g!saya

10

Dear G, Mungkin kesalahan terbesar saya saat bersama kamu adalah tidak menyanyangimu dengan sederhana.  Semua terlihat over dan tidak masuk akal. I’m worried about you too much, I’m taking your time too much, I’am wanting you too much. There is always “too much.” Adalah tamparan keras ketika kamu melangkah pergi justru saat saya ingin kamu bertahan.

Bahkan sesudah hari itu, saya masih mencari-cari kamu, masih menunggumu, masih mengupayakan kamu dalam berbagai kesempatan.

Lalu sampai suatu saat, saya menyadari bahwa saya sudah menjadi orang asing dalam kacamatamu. Kadang, jika saya sedang merenung dan tiba-tiba kenangan bersama kamu melemparkan ingatan saya ke beberapa tahun yang lalu. Saya mendapati diri saya yang begitu egois dan kekanak-kanakkan. Mendapati betapa tidak dewasanya saya menghadapi kamu. Lalu kemudian saya menyadari, melepaskan kamu adalah satu-satu jalan yang harus diambil. Tidak ada persimpangan, hanya jalan itu, jalan buntu. Walau kemudian saya berjuang mati-matian untuk menerima keadaan.

Saya masih ingat beberapa hal tentang kamu, tentang kamu yang menyukai hal-hal baru dalam hidupmu, tentang makanan favoritmu atau yang bisa membuat kamu demam. Tentang kamu yang diam-diam butuh istirahat.

Dear G. Maaf jika selama ini saya hanya diam. Diam-diam mencari kabarmu, diam-diam memperhatikanmu, diam-diam merindukanmu. Semua yang saya lakukan hanyalah diam, berpura-pura menjadi orang paling tidak peduli tentang kehidupanmu.

Tapi apa yang telah saya lalui bersama kamu adalah suatu pelajaran yang berharga. Saya belajar menghargai proses, menjadi pribadi yang lebih sabar. Menjadi seseorang yang lebih baik lagi.

*Tulisan ini dibuat bukan karna gue belum move on, tapi kadang kita gue butuh media untuk menyampaikan apa yang mau diungkapin. Ya…walau itu orang ga akan pernah baca si. hahahaha

Bergaul dengan Lawan Jenis

Saya dulu punya partner kerja yang akrab banget. Saya bahkan menganggapnya keluarga karena saking dekatnya. Kita sering lembur bareng. Dan itu terjadi karena kita emang benar-benar satu tim. Jadi kerjaan apapun pasti dikerjakan bersama-sama. Masalahnya cuma satu, kita berbeda jenis kelamin. Tapi saya murni bener2 g punya pikiran yang aneh-aneh, hanya sebatas teman kerja dan sosok yang lebih dituakan. Dan saya g pernah sekalipun berpikiran macem-macem dengan kedekatan itu, karena saya tau dia juga udah berkeluarga dan memiliki anak. Bahkan bagi saya menjijikkan sekali jika saya sempat mikir yang lebih dari sekedar partner kerja.

Tapi walau bagaimanapun, disitulah saya baru benar-benar memahami bahwa ajaran islam yang disampaikan Rasullallah itu pasti benar. Terutama kaitannya dengan masalah saya saat ini, yaitu tentang batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Islam mengajarkan adab dan batasan dalam bergaul terutama dengan lawan jenis. Bisa saja satu pihak menganggap biasa saja dan nggak ada masalah apa-apa dengan kedekatan itu. Tapi belum tentu pihak yang lain merasa yang sama. Atau bisa jadi dalam bergaul, ada satu pihak yang mungkin mudah banget ngerasa geer, atau mungkin emang ada satu pihak yang suka memberi harapan. Makanya Allah melarang laki-laki dan perempuan bergaul secara bebas. Karena masalah hati, g ada yang tau. Allah tak ingin manusia itu tersiksa secara emosional karena perasaannya yang tak halal pada lawan jenis. Makanya pergaulan yang benar untuk lelaki dan perempuan yang memiliki ketertarikan hanya melalui pernikahan.

Balik ke masalah saya tadi, saya selama ini hanya menghormati partner kerja saya sebagai orang yang lebih tua, dan bersikap baik karena ngerasa satu penderitaan dalam kerja. Sering dapat tugas bertumpuk, ampe lembur dan kadang ampe sakit. Saling memberi ole-ole klo dapat tugas keluar kota. Saya ngerasa itu hanya hal lazim dalam bergaul sebagaimana orang lainnya juga berteman. Tapi ternyata teman saya itu menganggap lebih dari sekedar teman kerja. *Istigfar.

Bener kata pepatah jawa, rasa suka tumbuh karena sering bersama. Tapi untuk kasus saya ini, saya ngerasa klo teman saya itu yang terlalu baper dan geer. Saya ngerasa gak enak dengan situasi kerja yang seperti itu. Ditambah lagi kabar itu saya dengar dari teman-teman lain dikantor. Muncullah gosip dan desas desus. Usut punya usut ternyata sikap partner kerja saya yang aneh itu timbul karena beliau lagi ada masalah dengan istrinya dan hampir berpisah. Tapi sumpah lho, masalah mereka muncul bukan karena saya. Ternyata jauh sebelum ketemu saya, rumah tangga mereka emang udah mulai bermasalah. Baru kali ini saya ngerasain yang namanya difitnah. Dan itu rasa nya kejam banget. Saya yang g tau apa-apa tentang permasalahan keluarganya tiba-tiba aja dikait-kaitkan oleh istrinya sebagai orang ketiga. Astaghfirullahal'adzim. Sumpah nyesek banget rasanya. Pergi jalan bareng nggak pernah, minta duit ama lakinya juga nggak pernah, makan bareng juga g pernah. Lah, jadi orang ketiga dimananya? Ketemu dan ngobrol hanya dikantor aja, itupun hanya masalah kerja. Kita gak pernah bahas atau curhat-curhatan masalah pribadi. Saya ikut disalahkan hanya karena kabarnya suaminya alias temen kerja saya itu ada perasaan suka ke saya. Yang saya sendiri juga g pernah ngerasa ditembak, hanya tau dari desas desus dikantor.

Saat itu saya sadar, untuk berhati-hati bersikap pada lawan jenis. Sikap baik dan ramah bisa disalah artikan. Akhirnya karena masalah itu saya memutuskan menjauh dan meminta pada bos untuk tidak satu tim kerja lagi. Saya takut di cap perempuan g bener, perusak rumah tangga orang atau label2 negatif lainnya. Bukan ingin membela diri, untung saja selama ini sikap saya kepada lawan jenis tidak centil dan gampangan. Teman2 kantor lainnya yang tau tentang masalah ini, malah ngasi dukungan ke saya biar kuat dan g sedih. Soalnya selama ini mereka menilai dan melihat kesehariaan sikap saya bergaul dengan lelaki. Jangankan ke suami orang, ke lelaki yang bujangan aja saya tidak pernah bersikap sok ramah dan bergaul bebas.

Ini jadi pelajaran berharga buat saya. Kelak jika saya punya anak, saya juga akan ajarkan cara bergaul seperti apa yang diajarkan dalam islam. Aturan dalam islam itu banyak yang bersifat mencegah. Jadi, jika tidak ingin terkena fitnah, tidak ingin patah hati, tidak ingin tersiksa secara emosional karena perasaan suka yang tidak pada tempatnya, maka lebih baik batasi kedekatan dengan lawan jenis. Kecuali jika memang mereka benar-benar siap untuk menikah. Batasi pergaulan agar tidak memberi harapan kepada lawan jenis dan tidak menjadi orang yang mudah merasa geer dengan perhatian orang lain.


LiveModestly.tumblr.com
24 Desember 2015

Teman Nyata, Teman Maya

Oknum A, teman satu kontrakan saya, tiba-tiba masuk ke kamar saya.

“Ji, kita udah temenan di Facebook belum sih?” tanyanya.

“Ga tau deh. Udah kali,” jawab saya sekenanya. Sejujurnya saya agak heran dia bertanya seperti itu.

“Kalau belum, add gue ya. Biar lo bisa liat foto-foto gue,” lanjut Oknum A sambil tertawa, setengah bercanda.

Lalu saya kembali bingung. Jika setiap hari saya betatap muka dengannya, apakah menjadi sesuatu yang penting jika saya berteman dengannya di sosial media? Kali ini saya menyadari bahwa saya telah hidup di masa di mana pertemanan adalah suatu hal yang rumit dengan sosial media semakin menambah kerumitan yang ada.

Lain lagi saat teman seangkatan saya, Oknum P, akan menyelenggarakan pernikahannya tahun lalu. Tidak semua teman seangkatan diundang ke pernikahan Oknum P, tetapi hampir semua teman sepermainan saya diundang, kecuali saya. Saya sebenernya heran kenapa bisa sampai ga diundang karena rasa-rasanya antara saya dan Oknum P tidak pernah ada masalah. Mungkin dia lupa, pikir saya. Lalu Oknum N memposting di grup whatsapp. “Aji ga diundang ke nikahan Oknum P.” Oknum D yang concern agar semua orang di dalam grup dateng ke nikahan Oknum P menanyakannya langsung ke yang bersangkutan secara pribadi perihal tidak diundangnya saya. Tidak lama kemudian masuk whatsapp dari Oknum P ke Android saya, isinya foto undangan pernikahannya. Dia juga menulis, “Aji, maaf ya kelupaan. Lo waktu itu mau gue kirim undangannya, tapi lo keburu unshare Path gue.” Saya baru ingat kalau sekitar 1 bulan sebelumnya saya mengunshare Path Oknum P. Alasannya sederhana saja bagi saya. Karena kuota Path (saat itu) terbatas hanya untuk 150 teman dan ada beberapa postingan Oknum P yang saya rasa kurang sesuai dengan saya. Dan dalam pikiran saya, tidak berteman di Path bukan berarti putus pertemanan di dunia nyata. Tetapi memang cara orang menyikapi pertemanan di dunia maya berbeda-beda. Dan jika seperti ini, dunia maya tidaklah lagi menjadi maya.

Situasi lain lagi adalah ketika beberapa bulan yang lalu saya bertanya kepada Oknum DN apakah dia punya Path. Dia menjawab tidak punya dan belum berencana untuk membuat. Saat itu saya percaya saja. Toh saya dengan Oknum DN biasa berkomunikasi via messenger dan terkoneksi di beberapa jejaring sosial yang lain. Tapi alangkah terkejutnya saya ketika minggu lalu saya mengetahui bahwa Oknum DN memiliki Path yang sudah dibuatnya sejak setahun yang lalu. Sekali lagi terlihat bahwa sosial media mengubah interaksi pertemanan antara dua orang, cenderung untuk menambah rumit. Oknum DN memilih untuk berbohong daripada menyatakan secara langsung bahwa dia tidak ingin berteman dengan saya karena saya bukan inner circlenya.

Seperti halnya di dunia nyata, menjalin pertemanan di dunia maya suatu ketika bisa saja mengalami masa naik dan turun. Tetapi masa-masa naik dan turun ini seringkali tidak semudah menekan tombol add friends dan remove friends. Kembali add friends setelah sebelumnya remove friends di dunia maya kadang tidak semudah meminta maaf setelah pertengkaran di dunia nyata. Dalam sebuah survey, beberapa alasan seseorang berteman di dunia maya antara lain karena mengetahui orang tersebut di dunia nyata (82%), karena memiliki mutual friends (orang itu adalah temannya teman kita di dunia nyata) (60%), karena dia merupakan relasi bisnis atau teman kerja (11%), karena dia menarik perhatian secara fisik (kita ga kenal dia, tapi dia kayaknya lucu) (8%), meningkatkan jumlah teman di sosial media (7%), dan karena memang kita berteman dengan semua orang di dunia maya (7%). Sedangkan beberapa alasan seseorang memutus pertemanannya di sosial media antara lain karena orang tersebut sering memberi komentar yang ofensif (55%), tidak terlalu mengenalnya di dunia nyata (41%), dia mencoba untuk menjual sesuatu kepada kita (39%), sering berkomentar yang depressing (23%), kurangnya interaksi dengan orang itu di dunia nyata ataupun maya (20%), adanya komentar politis yang bersebrangan dengan kita (14%), dan karena dia adalah mantan kita (pacar ataupun istri) (11%). Dari data-data di atas terlihat bahwa pertemanan di dunia maya memang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan pertemanan di dunia nyata.

Berteman dengan seseorang yang baru melalui messenger atau sosial media mungkin memang akan terasa menyenangkan. Tetapi perlu selalu diingat bahwa ada risiko yang mengintai karena kita tidak tau kepribadian orang tersebut di dunia nyata. Baru-baru ini ada kasus seorang pedofil di Surabaya yang berpura-pura sebagai dokter ahli reproduksi remaja yang meminta foto korbannya yang merupakan teman-temannya di sosial media. Foto-foto tersebut kemudian disebarkan di dunia maya. Si pedofil berpura-pura sebagai dokter perempuan, padahal ia laki-laki. Ketika kita berbagi mengenai informasi diri di sosial media dengan orang lain, informasi tersebut dapat saja menyebar secara bebas tanpa kita bisa mengontrolnya.

Kenapa pertemanan di sosial media semakin hari semakin nyata saja? Karena pada umumnya kita berpikir bahwa semakin banyak relasi yang terbangun di dunia maya, akan semakin banyak kesempatan yang kita dapat. Sosial media membuat kita merasa memiliki kedekatan hubungan dengan seseorang yang sebenarnya tidak ada. Kita tidak tau banyak akan seseorang yang menjadi teman kita di dunia maya. Di sosial media, saya tau tumblr-famous Oknum G, tetapi saya tidak tau tentang bagaimana keluarganya. Melalui sosial media, saya juga kenal twitter-famous, Oknum F, tetapi saya tidak pernah main ke rumahnya. Melalui sosial media dan messenger saya biasa berinteraksi dengan Oknum R, tetapi saya tidak pernah bertemu sekalipun dengannya. Jika mau dijabarkan, akan ada banyak oknum sejenis seperti Oknum G, Oknum F, dan Oknum R dalam lingkup pertemanan saya di dunia maya. Dan tidak hanya saya, setiap orang juga demikian dengan teman-teman sosial medianya. Saya mengasosiasikan mereka sebagai teman-teman saya. Keberadaan sosial media membuat saya mengenal mereka dan mereka mengenal saya (setidaknya secara superfisial). Tetapi apakah mereka-mereka ini dapat saya sebut sebagai teman hanya karena status saya dan mereka di sosial media adalah teman. Padahal, saya sesungguhnya tidak tau apa-apa soal mereka. Berbeda halnya dengan teman-teman yang berada di sekitar saya di dunia nyata yang saya kenal betul segala detail tentang mereka.

Robin Dunbar, seorang antropolog, menyatakan bahwa 150 adalah jumlah orang terbanyak yang bisa kita jadikan tempat untuk berbagi kepercayaan. Angka 150 ini dikenal dengan Dunbar’s number. Angka ini diasumsikan sebagai batas jumlah teman yang bisa kita jaga pertemanannya dengan kita, di luar jumlah teman yang kita tau. Seseorang, katakanlah Oknum F, bisa saja memiliki follower lebih dari 15 ribu di twitter, tetapi menurut teori Dunbar, mustahil menjaga kedekatan terhadap sedemikian banyak jumlah teman. Ada kisah tragis di US ketika seseorang bernama Simone Back mengumumkan di Facebook kepada sekitar seribu temannya bahwa ia akan bunuh diri. Dari postingannya itu, ada 150 respon, termasuk yang mencaci-maki niatnya itu. Tetapi, tidak ada satu pun orang yang tinggal di lingkungan terdekatnya yang mencoba mencegah upaya bunuh dirinya ataupun sekedar menelepon polisi. Keesokan harinya setelah postingannya tersebut, ia ditemukan tewas. Dunbar’s number sempat dijadikan acuan bagi Path untuk jumlah maksimal teman di account penggunanya. Ketika Path pada akhirnya menambah jumlah batas maksimal teman, Oknum S mengeluhkan kebijakan tersebut. Saya katakan pada Oknum S, “Inilah S, dilema sosial media. Antara idealisme atau bisnis.”

Sekarang masalahnya adalah dengan keberadaan sosial media, definisi teman menjadi absurd. Seseorang mungkin mengatakan bahwa teman adalah orang-orang yang memiliki ikatan dengan kita, termasuk ikatan di sosial media. Bagi mereka teman adalah afiliasi, sebuah kebutuhan akan sebanyak mungkin orang dalam kehidupan kita. Tetapi bagi yang lain, teman adalah soal kedekatan hubungan. Mereka yang termasuk golongan terakhir adalah yang lebih membutuhkan sedikit teman tetapi memiliki hubungan yang erat, Oknum S adalah salah satu contohnya. Ketika kualitas hubungan dengan kuantitas hubungan beradu di era sosial media, dalam jangka pendek mungkin kuantitas akan memukau, tetapi kualitas tetap yang akan menjadi pemenangnya pada akhirnya.

Dalam hidup seseorang, hubungan pertemanan dengan orang lain akan terbagi ke dalam dua ikatan: ikatan yang kuat dan ikatan yang lemah. Rata-rata orang hanya akan menjalin ikatan pertemanan yang kuat kepada 2-6 orang, sisanya adalah pertemanan dengan ikatan yang lemah. Keberadaan sosial media menambah satu lagi jenis ikatan pertemanan, yaitu ikatan temporer (sementara). Sosial media memudahkan kita dalam menjalin hubungan terhadap orang-orang di ikatan lemah sehingga menjadi seolah-olah kuat ataupun menjalin hubungan dengan orang baru yang tidak kita kenal sebelumnya seolah-olah ia adalah teman dalam ikatan lemah bahkan kuat. Sayangnya, ikatan ini temporer sifatnya. Hubungan yang tercipta hanya untuk sementara saja. Saat ini berinteraksi, besok lupa atau seperti tidak kenal sama sekali. Dengan semakin menjamurnya sosial media, ikatan pertemanan temporer dari hari ke hari semakin mengambil peran yang penting dalam kehidupan pertemanan seseorang.

Di dunia nyata, kita berteman dengan beberapa golongan pertemanan dengan karakteristik yang berbeda-beda. Teman kita yang di daerah A tentunya berbeda dengan teman kita di daerah B. Teman kita di SD, berbeda dengan teman di SMP, berbeda juga dengan teman di SMA, berbeda juga dengan teman di kampus. Teman kita di kegiatan X sifatnya juga berbeda dengan teman kita di kegiatan Y. Di dunia nyata, kita membentuk multiple independent groups of friends. Tetapi di dunia maya, semua teman kita tergabung menjadi satu ke dalam satu grup bernama friends atau followers. Dan ini membuat pertemanan modern menjadi rumit. Misalnya saja, jika seseorang di dunia nyata akan membahas informasi seputar kuliahnya, maka ia hanya akan berbicara dengan teman-teman kuliahnya. Tetapi di dunia maya, ia akan memposting hal tersebut ke sosial media yang dapat dibaca oleh seluruh temannya dari beragam latar belakang. Dari seribu temannya, misalnya, bisa jadi hanya 100 temannya yang mengerti dan peduli mengenai postingannya tersebut.

Saat ini kita bukan lagi gagap teknologi, tetapi gagap sosiologi. Kita tidak lagi butuh pemahaman akan teknologi, tetapi butuh pemahaman akan sosiologi. Di masa kini, kita terlalu sibuk menjalin pertemanan dengan banyak orang, membangun jaringan yang berisi ribuan orang dengan status relasi yang dangkal, sedangkan kita mengabaikan satu dua pertemanan yang dalam. Potensi kita untuk bertemu seseorang di dunia maya kemudian menjalin hubungan yang erat dengannya hingga ke dunia nyata sesungguhnya ada. Ada, tetapi kecil jumlahnya. Dari semua teman di sosial media, sebagian besar sifatnya hanya barely in touch (kita hanya melihat-lihat postingannya di sosial media dan berinteraksi jika diperlukan saja), sedikit di antaranya sifatnya hubungan satu arah (kita berkomentar di postingannya atau mengirim message kepadanya, tetapi dia tidak menanggapi, atau sebaliknya), sisanya, sangat sedikit yang bersifat dekat (kita menjalin hubungan dua arah di sosial media dengannya). Pada dasarnya, sosial media dengan segala jenisnya tidak serta merta membawa kita menjadi lebih dekat dengan banyak orang. Dengan sosial media, kita memang mengenal banyak orang, tetapi kita menjadi semakin sedikit mengetahui tentang orang-orang yang kita kenal. We think we know someone, but actually we don’t. Dan ini bukanlah salah sosial media, tetapi salah kita sebagai pengguna sosial media. Mungkin saja saat ini dan seterusnya, ada baiknya kita fokus untuk menjalin hubungan yang mendalam dengan beberapa orang, orang-orang yang menjadi teman yang nyata, senyata-nyatanya teman.

Jadi, teman kamu maya atau nyata?

1. Batasi pertemanan kita di sosial media. Tidak semua orang harus kita terima menjadi teman kita di dunia maya. Beberapa orang pun perlu kita evaluasi lagi status pertemanannya dengan kita, apalagi mereka-mereka yang betul-betul tidak pernah berinteraksi secara nyata. Perlu kehati-hatian dalam menyikapi pertemanan di sosial media dengan teman-teman dunia nyata, salah-salah status pertemanan di dua dunia (nyata dan maya) bisa hilang seketika.

2. Be careful who you trust. Seseorang bisa berupura-pura menjadi orang lain yang bukan mereka. Ini sosial media, teman. Jangan naif.

3. Pertemanan adalah sebuah hubungan mata dengan mata, bukanlah soal seberapa banyak kepala yang menjadi teman kita. Mereka yang di sosial media sebagian besar bukan teman kita. Mereka yang di dunia nyata adalah teman kita sesungguhnya.

4. Teman di dunia nyata lebih menyenangkan. Kita bisa ngobrol dengan suara masing-masing, melakukan aktivitas bersama, saling mendukung bagi kesuksesan bersama dengan jempol nyata (bukan jempol likes ala Facebook), juga berbagi perasaan, pikiran, masalah, dan kehidupan dengan bertatap muka.

5. Dalam sebuah penelitian, memiliki teman yang nyata berkaitan erat dengan kebahagiaan seseorang. Sebaliknya, jumlah teman online yang tidak pernah berinteraksi di dunia nyata sama sekali tidak berkaitan dengan kebahagiaan seseorang.

Stalking

Suatu hari, ponsel saya berdering. Ada panggilan dari nomor tidak dikenal. Saya paling malas kalau ngangkat nomor tidak dikenal. Jadilah nomor itu saya abaikan. Nomor itu berdering berkali-kali, mengindikasikan suatu panggilan penting. Entah itu penting untuk saya atau penting untuk si penelepon. Penting untuk saya jika memang berita yang akan disampaikan berkaitan dengan masa depan saya atau hidup-mati saya. Penting untuk penelepon jika misalnya yang nelpon adalah telemarketer, yang paling sering dari bank dan kartu kredit.

Karena saya penasaran dengan siapa sosok si penelepon tapi malas mengangkat telepon, dan saya hidup di masa di mana investigasi berbentuk stalking adalah suatu cara yang sangat mudah sekali dilakukan, jadilah saya googling nomor telepon tersebut. Googling nomor hp seseorang memang sering saya lakukan saat saya ga tau nomor siapa yang masuk ke ponsel saya. Ternyata itu nomor Oknum G. Langsunglah saya kirim pesan Line ke dia. Tumben-tumbennya dia nelpon saya. Biasanya komunikasi sering dilakukan via Line.

“G, kenapa tadi nelpon?” tanya saya.

“Mau bilang makasih, Mas. Kirimannya udah sampe,” balas Oknum G. Beberapa hari sebelumnya saya mengirim barang ke Oknum G ini.

“Kok bisa tau nomor hp saya, G?” tanya saya penasaran. Sebelumnya memang saya ga pernah ngasih nomor saya ke dia.

“Nomor kamu didapet dari facebook, Mas.”

Siapa sih hari gini yang ga pernah stalking? Hampir semua yang aktif di sosial media pernah stalking dan hampir semua yang aktif di sosial media BISA distalking. Stalking, menurut saya, menjadi semakin tidak terpisahkan dengan kegiatan interaksi di sosial media. Kalau dalam interaksi nyata, kita biasa PDKT dulu sama seseorang yang belum dikenal. Maka, kalau di sosial media, proses PDKT ini berbentuk stalking. Bedanya, kalau PDKT dalam dunia nyata, proses yang terjadi adalah dengan mencari tahu tentang orang tersebut lewat teman kita yang sudah lebih dulu mengenalnya. Gimana sih dia orangnya, kegiatannya sehari-hari apa, latar belakang pendidikannya apa, tinggalnya di mana, dan sebagainya. Biasanya penjelasan yang kita dapatkan dari teman kita itu sangat bergantung dari seberapa dekat teman kita dengan orang itu. Jika kurang dekat, maka informasi yang didapatkan cenderung abu-abu. Jika sangat dekat, maka setiap detail orang tersebut bisa kita tau. Tapi informasi yang kita dapatkan pasti akan tetap memiliki gap informasi yang menjadi misteri tentang orang itu. Hal ini lah yang membuat kita ingin mengenalnya secara lebih jauh. Dalam dunia maya, PDKT berbentuk stalking ini justru informasinya bukan datang dari teman yang bersangkutan. Orang tersebut lah yang akan dengan sukarela membeberkan informasi pribadinya, seringkali informasinya berlebihan hingga tumpah ruah.

Melalui stalking di situs jejaring sosial seseorang, kita bisa tau dia sedang apa sekarang, sedang di mana, tadi pagi makan apa, sekarang pacarnya siapa, lagi dengerin lagu apa, lagi baca berita apa, besok pagi mau ke mana, tidurnya jam berapa, bangunnya jam berapa, habis beli pisang harganya berapa, dan semua detail dari yang penting sampai yang ga penting kita tau akan terbuka lebar. Beberapa orang membuka informasi di jejaring sosialnya secara bebas. Masyarakat umum bisa mengakses informasi tersebut, siapapun itu. Tetapi sebagian lainnya memprotect informasi dirinya sehingga terbatas pada teman atau orang tertentu saja yang dia inginkan.

Kenapa sih kita stalking? Jawabannya adalah karena kita manusia dan kita hidup di era digital. Sebagai seorang manusia, hal-hal yang berkaitan dengan human interest pasti selalu menarik perhatian. Sisi personal orang lain, entah itu baik atau buruk, menjadi magnet atas kodrat kita sebagai manusia. Terlebih lagi jika orang tersebut adalah sosok yang kita rasa penting untuk kita tau. Dan era digital membungkus ketertarikan kita akan kehidupan manusia dalam sebuah budaya digital berwujud stalking.

Tidak perlu merasa bersalah untuk stalking di era digital. Nowadays, stalking is socially acceptable. Beda halnya dengan dua dekade yang lalu, di mana kehidupan sosial media belum menjamur dan internet masih belum banyak dikenal. Stalking saat itu mungkin bentuknya adalah dengan membuntuti seseorang setiap saat. Sesuatu yang cenderung kriminil dan berisiko besar. Saat ini, stalking adalah hal yang lumrah. Stalking adalah kegiatan mengumpulkan informasi tentang seseorang atau sesuatu yang tercecer di ranah maya. Dan karena ini dunia maya, maka segala informasi yang tidak diprotect sama artinya dengan informasi yang bebas untuk diakses oleh siapapun.

Adanya kesempatan untuk melakukan stalking yang bebas jejak biasanya menjadi salah satu alasan yang mendorong seseorang melakukan stalking. Beberapa social media, seperti Path, memiliki fitur yang akan meninggalkan jejak kepada target stalking ketika seseorang melakukan stalking di timelinenya. Dalam hal ini, biasanya keinginan seseorang untuk stalking akan tertahan, kecuali kalau ia memang sengaja ingin diketahui keberadaannya dan meninggalkan semacam #kode di sana.

Suatu hari Oknum R pernah bertanya pada saya, “Nus, lo kenal Oknum A ga?”

“Iya kenal, emang kenapa?” tanya saya.

“Hebat ya dia orangnya. Kan kita baru kenalan ya. Eh, tapi dia udah tau banyak soal gue,” Oknum R menjawab dengan penuh keheranan.

Sekarang saya yang gantian keheranan. Oknum R ini adalah tipe anak muda pada umumnya yang sering menggunakan sosial media, tetapi mengetahui informasi pribadinya distalking pun dia masih bertanya-tanya. Seharusnya, Oknum R mesti heran jika ia berkenalan dengan sesama pengguna aktif sosial media, tetapi kenalan barunya tersebut tidak mengetahui informasi tentang dirinya sedikit pun. Keaktifan bersosial media kenalan tersebut perlu dipertanyakan.

Tidak hanya dalam suasana santai, dalam suasana formal pun kegiatan stalking juga terjadi. Beberapa waktu yang lalu, saya mengisi formulir sebuah kompetisi dan di dalam formulir tersebut tercantum isian alamat twitter dan facebook. Tentu saja kepentingan isian tersebut adalah pihak panitia ingin melakukan stalking secara legal terhadap account peserta mengenai daily routine mereka di sosial media. Dengan membaca timeline peserta, panitia akan mendapat gambaran secara kasar mengenai diri peserta. Contoh lain lagi, siapa di antara kamu yang memasukkan account social medianya ke dalam resume atau CV? Percayalah, ada banyak orang yang melakukan itu. Dan sudah bukan rahasia lagi orang-orang HRD mempertimbangkan hal-hal yang ada di sosial media media calon karyawan untuk keputusan apakah akan menerima mereka atau tidak.

Stalking tidak melulu berkaitan dengan orang lain atau hal lain. Seorang teman berkata dia sering menstalking dirinya sendiri. Ya, semacam mengetik nama sendiri di google atau search bar jejaring sosial. Fenomena ini sebenarnya bukanlah hal baru. Sosial media membentuk penggunanya sebagai bagian dari Me-Generation, generasi self-centered yang cenderung sebelas dua belas dengan gangguan kepribadian narsisistik. Biasanya, keingintahuan diri akan persepsi orang lain terhadap dirinya sendiri lah yang membuat seseorang melakukan self-stalking.

Apakah stalking menguntungkan atau merugikan? Tentu bisa keduanya. Dengan stalking, kita bisa mengetahui seseorang secara lebih utuh. Hal-hal yang tidak orang lain ungkapkan saat pertemuan tatap muka, justru terkadang diumbar di sosial media. Kita bisa tau informasi penting dan berguna yang tidak berkaitan dengan orang yang kita stalking. Misalkan saat sedang stalking Oknum Y, saya tau bahwa pacar Oknum Y adalah kolektor sneakers. Dan dari timelinenya saya tahu bahwa pacar Oknum Y tersebut sedang menjual sneakersnya dengan kualitas bagus dan harga murah. Tapi perlu disadari, kadang informasi yang kita dapatkan dari stalking adalah berlebihan. Saat stalking, kita perlu mengetahui kapan saatnya kita berhenti. Tidak semua informasi tentang seseorang penting dan perlu kita tau. Kadang informasi yang berlebihan akan membuat judgement kita akan seseorang menjadi berbeda sama sekali. Selalu ingat bahwa ini adalah dunia maya. Dan semua informasi di dunia maya mungkin maya dan pencitraan saja sifatnya.

Cara stalking yang baik dan benar:

1. Jika kamu mau stalking seseorang, pastikan target stalking adalah orang yang aktif di sosial media. Indikasinya? Googling nama lengkapnya. Kalau ada banyak bertaburan namanya di Google, apalagi informasinya ada di situs-situs jejaring sosial, maka dia adalah orang yang aktif di sosial media. Saya pernah mencoba stalking latar belakang pacar temen (ya saya tau ini emang ga penting banget) dan berakhir dengan kekecewaan karena ternyata si target tidak aktif di sosial media.

2. Pastikan berita yang kamu dapat dari stalking adalah berita yang up to date. Ga mau kan pas kamu lagi ngobrol sama temen kamu, jadinya kayak gini:

Kamu: Eh, Oknum X jadian sama Oknum Y, ya?

Teman kamu: Hah? Jadian lagi? Bukannya mereka udah putus taun lalu?

Kamu: Iya, bener. Jadian lagi mungkin. Dari timeline-nya sih gitu.

Teman kamu: Timeline apaan?

Kamu: Timeline twitter.

Teman kamu: Loh, kan  twitternya udah ga aktif 2 tahun ini.

3. Selalu gunakan berbagai macam sumber, jika memungkinkan. Jika target stalking punya lima jejaring sosial, stalking lah kelima-limanya. Semakin banyak sumber yang kamu gunakan untuk stalking, semakin akurat data yang kamu dapatkan.

4. Jika kamu stalking via ponsel dan masih seorang amatiran, always watch your finger! Istilah jarimu harimaumu berlaku untuk stalker. Saya pernah saat sedang stalking seseorang di twitter, ingin tahu apakah dia sudah punya pacar atau belum (ya, lagi-lagi ini ga penting banget). Dan saat layar ponsel tertuju pada twit mesra antara dia dengan pacarnya, secara ga sengaja jempol saya kepencet favorit. Hancur ga kamu kalau jadi saya?

5. Selain stalking kehidupan personal orang lain, tahukah kamu kalau kita juga bisa stalking hal-hal yang lebih bermanfaat? Misalnya saat saya mau internship di Kabupaten Dompu tahun lalu, saya sama sekali buta akan daerahnya. Selain stalking via google mengenai kondisi objektif daerah tersebut, saya juga stalking via twitter. Dengan mengetik kata kunci Dompu di search bar, saya bisa mengetahui juga mengenai Kabupaten Dompu dari sisi subjektif orang-orang di sana. Atau ketika teman saya posting di path mengenai kondisi Gunung Merapi yang baru saja mengeluarkan dentuman. Jika saya lihat beritanya di Google atau portal berita, belum ada satu pun berita mengenai Merapi yang muncul. Tetapi saat saya stalking via twitter, dapat saya ketahui kalau baru saja status Merapi sudah naik menjadi waspada.

6. Perlu pengalaman untuk menjadi seorang stalker yang profesional. Bergurulah kepada temanmu yang sudah lebih dulu menguasai ilmu per-stalking-an agar skill stalking kamu meningkat. Kata orang, guru stalking terbaik adalah perempuan yang cemburuan.

7. Tidak semua data yang kamu lihat di sosial media adalah benar. Jika stalking bukan satu-satunya pilihan, bicaralah langsung dengan orangnya. Perbincangan tatap muka akan membuat kamu mengenal orang tersebut secara lebih utuh, jauh dari apa yang akan kamu dapatkan hanya dengan proses stalking di sosial media.