george: 1

“Me Enamoré” is #1 in the Latin Pop chart in the US! / “Me Enamoré” es número 1 de la Radio Latina Pop en los Estados Unidos! ShakHQ

Made with Instagram

Anyone else notice how every time they needed Regina to be a hero, Emma had to be incapacitated in some way?

Exhibit A: The season 3 finale, when Regina was “the holder of the strongest light magic” (yeah right) and defeated Zelena. However, earlier Emma had had her magic drained. 

Exhibit B: The season 4 finale, when Regina was ‘the Saviour’ and Henry could use her blood to rewrite the story.  However, Emmahad been “un-savioured” by Rumple and the Author.

Exhibit C: In Camelot, Regina was deemed as the Saviour and saved Robin. And once again, Emma had been un-savioured as she was the Dark One.

Exhibit D: Regina goes to save Emma from the Wish Realm. Meanwhile, Emma had been reduced to a whimpering damsel.

It says a lot about her redemption that it only works when Emma is unable to be a hero for whatever reason.

Por ti
             s i e m p r e
                                     por ti
leo
       p á g i n a s
                             y
                                p á g i n a s
buscando
                              los  v e r s o s
m á s  l i n d o s
                             del  m u n d o.
—  Guillermo M., Mosha IV
Writing’s Journey #1 - Sekelumit Kisah Sebatas Mimpi

Hai teman-teman semuanya! Selamat berjumpa di edisi perdana Writing’s Journey. Sesuai janji, hari ini aku mau sedikit cerita-cerita tentang pengalaman menulis. Agak bingung sih mau mulai darimana saking banyaknya yang ada di kepala. Tapi, mari diurai sedikit demi sedikit.

Pertanyaan pertama yang sering banget diajuin ketika temen-temen mulai tau kalo aku sudah punya buku “Sebatas Mimpi” yang nangkring di rak Gramedia adalah, “gimana caranya bisa tembus ke penerbit major atau GagasMedia?” dan satu-satunya jawaban yang aku bisa utarakan hanya, “aku ditemukan oleh editornya—yang sekarang jadi editor+teman kesayangan—karena konsisten nulis di Tumblr ini”

Ditemukan? Yaps, aku memang ditemukan dan dichat duluan oleh Kak Ry (editor GagasMedia). Hal pertama yang aku rasain pas itu tuh super duper excited, mau nangis bahagia sekaligus dilemma takut-takut kalo itu boongan *enggalebaytapibenerandeg-degan*. Inget banget waktu itu doi perkenalan nama dan ngasih tau kalo doi dari penerbit GagasMedia. Trus doi bilang, “sudah pernah nerbitin buku? Aku mau ngajak kamu nulis di GagasMedia.”

Selama beberapa menit aku cuma ngeread doang saking gataunya harus bereaksi apa. Karena gamau diboongin dengan percaya gitu aja *astagfirullahmaafkankesuudzonanku* akhirnya aku stalking buat nyari tau ini beneran engga sih? Asli orang GagasMedia engga sih? Karena yang aku tau mereka tuh salah satu penerbit yang udah punya nama di Indonesia, secara ya teenlit bahkan novelnya aku sering banget bacain pas SMP, dan mereka teh ngehubungin aku? Da aku mah siapa sih, masa iya ujug-ujug mereka nawarin aku nulis.

Sampe kemudian aku nemu twitternya dan langsung ngeadd line officialnya Kak Ry, lalu aku menemukan dia pernah nulis tentang Ditawari Editor untuk Bikin Buku. Kubaca tulisan itu sampe akhir dan merasa yakin bahwa ini bukan tipu-tipu. Kemudian pembicaraan berlanjutlah dengan konsep dan outline (ini akan aku bahas di sesi lainnya ya hehe).

Setelah aku cerita kayak gitu, mungkin saja muncul pernyataan dan pertanyaan, “enak banget bisa kayak gitu! Caranya gimana kak?”

Aku pribadi percaya, setiap tulisan akan menemukan pembaca dan jalannya masing-masing, tapi yang pasti untuk menjadi seseorang yang pada akhirnya bisa menerbitkan buku yang diperlukan itu adalah konsisten. Yak, konsisten untuk terus menulis!

Mungkin banyak yang mengira aku enak banget bisa ditawarin nulis gitu aja, engga perlu susah-susah untuk nunggu 1-3 bulan yang belum tentu naskahnya diterima. Wajar, komentar yang sudah lumrah akan timbul di masyarakat kita zaman sekarang. Mungkin, teman-teman yang berkomentar gitu lupa untuk melihat prosesnya. Seringkali kita memang lebih suka melihat hasil tanpa mengetahui prosesnya.

Percaya atau tidak, aku butuh waktu kurang lebih 9 tahun hingga akhirnya bisa menerbitkan buku. Yak, 9 tahun kalo punya anak udah kelas berapa tuh? Hmmm engga kode kok engga, hehe. Aku sudah suka sekali membaca dari SD (anaknya doyan minjem buku di perpustakaan tapi lupa dibalikin) dan jatuh cinta dengan kegiatan menulis sejak SMP.

Awal mulanya tuh karena dipilih sama guru mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk ikut lomba puisi di Dinas Kota Yogyakarta (iye aku SMP di Jogja hehe). Padahal mah engga jago-jago amat nulisnya da:( Nah tapi dari situ ketagihan untuk terus-terusan menulis, mulailah nulis-nulis di platform yang beragam—sengaja engga nulis diary karena takut dibaca orangtua haha—mulai dari nyerpen di facebook note (sampe dengan belagunya ngetag editor-editor majalah yang kalo jaman dulu gampang banget tuh buat temenan sama seleb-seleb atau orang terkenal di facebook yang penggunanya masih itungan jari) trus pindah ke blogspot, wordpress sampe akhirnya di 2014 jatuh hati sama Tumblr.

Jangan dikira selama 9 tahun perjalanan aku nulis-nulis tuh mulus dan dapet dukungan dari banyak pihak, karena itu sangat amatlah salah. Tau engga kenapa aku sampe akhirnya engga menggunakan nama asli di Tumblr ini? Karena oh karena aku ingin melarikan diri dari orang-orang yang bilang, “apasih nulisnya mellow banget? Galau mulu deh! Itu tulisan kenapa melankolis banget dah?” dan segala macam ejekan lainnya.

Bahkan orangtuaku dan orang lain yang umurnya jauh di atasku dari dulu bahkan sampe detik ini masih aja bisa ngomong, “emang kalo nulis bisa jadi apa? Emang nulis itu pekerjaan?” Ya, aku tidak menyalahkan siapa pun atas hal tersebut, karena memang profesi sebagai penulis sampe detik ini di Indonesia masih dipandang sebelah mata, belum didambakan oleh orangtua-orangtua, seperti mereka mendambakan anak-anaknya menjadi dokter, polisi, insinyur dan sederet pekerjaan lainnya.

Tapi dengan perkataan teman bahkan orang-orang terdekatku yang seperti itulah aku jadi semakin yakin untuk merubah pandangan mereka. Bahwa manusia terlahir dengan hobi dan kesukaan yang sebetulnya bisa untuk dijadikan sebuah karya kalo mereka serius mau menekuninya. Apa pun itu, engga hanya menulis tentunya.

Dari situ aku mikir, kalo aku engga bisa sebebas itu menulis dengan menggunakan nama Stefani Bella kenapa aku engga mencari cara lain untuk tetap bebas menulis? Maka, begitulah nama tumblr HujanMimpi ini tercipta~

Sembilan tahun aku juga pasti jenuh dan sempat bosen untuk nulis, sempet males untuk berjuang sama kesukaanku ini. Tapi, bener apa kata orang-orang zaman dulu, Tuhan selalu bersama dengan hamba-Nya yang sabar dan mau berusaha. Di setiap kebosanan selalu ada aja cara yang Tuhan berikan untuk ngasih semangat, salah satunya respon dari orang-orang yang menemukan dan membaca tulisanku. Pembaca itu teman baik! Respon pembaca adalah asupan motivasi tertinggi buatku pribadi.

Nah kalo habis ini masih ada yang nanya, “jadi kak kalo aku mau nerbitin buku enaknya gimana? Nunggu ditawarin atau gimana nih?”

Jawabanku adalah…Konsisten nulis dulu aja! Untuk menerbitkan buku banyak jalannya, betul? Bisa lewat penerbit indie, bisa juga di major, semua balik lagi ke usaha dan jalan yang sudah Tuhan pilihkan untuk kita.

Yang memilih menerbitkan buku di penerbit indie banyak loh yang sukses. Sebut saja mas @kurniawangunadi atau mbak @karenapuisiituindah yang buku KPII nya bisa sampe 3 di indie atau mas @azharnurunala. Mereka adalah contoh orang-orang ketje yang berhasil menemukan pembacanya sampe ke pelosok negeri seberang dengan jalur penerbitan indie. Keren? Iya banget!

Atau mau ke penerbit major? Langsung print naskahmu, kirimkan ke alamat redaksinya. Tapi, pintar-pintarlah memilih penerbit. Kalo naskahmu genrenya romance-komedi, kamu cari buku yang serupa dengan naskahmu, lalu lihat penerbitnya apa. Barulah kamu memasukkan naskahmu ke sana. Jangan sampe penantian 3 bulanmu sia-sia hanya karena kamu memasukkan genre romance ke penerbit yang hanya menerima naskah-naskah komedi atau horror. Ya atuh gimana mau diterima –“

Tapi kalo kamu masih belum seberani itu untuk memasukkan naskah ke penerbit, mulailah dengan menggunakan social media yang kamu miliki. Bisa di tumblr, facebook notes, twitter, ask.fm, Instagram, blogspot, wordpress, medium, wattpad, atau bahkan storial dan segala macam media lainnya. Konsistenlah untuk menulis, jadwalkan missal sehari harus ada 1 tulisan, atau seminggu harus ada minimal 2 tulisan yang mengudara.

Social media adalah cara tercepat untuk kamu memiliki pembaca dan mendapatkan respon dari pembaca untuk semakin memperbaiki tulisanmu. Dan percayalah, banyak penerbit yang mencari karya-karya popular dari social media. Jadi, jangan pernah takut bersuara apalagi jadi jiper hanya karena satu dua orang yang meremehkan. Dunia engga lantas runtuh hanya karena satu dua orang yang berbeda pendapat atau selera denganmu :)

Aku aja berjuang 9 tahun sambil jatuh bangun dan tertatih-tatih untuk kemudian bisa menerbitkan buku. Kamu, yakin gamau ngotot memperjuangkan mimpimu sampe akhirnya bisa membuktikan ke dunia bahwa cita-cita dan mimpimu bukan hanya Sebatas Mimpi?

*tulisan ini sekaligus menjawab pertanyaan dari Nur Azizah Zainal, terima kasih banyak atas pertanyaannya dear :)

Untuk yang lain yang mau bertanya atau mengajukan saran tulisan boleh lancek infonya di bawah ini

Tangerang, 19 Juni 2017