fahmie

Tentang Rezeki

Barangkali banyak yang bertanya, bagaimana bisa seorang mahasiswa semester akhir yang sedang mengerjakan skripsi dapat tiba-tiba memutuskan untuk menikah dengan mahasiswa ko-ass kedokteran yang hampir setiap semester mengajukan keringanan UKT. Barangkali banyak yang bertanya pula, bagaimana bisa mereka berdua bertahan hidup terpisah dari orangtua tanpa dibiayai orangtua kecuali untuk biaya pendidikan saja. Barangkali banyak yang bertanya pula, bagaimana mereka bisa haha-hihi, makan-makan, dan ke sana ke mari tanpa kekhawatiran akan rezeki.

Beberapa orang mengira Fahmi tidak bekerja. Padahal tidak mungkin Fahmi dulu berani datang ke rumah kalau ia sendiri masih bergantung sepenuhnya pada orangtua. Fahmi mengajar tahfidz di sebuah rumah tahfidz di daerah Sleman. Mungkin gajinya tidak seberapa. Tapi hari ini, sebuah kemewahan yang tak terkira rasanya, jika tempat tinggal dan makan sudah tidak perlu ditanggung oleh diri sendiri. Apalagi kalau jam kerjanya hanya setelah subuh dan setelah maghrib, sehingga kuliah dan kegiatan akademik lain hampir tidak terganggu sama sekali. Inilah yang dulu Fahmi tawarkan untuk ia bagi dengan saya. Jauh dari bermewah-mewah mungkin, tapi tidak bisa dibilang kurang.

***

Ada satu pelajaran yang orangtua kami sama-sama tekankan kepada kami. Bahwa rezeki itu sudah dijamin oleh Allaah. Allaah sendiri yang bilang, bahwa ‘tidak satu makhluk pun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin oleh Allaah rezekinya’ (Hud:6). Kalau dalam bahasa Abah, beliau sering katakan, ‘nggak usah khawatir masalah rejeki, nanti Allaah yang cukupi’. Dalam ayat yang lain Allaah bahkan dengan spesifik katakan, ‘dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allaah akan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allaah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui’ (An-Nur: 32). Orangtua kami memegang betul janji Allaah itu, sehingga besarnya gaji tidak menjadi kekhawatiran sepanjang ada ikhtiar untuk terus mencari rezeki.

Karena Allaah sudah jamin rezeki masing-masing orang, maka sebetulnya menikah itu bukan berarti membagi dua rezeki suami dengan rezeki istri. Suami memiliki rezekinya sendiri, sedangkan istri memiliki rezekinya sendiri. Itulah mengapa ada yang bilang bahwa banyak anak banyak rejeki. Karena rezeki anak itu bukan literally dari rezeki orangtuanya, tetapi setiap anak akan membawa rezekinya masing-masing. Meski, yang kemudian perlu dipahami adalah, bahwa rezeki itu tidak melulu berbentuk rupiah, tapi dapat berupa kesehatan, kesempatan, rasa kenyang, rasa senang, dll. Karena bahkan rezeki sendiri definisinya adalah semua kebaikan dan maslahat yang dinikmati oleh seorang hamba.

Setelah menikah, kami betul merasakan apa yang Allaah janjikan itu. Saya dan Fahmi menggunakan aplikasi di smartphone untuk mengatur keuangan keluarga. Aplikasi itu memungkinkan kami mendapatkan laporan keuangan dengan kategori pemasukan atau pengeluaran yang begitu detail. Misal gaji tetap adalah X, tapi setelah kami lihat laporannya ternyata arus uang yang keluar-masuk bisa mencapai 4 kalinya X. Ada saja rezeki tambahan yang Allaah beri selain dari gaji. Fahmi sendiri bingung bagaimana bisa begitu, karena sebelum menikah belum pernah arus keuangannya sebesar itu. Begitulah rupanya cara Allaah menjamin rezeki kami.

***

Ada satu hal lagi yang kami selalu pegang terkait jaminan rezeki oleh Allaah ini. Bahwa besarnya rezeki kita, hanya Allaah yang tahu. Misalnya gaji Fahmi adalah X. Namun belum tentu rezeki yang Allaah tentukan itu adalah sebesar X, bisa jadi lebih atau kurang. Kalau rezeki yang Allaah tetapkan lebih, maka Allaah akan tambahkan rezeki kami dari sumber yang lain.

Kalau rezeki yang Allaah tetapkan kurang dari gaji Fahmi, maka Allaah akan keluarkan rupiah yang diterima sampai besarnya sebesar rezeki yang Allaah tentukan. Cara Allaah untuk mengeluarkannya bisa jadi dengan cara yang tidak mengenakkan seperti diberi sakit sehingga harus berobat, kecopetan, kerusakan sehingga harus mengeluarkan biaya servis, kecelakaan, dll.

Kenapa bisa begitu? Karena Allaah bilang, ‘dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya’ (An-Najm:39). Misalnya seseorang mendapat gaji sebesar X dengan melakukan A, B, C, dan D. Tapi dalam prakteknya, orang tersebut hanya mengerjakan pekerjaan A dan B saja, sedangkan gajinya tetap X. Maka sebetulnya sebagian dari gaji sebesar X-nya itu bukan hak orang tersebut. Di sinilah Allaah akan paksa untuk keluarkan rezeki orang tersebut sehingga keluarlah apa yang bukan haknya dengan cara yang tidak mengenakkan.

Konsep inilah yang kemudian menjelaskan kenapa sedekah dapat menolak bala. Misalkan gaji seseorang adalah Rp 1.500.000,00, tapi rezeki yang Allaah tetapkan adalah Rp 1.000.000,00. Orang tersebut kemudian menyedahkan Rp 700.000,00 dari total gajinya. Maka, Rp 700.000,00 yang ia sedekahkan itu menjadi pahala sedekah untuknya, sedangkan Rp 200.000,00 yang merupakan bagian dari rezeki Allaah untuknya yang ia sedekahkan akan dikembalikan lagi kepadanya karena sudah merupakan ketetapan Allaah untuk menjadi rezekinya. Rp 500.000,00 yang bukan merupakan hak orang tersebut sudah hilang tanpa Allaah perlu memaksanya hilang. Berarti orang ini sudah menghilangkan potensi ‘musibah’ yang akan menimpanya, sekaligus menambah catatan pahala karena bersedekah.

Untuk itu, kita perlu sekali memenuhi apa yang diamanahkan kepada kita, terlebih perihal pekerjaan yang menjadi sumber nafkah. Karena bisa jadi apa yang kita terima bisa jadi jauh dari yang ‘seharusnya’ kita terima akibat dari kekurangamanahan kita. Untuk itu pula, kita perlu rajin-rajin sedekah untuk membersihkan harta sekaligus menolak bala.

***

Dua konsep di atas jika dipegang dan dilaksanakan mungkin sudah cukup untuk membuat orang survive tanpa kekhawatiran akan harta. Tapi ada dua lagi janji Allaah untuk menambah nikmat hambanya, yakni dengan syukur dan taqwa. Banyak orang di luar sana mati-matian mencari uang dengan dalih supaya kaya. Tapi ternyata setelah kaya, mereka tetap tidak puas dan terus saja mencari kenikmatan dunia. Mereka rupanya kehilangan apa yang Allaah janjikan tadi. Mereka lupa untuk bersyukur, dan mungkin mereka luput untuk bertaqwa. Karena sungguh, Allaah berfirman, ’sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’ (Ibrahim:7). Dan di ayat yang lain, 'Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu’ (At-Tholaq:2-3)

Semoga kita termasuk dalam golongan yang senantiasa bersyukur dan bertaqwa. Semoga, Allaah lapangkan dan berkahi rezek kita serta menjauhkan kita dari bala.

Rabbi auzidni an asykuro ni'matakallatii an'amta alayya….

4

The beautiful dancers in Beyoncé’s Grammy performance:

Jasmine Badie | Fulani Bahati | Dnay Baptiste | Tasha Bryant | Winnie Chang | Aahkilah Cornelius | Hannah Douglass | Ashley Everett

Hajiba Fahmy | Amandy Fernandez | Kim Gingras | Kimmie Gipson | Jasmine Harper | Sisley Loubet | Saidah Nairobi | Brittany Parks

Taja Riley | Deijah Robinson | Rebbi Rosie | Ashley Seldon | Ebony Williams | Tajana Williams | Quinny Wilmington | Khadijah Wilson

Novel Kang Abik dan Mensyukuri Muzammil

Dulu, setiap kali membaca novel karya Kang Abik, saya selalu merasa bahwa tokoh yang dilukiskan kang Abik dalam novel beliau terlalu malaikat. Fahri, Azzam, Fahmi, Afif, Anna, Aisha, Husna, hingga Aina. Semuanya adalah orang-orang keren yang luwes dan memahami Islam dengan sangat baik.

Saya dulu membayangkan bahwa mereka semua adalah tokoh dongeng yang tidak akan terwujud di dunia nyata. Tapi semakin jauh saya melangkah, saya menemukan banyak profil yang shalih, cedas dan matang. Alhamdulillah Allah mentakdirkan sebagiannya hadir tidak jauh dari jangkauan saya.

Tiga dari lima murobbiyah saya zaman kuliah, saat ini sedang menempuh PhD di Eropa (satu di Bristoll, satu di Frankfurt, dan satu lagi di Aberdeen). Murobbiyah saya yang di Aberdeen bahkan sudah menghafal 30 juz. Terakhir saya mendengar kabar bahwa beliau sudah menunaikan cita-cita beliau untuk muroja’ah di Selat Bosphorus, Turki.

Sementara dua murobbiyah saya yang lain memilih menempuh jalan menjadi ibu rumah tangga yang bagi saya tidak kalah hebatnya. Ibu yang pertama punya 6 orang anak shalih shalihah. Beliau menjadi ibu rumah tangga yang juga sibuk berkhidmad di ruang publik dan aktif memberi penyuluhan tentang ketahanan rumah tangga. Ibu yang kedua punya satu anak (sekarang sedang hamil anak kedua) juga dekat dengan masyarakat dan banyak memberikan pelatihan tentang kerajinan tangan.

Melalui beliau semua, saya seolah menemukan profil wanita shalihah dan bermanfaat. Sejak itu, saya berfikir bahwa tokoh dalam novel-novel kang Abik bukanlah tokoh fiktif. Mereka bahkan bisa kita ikhtiarkan untuk ‘dicetak’ secara massal bila kita bergerak dan bersinergi dalam dakwah.

Keramaian hari patah hati nasional setelah Muzammil Hasballah menikah membuat saya geli sekaligus bersyukur. Geli melihat respon para akhwat yang minta dicubit…..bisa-bisanya udah ngaji lama tapi kok masih posting galau lihat Muzammil nikah.

Bersyukur karena kita mulai bisa mengangkat profil idola baru yang berbeda dengan idola yang lain. Sebelumnya, hari patah hati nasional ada karena Song Joong Ki dan Hamish Daud ketemu jodoh, Alhamdulillah ternyata imam muda dari ITB ini juga bisa bersanding dengan dua figure sebelumnya dimana kalau dua figure sebelumnya diidolakan karena wajah, Muzammil diidolakan sebagai sosok shalih yang kekinian.

Saya, meskipun tidak suka dengan figuritas, tetap tidak bisa menafikan bahwa figur idola di suatu zaman pastilah menjadi standard dimana kalau orang lain ingin di sebut keren, dia harus bisa merubah dirinya menjadi mirip dengan figure yang diidolakan.

Lebaran tahun lalu, anak di kampung saya mengidolakan Boy dan motornya. Saya nggak tau Boy itu siapa, soalnya saya jarang banget nonton TV ~XD Kok pas ditanya si Boy siapa, ndilalah ternyata sosok Boy itu cuma cowok kaya yang hobi motoran ngalor ngidul bersama ceweknya. Kisah si Boy ini diramu seheroik mungkin hingga tokoh yang menurut saya biasa aja malah jadi idola para remaja tanggung.

Dunia kita ini selalu penuh perang pemikiran. Maka menghadirkan sosok idola yang baik juga termasuk dakwah bagi generasi muda. Saya kadang cemburu melihat sosok-sosok yang ada di hafidz Indonesia RCTI, iri ngelihat Wirda Mansyur yang masih muda tapi hafal Al Qur’an dan berwawasan luas sementara saya masih gini-gini aja.

Tapi setiap kali melihat mereka, saya semakin sadar bahwa pekerjaan rumah kita adalah mengkondisikan lingkungan agar bisa menghasilkan generasi-generasi yang cerdas dan mampu memikul amanah dakwah di usia muda. Seperti Usamah bin Zaid yang menjadi panglima di usia 17. Seperti Imam Syafi’I yang hafal Al Muwatha’ usia 9 tahun.

Kalau target kita adalah menghasilkan generasi-generasi unggul seperti Usamah dan Imam syafi’I (saya bilang generasi, bukan hanya anak kita aja), berapa jauh lagi perjalanan kita? Masih jauh banget.

Di tumblr aja umur 20 tahun masih sibuk nanya “Gimana kalau kangen sama lawan jenis ~XD” padahal udah tau kalo Islam udah ngasih tuntunan. Kalo kangen mestinya ya diberaniin ngelamar ato kalo nggak berani ya puasa terus dzikir ~XD. Saya ga ada maksud mengolok-olok recehnya pertanyaan ini. Toh bagaimanapun pertanyaan yang demikian juga ada karena lingkungan kita belum mampu untuk jadi support system buat numbuhin generasi yang matang di usia balighnya.

Jadi keinget pas ngobrol sama Bapak saya perkara usia siap nikah. Bapak saya ngejawab “Yaa mestinya orang yang udah baligh dan mukallaf (bisa membedakan yang benar dan yang salah) udah bisa dikasih tanggung jawab buat nikah”

“Tapi kan umur segitu belom kerja Pak? Malah ngerepotin orang tua yang ada”

“Itukan logika kamu yang hidup di zaman kayak gini. Logika di zaman nabi beda karena di usia baligh, orang udah matang pikirannya. Abdullah bin Umar aja ikut perang umur berapa?”

Dakwah pada dasarnya harus punya visi untuk membentuk kestabilan diri juga membentuk kestabilan lingkungan hingga menghasilkan generasi yang shalih dan menshalihkan.

Meskipun perjalanan masih sangat jauh, saya bersyukur karena generasi muslim yang shalih seperti Muzammil Hasballah, Alvin Faiz dan Wirda Mansyur banyak bertumbuhan. Mestinya kita tidak hanya memandang fenomena pernikahan Muzammil dan Sonia ini dari euphoria hari patah hati nasional saja. Tapi bagaimana kita mengamati lingkungan tempat beliau tumbuh agar kelak kita bisa punya gambaran untuk menghasilkan generasi yang minimal shalih dan cerdasnya sama. Atau bahkan lebih shalih lagi.

Jadi buat sayaa, It’s ok kalo ada ngerasa sedih pas lihat Muzammil menikah. Paling tidak, gambaran kalian tentang suami idaman udah lurus. Yang penting dijaga izzah dan iffahnya. Jangan khawatir, jodoh udah ada yang ngatur.

Dan bagi para Ikhwan, nggak perlu terlalu bahagia karena Muzammil sudah menikah terus kalian ngerasa saingan berkurang. Jodoh itu bukan piala yang harus diperebutkan. Juga bukan seperti sandal masjid yang bisa ditukar-tukar.

Yang penting bagi kita semua adalah bagaimana berusaha untuk terus memperbaiki diri, bukan hanya demi bersiap menyambut jodoh yang baik, tapi juga bersiap menunaikan amanah peradaban setelah menikah kelak.

Memulai dulu sesuai kapasitasmu. Lakukan dulu sesuai kemampuanmu. Berikan dulu yang terbaik sampai batas kamu mampu.
Kita belum tau akan bagaimana ke depan kalau kita tidak memulai.

Mimpi tanpa aksi sama saja halusinasi. Kreatifitas tanpa integritas sama saja malas.

— 

Again, bisnis itu dijalanin, bukan dibingungin apalagi ditakutin :) Kalau belum sanggup memulai banyak mulailah dengan sedikit.
Percaya, sesuatu yg baik akan segera tiba :))

- Fahmi Hendrawan, FATIH Clothing-

writing

gue mulai nulis sejak awal kuliah dan baru beneran serius blogging sekitar 10 bulan yang lalu. Sebelum ini, gue punya blog polarissky yang mempertemukan gue sama @purpleblueandmint , mbak-mbak INFJ yang kalemnya minta ampun. Sama kayak @martabakkeju yang awalnya ngobrol di tumblr doang terus ketemu di dunia nyata. Si Lala kenal gue pas dia masih di Kendari terus kami berdua meet up pas Lala ambil master di Teknik Informatika ITS.

Habis itu, polarissky gue ganti namanya jadi littleschwan. Dan gue belum serius blogging soalnya littleschwan itu emang ditujukan buat ngelatih pola pikir gue aja. Littleschwan ini gue hapus gara-gara followernya terlalu banyak meanwhile gue belum ngerasa siap untuk bertanggung jawab atas tulisan-tulisan gue.

Nah, karena gue emang dasarnya suka nulis, gue nggak tahan buat nggak punya blog. Akhirnya gue bikin tumblr baru lagi dengan nama littleschwan yang endingnya gue ganti lagi pake nama deamahfudz biar tumblr gue ga anonim. Sebenernya, gue itu lebih suka anonim. Tapi karena apa yang gue tulis disini dibaca banyak orang, akhirnya gue pake nama sendiri sebagai bentuk tanggung jawab gue atas segala hal yang gue tulis di sini. Habis lebaran lalu, blog ini sempet agak heboh gara-gara gue ngejawab ask temen gue soal “Kafir”. Followernya naik drastis banget. Hampir gue hapus lagi tapi gue dapet nasihat dari @purpleblueandmint . Jadi yaudah gue pasrah. Mungkin udah takdir tumblr ini dibaca banyak orang -.-

Banyak yang nanya, apakah gue ga pengen nerbitin buku?

ada juga yang nanya,

ga pengen buka kelas nulis buat ngajarin gimana nulis dengan runtut dan enak dibaca?

perkara nerbitin buku, dari dulu sebenernya gue pengen tapi gue belum berani karena gue dulu ngerasa belum bisa berdamai dengan pikiran-pikiran gue. Yang perlu diinget oleh penulis bahwa buku yang dia tulis akan dibaca orang lain dan mungkin saja bakal mempengaruhi pikiran pembaca. Maka di awal proses menulis, yang pertama harus dibangun justeru rasa tanggung jawab terhadap apa yang kita tulis. Semua orang memang berhak mengutarakan opini dalam bentuk buku atau tulisan tapi suatu saat kita akan dimintai pertanggung jawaban atas segala opini yang kita tulis. Gue teringat nasihat ustadz Cholis Akbar di Suara Hidayatullah tentang Fiqih Jurnalistik bahwa dalam penyampaian opini dan berita, kita tidak boleh sekedar menyampaikan berita atau opini tersebut dengan mentah tanpa strategi sama sekali. Harus ada upaya untuk menganalisa bagaimana reaksi ummat atas hal-hal yang kita sampaikan hingga kita bisa menyampaikan kabar atau opini dengan cara yang baik dan menggiring ummat pada kebaikan. Maka buat gue, nulis buku itu bukan cita-cita yang gue kejar dalam waktu singkat. Butuh waktu untuk berlatih mengendalikan ego dan menyampaikan sesuatu dengan cara yang baik.

Masalah kelas menulis, ah gue rasa sudah banyak penulis yang mumpuni buka kelas menulis. Lagipula, tulisan gue itu sebenernya banyak yang misleading lho dalam artian gue nyampein A dengan tambahan B tapi yang ditangkep pembaca malah B nya :p

Menulis itu bukan sekedar perkara diksi atau alur. Sebab dalam membentuk gaya bahasa dan alur penyampaian, setiap orang punya prosesnya sendiri. Dan setiap penulis, punya ciri khasnya masing-masing.

Latihan menulis memang bisa membantu tapi inti dari belajar menulis bukan itu. Menulis itu tentang bagaimana kita menyampaikan perspektif kita sendiri dengan tetap menghargai perspektif orang lain. Dulu pas kuliah, guesempat gabung sebentar di ITJ (Indonesia Tanpa JIL). Pada masa itu, gue banyak nulis counter opini untuk JIL secara emosional. Gue bilang emosional karena tulisan gue ga pake mikir dan langsung counter opini dengan argumen “pokoknya kamu salah dan kamu nggak boleh gitu”. 

Setelah itu, gue vakum nulis tentang liberalisme dan sekularisme karena gue ngerasa apa yang gue tulis hanya pemaksaan perspektif gue sendiri tanpa menghargai perspektif orang lain. It doesn’t mean gue setuju atau nganggep tafsir Al Qur’an dengan cara orang Liberal itu benar. Menghargai di sini dalam artian gue nggak boleh menulis opini secara emosional, berdasarkan asumsi sendiri dan ilmu gotak gatik gatuk. 

Dalam menulis argumen, kita harus berani total mencari referensi. Meskipun tulisan kita ga sampe level akademisi seperti Ustadz Adian Husaini, ustadz Hamid Fahmy Zarkasyi atau Syed Naquib Al Attas. Tapi minimal jangan pakai persepsi sendiri dan langsung mengatakan pemikiran orang lain salah. Perdalamlah referensi biar kita bisa mengupas lebih dalam ide seseorang hingga kita tahu di titik mana pikiran kita sama serta di titik mana pemikiran kita mulai berbeda. Dari situ kita bisa mulai mengcounter dengan cara yang baik.

Banyak yang bilang bahwa sekarang ini adalah era teknologi informasi yang paradoks dimana keran informasi semakin terbuka lebar namun kita menjadi semakin bodoh. Buat gue, teknologi itu alat. Cara hidup manusia memang bisa berubah karena teknologi tapi bukan berarti teknologi bisa mengendalikan kita. Kita harus stop blaming ke teknologi karena teknologi cuma benda mati. Fenomena paradoks di era teknologi informasi hari ini adalah kesalahan kita yang terlalu terpaku dengan media sosial sehingga kita lupa mengasah perspektif kita lebih mendalam.

Gue aktif di medsos. Ngecek instagram, twitter dan medium tiap pagi buat tau perkembangan yang terjadi. Gue juga nyisihin budget buat nonton film untuk mengetahui bagaimana imajinasi khalayak tentang dunia. Tapi gimanapun, kita nggak boleh terjebak di situ saja.

Kita perlu membaca buku yang kata orang lain ‘berat’. Dulu gue nggak sanggup baca buku shirah nabawinya Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury. Tapi pas gue nyoba menaklukkan buku itu, gue jadi pengen nyari yang lain sampe gue ketemu karya Buya Hamka, Muhammad Natsir, Syaikh Qardhawiy, Sayyid Qutub, Said Hawwa, Tariq Ramadhan, Syed Naquib Al Attas, Hamid Fahmy Zarkasyi, Wan Mohd Nor Wan Daud, Walter Isaacson, Karen Armstrong, dan lain-lain.

Membaca buku-buku yang demikian wajib sebagai seorang muslim agar kita bisa meringankan tugas para ulama. Kadang gue ngerasa kasihan sama ulama ketika ada orang yang berkomentar:

“Ah pembahasannya terlalu berat untuk orang awam”

apakah selamanya kita akan berkata demikian? Kapan kita beranjak dan merubah bataskeawaman? anggaplah bila yang disebut awam hari ini adalah orang yang belum bisa baca tulis huruf hijaiyah, mestinya beberapa tahun lagi, batas awam harus bergeser sehingga definisi orang awam adalah orang-orang yang minimal tahu dasar-dasar ilmu fiqih.

Dalam proses membaca, kita pasti bakal bertemu dengan teori atau opini yang tidak sesuai dengan pandangan kita. Contoh kecil aja opini tentang Rohingya. Ada yang bilang bahwa ini bukan konflik agama, opini tersebut kemudian beradu langsung dengan opini yang mengatakan bahwa rohingya adalah konflik agama.

Di ask, ada yang nanya gimana sikap gue tentang opini yang dibentuk dalam konflik rohingya dan apa yang bisa dilakukan selain aksi dan menyumbang uang.

Bagi gue, mau berpendapat itu konflik agama atau bukan, asal kesimpulan tersebut disimpulkan dari informasi yang valid, gue bakal hargain. Karena dalam hal ini, kita punya keterbatasan. Bisa jadi dua kubu itu punya informasi yang valid namun kurang menyeluruh sehingga kesimpulan yang didapat berbeda.

Konflik agama atau bukan, yang terpenting hari ini adalah gerak cepat untuk memberi bantuan. 

Apa yang bisa kita lakukan selain aksi dan ngasih sumbangan mungkin salah satunya adalah mendidik diri biar tidak emosional memproses informasi. Mungkin kita bisa mengumpulkan data tentang berita dan foto mana saja yang hoax dan fakta. Ini penting banget untuk mencegah kemungkinan konflik yang lebih besar.

Jangan sampai juga kita dikenal sebagai ummat yang emosional dan tidak bisa dipercaya karena informasi yang kita sampaikan berasal dari hoax padahal para ulama di era sahabat dan tabi’in terkenal valid informasinya karena adanya sanad.

Kita nggak bisa membenci opini orang lain. Yang bisa kita lalukan adalah mengkritik dengan cara yang santun dan berbekal informasi yang valid. Hal ini tentunya nggak bisa kita lakukan bila kita masih menganggap bahwa menulis itu cuma perkara diksi dan alur.

Anyway,

Pramoedya Ananta Toer dan Buya Hamka sangat sering berselisih tapi mereka berdua tetap santun saat bertemu. Muhammad Natsir dan Bung Karno pun sering adu argumentasi di harian Panji Masyarakat dengan tulisan yang santun dan dalam.

Semacam kemunduran ketika gue ngelihat twitwar perkara rohingya dari generasi 150 karakter seperti kita yang sering emosional dan berbekal foto hoax. Gue ga bermaksud mengecilkan semangat dalam membahas kasus rohingya. Hanya saja, kita perlu mengubah tradisi literasi kita. Agar sebelum menulis sesuatu, kita sudah terbiasa menundukkan ego kita sekalipun ego tersebut mengarahkan kita ke arah yang benar

Selamat menulis. Selamat berlatih. Sorry panjaang banget tulisannya.

“I was born deaf, and I’m a teacher of the deaf. In my family, only my sister and I are deaf. I was called to Dadaab Refugee Camp twice for interviews as I was promised to be relocated to a different country. I had difficulty finding an interpreter that could understand my language and convey my words but what was much worse was that on the first occasion that I was called to Dadaab, my mother passed away. I rushed back for her burial. The second time I was called to Dadaab for an interview, my father passed away. Since then, my grief turned into depression. I then made the conscious decision to relocate to Dadaab with my deaf sister permanently. We noticed that there were many deaf Somalis who didn’t know the sign language and there was a clear barrier between them and society. I signed up as a teacher for the deaf, and now I teach deaf children from class 1 to class 6. I teach them the Kenyan Sign Language, Mathematics and Creative Arts knowing that they will have a chance in life. I found my purpose and I’m smiling again.”

(Dadaab Refugee Camp)

“Waxaan dhashay anigoo naafo ka ah dhagaha hadana waxaan ahay macalin  caruurta  dhagoolayaasha ah. Qoyskayaga aniga iyo walaashay ayaa maqalka naafo ka ah. Aniga waxaa  dhacaday  in la iga yeeray kaamka qaxootiga ee Dhadhaab laba jeer  si  aan waraysi   la iga qaado,  balantu waxay ahayd in wadan kale aan ka helo dib-u-dejin. Markaas waxaa igu adkaatay in aan helo turjumaan fahmi kara hadalkayga isla markaana gudbin kara waxaan u sheego oo sax ah, laakiin taas waxaa kasi darayd markii kowaad aan tagay Dhadhaab in hooyaday dhimatay  kadib waxaan ku noqday  aaskeedi. Hadana markii labaad ee waraysi la igu yeero Dhadhaab waxaa igu dhacday in isla markana uu dhintay aabbahay Markaas kadib xaaladaydu waxay isku bedeshay mid murugo ah. Kadib waxaan go’aansaday aniga iyo walaashay oo iyaduna dhagaha naafo ka ah in aanu si rasmi ah ugu guurno Dhadhaab. Waxaanu  ogaanay in Soomaali badan oo  maqalka naafo ka ah ay ku noolyihiin xerada Dhadhaab, hadana waxaa jiray caqabado iyaga iyo bulshada u dhaxeeyey. Waxaan saxiixay heshiis in aan noqdo macalin wax bara caruurta dhagaha naafada ka ah inta u dhaxaysa fasalka 1-aad ilaa fasalka 6-aad waxaan baraa luqada calaamadeedka ee Kiinya iyo xisaabta iyo farshaxanka  si ay u ogadaan in ay haystaan fursad nololeed. Waan helay ujeedaydi markasta waa dhoola cadeeya waanan  ku farxaa.”

(Xerada qaxootiga ee Dhadhaab)

Source: Dahlia Fahmy

A MOAB was just dropped in Afghanistan. Used for the first time, it is a 21-thousand pound bomb. It is not just a target weapon but is also administered for psychological warfare. It’s a concussive blast that obliterates and for miles causes bleeding ears.

Radius damage:
* Up to 1,000 yards: Obliterates everything.
* Up to 1 mile: Knocks people, tents, light buildings, cars and jeeps over within 1-mile radius.
* Up to 1.7 miles: shock wave kills people, causes severe damage to buildings, equipment, blows trucks, tanks off road.
* Up to 2 miles: causes deafness.
* Up to 5 miles: shakes ground, breaks windows.
* Up to 30 miles: 10,000 foot high mushroom cloud visible.

“To be a refugee is distressing enough but what’s worse is being a refugee in your own country. It’s a form of deep humiliation that I wouldn’t wish on my worst enemy. Every day, we are reminded of our status, where we are cut off from our memories; our childhood; our past; our present and our future.  Why do we always have to bear the brunt of someone else’s doings? Why are our children robbed of decent upbringing, where we are forced to move from place to place for help; relying on the good will of others? To the millions of refugees around the world, only a fellow refugee can understand your humiliation and suffering.”

(IDP Camp)

“In aad qaxooti noqotaa ayaa dhibaato kugu filan, laakiin waxaa kasii xun in aad dalkaaga dhexdiisa qaxooti ku noqoto.  Waa mid  aad i damqada aanan qofna bini aadan u rajeynin. Maalinkasta nala xasuusiya darajada joogno. Xusuus ma jiro, taariikhdeeni iyo mustaqbalkeeni lumay. Maxaanu markasta ugu  dhimanayna khalad qof kale sameyey? Caruurteeni mustaqbalkoodii waayeen anagoo markasta ku xiran dad kale. Isku filaansho ma jiro. Dhamaan malaayiinta qaxootiga ah ee ku nool dunida guudkeeda, keli qof qaxooti ah ama mid soo maray baa fahmi kara dullinimada iyo dhibaatada idin haysato.”

(Xerada Barakacyaasha Gudaha)