garansi

Kalau di akun saya–entah media sosial mana–kamu melihat potret diri saya, percayalah, saya tidak secantik, semanis, dan seimut itu. Di zaman canggih seperti ini, aplikasi edit foto dan kamera bisa mengubah tampilan asli dengan sangat menyenangkannya.

Kalau di akun saya–entah media sosial mana–kamu membaca sebait atau sekian alinea yang saya tuliskan, percayalah, saya tidak sebijak, sedewasa, dan semantap itu dalam menjalani keseharian. Saya masihlah anak kemarin sore–yang masih harus melewati gelap malam pekat untuk menemui fajar.

Kalau di akun saya–entah media sosial mana–kamu dapati foto, sebagian kisah-kisah lucu, atau sekadar guyon kering yang saya unduh, percayalah, kehidupan saya tidak selalu semengasyikkan itu. Tidak juga semenyengsarakan yang (mungkin) terbesit setelah kamu membaca kalimat sebelum ini.

Bila kamu lebih dulu mengenal saya melalui dunia maya dan memasung ekspektasi tinggi-tinggi akan sosok saya, turunkanlah. Karena saya tidak menyiapkan garansi kekecewaan setelah kamu bertemu saya di dunia yang lebih nyata. Jangan pula cepat-cepat menjatuhkan hati. Saya menyadari, pesona saya terkadang memang kurang ajar, namun percaya kata saya; jangan cepat-cepat jatuh hati. Karena saya tidak menyediakan bantalan.
Mengerti ya?