gudangs

Menemukanku

Jika kelak kau mencariku, kau harus tahu betul di mana kau bisa menemukanku. Agar tak habis waktumu, agar tak habis tenagamu.

Bukan di selasar sesalmu. Juga seharusnya bukan di kenangan buruk yang sudah lama kau buang. Bukan di dalam ingatan yang ingin kau lupakan. Bukan pula di buku usang yang kau simpan di gudang, tertutupi debu dan seolah tak lagi layak baca. Bukan di sela maaf-maaf yang belum termaafkan. Bukan di kutukan yang dipendam dalam-dalam. Bukan juga di harap-harap karma yang
akan datang untukmu suatu hari. Sayang, aku tak sejahat itu mengharapkan yang buruk-buruk untukmu.

Lantas di mana?


Temui aku di ingatan paling menyenangkanmu.
Temui aku di kenangan terindahmu.
Temui aku di tawa yang pernah kita ciptakan.
Temui aku di bahagia yang pernah kita rekam, saat kita satu langkah dulu.
Temui aku di doa-doa malammu untukku.


Bukankah dulu kita pernah sama-sama memberikan yang terbaik untuk satu dan lainnya?

Fakta vs Candu

Apakah wacana menaikkan cukai rokok akan ‘membunuh’ buruh pabrik rokok? Mematikan petani tembakau? Ijinkan saya menjawabnya dengan fakta. Dan jika kalian tidak sependapat, tolong jawab juga dengan fakta.

Apakah cukai rokok naik, maka buruh pabrik rokok akan dipecat? Jawabannya, bisa iya, bisa tidak. Tapi yang pasti, tanpa kenaikan cukai rokok, buruh pabrik rokok memang sudah dipecatin. Tahun 2014, Sampoerna mem-PHK 4.900 buruhnya, Bentoel menutup 8 pabriknya (dari 11, sisa 3), juga mem PHK ribuan karyawan, Gudang Garam mem-PHK 4.000 lebih buruhnya. Belum terhitung pabrik2 lainnya. Perusahaan beralih ke mesin. Yang tidak perlu digaji tiap bulan, yang produktivitasnya tinggi, yang cepat dan efisien. Itu fakta semua, loh. Perusahaan rokok peduli sama buruh? Hehe, kalian naif jika percaya 100%. Di mana mana, bisnis adalah bisnis. Dulu, klaim tentang 6 juta tenaga kerja bekerja di industri rokok mungkin masuk akal, tapi please, silahkan buka data terbaru, berapa persen yg telah di PHK dan digantikan oleh mesin?

Apakah cukai rokok naik, maka petani tembakau akan kehilangan pekerjaan? Jawabannya, bisa iya, bisa juga tidak. Tapi yang pasti, tanpa kenaikan cukai rokok, petani tembakau Indonesia memang perlahan tapi pasti telah tersingkir. Tahun 2011, menurut data dari Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), impor tembakau Indonesia hanya 64,8 ribu ton. Setahun kemudian, 2012, nilainya melesat tidak terkendali 104,4 ribu ton. Dan naik lagi tahun 2013, sebesar 133,8 ribu ton. Kebutuhan industri tembakau Indonesia itu ada di angka 250rb ton per tahun, itu berarti, separuh lebih tembakau diimpor dari luar negeri. Bisnis adalah bisnis, jika tembakau luar negeri lebih murah, ngapain pabrik rokok harus beli tembakau petani Indonesia?

Harga tembakau? Wah, ijinkan saya memberitahu, di China, harga tembakau bisa 1-2 dollar/kg. Di Indonesia saat ini diangka 34.000 - 47.000/kg, dan petani sudah megap-megap dengan harga segitu. Dulu, idealnya harga tembakau adalah 80.000-120.000/kg. Tapi bagaimana mau jadi 120rb? China mau dilawan? Silahkan lawan harga tembakaunya yang hanya 14.000/kg. Tambah biaya logistik, dll, itu tembakau sampai di Indonesia cuma 20-30rb/kg. Pembela rokok itu koar-koar bilang ada 6 juta petani tembakau di Indonesia. Ah masa’ sih? Kok bisa produksi tembakau-nya cuma 170.000 ton per tahun saja? Lahan tembakau saja semakin berkurang, paling tinggal 190.000 hektare, karena petani mulai mikir menanam tanaman lain.

Jadi ijinkan saya memberitahu kalian masa depan industri rokok ini :
1. Mereka akan semakin beralih ke mesin utk memproduksi rokok
2. Mereka mencari tembakau murah (bahkan jika itu di planet Mars sekalipun).

Apakah pabrik rokok memang peduli dengan petani Indonesia? Peduli dengan buruh pabrik? Waduh, saya lebih suka melihat faktanya saja. Yang saya tahu, sejak jaman dulu, hingga jaman mobil terbang, juga kejadian di negara-negara maju (sebelum pabrik rokok terpaksa menyingkir ke negara berkembang karena perokoknya berkurang), ‘petani’ dan ‘buruh’ memang menjadi argumen yang paling seksi sebagai tameng. Hingga kita lupa, Sampoerna, untung setahunnya bisa 10 trilyun loh. 10.000.000.000.000, tuh nol-nya banyak banget. Kalau gaji kalian dikantor ‘cuma’ 10 juta per bulan, kalian butuh 1.000.000 bulan untuk dapat uang ini.

Pemilik perusahaan rokok tajir super gila, sekali tepuk dapat untung 10 trilyun, nasib ‘6 juta’ petani tembakau cuma dapat remah-remahnya, ‘6 juta’ tenaga kerja pabrik rokok cuma dapat ampasnya saja.

Kita bahkan belum bicara tentang berapa besar biaya kesehatan yg harus dikeluarkan gara-gara rokok. Kita bahkan belum bicara jutaan remaja usia SMP, SMA, tergoda merokok. Kita belum bicara tentang jomblo, eh, maaf ngelantur, maksud saya biaya-biaya berobat akibat penyakit rokok. Saya tahu, kalian tidak akan percaya rokok itu penyebab penyakit kanker, jantung, dll. Saya tahu banget, setahu bahkan ada perokok yang percaya merokok itu baik untuk kesehatan.
Tetapi lewat tulisan ini, ijinkanlah saya berterus-terang: Saya tidak peduli kalian mau terus merokok atau berhenti (bahkan i dont care kalian mau mati atau sehat gara-gara rokok). Yang saya peduli, di page ini, 2/3 anggotanya adalah remaja, merekalah tujuan sy menulis. Saat mereka memikirkan tulisan ini, akan lahir jutaan generasi baru yang tahu persis jika merokok itu tidak bikin jantan, macho, cowboy, dan sebagainya, merokok itu justeru bikin impoten. Jadi tidak perlu GR ngamuk-ngamuk nulis komen marah, tulisan ini bukan untuk kalian.

:)

© Tere Liye

Fakta vs Candu

Apakah wacana menaikkan cukai rokok akan ‘membunuh’ buruh pabrik rokok? Mematikan petani tembakau? Ijinkan saya menjawabnya dengan fakta. Dan jika kalian tidak sependapat, tolong jawab juga dengan fakta.

Apakah cukai rokok naik, maka buruh pabrik rokok akan dipecat? Jawabannya, bisa iya, bisa tidak. Tapi yang pasti, tanpa kenaikan cukai rokok, buruh pabrik rokok memang sudah dipecatin. Tahun 2014, Sampoerna mem-PHK 4.900 buruhnya, Bentoel menutup 8 pabriknya (dari 11, sisa 3), juga mem PHK ribuan karyawan, Gudang Garam mem-PHK 4.000 lebih buruhnya. Belum terhitung pabrik2 lainnya. Perusahaan beralih ke mesin. Yang tidak perlu digaji tiap bulan, yang produktivitasnya tinggi, yang cepat dan efisien. Itu fakta semua, loh. Perusahaan rokok peduli sama buruh? Hehe, kalian naif jika percaya 100%. Di mana2, bisnis adalah bisnis. Dulu, klaim tentang 6 juta tenaga kerja bekerja di industri rokok mungkin masuk akal, tapi please, silahkan buka data terbaru, berapa persen yg telah di PHK dan digantikan oleh mesin?

Apakah cukai rokok naik, maka petani tembakau akan kehilangan pekerjaan? Jawabannya, bisa iya, bisa juga tidak. Tapi yang pasti, tanpa kenaikan cukai rokok, petani tembakau Indonesia memang perlahan tapi pasti telah tersingkir. Tahun 2011, menurut data dari Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI), impor tembakau Indonesia hanya 64,8 ribu ton. Setahun kemudian, 2012, nilainya melesat tidak terkendali 104,4 ribu ton. Dan naik lagi tahun 2013, sebesar 133,8 ribu ton. Kebutuhan industri tembakau Indonesia itu ada di angka 250rb ton per tahun, itu berarti, separuh lebih tembakau diimpor dari luar negeri. Bisnis adalah bisnis, jika tembakau luar negeri lebih murah, ngapain pabrik rokok harus beli tembakau petani Indonesia?

Harga tembakau? Wah, ijinkan sy memberitahu, di China, harga tembakau bisa 1-2 dollar/kg. Di Indonesia saat ini diangka 34.000 - 47.000/kg, dan petani sudah megap-megap dengan harga segitu. Dulu, idealnya harga tembakau adalah 80.000-120.000/kg. Tapi bagaimana mau jadi 120rb? China mau dilawan? Silahkan lawan harga tembakaunya yg hanya 14.000/kg. Tambah biaya logistik, dll, itu tembakau sampai di Indonesia cuma 20-30rb/kg. Pembela rokok itu koar2 bilang ada 6 juta petani tembakau di Indonesia. Ah masa’ sih? Kok bisa produksi tembakau-nya cuma 170.000 ton per tahun saja? Lahan tembakau saja semakin berkurang, paling tinggal 190.000 hektare, karena petani mulai mikir menanam tanaman lain.

Jadi ijinkan saya memberitahu kalian masa depan industri rokok ini?
1. Mereka akan semakin beralih ke mesin utk memproduksi rokok
2. Mereka mencari tembakau murah (bahkan jika itu di planet Mars sekalipun).

Apakah pabrik rokok memang peduli dgn petani Indonesia? Peduli dgn buruh pabrik? Waduh, sy lebih suka melihat faktanya saja. Yang saya tahu, sejak jaman dulu, hingga jaman mobil terbang, juga kejadian di negara2 maju (sebelum pabrik rokok terpaksa menyingkir ke negara berkembang karena perokoknya berkurang), ‘petani’ dan ‘buruh’ memang menjadi argumen yg paling seksi sebagai tameng. Hingga kita lupa, Sampoerna, untung setahunnya bisa 10 trilyun loh. 10.000.000.000.000, tuh nol-nya banyak banget. Kalau gaji kalian dikantor ‘cuma’ 10 juta per bulan, kalian butuh 1.000.000 bulan untuk dapat uang ini.

Pemilik perusahaan rokok tajir super gila, sekali tepuk dapat untung 10 trilyun, nasib ‘6 juta’ petani tembakau cuma dapat remah-remahnya, ‘6 juta’ tenaga kerja pabrik rokok cuma dapat ampasnya saja.

Kita bahkan belum bicara tentang berapa besar biaya kesehatan yg harus dikeluarkan gara2 rokok. Kita bahkan belum bicara jutaan remaja usia SMP, SMA, tergoda merokok. Kita belum bicara tentang jomblo, eh, maaf ngelantur, maksud saya biaya2 berobat akibat penyakit rokok. Saya tahu, kalian tidak akan percaya rokok itu penyebab penyakit kanker, jantung, dll. Saya tahu banget, setahu bahkan ada perokok yg percaya merokok itu baik untuk kesehatan.

Tetapi lewat tulisan ini, ijinkanlah sy berterus-terang: Sy tidak peduli kalian mau terus merokok atau berhenti (bahkan i dont care kalian mau mati atau sehat gara2 rokok). Yg saya peduli, di page ini, 2/3 anggotanya adalah remaja, merekalah tujuan sy menulis. Saat mereka memikirkan tulisan ini, akan lahir jutaan generasi baru yg tahu persis jika merokok itu tidak bikin jantan, macho, cowboy, dsbgnya, merokok itu justeru bikin impoten. Jadi tidak perlu GR ngamuk2 nulis komen marah, tulisan ini bukan untuk kalian.

Tere Liye

Abu Hurairah ditugaskan Rasulullah SAW menjaga tempat penyimpanan zakat. Saat ia berjaga, ia melihatny seorang anak kecil mencuri makanan d gudang. Abu Hurairah bergegas menangkapnya.
“Hai, pencuri! Aku akan mengadukanmu kepada Rasul!” gertak Abu Hurairah.
Pencuri tu gemetaran mendengar ancaman Abu Hurairah. Dia merengek agar supaya dilepaskan, “Aku ni orang miskin, keluargaku banyak. Sementara aku membutuhkan sekali makanan ini.” Karena lembutny hati Abu Hurairah, maka ia pun luluh, si pencuri itu pun dilepaskan.
Keesokan harinya, Abu Hurrairah melaporkan kejadian itu kpd Rosulullah SAW. Kemudian Rasul bertanya, “Apa yg kau lakukan terhadap anak kecil itu, wahai Abu Hurairah?”
Ya Rasulullah, anak itu org miskin, keluargany banyak, n anak itu sangat membutuhkan makanan itu. Maka aku pun melepaskanny” Jawab Abu Hurrairah.
“Dia berbohong” kata Rasul. “Nanti malam, anak itu akan datang lagi”
Ternyata benar, anak itu datang lagi, n dia mengambil makanan lagi d gudang penyimpanan zakat, sprti malam kemarin. Abu Hurairah kembali menangkapny, tp krn mendengar alasan anak itu yg memprihatinkan, akhirnya Abu hurairah kembali melepaskanny.
Pada pagi harinya, Abu Hurairah kembali melaporkannya kepada RAsul. Sekali lagi, Rosulullah menegaskan, “Dia berbohong! Nanti malam dia akan kembali lagi”
Malamnya, Abu hurairah berjaga. Beberapa saat kemudian muncul bayangan kecil menghampiri gudang zakat. Tdk lama, anak itu di tangkap Abu Hurairah, “Kali ini, kau pasti ku adukan ke Rasulullah.” dgn tegasny.
“Lepaskan aku,” teriak anak itu. Tp Abu Hurairah, tdk mau melepaskan anak itu.
Pencuri itu pun merengek. “Lepaskan aku, kalau tuan bersedia melepaskanku, aku beri tau amalan yg berguna bagi tuan.“
“Amalan apakah itu?” tanya Abu Hurairah penasaran.
“Jika tuan hendak tidur, maka bacalah Ayat Kursi. Allah akan menjaga tuan dr setan sampai pagi.”
Akhirnya pencuri kecil itu di lepaskanny oleh Abu Hurairah.
Keesokan hariny, Abu Hurairah kembali menghadap Rasul, melaporkan kejadianny di waktu malam hari. Menanggapi cerita Abu Hurairah, Rosulullah SAW bersabda : “Tahukah kau, siapa pencuri cilik yg bertemu denganmu setiap malam?”
“Tidak tahu”
“Dia adalah syaitan”
.

3 Alasan Bertahan

1.       Mendapatkan Upgrade kapasitas diri e�zoe�6Sv�ӎKampus adalah gudang pembelajaran. Salah satunya adalah belajar berorganisasi. Baik itu organisasi yang bergerak dibidang advokasi, keilmuan, sosial masyarakat, pergerakan, hingga organisasi dakwah. Tanpa bayaran sepeser pun seperti halnya perkantoran, Mahasiswa yang menjadi tim organisasi tersebut tetap rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk melaksanakan tugas sesuai peran masing-masing.

Rasa jenuh tetap menjadi hambatan dalam pelaksanaannya. Rasa ingin keluar dan berhenti di tengah jalan kerap menjadi masalah klasik dalam dinamika organisasi kampus. Alasannya pun beragam, mulai dari bosan, pelaksanaan tidak sesuai harapan, masalah internal organisasi, hingga ada gangguan dari pihak luar.

Berikut ada 3 hal yang menjadi alasan bagi seseorang untuk tetap bertahan hingga akhir dalam sebuah kepengurusan. Setidaknya meski ada gangguan baik dari internal maupun luar organisasi, orang tersebut masih mempertimbangkan untuk tidak berhenti dan memilih bertahan ditengah dinamika yang ada.

Dan Terlebih jika anda adalah ketua organisasi atau seseorang yang mempunyai staff. 3 hal ini perlu anda pahami dan aplikasikan dalam menjaga bawahan anda.

1. Mendapatkan Upgrade Kapasitas Diri

Ketika memutuskan bergabung kedalam sebuah organisasi seseorang terbagi atas 2 tipe. Tipe pertama adalah mereka yang sudah berpengalaman dalam bidang organisasi tersebut, dan yang kedua adalah mereka yang belum bisa apa-apa dan ingin mendapatkan sesuatu ketika bergabung. Kita ambil contoh bidang Kajian dan Aksi Strategis atau biasa disebut kastrat. Ada yang bergabung karna dari awal sudah ahli dalam membuat kajian, ada yang bergabung karna ingin pandai membuat sebuah kajian. Apapun itu mereka akan bertahan di organisasi tersebut jika mereka mendapatkan upgrade kapasitas diri bagi mereka. Anda perlu memperhatikan perkembangan mereka secara seksama. Apakah dengan bergabung mereka akan lebih berkembang? Tidak ada perubahan? Atau malah semakin memburuk? 

Kedua tipe tersebut memiliki keunikan dan tantangan masing-masing. Untuk tipe pertama anda akan merasa senang karna mereka telah bergabung dan berharap bisa bersama mengembangkan organisasi anda. Namun anda akan kesulitan jika mereka merasa tidak mendapatkan perkembangan apa-apa dan akhirnya merasa rugi dan bosan. Tipe kedua adalah mereka yang sangat semangat di awal-awal organisasi. Butuh kesabaran bagi anda untuk mengembangkan mereka, namun mereka tidak gampang bosan maupun jenuh dengan dinamika organisasi yang ada dengan catatan anda bisa memastikan mereka berkembang dengan mendapatkan hal yang mereka inginkan.

Adalah peran penting bagi bidang Pengembangan sumber daya mahasiswa atau biasa yang disebut PSDM sebuah organisasi untuk memastikan alasan pertama ini dimiliki semua tim. jika tim organisasi tersebut merasa jenuh karna tidak bisa atau malah sudah terlalu ahli dalam sebuah skill. Maka menjadi tugas bagi bidang PSDM untuk mencari akal skill alternative apa yang bisa staff tersebut dapatkan. Kembali ke contoh bidang kastrat tadi, jika staff tersebut jenuh dengan membuat sebuah kajian, maka adakanlah pelatihan desain maupun penggunaan media yang tentunya bisa membantu kerja organisasi anda.

2. Merasa Memperjuangkan Sesuatu

“Kalau kita lelah, ingatlah alasan kita memulai”

Hal paling penting namun kerap dilupakan sebuah organisasi adalah memastikan semua tim organisasi tersebut tau dan paham arah kerja. Atau sederhananya memastikan tim tau akan visi organisasinya. Sangat naif jika petinggi organisasi tidak memastikan apakah staff-staffnya merasa memperjuangkan sesuatu. Karna itu berarti staff tersebut hanya ikut-ikutan hingga akhirnya tidak memiliki kinerja yang baik dan bahkan menghilang ditengah kepengurusan.

Yang menjadi tantangan adalah menyamakan visi. Karna tiap orang memiliki alasan dan kepentingan masing-masing ketika bergabung. Jika alasan serta visi organsasi tersebut sudah dipahami oleh setiap orang, maka yang perlu diperhatikan hanyalah menjaga apakah mereka masih merasa memperjuangkan alasan tersebut. Namun jika tiap-tiap orang merasa memperjuangkan hal yang berbeda, maka taruhlah perhatian yang tinggi pada setiap kinerja organisasi anda apakah masih bisa berjalan dengan baik dan selaras atau tidak.

Kita ambil contoh organisasi lembaga dakwah tingkat kampus maupun tingkat fakultas. Apa yang mereka perjuangkan? Tentunya membuat islam bisa tersyiarkan dengan baik dan menyeluruh kepada objek dakwahnya. Namun bagaimana jika ada salah satu staff memiliki alasan berjuang yakni karna ingin terkenal dan dianggap sholeh? Atau karna ikut-ikutan? Atau malah menjadi jodoh? Hal positifnya dia akan tetap berada lembaga hingga ia dicap sebagai anak sholeh. Namun kinerja dia akan terlihat berbeda dengan staff lain yang berefek pada profesionalitas lembaga. Hingga akhirnya tujuan awal lembaga dakwah tersebut untuk membuat islam tersyiarkan tidak bisa berjalan menyeluruh.

Peran penting bagi ketua, kepala bidang, dan atau semua orang yang paham akan visi organisasi tersebut untuk memastikan alasan nomor 2 ini dimiliki oleh elemen organisasi. Tidak bosan menjelasakan alasan bergerak, menghafal dan mengaplikasikan visi dan misi, hingga melaksanakan konsolidasi rutin bisa menjadi opsi. Yang jelas setiap orang dalam organisasi tersebut memiliki alasan untuk berjuang dan alangkah baiknya jika alasan sama di setiap orangnya.

3. Mendapatkan Keluarga yang tidak didapatkan di tempat lain

Organisasi kampus bergerak dengan dua cara, profesionalitas dan kekeluargaan. Bagaimana porsinya ditentukan sesuai kebijakan organisasi tersebut. Namun perlu kita ingat kembali bahwa setiap mahasiswa yang tergabung dalam organisasi tersebut tidak dibayar. Jikalau dibayar itupun hanya sebungkus nasi diakhir sebuah kepanitiaan. Karna itu porsi kekeluargaan perlu ditingkatkan agar mereka masih tetap bertahan dalam menjalankan kerja meski lagi-lagi mereka tidak dibayar.

Ini adalah tugas wajib bagi setiap orang untuk memastikan alasan ke 3 ini ada di organisasi tersebut. Bukan hanya petinggi, kepala bidang, maupun bidang kekeluargaan. Pastikan setiap orang merasa mendaptkan keluarga kedua di organisasi itu. Bisa dengan jalan-jalan, deep sharing, menanyakan kabar dan hal kulturan sebelum memulai bahasan rapat, dan hal yang membuat orang nyaman lainnya.

Jika alasan pertama tidak mempan, alasan kedua tidak bisa ditemukan. Selama orang tersebut memiliki alasan ketiga maka ia akan menemukan upgrade kapasitas dan alasan berjuang dengan sendirinya. Profesionalitas kerja itu harga mati, namun kekeluargaan tidak bisa diganti. Dan sekali lagi setiap orang berperan penting dalam menjaga alasan ke 3 ini. 


Ketiga alasan ini sangat penting untuk kita ketahui bersama. Semakin banyak yang bisa dipastikan ada maka semakin bagus. Terlebih jika kita adalah ketua organisasi. Organisasi kampus tidak bisa dijalankan sendirian. Butuh tim yang solid yang mampu bertahan hingga akhir. Yang rela berlelah-lelah, mengurangi waktu tidur, bahkan tidak dibayar. Karna dibalik kapal yang kuat terdapat kru yang hebat.

Jum’at, 26 Agutus 2016
@Asrama RK 1 Jakarta
01:05
from me to my Dearly Beloved

https://www.selasar.com/budaya/3-alasan-bertahan-di-organisasi-kampus