dosa

Antara Sedekah dengan Air

Sedekah ialah sebuah pemberian. Segala apa yang kamu berikan dengan berdasarkan keikhlasan. Segala apa yang kamu berikan kepada yang sedang membutuhkan. Segala apa yang kamu berikan dalam berbagai bentukan. Termasuk kebaikan. Karena segala perbuatan baik adalah sedekah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Setiap anggota badan manusia diwajibkan bersedekah setiap hari selama matahari masih terbit. Kamu mendamaikan antara dua orang (yang berselisih) adalah sedekah, kamu menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah, berkata yang baik itu adalah sedekah, setiap langkah berjalan untuk shalat adalah sedekah, dan menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedekah itu ibarat air. Kebaikan yang terus menerus kamu lakukan setiap hari, bagai air yang terus mengalir tanpa henti. Maka, jangan berhenti melakukan kebaikan. Karena kebaikan yang disertai dengan keikhlasan, akan berbuah menjadi sedekah.

Sedekah itu ibarat air. Memberikan manfaat ke setiap cabang yang ia lewati. Membuat subur tanah dan tumbuhan yang ia aliri. Begitu pula dengan sedekah yang kamu beri. Meringankan untuk mereka yang hidupnya sedang terbebani. Menghibur untuk mereka yang hatinya sedang terlukai. Karena hidup ini kita tidak sendiri.

Sedekah itu ibarat air. Tiap sedekah yang kamu beri, dapat menghapuskan dosa yang ada di diri ini bak air memadamkan api. Maka, bersedekahlah setiap hari. Bukan hanya ukuran harta, melainkan kebaikan yang kita beri. Senyuman untuk mengawali hari. Ingat Allah sering kali. Ucapkan hanya yang baik dan tulus dari hati. Serta giatkan diri dengan kontribusi.

Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air dapat memadamkan api. (HR. Tirmidzi)

Indian Food

When I ask other Indian people what they love about Indian culture, they always say the food. Because I’m leaving for India the day after tomorrow and I’m craving some good, traditional Indian food from my grandmother, I decided to write a little about it!
Let’s get some myths out of the way: not all Indian food is vegetarian. Many Indians enjoy eating meat (me included!). Also, not all Indian food is curry. In fact, curry isn’t even specific to India. Not all Indian food is numbingly spicy, either. There are plenty of foods which are less spicy and just as tasty. Finally, not all Indian food is the same! Each part of India has its own distinctive cuisine. For example, the people of West Bengal (Bengalis) love fish, while many South Indians are vegetarian and prefer vegetable curries.
I guess I’ll make the focus of this post dosa, since I eat it so often.
South Indian food varies from region to region, but one food you’ll find which is common even in North India these days is dosa (DOH-sah). Dosa is a very bland crepe made from a batter of fermented rice and lentils. No one ever eats it plain because it’s so bland. We like to dress it up with chutneys, or pastes made from various ingredients like peanuts and lentils. I also like my dosa with potato curry and sambar, or a soup made from lentils and spices. Some people love spreading ghee, or clarified butter, on their dosa as well. This dish can be eaten for breakfast, lunch, or dinner. It is also extremely healthy! If you want to make it yourself, you can buy the batter at most Indian grocery stores.
I’ll continue this post and go into other South Indian foods another time, because this post is already really long.
Tell me what you guys want to hear more about! I’m open to suggestions and comments as well.

telan saja

saya pernah punya cita-cita bekerja di perusahaan besar. ingin sekali mencicipi bagaimana rasanya menjadi “budak korporat” yang sesekali dapat tugas sulit nan banyak sampai lembur, lalu bisa misuh-misuh di media sosial tentang betapa rumitnya pekerjaan saya, betapa susahnya–sambil mengisyaratkan betapa hebatnya diri saya bisa mempunyai pekerjaan semacam itu.

selang dua tahun saya lulus kuliah dan bekerja, saya semakin sadar bahwa ternyata mengeluh tentang pekerjaan tidak elit sama sekali. norak dan malu-maluin malah.

“telen aja,” begitu pesan mas uta kepada kami adik-adiknya. di dalam dunia yang mengembangkan diri kita, baik sekolah, kuliah, maupun bekerja bahkan berkeluarga, selalu ada hal yang tidak enak, tidak sesuai keinginan dan harapan, tidak pas menurut kita. terhadap hal-hal seperti itu, kata mas uta, telan saja.

pertama, apapun pekerjaan yang kita miliki, sadar nggak sadar, pekerjaan kita juga adalah jawaban dari doa diri kita sendiri, diri yang sebelumnya. pekerjaan kita juga adalah buah dari upaya-upaya kita yang sebelumnya. misalnya, seseorang yang berprofesi sebagai dokter tentunya telah melalui pendidikan menjadi dokter. menjadi dokter itu doanya sendiri, hasil usahanya sendiri.

kedua, percayalah di luar sana ada banyak sekali manusia yang menginginkan, berusaha dan berdoa, untuk bisa memiliki pekerjaan yang kita miliki.

ketiga, daya juang dalam bekerja–dalam hidup–itu pentingnya luar biasa. setiap kali kita menelan ketidaknyamanan, kita sedang menjadikan diri kita lebih kuat, lebih hebat. tapi yang terutama, seharusnya ketidaknyamanan bisa menjadikan kita lebih bijak, lebih baik dan dewasa. masa iya daya juang kita segitu-segitu saja. di dunia ini ada banyak sekali orang yang tidak kunjung berkembang karena terhadap masalah yang segitu-segitu saja, cara dirinya merespon juga begitu-begitu saja. jangan jadi yang demikian.

keempat, menjadi bermanfaat itu artinya menyelesaikan masalah, bukan menjadi bagian dari masalah atau nambah-nambahin masalah. semakin banyak dan besar masalah yang bisa kita selesaikan, semakin bermanfaat diri kita artinya. kita bekerja, dibayar orang, intinya adalah untuk menyelesaikan masalah. itulah mengapa kita tidak boleh mengecilkan diri di depan masalah. yap, jadilah lebih besar daripada masalah yang ada!

kelima, diri kita di hari ini memang merupakan akumulasi dari diri kita yang sebelumnya. tapi, diri kita di masa yang akan datang ditentukan oleh diri kita di hari ini pula. semua prestasi kita di masa lampau, termasuk gelar atau di mana kita sekolah, hanyalah nilai yang berharga sesaat saja. saat kita ikut kontes mahasiswa berprestasi, misalnya. saat kita baru pertama kali mendaftar kerja, misalnya. kalau sudah bekerja, semua itu berkurang nilainya. yang terus bernilai adalah kecakapan nyata diri kita. plus, attitude bekerja kita, sikap dan perilaku kita.

keenam, prinsip ke-aku-an hanya boleh berlaku kalau kita sudah menjadi orang besar. definisi orang besar? silakan diartikan sendiri. yang jelas, masih muda begini, nggak perlulah kita gengsi apalagi malas untuk melakukan hal-hal yang menurut kita kurang berkelas. jadi, tinggalkanlah semua cara berpikir “ya kali gue bla bla bla”. anggaplah selalu bahwa diri kita ini masih belajar, masih remah-remah, masih belum ada apa-apanya.

disuruh nunggu dosen sampai bosen? telen aja. bikin laporan capek-capek eh cuma dibaca gitu doang? telen aja. udah gaya-gaya magang di perusahaan keren nggak taunya cuma disuruh motokopi? telen aja. harus kerja di pabrik, kotor-kotoran, becek-becekan? telen aja. intinya, terhadap apapun yang menurut kita nggak enak (apalagi yang enak), telen aja!

ketujuh nih, nggak ada pekerjaan yang remeh atau kecil. yang ada, orang yang melakukannya, yang meremehkan atau mengecilkan. segala sesuatu yang dikerjakan sungguh-sungguh selalu akan bermakna besar, dan sungguh-sungguh dapat membuat seseorang menjadi besar.

terharu nggak sih sama Allah. ada dosa-dosa yang hanya bisa terhapus atau terampuni dengan lelahnya mencari nafkah. jadi, kalau lelah bekerja atau berupaya apapun dalam hidup, ingat saja itu sambil tagih janjinya Allah. berdoa, minta diampuni dan dihapus dosa-dosa kita. bukannya misuh-misuh di media sosial. yang begitu, ternyata norak kan.

dan jangan lupa, telen aja. sambil ngetawain semuanya juga boleh. mendingan kita yang ngetawain hidup daripada hidup yang ngetawain kita. bersyukur dan berbahagialah!

TAKUT KEHILANGAN

Ada orang yang sesungguhnya, dari perilakunya saja, seluruh dunia sudah tahu, ia menyukaimu.

Dari cara menyapamu, cara memandangmu, cara memperlakukanmu, nampak jelas, bahwa ia menyimpan rasa padamu.

Namun, tak pernah sedikitpun ia mengucapkan atau mengutarakan perasaannya sama sekali, bahkan jika ditanya urusan hati, ia lebih senang mengelak atau menghindar.

Percayalah wahai kaum hawa, pria ini bukannya tidak menyukaimu, hanya saja ia takut, takut kehilanganmu.

Ia takut, jika ia mengucapkan lebih dahulu, perasaannya tertolak. Ia takut, jika ia mengutarakannya, kau justru mungkin akan mengselatankannya. Ia takut, jika ia mengeluarkan segala isinya, selesai pula perjalanannya malam itu. Ia takut, ia kehilanganmu.

Bukan tidak berani, bukan, ia hanya lebih berhati-hati, bergerak lebih perlahan, tidak terburu-buru, seperti orang yang sedang uji konsentrasi, setiap gerak-gerikmu ia perhatikan, setiap postinganmu ia pikirkan, setiap apapu yang kau lakukan tak pernah ia lewatkan.

Bukan tidak ingin segera, ia hanya tidak mau ceroboh, ia ingin memastikan bahwa memang, apa yang akan ia lakukan, pasti berbalas dengan baik, tanpa ada penolakan.

Ia paham, betapa berharganya kehilangan orang sepertimu, maka ia tidak masuk sembarang. Andai kau adalah orang asing yang tidak ia kenal sama sekali, mungkin ia akan datang lebih dulu, memintamu, lantas jika ditolak, ia akan melenggang seperti biasa, karena tidak ada perasaan yang ia libatkan. Namun kali ini, berbeda. Kisahnya, terjadi denganmu, yang mungkin kamu adalah kawannya, teman kerjanya, atau sahabatnya.

Ada, ada pria seperti ini. Yang mungkin berbicara begitu lancar, namun begitu gagu ketika membicarakan tentang perasaan.

Wahai kaum hawa, jika kau menyukai pria seperti ini, dan ingin menyegerakannya agar tidak terjerumus dalam dosa, cukup ucapkan padanya

“Mas, mas mau serius sama aku?”

Jika sudah begitu, lantas, apalagi yang bisa menghalangi dua perasaan yang saling mengasihi.

TAKUT KEHILANGAN
Bali, 18 September 2017 | ©Choqi_Isyraqi 

Gelagat Dosa Hamba

Gelagat dosa yang masih menganga

Pelanggaran yang ku lakoni dengan biasa

Iblis sporadis masih membuka segelnya

Ada penyesalan diakhirnya

Tertunduk, bersujud, mengalirkan air mata, taubat, dan kembali kepada-Mu

Salahku iteratif, tapi Engkau selalu menerimaku dan mendekapku lagi

Hanya Engkau yang dapat menerima lebih dan kurangku

Kaulah cintaku…

Cinta yang selau ku puja tiap alir darahku

Cinta yang selalu ku tasbihkan tiap detik detak jantungku

Cinta yang selalu kurangkai tiap hela napasku

Syukur yang tak terhingga dari hambamu yang penuh dosa

Ya Rabbul Izzati…

.

Dari aku,

manusia yang penuh derap dosa.

*

~Senja2803

“Ketika di tempat-tempat
mustajab, janganlah kamu berdoa meminta agar
dimudahkan rezekimu atau dipanjangkan umurmu,
tapi mintalah agar dosa-dosamu diampuni”.

(dengan bersihnya dari dosa-dosa maka segala
urusan akan dimudahkanNya, termasuk rezeki,
jodoh, pekerjaan, ilmu dan lain sebagainya.)

—  Nasihat Ulama 

Ini masalah, Allah melihatmu, tapi kamu tak melihat-Nya. Bukan Allah-nya, tapi kamu. Mengaku beriman, tapi tak merasa diawasi, padahal tau bahwa Allah Maha Melihat. Buktinya, dosa-dosa itu masih saja kamu lakukan tanpa perlu merasa berdosa.

Pagi! Semoga hari ini lebih banyak dosa kita yang diampuni daripada yang ditabung.

Taufik Aulia

AA Gym: Mengobati Futur

Kajian Ma'rifatullah

👳 K.H Abdullah Gymnastiar
🕌 Daarut Tauhiid
📅 Kamis, 28 September 2017

Jarang orang yang takut turun keimanannya kepada Allah, padahal yang paling bahaya dalam hidup ini adalah Futur. Kalau tidak di rem futur ini maka akan mati dalam keadaan Suul Khotimah.

Gejala-Gejala Futur

1. Malasnya Ibadah >>> Mungkin tidak meninggalkan yang fardhu tapi malas. Yang biasanya tepat waktu jadinya sering menunda-nunda sehingga mengakhirkannya.

2. Tidak ada lagi nikmatnya ibadah >>> Tidak ada lagi bergetarnya hati saat dibacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Kalau futur sudah mulai maka salat itu tidak ada kenikmatan dan hanya jadi formalitas saja. Kuantitas ibadah berkurang dan kualitasnya pun jelek.

3. Hati yang makin keras & gersang >>> Karena kurangnya dzikir dan berinteraksi dengan Allah.

4. Semakin banyak melakukan hal yang sia-sia >>> Awalnya melakukan hal-hal yang kecil sehingga semakin terbiasa dengan kesia-siaan seperti hijab & pandangan yang terjaga akhirnya jadi ikhtilat.

5. Sibuk dengan penilaian orang >>> Sibuk memperbaiki casing daripada isi.

6. Tidak ada kecemburuaan lagi dalam agama (tidak ada ghirah) >>> Menjadi tidak memiliki rasa untuk membela agama, dan acuh dalam urusan dakwah.

7. Dominan memikirkan duniawi >>> Bergaul dengan orang-orang yang sama-sama memikirkan dunia dan memperbagus topeng saja.

Penyebab Futur

1. Maksiat >>> Hati menjadi gelap dan tidak bisa bercermin kepada diri sendiri karena sudah terbiasa dengan maksiat yang berawal dari maksiat kecil.

2. Salah bergaul >>> Orang yang bergaul dengan tukang minyak wangi maka ia akan kebawa wangi. Salah gaul akan membuat salah standar. Diri kita di ibaratkan hp yang perlu charger dan tidak selamanya juga hp terus di charger, jadi diri kita harus di cas dengan lingkungan yang baik dan bermanfaat untuk orang lain.

3. Kurang ilmu / Ilmu yang dipelajari kurang pas dengan tuntunan Rasul sehingga amalan kurang pas atau salah.

4. Beramal berlebihan sehingga menyebabkan tidak mau mengulanginya lagi >>> Fisik, ilmu, amal tidak bisa disamaratakan karena kondisi setiap orang berbeda. Yang bagus itu pertengahan tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih.

5. Makanan Haram >>> Jangan pernah ghasab juga.

Cara Mengobati Futur

1. Bertafakur >>> Harus punya waktu untuk bertafakur dan merasakan apa saja yang harus di tafakuri di setiap waktu, seperti salat yang susah khusyu maka tafakurilah salah satunya dengan dzikir. Harus berani sistematis dalam bertafakur, evaluasi setiap waktu yang sudah digunakan. Kalau lagi futur lebih banyak mempermasalahkan sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan dan memusuhi saudara sendiri.

2. Taubat >>> Minta ampun kepada Allah karena kita sudah mengkhianatinya dan Allah Maha Tahu atas semua perbuatan dan pikiran kita.

Mau apa kamu hidup? Siapa yang membuat kamu seperti sekarang?

>>> Allah yang memberikan semuanya untukmu dan Allah masih menutupi aib-aibmu.

Perbanyak istigfar dan memohon ampun kepada Allah dan sesali semua dosa yang sudah diperbuat.

Semua kerusakan keimanan kita berawal dari dosa sendiri.

Selain memohon ampun mintalah pertolongan juga kepada Allah >>> Yaa Muqollibal Qulub Tsabbit Qolbi ‘Ala diinik.

3. Dobrak dan paksakanlah diri agar terbebas dari gangguan syaithan.

Setan hanya bisa membisikan saja seperti triplek lapuk, ciri bisikan setan adalah sesuai dengan yang nafsu sukai. Semuanya pake judul Entar.

Buatlah TARGET harian dan sanksinya yang membuat kita takut gagal dalam kebaikan serta mintalah tolong dan bantuan kepada teman di sekitar.

QS Al-Ankabut: 69

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Kurangilah interaksimu dengan HP

4. Cut >>> Ganti hobi dengan yang membawa kita lebih dekat dengan Allah.

Semangat Bertafakur.