eroric

RTM : Perempuan dan Kendaraan

“Dek, kita nyari velg yuk.” ujarku beberapa bulan yang lalu.

“Velg itu apa, Mas?” tanyanya polos.

Itu terjadi ketika beberapa bulan lalu ingin upgrade velg yang lebih besar untuk kendaraan.

“Ngerebus air buat apa, Mas? Buat mandir ya?” tanyanya sambil nyapu.

“Nanti mau disiram kebagian mobil yang penyok, ternyata bisa dibenerin sendiri. Nanti tinggal diteken dari dalam atau ditarik pake alat.” ujarku sambil melihat tutorial cara membetulkan penyok di bumper mobil di Youtube.

Itu terjadi ketika tanpa sengaja saya menyokin salah satu bagian kendaraan.

“Dek, tarikan gas mobil ini kayak ngajak balapan soalnya beda sama mobilnya ummi, meski sama-sama automatic, ternyata transmisinya beda. Punya kita A/T, punya Ummi CVT.”ujarku antusias.

“Transmisi itu buat apa ya, Mas?” tanyanya polos.

“Itu lho yang mindahin gigi.” ujarku.

“Ooo…” balasnya.

Dan masih banyak percakapan lainnya tentang dunia kendaraan. Dan perempuan (sejauh yang saya kenal) memang banyak yang tidak ambil pusing soal kendaraan dan selukbeluknya. Kalau motor mogok di jalan, ia tidak tahu apa yang terjadi. Kalau service ke bengkel, ia pun bingung menjelaskan. Bahkan mungkin tidak tahu nama bagian-bagian sparepartnya.

Dalam berumah tangga, hal-hal ini seperti ini menjadi bumbu tersendiri. Perawatan rumah, ia ahlinya. Tapi soal kendaraan, mau tidak mau laki-laki harus belajar. Kalau terjadi apa-apa, setidaknya masalah-masalah ringan, bisa mengurus sendiri.

Salah satu hal yang belum sempat saya ajarkan ke istri adalah cara mengganti ban mobil. Hal-hal yang bisa saya ajarkan tentang kendaraan, saya transfer dengan cara-cara yang menyenangkan.

Saya ajak dia ke toko ban dan velg, mengenalkan beragam jenisnya, ukurannya, PCD nya, dsb. Sekarang tiap kali berkendara, kalau melihat Velg bagus, selalu berujar antusias.

“Mas, mas, itu velgnya bagus!” ujarnya sambil menunjuk. Saya tersenyum sendiri.

Kalau lagi ngutak utik kendaraan di rumah, saya kenalkan bagian-bagiannya. Kalau gak bisa ini, apa yang harus di cek. Kalau ini eror, nama bagiannya apa dan gimana cara gantinya. Kalau air wipernya habis, dimana mengisinya. Kalau mengisi nitrogen untuk ban, berapa tekanannya. Dan hal-hal lainnya.

* * * *

Dalam berumah tangga, ada transfer pengetahuan yang sifatnya menyeluruh. Termasuk transfer ilmu pengetahuan umum, baik itu tentang memasak, dsb. Kalau laki-laki menjadi kapten, maka penting baginya untuk mengajarkan perempuan bagaimana menjadi kapten, agar dalam kondisi darurat ia bisa melakukannya. Kalau istri menjadi koki, penting juga untuk mengajarkan laki-laki menjadi koki, memasak di rumah. Agar dalam kondisi darurat, laki-laki bisa melakukannya, memasak untuk keluarga.

Berumah tangga, kita tidak hanya berbicara bagaimana mengajarkan pemahaman agama, tapi segala sesuatu yang menyeluruh. Berbagi dan saling menggantikan peran. Agar bahtera rumah tangga ini selalu siaga dalam kondisi apapun.

14 Agustus 2017 | ©kurniawangunadi

How to use social media without being anxious

1. Kalau ngga ada yang perlu di-upload, ngga perlu mengada-adakan. Dunia ngga berakhir hanya karena kamu ngga ngupdate Instagram, Path, Facebook, Tumblr, Twitter, dkk selama sehari.

Kecemasan bisa muncul ketika kita ngga bisa mengendalikan diri kita sendiri. Cemas dianggap ngga update, ngga tahu, ketinggalan, ngga kekinian, ngga populer, dst. Padahal semua kecemasan itu adanya hanya di rongga kepala kita sendiri. Kenyataannya, hidup kita akan baik-baik saja meski ngga ikut-ikutan tren Boomerang, live report, et cetera.

2. Ngga penting siapa yang nge-like dan yang ngga nge-like postingan kita. Ngga penting berapa followers kita, berapa yang nge-like/share/komen.

Menghabiskan waktu untuk mengecek notifikasi dan membacanya baris per baris bisa berdampak pada munculnya kecemasan.

Cemas kalau jumlah followers sedikit.

Cemas kalau orang tertentu ngga nge-like, “Apakah artinya dia ngga suka? Ngga temenan lagi?”

Cemas kalau like/respon/komentarnya sedikit, “Aku ngga diterima di masyarakat ini deh kayaknya?”

Lagi, padahal kecemasan itu adanya hanya di kepala kita.

Kenyataannya, penerimaan orang lain bukan terlihat dari interaksi kita dengannya di media sosial. Tapi dari interaksi kita dengannya di dunia nyata. Jumlah teman yang banyak di media sosial tidak ada artinya jika sehari-hari kita bingung mau cerita pada siapa ketika punya masalah. Ngga tahu mau minta tolong ke siapa ketika kita butuh dibantu.

3. Follow-unfollow adalah hak, bukan kewajiban. Setiap orang berhak memilih siapa yang diikuti, siapa yang tidak. Setiap orang juga berhak menentukan siapa yang boleh mengikuti/berteman dengannya, siapa yang tidak.

Pilihan untuk meng-unfollow atau meng-unfriend tidak selalu bisa diterjemahkan sebagai kebencian/ketidaksukaan. Ada banyak alasan lain yang mungkin. Seperti : perbedaan minat genre postingan.

Tenang, ketika ada yang meng-unfollow atau meng-unfriend, di dunia nyata orang-orang dekatmu tetap menyayangi dan mencintaimu

4. Media sosial bukan ukuran kebahagiaan dan kesuksesan.

Ada dia yang suka mengunggah kemesraan dengan pasangan. Ada dia yang rajin berbagi pengalaman jalan-jalan. Ada dia yang sering mengirim kabar karir, pekerjaan, atau pendidikan.

Tapi, bukan berarti orang yang ngga mengunggah kemesraan jadi kalah bahagia. Bukan berarti orang yang ngga upload foto pemandangan jadi kalah hebat. Bukan berarti orang yang ngga cerita soal perjuangan bekerja, karir, atau pendidikan jadi kalah tangguh.

Sebagian orang berbagi banyak hal yang membahagiakan hanya untuk menularkan kebahagiaannya. Ada juga yang sedang menguatkan dirinya sendiri. Ada juga yang bermaksud untuk mengingatkan diri sendiri.

Kenyataannya, mereka pun sama-sama berjuang. Sama-sama mengalami kesusahan. Sama-sama mengalami permasalahan. Dan pasti sama-sama ngupil, cebok, dan garuk-garuk. Hidup tidak sesempurna feed Instagram.

Sesempurna apapun citra yang tampil melalui media sosial, tidak bisa menghilangkan kondisi bahwa kita semua tetaplah manusia biasa. Jadi tidak perlu cemas dengan segala perbandingan yang tampak di layar. Mari bersyukur dengan capaian, hidup, dan takdir masing-masing.

5. Sepanas apapun timeline, tetaplah tersenyum.

Isu panas tak henti membanjiri linimasa. Dari soal perpolitikan sampai soal agama. Dari yang hoax sampai yang benar. Adakalanya semua itu tercerna sebagai alasan untuk kita merasa cemas.

Dunia serasa sudah hancur. Tidak ada harapan. Terlalu banyak masalah besar. Terlalu banyak hal negatif. Bagaimana nasib anak cucu nanti?

Padahal, kerusakan yang dibuat manusia bukan sesuatu yang baru. Bahkan di zaman Nabi Nuh, puluhan abad silam jauh sebelum ada situs-situs penyebar hoax dan kebencian, kerusakan sudah merajalela. Sampai-sampai diturunkannya banjir bandang sebagai peringatan.

Keburukan dan kebaikan selalu hadir beriringan. Begitupun dengan kejahatan dan kebajikan, juga masalah dan solusi. Sesekali berpuasalah melihat konten-konten negatif di media sosial. Sebab, dunia nyata mungkin tidak seburuk yang kita sangka.


Masih banyak kabar baik yang menyegarkan. Masih banyak orang baik yang patut kita belajar darinya.

Insya Allah, perlindungan senantiasa diberikan bagi siapa saja yang meminta pada-Nya.

___

Sorry ngepos ulang. Yang tadi ada eror waktu upload sehingga ngga ada poin empat dan lima nya.