ereveld

Tentang Alfred Emile Rambaldo Yang Terkait Dengan Patung Gubernur Suryo, Dan Hal Mistisnya

cangcor - Tahukah kamu jika di tempat patung Gubernur Soerjo di Taman Apsari (pada jaman Hindia-Belanda taman tersebut bernama Kroesen Park) ada yang terlebih dahulu menghuni?

Yap! Atas jasa-jasanya, sebuah patung didirikan di Kroesen Park (kini Taman Apsari) untuk mengenang Alfred Emile Rambaldo, beliau adalah Perwira Angkatan Laut, Meteorolog, dan Penerbang Pioner Belanda. Lahir di Rembang, 16 November 1879 dan meninggal di Nglebur, Jiken, Blora, 5 Agustus 1911 pada umur 31 tahun, di makamkan di Ereveld Kembang Kuning (lebih familiar disebut Pemakaman Kristen Kembang Kuning oleh warga sekitar).

Kronologi meninggalnya Alfred Emile Rambaldo

Bulan Juli 1911, Rambaldo harusnya berangkat pulang ke Belanda. Tapi sayangnya beliau tidak mendapatkan tiket karena kapal telah penuh. Untuk mengisi waktu menunggu keberangkatan kapal sebulan berikutnya, pada tanggal 5 Agustus 1910, Rambaldo beserta seorang asisten kembali melakukan penerbangan balon udara panas dari Surabaya menuju Semarang.

Balon yang diciptakan Rambaldo memiliki kekurangan, yaitu sangat mudah diombang-ambingkan oleh angin dan peka terhadap kondisi temperatur cuaca. Benar saja, saat terbang, mereka mengalami cuaca dingin. Balon turun tiba-tiba kemudian tersangkut di pucuk pepohonan hutan jati di daerah Blora, Jawa Tengah, dan Rambaldo terpental keluar. Karena muatan jadi lebih ringan, balon membawa asisten yang masih berada di balon udara naik kembali dan terus terbang.

Besoknya dilakukan pencarian dan menemukan Rambaldo telah tewas dengan retak di kepala. Sepeninggal tragedi Rambaldo, klub balon udara mengalami mati suri dan bubar lima tahun kemudian.

Sekedar informasi, Alfred Emile Rambaldo merupakan orang Belanda pertama yang terbang menggunakan wahana “Lighter Than Air” di Hindia Belanda (kini Indonesia), tepatnya pada 26 Februari 1910, di Batavia (kini Jakarta).

Kembali ke bahasan tentang patung. Patung Alfred Emile Rambaldo lama berada di Kroesen Park, Hindia-Belanda, lalu kemudian dipindahkan ke Lapangan Udara De Kooy, Den Helder, Belanda. Sekarang, kamu bisa melihatnya langsung di Pangkalan Udara Valkenburg, Katwijk (kalo punya duit, hehehe…).

Kini, di Taman Apsari, Berdiri gagah patung Gubernur Soerjo di bekas tempat patung Alfred Emile Rambaldo pernah berdiri.

Tenang, jika kamu ingin melihat patung Alfred Emile Rambaldo, gak usah jauh-jauh ke Belanda, karena Surabaya masih memiliki patung Alfred Emile Rambaldo yang lain. Datang dan sekalian nyekar ke makam beliau di Ereveld Kembang Kuning, mudah menemukan makam beliau, karena di atasnya terdapat patung beliau.

Tapi ada misteri unik pada patung tersebut, seperti di kutip dari Detik Surabaya. Kepala Komplek Pemakaman Kembang Kuning Mujiyono yang ditemui detikcom juga mengaku tidak tahu menahu tentang latar belakang makam Rambaldo yang diyakini sebagai perwira Angkatan Laut Belanda yang pertama menerbangkan balon udara.

Termasuk keberadaan patung sang pilot di atas makam itu, dia juga tak mengetahui sejarahnya. “Makam pilot itu sudah tidak asing lagi. Sudah lama ada,” kata Mujiyono kepada detikcom, Kamis (12/12/2013).

Pria yang mengaku baru dua tahun bekerja di Kembang Kuning ini menyatakan informasi yang beredar hanya menyebutkan bila yang dimakamkan seorang pilot.

Demikian pula Supardi. Petugas pembersih makam ini mengaku tak tahu sejak kapan patung Rambaldo itu berada di atas makam tersebut. Ia menyakini sudah puluhan tahun lamanya.

“Tidak ada yang tahu. Mungkin yang tahu pejabat Belanda di sana,” kata Supardi yang mengaku kali pertama bekerja membersihkan makam pada tahun 1976.

Hanya saja Supardi mengakui jika warna patung pilot itu pada masa lalu berwarna hijau. “Saya tidak tahu lagi kok kemudian menjadi putih warnanya,” kata dia.

Nah, padahal patungnya ada yang di pindah ke Belanda, kenapa patung yang di atas makam gak sekalian di bawa juga ke Belanda? Mungkin Alfred Emile Rambaldo betah di Surabaya, atau jangan-jangan……… *brrr~*

Hal Mistis Patung Alfred Emile Rambaldo Di Makam Kembang Kuning

Percaya atau tidak, ternyata pose patung Alfred Emile Rambaldo yang berada diatas makamnya itu berubah tidak seperti dulu. Hal itu diungkapkan pak Supardi yang bertugas sebagai pembersih makam Kembang Kuning. *hii~*

Seperti di kutip dari Detik Surabaya, “Silahkan percaya atau tidak. Tapi saya tidak bohong, bahwa patung itu posisinya berbeda dengan sekarang,” ujar Supardi kepada detikcom, Kamis (12/12/2013).

Ia menceritakan, dirinya bekerja sebagai pembersih makam di Kembang Kuning sejak 1976 sehingga mengetahui persis pose patung penerbang yang dilahirkan di Rembang, Pasuruan, itu.

Menurut dia, pada waktu itu pose patung itu tangan kanannya bertopang dagu dan kaki kanannya bersilang di atas kaki kirinya. Seperti foto di bawah ini;

Pak Supardi tidak mengetahui persis kapan pose patung tersebut berubah dan kapan posisi patung juga ikut bergeser. “Saya juga heran kok bisa berubah,” katanya.

Apa kemungkinan patung itu pernah diganti baru? Pak Supardi hanya menggelengkan kepala. Sayangnya ia mengaku lupa waktu kejadian berubahnya pose patung penerbang tersebut. Namun yang pasti, dirinya sudah bekerja sebagai pembersih makam.

“Siapa yang merenovasinya juga nggak tahu. Misalnya kalau direnovasi, pasti terdengar atau terlihat orang bekerja,” terangnya.

Supardi menambahkan, suatu ketika ada orang yang bekerja di Pertamina, Jagir, dan sempat memotret pose patung Rambaldo sebelum berubah menjadi duduk seperti orang melamun itu.

“Namanya Yakub, sudah pindah ke Jakarta pada tahun 1970-an,” katanya.

Masih seputar misteri. Patung di atas makam itu konon juga memiliki pengaruh magis. Menurut Supardi, siapapun yang merusak patung tersebut akan ketiban sial.

“Siapa yang mencuri atau merusaknya, orang itu akan selalu miskin. Terserah percaya atau tidak,” katanya.

Sementara itu, Kepala Cabang Pemakaman Kembang Kuning Mujiono mengaku tidak tahu kepastian kabar bisa berubahnya patung penerbang yang tewas terjatuh dari balon udara saat mendarat darurat di Blora Jateng pada Tahun 1911 itu.

“Saya nggak tahu. Saya baru dua tahun tugas di sini,” jawab pria yang mengaku baru dua tahun bekerja di pemakaman Kembang Kuning itu.

Yah, begitulah orang jaman dulu yang mistis-mistis suka aja nyangkut. Oh ya, buat kamu pas iseng-iseng searching atau punya sumber tentang sejarah patung Alfred Emile Rambaldo yang terletak di atas makamnya, kasih tau cangcor dong, biar cangcor juga tahu soalnya cangcor penasaran juga, hehehe…

bottom up

Pagi tadi ikut kebaktian The Ascension Day Service di International English Service (IES), akhirnya kesampaian juga ibadah di sana. Karena hari ini special day sehubungan dengan hari Kenaikan Kristus ibadahnya juga special karena ada choir & pastor dari All Saint’s Church yg ikut ambil bagian plus ada sharing informasi dari Medic One mengenai swaine flu intinya boleh koq makan beb hehehe. Ibadahnya nyantai hanya urutan liturginya beda, khotbah ditempatkan di akhir ibadah jadi selesai firman doa berkat langsung bubar jalan.
Gara-gara liat rombongan All Saint’s Church keinginan untuk berkunjung ke sana kembali menggebu (waduhhhh, no telp ibu-nya dimana yaaaa ??). Kata anak-anak sih paling susah ‘nembus nih (dilihat dari pagar yg membentengi gedungnya dengan rapat), pernah nyoba sekali tapi karena waktu itu lebih konsen ke Willemkerk yg birokrasinya menggemaskan jadi blom sempat kontak lagi. Besok-besok coba lagi ahhhh. O,iyaaa … khan kudu berurusan lagi sama ibu-ibu manis nan keukeuh sumereukeuh di Willemkerk yak, jadi teringat digiring bak pencuri sama bapak ygg bergaya CIA batikan kacamata item bawa HT lengkap dgn earphone (duehhhh, di batmus juga pake kaliii) diinterogasi di ruang konsistori dan berdebat dengan ibu-ibu manis itu. Pengalaman memalukan & menjengkelkan diusir dari halaman gereja, sementara terbiasa keluar masuk di rumah ibadah tetangga mereka gak pernah mempertanyakan anggota apa bukan? Koq jadi curcol yak hehehe.

Btw IES saat ini masih menempati level 11 Wisma Staco, gitu nyampe atas naik tangga menuju ruang ibadah toleh kiri, yihaaaaa …viewnya Ereveld Menteng Pulo! langsung deh keluaran senjata rapat kaca ngambil 2 frame. Aduhhhh, kenapa ya masuk ke sana sekarang ndak boleh untuk motret apa harus lewat jalur belakang nih ? Soalnya beberapa waktu lalu ngajuin ijin ke Pandu & Leuwigajah hanya diijinin berkunjung dengan embel-embel gak boleh motret walau dah ngirimin surat sakti yg pernah ditandatangani om Meneer waktu ke Menteng Pulo & Antjol. Eh, seminggu kemudian satu komunitas tukang motret di Bandung malah ngajak hunting ke Pandu (hampir lupa diri cabut ke Bandung, untung contact PIC-nya sebelum lari ke travel sebelah ternyata acaranya hanya sehari dah kelar sementara pasang pengumumannya 2 hari arrggghhh). Penasaran, kenapa mereka bisa ‘nembus sementara lewat jalur resmi aja gak boleh? Sepertinya mesti ganti strategi nih, datang langsung tembak opzichter-nya.

Jakarta, 21 Mei 2009

sehabis ngadem di ER RS Jakarta