dan zhang

8

gossip girl challenge - every episode
         ‘pilot’ [ 1/121 ]

“hello upper east siders, gossip girl here, and i have the biggest news ever. one of my many sources - melanie91 - sends us this: ‘spotted at grand central, bags in hand - serena van der woodsen.’ was it only a year ago our ‘it’ girl mysteriously disappeared for a quote ‘boarding school’? and just as suddenly she’s back. don’t believe me. see for yourselves. lucky for us, melanie91 sent proof. thanks for the photo, mel.”

Asian Actresses in Period Dramas - (Mini Masterlist)

It’s not as easy to find an abundance of pictures for Chinese actresses as it is for actresses from elsewhere. Let alone actresses in period dramas. If you’re not an avid drama-watcher and just want an actress who’ll fit your period faceclaim, you might not know who to start with or who’ll fit. Because of this problem, I’ve made a little list of Asian actresses/models (mostly Chinese) in period dramas. In this, I’ll list who has enough pictures and even videos for you to icon and/or gif.

When searching these actresses, try to search both their Chinese and English (if they have one) names. Also search for their name followed by the their movie/show name. For video resources, I use Youtube. Now, let’s start with…

Liu Shi Shi / Cecilia Liu

Pictures for icon-ing: Very high (predominately on tumblr)
Videos for gif & gif icons: High (video(s) to look for: Imperial Doctress, Sound of the Desert, Chinese Paladin 3, Brotherhood of Blades)

Zhao Wei / Vicki Zhao

Pictures for icon-ing: Very high
Videos for gif & gif icons: Medium (video(s) to look for: Painted Skin, The Duel, Mulan: Rise of Warrior)

( more under the cut )

Keep reading

Imagine if you will:

  •  a version of HoO where part of Frank’s curse is that every time he uses his powers, a little bit of his driftwood burns away. 
  • He notices one day but doesn’t tell anyone. 
  • The entire quest he never flinches when he needs to use his powers to save his friends. 
  • As the dust settles between the Greeks and the Romans, Hazel notices smoke coming from the supposed-to-be-fireproof pouch. 
  • She opens it just in time to see the last little bit of drift wood be consumed by flame.  
  • She hears gasps and yells for help, and runs toward where a crowd has formed. It parts for her and in the middle lays a dying Frank, half animal half boy. Body mangled and unsure which form it wants to be its last. 
  • He’s a little delirious when Hazel approaches him and he whispers “Did I do it Hazel? Did I clear my family’s name with the Legion? Was I brave?” Hazel chokes out a “Yes, Frank. You did great”
  • Frank smiles up at her as his head rests back against the ground for the last time.

ZHANG YO

Genre : Remaja

Sinopsis : Minoritasnya sebuah tempat dalam agama semestinya membuat Zhang Yo pria asal Taiwan ini justru semakin memperat keyakinannya sebagai orang yang berpegang teguh pada agamanya Keluarganya sudah dari dulu sudah menjadi mualaf namun dalam satu peristiwa tiba - tiba saja Zhang Yo menjadi murtad, kegalauan jiwa dimana seseorang sahabat mengatakan kalau cara ibadahnya adalah aneh tidak langsung memberikan apapun bernama Bohai, dia terus - menerus mempengaruhi zhang Yo dengan mengatakan jika yang dianutnya tidak memberikan kebebasan dalam melakukan segala hal terutama pada apa yang dimakannya.
Zhang Yo yang akhirnya kembali sedia kala, akhirnya menyesal karena akhirnya diusir oleh keluarganya dalam ratapan dirinya ini, dia bertemu dengan Fatimah gadis asal Indonesia yang justru berpegang teguh pada keyakinannya dan meluruskan dengan kebenarannya apa yang terjadi dalam hidup Zhang Yo.


Zhang Yo dan Bohai adalah dua sahabat sejak mereka masih remaja dan duduk di bangku SMP namun pada suatu ketika Zhang Yo memilih untuk mengucapkan kalimat syahadat beserta keluarganya. Lama sudah waktu berjalan keyakinan tersebut semakin memperkuat keimanan Zhang Yo yang kini bernama Saleh. Di mesjid Taiwan Saleh baru saja selesai sholat dia melipat sajadahnya lalu berjalan keluar.
Pandangan nan indah oleh terik matahari yang menyehatkan memantul dari atas kubah.
Mereka yang menuaikan ibadah tidak banyak orang, segerombolan orang bercengkrama sambil meninggalkan mesjid ada juga yang berjalan seorang diri.
Betapa indahnya teryata keyakinan yang dianut selama ini, banyak orang memandangnya rendah karena tidak tahu. Mungkin apa yang disembah memang tidak terlihat oleh mata tapi terasa dihati, rasa syukur itu dipanjatkan oleh Saleh sambil menegadah melihat kearah langit.
Seperti harta yang berlimpahan tidak ternilai harganya yang Allah berikan padanya. Sejak itu juga Saleh telah meninggalkan minum.- minuman atau makanan yang tidak dihalalkan oleh ajarannya karena dianggap haram, karena dia sering makan kotoran. Langkah kakinya menuju kearah keluar gerbang mesjid dan menelusuri sepanjang trotoar sampai menuju kearah halte.
Saleh, menghela nafas secara teratur memandang kearah ke jalan kemudian ia masuk ke dalam bis yang baru saja berhenti, pria tersebut menyandarkan kepalanya di kaca sambil menatap keluar. Bunyi WhatsAppnya terdengar dari dalam tasnya rupanya Bohai yang menulisnya.
“Aku tunggu di restoran seperti biasa hari ini” katanya Saleh membalasnya.
“Oke aku akan kesana”

ZHANG YO

Genre : Remaja

Sinopsis : Minoritasnya sebuah tempat dalam agama semestinya membuat Zhang Yo pria asal Taiwan ini justru semakin memperat keyakinannya sebagai orang yang berpegang teguh pada agamanya Keluarganya sudah dari dulu sudah menjadi mualaf namun dalam satu peristiwa tiba - tiba saja Zhang Yo menjadi murtad, kegalauan jiwa dimana seseorang sahabat mengatakan kalau cara ibadahnya adalah aneh tidak langsung memberikan apapun bernama Bohai, dia terus - menerus mempengaruhi zhang Yo dengan mengatakan jika yang dianutnya tidak memberikan kebebasan dalam melakukan segala hal terutama pada apa yang dimakannya.
Zhang Yo yang akhirnya kembali sedia kala, akhirnya menyesal karena akhirnya diusir oleh keluarganya dalam ratapan dirinya ini, dia bertemu dengan Fatimah gadis asal Indonesia yang justru berpegang teguh pada keyakinannya dan meluruskan dengan kebenarannya apa yang terjadi dalam hidup Zhang Yo.


Zhang Yo dan Bohai adalah dua sahabat sejak mereka masih remaja dan duduk di bangku SMP namun pada suatu ketika Zhang Yo memilih untuk mengucapkan kalimat syahadat beserta keluarganya. Lama sudah waktu berjalan keyakinan tersebut semakin memperkuat keimanan Zhang Yo yang kini bernama Saleh. Di mesjid Taiwan Saleh baru saja selesai sholat dia melipat sajadahnya lalu berjalan keluar.
Pandangan nan indah oleh terik matahari yang menyehatkan memantul dari atas kubah.
Mereka yang menuaikan ibadah tidak banyak orang, segerombolan orang bercengkrama sambil meninggalkan mesjid ada juga yang berjalan seorang diri.
Betapa indahnya teryata keyakinan yang dianut selama ini, banyak orang memandangnya rendah karena tidak tahu. Mungkin apa yang disembah memang tidak terlihat oleh mata tapi terasa dihati, rasa syukur itu dipanjatkan oleh Saleh sambil menegadah melihat kearah langit.
Seperti harta yang berlimpahan tidak ternilai harganya yang Allah berikan padanya. Sejak itu juga Saleh telah meninggalkan minum.- minuman atau makanan yang tidak dihalalkan oleh ajarannya karena dianggap haram, karena dia sering makan kotoran. Langkah kakinya menuju kearah keluar gerbang mesjid dan menelusuri sepanjang trotoar sampai menuju kearah halte.
Saleh, menghela nafas secara teratur memandang kearah ke jalan kemudian ia masuk ke dalam bis yang baru saja berhenti, pria tersebut menyandarkan kepalanya di kaca sambil menatap keluar. Bunyi WhatsAppnya terdengar dari dalam tasnya rupanya Bohai yang menulisnya.
“Aku tunggu di restoran seperti biasa hari ini” katanya Saleh membalasnya.
“Oke aku akan kesana” Saleh mengiyakan sambil mengakhiri teleponnya. Dia turun dari bis kemudian menuju kearah restoran yang ada didekat halte tersebut.
Seorang pemuda melambaikan tangan kearahnya, Salehpun menyimpulkan senyuman padanya dia
Duduk di kursi yang menghadap dirinya.
“Asalamualaikum Bohai” salam hangat diucapkan oleh Saleh sambil menaruh tangannya diatas meja.
Dia menghela nafas dan melihat kearah keluar jendela restoran.
“Dari dulu orang yang seiman denganku belum juga ada perkembangan” kata Saleh.
“Yah karena orang mungkin memilih yang mengajarkan kebebasan.
Kadang aku merasa aneh dengan cara ibadahmu” perkataan Bohai tetap membuat Saleh bersikap tenang padanya.
“Kamu salah jika berpikir demikian, itu adalah cara agar kita benar - benar menyakini Allah itu ada” Saleh menyela dengan cepat.
Bohai hanya diam saja dia masih memiliki sudut pandang bersikeras dalam pendapatnya, matanya agak melirik janggal kearah Saleh yang tidak ikut - ikutan minum bir.
“Tapi ini buktinya”? Dia masih merasa apa yang dikatakannya itu belumlah memberikan kepuasaan bagi hatinya.
“Aku memang tidak minum sejak memeluk keyakinan ini, karena dilarang” jawaban Saleh membuat Bohai menaruh gelasnya dengan agak berbunyi keras diatas meja.
“Salah satu tidak bebasnya adalah saat berpuasa harus menahan haus dan lapar serta nafsu apapun” Bohai menambahkan kata - katanya.
“Kalau hanya sekedar menahan lapar dan haus untuk apa juga berpuasa Bohai” Saleh mengeryitkan kening.
“Bukan begitu maksudku sedangkan keyakinanku hanya menahan lapar dengan makanan kesukaan saja” Bohai membenarkan perkataannya, caranya bicara berkesan tidak mau kalah dengan Saleh.
“Sudahlah aku tidak ingin berdebat denganmu” Saleh mengalah.
“Sallll…., bangunan yang ada diluar sana tidak ada perubahan sama sekali sedangkan mereka juga tidak melakukan apapun” tegas Bohai.
“Mungkin mereka sudah malas melakukannya” kata Bohai.
“Bohai perkataanmu seperti menghina keyakinanku” wajah Saleh berubah menjadi marah, nafasnya tersenggal berat naik dan turun karena emosi di dalamnya.
“Manusia itu tetap memiliki hawa nafsu apapun itu namanya”!! Suara Bohai ditinggikan sambil melotot tajam kearahnya.
“Meskipun mempertaruhkan keimanan”? Saleh menggeleng.
“Kalau itu jalan yang terbaik, lagipula untuk apa kamu melakukannya sendirian tanpa orang sudah menghilang dari keyakinannya sendiri sehingga membuatnya tidak berkembang” bohai seakan berusaha mempengaruhi pikirannya.
“Maaf, aku punya iman yang kuat mungkin aku akan memberikan santunan pada mereka agar bisa kembali lagi ke rumah Allah” kata Saleh.
“Lakukan tapi aku jamin akan percuma” kalimat yang diucapkan Bohai sangat tajam menusuk jantung Saleh hingga terasa denyutnya sangat keras.

Saleh tetap bersikeras pada hatinya, sekalipun hanya ada tiga orang di mesjid untuk sholat dia tetap akan berpegang pada keyakinannya agar tidak goyah, di satu sisi lain Bohai pulang kerumahnya, dia menghempaskan tubuhnya di sisi ranjang merenungkan sendiri akan perkataannya terhadap Saleh. Matanya menerawang kearah sekelilingnya, ada buku tersusun rapi diatas meja, dia mengambil salah satunya dan membacanya sambil sorot matanya menghadap kearah salib didepan ranjangnya. Keresahan hati terjadi pada apa yang dikatakannya pada Saleh barusan saja entah apa yang membuatnya seperti itu. Sedangkan Saleh juga baru saja dari studio lukis miliknya, dia sosok pelukis yang sudah dikenal seantero orang - orang di Taipei.
Saleh menyandarkan kepala di sofa hijau sambil menyalakan Tv. Badriah adiknya duduk di sebelahnya, dia masih duduk di semester akhir.
“Aku baru gak mood untuk mengerjakan skripsi” Badriah bercerita pada Saleh.
“Kalau begitu kamu gak mood juga
Untuk sholat” Saleh menimpalinya.