dombas

Disaat itu, engkau ada mengatakan “Aku kuat, sebab aku ada Allah”.

Lalu, Allah uji engkau untuk melihat sejauh mana kuatnya engkau sebab DIA.

Namun, engkau jatuh terduduk. Engkau menangis. Engkau mencari manusia untuk mengadu domba.

Wahai diri.
Mengapa engkau menangis? Mengapa engkau bersedih? Mengapa?

Ternyata, engkau masih manusia. Engkau masih manusia lemah. Engkau mencari manusia dahulu sebelum DIA.

Tidakkah engkau ingat kata kata engkau pada awalnya?

“AKU KUAT, SEBAB AKU ADA ALLAH”

sesungguhnya, engkau manusia pelupa.

===========================

Dan apabila seseorang manusia ditimpa kesusahan, merayulah ia ditimpa Kami (dalam segala keadaan), sama ada ia sedang berbaring atau duduk ataupun berdiri; dan manakala Kami hapuskan kesusahan itu daripadanya, ia terus membawa cara lamanya seolah-olah dia tidak pernah merayu kepada Kami memohon hapuskan sebarang kesusahan yang menimpanya (sebagaimana ia memandang eloknya bawaan itu) demikianlah diperelokkan pada pandangan orang-orang yang melampau apa yang mereka lakukan.
Al Quran [10:12]

Pak DKM: Bagi yang mempunyai kemampuan atau keahlian berlebih, boleh bergabung bersama panitia karena masih banyak Domba yang belum dipotong.

[maju sambil ngegulung lengan baju]

Pak DKM: Keahlian kamu apa?

Gue: Saya mampu setia jatuh cinta pada dia yang hatinya entah sedang ada di mana, pak.

[pak DKM ngambil Toa masjid]

“TOLONG PAK HAJI WAWAN INI SEKALIAN DIMASUKIN LIST BUAT DIPOTONG!!”

Kadang bila hati tu terasa penat, kecewa, sedih, tidak puas hati dengan keadaan atau orang sekeliling. Berhenti dan renungkan sejenak.

Setiap apa yang berlaku tu dengan izin Allah SWT. Pasti ada sebabnya, pasti ada hikmahnya. Kita hanya mampu berusaha melakukan yang terbaik, berdoa dan bertawakal. Selebihnya hanya Allah SWT yang menentukan.

Maka cubalah bersabar.
Maka cubalah redha.
Maka cubalah tenangkan fikiran dan hati. Maka cubalah pujuk hati..

Tak perlu nak mengeluh, mengadu-domba atau bergossip pada orang lain.

Cukuplah hanya mengadu pada Allah memohon agar DIA permudahkan segala urusan kita, berikan kesabaran pada kita, kekuatan iman serta keteguhan jiwa. Itu sudah memadai.

Tidak mudah, namun no harm trying. InshaAllah.

rasa cinta yang besar

ditulis oleh tere liye. salah satu kisah sahabat Nabi yang selalu membuat mata berkaca-kaca. layak untuk diceritakan, disebarkan pada orang orang tersayang. semoga menjadi pengingat yang baik untuk kita semua :”)

Bisakah seseorang yang tidak pernah bertemu Nabi, tidak pernah bercakap-cakap langsung, termasuk golongan orang yang penting sekali? Bisa. Bahkan, dalam kisah ini, Umar bin Khattab dan Ali, dua sahabat yang tidak perlu diragukan lagi kualitasnya, meminta di doakan dan istigfar dari seseorang ini. Dan Nabi sendiri menyebutnya dengan, ‘Dia bukan orang bumi, dia penghuni langit"

Lantas apa yang telah dilakukannya? Apakah sesuatu yang besar, dahsyat yang telah dilakukannya hingga memperoleh posisi begitu mulia? Apakah dia menyebar ilmu ke seluruh dunia? Panglima perang? Atau berbuat baik dengan berinfaq setinggi gunung emas? Bukan. Tidak sama sekali. Dia mendapat derajat itu hanya karena cinta.

Here we go, akan saya ceritakan kisahnya.

Dia adalah Uwais Al Qarni. Pemuda sederhana yang tinggal di negeri Yaman. Uwais adalah pemuda miskin, pekerjaannya menggembalakan domba, dari upahnya tersebut, dia bisa menafkahi hidup, termasuk membantu tetangga yang juga sama miskinnya. Hidupnya terlalu simpel, terlalu biasa, hingga luput dari perhatian orang banyak, kalau dia punya tugas yang penting. Apa tugasnya? Merawat ibunya yang sudah tua. Tidak bosan, tidak lelah. Merawat ibunya penuh kasih sayang. Pemuda kita ini juga tentu adalah pemuda yang taat beribadah, rajin, dan siang-malam selalu menambatkan pengharapan kepada Allah.

Nah, setiap kali ada rombongan pedagang, atau musafir yang pulang dari Madinah, Uwais selalu datang untuk mendengarkan cerita2 dari mereka. Uwais ingin mendengar cerita tentang Nabi, orang2 yang baru bertemu dengan Nabi. Kabar2 tentang Nabi, dsbgnya. Aduhai, ini juga sebuah rahasia kecil milik Uwais, tidak kepalang rindunya dia ingin bertemu Nabi, cinta sekali dia kepada Rasul Allah. Ibarat ingin melihat kekasih hati, tidak terbilang keinginan itu. Menumpuk tinggi, menjulang cintanya. Pernah ada rombongan yg membawa kabar tentang perang Uhud, bahwa gigi Nabi patah dilempari batu oleh musuh2nya. Sedih sekali Uwais ini, dia mengambil batu, lantas mematahkan giginya sendiri, agar bisa merasakan rasa sakit orang yang amat dia cintai tersebut. Boleh jadi menurut kebanyakan orang itu tindakan 'gila’, tapi Uwais melakukannya karena cinta Nabi-nya.

Berbilang minggu, bulan dan tahun berlalu, akhirnya kesempatan itu datang. Ibunya yang tua sedang dalam kondisi sehat, dan dia memperoleh ijin dari Ibunya untuk bisa pergi ke Madinah, bertemu dengan Rasul Allah. Pesan Ibunya simpel: segera pulang kalau sudah selesai urusan di Madinah. Maka, setelah menyiapkan keperluan untuk Ibunya, menitipkan Ibunya, Uwais berangkat ke Madinah. Jaman itu, tentu tidak ada pesawat, mobil, dsbgnya. Perjalanan ditempuh susah payah, berhari2 hingga tiba di Madinah.

Sudah semangat sekali Uwais ingin bertemu Nabi, dia segera bertanya di mana rumah Nabi, bergegas menuju rumah Nabi–mungkin berlari pontang panting, tersengal, tapi sayang seribu sayang, Nabi sedang pergi ke medan perang. Aduhai, bagaimanalah ini? Itu situasi yang tentu bagi kebanyakan orang amat mengecewakan, setelah semua kerinduan, setelah semua yang telah dia lakukan. Apakah dia harus menunggu Nabi pulang? Sedangkan Ibunya tertinggal jauh di Yaman, tiada yang merawatnya. Bagaimana ini?

Maka dengan keputusan berat, Uwais memutuskan segera pulang ke Yaman. Itu mungkin momen cinta paling spesial yang pernah ada di muka bumi. Ketika Uwais meluruhkan semua rindu, pulang. Momen cinta yang sungguh, bukanlah momen cinta 'murahan’ seperti hari ini. Uwais cinta kepada Rasul Allah melebihi siapapun di muka bumi, bahkan dirinya sendiri, tapi dia harus pulang merawat Ibunya. Ada skala prioritas, ada logika. Dan mungkin saja, Nabi akan marah kalau dia ngotot bertemu dengan Nabi, tapi mengorbankan Ibunya.

Uwais pulang. Membawa cintanya pulang.

Berselang waktu, Nabi juga pulang dari medan perang, di rumah, dia berkata kepada Aisyah, ada pemuda yang mencarinya saat pergi, pemuda yang taat pada ibunya, pemuda itu penghuni langit. Aisyah dan para sahabat tertegun. Aisyah bilang, itu benar, memang ada pemuda dari Yaman yang datang, tapi bergegas pulang. Rasul Allah menatap Umar dan Ali yang ada di sana, berkata, suatu ketika, jika kalian bertemu dengannya, mintalah doa dan istigfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.

Itu tentu kalimat yang amat menakjubkan, keluar dari Rasul Allah.

Waktu melesat cepat. Rasul Allah sudah wafat, Abu Bakar sudah digantikan Umar sebagai khalifah. Umar dan Ali selalu ingat kalimat Rasul Allah tersebut. Maka setiap kali ada rombongan dari Yaman yang datang, mereka bertanya, apakah ada yang bernama Uwais Al Qarni. Orang2 yang ditanya merasa heran, siapalah si Uwais ini? Bahkan khalifah bertanya soalnya. Tidak terbilang rombongan datang, silih berganti, hingga akhirnya, ada sebuah rombongan yang saat ditanya apakah ada Uwais Al Qarni bersama kalian, dijawab iya.

Itu benar, ada Uwais di sana, Ibu Uwais telah meninggal dunia, dan sekarang Uwais bisa berangkat. Umar dan Ali segera menemui orang yang dimaksud. Orang yang sedang mengurus unta2 rombongan, karena memang dia tetaplah sederhana, bersahaja. Khalifah Umar bertanya, siapa nama kamu–memastikan. Uwais menjawab pendek, Abdullah. Umar mengangguk, bilang, kami juga Abdullah, hamba Allah. Tapi siapakah nama kamu yang sebenarnya. Uwais menyebut namanya. Umar dan Ali juga bisa melihat tanda di Uwais yang diberikan oleh Rasul Allah sebelumnya.

Nah, itu juga momen yang mengharukan milik Uwais, saat Umar dan Ali meminta doa dan istigfar kepadanya. Bagaimana mungkin Khalifah minta didoakan orang biasa sepertinya. Uwais menggeleng, bilang, justeru dialah yang harus meminta doa kepada sahabat2 terbaik Rasul Allah. Umar dan Ali terus mendesak, dan karena itu perintah Rasul Allah, maka Uwais akhirnya mendoakannya. Pertemuan itu ditutup dengan permintaan Uwais yang bilang, hamba mohon, cukup hari ini saja hamba diketahui banyak orang. Biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.

Waktu melesat lagi dengan cepat. Ketika Uwais wafat di negeri Yaman, meski dia adalah fakir, tidak terkenal, tidak dikenal, penguburannya adalah salah-satu yang ramai dikunjungi banyak orang. Orang2 menggali makam, orang2 yang menshalatkan, orang2 yang mengantar, orang2 yang mendoakan–entah siapa orang2 tersebut. Kalimat Rasul Allah benar, Uwais bukan orang bumi, dia adalah penghuni langit, karena rasa cintanya yang besar, rasa cintanya yang luar biasa kepada Rasul Allah dan Ibunya.

Mungkin cerita ini bisa membuat kita semua mendefinisikan ulang mana cinta yang sebenarnya. Semoga begitu.

Sebenarnya ada benda yang tidak perlu kita ‘publickan’ di sini.

Jika semua ditulis di sini, diluah di sini, dicoret di sini.

Entah di mana lagi agaknya kemanisan saat kita mengadu pada DIA.
Entah di mana lagi agaknya kenikmatan saat kita bermunajat pada DIA.

Sanggup ke kita mengadu domba pada manusia kemudian 'sisa’ diadukan pula pada-Nya?

Ada sesuatu perkara kita perlu tenang.
Tarik nafas dalam-dalam, istighfar.
Kemudian klik lah button 'log out’
Yaa?

Saya sayang kamu.
Mari berikan yang 'manis’ pada DIA.
Hanya DIA !

jika aku beneran makhluk mars

Jika aku beneran makhluk mars yang sedang menyamar di bumi untuk meneliti dan mempelajari manusia, aku pasti akan segera kembali ke planetku di hari pertama aku tiba di bumi. Lalu menyampaikan pada rajaku di sana bahwa planet ini butuh diakuisisi segera. Sejak mendarat pertama kali di daratan bumi, aku sudah melihat bahwa manusia-manusia itu menyedihkan, bahkan sebagiannya memuakkan.

Yang paling membuatku muak adalah saat memonitoring apa sih isi pembicaraan mereka di dunia maya. Di dunia nyata mereka tampak seperti orang biasa, namun mereka berubah menjadi monster berlidah api di dunia maya. Begitu mudahnya menghina dan menghujat seseorang yang padahal tidak pernah dia kenal/bertemu sebelumnya dengan begitu gagah berani, seperti seorang pembela kebenaran yang berhadapan dengan penjahat narkotika.

Apakah mereka akan berani berkata hal yang sama jika dipertemukan empat mata? Aku sangat meragukannya. Biasanya, para pembenci itu orang yang sakit. Jiwanya begitu mudah goyah dan terusik oleh prasangka buruk, namun tidak cukup memiliki modal berani untuk mengutarakan secara tatap muka.

Mereka mudah marah, mudah diadu domba, begitu reaktif, merasa pintar, suka pamer, narsis pula, tapi nyalinya sebenarnya mini.

Menyedihkannya, orang seperti itu bertebaran di muka planet ini. Apalagi di negara yang masih tertawan euforia kebebasan dan keterbukaan. Dan itu, menurut raja di mars, adalah titik lemah yang harus dimanfaatkan, supaya kami bisa mengambil alih planet ‘surga’ ini dengan satu kali jentikan jari.

*ketawa jahat*

Makanya kalian itu jangan suka genit membanding-bandingkan presiden sendiri dengan presiden orang lain. Beda ranah, beda level, beda kualitas. Jelas pendukung presiden di sini akhirnya marah dan membenci presiden orang lain yang kalian puja-puja itu. Presiden sana yang tidak tahu apa-apa jadi sasaran caci-maki, fitnah, dan segala macam sumpah-serapah. Padahal yang saya tahu pendukung presiden di sana cinta dengan Endonezya. Kardeş “saudara” katanya. Tetapi gegara kalian, presiden mereka kena semprot segala macam kotoran dan kata-kata keji. Sudah saya katakan dari dulu jangan dibanding-bandingin.
—  Buat yang gemar mengadu-domba dan membanding-bandingkan presiden.

Sebuah pesan untukmu duhai wanita akhir zaman.

Ya ukhti…
Kasihanilah dirimu sendiri, engkau permata yang amat berharga jika kecantikanmu tetap kau jaga.

Jadikan taqwa sebagai pakaianmu dan malu sebagai perisainya. Jika kau inginkan Imam yang baik mampukah kamu jadi makmum yg baik?

Ya ukhti…
Taukah apa yg nanti Imammu takutkan jika engkau tak bisa menjadi makmum yang baik, bagaimana dia mempertanggung jawabkan kepemimpinannya kepada Allah?


Ya ukhti…
Sebelum menikah engkau menjadi tanggung jawab orang tuamu namun setelah menikah engkau akan menjadi tanggung jawab Imammu sepenuhnya maka dari itu jangan mudah tergoda oleh serigala berbulu domba, jangan mudah tertipu bisikan nafsu yang kau sangka bisikan cinta.

Jika dia adalah calon imammu, tidak mungkin dia akan merusakmu. Karena dia mencintaimu karna Allah.

Dia tidak akan mempermainkanmu karena dia mencintaimu karena Allah. Dia tidak akan mengucapkan janji-janji tak pasti karna dia tau engkau adalah untuknya.

Maka dia hanya akan datang dengan lamaran bukan
mengajakmu pacaran.

Jangan salah memilih Imam ya ukhti. Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, namun itulah pilihan-Nya. Pilihan-Nya adalah yang terbaik untuk kita. Mungkin kebaikan itu tidak pada Imammu yang terpilih itu melainkan jalan yang kita pilih atau mungkin kebaikan itu terletak pada kesabaran dan keikhlasan kita menerima segala ketentuan-Nya.

Allah swt berfirman :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal amat buruk bagimu, Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” [QS.Al-Baqarah 2 : 216]

Made with Instagram

Nabi Nuh belum tau bahwa banjir akan tumpah, ketika ia membuat kapal di gunung dan ditertawai kaumnya..

Nabi Ibrahim blm tau bahwa akan tercawis domba, ketika pisau nyaris memenggal leher buah hatinya..

Nabi Musa belum tau bahwa lautan akan terbelah, ketika ia diperintahkan memukulkan tongkatnya..

dibalik ketidaktahuan kita mungkin Allah menyimpan banyak kejutan2 saat kita selalu taat pada perintahNya..

Taatilah selalu perintah Allah,karena ujung dari perintah Allah pastilah selalu kebaikan.

—  Ustadz Salim A Fillah
ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ
ﻟﻴﺲ ﺍﻟﻀﺮﻭﺭﻱ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﺪﻳﻚ ﺃﺻﺪﻗﺎﺀ
ﻛﺜﻴﺮﻭﻥ ﻟﺘﻜﻮﻥ ﺫﻭ ﺷﺨﺼﻴﺔ ﻣﻌﺮﻭﻓﺔ ….
Tak harus mempunyai banyak teman
untuk membuatmu memiliki pribadi yang
dikenal
ﻓﺎﻷﺳﺪ ﻳﻤﺸﻲ ﻭﺣﻴﺪﺍ
Singa itu berjalan sendirian
ﻭ ﺍﻟﺨﺮﻭﻑ ﻳﻤﺸﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺠﻤﻴﻊ ….
Sedangkan Domba itu berjalan
dengan bergerombol
ﺍﻟﺨﻨﺼﺮ - ﺍﻟﺒﻨﺼﺮ - ﺍﻟﻮﺳﻄﻰ - ﺍﻟﺴﺒﺎﺑﺔ -
ﺑﺠﺎﻧﺐ ﺑﻌﻀﻬﺎ
Kelingking - Jari Manis - Jari Tengah -
Jari Telunjuk - Saling Berdampingan satu
sama yang lainnya .
ﺇﻻ - ﺍﻹﺑﻬﺎﻡ - ﺑﻌﻴﺪ ﻋﻨﻬﺎ
Kecuali - Ibu Jari - yang jauh dari
mereka …
ﻭ ﺗﻌﺠﺒﺖ ﻋﻨﺪﻣﺎ ﻋﺮﻓﺖ ﺃﻥ ﺍﻷﺻﺎﺑﻊ ﻻ
ﺗﺴﺘﻄﻴﻊ ﺻﻨﻊ ﺷﻲﺀ ﺩﻭﻥ ﺇﺑﻬﺎﻣﻬﺎ ﺍﻟﺒﻌﻴﺪ
Dan aku merasa Takjub saat telah
mengetahui bahwa semua jari takan bisa
berbuat apa-apa tanpa adanya Ibu Jari
yang jauh dari yang lain .
ﺟﺮّﺏ ﺃﻥ ﺗﻜﺘﺐ ﺃﻭ ﺃﻥ ﺗﻐﻠﻖ ﺃﺯﺭﺍﺭ ﺛﻴﺎﺑﻚ !…
✒ Cobalah engkau menulis atau
menutup kancing bajumu ( tanpa adanya
Ibu Jari ‏) !…
ﻓﺘﺄﻛﺪ ﺃﻧﻪ “ ﻟﻴﺴﺖ ﺍﻟﻌﺒﺮﺓ ﺑﻜﺜﺮﺓ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ
ﺣﻮﻟﻚ … ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻌﺒﺮﺓ ﺣﺒﺎ ﻭ ﻣﻨﻔﻌﺔ ﻟﻚ ﺣﺘﻰ ﻭ ﺇﻥ
ﻛﺎﻥ ﺑﻌﻴﺪﺍ ﻋﻨﻚ
Maka yakinlah bahwa suatu pelajaran
itu diambil Bukanlah dengan Banyaknya
Teman,
Namun Sesungguhnya Pelajaran
Tersebut adalah dengan Banyaknya
Kecintaan Mereka serta Manfaat yang
Mereka Berikan Untukmu Walaupun
Mereka Jauh Darimu
dalam terminologi islam sedikit sekali penggambaran hubungan antara menantu dan mertua, salah satu yang diabadikan Al Quran adalah kisah Nabi Musa dan Nabi Syuaib
— 

demi menaklukan hati calon mertua, nabi musa rela jadi penggembala domba selama 8 tahun plus 2 tahun tambahan setelah dirinya menikah. total 10 tahun nabi musa baru boleh bawa istrinya berkelana. jadi jangan menyerah gitu aja aja kalo dapat calon mertua rewel, maklum aja pasti camer ga mau anaknya jatuh pada orang yang salah. 

kisahnya bisa di baca di Al Qasas 21-29

selamat berburu mertua :P *ups

Bagaimana menjadi baik secara asyiq(ue)?

Saat mulai berbicara tentang baik atau menjadi baik, sering kali kita harus berpikir keras, terbelenggu dalam kebingungan, seperti apa sebenarnya yang di katakan baik. Semakin tua bumi, semakin dirasa tua diskusi mengenai kata “baik”, semakin tersesat pula mereka yang berjalan menuju baik. Kadang, baik menurut kita tak baik menurut yang lain. Bahkan parahnya lagi, hal tak baik di masa lampau, sekarang sudah menjadi hal wajar bahkan di anggap baik dan menjadi tuntunan.

Semakin kesini, semakin bertambahnya usia dan semakin banyaknya pengalaman yg berlalu-lalang, nyatanya definisi “baik” semakin tak sesederhana seperti dulu. Jika dulu kita bisa saling melempar senyum tanpa alasan, sekarang, kita malah banyak menerka-nerka apa maksud dibalik senyumnya itu. Kayak semacam ada aja pikiran buruk terhadap apa yg orang lakukan kepada kita meski itu terlihat baik.

Dalam hidup kita tidak di ajari untuk berburuk sangka terhadap orang lain. Namun nyatanya apa, terlalu banyak serigala berbulu domba. Banyak sekali orang berkedok kebaikan hanya untuk memuluskan niat jahat, atau yang bermuka dua untuk menusuk dari balik dada. Tak sering juga, banyak mereka yang berparas kurang elok di katakan sebagai yang berkelakuan tak baik. Sebenarnya tak ada yang bisa di salahkan. Karena memang bumi sendiri mulai bingung mana yang baik dan mana yang buruk. Berdoa saja, semoga bumi tak hancur karena kebingungan ini.

Ada lagi yang semakin membingungkan. Bukan lagi tentang yang buruk kemudian dianggap wajar. Tapi bagaimana mereka yang baru saja mengetahui hal-hal baik, kemudian seakan-akan sudah menjadi yang paling baik dan paling benar. Kemudian mulai berkoar-koar mengajak yang lain mengikuti apa yang baik menurutnya. Malah kadang mereka yg belum sesuai dengan kadar baik yang baru saja dia dapatkan, dianggap salah. Baik sih niatnya, tapi caranya yang salah. Mereka sepertinya belum sadar, bahwa sesuatu yang baik jika dilakukan dengan cara yang salah, malah gak akan terlihat baik oleh yang lain. Baikmu belum tentu baik bagi orang lain, kan?

Yang jelas, jika kau merasa benar atas kebaikanmu, lakukanlah. Jika kau ingin berbagi pada yang lain, sebaiknya bicaralah dulu pada mereka yang menurutmu lebih mengerti. Jika memang sudah tepat, bagikanlah. Mengajak kepada kebaikan merupakan ladang pahala, namun jika salah bisa-bisa malah menjadi ladang dosa. Jika kau ingin melakukan sesuatu, tanyakan pada hati nuranimu. Hati yang paling suci dan paling dalam. Jika memang ia mengatakan hal itu baik, laksanakan. Jika tidak, tinggalkan. Karena sejatinya semua manusia diciptakan dengan keadaan baik, dengan cara diberi alat yang menunjukkan kepada kebaikan. Namun seringkali mereka tertipu oleh hawa nafsu sesaat yang justru menjerumuskan dan menjadikan sesat.

Maka dari itu, selalu dekatkan dirimu denganNya. Jangan bosan untuk selalu berdialog denganNya. Rasakan bentuk kemesraanNya terhadapmu. Kita semua terlahir baik. Tinggal sekarang bagaimana kita mau mencari kebaikan di dalam diri kita dan kemudian menyebarkannya. Menyebarkan dengan kadar yang sesuai. Dengan juga memikirkan kebaikan-kebaikan orang lain, apa sesuai dengan kebaikan kita atau tidak.

Akhirnya memang kembali kepada diri kita sendiri. Jangan sampai karena tuntutan sekitar terhadapmu malah menjadikan kadar kebaikanmu berkurang. Bukan begitu?

Maka, kembalilah pada dirimu sendiri.
Jangan terlalu memaksakan apa yang menurut  kamu baik terhadap orang lain.
Karena bisa jadi apa yang menurutmu baik, tidak menurut mereka.
Cukup lakukan yang menurutmu baik untuk dirimu sendiri, awalnya.
Jika lingkungan sekitarmu berpendapat sama, pun semesta mendukung, itu berarti apa yang kamu lakukan baik adanya. Kemudian dengan sendirinya mereka akan mengikuti jalan kebaikanmu.


Dari kami yang mulutnya tak lelah beradu, namun mencoba menatanya agar tetap beriman syahdu~ @dimazfakhr @hobingetik

Ditulis dalam rangka meng-hore-kan writing project @kitajatim​ dengan tema “Menjadi Lebih Baik”.

Mari membaik bersama !

Pak Bowo,

Jujur ya Pak, selama ini kalau dengar kata-kata tak sedap tanpa fakta tentang Bapak, saya yakin itu hanya hasil bualan kumpulan orang gemar adu domba.

Saya membayangkan Pak Bowo & Pak Joko adalah dua sahabat yang sedang berlomba saling membahagiakan satu sama lain.

Yah, anggap saja saya gila, tapi sering terlintas dalam benak saya, sementara para pendukungnya saling tindas, Pak Bowo & Pak Joko malah asyik ngopi bareng sambil comat-comot goreng pisang, bertukar ide apa yang akan dilakukan untuk saling memberi dukungan bila salah satu dari kalian diberikan kesempatan memimpin negeri ini.

Sampai akhirnya kata-kata tak sedap itu saya dengar dari mulut Pak Bowo sendiri via sebuah video wawancara di BBC. Gara-gara video itu, saya ingin sekali mijit pundak Bapak. Katakanlah yang Bapak ucapkan itu benar adanya, tapi pilihan kata dan mimik bapak selama video itu membuat bayangan comat-comot goreng pisang asyik berdua pun ludes seketika.

Saya masih terlalu naif untuk memberikan nasihat atau panduan kehidupan untuk Pak Bowo, tapi bolehlah terbongkar 1 harapan hati ini: kalau kekalahan memang bukan pilihan untuk Bapak, semoga Pak Bowo bisa mengalahkan amarah hati. Saya yakin, warga damai dikelilingi pasukan hati yang tenang.

Hormat saya,

Valiant Budi Vabyo

Kultwit Sirah Nabawiyah #1

1. Abdullah bin Abdul Muthalib menikahi Aminah binti Wahb, kemudian Aminah hamil. 2 bulan sebelum Aminah melahirkan, Abdullah wafat.

2. Abdullah mewariskan 5 ekor onta, beberapa ekor domba, dan seorang budak Habasyah untuk putranya yang belum lahir itu. Budak itu adalah Ummu Ayman.

3. Hari senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah, Aminah melahirkan seorang bayi yang mulia.

4. Tidak ada tanda istimewa yang tampak pada Aminah saat Rasulullah dilahirkan. Hari ke-7, sang kakek, Abdul Muthalib mengkhitannya dan memberinya nama Muhammad.

5. Aminah menyusui anaknya selam tiga hari. Ia adalah wanita yang sedikit ASI-nya. Kemudian disusui Tsuwaibah, budak Abu Lahab yang memiliki anak laki-laki bernama Masruh.

6. Sebelum menyusui Rasulullah, Tsuwaibah menyusui Hamzah bin Abdul Muthalib dan Abu Salamah bin Abdul Asad.

7. Kemudian Halimah as-Sa’diyah menyusui Rasulullah dan tiga anaknya: Abdullah, Syaima, dan Unaisah.

8. Rasulullah punya 7 orang saudara se-susu: Hamzah, Abu Salamah, Abu Sufyan, Masruh, Abdullah, Syaima, dan Unaisah. Beliau tidak punya satu pun saudara kandung.

9. Saat bersama Halima as-Sa’diyah terjadilah peristiwa pembelahan dada beliau. Jibril melakukannya, mengeluarkan jantungnya, lalu menyucinya dengan zamzam dan membuang bagian yang buruk.

10. Kemudian Jibril menandai punggung beliau dengan tanda kenabian sehingga tidak ada peluang bagi setan untuk menggelincirkannya. Jadilah ia orang yang ma’shum (terjaga -ed) dalam perkataan dan perbuatan.

—  @Musa_al3azmi - Syaikh Musa al ‘Azmi, Ulama Kuwait, penulis Kitab “Al Lu’lu Al Maknun fis Sirati An Nabiyyi Al Ma-mun”, murid Syaikh Dr. Utsman Al Khamis