habi

Surat Kedelapanbelas

Jakarta, 18 Januari 2017

Dear om @quraners

Berhubung kalau manggil mbak @jagungrebus tante, jadi cocoklah ya kalau manggil sampeyan om. *udah gausah protes. Kalau protes sanksinya lebih banyak.

Apakabar? Semoga sehat selalu ya, yang turut serta andil mencerdaskan anak-anak bangsa agar menjadi seorang hafiz dan hafizah yang berbudi pekerti baik. 

Udah tahun baru om, semoga harapan dan cita-citamu dimudahkan. Jadi ambil sanad po? Trus nunda yang itu yha? rapopo wis, yang penting sibukmu selalu dalam kebaikan dan untuk kebajikan.

Nganu om, nyeritain dek Nisa terus. Lah njur kapan mau nyeritain anuanmu? *habis ini disemprot deh. Gak perlu buru-buru kok om, tapi kalau udah mantep dan yakin niat baik ya harus disegerakan. *katanya gitu. Daripada nanti om terlambat atau keduluan sama ikhwan-ikhwan yang lain. 

Gimana rasanya? tiap hari ngurus dua pokemon yang subkhanallah itu. Latihan semasa dini ya itu? Seharusnya khansa atau hamzah tuh bisa nanya ke om, kapan om ngenalin ukhtynya ke mereka. 

Oh iya om, jangan bosan menebar dakwah. Jangan capek menebar kebaikan. Jangan suntuk berbagi ilmu.

Udah ah segini aja suratnya om. Nanti kalau aku beberin ceritamu yang ini yang itu fansmu pada manyun. 

Tetep jadi om yang baik, dan nggak pura-pura baik ya.

Dari yang sebenernya galak,
Rur

  • Mama : "Lagi ngapain nak?" (Mendadak di line sama mama)
  • Saya : "Baru makan ma. Mama ngapain?"
  • Mama : "Mama barusan buka instagrammu. Mama udah denger lagu yg ada di instagrammu."
  • Saya : "Lagu yg mana ma?"
  • Mama : "Yang broery itu nak. Denger itu mama sedih."
  • Saya : "Kenapa sedih mama?"
  • Mama : "Mama inget masa masa lalu mama."
  • Saya dalam hati : (Mampus lo rin, durhaka lo bikin nangis orang tua)
  • Saya : "Jangan sedih sedih ma, arin hapus deh videonya 😂"
  • Mama : "Mama juga buka-buka facebookmu. Kamu masih berteman sama si itu? Itu yg kamu tulis buat dia?"
  • Saya : "Mamaaaa.... kuotanya ntar habis. Mama nonton aja gih gak usah buka-buka sosmed arin."
  • -Ketika mama sudah tahu caranya main facebook, line, dan Instagram. Ruang gerak gak sebebas dulu lagi, posting apapun dikomentarin. Ya Tuhan 😂😂😂-
10

Candi Sambisari. 170117. 

Setelah diwacanai mama untuk makan soto bersama dan dibayarin, akhirnya kita makan soto Bathok berempat dan bayar sendiri sendiri. Sotonya sedikit, kalo kata Avif harusnya makan dua, tapi dia malu sama yang lain kalo mau nambah. Enak sih, tapi jauh banget masa mau makan soto aja ke timur dulu :(

Habis itu ke Candi Sambisari yang hanya ada satu candi terus ada rumput rumput piknik ala GBK. Intinya sih disana mereka yang foto foto dan aku….. jadi porter aja. Sekalian ngeliatin anakanak TK dan gurugurunya yang lagi heboh mau foto.

Laluuuu kita ke Omah Bacirooo! Tempat nongkrong disaat aku udah gatau lagi mau kemana wkwkw.

Tamat.

@thegravel @avifhakim @aldrinfauzan

Perempuan yang Membuatmu Berhenti Mencari

Aku ingin menjadi perempuan yang membuatmu berhenti mencari
Karena saat itu kau yakin, bahwa aku lah yang selama ini kau butuhkan
Aku lah yang selama ini telah ditakdirkanNya untukmu.

Aku ingin menjadi perempuan yang membuatmu berhenti mencari
Seperti sebuah rumah yang di dalamnya terdapat banyak kedamaian dan kehangatan
Seperti sebuah peluk saat hatimu sedang tak keruan
Seperti seseorang yang akan selalu menjadi tempatmu pulang.

-

Pada satu titik dalam hidupmu, izinkan aku menjadi yang satu-satunya
Bukan karena kau sudah lelah dan habis upaya
Namun karena memang kau sudah merasa cukup dan genap
Sehingga kau tak perlu lagi mencari

Karena kau punya aku.
Karena kita telah saling memiliki.

© Tia Setiawati | Palembang, 17 Januari 2017

Tragis

DI suatu desa, hiduplah seorang penulis.
Setiap hari, pekerjaannya menyulam diksi untuk dijadikan sajak-sajak yang indah, juga menyirami halaman yang penuh luka agar tumbuh subur dan berbuah puisi.

Setiap minggu, penulis pergi ke kota untuk menjual hasil sulaman sajaknya dan juga puisi-puisi yang masih segar.
Semua sajak dan puisi, selalu habis dijualnya.
Orang-orang kota selalu menyukai dagangan sang penulis.

Suatu hari, datanglah seorang pembaca.
Katanya, dia ingin sekali mempersunting sang penulis.
Katanya, sudah lama pembaca ini mengaguminya.
Setiap datang ke kota, tidak jarang pembaca membeli sajak dan puisi si penulis.

Penulis tak pernah sebahagia itu. 
Bahkan tak pernah tau, bagaimana rasanya dikagumi.
Penulis pun mengangguk rela.
Ikutlah penulis bersama pembaca.

Sejak saat itu, Penulis tak pernah terlihat lagi,
Tidak di kota, tidak juga di rumahnya.
Sajak-sajak berserakan di lantai rumahnya,
semua luka pun mati dan tak ada satupun puisi yang tumbuh di halaman.

Orang-orang kota merasa kehilangan.
Tak ada lagi sajak yang indah atau puisi yang segar yang biasa dinikmati.

1tahun kemudian, 
Penulis ditemukan mati di tangan pembaca.
Tepatnya di halaman terakhir.
Sembari menopang sang penulis,
Pembaca berbisik lirih di telinganya,

Kau harus mati sayang, kalau tidak, bagaimana puisi-puisimu bisa hidup untuk menghidupiku?”

“Tôi cập nhật trạng thái, đăng ảnh, cũng không muốn phải nói cho ai biết tôi ăn cái gì, tôi làm việc gì, tôi đi với ai, lại càng không muốn khoe mẽ cho ai xem. Mà chính là để một ngày khi tôi già đi, thời điểm nhàn rỗi ngồi sưởi nắng, có thể lấy ra mà xem như nhật kí nhìn lại quãng thời gian đã qua đi, nhớ lại một chút chuyện năm ấy, cùng bạn bè làm rất nhiều việc vui vẻ, nhìn lại chính mình lúc còn trẻ, nhìn lại thanh xuân đã qua và vui vẻ với tuổi già đã đến.!“

Kepada Yang Pernah Begitu Kucintai dan Tak Pernah Mencintaiku

Beberapa hal bisa diusahakan dengan sekuat tenaga, sampai habis daya upaya
Beberapa yang lain, terpaksa harus direlakan demikian adanya
Bukan, bukan karena kau tidak begitu menginginkannya ada dalam genggamanmu
Namun karena kau tak ingin memaksa
Pun karena kau tahu, bahagianya bukan kau.

Aku tahu, sudah sejak lama kau tahu dan paham betapa aku mencintaimu. Betapa aku ingin kau jadi milikku. Betapa aku rela mengorbankan apapun, demi kau. Aku tahu, kau tahu. Sayangnya, rasa tahumu tidak cukup membuatmu berusaha mencintaiku juga.

Bertahun-tahun kita bersama. Tentu saja, hanya sebagai teman dekat. Kutemani kau, saat kau butuh. Kutolong kau, kapanpun kau butuh bantuan. Kulakukan segala hal, agar kau selalu tersenyum. Namun sama saja. Tak ada satu hal dari itu semua, yang cukup menjadi alasan agar kau mencintaiku, atau setidaknya menyukaiku sebagai lebih dari seorang teman.

Kau tahu, aku seringkali merasa begitu nyeri. Saat mendengar semua ceritamu tentang dia, dia, dan dia. Entah sudah berapa dia yang singgah dalam hidupmu. Entah sudah berapa air mata kau buang percuma, untuk dia yang bisa kupastikan, tidak secinta itu padamu. Cinta mereka semua, tidak akan sebesar cintaku padamu.

Aku sadar secara penuh, bahwa akan ada saatnya aku terpaksa harus berhenti mencintaimu sedalam ini. Merelakan kau hidup dan menikah dengan yang lain. Menyaksikan sendiri luka hatiku, bahwa rasa sedalam ini harus tersia-siakan hanya karena kita tidak ditakdirkan bersama.

Kau tentu saja tak perlu tahu, berapa kali aku mengutuk takdir. Karena nampaknya, sekuat apapun usahaku, kau tetap tidak akan membalas perasaanku. Rasanya, dunia dan seisinya menjadi begitu kejam.

Sekarang setelah kulihat kau hidup bahagia dengannya, menggandeng tangan-tangan mungil dan tanpa dosa bersamanya, aku tahu kekejaman itu mungkin kuciptakan sendiri. Meski tentu saja, pada awalnya, bukan aku yang menghendaki hatiku jatuh terlalu dalam padamu; orang yang kucintai dan tidak pernah mencintaiku.

Bukankah seharusnya, sudah sejak lama aku pergi? Menatap hidupku sendiri. Membuka hati untuk dia yang baru. Dan merelakanmu bahagia dengan siapapun pilihanmu.

-

Tia Setiawati | Palembang, 13 Januari 2017

Makna bertahan

Teruntuk kamu , pria yang tak sempurna
Tahukah kamu, dalam perjalananku sebelum bertemu denganmu, aku menemukan mereka yang berparas rupawan, yang telah mapan, yang jauh lebih dermawan bahkan mereka yang dikategorikan lelaki idaman.
Lalu, aku bertemu denganmu, jangan marah, kamu memang tidak rupawan, kamu juga belum mapan, kamu tidak begitu dermawan, dan kamu memang bukanlah lelaki idaman.
Kamu jauh dari sempurna.
Jangan cemberut seperti itu, aku bersyukur bahwa kamu tidak begitu sempurna, hingga aku tahu bahwa Tuhan memberi aku kesempatan untuk melengkapimu.
Aku tak perlu seorang pria yang begitu rupawan, hingga waktuku akan habis hanya untuk rasa kecemburuan.
Aku tak perlu seorang pria yang mapan, karena aku ingin menemani setiap perjuanganmu untuk jadi mapan.
Aku tak perlu seorang pria yang menjadi dermawan, karena aku ingin kita berubah menjadi baik dalam kebersamaan.
Aku tak perlu seorang pria yang idaman, karena aku sendiri seorang wanita dengan banyak ketidaksempurnaan.
Pada setiap marah, setiap pengkhianatan, setiap kesulitan, setiap ketidak pedulian, setiap kesedihan, setiap kegagalan, setiap permasalahan, dan setiap segala hal yang mengguncang hubungan, aku memilih bertahan.
Bahwa denganmu, aku rasa bahwa tak terpikir sedikit pun ingin meninggalkan.
Tak ada hal yang bisa aku janjikan, namun untuk tak meninggalkanmu, aku akan bertahan.
Aku berharap kamu juga akan bertahan bersama seorang wanita yang penuh ketidaksempurnaan ini.

_Sangat ilmiyah_ 🙂👇

*Membaca Al Quran tidak akan mengurangi waktumu. Justru sebaliknya, ia akan menambah waktumu*

Secara hitungan matematika dunia, membaca Al Quran tampak seakan-akan mengurangi waktu. Dari total 24 jam dalam sehari, seolah-olah berkurang sekian detik, sekian menit atau sekian jam jika digunakan untuk membaca Al Quran.

Tapi, tahukah bahwa waktu yang kita gunakan untuk membaca Al Quran itu sebenarnya tidak hilang begitu saja. Ia akan diganti oleh Alloh dengan keberkahan yang berlipat ganda.

Apa itu keberkahan?

Keberkahan artinya pertambahan dan pertumbuhan. Wujudnya bisa bermacam-macam. Misalnya, pekerjaan beres, produktivitas meningkat, keuntungan bertambah, kesehatan terjaga dan seterusnya.

Itu adalah wujud keberkahan yang akan diperoleh oleh orang yang membaca Al Quran.

Pernahkah mendengar tentang orang yang stress? Atau orang yang sedang kebingungan mencari inspirasi? Atau orang yang kesulitan menyelesaikan pekerjaannya? Atau orang yang waktunya habis sia-sia tanpa produktivitas?

Itu adalah bentuk-bentuk kehilangan umur yang disebabkan tidak berkahnya waktu.

Tahukah bahwa dahulu para ulama bisa menulis karya-karya agung yang jumlahnya melebihi bilangan umur mereka? Padahal saat itu belum ada mesin ketik, apalagi komputer. Semuanya ditulis manual dengan tangan dan peralatan yang sangat sederhana, ditambah kondisi yang lebih sulit daripada kondisi sekarang.

Mengapa mereka bisa? Jawabnya karena waktu mereka penuh berkah.

Dari mana keberkahan itu? Jawabnya dari membaca Al Quran.

“Perbanyaklah membaca Al Quran. Jangan kita tinggalkan. Karena kemudahan yang akan kita peroleh akan berbanding lurus dengan kadar yang kita baca.

*Jangan membaca Al Quran di waktu luangmu, tapi luangkanlah waktumu untuk membaca Al Quran*.

Semoga bermanfaat
Semangat ngeJuz
Yuk Tilawah

Selamat Ulang Tahun Anggun

Hidup

adalah perihal perjanan

mendongak lah agar harapan harapan kelak tetap menyala

berjinjit dan berjalan agar kau menikmati setiap detik yg habis

lalu menengoklah kebelakang

agar makna dari sekian purba

bisa kau syukuri sedalam dalam nya

selamat ulang tahun nona…

semoga syukur dan doa tetap jadi kado paling indah…

@sitjiwothejo

Jangan pernah kau tanggalkan iman mu

Cukup dosa dan aib yang kau gantung bersama sajadah

Dan jangan bosan memungut rahmat-Nya meski kau beranjak dewasa

@rcipta

lihatlah langit sedang memandangmu

wajahnya tak terlihat muram

sebab ia ingin menyinari sisi gelap pada umurmu yang semakin berkurang

dan ketika ia berbalik, punggungnya berpesan berbahagialah

@es-kacang-merah

karmina untuk anggun

maka datanglah di awal tahun

maka tercurah kesehatan rejeki bertambun

maka tengadahkan wajahmu

semoga ridho tuhan selalu menyertaimu

@aininnajib

mohon bersabar

bertambah umur berkurang ukur

semoga makin lapang

macam angan yang melayang

@lusiapp

dalamnya semesta

tak sebanding dengan usia

selamat menua

semoga berkah

@agakdalam


cc: @bajakata

Kelas Puisi Regional Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara

Languages (Damian Wayne Imagine)

Requested: Yes
Request:   Can I get a damian x mexican reader please? Maybe them talking in each others language? 
Summary: Dami and s/o speak to each other in the others mother tongue. 
Word count: 175
Warning(s): fluff

You two were just lying in bed, enjoying each others company. Your hand were in his hair as his fingers roamed your body, his touches are feather light.  “Tu eres muy bella”  Damian said, stuttering ever so slightly, a warm smile smile grazing over your face.

“shukra, haby, ‘ant wasim” You attempt to answer back, but you’re pretty sure you butchered it beyond belief.

Damian smiles warmly, kissing your head. You two had decided to learn each others languages to respect each other’s culture and background , plus it’s super fun to mess with friends and family. 

Damian was kissing you all over your face, as you slowly came back from memory lane, little giggles escaping your lungs. 

“porque eres tan despistada?” Damian says, placing a final kiss on the tip of your nose. “hatta 'ant” You answer back, scrunching your nose. Damian begins to laugh a true, low, happy laugh.

Even though you both had a thick accent in each others languages, you both couldn’t be more proud of the other for learning it.


Translations for the arabic:
  shukra, haby, 'ant wasim - Thank you, my love, you are handsome
hatta 'ant  - So are you

SUPER THANKS TO @kryptolipsx for helping me with the spanish!

Masterlist
Ask

With love,
-K

UAS

Alhamdulillah atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, minggu kemarin saya baru saja menyelesaikan UAS semester 5 dengan lancar mumet. Momen yang paling saya tunggu. Mencari waktu untuk mengejar ketertinggalan kemarin-kemarin. Soalnya banyak waktu sia-sia cuma buat ngeluh. Dan akhirnya nyesal. Padahal banyak yang harus dikerjakan. Padahal banyak tanggung jawab-tanggung jawab yang belum terpenuhi. Parah bet ih. :((

Ada makul yang sangat siap. Ada pula makul yang sama sekali tidak siap dan sengaja buat ndak mempersiapkan diri. Malah dibuat baca novel-novel dan buku nonfiksi yang bikin imajinasi merayap kemana-mana. Yagimana habisnya mumpung dipinjemin bukunya, yasuda dibaca sampai habis meskipun UAS. Yang punya buku malah belum sama sekali nyentuh. Hahaha.

Kebetulan saya nulis ini sehabis piket rutin dipondok. Dan didalam piket itu saya tafakkur abis-abisan tentang UAS kemarin. Mungkin karena sangking ngerinya semester ini kali ya. Jadi kepikiran terus. huhuhu.

Jadi gini. Kalo misalkan kemarin saya mempersiapkan matang-matang materi-materi UAS dari setiap makul yang ada. Ya semacam saya melakukan semua hal yang dosen saya inginkan. Seperti: mendengarkan dengan baik materi-materi yang disampaikan dari setiap dosen pada tiap pertemuannya, mencatat hal-hal yang sekiranya penting untuk dicatat, mengerjakan tugas dengan baik, rajin-rajin masuk kuliah dan juga belajar dengan tekun ketika masuk masa-masa ujian.

Maka. Pertanyaannya adalah. Kalo misal saya melaksanakan hal-hal diatas dengan baik, terus datang masa-masa ujian, kira-kira saya merasa tenang atau grusa-grusu kalo mengerjakan? Kira-kira saya nyantai atau keburu-buru kalo mengerjakan? Nah, nyantai kan? Tenang kan?

Beda kalau misal saya jarang dengerin dosen waktu menyampaikan materi, saya ndak mencatat hal-hal penting yang dijelasin dosen, saya suka bolos, pun saya ndak mempersiapkan materi ujian dengan baik ketika masa UAS datang. Pasti waktu mengerjakannya saya grusa-grusu, nggak karuan, pengennya cepet selesai aja. Wes embuh. Wes rakaru-karuan pokoknya. Tul ndak?

Sebetulnya ini ndak cuma waktu UAS doang sih, kalo misal ada kuis mendadak misalnya. Kalo jauh-jauh hari udah persiapin materi dengan baik, maka tenang dan tentram waktu ngerjainnya.

Sama. Sama kayak kita waktu mendapat ujian dari Allah. kalo kita nyiapin diri dengan baik. Seperti banyak-banyak menambah ilmu agama. Banyak-banyak belajar akhlak. Membersihkan hati dari semua sifat buruk. Rajin-rajin mengunjungi Allah disepertiga malam. Rajin-rajin membaca Qur’an. Rajin ikut kajian-kajian rutin. Rajin mendatangi majelis-majelis ilmu.

Maka.. ketika sudah datang ujian dari Allah, ngerjainnya pasti akan dengan tenang. Nggak grusa grusu. Nyantai. Pasti. Dan tetap berkualitas.

Beda kalau kita sebelum-sebelumnya ndak pernah mempersiapkan materi uji. Ya kalo kita ndak pernah mempersiapkan materi uji terus tiba-tiba datang ujian dari Allah? Semacam mahasiswa yang tiba-tiba ada kuis dari dosen tapi malemnya ndak belajar. Yak opo? Gimana jal? Mesti ngerjainnya grusa-grusu, pengen cepet cepet aja, pengen udahan aja terus keluar dari ruangan. Ngawur wae wes pokoke lek ngerjain. Hahaha.

Padahal mah ujian dari Allah itu udah pasti. Enggak mungkin enggak. Harusnya kan kita juga harus sudah pasti juga nyiapin materinya. Kalo enggak gitu pasti kethetheran yakan. Huhuhu.

Berarti kalau misal kita diuji sama Allah, kita nyalah-nyalahin Allah garagara katanya enggak kuat memikul beban ujian, kayaknya kita yang perlu muhasabah. Ngaca baik-baik. Perhatiin setiap jengkal wajah. Apakah kita udah nyiapin materi uji dengan baik selama ini? Apakah kita rajin baca Qur’an? Apakah kita rajin bertamu disepertiga malam kepadaNya? Apakah kita rajin mendatangi majelis-majelis ilmu?

Well, SELAMAT MEMPERSIAPKAN MATERI UJIAN DENGAN BAIK!

ke-jaya-an

Aku takpaham kenapa bila seseorang tu dah habiskan pengajian dan grad, semorang akan cakap “Tahniah, dah berjaya.”


Memang kalau dah habis belajar and daapt degree, memang tu tanda berjaya ke? Entah entah orang tu heartless gila belajar pulun empat lima tahun hanya sebab taknak mak ayah kecewa sebab mak ayah yang nak  dia belajar oversea/sesuatu course tu atau sebab taknak biasiswa kena tarik, so tak drop dan teruskan study macam nak gila untuk exam sampai grad. Dan bazirkan empat lima tahun jugak untuk benda yang tak minat. 


Sapa entah definisikan kejayaan nih. Meh aku nak cepuk kepala dia.

Think As Muslim

“Kamu tahu? Di Libanon, Guru Kristen juga disebut Ustadz. Salam mereka juga Assalamualaikum”

“Di Jawa salam kami “Kulo nuwun” habis Assalamualaikum. Kami tidak mengenal istilah ustadz. Kami kenal istilah “Kyai”. Teman saya yang sunda mungkin menyebut Ajeungan”

Memutuskan untuk menjadi seorang muslim berarti memutuskan untuk berislam seutuhnya juga memutuskan untuk terus menerus belajar tentang Islam. Utuh dalam artian kita tidak sekedar memandang islam sebagai hukum tetapi juga dakwah dan upaya paling maslahat dalam menerapkan hukum tersebut dalam skala yang lebih besar. 

Sebab tanpa pemahaman yang utuh, akan terjadi kesalahpahaman yang ujungnya menjadi konflik sesama muslim sendiri. Setiap saya berbicara tentang penerapan islam dalam skala negara, yang selalu terbayang oleh lawan bicara saya cuma perkara Qishash, penggantian Pancasila atau “Pergi ke Arab aja”. 

Saya nggak tahu bagaimana semua ini bermula. Yang pasti tiap kali berbicara tentang islam, saya ngerasa seperti monster yang siap meng-arab-kan Indonesia. 

Percakapan yang saya tulis di awal tadi adalah percakapan saya dengan salah satu staff Konsulat Jenderal AS ketika zaman mahasiswa dulu saya sering diundang makan siang kesana untuk mengikuti beberapa program. Saya jadi bertanya-tanya apakah ketika saya berusaha menerapkan islam, endingnya semua menyangka kalau saya sedang belajar menjadi Arab?

Seolah kami disuruh menerima logika bahwa Islam adalah produk budaya arab. Padahal ketika kita berbicara soal budaya arab, kita mestinya merujuk budaya sebelum Islam datang. Dimana di dalamnya orang mengenal budak dan majikan, mengenal poliandri, dan banyak konsep-konsep yang membuat kita mengelus dada (FYI: baca shirah Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury).

Sewaktu saya membaca novel Kedai 1001 Mimpi nya Valiant Budi Yogi, temen saya nanya:

“Kamu nggak marah? Arab dijelekin di novel itu?”

“Kenapa nanya gitu?”

“Biasanya Islam itu fanatik sama Arab kan. Jadi nggak bisa nerima kalo di Arab sana ada jeleknya”

Dalam shirah, Abu Jahal dan Abu lahab itu orang arab, kita tahu jahilnya seperti apa. Di era daulah bani Umayyah, kita juga mengenal Al Hajjaj bin Yusuf yang seperti apa. Islam adalah petunjuk yang diberikan oleh Allah. Islam bukan budaya arab melainkan mewarnai budaya arab dengan ajarannya. Maka di kemudian hari bila warna yang ada dalam budaya itu luntur, tidak menutup kemungkinan arab menjadi jahiliyah lagi. Dan kami sebagai muslim mengerti akan hal itu.

Dangkal sekali bila ada yang mengira bahwa belajar berpikir sebagai seorang muslim berarti berlaku sebagaimana orang-orang arab zaman sekarang berlaku. Kami belajar dari Rasulullah dan para sahabat tanpa memandang dari dari suku apa mereka berasal. Sebab islam mengenalkan konsep bahwa semua orang sama di sisi Allah kecuali dalam hal taqwa. Maka orang bertaqwa dari bangsa manapun akan kami ikuti.

Dan kami juga tidak diajarkan manusia dengan memandang gelarnya. Ustadz atau bukan, bila ia mumpuni untuk menjadi ulama, kami akan belajar darinya.

Kita masih punya banyak hutang untuk mengenal agama kita sendiri. Maka jangan mudah terbawa logika-logika yang membuat kita bingung. Kita menjadi arab? atau menjadi islam? Kita sedang belajar menjadi rohis? atau menjadi teroris?

Islam adalah islam. Tak perlu label radikal, liberal, fundamental, dan yang lain sebagainya.

Jadi semalam ceritanya habis nyumet westworld sampai habis. Sewaktu bangun tidur tadi tetiba kepikiran, manusia sendiri sebenernya juga berada dalam situasi yang berulang-ulang. Sama dengan yang dialami para host di westworld.

Pertanyaannya, para host itu aja akhirnya sadar kalo berada dalam situasi looping yang ngono-ngono ae, dan akhirnya bisa menemukan kesadaran untuk memberontak dan menentukan keinginan mereka sendiri. Nah manusia sendiri, kadang malah menikmati dirinya dalam keadaan yang ngene-ngene ae, malah menikmati terjebak di dalamnya dengan dalih “ini nyaman bagiku kok, yawes, mau cari apa lagi”.

Hara, mau cari apa lagi?