ekstreme

sukarela

waktu kita masih SMP, menjadi anak OSIS itu hits sekali. saat pendaftaran menjadi anggota OSIS dibuka, yang ikut sangat banyak. pesan-pesan guru dan kakak kelas yang teringat pertama kali adalah–bahwa melakukan sesuatu dengan sukarela itu keren. menjadi panitia bakti sosial, menjadi panitia pensi, menjadi kakak MOS (yang super galak), atau sekadar menjadi pengelola mading.

semakin besar, semakin sering kita diperkenalkan dengan istilah menjadi sukarelawan–melakukan kegiatan secara sukarela. waktu kuliah, kita berbondong-bondong ikut organisasi dan kepanitiaan. sebagian ada yang benar-benar niat membantu. sebagian lagi, berburu tambahan daftar CV.

kata penelitian, orang yang dengan rutin melakukan kegiatan sukarela selama beberapa jam setiap minggunya cenderung lebih bahagia daripada yang tidak. saya rasa, karena ini jugalah, mengikuti kegiatan sukarela menjadi semacam gaya hidup anak muda sekarang–yang menurut saya sih bagus banget!

suatu hari, saya pernah merasa terpanggil untuk ikut kegiatan sukarela yang lumayan ekstrem: mengajar satu tahun di pedalaman–untuk seumur hidup menginspirasi. namun, Ibu saya menolak ide ini sebab menurut Ibu, orang lain bisa menggantikan peran yang ingin saya jalani di entah berantah itu, tetapi tidak ada yang bisa menggantikan peran saya sebagai saya di rumah dan di perusahaan dan yayasan keluarga kami. tentu saja saat itu saya kesal. padahal, saya yakin bisa belajar banyak sekali dari pengalaman tersebut. terlebih, adalah karena saya bukan anak tunggal. ah, bisa saja kan peran saya diganti Mas Uta, Dek Ute, atau Dek Uto?

sore ini Ibu menelepon. Ibu bercerita sedang di jalan, disetiri Dek Ute. Ibu bercerita bagaimana adik saya kini melakukan semua hal di rumah yang dulu biasa kami lakukan berdua. mengantar Ibu ke mana-mana, membantu apapun yang Ayah dan Ibu perlukan, termasuk, merawat Eyang yang sudah tidak bisa bangun dari tempat tidur. setiap hari Dek Ute membuatkan bubur untuk Eyang, menyuapi, memandikan, menggantikan popok, merawat luka ulkus dekubitusnya, membersihkan kamarnya, membukakan dan menutupkan jendela, juga menggunting kuku Eyang seminggu sekali.

Dek Ute ini, hampir seratus delapan puluh derajat berseberangan dengan saya. kalau saya ekstrover luar biasa, dia introver luar biasa. kalau saya senangnya main-main di luar, ikut organisasi dan lain sebagainya, Dek Ute senangnya di rumah, memberi makan kucing-kucing liar yang lewat, atau menyikat kamar mandi dan beberes kamar.

sekali lagi Ibu mengingatkan saya tentang kesukarelaan, Dek Ute yang menjadi teladannya. sering kita berpikir bahwa kesukarelaan adalah melakukan sesuatu yang bisa mengubah hidup banyak orang, yang menginspirasi banyak orang, atau kadang–yang harus tersorot. kita lupa bahwa kesukarelaan sejatinya dekat dengan kita, kesempatan melakukannya ada di mana-mana. melakukan pekerjaan yang lebih dari yang diminta atasan di kantor adalah kesukarelaan. memberikan bantuan agar rekan-rekan sejawat lebih mudah bekerja adalah kesukarelaan. membantu mengisi kuisioner teman yang sedang penelitian adalah kesukarelaan–masih banyak lagi bentuk kesukarelaan lain.

kita biasanya senang dengan ukuran-ukuran ini: jauh, besar, banyak. kadang kita lupa, bahwa kesukarelaan bisa juga berarti menjadi bermanfaat bagi yang dekat, kecil, sedikit. sebab sejatinya, manfaat kesukarelaan tidak terletak pada ukurannya, melainkan pada makna bagi mereka yang menerima.

kesukarelaan adalah apa saja yang dengan sangat ikhlas kita lakukan.

7

So ayu nga. Nag EK kami. Kala ko bukol na naman tong gala na to eh! Apakalayo kasi. Hahaahahahaha!! Sobrang saya! Kahit muntik mawala selpon ko at binalik buti nalang talaga! hahahahaha!

Pero sinusumpa ko ung ekstreme hayop. Kahit anong roller coaster sasakyan ko kahit ilang loop pa yan wag lang talaga yung free fall. Tipong lahat ng internal organs mo eh naiwan sa taas? Jusko lng! Hahahahaha!