eksistensial

Simpan Prasangkamu untuk Dirimu Sendiri

Aufina sedang asyik menikmati es krim. Saya duduk di sebelahnya sambil membaca beberapa ayat Quran. Satu waktu, saya melirik sebentar hanya untuk memastikan ia baik-baik saja.

Namun, seketika saya kaget melihat Aufina ‘mengobok-obok’ es krim dengan tangannya. Padahal sudah saya beri sendok sebelumnya. Tanpa berpikir lebih lama, saya pun menasihati, “Kok makan es krimnya pakai tangan? Tangannya jadi lengket dong. Kan tadi sudah dikasih sendok? Ke mana sendoknya?”

Namun seketika itu pula saya beristighfar setelah Aufina dengan jujur dan apa adanya berkata, “Sendoknya masuk ke dalam (tenggelam 'di telan’ es krim).” Sambil menunjuk lokasi 'tenggelamnya’ sendok es krim itu.

Astaghfirullah.. Saya baru paham kenapa ia mengobok-obok mangkuk es krimnya barusan.

“Oh gitu. Aufina itu tadi mau ambil sendoknya ya?”

“Iya..” jawabnya.

Astaghfirullah. Saya langsung meminta maaf. “Maafin Ibu ya, Ibu ngga nanya dulu ke Aufina. Malah langsung menasihati. Maaf ibu tadi nyangka Aufina ngobok-ngobok es krim. Padahal Aufina mau ambil sendok ya?”

Buru-buru saya bantu ia menemukan sendok yang hilang ditelan es krim itu. Sambil terus berucap maaf dalam hati.

Prasangka buruk.
Alangkah mudah hati ini berprasangka buruk. Bermodalkan ketidaktahuan dan ketiadaan keinginan untuk mencari tahu, prasangka itu tumbuh tanpa hambatan. Subur, bahkan.

Padahal, jika mau menunggu sejenak lebih lama, jika mau bertanya “Apa?” dan “Mengapa?” Prasangka itu tidak perlu keluar dari kepala.

Prasangka mungkin sangat sulit untuk dihindari. Barangkali ini berkaitan dengan kecenderungan naluriah otak manusia yang bekerja dengan salah satu prinsipnya, yaitu : mempertahankan eksistensi.

Dalam prinsip tersebut, prasangka, curiga, dapat diartikan sebagai bentuk usaha untuk mendeteksi ancaman dan bahaya sejak dini. Tentu ini berguna, misalnya ketika kita di suatu malam berhadapan dengan sekelompok orang berpenampilan preman, kebut-kebutan di jalan, sambil membawa cangkul dan arit. Secara refleks kita akan curiga bahwa mereka berbahaya dan akan langsung berpikir untuk segera melapor ke pihak berwajib. Hampir mustahil kita akan mengira mereka adalah sekelompok petani.

Prasangka buruk pada kasus ini tak lain adalah bentuk pertahanan diri. Dan dalam kasus begini tak perlu lagi ditunggu apalagi dipertanyakan, “Anda siapa? Mau apa?” Lari saja agar selamat.

Yang demikian itu (adanya kecenderungan naluriah) menurut saya membuat usaha untuk tidak berprasangka buruk bisa dikatakan hampir mustahil. Ya, kita mungkin tidak bisa mencegah prasangka buruk agar tak hinggap di pikiran kita sama sekali.

Tapi,

Kita punya pilihan untuk tidak mengungkapkannya. Menahannya agar tetap dalam kepala.

Baru-baru ini saya membaca tafsir Ibnu Katsir mengenai ayat 12 Surat Al-Hujurat. Ayatnya berbunyi :

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.”

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa jika muncul prasangka buruk dalam benak, tahan lidah agar tak mengungkapkannya. Ini berdasarkan hadits Rasulullah saw yang menganjurkan kita untuk tidak menyatakan prasangka kita.

“Rasulullah Saw. pernah bersabda: Ada tiga perkara yang ketiganya memastikan bagi umatku, yaitu tiyarah, dengki, dan buruk prasangka. Seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara melenyapkannya bagi seseorang yang ketiga-tiganya ada pada dirinya?” Rasulullah Saw. menjawab: Apabila kamu dengki, mohonlah ampunan kepada Allah; dan apabila kamu buruk prasangka, maka janganlah kamu nyatakan; dan apabila kamu mempunyai tiyarah (pertanda kemalangan), maka teruskanlah niatmu.“
(HR. Thabrani)

Rasulullah saw tidak secara eksplisit meminta kita untuk tidak berprasangka. Namun, jika kita memiliki prasangka buruk, beliau meminta kita untuk tidak menyatakannya.

Dalam ayat tersebut juga dikatakan "Jauhilah kebanyakan dari prasangka.” Bukan “Jauhilah seluruh prasangka,” karena boleh jadi ada prasangka buruk yang memang 'berguna’. Seperti prasangka soal sekumpulan orang bermotor membawa cangkul dan arit yang saya ilustrasikan tadi. Atau prasangka seorang petugas di bandara terhadap calon penumpang yang dicurigai membawa narkoba.

Poinnya adalah, secara manusiawi, kita diberi otak yang darinya kerap muncul berbagai pikiran, termasuk juga prasangka. Dan otak kita tak serasional yang kita kira. Prasangka buruk seringkali muncul karena 'kemalasan’ otak untuk mau bertanya dan berpikir lebih luas.

Meski begitu, prasangka buruk dalam kuadran positifnya dapat disebut sebagai mekanisme alamiah untuk mempertahankan diri dari ancaman dan bahaya.

Mekanisme alamiah ini bukan sesuatu yang mudah untuk dikendalikan. Bahkan mungkin mendekati mustahil untuk dihilangkan sama sekali. Di situlah ada peran akal, yang punya fungsi membedakan yang benar dan salah, baik dan buruk. Akal berfungsi untuk menyeleksi, mana prasangka-prasangka buruk yang perlu diungkapkan, mana yang tidak. Mana prasangka yang harus diikuti, mana yang tidak.

Di sinilah 'pertarungan’ ini menjadi seru. Dorongan kodrat manusiawi kita mesti beradu kuat dengan akal nurani kita. Seperti saat kita menundukkan dorongan kodrat manusiawi kita untuk makan, minum, dan berhubungan suami-istri melalui shaum.

Sebagian prasangka jika diungkapkan sebelum nyata kebenarannya, hanya akan menyakiti, menimbulkan kegaduhan, dan bisa jadi menzalimi seseorang. Dan bukanlah termasuk muslim jika orang lain tidak selamat dari kejahatan lisannya.

“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya” (HR Bukhari)


Dari sini saya belajar kembali untuk menjadi tuan atas pikiran dan kecenderungan manusiawi saya sendiri. Untuk tidak buru-buru menyatakan prasangka, untuk mau bersabar menunggu, untuk mau mencari tahu, untuk menjaga perasaan orang lain.

Maaf atas kemalasanku untuk bertanya lebih jauh padamu. Maafkan aku jika prasangkaku pernah menyakitimu..

Mental Berkarya

Saya ingin membuka tulisan ini dengan sebuah kalimat dari dosen saya, Pak Pindi Setiawan (desainer),

“makin banyak saya ditiru, makin nyaman saya berkarya satu dua langkah di depan.”   

Saat itu kebetulan adalah hari di mana hati saya kurang nyaman karena karya desain saya ditiru (tidak sepenuhnya, namun diadaptasi dan sebagai referensi). Tambah beliau,

“yang meniru berarti levelnya hanya sampai di situ. Ketika kita ditiru, kita bikin karya lagi, ditiru lagi, bikin lagi, terus saja begitu.”

Pak Pindi juga bukan orang recehan yang karyanya recehan, tentu saja karyanya banyak ditiru. Dan membuat karya visual itu kompleks, karena harus memunculkan hal sederhana dari informasi yang seringkali kompleks. Dari kuliah Pak Pindi, saya menyadari sesuatu. 

Bahwa saya belum siap berkarya, bahwa saya belum punya mental juara, bahwa saya belum siap menjadi orang yang berjalan di depan. Karena jika mental saya sudah siap, maka saya akan menerima dengan lapang dada bahwa sekali karya kita dilempar ke publik, maka potensi plagiasi pasti akan terjadi. 

Di dunia visual, desain dan seni, plagiat adalah hal yang sangat sering terjadi. Apakah karena sering maka harus diabaikan? Tidak juga. Saya juga marah ketika desain saya ditiru teman dan dikomersilkan; atau ketika karya seorang senior dicuri oleh temannya dan dikumpulkan atas nama pencuri; atau ketika editan visual saya dipakai oleh teman untuk mencari nilai. 

Sering kali kita tidak menyadari plagiasi, kita melakukannya dengan ringan saja. Contoh paling kecil namun cukup biadab adalah ketika kita mendewakan tulisan kita, mempostingnya di blog lalu menyertakan sebuah gambar dari internet namun tidak menuliskan sumbernya. Kita menganggap bahwa gambar ini hanya elemen pendukung tulisan kita yang mulia. Tahukah kamu bahwa ini adalah pencurian juga? Ya, dan ini sering saya temukan di tumblr bahkan di IG. 

Lepas dari itu semua, plagiasi akan selalu terjadi ketika kita berkarya, karya apapun. Jangankan karya yang kece, tulisan saya yang isinya meaningless saja diplagiat. Buku Beranjak bahkan diaku - aku oleh seseorang sebagai tulisannya, diposting di IG nya dan dipamerkan bahwa itu karyanya. 

Beberapa waktu lalu, desain produk saya ditiru persis bahkan foto produk saya dipakai oleh vendor saya untuk promo komersial usahanya sendiri. Apakah saya sebal? Ya, awal mulanya. Lama - lama saya pikir, “elah, dia cuma supplier kecil yang belum punya ide sebagus saya, yang tidak punya akses pendidikan sebaik saya. Apa salahnya saya yang diberi rezeki berupa ilmu ini merelakan sedikit berbagi?” Maka instead of marah, saya justru mengiriminya file asli desain saya agar mudah dia produksi sendiri. Tentunya, pelan - pelan saya mengajarinya juga bahwa apa yang dia lakukan salah. Hal ini saya pelajari lagi - lagi dari seorang dosen yang juga desainer dan pengusaha, Pak Ben Wiryawan. Kata beliau, “desain kaos saya juga banyak tuh ditiru sama orang - orang dan dijual. Saya mah biarin aja. Mereka cuma pengusaha kecil yang mencari rejeki. Anggap saja saya berbagi rejeki.”

Instead of marah, dua orang dosen saya yang karyanya keren - keren itu berusaha melapangkan dada dan terus berkarya. Lalu apalah saya yang sama remahan Bon Cabe pun kalah pedas?

Saya tidak membela para plagiator. Well, saya benci plagiasi, karena itu memang salah. Saya hanya menawarkan sudut pandang baru. Belajar dari mas @jalansaja yang cukup bijak menyikapi plagiator, saya belajar mengupayakan memberi tahu pelaku secara personal terlebih dahulu. Walaupun pernah Mas JS sampai mengancam melaporkan ke pihak berwajib, at least semua terjadi di balik layar, bukan di panggung publik. Sorry, beberapa hari lalu saya menegur seseorang yang mempublikasikan identitas para plagiatornya tanpa pernah dia menegur mereka secara personal terlebih dahulu.

Di dunia bisnis, kita harus sadar bahwa seperti inilah dunia kapitalis. Semua serba abu - abu, masing - masing membela kepentingannya yang ujungnya adalah profit dan eksistensi. Saat diingatkan teman bahwa (calon) usaha saya akan ada penirunya, maka saya belajar untuk mengantisipasi jika itu terjadi. Caranya adalah dengan menyiapkan produk lain, jika ditiru, maka buat lagi yang lain, ditiru lagi, buat lagi yang lebih bagus. Begitu terus.

Jangankan yang kecil - kecil semacam kita, yang perusahaan besar dan multinasional pun meniru kompetitornya kok walaupun tidak sama persis. Mulai dari produk, iklan, senjata marketing “halal”. Sebagai yang pernah bekerja di perusahaan yang ditiru (Wardah), apa kata teman - teman di Wardah? Mereka hanya tertawa dan berkata, “baguslah, berarti punya kita bagus, makanya sampai ditiru sama kompetitor.” Dan mereka bikin yang lain, bikin terus, dan mengusahakan hal lain supaya orang - orang tetap aware siapa yang mengawali karya itu, TANPA BANYAK RIBUT. That’s a winner mind!!! Daebak!! 

Saya sepakat bahwa plagiator harus ditindak. Saya hanya menawarkan sedikit pemahaman yang saya pelajari supaya kita lebih kalem, untuk lebih tidak “nggumun” kalau kata orang Jawa. Sebab, terus terang perbincangan plagiasi selalu berasal dari sudut pandang yang itu saja dan sudah kita sepakati kebenarannya, namun selalu muncul perulangan pendapat.

Semoga saya tidak menyinggung siapapun. Feel free for more discuss. 

Bandung, 22 Mei 2017.

memulai

Topik yang gue bahas hari ini masih seputar dealing sama bullying dan rasa rendah diri akibat bullying.Nggak gampang hidup dalam kondisi begini. Meski gue bisa ngasih kalimat hiburan:

“Nggak usah dengerin kata orang“

tapi nyatanya, gue butuh waktu lama untuk menyikapi kata-kata orang. Kita manusia yang punya perasaan. Bukan mesin yang isinya cuma if then else. Meski kita tahu bahwa kalimat yang menjatuhkan itu nggak usah didengar, tapi tetep aja pas di awal-awal, hati ini nggak bisa langsung meng-ignore.

hal yang pada akhirnya ngebuat gue berusaha untuk meng-ignore semua pelan-pelan adalah ketika gue sadar kalo gue punya kehidupan sendiri, gue berhak bahagia tanpa perlu disetir trauma masa lalu, gue berhak bahagia tanpa merasa perlu disetir opini yang tak berdasar dari orang lain. 

itu sisi egois gue yang ngebuat gue males berteman sama orang lain ketika SMP dan SMA. Qadarullah, sewaktu kuliah, gue ketemu orang-orang baik yang segala gerak-geriknya cukup ngebuat gue faham tentang makna:

“Khairunnaas ‘anfa’uhum lin naas“

Di titik balik ini, gue mulai belajar mengenal pertemanan.

Buat temen-temen yang nanya tentang bagaimana cara belajar skill untuk bergaul ketika self esteem kita rendah, gue ga bisa jawab satu-satu, tapi semoga cerita random gue ini bisa jadi pengantar untuk memulai kehidupan yang baru.

sampai sekarang, gue tetep jadi Dea yang pemalu, suka grogi, dan kalo bicara di tengah umum, tangan gue masih dingin banget ~XD Tadi aja pas kepaksa jadi dirijen saat upacara juga rada-rada aneh karena gue grogi.

jangan ngebayangin kalo gue itu orang yang fasih berbicara di depan umum. Gue cuma seorang pemalu yang suka duduk di pojokan saat kondangan. Dan kalian juga nggak usah berkecil hati dengan kondisi yang demikian. Nggak semua orang harus jadi pembicara di muka umum meskipun kalo suatu saat gue dapet amanah untuk ngomong di depan orang banyak, gue bakal berusaha buat menjalankan dengan sebaik-baiknya. 

Kita perlu menumbuhkan self esteem dalam diri kita bukan untuk mencetak diri kita menjadi publik speaker atau kembang panggung melainkan untuk menumbuhkan keberanian kita menerima diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan. Lalu berusaha untuk terus-menerus memperbaiki diri kita agar kita bisa bermanfaat untuk orang lain dengan cara yang kita bisa

“Khairunnaas ‘anfauhum linnaas“

Cita-cita akhir kita adalah menjadi orang yang bermanfaat. Bila kita tidak punya rasa percaya pada diri kita sendiri, bagaimana kita bisa memberi manfaat kepada orang lain?

Langkah pertama yang gue tempuh untuk memperbaiki diri adalah berusaha untuk memaafkan segala hal yang terjadi di masa lalu. Menganggap semuanya sebagai bagian dari takdir yang memperkaya pemahaman dan ngebentuk gue hari ini.

Gue pernah nyesel nggak sih pas sekolah nggak punya banyak kenangan manis bareng sahabat?

Kadang ada rasa iri sama temen-temen yang punya sahabat dengan usia persahabatan yang udah belasan tahun. Tapi habis itu gue balikin lagi menjadi rasa syukur. Alhamdulillah Allah ngasih gue waktu buat menyadari segala kesalahan gue. Meskipun kalah start, setidaknya gue punya waktu untuk mengawali semuanya.

Rasa syukur ini kemudian yang ngebuat gue pelan-pelan ngebuang beban masa lalu biar beban gue di masa depan ga berat. Kadang kita harus menjadi ikan emas dengan memori dua detik. Lupakan diri kita di masa lalu dan mulai dari nol.

Langkah kedua, kalo udah bisa memuai memaafkan masa lalu, kita perlu berusaha menyayangi diri sendiri. Coba bicaralah ke diri kita sendiri. Gue suka berpura-pura menjadi diri gue di masa depan yang mengunjungi gue di hari ini dan ngasih banyak nasihat. Aneh sih. Tapi cara ini lumayan menyenangkan.

Gue selalu ngebayangin kalo di masa depan kelak, gue itu jadi wanita yang penyayang, responsif dan persistent maka tiap gue ngehadapin masalah, gue suka ngambil sudut pandang sebagai ‘gue di masa depan’ yang mencatat semua kekurangan gue hari ini lalu ngasih nasihat ke diri gue sendiri.

orang yang self esteemnya rendah itu sering tergoda untuk menjadi sempurna dan mentereng karena lingkungan mereka memang menekan mereka untuk berpikir seperti itu. Maka nggak heran kalo ada orang-orang yang nggak berani bergaul karena nggak PD, menutupi rasa rendah diri dengan menjadi arrogant atau yang lebih parah adalah membual agar dipuji.

gue nggak mau kayak gitu. Bagi gue, memperbaiki diri itu proses, membentuk karakterpun butuh proses. Jadi gue nggak pernah berangan buat ujug-ujug menjadi sempurna. Tapi setidaknya, gue memulai semua dengan keberanian menerima diri gue sendiri secara fair. 

Perlu sesekali kita mencatat sifat positif kita untuk sekedar menyadari kalo kita bukan cuma kumpulan pikiran negatif yang mewujud menjadi manusia ~XD Di waktu yang sama, kita juga perlu mencatat sisi negatif kita agar kita punya bayangan tentang sifat mana aja yang perlu kita perbaiki dalam diri kita.

Setelah itu,

coba beranikan diri untuk menjalani semua tantangan di depan mata plus beranikan diri untuk berkomunikasi ringan dengan orang lain.

gue itu ga bisa renang tapi pernah ngeyel snorkeling meski pas masuk air tetep megap-megap, tapi paling nggak, gue udah pernah nyoba ~XD terus kalo kalian udah mulai nyoba ngobrol sama orang, jangan minder kalo percakapan kita nggak direspon atau direspon dengan cara yang aneh. Maklumin aja. Masih belajaran juga kan. Kita belajar motor aja nggak langsung lancar.

Gue dulu nyoba nyikapin ini dengan solo backpacking ato makan di warung random yang agak sepi. Solo backpacking di kota asing ato makan di warung yang agak sepi itu maksa kita ngobrol sama orang. Entah itu orang di kereta yang kebetulan duduk sebelahan sama kita ato bapak-bapak ibu penjaga warung. Random sih. Tapi kalo kalian punya cara yang nggak random-random banget, boleh juga kok nyobain cara lain.

Gue dulu kebayang cara ini karena kalo pembicaraan gue malu-maluin, orang yang gue ajak ngobrol toh ga bakal inget sama gue. Toh ketemunya cuma bentar ~XD Anyway jangan dibayangin kalo backpacking gue ke tempat yang jauh. Gue kadang iseng ke malang yang nggak mahal-mahal banget keretanya. Ato kalo rezeki gue lagi banyak, gue suka maen-maen ke jogja. Pernah juga randomly ke PGS cuma buat latihan ‘mempertahankan kemauan’ dengan menawar harga meski endingnya gue nggak pernah bisa membeli dengan harga yang murah banget but at least gue bisa belajar memupuk ke-ngeyel-an gue.

Dan setelah ngelakuin cara ini, gue baru nyadar kalo sebenernya gue itu ngeyel-an dan kepala gue ini banyak berisi hal-hal random. Makanya kalo gue ngobrol sama ibu-ibu di warung jadinya nyambung ~XD

gue dulu pernah crita kan kalo gue itu lebih suka travelling ke kota, alasan utamanya ya karena kota itu kaya cerita dan kaya hal-hal random.

sebenernya pas gue lagi random-randomnya backpacking, gue juga mulai pelan-pelan ngebangun hubungan baik sama orang-orang di sekitar gue yang alhamdulillah sampai sekarang jadi temen baik gue.

saat ini, gue udah mulai mengurangi backpacking. Gue mulai nyoba nyari komunitas yang bisa menempa gue biar bisa jadi lebih matang. Pernah nggak sih gue ngerasa minder pas masuk ke komunitas?

kadang. Tapi gue nyadar bahwa kalo kita pengen tumbuh, kita perlu banyak bercermin dan belajar dari banyak orang. Kebaikan-kebaikan orang lain itu ada untuk di-copy paste. Gue ngerasain banget bahwa pertemanan dan komunitas itu pelan-pelan bikin gue belajar tentang common sense sekaligus belajar mengikis ego.

Gue yang dulunya tertutup dan ga berani mengkomunikasikan masalah sama temen akhirnya menjadi lebih bisa berterus-terang setelah belajar dari sikap temen gue yang begitu terus terang negur kesalahan gue yang bikin dia ga nyaman tapi habis itu dia tetep asyik gue ajak ngobrol dan bercanda.

Gue yang dulunya males banget kalo dititipin macem-macem barang pas ke minimarket akhirnya belajar dari temen gue yang beliin gue counterpain pas kaki gue sakit padahal gue nggak minta.

Gue yang dulunya nggak responsif sama kesulitan orang sekarang udah mulai reflek bantuin orang yang ngangkat barang buanyak, mulai reflek bantuin orang yang jatuh di jalan padahal dulu mungkin cuma ngelihat doang sambil cengo.

hal-hal kayak gini mungkin sederhana banget buat temen-temen. Tapi buat orang yang pernah hidup dengan self esteem rendah dan rasa malas buat nerima orang lain masuk ke kehidupan gue, hal-hal seperti ini adalah suatu kemajuan ~XD

jadi buat temen-temen yang ngerasa nggak PD, ngerasa takut ditolak dalam pergaulan, mulailah menghargai diri sendiri dan pelan-pelan berproses menjadi yang lebih baik.

Kebaikan itu banyak wujudnya. Pertemananpun banyak jalurnya. Kalo kamu nggak punya kemampuan untuk ngobrol dengan banyak topik, mungkin pertemanan kamu bisa dimulai dengan perhatian-perhatian kecil pada lingkungan sekitar.

Dan ingat…..

tujuan dalam bergaul bukan sekedar untuk nyari eksistensi. Meski manusiawi banget kalo ada orang yang butuh pengakuan dari lingkungan sekitar. Namun kita bisa membawa pertemanan ini pada tujuan yang lebih mulia yaitu tolong menolong dalam kebaikan. Semakin banyak teman, semakin ladang amal ini terbuka lebar.

selamat memulai.

Gue lagi sayang banget sama satu manusia. Sampe titik gue rela ngapain aja asal dia bahagia.Gue gak peduli harus secape apa, ga peduli harus keluar uang segimana, bodo amat panas ujan, dimarahin diambekin dibetein, as long as i can be with si manusia ini, all is well. 

Dulu, gue sering banget ngetawain orang-orang yang mengedepankan rasa sayang. Kayak lebay banget aja gitu. Ralat. Bukan sering, -hampir selalu. Gue bahkan mempertanyakan eksistensi rasa sayang itu sendiri. Ya mungkin karena gue belum rasain. Lalu sekarang, gue sedang karma.

Dalam posisi lagi bahagia bahagia aja, gak jarang gue sering menitikkan air mata. Karena mengkomakan air mata rasanya janggal. Cuma dengan bayangin akan kehilangan, bahagia seolah hilang pelan-pelan. Surut keceriaan, yang ada pada pikiran hanya; bagaimana agar hubungan kami dapat dipertahankan. 

Gue gak mau ditinggal. Gue juga gak mau meninggal. Gue mau panjang umur aja. Gue mau bahagia bahagia aja. Gue pengen semuanya in the right place, dengan dia tetap pada pelukan. Kadang gue memikirkan bagaimana caranya memperoleh kekekalan.

Silahkan ketawa. Berdecak risih atau bahkan menghakimi lewat aksara. Lebay. But seriously, -as i said before; selalu ada logika orang jatuh cinta yang tidak akan dipahami oleh ia ia yang nggak.

Lalu, acapkali ada kemungkinan kemungkinan berbau perpisahan, gue cuma bisa nangis sambil merutuki nasib. Gak jarang ngebetein tuhan. Di logika gue, ga ada yang akan berlangsung di dunia ini tanpa izinNya. Lantas kenapa dipertemukan kalau suatu saat harus juga di lepas?

  • Kiat kiat agar lebih kuat?
  • Ujian kenaikan kelas agar memahami arti qanaah, tawakal dan ikhlas?
  • Agar dipertemukan dengan yang lebih baik?
  • Sarana untuk memperbaiki diri?

Tai kuda. Ngomong sama nabi. 

Buat orang berdosa yang imannya lemah kayak gue, semua akan lebih masuk logika kalo gausah bawa bawa yang maha kuasa. Rasional aja.

  • Dia udah gak sayang
  • Benturan kepentingan
  • Ada yang lain yang bikin nyaman
  • Konflik internal

Halah bodo amat. Sebenernya apapun alasan yang dipake, kalo udah sayang ya sayang. Gausah ada pisah. Gausah mengakhiri kisah. Bareng bareng aja, gabisa apa?

Kita Bukan Orang Kaya, Terus Kenapa?

Sebagai anak yang terlahir dari keluarga dengan tingkat ekonomi biasa-biasa saja, waktu kecil dulu saya pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang kaya: mungkin hidupnya sangat bahagia, mainan apapun bisa dibeli, liburan kemanapun bisa dilakoni, dan apapun yang menjadi keinginan pasti akan terpenuhi. Entahlah, persepsi itu mungkin hadir dari kisah-kisah orang kaya dalam cerita atau film yang saya tonton dari sebuah TV tua milik keluarga. Saat itu, dalam pandangan saya yang sempit, saya selalu menyandingkan kata kaya dengan kepemilikan harta dan benda, sehingga saya menganggap bahwa orang kaya adalah ia yang memiliki banyak uang, kendaraan, rumah bertingkat, dan baju-baju mewah yang tentunya tak sama dengan apa yang saya punya-yang hanya berasal dari pasar yang letaknya di pinggiran kota.

Singkat cerita, masa-masa remaja mengantarkan saya pada satu takdir dimana saya bisa mencicipi hidup berkecukupan. Di sebuah tempat dimana saya tinggal jauh dari orangtua, saat itu saya merasa kehidupan saya begitu berbalik. Tiba-tiba saja saya tinggal di rumah mewah, pergi ke sekolah dengan diantar-jemput mobil dan seorang supir, makan makanan yang entah bagaimana saya perlu menjelaskan rasanya, selalu ada anggaran untuk membeli buku atau jajan, dan bahkan liburan mahal sekali pun adalah sesuatu yang mudah kala itu. Hmm, ternyata begini rasanya jadi orang kaya! Tapi ternyata, semua itu tidak lantas membuat saya bahagia, dan bahkan mengantarkan saya untuk mengalami pergolakan hidup yang entah bagaimana saya perlu menceritakannya. Intinya, takdir tersebut membuat saya belajar memahami bahwa kebahagiaan sama sekali tidak pernah terletak pada kekayaan, harta, maupun benda.

Banyak hal pernah terjadi dalam hidup saya. Dari tinggal di kawasan elite sampai di kampung. Dari naik mobil mewah sampai jalan kaki. Dari makan di restoran bintang lima sampai hanya bertabur garam. Dari selalu punya uang sampai dompet tak berisi apa-apa. Begitulah, hidup memang berganti-ganti cerita, tentunya supaya kita bisa mengambil makna. Dari situ saya menjadi paham, bahwa ketenangan dan kebahagiaan hidup hadir dari kesederhanaan, bukan dari mengada-adakan sesuatu yang mewah dalam pandangan orang. Alhamdulillah, Tabaarakallahu, saya merasa lebih bahagia hidup dalam kesederhanaan. Saya jadi paham mengapa sederhana adalah kata yang begitu melekat dalam sikap hidup ayah, sebab ternyata ini begitu menenangkan!

Dulu saya pernah malu bergaul dengan orang kaya, tapi, sejak saya memahami bahwa harta bukanlah segala-galanya, saya merasa semua orang, baik kaya ataupun miskin, sama-sama bisa menjadi teman tanpa harus memandang apa yang mereka punya. Dulu saya pernah minder dengan teman-teman yang hidupnya berada, tapi, sejak saya memahami bahwa tak ada yang benar-benar dimiliki oleh manusia di dunia, saya merasa lebih bebas bergaul dengan siapa saja tanpa harus malu atau merasa rendah diri seperti sebelumnya.

Sahabatku, jika kita memang bukan orang kaya, terus kenapa? Apa yang salah jika kita memang tidak menyandarkan hidup pada harta? Ah harta, bukankah kemuliaan manusia sejatinya memang tak pernah terletak disana?

Tadi pagi, saya berdiskusi dengan seorang senior yang saat ini semakin sering mendapat undangan untuk mengisi berbagai acara, yang kalau saja ia mau, sebenarnya ia bisa saja menabung harta dari hal itu, tapi ia tidak melakukannya. Tanpa diduga, sambil bercanda ia menyampaikan sebuah kalimat yang, sejujurnya lucu bagi saya, tapi memang benar adanya,

“Kalem we euy, emangna rek kamana sih meuni rarusuh pisan ngumpulkeun harta? Harta mah moal dibabawa ka akherat. (Tenang aja, memangnya mau kemana sih buru-buru banget ngumpulin harta? Harta kan engga akan dibawa ke akhirat).”

Hmm, saya sepenuhnya sepakat! Dalam menjalani kehidupan ini, kita memang sudah selayaknya bijak memaknai harta. Buat apa dikumpulkan sampai menggunung jika itu hanya untuk membuat orang lain menyadari eksistensi kita? Buat apa dicari terus sampai ke puncak lelah jika itu hanya untuk kepuasan pribadi? Buat apa dibangga-banggakan, disombongkan, dielu-elukan kepada orang lain, padahal semuanya sementara? Kalau kita memang bukan orang kaya yang memiliki banyak harta, memangnya mengapa?

Selamat berdialog dengan hati, selamat memaknai bahwa iman adalah sebaik-baik harta. Semoga Allah memudahkan kita untuk memahami bahwa kemuliaan seorang manusia memang tidak pernah terletak pada harta, tapi terletak pada taqwa yang semoga kita memang sedang berupaya memperjuangkannya. Baarakallahu fiikum!

Menjadi Orang Biasa

Saya sering bertemu dengan banyak orang. Orang-orang yang tidak saya kenal, juga tidak mengenal saya. Di jalan, di pasar, di mall, di masjid, di tempat makan, di kereta, di mana-mana.

Lalu ketika kembali ke lingkaran pertemanan saya. Di tengah euforia orang-orang sedang membangun karir, sedang demam start-up, sedang sibuk membangun eksistensi. Saya kemudian berpikir, apa salahnya menjadi orang biasa-biasa saja?

Ketika saya pulang ke desa, ke kampung halaman saya. Saya bertemu dengan masyarakatnya, orang-orang desa yang sejak saya kecil sampai sebesar ini mungkin dunia yang dikunjunginya baru sejauh Jakarta. Itupun belum tentu setahun sekali, lebih banyak harinya habis di ladang dan sawah. Mereka tidak mengenal istilah start-up, tidak mengerti apa itu eksistensi. Tapi satu hal yang pasti, mereka berperan.

Adalah orang-orang yang tidak dikenal inilah yang membuat meja makan orang-orang bisa tersaji nasi. Juga beberapa macam sayuran. Mereka menjalani perannya dengan ikhlas. Tidak menuntut untuk menjadikan diri mereka dikenal banyak orang. Sungguh, tidak ada yang keliru sama sekali dengan menjadi orang biasa. Surga juga tidak diciptakan hanya untuk orang-orang yang eksis, yang terkenal, yang membangun ini dan itu. Dan perubahan peradaban juga tidak muluk-muluk dimulai dengan membangun perusahaan, dan berbagai macam euforia yang menekan kaum muda saat ini.

Yang paling utama adalah menjadilah seseorang yang berperan. Kemudian menjalani peran tersebut dengan sebaik-baiknya. Menjalaninya dengan penuh ketulusan dan niat yang lurus.

Kita semakin jauh dari niat, semakin jauh dari kearifan-kearifan. Kalau saya perhatikan, begitu banyak orang yang khawatir dirinya menjadi debu, menjadi bukan siapa-siapa dan biasa saja. Padahal menjadi debu pun sebenarnya sangat berarti dan bermakna ketika ia bisa menjadi berperan. Untuk tayamum misalnya.

Keluar rumahlah dan jalan kaki. Berapa ribu orang yang bisa kita temui dijalan dan sama sekali tidak kita kenal. Barangkali mereka adalah orang-orang yang amat dikenal oleh penduduk langit, surga merindukan kematian mereka, malaikat sibuk mencatat kebaikan dari peran yang mereka jalani.

Dunia ini benar-benar sementara, benar-benar senda gurau. Tidak akan habis kita mengejarnya. Setelah itu juga, tidak akan kita bawa mati.

Yogyakarta, 14 Desember 2016 | ©kurniawangunadi

Tak Jemu Kita Meminta Hidayah

Tujuhbelas kali sehari kita memohon pada Allah akan hidayah. Terkandung dalam kalimat “Ihdinasshiraathal mustaqiim”, itu minimal, belum ditambah shalat sunnah

Duhai Allah bimbing aku, tuntun aku, bersamai aku, kawal jalanku, papah diriku, arahkan aku. Karena kita sendiri takkan berdaya menetapi jalan kebaikan itu

Meski Allah sudah memberi akal untuk membuktikan eksistensi diri-Nya, serta Kitabullah dan Sunnah yang jadi panduan hidup, tapi menjalani semua itu, perlu taufiq Allah

Ibarat seseorang yang berjalan ke satu tujuan, bila dia tahu akan kemana dia menuju, memahami jalannya, belum tentu dia akan sampai, bila tidak ada pemandu yang sesuai

Sebab itulah kita selalu minta pada Allah, Ya Allah kukuhkan hidayah itu, buat kami ridha terhadapnya, kuatkan kaki kami di jalan taat, ringankan tangan kami di dalamnya

Sebab tak ada yang menjamin dirimu tetap dalam keadaan taat, sebagaimana tak ada yang bisa memastikan dirinya mati dalam keadaan beriman, dalam keadaan Islam

Bahkan setingkat Nabi Ya'kub saja menjelang wafatnya masih mengkhawatirkan anak-anaknya, “Apa yang kalian sembah sepeninggalku?”. Hidayah memang penting

Begitu pula saat Allah ceritakan dalam surah Ali Imraan, ada orang-orang yang sudah mendalam ilmunya, hanya tetap saja mereka khawatir akan kesesatan itu

Mereka berdoa, “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami”, begitu khawatir mereka itu

Mintalah hidayah pada Allah sebanyak-banyaknya. Mintakan untuk diri kita, keluarga kita, dan semua kaum yang beriman, agar Allah istiqamahkan kita sampai akhir

Mintalah agar Allah melembutkan hati kita, membuka tabir di telinga dan mata kita, serta jiwa kita, agar mudah menerima kebaikan dan menaati Allah senantiasa
—  Ustadz Felix Siauw
Perppu itu lahir dari kecemasan dan kedunguan pemerintah. Perppu itu lahir bukan karena kegentingan yang memaksa, tapi memaksakan kegentingan
— 

Rocky Gerung

Tolak Perppu Ormas No. 2 Tahun 2017.

Makar Allah Ta'ala lebih hebat daripada skenario buatan manusia. Mereka hendak memadamkan cahaya kebenaran, tapi mereka lupa bahwa yang dihadapi bukanlah sekelompok Ormas tapi yang melindungi Ormas-Ormas itu, yakni Allah Ta'ala. Mereka sedang berhadapan dengan makar Allah Ta'ala.

Gagal menjebol gawang lawan, mereka memaksa memperlebar ukuran gawang. Tapi mereka abai pada jutaan pasang mata yang menyaksikan pertandingan. Disana ada orang-orang yang paham betul aturan main, juga ada yang masih bersih hatinya melihat kebenaran. Maka jelas, mereka bisa menilai dan membela mana banar dan mana salah.

Mereka hendak menghancurkan sarang lebah, tapi mereka lupa kalau sekumpulan lebah akan pergi terbang; bertebaran membangun sarang-sarang baru- bahkan lebih kokoh.

Mereka sedang uji coba menjadi pelayan rakyat yang ditakuti dan disegani, tapi sok cuek dengan kebijakan yang membuat rakyat tercekik, marah, dan muak dengan pencitraan.

Mereka ingin mengulang sejarah. Kembali ditahun 1960an saat Partai Masyumi dilarang, HMI terancam dibubarkan juga dan para ulama dikriminalisasi. Buya HAMKA dan Natsir adalah diantara korban itu. Diberangus semua pengemban Islam. Para pengemban dan wadah gerakan bisa dilarang dan ditawan, tapi mereka lupa, kebesaran Islam tidak pernah kerdil apatahlagi mati.

Mereka kembali mengikuti sejarah. Bahwa yang anti Nasakom berarti juga anti Pancasila. Sekarang pun seperti itu, menghardik pengemban dakwah yang membumikan syariah sebagai anti Pancasila, anti NKRI dan menjadi kanker dalam negara. Tapi mereka terlalu lugu untuk jujur, mengakui bahwa Pancasila dan NKRI adalah jargon tempat berlindung dari ke(tidak)bijakan yang pro neoimperialisme dengan melakukan liberalisasi semua sektor untuk kepentingan asing dan aseng. Yang jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila dan menjadikan kedaulatan negara dibawah kendali kapitalisme global.

Mereka ingin membungkam pikiran dan lisan kritis terhadap kedzoliman. Agar tidak ada yang mengkritik SDA yang diberikan kepada kaum berduit, tidak ada yang menolak kenaikan BBM, tidak ada yang menolak LGBT, tidak ada yang menggalang solidaritas saudara-saudara muslim di Palestina, Suriah, Rohingya, dll. Agar tidak ada yang yang menolak disintegrasi dan agar tidak ada yang menyeru kepada persatuan umat.

Karena itu berbagai cara dilakukan agar eksistensi kedzoliman tetap terjaga. Maka terbitlah aturan-aturan yang sejatinya adalah menjaga kepentingan segelintir orang yang bersembunyi dibalik regulasi dan jargon-jargon nasionalisme.

Indah sekali melihat ukhuwah diantara kaum muslimin. Bahu membahu dijalan kebenaran dan bersinergi dalam dakwah. Inilah yang nampak di ILC semalam. Siapapun engkau, apapun harakahmu, engkau saudaraku.

Aku mencintaimu karena Allah Ta'ala.

Kecantikan : Sesuatu Yang Semakin Mudah Ditemukan

“Sesuatu yang hari ini semakin banyak bertebaran di jalanan, instagram, juga banyak tempat lain. Mudah sekali menemukan kecantikan, lebih mudah juga menemukan yang lebih cantik lagi,” -Kurniawan Gunadi

Sebagai seorang laki-laki, saya setuju dengan apa yang dikatakan oleh Kak Kurniawan Gunadi, dewasa ini memang tidak sulit untuk menemukan perempuan berparas cantik entah karena tunjangan gaya berpakaian yang modis, make up yang necis, atau karena memang sudah dari cetakannya perempuan itu berwajah ayu. Di lini masa media sosial semua orang -tidak hanya perempuan saja, berlomba-lomba untuk menampilkan sisi paling menarik dari diri mereka, sisi yang terlihat sekali penuh dengan sandiwara dan menutupi berbagai perwatakan mereka yang sesungguhnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa dewasa ini media sosial memang sudah menjadi sebuah sarana untuk mendapatkan acknowledgement, sebuah pengakuan dari orang-orang di sekitarnya. Orang yang tidak terlalu memiliki popularitas mencoba mendongkrak popularitasnya lewat media sosial, orang yang sudah populer meningkatkan kualitas kepopulerannya. Orang yang hidup di media sosial secara tidak sadar mencoba mencari dan menghidupkan eksistensi mereka di sana yang tidak atau kurang mereka miliki di kehidupan nyata, media sosial selah-olah menjadi pelarian dari keadaan mereka di dunia nyata, yang diakui keberadaannya tetapi kurang berdaya eksistensinya, dan salah satu diantara banyak cara untuk mencari dan menghidupkan eksistensi di sosial media adalah dengan memamerkan apa yang memang dianggap pantas untuk dipamerkan, kecantikan diantaranya.

Saya tidak memungkiri bahwa laki-laki adalah makhluk visual, makhluk yang suka melihat dan bisa jadi juga menilai seseorang dari kecantikannya. Di zaman yang seperti Kak Kurniawan Gunadi gambarkan pada kutipan di awal tulisan ini, maka menjadi sebuah hal yang patut dikhawatirkan bagi laki-laki yang makhluk visual. Khawatir kalau-kalau hati ini cenderung kepada itu. Khawatir kalau-kalau iman ini luntur hanya karena riasan bedak dan gincu. Semakin mudah menemukan kecantikan, semakin mudah lagi menemukan yang lebih cantik, yang takarannya hanya perwujudan apa yang nampak di luar, dan sangat mudah untuk dinilai. Maka sebab itulah mengapa sekarang saya baru paham lebih mendalam tentang hadits Rasulullah yang berbicara tentang alasan-alasan perempuan dinikahi, mengapa beliau menekankan untuk menikahi yang baik agamanya? Karena menemukan perempuan yang baik agamanya tidak semudah membalik telapak tangan di zaman seperti ini, kalau pun sudah menemukan tidak mudah pula untuk menjatuhkan pesaing lainnya yang sama-sama memperjuangkan perempuan dengan kecantikan hati yang terpancar dari pemahaman agamanya yang baik.

Maka barangkali sebuah anekdot dari Aan Mansyur berikut ini bisa kita renungkan bersama-sama,

‘Suatu sore, dua bulan lalu, seorang perempuan bertanya, “Kamu pake kamera apa sih? Saya suka foto-fotomu di Instagram.” Pria yang ditanya itu menjawab, “Fujifilm X70. Terima kasih.” Seminggu yang lalu, Si Pria diundang makan siang di rumah Sang Perempuan. “Masakan kamu enak. Saya suka,” kata Si Pria. “Terima kasih,” kata Sang Perempuan. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. “Kalau boleh tahu, kamu pake panci merek apa sih?” tanya Si Pria. Sejak hari itu, Sang Perempuan tidak ingin mendengar nama pria itu lagi.’

Kita memang seringkali terlalu buru-buru menilai, terlalu tergesa menyimpulkan bahwa alat yang membuat sesuatu nampak cantik lah yang berharga, tetapi melupakan hakikat sumber kecantikan itu sendiri yang tidak berwujud, tidak berbentuk tetapi dapat dirasakan pancarannya, dapat diresapi kedalamannya sepanjang kita membuka mata hati kita. Sepanjang kita masih mampu menggunakan nurani kita.

Selamat memantaskan diri!

Di zaman banyak orang berburu eksistensi dan popularitas secara terang-terangan unjuk suara. Aku justru bersembunyi dengan banyak ragam nama samaran dan bisu dalam diary digital yang kunamai, duniaku :(
3 Band Indie Indonesia yang Paling Mencuri Perhatian

Setelah maraknya Boyband dan Pop Melayu di blantika musik Indonesia, belakangan ini trend musik Indonesia sedang flashback ke jaman dimana genre Dangdut merajalela. Banyak program televisi di Indonesia lebih sering menyiarkan musik Dangdut. Hal ini yang membuat band-band Pop Melayu dan Boyband kurang mendapatkan tempat di dunia pertelevisian indonesia.

Namun bagi para musisi dan band ranah Indie, hal itu tidak begitu berpengaruh. Mereka mampu membuktikan eksistensi mereka melalui off-air gis yang terbilang padat. Baik di event pentas seni sekolah, pagelaran musik, maupun di venue-venue seperti cafe atau pub. Band dan musisi independent tetap mendapatkan tempat di hati para kaum anti-mainstream dikarenakan mereka mampu membentuk crowd mereka sendiri dengan cara yang lebih bebas dan tak terikat.

1. The S.I.G.I.T. (The Super Insurgent Group of Intemperance Talent)

Band yang pernah merilis album di bawah naungan label rekaman Australia ini, terbilang sangat mencuri perhatian kaum pencinta musik Garage Rock. Musik mereka yang selalu inovatif, penuh kebebasan berekspresi dan penuh aksi panggung mampu menjadikan band asal Bandung ini patut diacungi 2 jempol. Sebut saja lagu Clove Doper yang sempat populer di kalangan kawula muda.

2. Payung Teduh

Ditengah minimnya musikalitas nan puitis di negeri kita, Payung Teduh muncul dengan keteduhan musiknya. Ketika mereka ditanya soal aliran musik, mereka cukup menjawab “aliran kami ya payung teduh itu sendiri”. Tak ada pembatasan dari genre mereka namun nuansa folk pop cukup kental pada Payung Teduh. lagu mereka yang cukup booming adalah Resah dan Berdua Saja.

3. Endah'n'Rhesa

Duo pasangan suami istri ini mengusung aliran Ballads yang penuh dengan cerita. Endah Widiastuti bertindak sebagai Gitar dan vokal, sementara sang suami Rhesa Aditya sebagai pendentum Bass. Salahsatu keunggulan mereka adalah kemampuan mereka meracik lirik dan musik Ballads yang notabene penuh kesedihan menjadi ragam cerita menarik yang tidak menyedihkan. Lagu terbaik mereka yang cukup ear-catchy adalah Silence Island yang bercerita tentang pergolakan seorang individu dengan imajinasinya.

13/11/2014

Untukmu, Cantik

Kamu cantik, tapi aku tidak tertarik. Entah mau bagaimana kamu jungkir balik berusaha untuk tampil cantik. Rasanya tidak pernah menarik, bagiku. Entah bagi yang lain.

Biar kain penutup kepalamu berkibar diterpa angin atau baju panjangmu menjulur hingga tanah, memesona ribuan mata di akun media sosialmu. Dipuji ribuan mata karena keindahannya. Aku menutup mata untukmu.

Entah bagaimana pun caramu untuk terlihat demikian. Lebih baik aku mencari tahu bagaimana caranya memberitahumu dengan baik-baik. Biar hatimu tidak patah karena nasihat yang salah memilih kata, agar kehormatanmu tidak jatuh karena kata-kata yang salah memilih nada.

Aku tidak tertarik dengan kecantikanmu, aku tertarik dalam upayamu berubah hari ini. Dari upayamu untuk memahami bahwa setiap kali perempuan keluar dari pintu rumahnya, maka setan akan membuat indah pada pandangan manusia segala hal yang ada padamu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dan kamu semakin mengerti bahwa segala hal itu patut dijaga dengan cara-cara yang memang tidak mudah dilakukan.

Di tengah setiap orang begitu ingin menampilkan eksistensi, kini kamu memilih menutup diri. Aku tertarik pada upayamu menjaga diri. Cantikmu muncul saat imanmu menguasai dan membentuk kepercayaan baru dalam diri bahwa cantik adalah ujian dalam bentuk anugerah. Dan kamu menjadi khawatir kalau laki-laki memilihmu karena kecantikanmu, bukan agamamu.

©kurniawangunadi

Sejak gagasan woman’s lib gencar disuarakan, semakin banyak kaum perempuan yang menduduki posisi strategis yang hampir menyamai peran laki-laki di sektor publik. Gagasan seperti itu biasa kita kenal dengan emansipasi wanita. Gelombang gerakan emansipasi-feminisme ini lahir dari rahim ketidakpuasan kaum wanita atas pemasungan hak-hak dan kebebasan mereka. Akhirnya mereka berontak.

Dalam tulisan saya sebelumnya, “Perempuan Hebat Memikul Tanggung Jawab Besar”, ada sebuah pertanyaan.
“Apakah mungkin seorang perempuan bisa dikatakan hebat bila ambisinya menyaingi laki-laki dalam semua peran?”

Jargon-jargon emansipasi yang diusung oleh penganut feminisme membuat kaum perempuan percaya (baca: tertipu) bahwa selama ini mereka tertindas oleh laki-laki dan mereka harus bangkit melawan hegemoni dan penindasan itu. Serta merebut kembali hak mereka.

Lalu dengan angkuhnya gerakan emansipasi-feminisme dan berbagai derivatnya menunjuk Islam sebagai penindas perempuan. Padahal faktanya, penindasan itu adalah warisan peradaban masa lampau. Jauh sebelum Islam datang.

Muncullah dalam benak kaum wanita untuk berlari sama kencang dan berdiri sama tinggi bersama kaum pria. Pemikiran demikian menjangkiti kaum muslimah, jadilah mereka terobsesi dan penuh berambisi menyamai dan menyaingi laki-laki dalam semua peran terutama di sektor publik.

Kaum wanita/muslimah yang termakan jargon dan doktrin kesetaraan belomba-lomba untuk menunjukkan eksistensi diri. Sehinggga sering kita jumpai seorang wanita pekerja (full time job) mengabaikan perannya sebagai istri dan ibu.

Misal seorang istri dengan nafkah yang cukup bahkan lebih, malah merasa harus seperti suami. Bekerja keras dan dapatkan penghasilan sendiri sehingga tidak menggantungkan diri kepada sang suami. Institusi pernikahan telah berubah menjadi gelanggang perlombaan. Suami gak digandeng malah ditantang. Kewajiban-kewajiban sebagai istri terabaikan. Efek dominonya pada seluruh anggota keluarga.

Dia seorang ibu tapi menitipkan anaknya kepada pengasuh. Anak lebih dekat dengan “ibu sintesisnya” daripada ibu kandungnya. Jika seorang wanita sebagai istri dan seorang ibu telah terjangkit penyakit emansipasi maka salah satu pilar keluarga sudah keropos. Tidak akan terlahir orang-orang hebat.

“Lalu sebenarnya perempuan hebat yang tetap bisa berambisi itu yang bagaimana?”

Kalo yang ini perempuan secara umum yah. Adalah perempuan yang dalam ambisi, cita dan visi kehidupannya senantiasa melibatkan Allah swt. dalam setiap aktivitasnya. Bukan karena manusia yang ujungnya melahirkan riya’, gengsi, dll. Pendek kata, niat dan cara sesuai syara’. Sebesar dan setinggi apapun ambisi manusia kalau Dia katakan “Bukan” maka pasti bukan. “Tidak” maka tidak akan terwujud.

Kalau bagaimana dengan perempuan hebat namun tetap berambisi atau memiliki mimpi-mimpi besar, maka kita bisa berkaca kepada perempuan-perempuan hebat yang dicatat sejarah. Khusunya para muslimah. Pertama, ambisi mereka jangka panjang sampai hidup setelah mati. Kedua, landasan atau penggerak mereka adalah keimanan. Ketiga, cara yang ditempuh tidak bertentangan dengan poin kedua.

“Bagaimana jalan keluar bila ada perempuan yang ingin tetap berkarir, menyejehterakan masyarakat tapi tetap bisa membesarkan anak dan suami?”

Pertanyaan ketiga ini berat. Sebab untuk menjawabnya diperlukan realitas yang dihadapi dengan sebenar-benarnya. Jangan sampai saya menjawabnya hanya dengan berdiri diatas bayang-bayang dan asumsi. Saya hanya memaparkan berdasarkan kapasitas yang dimiliki.

Pertama, menyejahterakan masyarakat bukan tugas individual apatahlagi tugas seorang perempuan. Itu adalah tugas dan peran negara. Mungkin maksudnya berkontribusi dalam masyarakat. Kalau yang ini perempuan juga harus turut berperan. Sebab, wanita dan pria memiliki kedudukan yang sama dan memiliki perannnya masing-masing tanpa ada yang dilebihkan dari salah satunya.

Kedua, perempuan itu mengemban banyak peran. Sebagai istri dan ibu. Juga sebagai bagian dari umat atau masyarakat. Mereka juga turut berkontribusi dalam pembangunan masyarakat utamanya dalam aktivitas amar ma'ruf nahimunkar. Peran-peran itu tidak mudah.

Dalam menjalankan segudang peran itu, maka harus didudukan hukum masing-masing. Dahulukan yang wajib baru sunah atau mubah. Mengurusi keluarga hukumnya wajib sementata kerja diluar rumah mubah. Maka pilihlah yang utama.

Untuk sukses dalam semua peran, khususnya setelah menjadi istri dan ibu, ada beberapa persiapan besar. Satu, cari calon suami yang sefrekuensi, satu visi dan misi. Ini bekal kedepan utamanya dalam komunikasi dan saling memahami atas pilihan-pilihan kita. Kedua, tanam dan yakinkan diri kita bahwa pilihan yang kita ambil apapun itu adalah benar. Ketiga, manajemen waktu.

***Jawabannya kepanjangan. Jawaban yang sepenuhnya masih berdiri diatas teori dan asumsi pribadi, namun semoga bisa memberi sedikit jawaban atas pertanyaannya mbak Hani @hanifaizzati

#36

/1/
Namamu. Kertas putih. Kacamatamu. Orang-orang yang kita kenal. Kursi-kursi tidak rapi. AC mengembus 21°C. Papan tulis yang berbicara apa adanya. Pintu bergetar. Senyuman dan tawa mereka. Kata keluh kesah. Rencana dalam agenda. Kritik dan saran tentang imajiner. Perut kita lapar. Rasa terbidani entah bagaimana.

/2/
Akun twitter baru. Pakaian hitammu. Es krim yang kita makan. Jalanan panas. Mata kuliah membosankan. Perihal suka. Awan berarak ke selatan. Pangeran Charles mencintai Putri Kate. Bakso yang kita makan. Rapat dengan koran. April cerah.

/3/
Kota mulai jenuh. Kenangan yang dipotret. Suka dan duka. Debu perpustakaan. Mengembalikan eksistensi. Waktu menyempit. Kampus kita. Teh tarik di kantin. Kertas fotokopi dalam tasmu. Laptop penuh skripsi. Jantung kita sama.

/4/
Dua kota. Ketiadaan. Skype. Cemburu seperti pelangi. Rembulan menggantung manja. Jejakmu di sini. Bayang-bayang kehilangan. Es krim yang meleleh. Mimpi buruk. Gado-gado yang kamu suka masih lewat. Segalanya berubah. Aku kehilangan.

/5/
Luka dalam nafas.

Dua Tokoh Revolusioner Satu Zodiak Beda Nasib Asmara

Zodiak atau rasi bintang, sudah menjadi rujukan kaum milenial menyugesti dirinya dengan ramalan baik yang tertulis pada penyimbul bulan dalam satu tahun yang digunakan bangsa Yunani kuno ini. Bahkan tak jarang yang memanfaatkannya sebagai bentuk pembenaran tentang sikap yang diambilnya.

Namun kecurigaan saya atas ramalan yang tertulis dalam mitologi zodiak timbul ketika dua tokoh revolusioner ini bertolak belakang dalam bersikap tentang kehidupan asmaranya. Ya. Dua tokoh penting dalam menorehkan sejarah panjang kemerdekaan bangsa ini; Tan Malaka dan Soekarno.

Seperti yang kita tahu, dalam buku sejarah atau pemberitaan mana pun tak ada catatan cinta untuk bapak bangsa satu ini. Tan Malaka lebih besar cinta kepada bangsanya, tinimbang terhadap seorang wanita. Sampai tentara republik yang diperjuangkannya menghabisi nyawanya pun, ia dalam keadaan jomlo. Jomlo yang revolusioner.

Lain halnya dengan founding father kita, sang proklamator bangsa, Ir. Soekarno. Pria asal Blitar, Jawa Timur ini sangat dekat dengan wanita. Dari dek Oetari, putri Tjokroaminoto, teh Inggit, Fatmawati hingga Heldy Djafar. Tercatat sekurangnya sembilan perempuan diperistrinya.

Biar pun banyak cinta di samping Soekarno, tak mengalahkan cintanya pula terhadap bangsanya, seperti halnya Tan Malaka.

Persoalan yang melahirkan kecurigaan saya terhadap keduanya adalah keabsahan ramalan zodiak tentu saja, khusunya soal catatan asmara. Tan dan Soekarno adalah dua pria Gemini. Lantas apa yang membuat Tan memilih jalan jomlo sedang Soekarno berafiliasi dengan Play Boy?

Hal demikian masih menjadi tanda tanya besar untuk melengkapi catatan sejarah bangsa yang dibangun dengan cinta-kasih, dan semakin bertambahnya usia, semakin luntur cinta dan kasih yang ditorehkan bapak bangsa dan pendahulu kita. Nafsu kekuasaan nyaris melukai bangsa ini, dengan timbulnya kebencian atas suatu golongan yang dilatar belakangi oleh politik kepentingan.

Harapan saya terhadap generasi bangsa ini tetap sejalan dengan apa yang dicita-citakan pendiri bangsa kita, baik jomblo yang revolusioner seperti Tan Malaka, mau pun bapak play boy yang sosialis seperti bung Karno.

Bangun negri ini dengan cinta-kasih, bukan dengan kebencian. Peringati hari besar dengan menorehkan prestasi, bukan hanya adu slogan untuk sekadar eksistensi. Ke-Indonesiaan serta jiwa pancasilais bukan hanya simbolik semata, namun isi yang terkandung di dalamnya.

Sekian.
Salam olah raga


TTD

Kamerad Unyu.

Mengapa Mahasiswa Selalu Salah?

Tiba tiba chat di whatsApp group mulai dipenuhi dengan broadcast yang isinya kurang lebih sama semua (biasa.. orang kita memang sangat hobi main copas di grup dan pasca nge post… Hilang), yakni tentang demonstrasi #112 yg akan diadakan kawan2 BEM. Mereka menamakan dirinya Reformasi Jilid II

Jreng jreng jreng.. pro dan kontra langsung menghiasi notifikasi WA di Hp. Komentar masuk dgn berbagai macam versi, dari yg ngerasa jago gerakan, antipati pada gerakan, atau ya….. Komentar doang. Yang penting komen di grup WA. Semuanya mengomentari mahasiswa. Tak sedikit yang menyalahkan mahasiswa. Hehehe

Mengapa mahasiswa selalu salah? Ya karena kalau buat saya, pilihan mahasiwa (wabil khusus BEM) adalah SALAH atau SALAH BANGET :3

–Ketika Mahasiswa Bergerak–

“Wah.. kajiannya kacau nih!”
“Gerakannya politis nih!”
“Ditunggangi nih”
“Aksinya ga jelas coi!”

Kalimat2 di atas pasti ga asing lagi didengar kalau mahasiswa bergerak. Pasti ada yang ngomong gitu, saya jamin 100% deh ga dikit yang sinis sama mahasiswa yg bergerak. Bikin macet lah, bikin onar lah, atau bikin malu (padahal mah ngapain malu, kenal jg kagak. Haha), sering menjadi hal yang harus diterima mahasiswa ketika turun aksi dan bergerak

–Ketika Mahasiswa Ga Bergerak–

“Ini mahasiswa pada kemana sih?”
“Demo dong Bro-Sis! Negara kacau nih”
“Gue pengen ada yg demo deh, pajak makan di restoran mewah harus turun, STNK BMW gue mahal nih”
“Mahasiswa sekarang memang beda, ga kayak dulu”

Ya kira kira gitu lah. Ga jarang jg yang mempertanyakan eksistensi mahasiswa ketika mereka pada rajin kuliah dan ga demo (haha. Maksudnya ya ga turun aksi). Tetap aja banyak yang nyalahin dan mempertanyakan mahasiswa. Gak jarang juga sering mahasiswa sekarang dibandingkan dengan perjuangan zaman pra sejarah (ups. Maksudnya zaman heroik para senior). Haha

–See? Mahasiswa memang akan selalu salah–

Ya memang begitu kodrat mahasiswa, terima aja. Haha. Ga deng, maksudnya pasti akan selalu ada pro dan kontra dalam sesuatu, termasuk saat mahasiswa turun aksi.

Mahasiswa ya baiknya menyadari hal ini. Jangan ngarep dipuji deh kalo jadi mahasiswa, apalagi demonstan… Beeeeh jauuhhh hidupnya dari puja dan puji. Kalau mau dipuji mahasiswa ikut kontes kecantikan aja sana atau audisi boyband. Haha

Dan ya mahasiswa baiknya ga terpengaruh sama pendapat sekitarnya (tapi jangan kacamata kuda dan tutup telinga juga ya!). Tetap aja fokus sama yang diperjuangkan. Perjuangan hari ini salah? Ya gak apa apa. Masih belajar toh. Demo hari ini cuma nuntut aja tanpa bawa solusi? Ya gak apa apalah. Justru kalo ada solusi, mahasiswanya mending jadi staff ahli presiden, atau bahkan jadi presiden nya aja sekalian. Hehe

Selamat salah para mahasiswa.
Santai aja.
Wong kita berjuang untuk rakyat kok, bukan untuk komentator. Hehe

SINOPSIS KEHIDUPAN ROSULULLAH SAW

by. M. Anis Matta Lc

Pernahkah anda mencoba merunut jejak jejak kehidupan Rasulullah ?

Ada tiga tahapan penting dalam kehidupanya:
1).Sebelum kenabian (0-40 tahun)
2).Dakwah di Mekah (40-53 tahun)
3).Dakwah di Madinnah (53-63 tahun)

Tahap pertama terbagi dua:
A. Sebelum menikah (0-25 tahun)
B. Setelah menikah (25-40 tahun)

1).SEBELUM KENABIAN (0-40 thn)

Rssulullah Saw. Adalah seseorang yg dilahirkan oleh Siti Aminah dari seorang ayah yg bernama Abdullah.
Lahir di tengah masyarakat quraisy.

Hari kelahiranya dimulai dg penyerangan tentara gajah, datangnya pasukan Abrahah dari Yaman untuk meruntuhkan Ka'bah.

Usia 0-4 tahun tahun:
Beliau hidup di padang pasir bersama kabilah Bani Sa'ad dan selama itu mendapatkan ASI
dari Halimah As-sa'diyah.

Usia 4-6 tahun:
Tinggal bersama ibunya. Usia 6 thn ibunya meninggal dunia sepulang mengunjungi makam
ayahnya di Madinah.

Usia 6-8 thn:
Tinggal bersama kakenya.
Usia 8 thn tinggal bersama pamanya.
Sejak tinggal bersama pamanya. Muhammad kecil sudah bekerja krn Abu Thalib mempunyai
banyak tanggungan. Pekerjaan pertama Rasulullah adalah mengembala kambing.

Usia 12 tahun:
Ikut bersama pamanya dalam suatu perjalanan bisnis ke Syiria. Disanalah ia bertemu pendeta
Bahira yg meramalkan Muhammad sbg nabi ter-akhir.

Usia 15 tahun:
Beliau terlibat dlm suatu peristiwa militer paling penting , yaitu perang Fijar yg terjadi antara
Quraisy dan kaum lainya selama 4-5 tahun (15-19\20tahun).

Usia 20 tahun:
Beliau terlibat peristiwa diplomatik perdamaian antara Quraisy dan kabilah lainya. Setelah itu beliau bekerja pada Khadijah, berdagang ke Yaman\Syiria.
Sebagai seorang profesional, Rosululloh telah memperlihatkan prestasi yg sangat unggul
untuk seorang Khadijah.

Prestasi beliau bukan hanya pada karakter dan integritas pribadinya
tetapi juga kompetensinya sbg manajer yg memberikan keuntungan bagi khadijah.

Usia 25 Tahun:
Beliau menikah dg Khadijah. Jadi kita dapat melihat apa yg telah di dapat Muhammad pada usia 25 tahun dan pada setiap
jenjang usianya.

Momen-momen yg terjadi:
1. Usia 0-4 tahun, hidup di padang pasir yg pertama kali diperolehnya adalah ASI.

Salah satu fungsi ASI adalah mempengaruhi pertumbuhan otak manusia. Sel otak manusia
66% terbentuk ketika ia lahir dan 34% setelah 18 bulan pertama.

Unsur dominan yg membentuknya adalah gizi yg diperoleh dari protein, kolesterol dan asam
lemak yg di hasilkan ASI dan minyak ikan.

Asam lemak berguna untuk membentuk sel pembungkus otak yg berpungsi membawa inpuls dari luar dan mendistribusikanya kedalam tubuh.

ASI membentuk kekebalan tubuh seseorang
# sehingga secara fisik sempurnalah tubuh belliau#.

2.Dipadang pasir beliau hidup ditempat yg lapang dan membuatnya dekat dg alam. Alam yg terbuka atau tempat yg luas akan menciptakan iklim pikiran terbuka dan membuat
hati yg lapang.
# secara psikologis Rosulullah di struktur dg baik#

3.Dalam masyarakat Arab, bahasa Arab yg fasih adanya di padang pasir tidak di kota.

Jadi ada proses pembentukan kemampuan oral. Bahasa Rosulullah sudah terbentuk sejak
kecil. Bahasa menurut psikologi adalah cara atau bukti yg paling kuat untuk mengukur
tingkat intelektual seseorang.

Kemampuan anda berbahasa menunjukan bagaimana kita
merekontruksi, menyusun, mengklasifikasikan, mengungkapkan fikiran dst.

4. Pada usia 4 tahun terjadi peristiwa pembelahan dada, mengeluarkan unsur syaitan dalam dirinya.

Selain secara fisik sempurna, Rosulullah secara psikologis memang sudah siap untuk itu. Dan
peristiwa pembelahan dada # memperkuat pengalaman spiritualnya.#

5. Beliau kembali bersama ibunya selama 2 tahun,
Yang memberikan kesempatan yg lebih luas untuk # mendapatkan kasih sayang secara
cukup#.

Walaupun ini berat, tp dg bekal hidup 4 tahun dipadang pasir menciptakan mekanisme pertahanan diri yg kuat dimasa itu.

Krn dadanya sudah terbiasa lapang dan fikiranya sudah
terbiasa terbuka, maka Rosulullah lebih siap untuk menerima segala kemungkinan -kemungkinan.

6.Kemudian beliau tinggal bersama kakeknya, Abdul Muthalib.
Kakeknya sering membawa Muhammad Saw, ikut dlm momen momen politik yg dipimpin oleh Abdul Muthalib.

Dalam riwayat di sebutkan bahwa Abdul Muthalib memiliki ciri ciri yg sangat spesifik; ganteng, cerdas dan sangat berwibawa.

Muhammad sering dilibatkan dlm rapat rapat politik sejak usia dini (6 tahun).

Bahkan ketika orang orang Quraisy mengkritik untuk tidak melibatkan Muhammad, beliau mengatakan “Tinggalkan dan biarkan ia terlibat,
karena kelak ia akan menjadi orang besar dikemudian hari”

7.Beliau sudah mencari nafkah ketika tinggal bersama pamanya, Abu Thalib.

Jadi sejak kecil muhammad sudah # memiliki pengalaman fisik, psikologis, spiritual, politik
dan sekarang memasuki pengalaman ekonomi\bisnis#.

8. Usia 12 thn beliau melakukan perjalanan ke Syiria.
Ini merupakan perjalanan global pertamannya yg memperkuat struktur pengalaman psikologisnya yg sudah terbentuk di padang pasir.

9. Usia 15 thn, ketika fisiknya sedang tumbuh kuat, beliau terlibat dlm peperangan yg
berlangsung selama 4 tahun. Peristiwa ini memberinya pengalaman militer.

10. Usia 20 tahun beliau terlibat dlm perundingan damai yg merupakan pengalaman
diplomatiknya, kemudian beliau mulai bekerja pada Khadijah.

Dan disini beliau mendapatkan pengalaman profesional sbg manajer.

11.Ketika beliau menikah, beliau jg mendapatkan pengalaman sbg seorang suami. Jadi tumpukan pengalaman itu sudah hampir sempurna pada usia 25 tahun.

Jika Khadijah tertarik pada pemuda seperti itu memang wajar sekali.

12. Usia 25-35 tahun Muhammad telah memiliki pengalaman sbg kepala keluarga, pedagang,
pemuka masyarakat, orang kaya, orang terpandang dikalangan masyarakat Quraisy dan aktivitas sosial.

Ketika pada usia 40 tahun menerima wahyu, Khadijah mengatakan bahwa aktivitas sosial Muhammad baik. Ini berarti beliau memiliki posisi dan hubungan sosial yg kuat yg dibangunya selama 10
tahun.

Puncak dari hubungan sosialnya terbangun saat banjir yg mengakibatkan bangunan ka'bah runtuh. Saat itu seluruh kabilah bertengkar tentang siapa yg akan meletakan Hajar
Aswad pada tempatnya semula.

Kemudian diputuskan untuk menunjuk orang yg pertama memasuki Ka'bah sbg orang yg akan membawa Hajar Aswad.

Keesokan harinya
Muhammad-lah orang yg pertama kali memasuki Ka'bah.

Kemudian Muhammad
memberikan solusi yg menunjukan keadilanya sehingga mendapat gelar Al Amin.

Jadi prinsip prinsip sinergi dan kerja itu sudah beliau lakukan saat itu.

13. Usia 37 tahun beliau telah memiliki pandangan global tentang masyarakat Arab tetapi belum menemukan solusi solusi yg tepat.Oleh karena itu sejak usia 37 tahun beliau sudah melakukan meditasi (khalwat) di Gua Hira
yg berlangsung selama 3 tahun.

Sampai pada usia 40 tahun, Allah menurunkan wahyunya.

Jadi setelah seluruh pengalaman fisik, psikologi, spiritual, bisnis, perang, perjalanan global,
suami, kepala keluarga dan pemuka masyarakat terbentuk, beliau melakukan suatu kerja meditasi, kerja perenungan luar biasa.

Jadi ketika Allah menurunkan wahyu dg Iqra’, klop dgn kondisi kejiwaanya.

2. Dakwah di Makkah (40-53 tahun)

Setelah menjadi Rosul, beliau melakukan dakwah di Makkah dg tiga tahap:

A. Dakwah secara rahasia kepada individu2 potensial tertentu selama tiga tahun.

B. Dakwah kolektif secara terbuka selama tujuh tahun. Tahun ke 4 sampai ke 10.

Beliau melakukan dakwah secara terbuka. Disitulah beliau mulai berbenturan dg masyarakat Quraisy, sebagian masuk Islam, sebagian jadi musuh.

Disitu pula terjadi peristiwa2 penyiksaan atas beliau dan para sahabatnya serta isolasi dan embargo ekonomi atas bani
Hasyim sampai dengan tahun ke 10.

C. Persiapan pembentukan masyarakat Islam di Madinah selama 3 tahun.

Pada tahun ke 10 beliau mulai memperluas dakwahya hingga keluar Makkah dan Thaif
sambil kemudian mendakwahi musafir Yastrib yg sedang naik haji.

Mengutus Mus'ab ke
Madinah pada saat beliau berusia 53 tahun.

3. Dakwah di Madinah (53-63 tahun)

Tiga hal yg dilakukan Muhammad ketika di Madinah:

A. Konsolidasi dan peneguhan eksistensi masyarakat lslam yg baru berdiri 1tahun.

1. Membangun Madinah
2. Membangun Masjid
3. Mempersaudarakan Anshar dan Muhajirin.
4.Membuat perjanjian dg Yahudi.
5. Membangun militer.
6. Mulai merencanakan pasar.

B. Menciptakan dan mempertahankan stabilitas negara dari invasi militer luar selama 5 tahun.

Tahun ke dua mulai mempertahankan Madinah dari ekspansi luar dan terjadi peperangan
kurang lebih 68 kali.

Saat mulai terjadinya peperangan usia beliau sudah lebih dari 53 tahun.

Rasulullah saat itu sudah memiliki multifungsi tapi mampu memenej seluruhnya; keluarga,
negara dan masyarakat.

C. Mulai melakukan jihad ekspansi dan perluasan wilayah lslam selama 4
Tahun.

Demikianlah Rasul kita tercinta, Muhammad Saw, menjalani hidup yg sarat misi, sarat beban
dan sarat hasil dalam suatu melodi life time chart yg begitu indah.

Jika beliau memulai kenabian dg wahyu lqra’! (Bacalah!), maka beliau menutupnya dg wahyu
“Al yauma akmaltu lakum diinakum (pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu) ”.

Untuk kesuksesan dan keteladananya, Rasulullah menyebutkan kata kuncinya

“Allah-lah yg mendidikku maka la mendidikku sebaik baiknya”. Wallahu a'lam..

MENULISLAH!

Setiap hari kehidupan bercerita, tentang anak-anak, remaja, orang tua, laki-laki, perempuan, kebahagiaan, penderitaan, percintaan, perjuangan, harapan, keputusasaan, kemenangan, kekalahan, kemanusiaan, keadilan, kesewenang-wenangan, semuanya. Kehidupan tidak pernah berhenti bercerita, kehidupan adalah pencerita paling hebat di dunia, tidak pernah berhenti, tidak kenal waktu siang dan malam. Bahkan kehidupan juga bercerita tentang kematian.

Berjuta cerita, bahkan lebih, terjadi setiap harinya. Seringnya kita biarkan semua berlalu begitu saja. Padahal alat rekaman sudah ada dalam genggaman smartphone. Tapi tak satu pun kecuali foto-foto selfie atau semacamnya yang hanya mengikat momen dan eksistensi di dunia maya.

Banyak cerita kehidupan, hikmah dan inspirasi luput dari rekaman. Merekamnya, turut bercerita, dan membaginya dengan orang lain adalah kebaikan. Bahkan katanya diganjar dengan pahala yang tidak putus jika itu bernilai ilmu dan terus diceritakan.

Banyak cara orang merekam cerita kehidupan. Tapi sedikit orang yang melakukan. Cara yang paling legendaris adalah dengan menuliskannya.
Merekam dengan kamera atau voice recorder adalah cara mudah yang ditemukan baru-baru ini. Tidak semua orang fasih, bahkan repot katanya. Tapi menulis, cara ini telah dipakai sejak berabad-abad silam. Sedikit kita menemukan rekam visual dari masa lampau sebab dahulu belum ada teknologi secanggih kamera di smartphone kita. Tapi menulis, ini keahlian manusia sejak masa lampau. Tidak butuh teknologi macam-macam. Hanya bercerita lalu tuliskan di atas selembar kertas. Sederhana. Atau sekarang bisa dengan membuka notes dalam gadget nan canggih itu. Lalu tuliskan.

Selama waktu terus berjalan, selama itu pula kehidupan terus bercerita. Hidup yang bermanfaat salah satunya dengan saling memberi pelajaran dan menyampaikan hikmah. Menulis adalah cara paling mudah untuk bermanfaat selain senyuman yang bernilai shaqadah.

Kalau pernah gagal, ceritakanlah sebab-sebabnya dan bagaimana caranya bangkit kembali. Agar orang-orang tidak terjerembab dalam lubang yang sama dan bangkit lebih cepat. Kalau pernah meraih sukses, ceritakanlah perjuangannya. Agar orang mengikuti jalan yang sama dan sukses lebih cepat. Kalau pernah bahagia, ajarkanlah orang-orang untuk bahagia. Kalau pernah dirundung duka, ajarkanlah tentang kesabaran.

Menulis, akan sulit jika dipikir sulit. Menulis, akan lama jika dipikir lama-lama. Orang menulis, ditulis dulu baru disunting. Bukan disunting dulu baru ditulis. Kadang kita terjebak dalam kerumitan pikiran kita sendiri hingga akhirnya kita menyerah pada sesuatu yang sebenarnya sederhana: menulis.

Menulislah!
Berceritalah sebagaimana kehidupan bercerita setiap harinya!

Griya Nurul, 9 Juni 2015

Di ruang tunggu.

Harga gengsi dan ingin eksis itu mahal. Ternyata bapak yang duduk didepan saya mendengarnya. “Apa, dik?” Tanya beliau. Itu pak (nunjuk acara TV yang lagi membahas pamer gaya hidup di media sosial), hidup untuk pamer, tenar, dan gengsi mahal harganya, pak. Bapak itu senyum-senyum, mengiyakan. Ibu yang disampingnya langsung mengarahkan pandangan ke TV.

Pamer gaya hidup (glamor) dapat meningkatkan kepercayaan diri pelakunya. Bisa menanamkan dan mempengaruhi orang lain untuk percaya bahwa demikianlah adanya kedigdayaan hidupnya.

Lewat foto-foto dibangunan terkenal, baju-baju dan aksesori bermerk yang dipakai. Makanan lezat ala restoran ternama, berlibur diluar negeri. Foto kendaraan, pesawat pribadi atau kapal pesiar mewah. Semua itu cukup menembalkan kepercayaan diri sesorang.

Selanjutnya, demi gengsi dan eksistensi apapun dilakukan untuk memenuhi gaya hidup. Termasuk menipu. Memilih lebih baik kalah nasi daripada kalah aksi. Memilih menjadi penipu, semuanya disapu. Tidak peduli yang digunakan adalah uang pribadi atau uang hasil menipu.

Efeknya, ini menjadi semacam candu dan membutuhkan waktu lama untuk menghentikannya.

Ditengah adu eksistensi ini, kita memang harus anti baper. Juga harus pandai-pandai sembunyikan -menjaga- amal.