di-design

I like to think Alter!Tori might have helped her dad with science projects and stuff once, but I don’t really know WHEN Asriel became… Gastriel, so I just kinda drew Tori as a teen or something with her own outfit and stuff. Or maybe this is how she would look if she WAS the royal scientist herself (or at least one of the Underground’s scientists). I’m rambling now so I’m gonna stop now okay bye hope u like ok im going bye

We are alive, honest.

Here’s a little concept for the new Hag design. Dis decided that he didn’t particularly like the old designs anymore so wanted to make a new design more like the folklore surrounding Night Hags.

The general style (the tendril like hair, the button eyes, the fissures in the face, the blue almost corpse like skin tone etc.) will be consistent throughout all the Hag designs with variations between each Hag. Some will have large differences, some small.

This design itself is quite a unique one so you probably won’t be seeing much of it.

See if you can guess the function of this kind of hag!

thestar.com
Robert-Ralph Carmichael, creator of loonie’s design, dies at 78
The artist’s image of a solitary loon was introduced in 1987, when Canada replaced its one dollar bill with a coin.

The man who created the design for Canada’s loonie coin has died.

Artist Robert-Ralph Carmichael’s image of a solitary loon was introduced in 1987, when Canada replaced its one dollar bill with a coin. It was “the most significant change to Canada’s coinage system in over 50 years,” the Royal Canadian Mint said.

“Since that time, Mr. Carmichael’s design has appeared on over one billion one-dollar coins,” the mint said in a statement. “We thank him for his remarkable contribution in creating what has become a true Canadian symbol.”

Carmichael died Saturday at a hospice in Sault Ste. Marie, Ont. He was 78 years old.

He also produced designs for some of the mint’s commemorative coins and created a loon stamp for Canada Post.

Continue Reading.

2

The original 1460 boot is undeniably iconic. But there’s a duality to it; the boot started as a working class, utilitarian men’s boot, and ended up a symbol of self-expression and rebellion. Above ground to underground. Which is why its dual nature is perfect for the museum collection. The Di Paolo is a limited-edition boot. It’s emblazoned with The Annunciation, a painting probably by Giannicola Di Paolo-which features the archangel Gabriel handing a lily, the symbol of purity, to the Virgin Mary. Religion, meet counterculture.

Selections from Di Paolo’s designs are digitally printed onto Backhand leather. There’s no binding on the collars. It’s got our simple yellow welt stitch, which ensures the main focus in on the artwork. The Di Paolo has our iconic AirWair Bouncing Soles, that’s oil-and-fat resistant with good abrasion and slip resistance-and has been since 1960. Finally, this shoe is Goodyear-welted, meaning the upper and sole are sewn together in our heat-sealed z-welt stitch for enhanced comfort.

$150 at Dr Martens

Asa - Bagian 3

Presentasi berjalan lancar. Untuk sesaat, Pak Bagaskoro seakan lupa kejadian tadi pagi di lift. Terlalu senangnya karena proyek pembangunan apartemen sepuluh lantai diamini oleh klien. “Mungkin ini yang dinamakan beruntung.”, batinku ketika meninggalkan ruang rapat.

Terhitung sudah empat tahun aku bekerja di salah satu penyedia jasa Design Interior di Kota Yogya. Selama itu pula melihat banyak perubahan yang ada di kota ini. Aku menyukai kota ini. Sungguh! Kota yang selain dikenal sebagai kota budaya, juga disebut kota bonsai. Karena tidak seperti kota besar lain dengan banyak gedung pencakar langit. Terlebih jika dibandingkan dengan kota tetangga, Kota Solo, yang telah memiliki gedung tertinggi, se-Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, yang tersusun atas 27 lantai dengan tinggi total mencapai 124 meter. Gedung tinggi di Kota Yogya dibatasi oleh aturan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan karena keberadaan Bandar Udara Internasional Adi Sutjipto yang ada di tengah kota. Aturan ini praktis membatasi ketinggian bangunan gedung menjadi sepuluh lantai. “Toh aku tidak terlalu suka dengan Kota Yogya yang terlalu banyak menumbuhkan hotel dan apartemen.”, pikirku sambil memasuki lift. Sangat kontras sekali dengan pekerjaan yang aku lakoni.

Aku bergegas kembali ke meja kerja. Menghempaskan tubuh diatas kursi. Terbayang gambar ruang keluarga klien yang harus direvisi. “Kamu nggak ikutan makan siang? Bos yang traktir. Proyek kamu tembus, tuh.”, tanya Wendi teman satu divisiku. “Enggak ah, aku ada kerjaan.”, jawabku singkat, dengan muka sedikit ditekuk. Seakan memahami situasi, ia segera beranjak pergi. Tak berniat untuk melontarkan pertanyaan lagi.

Ketukan mouse terdengar nyaring seirama dengan ketukan keyboard. Di sudut meja, ada secangkir kopi yang berangsur dingin lupa disentuh. Meraciknya adalah keharusan, sedang lupa meminumnya itu manusiawi, aku membela diri. Di sebelahnya, bungkus snack kesukaanku tergeletak lemas berisi sisa remah-remah dan udara. Kepalaku kumiringkan ke kiri. Biar otak kananku dicerna baik otak kiri. Hingga perpaduannya bisa keluar lewat jari-jari yang menari.

Pemutar lagu digital menyalak di headset telinga sebelah kanan. Hanya sebelah dan memang aku sengaja. Biar telinga kiri terjaga bila ada seseorang yang memanggil atau sesuatu yang merayap dibalik bahu. Sengaja kupilih playlist yang benar-benar menyalak seperti anjing yang menyapa tamu majikan. Siapa peduli apa liriknya. “Perbaikan desain ruang keluarga ini harus segera aku selesaikan.”, batinku dalam hati. Tepat tiga puluh menit sebelum jam pulang kantor, sebuah file disimpan dengan nama yang lagi-lagi sama : Project Rumah Pak Bondan.dwg.

Aku menatap jam digital di ujung kanan bawah layar komputer, tertulis dua puluh titik empat puluh lima. Itu artinya sudah hampir jam sembilan malam. Menjelang akhir tahun, banyak sekali pekerjaan yang menumpuk. Menyita waktu lebih. Sehingga lembur bukan lagi perkara yang luar biasa. Seperti sekarang, walau tadi sudah menyelesaikan revisi desain yang di minta, masih banyak desain lain yang menahanku pulang. “Lho, Mbak Tara belum pulang? Lembur lagi?”, suara Mas Rudi, OB kantor sayup terdengar disela musik keras yang keluar melalui kabel headset. “Bentar lagi pulang kok, Mas.”, jawabku sekenanya. “Sudah cukup untuk hari ini.”, pikirku. Kumatikan komputer sambil menguap kecil. Waktunya pulang. “Mau aku antar pulang, Tar? Sekalian. Udah malem.”, kepala Wendi tiba-tiba muncul dari balik meja kerja. Aku mengangguk tanda setuju.

Seperjalanan pulang menuju rumah, aku lebih banyak diam. Lelah. Kota Yogya sangat menyenangkan saat malam hari. Ketika senja tenggelam, keindahan kota tak serta-merta ikut meredup. Hingar bingar cafe di sepanjang jalan semakin menyemarakan malam. Malam ini langit tampak kelam. Bintang tidak juga tampak. Hanya lampu-lampu kota yang berpendar dalam temaram. Rakus mengambil setiap inci kota ini. Pandanganku menyapu tepian jalan.
Di balik temaram lampu yang berwarna-warni, aku melihat seorang perempuan berambut sebahu menggunakan gaun berwarna malam. Ia tersenyum-senyum sendiri menggoyangkan kepala ke kanan dan kekiri, wajahnya cantik dihiasi bedak dan gincu yang warnanya merah sekali. Kaki kirinya melipat di kaki kanan, ujung jemarinya sibuk sedari tadi memainkan ujung-ujung rambut. Barangkali sedang menunggu kekasih yang lama tak bertemu. Dapat kupastikan dia telah memanen banyak rindu, menabung asa untuk sesegera mungkin bertemu. Tanpa sadar, bibirku ikut tersenyum melihatnya.

Mendung yang sedari tadi bergelayut di langit kota, akhirnya tidak kuasa menahan hujan. Bulir-bulir hujan jatuh satu-persatu, membasahi tanah. Aku menengadahkan kepala. Aroma khas tanah basah menguap menggoda penciumanku. Gerimis turun di Kota Yogya.

Memasuki Jalan Demangan Baru, pandanganku terhenti pada sebuah coffee shop. “Sejak kapan ada coffee shop baru di Demangan?”, tanyaku pada Wendi dengan dahi mengernyit tanpa sedetikpun mengalihkan pandangan dari jalanan. “Udah lama. Makanya sering nongkrong. Tiap diajakin nolak mulu.”, jawab Wendi dengan bibir yang agak dimonyongkan. “Kamu kan tahu sendiri, Wen. Aku ada banyak kopi instan di kantor.”, jawabku asal. Kami tertawa. “Mau mampir?”, pintanya. Terlalu lelah untuk mampir. “Mungkin besok,”, aku menjawab singkat. 

Lampu-lampu kuning terlihat menggantung di dalam ruangan coffee shop, melayang seperti segerombolan kunang-kunang yang sedang melakukan ritual kawin. Tiang-tiang berdiri  kokoh dengan bentuk lengkungan dengan gaya dinding bata ekspos. “Tempatnya nggak terlalu luas. Tapi cukup ramai.”, pikirku. Cahaya keemasan berpendar dari dalam ruangan. Aku bisa melihat orang-orang yang ada di dalamnya lewat jendela yang tegak memanjang. Tertawa, berbincang, mungkin dengan sedikit rayuan gombal. Mataku terfokus pada sebuah pintu kaca besar, berusaha menangkap nama yang tertuliskan disana. “C-o-f-f-e-e N-o 2-7”, aku pun mengeja. “Nama yang menarik!”, gumamku.

============================================================== 

Catatan : Ini merupakan proyek kolaborasi coba-coba antara @spidertazmo dan @karinawinss Ditulis bersambung dengan minim pembicaraan tentang scene, kegiatan tokoh dan lain-lainnya. Dipublish sedatangnya ilham saja. Karena cukup ilham yang datang, kalau kenangan jangan!

Ini adalah Asa - Bagian Ketiga

Bagian Kedua ada di Asa - Bagian 2   @spidertazmo

Asa - Bagian 4  tungguin di @spidertazmo hari Sabtu besok yaa…