graphics:dee

Sanami Matoh will once again be at the next Comic Market and will have Backstage Pass 4 for sale. I’ve been waiting to buy Backstage Pass 3 until she came out with another book so that I wouldn’t have to pay shipping twice, so once this book is on her website, I will go about contacting my source to see if she can purchase them for me. And of course, I’ll send all the scans to Yes Rhade for them to translate, if they so desire, and will post the resulting scanlation once it’s complete. 

As per usual, I’ll post the scans once they are nice and pretty-looking, but it’ll probably take me awhile as I don’t want to bother my usual scan-cleaner and will probably do it myself (which will take awhile….) 

Unless, of course, someone who is photoshop savvy and can clean scans wants to help out? 

Anyway, here’s the new image I’ve managed to locate. Enjoy.

Hadirlah ia. Orang yang langsung menduduki peringkat nol dalam hidupku. Dibutuhkan dua puluh dua tahun untuk menemukannya. Dan cukup dua menit untuk menyadari aku jatuh cinta. Bukan. Bukan lagi jatuh cinta. Aku terjun bebas. Tanpa tali pengaman. Tanpa lagi peduli apa yang menyambutku di dasar sana-kalau memang ada dasarnya.
—  Partikel, by Dewi ‘Dee’ Lestari.

Tak ada yang mengerti betapa sukarnya ini. Betapa beratnya lepas dari penjara yang kau cinta sekaligus kau rutuk. Betapa sulitnya menikmati angkasa luas tak terperi tanpa merasa ngeri, setelah sekian lama engkau tersekap dalam kotak sabun dimana engkau terantuk setiap kali bergerak.

Lewat pembiasaan, kotak pengap itu menjadi hangat. Benturan itu menjadi hiburan. Hingga pada suatu titik, engkau ingin kotak itu selalu melingkupimu. Kebebasan yang tiap hari kau damba dan kau kejar dalam mimpi, menjadi mimpi permanen yang sepaket dengan upayamu untuk mewujudkannya. Sekalipun engkau ingin dan kau teriakan inginmu pada setiap orang, pada saat kotak itu terbuka, engkau malah gelagapan, menggapai-gapai udara kosong demi mencari kungkungan itu lagi. Engkau lebih rindu terkantuk dan terbentur-bentur ketimbang bertemu kehampaan yang dulu kau interpretasikan sebagai kebebasan.

Tapi tak seorang pun pernah memberitahukannya kepadaku. Baru sehari sebelum hari pembebasanku tiba, aku menyadari apa yang terjadi. Aku gelagapan. Aku menggapai-gapai udara kosong. Aku ngeri melihat langit terbuka ini. Aku gentar untuk pulang.

—  Dee ~ Rectoverso (Tidur)