dikumpulkan

Kita Tidak Lagi

Kita tidak bicara lagi, seperti yang biasanya kita lakukan. Kita tidak tertawa lagi, seperti yang sering kita lakukan. Namamu yang dulu terdengar begitu bahagia di telinga, kini menjadi nama yang paling tak ingin kudengar hingga waktu yang cukup lama. Kita tidak bertemu sapa lagi, seperti yang dulu tak pernah tak kita lakukan. Kita tidak duduk berhadapan lagi, seperti yang dulu selalu kita lakukan. 

Kita tidak pernah lagi. 

Tidak lagi.

Harus aku akui pada akhirnya kau telah menemukan seseorang yang memang nyaman di hatimu, yang ternyata selama ini diam-diam kau cari ketika masih bersamaku. Kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu? Kenapa harus menunggu hingga aku terlalu jatuh padamu? 

Seharusnya dari dulu kau katakan bahwa bukan aku yang kau cari.

Kau tahu apa yang tersisa dari aku setelah kau pergi? Yaitu tak lebih dari pecahan-pecahan sampah yang jika dikumpulkan tak bernilai sama sekali. Rasanya begitu tidak adil. Kita sama-sama berjuang, tapi mengapa kau yang jatuh cinta dan aku yang harus terbuang? Kenapa kau begitu mudah melangkah dariku sedangkan aku begitu setengah mati mati-matian mencoba melepaskanmu?!

Keparat!

Seharusnya dari dulu kau katakan bahwa bukan aku yang kau cari!

“Antara Ibu dan Isteri”
by : Muhammad Rizki Abdullah

*******

Peranan seorang laki-laki sekaligus seorang suami cukup berat adanya, jika memang semuanya tidak berjalan sesuai dengan aturan-Nya.

Suami yang harus bertanggung jawab dunia akhirat kepada isteri, dan sebagai anak laki-laki yang wajib berbakti kepada ibu hingga kematian mengakhiri.

Terkadang ada seorang isteri yang tidak ikhlas ketika suami ingin berbagi, dan ada seorang ibu yang bersedih ketika anak-nya seakan-akan sudah tidak mau peduli.

Apa jadinya ketika isteri dan ibu menjadi dua kubu yang harus berseteru, ditambah pihak ketiga yang berusaha ikut “membantu”.

Jika saja rumah tangga itu berlandaskan bentuk cinta kepada-Nya, maka keharmonisan itu akan selalu menggema.

Isteri taat kepada suami, dan anak laki-laki tetap berbakti kepada ibu kandung-nya sendiri.

Semuanya berjalan sesuai dengan keridhoan-Nya, sampai kelak bisa dikumpulkan kembali di Jannah-Nya.

In syaa Allah…

#NikahAsyik
#SaveJomblo

PERIHAL MAYIT DAN KONFLIK ORA MUTU

Di sebuah desa nun jauh di sudut Jawa terjadi permasalahan serius jika sudah urusan orang meninggal. Desa yang dihuni hampir seluruhnya warga muslim itu punya keterbatasan ilmu mengurus mayit. Semua sangat tergantung pada satu-dua orang yang paham S O P menurut cara Islam. Hal yang selanjutnya terjadi adalah terbengkalainya si almarhum, karena harus menunggu si fulan yang paham mengurus mayit, padahal si fulan juga punya banyak urusan.
Mulai dari urusan memandikan sampai mengkafani, menyolati dan mengubur. Sangat tidak efektif.

Entah apa yang sebenarnya terjadi? Dilihat dari kultur dan kondisi masyarakat urusan mengaji bukan lah hal mewah, hampir semua melek huruf hijaiyah. Dan ritual kematian terus dirayakan.
So? Seseorang di datangkan dari desa luar, expertis yang bekerja di kementrian agama di daerah itu, sekaligus sanggup menjelaskan langkah per langkah menangani mayit. Warga laki-laki- utamanya dikumpulkan. Diajak menyimak, diminta tak cuek lagi dengan kebutuhan dasar ini.


.
Bergeser dari pelosok Jawa, teropong mengarah ke ibu kota.
Soal mayit, yha~
Ini gak ada hubungannya sama mbak-mbak berjiwa syeram nan artsy yang kemarin menuwwwway kontroversi yesss… masih soal mayit dan konflik cuma beda isu.

Perpanjangan tangan konflik horizontal dari pilgub effect ini kayak semakin gak waras aja. Satu pihak begitu keras, sementara pihak lain tak kalah keras, tak bisa lega satu sama lain. Segala hal dikonfrontasi. Permasalah semakin lucu ketika puncak saling tak lega itu menjadi saling tega. Persoalan dunia yang haram-jaddah nggilani konfliknya itu pun dibawa ke urusan liang kubur.

G A K M A S U K A K A L S A M A S E K A L I

Mayit yang semasa hidupnya terbukti menjadi pendukung paslon kubu lain ditolak, sementara satu kubu yang lain merasa enteng mencibir tanpa ada langkah konkret mengayomi sesama anggota masyarakat yang sudah urgen dan K E T E R L A L U A N ini.
Time line soc.med menjadi ajang saling cibir. Lagi-lagi saling lempar batu keras.


Apakah kamu sepakat jika ku katakan, kita ini hanya mampu demikian memalukan?

Tapi, ada apa?


Apa tak bisa diomongkan lagi?

Kita masih muda, semoga tak perlu sepekok itu. Biar saja mereka. Sejak dini kuasai semua keahlian dasar hidup. Termasuk urus mayit. Sesuai tata cara yang kita anut. Karena akan selalu dibutuhkan di mana pun, dalam kondisi paling keruh seperti ini. Jika orang lain mau satu sama lain ogah membantu karena alasan se-sepele itu, nurani kita tergerak dan sudah siap turun tangan. Gak usah nungguin atau nuding siapa-siapa lagi. Karena urusan mayit adalah urusan sosial. Kewajiban sosial. Tanggung jawab semua orang. Terlepas dari siapa yang salah atau benar, pengurusan mayit wajib sesegera mungkin dituntaskan.


Semoga Gusti Alloh mengampuni kebodohan berat seperti ini.


~

Mohon kasih sayangnya.

Kau tahu apa yang tersisa dari aku setelah kau pergi? Yaitu tak lebih dari pecahan-pecahan sampah yang jika dikumpulkan tak bernilai sama sekali.
 
Rasanya begitu tidak adil. Kita sama-sama berjuang, tapi mengapa kau yang jatuh cinta dan aku yang harus terbuang?

9 DOSA DAN BAHAYA PELAKU RIBA

Riba, yang hari ini banyak macam dan ragam bentuk tipuannya, sesungguhnya merupakan dosa besar yang sangat berbahaya bagi para pelakunya. Yakinlah, sebesar apapun harta yang dikumpulkan dari jalan riba, pasti akan membuat pelakunya jatuh, hina dan nista. Dunia dan akhirat.

Rasulullah SAW bersabda,
“Tinggalkan tujuh hal yang membinasakan… (salah satunya adalah) memakan riba.” (HR Bukhari dan Muslim)
Riba, bukan hanya sekedar bunga (bank) semata, tapi sangat banyak turunan dan ragam macamnya. Mulai dari aneka ragam kredit (KPR, KUR, KKB, KCR, KIR, KPL, KYG, KRK, KPA, KTA dsb) hingga yang dikemas dalam istilah yang seolah-olah sudah sesuai syariah padahal sesungguhnya tetap hukumnya riba.
Apa saja bahaya riba..?
1. HARTANYA TIDAK DIBERKAHI DAN AKAN DIMUSNAHKAN ALLAH
Allah SWT berfirman:
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ
“Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan sedekah.” (QS. Al-Baqarah: 276)
Rasulullah SAW bersabda,
“Jangan membuatmu takjub, kepada seseorang yang memperoleh harta dari cara yang haram (salah satunya dengan jalan Riba). Jika dikembangkan maka tidak diberkahi.” (HR Thabrani dan Baihaqi)
2. DIBANGKITKAN DALAM KEADAAN GILA
Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..” (QS. Al-Baqarah : 275)
Rasulullah SAW bersabda,
“Jauhkan dirimu dari dosa-dosa yang tidak diampuni (salah satunya adalah) memakan riba. Maka barangsiapa memakan riba, kelak akan dibangkitkan pada hari Kiamat dalam keadaan gila dan terhuyung-huyung.” (HR Thabrani)
3. DIMASUKKAN KEDALAM NERAKA SELAMA-LAMANYA
Allah SWT berfirman:
فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari transaksi riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali mengulangi (bertransaksi riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275)
4. BERENANG DI SUNGAI DARAH DAN MULUTNYA DILEMPARI BATU
Diriwayatkan dari Samuroh bin Jundub ra, ia berkata :
Rasulullah SAW menceritakan tentang siksaan Allah kepada para pemakan riba, bahwa “Ia akan berenang di sungai darah, sedangkan di tepi sungai ada malaikat yang di hadapannya terdapat bebatuan, setiap kali orang yang berenang dalam sungai darah hendak keluar darinya, lelaki (Malaikat) yang berada di pinggir sungai tersebut segera melemparkan bebatuan ke dalam mulut orang tersebut, sehingga ia terdorong kembali ke tengah sungai, dan demikian itu seterusnya.” (HR. Bukhari).
5. TIDAK AKAN DITERIMA ZAKAT DAN SEDEKAHNYA.
Rasulullah SAW bersabda :
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا
“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik.” (HR. Muslim).
“Jangan membuatmu takjub, seseorang memperoleh harta dengan cara yang haram. Jika dia infakkan atau sedekahkan maka tidak akan diterima.” (HR Thabrani dan Baihaqi)
6. DOANYA TIDAK DIKABULKAN ALLAH.
DAGING YANG TUMBUH DARI RIBA, NERAKA LEBIH LAYAK UNTUKNYA.
Rasullullah SAW bersabda,
ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ».
“Bahwa ada seseorang yang melakukan safar, kemudian menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo’a, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku!” Akan tetapi makanan dan minumannya berasal dari yang haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan oleh barang yang haram. Maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan (oleh Allah) ?”. (HR. Muslim).
يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Wahai Ka’ab bin ‘Ujroh, sesungguhnya daging yang tumbuh dari harta yang haram, akan dibakar dalam api neraka.” (HR. At-Tirmidzi).
7. DILAKNAT ALLAH DAN RASULNYA.
Rasulullah SAW bersabda :
عَنْ جَابِرٍ قَالَ : لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ
Dari Jabir ra, ia berkata: “Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, pemberi riba, dua saksinya dan penulisnya.” Dan Beliau bersabda, “Mereka semua sama (derajat dosanya). (HR Muslim).
8. DIPERANGI ALLAH DAN RASULNYA
Allah SWT berfirman,
فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ فَأْذَنُواْ بِحَرْبٍ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ
"Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa transaksi riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS Al Baqarah : 279)
9. DOSANYA LEBIH BESAR DARIPADA ZINA DENGAN IBU KANDUNGNYA SENDIRI.
Rasulullah SAW bersabda :
دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً
“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, dosanya lebih besar daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi).
الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ
“Dosa Riba itu ada 73 pintu. Yang paling ringan adalah seperti dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri.“ (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi).
—-
Masih mau main-main dengan dosa Riba..?
Masih menganggap biasa dan sepele dosa Riba..?

Developer Property Syariah

The Way I Lose Her: The Legend of Teh Kotak - Nona Teh Kotak vs Putri Aqua

Kau tahu apa yang tersisa dari aku setelah kau pergi? Yaitu tak lebih dari pecahan-pecahan sampah yang jika dikumpulkan tak bernilai sama sekali. Rasanya begitu tidak adil. Kita sama-sama berjuang, tapi mengapa kau yang jatuh cinta dan aku yang harus terbuang?

                                                                  ==

.

Setelah setan alas itu pergi, gue kembali memejamkan mata dan ternyata ketiduran cukup lama. Ketika melek lha tiba-tiba suasana udah gelap aja nih kelas, hujan pun hanya tinggal rintik-rintik saja. Gue bangun lalu kucek-kucek mata sebentar. Sebenarnya ini kelas angker banget, tapi ya kalau buat orang yang lagi patah hati sih lebih baik ketemu setan ketimbang ketemu mantan. Apalagi mantan gebetan.

Pffft.

Gue lirik jam di dinding kelas ternyata sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Tiga puluh menit lagi berarti magrib, yaudah deh gue sekalian magriban di sini aja. Baju yang gue jemur di jendela kelas juga setidaknya udah nggak basah-basah amat.

Gue kemasi barang-barang gue lalu bergegas pergi meninggalkan kelas dan berjalan menuju kantin. Dari jauh gue sempat melihat beberapa anak panitia masih ada yang diam di sekolah buat ngurusin Bazzar. Rajin amat dah. Tapi sore ini gue lagi males sosialisasi sama siapa-siapa. Alhasil gue cuma pergi ke kantin lalu berencana untuk kembali duduk sendirian di kelas sampai Adzan Magrib berkumandang.

Gue datangi satu warung yang masih buka, membuka kulkas lalu memilih-milih minuman apa yang enak diminum dingin-dingin begini. Sejenak gue sempat mengambil Teh Kotak sebelum kemudian gue terdiam menatapnya. Pikiran gue kembali berpikir tentang Ipeh, tentang apa yang terjadi siang tadi.

Gue menghela napas panjang, membayar dua buah teh kotak yang gue beli lalu kembali berjalan menyusuri lorong sekolahan. Di sepanjang perjalanan balik ke kelas gue jadi pendiem + lemes banget kaya kangkung baru mateng. 

Rasanya pengen deh gue cerita sama seseorang tentang apa yang lagi gue rasakan, biar bagaimanapun gue juga ingin didengarkan. Tapi siapa sih yang mau mendengarkan keluh kesah gue? Ikhsan? Dia lagi sibuk sama urusan pacarnya yang marah-marah mulu. Cloudy? Ah dia pasti menganggap remeh semua masalah gue.

Mirza? Nggak akan jauh dia cuma manggut-manggut doang sebelum kemudian minta traktir gue buat bayarin billing warnetnya.

Kak Hana? Entah ada di mana dia sekarang.

Matematika Buku Cetak? Ah males ngetik SMS panjang-panjang. Zaman gue SMA HP-nya belum QWERTY, mau mencet huruf S aja harus mencet tombol nomer 7 sebanyak 4x. Pokoknya curhat via sms zaman dulu itu menyiksa jempol banget. Bikin jempol kaki sama jempol tangan nggak bisa dibedain.

Sejenak ketika menyusuri lorong kelas satu yang sudah cukup gelap, mata gue tertuju kepada dua buah Teh Kotak dingin yang sedang gue genggam sekarang. Ada satu kenangan yang terlintas ketika gue menggenggam Teh Kotak dingin begini.

Gue pernah menyadari jauh sebelum hari ini dan tepat di kala gue dan Ipeh berbaikan untuk yang pertama kali setelah kasus dulu itu, bahwa suatu saat cepat atau lambat, gue akan merasakan sakit hati lagi. Gue sadar akan hal itu, makanya gue sudah bersiap dengan cara tidak terlalu menjatuhkan hati kepada Ipeh lagi contohnya.

Tapi sialnya hati kecil gue menyimpan satu sinar harapan kecil yang berharap itu semua salah. Dan itulah yang menyebabkan gue sehancur ini sekarang. Seharusnya gue memadamkan cahaya itu selagi gue masih punya waktu, tapi ternyata taraf munafik gue ada pada titik paling tinggi ketika untuk mematikan harapan kecil itu saja gue ragu karena masih menganggap harapan itu akan terwujud suatu hari nanti.

Itulah yang sejatinya membunuh gue hari ini. Sinar kecil yang dulu tidak gue hiraukan sama sekali, ternyata malah berbalik menjadi peluru paling besar yang membuat gue terkapar hingga seperti ini.

Gue mendengus kesal.
Merasa begitu bodoh sekali karena terjatuh ke lubang yang sama dua kali.

Gue kembali menarik napas dalam-dalam, pikiran gue melayang jauh kembali ke beberapa bulan yang lalu. Mengulas lagi sebuah kenangan singkat. Kenangan ketika saat itu gue sedang berada di Hypermarket menemani Kak Ai— Kakaknya Ipeh— belanja. Ketika gue sedang bingung untuk memilih antara membeli Teh Kotak dingin yang ukuran besar atau yang ukuran kecil di rak tempat minuman, Ipeh sempat menahan gue sebentar.

“Ambil aja dua-duanya, kan ditraktir Kak Ai.” Tukasnya lembut kala itu.

“Nggak boleh gitu.” Kata gue tanpa melihat ke arahnya.

“Kenapa?”

“Biarpun punya hak, tapi tetap harus memilih salah satu.”

“Loh kalau punya kesempatan mah ambil dua-duanya aja dong. Mubazir nanti.”

Gue masih ingat percakapan itu. Mendadak semua kenangan itu kembali terulang dan gue merasa semua perkataan gue saat itu adalah jawaban untuk segala kegalauan gue sekarang.

“Biarpun punya hak, tapi tetap harus memilih satu.”

Itu kata gue dulu kepada Ipeh.

Dan itu juga yang Ipeh lakukan sekarang sama gue. Biarpun dia mempunyai hak untuk jatuh cinta kepada siapa saja selain pacarnya, tetap dia harus memilih satu. Apa yang Ipeh lakukan sama gue tadi siang bisa dibilang kalau Ipeh telah berhasil menerapkan nasihat yang gue keluarkan untuknya dulu.

Ternyata memang benar ya. Cara kita menasihati orang lain, adalah cara kita menasihati diri sendiri nanti di lain hari.

Gue menghentikan langkah gue sebentar lalu kembali merenung jauh mengingat apa yang terjadi setelah percakapan hari itu. Secara perlahan gue mengelus pipi gue sendiri.

CUP!

Ada satu kecupan di pipi kanan mendarat tanpa gue sadari. Sontak gue terkejut dan melihat ke arah Ipeh yang baru saja mencium pipi gue itu tanpa gue mengerti sama sekali alasan dia melakukan itu apa. Gue tidak mengeluarkan sepatah kata apa pun, gue hanya bisa diam dan menatapnya. Begitu juga dengan Ipeh, dia hanya diam dan menatap gue dengan tatapan serius.

“Sekarang di hati gue lagi ada dua orang. Yang satu adalah si Teh Kotak Kecil, dan satu lagi si Teh Kotak Besar. Lantas siapa yang harus gue pilih?” 

Ucap Ipeh kala itu.

Gue masih ingat bagaimana rasanya ketika bibir kecilnya menempel di pipi gue saat itu. Dan gue juga masih ingat bagaimana rasanya jantung gue berdebar kencang ketika ia melakukan itu. Seandainya waktu bisa diulang, mungkin saat itu gue akan membalas kecupannya secepat yang gue bisa. Memeluknya erat dan tidak membiarkannya pergi terlalu jauh dari tempat dia tengah berdiri waktu itu sebelum menjadi sejauh sekarang. Menyatakan apa yang saat itu gue rasakan, memintanya untuk mendampingi perjalanan gue hari itu hingga seterusnya.

Tapi sayangnya entah ada angin apa gue malah memilih untuk bungkam, hingga pada akhirnya takdir Tuhan membawa gue berada di titik ini. Di titik terendah di hidup gue selama masa SMA kelas satu.

“Sekarang di hati gue lagi ada dua orang. Yang satu adalah si Teh Kotak Kecil, dan yang satu lagi adalah si Teh Kotak Besar. Lantas siapa yang harus gue pilih?” 

Gue terdiam. Badan gue bergetar hebat menahan emosi ketika tanpa sengaja gue teringat kata-kata yang Ipeh lontarkan tepat setelah ia mengecup pipi gue di hari itu. Napas gue tak karuan mencoba menahan agar tidak melepaskan semua hal yang ada di kepala gue saat ini.

Gue angkat satu Teh Kotak di tangan gue itu tinggi-tinggi, lalu secara tiba-tiba..

JEBRET!!!
Gue banting Teh Kotak itu ke lantai sampai isinya moncrot semua ke mana-mana.

“SIAPA YANG HARUS LO PILIH?! LO NANYA SIAPA YANG HARUS LO PILIH SAMA GUE?! LO SEBENARNYA UDAH MILIH, ANJING!! DAN PILIHAN ITU BUKAN GUE!! BRENGSEK!! KALAU MEMANG BUKAN GUE YANG LO CARI, KENAPA LO HARUS BERTANYA SEPERTI ITU DULU!!! SIALAAAAN!!!!”

Tanpa sadar semua unek-unek beserta rasa kesal yang ada di hati gue keluar begitu saja dari kerongkongan. Di tengah lorong yang begitu sepi, gue mencaci-maki kepada seonggok Teh Kotak dingin tak bernyawa yang sudah nggak berbentuk kaya perkedel KFC baru keinjek ondel-ondel di depan gue itu.

“KALAU LO PIKIR LO ITU TEH KOTAK, MAKA DEMI TUHAN GUE NGGAK AKAN MINUM MINUMAN INI LAGI!!!!” Gue bersumpah serapah sendirian.

Maklum namanya juga anak SMA kelas satu, emosinya masih labil. Bahkan gue sendiri sering ketawa kalau mengingat hal ini lagi. Dulu gue pernah bersumpah seheroik itu tapi nyatanya hingga hari ini toh gue masih minum minuman kemasan itu. Hahahaha.

Saking kesal dan kecewanya, gue sampai bersumpah untuk tidak lagi meminum minuman favorite gue itu lagi. Napas gue masih menderu, tangan gue yang sudah terlanjur mengepal itu menghantam keras tembok kelas hingga berdarah.

“SIALAAAAN!!!!!! ANJING SEMUANYA!!!”

Gue angkat satu buah Teh Kotak yang masih ada di tangan gue yang satunya, lalu kemudian melemparkannya ke tembok depan WC Cowok yang jaraknya beberapa meter dari gue hingga isi dari minuman itu tercerai berai.

“JANGAN LO PIKIR CUMA LO YANG BISA MEMILIH!! GUE JUGA BISA!! GUE BERSUMPAH, SELUKA APAPUN LO NANTI DIBUATNYA, GUE NGGAK AKAN PERNAH IBA LAGI UNTUK KEDUA KALINYA!! BRENGSEEEEEEEEEEEEEEK!!!!!!” Gue berteriak kencang sekali hingga napas gue berantakan.

“Dimas?”

DEG!!
Tiba-tiba gue terkejut.

Gue yang saat itu lagi marah-marah, teriak-teriak, sekaligus mukulin tembok itu langsung terkejut bukan main tepat ketika ada sosok seseorang yang muncul dari balik tembok di depan gue. Dia ngintip sedikit karena merasa takut di saat gue sedang kalap seperti itu. Ya, mau gimana lagi, ini adalah kali pertama di mana gue benar-benar meledak seperti yang baru saja gue lakukan tadi.

Gue nggak pernah kaya gini sebelumnya, biasanya daripada meledak gini gue lebih memilih untuk tidur. Tapi berhubung tadi gue sempat teringat lagi tentang kejadian masa lalu dan kebetulan saat itu gue sedang menggenggam benda yang bisa gue lempar, alhasil gue jadi kepancing buat meledak. Tapi gue tidak menyangka kalau di daerah ini ada orang. Gue pikir di jam-jam yang sudah sore seperti ini tidak akan ada orang sama sekali di lorong gelap ini. Apalagi ini adalah daerah anak kelas satu. Yang mana pasti sepi banget kalau sore. Belum lagi daerah ini terkenal angker, kagak ada yang mau diem lama-lama menjelang gelap begini di sini kecuali emang dia keturunan siluman gagang pintu.

Pikiran gue yang tadi sempat buta karena emosi sesaat itu langsung menjadi dingin lagi, gue kaget sekaligus takut kalau-kalau segala caci maki gue barusan terdengar sama seseorang, apalagi kalau seseorang itu adalah seseorang yang juga dekat sama gue. Wah bahaya.

“Siapa?!” Gue berteriak sedikit keras. Namun tetap tidak ada jawaban.

“Siapa di sana?!” Gue kembali bertanya.

“Aku..” Tiba-tiba ada sosok muncul dari balik tembok sambil mengapit berkas-berkas di dadanya begitu erat dengan kedua tangannya. Ia seperti ketakutan dan seperti sedang melindungi dirinya bersiap kalau-kalau gue kalap lagi.

Gue begitu terkejut ketika mengetahui sosok yang ada di depan gue itu.

“Loh? Cloudy?!”

.

                                                                ===

.

Kami berdua sempat terdiam sejenak. Cloudy terkejut dengan sikap yang baru saja gue keluarkan, dan gue terkejut dengan kehadirannya yang begitu tiba-tiba. Eh tapi tunggu tunggu, kalau Cloudy ada di situ berarti dia ngedengerin semua teriakkan gue sebelumnya dong? Ya nggak mungkin enggak juga sih, gue teriak cukup keras di lorong sepi ini. Astaga, jangan-jangan dia denger semua ocehan gue sebelumnya lagi?

Ndaaakkkk :(((

Mata kami berpandangan, Cloudy tidak mengucapkan sepatah kata apapun. Sikapnya masih sama dan tidak berganti, tetap mendekap berkas-berkas itu di dadanya erat-erat. Gue mencoba maju perlahan untuk menjelaskan, tapi tanpa disangka-sangka Cloudy malah mundur juga perlahan seperti ada ketakutan dalam benaknya jika dekat dengan gue sekarang.

Gue shock. Bener-bener shock. Gue takut karena hal ini Cloudy malah jadi menjauh lagi, padahal kami baru saja baikkan. Gue nggak mau kehilangan lagi, even itu seorang teman. Gue nggak mau ditinggalkan lagi. Gue capek, gue takut. Jujur gue nggak mau ada seseorang yang gue kenal melangkah pergi dari hidup gue lagi. Gue sudah cukup kehilangan hari ini.

Dengan rasa bersalah yang begitu besar, gue urungkan niat gue untuk mendekati Cloudy. Gue berjalan ke arahnya dan ia mundur perlahan, tapi bukannya menghampiri Cloudy, gue malah berbelok ke arah kiri menuju kelas dan meninggalkannya sendirian. Gue nggak mau Cloudy melihat gue di keadaan ini lebih lama. Yang gue perlukan sekarang adalah gue kembali ke kelas, menenangkan pikiran, mendinginkan kepala agar bisa kembali menjadi Dimas yang dulu lagi.

Belum genap langkah gue terlalu jauh dari Cloudy, tiba-tiba ia memanggil.

“Dimas.” Ucapnya pelan. Langkah gue terhenti tapi tidak menengok ke arahnya. Beuh gila keren banget udah kaya Kim Woo Bin.


“Kalau emang lagi nggak ada kerjaan, mending kumpul di ruang rapat bantuin yang lain.” Ucapnya dari jauh lalu kemudian pergi begitu saja meninggalkan gue.

Gue diam sebentar, sebelum kemudian melanjutkan langkah dan masuk ke dalam kelas yang keadaannya sudah cukup gelap. Di dalam kelas yang sepi gue duduk sendirian di dua kursi depan meja guru. Tempat yang mana kalau hari-hari sekolah biasa menjadi tempat favoritenya Ipeh. Tempat yang juga menjadi tempat di mana gue pertama kali kenal Ipeh dan akrab dengannya. Dulu, waktu ulangan Matematika.

Gue kembali menghela napas panjang. Ini adalah helaan napas ke yang seribu kalinya mungkin kalau gue hitung-hitung. Rasanya berat banget ini kepala kalau disuruh memikirkan apa yang sebaiknya gue lakukan sekarang. Ada beberapa alasan kenapa gue memilih untuk diam di kelas sendirian walau tahu ini kelas angkernya minta ampun daripada pergi ke ruang rapat. Salah satu alasannya adalah karena gue paling males ditanya-tanya oleh orang lain.

Terlebih lagi tadi sore banyak orang yang melihat gue basah kuyup begitu, pasti nanti kalau gue pergi ke ruang rapat yang ada malah mereka pada kepo nanyain gue kenapa. Dan gue paling males ditanya-tanya seperti itu. Tapi gue juga benci suasana sepi seperti ini, keadaan hening membuat kepala gue mampu bekerja lebih keras untuk mengulas segala ucapan Ipeh siang tadi. Dan gue nggak mau memikirkan Ipeh sama sekali saat ini.

Cukup lama gue diam di kelas, hingga kemudian gue mendengar ada saup-saup Adzan Maghrib terdengar berkumandang dari Masjid besar di depan sekolah, juga dari speaker Mushola yang suaranya rebek kaya kicrikan banci. Yasudah deh, mungkin baiknya habis sholat gue langsung caw ke rumah aja buat istirahat. Pikir gue saat itu.

Lagian malu banget anjir muka udah lepek kena air hujan, kantong mata glayotan kaya nangka gendong gara-gara abis mewek, terus badan bau knalpot kang ojek. Ini sih muka gue sama kanebo kering udah kagak ada bedanya. Masa begini mau ketemu anak-anak panitia yang lain?! Apalagi kalau ketemu Ikhsan, beuh bisa habis gue diledekin.

.

                                               ===

.

Mushola sekolah sudah lumayan penuh ketika Adzan dikumandangkan. Orang-orang riuh ricuh rebutan keran wudhu. Karena tempat wuduhnya terbuka dan tidak ada pemisah antara laki-laki dan perempuan, ini anak-anak cowok kebanyakan sengaja ngantri di belakang cewek sambil megangin uler bulu warna pink di celananya. Keliatan banget mesumnya. Belum lagi kaki yang baru lepas dari kaos kaki, beuh baunya minta ampun.

Gue yang udah mau jalan ke Mushola aja mendadak jadi ragu antara sholat atau jangan. Sholat di mushola pas penuh kaya gini gue rasa amalnya sama besar kaya naik haji. Soalnya perjuangannya pun sama. Kalau naik haji harus melewati padang pasir yang panas, lah kalau sholat di mushola pas rame gini mau wudhu aja harus ngelewati bau neraka jahanam. Sekali nyium bau para pejuang wudhu itu, umur lu ngurang 14 menit.

Kasian malaikat yang ada di mushola sore itu.
Gue geleng-geleng kepala.

Karena keadaan Mushola penuh banget, beberapa orang sudah ada yang sholat berjama'ah duluan. Jadi biasanya ada banyak kloter cuma buat sholat doang. Gue sih milih nunggu sepi aja biar khusyu. Gue nggak mau sholat gue jadi nggak diterima Tuhan gara-gara pas lagi sujud, idung gue nyium bau surga dari kaki orang depan. Belum kalau lagi duduk di antara dua sujud, kiri kanan gue laki-laki penuh keringat yang entah habis main futsal atau apa, baunya ya Tuhan, mirip toren air belum dikuras. Bau makanan burung.

Tapi kalau dipikir-pikir nggak mungkin juga gue sholat sambil bawa tas begini. Gue celingak-celinguk nyari tempat aman buat naroh tas sebelum kemudian gue baru sadar kalau ruang rapat panitia Bazzar letaknya hanya bersebrangan dari Mushola. Ah yaudahlah taruh tas di sana aja, pasti kalau Maghrib gini ruang rapat juga sepi. Tidak mau membuang waktu, gue langsung pergi ke dalam ruang rapat.

Tapi ternyata gue salah.

Ruang rapat sama Mushola sama penuhnya. Di meja guru gue lihat ada Cloudy yang langsung melihat ke arah gue tepat ketika gue memasuki pintu ruang rapat. Dari meja dekat pintu, gue langsung ditanya sama kang Acil yang lagi maen HP sambil duduk di atas meja.

“Dim, lu lagi ada masalah?” Tanyanya to the point.

Gue geleng-geleng, “Nggak kok, kang. Kenapa emang?”

“Kata anak-anak lu hujan-hujanan tadi siang? Nape lu? Pengen ngelunturin warna kulit biar lebih putih?”

“Anjir, kang! Nyelekit sumpah dengernya. Apa gue seitem itu?” Gue protes.

“Hahahaha habisnya. Kalau ada apa-apa laporan lah sama gue. Biar gimana pun lo itu tanggung jawab gue.” Balasnya.

“Nuhun, kang. Kapan-kapan sayah cerita deh.”

“Sip deh.” Kang Acil lalu kembali sibuk sama HP-nya lagi.

Belum juga melangkah lebih jauh, anak-anak kelas satu di berbagai penjuru langsung nanya-nanya seperti apa yang gue perkirakan waktu di kelas tadi. Tapi gue langsung jawab sambil pura-pura tersenyum. Berlagak kalau memang tidak ada apa-apa. Gue beralasan kalau gue lagi jajan di KFC terus mendadak hujan dan gue nggak bawa payung.

Gue pergi menuju pojokkan kelas, tapi untuk sampai ke sana gue harus melewati meja guru dulu. Cloudy menatap gue terus dengan tatapan dinginnya seperti biasa, sedangkan gue malah jadi nggak berani menatap matanya. Cemen banget.

Begitu sampai di ujung kelas, gue taruh tas gue lalu bergegas pergi ke luar lagi biar nggak makin ditanya-tanya sebelum kemudian Ikhsan yang sedari tadi nongkrong di bangku tempat gue naruh tas itu angkat bicara.

“Dim.” Ikhsan menatap gue serius. Gue melihat ke arahnya.

Kami berdua diam sebentar saling tatap-tatapan kaya film India.

“Gue ke rumah lo ya malam ini. Mau gue bawain apa?” Sambungnya lagi.

“Kagak usah.” Gue menolak.

“Gue bawain narkoba mau?”

“…”

Dia cuma cengengesan karena berhasil ngebuat gue jadi bete.

“Gue serius nih! We need to talk.” Sambungnya.

Gue geleng-geleng, “Jangan hari-hari ini deh, San. Kita harus fokus ke Bazzar dulu.” Jawab gue.

“Oke deh kalau gitu.” Ikhsan menganggukkan kepala sambil benerin peci tempe yang lagi dia pake, kayaknya dia juga mau sholat tapi nunggu masjidnya sepi kaya gue.

Lalu kemudian dia menatap gue lagi, “Keadaan dia gimana? Siapa yang perlu gue hibur hari ini?” Sambungnya dengan tatapan serius.

Gue kaget.
Bah! Ini anak kenapa bisa tahu masalah gue?! Jangan-jangan dia tahu tentang kejadian Ipeh lagi?!

“Nggak usah lu jelasin juga udah kebaca, Nyet. Waktu gue nongkrong di pendopo, gue sempat liat tuh anak jalan cepet ke arah kantin sambil kaya lagi mewek gitu, tapi kebetulan saat itu gue lagi sama Tasya juga, lagi benerin hubungan gue sendiri. Jadinya nggak bisa nyusul. Terus pas sore, si nenek sihir OSIS itu nyariin elo katanya mau balas budi. Gue sih apal banget sama orang kaya elo, nggak mungkin kabur kalau mau ditraktir makanan. Tapi ternyata.. di situ gue jadi ngerti sih.” Dia menjelaskan panjang lebar sambil buka-buka buku 25 Kisah Nabi dan Rosul yang gue nggak tahu dia dapet nyolong dari mana.

Gue menunduk. Sepertinya gue emang nggak pernah bisa menyembunyikan sesuatu dari sahabat gue yang satu ini.

“Dia.” Jawab gue. Ikhsan langsung menatap gue dan menaruh buku 25 Kisah Nabi dan Rosulnya itu. “Yang lo harus hibur itu dia, bukan gue. Karena biar bagaimanapun, sudah sesakit apapun, gue nggak mau ngeliat dia susah sendiri tanpa ada teman untuk diajak bicara.” Balas gue sambil kemudian pergi menuju mushola meninggalkan ruang rapat.

“Lagian siapa juga yang mau nemenin elu! GR lu, Kuya!” Teriaknya dari ujung kelas, dan gue cuma bisa ketawa kecil mendengar ucapannya barusan.

Terkadang sahabat yang baik adalah sahabat yang tidak perlu bertanya untuk tahu masalahmu apa. Mereka hanya perlu ada di sana, berdiri dan menyetujui semua keinginanmu tanpa bertanya apa alasannya. Karena sahabat yang baik tidak terlalu peduli masalahmu apa, tapi mereka selalu peduli ketika kau membutuhkan ‘apa’ untuk menyelesaikan masalahmu itu. Its like, bestfriend already have the shovel ready to bury everthing that made you cry without asking you why.

.

.

.

                                                     Bersambung

Previous Story: Here

Istighfarnya Nabi Ibrohim yang istimewa...

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

“Robbanaghfirli waliwalidayya walilmukminii na yaumayakuu mul qisaab” [QS. Ibrohim: 41]

Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).“ [QS. Ibrohim: 41]

Perbanyaklah beristighfar seperti ini, karena akan banyak sekali manfaat yang kita dapatkan.

1. Allah akan lebih mendengar istighfar kita, karena kita menggunakan istighfarnya ‘kekasih’ Allah ta'ala, Nabi Ibrohim alaihissalam.

2. Ini merupakan bentuk bakti kepada kedua orang tua, dan akan menjadikan keduanya BAHAGIA dan mulia di sisi-Nya.

3. Dengannya kita akan mendapatkan doa malaikat, karena kita telah mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya. [HR. Muslim, 2732]

4. Kita akan mendapatkan pahala sebanyak jumlah kaum muslimin ketika mereka dikumpulkan semuanya pada hari kiamat nanti, karena kita telah memintakan ampun untuk mereka semua. [Shohihul Jami’, 6026]

5. Allah akan menambah kekuatan untuk kita, karena kita beristighfar. [QS. Hud: 52].

6. Urusan-urusan kita akan dimudahkan Allah karena istighfar kita, sebagaimana dikatakan Ibnul Qoyyim rohimahullah. [Tibbun Nabawi, 155]

7. Allah akan melapangkan harta dan rezeki kita dengan istighfar. [QS. Nuh: 10-12]

Semoga Allah memberikan kita taufiq, untuk selalu bisa mengisi waktu kita dengan banyak beristighfar dengan istighfar ini kepadaNya, amin.

Oleh: Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA

Kata Ulama, kalau dikumpulkan kasih seluruh ummat kepada Rasulullah, masih belum dapat menandingi kasihnya Rasulullah kepada ummatnya.

Jom Selawat

The Way I Lose Her: Matematika Buku Cetak Hal.17

Tak perlu gusar, kau tak perlu merasa bersalah. Kesalahanmu sudah aku maafkan jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan kebahagiaan kita pun sudah cukup aku lupakan.

                                                                 ===

.

Karena nggak tega ngeliatin nih anak tersiksa sendirian sambil mengutuk nyamuk-nyamuk yang beterbangan di sekitarnya, akhirnya gue berbaik hati membukakan pintu dan mengajaknya buat nongkrong di balkon atas.

Nggak lupa gitar dan snack gue sediakan untuk sekedar teman ngobrol-ngobrol panjang. Padahal kita tau bahwa hari ini kita punya PR matematika yang harus dikerjakan buat dikumpulkan besok. Ah sudahlah, namanya juga anak SMA.

Sembari memainkan gitarnya, gue iseng bertanya pada Ikhsan,

“San, besok ada pelajaran olahraga ya?”

“Iya kalau nggak salah. Kenapa?”

“Boleh pake baju olahraga langsung atau harus pake seragam dulu sih?”

“Auk ah, baju koko aja biar syariah.”

“Yeee beduk masjid, gue lagi serius nih..”

“Bentar, lo kenal lagu ini nggak?” Tanya Ikhsan memotong pertanyaan gue dan memainkan satu buah melody lagu.

Ikhsan memainkanya cukup fasih. Rasa-rasanya gue kenal nih, ini lagu ada di playlist mp3 gue. Gue mencoba mengingat-ingat sebentar lagu apa yang sedang dia mainkan.

“Ah!! You’re All I Need, punyanya White Lion!” Jawab gue sambil menggebrak meja.

Ikhsan terkejut, “Anjir! kok lu tau lagu beginian? Coba lagi deh lagi.” kemudian Ikhsan memainkan kembali gitarnya.

Sebuah lagu yang gue kenal juga, ntah kenapa semua lagu yang Ikhsan mainkan adalah lagu-lagu jadul tahun 80-90an semua.

“Wah gampang sih kalau ini mah. Friday I’m In Love-nya The Cure.” Ucap gue enteng.

“Buset, sekali lagi dah. Coba ini lagu apa..” Ucapnya sekali lagi sambil mengganti irama gitarnya.

Gue melamun sebentar, mencoba berkonsentrasi pada setiap nada yang ia keluarkan. Namun pikiran gue mentok, gue nggak menemukan ini lagu apaan. Ikhsan yang melihat gue sedang berpikir keras ini akhirnya memberi clue dengan bergumam menyanyikan liriknya.

Dan seketika itu juga gue langsung sadar.

“ANJRIT!! I Don’t Wanna Talk About It - Rob Stewart!! Bhahahahahahahahk anjir ini lagu jaman bapak gue masih doyan nyolong sendal di masjid nih.”

“Tai ah, kok lu tau semua sih?! Yaudah sini nyanyi gih, gue gitarin.” Ajak Ikhsan seraya duduk di sebelah gue.

Setelah diawali dengan tebak-tebakan lagu, akhirnya malam itu kita berdua mengadakan konser kecil-kecillan di balkon rumah. Banyak lagu yang gue kenal ketika Ikhsan memainkan nada-nada di gitarnya, dan ntah kenapa selera musik kita bisa sama.

Ketika gue sempat bertanya kenapa Ikhsan suka sama musik Classic Rock seperti ini, dia menjawab pertanyaan gue dengan enteng, “Jaman dulu musiknya lebih enak buat di denger. Nggak kaya jaman sekarang.”

Bener juga apa yang Ikhsan katakan. Lagu jaman dulu emang nggak ada matinya. Sesekali ketika Ikhsan berganti lagu, ada beberapa lagu baru yang nggak gue kenal, dan sesekali juga gue merekomendasikan sebuah lagu yang gue suka kepada Ikhsan. Kita banyak berbicara perihal musik saat itu.

Hingga pada suatu ketika muncullah sebuah pemikiran-pemikiran khas yang biasa muncul di benak anak SMA.

“San, bikin Band yuk!” Gue mendadak memandang serius ke arah Ikhsan yang lagi fokus nyetem gitarnya.

Mendengar pertanyaan mendadak dari gue, seketika itu juga Ikhsan langsung melihat ke arah gue. “Eh seriusan nih? Padahal tadinya gue juga mau ngajakin elo buat bikin Band, tapi takut elonya gak suka. Wah ternyata kita sepikiran nyet. Mantap nih. Ayo deh ayo, kita akustikan lagu Classic Rock aja ya?”

“Iya anjir mantap tuh kayaknya. Gimana? lo kan gitar tuh, nah apa gue nyanyi aja nih?”

“Yoi lah.”

“Gue pegang bass aja deh gimana? Kebetulan bokap punya gitar Bass di gudang belakang.”

“Lha terus ntar yang nyanyi siapa?”

“Gampang lah itu ntar kita cari lagi aja, sekarang mah asik-asikkan aja dulu. Siapa tau kita bisa hits kaya band Peterpan.”

“Iya, siapa tau kita bisa terkenal kaya band God Bless atau Koes Plus.”

“Anjir tua amat band yang lo omongin. Lo lahir jaman apaan sih nyet?”

“Dari jaman Firaun ngejar Nabi Musa gara-gara wifi portablenya di bawa ke laut merah.” Jawabnya enteng.

Mendengar jawaban tololnya itu, gue cuma bisa termenung tak bersuara.

Kemudian malam itu pun ditutup dengan kita yang terus-terusan nge-jamming bareng di balkon rumah. Ikhsan asik dengan gitarnya, dan gue asik dengan gitar bass sambil bernyanyi. Walaupun banyak nada-nada yang salah, secara perlahan-lahan chemistry kekompakan kita berdua mulai terbangun dari hal ini.

.

                                                                 ===

.

21.00

Ikhsan izin pulang karena besok harus masuk sekolah. Setelah Ia pergi, gue merapihkan balkon lantai dua yang sempat berantakan gara-gara konser kecil-kecilan tadi, lalu kemudian rebah di atas kasur kamar.

Gue cek HP, ternyata lagi-lagi ada SMS dari nomer yang nggak dikenal itu masuk ke HP gue lagi.

“PR-nya udah?”

Astaga!! Nih anak ngebet bener ngingetin gue sama PR. Pasti lahirnya di daerah toko buku palasari nih anak. Demen amat ganggu orang mau istirahat.

Tapi ketika gue berusaha mengabaikannya dan memilih untuk terpejam, pikiran gue malah jadi terbayang-bayang oleh PR yang dia ucapkan. Semakin gue berusaha tidur, semakin besar juga bayang-bayang PR yang dia ingatkan.

Gue membuka mata, menghela nafas sebentar, kemudian langsung menendang selimut yang sudah setia menyelimuti tubuh gue. Gue terbangun meninggalkan kasur yang rasa-rasanya sudah menarik-narik tangan gue agar tetap terkulai lemas di atasnya.

Gue berjalan menuju tas dan mengeluarkan buku matematika. Gue baca dulu soalnya, dari dulu gue emang paling lemah sama urusan matematika. Tapi kalau urusan Geografi, dan Biology, nilai gue selalu di atas 80 semua.

Gue baca perlahan semua soalnya, gue kerjain contoh-contoh soal yang sudah ada jawabannya, tapi tetap saja gue nggak bisa mengerjakan satu soal pun yang ada.

Ujung-ujungnya, gue malah iseng ngegambar karakter SonGoku dari film Dragonball. Gue puter-puter pensil sambil bersandar, gue gigit-gigit ujung pensil sampai penghapus yang ada di ujungnya udah nggak berbentuk lagi. Gue benar-benar nggak bisa tidur, dan yang lebih begoknya lagi, gue juga malah diem dan nggak ngerjain soal PR matematika itu satu pun.

Lagi diam bersandar di kursi, gue iseng mengambil HP dan membalas sms orang tidak di kenal itu.

“Nomer satu bijimana caranya? Gue stuck nih.”

Setelah gue kirim dan menunggu agak lama, ternyata nggak ada balasan. Sebelumnya nih orang selalu giat membalas sms gue, kok sekarang malah diem? Tapi ketika gue sadar ternyata jam dinding sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Hahahaha pantas saja dia nggak balas, pasti udah molor nih anak.

Namun tiba-tiba HP gue berbunyi. Ada satu sms masuk dari nomer nggak jelas itu. Wooooo gue kegirangan sambil ketawa ngakak, gila nih orang begadang juga toh?

Ketika gue baca isi sms-nya, ternyata dia menjelaskan hampir seluruh cara mengerjakan soal nomer 1. Meskipun banyak yang nggak gue ngerti, tapi setidaknya dengan ini gue kebantu.

Nggak hanya itu saja, ketika gue bertanya tentang bagaimana cara mengerjakan ke-4 soal lainnya, dia juga masih setia menjelaskan tanpa ada keluh kesah sama sekali. Gue pun dengan riang mencatat semua cara kerja yang dia jelaskan. Gambar karakter SonGoku yang masih baru muka doang itu nggak gue lanjutin lagi. Gue terlanjur semangat buat nyontek PR di pagi-pagi buta kaya begini.

Gila, siswa teladan banget.

Akhirnya kelar juga. 5 soal matematika ini gue kerjakan dalam waktu 1 jam setengah. Itu pun nyontek. Ntah kenapa gue merasa menjadi cowok paling tidak berguna sama sekali, masa nyontek aja butuh waktu sebegitu lama? pffft

Sebelum menutup malam yang sudah terlalu larut, hati gue serasa luluh dan ingin mengucapkan terimakasih kepada orang nggak gue kenal ini.

“Thanks ya, PR gue beres. Sorry udah ngerepotin malam-malam gini. Lo nggak tidur?” balas gue mencoba berbaik hati.

Namun ternyata sms gue ini nggak dibalas-balas hingga jam dinding menunjukkan pukul 3 pagi. Gue sengaja nggak tidur cuma buat nunggu balasan SMS dari dia, tapi ternyta dia nggak bales. Asem!! Gue dikerjain!! Gue serasa sedang ditertawakan oleh jam dinding mirip kaya lirik lagu Jambrud - Pelangi Di Matamu.

Sebelum tidur, gue sempatkan untuk mengubah nama contact anak ini sebagai rasa terimakasih. Gue belum tau namanya, gue belum tau jenis kelaminnya, gue juga belum tau siapa orangnya. Bisa jadi dia ini adalah orang yang gue kenal, atau mungkin juga tidak. Apa jangan-jangan ini Ikhsan? Ah sampe Tukang Haji Naik Bubur juga dia mah nggak akan pernah ngerjain PR.

Karena gue belum tau apa-apa tentang orang misterius ini, dengan isengnya gue mengubah namanya di HP dengan nama, “Matematika Buku Cetak Hal.17”

Sesuai dengan subject PR yang tadi gue kerjakan.

.

                                                         ===

.

Senin pagi ini diawali dengan kegiatan upacara bendera. Hal paling pertama yang terlihat paling kentara sering dilakukan oleh anak-anak sekolah adalah pergi bergerombol menuju koperasi sekolah. Tujuannya cuma satu, yatu beli Topi sama Double Tip buat nempelin badge nama di seragam mereka.

Oke, ternyata itu dua.

Ini nggak tau cuma di jaman gue sekolah aja atau emang sampe sekarang? Sebuah tradisi beli topi sekolah menjelang upacara bendera dan tragedi nempelin badge nama di seragam mereka yang polos. Tapi yang jelas gue juga waktu SMA melakukan hal yang sama sih.

Bahkan saking isengnya, gue nggak pake badge nama “Dimas” di seragam sekolah gue, tapi gue pake nama, “Asep Dragon”. Nama seorang tokoh panglima perang geng X*T*C di salah satu daerah di Bandung.

Memakai nama ini, gue serasa menjadi jagoan. Jalan petantang petenteng di kantin. Tapi ketika kena pemeriksaan sama guru piket, gue tetep manggut-manggut aja nurut ketika kena hukuman disuruh nyapu halaman sekolah sambil membaca ayat kursi.

Benar-benar hukuman yang baik. Solehah.
Mungkin lain kali gue nggak perlu umroh kalau gini terus caranya.

Pelajaran pertama hari ini adalah PPKN, sedangkan matematika adalah pelajaran kedua selama 2 jam 30 menit dan kena potong waktu istirahat jam 10 nanti.

Nggak seperti biasanya, pertama masuk kelas, gue langsung duduk leha-leha sambil selonjoran di bangku sekolah, sedangkan teman-teman gue yang lain sibuk dengan urusan contek-mencontek PR matematika.

Melihat hal ini, Ikhsan langsung nyamperin gue yang lagi sembunyi-sembunyi meperin upil di bawah meja belajar.

“Oi nyet, PR matematika udah lo?” Tanyanya menghampiri gue sambil membawa buku tulis yang ntah punya siapa.

“Emang ada PR ya?” Jawab gue pura-pura.

“Dih, nih anak udah jelek, begok lagi. Ya ada lah, lo pikir kita-kita pada sibuk nyontek ini buat apa? Bareng gue aja sini nyotek!” Sambungnya lagi seraya membuka buku tulis yang sudah berisi jawaban dari PR matematika.

“Aduh bro maaf. Nyontek itu haram, dalam agama kita, itu tidak diperbolehkan. Musyrik. Marakbal ente! Mudharat!” Jawab gue sambil benerin peci.

“LAGAK LO NYET!! KHATAM IQRO AJA BELON UDAH SOK-SOK NGOMONG AGAM…”

BLETAK!!

Belum selesai Ikhsan merampungkan kalimat sumpah serapahnya, mendadak ada sisir yang ntah dari mana datangnya menghajar kepala Ikhsan tanpa basa-basi.

Saking kerasnya bunyi sisir itu membentur kepala Ikhsan, gue juga jadi ikut terkejut. Peci yang gue pake sampe lepas. Di belakang Ikhsan gue liat sudah ada sosok yang tidak asing lagi. Itu Dian. Cewek yang memang terkenal karena mulut cerewetnya ini sedang berdiri di belakang Ikhsan sambil terus-terusan mengacungkan sisirnya.

“Seenaknya aja kamu ngambil buku matematika punya aku! Balikin!” Ucap Dian sembari mengancam akan melemparkan sisirnya lagi.

Melihat nyawanya terancam, Ikhsan langsung dengan sigap mengembalikan buku tulis yang dia ambil seenak jidatnya sendiri dan langsung berlindung di punggung gue sembari menutup kepalanya.

Hahahahaha nih anak emang tololnya udah taraf internasional. Ada buku PR matematika sengaja ditaruh di meja buat di kumpulin, lha nih anak main comot aja. Mana yang dia comot punyanya nenek lampir pula. Ya jelas lah dia kena batunya.

Gue cuma bisa ketawa ngakak melihat Ikhsan yang megangin kepalanya sambil terus mengerjakan PR matematika walau salah semua.

Bel pertama akhirnya berbunyi. Ini menandakan bahwa sekarang sudah memasuki waktu pelajaran matematika. Pak Tatang– Guru matematika– Akhirnya masuk ke kelas. Hal pertama yang Beliau minta untuk kita lakukan adalah mengumpulkan PR matematika.

Ikhsan yang sedari tadi dendam karena gue ketawain ketika kepalanya kena tabok sisir oleh Dian, mendadak melongo ketika dengan santainya gue maju ke depan untuk ngumpulin PR matematika.

Gue melirik ke arah Ikhsan dengan lirikan sorry-bro-gue-udah-bikin-dari-kemarin-malem-lo-mending-mati-aja-dimakan-cacing.

Melihat hal ini, Ikhsan cuma bisa menatap gue benci dengan sebuah tatapan dasar-tai-ayam-semoga-kalau-lo-mati-lo-renkarnasi-jadi-cakwe.

Sehabis anak-anak mengumpulkan semua PR yang mereka buat, mendadak pak Tatang dengan kejamnya langsung mengumumkan akan mengadakan ulangan dadakan. Padahal ini baru masuk minggu ke 2, tapi udah ulangan lagi. Gue heran apa yang ada di pikiran Beliau. Mungkin istrinya lagi PMS, makanya Beliau dengan seenaknya melampiaskan kekesalannya dengan mengadakan ulangan dadakan.

Dan yang lebih bajingannya lagi, tempat duduknya harus diacak. Gue dan Ikhsan harus terpisah jauh. Tapi nggak ada bedanya sih, mau duduknya deketan atau jauhan juga Ikhsan emang nggak bisa diharapkan kalau dalam situasi seperti ini. IQ-nya juga mungkin nggak lebih besar ketimbang IQ gorila berumur 5 bulan.

Untuk meminimaliskan kecurangan, pak Tatang mengharuskan setiap anak duduk bersama lawan jenisnya. Ini berarti gue harus duduk dengan anak perempuan. Setelah ditentukan, gue kedapatan duduk bersama seorang anak cewek tomboy dengan rambut yang nggak terlalu panjang tapi juga nggak terlalu pendek, rambutnya di iket kuncir kuda ke belakang. Namanya Hanifah, sering dipanggil Ipeh sama teman-temannya. Gue nggak terlalu tau kenapa doi bisa dipanggil Ipeh, tapi setahu gue karena jika dia dipanggil dengan panggilan "Ifah", rasa-rasanya itu sangat tidak cocok dengan kepribadiannya yang tomboy, maka teman-temannya memutuskan memanggil dia dengan panggilan "Ipeh" yang mana harusnya “Ifeh” tapi karena kita hidup di belantara sunda, huruf F berubah menjadi huruf P.

Ipeh; seorang gadis tomboy anak karate yang sudah berstatus sabuk biru. Kulitnya putih, pipinya sedikit mengembang. Rasa-rasanya kalau pertama ketemu Ipeh, kita semua pasti tidak menyangka bahwa dia anak tomboy lulusan eskul karate. Macem-macem sama dia sama aja seperti cari mati. Ah asem! Pas lagi keadaan genting kaya gini gue malah duduk disamping pegulat.

Naas amat nasib gue.

.

                                                                      ===

.

Soal ulangan matematika pun pada akhirnya dibagikan. Ada berita baik dan buruk mengenai soal ini setelah gue lihat. Berita baiknya adalah, semua soal satu kelas sama, tidak ada tipe A atau tipe B, sehingga gue bisa nyontek bebas ke siapa saja.

Sedangkan berita buruknya adalah, ulangan hari ini ternyata soalnya sama dengan soal yang ada di PR yang baru saja dikumpulkan tadi. SAOS TARTAR!! Walaupun gue ngerjain tuh PR sendirian tadi malam, tapi tetep aja gue dibantu sama si Matematika Buku Cetak Hal.17 kemarin!

“Bagi yang kemarin mengerjakan PR matematika sendiri pasti bisa mengerjakan ulangan hari ini dengan mudah.” Ucap pak Tatang sembari merapihkan rambutnya yang hanya tinggal beberapa helai itu.

Ketika yang lain sudah mulai mengerjakan, gue malah melongo doang. Gue pelan-pelan melihat ke seisi kelas, di sana tampak para anak-anak cewek bisa mengerjakan dengan lancar, sedangkan anak-anak cowok seperti Ikhsan, Nurhadi, gue, dan yang lainnya malah sedang melongo juga.

Gue yakin kalau gue bisa baca isi hati mereka, pasti banyak sumpah serapah yang beterbangan mengisi udara kelas siang hari ini ini. Dengan dilandasi rasa pasrah, gue memilih untuk mengerjakan semua soalnya seinget gue saja. Eh tapi tunggu-tunggu, kalau nggak salah di HP gue kan masih ada sms jawaban PR matematika yang kemarin.

“AH IYA GUE INGET!!!” Gue mendadak menggebrak meja.

Sontak semua pandangan orang terpaku ke arah gue. Pak Tatang yang sedang membaca koran di meja guru pun langsung melihat ke arah gue juga.

“Kenapa Dimas?” Tanyanya.

Ngg.. nggak pak.. ngg.. anu.. kelingking saya kebentur meja..” Jawab gue sekenanya.

Tak mau membuang banyak waktu, gue mencoba merogoh HP di saku celana gue. Gue raba-raba sebentar, mencoba mencari di mana keberadaan barang biadab itu di saat genting seperti ini.

ASTAGA!!!

Gue baru sadar. Pagi ini gue taruh HP gue di dalam tas dan dengan sialnya gue bukan duduk di meja gue. Ah pak Tatang tega amat sih, kenapa pake acara pindah tempat duduk segala :((
Gue membaca Al-Fatihah dalam hati meminta pertolongan jalan yang lurus kepada Tuhan semesta alam.

Pikiran gue terus berkutat bagaimana caranya agar gue bisa lolos pada ulangan pertama gue di masa SMA ini. Gue lihat dari jauh Ikhsan melancarkan serangan lirikan maut pada LJK (Lo Jomblo? Kasian..) teman di sebelahnya.

Gue lihat ke arah Nurhadi, doi sedang asik mengadakan transaksi jual beli jawaban dengan teman di sebrangnya. Dan gue? Gue serasa terasingi sendiri. Di belakang dan depan gue semuanya anak pinter. Yang tiap gue tendang pelan kursinya agar dia nengok, tapi malah pura-pura diem. Gue panggil namanya, mereka pura-pura budek.

Dasar!! Gini nih asemnya punya temen yang nggak mau dicontekkin, tiap ulangan pasti langsung menjadi keturunan Haji Bolot semua!!
BudeQ!

Gue bersandar di bangku kelas sambil terus memainkan pensil saking nggak bisa menjawab pertanyaan bajingan tentang Logaritma ini. Namun ternyata Tuhan baik. Ketika gue bersandar di tas orang, gue melihat di sana ada buku matematika tergeletak. Nggak mau melepaskan kesempatan yang sangat langka ini, dengan mode diam-diam gue ambil buku cetak itu dari dalam tas yang entah punya siapa dan menaruhnya di laci meja.

Gue inget di mana letak soal PR matematika di buku ini, pokoknya matematika buku cetak halaman 17. Dengan sigap gue langsung membuka halaman yang dimaksud. Dan ketika secara perlahan-lahan gue buka…

BONO-BONO…
PUCUK DICINTA ULAM PUN TIBA~

Ternyata ada isinya!!
HOREEEE!!!
Gue melakukan goyang Dumang saking senangnya di dalam hati.

Buset rajin amat nih orang yang punya buku. Pake ngerjain PR matematika di bukunya langsung. Bener-bener kelebihan yang percuma. Kepintaran yang sia-sia. Tapi nggak papa deh, toh karena hal ini gue juga jadi bisa nyontek..

Akhirnya semua kerja keras gue terbayar lunas. Sekarang gue cuma perlu sembunyi-sembunyi menyalin ulang segala jawaban yang ada di buku ini. Ini tidak terlalu sulit, karena gue rasa setiap anak SMA pasti mempunyai naluri nyontek terpendam dalam dirinya.

Gue sibuk sendiri terfokus sama jawaban yang ada di depan mata gue. Nggak peduli ada berapa banyak panggilan Ikhsan kepada gue dalam rangka meminta jawaban. Tapi setelah 5 menit, ternyata sulit juga ya. Berhubung gue sering main di warnet dan bercumbu dengan layar monitor, mata gue jadi nggak bisa terlalu jelas untuk melihat jauh. Mana tulisan nih orang kecil-kecil pula, buset, bahkan setelah mendapat kebahagiaan pun Tuhan tetap memberikan ujian. Gue serasa berjihad. Jihad nyontek.

Tanpa gue sadari, Hanifah atau Ipeh yang duduk di sebelah gue sedari tadi ini ternyata sedang menatap gelagat gue tanpa bergerak sedikitpun. Dia diam memperhatikan gue yang tengah sibuk membolak-balikkan lembar halaman buku cetak matematika.

Gue garuk-garuk kepala tanda kebingungan. Bahkan nyontek aja gue bingung. Bangsat! Begok amat gue kalau tentang matematika. Gue menunduk pelan-pelan untuk melihat lebih jelas, namun ketika pak Tatang bergerak dari tempat duduknya, gue langsung duduk sempurna lagi.

Astaga…
Ternyata nyontek sebuah jawaban yang ada di depan mata aja susah banget.
I Never been so wrong all my life..

.

Gue yang masih terduduk tegak ini perlahan tersadar kalau ternyata sedari tadi Ipeh sedang memandangi gue. Gue pun pelan-pelan menengok ke arah Ipeh. Mata kita saling berpandangan. Kita terdiam. Muka gue sedikit menjauh. Gue takut disikut sama jurus karatenya.

Ipeh diam. Ia kemudian menunjuk ke arah buku cetak matematika yang ada di bawah laci gue. Gue heran. Ipeh memandang gue sebentar. Secara pelan-pelan, Ipeh mulai berbisik,

“Itu kan buku aku.”  

Mendengar apa yang Ipeh ucapkan, gue mendadak terdiam.
Gue terdiam.
Masih terdiam.
Otak gue not responding.


HAH?! APA?!!
WHAT THE FAK?!

Astaga gue begok banget!!
Dengan sigap gue langsung melihat ke halaman pertama buku cetak ini. Dan ternyata benar, ada nama Hanifah tertulis jelas di buku itu.
Astagfirullah, gue baru sadar… Ya iya lah ini buku si Ipeh, wong gue yang pindah tempat duduk dan duduk di meja dia. Astaga kenapa nggak gue lihat nama orang yang punya buku ini dulu sebelum gue nyontek sih.

Gue kaget sekaligus ketakutan. Gue pasrah. Mau nanti dipiting sama Ipeh kek, disikut sama Ipeh kek, atau ditempeleng sama Ipeh juga gue udah rela. Gue mengakui ini adalah hari paling Tolol buat gue. Gue pasrah.. kancing baju gue udah terbuka 3.

.

                                                        ===

.

Apa yang lebih akward ketimbang ketawan nyontek sama guru killer? Ya, ketawan ngambil buku cetak matematika punya pegulat karate bersabuk biru.

Gue masih diam tak bersuara, kaku kaya mayat. Gue mendadak teringat apa yang terjadi terhadap kepala Ikhsan waktu mengambil buku tanpa seizin pemilikinya tadi. Ikhsan saja sampe kesakitan menutup kepalanya pas dikeplak pake sisir, dan itu pun baru dipukul sama tenaga cewek, lha ini kalau gue nanti dicolok pake pensil 2B sama ahli karate gimana cobak nasibnya? Bisa-bisa mata gue dijadiin cilok atau tasbih.

“Ngg.. eh Peh.. ngg.. anu.. maaf Peh, gue nggak tau.” Gue gemetaran berusaha menjelaskan dengan bisik-bisik.

“…” Ipeh hanya terdiam sambil terus ngeliatin. Gue makin keringat dingin.

“Gue balikin deh Peh bukunya. Maap ya maap. Hayati tidak bermaksud untuk lancang.” Gue pun mengembalikan buku Ipeh ke dalam tasnya.

Namun setelah gue mengembalikan buku tersebut, tiba-tiba Ipeh membalas perkataan gue.

“Bukannya kamu tadi ngumpulin PR ya? Soal ulangannya kan sama kaya soal PR?” Tanyanya.

“Eh iya Peh.. soal itu.. anu.. gue juga ngerjain PR-nya nyontek sih Peh, hehehe gue emang paling sulit nangkep kalau tentang pelajaran matematika.” Kata gue mencoba untuk jujur.

Ipeh melirik ke lembar pekerjaan gue. “Lha itu belom ngerjain soal satu pun? astaga… 10 menit lagi udah mau dikumpulin tuh. Gimana sih!” nada bicara Ipeh sedikit agak meninggi.

Mendengar jawaban Ipeh, gue takut. Badan gue mengigil. Gue berdoa dalam hati agar tidak di smack-down sama Ipeh. Gue melirik ke arah lengannya, gilaaaa berotot boo… Lengan gue sama lengan doi bedanya kaya Wortel sama Talas Bogor. Jauh banget. Lengan gue mah malah mirip sama lidi buat penunjuk ngaji.

“Maap peh maap…” Jawab gue meminta ampun.

Lha gue kenapa minta maaf ya? Perasaan kan gue nggak salah apa-apa? Yasalam, gini-gini amat hidup gue.

“Nih, daripada ribet ngeliat buku cetak punya gue, cepet salin. Jangan banyak lama!” Ipeh mendadak menyodorkan lembar jawabannya ke gue.

“Eh.. ini.. ini serius Peh?”

“Banyak lama ih, cepet keburu diliat pak Tatang. Salin aja cepet.”

“Si..SIAP TUAN PUTRI!!” Jawab gue sambil hormat bak tentara menerima perintah dari komandan.

Walau Ipeh itu tomboy, biar bagaimanapun dia tetap cewek. Tulisannya rapih dan besar-besar, beda sama yang dia tulis di buku cetak matematikanya. Membuat gue dengan mudah menyalin semua jawaban dia tanpa perlu memakan waktu yang lama.

10 menit kemudian, pak Tatang memerintahkan anak-anak untuk mengumpulkan semua lembar jawaban mereka. Akhirnya doa orang tertindas terkabul juga, gue ditolong oleh orang yang gue takutin sendiri. Hahahaha.

“Peh, makasih ya Peh, untung ada elo. Sumpah pinter lu Peh, kapan-kapan ajarin gue matematik yak..” Ucap gue sambil tersenyum menyerut pinsil 2B.

“Nanti pas matematik lagi, duduk di sebelah gue aja. Gue ajarin ntar.” Balasnya.

“Wuih, oke deeeh, btw sekali lagi thanks yaa.. gue hutang budi sama elo” Jawab gue sembari pergi kembali ke bangku gue yang pertama.

Ternyata Ipeh nggak segalak yang gue pikirkan, dia baik, orangnya juga menyenangkan untuk diajak ngobrol. Kalau boleh milih, gue lebih suka untuk temenan sama cewek tomboy ketimbang cewek biasa. Karena cewek tomboy itu asik buat diajak have fun. Mereka nggak harus jaim, dan nggak terlalu mentingin penampilan. Sama seperti jalan sama cewek, tapi jiwanya cowok.

Karena waktu pelajaran matematika harus terpotong Istirahat, maka pak Tatang memerintahkan anak-anak untuk keluar kelas. Sedangkan pak Tatang sendiri diam di kelas dan langsung memeriksa seluruh jawaban anak-anak.

Sepanjang perjalanan menuju kantin, gue terus-terusan meledek Ikhsan yang terlihat murung karena tidak bisa mengerjakan ulangan. Berulang kali Ikhsan menyalahkan gue yang nggak nengok waktu dipanggil-panggil sama dia tadi.

Sambil terus berdiskusi tentang ulangan barusan dan tentang cewek-cewek cantik yang hilir mudik di kantin, gue dan Ikhsan memesan 2 piring katsu kare sembari duduk di meja panjang.

Kebetulan kelas gue keluar sebelum bel istirahat, jadi gue nggak harus rebutan tempat untuk cuma makan di kantin doang. Perlahan-lahan setelah bel istirahat berbunyi, kantin mulai dibanjiri oleh anak-anak kelas 1-2-3. Ada yang beli baso tahu, bubur, sate, katsu, gorengan, nasi goreng, nasi uduk, jajanan ringan, tahu jablay, cilok, teh botol, dan masih banyak lagi.

Tak lama, pesanan katsu gue datang. Ikhsan yang sedari tadi terus ngebacot soal alasan-alasan kampret dia perihal tidak bisa mengerjakan soal ulangan tadi mendadak diam di hadapan katsu kare. Begitupun gue, gue lebih memilih menikmati makanan yang tengah ada di depan mata ketimbang ngeliatin cewek yang hilir mudik dan dengerin bacotan Ikhsan.

Belum juga setengah katsu kare gue habis disantap, mendadak pandangan gue teralihkan oleh dua orang yang baru saja datang dan duduk tepat di sebrang meja gue. Dua orang yang menganggu selera makan gue. Wulan, dan pacar barunya.

Gue senggol lengan Ikhsan dan memberikan kode untuk melihat siapa yang ada di depan kita. Melihat ada Wulan dan pacarnya di depan kita dan sedang mesra-mesraan, Ikhsan langsung memberhentikan kegiatan makannya.

“Mau cabut lo? Kalau mau, ayo gue temenin.” Ucapnya pelan sambil bersiap-siap berdiri.

“Kagak, buat apaan juga cabut. Diemin dah, makan lagi aja.”

“Oke deh.”

Ikhsan pun melanjutkan makan, sedangkan gue? gue masih sesekali memperhatikan ke arah Wulan yang mulai terasadar bahwa ada gue di depannya. Kita sempat bertemu tatap sekali, namun kita berdua langsung sama-sama mengalihkan pandangan.

Wulan terlihat gelisah, beberapa kali ia meminta pindah tempat duduk kepada pacarnya tapi tidak diizinkan. Mungkin karena saat itu di sana sedang banyak teman-teman senior juga, maka pacarnya lebih memilih untuk tetap duduk di sana.

Gue terus melihat ke arah wulan. Bahkan ketika makan pun gue tidak melihat ke arah piring, melainkan tetap mengunyah sembari terus memperhatikan Wulan. Ada perasaan canggung terlihat dari gelagat Wulan.

Namun, pelan-pelan ketika pacarnya tidak sadar, Wulan memandang gue. Tatapannya sendu. Ini adalah tatapan paling sendu dari seorang wanita yang pernah gue lihat. Tidak berair, namun terlihat sekali bahwa ada rona bersalah muncul pada tatapannya.

Tiba-tiba, gue sedikit terkejut ketika dari jauh, Wulan berbicara tanpa suara ke arah gue. Dari gerak bibirnya, gue tau Wulan sedang berkata apa.

“Maafin aku, Dimas.” Ucapnya berusaha menahan air mata.

Gue terdiam. Gue terpaku. Ada sebagian dari diri gue yang masih merasa kesal karena beberapa kejadian di masa lalu, namun ada juga sebagian dari diri gue yang sudah terlalu rindu untuk bisa berbicara bersama Wulan.

Mungkin ini adalah bagian dari melepaskan yang paling nggak gue suka. Di mana gue harus merasa ikhlas melepas di saat hati masih ingin menggenggam erat. Lantas siapa yang harus disalahkan? Keadaan? Dia? diri kita sendiri? Siapa?

Gue rasa menyalahkan orang lain hanyalah sebuah pelarian dari rasa bersalah terhadap diri sendiri. Tak ada gunanya menyimpan dendam, semakin kau simpan, semakin tak bisa lupa kau dengannya. Semakin ia bahagia, semakin kau nelangsa dibuatnya. Mungkin jauh dalam hatimu kau ingin dia bahagia, namun jauh dalam egomu, kau ingin dia bahagia bersamamu, bukan dengan orang lain.

Apakah jika gue dulu mempertahankan Wulan, lantas Wulan bisa bahagia sama gue? Dan apakah gue akan bahagia sama Wulan? Ntahlah, tidak ada yang tau. Mulai dari detik ini, tampaknya gue harus belajar untuk bisa melepaskan apa yang tak bisa gue genggam.

Ada yang tak mungkin gue dapatkan lagi sebesar apapun gue mencoba dan berusaha. Belajar melepaskan, adalah satu-satunya cara agar tidak merasa tertekan ketika kita tak sengaja berjumpa kelak.

Gue tersadar dari lamunan dan perlahan menatap Wulan yang masih terus-terusan menatap gue. Gue terdiam sebentar, lalu tersenyum tanpa berkata apa-apa.

“Ayo nyet, ke kelas.” Jawab gue sembari berdiri lalu pergi meninggalkan Wulan yang masih terpaku. Ikhsan pun hanya menurut, Ia berdiri lalu kemudian ikut pergi dan sesegera mungkin menyusul untuk bisa berjalan di samping gue.

“Kok lo pergi nyet?” Tanya Ikhsan sambil membuka botol minuman yang baru saja dia beli.

Mendengar pertanyaan Ikhsan, gue terus berjalan lurus. “Mungkin sekarang pergi jauh lebih baik ketimbang mati oleh perasaan yang gue buat sendiri.” Jawab gue tanpa menengok.

Mendengar hal ini, Ikhsan hanya terkekeh sembari terus meminum air mineral kemasan yang ia bawa.

.

.

.

.

Tak perlu gusar, kau tak perlu merasa bersalah. Kesalahanmu sudah aku maafkan jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan kebahagiaan kita pun sudah cukup aku lupakan.

                                                        Bersambung

doa untuk Satria-Citra

mutia prawitasari, kempi, langit, dan segenap ranger yang bertugas mengucapkan selamat berbunga-bunga kepada Kak Satria dan selamat deg-degan kepada Kak Citra. semoga midodareni-nya lancar. semoga besok (7 Mei 2016) akad nikah-nya lancar. semoga besok resepsi-nya lancar.

mari kita semua mengirimkan doa kepada keduanya. semoga kelak mereka dikumpulkan dalam kasih dan sayang Allah, menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. semoga kelak dari keduanya lahir keturunan yang sholeh sholehah.

Al Fathihah.

semoga yang ikut mendoakan mendapatkan pahala dari Allah dan terpantul untuk dirinya kebaikan yang didoakan. aamiiin ya Rabbal ‘alamiiin.

@satriamaulana
Bila semua kesengsaraan di dunia ini dikumpulkan apa itu sakit parah, kecelakaan, tangan putus, tsunami dan sebagainya tidak ada artinya jika dibandingkan kesengsaraan di akherat yang paling ringan sekalipun, bagai setitik air di lautan. Begitupun sebaliknya, jika semua kebahagiaan di dunia di kumpulkan tak ada artinya jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang ada di surga Allah
—  Ustaz Salman a.k.a Shakti Sheila On 7
Malu Sama Allah

Tidur kita terlalu panjang, terlalu nikmat. Tiada mau bangun malam, atau tiada memanjangkan malam.

Paginya kita jalani tanpa dhuha. Sekalinya dhuha, hanya syarat saja, 2 rakaat.

Kemudian kita diajak zakat dan sedekah, kita keluarkan sebatas yang menjadi syarat saja. Enggaan sepertinya mengeluarkan lebih buat Allah. Minimalis.

Kita jarang jamaah di masjid, yang karenanya suka hilang 4 macam shalat sunnah; shalat sunnah syukur wudhu, shalat sunnah tahiyyatul masjid, shalat sunnah qabliyah, dan shalat sunnah ba’diyah.

Rumah Allah itu masjid. Tapi kita seperti males bener masuk rumahnya Allah. Kalo giliran ke rumah orang penting, kita rela mencari tahu siapa yang bisa menjadi koneksi kita ke sana, dan kemudian rela menunggu berjam-jam hingga si orang penting ini keluar.

Tapi kalo ke rumah Allah? Udah suka pakai pakaian seadanya, juga lebih sering seperti orang buang hajat, kayak ga betah. Maunya buruburuuuuuu aja.

Hidup kita banyak sia-sianya. Padahal tahu bakalan mati, bakalan dihisab, bakalan ditanya, bakalan dikumpulkan di padang mahsyar, bakalan melewati titian jembatan shirothol mustaqim, bakal berhadapan dengan Allah Yang Maha Tahu. Atau tidak tau? Tapi masa iya?

Mungkin yang lebih tepat, tau, tapi ga mikirin kali. Masa engga tau bahwa yang hidup bakalan mati. Tapi oke lah, mungkin benar ga tau, mudah-mudahan sekarang jadi tau.

Repot bin susah jika hidup kita banyak sia-sianya, sedikit amal shalehnya, apalagi jika buanyaaak maksiatnya.

Maluuuuu sama yang sudah memberikan kita hidup dan kehidupan.

Kita tau kesehatan itu mahal. Untuk mencari kesembuhan kita ridho kehilangan semua harta kita, asal sehat, asal sembuh.

Sedangkan Allah adalah Tuhan yang menghidupkan kita, membuat kita lahir ke dunia ini, dan bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun sudah memberikan kita bukan hanya kesehatan, tapi juga rezeki yang lain.

Wajar kalau kemudian Allah SWT menyindir kita semua.

 وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmatAllah).”

(QS.Ibrahim: 34)

Ust. Yusuf Mansur