eskalators

2

This is the bucolic shrine - and its stunning dome - devoted to Saint Gregory of Ostia in Sorlada. It’s one of the baroque jewels of Euskal Herria and said to guard the saint’s relics.

From 16th-19th centuries, Saint Gregory enjoyed a huge devotion since, according to the Catholic Church, he’s the patron saint of fields and harvests.

6

A lecture had organised for the yesterday’s evening the “campuses of alternative”, an AFD near university group. Besides, it should be about the subject “Gender investigation”. The neurobiologist Gerald Wolf who searches the nearness to the AFD since some time wanted to report on how the brains of women and men “tick”. Besides, he thinks that men are more efficient than women. Beside Gerald Wolf the Landtag party leader Andre Poggenburg (AFD also had to go, Saxony-Anhalt) speak, which is why it came to a seat blockade or a protest of about 200-300 students. As a result of the escalation the AFD members were escorted under police protection from the auditorium.

Font: gib-nazis-keine-chance / antifastreetart

 I was tagged by @uchidiva! Thanks (: Sorry this took me so long to answer!

Rules: Say  8 things you like and tag 10 people

- that little chirp sound cats make

- a summer evening when the sky is a pink orange and the air is just right

- GLITTER

- crystals and rocks

- that new puppy smell

- Animal Crossing of course!

- long socks and oversized t-shirts

- in bed with fairy lights on and drinking tea while it is storming outside

I’m tagging @mayor-shaira @mayorkassidy @mushroomset @eskalations, only tagging these people because I still don’t know very many 😅

The Way I Lose Her: Wrong Side of Heaven

Sebenarnya aku tahu hatimu tak sekeras itu. Sebenarnya aku tahu kau begitu butuh didengarkan. Butuh yang memeluk dengan hangat, bukan dengan keras. Karena itulah di sini untukmu aku ada. Kau adalah malaikat dari Surga yang tak bisa dipandang dengan mata buta. Sulit rasanya orang-orang akan percaya jika belum mengenal kau yang sesungguhnya.

                                                           ===

.

Malam itu gue memacu motor pelan sekali. Sesekali harus ikhlas diklaksonin orang lain lantaran motor gue jalannya miring kaya kepiting. Setiap mau belok ke kanan, gue harus ngambil ancang-ancang dulu ke kiri jauh sekali gara-gara stang motor gue cuma bisa miring sedikit doang. Belum lagi getaran yang diakibatkan oleh penyoknya velk ban motor gue membuat luka di daerah tangan dan kaki rasanya makin nyut-nyutan.

Ini sih judulnya Sudah Jatuh Tertimpa Eskalator. Sudah luka sampai berdarah-darah, orang yang gue yakini sebagai obat untuk menyembuhkannya ternyata berbalik menjadi orang yang paling melukai gue malam ini.

Butuh waktu lama hingga pada akhirnya gue sampai juga di depan rumah. Secara pelan-pelan, gue masukin motor gue kembali ke kandangnya, begitu juga helm yang sempat Ipeh pakai tadi, gue lempar begitu saja ke atas kulkas saking gondoknya.

Malam ini gue lebih memilih untuk langsung merebahkan diri di atas kasur, tidak peduli belum nyiapin buku buat pelajaran besok, tidak peduli besok ada PR apa, yang jelas hari ini gue cuma mau memejamkan mata dan mengakhiri hari sialan ini secepat yang gue bisa. Namun ketika gue hendak mematikan lampu kamar, pandangan gue tiba-tiba teralihkan kepada keresek warna putih di atas meja belajar.

Kalau nggak salah ini keresek yang tadi Ipeh bawa kan? Tapi sejak kapan juga tuh bocah bisa bawa keresek gede begini? Karena penasaran, gue urungkan niat untuk mematikan lampu lalu mencoba melihat ke dalam isi keresek.

Dan betapa terkejutnya gue ketika melihat ada banyak sekali jajanan dan makanan di dalam sana. Ada Teh Kotak enam bungkus, Pocari Sweat botolan ada empat, chiki-chikian dengan segala macam rasa ada lebih dari lima bungkus, cukuran jenggot sebiji, sabun laifboy yang kecrotan ada satu, perban satu bungkus, pembalut ekstra large for comfortable night satu, dan tisu basah satu set.

Gue termenung.

Otak gue berputar. Ini orang goblok mana yang ngasih gue banyak makanan begini disertai dengan cukuran jenggot, tisu basah, pembalut, dan sabun kecrotan?! Kalau makanannya sih gue setuju, lha tapi kenapa harus ada benda-benda aneh lainnya sih di sana?

Gue kebingungan sendiri, tapi malam ini gue lagi males mikir. Gue ambil satu buah Teh Kotak yang sudah tidak dingin itu lalu meminumnya sambil duduk di atas kasur. Iseng punya iseng, gue sempatkan untuk memeriksa HP gue siapa tahu selama perjalanan pulang tadi ada SMS yang masuk.

Dan ternyata benar, ada lebih dari 10 SMS di sana, dan semuanya dari Ipeh. Gue baca sepintas isinya hanya perihal minta maaf dan menjelaskan tentang kesalah-pahaman tadi tapi hanya gue baca selewat saja. Hingga kemudian di SMS terakhirnya, gue terdiam sebentar.

“Oleh karena itu, aku mohon, Mbe. Maafin aku. Semoga besok kita bisa ngobrol yaa. Dan btw, keresek putih yang ada di meja belajar kamu itu bukan dari aku. Tadi sore waktu kamu lagi mandi, ada Cloudy di depan rumah. Dia ngasihin itu buat kamu. Maaf, aku nggak bilang sama kamu.”

Kemudian SMS itu selesai begitu saja. Gue terdiam. Nggak mungkin rasanya kalau Cloudy ngasihin begitu saja bingkisan itu sama Ipeh, pasti sempat adu mulut dulu. Aduh gue jadi nggak enak sama tuh anak. Yaudah deh besok di sekolah gue bakal mengucapkan terima kasih sekaligus permintaan maaf karena udah membiarkan dia sampai diusir oleh Ipeh.

Setelah satu buah Teh Kotak itu habis gue dzolimi sendirian. Kemudian gue tiduran di kasur sambil memijat-mijat kening. Pikiran gue melayang jauh kembali ke beberapa waktu yang lalu. Tepatnya ketika saat itu Ikhsan sedang berbicara serius sama gue di depan meja kantin.

“Cepat atau lambat, akan ada pihak yang tersakiti kalau kalian terus-terusan kaya gini, Dim.” Kata Ikhsan.

Tampaknya, malam ini gue sudah dapat jawabannya.

.

                                                          ===

.

06.30

Tinggal 15 menit lagi sebelum bel masuk sekolah berbunyi, tapi gue sendiri sekarang baru saja menyalakan motor di halaman rumah. Sengaja hari ini gue datang agak terlambat, lagian malas sekali rasanya pergi ke sekolah dalam keadaan seperti ini. Seluruh badan sakit semua, belum lagi nanti hati bakal makin kesakitan ketika melihat Ipeh di kelas.

Beberapa kali mesin motor gue mati dan nggak mau dinyalakan juga semakin membuat gue bete pagi itu.

“Motor nggak tahu diuntung! Awas aja kalau kagak mau nyala! Gue sumbangin sama tukang Tahu Bulat biar tahu rasa!”

Brrrrmmm…
Tiba-tiba mesin motor gue nyala.

Bhahahahak anjir ajaib. Setelah diancam bakal jadi kendaraan Tahu Bulat, motor gue mendadak jadi sehat walafiat. Alhamdulillah, rejeki tahu bulat lima ratusan digoreng dadakan na mobil~. Tanpa pikir panjang, gue langsung cabut ke sekolahan. Jalanan saat itu cukup macet, beberapa kali gue harus rela berjibaku melewati gang-gang sempit agar menghindari macet walau pada akhirnya beberapa kali gue hampir tabrakan sama kang Sari Roti.

Bel sekolah sudah berbunyi lebih dari 10 menit yang lalu sedangkan gue baru datang di depan gerbang sekolahan. Untungnya pagi itu penjaga ruang piket adalah guru Geografi yang familiar sama gue, sehingga pada akhirnya gue dimaafkan dan diberi kesempatan untuk masuk ke dalam sekolah.

Setelah memarkirkan motor, gue langsung lari secepat kilat menuju kelas karena jam pelajaran pertama sudah dimulai. Begitu sampai di depan pintu kelas, ternyata gue salah. Gurunya belum dateng dan keadaan kelas pun lagi riuh ramai. Dari pertama menginjakkan kaki ke dalam kelas, gue langsung mendapati ada Nurhadi lagi duduk di atas meja guru dengan posisi duduk Atahiyatul yang kemudian di sebelahnya ada Ikhsan yang lagi tertawa ngakak sambil mengenakan Topi dengan merk Ayam Sabana yang dia dapatkan kemarin waktu benerin motor gue di bengkel. Gue nggak tahu mereka lagi ngapain, tapi temen-temen gue emang dongonya kagak ketulungan. Tiap kagak ada guru pasti ada aja kelakuannya.

Gue taruh tas gue di bangku sebelah Ikhsan, lalu kemudian pergi menghampiri mereka yang lagi ada di meja guru. Begitu melihat ada kehadiran gue, Nurhadi yang tadi lagi mempraktekan tata cara Sholat yang baik dan benar itu langsung menyambut gue.

“Weeeeee… Kambing bandot akhirnya sehat juga. Gimana? Masih sakit badannya?” Ucapnya sambil masih dalam posisi duduk Attahiyatul.

“Bawel lu, Duren Nigeria. Kemarin bukannya nengokin gue, padahal kan rumah lu deket!” Gue protes.

“Aduh sibuk basket gue, Dim. Tapi nggak papa kan lu?”

“Nggak papa kok. Cuma semenjak kecelakaan kemarin, mata gue jadi agak gimana gitu. Suka kadang-kadang gelap secara tiba-tiba. Aneh deh.” Balas gue lagi.

Sontak mendengar ucapan gue barusan, Ikhsan yang masih ada di sebelah Nurhadi lengkap dengan topi Ayam Sabana-nya itu langsung terkejut.

“SERIUSAN?! LO KENAPA, NYET?!” Teriaknya sambil memegangi kepala gue.

“Iya, San. Tiap gue tidur pasti mendadak gelap. Aneh deh..”

“AH TAI LO PERBAN SUNAT!! GUE KIRA LO SERIUS, NJING!!” Ikhsan memukul kepala gue pake topi Ayam Sabana-nya.

“Lagian lu ngapain sih pagi-pagi begini malah pake peci Ayam Sabana gitu? Udah kaya Ustadzah aja lu.”

“Ini, gue ngajarin si Toren Air tata cara duduk Attahiyat yang baik dan benar. Malu kan udah gede gini duduk begitu aja kagak bisa.” Jawab Ikhsan yang ada di sebelah Nurhadi.

“Kadang-kadang gue menyesal banget sumpah masuk kelas ini. Kayaknya otak gue kagak bisa berkembang kalau kebanyakan gaul sama kalian. Lebih banyak mudharatnya! Lagian elu juga, Di! Udah umur segini masa masih belajar posisi sholat?! Malu sama badan! Badan doang yang gede kaya pokemon.” Lama-kelamaan gue malah ikut-ikutan ngelantur sama orang-orang ini.

Saat itu sebenarnya gue sadar kalau dari dua bangku di depan meja guru ada Ipeh yang lagi melihat ke arah kami bertiga, sedangkan gue tetap pura-pura tidak peduli dan tidak melihat ke arahnya. Mood gue hari ini masih kurang baik mengingat kejadian kemarin malam.

“Nyari apaan lo?” Tanya Ikhsan di sebelah gue.

“Surat dispen.” Jawab gue tanpa memandang ke arahnya.

“Ada noh, yang di amplop ijo. Gue udah meriksa tadi, ada nama lo, nama Mai, sama nama gue juga di sana.” Tukasnya.

Gue melirik ke arah Ikhsan, “Kagak dispen lu?” Tanya gue heran.

“Nanti aja deh, lagian ini masih pagi. Lo mau dispen sekarang?” Ikhsan balik nanya.

“Entah. Liat kondisi nanti aja.”

Lagi ngobrol berdua sama sohib gue, mendadak dari bangku depan ada Ipeh yang langsung menepuk pundak Nurhadi dan Ikhsan, tapi tidak dengan pundak gue.

“Hei kalian, kantin yok! Aku traktir deh. Mbe, San, Di.” Kata Ipeh semangat.

Sontak mendengar bakal dapet sarapan geratis, Nurhadi yang dari tadi masih memperagakan gaya orang lagi sholat itu langsung turun dari meja guru dengan semangat, begitu juga dengan Ikhsan.

“MANTAP, PEH!! Tiap hari kaya gini dong!” Tukas Nurhadi antusias.

“Wuih, ada angin apa lo pagi-pagi jadi baik begini, Peh? Tapi nggak papa, gue terima segala ajakan lo dengan lapang dada.” Balas Ikhsan.

“Hehehe..” Ipeh terlihat ceria, “Mbe, ikut gak?” Tanya Ipeh lagi.

“Duluan aja. Gue lagi ngurusin surat dispen.” Jawab gue dingin sambil tetap serius membaca surat dispen yang ternyata dari tadi didudukin sama Nurhadi.

“…”

Mereka bertiga terdiam menatap gue yang masih terlihat serius itu. Nurhadi terlihat sedang menyenggol tangan Ikhsan guna mencari tahu ada apa sebenarnya di antara gue dan Ipeh pagi ini. Tapi Ikhsan juga tidak tahu. Setelah yakin ada nama gue di dalam surat dispen, gue langsung berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan mereka bertiga ke arah bangku gue untuk mengambil jaket.

“Heh, japra! Ngeloyor aja lo kaya awan kintoun. Mau kemana?!” Tukas Ikhsan dari depan kelas.

“Gue dispen dulu, ngurus Bazzar.” Balas gue sambil berlalu begitu saja pergi keluar kelas.

Dari jauh, Ikhsan menatap Nurhadi dengan tatapan penuh tanya.

“Napa tuh anak?” Tanya Nurhadi bingung.

“Tau.” Jawab Ikhsan kesal.

“Lha kok lo kagak tau? Lo kan istrinya. Ish..”

“Istri mata lu soek. Udah ah, kagak usah ngurusin si Dimas. Peh! Gimana? Jadi sarapan geratis kan kita pagi ini?” Ikhsan kembali terlihat bersemangat.

Ipeh menatap dingin ke arah mereka berdua.

“Nggak. Gue banyak tugas.” Balasnya singkat lalu kembali ke tempat duduknya begitu saja.

“Lha, Peh?! Masa kita kagak jadi ditraktir?! Ini gue udah membatalkan kursus posisi duduk Attahiyat yang benar sama si Ikhsan kok lo maen cancel aja sih?!” Kata Nurhadi tidak terima karena sudah mengorbankan latihan duduk Attahiyatulnya.

.

                                                         ===

.

           Karena memang sudah dari malam gue berniat untuk tidak terlalu sering berada di kelas, maka dari itu pagi-pagi buta begini gue sudah lebih memilih mengambil jatah dispen ketimbang duduk lama-lama di dalam kelas. Sebenarnya gue nggak marah sama Ipeh, gue juga nggak berhak untuk bete. Memang sudah resiko jika gue dekat dengan seseorang yang saat itu kondisinya dia sudah mempunyai pendamping. Cepat atau lambat gue bakal tidak dipilih, sehebat apapun dia menaruh hati.

Sebut saja kasus gue dan kak Hana, begitu juga dengan kasus Wulan. Pada akhirnya para pihak ketiga hanya bertugas sebagai teman di kala sepi, lalu ketika para pendampingnya meminta wanita itu untuk kembali, kau tak bisa berbuat apa-apa lebih dari ini. Meski saat itu gue sudah berjanji sama Ipeh untuk tidak lagi mempermasalahkan masalah ini, tapi siapa yang salah jika gue merasa tidak enak hati?

Jika memang pada dasarnya kau ingin tetap dekat, maka dekatlah tanpa harus membuat gue merasa bahwa gue adalah orang yang spesial di hidup lo. Apabila niatan lo hanya mencari teman di kala kesepian, tak usah membawa gue pada tempat-tempat dan suasana di mana gue merasa diistimewakan.

Lantas apakah saat ini berarti gue sedang menyalahkan Ipeh? Tidak juga. Gue-lah yang sebenarnya salah di sini karena sempat membiarkan dia masuk terlalu jauh. Oleh karena itu pagi ini gue berusaha untuk menyibukkan diri sesibuk mungkin agar hati gue bisa kembali seperti dulu lagi.

Semenjak gue menjadi anggota keamanan tetap dan juga menjadi ajudan tidak resminya Cloudy, gue mendapatkan kepercayaan oleh kang Acil untuk memegang kunci duplikat ruang OSIS. Daripada nongkrong di kantin dan ngabisin duit, mending gue tidur-tiduran dah di sofa ruang OSIS. Karena tempatnya yang tidak cukup besar, maka rasanya pas banget buat dipakai santai-santai tanpa perlu merasa horror.

Gue menaiki tangga ke lantai dua, membuka gembok ruang OSIS, lalu masuk ke dalam. Suasananya begitu sunyi. Gue tutup kembali pintu itu, lalu gue merebahkan diri di atas sofa sambil mendengarkan lagu melalui earphone. Lambat laun tanpa gue sadari gue ketiduran dengan lagu yang masih menyala di telinga.

Entah gue ketiduran berapa lama, tapi begitu gue membuka mata, gue melihat pintu ruang OSIS sudah terbuka. Dan gue lihat di ujung ruang OSIS lagi ada sesosok perempuan yang lagi sibuk ngebuka-buka lemari berkas. Sontak gue terkejut, gue cek kancing seragam gue dan Alhamdulillah semua masih pada posisinya masing-masing. Gue takut tadi gue diperkosa.

“Ngapain pagi-pagi di sini?! Emang yang nyuruh seenaknya masuk ke ruang OSIS siapa?!”

Tiba-tiba ketika gue masih serius ngeliat kancing baju, perempuan yang tadi membelakangi gue itu langsung melihat ke arah gue. Gue cuma bisa diam saja tanpa menjawab.

“Kalau nggak ada kerjaan, mending balik ke kelas. Gue nggak mau ruang OSIS jadi terkontaminasi sama elo. Gue nggak mau kalau nanti ada guru yang lewat dan melihat lo lagi tidur di sini, citra anak OSIS jadi buruk di mata guru-guru.”

“…”

“Gue bakal laporin sama kang Acil kalau gini terus caranya.”

Namun sebelum dia makin nyerocos kagak jelas, gue langsung memotong pembicaraanya.

“Lo kenapa sih, Dee? Kayaknya sensi amat sama gue. Pagi-pagi buta begini udah marah-marah mulu bawaanya. Mana omongan lu pedes semua lagi.” Kata gue dengan nyawa yang masih setengah melayang di awang-awang.

“Tau ah! Lo sendiri siapa yang ngizinin sampe bisa ada di sini?!” Tanyanya lagi, namun kini ia mendatangi gue dan berdiri menghadap gue.

“Dari surat dispen.” Kata gue polos.

“Itukan surat dispen minggu lalu! Minggu yang sekarang lo belum dapet izin dispen!”

“…”

“Ah udah lah gue males ribut. Siniin kunci duplikat yang lo punya!” Tiba-tiba Cloudy mengulurkan tangannya.

“Eh.. Jangan dong, Dee. Nanti kalau gue dimarahin sama kang Acil gimana? Kan gue yang disuruh pegang ini kuci. Kalau diambil bisa-bisa gue dimarahin kang Acil dong nanti?” Gue mencoba memelas.

“Enggak! Siniin.”

“Dee..”

“Gak usah pake lama. Gue sibuk.”

“…”

Akhirnya dengan berat hati gue memberikan kunci ruang OSIS itu walau sebenarnya nggak ikhlas-ikhlas amat. Di mana lagi coba gue bisa mencari tempat pelarian dari penatnya kelas kalau pada akhirnya kunci ruang OSIS gue di sita juga. Huft.

Sejenak setelah menyambar kunci tersebut, Cloudy mendengus kasar lalu pergi begitu saja keluar dari ruangan OSIS. Pintu yang ada di depannya dia dorong keras sampai ngondoy kaya pintu koboi. Tuh anak kenapa sih marah-marah mulu? Tapi belum sempat gue melanjutkan rebahan di sofa, ada Ikhsan muncul dari pintu OSIS sambil menenteng kamera SLR yang entah dia pinjem dari siapa.

“Lha, napa tuh anak rusuh banget? Kasian amat ini pintu didorong keras begitu. Punya dosa juga kagak padahal.” Tukas si Monyet sambil ngedumel mirip kaya kang Cuanki keserempet kang duku.

“Abis berantem lagi lu?” Tanya Ikhsan yang kemudian duduk di kursi komputer.

“Tau ah. Gue aja tiba-tiba dimarahin gitu aja.”

“Aneh bener. Kadang gue heran sama tuh anak kalau lagi deket-deket sama elo, moodnya gampang banget berubah. Kadang jadi baik, kadang tiba-tiba ganas kaya digimon.”

“Hooh..” Gue kembali rebahan sambil menutupi muka dengan jaket.

“Padahal kemarin doi khawatir banget tuh pas tau lo kecelakaan.” Tambah Ikhsan lagi sambil mulai mencopot lensa kameranya.

“Eh?” Gue langsung bangun dari tidur dan duduk dengan sikap sempurna, “Maksudnya?” Gue keheranan.

Ikhsan yang masih ngebersihin lensa kameranya cuma memandang gue sebentar, lalu kembali fokus ngegosok lensanya.

“Iya, kemarin waktu lo kecelakaan, lo kan telepon gue tuh. Nah kebetulan saat itu gue lagi ada di ruang rapat. Dan keadaanya pas bener pas Cloudy lagi minjem kamera gue untuk melihat-lihat foto yang udah gue ambil.”

Gue mendengarkan dengan serius.

“Sontak gue langsung rusuh dong cari-cari kunci motor buat secepatnya pergi ngejemput lo yang saat itu udah terkapar. Gue takut lo diapa-apain sama warga setempat terus ginjal lo dijual. Kan gue nggak mau. Kasian si Amel kucing lo nanti jadi perawan tua kalau majikannya meninggal..”

“Njing serius, nyet!”

“Iye-iye, marah-marah mulu lo kaya petasan banting. Gue lanjut nih. Sampai mana tadi? Ah iya sampai si Cloudy. Nah dah gitu Cloudy nanya dong kenapa gue mendadak rusuh. Ya gue bilang aja kronologi yang gue tahu sama dia gimana. Setelah gue cerita, dia mendadak diem lalu tiba-tiba minta alamat rumah lo. Mana saat itu dia mendadak pengin ikut gue untuk nyusul lo lagi. Sontak gue tolak dong, toh gue udah bawa si Amri yang lebih ngerti masalah permotoran siapa tahu nanti dibutuhin. Tapi ya wataknya Cloudy lo tau kan kaya apa? Tuan Putri mah segala keinginannya kudu diturutin.”

“Hooh hooh.” Gue angguk-angguk kaya boneka dashboard.

“Dia sampai nyuruh gue sama Amri buat naik mobil dia aja. Gue langsung tolak karena alasan macet. Lo butuh pertolongan cepat, nggak mungkin gue bawa mobil. Akhirnya setelah debat cukup sengit, dia ngalah. Tapi dia malah ngasih gue duit seratus ribu.”

“Hah? Kok lo bisa dikasih duit? Udah kaya Ustad aja lu abis ceramah dapet duit.” Gue makin penasaran.

“Dia nitip katanya, kalau gue ke sekolah lagi, beliin makanan yang banyak, pokoknya apa aja yang lo suka. Katanya dia mau ngasih itu makanan nanti ke rumah lo.”

“Loh emang dia nggak bisa beli sendiri apa?”

“Doi kan ngurus masalah Guest Star Band itu. Jadi nggak bisa pergi kemana-mana.” Sanggah Ikhsan.

“Aaah.. Ngerti gue. Terus-terus?”

“Sesudah balikin motor lo, gue balik deh ke sekolahan, tapi gue lupa mampir buat beli makanan. Akhirnya pas sampe sekolah, gue langsung dimarahin sama si Tuan Putri.”

“…”

“Akhirnya besok pagi, setelah pulang sekolah gue sempatkan untuk membeli banyak makanan yang lo suka, terus gue balik ke sekolah buat ngasihin itu bungkusan sama si Cloudy. Nah sorenya dia ke rumah lu deh. Setelah itu gue nggak tahu lagi kelanjutannya kaya gimana.” Kata Ikhsan sambil meniup-niup lensa kameranya.

“Loh, jadi yang belanja makanan itu tuh sebenernya elo?”

“Iya. Kenape?”

“Pantesan Anjing gue heran kenapa ada cukuran jenggot segala, mana ada sabun kecrotan sama tisu basah pula!”

“Ya sebagai sohib gue ngerti lah, siapa tahu lo susah untuk jalan ke kamar mandi. Jadi gue kasih tuh peralatan ‘tempur’ biar lo bisa indehoi di kamar tanpa perlu ke kamar mandi.”

“AH TAI LU!! Gue kira itu yang beli si Cloudy, makanya gue sempat bingung tuh anak isi otaknya apaan sampe kepikiran buat ngirimin gue Softex segala.”

“Hahahaha abisnya gue bingung sih mau beli apa lagi. Mumpung duitnya masih banyak ya gue beliin softex sekalian aja siapa tahu lo mau nyoba pake.” Jawabnya enteng.

“….”

Kami terdiam cukup lama. Ikhsan masih sibuk membugili kameranya untuk membersihkannya dari debu, sedangkan gue cuma bisa menatap kosong ke arahnya mencoba mengingat-ingat lagi apa yang terjadi dari hari kemarin hingga hari ini.

Hingga suatu ketika.

“AH!!!!!” Mendadak gue teriak kencang sekali.

Ikhsan yang ada di sebelah gue sampai loncat. Lensa kamera yang lagi dia pegang masuk ke dalam printer :(

“GOBLOK!! LO NGAPAIN SIH MENDADAK TERIAK?!” Ikhsan marah-marah.

“Anjir, Nyet!! Pantesan!”

“Pantesan? Pantesan apa? Pantesan banting?”

“ITU PETASAN GOBLOK!”

“Pantesan kenapa?”

“Pantesan si Cloudy marah-marah tadi!”

“Hah?” Ikhsan terlihat kebingungan.

“Astaga! Bego banget gue! Niat gue berangkat ke sekolah hari ini juga buat bilang terima kasih sama dia. Astaga! Nyet, gue cabut dulu kalau gitu, nitip ruang OSIS bentar ye.”

“Lo kenapa sih? Gue kagak ngerti.” Tanya Ikhsan keheranan.

“Ah udahlah, otak lo yang segede ikan sapu-sapu itu kagak bakal ngerti masalah ini. Gue caw dulu bro..”

“…”

Akhirnya gue pergi meninggalkan Ikhsan sendirian di ruang OSIS. Setelah percakapan barusan, gue menjadi ingat lagi apa yang terjadi kemarin sore. Pantesan Cloudy tiba-tiba marah banget sama gue waktu di ruang OSIS tadi. Gue bergegas pergi mencari Cloudy di setiap sudut sekolah, tapi tetap nihil. Gue tidak bisa menemukan sosoknya di mana-mana.

.

                                                         ===

.

Ada mungkin satu jam lebih gue muter-muter sekolah cuma buat nyari Cloudy doang, walau pada akhirnya gue baru tahu dari kakak pembimbing gue bahwa Cloudy lagi ada tugas ke luar sekolah. Yasudah, gue tunda aja ucapan ini lain kali. Lagian sekarang juga masih jam 9 pagi, masih banyak waktu yang gue punya.

Pagi itu gue sempatkan mampir ke kantin dulu untuk sarapan. Perlahan-lahan menjelang istirahat pertama, kantin semakin penuh oleh anak-anak kelas satu. Bangku panjang yang gue duduki ini juga semakin sempit karena mulai diisi oleh orang-orang yang mau sarapan. Tidak mau berlama-lama di keramaian, begitu makanan datang, gue berusaha menghabiskannya secepat yang gue bisa.

Kantin gue ini terhubung dengan lapangan basket, yang mana itu berarti kantin ini menjadi akses utama untuk semua orang yang hendak masuk ke dalam sekolah. Otomatis mereka yang ada urusan tidak resmi dengan sekolah akan melewati kantin ini. Karena hal itu jugalah yang pada akhirnya membuat gue melihat ada sosok Cloudy muncul dari lapang basket dan masuk ke dalam kantin.

Gue sempat melihat ke arahnya, begitupun dia yang sempat melihat gue sepintas lalu tetap berjalan dingin pergi meninggalkan kantin. Awalnya gue berniat untuk mengejar dia dan mengucapkan terima kasih, tapi gue urungkan niat itu. Toh gue sekarang lagi makan juga. Masih banyak waktu deh; pikir gue saat itu.

Lagi asik-asiknya makan, gue lihat ada Ikhsan yang berjalan ke salah satu tukang gorengan dan membeli beberapa bungkus gorengan yang gue rasa dia ngambil lima gorengan tapi ngakunya cuma dua.

“Weeeei, ada elo juga ternyata di sini. Ngapain lo, Dim?” Tanyanya ketika melihat ada gue lagi makan soto ayam sendirian.

“Ya namanya juga di kantin. Gue ke sini mau makan lah, lu kira mau joget?!” Jawab gue sinis.

“Ngomong-ngomong, udah ketemu si Cloudy lo?” Ikhsan mulai duduk di sebelah gue.

“Udah, tapi sepintas doang. Doi masuk lagi noh ke dalem.”

“Oh iya, lupain dulu masalah Cloudy, btw lo ada masalah apa lagi sama Ipeh tadi pagi? Gue mau nanya ini sama elo tapi lupa terus.”

“Emang kenapa?”

“Si Ipeh di kelas uring-uringan noh. Tadi juga mendadak mewek. Kasihan Bobby yang duduk di sebelah tuh anak jadi kalang kabut sendirian.”

“Hmm..” Gue berpikir sebentar, “ Lo masih inget nggak apa yang lo omongin dulu sama gue tepat di meja ini juga?” Gue menambahkan.

“Yang mana? Percakapan gue sama lo bukannya kaga pernah ada bobotnya sama sekali ya?”

“Yeee.. yang waktu pas kita selesai ditraktir Ipeh, di situ juga sempat ada Bob..”

Mendadak gue terdiam dan tidak melanjutkan lagi pembicaraan gue. Ikhsan yang sedari tadi memperhatikan sontak heran.

“Oi, nape lo pake acara dipause segala? Lanjutin dong.”

“Bentar-bentar. Nyet liat deh, siapa noh yang dateng.” Kata gue sambil memberi isyarat kepada Ikhsan untuk melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam area kantin.

Ikhsan langsung melihat ke arah yang gue maksud.

“Beuh… calon rame nih..” Kata Ikhsan sambil menepuk pundak gue.

Dari arah gerbang masuk kantin, gue melihat Cloudy jalan bergandengan tangan dengan pacarnya. Wow! Ini sih kejadian yang super duper jarang banget gue lihat, atau mungkin baru pertama kali gue lihat dari semenjak kenal Cloudy untuk yang pertama kali. Ketika mereka memasuki area kantin, anak-anak cowok yang lain langsung terlihat kecewa melihat hal janggal yang ada di depan mata.

Buset, jarang-jarang ada ada orang cantik ngegandeng Dinamo Tamiya. Gue heran, apa sih yang ada di benak Cloudy sampai-sampai dia memilih untuk pacaran sama orang yang wajahnya mirip dengan batu ginjal?!

Tapi hal-hal janggal itu tidak berakhir di situ saja. Cloudy sengaja mengajak pacarnya untuk duduk di meja yang sama dengan meja yang gue duduki sekarang ini, bedanya Cloudy dan pacarnya ada di arah jam satu gue. Agak di pinggir sedangkan gue ada di tengah. Ikhsan yang melihat hal itu terus-terusan menyenggol tangan gue tapi nggak gue hiraukan.

“Wah bakal panas nih. Mau pindah tempat aja, Nyet?” Tanya Ikhsan.

“Udah nggak usah. Diemin aja udah.” Kata gue sambil meneruskan makan soto ayam yang tinggal sisa bihunnya doang.

Saat itu gue mencoba biasa aja. Toh gue ini bukan siapa-siapanya Cloudy. Jadi gue nggak berhak untuk merasakan rasa apapun melihat apa yang sedang terjadi di depan kedua bola mata gue ini.

“Sayang pesen gih, aku yang bayar.” Tiba-tiba dari kejauhan gue bisa mendengar ucapan Cloudy kepada pacarnya.

“Sayang makan yang banyak ya. Aku nggak mau kamu sakit.” Tambahnya lagi

Yaelah, pacar lu mah kagak bakal sakit. Cuma orang doang yang bisa sakit, Dinamo Tamiya mah kagak.

“Maaf selama ini aku jahat. Ternyata kamu memang cowok yang aku cari.” Kata Cloudy lagi.

WTF, kenapa lembut banget si Cloudy sama cowoknya? Pas ngomong sama gue aja baru deh dia pake urat. Apa-apaan nih?! Diskriminasi!

Mendengarkan banyak sekali ucapan Cloudy yang mesra-mesraan dengan pacarnya itu, lambat laun membuat selera makan gue menghilang begitu saja. Ikhsan yang melihat hal ini cuma tertawa sinis di sebelah gue.

“Wah, Nyet. Kayaknya lu kalah deh sama tuh orang. Kulit lu kurang putih kalau dibandingin sama kulit dia, coba besok-besok muka lu ditambahin pake bedak wardah biar syariah.”

“Muke gue ngapain lu tambah-tambahin, lu kira sempoa?” Gue dongkol setengah mati.

Dan tampaknya pacar Cloudy yang menyadari ada gue di sana juga membuat sikap si pacarnya itu semakin menjijikan. So so romantis tai anjing. Dari yang namanya gadengan tangan lah, duduk dempet-dempetan lah, sampai suap-suapan. Ya Allah udah kaya orang sakit tipes pake acara disuapin segala. Gue sumpahin nanti itu sendok makan berubah jadi skop semen. Hih!

“Uhuk-Uhuk!!” Tiba-tiba Ikhsan yang ada di sebelah gue so-soan pake acara batuk segala. Suaranya sengaja dikerasin biar Cloudy dan pacarnya melihat ke arahnya.

Dan siasat Ikhsan tadi berhasil. Mereka kini sedang melihat ke arah kami berdua.

“Ngg.. Dimas sayang, ini ada Sukro.. Coba mulutnya buka. Aaa…” Kata Ikhsan sambil menyuapi gue pake Sukro gopean yang ada di depan meja.

Gue yang tadinya bete gara-gara Cloudy pada akhirnya malah jadi ikutan permainan si Ikhsan. Gue buka mulut gue, dan gue terima itu suapan Sukro-nya dengan mesra.

“Uuuuh… kamu makan yang banyak ya.. Biar sehat.. biar gemuk.. Biar bulat kaya panci presto.” Tambah Ikhsan lagi.

“Makasih Sayang, kamu perhatian banget deh sama aku. Kamu memang yang terbaik. Oh iya kemarin mamah aku ngeliat foto Rontgen kamu, katanya kamu ganteng deh. Kamu rontgengenic ya..”

“Duh, Tante bisa aja. Jadi malu deh aku. Ngomong-ngomong Dimas sayang gimana ternak hamsternya? Lancar?”

Alhamdulillah lancar, nih yang bontot udah mau diwisuda..”

“Duh nggak kerasa ya.. Dulu waktu aku ke rumah kamu rasa-rasanya mereka masih dalam bentuk tamagochi, sekarang udah beres skripsian lagi.”

“Hehehe iya. Sayang pergi dari kantin yuk.. Kelamaan di sini bawaanya pengen mutusin pacar. Pacar orang maksudnya.” Kata gue sambil pergi menggandeng tangan Ikhsan yang lalu kemudian tertawa terbahak-bahak selama perjalanan meninggalkan kantin.

.

                                                         ===

.

           Gue nggak tahu maksud Cloudy apa melakukan hal-hal seperti itu di depan gue. Tapi untung saja tadi ada Ikhsan, alhasil gue jadi nggak terlalu bete. Yang ada malah mungkin kami berdua yang berhasil membuat bete mereka. Ah sudahlah, gue sudah bosan mencampuri hubungan orang.

Ikhsan izin pergi ke kelas dulu untuk mengecek keadaan kelas, sedangkan gue lebih memilih kembali ke ruang OSIS untuk tiduran di sofa lagi. Selama tiduran, pikiran gue melayang jauh. Gue jadi kangen Ipeh, entah kenapa. Mendadak bayangannya muncul begitu saja di kepala. Tingkah lakunya yang easy going membuat gue benar-benar rindu menghabiskan waktu bersamanya.

Tapi gue juga tidak berhak, gue juga harus bisa menahan diri gue sendiri. Ketika ada kesempatan dekat dengan Ipeh pun pasti jatuhnya kami saling dekat lebih dari sekedar teman. Apa gue SMS itu anak aja ya sekarang? Secara perlahan rasa marah gue terhadap apa yang terjadi malam kemarin lama-lama mulai menghilang.

Gue putar-putar HP gue di depan muka sambil berpikir apakah gue baiknya nge-sms Ipeh ataukah tidak.

Sedang bingung seperti itu, gue mendengar ada derap langkah yang berjalan munju lantai dua, perlahan-lahan semakin mendekat ke ruang OSIS. Gue tetap diam saja dengan posisi yang sama, masih tiduran di sofa dengan berbantalkan tangan gue sendiri. Tak lama kemudian gue melihat ada sosok Cloudy di jendela OSIS.

Loh, tuh anak bukannya tadi masih di kantin ya pacaran sama si Dinamo Tamiya?

Baru juga gue ingin bertanya-tanya, Cloudy masuk begitu saja ke dalam ruang OSIS. Dia cukup terkejut ketika melihat ada gue di atas sofa sedang melihat ke arahnya. Begitu melihat ada kehadiran gue di sana, Cloudy langsung terdiam. Lalu berbalik dan berjalan kembali menuju pintu keluar.

“Kalau kamu nggak nyaman ada aku di sini. Aku aja yang pergi.” Kata gue mendadak sambil langsung bersiap pergi.

Namun ketika gue berbicara seperti itu, langkah kaki Cloudy langsung terhenti. Dia berbalik, melihat gue sebentar, lalu berjalan kembali ke dalam ruang OSIS.

“Nggak usah. Lagian gue nggak akan lama kok di sini.” Jawabnya dingin.

Cloudy berjalan ke lemari berkas dan mulai menyusun kembali kertas-kertas yang gue sendiri nggak tahu itu kertas apa. Tampaknya ribet banget. Sambil masih dalam keadaan duduk di sofa. Gue terdiam memperhatikannya dari belakang.

Ruangan OSIS yang tidak cukup besar ini rasanya begitu hening mengingat cuma ada gue dan Cloudy doang di dalamnya. Sosoknya yang sedang sibuk mengurusi segala berkas itu tiba-tiba membuat gue mengingat kembali apa yang sempat Ikhsan ceritakan tadi di sini. Tentang apa yang telah dia lakukan ketika mendengar kabar bahwa gue kecelakaan kemarin.

Dari jauh, gue melihat punggungnya begitu anggun sebagai seorang wanita. Memang sempurna sekali Cloudy ini kalau dari segi fisik menurut gue. Seorang Dimas yang sebenarnya tidak bisa sama sekali bersanding untuk berada di dekatnya, entah bagaimana ceritanya kini bisa sering menghabiskan waktu dengannya.

Jika saja dulu sebelum perlombaan Vocal Group, gue tidak menyempatkan diri untuk tiduran di pendopo, mungkin sampai saat ini gue tidak akan bisa bertemu dengannya. Gue juga mengingat bagaimana pertemuan pertama kami diawali dengan hal yang tidak romantis sama sekali. Baru pertama ketemu dia, gue sudah disuruh-suruh bantuin angkat-angkat berkas ke ruang OSIS padahal gue bukan anak OSIS. Dari dulu jiwa diktatornya tuh anak melekat banget.

Sekarang sosok itu di depan gue lagi sibuk. Serius memilah-milah kertas menjadi beberapa bagian di atas meja panjang. Gue termenung. Keinginan untuk menghubungi Ipeh via SMS mendadak sirna begitu saja di kepala gue.

“Makasih untuk makanannya kemarin.” Tiba-tiba dengan suara pelan gue mencoba angkat suara.

Sejenak setelah gue berbicara seperti itu, gerak Cloudy mendadak terhenti sebentar, lalu kemudian kembali sibuk menyusun kertas tanpa membalas perkataan gue sama sekali. Melihat hal itu gue cuma tersenyum, gue sudah cukup hapal dengan watak Cloudy. Walaupun dia cuek seperti ini, sebenarnya diam-diam dia tetap memperhatikan.

“Maaf.” Kata gue sekali lagi.

Baru saja mengucapkan satu kata barusan, Cloudy langsung menengok ke arah gue yang masih terduduk di atas sofa.

“Aku mau bilang terima kasih sekaligus permintaan maaf atas yang terjadi kemarin. Terima kasih karena ternyata kamu sudah sepeduli itu, dan permintaan maaf karena apa yang terjadi di depan rumah aku sore itu.”

Suara gue pelan sekali, namun di ruangan yang sesepi ini, percakapan kami berdua terasa begitu nyaring di telinga.

“Aku nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi sore itu, tapi aku benar-benar ingin meminta maaf. Terlebih lagi apabila sekarang kamu marah, aku akan terima. Kamu berhak untuk itu.”

BRAK!!
Tiba-tiba gue melihat Cloudy menggebrak meja dengan tumpukan kertas yang sedang dia bawa. Gue terkejut. Ditambah lagi secara mendadak Cloudy langsung berdiri di depan gue. Rona mukanya penuh kemarahan. Ini seperti Cloudy yang ngeselin di hari-hari biasa, terus dikali tiga kali lipat. Gue menelan ludah bersiap-siap atas serangan tausiah yang akan dia lontarkan sebentar lagi.

“DIA ITU SIAPANYA KAMU SIH!”

JELEGAR!!
Mendadak hujan turun. Geledek menyambar-nyambar. Suaranya begitu menggelegar hingga gue sampai mundur dan tersandar di sandaran sofa.

“JAWAB DIA ITU SIAPANYA KAMU?!”

“…”

“JAWAB DIMAS!”

“Te.. temen..” Balas gue gelagapan.

“Terus kalau dia cuma temen, kenapa dia ada di rumah kamu sesore itu?! Kalau dia cuma temen, kanapa dia berkata di depan aku kemarin seakan-akan kalian lebih dari itu?! Nggak ada tata kramanya sama sekali. Cewek macam apa yang jam segitu ada di rumah seorang cowok!”

Gue sama sekali tidak tahu apa yang Ipeh dan Cloudy bicarakan kemarin selama gue tidak ada, tapi yang pasti Ipeh berkata sesuatu hingga membuat Cloudy kesal. Belum sempat gue menjawab, gue sudah diberi pertanyaan lagi.

“Harusnya kamu juga mikir. Dia itu sudah punya pacar! Lagian kamu juga jadi cowok ganjennya minta ampun. Kamu tuh pathetic tahu nggak! Aku sih nggak peduli kamu mau apa. Terserah, not my bussiness. And buatku wasting time banget ngurusin apa yang terjadi sama kalian.”

“…”

“KAMU JANGAN DIEM AJA DIMAS!! NYEBELIN TAHU NGGAK!!”

Gue menelan ludah.

“Ngg.. anu.. Ngg..  Maaf..” Gue tidak tahu lagi harus membalas apa.

“AH!! Tau ah! Pokoknya aku malas berhubungan sama kamu lagi. Nyesel aku ngebolehin kamu masuk OSIS! Bad decision banget!”

Kemudian setelah menghujani gue dengan berbagai hinaan, celaan, dan marah-marah yang nggak berhenti-behenti itu, Cloudy kembali ke meja berkas dan membereskan semuanya biar dia bisa cepat-cepat pergi dari sini.

Gue melihat ke arah punggunya.

“Dia sudah punya pacar. Dan aku bukan siapa-siapa.” Kata gue pelan.

Cloudy masih pura-pura tidak peduli dan terus saja membereskan berkas-berkas.

“Bagus deh.” Tiba-tiba Cloudy membalas dengan suara yang begitu pelan.

Gue yang mendengarkan jawabannya langsung penasaran.

“Kenapa emang?” Tanya gue.

“Kamu nggak cocok sama dia.” Balasnya singkat.

“Terus, aku cocoknya sama siapa?”

“Ya mana aku tahu lah! Udah berhenti nggak usah nanya-nanya lagi. Aku kan tadi sudah bilang malas berhubungan sama kamu!”

“…”

Gue terdiam. Kami berdua terdiam cukup lama. Setelah semua berkas itu kembali ke lemarinya, gue sempatkan untuk berbicara sekali lagi sebelum Cloudy pergi.

“Dee, kamu bahagia sama pacarmu yang sekarang?” Tanya gue tiba-tiba hingga kemudian langkah kaki Cloudy terhenti.

“Yang kamu lakukan di kantin barusan, apa itu memang kamu lakukan karena perintah hati kamu sendiri?

“…”

“Aku.. Kadang kalau boleh jujur, aku iri sama dia. Maksudnya, aku iri dengan banyak hal terutama hal apa yang harus aku lakukan agar aku suatu saat bisa berada di posisi dia?”

“…”

“Bisa melihat kamu yang berbicara seperti caramu berbicara ke arahnya tadi. Yang tidak marah-marah, yang tidak menganggap aku orang yang menyebalkan.”

Cloudy benar-benar terdiam. Dia berdiri memunggungi gue. Dan dia tidak menjawab bahkan tidak melihat sedikitpun ke arah gue sama sekali.

Gue menghela napas panjang.

“Semua orang juga tahu bahwa kamu bisa dapat yang lebih baik dari dia. Bahkan diri kamu sendiri pun pasti tahu akan hal itu.”

“…”

“Dan…”

“…”

“Dan seandainya kamu masih single, Dee.. Mungkin.. Kita…”

Entah saat itu ada angin apa, ada setan apa yang merasuki kepala gue, sehingga tanpa sadar kata-kata seperti itu terlontar begitu saja. Gue yakin, kalau dalam suasana yang biasa dan Cloudy mendengar gue berkata-kata seperti ini, gue pasti sudah dihina habis-habisan dan dianggap seorang yang pathetic minta ampun.

Cloudy tidak menjawab apa-apa. Dia perlahan-lahan berjalan menuju pintu keluar. Ia buka pintu ruang OSIS itu sedikit lalu kemudian menengok sedikit ke arah gue.

“Kamu cepet sembuh. Jangan ngelakuin pekerjaan yang berat-berat dulu. Aku nggak mau kalau ada apa-apa sama kamu terus aku yang jadi repot kaya kemarin.” Balasnya ketus sekali.

“Iya..” Gue menjawab pelan.

“Ngg.. Dee..” Gue mencoba berbicara lagi kepadanya.

“Apa?” Jawabnya dingin.

“Hari ini kamu mau ke mana? Mau ngurusin perizinan apa? Ada yang harus kamu kerjakan lagi? Aku hari ini kosong. Siapa tahu kamu butuh teman mungkin..” Kata gue.

Dia diam.
Dia buka pintu yang ada di depannya itu, lalu melangkahkan kakinya ke luar.
Sebelum menutup pintu, dia melihat ke arah gue sebentar.

“Jam tiga. Sehabis sholat Ashar. Aku tunggu di lapang basket.” Ucapnya singkat lalu kemudian dia berlalu begitu saja meninggalkan gue sendirian.

.

.

.

                                                             Bersambung

Previous Story: Here

1,500 Follow Forever (woo! no pretty banner)
A - F

aangsavedtheworld airnations amaet andxrperry attackonazula avatard-aangavataraddiction avatarjuice avatarparallels avatarstyle avatarlicious avatati bacon-dragon basingtei bending-my-ass-off bbolinn benditlikekorra beroberos bloodbenderamon bloodbending blue-eyed-korra bolim bryankonietzko bumjuandbumi callmekuvira cartoonsaremyweakness casualseriousness cloister-bells cloudbabies cloudbending commanderbutts crossroads-of-destiny deesky discoboob dongbufeng earthprxnce elementalavatars element-of-change equalistmako eskalations fireferretfuzzies fiirebender firelordsizumi fire-wang-fire flameobender flawless-avatar flylikeappa forevergirlkorra fournations freakinapplepie

G - K

gebbeh gemfuck gibbythesecond gifbending harmoniccconvergence heiress-to-the-industries heyyymako-oh iahfy iamhislegacy irohnthisplacejeebsylad jinlian jinora-ikki-meelo-rohan kasukasumoe kataangfamily kataangme kiwipuffs korraava korra-avatastic korrabear korralogy korramynaga korra-naga korraphobia korrapted korrasane korrastyle korratea  kwongs kya-lok

L - P

lightningmako linbabefong lotuschai luvdragons4ever makofied mak-o makorraforevafangirl makorralin markofabanishedprince masterarrowhead matosuwa medertaab metalclan metaphorical-glitter michaeldantedimartino neutral-jing nuktuk objectivemistress officertingting ohmykorra opalbeifongs owldee pasteru-pinku pencilpaperpassion polarbeardog prince–wu puppercat

Q - U

raava-spirit rebeccasugar ritsune scarredprince secretsecrettunnel sherbies shineystars shingekinokataang sifusassy sokkascactusjuice stay-flamin thetalesofbasingse thateskalatedquickly thedukeshelmet themoonslayer thetonraq tophtimes turtle-duck tvvinkletoes uhvatarspirit

V - Z

vvivaa whattheflameojusthappened waterbendingkoko youfixedmybrokenplan zukofied zukorama zukothefirelords

Fanfic writer appreciation!

AKA I’M ABOUT TO RECOMMEND A LOT OF PEOPLE. 

So, if you don’t know me, between this and my megamegaturtle account, I’m a super supportive person of fanwriters. I write fanfics and I love to read them too. So, here are all the people I love!

ATLA

sweetavidyajones dupreerose secretsecrettunnel eskalations chelberno1 proseandsongs emberglows kataracy thatsfromthewatertribe avatarwindboy aviana-allemagne madamebomb jordanalane

Megamind

nientedal ladyspock7 margoteve dani-kin ramendobe

Strange Magic

gigiree humanityinahandbag suzie-guru pereprinthings stovallsspanish abutterflyobsession dainesanddaffodils magicalstranger13 the-lady-princess-of-gallifrey adorkablegeekgirl bifacialler

How To Train Your Dragon

elusivist e-wills tysonrunningfox hiilikedragons thebabelebowski dragonescence avannak midoriko-sama nneurosis thaipothetical-situations oh–you–pretty–things thatsnicebutimmarried

All these writers are amazing and I wish I had enough time to give you one piece of reccomdation from each, but seriously! Just read them. They will blow your mind! So fun, creative, and damn good!

Thanks so much for feeding my addiction and writing such wonderful things for me to read. Like when I see an update from one of you, my day gets brighter and for a second I slip into a new world with some of my favorite characters. You’re all fantastic and everyone should be reading you!

Originally posted by wtfchrisstuff

3

#

99percentdisney

a-d

amythegeek ashleybenlove berenswick briannathestrange canadiandisneyprincess carnationplaza cartoonheroinenamednikki clarabellecows crossroads-of-destiny danareadsbooks danceandmince dazzledbydisney disney-rapunzel-merida-vanellope disneyandwhatnot disneyforprincesses disneyismyescape disneysprincessesofcolor disneytasthic dontbeitchyman 

e-h

emmasdisneyworld eskalations eyelovetaylorswift faelans-treasure-chest fravitygalls freshprinceofmaldonia frozenmusings fuckyeahbookoflife fyeahbuzzandjessie ging-ler goingdownthebayou gravity-goes-down haildisney hairloopy hecallsmepineappleprincess howthemabelshaveturned 

i-l

izzyisanarwhal jaysart jessienevergivesup katielynn526 korra-ships-kainora korrarity korrasami korrastyle kristoffbjorgman lemontomago lilopelekai 

m-p

mabeltonpines mainstreetmickey makofied maraca-owl merida-straighthair mermandos mmabelpines mockeryd mvlans nihilistique nodesiretogrowup noretreat–nosurrender notsoplainbutinsanejane ohmykorra originalthree parksouth princessababwa princesskennymccormick princessthespian 

q-t

rose-merida sato-mobile savingpltravers sifusuki sixcatsandtwodogs smallherosix sstormfly synchronizedlameness thatsixfingerednerd thedisneyfan theonescalledtheturtles tiafoundlove tianasplace tianaveen tianaveens tinkeperi tomagogos tomagolemon tyrone-pines

u-z

unofficialdisneyprincess wabacwhen wakingsleepingbeautyy waltandmickey wdw-girl wdwsparkles whenyouwishupondisney yazzydream yeahwhatdidisay yohoyohoadisneylifeforme yzmas zip-a-dee-disney