gagalou

Selalu ada kemudahan untuk orang yang bersungguh-sungguh. Dalam hal apapun itu. Masalahnya, terkadang kita harus diuji dulu, untuk mengetahui seberapa sungguh-sungguh kita menginginkan sesuatu dan mengusahakannya. Banyak orang yang gagal dalam ujian kesungguhan. Belum selesai, tapi terburu-buru menginginkan kemudahan. Padahal bisa jadi kita memang belum sampai pada puncak kesungguhan kita. Padahal bisa jadi, kita memang belum layak mendapatkan hadiah kemudahan itu. Saat suatu hari nanti hidup kamu terasa sulit, artinya pada saat itu kamu harus meningkatkan kesungguhan kamu. Karena kesungguhan adalah jembatan penyebrangan, dari kesulitan menuju kemudahan.
— 

Nazrul Anwar

Jack Ma (51 tahun) adalah seorang pengusaha sukses sekaligus filantropis asal China. Dia adalah pendiri selaigus pemimpin eksekutif Alibaba, sebuah grup perusahaan berbasis Internet. Jack Ma adalah orang China pertama yang berhasil menjadi cover majalah Forbes. Pada November 2014, ia dinobatkan sebagai orang terkaya nomor 1 di China dan orang terkaya ke-18 di dunia. Menurut Bloomberg Billionaires Index, kekayaannya mencapai 29.7 miliar dollar.

Tentang menjadi pengusaha sukses, dalam sebuah talkshow di Korea, Jack Ma memberikan sejumlah nasihat untuk anak-anak muda:

(1) Sebelum berusia 20 tahun, jadilah murid yang baik. Jika Anda memang ingin menjadi pengusaha, belajarlah sedikit-sedikit. Jika Anda belajar berwirausaha, lakukanlah banyak kesalahan. Jangan khawatir, jika Anda gagal, bangkit lagi. Jika gagal lagi, bangkit lagi. Nikmatilah semuanya.

(2) Sebelum berusia 30 tahun, ikutilah seseorang. Bekerjalan di sebuah lembaga atau perusahaan. Biasaya, jika Anda bekerja di perusahaan yang besar, Anda akan belajar tentang proses—pahami bagaimana sebuah mesin besar bekerja dan Anda adalah bagian dari mesin itu. Jika Anda bekerja di sebuah perusahaan kecil, belajarlah tentang semangat dan cita-cita—bagaimana semua itu dibangun. Untuk menjaga dan mencapainya, Anda akan belajar bagaimana mengerjakan banyak hal dalam waktu bersamaan. Sebelum berusia 30 tahun, bukan tentang di perusahaan mana Anda bekerja, tetapi kepada siapa Anda belajar. “It is not which company you go, but which boss you follow. Because, a good boss teach you differently.”

(3) Di usia 30-40 tahun, bekerjalah untuk diri Anda sendiri, jika Anda memang benar-benar ingin menjadi seorang pengusaha (entrepreneur).

(4) Di usia 40-50 tahun, Anda harus fokus pada semua hal yang benar-benar Anda kuasai. Jangan coba-coba mencari minat atau pekerjaan baru, sebab bisa jadi Anda memang akan sukses tapi Anda hanya punya sedikit waktu.

(6) Saat usia Anda 50-60 tahun, bekerjalah untuk anak-anak muda, karena mereka bisa melakukan hal yang lebih baik daripada yang Anda bisa. Maka bergantunglah pada mereka, berinvestasilah pada anak-anak muda itu, pastikan mereka mengerjakan hal terbaik untuk Anda.

(7) Saat usia Anda di atas 60 tahun, habiskanlah waktu untuk diri Anda sendiri. Nikmati semuanya, bersenang-senanglah.

Dalam talkshow yang sama, seorang anak muda bertanya kepada Jack Ma tentang hal yang paling ia sesali dalam hidupnya, “Setelah semua sukses yang Anda dapatkan, apa yang paling Anda sesali?” Tanya anak muda itu.

“Tidak banyak yang saya sesali, kecuali soal waktu dan privasi. Saya menyesal karena saya bekerja terlalu keras sehingga saya hanya bisa menghabiskan sedikit waktu bersama keluarga saya.”


Melbourne, 5 Juli 2015

FAHD PAHDEPIE

Ramadhan #17 : Ayah dalam Shaf Terdepan

Berbeda dengan ramadhan tahun lalu dimana aku harus memperlambat langkahku, mengikuti langkah kaki ayah.

“Ayah malu deh, mau ke masjid aja harus dituntun segala.” Katanya setelah kami melewati beberapa pemuda yang sedang nongkrong di ujung gang rumah.

“Harusnya mereka yang malu, yah. Masih muda dan sehat tapi gak solat tarawih ke masjid.” Hiburku menimpali.

Alhamduillah aku sudah lancar mengendarai motor. Ayah adalah salah satu motivasiku berani mengendarai motor (lagi). Ramadhan tahun ini aku membonceng ayah menuju masjid yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Sesampainya di masjid, ayah dibantu menuju tempat solat oleh tetanggaku. Hijab masjid yang terbuat dari kaca memudahkanku melihat ayah dalam barisan jama’ah laki-laki di depan.

“Koq tadi ayah solatnya di shaf belakang sih, padahal kan tadi datengnya duluan?” tanyaku sesampainya kami di rumah.

“Ayah cuma gak mau ganggu kekhusyuan orang yang solat di samping ayah.”

Ayah yang sudah empat tahun di vonis mengidap gagal ginjal, tahun ini sudah tidak sanggup solat berdiri. Tapi semangatnya untuk tetap berjama’ah di masjid memang juara. Meski harus sebaris dengan anak-anak kecil di shaf belakang, ayah tetap memilih solat teraweh berjama’ah di masjid dengan kondisi solat duduk. Malam berikutnya, ayah berada di baris kelima dekat jendela. Malam berikutnya lagi di baris ketiga, tetap baris terakhir. Baru pertengahan bulan, tapi sejak hari pertama jama’ah solat tarawih semakin menurun. Jama’ah perempuan pun sekarang bisa ikut masuk ke ruang solat utama.

Malam ini ayah tidak memintaku mengantarnya ke masjid.

“Ayah boleh istirahat di rumah aja gak, ya? Simpan tenaga buat jum’atan ke masjid besok,”

“Boleh, Yah.”

“Besok ayah harus di shaf depan.” Katanya menambahkan.

Akupun memutuskan solat tarawih di rumah, menemani ayah. Hari yang di tunggu ayah pun tiba. Kali ini aku tak mengantarnya seorang diri. Dan ayah benar-benar berada di shaf paling depan. Sendirian. Ayah benar, perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan menuju masid, perjalanan menuju Rabbnya

Semoga Allah menghitung setiap langkahmu menuju masjid, yah.

Pengirim Tulisan :

Lisdha Nurakida

Dibalik Tiga Jendela

Draft #9

Sampai hari ini, aku masih bingung.
Ternyata, tidak mudah menebak pikiranmu.
Aku gagal memahami apa yang kau inginkan.
Belum juga kumengerti apa yang kau cari dari sosoknya.
Tapi dari semua ketidakmampuanku itu, aku masih tetap akan menjadi orang pertama yang merindukan dan mencintai sifat manis dan pahitmu itu. 

Dan satu lagi,
…aku tidak pernah gagal untuk menyayangimu dengan baik.

Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu*

Mungkin ini akan terdengar klise: Jika Anda ingin lulus beasiswa, mintalah doa ibu. Tapi, izinkan hari ini saya memberikan sebuah bukti.

***

Hari ini saya ingin bercerita tentang ibu saya. Saya memanggilnya ‘Ii’, karena sewaktu kecil saya gagal memanggilnya ‘Ibu’ dan hanya mengulang huruf vokal pertamanya dua kali: I-i.

Tahun 1985, setelah dipersunting Ayah di usianya yang baru 19 tahun, Ii pindah ke Bandung dari tanah kelahirannya, Cianjur. Waktu itu ia baru saja lulus dari pesantren yang menyembunyikannya dari hiruk-pikuk dunia selama bertahun-tahun, membuat pengalamannya tentang dunia luar dengan segala kerlap-kerlipnya begitu terbatas.

Bandung mungkin adalah kota besar pertama yang dilihatnya waktu itu. Ayah sering bercerita betapa Ii selalu terpesona setiap kali diajak berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Kata Ayah, mata Ii selalu berbinar setiap kali melihat lampu-lampu jalan dan pertokoan yang terang-benderang. Sayangnya, Ii hanya bisa pergi ke tempat-tempat itu seminggu sekali, sebab ia tak pernah bisa dan berani pergi sendiri! Ya, Ii harus selalu menunggu Ayah libur agar ia bisa pergi berjalan-jalan melihat kota.

Mungkin saja Anda menduga bahwa ibu saya sangat tertutup atau begitu menjaga diri. Tetapi, sebenarnya bukan itu alasannya. Ibu saya tak bisa menyeberang!

***

Suatu hari ibu saya pernah mencoba keluar sendirian. Konon ia ingin membeli sesuatu di pasar Ujungberung, sekitar 10 menit menggunakan angkot dari tempat tinggal kami di Cilengkrang. Di pinggir jalan, Ii menyetop angkot dengan tangan gemetar. Setelah sebuah angkot berhenti, ia menaikinya dengan membaca basmallah dan doa safar. Di atas angkot, bibirnya tak berhenti berdoa dan keringat bercucuran dari dahinya. Kata Ii, itu 10 menit terlama dalam hidupnya. Ia takut diculik!

Sesampainya di pasar Ujungberung, tentu saja Ii harus menyeberang. Tapi seperti sudah diduga, ia tak berani melakukannya. Ii berdiri mematung menghitung mobil-mobil yang lewat di hadapannya. Ia berusaha mengkalkulasi seberapa cepat langkah kakinya, jumlah langkah yang harus ia ambil untuk sampai di tepian jalan lainnya, dan rasio kemungkinan sebuah kendaraan yang melaju dengan kecepatan yang barangkali tak bisa ia perhitungkan. Hasilnya, Ii berdiri mematung dan tak menyeberang selama hampir 15 menit! Sebelum akhirnya seorang pejalan kaki menolongnya untuk menyeberang jalan.

***

Itulah ibu saya. Seorang perempuan desa yang lugu—yang bahkan ketika pertama kali mendengar makanan bernama martabak telur, yang ia bayangkan adalah martabak manis yang diberi telur di bagian atasnya (bagaimana rasanya, ya?).

Namun, Ii adalah seorang pemimpi yang hebat. Di antara kami sekeluarga, imajinasi Ii selalu yang paling tak terduga. Ii tak pernah takut untuk bercita-cita. Saya ingat setiap kali ia melihat gambar Ka’bah di sajadah di rumah kami, Ii akan mengatakan, “Suatu hari kita sekeluarga akan bertamu ke baitullah bersama-sama.” Atau saat saya begitu malas untuk sekolah dan mengerjakan PR, Ii-lah yang selalu mengatakan, “Tahun ini kamu akan rangking satu lagi.” Atau saat Ayah menggerutu tentang payahnya birokrasi kampus tempatnya mengajar, Ii akan bilang, “Jangan lupa Ayah akan jadi professor!”

Suatu hari di tahun 1998, saya dan Ii menonton sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Waktu itu ada sebuah adegan ketika Si Doel bertanya kepada Ibunya Sarah tentang keberadaan kakak Sarah. Si ibu dengan ringan menjawabnya, sambil menunjuk ke sebuah foto, “Oh, si sulung sedang sekolah di Belanda,” Jawabnya.

Seolah terinspirasi oleh adegan itu, ibu saya menoleh ke arah saya, lalu mengatakan sesuatu yang tak akan saya lupakan seumur hidup saya, “Nanti mah Ii yang akan bilang, ‘Oh, si sulung sedang sekolah di Belanda’.” Saya masih ingat senyum Ii saat mengatakan kalimat itu sambil menatap mata saya. Saya ingat matanya yang penuh impian dan doa-doa.

Maka sejak hari itu, saya bercita-cita untuk bisa bersekolah di Belanda, untuk mewujudkan impian dan menjawab doa-doa Ii.

***

Barangkali sebab tak ada yang lebih ampuh dari doa Ibu, atas izin Allah, tahun 2013 saya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Belanda! Ibu senang sekali ketika mendengarnya. Tapi, di waktu yang sama saya juga lulus beasiswa ke Australia.

Saya berada di dua pilihan yang sulit ketika itu, antara Belanda dan Australia. Di satu sisi, saya ingin ke Belanda karena itu impian Ibu, tetapi saat itu kondisi perekonomian Eropa sedang tak begitu baik—membuat dana beasiswa yang akan saya terima tak begitu besar. Di sisi lain, Australia menawarkan beasiswa yang lebih besar dan universitas yang saya tuju memiliki program yang sangat cocok dengan pilihan studi saya.

Ragu-ragu, saya bertanya pada Ii, “Gimana kalau saya lanjut sekolahnya ke Melbourne aja, I? Nggak ke Belanda?”

Ii terdiam beberapa saat. Kemudian menatap saya dan berkata, “Nggak apa-apa atuh… Nanti kalau ada yang nanya kamu ke mana, Ii akan bilang, ‘Yang paling besar mah sedang kuliah di Melbourne!’,” katanya sambil tersenyum, “Sama-sama gaya kayak di Belanda!” Tambahnya.

Setelah itu saya memantapkan pilihan untuk melanjutkan sekolah ke Monash University di Melbourne, Australia. Atas izin dan restu ibu, semuanya berjalan lancar nyaris tanpa hambatan.

***

Hari ini, saya baru saja menyelesaikan studi saya dan merampungkan semua kewajiban saya sebagai penerima Australia Awards. Di antara berbagai kebahagiaan dan rasa syukur, bayangan Ii lah yang paling kuat muncul ke permukaan pikiran dan perasaan. Betapa saya tak mungkin sampai di momen ini jika Ii tak pernah menyalakan nyali saya untuk bermimpi. Betapa saya tak mungkin meraih semua ini tanpa doa-doa yang dipanjatkan olehnya.

Ibu saya mungkin hanya gadis kampung yang lugu. Pendidikan formalnya mungkin tak tinggi. Tetapi, bagi saya, ia adalah bintang yang paling terang di hati saya, cahaya paling kemilau yang selalu saya tatap dengan mata penuh cinta di langit perasaan saya yang paling tinggi.

Jika ada yang perlu diberi selamat untuk penghargaan yang saya terima hari ini, barangkali orang itu adalah Ii. Semua ini saya persembahkan untuk Ii.


Melbourne, 29 Juni 2015

FAHD PAHDEPIE

*Judul ‘Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu’ terinspirasi dari buku Karya Irfan Amalee, terbitan Mizania, 2013.

Ada yang merasa gagal dalam meninggalkan. Tak pernah seberhasil menjatuhkan hati, begitu katanya.
—  Ada. Kamu ya?

Terkadang kita lupa , dalam hidup ni masih banyak lorong-lorong yang belum kita lalui. Masih banyak manusia-manusia yang belum kita jumpai. Masih banyak tempat belum kita jejaki.
Sebab itu , life must go on whenever you face any types of hardship. Sebab kita ada tempat untuk mengadu bila kejatuhan , kedukaan , kegembiraan.

Putus asa untuk hidup sebab ditinggalkan orang yang dicintai , tidak boleh diterima. Putus asa sebab gagal dan repeat exam repeat exam and repeat exam , tidak boleh diterima sbgai alasan.

Masih banyak curahan kasih Tuhan belum kita rasai. Perlu dicari. Perlu dirasai. Sebab Dia sentiasa ada untuk kita 🌼 .

Selamat malam :)

Binasa

Habiskan aku dalam dekap
Telan aku dalam kecupan
Sesatkan aku dalam buai
Ikat aku dengan rindu yang kau umpankan
Sedikit demi sedikit

Wajahmu, tak dapat lagi kuingat dengan benar
Suaramu, beberapa kali aku gagal mengenalinya
Aku mabuk dalam harap
Lalu, aku muntah karena kenyataan yang biadab

Kau, bukanlah bedebah
Aku, yang menolak menyerah
Kita adalah bias
Aku memaksa mencari jelas
Kita, binasa

Mimpi dalam Jarak

Berbaringlah

Jarak yang telah kita buat jangan pernah kita salahkan

Ia bukan sesuatu yang membuat kita, tapi kitalah yang membuatnya

Jauh-jauh hari, semua yang ada pada diriku sekarang serasa menjadi sebuah anugerah yang luar biasa

Malam itu penyihir hebat

Merubah terangnya suasana menjadi gelapnya pikiran buntu sang perindu

Senja itu jalan menuju si penyihir hebat

Ketika rinduku berubah menjadi rindumu, serupa membalikkan tangan sang anak dalam rahim seorang ibu

Mimpi itu sedekat-dekatnya tempat tidur

Jika kau gagal, itu bagian dari mimpi buruk, tapi yakinlah suatu saat akan ada mimpi yg indah

Kau pernah tahu berapa lama waktu yg dibutuhkan batu jatuh tepat di palung laut?

Sedang kau diam di kapal yang melaju kencang. Seperti itulah mimpi

Kau pernah tahu berapa lama waktu yg dibutuhkan seseorang untuk bisa menganggapmu ada?

Sedang kau diam di atas kejauhan

Seperti itulah mimpi

Seekor pinguin yang mengejar rusa

Sampai kapanpun tak akan terkejar

Aku bawa kau ke air, aku dapat mengejarmu

Kau yang terlalu melihat dunianya, memang berbeda, kau tak akan mampu

Maka kau bawalah ia ke duniamu, dunia di mana bahagia dalam kesederhanaan

Mimpi itu terlihat jauh

Tapi jauh bukanlah sebuah kepastian bahwa itu tak akan terwujud

Ada yang dapat menggerakan hati dengan mudahnya

Apa-apa saja yang sudah kau catutkan bahwa kau tak akan mampu mewujudkannya, cabutlah lagi, tidak ada gunanya menyimpannya

Raihlah hal itu

Percayalah, mimpi akan datang pada kita dalam kemudahan


@panjiramdana

Pendengar yang baik

Sudahkah kamu menjadi pendengar yang baik ?

Pertanyaan yang sederhana, namun saya sendiri susah untuk menjawabnya. Selama ini selama umur kita, apakah kita lebih banyak mendengar atau lebih banyak berbicara ? Jika panca indra memiliki counter masing-masing, kemungkinan yang paling banyak hitungannya adalah Mulut.
Bagaimana dengan telinga ?
Apakah mendengarkan hingga tuntas lebih sulit dibandingkan berbicara ?


Saya pernah menguji diri saya sendiri untuk kemampuan ‘menjadi pendengar yang baik’ ini, awalnya terasa sulit sekali dimana, saya seperti bertarung dengan diri saya sendiri untuk tidak memotong pembicaraan seseorang, untuk tetap mendengarkan tidak hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri tapi juga turut dirasakan dan dipikirkan kalau perlu. Saya rasa saya gagal.

Berkembangnya jaman, membuat kata ‘mendengar’ itu menjadi semakin luas artinya. Mengobrol di aplikasi messenger pun menjadi sebuah aktivitas mendengar karena ada lawan bicara yang bercerita. Lalu pangkat ‘pendengar yang baik’ menjadi semakin mudah di sandang karena adanya teknologi, jika kita lupa apa yang didengar ya tinggal dibaca ulang dan dapat ditanggapi nanti jika selesai.

Nyatanya mendengar tidak sesederhana itu. Pernah tidak membayangkan, karena kekurangannya stock orang ‘pendengar yang baik’ maka bisa menyakiti hati banyak orang, membuat sikap atau perilaku seseorang berubah dan bisa jadi membuat seseorang meninggal, hanya karena tidak adanya ‘pendengar yang baik’.


Malam tadi saya pulang dari suatu agenda seperti biasa menggunakan angkutan umum. Kebetulan hanya ada satu kursi kosong yang tersisa, di samping saya ada ibu-ibu paruh baya dengan anaknya yang berusia 4 tahun. Ketika saya duduku, ibu tersebut menceritakan banyak hal tanpa konfirmasi dari saya apakah saya akan mendengarkan beliau atau tidak. Ibu itu menceritakan tentang betapa pintar anaknya mengaji, tentang cepatnya anak itu belajar sampai tentang tips kalau lagi hamil biar anak yang dilahirkan nanti bersih.

Ditengah hiruk pikuk kendaraan dan jalan raya malam itu, saya hanya mendengarkan sembari membatin di dalam hati “kok Ibu ini cerita banyak sekali, seolah-olah saya sudah dikenal beliau lama” dan saya hanya menanggapi ceritanya dengan tersenyum, mengangguk dan mengucapkan beberapa kata singkat seperti ya, tidak atau belum. Karena saya masih merasa awkward dan sedikit suudzon sama Ibunya, maaf bu.

Mungkin ibu itu tidak punya teman ngobrol, tidak ada teman cerita atau tidak ada tempat untuk mencurahkan betapa bangganya dia dengan anaknya. Dari ibu itu saya belajar mendengarkan. Bahwa menjadi pendengar yang baik itu tidak hanya ‘mendengar’ saja tapi kita harus berusaha ada saat itu. Mendengar juga tentang perasaan. Terkadang orang tidak butuh dinasehati, tapi yang penting didengarkan bukan ?

Beberapa masalah yang terjadi dalam diri kita sendiri atau diri orang lain itu sederhana tapi menjadi rumit ketika kita tidak menceritakan dan tidak didengarkan. Saya jadi teringat Ibu saya yang tiba-tiba menelpon di tengah saya sedang rapat, atau saya sedang mengerjakan banyak hal, bahkan ketika saya sedang menyeberang jalan. Beliau menelpon bukan untuk hal yang penting bagi saya, beliau hanya menceritakan perilaku adik-adik saya atau menceritakan kejadian lucu hingga sedih hari itu. Saya sering memotong cerita beliau dengan bilang kalau saya sedang sibuk dan silahkan telpon lagi nanti. Tidak hanya itu, adik saya yang bungsu juga menelpon hanya untuk menceritakan apa yang dia makan hari itu. Saya tidak ingin menjadi seperti itu lagi. 

Semoga kalian juga menjadi pendengar yang baik. Minimal lakukan untuk diri sendiri, lalu untuk orang terdekat kalian, Ibu, ayah, adik, kakak. Kemudian lakukan untuk orang lain.

Selamat berproses menjadi pendengar yang baik :)

12:49 bersama sql eror

instagram

“Jangan bermimpi tinggi jika tidak menghargai pencapaian-pencapaian kecil yang ditawarkan. Seringkali kita gagal bukan karena tidak berusaha atau tidak berdoa. Seringkali kita gagal dan tetap di tempat karena tidak bersyukur dan meremehkan tangga-tangga kecil yang dikirimkan Tuhan.” — Anonymous

Ps : Cerita bahagia siklus biasa dengan dosen yang teristimewa dan selalu bisa berbahagia dalam kebahagiaan kami, sehat selalu yah dokter gema kesayangan FKG USU (26 June 2015) #finaslife #dokterfina (at 🎶Happy Birthday drg. Gema 36 yo 💕)

Tidak Akan Pernah Ada Alasan

Sudah mulai capek ya? Sudah lelah?

Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan hebat bisa berkarya, bisa berpartisipasi, bisa menyumbangkan sesuatu yang insyaaAllah bermanfaat untuk orang lain.

Kesulitan ya? Gagal terus?

Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan untuk banyak-banyak belajar, banyak-banyak berpikir, dan masih diberi kekuatan untuk terus mencoba.

Duh, sakit ya?

Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan untuk hidup. Anggota badan masih utuh semua. Masih bisa membeli obat. Masih ada yang memperhatikan. Bahkan, sakit bisa jadi pahala-pahala kebaikan ketika bisa bersabar dan tidak mengeluh.

Tidak ada yang memuji?

Alhamdulillah, Allah masih menjauhkan dari sifat buruk, sifat sombong yang menyokol dihati.

Tidak ada yang membantu pun menolong?

Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan untuk selalu mengingat-Nya, memohon kepada-Nya. Bukankah sebaik-baik tempat mengadu dan meminta pertolongan adalah hanya Allah?

Merasa paling sudah? Paling sedih? Paling tidak beruntung?

Malu tuh sama orang-orang yang belum beruntung. Malu sama orang yang masih susah.

BAHWA SESUNGGUHNYA TIDAK PERNAH ADA ALASAN UNTUK TIDAK BERSYUKUR. TIDAK AKAN PERNAH.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya Azab-Ku sangat pedih’.” (QS. 14:7)

Mari tersenyum dengan penuh semangat, berkarya, bermimpi dan akan selalu berusaha memperbaiki diri. :)