for kepo

Salah alamat. Alamat yang salah.

Ketika aku memutuskan untuk berbalik arah,
Tampaknya arahku kembali padamu.
Tapi kamu belum membuka pintu.
Atau masih malu-malu?
Kamu mau aku tunggu, atau mau aku pergi dulu?
Oh
Jalanku banyak cabang baru.
Kalau nanti aku tak kembali, jangan dicari.
Nah,
Selagi punggungku masih terlihat olehmu,
Panggil saja.
Siapa tahu kita bisa jalan bersama.

-Hana kepada emm…yang dulu suka dikepo kemudian udah enggak tapi barusan dengan tidak sadar kepo lagi. Doh.

Fakta membuktikan, nggak sengaja melihat foto cowok lain tersimpan di hape perempuan yang disukai dapat menyebabkan kehilangan selera makan seharian, mematahkan separuh semangat, memberatkan langkah kaki menuju masjid, memudarkan konsentrasi untuk desain, bahkan menghilangkan kreativitas untuk menulis, termasuk cemburu akut berkepanjangan stadium akhir tingkat kabupaten.
—  Kepo boleh, tapi jangan terlalu, ntar sakit hati ~
Ramon Damora

MASALAHNYA,
GUE BUKAN AHOK

sorry men
gue baca yasin
bukan black campaign

gue cuman zikir
pengen diam
ngapain lo mikir
macam-macam

gue datangin
majelis taklim
lo sinis, ngeklaim
kampanye hitam

kasian lo, bro
bentar-bentar kepo
masjid masjid gue
qur'an qur'an gue
udah, jangan rese

sejak lahir
gue diazanin
islam haqqul yakin
lakum dinukum
waliyadin
stop ngerecokin

imam gue takbir
gue takbir
imam gue ngingetin
bahaya “waladhdhaallin”
semua kompak amin
simple, men
nggak usah cemen

nggak perlu juga kale
cari-cari simpati
bikin pencitraan
korban penzaliman
ayat-ayat suci

baru surat al maidah
satu ayat
lo udah marah-marah

ge-er amat

santai dong
jangan gotong-royong
nodong-nodong

jakarta perlu
orang super
bukan gubernur
bentar-bentar baper

gue pake songkok
pengen sujud rukuk
mencari ridho ilahi
buat nabung pahala

sayang gue bukan ahok
yang berani nyeletuk
kalau dia mati
langsung masuk surga

2016

Hai, anon yang curhat panjang lebar.. hahhaa. jawaban ini untuk pertanyaan serupa ya.~

Aku pernah kok berada di posisi yang hampir sama seperti kamu. Setiap hari kerjaanku hanya merenungi nasib ditinggal olehnya. Nangis setiap inget segala hal tentang dia. Dan semakin hari aku malah memperburuk kondisiku sendiri. Aku meratapi nasib atas hatiku yang galau ga udah-udah itu setiap hari. Berat badanku sampe turun, nilai-nilai kuliahku hancur berantakan. Di kelas kerjaannya Cuma bengong dan nangis ga jelas. Kalo ditanya dosen, jawabannya selalu ngaco. Sampe-sampe IP-ku turun drastis. Karna ya kerjaanku Cuma meratapi perasaanku yang ga ada habis, dan itu malah bikin aku makin makin makin buruk. Aku selalu kepoin medsosnya dia, selalu kepo dengan apa yang dia lakukan di kehidupannya setelah tanpa adanya kita, pokoknya selalu kepo tentang dia.

Pada akhirnya aku sadar. Padahal sebenernya itu cara Tuhan menunjukkan padaku bahwa dia ga cukup baik untuk mendampingi kita seterusnya. Padahal itu cara Tuhan untuk menguji seberapa kuat hati kita diberi cobaan seperti itu. Padahal itu cara Tuhan untuk menunjukkan bahwa ada orang yang lebih baik dari dia yang ada di sekeliling kita. Padahal itu cara Tuhan untuk memberi tahu kita bahwa ada orang-orang yang selalu dan lebih peduli dengan kita di saat kita terjatuh tapi kita selalu mengabaikannya. Padahal itu cara Tuhan agar kita menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Selalu ada hikmah di balik itu semua.

Bukan berarti kamu mengakhiri kehidupanmu dengan dia sama dengan mengakhiri kebahagiaanmu.

Cara aku ‘menyembuhkan’ diri adalah dengan STOP DOING ANYTHING ABOUT HIM/HER. (sengaja dibold dan dicapslock biar keliatan buat orang yang mau move on. Hahaha)

Aku bener-bener berhenti melalukan hal-hal yang berkaitan dengan dia. Entah itu kepoin sosmednya, buka emailnya, buka apapun deh yang bikin kita inget segala hal tentang dia. Aku block segala hal medsos dia. Bahkan aku sampe “menghilang” dari sosmed. Childish sih emang. Tapi itu caraku sendiri untuk menahan agar aku ga selalu bergantung dengan segala hal tentang dia terus menerus. Karena mau sampe kapan aku seperti ini terus-terusan? Yang ada malah aku memperburuk keadaan. Aku harus move up, bukan sekedar move on.

Dan aku akui. Cara itu emang ga mudah. Butuh tekad yang sangat amat kuat. (lebay ya? Hahaha). Aku mulai memperbaiki diriku sendiri tanpa kehadiran dia. Aku mulai mencari kesibukan dengan hal-hal yang positif. Mulai memperbaiki segala kesalahan-kesalahan yang aku lakukan kemarin-kemarin. Sebisa mungkin aku menghalau dan mengalihkan segala pikiranku ke hal-hal lain yang lebih berguna ketimbang mikirin dia terus-terusan. 

Kumpul sama temen buat haha hihi pun aku jadikan sebagai “obat” untuk menyembuhkan rasa sakitku yang sulit untuk sembuh. Dan pastinya ga lupa juga untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Menyerahkan diri hanya kepada-Nya. Berharap hanya kepada-Nya. Itu penting banget karena itu adalah untuk memenuhi kebutuhan jiwa dan rohaniku sendiri. Dan Alhamdulillah, segala “rasa” dan “memori” tentangnya pun berangsur pulih. Finally, aku menyadari satu hal, “aku merasa baik-baik aja tanpa adanya dia”.

Semua itu butuh waktu. Ga ada yang instant. Yang instant itu Cuma indomie. itu pun perlu masak air dulu bikinnya buat dimakan. Hahahha. Dan aku yakin kamu juga bisa menyembuhkan diri dengan caramu sendiri. Aku hanya berbagi apa yang udah aku alami.


“the soul usually knows what to do to heal it self. the challenge is to silence the mind.” – Paulo Coelho


#SemangatMenyembuhkanDiriSendiri
#SemangatMoveUp ! :)

Pemuda Itu...

Pemuda itu harusnya ga gampang ngebaper kalau dikasih perhatian dan ga gampang ngelabel ‘PHP’ ke orang yang ngasih dia perhatian.

Pemuda itu harusnya ga gampang bilang kepo ke orang yang nanya-nanya ke dia. Ya kali tiap ada yang nanya dikit dibilang kepo mulu.

Pemuda itu juga harusnya ga gampang bilang siapapun ‘cuek’ atau 'dingin’ dan semacamnya cuma gara-gara chatnya ga langsung dibales atau dibalesnya lama. Tiap orang juga punya kesibukan kali. Kamunya aja yang tiap saat sibuk sama layar hp.

Pemuda itu… sayang sama Ibu-Bapak, sayang sama Adek-Kakak-Masnya, sayang sama keluarga.

Selamat Hari Sumpah Pemuda.

30 Oktober 2016
@bukan-kamu to @kitasumatera

Kisah Maimunah.

Huft. Inilah kalau punya banyak teman, banyak kisah yang terdengar.

Ketika Maisaroh dan sang Dosen gak kita ketahui akhir ceritanya, kisah Maimunah ini aku tahu endingnya.

Maimunah anak yang ceria dan senang berteman dengan siapa saja. Suatu hari, ada seorang lelaki yang mulai mendekati Maimunah. Lelaki asing yang ternyata kenal sama kakak kelasnya di SMA dulu. Karena merasa ada obrolan, Maimunah dan lelaki ini pun mulai berteman. Mulai berbincang tentang hal lain yang lebih dalam. Sang lelaki mulai menceritakan keadaan keluarganya dan tentang bayangan keluarga kecil impiannya di masa depan. Si lelaki mulai lebih sering menghubungi Maimunah walau sekedar mengingatkan makan. Maimunah awalnya tidak begitu tertarik kepada si lelaki asing ini, tidak begitu penasaran, dan tidak ada perasaan untuk kepo lebih lanjut tentangnya. Tapi suatu malam, Maimunah bilang bahwa Ia merasa ada yang aneh dengan si lelaki ini. Maimunah mulai kepo. Namanya juga cewek, Maimunah menangkap kode-kode pedekate. Cieee Maimunah. Tapi oh ternyata. Jeng jeng jeng jreeeeng…mata Maimunah terbelalak ketika gak sengaja mampir ke satu akun instagram make up artist, ada nama si Lelaki disitu!!!!! Captionnya Happy Engagement Siti dan Hendro (oh iya, kita anggap nama lelaki itu Hendro).

WHAT?????? HENDRO SUDAH TUNANGAN TERNYATA. Dan foto itu di upload sekitar pertengahan tahun. Maimunah di pedekate-in sama tunangan orang ternyata wkwkwk eh kok ketawa.

Singkat cerita, Maimunah meng-capture foto tersebut dan mengirimkannya ke Hendro diikuti dengan pesan “Selamat ya…”

Hendro pun gak berani lagi nghubungin Maimunah.

Lain kali tiati ya sis. Ternyata tunangan bukan jaminan. Itu teguran Allah buat Maimunah juga kayaknya. Wkwk Mai, Mai. Mending bantu aku jualan Sprinkle Land.

Eh, tahu sprinkle land ga? Itu lho, minuman hits. Cek aja IG nya Sprinkle.land hehe hehe

Surat Ketigabelas

Jakarta, 13 Januari 2017

Dear langit,

Sudah tersenyumkah hari ini? Sudah berdoa dalam lisan dan hati? Semoga kamu nggak lupa senyum sebagaimana aku yang selalu berusaha ingat tersenyum disegala hari.

Jangan merasa jika kamu adalah orang yang membosankan. Itu hanya anggapanmu saja. Dengarlah bahwa yang berbeda dari diri kita, itu adalah ciri khas kita. Kamu mampu membuat orang bisa tersenyum, itu artinya ada yang menganggap jika kamu justru orang yang menyenangkan dan tidak membosankan.

Maaf jika ocehanku justru membuatmu kerap kali merasa risih. Dan maaf jika cerewetku justru membuatmu merasa dan beranggapan jika aku terlalu berlebihan. Maaf jika aku seperti merasa ingin tahu segala hal tentangmu dan mungkin kamu akan menganggap aku terlalu kepo. Jika kamu merasa aku ini aneh, ya memang aneh. Keanehanku ini cuma aku yang punya. Dan tidak ada di orang lain.

Maaf terlalu sering mengoceh yang padahal aku bukan siapa-siapa dan terlebih juga bukan burung beo.

Sebab kadang aku bertanya pada diri sendiri apakah aku terlalu berlebihan?

Maaf, kata yang sering ingin kuutarakan. Namun malu karena takut jika justru kamu akan menjawab maaf mulu, ini belum lebaran.

Jadilah diri kamu yang seperti ini saja. Diam yang sesungguhnya hanya irit berbicara.

Tertanda (temanmu)
Rur

Tentang Pilihan

Semalam saya membuka social media. Biasanya social media yang selalu saya buka sekarang ada dua: Facebook dan Instagram. Di tahun 2016, keduanya menjadi lebih menarik. Since interface dan user experience keduanya diimprove, sekarang saya bisa melihat perkembangan beberapa orang secara lebih real, especially, beberapa orang yang sudah lama tidak ‘in-touch’ lagi dengan saya.

Semakin saya kepo dengan kabar-kabar terbaru mereka, semakin saya sadar: Time flies. Saya lihat temen SD sudah melanglang buana kemana-mana, temen SMP sudah pada punya anak aja, temen SMA sudah pada S2, even temen kuliah sekarang juga sudah pada menikah, bikin startup, dll.

Di usia saya sekarang yang menginjak 22 tahun, saya berada di masa yang kalau kata sebagian orang namanya “Quarter-life crisis”. Masa dimana seseorang merasa galau dengan masa depannya dan harus segera menentukan pilihan. Berbeda dengan fase-fase sebelumnya, di fase sekarang, saya merasa bahwa saya sedang berdiri di depan lautan yang namanya ‘Real-world’. Kalau dulu lulus SMA saya dihadapkan kolam yang isinya pertanyaan-pertanyaan seperti 'Mau kuliah dimana’, 'ngambil jurusan apa’, 'stay di kota mana’, dsb. Kalau sekarang di Real-World, saya hanya harus menjawab satu pertanyaan: “What are you gonna do for the rest of your life?”. Pilihannya? Tak terbatas. I could literally do whatever I want. PR-nya cuman satu, saya harus memilih.

Life is choice

Berbicara soal pilih-memilih, memang persoalan yang satu ini benar-benar seru untuk dihadapi. Karena menentukan pilihan, adalah salah satu hal terpenting yang harus kita lakukan dengan baik dan bijak.

Pertama kali saya menyadari soalnya pentingnya menentukan pilihan, adalah ketika saya membaca buku “Life is Choice”-nya Parlindungan Marpaung 6 tahun silam. Mata saya waktu itu benar-benar terbuka, bahwa seseorang bisa jadi sukses atau jadi tidak sukses, semua karena pilihan yang diambil sebelumnya. Anak kecil bisa juara kelas atau tidak, itu juga karena ia memilih belajar atau tidak. Seseorang bisa bahagia atau tidak, itu juga karena pilihan. Seorang manusia bisa masuk surga atau neraka, itu juga karena pilihan yang ia ambil sebelumnya. Bahkan pun ketika kita berada di situasi dimana kita merasa kita tidak punya pilihan, kita pun sebenarnya punya pilihan bagaimana menghadapi situasi tersebut.

Betapa pentingnya bukan? semua yang terjadi di dalam hidup kita, semuanya karena pilihan yang kita ambil sebelumnya. Every decisions we make today draws the picture of our life tomorrow.

Kita pun mengamati, ada orang-orang yang tadinya kecil, kemudian turns out jadi orang besar. Begitu juga sebaliknya, ada orang-orang yang tadinya di atas, kemudian berbalik tersungkur ke bawah. Setelah diamati, ternyata memang semua juga karena pilihan. Bijak memilih, bahagia di akhir. Salah memilih, salah pula berakhir.

Bagaimana kita memilih?

Menjawab pertanyaan di atas sungguh-sungguh menarik. Mengapa? Karena banyak orang salah menentukan pilihan, biasanya bukan dalam menentukan pilihan-pilihan yang besar, melainkan dalam menentukan hal-hal kecil.

Maksudnya gimana? Well, justru kita tidak akan serta merta melakukan pilihan secara ceroboh jika urusannya adalah urusan besar; misalnya menikah dengan siapa, mau tinggal dimana, dsb. Itu mah pasti dipikirin. Pasti kita akan sungguh-sungguh dan memikirkan matang-matang. Yang justru kita sering tidak sadari, adalah kita seringkali ceroboh dalam menentukan hal-hal kecil, yang sehari-hari biasa kita alami, seperti 'Saya mau ngerjain ini sekarang (atau nanti)’, 'Berangkat jam 6 (atau jam 9)’, 'Mau nonton film (atau baca buku)’, 'Tidur sekarang (atau begadang dulu)’, 'Beli ini-itu (atau ditabung aja)’, 'Mau Nge-gym (atau diet besok)’, dsb.

Jack Ma (Founder alibaba group) memberi nasihat, “Your future is determined by what you’re doing from 6pm-12pm everyday”. Dia bilang “Read anything 10 minutes every night, 1 year later your life gonna be completely different”. Kemudian Admiral McRaven dari US Navy pernah juga berpesan “If you want to change the world, start off by making your bed”. See? Betapa banyak hal-hal kecil yang sebenarnya juga merupakan pilihan yang harus selalu kita ambil, tapi seringkali kita menganggapnya sepele.

Jadi? Bagaimana agar kita bijak dalam menentukan pilihan? Prof. Rhenald berpesan di dalam bukunya: “Start small, start now”. Karena however, small things matter, and small things always lead to bigger things. And make your choice right now, karena waktu terus berjalan, dunia terus berubah. Make your choice before you have no choice.

Selamat memilih!

01:02 WIB | 27 Juni 2016
Kranggan, Bekasi

Dharma Anjarrahman

Kunamai Diriku dengan Kegagalan : sebuah kisah tentang seseorang yang bernama Rumi, semasa SMA dia sering disebut si Penyair. Lambat laun, waktu dimakan ulat, julukkannya kini berubah menjadi si Penyair Gila, bagaimana bisa?

Ciee, kepo!!

Penasaran? Saksikan monolog “Rumi : Kunamai Diriku dengan Kegagalan” dalam pertunjukkan panggung teater di sebuah kampus daerah Kalimalang Bekasi. Sabtu, 14 Januari 2017.

See you there.

13/Jan/2017

- Panrita

Halo @namasayakinsi,

surat cinta ketiga, agak berbeda dari yang lain. bentuknya postcard.

karena ketika menemukan Riuh, aku nggak sengaja menemukan doodle-doodle manis yang di buat kakinsyu untuk orang lain. dan rasanya manis.

maka, aku rasa…. kakinsyu juga boleh sekali diberikan postcard berdoodle hasil kepo. hehe.

aku juga sama sukanya dengan Dian Sastro dan Nicholas Saputra, maka… kita juga pasti sama-sama suka AADC bukan? hehe.

terimakasih sudah jadi inspirasi, Riuh adalah inspirasi sepaket kebahagiaan. sepaket harta karun lain yang aku temukan.

karena terimakasih terbaik adalah do'a, semoga bahagia selalu kakinsyu! dan the riuh team tentunya \:D/

Kontrakan rasa Kosan, 3 Januari 2017
surat ketiga | dari yang tidak sengaja menemukan riuh, Echa.

Ini ceritaku

First of all I really want to say “Happy Anniversary dear KITA KALIMANTAN, I wish nothing but all the best. Long last!”.


Jujur aku lagi bingung banget mau nulis apa di WP kali ini tapi yaudah aku coba dah siapa tau dapat jodoh, ehgimana gimana. Hhhhhhmmmm, kalau diminta buat cerita pengalaman selama bergabung dengan KITA Kalimantan itu banyak sekali, jari kaki sama tangan dipakai buat ngitung juga gak cukup kakak. Awal join dulu itu juga karena lihat postingan bang Ridho seliweran, terus jadi kepo dah sama woro-woro open membernya KITA Kali dan ternyata syaratnya gak ribet yaudah langsung  join karena saya memang berasal dari Kalimantan. Awal join dulu anak-anaknya ramai, ramai pakai bangetlah pokoknya, seru juga plus yang dibahas pun lumayan sih. Hehehehe peace gengs. Mungkin karena nemu tempat main baru jadinya senang ada bahan bacaan, lumayan buat ngisi waktu yang sangat amat kosong. Hahahahaha. Yang bikin betah sebenarnya bukan karena KITA Kalimantan-nya tapi para penghuninya, rasanya sepertinya sedang tinggal di  tanah Jawa rasa Kalimantan kalau lagi main ke group. Momen paling bahagia di Kali adalah ketika masyarakat group bercerita tentang budaya, makanan bahkan cerita horror yang terjadi di Kalimantan. Terlalu banyak sekali kebahagiaan yang aku dapatkan dari masyarakat atau bisa dibilang keluarga besar KITA Kalimantan yang pasti sangat berkesan. Buat kalian semua, aku sayang kalian, tetap berkarya ya Nak, tetap ramah sama tamu sama jangan keseringan malak anak orang. Takut nanti orang bertamu ke rumah kita. Hahahahahaha.

Me Lafyu all!

@kitakalimantan @tumbloggerkita@tumbloggerkita


Kuntit

“You don’t know her, but she knows you”. Tagline ciamik dari buku ‘The Girl On The Train’ ini setelah dikuliti secara asal asalan membawa saya kepada kata ‘kuntit’, semacam menguntit-dikuntit-penguntit, Atau apalah sebutan untuk sikap/ tindak kebiasaan yang memperhatikan untuk mengikuti suatu objek (secara berlebihan, untuk konteks kekinian).

Stalker, Kepo dan sejenisnya yang terkait dengan manusia, atau hubungan antar manusia memiliki benang merah kepada hal seperti “kamu nggak kenal saya, tapi saya mengenalmu”. Atau “Kamu tidak mengetahui apa apa tentangku, tapi Aku mengetahui segalamu”. Seberapa banyak itu, relatif.

Hadirnya kata ‘kuntit’ di dalam pikiran terkait saya yang belum sama sekali membaca buku ini walau ini buku tergeletak di kosan teman dan milik teman, kawan.

Berdirilah di sampingku sebagai kawan, jangan dibelakang ku, karena takut aku kau menguntit, jangan berdiri di depanku karenaku bukan penguntit (yang baik).

Sosial media, membuat semua manusia (yang memiliki akun tentunya) secara tak sadar menjadi ‘penguntit’. Aksi ‘scrolling’ akan membawamu ke berbagai cerita dan wajah wajah manusia baik yang telah bertemu dalam tubuh yang berhadapan ataupun belum. Serpihan serpihan tentang diri mereka menancap di memori, beberapa lekat beberapa lepas.

Seperti seseorang yang berpapasan dengan diri saya pada suatu pagi di trotoar jalan Margonda raya beberapa Minggu lalu, “I Know His Face, but he dont Know my face”. Saat kami sama sama berlalu pasti dia bertanya tanya tentang siapa orang yang baru saja menyapanya, heh.

Dan, “Internet bukanlah dunia yang aman…”, itulah yang dikatakan Piko teman saya si programmer pemilik buku ‘The Girl On The Train’ tersebut.

Perhatikan apa yang kamu bagikan sebagaimana kamu memperhatikan apa-apa yang kamu masukkan ke dalam tubuhmu.

Hmm, “kata tubuh pada paragraf diatas terkait lambung atau otak?”, Otak sayaaang. “Kalau foto foto selfie cantik gimana?”, jangan rajin rajin ngupload yang model begituan ya, nanti dicomot orang gak bertanggung jawab buat properti pribadinya, mau?. “Ooh, jadi sekarang mau unfriend kawan kawan tak dikenal?”, Janganlah…, siapa tahu jodoh, gak lucu ngehapus jodoh sendiri kan?. “Hhah, jodoh!?”, Jodoh maknanya luas eh.

Now you read me.

You are what you write.

Kamu bisa tebak bagaimana berantakannya aku. Aku yang lebih senang membahas masa lalu ini.


Yha. Setelah intip-intip punya tetangga, agak merasa nyasar dengan gaya bahasa yang begitu sederhana. Level twitter, tapi di tumblr. It’s okay. I write to describe who i am :)

Gimana ya rasanya punya suami penulis? Wkwk

Aku follow IG seorang penulis cuma karena si penulis ini pernah sebut-sebut Yogyakarta, “woh! Anak jogja? Follow ah!”
Bukunya, tulisannya, hasil karyanya? Belum tahu. Belum pernah baca. Wkwk
Kebetulan Agustus lalu aku ikutan acara Kelas Mendongeng, dan mas Kurniawan Gunadi (siapa namanya ya) ini datang, “Semacam pernah tahu mukanya” hehe
Tapi beliau pasti punya penggemar yang luar biasa banyaknya. Dilihat dari komen IGnya hehe. Mayaaan pernah ketemu, bisa jadi obrolan entah dengan siapa, “Weh! Aku pernah ketemu langsung lhooo!” Sip, disimpen dulu kata-kata itu entah buat kapan.
Baru-baru ini beliau menikah dengan penulis juga kayaknya (cmiiw). Fyi, kepo-kepo IG si istri, istrinya ngefollow mbak Retno wkwk wuiiii berarti tahu Kirana.

Kemana arah tulisan ini?
Ohiya. Apa rasanya punya suami penulis? Akankah hari-harinya diisi dengan kata-kata romantis? Seperti Salim A. Fillah menyebut senyum manis istrinya seperti sepotong surga tersiram madu? Mungkinkah sore hari menjadi waktu untuk baca buku. Kanan pegang buku, kiri pegang tangan pasangan. Di meja kecil bundar ada 2 cangkir teh yang masih panas. Saking heningnya suara desir angin terdengar lebih jelas.
Terbayang percakapan pagi hari
“Mas, kopi atau teh?”
“Tidak keduanya. Cukup kamu saja”

MBAHAHAHAK.

Btw, semoga mas Gun dan Istri menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Selamat menyelam di ladang pahala!