diamed

Untukmu, dan yang sama denganmu, yang tak mengerti sakitnya menunggu, lalu ditinggalkan,

Ada sedikit degup yang nampaknya ingin cepat beralih kata, tanpa bermaksud ku mengubahnya menjadi kalimat hina.

Sejujurnya aku tak mengarapkan kepulanganmu, bahkan melihatmu saja sama sekali tak membuatku merasa bahwa kamu lebih istimewa sejak dulu.

Aku sama sekali tak mengharapmu berbeda. Karena bahkan kepulanganmu sama sekali tak menyertakan debar di dada.

Sejujurnya waktu yang ku buat untumu hanya untukku bersandiwara. Bahkan doa yang acap kali kupanjatkan untukmu, ada sedikit paksaan disana.

Eentah seberapa jauh jarak masih leluasa berbentang. Tapi aku tetap tak memintamu untuk kembali datang.

Mungkin akan kupalsukan jarak yang leluasa berbentang untukmu, karena aku sama sekali tak memaksamu tunjukkan rengkuhan palsumu.

Sebab rindu yang kupendam lama sudah kukubur teramat dalam disini, cemas yang kuselipkan dalam diam sudah takkan mampu kuhidupkan lagi.

Apalagi Untukmu !

Aku bahkan mengira bahwa kau hanya mampu mengusikku dalam ketentraman sejak dulu. Dan sama sekali tak membuatku berubah akan pemikiranku, tentangmu, kuharap, neraka sanggup menampungmu.

# Kisah Nyata Dalam Mimpi

Senin, 16 Oktober 2017

@badutcerdas
Kekhawatirannya

Khawatirnya perempuan itu seperti pepatah; mati satu tumbuh seribu. Seolah tidak ada habisnya. Sesuatu yang kalau ia perbincangkan dengan laki-laki mungkin akan ditanggapi; ah santai saja. Dan itu membuatnya semakin jengkel, juga bertambah khawatir.

Khawatirnya perempuan itu tumbuh seperti ombak, bergulung-gulung. Siang-malam tak pernah berhenti sepanjang angin terus mengalir. Dan kita tidak bisa melihat angin, hanya bisa merasakannya. Dan seperti itulah sebab-sebab khawatirnya. Tidak kelihatan, tapi dirasakan terus menerus.

Dari khawatir tentang fisiknya seperti kulit putih, rambut berbagai model, tinggi redahnya badan, cantik tidaknya, gigi yang rapi atau tidak, dan segala sesuatu yang seringkali diam-diam diresahkan tentang dirinya. Dari khawatir tentang pakaiannya, menarik atau tidak, luwes atau tidak, norak atau tidak. Sampai khawatir tentang apa yang dipikirkan orang lain tentangnya.

Ketika masih remaja, khawatir pada peer group, masuk ke dunia berikutnya khawatir tentang pekerjaan dan karir, juga khawatir tentang jodoh. Setelah menikah, khawatir pada perekonomian keluarga, godaan dari luar dsb. Khawatir pasangannya tidak setia, dan lain-lain. Ada saja yang memenuhi ruang-ruang dipikirannya. Ada saja hal-hal yang membuat resah khawatir.

Dan ketika ia menemukan seseorang yang mampu meniadakan kekhawatirnya, membuatnya percaya bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja. Ia akan dengan senang hati mencurahkan segala daya dan pikirannya untuk orang tersebut. Sekalipun mungkin itu menyakiti dirinya.

Kadang ini membuatku percaya bahwa kemampuannya melihat sesuatu dari sisi negatif (hal yang buruk) membuat perempuan jauh lebih jeli dan hati-hati daripada laki-laki, yang terburu-buru, grusah-grusuh, kurang terliti. Dan kekhawatiranya itu adalah kekuatan yang hebat kala berumah tangga. Saat ia sanggup berhitung atas situasi dan membuatnya selalu bersiap dalam kondisi terburuk. Dan kekuatan itulah yang sadar atau tidak, membuatnya menjadi kuat.

Yogyakarta, 14 Juli 2017 | @kurniawangunadi

Jalan

Ada yang setelah sekian lama menunggu, akhirnya berujung temu. Ada pula yang sebaliknya, menunggu seseorang sekian tahun, ternyata digantikan dengan seseorang yang lebih baik. Yang lebih siap. Meski tak terduga sebelumnya. 

 Ada yang diam-diam mendoakan, menyodorkan proposal di tiap sujud panjangnya pada Allah, ternyata entah bagaimana cara Tuhan mempertemukan, doa-doa itu dikabulkan. Ada yang sudah demikian gigihnya mencintai dalam diam, mendoakan di sepanjang malam, tapi Allah punya suratan lain. Meski takseindah milik Fatimah yang dalam senyap mengagumi Ali, tapi menurutNya–garis ini sudah yang terbaik. 

 Ada yang sedang menggugu, hatinya baru saja patah. Tapi tetiba, Allah kirim obat merah. Yang perlahan menyembuhkan, yang mau dengan sabar membangun lagi kepercayaan. 

 Ada yang butuh bertahun-tahun untuk kembali menata serpihan, tak apa, pada akhirnya dia menemukan jalannya. Mungkin romansa bukan genrenya. Tapi tak pernah ada prasangka buruk padaNya. Barangkali, nanti di akhirat Allah simpankan satu yang paling baik untuknya. Biar kali ini ia hidup dengan cinta yang lain; cinta pada ilmu pengetahuan, cinta pada pengabdian, cinta pada kebermanfaatan, cinta pada keluarga dan sahabat-sahabatnya. 

 Ada yang sedang menata diri. Biarkanlah, jangan dipanas-panasi. 

 Ada banyak jalan, ada banyak kisah. Ada banyak yang bisa diambil pelajaran, ada banyak pula yang bisa kita petik hikmah. Setiap kisah, punya air matanya masing-masing, punya tawanya masing-masing. 

Selamat menata prasangka baik, selamat menjalani jalanmu dengan sebaik-baiknya! Perdengarkanlah kisahmu nanti, untukku. Agar aku bisa belajar juga dari situ.

Percaya atau tidak, yang tepat, datangnya tak pernah terlambat. Kau tunggu ataupun tidak, kau sibuk mencari ataupun memlih diam. Pertemuan dengannya itu pasti. Kau hanya perlu terus memperbaiki diri.
Perjuangan yang Diam

Euforia hari wisuda selalu luar biasa. Banyak sekali foto-foto yang menghiasi laman media sosial beberapa hari ke depan. Juga ucapan yang tak putus masuk ke ponsel. Tapi, tak kala diri menyadari ketika bangun esok pagi. Mata terbuka, matahari bersinar, burung bernyanyi, air mengalir, dan udara berhembus.

Ada hembusan yang masuk ke kepala kita, terjun ke hati kita. Rasa cemas dan khawatir saat menyadari bahwa kita belum bekerja, tapi ada yang lebih mencemaskan yaitu tatkala kita tidak tahu mau bekerja apa selepas ini. Kita masih bergulat pada pertanyaan, apakah ingin mengikuti passion/kesukaan kita pada sesuatu atau mengambil kesempatan apapun yang datang. Padahal seharusnya urusan itu sebaiknya sudah kita selesaikan sebelum wisuda.

Di hari pertama selepas wisuda, orang tua mungkin belum akan banyak bertanya. Tapi hari-hari berikutnya, mungkin rumah adalah tempat paling tidak nyaman untuk kita tinggali. Saat kita masih dalam kebingungan, kita butuh dukungan bukan pertanyaan. Tapi saat itu finansial kita masih bergantung kepada orang tua. Kita masih harus meminta uang dan kita malu-malu mengatakannya.

Kita berjuang, kita merasa kita sedang berjuang. Tapi orang lain tidak melihat perjuangan kita. Mereka bertanya dan kita belum punya jawabannya. Tapi pertanyaan itu hampir datang setiap hari. Entah dari keluarga, entah dari teman.

Dan kita semakin resah, kembali ke pertanyaan tentang apakah mengikuti kesukaan kita pada suatu bidang atau mengambil kesempatan apapun yang ada. Sekalipun mungkin pekerjaan itu bukanlah hal yang kita sukai.

Kita terperangkap. Pada pertanyaan yang sama setiap hari. Pertanyaan dari diri sendiri, juga dari orang sekitar.

©kurniawangunadi | Yogyakarta, 4 September 2017

Kau tahu apa yang kucintai dari Tuhanku? Tatkala aku hanya duduk diam di sisa sepertiga malam, walau hanya menangis saja, Allah sudah tahu apa masalahku, serta jawaban apa yang ku perlukan.
—  Sungguh, Allah itu maha mengetahui
Menerka Ukuran

Usia saya akan menginjak angka 27 pada akhir tahun ini. Dan saya sering mengingat bagaimana masa-masa usia 22-25 dijalani hingga sampai di titik ini. Ada begitu banyak hal-hal yang saya syukur, dan tentu saja ada yang disesali. Tapi, setidaknya saya kini punya pandangan bahwa; apapun yang sudah terjadi, tidak perlu lagi disesali sepanjang saya sudah mengikhtiarkannya semaksimal mungkin sampai batas yang saya bisa.

Kenyataannya memang demikian. Tidak segala hal yang kita inginkan pada masa-masa life crisis akan terwujud. Dan itu jangan menjadi sesal, caranya tentu dengan memperjuangkannya terlebih dulu sampai batasnya. Bagaimana kita tahu batasnya? Ya dengan memperjuangkannya! Karena itu tidak bisa diterka, juga tidak ada panduannya. Yang bisa merasakan batas itu adalah dirimu sendiri!

Hari ini, kita sedang berjuang tertatih-tatih. Sementara kita dipaparkan pada kenyataan paling memilukan menurut saya hari ini, feeds instagram. Satu hal yang perlu kita pahami benar, bahwa ukuran kita tidak akan pernah sama dengan ukuran orang lain. Tujuan kita pun begitu.

Perjuangan kita semakin dirusak kemurniannya karena terpukau dengan apa yang tertampil di sana. Perjuangan kita semakin meresahkan karena seolah-olah tak pernah sampai, seperti apa yang kita lihat di orang lain. Tujuan kita menjadi tidak lagi murni, bahwa perjuangan itu tidak perlu ditampilkan, apalagi harus diberitakan ke seluruh penjuru dunia. Hidup kita semakin tidak tenang karena rasa syukur kita yang semakin hilang, kita sibuk membandingkan dan terkagum dengan apa yang dicapai orang lain.

Ada sebuah cerita tentang seekor katak yang berusaha memanjat pohon. Sepanjang usahanya memanjat, katak-katak yang lain meneriakinya dari bawah. Meragukannya, menghinanya, tapi ia tidak bergeming. Ia tetap memanjat.

Sampai pada akhirnya ia hampir mendekati pucuk pohon, seluruh katak yang tadinya menghinanya kini meneriakinya dengan dukungan. Bahkan kekaguman. Dan ia tetap diam saja, sampai ia berhasil sampai.

Dan satu hal yang katak-katak lain tidak tahu, ternyata katak yang memanjat itu tuli. Ia tidak mendengar cacian, juga pujian yang tadi di alamatkan kepadanya.

Kalau dalam konteks kita saat ini, sebagai generasi muda. Mungkin kita perlu untuk membutakan diri. Menutup mata kita dari dunia yang amat semu, yang setiap hari kita buka setelah bangun tidur, di kantor, di jalan, di mana pun. Kita perlu fokus pada apa yang kita perjuangkan, pada apa yang sedang kita jalani, dan pada hal-hal yang sudah kita miliki.

Kita perlu untuk membutakan diri dari dunia luar yang hingar bingar, yang memecah kesunyian kita dengan tawaran-tawaran yang semu. Kita perlu kembali menata diri, dan bahagia dengan setiap waktu dan jerih payah yang kita lakukan.

Kita tidak perlu menjadi bagian dari mereka. Hidup kita tidak perlu mereka ketahui. Kita tidak membutuhkan pengakuan dari siapapun. Kita hanya perlu mengakui diri kita sendiri, betapa berharganya kita dan apa yang sedang kita perjuangkan. Karena kelak, kebahagiaanmu bukan bergantung pada bagaimana orang memperlakukanmu, melainkan bagaimana kamu bisa memperlakukan dan menghargai dirimu sendiri.

Yogyakarta, 7 April 2017 | ©kurniawangunadi

youtube

Ma France à Moi - Diam’s

Ma France à moi c'est pas la leur, celle qui vote extrême
Celle qui bannit les jeunes, anti-rap et pro-FN

Celle qui s'croit au Texas, celle qui a peur de nos bandes
Celle qui vénère Sarko, intolérante et gênante


(…) Et qui prétend s'être fait baiser par l'arrivée des immigrés
Celle qui pue le racisme mais qui fait semblant d'être ouverte
Cette France hypocrite qui est peut être sous ma fenêtre
Celle qui pense que la police a toujours bien fait son travail


(…) Non, c'est pas ma France à moi, cette France profonde
Alors peut être qu'on dérange mais nos valeurs vaincront
Et si on est des citoyens, alors aux urnes la jeunesse

Ma France à moi leur tiendra tête, jusqu'à ce qu'ils nous respectent

kita lebih sering menyesal karena bicara daripada karena diam. kalau bingung, lebih baik diam. kalau sedang marah, lebih baik diam. kalau sedang kecewa, lebih baik diam. kalau sedang sedih, lebih baik diam. kalau tidak tahu-tahu amat, lebih baik diam.
Banyak hati yang kudorong pergi hanya karena aku masih mencintaimu;
hanya karena aku masih berpikir bahwa suatu saat takdir akan membawamu datang kembali kepadaku.

Dan kau tahu apa yang lebih bodoh dari hal-hal di atas itu?

Adalah kenyataan di mana ternyata selama ini aku masih diam-diam menunggumu.
Bagaimana Langitmu di sana?

Kita hidup di bumi yang sama, tanah yang terhubung melalui udara-udara yang mengalir di atasnya. Menjadi angin yang membawa serta kabar-kabar tentangmu.

Bagaimana langitmu di sana? Di sini mendung hampir tiap sore, hujan setiap pukul tiga, dan selesai sebelum adzan isya. Hujan di waktu yang sama semasa kita dulu pernah menghabiskan waktu menunggu di selasar kampus, kita sama-sama lupa membawa payung di awal musim penghujan.

Dan kita menghabiskan waktu dengan berbicara.

Bagaimana langitmu di sana? Paling tidak, sudah hampir tiga musim kita tak pernah lagi saling menyapa. Selepas kita saling mengetahui tentang perasaan yang ternyata diam-diam tumbuh sejak awal musim penghujan kala itu. Dan saat kita tahu bahwa perasaan itu tidak boleh menjadi besar lantaran kita tidak bisa menemukan jalan untuk merawatnya di tempat yang layak, yang kita namai sebagai rumah tangga. Kita memutuskan untuk mendiamkan, agar ia mati perlahan seiring berjalannya waktu.

Bagaimana langitmu di sana?

Hidup kita telah berjalan di atas keputusan yang pernah kita ambil. Tidak boleh ada penyesalan, itu adalah kesepakatan kita. Sekalipun kita tidak akan pernah lagi berada di bawah langit dan musim yang serupa.

Tidak boleh ada penyesalan, itulah kesepatan yang akan selalu kita yakini.

©kurniawangunadi | yogyakarta, 21 maret 2017