ekstreme

Perempuan itu menangis haru. Tangisan yang tidak biasa itu membuat suasana sepasang kekasih itu menjadi kaku dan waktu melambat. Si perempuan memang gampang menangis, dan itu menjadikannya tidak bisa mengungkapkan banyak hal, seperti perasaannya saat ini.

Kata-kata yang tertera dalam kertas–yang kini gugur ke bawah bangku yang mereka duduki–menjawab semua tanya yang hadir selama ini. Sebuah jawaban sekaligus pelukan.

“Kakak benar ingin menemaniku setiap hari?”

Lelaki itu tersenyum. Perempuan itu tahu isyarat senyum itu bahwa wajah meneduhkan itu tidak sedang bercanda.

“Menemani untuk mencari jawaban yang lebih hakiki,” kata lelaki itu berusaha ingin memecah suasana haru yang membuatnya sedikit larut juga.

Kemudian perempuan itu melepaskan pelukan dan berdiri di depan lelaki itu. Ia tersenyum bagai kembali menjadi dirinya dua puluh tahun yang lalu. Tampaknya kalimat di kertas itu mengubahnya sedemikian ekstrem, meskipun ia sendiri percaya ada keajaiban yang datang tanpa diduga.

“Ayo kita ketemu mamaku,” ujar perempuan tersebut. Dan sang lelaki telah menyiapkan kata-kata yang pantas untuk selanjutnya.

Bakın bu artık Hilal’in top noktasıdır, zirvesidir. Hilal’in bazı şeyleri kabul edebilmesi açısından böyle bir şey şarttı. Bu kadarını ben de beklemiyordum; ancak şarttı. Herkes her zaman Leon’un gözünden yaklaşıyor olaylara; çünkü biz onun aşkının ne kadar büyük olduğunu biliyoruz, görüyoruz. Oysa Hilal bunların hiçbirini bilmiyor. Buna ek olarak Leon bir işgalci. Bu gerçek değişmedi. Bunu kabullenmek Hilal için ne kadar kolay sizce? Hep diyorum bu çift birbirini henüz anlayamadı. Ne Hilal Leon’u anlayabildi ne de Leon Hilal’i anlayabildi. Leon hâlâ “biz haklıyız, bunu Hilal de görecek ve bu isyankârlığını bırakacak” kafasında. Hilal de Leon’un da aslında ne kadar büyük bir savaş verdiğinin ve Hilal için neleri gözden çıkardığının farkında değil. Tabii gidip sevdiğin adamı vurmak ekstrem bir şey, sonuçta sevdiğin insanın yok olmasına neden oluyorsun, bunun savunulacak bir yanının olmadığının farkındayım; ancak her şeyi bu kadar çabuk kestirip atmayın derim. Bir bölümü izleyelim. Hilal’in ruh halini görelim, onu bu noktaya sürükleyen nedenleri bir görelim. 

Bir de bakın siz işgalci bir Yunan askeri ile bir Türk kızının aşkını yazıyorsunuz. Bunu herkese kabul ettirmeniz lazım. “Olur mu böyle şey” diyen insanlar da var maalesef. Bu hamle biraz da “bakın Hilal her şeyi yaptı; ama yenildi” denilsin diye yapılmış gibi geliyor bana. 

Şimdi herkes sakin olsun ve perşembeyi beklesin. :)

Hari ini baca lagi berita seorang ibu yang menghabisi nyawa anak kandungnya. Di cengkareng ya, kemarin kejadiannya. Ibu yang dikenal pendiam dan tanpa masalah membunuh dan memutilasi anak keduanya yang berusia satu tahun. Suaminya anggota provost di polda metro jaya. Gak ada yang aneh, kehidupan bertetangga berjalan normal saja.

Peristiwa ini membuat aku teringat Maria Ayama. Pada tanggal 30 Mei 1990, dia menggunakan pisau dapur untuk menggorok leher keempat anaknya yang berumur 3 sampai 11 tahun. Atau kasus psikologi ekstrem yang mendunia, Andrea Yates, tanggal 3 Mei 2001, dia menghabisi nyawa kelima anaknya dengan cara menenggelamkan di bath tup. 14 Mei 2001 dia didiagnosis menderita depresi berat pasca melahirkan (psikosis post partum) dan kasus ini ramai diperbincangkan para psikiater termasuk pemberian Haldol (obat keras antipsikopatik) untuk diresepkan ke pasien.
Oiya pernah juga aku baca seorang ibu di bandung yang membunuh ketiga anaknya dengan cara persis seperti Andrea, ditenggelamkan di bath tup. Ibu itu berjilbab lebar, suami berjenggot dan baik2 saja sama tetangga. Maksud aku, kehidupan spiritual dan sosial mereka baik2 saja. Semua peristiwa memilukan ini dilakukan ketika suami2 mereka sedang bekerja.

Hmm, ada beberapa ilmu yang harus digunakan untuk menguraikan kasus ini. Psychoanalysis, Archetype, Field Theory, Genetics, Innate, Determination dan Existentialism. Deretan ini bisa diperpanjang dan aku capek nulis panjang2 hihihi..

Ok, kembali ke laptop..
Depresi pasca melahirkan terdengar menyeramkan ya? Tahukah kita faktanya hampir 70% ibu melahirkan mengalaminya. Mulai dari yang levelnya paling rendah, baby blues syndrome sampai psikosis seperti Andrea dan Ayama. Kenapa wanita begitu rapuh? Plis dong ah, wanita itu agamanya kurang dan akalnya cuma setengah, itu kata agama. Tentu butuh sosok yang bisa menambah agama dan bisa menggenapkan akal kan? Siapa? Tentu saja orang terdekat yaitu suami. Jangan tuduh wanita cengeng kalo kamu belum pernah ada di posisinya. Kesusahan selama hamil hampir 10 bulan dan kesakitan saat melahirkan bahkan Alloh sebutkan dalam Alquran. Menyusui selama 2 tahun, mengatur uang belanja, memastikan anak dan suami makan, lantai mengkilat, dapur bersih, kasur nyaman. Deretan ini bisa diperpanjang…

Wahai para suami, hentikan sejenak aktivitas social mediamu, mancingmu, berkuda, naik gunung, memanah, ngopi di warkop. Deretan ini bisa diperpanjang…

Pulang, peluklah istrimu, pandanglah wajahnya yang lelah tidak secantik dulu waktu pertama kali kau lihat. Sekali2 gantikanlah tugasnya sebentar, buatkan dia teh manis hangat dan belai lembut rambutnya. Ucapkan terima kasih untuk jihadnya selama ini. Anak2mu sehat dan aman bersamanya. Kamu pun tenang dalam bekerja mencari nafkah. Ucapkan terima kasih, dia bertaruh nyawa melahirkan keturunan yang kau banggakan. Meninggalkan kenikmatan bersama orang tuanya demi merajut hidup bersamamu.

Maafkan kekurangannya
Luangkan waktumu
Cintai dan berterima kasihlah.
Coba aja praktekin, aku yakin istrimu akan menangis haru diperlakukan demikian.

Istri dan ibu yang bahagia adalah asset anak2 untuk bahagia.

Facebook Pipit Sophia

Dheg!

Iya. Berita tentang ibu yang mutilasi anaknya berusia 1 tahun itu ngegeleser di hati. :’’((. Sebagai manusia biasa, yang dirasakannya pastiiiiii berat. Tekanan yang tidak terlihat bahkan oleh orang terdekat (suami), baik-baik saja dari luar nyatanya berantakan, ingin bicara (mengeluh) tapi ada ketakutan dan keengganan, dan lain-lain.

Jika ini dikatakan sebagai sebuah penyakit, ini pasti ada obatnya. Komunikasi yg baik antara suami dan istri salah satunya. Wanita butuh sekali teman bicara, didengar, dimengerti. Seringlah bertanya ada apa, kenapa, lalu dengarkan. Sesederhana itu bisa menebus kelelahannya, bisa mengurangi tekanan yang dirasakannya. Jangan dicap drama, melankolis, cengeng, lemah, karena memang begitu kebutuhannya.

Duh ya…. kita beruntung gak bernasib sama dengan adek bayi itu. Semoga ini bisa jadi pelajaran buat semua, mas-mas yg sudah jadi suami dan ayah, mbak-mbak yg sudah jadi istri dan ibu, calon-calon istri dan calon-calon suami. Menikah bukan mudah, tapi pasti tidak juga sesulit yg dibayangkan: selama pikiran mau terbuka, hati mau menerima, dan Allah yang ada di antara keduanya.

sukarela

waktu kita masih SMP, menjadi anak OSIS itu hits sekali. saat pendaftaran menjadi anggota OSIS dibuka, yang ikut sangat banyak. pesan-pesan guru dan kakak kelas yang teringat pertama kali adalah–bahwa melakukan sesuatu dengan sukarela itu keren. menjadi panitia bakti sosial, menjadi panitia pensi, menjadi kakak MOS (yang super galak), atau sekadar menjadi pengelola mading.

semakin besar, semakin sering kita diperkenalkan dengan istilah menjadi sukarelawan–melakukan kegiatan secara sukarela. waktu kuliah, kita berbondong-bondong ikut organisasi dan kepanitiaan. sebagian ada yang benar-benar niat membantu. sebagian lagi, berburu tambahan daftar CV.

kata penelitian, orang yang dengan rutin melakukan kegiatan sukarela selama beberapa jam setiap minggunya cenderung lebih bahagia daripada yang tidak. saya rasa, karena ini jugalah, mengikuti kegiatan sukarela menjadi semacam gaya hidup anak muda sekarang–yang menurut saya sih bagus banget!

suatu hari, saya pernah merasa terpanggil untuk ikut kegiatan sukarela yang lumayan ekstrem: mengajar satu tahun di pedalaman–untuk seumur hidup menginspirasi. namun, Ibu saya menolak ide ini sebab menurut Ibu, orang lain bisa menggantikan peran yang ingin saya jalani di entah berantah itu, tetapi tidak ada yang bisa menggantikan peran saya sebagai saya di rumah dan di perusahaan dan yayasan keluarga kami. tentu saja saat itu saya kesal. padahal, saya yakin bisa belajar banyak sekali dari pengalaman tersebut. terlebih, adalah karena saya bukan anak tunggal. ah, bisa saja kan peran saya diganti Mas Uta, Dek Ute, atau Dek Uto?

sore ini Ibu menelepon. Ibu bercerita sedang di jalan, disetiri Dek Ute. Ibu bercerita bagaimana adik saya kini melakukan semua hal di rumah yang dulu biasa kami lakukan berdua. mengantar Ibu ke mana-mana, membantu apapun yang Ayah dan Ibu perlukan, termasuk, merawat Eyang yang sudah tidak bisa bangun dari tempat tidur. setiap hari Dek Ute membuatkan bubur untuk Eyang, menyuapi, memandikan, menggantikan popok, merawat luka ulkus dekubitusnya, membersihkan kamarnya, membukakan dan menutupkan jendela, juga menggunting kuku Eyang seminggu sekali.

Dek Ute ini, hampir seratus delapan puluh derajat berseberangan dengan saya. kalau saya ekstrover luar biasa, dia introver luar biasa. kalau saya senangnya main-main di luar, ikut organisasi dan lain sebagainya, Dek Ute senangnya di rumah, memberi makan kucing-kucing liar yang lewat, atau menyikat kamar mandi dan beberes kamar.

sekali lagi Ibu mengingatkan saya tentang kesukarelaan, Dek Ute yang menjadi teladannya. sering kita berpikir bahwa kesukarelaan adalah melakukan sesuatu yang bisa mengubah hidup banyak orang, yang menginspirasi banyak orang, atau kadang–yang harus tersorot. kita lupa bahwa kesukarelaan sejatinya dekat dengan kita, kesempatan melakukannya ada di mana-mana. melakukan pekerjaan yang lebih dari yang diminta atasan di kantor adalah kesukarelaan. memberikan bantuan agar rekan-rekan sejawat lebih mudah bekerja adalah kesukarelaan. membantu mengisi kuisioner teman yang sedang penelitian adalah kesukarelaan–masih banyak lagi bentuk kesukarelaan lain.

kita biasanya senang dengan ukuran-ukuran ini: jauh, besar, banyak. kadang kita lupa, bahwa kesukarelaan bisa juga berarti menjadi bermanfaat bagi yang dekat, kecil, sedikit. sebab sejatinya, manfaat kesukarelaan tidak terletak pada ukurannya, melainkan pada makna bagi mereka yang menerima.

kesukarelaan adalah apa saja yang dengan sangat ikhlas kita lakukan.

Bismillah,..
Indonesia mayoritas Islam.
Tapi, yang paling disudutkan Muslim..
lebih serem yang pake cadar, daripada yang pake rok mini..
lebih serem orang berjenggot, daripada yang tatoan..
lebih curiga sama yang rajin ibadah di mesjid, daripada orang yang mabok-mabokan dan judi..
diduga teroris langsung tembak, bandar Narkoba internasional bisa di nego..
lebih mentolelir aliran sesat, daripada syariat..

Dunia sudah kebolak balik?

Yang Nyunnah – Radikal
Yang nyeleneh – toleran.

Yang jilbab syar’i – Ekstrem
Yang ga pake jilbab – cantik.

Yang muda sholat 5 waktu – Waspadai
Yang muda ga sholat – masih muda.

Yang jenggotan rajin ke masjid – Teroris
Yang jenggotan rajin dugem – keren.

Yang ke majelis ta’lim pekanan – Fanatik
Yang ke bioskop harian – gaul.

Yang hapal qur’an 30 juz – Militan
Yang hapal banyak musik – hebat.

Yang anaknya di jilbabin – Keterlaluan, melanggar HAM
Yang anaknya pake rok mini – imutnya.

Yang pakai baju koko – Sok alim
Yang ga pake baju – jantan.

Yang hariannya bicara islam – Sok ustadz
Yang hariannya ghibah – up to date.

Media islam – Radikal
Media porno – kebutuhan.

Astaghfirullah haladzim..
Astaghfirullah haladzim..
Astaghfirullah haladzim..

Buka Mata Hati Anda hai manusia!
ﺑَﺪَﺃَ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡُ ﻏَﺮِﻳﺒًﺎ ﻭَﺳَﻴَﻌُﻮﺩُ ﻛَﻤَﺎ ﺑَﺪَﺃَ ﻏَﺮِﻳﺒًﺎ ﻓَﻄُﻮﺑَﻰ ﻟِﻠْﻐُﺮَﺑَﺎﺀِ

“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208).

Sahabat bertanya siapa kah orang asing itu, Nabi menjawab: Mereka ialah orang-orang yang senantiasa melakukan kebaikan ditengah kerusakan. (HR. Ahmad).

Sumber: broadcast Whatsapp

Najčešće se tom činjenicom, koliko dugo nismo plakali, hvalimo. A ne shvatamo da to što smo svoja osećanja blokirali nije nimalo pohvalno. To samo govori da se plašimo da priznamo sebi šta osećamo. Lakše je da se pretvaramo i kažemo “nije mi ništa” pa osmeh na lice i idemo dalje. Lakše je pred drugima. Pred nama samima - znamo da nije.

Nijedan ekstrem nije dobar. Bilo da je reč o blokiranju ili davljenju u emocijama.
Konstantno plakanje znači da ne želimo ili ne znamo da vidimo ono pozitivno i dobro (u nama i izvan nas). Da nemamo jasne granice šta (ni)je štetno za naše srce. Da smo se zatvorili u svoj oblak negativnosti i iz njega nećemo napolje. Sa druge strane, kada uopšte ne plačemo (a razlog imamo) znači da se plašimo da se sa emocijom sretnemo. Da ne želimo sebi da priznamo šta zaista, iza lažnog osmeha i “nije mi ništa”, osećamo. Da sebe - lažemo. Iza ravnodušnosti se krijemo. Verujemo da plakati znači biti slab. Znak da nismo jaki. Pa suze iz očiju - ne puštamo.

Plakati nije slabost. Veća je slabost hvaliti se koliko dugo nisi plakala. To samo govori koliko se plašiš da se sretneš sa sobom i svojim emocijama. Ne plaču slabi. Plaču jaki. Iznutra. Oni koji se sa svojim emocijama sretnu, saslušaju ih i, uprkos bolu i neprijatnosti, sa dna srca ustanu i koraknu u pravcu ljubavi. Prema sebi.

Na kraju, zapamti. To što u sebi držiš je samo emocija. Trenutno stanje duha. Nemoj joj davati moć koju nema. Nije veća od tebe. Oseti svoja osećanja, saslušaj ih, sebi priznaj ali nemoj u njima ostati. Ti si nešto više od osećanja. U tim trenucima, iako ti se čini da si najslabija, jača si nego ikada. Videćeš da ono što si ti - nije emocija.

Da li možeš da se setiš kada si poslednji put plakala? 

I šta je to što se plašiš da osetiš i sebi priznaš pa svoja osećanja blokiraš?

Bersyukur Tanpa Syarat

Berapa kali kita bersyukur dalam sehari? Masih kah dapat dihitung dengan jari tangan? Padahal nikmat yang Allah karuniakan tak terhingga. Tak pernah Allah menahan rezeki seorang hamba, tak peduli apakah ia bersyukur atau tidak.

Berapa kali kita lupa mengucap hamdalah setiap makan? Ah, bahkan makanan yang tersaji pun seringkali tak dihabiskan. Berdalih sudah kenyang, lantas membiarkannya bercampur dengan kotoran lain di keranjang sampah. Lupa bahwa dalam setiap bulir makanan terdapat rezeki yang tak terduga.

Atau pernah enggan menghabiskan makanan karena rasanya tak sesuai dengan selera lidah kita? Makan menjadi tak nikmat karena kita terlalu sibuk mengkritik. Mengucap hamdalah pun terkadang masih ada sederet tapi-tapi di belakangnya. “Tapi rasanya kurang pas”, “tapi terlalu manis di lidahku”, “tapi kurang menyatu bumbunya.”

Lihatlah saudara kita yang ada di Negeri Tanduk Afrika sana. Kelaparan ekstrem melanda, tak sedikit yang tak dapat bertahan. Somalia kelaparan. Masalah yang mereka hadapi bukan lagi mau atau tidak mau makan, enak atau tidak, tapi ada atau tidaknya makanan. Pun berbeda dengan kita yang memiliki jadwal makan yang pasti, mereka tak tahu kapan rasa lapar mereka akan berakhir.

Masih enggan menghabiskan makanan sedang kondisi saudara kita di sana sangat memprihatinkan? Masih mau memilih-milih makanan sedang saudara kita bahkan tak punya apapun untuk dimakan? Dimana rasa syukur kita? Padahal, bersyukur itu tanpa syarat. Ia tak hanya di lisan, tapi juga dalam tindakan.

hennessyheart  asked:

Vinyl :)

Vinyl: What is some of your favorite music?
Omg un jam nga ekstremi ne ekstrem. Its either hip hop and rnb, ose albanian lyrical songs. Psh mpleqen mc kresha, the weekend, lana del rey e degjoj rralle but i know all her songs from day 1, esht shum artiste. Pastaaj moj bjondin me syt e zi, tumankuqja. 😂
Atm ive had mask off-future, shining-dj khaled beyonce jay z, on replay ✌🏻

🌹
Tentang Plagiasi

Karyamu diambil tanpa sepengetahuanmu lalu didaku itu karya dia? Adalah hal yang wajar.

Ya, wajar karena manusia adalah peniru yang ulung. Sejak kecil kita telah menirukan hal-hal yang ada di sekitar dan dari orang-orang sekitar. Sejak itu, kita membudaya dan jadi seperti sekarang, sikap kita, pandangan kita, cara berpakaian kita, dan lain sebagainya.

Ada tindakan turunan meniru yang lebih ekstrem, plagiasi. Seperti yang kita tahu, plagiasi adalah mencaplok ide, karya, dan inovasi orang lain lantas diakui sebagai hasil proses si plagiat. Ini bukan hal baru, kok.

Ketika akhir-akhir ini muncul respon dari teman-teman, yang mengeluhkan, karya mereka diplagiat oleh teman lain, saya cuma merenung panjang. Kita berada dalam dunia yang saling terhubung. Kita membuat sebuah karya lantas mengunggahnya ke dunia maya (tumblr) dan bisa diakses semua orang, bahkan dari tempat jauh (sejauh mantan gebetan yang menghindarimu), itulah kita saat ini.

Saya yakin kita semua di sini ingin karya kita dibaca banyak orang; ingin dipuji dan diberi “love” dan direblog; ingin di-ask sama followers; dan keinginan lainnya. Maka, kita pun berlomba-lomba mengunggah karya semenarik mungkin, 24 jam kalo perlu. Itulah kita.

Lalu tiba-tiba karya kita diposting di tempat lain oleh akun yang tidak kita kenal. Respons kita? Protes dan menyebarluaskan bahwa kita terkena plagiasi. Ya ini reaksi yang wajar.

Tapi, sebentar, apa tujuan kita membuat karya di sini? Sekadar main-main atau serius ingin ngeblog dan jadi penulis? Saya sendiri juga seperti itu, tapi saya tidak akan ambil pusing atas plagiasi. “Mereka bisa mengambil karya kita, tapi tidak akan bisa mengambil ide-ide kita yang masih tersimpan di diri kita,” saya ucapkan ini dalam diskusi di KITA Regional Sumatera.

Oleh karena itu, saya tidak pernah mengunggah karya puisi atau cerpen yang belum pernah diterbitkan media mana pun di tumblr saya. Sekadar menghindari pusingnya memikirkan karya yang diplagiasi orang lain. :)

pasif-agresif

sebutlah ini sebuah eksperimen. seorang pemuda sengaja merokok di angkot untuk melihat bagaimana respon penumpang lain terhadap perilakunya.

terdapat 4 kelompok penumpang berdasarkan respon yang diberikan kepada si pemuda.

kelompok 1 menegur pemuda tersebut. ada yang meminta pemuda tadi untuk mematikan rokok dengan alasan tempat umum, kesehatan semua penumpang, kesehatan si pemuda, dan lain-lain.

kelompok 2 juga menegur pemuda tersebut. namun, dengan cara yang lebih ekstrem. ada yang sambil marah-marah, ada yang mengata-ngatai si pemuda, dan lain-lain. kebanyakan kelompok ini, menegur dengan berkata, “asapnya ganggu banget, bisa matiin nggak?”
begitulah, kata-kata yang berorientasi pada kepentingan diri sendiri.

kelompok 3 diam saja dan memilih untuk turun angkot, lalu naik angkot lain yang penumpangnya tidak ada yang merokok. bagi mereka, lebih baik kehilangan ongkos beberapa ribu rupiah daripada batuk-batuk atau cari ribut sama pemuda tadi.

kelompok 4 paling kreatif. ada yang pura-pura batuk, ada yang ngomongin si pemuda kepada penumpang lain (dan berharap si pemuda sadar), ada yang menghalau-halau udara dengan tangan.

secara ringkas, kelompok 1 diisi oleh orang-orang proaktif, kelompok 2 orang-orang agresif, kelompok 3 orang-orang pasif, dan kelompok 4 orang-orang pasif-agresif.

saya tuh, curigaaa banget bahwa di Indonesia, manusianya banyak sekali yang pasif-agresif. apalagi dengan budaya feodalisme yang masih kental kita miliki. termasuk, budaya tidak berani ngomong blak-blakan. akhirnya, saat era sosial media merebak, bentuk kepasifan dan keagresifan itu berubah ke dalam nyinyiran dalam sosial media. blak-blakan sih, tapi di sosial media.

kembali ke pemuda merokok. apakah pemuda tadi akan mematikan rokoknya jika disindir-sindir tanpa ditegur? belum tentu. tapi merasa tersindir dan sakit hati karena dibegitukan, iya. rasanya mungkin seperti ditikam dari belakang.

saya jadi suka takut sama tulisan sendiri. karena saya jarang mengutarakan apapun secara langsung dan lebih suka menuliskannya–saya khawatir kalau tulisan saya hanyalah bentuk pasif-agresif saya saja, yang sebenarnya adalah bentuk kekecewaan saya.

saya khawatir kalau saya banyak kecewa tanpa banyak melakukan sesuatu untuk mengubah rasa kecewa saya. saya khawatir kalau menulis menjadikan saya orang yang (lebih) pasif-agresif.

padahal, kita diperintahkan untuk saling mengingatkan. kalau yang bikin salah si fulan, yang harus diingatkan (pertama kali) kan si fulan juga. bukan orang lain.

semoga saya dan kita semua menulis untuk saling mengingatkan. namun, kita tetap pada yang utama–bahwa orang yang paling dekat dan perlu kita ingatkan ada di dunia nyata, bukan di dunia maya.

semoga saya dan kita semua juga belajar mengelola kekecewaan. sebab dunia memang mengecewakan. hanya yang bersyukur yang tidak kecewa.

IMBA THIS!

Hahahaha! Eto yung isa sa rides na sabi ko sa sarili ko hinding hindi ko sasakyan. Pero kanina medyo parang nabaliw ako kaya tinry ko, kasama ko naman yung kaklase ko pati yung iba kong kasama babae, ako pa ang hindi.

So eto, habang pinapanuod ko yung turn bago kame, kinakabahan na talaga ako. Kase hindi parin ako maka get over sa nangyari sa Log Jam. Eh mas malala pa daw don yung EKstreme. Ayon, so turn na namin, sabi ako ng sabi ng OH MHAY GAHD! As in paulit-ulit. Hanggang sa !@#$%^&*()_ sheeeeet nagsimula nang tumaas. -.-“ Oh edi sige, ang ingay ko lang hahahaha! Hindi kase ako masyado nalula kase hindi ko suot eye glasses ko. Pero nung naramdaman kong tumigil na sa taas at magsisimula na yung biglang pag baba, OH SHIT! OH MHAY GAHD! Hindi na ako naka imik, ganun pala talaga ang feeling pag nadun ka. Pakiramdam ko talaga naiwan yung kaluluwa ko sa taas.

Ngayong nagtatype ko, feeling ko naliliyo ako. Naliliyo ako pag naaalala ko yung nangyari kanina. Pero nung nadun naman kame hindi ako naliliyo ah. Hahahaha! Imba lang kase. Pero atleast, I’ve tried. :)