gudangs

Ketika kamu silau dengan begitu hebatnya orang-orang meninggalkan shalat malah bisa kaya raya mengumpul harta, bacalah Qur'an; disana kamu akan tahu betapa Qarun pemilik harta bergudang-gudang itu bisa sekejap lenyap ditelan bumi.

Kalau kamu takjub melihat orang lalai dari tuhan tapi bisa punya kendaraan mewah, bacalah Qur'an; disana kisah Firaun terbentang, mengejar Musa dengan kereta emas, lalu sedetik kemudian ditelan air samudera, bersama kendara kebanggaannya.

Dunia hanya tempat menumpang. Carilah akhirat jangan lupa dunia, bukan sebaliknya. Membaca Al Quran akan menetralkan tujuan itu, ketika silau megah alam fana ini mengaburkan pandangan kita, Kitab suci itu kembali menggiring kita pada titik nol kesadaran sebagai hamba.

—  @edgarhamas

Tidak selalu kemegahan bisa dilihat oleh mata kepala. Ternyata, justru yang luarbiasa lahir dari yang sederhana.

Eropa boleh saja membanggakan citra sejarah sang Roma, yang tiangnya meninggi dan kuil-kuilnya gagah. Yang Colosseumnya beringas dan angkatan perangnya kekar. Tapi dimana kemegahan itu ketika kau tahu ternyata mereka menistai wanita dan rakyat jelata? Menjadikan nyawa manusia makanan hewan di hadapan pentas penguasa?

Persia silahkan saja berbangga dengan taman gantung babilonia dan menara babel menyejarahnya. Tapi dimana keindahan itu ketika kau tahu ternyata mereka menjadikan api sebagai tuhan, wanita dijualbelikan bak air dan tanah. Rakyat dicekik dipekerjakan, dipaksa berperang tanpa jaminan keamanan.

Namun lihatlah ia, Madinah, sederhana, bersahaja, tidak ada peninggalan istana dan kastil raja, tidak ada warisan mahkota dan gudang permata, namun keadilan ada disana, kemanusiaan berkibar dari sana. Kejayaan? Romawi dan Persia takluk pada satria-satria Madinah, “yang ketika malam jadi rahib, ketika siang menjelma singa.”

Dan benar, hanya Islam yang bisa melakukannya.

—  @edgarhamas
Umat Kita, Umat Penjelajah

@edgarhamas

Jika Islam tidak menginstall kehidupan bangsa Arab, mungkin Abu Ayyub Al Anshori -sahabat Rasulullah dari kaum Anshar- sampai wafatnya akan tetap berada di Madinah, hidupnya hanya di Madinah, dan petualangannya hanya di jalan-jalan Madinah. Namun Islam mengubah mindset manusia sebagai penakluk semesta. Dan akhirnya engkau tahu, Abu Ayyub wafat di usianya yang ke-80, dalam penjelajahannya menaklukkan ibukota Imperium superpower di dunia kala itu; The City of Christian Ortodox, Konstantinopel.

Mindset penjelajahan yang Allah firmankan dalam Al Qur'an, senada dengan perintah Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Sebab siapapun yang ingin memimpin, wawasan Geografi adalah sesuatu yang mutlak mesti dimiliki.

Di masa yang sama ketika Abu Ayyub Al Anshori wafat, risalah Islam telah berkembang dibawa oleh para niagawan dan penjelajah ke wilayah yang Eropa belum menjangkaunya, seperti negeri-negeri Afrika Tengah, India, Asia Tenggara, dan Benua Amerika. Bahkan mindset bangsa Eropa yang bertahan selama berabad-abad adalah “bahwa seluruh wilayah dunia ini adalah milik muslim kecuali Eropa.

Apa buktinya? Selama berabad-abad lamanya sampai sekitar abad 19, peta dunia yang digunakan seluruh dunia dicetak dari para geografer muslim dan terlisensi oleh komunitas ahli peta yang didominasi juga oleh Muslim. Penamaan pulau-pulaunya juga dengan bahasa Arab. Kepulauan di Nusantara contohnya; Maluku, Irian, Andalas, adalah nama yang akarnya berasal dari bahasa Arab.

Penamaan istilah kelautan internasional juga berasal dari bahasa Arab. Amirul Bahr (pemimpin samudera) menjadi ‘Admiral.’ Dar As Shina'ah (Gudang Senjata) kita kenal dengan istilah ‘Arsenal.’ Inggris sebagai Kerajaan Imperialisme Modern, pun baru bisa datang ke India karena diantar oleh Ahmad bin Majid, seorang pelaut Muslim (dia tidak tahu kalau Inggris akan datang sebagai penjajah)

Itulah Umat kita, umat penjelajah. Umat penguasa benua dan samudera. Kita agung jika pahami betul petuah-petuah Al Quran. Seiring dengan jauhnya umat ini dari Al Qur'anlah, kemudian kita juga terhijab dari rahasia-rahasia kemenangan yang ia kandung.

Buku, Melukismu

“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”
-Mohammad Hatta

Selamat Hari Buku Sedunia, 23 April 2017

***

“We read to know we’re not alone", kita membaca agar kita tahu bahwa kita tak sendiri. Ada orang yang menumpahkan rasanya di lembarnya. Ada yang menawarkan ide dan solusi, ada yang memberikanmu satu kesadaran bahwa di belahan dunia sama ada manusia yang punya kehidupan yang tak seindah kau nikmati. Ia, apa adanya, keluar dari hati dan pikiran, memberitahumu bahwa hidupmu tak sesederhana yang kau tahu.

Buku, melukismu.

“Sometimes you read a book so special that you want to carry it around with you for months after you’ve finished just to stay near it.” Pernah kau rasakannya? Buku yang telah kau baca, tapi masih saja kau ingin menggamitnya, membawanya kemana-mana. Sebab kau tahu, setiap kali kau baca, ada saja makna baru yang tak sama seperti kau baca kali pertama. Atau bisa saja, ketika kamu asal membuka halamannya, ada satu tulisan yang cocok dengan keadaanmu saat itu. Kalau kamu pecinta buku, kamu pasti pernah mengalaminya.

Buku, melukismu.

“If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else is thinking.” Jika kamu hanya membaca buku-buku yang orang lain juga membacanya, kamu hanya akan berfikir sama sebagaimana orang kebanyakan berfikir. Carilah buku-buku baru, kembangkan daya jangkaumu. Kadang bahkan, buku-buku yang dijual di cuci gudang adalah permata mahal yang sulit dicari. Orang-orang hanya mencari best seller yang sesuai trendnya. Kalau terus begini, kapan kita buka cakawala berfikir kita lebih luas?

"There is no friend as loyal as a book.”
Selamat Hari Buku Sedunia. Tidak ada teman yang lebih setia dari buku. Setiap lembarnya ada kesegaran baru, warna baru, yang bukan tidak mungkin akan mengubah arah hidupmu. “Seseorang akan sama saja beberapa tahun kedepan, kecuali ia berubah; dengan buku yang ia baca, dan orang-orang yang ia temui.”

@edgarhamas

Perempuan serupa gudang misteri. Tak perlu susah-susah berusaha hingga jungkir balik hanya untuk mengerti dan memahaminya. Cukup dengan tidak menyakitinya saja, dia akan menyayangimu selama-lamanya
Mengagumi pada ia yang segala-galanya bergerak dalam senyap. Tidak menunjukkan “kesibukannya”, luar biasa produktif, langkahnya sulit ditebak, gudang rahasia, paham bahwa cukup Allah saja yang memuliakan, menjadi bermanfaat adalah hobinya dan super progresif.
H-sekian (Surat dari Ayah)

Hari ini, di tengah persiapan yang begitu padat merayap, pagi-pagi sekali Ayah menjadi begitu mellow. Melihat beberapa postingan Mas Gun di facebook, mungkin Ayah tergugah ikut posting. Tidak terlalu panjang, tetapi sudah cukup untuk membuat haru keluar dari tempat persembunyiannya.

Aku ingat ibumu waktu itu, awal Pebruari 1994, di kehamilan muda, pernah jatuh di kamar mandi rumah kontrakan pertama di Jogja, setelah itu kami berdua naik sepeda motor ibumu, ke dokter agar dirimu tetap berada di kandungan. Aku ingat ibumu ingin ayam goreng, aku antar ke ayam goreng itu, tidak mau, ayam goreng lainnya ndak mau, di tengah gerimis hujan ibumu minta ayam goreng di jalan malioboro, kami berdua bersepeda motor. Betapa romantisnya saat itu dikenang, di situlah aku mulai belajar memendam emosi, ya semua emosi pasti terkalahkan oleh cintaku kepada ibumu.

Aku ingat ketika kami berdua ingin beli bantal guling untuk tidur, begitu sampai di toko kasur, kita nanya berapa harga bantal guling sepasang, ternyata uang kami hanya cukup untuk satu saja, bantal atau guling, maka kami memilih guling, karena dengan guling kami bisa mengurangi sakit tidur di kamar tidur yang hanya diisi karpet tipis, menyangga kepala kami berdua.

 Aku ingat, bagaimana sakitnya ibumu menjelang kelahiranmu, dan karena aku tak tahan melihat raut wajah ibumu, aku lebih sering berada di luar kamar bersalin, bahkan ke luar rumah sakit, di jalan, di warung, dan dimanapun sembari aku menghisap rokok kesukaanku waktu itu, gudang garam international. Selain itu aku juga mulai banyak berada di musholla, shalat, berdoa, berzikir, dan merenungi menunggu kemunculan di dunia. Begitu selesai aku shalat di pagi hari itulah, entah shalat apalagi yang aku lakukan, panggilan menjelang, ternyata tangisanmu telah memenuhi ruang persalinan. Tak tahan tangis aku dekati ibumu, di tengah sakitnya, masih menyunggingkan senyum bahagia, Alhamdulillah… Luar biasa ibumu… 27 Agustus 1994, Aji Nur Afifah Al-Hasna, dengan tambahan nama panjang yang engkau juga tetap menyimpannya, Mirrah wa Ad-Din Ash Shaffa… semoga ini adalah doa yang selalu menghampiri dirimu nak…

Akhirnya, setelah 22 tahun, dari hari ketujuh hingga 3 bulan kelahiranmu, Aji Nur Afifah, aku selalu mendekapmu untuk memberikan ketenangan setiap detik, hingga setelah itu engkau makin kuat. Ketika engkau mulai merangkak, tak lama sepertinya, serasa kemarin, di enam bulan umurmu menirukan hewan kesukaan kita dalam cerita kelinci dan kura-kura, maka kita bersama meneriakkan “tua-tua” setelah itulah kita merangkak bersama sambil tertawa…

Ketika engkau sudah mulai belajar mengeja banyak kata, hanya satu kata ternyata yang menyeruak, aku ucapkan sandal engkau bilang “tatam”, aku bilang bakso ini panas, engkau bilang “tatam” pula, aku bilang ayo tidur nak, ambil bantal engkau bilang tatam… Ketika engkau berumur dua tahun, menjelang kelahiran adikmu, engkau mendampingiku seperti layaknya wanita dewasa yang penuh tanggungjawab membantu abahmu di rumah sakit.

Banyak cerita lain yang mengikat kita berdua. Di masa remaja engkau ternyata mengulang sejarah orangtuamua, selalu bergerak menjadi aktivis muda… Ingin membuat dunia cerah secerah duniamu… Di sini pula sepertinya egkau menemukan, kata langit itu bagian dari takdirmu pula, waktu itu aku bahagia luar biasa…

Sekarang, begitu ada sosok laki-laki lain yang ingin mendampingimu menjalani kehidupan, Kurniawan Gunadi, aku seperti lungrah, kata langit inilah takdirmu yang lain, tapi ini lain, membuat semua limbung… Semoga hanya limbung sementara, limbung manusiawi… Hanya ada satu kalimat… “selamat menjalani takdirmu berikutnya anakku, semoga engkau makin kuat menghadapi perjuangan lebih besar, membuat dunia lebih baik”…

Mas, baiknya dibalas apa suratnya Ayah ini?

Malang, 31 Agustus 2016.

A playlist de hoje são os funks atualizados/do momento que eu estou ouvindo, façam bom proveito (tem funk que só lançou prévia haha)

Dê like ou reblog se curtiu alguma música ♡

Perjuangan Sebutir Kurma

Salah satu buah yang berlimpah di bulan Ramadhan adalah kurma. Bisa dibilang ini salah satu menu spesial dalam berbuka puasa.

Tapi pernahkah kita renungkan bagaimana perjuangan sebutir kurma hingga tiba di lambung kita?

Kurma yang kita santap saat berbuka, bisa jadi datang dari negara jauh di timur tengah. Dia harus melewati jarak beribu-ribu kilometer untuk sampai ke kita. Melewati bea cukai, gudang importir, pedagang besar, pedagang kecil, hingga ke toko2 herbal yang menjual kurma. Kemudian kurma itu dibeli oleh ibu kita yang baik hati, dan menyajikannya dalam menu berbuka yang amat spesial.

Maka benarlah kata orang-orang saleh terdahulu, “Pengorbanan rezekimu untuk sampai kepadamu bisa jadi jauh lebih berat dari pengorbanananmu untuk mendapatkannya.”

Ramadhan adalah waktu yang baik untuk mempertajam rasa yakin kepada Allah. Sungguh tak akan wafat seorang hamba sebelum seluruh rezekinya sampai kepadanya.

Rezeki sudah dibagi, mati adalah pasti, dan perkara dunia tidaklah pantas membuat seorang mukmin terlalu bersedih hati.

Untuk hal-hal yang sudah dijamin tak perlu terlalu risau, adapun surga atau neraka yang belum tentu kemana kita akan kembali, haruslah lebih ditakutkan dan diperjuangkan dengan sungguh.

“Dan tiada dari segala yang melata di bumi melainkan atas tanggungan Allah-lah rizkinya.” (Q.S Huud: 6)

Sen @SenyumSyukur
Penulis Cinta & Kehilangan
Dan Apa Kabar Rindu

PO masih di buka hingga 5 Juni 2017. Terimakasih buat yg sdh pesan dan transfer 😊😊😊

Ajak teman2 Anda untuk dapat pesan2 seperti ini dengan ketik "mau” spasi “nama” kirim ke no wa ini (0812 8642 7969)

Cerpen: Sudah Sudah, Sudah Selesai

Kini Bila telah benar-benar selesai. Sebuah laptop di atas meja belajarnya. Ia tekan tombol power. Lima menit. Gambar doodle art bertuliskan namanya muncul dilayar.

Malam ini ia memiliki misi seperti biasanya. Tapi mungkin ini yang terakhir dari berantai-rantai misi yang ia lakukan kemarin-kemarin.

Kalau kemarin ia selalu menuliskan semuanya dikertas lalu dimasukkan ke amplop hitam, maka kali ini, ia tulis diblog pribadinya. Ia buka satu laman. Ia benarkan posisi senyaman-nyamannya .Kini jari mungilnya mulai menari-nari begitu lihai.

Kak Adya.

Maaf, Kak. Akhir-akhir ini aku sering banget nulis nggak jelas. Semoga Kakak paham, cara terbaikku mengobati dan menata hati ketika sedang berkecamuk adalah hanya dengan menulis. Surat ini bakal panjang. Nggak papa ‘kan?

Perlu Kakak ketahui, aku nulis ini sudah dalam keadaan aku dengan hatiku yang sudah utuh meski nggak sama. Aku memang nggak bisa melupakan, tapi insyaAllah aku sudah memaafkan, Kak. Memaafkan Kakak, memaafkan Kak Cinta, terutama diri sendiri.

Sebenarnya sejak kemarin ada ratusan kalimat yang pengen aku sampaikan ke Kakak. Berhubung Kakak memilih bungkam, aku tulis sini aja, deh. Soalnya surat yang lain cuman bisa aku simpan diamplop hitam disela-sela buku bacaanku. Semoga untuk yang ini Kakak beneran  membacanya yaaaaa. Aamiiiiin.

Eh. Nggak perlu khawatir, Kak. Nangis sudah jadi rutinitasku setiap hari. Jari keiris pisau aja nangis, apalagi hati yang keiris? Hahaha. Tenang. Ada tisu, ada temen, ada Qur’an. Ketiganya sudah siap sedia mendampingi.

Kak. Selama ini aku begitu bahagia mennyayangi Kakak. Kalau ditanya orang apa yang bikin aku suka sama Kakak, aku cuma bisa jawab: YaAllah, ngeliat dia nafas aja udah bikin aku jatuh hati. Wk. Iya, cukup melihat Kakak nafas aja aku sudah tenang. Alay? Biarin! Dicuekin, disakitin, dikacangin mah so what. Yang aku tahu betul adalah, aku begitu sayang sama Kakak.

Mungkin selama ini Kakak nggak pernah sadar aku dengan caraku sendiri begitu keras mengusahakan Kakak. Meski aku tahu, aku sesederhana itu. Bahkan supersederhana dibanding Kak Cinta yang… aku aja sebagai perempuan ngerasa seneng gitu ngeliat wajahnya. Cantik banget! Apalagi Kakak yang ngeliat, kan? Ah iya. Aku nggak cantik. Akupun nggak menarik. Aku cuma perempuan yang merasa beruntung aja bisa kenal sama Kakak. Apa yang lebih perempuan pikirkan selain hal ini dalam keadaan seperti ini? Hah.

Percakapan kitapun sesederhana itu. Bahkan aku percaya Kak Cinta lebih sering bercakap-cakap dengan Kakak. Dia pasti yang lebih sering menyemangati Kakak. Dia pasti juga yang lebih sering selalu ada buat Kakak. Bahkan dia mungkin sudah sedekat itu dengan keluarga Kakak. Dia ada di dalam hati Kakak.

Caraku hanya sebatas—aku selalu memulai bercakap-cakap dengan-Nya. Aku sering cerita ke Dia tentang Kakak, tentang cita-citaku bersanding dengan Kakak. Keyakinan-keyakinan itu. Semuanya, Kak. Yaaah walaupun aku tak tahu lebih banyak soal Kakak ketimbang Kak Cinta. Tapi entah kenapa waktu itu aku begitu percaya diri berpikir dan yakin bahwa kalau kita disatukan, semua akan lebih baik dan lebih bermanfaat untuk sesama ketimbang kalau Kakak sendiri atau aku sendiri.

Kak, sebenarnya aku tahu sejak dulu aku sudah kalah. Akunya aja yang memaksakan diri. Aku nggak mungkin marah sama Kak Cinta. Aku juga nggak mungkin marah sama Kakak. Tau nggak akhirnya aku malah marah sama siapa? Aku marah sama diri sendiri. :(

Aku naif, Kak. Kenapa aku kalah sama perasaan sendiri dan begitu ngotot memaksa diri? Kakakpun kenapa nggak bilang dari awal kalau ada yang tersakiti karena tau kita dekat? Kenapa Kakak nggak bilang, Kak? Karena takut aku sakit hati sebab tau aku juga sayang sama Kakak? Karena nggak enak?  Menjaga perasaan gitu maksudnya? Hah! Kakak pengecut. Bahkan sekarang aku lebih sakit hati. Bahkan sekarang perasaanku lebih tak terjaga. Kakak telat.

Tapi yasudahlah Kak. Aku sudah nggak lagi memiliki perasaan ingin memiliki Kakak. Aku tahu aku kalah, dan aku nyerah. Itu lebih baik.

Kak. Di dunia ini hanya dipenuhi kesementaraan. Tak ada yang selamanya. Aku cukup senang pernah melewati kesementaraan bersama Kakak dalam bentuk tangis dan bahagia. Episode yang ini sudah cukup. Nggak apa-apa. Semua berhak pergi kan? Silahkan Kakak pergi. Terserah mau kemana. Tapi diluar ketidakmampuanku mendeteksi apa-apa yang terjadi sama Kak Cinta dan Kakak, kalau masih sayang, perjuangkan Kak Cinta, Kak. Mumpung belum telat.

Terimakasih sudah mengizinkan aku memasuki rumah Kakak meski hanya sampai ruang tamu. Tak sampai ruang makan atau bahkan gudang. Terimakasih sudah pernah meminjamkan pundak untuk bersandar dan telinga untuk mendengar. Terimakasih sudah mengorbankan banyak hal untukku.

Jangan sedih. Jangan sedih, Kak. Ini hanya soal waktu. Semua ada masanya. Semua akan baik-baik saja. Aku masih teman Kakak.

Bila.

Harusnya Bila memilih option post privately. Tapi enggak. Kali ini, biar semua orang tau. Biar. Biar semua orang tau bahwa ia pernah mencintai begitu dalam kepada sosok yang belum benar-benar ia kenal di dunia ini. Bahwa di dunia ini juga ada, ada cara jatuh cinta yang sesederhana itu.

Dan cukup. Cukup sekali saja.

NH Dini & Pada Sebuah Kapal, 1972

Nganu, maaf tumb, baru sekarang saya bisa cerita2 tentang buku lagi. Ya gimana, menghabiskan 500 halaman itu tidak bisa langsung kelar dalam semalam kayak bikin candi Prambanan.

Oke tumb, pertama-tama, ini akan terdengar seperti pangakuan dosa. Saya mendapatkan buku ini dengan cara haram: mencuri. Iya, saya nyolong.

Malam itu, seorang kawan lama mengajak (sebenernya sih memaksa) saya untuk datang ke acara peringatan lustrum SMA kami. Acara itu diadakan di sekolah kami. Saat kami mau pulang, kami menyempatkan diri berjalan melewati ruang2 kelas yang dulu pernah kami tempati. Sejenak, kami bernostalgia. Ruang2 kelas itu adalah saksi bisu kenakalan kami semasa remaja. Sejenak, saya tenggelam dalam romantisme masa lalu. Kita sebagai manusia memang suka menalikan diri kepada kenangan.

Tatkala kami melewati bekas kelas kawan saya yang bentuknya nggak karuan seperti gudang, mata saya menangkap tumpukan buku yang tidak teratur di atas meja yang kotor dan berantakan. Jelas saya tertarik untuk melihat buku apa yang tertumpuk disana itu. Jika itu bukan buku, tak akan saya tertarik untuk melihatnya. Singkat kata, saat itulah saya mendapati novel lawas yang covernya udah rusak nggak karuan bentuknya ini.

“Wah, ini novelnya NH Dini, bro!” seru saya kepada kawan saya.

“Siapa tuh? Yang ngetik naskah proklamasi ya?” jawab kawan saya.

“Itu Sayuti Melik, goblok.”

Wedhus. Kawan saya ini emang spesies jenglot yang ahistoris. Kalau Bung Karno tau dia punya generasi muda seperti kawan saya ini, beliau pasti malu.

Begitulah awal saya bertemu novel ini. Waktu itu awalnya saya ragu mau membawa novel itu pulang. Tapi melihat kondisinya yang udah nggak karuan dan cuma ditumpuk doang di kelas yang kondisinya lebih mirip gudang, akhirnya saya memantapkan hati untuk secara sadar menambah panjang daftar dosa saya dengan membawa buku itu pulang. Iya, saya colong. Mending novel ini saya colong daripada cuma jadi seonggok kertas nggak berguna yang lama2 bakal makin rusak dimakan rayap ye kan. Nggak apa2 dosa saya nambah. Toh itu dibarengi dengan niat mulia saya untuk memberi perlakuan yang berperikebukuan kepada buku, yakni membacanya. Dosa nambah, tapi insyaallah pahala juga nambah.

Apa tumb?

Iya deh tumb, iya. Saya nggak akan jadi makhluk yang apologis. Saya nyolong buku itu karena emang aji mumpung aja. Kapan lagi bisa mendapat karya dari novelis legendaris tanpa harus mengeluarkan biaya sama sekali ye kan. Kan berasa kayak nemu harta karun. Di pasaran, novel ini sudah sangat sulit didapatkan mengingat dia adalah novel lawas. Novel Pada Sebuah Kapal ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka. Tapi yang saya dapatkan ini adalah Pada Sebuah Kapal yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya, penerbit yang dulu pertama kali menerbitkan novel ini. Ini artinya saya mendapatkan barang yang super langka. Mendapatkan barang yang langka adalah kepuasan tersendiri buat saya. Sebab karena langka, value-nya terasa jadi berlipat ganda. Dulu Pustaka Jaya pertama kali menerbitkan novel ini pada tahun 1972. Untuk yang saya dapatkan ini adalah cetakan kedua pada tahun 1976. Artinya, buku yang saya colong ini sudah berusia 41 tahun. Nggak heran kalau bentuk covernya udah rusak nggak karuan begitu.

Oke lanjut. Nama Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin mungkin adalah nama yang asing bagi sebagian besar masyarakat. Tapi saya berani bertaruh kalau nama Nh Dini pasti familiar bagi sebagian besar masyarakat. Nh Dini adalah nama pena novelis legendaris ini. Iya, legendaris. Saking legendarisnya, nama Nh Dini masuk ke dalam kurikulum pendidikan bahasa indonesia di bangku sekolah. Saya ingat betul, dulu saya pertama kali mengenal nama Nh Dini di bangku sekolah dasar. Nama beliau seringkali muncul dalam soal-soal di sekolah saya waktu itu.

Meskipun nama Nh. Dini ini kerap kali muncul di pelajaran sekolah, tapi isi karya beliau tidak pernah benar2 dikenalkan kepada murid sekolah. Setidaknya itu yang saya rasakan. Di bangku SD, saya sudah dikenalkan dengan nama Nh Dini, tapi saya nggak diajarin seperti apa isi karyanya. Aneh kan? Setelah saya membaca Pada Sebuah Kapal milik beliau ini, saya akhirnya bisa menelaah bahwa karya Nh Dini memang tidak bisa benar2 dikenalkan kepada murid sekolah.

Apa pasal?

Nh Dini adalah novelis yang relatif vulgar. Dalam Pada Sebuah Kapal ini misalnya, Nh Dini kian banyak menyajikan adegan2 yang erotis. Terang saja materi yang bermuatan adengan ranjang mustahil lulus sensor untuk disajikan kepada anak sekolah. Apalagi di masyarakat kita, paham bahwa seks adalah hal yang tabu telah kokoh terkonservasi.

Pun, dalam Pada Sebuah Kapal ini Nh Dini menyuratkan sesuatu yang terang berlawanan dengan nilai moral yang menjadi konsensus masyarakat: perselingkuhan. Terang saja ihwal ini pun mustahil lulus sensor untuk disajikan kepada anak sekolah. Mana bisa kita ngajarin anak orang buat melakukan pengkhianatan atas hal yang disucikan dan disakralkan: ikatan pernikahan.

Sebenernya premis novel Pada Sebuah Kapal ini mirip dengan premis film Titanic yang legendaris itu, mengisahkan sepasang manusia yang saling jatuh cinta saat bertemu di atas kapal. Jadi Pada Sebuah Kapal ini berkisah tentang Sri, perempuan Jawa asal Semarang yang menikah dengan Charles Vincent, seorang pria Prancis dan mereka kemudian memiliki satu anak perempuan. Saat Sri naik kapal bersama putrinya yang masih kecil dari Marseille menuju Saigon, Sri bertemu Michel yang merupakan kapten kapal yang ditumpanginya itu. Michel adalah pria yang sudah menikah dan memiliki dua anak. Sri dan Michel akhirnya saling jatuh cinta. Mereka berselingkuh dari pasangan sahnya.

Nah, hal tabu dan amoral memang kombinasi paling sempurna untuk menganggap novel ini haram bagi anak sekolah. Seks dan perselingkuhan adalah duo konten yang dianggap berbahaya. Namun tentu bukan hal-hal itu yang menjadi poin utama dalam Pada Sebuah Kapal. Novel ini jauh lebih valuable dari sekedar cinta dan seks. Lewat Pada Sebuah Kapal ini, Nh Dini seolah ingin menyiratkan gagasan bahwasanya manusia pasti akan selalu punya dorongan untuk membebaskan diri dari sesuatu yang menekannya. Tak mungkin manusia bisa ujug2 melakukan pelanggaran moral dengan berselingkuh seperti itu bukan? Semua hal pasti ada motifnya.

Dalam Pada Sebuah Kapal ini, Sri dan Michel sama2 tertekan oleh kehidupan rumah tangganya. Sri sangatlah tersiksa jiwanya oleh perilaku dan perangai suaminya, dan Michel pun amatlah tertekan oleh watak istrinya. Itu latar belakang ketidakbahagiaan tokoh Sri dan Michel. Bahkan Sri merasa diperlakuakan seperti benda oleh suaminya. Ketika Sri dan Michel bertemu, mereka akhirnya sama2 mendapatkan apa yang selama ini mereka harapkan, yakni perasaan dihargai, perasaan dihormati, perasaan dijaga dan dikasihi secara lembut yang menenangkan. Mereka akhirnya bersatu, dan merdekalah mereka dari tekanan batin yang selama ini menghimpit jiwa mereka. Inilah value bisa kita interpretasikan dari Pada Sebuah Kapal. Novel ini merepresentasikan sekaligus merefleksikan hakikat manusia, yakni sebagai insan yang selalu terdorong untuk merdeka dan mendapatkan apa yang dia inginkan. Fiksi seperti ini jujur, lugas, dan apa adanya dalam menceritakan manusia. Kalau bicara tentang cinta dan seks, sejatinya cinta adalah perasaan dan seks adalah nafsu. Tak ada manusia yang tidak punya perasaan dan nafsu. Buang jauh2 persepsi bahwa seks adalah tabu, sejatinya novel ini membicarakan hal yang sangatlah manusiawi.

Namun sebagai catatan, Nh Dini pun disini tidaklah bermaksud mewajarkan tindak perselingkuhan itu sendiri. Walau bagaimanapun, selingkuh tetaplah kesalahan dan menabrak norma yang sudah kita sepakati. Itu tidak terbantahkan dan tak perlu pembelaan. Yang terkesan lebih ingin dilontarkan Nh Dini dalam Pada Sebuah Kapal ini adalah tentang bagaimana kita mencerna sesuatu dengan berangkat dari pemahaman atas penyebab dari sesuatu itu. Kasarnya aja nih ya, Nh Dini seolah2 ingin mengajak kita untuk memahami mengapa orang melakukan kesalahan/pelanggaran (dalam konteks ini berselingkuh), bukan ujug2 langsung menghakimi orang yang melakukan kesalahan/pelanggaran (berselingkuh) itu sebagai manusia yang amoral. Segala hal, termasuk hal yang buruk, pasti ada latar belakang dan pemicunya. Latar belakang dan pemicu itulah yang penting untuk dipahami.

Dalam ulasan2 yang membahas Nh Dini, kerap kali dipaparkan bahwa Nh Dini adalah seorang penulis feminis. Cek saja ke wikipedia, disana Nh Dini dideskripsikan sebagai novelis, sastrawan, dan feminis. Saat saya membaca Pada Sebuah Kapal ini, saya berusaha menemukan gagasan feminisme yang tersirat di dalamnya. Jujur aja saya agak kesulitan menemukan manifestasi gagasan itu dalam Pada Sebuah Kapal ini. Mungkin saya yang kurang mampu menginterpretasikan novel ini. Atau mungkin ide2 feminisme lebih banyak tersirat dalam karya Nh Dini yang lainnya. Hanya satu fragmen dalam Pada Sebuah Kapal yang saya persepsikan paling lugas mewakili gagasan feminisme:

“Tetapi laki-laki, kukira apapun juga yang diperbincangkan, selalu laki-laki yang memiliki kelebihan. Kalian lebih diterima meskipun berbuat suatu kesalahan yang besar.”

Itu dialog yang diucapkan tokoh Sri kepada tokoh Michel. Bisa dengan mudah kita cerna bahwa disitu tersirat gagasan yang menggugat ketidaksetaraan berbasis gender. Tokoh Sri berpandangan bahwa ada pemahaman kalau laki-laki lebih superior dari perempuan dan masih ada perbedaan perlakuan yang diterima seseorang dengan basis gender. Kalau dialog itu diubah ke dalam bahasa yang lebih kekinian, maka kurang lebih bakal menjadi, “lo mah enak jadi cowok, lah kita ini cewek nih!”

Dalam Pada Sebuah Kapal ini, ada satu fragmen dimana Michel ingin ngajak Sri “begituan”, tapi awalnya Sri menolak. Disini, tokoh Sri mengalami konflik batin. Sri sadar kalau dia diikat oleh konstruksi moral yang tidak berpihak kepadanya. Sri meragu. Kalau perempuan mengkhianati ikatan pernikahan, pasti bakal langsung dicap amoral habis-habisan tanpa ditoleransi ya kan? Nah, disitulah dilema yang melanda tokoh Sri. Sri mencintai Michel, tapi cintanya terbentur moral. Sementara kalau laki-laki yang melakukan pengkhianatan, kesannya toleransi yang didapat laki-laki itu lebih tinggi. Ini semacam bias moral gitu deh.

Yah, tapi pada akhirnya Sri dan Michel tetep aje begituan~

Sri pada akhirnya dengan penuh kesadaran melakukannya dengan Michel, karena disini tokoh Sri digambarkan ingin mendapatkan apa yang dia inginkan secara merdeka. Sebenernya kalau dicerna, Nh Dini seolah ingin mengatakan bahwa perempuan juga berhak mendapatkan kepuasan lahir batin atas seks. Bukan Cuma laki-laki saja yang bisa begitu, perempuan pun punya hak yang setara atas itu. Perempuan bukan objek dalam hubungan seks. Kedudukan perempuan adalah sebagai subjek dalam hubungan seksual, sama dan setara dengan laki-laki.

Sebenernya mungkin gagasan feminisme juga bisa diinterpretasikan dari watak karakter Sri yang diciptakan Nh Dini ini. Sejak awal cerita, Sri digambarkan sebagai perempuan yang tau betul apa yang dia inginkan, dan Sri ini selalu mencoba menggapai apa yang dia inginkan itu. Dia tokoh yang merdeka dan tidak mau disetir oleh siapapun. Bahkan saat Sri akan menikah dengan Charles yang orang asing, kakak Sri, bernama Sutopo, menolak dengan keras. Tapi penolakan dari orang yang paling dekat sehidup-semati dengan Sri itu tidak sedikitpun menghalangi niat Sri untuk menikah dengan orang asing.

Dalam berbagai ulasan terkait karya Nh Dini, ternyata saya dapati kalau Pada Sebuah Kapal menjadi salah satu karya yang selalu disebut2. Mungkin memang Pada Sebuah Kapal ini adalah Magnum Opus Nh Dini. Tapi entahlah, saya pun belum membaca karya beliau yang lainnya. Yang jelas, diantara semua karya Nh Dini, jelas terasa bahwa Pada Sebuah Kapal adalah karya yang sangat amat populer. Terlalu populer, bahkan. Karya ini banyak sekali dijadikan objek riset oleh para peneliti dari universitas dalam negeri maupun luar negeri. Mengetahui pengaruh Pada Sebuah Kapal yang begini besarnya dalam dunia sastra, seketika saya merasa bersyukur dan beruntung bisa membaca dan memiliki novel ini. Yah, walaupun saya memilikinya dengan cara haram…

Salah satu kritik yang umum terhadap Pada Sebuah Kapal adalah Nh Dini dianggap terlalu menyadur kisah hidupnya sendiri. Memang banyak sekali kesamaan antara tokoh Sri dengan Nh Dini di kehidupan nyata. Sri saat muda bekerja di radio, Nh Dini pun saat muda juga sempat berkarya di radio. Sri diceritakan ingin menjadi pramugari setelah keluar dari radio, Nh Dini sendiri dulunya memang seorang pramugari untuk maskapai Garuda Indonesia. Yang paling mirip, Sri diceritakan menikah dengan diplomat Prancis dan ikut siaminya itu hidup di luar negeri, Nh dini sendiri memang kenyataannya menikah dengan Yves Coffin, seorang diplomat Prancis dan ikut suaminya hidup di luar negeri. Tapi kemudian dalam satu kesempatan wawancara, saya mendapati Nh Dini menanggapi kritik itu dengan mengatakan bahwa dalam Pada Sebuah Kapal, hanya 5% saja yang dia tulis berdasarkan pengalaman hidupnya. 95% sisanya adalah murni dari kreatifitasnya sebagai penulis.

Nh Dini akhirnya bercerai dengan Yves Coffin dan pulang ke Indonesia. Belakangan, Nh dini menulis karya berbentuk “cerita kenangan”. Ini adalah karya autobiografi yang dibalut cerita berbentuk novel. Intinya, Nh Dini menulis kenyataan hidupnya sendiri dengan novel sebagai bentuk penceritaannya. Nah, dalam salah satu karya cerita kenangan beliau inilah, terkuak inspirasi yang mendasari penciptaan novel Pada Sebuah Kapal. Bahwa benar adanya Nh Dini dulu pernah berselingkuh dengan seorang pria pada saat beliau naik kapal bersama Marie-Claire Lintang Coffin, putrinya yang masih kecil. Pria itu bernama Maurice, kapten dari kapal yang beliau tumpangi. Pada saat itu, memang suami Nh Dini, Yves Coffin, telah berselingkuh dengan perempuan lain. Nh Dini jelas tidak bahagia. Dari situ lantas lahirlah Pada Sebuah Kapal yang hingga kini menjadi karya legendaris Nh Dini.

Kini usia Nh Dini 81 tahun, sama sekali sudah bukan usia produktif. Dari ulasan2 yang saya baca terkait beliau, sampai sekarang ini beliau masih menulis karya dan sesekali melukis. Konsisi beliau katanya masih baik, walupun memang beliau punya penyakit. Beliau punya vertigo, dan sempat sakit hepatitis dan opname lama di rumah sakit. Hidup beliau murni dari royalti yang diterimanya atas karya2nya. Dulu beliau juga menjual lukisannya, tapi sekarang sudah tidak laku lagi walupun lewat pameran sekalipun. Konon beliau juga tidak punya rumah. Beliau hidup “menitipkan diri” di wisma lansia. Dulu di Jogja, terakhir saya baca beliau pindah ke Ungaran.

Banyak yang menganggap Eyang Dini sekarang hidupnya sulit. Ya, memang mungkin beliau bisa jadi kesulitan dalam hal ekonomi. Uang royalti yang beliau dapat tidak bisa menutup biaya kesehatan beliau. Dulu beliau menulis surat kepada presiden SBY untuk meminta asuransi kesehatan. Tapi negara membalas surat itu dengan penolakan. Itu membuat beliau merasa bahwa negara tidak memberi perhatian yang layak pada para sastrawan dan seniman. Beliau berujar, “Kalau di Malaysia, sekaliber saya ini sudah mendapat gelar sastrawan negara dan sudah disantuni pertahun sebagai jaminan kesehatan”. Sayang, sikap Indonesia terkesan abai terhadap sastrawan besarnya seperti ini.

Tapi pemirsa, sebenernya Eyang Nh Dini sekarang masih bisa hidup tercukupi. Kabar bahwa beliau hidupnya merana di usia senja boleh dikatakan tidak sepenuhnya benar. Belakangan, memang ada semacam kesalahpahaman yang beredar di masyarakat tentang hal ini. Hidup Eyang Dini sekarang sudah dipenuhi oleh anak-anaknya. Pemirsa tau Despicable Me dan Minions kan? Dua film itu meledak di dunia, menghasilkan pendapatan yang sangat2 besar. Dua film besar itu adalah buah karya Pierre-Louis Padang Coffin, putra Nh Dini hasil pernikahan beliau dengan Yves Coffin. Kini secara berkala Pierre mampu memberi kiriman untuk ibundanya di Indonesia. Ini pun menepis hoax yang beredar di masyarakat bahwa Nh Dini memiliki hubungan yang buruk dengan anak2nya yang hidup di luar negeri. Padahal mah, Nh Dini baik2 saja dengan anak2nya. Bahkan anak2 beliaulah yang menyokong Eyang Dini sekarang.

Pemirsa, mari kita doakan agar Eyang Dini sehat selalu ya.

Hm. Btw tulisan ini panjang bener ya tumb. Berantakan ngalor ngidul gak jelas lagi. Ini tulisan saya yang paling panjang ketika membahas tentang buku. Yasudah tumb. Sekian dan terima nikahnya. Akhiran, saya mengutip apa yang dikatakan Eyang Sapardi tentang Nh Dini:

“Ia telah mengajak kita untuk memahami, bahkan menghayati hakikat keperempuanan yang dalam novel2 kita sebelumnya hanya ditampilkan sebagai konsep. Dalam Pada Sebuah Kapal dan beberapa cerita pendeknya, Dini telah menciptakan perempuan yang sama sekali tidak mau menoleh ke belakang, tidak hendak diikat oleh aturan yang mengekang kebebasan individu, yang menyadari kualitasnya sendiri dan dengan itu memandang ke depan.”

-Prof. Sapardi Djoko Damono

Haiii u all… Dh lme xon rasa nye….
I ada barang baru ni… Terbaik pnya… Awek pasir gudang umo 16 tahun… Esok i msok kn oke… Syg u all… Muahhh ckit..