edit:rasa

2

Baltic mythology: Kaupolė and Rasa

Kaupolė - goddess of wild flowers, verdure efflorescence and the growing strength of vegetation. Her name is connected to the phrase su kaupu which means ‘abundantly’ and refers to the abundant growth of the verdure.

During Rasos (Lithuanian summer solstice) people pick herbs called Kaupolės žolynai (herbs of Kaupolė) of which flower crowns are made. These herbs bring health, luck and protect from maladies. In various myths Kaupolės žolynai are portrayed magical. According to one, there was a three-branched plant. Its branches bloomed like sun, moon and stars respectively.

Kaupolė’s daughter Rasa (dew) or Rasytė - goddess of dew, the deity of summer flowers. Her duty is to water the thirsty plants so she is her mother’s helper. Together they walk around the meadows and look after the greenery. Rasa is portrayed making flower crowns and giving them to young girls.

Kaupolė also has a husband Kaupolis who rides on a horse and kidnaps young girls. He looks after the verdure as well but his role is not as important as Kaupolė’s or their daughter’s.

Lithuanians believe that Rasos’ morning dew has healing powers and brings beauty. That is why people roll around dewy meadows and rye fields on Rasos’ morning. It is also believed that the heavier the dew on a rye field the better the harvest.

During Rasos rites are performed for Kaupolės žolynai, water and fire. Some erotic rites are dedicated to the marital life. One of the most important moments is burning of a female idol made of hay which portrays Kaupolė. Through fire her power is released and helps nature to flourish. 

rasa yang biasa.

Manusia. 

Berkali-kali kita merasakan sedih, gembira, jatuh cinta, patah hati, lapar, kenyang, kaya, miskin, berhasil, gagal– 

Ada manusia-manusia dramatis yang merayakan kesedihan dengan ode-ode galau. Atau merayakan kegembiraan dengan lelucon tiada henti.  Atau merayakan jatuh cinta dengan entri blog yang melukis rentang rasa. Atau merayakan patah hati dengan bait-bait lirik lagu dangdut koplo yang aneh. 

Terkunci rasa, betapa musykilnya.

Aku sedih, ya, adakalanya bertubi. Aku gembira, tentu pernah. Jatuh cinta, ya, berkali-kali lalu ya padam lagi. Patah hati, yeap, walau lekas pulihnya. 

Namun, semua itu– ya biasa saja. Kalau sedih, nanti ya ada saatnya gembira lagi. Mendapatkan sesuatu yang kita cinta (kasusku kini: dapat beasiswa), ya sudah– kemudian greget itu akhirnya pudar juga, toh? 

Hanya komitmenlah yang mengikat agar kita senantiasa gembira dan melanggengkan cinta. Kemudian, rasa syukur-berkelanjutanlah yang menyalurkannya pada sesama. Barangkali tidak seheboh yang dahulu dirasa ketika gegap gembira itu terasa, namun rasanya adem saja. Semacam “senang yang tenang”.

Berjarak, berjarak, berjarak.
Rajinlah berjarak dengan rasamu. 

Perasaanmu adalah biasa, pada awalnya. 

Yang membuatnya luar biasa, bukanlah ketika sedihmu menghasilkan naskah sinetron, gembiramu terhasilkan oleh gelar mapan nan aman, kejatuhcintaanmu berjodoh dengan kejatuhcintaannya, patah hatimu menginspirasi bait-bait lirik dangdut koplo populer, keberhasilan dalam karirmu mengundang kagum seantero keluarga, dan lain sebagainya.  

Yang membuatnya luar biasa, ialah jika kau bisa mengolah segenap rasa untuk selalu terhubung dengan-Nya. Untuk selalu menggemakanNya. Against all odds, baik pada yang kau benci maupun yang kau suka.

Wallahu’alam bish shawab.


Dekap kami, ya Allah, dengan segala perantaraan rasa yang kau titip pada qalb (hati) kami. 

Akbarkanlah diriMu, ya Allah, dalam sudut hati kami yang rawan tertawan setan. Akbarkanlah diriMu ya Allah, pada tiap jengkal bumi dimana manusia hidup menjejak.



“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?“

Fussilat: 53



*Ilustrasi dari sini dan sini.

Karena Jika

Kita sama-sama sepaham, bahwa mengakui rasa itu masih ada adalah luka yang harusnya tak lagi dibuka-buka. Adalah duka yang harusnya hanya dianggap tak ada. Adalah cerita lama yang lebih menyenangkan jika dilupakan.

Tapi, kita juga sama-sama seperti ingin kembali ditimang oleh lembutnya masa lalu. Tak ingin lepas gendongan dari hangatnya dibelai kenangan. Kita manja! Kita durhaka!

Ah. Kekasih, jika saat itu, kita lebih memilih untuk tak lagi membukanya dan pura-pura mati rasa saja, mungkin saat ini kita masih bicara; sebagai sesama manusia.