gudangs

Buku, Melukismu

“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”
-Mohammad Hatta

Selamat Hari Buku Sedunia, 23 April 2017

***

“We read to know we’re not alone", kita membaca agar kita tahu bahwa kita tak sendiri. Ada orang yang menumpahkan rasanya di lembarnya. Ada yang menawarkan ide dan solusi, ada yang memberikanmu satu kesadaran bahwa di belahan dunia sama ada manusia yang punya kehidupan yang tak seindah kau nikmati. Ia, apa adanya, keluar dari hati dan pikiran, memberitahumu bahwa hidupmu tak sesederhana yang kau tahu.

Buku, melukismu.

“Sometimes you read a book so special that you want to carry it around with you for months after you’ve finished just to stay near it.” Pernah kau rasakannya? Buku yang telah kau baca, tapi masih saja kau ingin menggamitnya, membawanya kemana-mana. Sebab kau tahu, setiap kali kau baca, ada saja makna baru yang tak sama seperti kau baca kali pertama. Atau bisa saja, ketika kamu asal membuka halamannya, ada satu tulisan yang cocok dengan keadaanmu saat itu. Kalau kamu pecinta buku, kamu pasti pernah mengalaminya.

Buku, melukismu.

“If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else is thinking.” Jika kamu hanya membaca buku-buku yang orang lain juga membacanya, kamu hanya akan berfikir sama sebagaimana orang kebanyakan berfikir. Carilah buku-buku baru, kembangkan daya jangkaumu. Kadang bahkan, buku-buku yang dijual di cuci gudang adalah permata mahal yang sulit dicari. Orang-orang hanya mencari best seller yang sesuai trendnya. Kalau terus begini, kapan kita buka cakawala berfikir kita lebih luas?

"There is no friend as loyal as a book.”
Selamat Hari Buku Sedunia. Tidak ada teman yang lebih setia dari buku. Setiap lembarnya ada kesegaran baru, warna baru, yang bukan tidak mungkin akan mengubah arah hidupmu. “Seseorang akan sama saja beberapa tahun kedepan, kecuali ia berubah; dengan buku yang ia baca, dan orang-orang yang ia temui.”

@edgarhamas

Perempuan serupa gudang misteri. Tak perlu susah-susah berusaha hingga jungkir balik hanya untuk mengerti dan memahaminya. Cukup dengan tidak menyakitinya saja, dia akan menyayangimu selama-lamanya
Perjuangan Sebutir Kurma

Salah satu buah yang berlimpah di bulan Ramadhan adalah kurma. Bisa dibilang ini salah satu menu spesial dalam berbuka puasa.

Tapi pernahkah kita renungkan bagaimana perjuangan sebutir kurma hingga tiba di lambung kita?

Kurma yang kita santap saat berbuka, bisa jadi datang dari negara jauh di timur tengah. Dia harus melewati jarak beribu-ribu kilometer untuk sampai ke kita. Melewati bea cukai, gudang importir, pedagang besar, pedagang kecil, hingga ke toko2 herbal yang menjual kurma. Kemudian kurma itu dibeli oleh ibu kita yang baik hati, dan menyajikannya dalam menu berbuka yang amat spesial.

Maka benarlah kata orang-orang saleh terdahulu, “Pengorbanan rezekimu untuk sampai kepadamu bisa jadi jauh lebih berat dari pengorbanananmu untuk mendapatkannya.”

Ramadhan adalah waktu yang baik untuk mempertajam rasa yakin kepada Allah. Sungguh tak akan wafat seorang hamba sebelum seluruh rezekinya sampai kepadanya.

Rezeki sudah dibagi, mati adalah pasti, dan perkara dunia tidaklah pantas membuat seorang mukmin terlalu bersedih hati.

Untuk hal-hal yang sudah dijamin tak perlu terlalu risau, adapun surga atau neraka yang belum tentu kemana kita akan kembali, haruslah lebih ditakutkan dan diperjuangkan dengan sungguh.

“Dan tiada dari segala yang melata di bumi melainkan atas tanggungan Allah-lah rizkinya.” (Q.S Huud: 6)

Sen @SenyumSyukur
Penulis Cinta & Kehilangan
Dan Apa Kabar Rindu

PO masih di buka hingga 5 Juni 2017. Terimakasih buat yg sdh pesan dan transfer 😊😊😊

Ajak teman2 Anda untuk dapat pesan2 seperti ini dengan ketik "mau” spasi “nama” kirim ke no wa ini (0812 8642 7969)

Playing God

Gue baru saja merampungkan tontonan series bertema kedokteran. Ada semacam perasaan iri tidak terdefinisi yang menyerang gue, setiap kali usai menyaksikan gambaran pelayanan dan fasilitas kedokteran dan kesehatan di negara lain.

Disana, mudah sekali melakukan berbagai macam pemeriksaan penunjang yang sesuai gold standard, mudah sekali menemukan obat-obatan dengan kualitas terbaik sesuai perkembangan pengetahuan terbaru, diagnosis hampir selalu tegak dengan tepat, cepat, dan masuk akal. Hampir seperti teori yang diajarkan di buku-buku import yang gue bahkan hanya membacanya lewat ebook, perpustakaan kampus, atau google books karena tidak punya akses untuk membeli versi original.

Disana, menyelamatkan nyawa terasa mudah. Biaya seperti bukan perkara, pun ada yang memperkarakan, sistem asuransi atau jaminan sosialnya sangat rapih dan tidak bertele-tele. Gue dilanda iri luar biasa kalau mengingat ini.

Dalam sebulan terakhir, hampir di setiap sesi night shift gue selalu ada pasien yang meninggal. Gue sampe pernah bilang ke salah satu teman; kayaknya malaikat maut lagi ngikutin aku deh.

Walaupun melihat kematian bukan lagi hal baru dalam hidup gue sejak memulai sekolah kedokteran, tapi melihat kematian nyaris dua kali seminggu dalam satu bulan penuh, terang saja masih membuat gue terhenyak. Apalagi gue melihatnya seperti tahapan step by step dengan mata kepala gue sendiri, mulai dari pasien yang terlihat baik, masih bisa berkomunikasi, lalu kondisinya menurun, memburuk, gawat, sampai akhirnya nafasnya tinggal satu-satu dan kemudian tidak bernapas lagi sama sekali. Seolah gue menyaksikan bagaimana nyawa dicabut dan gue sedang berdampingan dengan si malaikat maut yang mungkin menatap gue dengan jumawa; trying to beat me, uh? you think you can?

Gue tidak bisa tidak membandingkan apa yang gue alami dengan apa yang gue tonton di series atau yang gue baca di artikel-artikel luar. Disana, pasien yang memburuk langsung dapat pertolongan sesuai teori. Fasilitas canggih luar biasa. Pengawasan setiap pasien seperti tugas suci dari langit yang dilakukan segala dan segenap tim yang berjaga saat itu, tidak ada satupun yang lengah atau sekedar leyeh-leyeh menghitung kreditan tupperware. Setiap ada kegawatan yang membutuhkan operasi cito atau segera sekalipun bisa langsung dilakukan.

Sementara di tempat gue bekerja, pada akhirnya ketika pasien diketahui sudah tiba-tiba memburuk kondisinya, dan fasilitas pelayanan sangat terbatas, yang gue andalkan adalah informed consent sebaik-baiknya agar keluarga paham dan bisa menerima. Atau, kalimat andalan yang sering digunakan untuk disampaikan ke keluarga pasien adalah; pak, bu, ini pasien sedang memburuk, bantu dibimbing ya…

Dibimbing. Pake bacaan-bacaan ayat suci.

You know what, hati gue remuk setiap kali mengucapkan kata-kata itu.

Kata-kata itu seperti mengungkapkan kelemahan gue, keterbatasan gue, kepayahan gue untuk mengusahakan yang terbaik. Gue tidak mau menyalahkan sistem, tapi pada akhirnya gue manusia, bukan robot. Kalau umat manusia bisa lebih tinggi harapan hidupnya dengan keberadaan CT Scan, MRI, operasi cito, obat-obatan mumpuni yang tidak harus sesuai cover-an BPJS, kenapa umat manusia yang menjadi pasien yang gue tangani tidak bisa mendapatkan itu?

Sekali waktu, gue mau melakukan resusitasi untuk bayi di bangsal perawatan, tapi kotak yang berisi peralatan pertolongan gawat darurat masih berada di lemari gudang, terkunci, dan tersegel masih baru, belum pernah dipakai. Di waktu lain, disaat gue membutuhkan ambu bag untuk resusitasi pasien sekarat, satu-satunya ambu bag yang tersedia tidak memiliki reservoir bag, yang berarti tidak bisa dipakai. Pada waktu yang lain lagi, ada pasien yang membutuhkan pemeriksaan CT Scan untuk memastikan diagnosisnya, dan keluarga pasien menolak dan memilih membawa pasien pulang karena tidak punya biaya.

Belum lagi rumah sakit-rumah sakit yang hanya fokus pada keuntungan, bukan pada fasilitas, sehingga kebutuhan sederhana pun tidak bisa dipenuhi dan pasien masuk dirawat hanya untuk mengantar nyawa.

Gue berusaha berkali-kali untuk menyalahkan diri sendiri saja, tidak menyalahkan fasilitas, birokrasi, dan keterbatasan-keterbatasan lainnya. Gue berusaha untuk tidak membayangkan wajah malaikat maut yang menatap gue dengan kasihan.

Gue iri setengah mati melihat kematian di luar sana dianggap sebagai penyesalan yang menuntut evaluasi, sementara disini, kematian adalah bagian dari takdir.

Gue bahkan pernah remuk redam ketika mendengar salah satu pasien post operasi BPH yang kesakitan ketika kateternya macet dan sedang di spooling oleh perawat dan senior gue, berkata sambil menangis; ya allah, iya saya banyak dosa, iya ini hukuman buat saya, sakit ya allah, sakit, ampun ya allah, ampun.

Dia harus menyalahkan dirinya sendiri karena kesakitan yang dia alami. Padahal dia bisa mendapat pelayanan yang jauh lebuh baik, manajemen nyeri yang dia dapatkan seharusnya jauh lebih mumpuni, dan pengawasan atas kondisinya harusnya bisa lebih maksimal. Dia harus mengira ini karena salahnya, padahal bukan.

Gue seringkali hanya bisa memandang dengan hati yang hancur, ketika ada pasien yang penyakitnya parah tapi masih berada di rumah sakit tipe B atau C atau rumah sakit pada umumnya di Indonesia. Secara teori, mereka bisa dilakukan a b c d e hingga z, walaupun katakanlah prognosisnya buruk, setidaknya usaha menyelamatkan benar-benar bisa optimal, bukan maksimal. Tapi beraneka keterbatasan hanya membuat mereka berpasrah dan meyakini bahwa kematian adalah kepastian yang tidak bisa dilawan dengan perjuangan.

Gue mungkin terdengar mengeluh. Beberapa dosen gue sering berpesan dulu untuk terbiasa dengan keterbatasan, belajar untuk menghadapi kenyataan yang tidak sesuai gambaran di textbook atau slide-slide kuliah. Gue mungkin terdengar mencari excuse atas ketidakmampuan gue mengandalkan diri sendiri. Tidak apa-apa, gue tidak masalah terdengar seperti apapun.

Gue kadang berpikir, kalau memang pelayanan dan fasilitas kesehatan di Indonesia tidak sebaik itu, kenapa saat kuliah tidak diselipkan materi kuliah khusus dengan SKS terbanyak yang mengajarkan bagaimana melakukan pelayanan kesehatan di negeri ini. Bagaimana menghadapi keluarga pasien, bagaimana berhadapan dengan tim kerja yang tidak kooperatif, bagaimana memanfaatkan alat-alat yang serba terbatas untuk menyelamatkan pasien, bagaimana memanfaatkan BPJS atau asuransi serupa untuk tetap menomorsatukan kehidupan pasien yang layak.

Gue tau, manusia akan mati pada akhirnya. Tapi gue sudah merasakan bagaimana rasanya menyaksikan kematian setelah mengupayakan segalanya, dan kematian yang satu-satunya upaya yang bisa gue lakukan hanya berkata; pak, bu, ini pasien sedang memburuk, bantu dibimbing ya…

Gue pernah diberitahu bahwa seringkali menjadi dokter adalah berada di lapangan untuk bermain-main dengan tuhan. Either pasien itu bakal mati atau tidak, seolah-olah bisa diperjuangkan tim dokter dengan fasilitas dan pelayanan, padahal katanya, segala kuasa hidup mati milik tuhan. Kalau memang sesederhana itu, untuk apa ada dokter dan tim kesehatan lainnya, ya? Biarkan saja tuhan mengendalikan semuanya, toh sakit dan sembuh dia yang beri.

Ah, apapun itu, mari jadi kaya raya, mari menabung, mari bergabung dengan asuransi. Setidaknya jika besok kita masuk rumah sakit dan mati, keluarga di rumah bisa menikmati tabungan kita.

Atau,

mari berusaha tetap sehat.

H-sekian (Surat dari Ayah)

Hari ini, di tengah persiapan yang begitu padat merayap, pagi-pagi sekali Ayah menjadi begitu mellow. Melihat beberapa postingan Mas Gun di facebook, mungkin Ayah tergugah ikut posting. Tidak terlalu panjang, tetapi sudah cukup untuk membuat haru keluar dari tempat persembunyiannya.

Aku ingat ibumu waktu itu, awal Pebruari 1994, di kehamilan muda, pernah jatuh di kamar mandi rumah kontrakan pertama di Jogja, setelah itu kami berdua naik sepeda motor ibumu, ke dokter agar dirimu tetap berada di kandungan. Aku ingat ibumu ingin ayam goreng, aku antar ke ayam goreng itu, tidak mau, ayam goreng lainnya ndak mau, di tengah gerimis hujan ibumu minta ayam goreng di jalan malioboro, kami berdua bersepeda motor. Betapa romantisnya saat itu dikenang, di situlah aku mulai belajar memendam emosi, ya semua emosi pasti terkalahkan oleh cintaku kepada ibumu.

Aku ingat ketika kami berdua ingin beli bantal guling untuk tidur, begitu sampai di toko kasur, kita nanya berapa harga bantal guling sepasang, ternyata uang kami hanya cukup untuk satu saja, bantal atau guling, maka kami memilih guling, karena dengan guling kami bisa mengurangi sakit tidur di kamar tidur yang hanya diisi karpet tipis, menyangga kepala kami berdua.

 Aku ingat, bagaimana sakitnya ibumu menjelang kelahiranmu, dan karena aku tak tahan melihat raut wajah ibumu, aku lebih sering berada di luar kamar bersalin, bahkan ke luar rumah sakit, di jalan, di warung, dan dimanapun sembari aku menghisap rokok kesukaanku waktu itu, gudang garam international. Selain itu aku juga mulai banyak berada di musholla, shalat, berdoa, berzikir, dan merenungi menunggu kemunculan di dunia. Begitu selesai aku shalat di pagi hari itulah, entah shalat apalagi yang aku lakukan, panggilan menjelang, ternyata tangisanmu telah memenuhi ruang persalinan. Tak tahan tangis aku dekati ibumu, di tengah sakitnya, masih menyunggingkan senyum bahagia, Alhamdulillah… Luar biasa ibumu… 27 Agustus 1994, Aji Nur Afifah Al-Hasna, dengan tambahan nama panjang yang engkau juga tetap menyimpannya, Mirrah wa Ad-Din Ash Shaffa… semoga ini adalah doa yang selalu menghampiri dirimu nak…

Akhirnya, setelah 22 tahun, dari hari ketujuh hingga 3 bulan kelahiranmu, Aji Nur Afifah, aku selalu mendekapmu untuk memberikan ketenangan setiap detik, hingga setelah itu engkau makin kuat. Ketika engkau mulai merangkak, tak lama sepertinya, serasa kemarin, di enam bulan umurmu menirukan hewan kesukaan kita dalam cerita kelinci dan kura-kura, maka kita bersama meneriakkan “tua-tua” setelah itulah kita merangkak bersama sambil tertawa…

Ketika engkau sudah mulai belajar mengeja banyak kata, hanya satu kata ternyata yang menyeruak, aku ucapkan sandal engkau bilang “tatam”, aku bilang bakso ini panas, engkau bilang “tatam” pula, aku bilang ayo tidur nak, ambil bantal engkau bilang tatam… Ketika engkau berumur dua tahun, menjelang kelahiran adikmu, engkau mendampingiku seperti layaknya wanita dewasa yang penuh tanggungjawab membantu abahmu di rumah sakit.

Banyak cerita lain yang mengikat kita berdua. Di masa remaja engkau ternyata mengulang sejarah orangtuamua, selalu bergerak menjadi aktivis muda… Ingin membuat dunia cerah secerah duniamu… Di sini pula sepertinya egkau menemukan, kata langit itu bagian dari takdirmu pula, waktu itu aku bahagia luar biasa…

Sekarang, begitu ada sosok laki-laki lain yang ingin mendampingimu menjalani kehidupan, Kurniawan Gunadi, aku seperti lungrah, kata langit inilah takdirmu yang lain, tapi ini lain, membuat semua limbung… Semoga hanya limbung sementara, limbung manusiawi… Hanya ada satu kalimat… “selamat menjalani takdirmu berikutnya anakku, semoga engkau makin kuat menghadapi perjuangan lebih besar, membuat dunia lebih baik”…

Mas, baiknya dibalas apa suratnya Ayah ini?

Malang, 31 Agustus 2016.

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan mengunjungi salah satu pasien lansia, seorang bapak berusia 85 tahun. Sudah semenjak kurang lebih 3 tahun beliau terbaring di tempat tidur karena kontraktur (pemendekan permanen kulit/otot/sendi yang menyebabkan deformitas dan keterbatasan gerak) pada anggota tubuh sebelah kanannya. Bicara rero/tidak jelas dan terdapat tekanan darah tinggi pula pada saat itu. Mungkin saja beliau pernah ada riwayat stroke walaupun hal tersebut ia sangkal. Yang pasti, beberapa tahun ke belakang beliau sempat jatuh dan di operasi lutut sebelah kanannya yang menjadikannya memiliki keterbatasan gerak.

Terlepas dari kondisi medisnya, satu hal yang sangat menarik perhatian saya ialah beliau tinggal seorang diri dengan hanya ditemani seekor anjing yang juga tidak terawat. Belum lagi beliau tinggal di sebuah rumah yang dapat dikatakan “tidak layak”. Lembap, pengap, kotor, dan tumpukan barang tampak dimana-mana seperti gudang. Secara kasat mata terlihat seperti rumah kosong atau bahkan “rumah hantu” jika berkunjung di malam hari, terlebih lokasinya di ujung jalan buntu ditengah suasana “hutan” kota.

Beliau memang kini hidup sendiri setelah ditinggal meninggal oleh istrinya tanpa dikarunai keturunan. Anjing yang menemani selama 15 tahun ini “seolah” dianggap anak. Melihat kondisi itu, selain terdorong untuk membantu proses perawatan selanjutnya, tentu menjadi refleksi bagi kita yang masih diberi kesempatan merasakan hangatnya keluarga. Merasakan hidup bersama orang tua yang kita sayang, bersama istri atau suami yang kita cinta, bersama anak yang senantiasa menjadi penyejuk hati kita. Adakah kita telah bersyukur untuk itu?

Atau bisa jadi malah kita yang justru tak menghiraukan kehangatan itu? Kita terlalu sibuk berorganisasi, menjadi aktivis, terlalu sibuk bekerja, terlalu sibuk membangun eksistensi diri sementara di satu sisi kita tahu bahwa hidup tak mengenal siaran tunda, jangan sampai kita melupakan bahwa orang tua kita juga menjadi semakin menua. Jangan sampai kita lupa bahwa kita berkeluarga bukan hanya sekadar tentang materi semata, tapi ada hati dan cinta yang juga perlu dijaga.

Pulang dan luangkan waktu untuk kembali. Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya, begitupun pertemuan dengan orang tercinta, ibu, ayah, adik, istri, suami, anak. Jangan sampai ketika saat itu datang, yang tersisa hanyalah penyesalan, tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan, tentang rindu kebersamaan yang terlambat dirayakan.

Kita butuh ruang, bukan gudang. Untuk menyimpan cerita cerita masalalu yang menyedihkan dan menyakitkan. Menatanya dengan rapi beserta makna dan hikmahnya, supaya ia tidak muncul kepermukaan dan berulah lagi mengacaukan kehidupan bahagia kita saat ini.

Kita butuh ruang, bukan gudang. Yang kuncinya adalah kunci menuju pemahaman hidup lewat masa masa pahit. Bukan kunci yang enggan dibuka kembali karena isinya begitu menyeramkan.

Kita butuh ruang, bukan gudang. Karena terkadang, kita butuh masuk kembali di dalamnya. Duduk sejenak menikmati santapan kenangan kenangan, sesekali menangis sendiri, sesekali tertawa sendiri. Ruangan yang menyembunyikan kita dari manusia manusia yang menghakimi. Manusia manusia yang tidak tahu apa apa tentang kita , siapa kita, dan beranjak dari cerita yang mana kita sebelum ini.

Ruangan tempat kita mengubur dalam dalam segala yang memilukan. Supaya kita bisa nampak sebagai makhluk paling bahagia di dunia. Ruangan milik kita, yang merekam segala hal yang tak diketahui orang lain.

Ruangan yang menceritakan diri kita sedari mula. Tanpa penilaian yang dilebihkan. Tanpa asumsi yang salah tujuan. :)

anonymous asked:

Kak mau tanya, aku punya pacar kita baru jadian 2 bulan tapi dia jarang bgt kasih aku kabar alasannya selalu sibuk padahal aku liat wa nya selalu online, trus aku selalu marah dan selalu bilang kalau komunikasi itu penting terlebih kita ketemu seminggu sekali, malah dia bilang kalau aku kayak anak kecil dan dia yg balik marah. Aku harus gmn kak?

Meminjam istilah dari orang lain; bahwa ketahuilah, menjalin hubungan tapi tanpa saling komunikasi adalah seperti kamu menaiki ayunan yang diayun dengan kencang. Kamu pikir kamu bergerak, padahal sejatinya kamu tidak ke mana-mana.

Dan mungkin saja, karena ayunannya diayun kencang, kamu akan jatuh dengan tiba-tiba, tanpa kamu sadari kapan waktunya datang.

Atau seperti ngerokok Djarum, padahal kamu anak Gudang Garam Surya. Nggak enak, bos.

Jadi, ada baiknya beri kekasihmu pemahaman, bahwa komunikasi itu penting dalam membangun suatu hubungan.

Jika salat adalah tiangnya agama, maka komunikasi adalah tiangnya hubungan. Percayalah.

Tahukah kamu?
Bahwa istilah kelautan “Arsenal” dan “Admiral” berasal dari bahasa Arab.

“Arsenal” dalam bahasa Inggris berarti ‘Gudang Senjata’ dan berasal dari kata 'Daar As Shina'ah’ yang bermakna sama.

Sedang “Admiral” dalam bahasa Inggris bermakna pemimpin kapal, dan berasal dari kata “Amirul Bahr”, yang bemakna sama.

Orang Eropa banyak menyerap istilah kelautan Umat Islam karena dahulu kaum Muslimin menjadi polisi samudera Internasional yang disegani seluruh dunia.

—  @edgarhamas | dari buku Fath Saqliyah karya DR Syauqi Abu Ridho
How Grateful I am : to be Bipolar Disorder (part II). What Happen to Me in Every Episode.

Sebelumnya, saya ingin memberi peringatan pada kita, terutama para remaja. Jangan mudah mengidentifikasi dirimu terkena bipolar hanya karena swing mood berlebihan. Bipolar disorder bukan tren di kalangan remaja yang kamu bisa bangga mengidapnya. Butuh analisa psikiater untuk mengidentifikasi.

Peringatan kedua, tulisan ini bukan berdasarkan data empiris atau penelitian. Tulisan ini hanya berdasarkan pengetahuan saya yang sangat terbatas, yang saya dapatkan dari psikiater dan berbagai artikel. Di atas semua itu, berdasarkan pengalaman pribadi SAYA SEORANG sebagai penderita. Sehingga, tidak semua orang bisa sama, atau cocok dengan apa yang saya alami. Tapi saya berharap ada yang dapat diambil manfaatnya untuk sesama penderita atau yang kerabatnya menderita penyakit ini.

Bipolar Disorder punya cakupan kelainan psikis yang sebenarnya sangat luas. Masing-masing penderita punya gejala yang berbeda-beda. Misalnya ada sebagian yang berpikir tentang bunuh diri, yang lain tidak. Ada yang depresi akut, yang lain tidak. Ada yang ketika manik libidonya tinggi, ada yang tidak. Ada yang menjadi pemarah sekali, tapi yang lain tidak. 

Jadi, penting untuk tidak memukul rata bahwa semua penderita bipolar begini dan begitu hanya karena kita sudah membaca berbagai artikel tentang ciri-ciri pengidap bipolar. Perlakukan pengidap bipolar secara personal, bukan secara global.

Untuk itu, penting bagi kita kenal betul siapa diri kita dan menyusun sendiri terapi bagi diri sendiri. Jika perlu (dan memang perlu), mintalah bantuan pada psikiater untuk turut mengevaluasi diri kita.

Sebelumnya, akan saya sebutkan gejala bipolar yang ada pada saya. Kenapa perlu? Bukan menyebarkan aib sendiri, tapi nanti di part III saya akan menuliskan tentang terapi bagi diri saya sendiri. Sehingga, di part II ini perlu diketahui kelakuan saya seperti apa, dan mengapa cocok dengan terapi yang saya terapkan.

1. Rasa bersalah yang berlebihan. Dalam banyak situasi, saya selalu menyalahkan diri sendiri untuk kegagalan atau kondisi buruk. Saya bisa minta maaf berkali-kali, dan masih merasakan rasa bersalah selama bertahun-tahun setelah itu. 

2. Perasaan gagal yang terus menerus. Sepertinya ini terkait pencitraan diri. Setinggi apapun yang sudah diraih, akan tetap merasa gagal dan tidak berguna. 

3. Di sisi lain, saat masa manik datang, saya merasa sombong dan percaya diri. Saya pikir, saya adalah pekerja keras dan berdedikasi tinggi, pengambil keputusan yang bertanggung jawab, di mana tidak semua orang bisa melakukan hal yang sama. Saya bisa mengevaluasi hasil kerja operator dengan detail, hingga mereka harus pulang pagi untuk menuruti kemauan saya. Berbeda dengan mereka yang sudah lelah, saya bisa pulang pagi dengan semangat walaupun kelelahan. Untuk paginya bekerja kembali. Walaupun biasanya di jam istirahat akan tidur siang di pojokan mesin. -_-

4. Super pelupa. Dulu saya pikir ini karena syaraf saya yang terganggu akibat meningitis yang pernah saya derita. Ternyata ini juga bagian dari gejala bipolar. Saya sering lupa pada banyak hal-hal sepele, misalnya apa yang barusan dikatakan seseorang. Yang paling sering, saya bertanya sesuatu kemudian sudah dijawab, tapi saya lupa jawabannya apa. Pertanyaan ini bisa saya ulang 4 kali dalam kurun waktu 2 jam.

Pernah suatu hari dulu, mantan saya berjanji akan membelikan yoghurt di sebelah rumahnya. Nah, suatu pagi dia menjemput saya dan membawakan sarapan serta yoghurt. Kami pun sarapan kan. Saya menagih yoghurtnya dan dia berikan. saya coba sedikit, saya bilang tidak enak. Lalu saya melanjutkan makan. Setelah makan, baru beberapa menit berselang, saya menagih lagi yoghurtnya dong. Saya bilang, “ari kamu katanya mau bawain yoghurt?” Dan dia bingung. Katanya, “lah, kamu teh, udah yoghurt dibilang gak enak, terus lupa.” Hahaha. Itu dodol banget deh.

5. Tapi bisa jadi yang paling detail. Dalam hal-hal yang membawa urusan perasaan, saya bisa ingat hal sedetail mungkin. Misalnya ketika bertengkar dengan seseorang yang saya sukai, saya akan ingat nada bicaranya, apa yang dia bicarakan, saya sedang memakai baju apa, saya sedang di mana, saya sedang melihat apa, bahkan pada setiap detail kata-katanya.

6. Tidak berenergi selama seminggu penuh. Dulu saya pikir ini hanya karena tubuh kelelahan, atau karena menjelang datang bulan. Ternyata ini termasuk gejala bipolar. Ketika kumat, saya akan merasa malas dan tidak ada yang ingin dilakukan selain tiduran, seringkali sambil nangis padahal film yang saya tonton adalah humor. Ini yang cukup mengganggu. Persoalan kecil yang mengganggu kadang bisa menjadi pemicu kondisi seperti ini. Untungnya saya tidak suka terlalu banyak tidur, sehingga bangun paling siang maksimal jam 8 pagi lah. Dan sepanjang hari memaksakan diri duduk untuk melakukan sesuatu.

7. Sebaliknya, seminggu penuh on fire. Penuh lembur, ceria, kasih semangat orang lain, banyak bernyanyi, semangat, mengganggu orang sana sini, iseng dan jahil, hiperaktif, tertawa-tawa bahkan tanpa sebab. Tapi saya sih selalu berusaha tidur di bawah jam 10 malam. Supaya bangun paginya tidak lemas. Bagaimanapun, usia kan sudah uzur, jadi harus jaga kesehatan. Ppfffttt….

8. Saya menangis, lalu beberapa menit kemudian tertawa. Lalu menangis sambil tertawa. Awalnya, sahabat saya Sistha, heran dan takut karena saya curhat sambil menangis, lalu tiba-tiba tertawa ketika menceritakan sesuatu. Lama-lama dia mengerti, memahami, juga ketika saya mengirimkan. 

9. Bahagia dan sedih tanpa sebab. Atau dengan sebab yang sangat kecil.

10. Sulit berkonsentrasi dalam waktu lama. Karenanya saya benci ketika mengerjakan sesuatu yang butuh pemikiran, lalu diganggu disuruh memikirkan hal lain. Berbeda ketika saya mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan, namun tidak membutuhkan ‘otak’. Misalnya, saya bisa cuci piring sembari masak sayur, menggoreng ikan, cuci baju, sambil rapat secara online. -_-

11. Gelisah terus menerus ketika punya pekerjaan yang harus diselesaikan. Padahal pekerjaan selalu ada. Itu kenapa saya sering mimpi bertemu bos atau customer. -_-

12. Depresi dalam jangka waktu tertentu justru karena sebab yang sepele, kadang tanpa sebab. Untuk masalah besar, saya biasa saja. Namun ketika diselingkuhi pacar misalnya, saya depresi berbulan-bulan. *tolol banget yakk. Masa sampe jedotin kepala ke tembok gara-gara ini? Kan kampret banget. Dan ini baru muncul setelah saya sakit. Sebelum sakit, patah hati tidak akan lebih dari 2 hari, dan done.

13. Perasaan ingin mati cepat. Banyak di antara penderita bipolar yang ingin bunuh diri. Alhamdulillah saya mah gak karena tahu dosanya, tapi memang saya sering kepikiran untuk mati dan sesekali ingin menabrakkan diri. Saya juga merasa tidak akan hidup lama. Bahkan sudah menitipkan password blog ini pada Lugu, sahabat saya, supaya jika sewaktu-waktu saya mati, dia bisa memposting kematian saya disini. Juga menitipkan pesan padanya bahwa saya ingin dimakamkan di sebelah Rendra. Sayangnya, sudah ada yang menempati, saya kalah, soalnya si orang itu udah mati duluan sih. -_-

14. Ingin membanting barang dalam waktu tertentu. Ada sebab-sebab kecil yang membuat saya geregetan lalu ingin membanting barang. Misalnya ketika saya dipaksa makan, atau diganggu nenek ketika bekerja. Kan sepele banget. Dan selalu, sebabnya sepele!! Entah kenapa, semakin saya jauh dari rumah, semakin saya tidak pernah berada di kondisi seperti ini. Ketika di rumah, tidak tahu mengapa hampir setiap saat saya ingin melakukannya. Di Bandung, di Jakarta, di Surabaya, saya hampir tidak pernah melakukannya. Di rumah, saya sering ingin, walaupun bisa mengendalikan. Kata mba @nurumiaa yang punya ilmu ruqyah, barangkali ‘kondisi rumah’ yang menyebabkannya. Bisa jadi rumahnya butuh diruqyah. 

Saya tidak tahu, yang jelas, di rumah saya sering ‘diganggu’. Sering tindihan, kadang pas tidur sendirian terbangun gara-gara seperti ada orang yang naik ke tempat tidur, terus lihat ada orang masuk gudang tapi ternyata tidak ada orang. Orang rumah tidak ada yang percaya, atau pura-pura tidak percaya. Sampai calon istrinya adik saya tidur di kamar saya. Dia belum tidur ding, masih terjaga. Dan tiba-tiba seperti ada orang yang naik ke ranjang padahal tidak ada orang. Sukurin, dikasih tahu ga percaya sih.

15. Selalu ingin punya banyak kegiatan dan komunitas karena merasa energinya berlebihan, yang pada akhirnya kebingungan karena waktunya habis.

16. Punya beberapa kepribadian yang bertolak belakang. Bisa jadi manja, tapi sangat dewasa. Bisa jadi temprament, tapi sangat sabar di sisi lain. Bisa jadi paling tidak mau tahu, tapi bisa jadi yang paling pengertian. 

17. Merasa kurang padahal cukup, bahkan dalam keadaan banyak uang. -_- Eh tapi ini katanya bukan karena bipolar, tapi memang sifat golongan darah B. 

18. Berbicara terlalu lompat-lompat dan random. Kadang mencampur adukkan pembicaraan.

19. Otak selalu bekerja, bahkan saat tidur. Seringkali ide muncul bersamaan, yang membuat bingung dan stres sendiri.

20. Merasa hidup berantakan. Padahal gak juga. Hanya karena satu dua persoalan, bisa menutup mata saya pada semua kenikmatan hidup.

21. Sebaliknya, mudah merasa diberkahi hanya karena alasan sepele, walaupun hidup sedang berantakan. Hahaha.

22. Swing mood berlebihan, ekstrim. Bukan berarti orang swing mood itu bipolar ya!!!

Semuanya terdengar biasa saja ya? Percayalah, kalau kau mengalami itu di dalam otakmu, terlebih ketika beberapa gejala muncul secara bersamaan, tidak akan semudah kelihatannya. 

Saya bersyukur karena ada beberapa gejala umum yang tidak saya alami karena pasti akan menyusahkan. Salah satunya adalah boros berlebihan, dan keinginan untuk selalu menghabiskan uang di luar kemampuan. Syukur deh, saya tidak mengalami ini. 

Itulah gejala yang saya alami. Berdasarkan gejala-gejala itu, akhir-akhir ini saya berusaha membuat terapi sendiri. Jadi kalau ada yang mengalami gejala yang sama, mungkin bisa membaca part III dan menerapkannya. :)

Semoga bermanfaat. **sedang depresi tapi berusaha move on dari depresi**