diin

menjadi muhsinin

Yang membuat diin ini hanya terasa seperti warisan adalah karena kita lupa bahwa salah satu kunci mendapatkan taufiq dari Allah adalah ilmu, kita tidak mengenal konsep taqlid jadi kita nggak nyadar bahwa kita selama ini cuma taqlid. Shalat karena orang tua kita shalat, zakat karena orang tua zakat. Kita mungkin luput dengan kewajiban kita untuk belajar tentang bagaimana islam yang sebenarnya.

Ustadz Hamid Fahmy Zarkasyi pernah berpesan bahwa seorang muslim harus meningkatkan keimanannya hingga tahap muhsinin. Bagaimana caranya? Ya dengan mengadopsi Al qur’an menjadi dasar berpikir kita. Pelan-pelan kita keluarkan ideologi-ideologi lain yang mendistorsi sudut pandang kita sebagai muslim. Saya lebih suka menamai ini dengan pembebasan. Futuh. Sebab nama “Futuh” itu semacam mengingatkan saya untuk tidak terjebak pada pendapat mainstream yang memaksa kita untuk tidak nyaman mengikatkan diri pada agama.

“Lo Fanatik, lo terdoktrin“

“Kalo gue dibilang terdoktrin sama Islam, gue bisa dong bilang kalo lo terdoktrin liberal? :p“

“Liberal itu bebas. Nggak terdoktrin. Dia kritis dan selalu berusaha mencari kebenaran“

“Gue udah ngerasa menemukan kebenaran dalam Islam. Jadi gue nggak perlu terpesona dengan faham-faham yang ada di luarnya“

“Fanatik“

“Lo juga fanatik“

“Lo Fasis“

“Lo juga fasis“

Kalo saya nggak inget tentang hadits yang melarang perdebatan, mungkin perdebatan ini bakal saya lanjut sampai temen saya capek. Tapi ngapain juga nurutin kekesalan.

Saya suka dengan analogi Thariq Ramadhan tentang kebebasan. Manusia terkadang merasa mendapatkan freedom yang sejati ketika mereka mengambil ideologi-ideologi di pinggir jalan. Lalu merasa terdoktrin ketika menganut agamanya.

Ini persis kayak kita pas di Supermarket. Kita ngelihat banyak barang yang tersusun rapi dan menarik. Lalu pihak supermarket mendesain musik, tata ruang, lighting dan semuanya dengan baik sehingga selera belanja kita meningkat tajam. Pada saat itu, kita ngerasa bebas memilih barang-barang yang ada di Supermarket. Bebas memuaskan nafsu belanja. Padahal, kita sebenernya sedang di bawah pengaruh trik promosi pihak supermarket. Kita aja yang nggak nyadar :p

Pun begitu dengan cara beragama. Kita merasa terbebas ketika disebut sebagai orang liberal yang tidak fanatik. Padahal sebenernya kita sudah sangat terdoktrin dengan liberalisme sehingga takut untuk beragama.

Berislam itu tidak cukup dengan sholat. Tapi juga terus menerus mengadopsi Al qur’an dalam pikiran kita hingga sampai pada tahap berprasangka pun, kita dipandu sama Al Qur’an.

Akhir-akhir ini ada banyak fenomena menarik di media. Ada dokter yang menolak riba, ada HTI yang terancam dibubarkan, intinya ada banyak sekali issue yang membuat kita kembali mengukur, sudah berapa jauh sih kita berislam? Sudah seberapa jauh sih kita mengamalkan baik sangka dan tabayyun pada saudara kita?

Sering sekali kita membaca ayat:

Sesungguhnya muslim itu bersaudara

tapi kita belum benar-benar mampu memperlakukan sesama muslim sebagai saudara. Termasuk saya ~XD

Pas pertama kali denger ada dokter yang menolak riba, saya langsung keceplos menulis: itu dokter nggak faham fiqih waqi’ dan bla bla bla. Saya beristighfar sama semuanya. Saya luput bertabayyun.

Bisa jadi itu dokter sebenarnya punya backup plan untuk pasien yang miskin ketika menolak bpjs. Ada banyak informasi yang perlu saya rangkai sebelum menyimpulkan sesuatu.

Saya nggak denial tentang keberadaan orang-orang yang belum dalam fiqih dakwahnya sehingga bisa jadi keinginannya untuk menyempurnakan ibadah justeru mendzolimi orang lain. Dan bisa jadi, saya termasuk ke golongan tersebut.

Tapi tetep, dalam setiap berita, yang kita dahulukan adalah prasangka baik tanpa mengurangi kewajiban untuk menasihati. 

Hari ini kita terjebak pada sistem ribawi yang kompleks, ummat Islam juga sedang tercerai berai. Tidak mudah bagi kita untuk memperbaiki sistem ini. Kita masih sama-sama meraba, mau mulai darimana.

Meskipun saya tidak menolak bpjs karena MUI sudah memberi fatwa halal, saya sangat menghargai semangat dokter tersebut untuk mensucikan harta beliau dari riba. Jangan pernah nyinyir pada niatan baik. Tabayyun boleh, tapi jangan nyinyir. Kita belum benar-benar tahu apakah ketidaksetujuan ini bersumber dari ketidakpahaman kita atau ketidak pahaman pihak lain?

Jika kita melihat sudut pandang yang lain, tindakan-tindakan yang dilakukan dokter ini adalah suara kegelisahan yang ketika merembet, bisa menjadi kekuatan sendiri. Kelas menengah muslim di Indonesia itu banyak. Bila kita berani bersuara, kita sebenarnya punya bargaining position yang bisa memaksa banyak orang untuk memperbaiki sistem. Lagi pula, kelas menengah muslim ini rata-rata berpendidikan baik, jadi sebenernya kita sangat punya kekuatan untuk melakukan perubahan. Meskipun jalannya masih panjang.

Tahun lalu, timeline saya diserbu kegalauan tentang hukum beasiswa LPDP. Meskipun saya ambil pendapat boleh ambil LPDP, saya tetap merasa perlu bagi generasi kita kelak untuk terus memperbaiki sistem pembiayaan pendidikan dan kesehatan kita. Agar sepenuhnya adil, baik dan tidak meresahkan.

Itulah salah satu makna muhsinin. Ketika kita dengan keislaman kita terus berikhtiar untuk mendalami Al qur’an dan sunnah serta memahami dan menyelesaikan permasalahan ummat dengan segala kompleksitasnya.

Tanpa semangat menjadi muhsinin, cara kita beragama akan kehilangan ruh. Kita selalu sholat, dalam sehari 17 kali memohon ditunjukkan jalan yang lurus. Tapi kita masih hilang arah karena kita tidak mengupgrade ilmu kita tentang agama. Kita bahkan takut terikat karena realita yang kita jalani hari ini mengajarkan demikian.

Dalam tafsir zhilal, ada definisi menarik dari sayyid qutub tentang jihad.

Jihad pada dasarnya bertujuan untuk membebaskan manusia dari kabut-kabut yang menutupi pandang. Agar mereka bebas mengenali kebenaran. Agar mereka bebas berjalan menuju Allah.

cambaganda  asked:

Hello po gusto ko lang itanong, ano pong maisa-suggest niyo na favorite niyong history books para sa mga interesadong ukilkilin ang kasaysayan? Salamat po!

Napapanahon ang tanong dahil ang Agosto ay Buwan ng Kasaysayan! Ito ang aking munting listahan. Sana ay makatulong! :)

Kung ikaw ay baguhan sa kasaysayan ng Pilipinas, iminumungkahi ko ang The History of the Filipino People ni Teodoro Agoncillo. Mababasa mo sa iisang librong ito ang kabuuang buod ng kasaysayan ng bansa pati na rin ang naratibong nagbibigay saysay sa mga pangyayari sa bawat yugto ng ating pagkabansa. Marami nga lang na mga historyador ang nagsasabing “outdated” na ang aklat na ito (sumasang ayon ako sa kanila), dahil marami na ring nagsilabasang mga librong sinama na ang mga kasalukuyang pag aaral. Ngunit ang akdang ito’y nananatiling “classic” sa kasaysayan dahil na rin siguro sa dali nitong basahin. Di ka magkakamali kay Agoncillo, na tinaguriang National Scientist at “pioneer” sa pag-aaral ng kasaysayan ng Pilipinas, kasama nina Nicolas Zafra, Encarnacion Alzona, Horacio de la Costa, at Gregorio Zaide. Ang aklat ring ito ay mabibili sa mga lokal na bookstores sa bansa.

Mayroon din namang mas maikling aklat na sumasaklaw sa buong kasaysayan ng Pilipinas. Para sa inip at nagmamadali, ang pocket book na A History of the Philippines ni Samuel K. Tan, dating tagapangulo ng National Historical Commission of the Philippines, ay para sa kanila.

Makakatulong rin ang Readings in Philippine History ni Horacio de la Costa. Tinipon ni de la Costa ang ilang mga saligang babasahin, mga primaryang batis (primary sources) na galing mismo sa iba’t ibang yugto ng kasaysayan ng Pilipinas, kasama ang kanyang sariling analysis at komentaryo. Ang mga komentaryo niya ay sumasalamin rin sa kanyang pananaw bilang isang Heswita, isa sa mga pananaw na bagamat hindi ako lubos na sang-ayon ay nagbibigay rin ng ibang anggulo sa pagtingin sa mga kaganapan ng nakaraan.

Para sa mas masinsing pag-aaral ng kasaysayan, ang 10-volume Kasaysayan: History of the Filipino People ay ang kaisa-isang “historical encyclopedia” tungkol sa Pilipinas. Ito’y inilathala ng Reader’s Digest sa pamamagitan ng Asia Publishing Company Ltd., at binubuo ng mga sanaysay at artikulo mula sa iba’t ibang mga kilala at mapagkakatiwalaang historyador sa bansa. Kasama na rin rito ang listahan ng mga pangkat etniko at iba’t ibang wika ng bansa. Dati, ito’y nagkakahalagang PhP 10,000.00 ngunit kamakailan, nagkaroon ng sale ang Fully Booked at mabibili na lamang ang buong bookset ng mga PhP 1,898.00 na lamang. Iyon nga lamang ay nagtatapos ang seryeng ito sa taong 1998, kung kailan ito ipinrinta at inilabas, sa sentenaryo ng proklamasyon ng kalayaan.

Sa mga talambuhay (biography) inirerekomenda ko ng walang humpay ang The First Filipino ni Leon Ma. Guerrero, isang kilalang embahador. Ika nga ni Guerrero, kung gusto mong malaman paano nagsimula ang pagkakakilanlan ng Pilipino, magsimula ka sa buhay ni Rizal, na siyang unang tumawag sa kanyang mga kababayan bilang “Filipino.” Groundbreaking rin ang akdang ito dahil si Guerrero ang tanging sumulat na si Rizal ang unang Protestante ng bansa, at dahil rito, hindi niya binawi ang kanyang isinulat (recant) bago siya pinatawan ng sentensyang kamatayan. Ang husay ng pagkakasulat nito kaya’t ‘di nakapagtatakang ito’y iginawad ng “First Prize” sa Rizal Biography Contest ng Jose Rizal National Centennial Commission noong 1961. 

Isa pang magandang talambuhay ang Mabini and the Philippine Revolution na inakda ni Cesar Adib Majul. Makikitang hindi basta bastang rebolusyonaryo si Mabini. Ginamit niya ang talino’t kaalaman bilang mambabatas para ipagtanggol ang Pilipinas habang ito’y nakikidigma sa mga Amerikano noong Philippine-American War. Ipinaliwanag ni Majul na si Mabini ang unang bumuo ng kaisipang pampulitikal at pilosopiya ng Unang Republika ng Pilipinas, na kaakibat ng kaunaunahang burukrasya ng unang pamahalaang pinamumunuan ng mga Pilipino.  

Kung ang interes mo naman ay ang Pilipinas bago dumating ang mga Kastila, isang librong di dapat palampasin ay ang Barangay: Sixteenth-Century Philippine Culture and History ni William Henry Scott. Ang may-akda ay isang Amerikanong antropologo at misyonero ng Simbahang Episkopalya na namalagi sa Sagada sa Hilagang Luzon. Siya rin ay kilalang historyador ng Prehispanic Philippines at kilalang nagpruwebang ang Code of Kalantiaw ay isang pekeng dokumento. Ang aklat na Barangay ay punung-puno ng ilustrasyon, mga pagsasalarawan ng pamumuhay ng mga Pilipino, at mga sinaunang kaugalian, kultura at pananalita, bago nanakop ang mga Kanluranin sa kapuluan. Lahat ito ay binase ng antropologo sa mga nahukay na artifacts, at mga nasulat ng mga unang Kastilang unang naka engkwentro ang Pilipino. Hinati ang libro sa kategorya ng Luzon, Visayas at Mindanao.

Sa isa namang bihirang pagsusuri sa kasaysayan ng Islam sa Pilipinas, iminumungkahi kong basahin ang Muslims in the Philippines ni Cesar Adib Majul. Kahit na mas sikat ang may-akda sa pagsulat ng talambuhay ni Mabini, sa tingin ko, ito ang kanyang obra, dahil sa akdang ito malalaman mula sa mga primaryang batis paano naitatag ang mga sinaunang sultanato sa Mindanao mga ilang siglo bago pa dumating ang mga Kastila. Si Majul ay isang Muslim, at bagamat ito ang kanyang bias, makikita ang kanyang masusing pagtingin bilang isang historyador na walang pinapanigan kundi ang mga primaryang batis na kinilatis niya kanyang kapanahunan. Ang aklat ay nagbibigay diin sa pananaw na ang Pilipinas ay binubuo ng iba’t ibang kultura, wika at relihiyon, na may kani-kaniyang kontekstong pangkasaysayan.

Siyempre, hindi sapat ang malaman lamang ang mga impormasyon tungkol sa kasaysayan. Mahalaga ang interpretasyon, at ito’y ibinibigay ni Nick Joaquin sa kanyang Culture and History. Si Joaquin ay tinaguriang National Artist for Literature, at bagamat hindi siya historyador kundi isang malikhaing manunulat, ang nasabing aklat ay mga tinipong mga sanaysay niyang inilabas noon sa pahayagan patungkol sa kasaysayan, kultura at pagkakakilanlan. Isa sa mga natatanging sanaysay na inirerekomenda ko sa librong ito (kahit hindi ako sang-ayon rito) ay ang “Heritage of Smallness.”

Isa pang minumungkahi ko ay ang aklat ni Floro Quibuyen na pinamagatang A Nation Aborted: Rizal, American Hegemony and Philippine Nationalism. Sa aklat na ito, pinatunayan ni Quibuyen na hindi totoong labag si Rizal sa himagsikan nuong panahon ng Rebolusyon. Sinuportahan pa nga niya ito. Hindi rin totoong ang aspirasyon ni Rizal ay para lamang sa Ilustrado at di pang-masa. Ang nasabing negatibong pagtingin kay Rizal ayon kay Quibuyen ay dulot ng mga maka-Kaliwang iskolar na di lubos na nauunawaan si Rizal. Bagamat nakakapagpabagabag, hindi ka magsisisi sa librong ito. Hinahamon nito ang mambabasa na huwag lamang tanggapin ang sinasabi ng nakararaming iskolar kundi suriin mismo at unawaain ang mga naisulat ni Rizal.

At dahil napapanahon ang “historical revisionism” sa bansa na kailangang sagupain ng bawat historyador, huli kong inirerekomenda ang Marcos Martial Law: Never Again ni Raissa Robles, isang kilala at ginagalang na peryodista at mamamahayag. Marami nang libro ang naisulat patungkol sa panahon ng Martial Law (1972-1986) ngunit ang librong ito na inilabas lamang ngayong taon, ay nagbibigay ng buod sa madilim na yugtong ito ng kasaysayan. Isinama ni Robles sa aklat ang mga litrato, artikulo ng panahon, editorial cartoons, mga datos at graphs, mga sariling kuwento ng mga biktima ng dahas ng militar, pati na rin ang mga organizational chart at chain of command ni Pangulong Ferdinand Marcos. Makikita ang malinaw na sistematikong pagkitil sa kalayaan at karapatang pantao ng mamamayan noon, habang patuloy na nasadlak ang bansa sa utang at kahirapan. Hindi ko pa ito tapos basahin ngunit ito’y magandang panimula sa mga librong pangkasaysayan patungkol sa rehimeng Marcos. Mabibili ang Student Edition ng nasabing aklat sa murang halaga na PhP 300.00 sa National Bookstore.

Sana’y nakatulong ito kahit sa maliit na paraan. Happy book hunting!


*All photos of book covers belong to their respective owners. 

Surat Al-Maidah [Bag.22/24]

Surat ke-35 dari Serial cuplikan “Khowatir Quraniyah: Kunci Memahami Tujuan Surat-surat Al-Quran”, karya Amru Khalid. InsyaAllah terbit setiap hari jam 8.30pm WIB. Surat lainnya bisa disimak di sini.


22. Tujuan Syariat Secara Umum

Mengingat surat Al-Maidah adalah surat yang menjelaskan halal dan haram dalam Islam, maka ini adalah satu-satunya surat yang memuat tujuan syariah yang lima, yaitu: 

  1. menjaga/memelihara agama (hifzhud diin),
  2. menjaga jiwa (hifzhun nafsi)
  3. menjaga akal (hifzhun ‘aqli)
  4. menjaga kehormatan (hifzhun ‘ardh), dan
  5. menjaga harta (hifzhul maal).

Dalam surat ini terdapat firman Allah yang menyatakan,

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” Al-Maidah: 50

Ayat tersebut hendak memberikan arahan bahwa syariat Allah merupakah syariat terbaik yang memberikan kemaslahatan bagi umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Hal tersebut dapat diketahui dari penjelasan berikut ini.

1. Menjaga/memelihara agama (hifzhud diin)

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya…” - Al-Maidah: 54. Hal yang pertama kali menjadi perhatian syariat adalah kewajiban memelihara agama dan meninggalkan kekufuran

2. Menjaga jiwa (hifzhun nafsi)

Allah berfirman, “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barang siap ayang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya…” - Al-Maidah: 32. Ayat tersebut sebagai dalil tentang haramnya membunuh.

3. Menjaga akal (hifzhun ‘aqli)

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah…” - Al-Maidah: 90. Tujuan dari pengharaman khamar adalah menjaga akal.

4. Menjaga kehormatan (hifzhul ‘ardh)

Allah berfirman, “Tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundak-gundik…” - Al-Maidah: 5. Ayat ini menjelaskan tentang larangan melakukan hubungan lawan jenis di luar penikahan.

5. Menjaga harga (hifzhul maal)

Allah berfirman, “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah…” - Al-Maidah: 38

Tujuan lima syariat dalam surat Al-Maidah ini untuk menegaskan bahwa semua perintah dan larangan yang harus ditunaikan adalah untuk memelihara kemaslahatan manusia.

>> Index pembahasan surat Al-Maidah <<


Serial lainnya:

gusto ko mag chill mag-isa. mag unwind ba. gusto ko lang lumayo muna sa mga tao sa paligid ko. gusto ko pumunta sa lugar na hindi sisitahin o mamatahin ang ginagawa ko. yung ngayon kasi feeling ko laging may nakabantay sa ginagawa ko. ayoko ng ganun. sobrang toxic ng life sken ngayon. pati ng mga tao na nakapaligid sken. bakit kaya ganun. tapos talagang focus “ata” ako sa pag-aaral ngayon. wala na lang sakin kung ginago ko nung last na kaano ko. naging mas motivated pa ata ko mag-aral. sana mamaintain ko yung scholarship ko. isama niyo ko sa prayers niyo hehe gusto ko rin sana pumunta ng tsamu kaso ayun nga tinatamad din ako. pero gusto ko makita talaga mga dabest na people kaya bahala na. pero salamat sa pagbabasa hehe hi diin pala

Para sa huling inalayan ko ng pag-ibig,

​Mahal, naaalala mo pa ba noong tayo pa,

hawak-hawak mo ang aking kamay habang

tayo'y naglalakad sa ilalim ng araw.

Hawak mo ito ng may diin na tila ba isang batang

ingat na ingat sa pagkapit sa lubid ng lobo.

Siguro hindi mo nakita ang aking mukha nang ito'y bigla mong binitawan,

Hindi mo nakita ang pinaghalong gulat at sakit dahil

Sinusian mo ang posas sa ating mga kamay,

“Pasensiya na…”

Yan ang unang dalawang salita na lumabas mula sa iyong bibig at

Hindi ko na naintindihan ang mga sumunod pa. 

Naging malabo bigla ang lahat,

Nabibingi ako sa mga boses na sumisigaw mula sa aking puso

Nanlalamig ang mga kamay, hindi ko na talaga alam dahil pagtingin ko sa'yo

Isang nakakasilaw na ngiti ang iyong ibinigay.

Mahal, masaya ka ba na binitawan mo na ang aking kamay?

Masaya ka ba na sa wakas makakalaya ka na mula sa isang babaeng katulad ko?

Pero bumuka ulit ang iyong bibig at sinabi mo sa akin,

“Pasensiya na, pasmado eh.” 

Hindi ko alam kung matutuwa ba ako o maiinis sa sinabi mo pero nakahinga ako ng maluwag dahil

hindi mo ako bibitawan.

Yun ang akala ko.

Sana pala tinawanan ko na lang ang iyong sinabi.

Hindi ko naman kasi alam na, yun na pala ang huling beses tayong magiging masaya o kaya'y

Nainis na lang sana ako dahil alam ko,

Alam ko at alam mo na isa lang ang gusto ko,

Ang suyuin mo'ko. 

Pero, wala dahil kinagabihan, kung kailan tulog na ang lahat at tanging ang mga bar ang nagiingay,

Sumuko ka na. 

Sumuko ka noong  ako'y kumurap.

Sumuko ka noong ako'y humugot ng hininga.

Sumuko ka noong ako'y yumuko para tingnan ang oras at pagtingin ko sa relo, sira na ito.

Tumigil na ang pagikot ng mga kamay.

Hindi na uusad pa tulad ng ating relasyong wala ng patutunguhan pa. 
Mahal, mahal, mahal.

Bakit nga ba tinatawag pa rin kitang mahal? 

Uulitin ko, ikaw. 

Oo, ikaw na huli kong inalayan ng pag-ibig,

Salamat.

Salamat dahil ipinaramdam mo saakin kung ano nga ba ang pag-ibig.

Salamat dahil ikaw ang nagsilbing salamin sa ating relasyon. 

Nakita ko kung paano ako magmahal, nakita ko kung ano ang mali sa akin kaya mo ako iniwan.

Siguro, dito na papasok ang gasgas na linyang “It’s not you, it’s me.”

Dahil ako naman talaga ang nagkulang simula pa lang. 

Salamat dahil nakita ko ang sarili kong hindi buo, ang sarili kong mayroong mga sugat at pasa na ako lamang ang gumawa.

Salamat dahil kung hindi dahil sayo, hindi ko makikitang paubos na ang pagmamahal ko sa aking sarili.

Salamat dahil tinuruan mo akong ayusin ang relong nasira gamit ang aking sariling kamay.

Umaandar na muli siya ngayon, umiikot, patuloy ang takbo ng buhay.
Para sa huling inalayan ko ng pag-ibig,

hindi ako hihingi ng patawad dahil 

Sabay nating inalam ang tama at mali sa relasyon natin noon. 

Matalino ka lang kaya naunahan mo ako.

Pero, ito na ang huli.

Sana hindi mo makalimutan ang pag-ibig na aking inalay. 

Salamat.

Saya menjumpai bahwa orang yang paling menderita adalah mereka yang ditimpa penyakit dengki. Dan yang paling tenang kehidupannya adalah mereka yang dianugerahi sifat qonaah.
—  Ihya ‘Ullum ad-Diin
7

The Clexa Notebook

It was a nice and warm night. Perfect to pass the evening at the amusement park installed in the city. Lots of people around, mostly young guys enjoying their vacations far from the big cities. Two girls were playing with one of the attractions, showing their strength to the others in line. “Diin” “And this one goes to the hight cheeks beauty” the old man gives her a rabbit peluche she won. “Congratulations Anya!” the youngest of the duo tells her mocking her “Shut up Lexa! I was totally going to make the highest point” “Well at least you have something sweet to give to your … mmm special new bff!” Anya pushes Lexa aside bumping her shoulder walking straight to the “bumping cars” attraction “Idiot!” They watch the people having fun on their little cars bumping on each other when Lexa stops and stares at one girl in particular. She has hairs kissed by the sun and deep blue eyes and her laugh is the most magical sound that Lexa has ever heard in her life. “Who is this girl with Reven?” “Her name is Clarke Griffin. She is here for the summer with her family. Her dad has got more money than God!”. Lexa stares at the girl with interest as Anya informs her. “Hey Anya did you kick their asses?” a latina girl screams from the ring “Yes Reven! And I got a present for you!” Lexa turns to her friend “ You are so whipped!” “Just shut up!”. Clarke moves from the bumping car ring arm in arm with her friend. When suddenly is her walking is stopped by a girl, dressed mostly with clothes larger than her body. She can see that she is thin but well built with the muscles showing under the shirt and she is taller about few inches than her. After checking her body she lift her head up to her face, meeting the most beautiful green she has ever seen ,while her lips are full and pink. On the stranger face a smirk that Clarke is ready to take off before she is asked a question “ Wanna dance with me?” Clarke thinks about it for second “No” the brunette seems to think deeply about the straight answer “Why not?” “Because I don’t want to!”. Few chuckles are heard around them and a guy approaches Clarke “Hey Clarke! Wanna go to take a ride first on the ferry wheels?” Clarke looks at the guy and then at the brunette “I ‘d love to” she answers smiling and still looking at the stranger and then moves to sit on the ferrying wheels waiting to start the ride. The brunette still has eyes on her even if she has company. Their eyes meet again and this time the beautiful stranger has a smile on her lips. Lexa watches the scene from a far and see the ride moving up. “It’s now or never” she thinks to herself; so she takes few steps and jumps on the same seat as Clarke sitting between the blonde and the guy with her “Hey! What are you doing?” the mustached man looks at her with open and wide eyes. Screams are heard from the bottom of the wheel “You can’t stay there Lexa!” “I know Lincoln! I will try to make it quick!”. She turns around to face Clarke and lift her hand towards her “I’m Lexa Woods ” “So?” “So, it’s nice to meet you” “Clarke, who is this girl?” Clarke moves a bit forward to look at her wheel partner “I don’t know her!” “I would like to take you out” the brunette keeps looking in those beautiful blue eyes totally ignoring the guy talking to her “Friend do you mind?”. The wheels stops suddenly and Lincoln catches Lexa’s attention again “You need to get down Lexa!” “Okey Lincoln!” .The girl starts to move and jumps on the rail in front of Clarke’s seat to then turn around and face her. “Will you go out with me?” “What? No!” “No?” “No!” Clarke answers scared of the girl’s actions and reaction “C’mon ,get that she just told you?” The guys tries to convince her, but Lexa keeps pushing “Why not?” “I don’t know because I don’t want to!?” Clarke can believe that this girl is seriously doing this “Well, you don’t leave me other choices”. One of Lexa’s hand slips from the rail making Clarke scream in fear “No!” she can see that the brunette has hard time to keep her hold on the rail “I’m gonna ask you one more time. Will you go out with me? God I think that that damn hand is slipping” Lexa makes a contracted expression on her face. “Lexa ,get down or you will hurt yourself!” Anya scream comes from a few seats down with Reven with her. “I wont untill she agrees!” Her breath is getting heavier from the fatigue. “Oh c’mon Griff go out with her, honey!” Reven joins the group. “Okey. Okey I will go out with you” “ Oh don’t do me any favors ” Lexa tells her not looking for pity “No,No. I want to” the guy next to Clarke looks at her speechless “You want it?” “Yes!” Clarke answers him exasperated. Lexa catches her attention again “Say it” “I want to go out with you” “Say it again” “I want to go out with you!” Clarke screams looking at her. Lexa shows her smirk again and lift the dropped hand to the rail again “Alright, alright. We will go out” “Lexa it’s no fun you idiot!” Clarke can hear Reven say from down “Oh no it’s fine Reven. I can take care of this!” She looks up at Lexa and an evil smile is on her lips ,while her hands go down the brunette body to unbutton her pants “What are you doing? Don’t do that! Oh God ,she did it..” Lexa is only in her boxers while Clarke is grinning to herself “You are not so cocky now, are you?”

@eliza-taylor-cotter@clexa-fan-art @clexa-pick-up-lines@alyciajasminkru @alyciadubnamcarey@alyciadebnam@elizaj-taylor @clexa-fanart

🌷Persiapan Pernikahan🌼

🌸Menikah adalah ibadah yang semestinya dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Nah apa saja yang perlu dipersiapkan dalam pernikahan? Berikut ulasannya:

1⃣Persiapan Ruhiyah
Ini meliputi kesiapan untuk mengubah sikap mental menjadi lebih bertanggung jawab, sedia berbagi, meluntur ego, dan berlapang dada. Ada penekanan juga untuk siap menggunakan dua hal dalam hidup yang nyata, yakni sabar dan syukur. Ada kesiapan untuk tunduk dan menerima segala ketentuan Allah yang mengatur hidup kita seutuhnya, lebih-lebih dalam rumah tangga.

2⃣ Persiapan ‘Ilmiyah-Fikriyah (ilmu intelektual)
Bersiaplah menata rumah tangga dengan pengetahuan, ilmu, dan pemahaman. Ada ilmu tentang ad-Diin. Ada ilmu tentang berkomunikasi yang makruf kepada pasangan. Ada ilmu untuk menjadi orangtua yang baik (parenting). Ada ilmu tentang penataan ekonomi. Dan banyak ilmu yang lain.

3⃣ Persiapan Jasadiyah (Fisik)
Jika memiliki penyakit-penyakit, apalagi berkaitan dengan kesehatan reproduksi, harus diikhtiarkan penyembuhannya. Perhatikan kesehatan, kebersihan, makanan. Makanan harus halal dan toyib.

4⃣ Persiapan Maadiyah (Material)
Adanya komitmen untuk segera mandiri.

5⃣ Persiapan Ijtima'iyyah (Sosial)
Siap bermasyarakat, paham bagaimana bertetangga, mengerti bagaimana bersosialisasi dan mengambil peran di tengah masyarakat. Juga tak kalah penting, memiliki visi dan misi dakwah di lingkungannya.

☘Semua adalah persiapan. Artinya sauatu yang kita kerjakan dalam proses yang tak berhenti. Seberapa banyak dari persiapan di atas yang harus dicapai sebelum menikah? Ukurannya menjadi sangat relatif. Bahkan, proses persiapan hakikatnya adalah juga proses perbaikan diri yang kita lakukan sepanjang waktu. Setelah menikah pun, kita tetap harus terus mengasah apa-apa yang kita sebut sebagai persiapan menikah itu. (tw)

📚Sumber: Baarakallahu Laka Bahagianya Merayakan Cinta

🌷🌷SUPERMOM’s NOTE🌷🌷
Edisi #marriedbydesign 14 April 2016

🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥
💌Email: supermom.wannabe1(at)gmail(dot)com
💌 Fanpage FB: Supermom Wannabe
💌 Twitter & Instagram: @supermom_w
💌 Tumblr: supermomwannabee(dot)tumblr(dot)com

🌸🌸🌸🍀🍀🍀🍀🌸🌸🌸

u know how universal did a thing and made a huge big park for harry potter and they had the school and the wand shops and everything
what if something like that was made for skyrim

imagine a whiterun and a riften and a solitude and a riverwood and you could buy stuff from the shopkeepers who dress as the respective shopkeepers

you would sleep and eat at the different inns like the bannered mare and the bunkhouse, it would only cost $10 for a room since in game it’s only 10 septims, and they’d sell real life sweet rolls and eidar cheese and grilles leeks and charred skeever hide (which would probably be some kind of fish or beef irl)

you could buy props like fake steel swords and hide shields and fake armor or jewelry from the blacksmiths

there could be little tombs and people dressed as draugrs in there and they’d hide something in the tombs, and at different points of the day they’d give different quests where you go get one of the hidden things while avoiding the draugr actors and bring the thing back to an actor and they would give you like $5 or a free sweet roll

animatronic dragons that yell yol toor shul or fo krah diin and fire or snow from a snow machine comes out, and would speak in dovah via an actor inside with with a microphone and Very Big Speakers

plays that are about forsworn attacks, bandit raids, the civil war

people that walk around and randomly ask you about which side youre on - stormcloaks or the empire, and if you side with the one they don’t like they’ll sneer at you every time you pass them for the rest of the day

carriage rides to the different hold capitals, sometimes bandit attacks would be scheduled and if you were on the carriage at that time bandit actors would seize the carriage and you’d have to walk

khajiit caravans that sell skooma that’s actually just an energy drink shot

skyrim

skyrim

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi.." | Oleh Ustadz @salimafillah

Tapi sungguh orang yang jauh lebih mulia daripada kita semua, Abu Bakr Ash Shiddiq, pernah mengatakan, “Saya telah dipilih untuk memimpin kalian, padahal saya bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Dan kalau anda sekalian melihat saya salah, maka luruskanlah.”

Maka yang kami harapkan pertama kali dari Anda, Pak Prabowo, adalah sebuah kesadaran bahwa Anda bukan pahlawan tunggal dalam masa depan negeri ini. Barangkali memang pendukung Anda ada yang menganggap Andalah orang terbaik. Tetapi sebagian yang lain hanya menganggap Anda adalah sosok yang sedang tepat untuk saat ini. Sebagian yang lainnya lagi menganggap Anda adalah “yang lebih ringan di antara dua madharat”.

Tentu saja, mereka yang tidak memiliih Anda menganggap Anda bukan yang terbaik, tidak tepat, dan juga berbahaya.

Dan jika Anda, Pak Prabowo, nantinya terpilih menjadi Presiden, maka mereka semua akan menjadi rakyat yang dibebankan kepada pundak Anda tanggungjawabnya di hadapan Allah. Maka kami berbahagia ketika Anda berulang kali berkata di berbagai kesempatan, “Jangan mau dipecah belah. Jangan mau saling membenci. Kalau orang lain menghina kita, kita serahkan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan Maha Besar.”

Dan Anda juga harus menyadari bahwa barangsiapa merasa jumawa dengan kekuasaan, maka beban kepemimpinan itu akan Allah pikulkan sepelik-peliknya di dunia, dan tanggungjawabnya akan Dia jadikan penyesalan serta siksa di akhirat. Adapun pemimpin yang takut kepada Allah, maka Dia jadikan manusia taat kepadanya, dan Dia menolong pemimpin itu dalam mengemban amanahnya.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi sungguh orang yang jauh lebih perkasa daripada kita semua, ‘Umar ibn Al Khaththab, pernah mengatakan, “Seandainya tidaklah didorong oleh harapan bahwa saya akan menjadi orang yang terbaik di antara kalian dalam memimpin kalian, orang yang terkuat bagi kalian dalam melayani keperluan-keperluan kalian, dan orang yang paling teguh mengurusi urusan-urusan kalian, tidaklah saya sudi menerima jabatan ini. Sungguh berat bagi Umar, menunggu datangnya saat perhitungan.”

Maka yang kami harapkan berikutnya dari Anda, Pak Prabowo, adalah sebuah cita-cita yang menyala untuk menjadi pelayan bagi rakyat Indonesia. Sebuah tekad besar, yang memang selama ini sudah kami lihat dari kata-kata Anda. Dan sungguh, kami berharap, ia diikuti kegentaran dalam hati, seperti ‘Umar, tentang beratnya tanggungjawab kelak ketika seperempat milyar manusia Indonesia ini berdiri di hadapan pengadilan Allah untuk menjadi penggugat dan Anda adalah terdakwa tunggal bila tidak amanah, sedangkan entah ada atau tidak yang sudi jadi pembela.

Pak Prabowo, jangankan yang tak mendukung Anda, di antara pemilih Andapun ada yang masih meragukan Anda karena catatan masa lalu. Saya hendak membesarkan hati Anda, bahwa ‘Umar pun pernah diragukan oleh para tokoh sahabat ketika dinominasikan oleh Abu Bakr sebab dia dianggap keras, kasar, dan menakutkan. Tapi Anda bukan ‘Umar. Usaha Anda untuk meyakinkan kami bahwa kelak ketika terpilih akan berlaku penuh kasih kepada yang Anda pimpin harus lebih keras daripada ‘Umar.

Pak Prabowo, kami memilih Anda karena kami tahu, seseorang tak selalu bisa dinilai dari rekam jejaknya. ‘Umar yang dahulu ingin membunuh Nabi, kini berbaring mesra di sampingnya. Khalid yang dahulu panglima kebatilan, belakangan dijuluki ‘Pedang Allah’. Tapi Anda bukan ‘Umar. Tapi Anda bukan Khalid. Usaha Anda untuk berubah terus menjadi insan yang lebih baik daripada masa lalu Anda akan terus kami tuntut dan nantikan. Ya, maaf dan dukungan justru dari orang-orang yang diisukan pernah Anda ‘culik’ menjadi modal awal kepercayaan kami kepada Anda.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang jauh lebih dermawan daripada kita semua, ‘Utsman ibn ‘Affan, pernah mengatakan, “Ketahuilah bahwa kalian berhak menuntut aku mengenai tiga hal, selain kitab Allah dan Sunnah Nabi; yaitu agar aku mengikuti apa yang telah dilakukan oleh para pemimpin sebelumku dalam hal-hal yang telah kalian sepakati sebagai kebaikan, membuat kebiasaan baru yang lebih baik lagi layak bagi ahli kebajikan, dan mencegah diriku bertindak atas kalian, kecuali dalam hal-hal yang kalian sendiri menyebabkannya.”

Ummat Islam amat besar pengorbanannya dalam perjuangan kemerdekaan negeri ini. Pun demikian, sejarah juga menyaksikan mereka banyak mengalah dalam soal-soal asasi kenegaraan Indonesia. Cita-cita untuk mengamalkan agama dalam hidup berbangsa rasanya masih jauh dari terwujud.

Tetapi para bapak bangsa, telah menitipkan amanah Maqashid Asy Syari’ah (tujuan diturunkannya syari’at) yang paling pokok untuk menjadi dasar negara ini. Lima hal itu; pertama adalah Hifzhud Diin (Menjaga Agama) yang disederhanakan dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua Hifzhun Nafs (Menjaga Jiwa) yang diejawantahkan dalam sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Ketiga Hifzhun Nasl (Menjaga Kelangsungan) yang diringkas dalam sila Persatuan Indonesia. Keempat Hifzhul ‘Aql (Menjaga Akal) yang diwujudkan dalam sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Dan kelima, Hifzhul Maal (Menjaga Kekayaan) yang diterjemahkan dalam sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pak Prabowo, kami memilih Anda sebab kami berharap Anda akan melaksanakan setidak-tidaknya kelima hal tersebut; menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga kelangsungan, menjaga akal, dan menjaga kekayaan; dengan segala perwujudannya dalam kemaslahatan bagi rakyat Indonesia. Kami memilih Anda ketika di seberang sana, ada wacana semisal menghapus kolom agama di KTP, melarang perda syari’ah, mengesahkan perkawinan sejenis, mencabut tata izin pendirian rumah ibadah, pengalaman masa lalu penjualan asset-aset bangsa, lisan-lisan yang belepotan pelecehan kepada agama Allah, hingga purna-prajurit yang tangannya berlumuran darah ummat.

Pak Prabowo, seperti ‘Utsman, jadilah pemimpin pelaksana ungkapan yang amat dikenal di kalangan Nahdlatul ‘Ulama, “Al Muhafazhatu ‘Alal Qadimish Shalih, wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah.. Memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang lebih zuhud daripada kita semua, ‘Ali ibn Abi Thalib, pernah mengatakan, “Barangsiapa mengangkat dirinya sebagai pemimpin, hendaknya dia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya sendiri dengan cara memperbaiki tingkah lakunya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lisannya. Orang yang menjadi pendidik bagi dirinya sendiri lebih patut dihormati ketimbang yang mengajari orang lain.”

Pak Prabowo, hal yang paling hilang dari bangsa ini selama beberapa dasawarsa yang kita lalui adalah keteladanan para pemimpin. Kami semua rindu pada perilaku-perilaku luhur terpuji yang mengiringi tingginya kedudukan. Kami tahu setiap manusia punya keterbatasan, pun juga Anda Pak. Tapi percayalah, satu tindakan adil seorang pemimpin bisa memberi rasa aman pada berjuta hati, satu ucapan jujur seorang pemimpin bisa memberi ketenangan pada berjuta jiwa, satu gaya hidup sederhana seorang pemimpin bisa menggerakkan berjuta manusia.

Pak Prabowo, kami memilih Anda sebab kami tahu, kendali sebuah bangsa takkan dapat dihela oleh satu sosok saja. Maka kami menyeksamai sesiapa yang ada bersama Anda. Lihatlah betapa banyak ‘Ulama yang tegak mendukung dan tunduk mendoakan Anda. Balaslah dengan penghormatan pada ilmu dan nasehat mereka. Lihatlah betapa banyak kaum cendikia yang berdiri memilih Anda, tanpa bayaran teguh membela. Lihatlah kaum muda, bahkan para mahasiswa.

Didiklah diri Anda, belajarlah dari mereka; hingga Anda kelak menjelma apa yang disampaikan Nabi, “Sebaik-baik pemimpin adalah yang kalian mencintainya dan dia mencintai kalian. Yang kalian doakan dan dia mendoakan kalian.”

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi orang yang lebih adil daripada kita semua, ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, pernah mengatakan, “Saudara-saudara, barangsiapa menyertai kami maka silahkan menyertai kami dengan lima syarat, jika tidak maka silahkan meninggalkan kami; yakni, menyampaikan kepada kami keperluan orang-orang yang tidak dapat menyampaikannya, membantu kami atas kebaikan dengan upayanya, menunjuki kami dari kebaikan kepada apa yang kami tidak dapat menuju kepadanya, dan jangan menggunjingkan rakyat di hadapan kami, serta jangan membuat-buat hal yang tidak berguna.”

Sungguh karena pidato pertamanya ini para penyair pemuja dan pejabat penjilat menghilang dari sisi ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, lalu tinggallah bersamanya para ‘ulama, cendikia, dan para zuhud. Bersama merekalah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz mewujudkan pemerintahan yang keadilannya dirasakan di segala penjuru, sampai serigalapun enggal memangsa domba. Pak Prabowo, sekali lagi, kami memilih Anda bukan semata karena diri pribadi Anda. Maka pilihlah untuk membantu urusan Anda nanti, orang-orang yang akan meringankan hisab Anda di akhirat.

Pak Prabowo, kami memilih Anda, tapi..

Tapi kalaupun Anda tidak terpilih, kami yakin, pengabdian tak memerlukan jabatan. Tetaplah bekerja untuk Indonesia dengan segala yang Anda bisa, sejauh yang Anda mampu.

Sungguh Anda terpilih ataupun tidak, kami sama was-wasnya. Bahkan mungkin, rasa-rasanya, lebih was-was jika Anda terpilih. Kami tidak tahu hal yang gaib. Kami tidak tahu yang disembunyikan oleh hati. Kami tidak tahu masa depan. Kami hanya memilih Anda berdasarkan pandangan lahiriyah yang sering tertipu, disertai istikharah kami yang sepertinya kurang bermutu.

Mungkin jika Anda terpilih nanti, urusan kami tak selesai sampai di situ. Bahkan kami juga akan makin sibuk. Sibuk mendoakan Anda. Sibuk mengingatkan Anda tentang janji Anda. Sibuk memberi masukan demi kemaslahatan. Sibuk meluruskan Anda jika bengkok. Sibuk menuntut Anda jika berkelit.

Inilah kami. Kami memilih Anda Pak Prabowo, tapi..

Tapi sebagai penutup tulisan ini, mari mengenang ketika Khalifah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz meminta nasehat kepada Imam Hasan Al Bashri terkait amanah yang baru diembannya. Maka Sang Imam menulis sebuah surat ringkas. Pesan yang disampaikannya, ingin juga kami sampaikan pada Anda, Pak Prabowo. Bunyi nasehat itu adalah, “Amma bakdu. Durhakailah hawa nafsumu! Wassalam.”

doa kami,

hamba Allah yang tertawan dosanya, warga negara Republik Indonesia

Salim A. Fillah

:’)

“..Kami memilih Anda ketika di seberang sana, ada wacana semisal menghapus kolom agama di KTP, melarang perda syari’ah, mengesahkan perkawinan sejenis, mencabut tata izin pendirian rumah ibadah, pengalaman masa lalu penjualan asset-aset bangsa, lisan-lisan yang belepotan pelecehan kepada agama Allah, hingga purna-prajurit yang tangannya berlumuran darah ummat…”

“..Lihatlah betapa banyak ‘Ulama yang tegak mendukung dan tunduk mendoakan Anda. Balaslah dengan penghormatan pada ilmu dan nasehat mereka. Lihatlah betapa banyak kaum cendikia yang berdiri memilih Anda, tanpa bayaran teguh membela. Lihatlah kaum muda, bahkan para mahasiswa..”

Bismillah. Semoga hasil yang terbaik bagi Umat Islam dan Indonesia. :) #1

legendofkarleigh  asked:

I need more Mianite blogs in my life... do have have any that you could recommend?

alright, let’s do this

motiah makes neat edits and is very sweet

little-ianita one of my favorite blogs; they make adorable art

syndicategif; name says it all

-captainsparklez; makes jordan gifs

jordansperm and jordansballs; two tiny nuggets who make great wonders with photoshop and i love very dearly

arhavis if you’re not following her yet i mean idk what you’re doing tbh

tom-cassell; writes great fanfics (also known as insidicate)

infinityfangirl; does magical fanart and is a really nice person

mianitefa & officialmianite; blogs with 100% mianite that i like to stalk every now and then (first one if for fanart, the 2nd is for pretty much everything)

purplehairtom; doesn’t reblog/post all that much mianite anymore, but is a great nerd and a fish fucker

aside from these specific people, there are plenty of other great blogs. here are some of my favorites:

mayor-of-luckville / dia-mot / fucking-merome / livinginafairytaleofsparklez / dashboardofficial / captaincrafted / be-my-biggums / syndico / rangas-love-youtube / sparkleychaos / jardonstaintacle / jordanmoron / daddymot / captainsparklez / captain-glitter-lap / bluebansheebitch / twinklethighs / ababblingcat / tuckerb0ner / tuckerbonxr / cupcakemaron / dianite / nadeshotlives / itsfiirefoxx / actualprinceandor / dj-jds / iianite / wanglington / iijeriichxii / jardongoteveryonepregnant / motofficial / vikingsyndicate / wglingtn / storiesfromtherealmofmianite / lady-waglington / goggles-the-bot / katsir / badlydrawnmianite / d-ianite / oh-my-dianite / sparklyawesome / championofianite / jordapper / countrybats / diine-at-niite / daddydianite / syndisparkle / theasskickingiowan / maddiesontheinternet / silversparklez / jardonisbae / sperioles / jardonsrose / &f;vv@demonlanuit / jardonspotato / waglinggirl / misslehnsherrcosplay

i probably forgot some blogs but these are some off the top of my head. i really hope the mobile tagging works, rip

i hope i helped! xox

PARA SA MGA CLINGY FRIENDS

Being clingy is not a negative thing. It only shows na sobra ka lang mag-alaga, magmahal at magpahalaga ng isang tao. Pero minsan, sa sobrang pagkaclingy natin, lumalampas tayo sa boundary ng friendship kaya minsan, nakakasakal na.

Ito ang ilan sa mga self-help rules na dapat tandaan: 

  1. “Hindi ka niya jowa. Friend ka lang”. Bigyang diin ang “Friend ka lang” and repeat until fade. Iwasang magpapaka-clingy lalo na kung may jowa na siya. 
  2. Less clingy ka kung marami kang set of friends. Tandaan: The more friends you have, the more chances of flirting. :>
  3. Ilugar ang pagiging demanding ng naaayon sa relationship status. Magkaiba ang jowa sa nagfifeeling-jowa.
  4. There’s a fine line between being clingy and being malandi ( sa paningin ng mga judgmental na tao sa paligid mo). Goodluck.
  5. Wag mong karirin ang pamatay na linyang, “Andito lang ako lagi pag kailangan mo ako.” Try mo rin minsan yung ikaw naman ang hinahanap-hanap.
  6. Wag gawing hobby ang pagtatampo. Sa palagay mo ba nakakacute yan? Nagmumukha ka lang bipolar.
  7. Igoogle-search ang word na “nakakasakal”. Baka biglang lumabas sa search-result ang full name mo at lumabas sa image ang 2x2 ID picture mo.
  8. Konting space lang ang kailangan niya at hindi yung buong mundo mo.
  9. Baka kailangan mo na talaga ng lovelife. Minsan, may mga bagay talagang hindi kayang punan ng isang kaibigan na tanging sa pakikipaglovelife mo lang mararamdaman.
  10. Tandaan na sa LRT mo lang pwedeng isiksik ang sarili mo. Ilugar ang katangahan lalo na kung wala ka namang ibang aasahan kundi “friends” lang.