drumband

halo!.

memutuskan untuk berjilbab sesuatu sekali buat saya.
dulu waktu SMP, saya pernah terpanggil untuk berjilbab. alasannya? karena ingin menjaga diri. niat ini batal karena saya sangat aktif di sekolah. dulu saya jadi pengurus inti osis, ketua panitia pensi, ikut paskibra, main basket, pemain teater, colorguard drumband, menari, bahkan main band. beberapa kegiatan mengharuskan saya untuk berpakaian terbuka. menari, misalnya. selain itu, saya juga memiliki kepercayaan bahwa yang boleh berjilbab hanyalah yang sudah sempurna keislamannya. saya belum cukup dewasa untuk memahami bahwa Allah tidak membuka hati yang siap, tetapi menyiapkan yang membuka hati.

selanjutnya, saya pernah terpanggil untuk berjilbab lagi ketika mengikuti pertukaran pelajar selama setahun di Belanda. ceritanya, host family tempat saya tinggal merasa terganggu dengan kebiasaan saya bangun di dini hari dan pagi hari untuk sholat, juga keberatan apabila saya sering menggunakan kamar mandi–untuk wudhu. pasalnya, air di sana cukup mahal, dan keluarga ini punya bayi yang sangat mudah terusik tidurnya dengan suara-suara. karena rumah ini terbuat dari kayu seperti rumah Belanda kebanyakan, gerakan kecil saja bisa menimbulkan suara.

saya diminta untuk pindah, mencari host family lain. saya kemudian tinggal bersama keluarga sahabat saya di sekolah, yang adalah seorang gay. pada saat kepindahan itulah, saya terpanggil lagi untuk berjilbab. alasannya? sebagai rasa syukur saya karena Allah selalu menjaga saya dengan cara yang tak disangka-sangka. niat ini batal lagi karena host family saya yang baru bilang bahwa mereka mungkin tidak mau menerima saya, jika saya berpenampilan sebagai muslimah, alias berjilbab.

sejak pulang dari Belanda, saya punya kepercayaan bahwa kebaikan seseorang tidak perlu ditunjukkan dengan atribut. pasalnya, di Belanda saya bertemu dengan banyak sekali macam muslim beratribut, yang tidak islami. yang pakai kerudung tapi sholat setahun sekali misalnya, juga ada.

permintaan untuk berjilbab selanjutnya datang dari ibu saya. ibu saya adalah seorang kepala sekolah yang menjadi teladan banyak sekali orang. secara langsung, keluarga kami pun menjadi sorotan, termasuk saya–yang sering sekali ikut berkarya di sekolah. apalagi, adik saya yang lebih muda tiga tahun dari saya, sudah berjilbab sejak kelas 2 SMP. “masak adiknya pakai jilbab, kakaknya tidak?” begitu kata orang-orang.

pernah suatu Ramadhan, saya berniat melanggengkan keinginan ibu saya. saya pergi ke pasar dan membeli bermacam-macam kerudung. setelah lebaran, saya batal lagi pakai jilbab karena alasan yang tidak bisa saya ceritakan. ._.

selang beberapa bulan, saya terketuk. kali ini sebenar-benarnya terketuk. alasannya? Allah sudah mengetuk hati saya berkali-kali, tapi saya bebal sekali. apa kabar kalau saya ketuk pintu surga, tapi Allah tidak mau membukakan?

akhirnya saya mulai berkerudung 1 April 2013. hari pertama pakai kerudung, saya disangka membohongi seluruh dunia karena sedang april mop. biasanya orang lain memulai pakai jilbab setelah liburan atau lebaran, tapi alhamdulillah saat hidayah datang lagi, saya tidak menunda lagi. ibu saya dan ayah saya menangis terharu karena keputusan saya ini.

saya hijrah. pelan-pelan hijrah.
beberapa waktu lalu saya bertemu teman lama yang heran sekali dengan perubahan hidup saya. bukan perubahan penampilan, melainkan perubahan sikap, cara berpikir–dan perubahan nasib. teman saya bertanya sunnah apa saja yang saya kerjakan, sampai-sampai mimpi-mimpi saya kesampaian, bertemu dengan jodoh, dan saya menjadi versi terbahagia dari diri saya sendiri.

jawabannya, saya biasa saja. sunnah yang saya lakukan mungkin tidak seberapa. jilbab saya pun masih jauh dari kata syar'i. bahkan, saya baru selalu pakai kaos kaki setelah bertemu mas yunus, karena mas yunus yang menyarankan.
tapi saya hijrah, dalam artian membersihkan penyakit hati. ternyata di samping amalan lahiriah seperti sholat dan puasa, amalan batiniah seperti ikhlas, sabar, dan bersyukur adalah yang mendekatkan kita kepada Allah. amalan seperti ini, lebih sulit lagi karena tidak ada ukurannya. hanya kita yang bisa jujur dan mengetahui. tapi, inilah amalan yang–setelah saya pelajari–menjadikan kita wanita yang lebih sholehah.

panjang ya ceritanya. hehe.
terima kasih sudah bertanya ya. kadang-kadang looking back seperti ini membuat kita lebih bersyukur. dan saya jadi bersyukur. :)

liefs.