fotos hp

Sayapan

Ini bukan tentang prosa cinta, puisi patah hati, cerpen fiksi, dan lain sebagainya. Ini hanyalah sedikit ulasan mengenai suatu tempat makan di Kota Kembang, Kota Kami Tercinta, Bandung.

Sayapan, dari namanya saja sudah ketahuan ya, menu utama cafe ini apa? Ya! Ceker! Hahahaha ga ding, sayap. Sayap ayam, karena sapi tak bersayap apalagi ikan. Skip

Cafe ini berada di Jl. Karapitan 44A (Sepertinya sih No. 44A ya, karena password wifinya ada 44A-nya :D). Karena jalan ini satu arah, maka jika teman-teman dari arah Universitas Langlang Buana, Sayapan berada di sebelah kiri jalan, sejajar BABE, seberang serong kanan sedikit dari Toko Buku Singgalang (anak gaul Singgalang, pada masanya, jadi tahu betul), sebelah J&T yang berfotokan Om Dedy Combuzier wk wk.

Menu makanannya mayoritas sayap yang dilumuri tepung, lalu digoreng dan diberi bermacam-macam bumbu. Sejauh saya kenal Sayapan, tidak ada yang mengecewakan dari segi rasa. Hanya saja kalau dari segi konsistensi nasi, kadang tidak pulen (Subjektif, karena saya lebih suka nasi pulen). Selain sayapan, saya jatuh cinta sama free omeletnya, setiap saya ambil paket hemat.

Yang disayangkan hanya tidak ada sayuran saja, alangkah baiknya jika ada rebusan wortel, buncis atau jagung. Agar tidak hanya makan sumber karbohidrat dan protein hewani saja, namun juga ada seratnya. Saya rasa akan nyambung, karena set menu banyaknya western. Ya, kalau set menunya Indonesian, tambahkan saja tumis kangkung (doyan lu itu sih).

Berikut contoh menu Sayapan: 

Harganya tergolong yang masuk akal, Rp30.000,- sudah dengan nasi, free omelet, sayap (6 buah, ini over menurut saya. Tapi setiap pesan, habis juga, dengan nasinya yang bisa sampai 2,5 penukar. Emang dasar RW09). Kalau mau ganti dengan nasi pedas, tinggal tambah Rp3.000,-. Tapi tanpa ganti nasi juga, banyak kok menu sayapan yang pedas. Tinggal pilih varian saja, baca keterangannya, di sana dijelaskan dengan begitu gemesinnya (seolah pengen coba semua rasa). Tapi kalau tidak terlalu lapar, atau sedang diet low carbo pesan saja yang tanpa nasi Rp25.000,- (sayap 5 buah, dengan ukuran yang lumayan pasti mengenyangkan juga). Untuk minumannya beragam, dari mulai teh, kopi, milkshake, yogurt, sampai air mineral. Harganya kisaran Rp5.000 - Rp20.000,-. Ada dessert juga, ice cream homemade gitu. Cemilan juga ada, tapi saya tidak begitu tertarik. Karena sudah kepalang naksir dengan sayapan wk.

Saya sudah beberapa kali ke sana. Terkadang dibungkus, banyaknya makan di tempat. Sebelum hari ini, saya selalu duduk di lantai satu.

Tetapi hari ini iseng mau coba lantai dua. Akankah semenarik saudaranya, Simplisio (cafe yang tak kalah oke, letaknya di seberang Sayapan, yang punyanya sama). Dan ternyata… Oke juga. 

Bersih, rapi, nyaman. Dekorasinya sebenarnya didominasi lukisan-lukisan tembok, kursi dan mejanya pun tak semewah cafe-cafe atau resto-resto instagramable di luar sana. Tapi entah, saya betah. Sederhana yang menyenangkan.

Di lantai dua ada 4 ruas, 2 ruas berbentuk seperti kamar yang disulap menjadi tempat makan, 1 ruas menghadap jendela yang dibukakan lebar-lebar, 1 ruas di sudut belakang. Padahal sebenarnya Sayapan ini hanya ruko 3 lantai. Tapi asyik juga tata letaknya.

Di lantai tiga ada musola, meja makan indoor dan rooftop gitu. Kayaknya nanti kalau ke sana lagi saya incar rooftop. Liat orang-orang ‘nyalse’ di sana kayak yang enak. Viewnya lantai tiga dan puncak pohon rindang gitu. Siang menuju sore kayaknya asyik sambil menimbun kalori  :D

Saya berani memberikan nilai 4 dari 5 untuk Sayapan. Sama halnya saya berani membuat tulisan ini dan membagikannya. 

Fyi, postingan ini bukan bentuk promosi. Melainkan bentuk terima kasih customer yang merasa puas. Ehe ehe ehe.

See you, di ulasan suka-suka berikutnya, kapan-kapan!

Udah capek-capek menghilangkan semua jejak tentang kamu. Mulai dari foto, nomer hp, sosial media, bahkan kenanganpun rasanya udah aku hapus tanpa sisa. Eh kok tahunya tiba-tiba setelah bertahun-tahun lamanya, kita malah dipertemukan lagi di tempat dan waktu yang gak terduga. Kamu tahu yang aku pikirin sekarang?
— 

Kayaknya aku belum bener-bener bisa lupain kamumu deh.


|shortstory: langitkuitukamu|