h-06

░ ✩ ❝ * UNDER THE CUT YOU WILL FIND 57 71 LABELS !!

i got asked by a lovely anon to do a masterlist of character labels – and so that’s just what i’m going to do today !! they will be sorted out by: personality, hobbies, lifestyle and misc. ( there’s a small description of each label ) PLEASE LIKE/REBLOG IF THIS IS HELPFUL

UPDATED: 02/06/17

Keep reading

#10: Lillah

Katanya, nggak apa-apa lelah asal lillah. Padahal jika sesuatu itu lillah, ‘nggak ada’ kata lelah.

Kalau kata teh @jagungrebus: “Bukan sekedar keep fight, tapi keep faith yang lebih utama. Sebab iman akan membawa kepada perjuangan yang tak akan sia-sia.”

Karena memang benar, kunci utama yang membedakan antara pejuang yang satu dengan yang lain adalah ketaqwaannya. Orang-orang yang selalu melibatkan Allah untuk setiap langkah hidupnya dan keridhoan Allah menjadi tujuannya, tidak akan pernah merasa lelah. Karena dia tau, bahwa perjuangannya tidak akan pernah sia-sia.

Saya terkadang suka bertanya kepada diri, “sebenarnya apa sih yang kamu cari dengan melakukan semua ini?” karena sering kali kita terjebak dalam rutinitas yang selama ini kita tidak ketahui maknanya untuk apa dilakukan, atau mungkin bisa dikatakan; suka lupa menata tujuan, jadi wajar jika sering kebingungan.

Kalau kita sering ngeluh sama keadaan, suka males-malesan, menunda atau kurang semangat dalam perjuangan, coba cek tujuannya. Coba cek niatnya. Sudahkah sesuai dengan jalurnya? Sudahkah sesuai jalanNya? Mungkin aja belum sinkron antara hati dan jasmaninya, belum sinkron antara niat dan amalnya. Atau yang paling penting apakah semua ini sudah karenaNya?

Bandung, 14 Ramadhan 1438 H (09/06)
©Thalhah S. Robbani

22.

Berkata Syaikh Shalih bin Sa’ad as-Suhaimi :

“Sungguh saya sangat sedih tatkala ketika membaca ucapan Ibnu Utsaimin rahimahullah:


“Apabila engkau memandang dirimu malas dalam
melaksanakan ketaatan (kepada Allah), maka hati-hatilah !! KEMUNGKINAN ALLAH TIDAK SUKA
KETAATANMU”

- Allahumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa'fu anni -

22 Ramadhan 1438 H || 17.06.17 || ©andromeda nisa’

تقبل الله منا و منكم

Teruntuk Dirimu

Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah doa semoga Allah senantiasa mencurahkan berkah dan bahagia untuk kita semua. 

Seperti layaknya momentum di hari raya, saya juga ingin meminta maaf untuk segala tulisan maupun kutipan yang tidak menyenangkan, untuk setiap kata yang melukai perasaan, dan untuk semua kalimat yang harus diluruskan. Semoga terbuka maaf untuk banyak kekhilafan yang saya lakukan.

Semoga saya bisa lebih baik lagi dalam mendalami ilmu, dalam menyampaikan pemahaman, dalam mengingatkan, dan dalam memaknai setiap pembelajaran serta hikmah kehidupan.

Semoga nanti kita bisa bertemu tidak hanya di maya, tapi juga di bumi cintaNya. Namun, jika kita tidak juga dapat bersua di dunia, (semoga) nanti kita besama dan bertemu di jannahNya ya. 

Tapi, khusus tentang itu, saya titip pesan ya kawan. Jika nanti dirimu tidak menemukan kehadiranku di surgaNya, tolong… tolong ingatkan Allah bahwa saya pernah berusaha berbagi kebaikan dengan kalian ya di sini, pernah berusaha saling mengingatkan tentangNya pula di lini masa Tumblr ini. Sungguh, titip pesan ini baik-baik ya! 😢

Semoga Allah mendengar setiap bisikan doa-doa kita. Dan berkenan memaafkan kita. 

Dariku yang memohon doa dan maaf,
Thalhah Syahidulhaq Robbani

Bandung, 1 Syawal 1438 H (25/06)
Eid Mubarak!

Pada hari kiamat ada sehari yang seperti 50.000 tahun. Barangkali lama berdiri di shalat malam dan dahaga puasa bermanfaat untukmu pada hari itu.
— 

Ustadz Dzulqarnain M. Sunusi

Kalau bukan karna cinta, lantas karna apa semua ini Ya Allah.

Kalau bukan karna hanya ingin Kau ridhai, lantas karna apa lagi semua ini Ya Allah.

Maaf, ampunan dan ridha Mu saja yang kami tuju. Ampuni kami, ampuni kami. Rahmati kami, rahmati kami. Ridhoi kami, ridhoilah kami, Allah..

‘Allahumma innaka 'afuwun tuhibbul 'afwa fa'fu anni..

Penghujung Ramadhan || 24 Ramadhan 1438 H || 19.06.17 || ©andromeda nisa’

Cinta?

Dalam prespektif saya, cinta itu sejatinya adalah kata kerja. Sebuah proses perjuangan dan sebuah perjalanan. Karena cinta tak bisa hanya terucap lewat lisan atau tersurat lewat tulisan saja, bukan? Ia musti terejawantahkan dalam sikap, laku, dan perbuatan.

Dan kita semua sepakat, tidak ada cinta tanpa pengorbanan dan perjuangan. Seperti halnya ketika kita mencintai Rabb kita. Juga pada cinta kita kepada rasulNya‎. 

Adakah disini yang mengaku cinta kepada Rabb-nya tapi tak membuktikannya dengan berjuang menjalankan perintahNya? Dan adakah disini yang mengatakan cinta kepada rasulNya tapi tak bershalawat dan menjalankan sunnahNya?

Kita nggak cukup hanya mengatakan beriman kepada Allah dan mencintaiNya. Semua itu kudu dibuktikan dengan keimanan dan ketaqwaan. Dan di balik semua itu, ada keistiqomahan yang harus dijaga dalam menjalani proses perjalanan panjang menyemai cinta. Cinta yang harus terus hidup. 

Lalu, sampai kapan? Sampai Allah mengatakan kepada kita; Saatnya untuk ‘pulang’.

Dan tentu saja cinta sejati itu adalah cinta yang bermuara kepada Allah S.W.T saja. Jika ada cinta yang tidak karenaNya, apalah artinya? Sungguh ironis ketika kita mampu begitu mencintai ciptaanNya dibandingkan dengan Sang Penciptanya.

Apalah arti memiliki cinta, jika Dzat Yang Maha Cinta tidak mencintai kita?
Karena segala cinta yang disandarkan hanya kepadaNya, tidak akan pernah berakhir dengan rasa kecewa.

Wallahu alam.

Bandung, 19 Ramadhan 1438 H (14/06)
©Thalhah S. Robbani

#7: Kehilangan

Kita sepakat, kehilangan adalah salah satu bagian terberat dalam momentum hidup setiap orang. Walau kita tahu sebenarnya kehilangan hanyalah makna lain dari pengambilan kembali atas sesuatu yang dititipkan oleh Tuhan, tetap saja rasa itu tidak penah bisa dinafikkan. 

Hingga pengingat tentang; apapun di dunia memang tidak ada yang pernah benar-benar dimiliki, terus didengungkan. Manusia tetap saja dengan kelemahanya akan merasakan kehilangan.

Namun, sebagaimanapun dituliskan tentang dalamnya rasa kehilangan. Makna kehilangan tetap saja hanya dapat dirasakan untuk mereka yang mengalaminya. Dan dari semua rasa kehilangan yang ada di dalam kehidupan, kehilangan cinta dan doa adalah kehilangan yang paling menyakitkan. Bukan tentang cinta yang penuh kebohongan, apalagi euforia fana perasaan. Tetapi, sebuah cinta dan doa tulus dari salah satu malaikat yang menyimpan pintu surgamu; ibu. 

Dan kehilangannya akan membuatmu sejak saat itu menjalani hidup yang tidak lagi pernah sama.

2 Juni 2016
Hari ini genap setahun saya kehilangan sosok ummi.

Allah dengan segala KebaikanNya memulangkan ummi saya tepat sehari setelah tanggal yang sama ketika ummi melahirkan saya. Sepertinya Allah begitu peduli hingga memilih hari tersebut sebagai pengingat selalu kepada saya; bahwa hidupmu hanya cerita narasi singkat di atas tanah.

Lalu, dari setiap titipan yang dipercayakan Allah, akan selalu terselip sebuah pesan hikmah dan oase pembelajaran untuk jiwa. Ini hanya masalah waktu untuk menemukan pesannya. Namun setidaknya, akan selalu ada perihal sabar dan kesyukuran dalam setiap pemberianNya. Seperti kesyukuran akan kesempatan hidup yang cukup bersama malaikat dunia yang nyata.

Mengingatnya kembali, sering membawa saya merasakan hal yang paling membekas terasa ketika beliau masih membersamai saya. Namun, bukan saja karena kenangan bahagia yang pernah di buat, perhatian yang diberikan ataupun kebahagiaan hidup yang dihadirkan. Tetapi tentang hilangnya salah satu keridhoan dunia-akhirat yang saya miliki, tentang hilangnya salah satu pintu surga yang hidup di keluarga kami. Kehilangan ummi adalah kesedihan akan kehilangan keridhoan darinya, yang tentu saja merupakan keridhoanNya.

Apalah makna dari semua hidup yang dinikmati jika tidak ada segenggam pun keridhoan dari Allah yang mengiringi? Ketahuilah, hanyalah orang tua kita yang memiliki sebuah keistimewaan langsung untuk mencapai ridhoNya.

Dan tidak ada kehilangan yang paling pedih selain kehilangan keridhoanNya.

Bandung, 07 Ramadhan 1438 H (02/06)
©Thalhah S. Robbani

di penghujung jumat sore ini..

Di penghujung jumat sore ini, ada sekumpulan pemuda yang rela menyisihkan hampir seluruh masa ramadhannya untuk melayani semua keperluan jamaah setiap harinya.

Di penghujung jumat sore ini, ada mereka yang terjerat rindu menanti kepulangan ke kampung halaman nun jauh di sana.

Mereka yang saat ini masih sibuk menyiapkan makanan berbuka -yang tentu bukan untuk dirinya saja- sambil menekan rasa ingin berbuka bersama keluarga.

Mereka yang saat ini tengah gundah memastikan kedatangan pembicara sebagai pengisi ceramah nanti selepas shalat isya.

Pun ada dari mereka, yang saat ini tengah datang ke rumah-rumah warga membagikan sembako secukupnya yang semoga bisa membantu sebuah keluarga.

Iri terkadang melihat terlelapnya wajah-wajah lelah mereka selepas melayani jamaah yang mungkin Allah kelak akan menggantinya dengan keistimewaan di surgaNya.

Aku di ramadhan kali ini, sepertinya tengah belajar tentang makna pengorbanan dari mereka para pejuang ramadhan kampus yang masih tersisa.

Ada dari mereka yang pulang di saat menjelang hari H, ada yang bercerita baru dapat tiket dan bisa pulang di H+3, lalu ternyata ada pula yang bertahan dan tidak pulang di hari raya karena urusan biaya ataupun perjuangan TA.

Terlepas apapun, kita patut berterimakasih kepada mereka yang tak henti menghidupkan masjid-masjidNya setiap hari. Merekalah kumpulan lentera penerang yang berpendar indah di ramadhan ini.

Ramadhan ini milik Allah, dan Allah sendiri yang akan menjaganya—melalui hamba-hamba terpilihNya. Mungkin kah kita?

Bandung, 28 Ramadhan 1438 H (23/06)

introduction: 17.06.17

h e l l o


I am so happy to be there.tumblr is a really unusual place with endless gleams of inspiration, motivation, and just things that can improve not only the mind but current life too.

It is a crucial step for me.

I want to create the second net-house, full of the most exciting things in the world. so… make a cup of coffee with cinnamon, turn your favorite music on, and just have good minutes with my words and my world too.




► l am 17 years old and l live in the small town on the Crimean peninsula;

► I have already graduated from school and now l am waiting for my exams’ results;

my hobbies are writing, reading, playing the piano & the guitar, studying (especially English and programming);

►  my inspiration is aesthetic of slytherin & ravenclow, endless cups of coffee with cinnamon, smoking on the sunrise, feeling the love inside, perfect handwriting, spending time with my family and the closest friends, watching movies in the dark of the night.

► my purposes for this year:

improving my English level to B2, learning JavaScript on a very good level, reading thirty books, losing ten kilograms.


p.s. 
English is not my native language, but l really want to speak fluently one day. so… sorry for mistakes, that l can make. I am working on it.


L E T ‘ S  S T A R T

2

London, 24-06-1963

H.M. Queen Elizabeth II at Trooping the Colour Ceremony, London

Kedves Gyuri és Eta néni!

Már harmadik napja vagyok Londonban. Az idegen vezetővel autó buszon és magam gyalog keresztül kasul jártam Londont.

Holnap reggel kimegyek a Wembley-be, hiszen tíz éve már (6:3). Nappal megnézem a Brit Múzemumot és este kimegyek a Wimbledonba, ahol a tenisz meccsek kezdődnek.

Kedden reggel utazok Frankfurtba.

#6: Ketidaktahuan

Semakin kita tahu, maka semakin kita tahu bahwa banyak yang kita tidak tahu

Perkataan ini pertama kali saya dengar saat saya masih SMP, dan hingga sekarang perkataan itu selalu teringat ketika saya memahami suatu hal yang baru.

Sambil melihat hidup beberapa tahun kebelakang, terkadang saya suka tersenyum atas kelucuan-kelucuan hidup yang pernah saya lakukan. Sumbernya sederhana, ketidaktahuan. Mulai dari keputusan-keputusan yang tidak dibarengi analisis panjang, perkataan yang tak memiliki sumber jelas dan mendasar, atau debat kusir diatas ilmu yang dangkal. 

Akhirnya jadi kepikiran, kalau problema-problema hidup ini, terutama masalah hubungan kita dengan teman kita, itu salah satunya disebabkan oleh ketidaktahuan yang kita miliki. Miss communication, pundung fii Sabilillah, atau hal-hal semacamnya mungkin saja bersumber dari ketidaktahuan antara satu dengan yang lain. 

Termasuk juga tentang hal-hal yang suka sekali kita perdebatkan. Jangan-jangan, hal-hal yang masih saja kita perdebatkan saat ini dikarenakan kurangnya kapasitas dan cakupan pemahaman kita terhadap ilmu yang kita miliki. Dan itu berarti tandanya kita harus lebih banyak belajar kembali. Atau jika memang merasa teman kita tidak mengetahui yang sebenarnya, maka tugas kita memberi tahu kepadanya.

Salah satunya adalah tentang pengakuan Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia. Beberapa orang mungkin telah mengetahui sebelumnya. Tapi, sepertinya asyik untuk mengingatnya lagi. Coba ingat kembali, kapan terakhir kita membantu atau setidaknya mendoakan saudara-saudara kita yang tengah berjuang di Palestina? Padahal dulu merekalah negara pertama yang mengakui akan kemerdekaan tanah air kita.

Penting nggak sih untuk tau? Tentu penting. Lebih penting lagi untuk kita tau bahwa salah satu alasan mereka melakukan itu adalah atas dasar persaudaraan Islam. Dan sekarang lihatlah bagaimana sikap balasan kita sebagai seorang muslim atas persaudaraan yang mereka berikan?

Mereka tidak meminta banyak, pun mereka tidak pernah meminta kita untuk berjuang bersama di sana. Hanya doa dan kesadaran dari kita yang mereka minta untuk mengerti bahwa; saudaramu di sana (sungguh) tidak sedang baik-baik saja.

Kalau dipikir-pikir, mungkin mereka yang selalu meneriakkan perjuangan tentang pembebasan Palestina ini bukan karena nggak ada kerjaan, fanatik kebablasan, atau tidak peduli dengan urusan yang di dalam. Tetapi mereka mengambil satu langkah penyadaran yang orang-orang lain tidak tahu dan tidak tersadarkan.

Dan mungkin merekalah yang ingin berbalas budi mengembalikan kembali makna perjuangan—persaudaraan yang telah dititipkan rakyat Palestina 72 tahun silam. 


Sungguh, ini bukan tentang cerita yang harus aku tau sendiri, kawan. Ini juga tentang kamu, tentang kita. Termasuk cerita mereka yang hari ini sedang berjuang di sisi tanah bumi yang diberkahi di sana. Dan kamu harus mengetahuinya.

Sebuah hadiah apresiasi dariku, untuk teman-teman pejuang Untold Story.

Bandung, 06 Ramadhan 1438 H (01/06)
©Thalhah S. Robbani