gigil

Dua puluh enam aksara; ada setangkup doa yang di sana hanya milikmu saja. Ada sepercik cinta yang hanya padamu saja bisa dirasa. Dan ada setitik rindu yang hanya tentang segalamu di sana.

Dua puluh tiga tahun yang lalu, Tuhan menitipkanmu pada sepasang manusia yang kerap kita panggil Ayah dan Bunda. Dua puluh tiga tahun yang lalu, untuk pertama kalinya suaramu menggema memenuhi semesta. Dua puluh tiga tahun yang lalu, wanita yang sewaktu itu menjadi anak satu-satunya memiliki adik lelaki yang pertama.

Tepat pada 22 Juni, dua puluh tiga tahun sudah kau lewati. Darl, bukankah tidak ada keterlambatan untuk setiap perayaan?

Dalam gigil rindu yang kian menjelma, padaNya sedang kupanjatkan sebaris doa. Banyak semogaku perihalmu di sana, tugasmu aamiin-kan saja, ya!

Yang pertama, dengan bertambahnya usia, semoga kau selalu dalam lindunganNya. Perihal apa-apa yang ingin kau wujudkan, semoga selalu dimudahkan. Untuk setiap hal yang selalu kau doakan, semoga segera dikabulkan. Pada setiap cita dan asa yang kau inginkan, semoga diberi kelancaran. Perihal panjang umurmu, kebahagiaanmu, dan segalamu, semoga selalu ridhoNya selalu menyertaimu.

Yang kedua, darl, terimakasih untuk pernah singgah. Terimakasih untuk memilih bertahan. Terimakasih untuk tetap ada meskipun kita tak tahu bagaimana selanjutnya. Terimakasih untuk selalu mengajariku bahwa terkadang cinta tak harus dikata. Terimakasih telah mengajariku bahwa terkadang rindu tak harus membutuhkan temu. Terimakasih telah menarik dan mengulurku sesuai dengan porsimu. Dan masih banyak terimakasih-terimakasih lainnya untukmu.

Di dua puluh tiga tahunnmu, kuharap semoga kelak kita selalu baik-baik saja. Semoga bosan bukanlah alasan kita untuk saling melepaskan. Dan jika kita memang tak lagi dibiarkan untuk bersama, semoga kita tahu bagaimana caranya mengucapkan selamat tinggal dengan selayaknya.

Happy birthday, ma Capt!! ❤❤
I love you to the moon and back. And I still love you even I’m in love with someone else.

Regards,


Your babygirl,
Nom.

Gigil

-dark green green hair parted down the middle
-raw crystal crown with plants*
-elf ears*
-swampy blue / green eyes
-pudgy belly and round face*
-long lashes*
-freckles*
-rosy cheeks*
-funky patterned earthy knit sweater 
-blue and green plaid skirt
-brown tights with beige stars 
-brown loafers

* not in game

likes
- lon lon (milk mustaches) 
- love letters 
- giggling 
- pascal’s advice

dislikes 
- waiting for coffee to cool 
- villagers falling into pitfall seeds
- sleeping through the sunrise 

Gara naman ng girlfriend nun. Napaka OA. Nirespeto ko naman yung sinabi ng boyfriend mo no. Kaso minura na ko, na block mo pa ko. Pasalamat ka di ka naka tikim ng mura sakin, pag ako nagmura sisiguraduhin ko dudugo yang utak mo. FYI, wala akong balak dyan sa boyfriend mo. May hinihintay akong umuwi dito sa Pinas no. Di ko rin trip yang boyfriend mo. Duh! Baka pag nakita mo yung hinihintay ko, baka ikaw tong mang agaw. Don’t expect me to respect you girl. Pasalamat ka mabait pa ko. Gigil mo si ako.

There’s a word.

There’s a word that’s not English, that’s just on the tip of Bucky’s polyglot tongue. 

He needs this word to describe that shivery feeling that goes up his spine and makes him grit his teeth and clench his fists whenever Steve does something unbearably, unspeakably adorable.

All right, so Natasha would say that Steve only needed to breathe in his direction and Bucky would think it was unspeakably adorable. 

She’s wrong. 

(GOD DAMN IT, NATALYA, YOU STOP LAUGHING AT ME.)

It’s the way Steve’s new, modern haircut turns his hair into floofy baby chick down when he removes his helmet. 

(Bucky has to repress the urge to grab him so he can bury his nose into it, press kisses behind that spot behind Steve’s ear that makes him shiver delightedly in his arms, the first step on a familiar trail leading to that luscious cherry-pink mouth.)

It’s the way Steve can still blush and try to shrink back to being five foot precious and smile shy and sweet in thanks at unexpected praise. 

(He’s never been good at accepting compliments and kind words.  They’re still a gift to him, still startle him at times - especially when it’s for his art.)

It’s the way Steve gives him that mischievous, naughty look with that little shit grin of his. 

(I know what you’re thinking and I like it - is what he’s really saying.  And Bucky gets a lot of Those Looks.  Which usually lead to very interesting pleasurable things that were best kept to private spaces.  Nope - that does not include the pantry closet, according to a very much Brain Bleached Tony Stark.)

It’s the fact that Bucky oftentimes has to physically restrain himself from laying hands on Steve’s ass, especially when it looks so good in Bucky’s jeans. 

(He gets his own back by borrowing Steve’s shirts, raises a brow when Steve gives him a heated look for getting the one with that specific shade of blue.)

There’s a word.  There’s a word for this, when Bucky can’t stand it anymore and he just grabs his punk and hoists him over his shoulder, ignoring any and all yelps and protests, tosses him on the bed, watches him go from indignant to breathless, pink-cheeked and hot-eyed and Bucky dives right into his arms, snuggles and nuzzles giggles out of him and later things turn much more heated and the giggling turns into gasps and moans and pleas for more. 

(Clothing may or may not get torn up in the proceedings.   This makes both of them insufferably smug at that.)

There’s a word and it’s right on the tip of Bucky’s polyglot tongue.

Oh. 

It’s gigil. 

So much gigil.

—  Gigil, a Blanket Fort Headcanon because Bucko is hopelessly gone on his Steeb
Obat Penawar Bernama Doa

Waktu berdetak diselimuti gigil dalam doa-doa yang melangit di sepertiga malam. Aku terbangun, mendengar suara langkah kakinya menjauh dari ranjang. Tiap malam tiada putus, ia meletakkan sujud di atas sajadah putih itu. Lalu, diam-diam aku mengamatinya yang penuh khusyuk, menghidupkan doa - doa utuh.

Entah doa apa saja yang sedang ia himpun. Di balik wajah teduhnya tersimpan banyak kegelisahan dan kesedihan yang tak pernah habis. Padahal ketika berhadapan denganku begitu tabah hatinya mengibur tanpa batas.

Aku dalam segala kekurangan selalu menyatakan penyesalan - merasa Tuhan tak bersikap adil dan banyak memberi kesusahan. Sekian kalinya aku menangis mengutuk diri sendiri. Namun, aku sadar sikapku yang seolah membenci Tuhan adalah kesalahan paling fatal. Jika ternyata, itu semua merupakan ujian kesabaran.

Satu-satunya yang membuat hatiku tak menuduh Tuhan bersalah adalah ibu. Aku tak perlu penawar apapun agar kondisiku kembali seperti semula. Aku takut jika nanti melupakan rasa syukur. Sebulan lalu, dokter menyatakan kemungkinan kecil kondisiku normal. Kecelakaan itu membuatku lumpuh permanen. Kedua kakiku sudah mati rasa. Kini kemanapun duduk di atas kursi roda.

Setelah kusadari, doa-doa ibuku sudah cukup menjadi penawar. Pun ketenangan abadi diantara banyak penawar mujarab di dunia yang fana ini. 

Mengukur Tanya

Di lain tempat, lampu-lampu jalan telah menyala
memperjelas arah seseorang yang mengukur tanya;
apakah duka ini karena cinta?

Sementara di sini, jalan begitu sunyi
serupa hatinya yang berdenyut nyeri
di tangannya, telepon genggam ditatap pucat
wajahnya pasi, gigil menanti

Dan hingga pada suatu hari
orang-orang tak pernah lagi mengerti, apalagi peduli;
untuk apa menunggu sesuatu dari masa lalu

Beautiful Words

Not enough people give credit to language. I am going to write here a hundered words that I find beautiful or funny or interesting. Pick one. Use one. Language is so important.

Keep reading

Jangan

Jangan katakan kau benar-benar mencintaiku, jika masih ada alasan yang mampu membuatmu beranjak meninggalkanku, serupa bosan yang akan berkali-kali kau temui ketika berbincang denganku.

Jangan ucap kau hanya merindukanku, jika masih ada ruang untuk dia dan mereka yang mampu mengalihkan pandanganmu, serupa rasi bintang lain yang lebih berpendar menarik perhatianmu tanpa ragu.

Jangan tuturkan bahwa kau menginginkanku, jika masih ada fase yang kau jadikan dalih untuk berjarak denganku, serupa jeda yang dibiarkan menguar bersama sepi yang tercipta, ketika dekap erat taklagi mampu membahasakan diam dan menghangatkan segala gigil yang menjelma.

Jangan, jangan pernah ada frasa negasi yang terlontar bersama napas yang kau hela, sebab hatiku telah benar-benar mengeja, arah menujumu yang kuharapkan takkan pernah berbalas luka.

Bisakah hanya aku yang bertahta, di singgasana kokoh tempat segala rasamu meraja? Bisakah hanya pelukku yang menenangkan, sebagai tempatmu berpulang dari segala lelah yang menyerang? Bisakah hanya rungu milikku yang kau inginkan, sebagai penangkap suara yang bahkan tak pernah kau lafalkan. Bisakah? Bersama segala keakuan, terapal ribu-ribu kata, semoga.

Semesta, 4 April 2017