erator

Salvete, Gaius Iuli'us Caesar sum et pilorum album quam nivem habeo et aureos, sed interdum virides lauros et imperium Romanum construxi et eius eram quasi primus Caesar (sic merui nomen meum) et multi indicant mihi me Marcus Crassus similem esse (si non scitis Marcus Crassus, vobis opus est pecunia). Brutus non est filius meus quod est bonum nam ET TU, MI FILI???!?. Iamia sum sed dentes rectos et albos habeo. Pallidam cutem habeo. Etiam, maga sum magicum ludum, nomine Pigverruca, visitans quod desinam (ego sum MMCXIV), veni, vidi, vici. Classicus sum (si vos id non suspexistis) et multas togas emptas in Basilica Iulia habeo. Ratio amo et bellum Gallicum gero. Veluti, hodie omnia Gallia occupata. Omnia Gallia? Certe! Non est vicus parvus inter Aquarium, Babaorum, Laudanum et Brevisbonum. Ambulabam foris Pigverruca. Ninxit et pluvit et Gallia divisa erat in partes tres, quod me fecit felix. Marcus Porcius Cato me observavit. Digitum medium illo monstravi.

Yang dulu saling tertawa, kini ketika bertemu mendadak jadi diam seribu bahasa.
 
Yang dulu saling menggenggam erat-erat, kini berusaha untuk saling melepaskan.
 
Yang dulu tak pernah tak satu hari pun berbicara, kini mengucapkan satu kalimat saja tidak bisa.
 
Yang dulu selalu menjadi tempat bercerita, kini secuil kabarnya pun tidak ada.
 
Yang dulu paling tahu di mana letak cacat hidupmu, kini tengah terlihat bahagia mencintai kekurangan pasangan barunya.
 
Yang dulu menjadi tokoh utama untuk segala kenangan bahagia di kepala, kini menjadi tokoh utama yang paling menorehkan luka ketika mulai memejamkan mata.
Cerpen : Untuk Kakak Terbaik

Sepeda motor melaju kencang, aku memeluk erat kakakku dari belakang. Aku benci betul dengan motor sport kakakku ini karena sangat tidak nyaman untuk duduk dibelakang. Itu membuatku harus memeluk kakakku, mungkin orang mengira kami adalah sepasang kekasih.

“Hai Adik sayang, jangan tidur!”kakakku tiba-tiba menyentak.

“Eh enak aja! Kakak jangan ngebut, pegel nih dibelakang,”jawabku ketus.

“Salah sendiri gak bisa pakai motor kakak ini,”ujarnya.

“Yeee, jual aja ganti yang matic biar bisa gantian,”aku semakin ketus.

Kami berhenti diperempatan dekat sekolah SMA kami dulu. Sebuah mobil berhenti disebelah kami. Terlihat di dalamnya ada sepasangan suami istri juga orang tuanya. Terlihat begitu bahagia, meski aku tidak mendengar apa yang mereka katakan. Aku tersenyum. Aku menghela nafas.

Mobil itu berjalan, kami pun. Aku memerhatikan kakaku dari belakang, memerhatikan kepalanya yang tertutup helm full-face, memerhatikan tangannya yang memegang stang motor, memerhatikan bahunya. Tiba-tiba aku merasa sayang dengan kakakku ini, aku tersenyum.

Aku memeluk kakak dari belakang.

“Kak, pelan-pelan dong,"aku merajuk.

Sekalipun kami bertengkar, sebenarnya kakakku ini sulit menolak keinginanku kecuali urusan sepeda motor ini.

"Kak, kakak kalau nyari istri nanti yang baik ya, Kak.”

“Eh, ngomong apaan?” kakakku kaget.

“Iya, kalau nyari perempuan buat jadi istri kakak. Nyari yang baik.”

Ia tidak menghiraukanku. Aku terus berbicara.

“Kak, kemarin adik kan ngaji. Kalau udah nikah, adik harus lebih taat sama suami daripada sama ayah dan ibu. Lalu adik mikir, berarti sebenarnya tanggungjawab buat ngurus ayah dan ibu itu ada sama menantu perempuan dan anak laki-lakinya. Kalau laki-laki menikah, ketaatan dengan orang tuanya tidak berpindah, berbeda dengan perempuan. Adik pengen kakak kalau nyari menantu buat ayah dan ibu, cari yang baik ya Kak. Perempuan yang sayang sama mereka, yang bisa membantu kakak buat ngurus ayah sama ibu nanti. Karena mungkin adik tidak bisa berada lebih banyak untuk mereka.”

Kami terdiam.

“Adik kadang berpikir, mengapa perempuan harus seperti itu. Namun, adik mengerti dengan melihat bagaimana ibu selama ini ketika menjadi istri ayah.”

Kakakku diam saja, aku masih memeluknya, berbicara di dekat telinganya yang tertutup helm. Aku tahu dia masih bisa mendengar.

“Kak, berjanjilah untuk mencari perempuan yang baik. Tidak hanya baik kepada kakak, tapi juga sama ayah dan ibu. Perempuan yang sayang sama mereka, yang menghormati mereka, yang lembut dan menghargai mereka.”

Tiba-tiba kakakku menepi, menghentikan sepeda motornya. Aku melepas pelukan, heran. Dia membuka helmnya lalu menoleh. Dia tersenyum, mengelus kepalaku yang masih memakai helm.

Kami melanjutkan perjalanan. Aku memeluk kakaku semakin erat, seolah-olah takut kalau dia diambil sama orang lain. Tapi aku sadar bahwa suatu hari kakaku pasti akan diambil orang lain. Perhatiannya kepadaku mungkin tidak akan seperti hari ini lagi.

“Kak, aku sayang kakak. Cariin suami yang baiknya kayak kakak dong.”

Rumah, 21 April 2016 | ©kurniawangunadi

How to be a Successful Roman Epic Poet (after Virgil): A Guide for the Perplexed
  • Be sure to begin your epic with a nauseatingly sycophantic address to the reigning Emperor.  (“Humble worm that I am, I would never dream of singing of you, o great Caesar; your virtue is too vast, your deeds too amazing, and have I mentioned how well your new toga brings out the color of your eyes?”)
  • Never, under any circumstances, address a given character by his or her actual name.  Instead, use an obscure genealogical reference that’s guaranteed to send your reader scrambling for the nearest mythology handbook.  (“And so Coronis’ noble grandson drew his sword and challenged the stout-hearted nephew of Inachus to battle, while Theseus’ second cousin’s step-sister’s former gym teacher watched in awe…”)
  • When describing a scene that takes place at night or in the Underworld, pile up as many synonyms for “dark” as humanly possible.  (“Atra nox caeca erat et opaca, plena umbris fuscis et tenebris obscuris, sine ulla luce…”)
  • Constantly change singular nouns into plurals for the sake of the meter, even when the resulting sentence makes no sense whatsoever.  (“The mighty eagle plucked at Prometheus’ livers, and he shook his heads in agony…”)
  • Spice up your narrative with bombastic similes referring to peoples who live beyond the boundaries of the Empire.  The less they have to do with reality, the better.  (“Learning of his brother’s betrayal, Polynices raged with the ferocity of the far-off Hyrcanians, who wear floral-print muu-muus and hunt their prey astride velociraptors, if the tales I hear be true…”)
  • And above all, remember: obscurity is your friend; clarity, your mortal enemy.  If you haven’t left generations of irritated readers and squabbling textual critics in your wake, you haven’t really done your job.
Kita dipisahkan oleh satu garis tipis. Bisa saling menatap, bisa sangat begitu dekat, bisa bercengkrama, bisa bahagia, bisa tertawa, bisa sama-sama jatuh cinta;
 
Namun untuk saling menyatu, garisnya seakan mengikat kaki kita erat-erat agar tetap diam di tempat.
Tubuh Yang Lekat Dalam Ingatan

Apa yang lebih baik daripada duduk di samping jendela menatap rinai hujan?
Yaitu ketika kita berdua berlari kecil saling menutupi kepala lalu berteduh dan bercerita panjang.

Apa yang lebih nyaman daripada keramaian sebuah pesta?
Yaitu duduk di sampingmu, tanpa sepatah kata. Kau bersandar di bahuku, kepalaku bersandar di kepalamu. Hati kita seimbang sehasta bahu.

Apa yang lebih menyenangkan daripada menyaksikan band kesayangan di depan mata?
Yaitu duduk di satu meja yang sama denganmu, mendengarkan kau begitu antusias membicarakan tentang mimpi-mimpimu, tentang hal yang kau sukai, tentang gelak-gelak tawa lucu.

Apa yang lebih menyenangkan daripada pulang di keadaan jalan yang lengang?
Yaitu menelusuri macet panjang, dan kau memeluk pinggangku di belakang. Menempelkan dagumu di bahuku. Dua tubuh begitu dekat menghempas segala ragu seakan berharap roda tak berjalan barang seujung kuku.

Apa yang lebih terasa begitu tenang ketimbang kesunyian?
Yaitu memeluk tubuhmu. Mendekapmu erat-erat, mengikatmu kuat-kuat, mencium wangi tubuhmu di hidungku, mengalungkan erat tanganku di tubuh kecilmu.

 

Bersamamu, saling diam dan begitu hening tak pernah jadi masalah.
Bersamamu, perjalanan pulang kuharap menjadi begitu panjang.
Bersamamu, mendengarkan tak kunjung menyentuh kata bosan.
Bersamamu, hujan tak pernah terasa menyebalkan.
Bersamamu, memeluk raga tak kusangka rasa-rasanya begitu nyaman.


 
Begitulah..
Begitulah tentang dirimu di kepalaku.

Bacalah tulisan ini dan cobalah mengerti,
Bahwa meskipun sekarang kita berdua bukanlah siapa-siapa,
Namun di kepalaku,
kau selalu sebesar itu.
Kau terasa selekat itu.

22.21

Pelajaran terpenting hari ini adalah jangan merusak penjagaan hati orang lain. Jangan mengungkap apa yang selama ini dijaga erat-erat sebagai rahasia oleh seseorang. Jangan mengusik, sebab sudah begitu erat selama ini ia menjaganya sebagai rahasia. Tidak ada hak sama sekali bagi kita untuk mengungkapnya, kemudian menjadikannya sebagai sebuah perbincangan dan candaan.

Hargai dan hormati apa yang dijaga orang lain, hatinya, perasaannya, dan rahasianya. Meski kita sangat ingin bertanya dan mengetahuinya.

©kurniawangunadi