gas lipstik

Lewat Suara

2 November kemarin, aku sama mbak Chany udah siap-siap nunggu jam 21.00.
Nunggu pertama kali mbak No siaran.
Oke. Baik. Kita dengarkan pakai hape mbak Chany yang dimasukkan kedalam gelas kaca, biar suaranya lebih keras, kita rekam pembicaraan yang ada pakai hapeku, dan kita pakai ipadnya Rayyan untuk lihat wajahnya via youtube wkwkwk.

Selama acara berlangsung, aku sama Mbak Chany dengan seksama mendengarkan. Sambil beberapa kali mengangguk. Atau ikut nangis pas mbak No nangis. Atau saling liat-liatan sambil senyum penuh arti di beberapa bagian. Atau ketawa-ketawa ngomentarin apa aja yang ada. Entah itu suara Kirana, mukanya mbak No, atau apa aja.

“Kirana caper hahhaa”
“Ini Retno ga pake lipstik apa?”
“Han kayaknya habis ini kita ajak dia siaran lagi Han. Judulnya Retno No Secret. Hahaha”
Semua. Apa aja.

Mendengar suara mbak No dan Kirana selama dua jam malam itu, sebenernya kayak aku lagi telfonan sama dia. Kayak biasa aja. Tapi mendengar kembali curhatannya tentang Kirana yang eczema, selalu menimbulkan emosi yang sama. Untuk orang “luar” yang sempat ada di posisi mbak No, tetep gak akan bisa membayangkan gimana rasanya jadi mbak No melewati malam hari, berharap cepatnya malam berganti pagi.

Ketika rasa bangga yang menggebu, haru yang menderu dan bahagia yang membahana diungkapkan dengan kata ‘Bela’, maka riak rindu yang membuncah serta bangga yang terpendam karena tertahan ego ini untuk Mbak Retno.

Yaaaa…karena ga semua kakak bisa bilang sayang lewat lisan. Ga semua adik bisa bilang sayang secara gamblang.

Dimanapun, semoga selalu dalam lindungan Allah swt.