gudangs

Lembar Pertama.

Sebagai orang yang tidak terlalu suka buku, aku lebih senang meminjam daripada membeli. Hehe hehe

Biasanya yang mendorong untuk baca sebuah buku adalah kalau ga karena pengarangnya, ya dari “katanya”. Katanya si A buku ini bagus. Katanya temenku, buku ini layak kamu masukkan ke list buku-yang-harus-dibaca.

Nah, aku baru beli buku nih. Weh, tumben? Begini ceritanya:

Minggu lalu, setelah siaran di radio Sonora sama Elis Cetta, pas keluar gedung ga sengaja noleh kiri, ada tulisan Kumur-Kumur, ternyata lagi ada cuci gudang bukunya Kompas. Elis langsung tertarik. Melihat tumpukan buku dengan harga yang super super murah bikin orang yang suka baca buku jadi jumpalitan. Elis dan Mbak Nia (temennya yang ikutan juga), sibuk milih buku. Aku? Update igstory. Wuiihh…kapan lagi kaaan ketemu Elis??? Wkwkwk

Apalah daya seorang hamba yang gampang ketularan ini. Latah. Merasa gak bisa melewatkan momen, aku intip tumpukan buku yang dipegang Elis. Buku yang bakal dia giring ke bagian kasir. Diantara tumpukan buku itu, ada buku yang paling menarik menurutku, judulnya Emak, bukunya Daoed Joesoef. Siapa itu Daud Yusuf? Aku tanyalah ke Elis, “Daoed Joesoef siapa sih Lis? Bagus ga bukunya?” Kata Elis, dia belum pernah baca buku lainnya si Daoed Joesoef sih, “Tapi katanya dia bisa menyampaikan cerita Emak ini dengan sangat sederhana.”

Ternyata di belakang bukunya ada tulisan, “Daoed Joesoef adalah mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1983) yang sejak kecil gemar membaca.”
Wkwk maafkan aku yang kurang luas pengetahuannya ini.

Baiklah. Aku ambil buku yang sama. ‘Penyampaian yang sederhana’ sudah lebih dari cukup. “Sip. Aku beli ini. Aku bayar duluan. Sebelum kebeli yang lain.” Elis sama Mbak Nia tetap sibuk pilih yang lain. Tapi pilihan yang lain terlalu berat, terlalu kepolitik-politikan.

Setelah diketawain sama mas kasir karena cuma beli satu buku, aku gabung lagi sama Elis dan temannya yang masih sibuk milih buku. Kalau temenan sama penjual parfum bisa ketularan wanginya, ini temenan sama pembaca buku, jadi ketularan pengen jadi pembaca juga. Hehe

Hari ini, aku mulai buka bukunya. Lembar pertama cuma ada satu kata: Emak.
Aku deg-degan. Ada perasaan aneh. Tahu kan perasaan deg-degan sebelum baca buku yang kita yakin akan membuat kita hanyut di dalamnya? Atau perasaan pertama kali membuka buku yang selama ini kita tunggu terbitnya? Mirip seperti itu. Tiba-tiba lampu seakan mulai meredup, ada suara yang mulai muncul pertanda film akan dimulai. Film yang terputar setelah mata membaca rentetan huruf warna hitam yang kemudian mempersilahkan otak kita berimajinasi membentuk semua karakter yang muncul dalam cerita. Hebat ya membaca buku itu.

Setelah membaca kata “Emak” dilembar pertama tersebut, aku melirik secangkir kopi panas di meja. Gak bisa. Pilihannya aku baca sekarang, atau aku biarkan kopi hangat itu berubah jadi kopi dingin. Akhirnya aku putuskan untuk menghabiskan dulu kopiku.

Hehe

Intinya, aku belum sempet baca.

Tahukah kamu?
Bahwa istilah kelautan “Arsenal” dan “Admiral” berasal dari bahasa Arab.

“Arsenal” dalam bahasa Inggris berarti ‘Gudang Senjata’ dan berasal dari kata 'Daar As Shina'ah’ yang bermakna sama.

Sedang “Admiral” dalam bahasa Inggris bermakna pemimpin kapal, dan berasal dari kata “Amirul Bahr”, yang bemakna sama.

Orang Eropa banyak menyerap istilah kelautan Umat Islam karena dahulu kaum Muslimin menjadi polisi samudera Internasional yang disegani seluruh dunia.

—  @edgarhamas | dari buku Fath Saqliyah karya DR Syauqi Abu Ridho
Umur kita ibarat gudang. Maka baik dan buruk gudang tersebut, tergantung bagaimana kita mengisinya. Apakah dengan emas yang berharga, atau dengan sampah yang menjijikan.
—  Ust. Afifi abdul Wadud
Balasan itu Tergantung Perbuatannya

Alkisah, seorang khalifah ternama di era Abbasiyah I (Baghdad) bernama Al Mutawakkil, memiliki sejumlah anak dan sudah menentukan putra-putra mahkotanya.

Ia menunjuk anaknya, Al Muntashir, untuk menjadi suksesor setelahnya, lalu berikutnya Al Mu'taz, anak kesayangannya dari istrinya yang lain. Namun, syahdan Al Mutawakkil mengubah keputusannya. Al Mu'taz dijadikan putra mahkota pertamanya, tak lain karena cintanya kepada ibu Al Mu'taz.

Al Muntashir kesal. Ia tak senang dengan keputusan ayahnya. Kejadian ini bertepatan dengan ketidakpuasan orang-orang Turki kepada ayahnya dalam suatu urusan.

Akhirnya, mereka bersekongkol.

Dalam suasana rehat, masuk lima orang Turki suruhan Al Muntashir ke dalam ruangan ayahnya, lalu membunuhnya. Al Muntashir pun naik menggantikan sang ayah.

Dan apa yang terjadi pada Al Muntashir, adalah buah dari apa yang ia lakukan kepada ayahnya sendiri.

Suatu ketika, Al Muntashir mengeluarkan permadani peninggalan sang ayah dari dalam gudang. Ia meminta permadani itu agar dibentangkan. Ternyata, di dalamnya ada bungkusan berisi gambar seorang laki-laki Persia yang sedang memakai mahkota. Di sekitarnya ada tulisan berbahasa Persia.

Ia meminta agar surat itu dibaca dan diterjemahkan. Seorang penerjemah mengernyitkan dahinya saat membaca tulisan di kertas itu. Awalnya ia bungkam, tak mau bicara. Tapi setelah Al Muntashir memaksa, akhirnya si penerjemah angkat bicara,

“Tuan, tulisan ini artinya, ‘Saya adalah Syairawaih anak Kisra Hurmuz. Saya telah membunuh ayah saya, dan saya tidak menikmati kekuasaan ini melainkan hanya enam bulan saja.’”

Mendengar hal itu, wajah Al Muntashir berubah. Ia langsung meminta agar permadani itu dibakar. Dan sejarah mencatat, ia dibunuh oleh orang-orang yang ia perintah untuk membunuh ayahnya sebelumnya, dan ia hanya berkuasa enam bulan saja!

Sebelum meninggal, Al Muntashir berkata,

“Wahai ibuku, telah lenyap ia dan akhirat dari diriku. Kubunuh ayahku, maka aku pun kini dibunuh.”

“Sebagaimana kamu perlakukan selainmu, maka seperti itulah kamu akan diperlakukan”

(Pepatah Arab)

Referensi: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni, Lc. (hal 112-114), dengan pengubahan seperlunya.

Aku Masih Sendiri Mencumbui Sunyi (lagi)

Aku di buang teman sendiri, di ludahi hingga ke ubun-ubun.
Mereka mardeka sendiri-sendiri, aku tenggalam dibenamkan oleh ego (lagi).
Aku mengerutu kepada teman sendiri. Mau saja benak di culik orang asing.

Aku di buang kawan sendiri, seperti radio usang yang bedebu di belakang gudang.
Usah genggam tangan-tangan najisku, aku ini binatang. Main sana sama orang asing berkaki dua, berkemaluan ganda.

Aku di benci orang, aku malang dan selalu akan ada yang nyata sejiwa,ada yang terbawa-bawa sejiwa karna usia serta ada yang pura-pura sejiwa karna harta.


Kamar tidur Dedi, Batusangkar 11 Maret 2017.

Surat Milik Kamila

Boleh kau marah, memekik di telingaku, tapi kupikir sudah takdir ketika surat rahasiamu sampai pada aku, Kamila. Meski tak engkau bungkus rapi, kertas kuning sebab dimakan waktu itu terlalu menarik perhatianku.

Aku menemukannya di tumpukkan buku-buku lama, yang sepertinya memang sengaja kautinggalkan; tak kaubawa. Aku perlu membereskannya, karena bukuku juga butuh tempat agar rapi tertata; meski tidak semuanya ingin kubaca. Gara-gara suratmu, empat puluh lima menitku berserakan di lantai gudang.

Engkau ternyata sempat menuliskan titimangsa di kepalanya. Aku membaca dimulai dari sana. Tertulis 1957, 29 Desember. Kutelusuri perlahan, hingga sampailah aku pada satu nama di surat itu. Sebuah nama, yang belakangan kuhitung lebih dari 20 kali kau menyebutnya.

Kau mencintainya? Maksudku, bagaimana cinta bisa membuatmu semenderita itu? Aku merasakan air matamu yang mengering di kertas itu, lengket, tanganku asin. Seketika, mengelebat bayangan engkau yang tersedu hingga gagu. Engkau tahan, lalu kautumpahkan dalam bentuk tulisan. Kamila, aku tenggelam.

Bagaimana rasanya mengandung cinta dan luka secara bersamaan? Yang membuat perutmu semakin buncit dari bulan ke bulan? Bagaimana rasanya, Kamila?

Aku bukan engkau, tapi lututku seperti sudahlah kehilangan tempurungnya. Membaca suratmu untuk orang itu, aku menyeduh air matamu, aku menyeduh luka terdalammu, aku menyeduh duka sepanjang hayatmu, aku menyeduh cinta abadimu. Aku menyeduhnya.

Kupeluk engkau melalui suratmu, Kamila. Semoga takdir membawaku pada surat milikmu yang lainnya. Agar aku semakin menerima, bahwa tidak ada bahagia yang benar-benar luka, kecuali cinta.

Jangan mudah marah

Alkisah ada seekor ular memasuki gudang tempat kerja tukang kayu di sore hari, Kebiasaan tukang kayu membiarkan sebagian peralatan kerjanya berserakan tanpa dirapikan. Ketika ular itu masuk ke dalam gudang tanpa sengaja dia merayap diatas gergaji…

Tajamnya mata gergaji menyebabkan perut si ular terluka, tapi ular beranggapan gergaji itu menyerangnya. Ia pun membalas dengan mematuk gergaji itu berkali-kali. Serangan itu menyebabkan luka parah dibagian mulutnya.

Marah dan putus asa, ular berusaha mengerahkan kemampuan terakhir untuk mengalahkan musuhnya. Ia pun membelit kuat gergaji itu maka tubuhnya pun terluka amat parah dan akhirnya ia pun mati.
Mengapa???

Sering kita marah yg sebetulnya penyebabnya adalah diri kita sendiri..
Kadang kala disaat kita marah, keinginan sangat kuat ingin melukai orang lain yg kita anggap menyerang kita.
Padahal sesungguhnya saat kita menyerang tanpa kita sadari yang dilukai adalah diri kita sendiri! Mengapa? Karena perkataan dan perbuatan disaat marah adalah perbuatan nafsu buruk yang biasanya akan kita sesali di kemudian hari…bahkan mematikan kita sendiri.

“Laa taghdhab wa laka al jannah”


Sumber : mba Anie di grup i7

A message from the Gudangs:

Today concludes our own version of March madness, with the closing of ‪#‎positivevibration‬ Surfboard Drive for Jamaica!! The support and response to the project was incredible raising over 170 surfboards from all over, to benefit the youth of the Jamaican surfing community.  Thank you to everyone who contributed and supported!! Stay tuned for more updates as we make the journey with the surfboards down to Jamaica in the coming weeks ahead.   Thanks again!!! ‪#‎keepingthevibealive‬ ‪#‎sharethestoke‬ ‪#‎passthepositivity‬