Rp 5.000 ya.” Jawabnya pasti OK. “Pak, terminal Rp 3.000 ya.“
Jawabnya juga OK. Bahkan kalau,“Pak, terminal Rp 1.000 ya.” Jawabnya juga sama, OK.

Gusti Allah, manusia macam apa ini!

Kalimat kedua, hati-hati memberi makan istri. Artinya, sang istri hanya akan makan dari keringat dan becak tuanya. Rumahnya berdinding gedek. Istrinya berjualan gorengan. Stop! Jangan dikira beliau tidak bisa mengambil yang lebih dari itu. Harap tahu, putra beliau dua orang. Hafidz Al-qur’an semua.

Salah satunya sudah menjadi dosen terkenal di perguruan tinggi negeri (PTN) terkemuka di Jakarta. Adiknya, tak kalah sukses. Pejabat strategis di pemerintah. Uniknya, saat pulang, anak-anak sukses ini tak berani berpenampilan mewah. Mobil ditinggal beberapa blok dari rumah. Semua aksesoris, seperti arloji dan handphone dilucuti. Bahkan, baju parlente diganti kaus oblong dan celana sederhana.

Ini adab, tata krama.

Sudah berulang kali sang putra mencoba meminta bapak dan ibunya ikut ke Jakarta. Tetapi tidak pernah tersampaikan. Setiap kali akan bicara serasa tercekat di tenggorokan, lalu mereka hanya bisa menangis.

Menangis. Sang bapak selalu bercerita tentang kebahagiaannya, dan dia mempersilakan putra-putranya menikmati kebahagiaan mereka sendiri.

Ustadz Salim melanjutkan, “Waktu saya ceritakan ini pada istri di Gedung Bedah Sentral RSUP Dr. Sardjito keesokan harinya, kami menangis.

Ada banyak kekasih Allah yang tak kita kenal.”
Ah, benar sekali: banyak kekasih Allah dan “manusia langit” yang tidak kita kenal.

Kawanku.. Hari terus berganti, matahari datang pagi ini, dan menghilang sore nanti..
Usia kita terus bertambah, tanpa sadar banyak hal yang begitu saja kita lewatkan hanya untuk mengejar dunia yang sementara..
Padahal esok pada waktunya, kita semua saat pulang ternyata hanya dibungkus kain kafan tak bersaku.. Tak ada bekal uang yang berlaku..

Semua harta yang selama ini kita kejar habis-habisan, ternyata semu belaka.. Pangkat, jabatan, kemewahan yang selama ini dibanggakan akan berakhir ditimpun tanah kuburan..

Banyak orang yang mengejar label kaya dengan menggadaikan dunianya, harga diri sudah musnah entah kemana..
Sementara, banyak orang yang diam-diam ternyata kaya raya, dan lebih suka mencari muka hanya pada Tuhannya..

Benar kata kawan saya Mas Arief Budiman..
ORANG KAYA adalah orang yang selalu merasa cukup, sehingga dia terus berbagi..

ORANG MISKIN adalah orang yang selalu merasa kurang, hingga dia terus meminta-minta…

Salam,
@Saptuari

navisyamlikho  asked:

Halo kak Hana. Ceritain rasanya mencintai dalam diam, versi bulek. Navis, laki2.

Cinta dalam diam?
Aku gak pernah cinta dalam diam, karena aku selalu bilang-bilang wkwk

Apa tu cinta dalam diam? Diam-diam cinta gitu? Apa gimana? Yang galau-galau gitu? Wkwk

Ini ya aku kasih tahu cinta dalam diam dari sisi yang lain.

Cinta dalam diam yang sebenarnya adalah cinta orangtua pada anak-anaknya.
Cinta yang kadang tak mereka ungkapkan lewat kata-kata,
Tapi untuk kita, mereka siap menukar nyawa.
Cinta yang kadang tak mereka tunjukkan lewat gerak gerik tanda sayang,
Tapi untuk kita, mereka rela lapar, asal kita kenyang.
Cinta yang siap berpisah sejak awal bertemu.
Cinta yang sudah tahu akan dibendung rindu, tapi tetap saja yang paling depan mengantar kita jauh-jauh ke kota seberang untuk menuntut ilmu.
Cinta yang tak egois.
Cinta yang tak akan habis.

Kita, anaknya? Masih sibuk jatuh cinta diam-diam pada yang lain? Cih.

Untuk yang pernah datang, kemudian menjauh lagi.
Untuk yang baru saja tiba, dan masih bertahan di sisi.
Untuk yang selalu ada, tak terbesit untuk pergi sama sekali.
Untuk rezeki Tuhan menghadirkan mereka selama ini.


Saya sungguh bahagia.

Karena tak habis apa-apa yang harus saya syukuri hari ke hari.

Rindu yang Tergesa-gesa
- aksarannyta

Telah habis waktu untukku menantimu dalam diam. Sudah sampai waktuku untuk memilih mundur dari semua kejadian. Telah lelah aku bertahan untuk seolah tak mengerti apa-apa. Sudah jenuh aku menjadi satu-satunya penyeimbang. Maka tolong biarkan aku pergi dan melupa dengan segala kisah ini. Hingga di akhir cerita kini, sudah saatnya aku menyaksikan diorama dari semesta
—  Hujan Mimpi
Menjemput Do’a

Kalau saja mau direnungkan, begitu lucu jika manusia masih saja punya waktu sedetik memalingkan hati hanya untuk sekedar berputus asa. Padahal, Allah mendengar lebih dari yang kita katakan, Allah menjawab lebih dari yang kita minta, bahkan Allah memberi lebih dari yang kita inginkan.

Curahan hati tiada pernah ia berbatas. Sekali ia menjelma menjadi hujan, maka tidak akan pernah habis ia tumpahkan pada bumi hingga matahari yang memaksanya untuk berhenti. Maka tidak pernah ada yang terlalu besar bagi-Nya, tidak pun berkurang apa-apa dari-Nya.

Do'a-do'a itu tidak akan pernah memakan waktu lama untuk sampai pada-Nya. Demi waktu yang bergetar di atas dada, langit ketujuh tidak pernah berjarak lebih jauh dari urat leher kita.

Maka, memintalah. Pada permintaan yang selalu kita sangka mustahil, yang kita lafalkan dengna begitu rumitnya, jadikan harapan itu sebagai temali pada tiap jari-jari di tangan agar mudah menggantungkan impian pada-Nya.

Peluk-Nya dalam keyakinan kita, agar lapang hati dan tidak tercipta semula sekat di antara do'a dan pengabulan-Nya.

Sebab dibelakang kita, ada banyak kekuatan yang tak terhingga. Di hadapan kita, ada banyak kemungkinan tanpa batas, di sekitar kita ada kesempatan yang tiada akhir.

Dan lebih dari itu, ada Allah yang selalu hadir tanpa kita harus meminta.

Sebab satu ketukan lembut di pintu-Nya, begitu anggun kasih-Nya sampai ke bumi.

Bogor, 11 Maret 2017 | Seto Wibowo

Boomerang dalam ingatan.

“Kirana, sayanglah sama Ibuknya…”

Itu cuplikan dari salah satu video Kirana, saat Kirana ditanya kalau Mbak No lagi marah itu kayak gimana.

Ngeliat bagaimana Mbak No bermain dan bicara ke Kirana, agak-agak mirip dengan bagaimana Ibuk bicara dengan kami, anak-anaknya.

Ibuk jarang marah menggunakan vokal. Atau berbicara dengan nada tinggi.
Ibuk lebih memilih diam, kemudian mendudukkan kami dan bicara panjang lebar tentang kehidupan wkwkwk.

Kalau misalnya, anaknya bandel, gak mau makan, kayak aku, Ibuk bilang, “Adek ni, kok gak sayang sama Ibuknya? Kok gak mau dengerin Ibuknya?” atau “Adek, sayanglah sama Ibuknya…” atau “Ibuk tu suka sedih kalau adek gak mau makan. Kalau gak makan tu kasian badannya. Kasianinlah badannya tu.” kemudian walaupun dengan muka kesal, akhirnya makan. Hahaha.

The power of “Ibuk sedih kalau…” mayan ampuh juga. Karena ga ada anak yang pengen Ibuk Bapaknya sedih kan ya?

Jadi sadar bagaimana Ibuk selalu bisa bermain dengan kata-kata. Ketika air galon dispenser habis, dan Bapak akan berangkat kerja, terjadi sedikit drama,
Aku : “Buk, air galon habis.”
Ibuk : “Iya dek? Coba tanya Bapak dek, Bapak haus dak?”
Aku :“Pak, Bapak haus pak?”
Bapak : “Kenapa?”
Ibuk: “Kalau haus Hana mau ngambilin minum Pak. Cuma air galonnya habis.”
Bapak: “Oalah, mau minta ganti air galon aja kok panjang kali ceritanya.”

Kemudian air galon diganti. Wkwkwk. Padahal bisa aja langsung bilang minta ganti galon, tapi perasaan yang tertinggal setelah itu mungkin agak berbeda.

Eh, kok malah cerita galon.

Ya gitu, jadi dulu waktu Bela seumur Kirana, juga pernah nangis gitu, sama Ibuk dicuekin, Ibuk malah nyapu. Bela ngikutin terus. Aku kasian sama Bela, aku tanya, “Buk, ngapa Bela buk?” terus kata Ibuk, “Gak tahu, gak jelas ngomongnya, soalnya sambil nangis.” dan ketika agak tenang nangisnya, baru Ibuk dekati Bela, baru digendong, baru disayang-sayang.

Setiap Ibu pasti punya caranya sendiri dalam mendidik anak. Semua punya gaya sendiri. Bagaimanapun caranya, pasti untuk kebaikan anaknya. Pasti.

Aku gak yakin bisa mendidik anak dengan sabar dan penuh trik persis kayak Ibuk dulu. Tapi yang jelas, cara Ibuk akan menjadi contekan di masa yang akan datang.

Eh, kok udah ngomongin mendidik anak pulak ni? Ngasih makan ikan aja kebanyakan, mau ngomongin mendidik anak pulak.

Saya pernah posting ya sebelumnya, judulnya Laki-laki Itu Lucu (1). Nah kebetulah ayah saya kemarin habis ngeshare ttg hal serupa. Bisa disimak videonya di atas.

Kemudian saya melakukan eksperimen (lagi) hari ini wkwkwk. Suami saya lagi nyuci piring di belakang, sedangkan saya menyapu. Ceritanya kami sedang bagi tugas sebelum pulkam ke kampung suami.

Lalu saya menghampirinya ke belakang.
“Mas…”
Beliau masih sibuk nyuci piring.
Saya mendekat,
“Mas…”
Hening, masih suara gemericik air yang mendominasi. Saya terkekeh. Kok bener banget sih apa kata video tadi.
“Mas, mas!” seru saya lebih keras lagi.
Barulah beliau menoleh ke arah saya.
“Apa dek?” tanyanya kaget.

Saya cuma nyengir kuda sambil bilang,
“Nggak papa :D”

Lalu saya ulangi lagi.
Kali ini beliau sedang sibuk dengan gadgetnya memantau kerjaan yang sedang dikerjakan timnya. Saya teslah,

“Mas, mas. Ini lho ibu tanya mau titip dimasakkan apa?”
………

“Mas? Halo? Mau nitip dimasakkan apa?”
………

“Maaaas, I love you, I love you.”
……..

“Mas?”

“Kenapa dek tadi?”

“Ini, ibu nanya mau titip dimasakkan apa.”

“Oh, jangan godong telo ya…”

“Oke!” aku meringis.

Jadi kalau lagi dikacangin, di-I love you-in aja ya. Biar noleh. Percuma kalo ngambek-ngambekan 😝