gpu

KETENTUAN PENGIRIMAN NASKAH GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

Kami menerima naskah dari penulis untuk diterbitkan, bila naskah tersebut memenuhi standar penerbitan.

KETENTUAN UMUM:
1. Tebal naskah 100 s.d. 200 halaman.
2. Untuk buku anak, lengkapi dengan contoh ilustrasi dan konsep cerita, terutama untuk buku berseri.
3. Ukuran font 12pt, dengan spasi 1,5.
4. Tema naskah bebas, tidak menyinggung SARA dan tidak vulgar.


PILIH SALAH SATU CARA PENGIRIMAN NASKAH DI BAWAH INI:

Printout:
1. Ukuran kertas A4 atau folio.
2. Naskah sudah dijilid.
3. Sertakan ringkasan cerita/sinopsis.
4. Sertakan data diri singkat (nama, alamat, nomor telepon, alamat e-mail).
5. Setelah naskah masuk akan dipertimbangkan oleh tim editor paling lambat 3 bulan. Naskah yang tidak lolos seleksi tidak akan dikembalikan dan akan dimusnahkan.
6. Untuk memudahkan proses seleksi/pengategorian, cantumkan jenis naskah di sudut kiri atas, seperti:
-Fiksi
-Nonfiksi
-Remaja
-Dewasa
-dll.

E-mail:
Kirimkan naskah dan data diri melalui e-mail ke fiksi@gramediapublishers.com atau nonfiksi@gramediapublishers.com dengan subject Naskah: JUDUL.

Gramedia Writing Project:
Buat akun di situs resmi Gramedia Writing Project, lalu unggah sebagian naskah dan sinopsis.

________________________________________

Kami tidak memungut bayaran apa pun dari penulis.


Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi Redaksi Gramedia Pustaka Utama 53650110 ext. 3511/3512 atau via e-mail: fiksi@gramediapublishers.com atau nonfiksi@gramediapublishers.com

Nvidia have revealed a new graphics card The Titan Z is Nvidia fastest ever made. It has two gpus in one.

GeForce GTX TITAN Z is a gaming monster, built to power the most extreme gaming rigs on the planet. With a massive 5760 cores and 12 GB of 7 Gbps GDDR5 memory, TITAN Z gives you truly amazing performance—easily making it the fastest graphics card we’ve ever made. 

Nvidia

Resensi Buku: Faith and the City — Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra

Ditulis oleh Siti Nuryanti di https://jendeladuniaku2015.wordpress.com/2016/01/30/antara-ambisi-dan-nurani/ untuk program #ResensiPilihan di Twitter @Gramedia.

Sinopsis:

   Setelah malam penganugerahan Hero of The Year untuk Phillipus Brown, semua wartawan menginginkan wawancara eksklusif dengan Phillipus Brown dan Azima Hussein beserta kedua anak gadis mereka Sarah Hussein dan Layla Brown. Pasutri penyatu jembatan yang terpisah, pasangan yang dirundung kebahagiaan, Hanum dan Rangga, tak pelak ikut menikmati media frenzy. Bagi Hanum, New York City masih ingin menahannya. Tidak bagi Rangga, tugas belajar dan riset telah menunggu setia di Wina.
   Out of the blue, Cooper dari Global NewYork TV hadir dalam hidup mereka. Ia menawarkan sebuah penawaran mustahil tertolak oleh Hanum: menjadi produser sebuah acara Global NewYork TV yang meliput dunia Islam dan Amerika.
   Ini adalah secuplik dunia media yang gelap, dunia rating dan share yang manis sekaligus menjebak. New York yang elegan, namun mengintai mahligai soliditas Hanum dan Rangga. New York yang romantis, mengembuskan mantra magis, namun melahirkan kenyataan ironis.
   Akankah Hanum mampu mengelak dari pesona Cooper dan New York City? Mampukah Rangga mempertahankan cinta sejatinya dari impian yang membelitnya?
   Atau jangan-jangan impian yang menjadi kenyataan, tetaplah ilusi, jika melupakan iman dan keyakinan?


Resensi:

Novel ini merupakan lanjutan dari novel sebelumnya, Bulan Terbelah di Langit Amerika, yang telah difilmkan pada bulan Desember 2015.

Kisah Hanum dan Rangga saat di kota New York untuk menjalankan tugas masing-masing. Mereka diberi waktu 3 minggu untuk melaksanakan tugas tersebut, dan tugasnya dapat diselesaikan dengan sangat baik. Bahkan secara tidak sengaja mereka menjadi selebritis sesaat kerena terekam kamera wartawan dan sempat diwawancara saat malam penganugerahan Hero of the year untuk Philipus Brown.

Novel ini diawali dengan hiruk-pikuk wartawan yang meminta wawancara ekslusif kepada Philipus Brown dan Azima, tetapi mereka sepakat untuk menolak tawaran-tawaran tersebut. Rangga dan Hanum memutuskan untuk kembali ke Wina karena tugas mereka telah selesai, tetapi saat check-in di bandara JFK, mereka dikejutkan oleh kedatangan Andy Cooper yang menawarkan Hanum sebuah kontrak kerja di Global NewYork TV (GNTV). Hanum langsung menerima tawaran tersebut. Ini adalah impiannya: bekerja sebagai jurnalis di kota New York. Apalagi yang menawarkan Andy Cooper, wartawan idolanya sejak belia. Bahkan tanpa meminta pendapat dari suaminya Hanum menyetujui kontrak kerja selama tiga minggu di GNTV. Dan dari bandara ini berawal sebuah kisah yang menguji kesetiaan, impian dan keyakinan. Andy Cooper memberikan Hanum sebuah program TV tentang muslim di Amerika yang bernama Insights Muslims

“Insights Muslims. Kau harus mencari profil muslim yang kontroversial. Wawancara kehidupan mereka, perkara merreka,perasaan mereka dengan banyak fenomena yang memojokan islam akhir-akhir ini ” (hal 39)

Hanum bersama dengan partner-nya Sam mulai merancang program tersebut, mereka harus membuat programnya mempunyai rating dan share yang baik

“Ya, jika tidak berhasil maka ditendang. Jika berhasil juga tetap “ditendang” ke pelukan kertas-kertas grafik lebih dalam.” (hal 63)

Hari-hari Hanum selanjutnya disibukkan oleh pekerjaannya di GNTV, bahkan sampai mengabaikan Rangga. Berangkat pagi-pagi sekali saat Rangga belum bangun dan pulang sudah larut malam saat Rangga sudah tertidur, bahkan beberapa hari Rangga makan mie instan. Hubungan mereka makin menjauh. Untuk menghabiskan waktu, Rangga melamar pekerjaan di sebuah perpustakaan milik Philipus Brown. Bersama Azima, Rangga ditugaskan untuk membuat tulisan tentang islam dan peradabannya,yang akan diterbitkan di Brown Publisher. Seharusnya Hanum yang dapat menulis tema seperti ini, tetapi sekarang Hanum sedang disibukkan oleh ajang pembuktian diri di GNTV, bahwa ia bukan jurnalis kacangan. Hanum sedang berkutat dengan ambisinya.

Novel ini membuatku makin mengerti tentang dunia jurnalis, yang ternyata memang benar adanya banyak nurani dikesampingkan untuk meraih rating dan share dengan menghalalkan segala cara agar program TV banyak ditonton orang.

“Aku yakin dalam diri manusia selalu ada nurani bertakhta, sebuah serambi hakiki. Namun ia akan rentan goyah ketika disambangi uang,kekuasaan, kepopuleran dan berlian-berlian semu kehidupan.” (hal 94)

Faith and The City adalah sebuah pergulatan antara ambisi untuk menaklukan kota New York tetapi sering kali bertentangan dengan nurani. Hanum harus memilih tetap di New York dengan segala impian dan cita-citanya atau memilih menemani Rangga kembali ke Wina dan mengubur impiannya. Judul yang dipilih memang pas sekali, saya pikir ini hanya tema dari buku ini, ternyata “Faith” juga merupakan salah satu nama tokoh yang diceritakan dalam buku ini. Faith atau Zuraida menjadi narasumber dalam acara Insights Muslims, dan episode Faith ini menjadi salah satu episode terbaiknya

“Misi mengubah dunia? Fine !itu mulia sekali, Tapi kau mengubah dunia dengan cara mengubah hubungan dengan suamimu sendiri. Kamu telah dimanfaatkan dunia yang tidak memberimu apa-apa. Bahkan melupakan orang yang sudah memberimu apa-apa…” (hal 130)

Saat membaca novel ini, emosiku cukup teraduk-aduk, terkadang kesal dengan sikap Hanum yang keterlaluan pada suaminya. Konflik-konflik yang terjadi dalam rumah tangga mereka mengingatkanku untuk selalu berusaha memahami satu sama lain dalam sebuah keluarga. Berbeda dengan novel-novel sebelumnya yang banyak mengupas tentang sejarah Islam, novel ini banyak membahas tentang konflik dalam sebuah keluarga muslim. Antara Rangga dengan Hanum, antara Ikbal dengan Zuraidha, memang tidak sesuai dengan ekspetasi saya tentang karya Hanum-Rangga yang selalu mengupas sejarah Islam. Mungkin di buku selanjutnya “The Converso” akan dibahas lebih dalam tentang peradaban Islam.

Ada beberapa kalimat yang menurut saya tidak pas penempatannya. Di buku ini seringkali penulis menggunakan kata “ditendang” atau “menendang” . Dalam kalimat “…menendang Getrude Robinson dari kehidupanku” atau “Ia menoleh ke Rangga… tapi Hanum tidak akan menendangnya.” Meskipun itu hanya makna tersirat, tetapi lebih bijak kalau menggunakan bahasa yang lebih sopan, apalagi ditujukan untuk suaminya.

Ada adegan yang menurut saya juga berlebihan, saat Hanum tiba-tiba meloncat ke pelukan Rangga dan mengecup bibirnya cepat, itu dilakukan di depan umum dan di sorot kamera. Padahal sebelumnya juga ada dialog antara Sam dan kemarawannya yang mengatakan bahwa muslim tidak ciuman di ruang publik. tetapi ternyata Hanum dan Rangga melakukannya. Padahal hanya dengan saling menatap, tersenyum dan berpegangan atau berpelukan untuk mengungkapkan kegembiraan saya rasa itu sudah cukup.

Tetapi overall buku ini keren, di setiap lembarannya banyak kata-kata yang memberi makna yang dalam. Banyak mengajarkan tentang dunia jurnalistik, tentang kehidupan muslim di Amerika, tentang pemikiran-pemikiran masyarakat Amerika dan tentang hakikat sebuah keluarga.

“William Shakespeare mengatakan dunia hanyalah panggung sandiwara, kita hanyalah para pemain sandiwara yang datang dan pergi dalam panggung kehidupan.”

”Allah Sang Sutradara memberikan kesempatan kepada kita untuk setidaknya 5 kali sehari istirahat mengembalikan kesadaran sebagai manusia ,agar terbangun dan tidak terhanyut dalam peran dunia yang menghanyutkan.” (hal 220)


Judul Buku : Faith and the City
Penulis : Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Desember 2015
Harga : Rp60,000
Tebal : 232 halaman
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Cover : Softcover
ISBN : 978-602-03-2433-3

Resensi Pilihan: Si Penghuni Mars — Andy Weir

Ditulis oleh Maggie Chen di http://iamnumberthirteen.blogspot.co.id/2016/01/book-review-martian-by-andy-weir.html?spref=tw untuk program #ResensiPilihan di Twitter @Gramedia

SINOPSIS

Enam hari yang lalu, astronaut Mark Watney menjadi salah satu orang pertama yang menjejakkan kaki di Mars. Sekarang dia yakin akan menjadi yang pertama mati di sana.

Mark ditinggalkan di Mars oleh rekan-rekannya, yang mengira dia tewas ketika terjadi badai pasir. Sekarang dia sendirian, tak punya sarana untuk mengirim sinyal ke Bumi, dan persediaan makanannya sudah pasti akan habis lama sebelum tim penyelamat bisa datang.

Tapi Mark belum mau menyerah. Berbekal keterampilan teknis dan kreativitasnya—plus rasa humor yang terbukti menjadi sumber kekuatan terbesarnya—dia memulai misi untuk bertahan hidup, menanam kentang untuk dimakan, dan bahkan menyusun rencana edan untuk menghubungi NASA di Bumi.

Rintangan demi rintangan berhasil diatasinya, dan Mark mulai yakin dia bisa keluar dari Mars hidup-hidup—tetapi planet ini ternyata menyimpan banyak kejutan untuknya.

————————————————————————————

RESENSI

Si Penghuni Mars adalah cerita mengenai sebuah perjuangan untuk bertahan hidup dan melawan keputusasaan. Mark Watney yang terdampar di Mars harus bertahan hidup tanpa kepastian akan kemungkinan untuk kembali ke Bumi. Dapatkah kalian membayangkan bagaimana rasanya? Mencoba untuk bertahan sambil menghitung hari, mengetahui dengan pasti berapa banyak sisa hari yang kalian miliki, dan tanpa kepastian akankah kalian dapat bertahan hingga hari tersebut.

Membaca Si Penghuni Mars adalah sebuah petualangan yang menyenangkan. Seakan membaca buku panduan ‘bagaimana cara untuk bertahan di Mars’ karena setiap penjelasan di dalamnya begitu mendetail. Andy Weir pasti merupakan seorang jenius atau pekerja keras. Ia benar-benar mengerti secara detail dan menyeluruh apa yang ia tulis. Riset yang ia lakukan tidak main-main. Semua yang ia tulis dapat dipertanggungjawabkan dan brilian.

Si Penghuni Mars adalah perpaduan dari ilmu alam dengan literatur yang sangat unik dan menyenangkan untuk dibaca. Andy Weir berhasil menyisipkan berbagai ilmu-ilmu yang akan terasa sangat membosankan untuk dipelajari ke dalam sebuah cerita apik mengenai kehidupan di Mars.

Andy sendiri berhasil membuat sebuah karakter yang begitu mengesankan dan mudah untuk dicintai. Si jenius Mark Watney yang tidak hanya extremely pintar, tapi juga humoris. Dan ini adalah satu lagi bukti mengapa aku menyebut Andy Weir sebagai seorang jenius. Ia tidak membuat Mark Watney menjadi karakter yang serius. Ia membuat Mark menjadi seseorang yang goofy, mudah mengumpat, sering mengeluarkan lelucon-lelucon garing yang sebenarnya tidak lucu tapi sangat menyenangkan untuk dibaca.

Aku tidak dapat membayangkan Si Penghuni Mars tanpa sisi humoris Mark, pasti akan terasa sangat membosankan. Seperti membaca jurnal ilmiah saja.

Salah satu ciri khas dari novel ini adalah 'penjelasan yang sangat mendetail’, bahkan terlalu mendetail. Dan hal itu kadang membuatku bosan, terutama jika kehidupan Mark sepertinya akan berjalan mulus dan lancar-lancar saja. Ia terlalu pintar untuk dikalahkan oleh Mars. But, Andy Weir is an a**h***!!! Di saat aku mengira semua akan berjalan dengan lancar,… Oh, well, I’ve never been so wrong…

Aku tidak akan berbohong dengan mengatakan aku tidak menangis ketika membaca beberapa chapter akhir dari novel ini. Aku mengeluarkan air mata lebih deras daripada ketika aku membaca novel tersedih yang pernah kubaca seumur hidupku.

Tanpa kusadari, aku begitu terhubung dengan Mark setelah melihat perjuangannya untuk bertahan di Mars selama berhari-hari. Tidak ada yang ingin kulihat selain dirinya selamat dan tiba di bumi tanpa kekurangan suatu apapun. Dan mengingat kebiasaan Andy Weir, bukanlah hal yang aneh jika aku merasa sesuatu yang buruk akan menimpa Mark dan akhir yang bahagia akan tiba-tiba berubah 180 derajat. Oleh sebab itu aku menangis. Karena mungkin di halaman selanjutnya, Mars akan meledak dan Mark kan mati, hancur berkeping-keping. Atau mungkin tabung oksigen Mark akan bocor dan ia akan mati tercekik. Well, kau tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya saat membaca novel ini.

Apa yang dapat kukatakan? Buku ini pantas mendapatkan 5 atau minimal 4 bintang dari setiap orang yang membacanya. Karena jumlah riset yang dilakukan oleh Andy Weir dalam menulisnya. Aku tidak pernah membaca sebuah buku dengan riset yang dilakukan sebrilian ini.

Buku ini kurekomendasikan untuk kalian semua yang menyukai sci-fi, cerita dengan detail-detail mengesankan, dan aku rasa suka atau tidak suka kalian harus mencoba untuk membaca novel ini. Totally recommended!



Judul Buku : Si Penghuni Mars (The Martian)
Penulis : Andy Weir
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Januari 2016
Harga : Rp99,500
Tebal : 528 halaman
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Cover : Softcover
ISBN : 978-602-03-2439-5

NVIDIA or AMD Video Card? What’s the Difference?

by Jack Winn, buildapc.net

An important part of any performance PC is the Graphics Processing Unit (or GPU, the brain of the graphics card), but the GPU is especially important when it comes to gaming. The GPU is responsible for processing the visual data that is seen on the monitor. Many CPUs come with integrated GPUs, but these are much less powerful than the GPUs in dedicated video cards. For gaming, you want a video card.

There are three primary GPU manufacturers: AMD, Intel and NVIDIA. Intel has by far the largest marketshare (more than 60%), but Intel’s GPUs are integrated and are not powerful enough for gaming smoothly. For gaming, you’ll want a card from AMD or NVIDIA.

Both AMD and NVIDIA have been making video cards for years and have constantly been pushing the boundaries of GPU technology. While there are advantages and disadvantages for both brands, it helps to understand how GPUs work before deciding which one is best for your system.

As previously mentioned, a GPU is responsible for processing all of the visual data that you see on a monitor. The GPU needs to decide how to use each of the 2 million or so pixels on a typical monitor in order to create an image. It does this by using geometry, texture and lighting data to come up with color values for each pixel, painting a 2D image of the 3D data. Under typical conditions, a good video card is capable of doing this 60 times a second!

When it comes to comparing video cards, it’s hard to tell who the clear winner is. Both AMD and NVIDIA have the same end-goal in mind: Deliver smooth and fast visual performance. However, each company takes a different approach to achieving that goal.

AMD and NVIDIA – The Battle of Stream Processors

Unlike CPUs, which typically have between 1 and 8 cores, GPUs come with a lot of smaller cores called “stream processors.” While each of these stream processors doesn’t have near as much computing performance as a CPU core, they work together to process visual data much more efficiently, allowing for significantly improved graphical performance.

Not all stream processors are alike. NVIDIA takes the approach of creating fewer, more capable stream processors, allowing for slightly more complex calculations. This makes NVIDIA cards excel not only at gaming, but also at many other data processing applications, such as complex finance and informatics.

AMD takes a different approach by creating smaller, less complex stream processors. Though the processors are not as capable, the difference is made up by quantity. Because they have a lot of smaller processors that can handle simple calculations, they particularly excel in tasks such as cryptocurrency mining, which requires simple calculations to be performed many times.

When it comes to choosing between the two, you need to see what your main priority is. For gaming, the two companies often trade the crown for best performing GPU and often offer cards that perform similarly at several price points. It’s best to read the reviews of each card you are considering purchasing. AMD will do better with some games, and with very high resolution monitors. NVIDIA will do better with other games. Similarly, for non-gaming tasks, you’ll want to check benchmarks to see which type does better. The differences in GPU architecture can have significant performance implications. Many applications only support specific architectures, limiting choices to a single brand or even a single line of cards within that brand.

If you are planning on gaming, there are tons of resources and benchmarks that will compare both NVIDIA and AMD cards in real word gaming situations, such as Anandtech’s Bench. Benchmarks for the specific game you’re interested in are ideal, if those aren’t available look at benchmarks for a variety of games with similar graphics. For a good overview of how most cards perform for gaming, check out this gaming GPU hierarchy.

CPU and GPU Compatibility

When considering system compatibility, one frequently asked question is “can an AMD/NVIDIA card work with an Intel/AMD processor?” Fortunately, it doesn’t matter what processor you have. An AMD video card will work well with Intel and AMD processors, and an NVIDIA card will do the same.

However, there are a few considerations for those who plan on utilizing AMD’s Crossfire or NVIDIA’s SLI features. Crossfire and SLI allow you to use more than one GPU at the same time, which often dramatically increases video performance in games that can utilize SLI or Crossfire. In such games, adding a second card may yield anywhere between 70-90 percent improved performance. But be wary if the game you are playing does not support SLI or Crossfire, as you won’t get any benefit at all from your second card.

One consideration about AMD: Though both AMD and NVIDIA cards are compatible with any processor, some low-end AMD video cards are able to work together with AMD’s integrated GPUs in Crossfire, delivering slightly better graphical performance. For more information, take a look at this guide on comparing AMD processors. If you are using budget AMD parts, this is worth looking into.

For those who are wanting to use a dual GPU setup, it’s important to verify that the motherboard will support Crossfire (for dual AMD cards) or SLI (for dual NVIDIA cards). Keep in mind that in order to utilize SLI, you must have two identical NVIDIA cards. For Crossfire, you can use two different AMD cards as long as they’re in the same family. For example, you can use Crossfire with a HD 7970 and an HD 7950. It’s always a good idea to research compatibility issues before making a purchase.

Finally, be sure your processor is powerful enough to keep up. A very weak CPU will not let a high-end GPU perform to its highest potential. This is known as bottlenecking. You can usually find out from others if your CPU and GPU combination will bottleneck by searching the internet with the model of your processor and video card. But even a mid-tier CPU should be powerful enough to let a top-tier GPU perform to the best of its abilities.

Making the Choice

In the end, AMD and NVIDIA both provide GPU solutions that will work well in practically any system. Careful planning and research is always key. Whether you plan on building a gaming powerhouse, a professional editing workstation, or a compute system, understanding your GPU options will help you decide which video card is right for you.

Resensi Buku: Sisi Gelap Cinta — Mira W.

Ditulis oleh Miss ZP di http://book-admirer.com/2015/12/21/sisi-gelap-cinta/ untuk program #ResensiPilihan di Twitter @Gramedia

Sinopsis:


Suatu hari, ranjau itu meledak di ambang pintu rumahnya.


Bahtera perkawinan yang selama ini berlayar nyaris tanpa terpaan gelombang, tiba-tiba karam.


Suaminya ditahan, anak laki-lakinya menghilang, anak perempuannya koma.


Dari kaki Gunung Kilimanjaro di Afrika sampai Lembah Baliem di Papua, Andien harus mencari jawabannya.


“Jika hidup ini punya cetakan kedua, alangkah banyaknya yang harus dikoreksi.


20 tahun bukanlah sebuah kurun waktu yang singkat, apalagi menyangkut pernikahan. Di tahap tersebut, seharusnya pasangan sudah saling mengenal satu sama lain. Di sisi lain, di usia 20 tahun tak jarang pernikahan mencapai titik jemu.


Andien sadar betul hal tersebut. Oleh karena itu dia berusaha kembali menyalakan api cinta dengan suaminya.


Sayangnya, usahanya memberi kejutan yang berkesan di perayaan keduapuluh tahun pernikahan mereka berujung kecewa. Dan ternyata, malam itu hanyalah sebuah awal dari cobaan terbesar dalam rumah tangga mereka.
Satu per satu masalah muncul. Kecurigaannya terhadap Mas Wibi, suaminya. Kedatangan polisi yang menyatakan kemungkinan suaminya terlibat kasus pembunuhan. Cinta pertama Andien, Bimo, yang muncul lagi dalam hidupnya.
Belum reda semua masalahnya, usaha Andien untuk mencari hiburan malah berakibat membahayakan nyawa Avila, anak bungsunya. Ari, anak sulungnya, tak bisa menerima hal tersebut.


Seumur hidupnya, Andien tak pernah membayangkan bahwa ia harus dalam keadaan ini. Sanggupkah ia jika ternyata harus kehilangan seluruh keluarganya dalam waktu sekejap?


“Apa pun yang terjadi, ingatlah, aku selalu mencintaimu” – hlm. 121


Mira W. tidak pernah gagal membuat saya bertahan membaca buku sampai selesai dalam waktu yang singkat.


Di dalam buku in, sekali lagi diangkat istilah-istilah medis dalam cerita, sesuai ciri khas beliau. Meski demikian, menurut saya porsinya tidak sebesar buku-buku yang lain.


Buku ini pun mengangkat isu yang sedang hangat belakangan ini. Tentang ketakutan yang sering dialami oleh para wanita. Apakah suami kita akan tetap mencintai kita setelah sekian tahun bersama? Bagaimana kalau kita menikahi seseorang yang ternyata sama sekali tidak kenal? Bagaimana kita tahu bahwa orang yang bersama dengan kita sekarang adalah orang yang tepat?


Jawabannya tidak tertulis dengan jelas dalam buku. Meski demikian, bisa dikatakan bahwa jawaban dari semua itu adalah kita tidak akan pernah tahu.
Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Kita tidak pernah tahu apakah kita menjalani sebuah hidup yang penuh kebohongan atau tidak. Yang kita perlu tahu adalah kita selalu punya pilihan. Apa pun pilihan yang kita ambil, pastikan kita siap untuk bertanggung jawab untuk segala akibat yang timbul.


“Pada saat dia mengira Tuhan hanyalah khayalan manusia, Dia telah membuktikan keberadaan-Nya!”


Tidak ada orang yang sepenuhnya sempurna, demikian juga Andien. Meski demikian, saya bisa melihat bagaimana dia berusaha sebaik mungkin agar menjadi wanita yang sesempurna mungkin. Setidaknya untuk keluarga yang sangat ia cintai. Dan bagaimana dia bisa tetap menjadi tegar walau masalah yang harus ditanggungnya tidaklah mudah.


Bacalah, mungkin kalian akan mengerti apa yang sedang saya bicarakan :)


Judul Buku : Sisi Gelap Cinta
Penulis : Mira W.
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : September 2015
Harga : Rp48,000
Tebal : 208 halaman
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Cover : Softcover
ISBN : 978-602-03-1957-5

What is a Graphics Card? How Do You Choose the Right One?

If you’re anything like us, then the graphics card is your favorite part of a computer. Graphics cards let your computer do awesome things like super complex computations, physics processing, and most importantly, producing shiny graphics in games.

So, what is a graphics card, and how do you figure out which one you should buy?

A graphics card is basically a mini computer inside your computer. It consists of the Graphics Processing Unit (GPU) and supporting hardware, including its own power supply, RAM, and heatsink.

Similarly to how the CPU is the brain of the computer, the GPU is the brain of the graphics card. The GPU is a specialized electronic circuit designed to rapidly manipulate and alter memory to accelerate the creation of images.

In short, it makes these pretty pictures on your screen.

When people think of GPUs, they usually think of two major manufacturers: NVIDIA, and AMD. Intel is a third GPU manufacturer, because they integrate GPUs into their CPUs. There are also a bunch of other manufacturers that make GPUs for mobile phones, tablets, and embedded systems.

But for our purposes, we’re going to be discussing discrete GPUs, meaning the dedicated graphics cards you buy if you want to do really fun stuff with your PC. When it comes to discrete graphics cards, the two big names are NVIDIA and AMD.

Here in our office, we’ve pulled out two graphics cards from AMD’s venerable 200 series. We’ve got a Radeon R7 270X, and an R9 290.

Both AMD and NVIDIA launch new generations of graphics cards every one to two years. With every new generations, they offer a bunch of different cards at a range of power levels and price options. Let’s take a closer look so that we can discuss some important numbers that will help you compare graphics cards.

First, let’s discuss the R7 270X. It has 2 GB of video RAM, 1,280 stream processors, and a clock speed of 1,050 megahertz. It’s currently considered a solid mid-range graphics card.

Next, the R9 290. It has 4 GB of video RAM, 2,560 stream processors, and a clock speed of 947 megahertz. This is currently considered an upper-mid-range graphics card.

So, video RAM, stream processors, clock speed… what do these numbers all mean? Should you understand the specs, or just go with the most expensive graphics card you can afford?

Generally speaking, the best way to decide the right graphics card for you is to look at real-world gaming benchmarks, but we’ll get that in a few minutes. For now, let’s talk specs.

First, video RAM, also known as VRAM. This is usually the first spec you’ll notice when shopping around for video cards, and often it’s the only spec that people really pay attention to. This is a bit of a mistake, because while VRAM is essential, having more than you need doesn’t increase performance at all.

Video RAM is mainly important for loading the textures and images that make up the game you’re playing on your screen. All of that data takes up VRAM, and it gets especially taxing on VRAM as you increase your game resolution, which we’ll also touch on in a minute.

If your game begins to load more data than your VRAM can handle, your PC moves the extra data over to your normal RAM.

Sharing is great, right? Well, not always. Sharing is bad when it comes to VRAM trying to share data with system RAM.

Any time you’re playing a game and your graphics card runs out of available VRAM, it causes huge hits to performance. If you’ve ever been playing a game that turns in - to - slide - show - mode, your graphics card may not have had enough VRAM.

There are a few factors that especially impact your VRAM allocation: Resolution, anti-aliasing, and texture quality. Basically, the higher these settings are, the more VRAM you’re going to need. That’s why the higher-end cards pack in larger amounts of VRAM. If you even want to consider gaming at 4K resolution, you’re going to want a lot of VRAM.

Oh, right. We should probably talk about resolution.

Every computer display is made up of tiny elements called pixels. Your resolution determines the number of pixels that will appear on your screen. More pixels equals more visual detail, resulting in crisper, clearer images.

Here’s a size comparison of common computer resolutions:

The standard resolution for modern PC gaming is 1920x1080, commonly known as 1080p. For a slightly bigger pixel count, an increasingly popular resolution is 2560x1440, or 1440p. Currently, at the upper end of resolutions for consumer-grade computer screens is 3840x2160, or ultra-high definition 4K. You might be able to tell from this visual that 4K resolution packs in four times as many pixels as 1080p, resulting in about four times the demand on your graphics card while playing PC games.

Producing large numbers of game pixels at resolutions like 4K demands an enormous amount of VRAM, meaning you’re going to need a high-end graphics card to play at 4K resolutions. In short: 2 GB is enough to play most PC games at 1080p, 4 GB is better for playing really demanding games at 1080p or most games at 1440p, and you’ll probably want 6 or more GB of VRAM to even attempt a demanding PC game at 4K resolution, unless you don’t mind your framerate resembling a slideshow.

These are just rough guidelines. Newer, faster memory technologies such as High Bandwidth Memory, or HBM, will help alleviate the need for more memory in the future.

Stream processors (AMD) or CUDA cores (NVIDIA) are the processors in the GPU that perform the computations to produce images on the screen. They can also be used to do other types of complex mathematics and number-crunching, such as mining cryptocurrency or modeling weather patterns.

GPU clock speed refers to the speed of the GPU. Generally speaking, higher speeds mean that the card performs tasks faster and produces a higher framerate when gaming. But like with CPUs, the clock speed is relative to each family of GPUs, so you can’t compare the clock speed of this GPU and assume it will get things done faster or slower than a GPU from NVIDIA with a different clock speed.

To better understand a GPU’s performance and qualities, you should check all of its specs, and there are a lot of them.

But if you want to get a very rough estimate of how one GPU performs compared to others, you can multiply the number of stream processors by the clock speed. So, for example, if we multiply the stream processors and clock speed of the 270X, we get (1,280 x 1050) 1.3 billion. Compare that to the 290, at (2560 x 947) 2.4 billion, and we can pretty safely assume that the 290X is considerably more powerful than the 270X, even though the 270X has a higher clock speed.

So, a higher clock speed and a higher number of stream processors are both good things, but you can’t look at any single specification to gauge the performance of your graphics card.

Often, the best and simplest way to determine the right video card for you is to consult real-world game benchmarks. Benchmark measurements are based on frames per second, or FPS, which is the number of game images the system is able to render every second. Higher framerates are better, and 60 FPS is a good framerate to target when PC gaming, although slower paced games can be comfortable to play down to around 20 FPS, and fast-paced games can benefit from even higher framerates than 60 FPS.

To demonstrate how you can compare graphics cards through gaming benchmarks, let’s look at some benchmarks from TechSpot for the Witcher 3, currently a very demanding game.

Here are the framerates at 1080p on Ultra quality. We can see the NVIDIA GTX 980 averages 56 FPS, while our AMD R9 290 averages 36. The 270X can only squeak out 14 FPS, which is essentially unplayable.

Moving up to 1440p resolution, framerates drop to 40 FPS on the GTX 980. For the 290, we see a drop to 28, which is still playable, but far from the ideal 60-plus FPS. The 270X, meanwhile, is in full slideshow mode at 10 FPS.

For 4K benchmarks, we’re going to switch over to another source, GamersNexus, because they tested slightly more powerful setups.

4K is a demanding resolution for The Witcher 3. Two GTX 980s averages 42 FPS at 4K resolution. Even the GTX Titan X, with its 12 gigabytes of VRAM, can only manage 36 FPS at 4K, while a single GTX 980 gets 26.

That reminds us of something else we should mention: Multi-GPU setups.

In those 4K Witcher benchmarks, the best performance came from two GTX 980s which were operating in the same system. Assuming you have a compatible motherboard and power supply, a PC can have as many as 4 graphics cards working together to split up the graphical workload.

Two GPUs can be almost twice as fast as a single GPU. Adding a third GPU, however, usually only gives you a small advantage over two, and four GPUs is rarely any better than 3.

Here’s an example of Battlefield 4 performance at 1440p and 4K with one, two, three, and four GTX 980s (courtesy of PCPer.com). You will notice that four GTX 980s actually perform worse than three, because the complexity of adding a fourth card outweighs the extra horsepower it provides.

The name for this connection of multiple GPUs is different depending on which brand you’re using. For NVIDIA cards, it’s called SLI. With AMD cards, it’s called CrossFire.

There are a few more practical considerations to make when picking out your graphics card: Power, heat, and noise.

Typically, your graphics card is the single-most power-hungry component in your computer. A single GPU like this 290 can easily take 300 watts from your power supply. Adding multiple GPUs can quickly rack up the power consumption and is the quickest way to requiring a power supply upgrade.

Graphics cards, like all of the other components in your computer, waste about 90 percent of the power they use as heat, meaning that good airflow is important as you upgrade to large graphics cards or build a multi-card setup. Keep that in mind while selecting a case for your build.

And when they’re under a high performance load, the fans on graphics cards can quickly become the noisiest thing in your computer. If you would like to keep your computer quiet, you’ll want to compare noise levels of different cards. Noise is a tricky thing to compare, because it’s difficult to measure consistently. You’ll have to find third party benchmarks to get useful noise measurements, and they won’t be directly comparable with noise benchmarks from different people.

Here’s a comparison from hardware.info showing load noise levels of different GTX 970s and 980s. Lower numbers mean less noisy. The rule of thumb is that a 10 decibel difference sounds about twice as loud, so the loudest GTX 970 is more than twice as loud as the quietest GTX 970.

In conclusion, if you’re shopping for a new graphics card, we highly recommend familiarizing yourself with each card’s specs, comparing benchmarks, and checking out recommendations from reliable sources.

Like I mentioned, NVIDIA and AMD release new generations of graphics cards every year or two, so it’s good to make sure your recommendations are up to date.

In conclusion, if you’re shopping for a new graphics card, we highly recommend familiarizing yourself with each card’s specs, comparing benchmarks, and checking out recommendations from reliable sources.

The GPU chip in each graphics card is made by either NVIDIA or AMD, but the card itself is manufactured by another company, such as EVGA, ASUS, or Gigabyte.

The main differences between these manufacturers will be customer service, warranty, and the noise level and quality of the heatsink.

Helpful links:

Graphics cards featured or mentioned: