dia shares

orang kaya

sejak mbak vinda dan mas uta di inggris, ibu punya hobi baru: mantengin instagramnya mbak vinda supaya tau kabar dan bisa ikut liat suasana di sana. hobi ini meluas menjadi ikut liat-liat postingan orang-orang yang aku follow. nggak banyak sih, secara yah aku bukan anak sosial media amat. di kanal manapun, following-ku sedikit sekali. hehe.


tersebutlah ibu terkejut sekaligus terpesona dengan teman-teman sepermainanku yang sudah melanglang buana ke mana-mana. “mbak, si A ini di sini mbak? si B jalan-jalan ke sini mbak? gaya ya…” aku pun manggut-manggut, “iya Bu. rata-rata temanku penghasilannya sudah dua digit, bisa nabung, jalan-jalan…” dan seterusnya aku bercerita, “ada juga yang kuliah, kerja, macam-macam.”


lalu entah bagaimana, ibu seperti berusaha melegakan aku yang nggak bisa punya gaya hidup dan kehidupan seperti itu (nggak bisa, bukan nggak mau. alasannya tidak hanya karena gaji dan penghasilan yang secukupnya, tetapi juga karena sudah berkeluarga, ada mbak yuna, dan banyak lagi). “jalan-jalan itu hanya soal waktu dan cara,” kata ibu, “nanti juga kamu ada waktunya. caranya siapa tau karena berprestasi sesuatu bukan karena sekadar ingin jalan-jalan. caranya siapa tau ikut mas yunus.”


“hehe. aku bersyukur loh Bu, dididik sama Ibu untuk menjadi sederhana. mas yunus beruntung amat yak Bu dapat istri sederhana (bagian ini jumawa dikit tapi nggak papa lah ya). boro-boro deh jalan-jalan, beli make up aja sekali pas seserahan, beli baju aja benar-benar kalau butuh doang. aku kalau punya uang, mending sekolah daripada jalan-jalan. mendingan beliin dek ute komputer bagus biar lebih produktif kerja. mending cetak buku daripada jajan-jajan. kalau jajan ya mending jajanin adek-adek.”


ibu masih asyik melihat satu per satu foto teman-teman di instagram. “iya mbak, memang harusnya begitu jadi istri, jadi orang. selaluuu lihat manfaatnya untuk orang lain. kalau hanya untuk diri sendiri, sayang. masih seumur kamu sih nggak usah gaya-gayaan. gayanya itu kalau seperti alumni-alumni ibu tuh loh mbak. bisa mengelola bisnis, memimpin, membantu banyak adik kelasnya, menginspirasi.”


lalu kata ibu lagi, “orang yang mau lebih lama susah akan mudah lebih lama. sekarang, tahan diri dulu lah dari bersenang-senang. memanjakan diri boleh, ya seperlunya saja. secukupnya.”


ngobrol sama ibu selalu beda yah. :“

terima kasih ya Bu, aku dididik kayak gini. terima kasiiih banget banget. entah bagaimana di dalam hati, aku merasa super kaya. btw, kemarin di kelas, mentorku baru tau kalau aku ini founder start up. lalu dia minta aku sharing kepada semua teman, dan eventually bilang sambil menunjuk gumun, "horang khayaa kamu yaah.”


bisa jadi. kekayaan yang sesungguhnya nggak ada di halaman sosial media. bahkan, nggak di bagaimana kita menampilkan diri kita. kekayaan yang sesungguhnya ada di akal, mental, dan hati. nah yang itu memang tidak mudah dilihat, tetapi sangat mudah dirasakan. indikatornya, kalau orang lain bahagia dan terbantu dengan kehadiran kita, insyaAllah kita tuh orang kaya.


disclaimer:

lagi kangen nulis buku harian. maaf isinya semacam pamer dan bahasanya sangat personal. juga, nggak berarti yang suka jalan-jalan bukan “orang kaya”. ini hanya cara pandang yang berbeda. :P

an aquarius came to my house around 3am drunk and disorientated the other night, just to tell me how they appreciate that I am “different and unique” and to never change that about myself …talked my ear off for a whole hour about wacky ideas, slurred inspiration and existential nonsense

it seems charming but it was actually very annoying and I don’t know…seems like something an aquarius would do… it’s like lightning bolts shoot their minds spontaneously. they become electrified with erratic energy and feel the need to discuss them no matter the time or place, they become awfully chatty…they’re weird like that

Menyentuh Nyata

Sejak obrolan beberapa bulan lalu dengan beberapa teman tentang pilihan mereka untuk berhenti bermain Instagram dan Facebook.


Saya

lo kenapa gak pernah lagi posting di Instagram setahun belakangan ini, trus juga gak pernah keliatan akun lo bikin stories?”


Teman saya

“gak ada yang penting, gak ada yang kayanya bermanfaat, jadi males…”


“tapi kan followers luh udah sekian puluh K, sayang kan… Posting karya2 lo juga gak dosa kan?”



“Iya emang gak dosa, tapi kalau abis posting gw jadi ngabisin waktu. Dikit2 buka ig, cek udah berapa ribu yang like, klo kemarin dapet 2k like hari ini Cuma 1k lewat dikit gw jadi kesel.. Kayanya gw terlalu terobsesi mendapat kebahagiaan dari sesuatu yang semu ”


“oh,,,, Iya juga sih yaaaa”



Sebelum itu saya juga sempat bertanya pada teman yang berbeda perihal pilihan nya menutup akun Facebook


Saya

“teh, udah lama gak keliatan di Facebook, lagi puasa?”


Teman saya

“Iya neng, kayanya lebih aman tanpa Facebook nih”


“loh Kenapa?”


“Banyak gak bermanfaat nya, lama2 main Facebook Kok niatnya jadi beda”


tapi kan Teteh sering share tulisan bagus2 teh, Sekalian dakwah kan?”




“Awalnya begitu, tapi lama2 timbul rasa congkak dihati, maunya dapet like lebih banyak, cek notif sering2, belum lagi suka gelisah kalau gak ada yang koment, jadi waktu terbuang sia sia, gimana kalau lama2 sombong dan hatinya sakit.. Jadi mending ditutup aja, toh dakwah gak selamanya lewat Facebook.”



Akhirnya setelah sekian lama saya mikirin hal ini saya pun memutuskan puasa ig (sudah hampir sepekan)

Dan Facebook (hampir 3pekan)


Kalau dipikir2, setiap kali buka ig saya bisa menghabiskan banyak waktu terbuang.

Scroll terus sampai bawah, kalau udah bosan saya ke explore, kalau sudah bosan saya buka itu stories orang2..


Apa yang saya dapat?banyak…

Saya jadi melihat begitu indah nya hidup orang2, atau begitu rumit nya mereka.

Instagramer yang fotonya indah2.

Padahal sepengalaman saya foto indah dihasilkan dari cara kita mengolah gambar, pada aslinya ya biasa aja, indah jika dinikmati dalam nyata, jika dalam Maya saya lebih banyak lupa menikmatinya dalam nyata.

Seperti sebuah pemandangan gunung atau pantai.


Melihat ibu ibu muda dengan keluarga kecil nya, anaknya yang menggemaskan, kamar yang lucu2.

Alhasil kadang saya jadi iri, entahlah itu hanya dialami oleh saya atau juga yang lainnya.

Sama halnya melihat para Selebgram cantik bertebaran.

Kalau foto mungkin harus berulang2 (Kata mereka loh ini)

Cantik2, barang2 yang nempel mahal2 pun.

Bikin saya suka membandingkan fisik…

Hasil dari keduanya malah bikin saya punya hasad ke mereka (baca : ain)


Padahal bukan Salah mereka.

Si ibu2 itu dan para Selebgram geulis itu mereka memang punya, menjual, diberi, bisnis dan banyak alasan lain yang mereka bawa dalam sebuah foto (mari berpositif thinking)


Belum lagi gossip2 yang bertebaran, info hoax dll.

Rasanya gak ada yang bermanfaat buat diri ini.

Saya menghabiskan waktu untuk hal hal yang cemacam itu.

Kenapa?

Karena saya main ig gak ada yang bayar, malah bayar wifi nya :(


Itu salah satu alasan Kenapa teman saya memilih tidak bermain ig lagi selama setahun ini.

Padahal dia seorang photographer, banyak karya2 nya yang bagus.

Tapi nyatanya Kata dia “karya bisa di share, tapi gak selamanya di share di ranah maya, bisa kan cerita2 saat bertemu orang”

Beliau juga sekarang jarang memposting foto di ig bisnis kami, paling sering sebulan, trus di promote aja, jadi bisa keluar di timeline mereka yang satu negara dengan kami.


Katanya lagi “Kita jarang promote aja suka kewalahan sama kerjaan sekarang hahaha”



Beda lagi dengan Facebook.

Facebook yang menawarkan sebuah pemikiran yang sedang ada di otak kita ini, jadi seenaknya digunakan para penggunanya.

Ada yang post gak penting semacam:

Anak abege

“Kamu jahat, bikin aku kesel mulu”


Ibu ibu baru lahiran

“jam segini lembur jagain anak, besok gini lagi”


Upload foto makanan yang malah bikin saya laper, tapi gak bisa nemu disini makanan nya.


Upload foto anak sambil cerita


Upload album nikahan, abis itu lanjut bulan madu, hamil 2minggu…


Patah hati, sengsara etc.


Saya tidak akan menyalahkan mereka.

Tapi rasanya itu semua gak penting untuk saya ketahui.

Ujung2nya ya gak jauh lah, diri ini suka muak, dan pengen koment sambil ceramahin mereka..

Duh dengki amat ya dasar…


Belum lagi sekarang banyak postingan yang membuat keributan, pengen diajak debat banget, perbedaan pendapat, sampe masalah hukum a b etc…


Jari ini gatel pengen nyinyir, trus koment, trus kesel aja.

Jadi yang salah siapa? Mungkin mereka salah, tapi saya malas menyalahkan.

Harusnya saya mampu menjaga diri ini. Ketidakmanfaatan bermain ig adalah saat saya ingin memposting sebuah gambar, saya harus mengedit seideal mungkin.
Geser pot bunga, puter cangkir kopi, pake makeup sampe alis beneran rapi, foto pemandangan yang harusnya itu waktu istirahat dari kerjaan dan menikmatinya,malah kelamaan ambil pose terbaik camera atau sesuatu didepan. Eh pas udah siap fotonya, mikir caption nya hampir 3jam. Hih

Katanya lagi, kalau ada yang bisa ngabisin isi stories ig following nya itu juara bgt.

Saya jadi repot bgt makan, di foto dulu, berharap ada yang reply, sampe nonton film aja divideoin..
Duh Gila juga lama2 ini..

Ujung2nya ngabisin waktu.


Dan waktu saya terbuang dengan merasa kesal pada mereka di Facebook.
Bukan karena nasib kehidupan saya dan mereka.
Tapi cara mereka saat share apa yang sedang atau mereka rasakan.
Apakah semua itu benar?
Padahal entahlah, mungkin sebuah kepura2an.


Jadi, selama saya puasa.
Saya mengarchive banyak Foto2 di ig.
Kenapa? Karena risih aja tiba2 kalau ada yang Kepoin (siapa elu sih)

Dan saya menutup akun Facebook, dan off Instagram juga sementara, entah seminggu, sebulan atau idk yet.
Kenapa? Karena saya males juga ada yang kepo akun saya sampe ujung.
Hahaha (ini karena pernah nemu notif like dari seseorang yang ngelike postingan saya 7thn lalu, edun kan?)


Akhirnya saya memutuskan menguninstal mereka juga, Termasuk line meski Cuma buat chatting, tapi timeline isinya macem2 dan Kebanyakan gak berfaedah.

Dan mulai membuka Tumblr, mengexplore akun2 dengan tulisan yang menurut saya mengedukasi, menginspirasi, dan membawa saya pada pemahaman baru.
Tak usah di sebut yaaa… Soalnya banyak ehehehe…


Pagi-pagi saya jadi punya waktu buat jalan2 nikmatin taman sepanjang jalan di sg, liat2 pemandangan tanpa perlu ambil hape, ambil foto,
Gak perlu lah susah2 ke Cafe buat cari hal bagus buat di foto.
Akhirnya mampu ke pasar traditional buat beli tempe sama cabe buat di masak sendiri trus gak perlu foto mereka buat di post di stories…


Trus hati jadi tenang, gak berbeban banyak2, menikmati kehidupan alam nyata, menyentuh mereka kembali, menjadi orang yang biasa saja ternyata tidaklah berdosa.


Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan untuk tulisan ini.
Saya tidak menyuruh siapapun setuju dan mengikuti saya.
Aktif di sosmed tidaklah masalah jika kalian mengira bahwa hidup kalian bisa menyenangkan disana,bermanfaat, menemukan hal baru, menemukan keindahan, kenyamanan, dan kebahagiaan sekalipun.

Tapi Mereka tetaplah semu.
Kehidupan nyata pun tak selamanya indah…

Semuanya punya pilihan.

Dan saya sedang memilih untuk menyentuh nyata :)



Singapore, 28 September 2017

2

Sometimes it works, but most of the time it doesn’t. Our eye sight isn’t really good, and we can’t see things clearly. It’s a good thing we only feed on snails and slugs. Anything faster or larger, we would have starved to death by now.

Wanita dan Foto Dirinya...

“Wanita diperintah tutup dirinya (tutup auratnya) agar dia tak terdedah kepada fitnah. Wanita hari ini tak menghormati dirinya dengan mendedahkan dirinya sehingga dia diganggu oleh lelaki yang fasiq.

Kadang-kadang, dia (wanita) tak keluar (rumah), tapi dia ‘share’ gambar yang tak sepatutnya di media sosial. Gunakan gambar profil yang sopan, letaklah gambar Kaabah, bunga, atau apa-apa yang tak tunjukkan WAJAH atau BADAN demi menjaga kehormatan diri.

Dalam Al-Quran, Allah tak sebut pun nama wanita kecuali Siti Maryam, demi menjaga kehormatan kaum wanita. Allah cuma sebut ‘isteri Firaun’, ‘ibu Nabi Musa’, dan seumpamanya. Tidak disebutkan pun nama mereka dengan jelas.

Kaum wanita di zaman Rasulullah dahulu namanya pun tak dikenali, sebaliknya cuma dipanggil dengan nama-nama gelaran seperti Ummu Sulaim, Ummu Muhammad, Ummu Anas, dan sebagainya.”

— (Habib Ali Zaenal Abidin bin Abu Bakar Al-Hamid)


Lagi-lagi jika terbesit keinginan untuk upload foto diri di media sosial selalu teringat perkataan Sayyidatina Fatimah kepada Rasulullah, “Sebaik-baik perempuan tidak dilihat lelaki dan tidak melihat lelaki.”


#SelfReminder

2

A 4-year-old only child and sharing. Those two things don’t generally go hand in hand. It’s been a pretty constant subject in the Spaghetti house lately. Harper normally does “okay”, but she definitely has her moments when we’re around other children.
Recently she had one of those moments and it was hard on everyone. There was yelling, crying and learning… by mother, father and child. After everyone regained their composure, Harper walked up to me and said: “Dad, I’ll share my heart with you if you share your heart with me.

youtube

We Are Giants ft Dia Frampton - Lindsey Stirling