eskalators

Tag 40
  • J: lassen Sie mich raus, spazieren
  • Nachtwache: nein, nach neun Uhr darf keiner mehr raus
  • J: SIE TOCHTER EINER HURE
  • J greift sich einen Blumentopf.
  • Kurz darauf fliegt dieser an meinem Kopf vorbei in Richtung Nachtwache und zerschellt an der Wand.
  • J beginnt zu hyperventilieren
  • Die Nachtwache geht auf sie zu
  • Ich: bleiben sie weg.
  • Nachtwache: was erlaubst du...
  • Ich: BLEIBEN SIE WEG!
  • Ich halte J fest und umarme sie doll.
  • Sie weint.
  • Nachtwache: Soll ich jetzt den Alarm auslösen oder was?
  • Ich: WAGEN SIE ES NICHT! Sie regen sie noch mehr auf, bitte, kommen sie einfach nicht näher.
  • Die anderen Jugendlichen sind aufgewacht und kommen schauen was los ist.
  • Um mich und J bildet sich eine Traube aus Teenagern, die einen reden aufgeregt, andere versuchen J zu beruhigen.
  • Ich nehme ihren Kopf in die Hände.
  • Ich: Schau mich an J! Schau mich an!
  • Sie blickt mir in die Augen.
  • Es kommt mir vor wie Stunden, doch ihr Atem normalisiert sich.
  • Aufregender Abend.
  • Am nächsten morgen will Herr M mit mir reden. Ich denke dass ich Probleme bekomme weil ich die Nachtwache angeschrien hab, aber er hat sich bedankt dass ich geholfen hab. Im grossen und ganzen also ein positives Erlebnis, in der Hinsicht dass ich in der Therapie gelerntes in einer stress-situation anwenden konnte.
  • Was ich besser hätte machen können, wäre die Nachtwache nicht anzuschreien sondern ruhig mit ihr zu reden.

anonymous asked:

I loved your kataang collection of favourite smut / lemon stories, so I was wondering, do you have any other favourites (don't necessarily have to be as mature in content) that you really like?

I sure do Anon!

  • Teenage awkwardy fluffy fics one shots (x) (x) (x) (x) (x) (x) (x) (x) (x)
  • More serious and/or angsty one shots (x) (x) (x) (x) (x)
  • Drabble or short chapter collections (x) (x) (x)
  • Shorter chaptered stories (x) (x) (x) (x) (x)
  • Longer chaptered stories (x) (x) (x)

Some of these I love and some of these are my forever favourites. You can also look through all 15 pages of my fic rec tag if this isn’t enough for you.

I also recommend anything by lg2124 eskalations themelonlordapproves and spirit-koi. For up and coming authors have a look at basingtei kataracy and dupreerose.

anonymous asked:

Was meinst du mit H Y D R A?

“Die ‘Hydra’ gilt als sprichwörtliches Gleichnis für Situationen, wo jeder Versuch einer Eindämmung oder Unterdrückung nur zu Ausweitung einer Eskalation führt. Die Hydra steht also für das, was man nur ‘kleinhalten’ kann, indem man es unberührt lässt.”

The Way I Lose Her: I'm Adult!

12 Desember
Pukul 19.00

.

Terkadang, perpisahan sengaja diciptakan Tuhan agar kedua-belah pihak mampu belajar lebih banyak dan lebih dewasa, sebelum pada akhirnya dipertermukan lagi, nanti.

.

Malam ini, udara jakarta bisa dibilang lebih aneh ketimbang udara di kota tempat kelahiran gue, Kota Bandung. Selain gerah yg keterlaluan, faktor geografi yg berada dekat pantai juga turut andil dalam membuat udara jakarta malam ini menjadi terasa lebih lengket di kulit. Biasanya kalau di Bandung, jam segini adalah jam wajibnya orang-orang mengenakan jaket dan mematikan AC. Sedangkan bagi orang jakarta, jam segini adalah jam wajibnya orang-orang untuk mandi cibang-cibung dan menyalakan AC sampe 20 derajat.

Mungkin benar kata orang-orang. Bahwa orang Bandung adalah orang yg paling susah diajak untuk pergi meninggalkan Bandung. Itu sebabnya hanya ada segelintir orang yg meninggalkan Bandung, itu pun untuk memunaikan kewajibannya dalam mencari nafkah.

Termasuk gue. Kalau gue gak ada kepentingan mendesak seperti ini, mungkin gue paling ogah untuk diajak ke jakarta. Kenapa? Alasannya simple. Jakarta itu gerah cuy! pffft.

Malam ini, sudah genap delapan kali gue pergi buru-buru ke wc hanya untuk sekedar buang air kecil doang. Selain dingin karena AC yg udah daritadi menclok di atas kepala gue, rasa grogi yg menjalar ke seluruh tubuh ini juga menjadi salah satu sponsor utama kenapa gue gak bisa berhenti untuk pergi ke WC.

Sudah dari pukul 5 sore gue duduk menunggu di sini, di deretan kursi pada sebuah ruangan luas bertuliskan “Ruang Tunggu” warna merah jambu. Ditemani oleh seseorang yg selalu ada kemanapun gue berada, temen sejati gue dari masa-masa SMA, Ikhsan.

Tapi gue heran, sudah lebih dari 30 menit temen abstrak gue itu menghilang dari pandangan gue. Awalnya dia izin mau cari makanan sih, tapi ntah kenapa sampai sekarang belum juga datang. Apa jangan-jangan itu anak tersesat ya?

Ah, ini nih yg kadang bikin gue menyesal bisa berteman sama Centong Nasi yg satu itu. Sifat sok tau-nya selangit, lagaknya aja so-soan kenal jakardah, tapi ngeliat minimarket bertuliskan 711 aja dia nyebutnya “Tujuh Sebelas”, bukan “Seven Eleven”

Melihat minuman khas 711 yg berasal dari parutan es aja dia bilang, “Es Serut”, bukan “Slurpie”. Maklum, ini anak otaknya hanya sebatas Surabi Enhai dan Batagor Riri. Jadi sampai kapanpun gak akan cocok kalau dibawa ke jakardah yg udah menjadi kota metropolitan gini.

Akhirnya, ketika gue lagi berusaha membetulkan resleting celana yg agak kendor lantaran terus-terusan gue buka tutup waktu ke WC ini, gue melihat sosok tuh anak muncul dari eskalator. 

Di tangannya dia membawa sebungkus makanan yg tertutup keresek warna hitam, dan sebuah kotak kecil tertutup keresek warna warni.

.

“Udah lama lo nunggunya?” Ucap ikhsan seraya menepuk pundak gue dari belakang.

“ah elu nyet, lu kemana aja? beli makanan di mana sih sampe lama gini? Dubai?”

“Yeeee ngaco. Gue sekalian cari hadiah dulu untuk menyambut kedatangan Tuan Putri kita.. Lah elu sendiri kenapa gak bawa hadiah?”  tanyanya lagi.

“Gue cukup bawa cinta aja untuk nyambut kedatangan dia” Jawab gue sambil memperbaiki kerah jaket agar bisa beridiri lebih tinggi menutupi leher.

“Bhahahahak PEDE amat lo setan!” Ikhsan memukul kepala gue.

“Yg ada juga ntar pas dateng, dia bakal meluk gue duluan. Pfft, masa lo lupa sama pernyataan dia sebelum berangkat dulu sih..” Lanjutnya sambil menaikan alis.

“Alah muka kaya centong nasi aja belagu lu!”

“Eits, ada udang rebon ngambek. Sorry, gue gak meladeni saingan gue ya.. bye~” Ucapnya sambil menutup kuping.

.

Sungguh, melihat anak ini bertingkah belagu dan songong luar biasa, pengen rasanya gue ngejorokin dia dari beranda Bandara ini.  

Ya, kita malam ini sedang berada di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Sebuah tempat di mana sering menjadi saksi bisu setiap kepergian yg dipaksa keadaan. Dan menjadi saksi bisu dari setiap peluk pertemuan yg tak pernah banyak bicara, namun sarat akan seribu makna.

Dan bagi gue sendiri, Bandara ini adalah tempat di mana rasa melepaskan kepergian seseorang menjadi terasa amat sangat menyakitkan.

Seperti yg udah gue jelasin di awal tadi, kedatangan gue ke jakardah ini kalau gak ada hal mendesak ya gue gak akan datang. Dan tentu ini mengartikan bahwa hal ini adalah hal yg sangat penting bagi kita berdua.

Hari ini kita lagi menunggu kedatangan seseorang yg sangat berarti buat kita berdua. Sudah lebih dari 4 tahun gue dan ikhsan diharuskan berpisah dengannya. Dan anehnya, sudah selama itu pula gue dan Ikhsan tetap kagum sama seorang wanita yg kedatangannya sangat kita tunggu-tunggu dari beberapa bulan silam ini.

Sembari sedikit memakan cemilan yg Ikhsan bawa dari luar Bandara, gue kembali bernostalgia tentang masa-masa di mana gue, ikhsan, dan dia pertama kali dipertemukan.

.

“Silahkan dimakan, nyet. Jangan sungkan, anggap saja makanan sendiri" Ujar ikhsan.

"Alaaaaah, barang gorengan doang lu so-soan mempersilahkan. Kaga usah lu persilahkan juga bakal gue makan.” Jawab gue ketus seraya buru-buru memisahkan jatah gorengan gue dan jatah gorengan dia.

“Bro…”

“Ngg?”

“Akhirnya ya..”

“Kenapa? pacar lu hamil?”

“…" 

"Makanya, lain kali maen aman. Jangan maen terobos aje.”

“…" 

"Iye,iye, gue ngerti. Gak usah pasang tampang menyebalkan gitu juga keleees..”

“Bercanda aja lo nyet. Btw, akhirnya ya kita ada di tempat ini lagi." 

"hmm”

“Udah berapa lama ya bro kita gak ketemu dia?” Tanya Ikhsan lagi.

“Sekitar 4 tahun lebih deh kayaknya. Eh btw lu niat beli makanan gak sih? cuma gorengan gini doang mana bisa kenyang? mana isinya cuma 10 biji lagi, pelit amat jadi orang.”

“Hmm udah lama ya, tuwir amat berarti kita. Tapi ntah kenapa gue tetep bisa kagum sama doi" 

"Iya, she’s totally perfect lah pokoknya. Belum ada yg bisa seperti dia. Eh nyet, mendoan gue tuh, ngapain juga lu comot setan!”

“Tapi, apa doi masih bakal inget kita, dim?” tanya ikhsan sembari ngunyah mendoan gue yg udah dia hak milik seenak perutnya sendiri.

“Yaelah, kalau elu sih mungkin dia lupa. Muka lu kan kaya candil pas mau buka Puasa. Alias pasaran. Btw ini cengeknya mana? kok tinggal 3 aja? terus itu pisang goreng perasaan tadi ada 3 deh”

“Ah elu, gue lagi serius nih, malah bercanda aja. Gue kangen dia dim.”

“Ya lo pikir elo doang yg kangen. Biar bagaimanapun dia juga sahabat gue, nyet. Aduh tenggorokan gue seret nih, aer dong bro..”

“Kira-kira apa kelak gue bisa jadian sama tuh anak ya dim?”

“Ah ngimpi lo. Centong nasi mana biasa pacaran sama bidadari. Mirip sama gorengan ini, dia itu anak orang kaya yg makananya mewah-mewah dan sehat, lha sedangkan kita-kita ini cuma sekedar gorengan berminyak seperti ini. Mana cocok.." Kata gue seraya mengacung-acungkan pisang goreng terakhir ini.

Dan… PLUK!!
Mendadak pisang goreng yg gue goyang-goyangin ini adonan krispinya lepas, alhasil pisangnya loncat indah dan jatuh ke lantai.

”…“

Ikhsan menatap gue.

”…“

gue menatap ikhsan.

”…“

kita berdua menatap pisang goreng bugil itu.

”…“

Pisang goreng bugil itu menatap kita berdua.

.

"EH SETAN ITU JATAH PISANG GORENG TERAKHIR GUE!!!” ucap Ikhsan sembari mukul gue pake botol aqua

“EH MALAH NYALAHIN GUE, LHA ELU SENDIRI NGAPAIN JUGA MALAH BELI GORENGAN YG KULITNYA LEMES BEGITU, JADI AJA JATOH KAN AH?!”

“EH LU GAK TAU TERIMAKASIH YA! MASIH MENDING UDAH GUE BELIIN, KAGA BERSYUKUR AMAT LO JADI ORANG. SINI BAYAR SETENGAH-SETENGAH TUH HARGA GORENGAN!!”

“Bentar, jadi lo minta gue buat patungan beli gorengan tadi?" 

"Iya lah, ditambah uang ongkos keluar bandara jangan lupa”

“Jadi lo perhitungan sama gue?" 

"apa sih yg engga buat elo..”

“Oke, kue nastar kemaren sore di rumah gue, siapa yg ngehabisin?”

“ngg..”

“Terus kemarin lusa, Mie Ayam pak Barjo yg depan rumah itu siapa yg bayarin?”

“Ngg.. anu..”

“Terus waktu lo putus sama mantan lo itu, yg nyumbang pizza domino buat ngehibur elu yg mewek sambil ngelus-ngelus foto mantan lo itu siapa?”

“…”

“Terus Parcel di rumah gue bulan lalu itu, siapa yg ngebuka?!”

“ngg.. bro.. itu kan elu sendiri yg buka..”

“Oh iya lupa. Tapi yg ngabisin isi parcelnya kan elo!”

“Bro, isi parcelnya kan udah kadaluarsa, elo sendiri yg dengan teganya nyuruh gue makan.”

“Oh iya juga ya. Ah tapi biarin, yg jelas kalau lo masih mau minta duit gorengan ke gue, bayar dulu itu semua makanan gue yg udah diakuisisi sama perut lo!”

“Iya deh iya, bawel amat. Lagian nyokap lo ikhlas-ikhlas aja waktu gue nyomot makanan di rumah lo” Jawab dia santai.

“APAAN?!! waktu lo udah pulang, gue dinasehatin kalau elu mau dateng, makanan di rumah harus disembunyikan terlebih dahulu!”

“Bhahahahak naas amat. Itu udah resiko lu berteman sama teman yg bersahaja kaya gue.”

“Tai! Sahaja mata lu soek!”

.

Tanpa kita sadari, percakapan kita di bandara malam itu menjadi daya tarik sendiri buat security setempat. Alhasil bukannya menunggu dengan tenang, kita malah ditanya habis-habisan sama security karena dinilai mengganggu ketertiban.

Temenanan sama nih bocah emang gak akan jauh dari yg namanya nasib buruk. Mungkin kesialan-kesialan yg gue lalui selama ini disebabkan oleh Fengsui tatak letak muka Ikhsan yg emang pada dasarnya kurang beraturan. 

.

Ting Tong..
Flight with flying number 104 has been arrived.

Mendadak pengumuman dari toa masjid yg dipasang di setiap sudut Bandara ini mengagetkan kita berdua.

“Eh bro bro, pesawat doi udah landing tuh” Ikhsan buru-buru merapihkan bajunya.

“Yoi, akhirnya dia dateng ya sob”

“Hahaha iya, gue jadi penasaran, sudah secantik apakah dia sekarang ya bro.." Tanya Ikhsan yg terlihat sangat antusias menatap kearah pintu kedatangan.

Mendengar pernyataan Ikhsan yg terakhir itu, gue mendadak sedikit tersenyum. Gue yg dari awalnya emang biasa aja, ntah kenapa sekarang jadi ikut-ikutan penasaran.
Gak mau terlalu berlama-lama, gue bereskan bungkus gorengan biadab yg satu ini dan mulai merapihkan pakaian yg gue kenakan untuk menyambut kedatangannya malam ini..

"Akhirnya.. Selamat datang kembali, Nona.” kata gue dalam hati seraya sedikit tersenyum..

.

.

                                                      ****

.

.

“Yakin kamu Dimas gak mau nentuin pilihan kedua kamu?" 

"Engga, bu. Pokoknya Dimas yakin dipilihan pertama itu, pilihan kedua mah Ibu aja yg nentuin, Dimas udah gak kepikiran buat sekolah di tempat lain.”

“Yaudah, semoga aja emang rejekinya di sana ya..”

“Amin, bu. Doakan ya!”

.

Percakapan di atas adalah percakapan siang tadi sebelum gue melakukan submit pilihan SMA mana yg bakal menjadi sekolah gue kelak. 

Ntah kenapa, hari itu gue sama sekali gak kepikiran buat milih SMA lain ketimbang SMA pilihan pertama gue itu. Gak tau kenapa, rasa-rasanya gue gak ada feeling buat sekolah di tempat lain. Setiap gue ngebayangin tentang SMA, yg terbayang cuma SMA pilihan pertama gue itu doang. Apa mungkin itu yg dinamakan mimpi ya?

Tahun ini adalah tahun di mana gue lulus dari SMP (Sekolah Mencari Pacar). Dan akan resmi menjadi anak SMA (Sekolah Membuat Anak) pada beberapa bulan silam.

Gue yg saat itu masih polos dan belum tumbuh bulu-bulu kecil disekitaran muka dan daerah lainnya ini, begitu semangat untuk mengunjungi salah satu SMA favorite gue saat itu.

SMA Cluster 2, tempatnya di sekitaran tengah kota, dan sekolah ini dulu terkenal karena banyaknya Atlet yg dihasilkan, dan banyaknya Event yg diadakan.

Ini menadakan SMA pilihan gue adalah SMA yg tidak mementingkan pelajaran sama sekali! Dan inilah yg ngebuat gue semangat untuk memilih SMA ini sebagai SMA tambatan hati gue.

Waktu gue baru lulus SMP, internet itu masih jarang. Bisnis warnet adalah salah satu bisnis yg menjanjikan saat itu. Dan untuk mengetahui informasi-informasi tentang SMA yg bakal gue masukin itu pun gue harus mendatangi langsung ke lokasi yg bersangkutan.

Di sana gue liat banyak anak-anak dengan seragam putih biru yg berlalu lalang untuk melakukan submit ijazah dan tetek bengek lainnya. Dan waktu jaman gue dulu, anak SMP kelas 3 masih belum semenarik seperti anak-anak SMP jaman sekarang.

Dulu anak SMP kelas 3 rambutnya masih pada dikepang. Belum ada itu yg namanya belah tengah. Gigi masih pada manis, belum ada yg namanya behel.

Dan yg jelas, perbedaan mencolok antara anak SMP dan SMA itu bisa terlihat jelas. Gak kaya sekarang, gue gak bisa bedain mana anak SMP mana anak Kuliahan.

Mana Cabe-cabean, mana tante-tante liar.

.

Dengan bermodalkan rambut mohawk dan embel-embel SMP ternama yg melekat di sisi kiri seragam gue ini, gue berjalan petantang-petenteng di depan semua anak SMP yg melakukan pedaftaran saat itu.

Damn! Im feeling Adult now!

.

.

.

                                                      bersambung