di atas

Tentang Fahmi dan apa-apa yang tidak perlu kita ketahui

Sore tadi saya beli eskrim di mekdi. Iya, jajannya 10 rebu ngerampok wifinya tiga jam.

Mekdi cibiru sore tadi ga begitu rame, sih. Soalnya hujan juga, senang karena ga perlu rebutan colokan.

Di lantai atas cuma ada lima orang. Saya, dan dua pasang muda-mudi yang baru kenal dunia.

Karena saya punya telinga, dan karena lagi sepi, obrolan mereka mau ga mau kedengeran sama saya.

Saya udah berusaha ga nguping, saya pake hedset dan dengerin lagu. Tapi saya terlanjur udah terbawa sama obrolan mereka. Dalam waktu singkat saya udah bisa menyimpulkan siapa si Fahmi yang katanya akhir-akhir ini sikapnya rada cuek sama cewenya, si Fahmi kalo diajakin jalan suka gamau terus kalo bales chat pendek-pendek. Saya juga jadi tau kalo si X (beneran dinamain X), katanya lagi deket sama pacarnya si anu tapi bulan Maret ini katanya si X mau pindah tugas jadi si anu pengen ngetes setelah Maret ini sikap pacarnya kaya gimana.

Jadi lah hedset saya cuma ngegantung doang tapi ga ada lagunya. Kaya orang bego.

Saya bisa maklum sih, kenapa mereka saling membuka diri tentang keresahan dan rahasia mereka masing-masing di salah satu pojokan restoran kapitalis itu.

Karena mekdi emang punya kemampuan untuk itu. Saya beneran curiga kayanya ayam mekdi punya daya magis yang bisa bikin orang yang makan bawaannya pengen curhat. (TEKAN LIKE JIKA SETUJU)

Dan untuk mengakhiri ini semua, satu sih pertanyaan saya;

KENAPA MASALAH SI FAHMI DAN SI X RUMIT BANGET SIH YA ALLAH?

Kepadamu

Pernahkah dalam satu waktu dalam hidupmu, kamu bertemu dengan orang baik. Kemudian jatuh cinta kepadanya? Tapi takdir hanya mengantarkanmu pada perasaan itu, tidak pernah lebih jauh lagi.

Percayalah, tidak pernah salah dalam mencintai orang baik. Paling tidak, kamu bisa mengetahui bahwa “selera”mu masih cukup baik. Paling tidak, kamu masih waras untuk mencari pasangan hidup seperti apa yang tepat. Paling tidak, kamu masih mengerti bahwa hidup tidak hanya sebatas tampilan fisik, melainkan hati. Paling tidak, kamu juga cukup sadar bahwa kelak akan menjadi orang tua dan anak-anak yang lahir darimu nanti berhak atas orang tua yang terbaik,

Meski pada akhirnya, orang baik yang kamu cintai itu tidak menjadi milikmu. Kamu menyadari semua hal di atas. Justru menjadi perkara bila yang terjadi dalam dirimu adalah hal-hal sebaliknya. Ketika kebaikan itu kamu abaikan dan kamu sibuk jatuh cinta pada kecantikan/ketampanan, harta, keturunan, dan hal-hal seperti itu.

Percayalah, tidak ada yang salah bila kamu mencintai orang baik. Sekalipun ia tidak menjadi pasanganmu nanti, tapi selalu ada kebaikan yang kamu bisa ambil darinya.

©kurniawangunadi | yogyakarta, 19 desember 2016

Kita Juga Berhak Bahagia

Di ambang batas apa status kita, siapa kamu siapa aku, kamu mantan siapa, aku teman siapa, pernah ada kisah apa di antara kita, sekarang kita siapa, dan sedang berada di titik manakah kita sekarang,

Bolehkah kita tetap seakrab ini? Tidak mempedulikan semua hal-hal di atas itu dan menikmati kedekatan ini tanpa harus terbeban apapun?

Tertawa lepas, saling lempar senyuman, saling berbicara bebas, saling suka tanpa harus pura-pura.

Bisakah kita tetap seperti itu?

Kurasa, kita juga berhak bahagia. Meski waktunya tak jarang sedikit sekali, tetapi asalkan ada kamu di dalamnya, aku sama sekali tidak keberatan.

Menjaga Jarak

Kemarin saya ke mushalla sebuah pusat perbelanjaan di Jogja. Karena mushallanya tidak sebesar masjid di lantai atas, jadi jamaah harus antri sebagian di luar, menunggu jamaah yang di dalam selesai. Rasanya adem, masjid dan mushalla disini, meskipun di mall, selalu ramai. Seusai shalat, karena ada jamaah lain yang menunggu, satu persatu jamaah keluar dari mushalla. Karena pintunya cuma satu akses, jadi harus begantian.

Semuanya rapih, karena punya wudhu, laki-laki dan perempuan memisahkan diri dengan sendirinya. Laki-laki jalan terlebih dahulu. Tidak ada yang bersentuhan satu sama lain. Menjaga jarak. Semua keluar dengan tertib.

Lalu saya menggumam. Sepertinya suasana ini yang saya rindukan.

Kalau semua muslim dan muslimah di negeri dengan penduduk muslim terbanyak di dunia ini menjaga wudhu dengan baik, sepertinya tidak akan ada fenomena seperti sekarang. Ketika di social media laki-laki dan perempuan begitu dempet tanpa ada jarak. Ketika di dunia nyata, yang bukan mahram dengan sengaja bersentuhan tidak dalam batasan normal.

Kalau semua muslim dan muslimah menjaga wudhu, tak ada namanya demi relationship goal, muda mudi begitu mudah bermesraan di depan umum. Demi foto yang bagus, sampai lupa kalau foto-foto di social media kelak akan dipertanggungjawabkan di hari akhir.

Kalau semua muslim dan muslimah menjaga wudhu, aih setan pasti pusing bukan kepalang, darimana dia bisa menggoda manusia agar gandeng-gandengan, sender-senderan, dan peluk-pelukan sama yang bukan mahram?

Kalau semua muslim dan muslimah menjaga wudhu, tentu masing-masing akan tegas dengan sendirinya. Tidak merabunkan batasan, menjaga satu sama lain.

Hari ini mushalla di satu pusat perbelanjaan, memberi saya sebuah pelajaran berharga. Bahwa wudhu memiliki sebuah arti…untuk menjaga apa yang seharusnya dijaga. Menjaga diri, menjaga orang lain, menjaga dari bisik setan, menjaga nafsu, dan menjaga kesucian.

Semoga tiap-tiap dari kita senantiasa semangat belajar. Dan sebaik-baik ilmu adalah yang diamalkan :)

Semoga dapat menjadi pengingat untuk diri sendiri. Wallahua'lam, yang masih miskin ilmu,

Aji Nur Afifah.
Jogja 15 Desember 2016.

Masa Yang Segera Tiba

Masa-masa itu akan tiba. Masa yang paling menegangkan bagi setiap orang yang sedang bertumbuh.

Masa saat seseorang harus mulai memutuskan untuk menjadi dirinya sendiri atau menjadi seperti orang kebanyakan. Masa saat seseorang harus mulai mengambil keputusan untuk dirinya sendiri sebelum keputusan-keputusan atas hidupnya dipilihkan oleh orang lain.

Masa yang mungkin akan menjadi kenangan manis, rasa syukur, juga mungkin penyesalan.

Di saat seseorang harus mulai berdiri di atas kakinya sendiri, setelah sebelumnya selalu bergantung pada belas kasih orang tua. Masa saat seseorang harus berjuang untuk bertahan hidup.

Masa ketika setiap prinsip di uji dengan berbagai hal, apakah akan melawan arus atau mengalir begitu saja.

Masa masa itu akan tiba bagi setiap orang. Kegelisahan yang tak akan hilang dengan tidur, kekhawatiran yang tak akan lenyap hanya dengan air mata.

Masa yang keras. Dan seseorang akan dipaksa untuk keras terhadap dirinya sendiri. Sebelum dunia melumatnya menjadi tak berarti.


©kurniawangunadi

Kasih,
Perjalanan kita tak akan mudah. Aku akan banyak sekali terjatuh, terluka, tersesat di berbagai tempat, basah hujan di tiap pijak, terpeleset, bahkan hingga kerap kau akan melihatku tidak berdaya dan berharap kembali saja ke bawah

Maaf, aku mungkin akan banyak menyusahkanmu di perjalanan ini. Akan ada banyak maaf yang keluar dari mulutku. Dan kau akan tetap seperti itu; pemaaf yang paling aku cinta

Kasih,
Bersamaku, kau mungkin akan menemukan banyak sekali kekecewaan dan berkali-kali terlintas untuk memilih pergi saja. Tapi jika kau memilih untuk tetap bertahan, aku janji ini semua akan membuatmu lebih dewasa dalam menghadapi segala macam rintangan nanti di depan sana

Dan kasih,
Aku berjanji, di puncak nanti, namamulah yang paling pertama kulantangkan di atas dunia; lebih utama dari namaku sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
#Repost @utamyyningsih with @repostapp
・・・
Selalu ingatlah satu hal ,
Di mataku…
Kau mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain ,
Hatiku….
.
.
.
#bukukece
#MerayakanKehilangan
#mediakita

Cinta Tidak Senaif Itu

Mereka bilang, jika cinta pasti setengah mati berjuang untuk bersama. Kenyataannya, cinta tidak senaif itu, Kawan.

Cinta tidak melulu soal dia atau kita memperjuangkan. Persoalan kehidupan tidak sesederhana ‘jika cinta maka harus berjuang untuk selalu bersama’.

Setiap manusia tumbuh dengan pengalaman dan pemahaman yang berbeda. Setiap cinta tumbuh dengan masing - masing cerita. Terlalu kejam jika kita menggunakan standard cerita Cinderella, untuk memutuskan seberapa dalam cinta seseorang pada pasangannya.

Mereka bilang, jika cinta maka akan segera datang melamar. Padahal, perjuangan manusia itu tidak selalu sama melulu soal itu; keadaan ruh setiap manusia tidak rata baiknya seperti ulama yang begitu percaya pada jatah rezeki Tuhan yang pasti akan tiba. Setiap manusia memiliki perjuangan yang tak bisa diabaikan. Setiap manusia memiliki pedoman yang tak boleh dipaksa samakan.

Mereka bilang, jika cinta maka pedih ketika kehilangan. Bagiku, pedihnya kehilangan cinta pada manusia yang tak seharusnya adalah tanda bahwa kita perlu memperbaiki iman.

Mereka bilang, jika tak sedih ketika kehilangan kekasih, maka tak cinta kau padanya. Bagiku, bisa jadi orang itu bukan tak cinta namun memang sudah luas hatinya.

Jakarta, 5 Februari 2017.
Hasil obrolan di antara sibuknya meeting, dengan rekan yang ditinggal tunangan sama perempuan yang dia inginkan, dan bersikap sangat bijak menghadapi takdir. Kelasnya sudah di atas sih. Beda sama gw, yang dalam kehilangannya cuma bisa mewek tiap bangun tidur.

Mengapa Mahasiswa Selalu Salah?

Tiba tiba chat di whatsApp group mulai dipenuhi dengan broadcast yang isinya kurang lebih sama semua (biasa.. orang kita memang sangat hobi main copas di grup dan pasca nge post… Hilang), yakni tentang demonstrasi #112 yg akan diadakan kawan2 BEM. Mereka menamakan dirinya Reformasi Jilid II

Jreng jreng jreng.. pro dan kontra langsung menghiasi notifikasi WA di Hp. Komentar masuk dgn berbagai macam versi, dari yg ngerasa jago gerakan, antipati pada gerakan, atau ya….. Komentar doang. Yang penting komen di grup WA. Semuanya mengomentari mahasiswa. Tak sedikit yang menyalahkan mahasiswa. Hehehe

Mengapa mahasiswa selalu salah? Ya karena kalau buat saya, pilihan mahasiwa (wabil khusus BEM) adalah SALAH atau SALAH BANGET :3

–Ketika Mahasiswa Bergerak–

“Wah.. kajiannya kacau nih!”
“Gerakannya politis nih!”
“Ditunggangi nih”
“Aksinya ga jelas coi!”

Kalimat2 di atas pasti ga asing lagi didengar kalau mahasiswa bergerak. Pasti ada yang ngomong gitu, saya jamin 100% deh ga dikit yang sinis sama mahasiswa yg bergerak. Bikin macet lah, bikin onar lah, atau bikin malu (padahal mah ngapain malu, kenal jg kagak. Haha), sering menjadi hal yang harus diterima mahasiswa ketika turun aksi dan bergerak

–Ketika Mahasiswa Ga Bergerak–

“Ini mahasiswa pada kemana sih?”
“Demo dong Bro-Sis! Negara kacau nih”
“Gue pengen ada yg demo deh, pajak makan di restoran mewah harus turun, STNK BMW gue mahal nih”
“Mahasiswa sekarang memang beda, ga kayak dulu”

Ya kira kira gitu lah. Ga jarang jg yang mempertanyakan eksistensi mahasiswa ketika mereka pada rajin kuliah dan ga demo (haha. Maksudnya ya ga turun aksi). Tetap aja banyak yang nyalahin dan mempertanyakan mahasiswa. Gak jarang juga sering mahasiswa sekarang dibandingkan dengan perjuangan zaman pra sejarah (ups. Maksudnya zaman heroik para senior). Haha

–See? Mahasiswa memang akan selalu salah–

Ya memang begitu kodrat mahasiswa, terima aja. Haha. Ga deng, maksudnya pasti akan selalu ada pro dan kontra dalam sesuatu, termasuk saat mahasiswa turun aksi.

Mahasiswa ya baiknya menyadari hal ini. Jangan ngarep dipuji deh kalo jadi mahasiswa, apalagi demonstan… Beeeeh jauuhhh hidupnya dari puja dan puji. Kalau mau dipuji mahasiswa ikut kontes kecantikan aja sana atau audisi boyband. Haha

Dan ya mahasiswa baiknya ga terpengaruh sama pendapat sekitarnya (tapi jangan kacamata kuda dan tutup telinga juga ya!). Tetap aja fokus sama yang diperjuangkan. Perjuangan hari ini salah? Ya gak apa apa. Masih belajar toh. Demo hari ini cuma nuntut aja tanpa bawa solusi? Ya gak apa apalah. Justru kalo ada solusi, mahasiswanya mending jadi staff ahli presiden, atau bahkan jadi presiden nya aja sekalian. Hehe

Selamat salah para mahasiswa.
Santai aja.
Wong kita berjuang untuk rakyat kok, bukan untuk komentator. Hehe

8 MACAM REZEKI 

 1.#Rezeki_Yang_Telah_Dijamin Tidak ada satu mahluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin Allah rezekinya (Q.S.11:6) 

 Contoh : Meskipun seorang anak yatim piatu tidak memiliki orangtua, namun ia akan tetap hidup sampai besar dirawat panti asuhan atau diadop oleh keluarga lain 

2.#Rezeki_Karena_Usaha Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya (Q.S.53:39) 

 Contoh : Karena keuletan dalam usaha, kini bangsa Turki bisa makmur, padahal alamnya tidak begitu kaya. 

3.#Rezeki_Karena_Bersyukur Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu (Q.S.14:7) 

 Contoh : Brunei Darusalam baru-baru ini menerapkan syariat islam sebagai rasa syukur kepada Allah atas nikmatNya, maka mereka kini menemukan ladang gas baru kapasitas miliaran kubik. 

 4.#Rezeki_Tak_Terduga Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya (QS. At Thalaq :3) 

 Contoh : Karena ketaqwaan penduduk Mekkah dan Madinah, siapa sangka minyak dan gas berada dibawah tanah Hijaz (Arab Saudi). 

 5.#Rezeki_Karena_Istighfar Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta (QS. 71 : 10-11) 

 Contoh : Kaum Nabi Yunus, setelah mereka bertobat maka Allah karuniakan kemakmuran bagi mereka sampai 40 tahun, riwayat lain mengatakan 80 tahun lamanya. 

 6.#Rezeki_Karena_Menikah Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan memberikan kemapanan kepada mereka dengan karunia-Nya. (QS. an-Nur : 32) Contoh : Ketika masih bujangan, Abdurrahman bin Auf r.a hanya seorang penjual tali, namun setelah menikah ia menjadi pengusaha besar owner pasar Madinah. 

 7.#Rezeki_Karena_Anak Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu. (QS. al-Isra 31) 

 Contoh : Yakub waktu mudanya hijrah dari rumahnya dan menjadi pengembala kambing, setelah menikah dan memiliki 12 anak, justru kambing-kambingnya juga makin bertambah banyak. 

 8.#Rezeki_Karena_Sedekah  Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak (QS. Al Baqarah 245) Contoh : kedermawanan Utsman bin Affan r.a hingga kini masih ada warisannya dan tabungannya masih tersimpan di no.rekening Bank syariah Arab Saudi. 

SEMOGA BERMANFAAT

Bila rasa sedih, pejamkan mata dan katakan dalam hatimu,

“ Inilah perjalanan hidupku. Allah yang letakkan aku di sini. Semua ini perancangan Allah. Aku mesti teruskan perjalanan hidup ini kerana aku percaya di atas setiap ketetapanNya.

Dan aku terima Qada dan Qadar diriku. Sesungguhnya setiap sesuatu itu ada hikmahNya. Terima kasih Allah kerana mengasihiku.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana ~ sesederhana rasa bahagia ketika menemukan makanan di atas meja saat sedang laparlaparnya.
—  🍴🐟
Ujian itu bukan hanya tentang derita. Bahagia dan sukses yang kita reguk juga merupakan ujian; adakah ia membawa kita semakin dekat kepada-Nya ataukah justru bahkan menentang-Nya?

Aku dapati diriku ini termasuk yang lemah, tidak ada daya untuk melakukan sesuatu yang membuatku lebih baik, kecuali semata dengan pertolongan Allah Ta'ala. Maka atas berbagai pinta, rasanya tidak ada yang lebih utama daripada do'a memohon diteguhkan di atas agama Allah Ta'ala ini; tetap menapaki jalan yang lurus, meskipun kadang masih terlalai untuk berbelok juga. Sesungguhnya jalan lurus adalah jalan yang selamat. Hanya kadang kita melihatnya sebagai arah yang berat karena lurus tak berarti mulus.

Kepada Allah Ta'ala aku memohon dengan do'a yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Hakim:

يامقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Hakim).
—  Mohammad Fauzil Adhim
Pekeh (2)

Loncat ke masa sekarang, aku dan Pekeh tinggal di satu rumah sejak tahun 2012 (kira-kira). Setelah mbak No nikah, aku sendirian di rumah, Pekeh yang kuliah di Jogja diminta untuk pindah aja ke rumahku. Biar aku ada temennya. Jadilah Pekeh di kamar atas, aku di bawah.

Bertahun-tahun satu atap, aku sama Pekeh jarang banget ketemu! Karena pada sibuk kuliah masing-masing. Tapi kalau lagi sama-sama libur, kami sempatkan masak bersama. Masak kangkung, sambel tempe, ayam goreng. Hahaha sambil mengingat jaman kecil “Ndeh dulu kita masak pakai lilin, sekarang pakai kompor”

Pekeh anak yang baik.

Se-absurd apapun masakanku, tetap dia makan. Sambil ketawa, “agak asin ya hahaha tapi dakpapa. Kan kita-kita aja yang makan.”
Aku aja mikir dua kali mau makan masakanku.
Setiap kali aku masak bareng dia, aku berdoa, semoga besok istrinya yang jago masak. Wkwkwk

Pekeh ini, anak yang mandiri, gak mau nyusahin orangtuanya. Pagi-pagi dia bikin sandwich atau bikin roti tawar diisi meses untuk dijual di kampus. Bahkan Pekeh pernah jualan nasi goreng. Pagi-pagi betul dia masak nasi goreng, di masukkan ke mika segi empat, dikasih sendok plastik, terus dijual. Pernah juga jual donat. Donat dia beli di pasar, kemudian di plastikin lagi satu-satu, baru dijual lagi.

Alhamdulillah. Tiap pulang ke rumah, aku liat wadah jualannya tadi pagi udah ganti jadi duit. Hehe hebat Pekeh.

Dulu, motor Pekeh itu Honda kuno, warna hitam, duh aku ga apal serinya (seri?), bekas punya Opa. Tapi suara motornya udah kayak suara motor tua gitu, yang bahkan kalo mau dinyalain harus di-engkol karena starternya terkadang macet, kayak motor Bapakku yang warna merah dulu.

Pekeh ini rajin solat, lima waktu, berjamaah. Di masjid. Dari subuh sampai isya. Plus baca Al-Qur'an kalau udah sampai rumah.
Bahkan yang jadi alarm pagiku ya suara motornya Pekeh kalau mau berangkat ke masjid pas subuh. Belum lagi selalu puasa sunnah senin kamis.

Pernah suatu saat Pekeh pulang ke rumah, tapi motornya dituntun, ternyata kehabisan bensin. Mau beli bensin, uangnya harus disimpan untuk yang lain. Bulik Puji (Ibuknya Pekeh) juga pernah cerita, tiap kali ditanya soal kondisi keuangan, dia selalu jawab “ada”, sekalinya Bulik cek, di dompetnya hanya ada uang 2000 rupiah. Ya dia ga bohong sih, ada duitnya. Tapi 2000 bisa buat apa?

Pekeh gak pernah mengeluh tentang apapun.
Pekeh selalu bilang “Alhamdulillah”, sehingga kita yang mendengarnya pun merasa lapang.

Pekeh adalah salah satu contoh bagaimana Allah melapangkan dan memudahkan segala urusan hambaNya yang senantiasa bersyukur.

Pekeh sekarang kerja di Net Jogja. Sudah punya bekal 1 drone miliknya yang siap disewakan jika ada yang membutuhkan. Motornya sudah baru. Suaranya jauh lebih merdu dari motornya yang dahulu. Alarm subuhku.

Eh, sekarang alarm subuhku suara pagar rumah yang udah mulai seret ding. Suara motor Pekeh terlalu alus, sampe ga kedengeran bunyinya.

Hehe.

Semoga Allah selalu melindungi Pekeh.

Kita semua, punya masochistic equilibrium masing-masing, suatu level di mana kita terbiasa bahagia sejak kecil. Dan ketika tiba-tiba merasakan kebahagiaan di atas level itu, kita mulai gelisah, takut, dan akhirnya dengan sukarela melakukan hal-hal untuk menurunkan standar kebahagiaan itu ke level di mana kita merasa terbiasa: membiarkan inner-critic bersuara terlalu banyak, tidak bisa melupakan kesalahan dan kekacauan yang sesungguhnya tinggal di masa lalu, dan membanding-bandingkan.
—  Ika Natassa, dalam The Architecture of Love

Basah dan kembali lagi basah.
Air Tuhan yang kembali menari-nari di atas permukaan tanah.

Jejak-jejak perindu yang abadi hanya menjadi sisa-sisa kenangan yang membasahi daun-daun kecoklatan.

Suara-suara merdu badai menjadi klise bagi mereka yang merasa kuat mencintai sendirian.
Setiap derasnya tak juga mengobati yang sudah telah lama hilang dan seharusnya juga sudah dilupakan.

Dingin.. Dingin..
Aku merasa sangat dingin dan cemburu.
Melihat akar dan ranting masih dalam satu pohon yang sama. Tak mengeluh akan cacian panas matahari dan selalu berusaha saling menguatkan bila hujan melanda.
Meski nantinya mereka tumbang bahkan patah begitu saja.

Lembab,
sisa-sisa ratapan di pelupuk mata, membekas sembab.
Satupersatu butir-butir hujan kupunguti, kusimpan tanpa sebab.

Ludah bercampur kata, kutelan tanpa sisa. Kata cinta tak perlu mendesak keluar, sebab yang dituju tak ingin dengar.

Maka kutulis saja dengan tajamnya sikapmu, di batang pohon yang tengah menunggu. Hingga kelak, lumut tumbuh menutupi kejujuranku.

Dan setelahnya, biarlah kata tetap menjadi kata, tak perlu menjadi tanya yang berharap jawaban. Tak perlu menjadi do'a yang menjelma harapan. Sampai akhirnya, pinta tak perlu menjadi paksa, yang memisah keduanya.


(Daunn Keringg & @a-hap, 2016)