erator

Patah Hati Biasa Saja

Patah hati itu biasa saja.
Paling-paling telepon genggammu mendadak sepi. Tidak ada pesan yang setiap saat datang. Tidak ada telepon yang masuk bertanya, “lagi apa, sayang?”

Patah hati itu biasa saja.
Paling-paling hatimu terasa sepi. Tidak ada yang memperhatikan keseharian. Tidak ada yang sekedar mengingatkan jangan sampai terlambat makan.

Patah hati itu biasa saja.
Paling-paling kamu bingung mau menghabiskan waktu. Tidak ada lagi yang mengajak makan di luar, atau nonton film-film terbaru di layar lebar.

Patah hati itu biasa saja.
Paling-paling kamu kesulitan tidur setiap malam. Ada beberapa potongan-potongan kejadian menyenangkan, atau suara dan wajah yang sangat familiar mengisi kepalamu. Memaksamu untuk tetap terjaga.

Patah hati itu biasa saja.
Paling-paling kamu gelisah dengan setetes dua tetes air mata, karena ada rasa rindu yang tertahan. Jika biasanya, kalau rindu ya bilang saja. Ingin bertemu ya datangi saja.

Patah hati itu biasa saja.
Paling-paling hatimu sedikit panas dan geram. Kalau tiba-tiba dia memasang foto berdua dengan kekasih baru pada sosial medianya. Padahal sebelumnya, di sebelahnya melekat erat pada bahunya adalah tempatmu.

Patah hati itu biasa saja.
Ia tidak akan membunuhmu. Paling-paling hatimu terasa mati. Sulit terhibur, karena seseorang yang mampu menghiburmu, mematahkan hatimu lalu memilih pergi.

Patah hati itu biasa saja.
Percaya. Nanti juga akan datang orang lain yang mampu memperbaikinya.
Jadi, ya biasa saja.

Salvete, Gaius Iuli'us Caesar sum et pilorum album quam nivem habeo et aureos, sed interdum virides lauros et imperium Romanum construxi et eius eram quasi primus Caesar (sic merui nomen meum) et multi indicant mihi me Marcus Crassus similem esse (si non scitis Marcus Crassus, vobis opus est pecunia). Brutus non est filius meus quod est bonum nam ET TU, MI FILI???!?. Iamia sum sed dentes rectos et albos habeo. Pallidam cutem habeo. Etiam, maga sum magicum ludum, nomine Pigverruca, visitans quod desinam (ego sum MMCXIV), veni, vidi, vici. Classicus sum (si vos id non suspexistis) et multas togas emptas in Basilica Iulia habeo. Ratio amo et bellum Gallicum gero. Veluti, hodie omnia Gallia occupata. Omnia Gallia? Certe! Non est vicus parvus inter Aquarium, Babaorum, Laudanum et Brevisbonum. Ambulabam foris Pigverruca. Ninxit et pluvit et Gallia divisa erat in partes tres, quod me fecit felix. Marcus Porcius Cato me observavit. Digitum medium illo monstravi.

Love Shouldn’t Like This

Apakah kita harus berakhir seperti ini?
Apakah ini akhirnya?
Apakah dari semua bahagia di awal cerita, dari semua takdir yang membawa kita di banyaknya ketidak-sengajaan hingga kita bisa begitu saling bahagia seperti dulu itu, inilah akhir yang harus kita derita bersama?

Maaf, tapi biar bagaimanapun aku tidak bisa membencimu.
Bahkan mungkin jika kau datang menemuiku malam ini dengan membawa tangis di kedua bola mata indahmu, tanpa pikir panjang tanganku akan langsung memelukmu erat dan melupakan semua hal keparat yang berhasil membuat kita berpisah hingga seperti ini.

Meski kau hancurkan hatiku, aku masih berharap kau akan datang dan menyatukan semua kepingannya lagi. Sama seperti dulu; ketika pertama kali kita bertemu. Ketika aku patah, ketika hatiku luluh lantah berantakan, kau dengan gegas datang menyatukan semua potongannya lalu mengisi penuh ceritaku selanjutnya.

Aku rasa, ini bukan cinta.
Cinta bukanlah yang seperti ini.
Cinta seharusnya tidak membuatmu menghancurkan dirimu sendiri hanya demi orang lain…

..yang bahkan jelas-jelas tidak memilihmu.

Adinda, banyak orang lebih mudah mengingat kejelekan ketimbang kebaikan yang pernah orang lain lakukan, maka jadilah kebalikannya.

Banyak orang lebih suka menggenggam erat rasa kesal dan benci di hatinya meski telah berselang sekian masa daripada mengikhlaskannya, maka jadilah kebalikannya.

Jika rasanya sulit, bukankah kita telah berjanji untuk selalu belajar bersama?

—  ©Quraners
SAATNYA JATUH CINTA LAGI

👤 Dr. Syafiq Riza Basalamah

Seiring makin bertambahnya usia pernikahan… Kedewasaan dan juga anak… Kita makin menyadari bahwa ada hal-hal yang tetap sama, dan ada hal-hal yang tak terelakkan untuk berubah…

Ada hal-hal yang harus diucapkan, dan ada yang cukup disimpan dalam hati saja… Kita pun jadi belajar untuk mengartikan bahwa makna romantisme itu sendiri sangatlah luas…

Romantis tidak hanya soal bunga, candle light dinner (baik di resto ternama atau yang insidentil karena mati listrik), sekotak cokelat mahal, atau kartu ucapan “I Love You” yang sengaja ia tinggalkan di meja sebelum berangkat kerja…

Romantisme tidak cuma soal itu, ternyata…

For some people…

✔ Romantis adalah ketika seorang istri berletih-letih belajar memasak di awal pernikahan mereka, demi menciptakan menu yang disukai suaminya, meskipun ia sendiri tidak menyukainya…

✔ Romantis adalah ketika seorang suami telaten merawat istri dan anak-anaknya yang sedang sakit, mengambil alih semua tugas rumah tangga yang sanggup ia kerjakan…

✔ Romantis adalah ketika seorang suami dengan sigap mengganti popok si kecil yang terbangun tengah malam, saat sang istri terlelap karena kelelahan…

✔ Romantis adalah saat sepasang suami istri bahu membahu merapikan rumah dan memandikan anak-anak ketika mereka sedang digegas waktu untuk pergi ke majlis ‘ilmu di suatu pagi…

✔ Romantis adalah saat seorang suami membangunkan istrinya untuk Sholât Malam dengan lembut, dan memerciki wajahnya dengan air ketika matanya masih ingin terpejam…

✔ Romantis adalah kerelaan seorang suami untuk menahan emosi ketika mendapati istrinya tengah marah, berlapang dada untuk mema’afkan dan memberi udzur ketika sang istri bersalah…

✔ Romantis adalah ketika seorang suami berkata pada istri tercintanya: “mencari nafkah itu tanggung jawabku, tugasmu adalah mengurus rumah dan mendidik anak-anak kita”…

✔ Romantis adalah ketika seorang suami meminta sang istri untuk menutup aurot secara sempurna, sebagai bentuk penjagaan atas hartanya yang paling berharga…

✔ Romantis adalah ketika seorang suami atau istri menolak permintaan pasangannya yang tidak sesuai syari’at dengan cara yang penuh hikmah…

Karena *cinta tidak berarti selalu menuruti keinginan orang yang dicintainya*, terlebih jika keinginannya bertabrakan dengan rambu-rambu syar‘i…

Itulah cinta karena الله yang sejati dan abadi !!…

✔ Romantis adalah ketika seorang suami menundukkan pandangannya ketika ia tak sengaja berpapasan dengan lawan jenisnya saat jalan dengan sang istri, dan mengeratkan genggaman tangan mereka lebih erat lagi…

✔ Romantis adalah saat seorang suami bersedia untuk mendengarkan cerita istrinya yang panjang lebar tak beraturan dan tak penting itu, sampai tak sengaja ketiduran…

✔ Romantis adalah kesabaran seorang suami ketika sang istri menyambutnya di pintu dalam keadaan kacau balau, belum sempat mandi apalagi berhias, rumah berantakan tak berbentuk dan tak ada makanan tersaji di meja… Lalu sang suami berkata: “Nggak apa-apa, malam ini kita makan di luar yuk ?”…

✔ Romantis adalah *kesediaan seseorang untuk menerima diri pasangannya seutuhnya, lengkap dengan segala kekurangan, kelebihan dan masa lalunya, tanpa banyak mengatur dan meminta*…

✔ Romantis adalah saat memandang wajah seseorang yang kita cintai dalam lelapnya setelah seharian penat bekerja, dan sejenak menyadari, telah menghabiskan tahun-tahun penuh bahagia bersamanya, seseorang yang الله pilihkan untuk menemani pahit manis perjalanan hidup ini…

✔ Romantis adalah ketika sepasang suami istri *saling mengingatkan dan menguatkan dalam kebenaran dan kesabaran*, karena mereka tidak hanya menginginkan kebersamaan di Dunia saja, melainkan hingga ke Jannah-Nya…

✔ Romantis adalah ketika engkau melihat kedalam matanya di sela-sela obrolan santai kalian, dan menemukan masih ada cinta di sana… cinta yang sama seperti saat pertama kali bertemu dahulu…

Dan yang romantis adalah saat seorang suami memasangkan helm ke kepala istri tercintanya ketika mereka hendak bepergian dengan motor…

Ternyata banyak hal-hal romantis yang dilakukan pasangan, yang terkadang luput dari perhatian kita… Betapa sering pasangan berbuat baik kepada kita, tapi tak pernah puas kita untuk terus menuntut lagi dan lagi ?… Bahkan meminta sesuatu di luar kadar kesanggupan pasangan kita…!

Astaghfirullôh… Adakah kita seperti itu terhadap istri atau suami kita selama ini ?… Terlebih-lebih kita, *para istri yang tabiatnya adalah sering mengkufuri kebaikan suami*…

“Dan aku melihat neraka, maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat *kebanyakan penduduknya adalah kaum perempuan*.

Shohâbat pun bertanya: “Mengapa (demikian), wahai Rosûlullôh sallallaahu alaihi wa sallam?… Beliau sallallaahu alaihi wa sallam menjawab: “Karena kekufuran mereka”…

Kemudian ditanya lagi: “Apakah mereka kufur kepada Allôh?”… Beliau sallallaahu alaihi wa sallam menjawab: “Mereka kufur terhadap suami mereka, *kufur terhadap kebaikan-kebaikannya*…

Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang, kemudian ia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak ia sukai), niscaya ia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikit pun kebaikan pada dirimu!” [HR al-Bukhôrî no 105].

Seperti yang dituturkan dalam syair indah berikut ini…

“Kulihat kaum laki-laki memukul istri mereka… Namun tanganku lumpuh untuk memukul Zainab… Zainab adalah Matahari, sedang perempuan lain adalah bintang-bintang… Jika Zainab muncul, tak akan nampak lagi bintang-bintang…” [Siyar A‘lâm an-Nubalâ’ IV/106].

Banyak sisi baik dari pasangan yang membuat teduh hati ketika kita memandangnya, atau mungkin saat sekadar mengingatnya…

Jujurlah pada diri sendiri… Pasangan kita saat ini, betapa ia begitu berjasa mendampingi kita sejak bertahun-tahun lamanya…

Dia lah tempat kita mencurahkan rasa… Dia lah seseorang yang paling mengenal dan mengerti, siapa dan bagaimana kita sesungguhnya, dan memilih untuk tetap tinggal dan terus mencintai kita, setelah semua yang terjadi…

Cinta yang dulu mekar di awal-awal pernikahan, bisa pudar seiring berlalunya waktu… Ia bisa berubah menjadi layu sebelum akhirnya mati dan musnah…

Maka rawatlah cinta itu agar selalu berkembang dan terawat… Siramilah perasaan itu dengan hal-hal yang romantis dan penuh makna, namun sederhana…

Sederhanakanlah !!…

Seperti membukakan pintu mobil untuk istri tercinta bagi yang punya mobil, atau memasangkan helm ke kepalanya ketika hendak bepergian dengan motor… Atau merapikan anak rambut yang ‘mengintip’ dari balik jilbabnya dengan tatapan penuh kasih-sayang…

Ungkapan cinta yang terlihat remeh, kecil dan sepele, tapi penuh makna… Setidaknya bagi dirinya, seseorang yang kita cinta…

Lebih Baik Tidak Tahu


Orang lain tidak akan bisa tahu seberapa dalam apa yang ada didalam hati kita. Entah saat kita merasa sedih, bahagia, atau mungkin saat kita berada ditengah-tengah kebingungan. Yang aku tahu, mereka hanya bisa sebatas mengira-ngira.

Yang kamu rasakan pun, aku tidak pernah bisa tahu. Meski bisa saja aku bertanya diam-diam pada orang-orang terdekatmu. Tapi, untuk saat ini, aku rasa belum perlu.-

Sesekali aku membayangkan, bagaimana kalau seandainya orang lain bisa mengetahui apa yang kita simpan dalam-dalam, mengetahui apa yang kita jaga dengan rapat. Entah darimana dan apa pun caranya.

Mungkin pembicaraan dan canda tawa kita tidak akan mengalir seperti biasanya. Karena kamu sudah paham, kalau aku sedang mencoba menarik perhatian dengan membuatmu tertawa. Aku pun mungkin juga akan lebih hati-hati, bahkan hanya untuk memanggil sekalipun.

Ternyata benar kata orang-orang kebanyakan, adakalanya lebih baik kita tidak tahu, tidak perlu mencari tahu, bahkan tidak mau tahu untuk untuk hal-hal yang berhubungan erat dengan kita, untuk hal-hal yang cukup menyita waktu dalam pikiran.

Dengan ketidaktahuan kita, kita tetap bisa terus berbuat baik tanpa perlu terbebani pandangan orang lain. Dengan ketidaktahuan kita, kita bisa terus menebar senyum untuk mereka yang mungkin pada saat itu sedang tidak nyaman dengan kehadiran kita. Ketidaktahuan kita bisa saja membuat hal yang bisa lebih buruk menjadi lebih baik.

Lebih baik jika kita tidak tahu.

Lebih Baik Tidak Tahu - Danny Dzul Fikri

Kita dan Segala Akan-akan yang Aku Angan-angankan

Kamu sepertinya sudah maklum dengan aku yang suka sekali berangan-angan. Terjatuh karena tidak sampai, namun seketika bangkit kembali dengan impian baru lagi. Sakit, sembuh, terluka, membaik, kamu tahu aku sudah terbiasa untuk itu semua. Jadi tidak masalah kan, jika kita dan segala akan-akan selau aku angan-angankan?

Kita akan selalu memahami di segala keaadaan, jika saja sulit semoga hati kita tidak membatu untuk berusaha menyamai apa yang sempat tak sepaham.

Kita akan meleburkan amarah dalam lirih-lirih maaf, jika saja tak mempan peluk erat bisa menjadi suatu solusi; membuat detak jantung yang cepat menjadi seirama kembali.

Kita akan menjaga langkah kaki untuk sama-sama mengayun, jika saja ada yang mendahului semoga tidak lupa bagaimana cara menanti, apabila ada yang terhenti semoga kita bisa saling menyemangati; berjalan kembali, beranjak bersama lagi.

Kita akan memenuhi hari dengan kebahagiaan, jika luput satu hari semoga Tuhan tambahkan lagi satu hari untuk kita membayar hari bahagia yang pernah hilang.

Kita akan mengerti satu sama lain, apabila terjadi suatu kesalahan semoga ada yang mampu mengalah, entah egomu atau egoku yang harus diredam semoga saja kita tidak terlampau keras dalam merelakan.

Kita akan sama-sama berjuang, jika saja ada yang menyerah semoga bertahan sekali lagi selalu menjadi suatu pertimbangan.

Kita akan mencapai angan-angan yang kita ingin-inginkan kini.

Kita akan saling mencintai saat ini, bertambah lagi esok hari, sampai kita lupa bagaimana caranya berhenti.

Freeday: Dua Hati Yang Tidak Berhak

Di tengah seruan untuk sesegera mungkin masuk ke dalam badan pesawat, tubuhnya masih berdiri di hadapan tubuh yang lain. Di sebuah bandara, sang saksi bisu dari banyaknya perpisahan yang tanpa kata, dan dari pelukan pertemuan yang lebih bahagia dari semua frasa.

Tak ada satupun dari mereka berdua yang berani saling melihat. 
Dagu kecil wanita itu mengangkat, dengan berat ia mencoba menatap.

“Pernahkah kau menatap seseorang lalu merasa bahwa ini semua tidak akan pernah berhasil? Menatap yang begitu dekat, tapi harus menelan sebuah pemikiran bahwa kalian berdua tidak pernah akan menyentuh kata lekat?” Tanyanya pelan sekali.

Ada sedikit rona terkejut di mata pria di depannya. Hati pria itu mendadak berhenti sedetik lalu kemudian berdetak lagi. Seperti dikejutkan oleh sebuah kata-kata yang selama ini tak pernah bisa ia keluarkan namun harus berakhir diucapkan oleh orang yang sayangnya, ia sayang,

“Iya.” Jawabnya, “Kenapa kau bertanya seperti itu?” Tanyanya. Tangannya semakin erat menggenggam tali tas yang ada di pundaknya.

Wanita itu diam tidak menjawab.
Dan itu menjawab semuanya. 

Panggilan terakhir telah diumumkan, pria itu harus secepatnya pergi. 

“Aku pergi.” Ucap pria itu singkat.

Wanita di hadapannya mengangguk, tersenyum kecil, senyum yang dipaksakan, “Hati-hati di jalan.” Jawabnya.

Tanpa kata perpisahan yang berarti, pria itu berbalik lalu berjalan. Meninggalkan sebuah sosok yang selama ini mempunyai cerita bahagia tapi tidak di dalam buku yang sama.

Sayang,

Lelaki itu tidak tahu, di hadapan punggungnya, Mata wanita itu basah. Membasahi pipi, meruntuhkan senyum. Di balik ucapan hati-hati yang terakhir ia ucapkan, ada hati yang rela ia khianati hanya demi untuk sebuah pelukan. Dalam diamnya, wanita itu mengorbankan sebuah permohonan untuk meminta lelaki itu agar tinggal. 

Menunggu sebuah kata keluar dari mulut lelaki itu, “Maukah kau jadi milikku? Maukah kau melepasnya lalu memilihku?”, tapi sayangnya lelaki itu selalu bisu. Padahal, untuknya, jawabannya akan selalu “Iya.”

Dan Sayang,

Wanita itu tidak tahu, di hadapan punggungnya, tangan lelaki itu mengepal erat. Seperti sedang membenci kepada diri sendiri. Untuk ketidak-sanggupannya berbalik lalu memeluk kuat tubuh wanita itu erat-erat, bersimpuh memeluk kakinya dan memohon untuk diterima segala cinta dan masa lalunya. Namun ia tau, bahwa mengambil kebahagiaan orang lain untuk kebahagiaannya adalah hal paling pengecut yang pernah seorang pria lakukan.


Tuhan bersedih.


Sayang,

Mereka berdua harus kembali kepada kekasihnya masing-masing.
Padahal, hati mereka berdua, adalah asing yang tak pernah usang.

Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut.

Seseorang yang menyukaimu karena materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi.

Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk.

—  Tere Liye

Itu sebabnya aku selalu berharap, bahwa hanya karena Iman dan Al-Qur’an semoga kelak kita dipertemukan. Karena bagiku ada yang tak bisa dinilai dengan apapun, yaitu caramu memandang Al-Qur’an dan caramu menggenggam erat tanganku saat kita hadapi ujian, saat Dia sedang mengajarkan kita tentang arti penting sebuah kesabaran.

Agar kelak aku punya alasan, saat kau tak lagi cantik dan menarik, saat cinta mungkin perlahan terasa biasa saja.

Bahwa karena ketulusanmu berada di sisiku, bahwa karena Al-Qur’an kamu bersedia menemaniku, aku tak perlu punya banyak alasan untuk selalu menjaga rindu dan sayangku untukmu.

©Quraners
1 Maret 2017
MENUJU KESEJIWAAN

Menikah adalah peristiwa bersatunya dua jiwa, dua hati, dua pikiran, dua fisik dalam satu ikatan.

Kendatipun ada banyak perbedaan karakter, sifat dan kecenderungan antara laki-laki dan perempuan, namun mereka harus berusaha untuk menemukan rumus kimia (chemistry) penyatuan jiwa yang membuat suami dan istri berada dalam suasana sejiwa.

Suasana kesejiwaan inilah yang membuat kehidupan berumah tangga menjadi nyaman, tenang, tenteram, damai, dan bahagia.

Suasana kesejiwaan ini yang membuat berbagai persoalan hidup mudah diselesaikan dan dicarikan jalan keluar.

Suasana kesejiwaan ini pula yang membuat suami dan istri mudah berkomunikasi dan tidak kesulitan untuk mengekspresikan harapan serta keinginan.

Mereka berinteraksi dengan nyaman, tanpa ada sekat psikologis. Merasa demikian dekat satu dengan yang lain, tanpa ada jarak yang memisahkan mereka berdua.

Suasana kesejiwaan ini pula yang membuat suami dan istri saling bisa berbagi kebahagiaan tanpa ada keinginan untuk mengalahkan dan menjatuhkan pasangan.

Yang mereka lakukan adalah usaha untuk memenangkan kebersamaan, sehingga masing-masing telah rela untuk menundukkan ego demi kebahagiaan bersama.

Bukan hanya berpikir untuk kebahagiaan diri sendiri dengan melukai pasangan, bukan pula hanya membahagiakan pasangan dengan melukai diri sendiri.

Pada dasarnya suasana kesejiwaan itu didapatkan dengan proses yang terus menerus dan berkelanjutan. Bukan tiba-tiba apalagi bim salabim. Tidak pernah berhenti untuk saling mengenali dan memahami diri sendiri serta pasangan.

Kadang dijumpai seseorang yang bingung dengan dirinya sendiri. Tidak mengerti kemauannya sendiri. Tidak bisa mendefinisikan keinginan diri.

Jangankan mengerti pasangan, bahkan diri sendiri pun tidak dikenali. Kondisi ini membuat semakin lama untuk mencapai kesejiwaan bersama pasangan.

Yang diperlukan adalah usaha tanpa henti untuk belajar mengerti, memahami, mencintai, menerima apa adanya, serta memberikan yang terbaik bagi pasangan tercinta.

Yang diperlukan adalah upaya terus menerus untuk menyesuaikan diri dengan harapan pasangan, sepanjang harapan itu tidak bertentangan dengan aturan agama dan kepatutan sosial.

Yang diperlukan adalah usaha untuk bisa menerima pengaruh dari pasangan, sepanjang pengaruh itu positif atau tidak membahayakan diri sendiri maupun keluarga. Ketika suami dan istri belum menemukan kesejiwaan, sebenarnya sangat mudah mereka kenali gejalanya.

Mereka akan menemukan suasana saling asing, suasana berjarak, suasana bersekat, yang membuat tidak nyaman dalam interaksi sehari-hari. Walau sudah lima tahun atau sepuluh tahun menikah, jika titik kesejiwaan belum ditemukan, maka bukan kebahagiaan yang didapatkan dalam pernikahan. Yang ditemukan justru suasana saling asing dan dalam kasus tertentu sampai muncul perasaan ketersiksaan dan penderitaan.


LIMA ELEMEN KOMUNIKASI SUAMI ISTRI

Agar komunikasi suami istri bisa lancar dan menyenangkan, perlu memperhatikan elemen-elemen pentingnya.

Komunikasi suami istri memerlukan lima elemen dasar (Laswell, 1991), sebagai berikut:

1. Keterbukaan diantara suami dan istri / openness

2. Kejujuran terhadap pasangan / honesty

3. Kemampuan untuk saling mempercayai / ability to trust

4. Sikap empati terhadap pasangan / empathy

5. Kemampuan menjadi pendengar yang baik / listening skill.


ANDA INGIN MENANG ATAU INGIN MEMPERBAIKI KEADAAN?

Marc Feitelberg, seorang psikolog menyatakan, dalam sebuah hubungan antarmanusia, semakin erat hubungan satu orang dengan orang lainnya, semakin besar pula kemungkinan terjadinya konflik di antara mereka.

Marc menjelaskan, konflik atau pertengkaran dalam sebuah hubungan adalah suatu hal yang natural, wajar, dan bahkan menyehatkan.

Sayangnya kita tidak diajari bagaimana mengatasi beda pendapat itu, “Maka kita harus mempelajarinya,“ ungkap Marc.

Marc memberikan cara bertengkar yang sehat, yakni pertengkaran yang bisa menghasilkan solusi akhir paling melegakan kedua belah pihak atau biasa dikenal sebagai win-win solution.

Hendaknya kedua belah pihak memaparkan semua masalah, kemudian berusaha menegosiasikan keinginan masing-masing. Dengan cara ini mereka telah bertengkar lebih baik.

Semestinya suami dan istri bisa lebih menempatkan diri secara tepat dan tenang. Bukankah mereka ingin mendapatkan solusi terbaik? Mereka ingin mendapatkan penyelesaian yang melegakan bagi kedua belah pihak?

Masing-masing pihak bisa bertanya kepada diri sendiri, “Apakah ingin menjadi benar, atau ingin menang?” ungkap Marc.

Jika kedua belah pihak bersepakat untuk mencari solusi terbaik, agar semua menjadi terselesaikan, maka pertengkaran bisa lebih konstruktif dan mudah terselesaikan.

Namun jika kedua belah pihak ingin menang dan mengalahkan pasangan, maka suasana pertengkaran semakin rumit.

Saat bertengkar, jangan berbicara bersamaan apalagi saling tidak mendengarkan. Tapi lakukan pembicaraan dengan bergantian dan saling mendengarkan pendapat pasangan.

Saat pasangan berbicara, jangan memotong pembicaraannya, menginterupsi dan jangan langsung memutuskan jalan keluar secara sepihak.

Berikan kesempatan yang sama kepada pasangan untuk berbicara, sebagaimana Anda juga ingin berbicara dan ingin didengarkan.

Setelah mendengar argumen pasangan, perjelas maksud pernyataannya dan ulangi lagi keinginan Anda agar tidak ada kesalahpahaman, sebelum mengambil keputusan.


Cahyadi Takariawan
Sumber : grup wa parenting islami

Dua Asing, Yang Sempat Saling

Salah satu hal paling menyedihkan yang harus kau lalui adalah bertemu dengannya setiap hari di berbagai tempat dan diharuskan berpura-pura seperti dia tidak pernah menjadi seseorang yang special di hatimu sebelumnya. 

Berpura-pura seperti kalian tidak pernah saling kenal sebelumnya.
Seperti dua orang asing yang padahal pernah mengetahui rahasia masing-masing. 

Seperti dua orang asing yang tidak pernah bertemu sapa sebelumnya padahal pernah ada hari di mana kalian berbicara seperti dunia hanya milik berdua.

Seperti dua orang asing yang tidak pernah kau sentuh sebelumnya padahal erat hangat tangannya masih bisa kau rasakan di tiap malam kau mulai terpejam.

Seperti dua orang asing yang tidak pernah dekat sebelumnya padahal wangi parfumnya adalah salah satu hal di dunia yang dulu paling kau puja.

Kalian berdua dipaksa berpura-pura. 
Saling menipu diri sendiri dengan mencoba terlihat siapa yang lebih bahagia padahal kalian berdua diam-diam tersiksa.

Saling merasa melepasnya itu lega, 
Padahal rasa kalian masih sama.

Teruntuk Jomblo Warrior yang sedang berjuang..

Kalau boleh abang mau pesen..

Jangan sembarangan mengiyakan, mengikuti komentar dan terlarut dengan apa kata orang. Peluk erat visimu dan pilihlah jalan hidupmu sendiri. Sebab sesungguhnya kebanyakan orang hanya pandai memberi tanggapan daripada memberi solusi permasalahan dengan luasnya wawasan dan kejernihan pikiran. Mereka hanya memberi komentar tanpa tahu dan bertanggung jawab terhadap apa yang akan kamu lalui dalam hidupmu. Maka jika telah berazam, tempuh dengan sebaik-baik ikhtiar, doa dan tawakkal.

Semoga saat kita menjaga Allah di setiap nafas dan langkah itu, Allah pun berkenan menjaga kita dengan ridha dan petunjukNya di setiap prosesnya.

—  ©Quraners ~ Bukan Spoiler Buku ~

Entah bagaimana mulanya.
Kami tiba-tiba bisa sedekat nadi. Erat seperti sepasang kekasih.

Namun entah siapa yang memulai.
Kami tiba-tiba berpisah. Seperti yang selama ini dijalani tak pernah ada artinya sama sekali.

Akan ada seseorang yang tulus hatinya membersamaimu, yang mampu memahami arti di balik senyum yang memperlihatkanmu sepertinya baik-baik saja tapi ternyata ada kegundahan yang kamu sembunyikan. Yang menyediakan ruang di dalam hatinya untuk memaknai arti diammu.
Jika ada seseorang yang tulus membersamaimu hingga seperti itu, jangan lepaskan yaa!
Genggamlah erat-erat, terlebih dalam doa-doamu.
—  Menyapa Mentari.

anonymous asked:

Bagaimana kalau kamu mempunyai kadar interest yang lebih untuk seorang perempuan? Apa rata-rata semua laki-laki yang katanya adalah golongan baik seperti kamu kebanyakan diam dan menjauh? Berusaha membuatnya menjadi realita secara sembunyi-sembunyi atau malah perlahan melupakan dan mencari yang lebih baik dan sempurna?

Makin kesini saya makin memahami dan meyakini bahwa interest itu akan tetap aman, berkah dan manis saat waktunya tiba jika benar-benar dijaga.

Jika interest itu datang tiba-tiba dan berwujud sebuah rindu, maka akan saya ubah ia jadi doa. Mendoakan kebaikan-kebaikan untuknya, agar ia tak hanya jadi rindu yang sia-sia.

Jika interest itu datang dan mengusik pikiran, maka akan saya titipkan ia pada ayat-ayat Al-Qur’an. Kerana saya punya harapan, semoga kelak benar-benar dipertemukan dalam keikhlasan dan kesiapan menghadapi tantangan dan ujian. Bukan karena paras rupawan, jabatan dan kekayan, namun dalam pertemuan yang terbingkai iman dan Al-Qur’an.

Karena bagi saya, tidak ada yang abadi dan sungguh-sungguh merekatkan hati selain kecintaan yang tulus dan keyakinan yang tinggi terhadap Al-Qur’an.

Mencari yang sempurna?

Bagi saya tidak ada perempuan yang sempurna dan layak untuk dicintai sepenuh hati selain dia yang telah mengikhlaskan dan mendidik hati, nafas dan detak jantungnya, cinta dan rindunya untuk selalu berusaha mencintai Al-Qur’an. Perempuan yang akan selalu mendukung dan mempercayai saat tak ada seorang pun yang hendak berdiri di sisi. Bidadari yang selalu yakin dan menggenggam erat tangan ini, saat yang lain mungkin menyerah dalam kondisi yang tak pernah terpikirkan, melepasnya dan memilih untuk pergi.


Jika doa adalah tanda cinta, maka doa adalah caraku menyapamu dari jauh agar Allah senantiasa menjaga hatimu dengan Al-Qur'an.


Quraners

The Surgery of "His Last Vow": Agra’s killing shot

Summary

In Magnussen’s office, Agra intended to kill Sherlock.

“The bullet is foolish, the bayonet is wise”.

It seems that Alexander Suvorov was good in “surgery”.

In this paper, I discuss mostly medical aspects of Sherlock’s wound and give some information in forensic medicine and ballistics. In the final part, I consider a possible motivation for the assassination.

Anatomy of heart and liver

A human heart is located in the middle of a chest, diagonally from right to left.

The liver is under the heart on the right. The heart is covered slightly by the lungs (pink).

Male nipples are at the level of the fifth rib, sometimes, slightly above or slightly below it. If we draw a line between the nipples, we cross the heart at its widest part.

When we breath, the diaphragm moves up (exhalation) and down (inhalation), and the position of the heart changes slightly.

A heart is covered by a special sac called pericardium. The pericardial sac has two layers. It encloses the pericardial cavity, which contains about 25 mL of pericardial fluid.

Similarly, lungs are placed in a double-walled sac called pleura.

Vena cava inferior lies behind the liver.

Anatomy of Sherlock’s wound

Wellingtongoose (http://wellingtongoose.tumblr.com) considered this picture:

(http://wellingtongoose.tumblr.com/post/74878096422/why-mary-did-not-intend-to-kill-sherlock-and-why)

This picture was imagined by Sherlock in his Mind Palace.

It is not a reality.

Wellingtongoose concluded that the bullet had hit the liver and vena cava inferior. However, to reconstruct what had happened, one should consider not only the picture, but also anatomy of the wound, physiology, clinical symptoms, and actions of the doctors.

I have found an X-ray of a young male. What can we see on this X-ray? The white areas are the heart, liver, and bones. The dark areas are lungs.

Let us put this X-ray on Benedict’s chest.

Fits rather well.

Now, let us put it onto the body in the mortuary.

The bullet hit between the heart and the liver. The wound is very serious, taking into account concussion and necrosis of the tissues. In this case, the bullet could pass through the liver and injury the vena cava inferior.

Such is indeed the case in Sherlock’s Mind Palace.

What has really happened?

In the movie, we can see two real situations. First, in the ambulance:

Second, in the intensive care unit (ICU):

Let us superimpose the ambulance photo onto the ICU picture.

We can see that the wounds coincide very well! There is the same wound in the ambulance and ICU!

Let us put the photo in the ambulance onto the picture in the mortuary:

We see that the

real wound is located higher than the imagined one.

Look at the X-ray, superimposed onto the ICU photo. This is the key point of my investigation!

The wound entry hole is in the area of the HEART!

Agra shot in the heart. Do we need any other evidence of her false “surgery”?

However, Sherlock did not die. This fact can be explained as follows. The bullet hit the edge of the sternum and slightly deflected to the right, brushing the edge of the heart (see the picture).


In this case, the right lung was injured, but the liver and vena cava inferior were intact.

Therefore, the diagnosis is as follows:

The penetrating gunshot wound of the thorax, injury of the pericardium and the right lung, bleeding in the pleural sac (hemothorax) and pericardial sac (hemopericardium).

It is a very impressive “surgical safety”, isn’t it?

What has happened to Sherlock?

Therefore, Sherlock lost consciousness after a minute or two, and after 15–20 minutes, there occured a cardiac arrest.

In case of injury of vena cava inferior, Sherlock is assumed to die because of an acute massive blood loss (500–1000 mL).

It means that:

1) The heart had stopped, because it had nothing to pump. The law of physiology says: a “dry” heart cannot work. An electrocardiograph would register asystole.

2) It is necessary to refill the blood vessels by massive infusion into 3–4 large veins (central and/or peripheral).

Look at the picture in the intensive care unit:

We can see only two infusion systems in the cubital veins. Perhaps, the doctors did not see the massive blood loss?

3. The hole in vena cava inferior makes impossible the reanimation without surgical operation and sewing up the wound.

That’s why vena cava inferior is beyond the scope.

See the final ECG:

It’s not asystole. There are four variants of cardiac arrest, namely, pulseless ventricular tachycardia, electromechanical dissociation, fibrillation, and asystole. Asystole is a straight or wavy line at the ECG.

Sherlock had no asystole; he had small-wave atonic fibrillation. His heart was not really dead, but it could not beat. A defibrillator, by the way, is not effective in this situation.

What reason can be for cardiac arrest?

I think,

because of blood in the pericardial sac (hemopericardium).

Between two layers of pericardium, there is 25 mL of fluid. Let’s suppose that the bullet had partially plugged the hole, and blood from damaged vessels of the pericardium began to flow inside the sac. When the blood volume achieved 150 mL, the cardiac tamponade occurred. The heart became trapped in the swollen sac and stopped.

So, the cause of death is cardiac tamponade.

In case of cardiac tamponade, cardiopulmonary resuscitation is ineffective without removing blood from the pericardial sac.

Is it possible for Sherlock to come to life by himself? Perhaps, when the doctors “pumped” the chest, the bullet shifted and opened the hole in the pericardium. Blood started to flow out, at some point, the living heart (it was not dead) could beat.

Other versions may be concerned with heart trauma.

The right lung was wounded, no doubt, hence, Sherlock had hemothorax (blood in the pleural space).

Treatment of hemothorax suggests the surgical operation via minimally traumatic access — right anterolateral thoracotomy:

If there was a gunshot

abdominal wound (liver and vena cava inferior), the doctors had to cut off the abdomen in order to treat the damaged tissues without no exceptions! In this case, we could see laparotomic cut.

Sherlock in the intensive care unit:

there are no laparothomic stiches.

However, we can see the bandage under the right rib.

Quod erat demonstrandum.

There is the thoracic wound

treated via right anterolateral thoracotomy.

A patient should suffer from strong pain (morphine is needed), but after the adequate surgical treatment, our Sherlock could stand and walk with strong painkillers.

Dead or not dead?

Sherlock had cardiac arrest; it was not a clinical death, taking into account that CPR (cardiopulmonary resuscitation) was provided at once.

Nevertheless…

CPR performed by skilled doctors provides the brain blood flow at about 35% of norm, the coronary blood flow at 25% of norm.

It is generally believed that successful CPR “starts" the heart within the first 5 - 10 minutes, after that period the possibility of irreversible brain damage increases sharply. However, there were cases, when after 30 minutes of resuscitation, the patient recovered without apparent consequences for the brain.

Since modern technologies allow to maintain the circulation almost without end, doctors in ICU have the specific set of rules, concerning the ascertaining of death. There are two cases, in which resuscitation should be stopped and a person is considered to be dead:

1) Brain death;

2) When CPR is ineffective within 30 minutes.

“Sherlock” presents the second variant, because Sherlock’s brain is not injured. Therefore, the doctors performed CPR for at least 30 minutes + the time in the ambulance.

Michael Jackson was resuscitated for an hour, before they ascertained the death.

In “Sherlock”, all the doctors took an official decision that the patient was dead.

Agra is a skilled assassin

From the interview with Amanda, we know that she had James Bond’s Walther PPK, 7.65.

https://en.wikipedia.org/wiki/Walther_PP

This is a special police pistol for effective fire at short distances.

A cartridge for this pistol: https://en.wikipedia.org/wiki/.32_ACP

Blunt bullets are very effective to “get stuck” inside the target, transferring all the huge kinetic energy and damaging seriously the tissues. Sherlock was thrown back, and the bullet remained in his body.

Agra had the gun with a silencer. However, the silencer does not reduce completely the sound of the shot. In order to shoot silently, Agra was to reduce the amount of gunpowder. This explains the fact that a) the bullet ricocheted off the sternum, and b) Sherlock was not pushed to the wall, and he just fell on his back.

She was taking aim with a straight arm. Unlike Sherlock, who was aiming, bending the elbow and holding it by the other hand. Such a pose says that he was ready to stand a while and talk.

The pose of Agra suggests that she had no time to talk. This is a very threatening gesture that Sherlock had to recognize.

A bullet from her pistol punched a hole in the coin.

Therefore, Agra is a skilled shooter with a dangerous gun, she knows how to shoot and kill.

Targets for training of policemen and military men are made schematically, to avoid the feeling that you’re shooting at a human being.

Here is an example of a training target:

The shot in heart (red “apple”) gets “five plus”, exactly in the center of the target. By the way, the zone around the red “apple” gets also "five”, that shows the seriousness of the wounds of chest and abdomen.

So, Agra was taught to shoot at the center of the chest.

Where is the real surgery?

In the “empty house”, Sherlock offered the idea of “surgery” to protect himself and John. John, who saw the medical documents in the hospital, did not believe, but accepted “the game”. An interesting fact: during the scene in the “empty house”, the music track “Lie in Leinster Gardens” is playing.

At 221b, Sherlock did not suffer from bleeding. Morphine has ended, and Sherlock lost consciousness from the pain with a dramatic performance. Not fatal, he would come to himself immediately after intravenous morphine. I think, John guessed about it, so did not rush to help in the first few seconds.

Where is the actual surgery?

Just before the shot, Sherlock started to make a step to the left. He began to get up and move to the left. The “target”, therefore, shifted slightly to the right and down. At the distance of 1,5 – 2 meters, the shift could be up to 1,5-2 cm. See above — only 0,5-1,0 cm separated him from the death.

Here was the actual surgery!

In the movie, we can see that the bullet from the silencer went down a bit, it is a real thing.

Remember that Sherlock is a very skilled professional. In "Belgravia”, Sherlock is a master of the technique of knocking the gun from the killer. When Agra raised her hand, I think, Sherlock had no doubt about her intentions. He tried to persuade her, but without success. Agra came to Magnussen to kill Sherlock. Sherlock saved himself by this little movement.

 Assassination or not assassination?

The shot in the heart, thoracic wound, heart injury, lung injury, cardiac arrest. The conclusion of the forensic examination is formulated as “severe bodily injury”. I think, Agra should be arrested for attempted homicide.

Possible motivation for the assassination

Agra was the missing sniper from Estonia or Dyachenko. She was hired by Moriarty to keep Sherlock at gunpoint on the roof and kill him if Sherlock would not jump. Sherlock staged the performance not for John, but for his personal sniper. The jump of Sherlock saved him from Agra’s shot.

After Sherlock’s “death”, Agra stayed close to his friend. All these years, Sherlock did not hide from John, but from a spy near him (from Agra).

At the beginning of the “His Last Vow”, the “employer” (Moriarty? Moran?) demanded to fulfill the order. Sherlock took the case of Lady Smallwood. Agra found out about it from Janine and used it as a trap for Sherlock. She came to Magnussen, pretending that she was going to take her documents from the blackmailer. She knocked Janine and the security guard to delay John. She used the perfume to lure Sherlock upstairs. She dressed like shinobi, who were skilled assassins. She shot in Sherlock’s heart and left. However, Sherlock succeeded to survive, though severely injured.

In “empty house”, Agra went to complete the assassination, because Sherlock had become her enemy, and the order remained unfulfilled. In order to protect himself, Sherlock came up with the idea of “surgery"and took John with him.

John, being a very good military doctor, did not believe in “surgery”, but agreed.

Perhaps, the information on the flash drive, which was to break John, was this: the contract with the employer about the assassination of Sherlock.

Why didn’t she shoot in the head? She could be ordered to "burn the heart out”, or the employer may want Sherlock’s head or his skull (Sherlock Holmes had Billy skull, and Sherlock’s name is Billy, Moriarty would want to have such a “friend”).

Interesting, when Sherlock and Moriarty were talking on the roof, there was a

heptagonal glare on Sherlock’s head (like the heptagonal coin). This is discovery of my friend, Vega-216:

All other glares elsewhere are octagonal.

Conclusion

The case of Agra has completed. As a doctor, I has offered the diagnosis. As a spectator, I have no doubts that Agra had committed a crime. Was she really forgiven by Sherlock and John? Maybe, we’ll see it in the fourth season.

Thanks to everyone who has read it to the end!

Lewat tengah malam aku masih suka menangis diam-diam. Bukan karena belum rela melihatmu membersamainya, tapi karena kenanganmu masih melekat erat dan pekat dalam duniaku.