esai c:

“Why Him?”

Chibs Telford x Reader x Esai Alvarez
(GIF isn’t mine)
.
.
.

“Hey mama,” a voice lifted you from your focus on your paperwork to the door of your office at TM. He was standing in the doorway, leaning against the frame, his light brown eyes sparkling and a smile that made butterflies dance in your stomach.

“Hey,” you smiled, getting up from your seat as he sauntered in to give you a peck on the cheek.

“I was just passing through, wanted to see if you wanted to get some lunch?” he took your hands in his and looked down at you. He didn’t tower over you, just a couple inches taller, but you still had to look up to catch his gaze.

A sad smile glinted across your face and you looked over your shoulder at the mounds of paperwork that were piled on your desk. The repo business was booming lately and you had to put in long hours to keep up.

“I’m sorry, Esai, but I have lots to do,” you pouted and he smiled, “It’s okay mama, I know I dropped in on short notice.”
He let your hands loose and tucked a strand of hair behind your ear, his hand coming to rest against your neck as he leaned in and kissed you once more, “I’ll call you, and we can make plans, yeah?”
He took a half-step back from you.

Your eyes fluttered as you stared back at him, “O-okay,” you smiled and he grinned back at you.

“Walk me to my bike?” he asked, his eyebrows raised as he held out his hand for you to take.


Chibs was sitting in the garage alone, watching as you and Esai walked across the lot back to his motorcycle. He scoffed as he stood, walking to stand against the bay door as he cleaned his hands off with a shop rag.
You had only been back in Charming for a month, the truce between SAMCRO and the Mayans hadn’t been in effect for two weeks, and yet Marcus Alvarez’s son swooped in and swept you off your feet. It didn’t matter to Chibs whether beefs were settled with the Mexicans or not. Soon enough there would be more issues that would tear you between loyalties, or worse, your connection to two MCs would put an even bigger target on your back.

Chibs didn’t trust young Alvarez to keep (Y/N) safe.

He didn’t trust anyone to keep you safe except SAMCRO.


You were walking back up when you noticed Chibs glaring at Esai from within the garage.

“Is everything okay?” you asked, stepping up to the garage door and looking up at the Scot.
“Aye,” he responded dryly, turning around and chucking his rag across the garage as he walked back over to the Chevy Nova he was working on.
“Chibs,” you began, walking to where he was leaned over the engine of the old car, “I’ve known you for like, my whole life. I know when you’re pissed,” you spoke coolly, not wanting to push too hard in case it was none of your business.

“Why d'ye bring the Mayan aroun’ here?” he bit out, not looking up from the car in front of him.
Your eyes widened, “Is there something going on with the MC and the Mayans again?” you asked worriedly.
“Nae. I just don’ want him sniffin’ around,“  Chibs growled as he finally looked up at you, “Ye shouldn’t be seein him, (Y/N).”

You were shocked, this whole attitude and conversation was out of the ordinary for Chibs. He had been your best bud when you were younger, playing your games and laughing with you. Yeah you had been away for a few months, traveling before you settled down into the adult world, getting a job and working for a living, but you never expected his demeanor to change so much within such a short time.

When you left he was your best friend, now that you were back he either acted like he couldnt be bothered with you, or that you were somehow a kid that needed to be looked after.

You weren’t normally one to cause a scene, but as you and he were the only people in the garage area, you decided to get things off your chest.


“What happened to you?” you spat, disgust in your tone.

“What?” he asked back, standing straight and facing you with his arms folded across his chest.

“I leave and we are in good terms, I come back and all of a sudden you’re acting like you don’t know me, or I’m a child. My head is spinning! I can’t keep up with these moods of yours.”
You let out an exasperated sigh.
“Ye know what,” he began, “I’m jus lookin’ out for yer best interest. An’ it ain’t with tha’ Mayan!”

You rolled your eyes, what had gotten into him?

“Chibs! JAX said it was okay. I asked him before I ever said yes to Esai to make sure it wouldn’t cause any problems. If your VP, my TWIN brother, is okay with me getting to know Alvarez better, then who are you to say otherwise?”


“I don’t give a shite what Jax says. I said ye shouldn’t be seein him, (Y/N), much less lettin him come around here!”


You growled with frustration, your hands balled up into fists as your eyes shot daggers at the Scotsman in front of you.

“John Teller died eighteen years ago Filip Telford. You are NOT my Daddy.” You were fuming.

Silence filled the garage.

“Aye,” Chibs huffed after a long pause, “I gotta get back to work,” his tone was ice cold, so much so, that it actually hurt you to hear it.

“Hey!” you spat, reaching out and grabbing his arm as he walked away from you, yanking at his limb with all your strength, just barely turning Chibs around to face you. He didn’t speak, his jaw twitching as he glared down at you. You gulped, suddenly aware that the man in front of you was dangerous and regretting your harshness towards him. You cleared your throat, looking up at him and speaking, this time more softly.

“Why are you acting this way, Chibs?” you pleaded with the one person you truly considered a friend.

“Drop it, lass,” he sighed, shaking his head and looking down, unable to maintain eye contact.

You stepped closer, “Chibby…” your voice was just a whisper and he winced when you reached out to take his hand, “…talk to me.”

He mumbled something to himself that you couldnt comprehend before he took a deep breath and looked up at you, fire in his eyes as he did.

[To Be Continued…]

belajar melukai diri sendiri

“apa yang menyebabkan sebuah hal dapat melukaimu, atau apa yang orang lain lakukan kepadamu -yang sekiranya hal itu akan melukaimu, maka belajarlah melukai dirimu sendiri dengan itu.”

saya sering membayangkan luka-luka apa yang, suatu ketika, sekiranya akan tiba kepada saya. dari mulai hal apakah yang menyebabkan ia datang, dan bagaimana caranya ia datang: terang-terangan ataukah seperti pengecut yang mengendap-ngendap; datang sebagai si muka dua, ataukah datang dalam sebentuk sikap yang khianat.

setelah itu, kemudian saya akan memperhitungkan: seberapa parahkah jika saya kelak terluka, atau seberapa kuatkah saya akan bertahan? selanjutnya, tentu: bagaimanakah caranya untuk (segera) pulih? atau, apakah memiliki kemungkinan untuk pulih? jika ya, ada berapakah kemungkinan caranya untuk pulih? jika ada beberapa, yang manakah yang akan saya coba? lantas, akankah ia pulih total ataukah akan meninggalkan bekas? setelah itu, kemungkinan terburuknya: jika ia memiliki kemungkinan untuk pulih, bagaimana jika saya merasa justru tak ingin pulih? membiarkannya? menyerahkannya kepada waktu? atau malah menikmatinya?

selayaknya kebanyakan manusia, saya terluka. dan selayaknya seorang manusia yang terbatas oleh dimensi ruang dan waktu, tentu saja, tidak semua luka yang dialami setiap manusia telah saya alami juga. kadang saya iri kepada orang-orang yang penderitaannya tidak atau belum pernah saya alami. lebih iri lagi, jika mengetahui bahwa mereka tak mengeluh sedikit pun.

saya membayangkan bagaimana saja caranya mereka bertahan. saya iri kepada pengalaman-pengalaman mereka menjalani, menaklukan, atau bahkan menikmati penderitaan. saya iri dan kadang bertanya: kenapa penderitaan lebih memilih mereka? apakah saya lebih lemah? jika ya, selemah apakah saya?

di luar itu, saya percaya, bahwa setiap orang berhak merasa dirinya paling terluka. karena satu-satunya orang yang mengalami diri kita adalah diri kita sendiri. satu-satunya yang mengalami dirimu adalah dirimu sendiri. begitu pula dengan saya. tak ada yang serupa. meski mungkin penyebab, jalan, atau nama luka kita adalah sama. karena setiap manusia mengusung pengetahuan, pengalaman, trauma, monster-monster yang hidup di alam bawah sadar, dimensi, proses, alam pikiran, dan detail-detail lain yang berbeda. di mana hal-hal tersebut terlibat, bertumpang-tindih dalam menentukan sebuah respon, bahkan respon sebelum respon, dan respon untuk merespon.

saya percaya, kebahagiaan hanya sekedar jeda. yang lebih megah, yang lebih berperan mendewasakan manusia sebenarnya adalah luka. saya sering membayangkan luka apa yang suatu ketika sekiranya akan tiba kepada saya. oleh karena itu, kadang kerap saya terluka, jauh bahkan sebelum luka yang sebenarnya itu tiba. tapi dengan demikian, saya telah membiasakan diri, saya telah siap sedia, kadang bahkan tinggal menyambutnya dengan senyuman.

terakhir, saya ingin mengutip pernyataan Charles Baudelaire, seorang penyair:

“Harga kehidupan justru terletak pada penderitaan, bukan pada ilusi-ilusi yang kerap kita anggap sebagai kebahagiaan.”

Selamat sahur

Selamat sahur bu …
Setelah menutup puasa pertama, aku semakin ingin menyediakan Kurma untukmu,
membacakan doa, lalu memandikan pintu yang hanya ada dalam dirimu,
dan setelahnya ku kumpulkan ketidakberdayaan ini agar jadi bekal berbuka nanti.
Ibu, sudahkah aku menjadi anak yang sholeh ?

Sambil terus memanggil namamu,
segala duka dan rasa sakit ini bangkit dengan perkasa malam ini, menghamburkan sukma ke cakarawala, meniupkan ramai pada cermin dihadapanku.
Aku berkaca dikeheningan ramadhan bu,
meronta dan sesekali marah.
Ya, aku dicakar habis ketakutan.
Ibu, sudahkah aku jadi amal sholeh untukmu ?

Engkau merenguh, meremas waktu, tubuhmu kupeluk dan ketidakberdayaan ini tak minta dilepas,
sebab aku tak tau cinta itu berwujud apa ?
Jika yang sejati adalah harta karun yang ditemukan atau sejati itu adalah segala rupa yang dijumpai,
maka benar cinta mampu menghidupkan sekaligus membunuh sesuatu yang sudah mati.
Kebodohan, kecurangan , kesombongan dan kepalsuan ini selalu tersesat untuk dibenahi.
Ibu, sudahkah aku pantas menjadi doamu ?

Jika langkah sudah mencederai keadaanku,
biarkanlah beban yang tak seimbang ini lepas,
agar kuku dan jari-jarimu tetap menekan di pipiku.
Jika hatiku bergetar dan mengering,
biarlah ridhomu mencair, agar doa dan nafasmu membawa gairah baru padaku.
Ibu , sudahkah aku pantas menjadi anakmu ?

Selamat Sahur bu…
di dalam bayang-bayang tangtangan ramadhan,
rindu ini kukemas.
Sebagai hadiah berbuka untukmu nanti
dan kutitipkan pula doa yang terus berulang, berkedip , bercahaya kala gelap.
Ibu, sudah pantaskah aku melakukan ini ?

Bandung, 28-05-2017

Susu Jahe dan Esai

Sambil baca esai yang sedang naik daun beberapa hari ini, ditulis oleh Cak Nun, aku menikmati susu jahe buatanku sendiri yang ternyata tidak kalah enaknya dari buatan Mas-mas angkringan. Ahaha

Bikinnya cukup mudah kok, siapkan bahan-bahannya. Diantaranya satu bungkus susu kental manis sachet, satu ruas jahe, dan gula pasir secukupnya. Prosesnya gampang, jahe dibakar di atas api kompor gas. Setelah baunya harum dan warna hitam sudah mendominasi kulit jahe, proses selanjutnya adalah menguliti jahe tersebut dengan pisau. Setelah bersih, tahap selanjutnya adalah mememarkan jahe dengan apapun yang memungkinkan membuat jahe memar. Kalau aku tadi memakai munthu. Setelah itu, masukan jahe, susu kental manis dan gula pasir secukupnya ke dalam gelas kemudian tuang air panas yang baru mendidih. Tunggu beberapa saat. Susu jahe siap dinikmati. Hemm, rasanya jangan ditanya, joss pokok e!

Lanjut ke esai yang aku aku singgung diawal tadi, judulnya, “Pilgub, Pilpres, Pilnab, Piltu”. Dan yang paling maknyus dalam esai Cak Nun itu pada kalimat,

“Tuhan harus patuh kepada konstitusi Negara kita. Nabi dan Rasul tidak boleh melanggar aturan perundang-undangan Negara. Agama wajib menyesuaikan diri terhadap Pancasila. NKRI harga mati. Negara jangan sampai kalah lawan Tuhan.”

Eh, kalimat di atas jangan kau “makan mentah-mentah”. Itu sebuah sindiran saudara-saudara. Orang yang mencermati kondisi negeri ini meski sedikit saja, tahu maksud kalimat tersebut.

Nomong-ngomong, aku bikin tulisan ini dan baca esainya Cak Nun, sampai-sampai susu jaheku nggak panas lagi. Ah, kamu sih… hehehe.

02:10 p.m.
Yogyakarta, 02 Agustus 2017

Dementor Bernama Depresi

Bersyukur Tidaklah Cukup

“It’s so difficult to describe depression to someone who’s never been there, because it’s not sadness. I know sadness. Sadness is to cry and to feel. But it’s that cold absence of feeling — that really hollowed-out feeling.”

-J.K. Rowling


Barusan saya browsing ke blog seseorang yang bercerita tentang depresi yang dialaminya. Sebagai orang yang pernah mengalami depresi, saya suka membaca proses bagaimana seseorang bisa berhasil mengatasi depresinya. Cerita-cerita itu bisa jadi membantu mereka yang saat ini sedang mengalami depresi. Tapi ketika saya tiba di bagian komen tulisan itu, saya jadi kesal. Ada komen yang menyuruh si penulis blog untuk bersyukur.

Banyak sekali salah kaprah soal depresi atau tentang kesehatan jiwa. Selain tuduhan bahwa depresi disebabkan karena kurang bersyukur tadi, ada yang mengatakan depresi itu disebabkan karena kurang berpegangan pada agama atau penyebab-penyebab sok moralis lainnya. Ada lagi yang mengatakan bahwa obat-obat antidepresan dan obat penenang itu adalah seperti narkoba yang harus dijauhi atau cuma orang lemah yang minum obat antidepresi.

Jika kita memakai ukuran moral dan agama dalam urusan kesehatan, seharusnya rumah sakit menyediakan rohaniawan bukannya dokter untuk mengobati mereka yang sakit. Padahal sama seperti gangguan kesehatan lain, seperti diabetes atau kanker, depresi atau gangguan macam bipolar itu tidak sekadar bisa didoakan untuk sembuh, dan tidak bisa sembuh semata karena punya keinginan untuk sembuh…

Akibat stigma terhadap kesehatan jiwa, banyak orang yang malu atau tidak mau ke dokter spesialis kesehatan jiwa saat menderita depresi. Mereka takut dicap lemah.

Depresi bukanlah soal perasaan sedih dan tertekan sepanjang waktu. Sedih adalah perasaan tapi depresi adalah penyakit. Orang yang sedih tidak sama dengan depresi. Orang galau bisa merasa lebih baik sehabis curhat dengan sahabat, tapi orang sakit harus diobati untuk menyembuhkannya. Obatnya tidak bisa sembarangan dibeli, tapi harus berdasarkan resep dokter dan butuh terapi konseling untuk menyembuhan depresi akut tersebut.

Gejala-gejala depresi jauh lebih mendalam dari sekadar kesedihan dan suasana hati yang buruk. Malah sebaliknya, kita bisa tampak optimis dan depresi. Gejala-gejala depresi biasanya memengaruhi kondisi fisik, seperti letih, kesulitan tidur atau malah tidur terus, sulit konsentrasi, perubahan pola makan (malas makan/makan terus), tidak berminat melakukan kegiatan apa-apa, bahkan yang biasanya menyenangkan. Yang terburuk adalalah pikiran-pikiran tentang kematian dan bunuh diri.

Menurut Scott A. Langenecker, PhD, profesor bagian psikiatri di University of Illinois, Chicago, “Depresi, dalam berbagai cara, mengganggu keseimbangan kimiawi otak, yang mengakibatkan ingatan negatif, penurunan energi, dan keinginan untuk menarik diri dari hubungan sosial yang positif.”

Bagi saya, depresi adalah kondisi yang membuat saya lumpuh. Saya tidak merasa sedih atau tertekan. Bahkan sesungguhnya, saya tidak merasakan apa-apa sama sekali. Ada kehampaan bagai jurang kelam pekat dalam pikiran saya sehingga saya nyaris tidak mampu bergerak.

Jadi pertanyaan dan pernyataan seperti, “Kenapa sih kamu nggak bersyukur? Masih banyak lho yang lebih menderita dari kamu. Kamu seharusnya bersyukur punya hidup yang baik dan lain-lain, dan seterusnya…” Itu sama sekali tidak membantu. Malah akan membuat si penderita depresi makin terpuruk dan bersalah. Jangan salah kaprah, saya mendukung pikiran positif dan tidak antibersyukur. Tapi pada saat tertentu, dan di kala depresi, pernyataan-pernyataan seperti itu malah membuat mereka yang depresi merasa makin tak berdaya.

Saya bersyukur atas banyak hal dalam hidup saya. Saya punya tempat tinggal yang layak, pekerjaan impian, teman-teman yang baik, dan kucing-kucing yang memuja saya. Tidak ada hari berlalu, tanpa saya mensyukuri semua itu. Tapi itu tidak membuat saya lebih baik. Malah, seringnya depresi saya berubah menjadi gangguan cemas memikirkan hal-hal buruk menimpa semua yang saya syukuri.

Hingga saya akhirnya berusaha merangkul depresi itu. Langkah awalnya adalah dengan mengakui bahwa saya memang butuh pertolongan. Bahwa depresi itu nyata. Bahwa itu tidak hanya dalam pikiran saya sendiri. Saya tidak bisa menyembuhkan depresi hanya dengan bersyukur, berserah, dan berdoa. Saya tahu dalam perjalanan ini saya tidaklah sendirian. Saya juga tidak menjadi lemah dengan berobat. Dan, ini merupakan langkah awal untuk sembuh.

“I have never been remotely ashamed of having been depressed. Never. What’s there to be ashamed of? I went through a really tough time and I am quite proud that I got out of that.”

-J.K. Rowling

Gonjang Ganjing Literasi


Berbagai data menunjukkan kondisi literasi di Indonesia ada di titik yang mengecewakan. Data UNESCO menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Satu dari 1000 yang memiliki minat untuk membaca.
Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. 64 dari 65!

Penyebab lainnya, budaya menonton masyarakat Indonesia yang tinggi. Hal ini melemahkan minat membaca dan menulis siswa di Indonesia. Berdasarkan data BPS, dikatakan bahwa, jumlah waktu yang digunakan anak Indonesia dalam menonton televisi adalah 300 menit per hari. Jumlah ini terlalu besar dibanding anak-anak di Australia yang hanya 150 menit per hari dan di Amerika yang hanya 100 menit per hari. Sementara di Kanada 60 menit per hari.

Di tengah pelbagai data yang negatif tentang tanah air tercinta, ada sehembus napas yang melegakan. Belum lama ini (29/12/15), Jakarta dideklarasikan sebagai provinsi literasi pertama. Sebelumnya ada Surabaya yang diproklamirkan jadi kota literasi pertama dan SMP 10 Salatiga yang diklaim sebagai sekolah literasi pertama.

Embel-embel gagah ‘literasi pertama’ tersebut bermuara pada sebuah proyek yang mulia, Gerakan Literasi Sekolah. Gerakan tersebut dikembangkan berdasarkan Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Tujuan gerakan ini untuk membiasakan dan memotivasi siswa agar mau membaca dan menulis guna menumbuhkan budi pekerti.Salah satu bentuk riil dari gerakan ini adalah dianjurkannya membaca buku non pelajaran selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai.

Namun seolah kembali berlawanan dengan semangat literasi tersebut, setiap tahun harga buku selalu naik sekitar 10 hingga 20 persen. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh banyak hal. Harga kertas yang terus melambung, bermacam-macam pajak, inflasi, dsb. Celetukan-celetukan bahwa distribusi buku di Indonesia dimonopoli oleh toko buku 'G’ juga tak boleh dianggap sepele. Buku-buku (terutama yang baru) seolah ada di rak eksklusif yang tak tergapai.

Intelegensia Embun Pagi, buku baru Dee yang diterbitkan Februari 2016 ini dibandrol dengan harga Rp. 118.000. AAC 2 dijual dengan kisaran harga Rp. 95.000. Buku-buku baru Tere Liye juga harga segitu. Kemudian Ayah karya Andrea Hirata, harga launchingnya sembilan puluh ribu, kalau gak salah inget. Itu jatah makan seminggu untuk sebagian orang.

Dari tadi mengeluh mulu yak? Lalu apa solusinya? Bagaimana mengatasi harga-harga yang tak masuk di akal itu? Kritik yang konstruktif dong! Yep.

Berikut hal-hal yang bisa dilakukan sejauh ini.

  1. Bangun/ ikut komunitas. Tukar guling buku. Pinjem-pinjeman sama temen sekomunitas. Saling merekomendasikan buku favorit. Angkringan Literasi Kreatif (ALIF),  sudah memberikan jalan untuk itu. Tinggal gimana manfaatinnya.
  2. Beli buku bekas. Buku bekas tak kalah menggoda. Dengan harga bisa sampai 90% lebih murah, bahkan gratis(bonus pembelian). Kalau dapat koleksi pribadi yang masih mulus bahkan sudah disampul dengan rapi. Main ke 'G’ kolo-kolo saja, karena sesungguhnya 'G’ adalah kemewahan. 
  3. Pakai aplikasi dan baca ebook. Sesungguhnya kita beruntung sekali hidup ditengah kemajuan teknologi. Dengan adanya buku yang lewat hak ciptanya, kita legal membacanya. Berbagai karya-karya klasik dan berbagai ebook yang legal maupun ilegal(kalau tega) bisa lho diakses secara bebas.Sekarang ada platform baru namanya Bookmate yang sudah kerja sama dengan Bentang. Sebagai pendaftar baru, kita dikasih akses selama sebulan free. Dengan 4000 buku lokal di librarynya dan 500.000 buku keseluruhan dari berbagai bahasa. Bulan selanjutnya baru berbayar. Kita bisa membaca buku-buku baru (seperti Ayah - Andrea Hirata) secara legal. Menarik untuk dicoba bukan?

Omong-omong, lema literasi belum masuk KBBI? Padahal sudah digunakan secara luas lho. Ada apa ini? Hehe

Best Story; The Book That Killed Colonialism
External image

About 50 years ago, at a diplomatic reception in London, one man stood out: he was short by European standards, and thin, and he wore a black fezlike hat over his white hair. From his mouth came an unending cloud of aromatic smoke that permeated the reception hall. This man was Agus Salim, the Republic of Indonesia’s first Ambassador to Great Britain. Referred to in his country as the Grand Old Man, Salim was among the first generation of Indonesians to have received a Western education. In this regard, he was a rare species, for at the end of Dutch hegemony over Indonesia in 1943, no more than 3.5 percent of the country’s population could read or write.

Keep reading

KOMPETISI ESAI MATA MUDA : MAKING THE CONNECTION

Transparency International Indonesia bekerjasama dengan Pamflet dan Public Virtue Institute mempersembahkan Kompetisi Mata Muda: Making The Connection yang diselenggarakan pada 6 Oktober 2014-10 November 2014.

Mata Muda bertujuan membangun inisiatif dan kesempatan yang besar bagi generasi muda untuk menyalurkan partisipasi mereka dalam gerakan anti-korupsi dan HAM, memperkuat perspektif mereka di dalam gerakan sosial, memperkuat jaringan antar gerakan generasi muda, membentuk lingkungan kondusif yang memungkinkan generasi muda untuk tumbuh berkembang sebagai individu berintegritas, dan mendorong dalam membangun dan berpartisipasi dalam inisiasi gerakan anak muda terutama di bidang anti-korupsi dan HAM.

MATA MUDA

Melihat lebih dekat aksi-aksi anak muda merespon isu anti-korupsi dan HAM di sekitar mereka

ESAI

Apa sih esai itu?

Esai adalah suatu tulisan yang meggambarkan opini penulis tentang subyek tertentu. Nah kalau kamu punya ide-ide kece, apalagi soal HAM, anak muda dan anti-korupsi yang menari-nari di dalam kepalamu, jangan biarkan idenya hilang begitu saja! Yuk, tuangkan ide kamu ke dalam esai dan ikuti kompetisi Mata Muda ini.

APA KETENTUAN MENGIKUTI KOMPETISI ESAI MATA MUDA 2014?

  1. Peserta adalah Warga Negara Indonesia berusia 15-24 tahun
  2. Esai yang dikirimkan harus sesuai dengan tema kompetisi Mata Muda, yaitu “Mengangkat Permasalahan Anak Muda, Gerakan Anti-Korupsi dan Hak Asasi Manusia di Sekitarmu”
  3. Esai kamu harus terdiri dari minimal 700 kata, dan maksimal 1000 kata.
  4. Esai harus diketik dengan huruf Times New Roman, 12 pt, dan spasi 1,5.
  5. Simpan esai kamu dengan format Ms. Word ataupun PDF dan kirimkan ke matamuda2014@gmail.com
  6. Esai harus orisinil dan tidak memiliki unsur plagiarisme, tidak mengandung unsur SARA dan pornografi.
  7. Esai harus menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar serta sesuai dengan EYD.
  8. Esai belum pernah dipublikasikan ataupun dikirimkan ke kompetisi lain.
  9. Peserta harus mengisi formulir pendaftaran dan mengirimkan bersama dengan karya yang kamu punya.
  10. Peserta diperbolehkan untuk mengirimkan karya sebanyak-banyaknya untuk setiap kategori kompetisi.
  11. Batas akhir penyerahan karya adalah tanggal 10 November 2014 pukul 23.59 WIB.
  12. Peserta dengan karya esai foto yang terpilih ke dalam 20 finalis bersedia untuk mengikuti kegiatan Youth Camp yang diselenggarakan oleh Transparency International Indonesia dan Pamflet di Jakarta, tanggal 9-11 Desember 2014.

BERAPAKAH BIAYA PENDAFTARANNYA?

It is free! Jadi, yuk, buruan ikutan. Jangan lupa ajak teman kamu, ya!

INFORMASI LEBIH LANJUT :

Website : http://matamuda.tumblr.com/esai

Selingkuh Minus Seks, Mungkinkah?

Mungkin, godaan untuk selingkuh hanya datang sesaat akibat rasa jenuh dan penuh tekanan dalam pekerjaan dan keluarga.

Biasanya rasa sesal akibat berselingkuh baru muncul belakangan, yaitu ketika menyadari bahwa kejujuran dan komitmen merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan.

Sandra (45), seorang pengajar, bertemu dan tertarik dengan seorang pria menawan yang mempunyai latar belakang sama. Pria tersebut membantu Sandra mengerjakan proyeknya. Mereka mulai berkomunikasi melalui e-mail, bicara lewat telepon, dan ngopi bersama di kafe.

Masalahnya, Sandra sudah punya kekasih, sementara sang pria sudah beristeri. Walaupun hubungan mereka dekat, mereka tidak melakukan hubungan seks.

Apakah hubungan mereka dapat dikatakan berselingkuh? Jawabannya adalah “Ya”. Perselingkuhan secara emosi atau perselingkuhan yang tidak disengaja, mempunyai pengaruh besar terhadap seseorang.

Mungkin pada awalnya mereka hanya berpikir hubungan mereka sebatas pada persahabatan. Tetapi ketergantungan emosi di antara mereka dan ketidakterusterangan mereka pada pasangan merupakan awal dari suatu pengkhianatan terhadap pasangan masing-masing.

Kebanyakan perselingkuhan emosional terjadi karena hubungan yang intensif dan sering dijumpai di tempat kerja.

Berdasarkan hasil penelitian, lebih dari separuh pertemanan di tempat kerja berkembang menjadi hubungan yang lebih dari sekadar sahabat. Misalnya antara sesama kolega yang saling curhat mengenai pekerjaan maupun masalah pribadi.

Semakin tergoda

Batasan perselingkuhan memang amatlah tipis. Bahkan, tidak adanya sentuhan bukan berarti tidak terjadi perselingkuhan. Meskipun banyak orang berpendapat sejauh tidak berhubungan seks, tidak ada yang salah, kenyataannya, para ahli mengatakan, kesalahannya sangat banyak.

Tidak penting apakah hubungan tersebut akan menjadi lebih parah atau tidak, tetapi yang pasti dan jelas, Anda sudah berbohong kepada pasangan.

Dan kebohongan tersebut akan berlanjut dari satu kebohongan ke
kebohongan-kebohongan lainnya.

Hal ini sebenarnya merupakan bahaya yang tidak kelihatan dan tidak disadari. Semakin Anda merasa aman-aman saja, hubungan Anda berpotensi untuk semakin jauh, dan Anda semakin berusaha untuk menutupinya. Anda semakin tergantung pada orang ketiga tersebut dan tanpa disadari hal ini menjauhkan Anda dari pasangan.

Bagaimana mengetahui bahwa rasa tertarik ini merupakan perselingkuhan yang membahayakan atau tidak? Cara yang tepat untuk mengetahuinya adalah bila Anda menyembunyikan rasa ketertarikan pada orang lain ini dari pasangan.

Bila Anda makan siang dengan orang ketiga tersebut dan tidak
menceritakannya pada pasangan, lalu sesudah pertemuan tersebut pikiran Anda tidak pernah lepas darinya, itu tandanya Anda tertarik pada orang tersebut secara emosional.

Percuma saja Anda mengatakan punya seorang kekasih, karena nyatanya, toh, Anda mau pergi berkencan dengannya. Anda berdua sadar, hal tersebut tidak dibenarkan. Tetapi justru dengan melakukannya secara sembunyi-sembunyi, membuat Anda berdua semakin bergairah dan tergoda untuk melakukannya. Lagi
dan lagi.

Tentu saja Anda tidak akan menceritakannya pada pasangan. Padahal, bila Anda mengetahui pasangan Anda yang melakukan hal tersebut, Anda pasti tidak akan bisa menerimanya.

Kalau sudah tergelincir, lantas, bagaimana cara menghentikannya? Untuk panduannya, cobalah menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini untuk menilai perselingkuhan emosional Anda sudah tergolong berat atau masih ringan.

1. Apakah Anda menyentuhnya dengan cara yang wajar, misalnya membersihkan kotoran di kemejanya?

2. Apakah Anda menceritakan kepadanya secara rinci apa yang Anda dan pasangan lakukan sehari-hari?

3. Apakah kadar mengobrol dengannya lebih sering daripada dengan pasangan?

4. Apakah pasangan tidak tahu sudah berapa kali Anda bertemu dengan orang ketiga tersebut?

5. Apakah Anda memperhatikan penampilan sebelum bertemu dengannya?

6. Apakah menurut Anda ketertarikan ini karena Anda berdua mempunyai minat yang sama?

7. Pernahkah salah satu dari Anda berdua mengatakan, “Saya menyukai kamu tetapi sebaiknya saya harus bisa membatasi diri karena saya/kamu sudah menikah/bertunangan.”

8. Apakah Anda merasa tidak nyaman bila foto Anda dengan orang ketiga dilihat oleh kekasih/pasangan?

Nah, berapa jumlah jawaban yang Anda jawab dengan “Ya”? Coba lihat hasilnya.

Jika 0-1: Yang Anda jalani bersama orang ketiga itu murni persahabatan, tidak berbahaya.

Jika 2-4: Hati-hati karena Anda nyaris tergelincir. Lebih baik mundur, mulailah jaga jarak.

Bila 5 atau lebih: Tanda bahaya sudah berbunyi, alias Anda terlibat perselingkuhan emosional.

Bila berada di tingkatan “berhati-hati”, artinya Anda sebetulnya masih mencintai pasangan, hanya saja Anda sedang tertarik pada orang lain. Nah, Anda masih dapat dan harus memberi batasan.

Bila tergoda, akui pada diri sendiri bahwa Anda memang tergoda dan biarkan perasaan tersebut untuk beberapa waktu sampai akhirnya hilang dengan sendirinya. Akhirnya, Anda berdua dapat menjadi sahabat sejati dan bahkan “teman” Anda pun menjadi sahabat dari pasangan.

Jika telah melampui batas, terbenam dalam perselingkuhan tetapi telah terikat dengan seseorang, Anda masih bisa berusaha memperbaiki hubungan dengan pasangan. Biasanya, sesudah melewati perselingkuhan untuk beberapa lama, akhirnya orang-orang yang berselingkuh ingin kembali kepada pasangannya.

Mengatasi masalah ketidaksetiaan bukan sekadar mengenai mengapa hal ini bisa terjadi, tetapi lebih kepada bagaimana Anda menyikapinya. Anda harus memutuskan, apakah perselingkuhan ini akan menghancurkan hubungan dengan pasangan, atau justru perselingkuhan ini akan mengokohkan hubungan berdua?

Konsep Perjodohan

Sulit mencerna konsep jodoh ala postmo, dekontruksi perjodohan sebenarnya di tangan manusia (‘bukan di tangan Tuhan,’ menurut saya) dan adanya lembaga pernikahan untuk merangsang terjadinya pernikahan.

Mudah-mudahan tidak salah, tetapi rasanya saya begitu sulit menerima pergeseran-pergeseran konsep dasar tersebut. Apakah saya termasuk dalam fase denial towards liberation of human kind?

Tapi saya juga tidak bisa menolak kebenaran konsep postmo. Kenyataan berbicara demikian, banyak perempuan modern yang terjebak dalam kondisi: “Is it better to be in a committed relationship but be cheated on and yet still be married in the end? Or is it better to reject commitment, to be cheat and to not get married?”

Sebagai pria, saya rasa kedua pilihan di atas tadi tak ada yang lebih baik, saya juga melihat begitu banyak kasus yang mengorbankan pihak wanita. Realitanya, wanita yang dipacari berlama-lama dan diselingkuhi karena eksistensi waktu menimbulkan kejenuhan, tetap saja memaafkan dan mau menikah dengan pria yang dicintainya secara ‘membabi-buta’ atau cenderung abstrak. Sedangkan wanita-wanita selingkuhan—yang terkadang jauh lebih berkualitas secara intelektual dan sebenarnya berani menentukan pilihan demi cinta yang konkret—malah dianggap intimidatif dan diekstradisi dari komitmen jangka panjang.

Tidak mungkin praktik kebodohan wanita pertama dan ketidak-adilan terhadap wanita kedua adalah konsep jodoh yang baik. Bersenang-senang di atas penderitaan orang lain, lain ceritanya bila saya harus setuju bahwa jodoh ditentukan oleh ‘kebodohan’ atau ‘keputus-asaan’ manusia, biarkan konsep jodoh jadi  begitu abstrak tanpa bisa dielaborasi.

Tak perlu pusing-pusing menganggap telah terjadi perubahan pola piikir dari konservatif ke postmo. Toh, contoh kasus yang saya jabarkan tersebut justru mempertegas bahwa masih menjamurnya praktek ‘Siti Nurbaya’ yang pasrah di era BlackBerry ini. Ternyata pria masih senang mendominasi, sedangkan wanita ‘canggih’ dianggap membahayakan, padahal prototype wanita seperti mereka sungguh-sungguh membutuhkan conversation, companionship dan seks.

Saya juga banyak menemukan kasus-kasus kontradiktif pasca nikah, yaitu istri-istri yang ‘alim’ semakin banyak ditinggalkan oleh suami, baik lewat selingkuh atau diceraikan untuk bersama dengan wanita lain yang lebih berkarir, eksperimental dan atraktif.

See? No Concept!,  Sebaiknya abaikan dan buang jauh-jauh ketiga input beserta konsep manapun juga. Konsep hanya merusak kenikmatan hidup ini, lebih baik kita jalani saja tanpa teori, tanpa takut, tanpa heran dengan fenomena perceraian dan perselingkuhan tanpa harus mencari-cari siapa yang benar dan siapa yang salah.

Peranan UKM Dalam Perekonomian Indonesia

Stan itu terlihat apik. Berbagai barang mainan edukatif ditata dengan rapi. Barang-barang yang terbuat dari kayu itu ditata sesuai warna sehingga terlihat serasi ketika dipandangnya. Bagi Pak Baidi, penjualan produk yang ditata dengan baik akan berdampak baik terhadap penjualannya. Bermodal keterampilan mengolah kayu, Baidi mengubah limbah kayu menjadi berbagai jenis  mainan edukatif menarik. Mulai dari mobil-mobilan, bentuk huruf, hingga bentuk alfabet dicat berwarna – warni. Berbagai mainan edukatif tersebut sangat membantu merangsang perkembangan otak anak, khususnya dalam mengenal bermacam huruf dan numerik.

Dengan modal yang sangat terbatas, Baidi memberanikan diri memulai usahanya. Tiga saudaranya pun ia pekerjakan. Modalnya hanya kayu -  kayu limbah produk pabrik furnitur sebagai bahan baku, serta sebuah mesin potong dan bor kayu bekas seharga Rp1,5 juta. Di luar dugaan, kini usahanya berkembang begitu pesat. Produk kerajinannya merangkul pasar hingga ke berbagai daerah. Namun, kesuksesan pasar itu harus ia perjuangkan karena kesulitan modal dalam memenuhi tuntutan pasar. Ia pun mencoba mengajukan kredit ke bank, namun sulit didapat dengan alasan kekhawatiran bank akan terjadinya kredit macet.

Itulah salah satu gambaran kegiatan UKM yang ada di Indonesia saat ini. Berbagai kegiatan UKM di Indonesia menjadi tumpuan hidup rakyat Indonesia. Akan tetapi, pemerintah belum memberikan perhatian yang optimal kepada UKM ini. Berbagai hambatan dihadapi perusahaan UKM, mulai dari kurangnya pengetahuan mengenai pemasaran yang optimal, rendahnya daya saing dengan serbuan produk impor, hingga kesulitan modal untuk ekspansi perusahaan. Produk UKM memang dikeluhkan oleh masyarakat karena harganya yang lebih mahal dibanding produk sejenis buatan Cina. Mungkin salah satu upaya agar produk tersebut bisa diserap di pasaran sendiri ialah melalui pemberian keringanan pajak terhadap produk UKM tersebut agar menjadi lebih murah. Dan juga campur tangan pemerintah dalam regulasi perbankan agar bank – bank swasta mau memberikan kredit termasuk kepada pelaku UKM. Tentunya jika banyak produk UKM yang terserap dipasaran sendiri akan berdampak pada peningkatan jumlah tenaga kerja yang terserap. Salah satu indikator meningkatnya perekonomian sutu negara  ialah mennurunnya jumlah pengangguran.

Per Januari 2010 pun, Indonesia mulai berlakukan Perdagangan Bebas ASEAN-Cina. Hal itu makin menjadi sebuah kepahitan bagi produk UKM kita. Tentunya itu disebabkan oleh lebih murahnya produk impor khususnya yang berasal dari Cina. Oleh karena itu sungguh menyedihkan ketika pemerintah memberlakukan MoU yang tidak penuh persiapan di pihak Indonesia tersebut. UKM sebagai usaha yang mempekerjakan banyak tenaga kerja tentu sangat cocok dengan kondisi Indonesia, yang berpenduduk banyak. Apabila produk UKM Indonesia kalah saing dengan produk impor, tentunya akan banyak yang kehilangan pekerjaan karena ketiadaan permintaan pasar.  Bahkan, di kota – kota besar seperti Jakarta, mengonsumsi produk impor menjadi lebih prestise dibanding produk UKM. Oleh sebab itu, perlu sebuah kesadaran nasional akan pentingnya mengonsumsi produk sendiri demi tegaknya perekonomian Indonesia. Hal itu sungguh sebuah ironi melihat Indonesia hanya menjadi bangsa konsumen berbagai produk impor.

Akan tetapi, tidak berarti pemerintah lepas tangan dengan hal itu. Berbagai upaya dilakukan pemerintah, mulai dari bernegosiasi kembali dengan Cina dalam aturan perdagangan bebas tersebut, pempromosian produk UKM, upaya peningkatan teknologi agar memiliki daya saing, hingga dibangunnya sebuah mal  khusus yang menjual aneka produk hasil kerajinan UKM. Produk UKM sebagai hasil karya anak bangsa memang sudah sepatutnya mendapat perhatian lebih, karena itu bisa menjadi suatu kebanggaan bangsa akan adanya kreativitas di negeri ini. Produk impor yang menyerbu pasaran  dengan harga lebih murah, sesungguhnya memiliki bahaya mengancam. Yaitu produk Cina yang terdiri dari mainan anak-anak, hingga makanan camilan yang mengandung zat – zat kimia berbahaya jika dikonsumsi. Oleh karena itu, perlu upaya pemerintah dalam menjaga warganya namun tetap mengikuti aturan perdagangan bebas agar tidak dikucilkan di dunia internasional.

PUTUS CINTA ATAU HUBUNGAN, PRIA LEBIH MERANA DAN CENGENG…?!
Dengan melihat judul di atas, memang ini suatu pertanyaan yang menggelitik, karena  selama ini pria selalu identik dengan kekuatan dan ketegaran dalam menghadapi suatu masalah.

Walau wanita menangis tersedu-sedu, sedangkan pria hanya diam, bukan berarti kaum adam ini kuat menghadapi putus cinta atau putus hubungan. Malah menurut sebuah penelitian, pria selalu ‘lebih cengeng’ ketimbang wanita. Beberapa penelitian membuktikan, tingkat depresi, stress dan kecemasan pria lebih parah ketimbang wanita pasca putus cinta. Dilansir yahoo, Jumat (20/4/2007), hal ini kemungkinan disebabkan karena karakteristik sifat pria. Simak penjelasannya: 

Pria Kerap Menutupi Sakit Hatinya Hai…, masa seorang pria menangis? Mungkin begitulah yang terlintas di benak pria. Pelampiasannya paling pergi bersama beberapa teman pria dan berakhir dengan mabuk-mabukan. Intinya, pria kadang enggan menunjukkan perasaan sedihnya ketika putus dengan sang kekasih, ia merasa harus selalu tampak tegar.

Sedangkan wanita, kebanyakan langsung menangis atau curhat pada sahabat begitu cintanya diputus. Begitu juga ketika memutuskan cinta, wanita biasanya berbicara apa-adanya dan langsung mengeluarkan apa isi hatinya, intinya, wanita berani menghadapi rasa sedihnya, sedangkan pria banyak menahan reaksi atau perasaannya, alhasil semuanya menumpuk dan sulit dibuang. 

Pria Tidak Punya Banyak Teman  Begitu mengalami patah hati, hampir seluruh wanita langsung mengungkapkan isi hati atau bercerita kepada teman terdekatnya. Teman tersebut bisa saja ibu, sahabat, tetangga, teman kantor atau bahkan supir taksi yang ditumpanginya setelah meninggalkan sang pacar. Penelitian membuktikan, pria kerap menggantungkan kedekatan emosionalnya pada sang pacar, sedangkan wanita punya ‘sejuta tempat’ selain sang kekasih.

Pria lebih sering memendam perasaannya dan berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau ia baik-baik saja, setidaknya baru enam bulan kemudian pria tersebut menyadari dan berani mengungkapkan pada teman-teman dekatnya kalau ia ingin kembali pada sang kekasih. 

Pria Benci Awal yang Baru Begitu putus, pria umumnya merasakan sedikit kegembiran, bisa berkencan dan menggoda banyak wanita, berburu kekasih baru dan lain-lain, tapi setelah kencan pertama, kedua dan ketiga, akhirnya rasa jenuh pun melanda, sang pria pun menyadari masih panjang jalannya untuk menemukan kenyamanan yang sama seperti pada kekasihnya dulu.

Menurut penelitian, secara mental umumnya wanita lebih siap menghadapi putus cinta, sedangkan pria jarang berpikir hubungan akan berakhir dan umumnya pria baru menyadari betapa berharga mantan kekasihnya dan betapa ia kehilangan dirinya setelah berbulan-bulan putus cinta. Hasilnya, sang wanita sudah jauh memulihkan diri dan semuanya sudah terlambat. 

Pria Berpatok Pada Khayalan  Putus cinta atau hubungan juga kerap disebabkan karena pria merasa bosan dengan kekasih atau pasangannya, kencan yang sama, pertengkaran yang sama dan hal-hal lain yang lama-lama membuatnya jenuh. Begitu putus, ia berpikir akan langsung bertemu dan berkencan dengan banyak wanita, walau mimpi tersebut benar-benar terjadi diam-diam ia merasa kehilangan keintiman dan kenyamanan yang sebelumnya ia dapat dari sang mantan pacar. Penelitian membuktikan, wanita umumnya lebih cepat menyadari kalau fondasi dari hubungan yang awet adalah keintiman. Sedangkan pria umumnya lebih memikirkan seks sehingga akhirnya mereka salah orientasi. … Apa Demikian? Apa yang ada dalam benak anda saat ini…???