diamed

Untuk Perempuan Disana Yang Sedang Sedih Hatinya

Jangan takut menangis kalau kamu merasa semuanya terasa sedih. Siapa yang berani larang airmata keluar kalau hati sudah tidak sanggup?

Tapi menangislah diam diam .. Menangislah pada Rabbmu. Sebab Padanyalah segala sedih dan pertanyaan pertanyaan mengapa begini mengapa begitu berujung. Menangislah yang banyak pada Dia. Sebab Dia paham. Dia mengerti setiap kalimat yang tidak sanggup lagi terucap dan setiap rasa yang tidak mengerti lagi kenapa bisa sesakit ini..

Iya, sakit yang membuat ulu hati ngilu.

Di dunia ini, kalau orang bilang bahwa mereka paham bagaimana rasanya, sebenarnya tidak. Mereka tidak benar benar paham sebab mereka tidak mengalaminya sendiri. Sepersis yang kita alami. Dan tetap saja, mereka tidak sepaham Dia.

Tapi hargailah mereka yang berusaha sepenuh hati memahami kondisimu sehingga membuat mu tidak merasa sendiri, tidak kesepian. Karena, sekali lagi, mana ada manusia yang sanggup untuk sendiran sekalipun dia menyukai kesendirian. Manusia tidak akan sanggup.

Maka, kalau sedih itu datang lagi. Duduklah sebentar, kemudian berwudhulah dan sholat. Sholat taubat. Sebab barangkali kesedihan yang kita alami itu disebabkan kesalahan kesalahan kita yang banyak. Masih ada hati hati manusia yang kita sakiti. Masih sering lisan kita melontarkan kalimat tajam yang ternyata membuat seseorang menangis dibelakang kita. Atau jangan jangan kita terlalu sering tidak taat dan lalai terhadap Tuhan kita sendiri.

Dan ketika sedih, percayalah bahwa sedih itu tidak akan lama. Dia akan pergi. Dia akan hilang dan berganti dengan kegembiraan. Ini janji Allah. Kamu percaya kan?

Tapi jangan lupa, bahwa sedih itu akan datang lagi nanti dalam rupa yang berbeda. Maka, siapkan dirimu dan nikmatilah. Sebab apa enaknya hidup ini kalau terus dihadapi dengan ketakutan ketakutan tentang sesuatu yang sudah pasti akan tiba?

Jadi, kalau kamu mau menangis, menangislah yang banyak. Tapi jangan menangis pada mereka. Itu akan menambah beban mereka dan membuat mereka sedih.

Selamat pagi, kamu yang jilbabnya turut membuatmu semakin terlihat santun :3

aku pinta pada Tuhan,
moga hapuskan rasa sedih,
rasa sakit hati ini.

diam lah hati.
diam lah suara.
tak perlu kau berkata-kata,
tiada siapa yang mahu mendengarnya.
When All People can’t Accept My New

“Bangke lu. Sok suci banget.”

Kata itu terlontar begitu saja dari mulut salah satu teman laki-lakiku ketika aku menangkupkan tangan didepan dada, menolak bersalaman dengannya. Suasana hening sesaat. Kala itu, aku sudah tidak tahu lagi harus ngomong apa. Aku hanya bisa diam, membendung perihnya hati yang seakan tertancap tombak tertajam didunia.

Reuni kali ini memang berbeda dari reuni-reuni ditahun sebelumnya. Sekarang aku sudah berbeda. Yang dulunya memakai pakaian muslimah yang modis, memakai celana jin, memakai pakaian panjang yang membentuk lekuk tubuh dan berkerudung terlilit dileher. Kini aku harus memakai gamis menjulur diseluruh bagian tubuhku, lalu memakai kerudung yang tebal lagi lebar. Dilenganku terdapat deker atau kaos tangan yang warnanya tidak mencolok. Kakiku pun sekarang tertutup oleh kaos kaki.

“Fa, kamu pindah aliran Muhammadiyah ya? Atau yang lebih ektrem lagi apa itu namanya? Oh ya, LDII ya?” Tanya teman yang duduk disebelah kiriku.

Kadang aku tidak habis pikir, kenapa kejadian seperti ini pasti menyangkut pautkan muhammadiyah atau LDII atau aliran lain apalah. Bukankah ini perintah Allah? Yang jelas jelas sudah termaktub dalam surat Al-Ahzab dan surat An-Nur? Aku tersenyum tipis.

“Iya tuh, jilbabmu kok kayak gitu? Jangan-jangan itu alas meja ya yang kamu pake? Hahaha. Aneh banget” Lagi lagi teman seberangku menambahi.

“Jilbab apaan tuh? Kayak mau terbang aja. Wkwk” Sergah teman sebelah kananku sambil tertawa terbahak-bahak disusul dengan teman-teman lain.

Sembari duduk dan menikmati makanan yang memang sengaja disajikan special oleh beberapa waitress dicafe itu, dideretan kursi bagian belakang bersama keempat temanku yang berceloteh tentang diriku, Aku hanya tersenyum tipis ketika teman-temanku bertanya pertanyaan yang sama seperti itu. Aku saat itu hanya bisa berdo’a semoga hatiku dikuatkan layaknya baja tebal yang digunakan untuk peperangan. Aku berusaha menyeka setiap bulir bening dari kedua mataku dengan cepat berharap teman-temanku tidak mengetahui keadaanku yang sebenarnya saat itu.

“Hati-hati Fa, jangan-jangan kamu ikutan aliran sesat. Kamu jangan neko-neko deh pakai pakaian kayak gini. Kayak teroris tauk”

Lagi-lagi aku hanya bisa membalas senyuman tipis kearah mereka. Mungkin ini memang cobaan untuk seorang perempuan yang sekarang berusaha menjadi muslimah yang dirindukan langit akan tetapi bumi juga tidak rela untuk melepas. Maksudnya, aku hanya ingin berhijrah memperdalam islam secara kaffah. Mungkin saja pernyataan itu juga sebagai bentuk ujian dari Allah apakah aku mampu bertahan dianggap asing di lingkungan sendiri. Tentu saja bagiku, tidak ringan lontaran-lontaran serta hinaan dari orang-orang sekitar. Walaupun saat itu aku sudah tidak bisa lagi menceritakan keadaan hatiku seperti apa?

                                                          ***
Senja kali ini menemani hati mendungku pulang. Aku mempercepat langkahku menuju rumah mungilku. Ketika perjalanan pulang, aku melihat sekelompok ibu-ibu tetangga yang nyeloteh.

“Itu tuh lihat mbak Fatiya. Bajunya gedhe-gedhe kayak orang hamil aja” Sambil melihat kearahku.

Aku hanya bisa menundukkan pandangan dan terus mempercepat langkah berharap saat itu ada keajaiban yang bisa membawa kekamarku secara tiba-tiba. Namun, sepertinya itu permintaan yang tidak bisa terlaksana.

Ketika sudah sampai dikamar, aku langsung merebahkan badanku diatas kasur. Bulir-bulir bening mulai keluar dari dua bola mata. Kali ini, aku benar-benar sudah tak bisa membedung kesedihanku. Mungkin ini hal paling jahat dan menyakitkan yang pernah aku terima seumur hidupku. Dan sepertinya ini adalah hari di mana aku menangis paling keras dan paling lama dalam 21 tahun disepanjang sejarah hidupku. Bahkan ketika tidak sengaja teringat rangkaian kata yang terucap tadi, tak terasa mata mulai basah kembali. Bahkan aku sendiri sebelumnya tidak tahu kalau aku memiliki stok air mata sebanyak ini.

“Kamu kenapa Fatiya sayang?”  Suara Bunda tiba-tiba menghentikan sejenak isak tangisku saat itu, lalu Bunda mulai membelai kepalaku dengan lembutnya. Aku enggan berbicara apapun.

Aku masih sesenggukan. Dadaku serasa pecah. Aku merasa hampir putus asa dengan kejadian-kejadian yang menerpaku selama beberapa minggu ini.

“Baiklah, Fatiya tidak ceritapun Bunda mengerti kenapa kamu menangis.  Nak, lebih baik kamu cuekin saja orang-orang seperti itu. Mereka belum sepikiran dengan kamu. Mereka belum paham, wajar kalau mereka bersu’udzon kamu ikutan aliran muhammadiyahlah, ikutan aliran sesat lah. Inilah itu lah. Mending kita do’akan saja mereka supaya segera mendapat hidayah dari Allah. Gimana? Rencana bagus bukan?”

Aku mulai menghentikan tangisanku, bunda melanjutkan belaian lembut dikepalaku.

“Sayang, selalu percaya dengan janji-janji Allah. Teruslah berprasangka baik terhadap orang lain yang akan membuat hati kita menjadi lebih tenang dan hidup menjadi nikmat tanpa ada beban suatu apapun. Asal kamu tahu, saudari-saudarimu yang disana yang bahkan kamu belum pernah mengenal atau berjumpa dengannya, pasti juga mengalami hal seperti kamu, bahkan lebih parah lagi. Kita berdo’a saja, semoga hidayah dan kebaikan selalu menopang dan menaungi kita semua”

“Mungkin bukan hanya kamu yang dicap mengikuti aliran sesat. Mungkin bukan hanya kamu yang dilarang menginjakkan kaki di taman surgaNya lagi. Dan mungkin bukan hanya kamu yang dihina, dicaci dan dilecehkan gara-gara menggunakan jilbab dan kerudung lebar seperti ini”

“Kamu pernah Bunda kasih majalah-majalah yang berisi perjuangan perempuan yang ada diluar sana ya? Coba ingat-ingat lagi”

Dan kini, tangisanku benar-benar berhenti. Aku mulai berpikir, menelaah dan meresapi semua perkataan yang diucapkan Bunda kepadaku. Mungkin aku memang orang yang terlalu perasa, sehingga untukku sendiri, ini menyakitkan, sungguh menyakitkan. Wanita memang mempunyai sisi rapuh dalam suatu hal, mungkin ini hal yang sempat membuatku rapuh seperti ini, hampir putus asa atas semuanya.

Aku mulai berfikir lagi. Aku jadi teringat, aku pernah membaca beberapa artikel tentang perjuangan perempuan-perempuan di negara-negara kafir seperti di Perancis, USA, Rusia dan sebagainya. Betapa cobaan menerpa mereka tanpa henti. Dibanding aku, mungkin bukan apa-apanya. Aku seringkali terenyuh, seharusnya aku  lebih banyak bersyukur terlahir di negara yang mayoritas muslim. Oh, wait…tell me again, Islam isn’t strange in this country? Boleh saya tersenyum?

Aku mulai bangun dari rebahanku, menatap lamat-lamat dua bola mata indah dan bercahaya yang tepat berada didepanku.

Bunda mulai menyeka air mataku yang meluber dipipi kanan dan pipi kiriku. Lalu aku memeluk erat Bunda seolah tak ingin melepaskan hangatnya pelukan itu.

Tulisan : Biasanya

Biasanya, ceritanya hampir selalu begini. Kamu suka sama seseorang yang mana orang itu suka sama orang lain. Kamu mencari yang jauh sementara ada orang di dekatmu yang diam-diam mencarimu. Kamu menolak orang lain demi seseorang yang ternyata juga menolakmu.

Biasanya, ceritanya hampir demikian. Kita mengejar sesuatu yang bukan ditakdirkan untuk kita. Kita lupa mensyukuri nikmat-nikmat yang kecil. Kita tidak peduli dengan sekitar, bahkan tidak peduli dengan mereka yang peduli. Kita berharap dipedulikan oleh seseorang yang lebih peduli pada orang lain.

Biasanya, kita menyimpan segala hal untuk kita sendiri. Tidak pernah diceritakan kepada orang lain sampai pada sebuah kenyataan bahwa kita terlambat untuk mengungkapkan.

Biasanya kita terlalu sibuk dengan pikiran kita sendiri. Membuat dunia yang ideal dalam pikiran berdasar asumsi sendiri. Membuat angan seolah kenyataan, membuat harapan seolah berbalas. Padahal tidak.

Biasanya kita menyadari pada satu titik, tapi biasanya pula kita mengulangi hal yang sama lagi. Begitu seterusnya berulang berkali-kali, sampai pada titik nanti kita akan menyadari bahwa kita telah melewatkan banyak hal baik, kita telah membuang banyak kesempatan baik, kita telah membuang orang-orang yang baik, kita telah semakin tua, dan kita baru sadar bahwa kita menjadi orang yang tidak hanya merugi, tapi celaka.

Biasanya yang namanya penyesalan itu datang terlambat. Tapi, kita merasa bahwa hidup kita akan berjalan sesuai dengan perasaan kita. Padahal tidak.

Rumah, 18 April 2015 | ©kurniawangunadi

nozomiis asked:

oh god which ones uh uh uh do whichever ones you want for diamed!! (most interesting/cutest/whatever)

ah!! Ill only do a few but!

  • Who initiated the relationship? Who kissed who first?  When did they realize they were in love?

Although Medusa kissed Diarmuid first it was Diarmuid who initiated the actual relationship with her. Once he knew there was no one else he wanted to see he wanted to push her a little out of her comfort zone to see if they could make something of themselves. I think he’d also be the one to realize he'sin love first but he wouldn’t pursue it beyond what he normally does because just being with her made him more than happy. (Although he probably wouldn’t hesitate to tell her he loves her.)

  • Any doubts about the relationship?

For Medusa probably alot. It makes her really uncomfortable when she sits down and thinks about what it is they are doing and sometimes even Diarmuid has his moments when he wonders if everything will work out okay given how different they view certain things. But then he’ll catch a view of her when she isn’t really paying attention to her surroundings and she’ll look so peaceful and happy and he regrets ever doubting that this was the woman he wanted. 

  • Is there a wedding? What was the proposal like? Any kind of honeymoon?

cries cause it’d be a very private affair if they had one. It’d really probably only be them and sakura and /maybe/ saber and company if Diarmuid can convince med. If he can’t then he’d be content cause he just wants to marry her and wouldn’t care otherwise. She probably wouldn’t want to wear white for it either but it’d be the one thing Dia would /really/ insist upon because no matter what she says she is pure and beautiful in his eyes. The proposal would also be a very private thing but I don’t think Dia would put much planning into it. Once he knows he wants to marry her he wouldn’t want to wait and he’d probably ask her in the quiet of their home. 

Their honeymoon wouldn’t be long either cause Medusa would worry about being away from Sakura for too long.

Pada pagiku yang syahdu, yang diam seperti tak ada angin bergerak di sekitar, ada kamu di kepalaku berputar-putar. Aku menghitungnya hingga detik ke seribu, dan berakhir kembali dengan rindu.

Surat Pendek Untuk Calon Istriku, salah satu puisi dalam buku Percakapan Diam-diam, karya Mas Budiman (@lelakibudiman, on twitter) 😊😊😊

Aku lebih memilih kita bertengkar, namun menghasilkan kebaikan.
Daripada kita saling diam, namun menghasilkan perpisahan.
—  @saraahauliaa

Andai jarak dan diam bisa buat kita lagi dekat dengan tuhan,
Dan kuat dalam perjuangan.

Maka mati tanpa bertemu dan ada bicara,adalah hal paling indah yang pernah kita usahakan.

Moga tuhan tahu,dan semesti dia tahu.

..

Moga dalam tidak bicara dan tidak melihat kita,
Tetap ada doa doa untuk masing masing diri.

Moga.

Suatu Senja di Kafetaria

Senja telah turun di kota ini, di meja sebuah kafetaria, yang agak terlalu tinggi, aku menulis sajak tentang cinta;

Kutulis dalam diam
dari detak-detak waktu yang kelam
dari kata-kata yang terempas oleh cinta dan pedih
menjadi sejumput puisi nyeri

***

…ah, kapan kita kembali bersama
meski hanya sepejam mata
berlarian di tengah derai hujan

***

Atau duduklah di sampingku
akan kuceritakan tentang hal-hal yang tidak pernah terselesaikan; semacam cinta

***

Di kafetaria ini, kita bertemu dan berpisah
di antara duka dan bahagia
telah kudapatkan sebuah kehilangan

***

Cinta bukan lagi main-main
pertemuan bukan lagi tanpa sebab
serupa kelahiran puisi
bukan lahir tiada dera
bukan kata tiada arti

Serang, 24 April 2015
Cinta sejati datang hanya sekali

Untukmu, dari seseorang yang selalu menganggapmu paling istimewa saat kau malah menganggapnya tak pernah ada.

Dariku, untukmu yang sukses membuatku jatuh cinta pada seseorang yang telah mengoyak saraf, otak, dan hatiku.

Banyak hal yang kadangkala kita alami justru tidak terjamah logika. seperti bersamamu saat ini, Ini tentangmu, yang berhasil membuatku menaruh rindu diam-diam. Ini tentang aku, yang hanya berani memendam meski rasa yang kamu punyai bukan untukku.

Kamu tau namaku, dan aku juga. Kita berteman, saat pertama kali kau mendatangi meja kerjaku. kita banyak berdiskusi, ngobrol tentang banyak hal. Menertawakan apa saja meski kadang itu tidak lucu untuk menjadi bahan candaan. Diperjalanan, kau tahu tentang buku kesenanganku, kegemaranku, tahu apa yang membuat mood-ku berantakan, bagaimana makanan kesukaanku, bagaimana alergi akutku, lagu favorite ku, film yang sering kutonton berulang-ulang tanpa rasa bosan. Iya, kau hampir tahu segala tentangku, aku juga. Satu hal yang belum dan ingin aku tau darimu, siapa aku dihatimu.

Hampir setiap hari, jika kita bertemu, kita selalu menyempatkan untuk sekedar berbagi cerita tentang hari ini. mengeluh tentang banyaknya tumpukan tugas, dan peristiwa-peristiwa apa saja yang kita alami hari itu. Selalu begitu, hingga hal itu seperti jadi rutinitasku. Dan akhirnya, kebiasaan itu membuatku terbiasa, denganmu. Menghadirkan rasa nyaman setiap kali cerita, bahkan keluhanku yang kerap kali tidak tahu waktu, dan itu mengalir begitu saja.

Aku punya banyak teman. Tapi, kau beda dari mereka yang aku kenal. Tak ada yang mengenalku sejauh kau mengenalku. Kau selalu membuatku nyaman, selalu tahu cara membuatku tersenyum tanpa perlu banyak bertindak. Ya, cukup dengan tersenyum, dan itu akan menular padaku. Sederhana bukan? Kau hadir dan segalanya terlihat begitu mudah. Kau selalu jadi ‘guardian’ untukku. Entah aku butuh atau tidak, kau pasti selalu ada. Tidak satupun masalahku yang kuhadapi sendiri. Tanpa diminta, kau selalu hadir, meyakinkanku bahwa aku tidak pernah sendiri, tidak selama masih ada kau.

Lucu ya, bahagia bahkan bisa hadir lewat hal-hal kecil sekalipun. Bahagia bisa hadir lewatmu, dan semua hal yang kau lakukan. Kau bahkan tidak perlu melakukan banyak hal untuk membuat bahagia itu tetap ada. Cukup dengan tidak pergi, jangan berubah, selalu ada, dan tetap jadi kau seperti saat pertama aku tahu namamu. Sederhana, bukan? 

Ada yang secara diam diam. Mengikuti kamu senyap senyap. Walau tiada ‘like’ dan 'komen’. Tiap hari 'melihat’ dari kejauhan. Mendoakan kamu dalam kesenyapan. Berhajat, agar kamu dan dia, Suatu masa nanti, dapat bersama, Dalam ikatan yang suci dan halal.

Apa erti cinta jika makna rindu tak kau miliki
Apa erti sayang jika pada sapaku kau diam
Apa erti tawa jika makna sebuah senyum tak kau tau
Apa pula erti kesetiaan jika rasa cemburu telah mati
— 

Begitulah…


akukaudanpuisiku.