fayakun

Sajak Cinta Gus Mus Kepada Nyai Fatma

aku adalah ombak samuderamu
yang lari datang bagimu
hujan yang berkilat dan berguruh mendungmu
aku adalah wangi bungamu
luka berdarah-darah durimu
semilir bagai badai anginmu

aku adalah kicau burungmu
kabut puncak gunungmu
tuah tenungmu
aku adalah titik-titik hurufmu
kata-kata maknamu

aku adalah sinar silau panasmu
dan bayang-bayang hangat mentarimu
bumi pasrah langitmu

aku adalah jasad ruhmu
fayakun kunmu

aku adalah a-k-u
k-a-u
mu

…..

Kini perempuan yang menjadi ruh puisi ini telah pergi. Dari puisi ini kita belajar tentang banyak hal. Semoga Gus Mus diberi ketabahan
Dan, tentu saja, semoga jalan yang tenang untuk Ibu.. Amin..

Kata orang, kami menikah terlalu muda. Terlalu awal. Terlalu berani. Terlalu cepat. Terlalu tiba-tiba.

“Kamu dijodohin ya?”
“Emangnya lo punya pacar?”
“Masih ‘bayi’ udah nikah aja?”

Semua orang sepertinya heran dengan keputusanku. Ada juga yang meremehkan. Tak apa, sah-sah saja. Secara umur aku memang baru menginjak dewasa.

Mungkin di mata mereka orang sekeras dan sependiam aku tidak bisa menyukai orang lain.

Atau mungkin di mata mereka orang seperti aku anti berbicara cinta.

Padahal aku pun manusia.

Mereka hanya tidak tahu bahwa aku–dan suamiku–adalah seorang yang pandai menyimpan rahasia.

Kadang dalam mencintai, terlalu banyak kata justru mengaburkan keindahan dan kemuliaannya.

Kadang dalam mencintai, kita lebih bisa menata hati ketika cinta dibiarkan tersembunyi.

Bagiku, cinta hanya akan keluar dari persembunyiannya, jika aku sudah siap. Siap menerima konsekuensi pertama dalam mencintai, ialah berkomitmen.

Dan saat itu, aku merasa siap.

Ke-merasa siap-anku berbanding lurus dengan keyakinanku terhadap kebaikan dan kehebatan Penciptaku. Tiada ragu hati memilih, karena Allah seperti hadir di sana. Menuntun hati untuk berprasangka baik.

Jika Ia mengatakan bahwa Ia menciptakan makhluk berpasang-pasangan, maka menikah bukan soal umur, waktu, cepat/lambat semata. Tetapi soal kehendak-Nya. Dan jika Allah berkehendak, kun fayakun. “Jadi!” Maka Jadilah.

Banyak pembelajaran yang aku dapat dari menikah muda. Ada lelah yang mungkin tidak dialami orang lain. Ada pengorbanan yang mungkin tidak dilakukan orang lain. Ada sedih, luka, yang mungkin hanya dirasakan orang yang menikah muda.

Ada juga kebahagiaan, perasaan utuh, yang berbeda dari relasi manusia lainnya. Tapi aku bukan sedang mengampanyekan nikah muda. Bagiku mungkin memang begini cocoknya atau seharusnya jalan hidupku. Mungkin tidak baik bagi yang lain, makanya tidak Allah takdirkan. Allah menakdirkan yang baik-baik menurut-Nya, kan?

Ini bukan tulisan yang overrating terhadap nikah muda. Hanya berbagi cerita. Dari seorang yang berusaha memaknai setiap pertemuan dan mengimani takdir.

Kun fayakun.
Jika menurut Allah harus terjadi maka pasti akan terjadi, tidak peduli bagaimanapun usaha untuk menghalanginya.
Dan jika menurut Allah tidak boleh terjadi, maka bagaimanapun besarnya usaha yang dilakukan maka pasti tidak akan terjadi.
Meskipun manusia menghalangi, selama Allah meridhoi dan mengizinkan hal tersebut terjadi, maka insya Allah tidak akan ada halangan yang berarti.

Adakah kau tahu
Mengapa kau katakan
Jodoh itu letaknya jauh
Begitu jauh dari kau.

Sedarkah kau,
Jodoh itu tak bisa dilihat
Jodoh itu tak datang pada masa yang kau mahukan
Datangnya dia disaat Tuhan kata
Kun Fayakun, jadi maka jadilah.

Mengertikah kau,
Jodoh itu adalah satu zat yang berjiwa
Jodoh itu adalah satu zat yang berperasaan
Dimana Tuhan satukan hatinya
Bersama hati kau
Bila bercantum dua jiwa dan perasaan
Bercambah satu lagi rasa
Rasa yang berbunyi cinta.

Saat itu kau bisa melihat
Jodoh itu sangat dekat
Sudahpun menjadi milik kau
Disatukan Tuhan Yang Satu.

::Cattleya::

Seharusnya usah ditanya.
Tuhan, kenapa ini semua terjadi ?

Tuhan kata Kun Fayakun.
Siapa kita nak halang.
Kita sekadar hamba.

Terima lah dengan ikhlas. Allah tahu yang terbaik.

“….Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” al-Baqarah : 216.
— 

JNN, 2001

Pernah tak terfikir yang segala pilihan yang kita buat, sebenarnya telah ditentukan oleh Allah? tidak pernah? sebab tu kita susah untuk redha.

Kadang kadang kita fikir, kenapa buat pilihan begitu begini. kadang kadang kita berharap masa berputar kembali supaya kita boleh pilih lain. kan.

Sebenarnya kita silap. kalau semua benda boleh diputar balik ke belakang, tak ada lah yang dikatakan hikmah.

Kita buat pilihan, tapi pilihan tu tak membahagiakan kita. kenapa? adakah kita salah pilih? tak, sebab ia dah ditakdirkan. bukan maksudnya kita kena menyalahkan takdir. pilihan yang kita buat itu sebenarnya atas izin DIA. kun fayakun. ingat? semua atas izinNya.
Ada sebab kenapa kadang kadang pilihan kita salah. sebab Allah nak kita belajar sesuatu dari situ. Ingat, kata ‘Maha’ bukan dicipta untuk manusia. Allah biar kita salah, supaya kita belajar mengenal punca masalah.

Contoh, kita suka pada seseorang dan seseorang itu khianati kita. kita mesti fikir, kan bagus masa putar balik. dah tentu kita tak pilih dia. tapi kita silap sebenarnya. Allah izinkan kita rasa cinta dan kecewa, sebab DIA nak ajar ada cinta yang tak perlu sebelum tiba masanya.

Katakanlah kita bercinta dan bahagia. tapi tanpa pernikahan. dah tentu sikit sebanyak cinta kita tu hampir kepada noda, maksiat. Jadi datang hikmah, yang berupa kekecewaan, supaya kita sedar, cinta sebelum nikah itu adalah sia sia.

Allah itu Maha Mengetahui. DIA tahu setiap nafas, setiap upaya, setiap rasa kita. bukan DIA sengaja biar kita kecewa, sedih. tak. cara Allah bekerja ini lain. DIA bekerja penuh rahsia. lalu DIA bagi kita kesedihan, supaya kita belajar sesuatu tentang pilihan.

Tepuk bahu sendiri dan berkata, “ Allah dah jaga hati kita baik baik dari terus bersama orang yang salah. Selalu Allah beri kekecewaan untuk digantikan dengan yang lebih baik. Be happy, we deserve it. Kerana rasa bahagia itu kita pilih.”

Mungkin dia couple.
Mungkin kamu tidak.
Mungkin dia jahil.
Mungkin kamu alim.

Tapi,
Siapa pun dia.
Siapa pun kamu.
Tetap hambaNya.
Tetap di bawah langit yang sama.

Jadi,
Tidak perlu kamu menghina dia.
Hanya disebabkan jahiliyah dia.

Tugas kamu sebagai orang alim.
Yang beriman.
Mengajak dan menarik dia kepada kebaikan.

Makanya jangan suka menghina.
Kerana hidayah itu milik Allah.
Bila-bila saja Dia akan menarik semula hidayah itu.

“Dan bila Dia mengkehendaki sesuatu berlaku. Perkara yang kita anggap mustahil pun tetap akan berlaku. Kun fayakun”.

Bila mana Allah SWT kata “Kun Fayakun”,

Nothing can stop HIM.

Siapa lagi yang dapat menandingi kuasa Allah SWT?

Don’t forget to keep du'a.

#PrayForMH370

—   
Kepada Jodohku...

Perempuan adalah milik ibu bapak dan saudara-saudaranya. Ketika ijab kabul telah terucap, maka saat itulah dia beralih menjadi milik suami. Baktinya kepada suami menjadi lebih utama. Tanggung jawab kedua orangtuanya pindah kepada suami. Namun perempuan tetaplah seorang anak, seorang kakak dan seorang adik bagi saudara-saudaranya. Sangat susah jauh dari keluarga apalagi jauh dari ibu bapak adalah salah satu alasan kenapa saat ini belum siap untuk menikah. Dan ada impian yang sedang diperjuangkan untuk ibu dan bapak serta kakak adik di rumah, sebagai hadiah terbaik untuk mereka. Dan barangkali sebelum impian itu terwujud, pernikahan adalah nomor urut sekian sekian…

#Lagipula diriku masih terlalu asyik dengan kasur, bantal dan gulingku sendiri tanpa perlu berbagi dengan orang lain heheh… 😀😂😂

Tapi semua kembali lagi kepadaNya. Qada’ dan qadar adalah milikNya dan aturan-Nya. Segala urusan semesta ini termasuk urusan jodoh adalah urusan-Nya. Semua bisa berencana dan berikhtiar tetapi Yang Menentukan adalah Dia.

Kalau pun belum siap dengan masalah pernikahan, bukan berarti kita gak berdo'a dan mempersiapkan diri untuk hal itu. Meski pernikahan adalah urutan nomor sekian-sekian yang belum siap untuk ditindak lanjuti, kita juga harus berdo'a dan berikhtiar yang sebaik-baiknya.
Bukankah jodoh adalah cerminan diri kita?

Apalagi seorang perempuan adalah ladang bagi suaminya kelak. Pelihara diri sebaik-baiknya dan belajar ilmu dunia akhirat. Pantaskan diri di hadapanNya, sibukkan diri hanya mencintai-Nya, kejar cinta-Nya. Jika menurut-Nya kita sudah pantas diberi teman sehidup dan sesurga (Insya Allah), maka ‘kun fayakun’…
Terjadilah….‘dia akan datang menemui walimu’ 😊
Alangkah indahnya jika yang menjodohkan adalah Allah, segalanya berkah dan tentu saja romantis dengan cara-Nya.

Kepada jodoh:

“sabar yaah…kelak kita pasti bertemu atau barangkali kita sudah pernah bertemu namun tabir-Nya belum terungkap bahwa yaah inilaah ‘jodoh-ku’.
Saat ini aku masih sibuk untuk belajar dan sibuk dengan urusanku, bukan karena aku egois. Bukan karena aku tidak ingin segera berjumpa denganmu. Tentu saja ada kerinduan yang sangat mendalam untuk bisa melihatmu dan membersamai langkahmu, tetapi kerinduan itu tidak lantas harus kita wujudkan dengan mengikuti langkah-langkah setan dan sekutunya. Di luar sana, ada begitu banyak yang berlomba-lomba mencari jodohnya dengan jalan yang salah. Terjebak dengan hubungan yang tidak diridhoi-Nya. Lantas akhirnya menjemput jodohnya dengan jalan yang salah pula. Aku tidak merasa diri ini benar. Justru karena aku ini salah. Aku pernah berbuat salah bahkan sering sekali terluka karena kesalahan dan kebodohanku hanya karena perasaan. Padahal perasaan itu mudah sekali terbolak balik. Bisa kamu bayangkan bukan? Bagaimana kebodohanku itu?

Karena itulah aku memutuskan untuk belajar. Mencari ilmu-Nya dan mengenal cinta-Nya.

Aku takut bertemu kamu di jalan yang salah atau bersamamu namun Allah justru murka kepada kita. Apa jadinya rumah tangga kita bila memang kita berjodoh tapi berjodoh di jalan yang salah. Berjodoh namun tidak mengundang keberkahan melainkan mendatangkan kezaliman bagi diri kita dan keturunan kita. Na'udzubillah…semoga hal ini tidak terjadi kepada kita.

Karena itulah aku harus sibukkan diri untuk belajar. Karena perkara jodoh pun ada ilmunya. Rumah tangga adalah tanggung jawab dunia akhirat. Sangat beraat sekali menjalaninya bila kita tidak belajar ilmunya dengan baik.

Aku tidak mencarimu dan tidak pula menunggumu. Aku tahu kamu sesuatu yang tidak pasti aku ketahui kapan datangnya. Tetapi janji-Nya Allah itu pasti. Kesabaran pasti berbuah manis. Aku hanya melangkah…kusandarkan langkah ini kepada-Nya. Kulalui begitu banyak perjalanan yang entah di jalan mana kelak nanti kita akan saling menemukan. Yang pasti dalam langkahku, aku pun sangat merindumu. Maka kutitip rinduku ini pada buku-buku, kutitip rinduku pada wajah-wajah sahabat baruku di perantauan, namun aku tidak juga menemukanmu, entahlah barangkali kamu belum memberanikan dirimu untuk menghampiriku. Atau barangkali kamu juga masih sibuk pada urusanmu sama seperti diriku. Menyandarkan pada Allah dan menitipkan rindumu pada do'a-do'a dan harapan bahwa nanti kamu akan datang suatu hari nanti dengan ilmu dan iman yang cukup sebagai penyempurna sebagian ilmu dan iman yang ada pada diriku”.

Surabaya, 6 April 2016