gagalou

Maafkan Diri Sendiri

“Ada hal yang sangat penting untuk dilakukan
Ketika kita merasa marah, kecewa, terpuruk, pada diri sendiri
Maafkanlah ia
Maafkanlah dirimu sendiri.”

Seringkali kau merasa tak puas hati
Karena telah berkali-kali gagal
Lagi dan lagi
Lalu kau dibuat kecewa
Dan enggan melanjutkan kisah yang terlanjur harus dibenahi
Ingatlah ini
Sebelum melakukan apapun
Sebelum merencanakan akan melakukan apa selanjutnya
Maafkanlah dirimu sendiri
Terima gagalnya sebagai proses belajar
Terima ketidaksempurnaannya sebagai fitrah manusia
Terima ia seutuhnya
Karena itulah yang terbaik yang bisa kau berikan pada dirimu sendiri

Seringkali kau merasa marah
Emosi yang meledak-ledak
Karena kau kalah
Lagi dan lagi
Tenanglah dulu
Duduklah santai sambil melihat sekitar
Berikan ruang untuk diri sendiri
Memahami makna dari sebuah kekalahan
Bahwa hidup seringkali betul adalah perihal perjuangan
Yang bel tentu berakhir kemenangan
Tapi sadarilah bahwa berjuang dan kalah
Jelas lebih terhormat daripada menyerah
Terima kekalahan sebagai proses menjadi lebih baik lagi
Belajar menggunakan cara yang berbeda, ciptakan kreasi

Seringkali kau merasa sedih
Ada air mata yang tak mau berhenti
Bersusah payah bersembunyi
Silakan saja mengurung diri
Satu atau dua hari
Puaskan getar dalam dadamu
Untuk bersuara dalam sunyi yang paling sunyi
Lalu, di kemudian hari, bangkitlah!
Tidak ada kekuatan tanpa kelemahan
Tidak ada kebahagiaan tanpa kesedihan
Tidak ada hari ini tanpa hari kemarin
Dan juga, tidak ada seorangpun yang tidak pernah menangis
Terima kemalangan apapun sebagai bentuk sayang dari Tuhan
Ia mungkin ingin kau mendekatkan diri padaNya lagi
Setelah kemarin sempat jauh karena terlalu berbahagia hati

Maafkanlah diri sendiri
Dirimu berhak kau terima sepenuhnya
Baik dan buruknya
Benar dan salahnya
Agar ia bisa lebih baik dari hari sebelumnya
Agar tak ada benci ketika kau berkaca setiap harinya.

Medan, 2 Februari 2016

- Tia Setiawati

Kita mengeluh atas listrik yang mati atau data terhapus;Imam Asy-Syafi’i tersenyum kala difitnah, dibelenggu, dan dipaksa berjalan terantai dari Shan’a menuju Baghdad. Kita menyedihkan komputer jinjing yang tetiba mengadat dan batas waktu penulisan yang gawat; sedang punggung Imam Ahmad berbilur dipukuli pagi dan petang hanya karena satu kalimat. Kita berduka atas gagal terbitnya suatu karya; padahal Imam Al-Mawardi berjuang menyembunyikan tulisan-tulisannya hingga menjelang ajal, agar dirinya terhibur dari puja.

Mari kembali pada Imam An-Nawawi yg wafat di usianya 45, dan tak usah bicara tentang Al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab-nya yg dahsyat dan Riyadhus Shalihin-nya yg jelita. Mari perhatikan saja karya tipisnya Al-Arba'in An-Nawawiyah. Betapa dalam 42 hadits yg dipilih dgn cermat itu ada lapis-lapis keberkahan yg melampaui segala hitungan. Ia disyarah beratus kali, dihafal berlaksa akal dihati, dikaji berjuta manusia, dan tetap menakjubkan susunannya.

Maka tiap kali kita bangga dgn ‘bestseller’, 'nomor satu’, 'juara’, 'dahsyat’, dan 'terhebat’, liriklah kitab kecil itu. Lirik saja. Agar kita tahu bahwa kita belum apa-apa, belum kemana-mana, dan bukan siapa-siapa. Lalu tak henti belajar, berkarya, dan bersahaja.

© Ust Salim A.Fillah

#semangatPerbaikan
#menujuKitaMadani
🌱

….
aku lupa menghitung, sudah berapa kali rindu mengganggu ketenanganku dan ketenanganmu. sudah berbagai cara kudamaikan ia dengan waktu. namun tetap saja ia enggan menyatu.

kepadamu, tuan, rinduku terus berjatuhan. matamu yang teduh, senyummu yang surgawi, tak pernah kukhianati. semoga di sana kau tetap menjaga hati, seperti aku di sini yang begitu menjagamu dengan sangat berhati-hati.

sebentar, bolehkah aku sedikit mengeluh kepadamu? ah, andai saat ini juga kau bisa temani aku, duduk di sampingku, lalu mendengarkan seluruh celotehku. aku ingin bercerita banyak hal, apa pun. maafkan aku yang sering kali mengutuk jarak di antara kita.

kau pasti tahu, rinduku atasmu tak pernah mengenal malu. setiap hari ia selalu mengganggumu. maafkan aku, maafkan, karena aku telah gagal merawat rindu. padahal aku pun tahu, di banyaknya waktu sibukmu, kau pasti selalu mendoakan segala hal demi kebaikanku, termasuk urusan rindu.

di mana pun saat ini keberadaanmu, berjanjilah untuk selalu baik-baik menjaga diri dan hati, tidaklah perlu berjanji kepadaku, anggaplah itu perjanjian dengan dirimu sendiri. karena mengetahui di sana kau baik-baik saja, sudah cukup membuatku lega.

semoga, sibukku dan sibukmu hari ini dihitung oleh Tuhan sebagai sibuk yang memperjuangkan masa depan. kiranya kau lelah, percayalah, tidak sekali pun Tuhan menginginkan kita untuk menyerah.

semoga saja, waktu lekas berbaik hati kepada kita, juga rindu-rindu kita.
.
-tertanda aku, perempuan yang merindukanmu.

Hal Paling Absurd?

From: Me

To: You

Subject: Hal Paling Absurd?

Compose email:


Selamat menjelang petang, Sayang. Selasaku rasa Senin. Setelah libur panjang biasa begini, memang. Pekerjaan kantor tidak kenal ampun. 

Bagaimana harimu? Masih merindu? Maafkan bakatku yang terkadang kurang ajar. Ya! Mudah dirindukan. Hahaha terlalu percaya diri ya. Biarkan. Kau mulai terbiasa dengan kenarisisanku kan? Seharusnya tidak menjadi masalah.


Kau tahu apa? Beberapa waktu lalu aku bertandang ke dalam suatu grup chat. Ada sesi tanya jawab di sana. Bukan pertanyaan-pertanyaan sulit, yang aku harus menjawabnya dengan sedikit mencontek RPUL atau RPAL. Hanya saja pertanyaan-pertanyaan yang bisa menggali sisi diriku. Banyak sekali pertanyaan bemunculan, sebagian aku sudah nampak ke permukaan. Aku gagal lagi menjadi wanita misterius. Haaah, tapi tak apa. Ini kegiatan menyenangkan. Karena ada beberapa orang yang sama denganku. Setidaknya aku tidak merasa aneh sendiri.

Sampai pada pertanyaan ‘Apa hal paling absurd yang pernah kamu alami?’ Kau tahu apa yang aku jawab? Mengenalmu, memercayakan sebagian hati untuk kau genggam. Kau jelas tahu, aku wanita yang sulit sekali membukanya kan? Tapi entah, terhadap orang asing sepertimu aku percaya-percaya saja. Memersilakanmu masuk, untukku jamu dengan senyum dan dekap yang hangat. 

Ya, bertemu kamu adalah hal paling absurd yang pernah aku alami. Bagaimana bisa aku yang berprinsip tidak akan mudah menjatuhkan hati justru padamu – lelaki yang asal muasalnya saja tidak aku ketahui, ia bersukarela. 

Hatiku membesarkan dirinya sendiri dengan membisikkan ‘Kau tidak jatuh sendiri, ia berusaha untuk tidak membuatmu kecewa seperti yang sudah-sudah.’ Setelahnya hanya ada dialog-dialogku dengan hatiku sendiri, mengenai ‘Bagaimana bisa…?’ yang tumpah ruah tidak terhingga. Dan berkali-kali untuk pertanyaan yang berbeda hatiku hanya menjawab ‘Jalani saja dulu. Jika tidak dijalani, bagaimana kau tahu kisahnya akan seperti apa?’  Akhirnya aku hanya bisa mengamini hatiku yang acapkali anomali.

Esok jika bertemu akan aku tanyakan hal yang sama padamu. Barangkali jawabanmu sama dengan jawabanku, maka aku akan mengejekimu ‘dasar, bisanya ikut-ikutan aja!’ Lalu kau hanya bisa menahan gemas. 

Sekali lagi, maaf untuk bakatku yang lainnya; menggemaskan. 




Si Kepala Besar,

Kamu-mu.

Mereka yang Tidak Pernah Jatuh Cinta

Barangkali memang benar, nasib terbaik manusia kedua setelah tidak pernah dilahirkan, adalah mereka yang tidak pernah jatuh cinta

Menciptakan dan meninggalkan kenangan di mana-mana,
Di atas meja kafe-kafe di pinggiran jalan, di sepanjang jalan raya, di peron-peron stasiun, di setiap lampu merah yang masih menyala 120 detik lamanya.

Oh, tunggu, itu belum seberapa
Jika sudah sampai tahap kau terbiasa dengan bau tubuh seseorang, malang betul nasibmu, satu hari tidak bertemu saja rasanya ingin kau hancurkan isi kepalamu itu, atau kau sumbat kedua lubang hidung kemudian memilih bernafas dengan mulut sepanjang hari.

Atau yang lebih buruk lagi jika kau punya ingatan yang kuat, mungkin kau akan sering berharap agar cuaca tak pernah datang semena-mena, karena barangkali untuk sebagian orang yang ingatannya kuat, hujan itu benar-benar mengganggu. Membuatmu terpisah dengan tubuhmu sendiri, kemudian kau memandangi tubuhmu bekerja, mati-matian menahan rindu dan kemudian gagal karena langit menumpahkan air matanya. Dua detik setelah itu, tangisanmu bersaing dengan air hujan.

Kau menang, air matamu lebih banyak.

instagram

[V I D E O of T H E M O N T H]
.
.
Hasil riset menyatakan ada 5 hal yang ditakuti para wanita :
1. Takut ditinggal oleh orang-orang yang dikasihi

Wanita sangat ingin disayang teman-teman dan keluarganya, mereka sangat ingin memenuhi kebutuhan emosional orang yang disayangi.

2. Takut tidak cantik dan tidak menarik lagi

Rasa percaya diri seorang wanita terkait dengan penampilan dan kemampuannya menarik pria ,wanita juga takut kehilangan kecantikannya.

3. Takut menjadi korban kekerasan

Wanita sangat takut menjadi korban kekerasan, mereka tidak suka berjalan sendirian di tempat yang sepi. Rasa takut akibat mobil mogok di tengah perjalanan ketika malam hari, seorang wanita lebih besar di banding seorang pria.

4. Takut tidak bisa menyenangkan orang lain

Wanita tidak suka berkonfrontasi terhadap orang lain, jika itu terjadi seorang wanita akan lebih merasa tidak enak dibandingkan seorang pria.

5. Takut gagal dalam suatu hubungan

Wanita akan menyalahkan dirinya sendiri jika anaknya ditolak oleh teman-teman sepermainannya.


.
.
ps : Kalau menurut fina, rasa takut itu tumbuh karena banyaknya keegoisan untuk selalu ingin mendapatkan apa yang diinginkan bukan yang dibutuhkan. Semoga kita bisa memahami, bahwa yang diberikan sampai saat ini adalah yang kita butuhkan. Lebih baik kita menyibukkan diri dengan terus memperbaiki diri menjadi pribadi yang shalihah dan hanya mengharap ridha-Nya. 😇😊 (6 February 2016) #finaslife #dokterfina

(at Grand Bowling)

Ketika kita gagal mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, bukan berarti kita tidak pantas untuk mendapatkannya, justru mungkin kita pantas.. untuk mendapatkan hal yang lebih baik dari itu.
Mengapa Pengembangan Produk Startup Sering Kali Gagal Menghasilkan Growth?

Mengapa Pengembangan Produk Startup Sering Kali Gagal Menghasilkan Growth?

External image

Growth bagi sebuah startup memang sebuah terminologi yang tidak bisa dilepaskan. Ia adalah harga mati bagi sebuah startup, karena memang karena growth lah salah satu alasan sebuah bisnis disebut startup (Paul Graham). Namun memang ada beberapa perbedaan bagi beberapa startup dalam memilih matriks pengukuran yang mereka gunakan untuk mengukur growth mereka. Ada yang menggunakan parameter kesehatan…

View On WordPress

Kandas.

Terakhir kali kujawat jemarimu pasrah,
tangan telungkup; lemah kukecup
Sambil selipkan kelopak kembang kuncup
layu sebab gagal mekar di taman uzlah

Terakhir kali kubimbing kau menuju resah,
Satu kulah dosa sebentar lagi tumpah; namun
air matamu lebih dulu jatuh, basuh kelopak layuh
Seketika rekah, paling cerah di tepi jannah

Tangerang, Februari 2016

Cc : @edoyaa

#PengungsiSepi

subuh tadi, aku terbangun, terduduk dalam bingung, bertanya banyak hal. bagaimana jika aku tak mampu menyeimbangimu? bagaimana jika aku tak mampu menyamakan visi misiku denganmu? bagaimana jika aku tak mampu mewujudkan apa yang sedang ingin kau raih? bagaimana jika dalam perjalanan ini malah aku yang membuatmu gagal? masihkah kau mau terus berjuang denganku hingga mencapai sukses yang sejak awal kita harapakan?
Aku meracik tinta dari airmata langit. Dengannya, kususun larik-larik patah pada secarik kenangan lusuh termakan ngengat. Tersebab tiada lagi yang tersisa antara kita selain beberapa patah kata penuh benci yang gagal kutukar dengan secawan maaf. Tak ayal, perpisahan kau ukir pada arca yang belum tuntas kupahat, lalu ia merupa sepenuhnya batu. Mati.
—  Aku masih gagal menukar benci dengan kemaafan.
Ketika kita merasa berjasa sedang orang lain merasa terhinakan, itu pertanda kita tengah gagal. Sukses itu juga diukur lewat kebersamaan.
—  Aa’ Gym